Koleksi Artikel dari Biasawae Community

Copyleft © 2005 biasawae.com













Lisensi Dokumen :
Copyleft © 2005 biasawae.com

Seluruh dokumen adalah koleksi artikel dari biasawae community yang dikumpulkan dari berbagai
sumber. Dokumen ini dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan bukan
komersial, dengan syarat tidak mengubah atribut penulis atau nara sumber dan tidak
disalahgunakan.

Diperbolehkan melakukan penulisan ulang tanpa mendapatkan ijin terlebih dahulu dari biasawae
community, dengan syarat penulisan ulang tersebut tidak keluar dari inti pokok dokumen baik
menambahkan atau mengurangi isi materi. dan harus menuliskan pustaka dari penulis atau nara
sumber.

Jika anda melakukan penulisan ulang dan penulis atau nara sumber tidak diketahui, maka acuan
pustaka merujuk ke biasawae community.

Meskipun begitu, biasawae community tidak bertanggung jawab atas isi dari dokumen dan dampak
yang dapat ditimbulkan baik sebelum terjadi penulisan ulang ataupun setelahnya.

biasawae community mengumpulkan artikel - artikel dari berbagai bidang ini mempunyai tujuan
agar khasanah ilmu pengetahuan dapat cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia melalui media
komputer.



















KEJAHATAN METAFISIS DAN PERMASALAHANNYA
DALAM PERKEMBANGAN HUKUM PIDANA Dl INDONESIA
Sumber : Prof. Dr. TB. Ronny Nitibaskara
Diceramahkan dalam Sarasehan Metafisika Study Club, Tanggal 14 Juli 2002,
Hotel Kebayoran, Jakarta


Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com

1. LATAR BELAKANG

Kita mengetahui bahwa kepercayaan kepada perdukunan pada umumnya dan ilmu hitam (black
magic) pada khususnya yang tercakup dalam praktik ilmu gaib, atau praktek metafisis menjadi
bahan studi di kalangan sarjana antropologi ataupun sosiologi. Frazer (1913) misalnya, telah
menulis "The Golden Bough" sebagai kajian tentang ilmu gaib dan religi. Buku tersebut antara
lain membahas bermacam-macam teknik ilmu gaib dan berbagai jenis tabu di seluruh dunia.
Hutton (1948) menulis pula ilmu gaib sebagai kajian sosiologi, yang isinya antara lain
menggambarkan peranan dan kedudukan dukun di berbagai tempat di dunia ini. Perhatian
sarjana antropologi terhadap kehidupan dan kepercayaan terhadap dukun ilmu hitam kalangan
masyarakat cukup besar, seperti pernah ditulis Pritchard (1937), yang membahas bermacam-
macam praktik dukun sihir pada masyarakat Zande Afrika dan Mayer (1954) yang menguraikan
ciri-ciri dukun sihir pada umumnya. Sementara itu beberapa teori mengenai perdukunan juga
pernah ditulis oleh Malinowski (1929) , yang mengaitkan ilmu gaib dengan agama dan ilmu
pengetahuan.

Sementara itu Wilson (1951) menghubungkan sihir dengan struktur sosial yang diambilnya dan
studi perbandingan dua penduduk Afrika, yaitu suku Nyakyusa Tanganjika dan suku Pondo di
Afrika Selatan, sedangkan Mac Farlane (1970) menghubungkan sihir dengan konflik sosial
yang pada intinya tuduhan sihir dapat dianggap sebagai alat perubahan sosial. Dalam dua
dekade terakhir timbul pula tulisan mengenai etnografi tentang sihir-tenung, karangan Banoja
(1964); serta Roper (1967) yang menulis tentang praktik tenung dan sihir di kalangan
masyarakat Eropa.

2. SIHIR, TENUNG DI INDONESIA

Tulisan mengenai sihir dan tenung (witchcraft anda sorcery) khususnya di Indonesia dirasakan
masih sangat kurang dan tidak memadai, lebih-lebih yang bersifat menyeluruh.

Padahal ilmu sihir-tenung (witchcraft-sorcery) banyak dipraktikkan di Indonesia. Hampir di
seluruh daerah mulai dan pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Bali Nusa Tenggara,
Maluku, Irian Jaya dan sebagainya orang mengenal sihir tenung. Namun, sangat disayangkan
bahwa penelitian dalam bidang ini secara khusus dan mendalam belum banyak dilakukan. Oleh
karena itu perbendaharaan literatur mengenai praktik sihir-tenung di Indonesia dapat dikatakan
sangat miskin. Akibatnya, seringkali pengertian sihir-tenung dicampur-adukan dengan
pengertian dukun pada umumnya.


Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com

Sebelum buku mengenai sihir-tenung di indonesia, pernah disusun oleh C.J. Held benjudul
Magie Heksenij en Tovenij (1950) yang isinya antara lain membahas dukun sihir dan suangi
(Heksen en Soeangi's). Juga seorang ahil antropologi yang paling banyak menganalisis agama
dan gejala ilmu gaib, yaitu J. Fnazen (1976). telah mempelajari beratus-ratus kebudayaan di
seluruh dunia namun ia tidak banyak menonjolkan dan menguraikan pnaktik sihir-tenung di
Indonesia secara khusus. Beberapa suku dan tempat di Indonesia ia sebutkan, seperti Dayak,
Batak Karo dan kepulauan Indonesia Timur seperti Saparua dan Nusa Laut, dalam rangka
menjelaskan teknik upacara ilmu gaib yang dilakukan oleh orang-orang di tempat tersebut
dengan berbagai contoh-contohnya. Pada wanita Batak di Pulau Sumatera yang akan menjadi
seorang ibu terdapat kebiasaan mendudukan seorang anak dipangkuannya agar dikemudian
hari menjadi seorang ibu yang baik dan bijaksana. Sementara itu pada beberapa suku Dayak di
Kalimantan, wanita yang akan melahirkan memanggil seorang dukun untuk melancarkan
kelahirannya. Dukun tersebut berpura-pura menjadi ibu yang hamil dengan cara melekatkan
sebuah batu yang besar pada perutnya dan diselimuti. Selanjutnya dukun tensebut melepas
selimutnya seolah-olah bayinya telah dilahinkan. Usaha ini bertujuan untuk meringankan proses
kelahinan seorang ibu. Di Saparua dan Nusa Laut bila seorang nelayan hendak menangkap
ikan ia akan mengambil terlebih dahulu sebatang pohon yang buahnya banyak dan sering
dipatuk oleh burung. Potongan dahan pohon tersebut ditempelkan pada jaring ikannya. Hal ini
diyakini akan diperoleh banyak ikan pada jaring sebagaimana lebatnya buah pohon tersebut
(Frazer, 1976:14-21). Teknik upacara ilmu gaib berupa imitative magic dan contaigious magic
tersebut, pada hakikatnya memang dilakukan oleh setiap dukun tenung dalam rangka
mempraktikkan ilmu gaib.

Di kepulauan Maluku dan Irian Jaya terdapat ilmu sihir yang disebut suangi, sementara di Bali
tendapat pula semacam suangi yang katanya dapat merubah dirinya menjadi binatang buas
kemudian mengganggu penduduk. Makhluk yang berupa separuh binatang dan separuh
manusia itu, disebut leak. Leak berasal dari orang yang memiliki kesaktian mengubah dininya
menjadi binatang seperti kera, ular atau harimau. Yang paling populer adalah raksasa yang
berlidah panjang. Leak dipencayai bisa menyebarkan penyakit dan guna-guna kepada orang
lain. Hampir serupa dengan leak, di Sumatera Utara ditemukan Begu Ganjang yang juga
ditakuti penduduk. Di Sumatera Barat, yaitu di kalangan masyarakat Minangkabau, terdapat
kepercayaan terhadap puntianak yakni orang penempuan yang suka menghisap darah bayi
dengan jalan menghirup ubun-ubun bayi dari jauh. Di kalangan masyarakat Minangkabau
masih banyak orang yang percaya tentang adanya orang yang dapat dimintai untuk
mencelakakan orang lain dengan jalan gaib, yaitu dengan menggangsing (mengantarkan racun
melalui udara dan sebagainya). (Yunus, 1975:254). Sementara di Minahasa ada orang yang
melakukan ilmu yang disebut Pandoti (Kalangi, 1975: 162).

Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com


Di pulau Timor misalnya pada orang Roti, orang Helor, dan sebagainya Suparlan (1975),
mencatat adanya kepencayaan terhadap dukun. Dijelaskan bahwa jika ada malapetaka maka
seorang dukun dipanggil untuk mencoba menemukan sumber dari malapetaka tersebut dan
kemudian berusaha untuk menolaknya dengan menggunakan obat-obatan dan mantera yang
dianggap dapat mengalahkan makhluk halus yang menyebabkannya. Di samping itu, ada juga
makhluk halus yang dapat disuruh oleh para dukun sihir-tenung tertentu yang merugikan orang
lain. Hanya dukun-dukunlah yang dapat dan sanggup untuk melawan kekuatan sihir-tenung
yang berasal dari dukun lain. Suparlan menambahkan bahwa orang di Timor masih pergi ke
dukun karena pendeta dan guru-guru agama Kristen dianggap tidak dapat rnemberikan
pertolongan langsung dalam soal mengatasi malapetaka yang disebabkan oleh makhluk halus
atau sihir-tenung. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa di dalam bukunya Javanese Duku
(1978), Suparlan membagi dukun di dalam kategori sosial yang terwujud di dalam
masyarakatnya karena keahlian dan pekerjaannya dalam hal yang khusus berhubungan
dengan sihin-tenung dan pengobatan.

Disimpulkan oleh Suparlan bahwa para dukun sangat dihargai dan diharapkan kehadirannya
dalam masyarakat, tetapi kadangkala ditakuti dan dihindani oleh warga masyarakat. Dengan
demikian, uraian di atas dapat memperjelas kedudukan dan peranan dukun yang sebenarnya,
khususnya di Indonesia. Dalam batasan ini selain sebagai tenaga penyembuh dukun juga
berperan sebagai orang yang dipercayai bisa mencelakakan orang lain.

Sementara Lieban (1976: 88) membedakan dua jenis dukun, yaitu dukun sebagai healer
(penyembuh) dan dukun sebagai sorcerer (tukang tenung).

Praktek dukun sebagai sorcerer inilah yang dianggap merugikan dan menggoncangkan
masyarakat. Dalam kenyataannya praktik ilmu tenung (sorcery) di Indonesisa seringkali terjadi
dan menimbulkan akibat-akibat sampingan yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana
yang merugikan dan sekaligus mengancam setiap warga masyarakat lain. Reaksi sosial yang
timbul terhadap praktik ilmu sihir-tenung di Indonesia. antara lain berupa penganiayaan ringan,
penganiayaan berat, pengeroyokan, penyembunyian mayat, ataupun pembunuhãn, yang
ditujukan terhadap si dukun tenung. Semua bentuk kejahatan itu diancam oleh Kitab Undang-
undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang merupakan peninggalan pemerintah Hindia
Belanda dan masih berlaku hingga kini.

Adapun kepercayaan terhadap ilmu sihir-tenung khususnya, dan perdukunan pada umumnya
hidup dengan subur di pedesaan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa masyarakat perkotaan

Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com

tidak mempercayai praktik tenung. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh banyak dukun
di daerah pedalaman Banten, disebutkan bahwa banyak dan mereka yang meminta jasa
pelayanan adalah pejabat dan orang kota.

Gejala tersebut, tercermin banyaknya film Indonesia yang bertemakan horor dan ilmu gaib yang
sering ditonton oleh orang kota, seperti Ratu Ilmu Teluh (1980), GunaGuna Isteri Muda (1980),
Pembalasan Guna-Guna Isteri Muda (1981), Tumbal Iblis (1981), Mistik Leak (1982) dan lain
sebagainya. Film-film tensebut dapat mempengaruhi persepsi masyanakat tenhadap gejala
kepencayaan tensebut atau sebaliknya mencerminkan persepsi masyarakat. Hal ini juga beranti
bahwa kepercayaan semacam itu ternyata masih merupakan bagian dari kehidupan
masyarakat Indonesia. Khususnya di Jawa sihir tenung disebut santet atau teluh (Jawa Barat).

3. KONSEP SANTET

Berdasarkan kajian antropologi santet termasuk sorcery atau witchcraft dan kedua-duanya
termasuk black magic (ilmu hitam). Kedua tipe ini ditentang masyarakat, tukang sihir (witchcraft)
dianggap jahat 'selama-lamanya, sedangkan tukang tenung (sorcerer) berbahaya pada saat-
saat tertentu saja. Menurut Mac Farlance (1970) tukang sihir dianggap semenjak lahir menjadi
penjahat, sedangkan tukang tenung setelah ía menjadi dewasa. Dan sudut motivasi ada
perbedaan antara witch dan sorcerer. Yang disebut pertama dianggap sebagai budak setan
atau iblis, sedangkan yang kedua adalah orang yang melakukan perbuatannya, karena
didorong oleh desakan tertentu seperti: dengki, iri hati, atau balas dendam yang merupakan
bagian pengalaman hidup setiap orang (Marwick, 1970: 13)

Witchcraft dan sorcery memang sejalan dengan penafsiran Firth (1960: 171) mengenai black
magic yaitu: suatu tindakan yang sengaja merusakkan kesejahteraan orang, dengan motif
pembalasan dendam dan sakit hati, yang mengakibatkan hancurnya milik orang lain,
pendenitaan, sakit atau kematian.

Dapat disimpulkan tujuan akhin dan kedua "ilmu" tersebut adalah sama, baik sihir atau tenung
dapat mencelakakan orang lain. Sering kali tukang tenung menyadari perbuatannya,
sedangkan tukang sihir karena kekuatan didalam tubuhnya tidak menyadari dirinya tukang sihir,
sampai ia dituduh orang lain sebagai tukang sihir.

Sarana dan alat yang dipakai ialah mantera, jimat dan simbol. Dalam hal tata cara tersebut
lebih jelas Krige (1947: 9) mencoba pula membedakan sihir dan tenung dengan memfokuskan
kepada pelakunya sebagai berikut: Tukang sihir biasanya wanita, bekerja di malam hari,

Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com

menggunakan rekan didalam prakteknya (elang, ular) dan turun temurun. Sedangkan tukang
tenung umumnya pria, bekerja siang hari, menggunakan racun atau mantera didalam
prakteknya, tidak turun temurun. Data-data dan kesimpulan tersebut merupakan temuan para
antropolog yang meneliti dibenua Afrika dan Oceanea.

Di Indonesia umumnya tidak dikenal kategori pelaku wanita atau pria sebagai tukang santet.
Tersangka tukang santet adalah orang kebanyakan saja yang tidak memiliki ciri-cini khusus.
Akan tetapi mereka memiliki sifat-sifat asosial yang mengakibatkan masyanakat mengasingkan
si pelaku.

Di lain pihak sebutan tukang santet dapat dipakai sebagai legitimasi seseorang untuk
menyingkirkan orang yang tidak disukai kanena dianggap mengancam ketenteraman penduduk
atau alasan terselubung lainnya.

Pemberian cap terhadap tukang santet, bukan karena ia diketahui melakukan aksi santet
(karena sulit dibuktikan), melainkan karena sikap permusuhannya terhadap tetangga atau
kenalan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai atau norma yang berlaku.

Sebagai gambaran di Eropa pada tahun 1490 timbul doktrin yang mencari, menemukan dan
menghancurkan tukang santet dimanapun berada. Maka terjadilah perburuan tukang santet
selama benabad-abad karena rasa takut terhadap santet menyebar luas.

Semua orang mencoba menghubung-hubungkan tindakan atau tingkah laku yang menyimpang
sebagai perbuatan santet. Sering terjadi seseorang yang dituduh sebagai pelaku santet. akibat
siksaan yang tidak tertahankan terpaksa mengaku sebagai tukang santet.

Maka ribuan tersangka dibakar hidup-hidup, meskipun mereka tidak bersalah. Banyak orang
menyalah gunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadinya dengan cara membalas
dendam kepada seseorang yang ingin dilenyapkannya. Untunglah pada tahun 1951 doktrin
berupa Undang-undang santet dihapuskan, setelah lebih dan tiga abad dijalankan. Di Indonesia
juga ditemukan banyak kasus tersangka tukang santet dikeroyok massa, akibat fitnah belaka.


4. FUNGSI SANTET

Brendt (1970) seorang antropolog yang meneliti santet di Oceanea menyatakan: sebagai
seorang ilmuwan kita tidak benkepentingan dengan realitas empirik apakah santet itu benar-

Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com

benar ada atau sungguh-sungguh terjadi, akan tetapi adanya kepercayaan yang dihayati oleh
masyarakat setempat, merupakan tingkat realitas yang diperlukan bagi penelitian sosial.

Nyatanya fakta sosial menunjukkan bahwa santet di desa-desa di Indonesia bukan saja
melembaga (institusionalized) akan tetapi juga sudah mendarah daging (internalized).
Nampaknya santet telah menjadi mekanisme untuk menyelesaikan sengketa antan warga. Hal
ini tercermin dalam kasus-kasus sengketa diantara warga desa. Sengketa mulai dan pensoalan
kecil seperti: batas pagan rumah dan sawah, kasus utang piutang, penolakan cinta dan
sebagainya. Sengketa tersebut menimbulkan dendam yang berkepanjangan yang diakhinri
dengan penggunaan santet untuk menindak lawan. Walaupun keampuhan dan kebenaran
santet tidak pernah dapat dibuktikan namun hal itu telah menjadi bagian dalam kehidupan
penduduk sehari-hari. Disisi lain santet menimbulkan reaksi sosial berupa tuduhan, gunjingan,
pengucilan, penganiayaan. pengeroyokan, pembunuhan dan sebagainya terhadap si tersangka
tukang santet. Mereka dituduh melakukan berbagai perbuatan seperti mengirim santet atau
teluh yang merugikan orang lain. Anehnya sekalipun tukang santet terancam hidupnya,
kehadiran mereka dalam masyarakat sampai batas tertentu nampaknya dibiarkan karena
mempunyai fungsi tertentu.

Di desa-desa yang terkenal santetnya orang sening kali takut melakukan kejahatan atau
mencelakakan orang lain karena menduga jangan-jangan orang lain tadi memiliki ilmu santet
yang lebih tinggi. Dengan cara mengembangkan unsur nasa takut kepada setiap pelaku
penyimpangan inilah maka santet memiliki fungsi sosial kontrol.

Di lain pihak santet merupakan sarana integnitas komunitas antar sesama anggota dalam
hubungan saling curiga mencunigai. Dalam situasi demikian, perlu sasaran untuk mengurangi
konflik antar sesama. Yang menjadi korban jelas : tukang santet sikambing hitam.

Dapat disimpulkan santet mempunyai fungsi menjaga ketahanan kelompok dan menunjang
keseimbangan sosial.

5. PANDANGAN KRIMINOLOGI

Dari sudut kriminologi, santet dapat dikonstantir sebagai perilaku menyimpang, sebab
kniminologi tidak saja mempunyai sasaran penelitian hal-hal yang oleh negara atau hukum
dinyatakan terlarang, tetapi juga tingkah laku yang oleh masyarakat dianggap tidak disukai,
sekalipun tidak diatur oleh hukum pidana. Kenyataan menunjukkan bahwa masyanakat
memang tidak menyukai kehadiran santet. Terbukti dengan adanya reaksi sosial yang keras

Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com

seperti disebutkan sebelumnya. Masyarakat memperlakukan tukang santet seperti penjahat.

Hal ini sesuai dengan teori labeling dalam kriminologi yang menyatakan bahwa kejahatan
bukanlah kualitas yang unik dan suatu tingkah laku, akan tetapi lebih ditentukan oleh reaksi
masyarakat yang ditimbulkannya.

Teori ini menyebutkan bahwa seseorang yang dicap sebagai penjahat, menyebabkan orangnya
diperlakukan sebagai penjahat. Unsur ini dipenuhi juga oleh kasus-kasus tukang santet yang
dikeroyok massa, atau ditahan di Polsek untuk diintenogasi.

Hanya karena ketiadaan barang bukti sajalah menyebabkan mereka dibebaskan kembali. Jelas
dari sudut kriminologi mereka bisa dikategorikan sebagai penjahat tak terhukum (unpunished
criminals).

Sementara fungsi kriminologi terhadap hukum pidana adalah meninjau secara kritis hukum
pidana yang berlaku dan memberi rekomendasi guna perbaikan-perbaikan KUHP yang akan
datang. Maka masalah legal gaps yang disebutkan oleh Prof Sutandyo bisa diatasi oleh penan
kriminologi. Menurut Prof. Sudanto almarhum, kniminologi dapat menyediakan bahan-bahan
untuk politik kniminal maupun politik hukum dan policy maker yang bijak tidak boleh
mengabaikannya. Mengabaikan hasil penelitian dan kriminologi membawa resiko terbentuknya
undang-undang yang tidak fungsional bahkan mungkin undang-undang yang disfungsional. Hal
ini memang sudah terbukti . lebih dan 15 tahun yang lalu saya mengusulkan kriminalisasi santet
berdasarkan hasil penelitian yang menggambarkan santet meresahkan masyanakat. (Baca
Pendekatan Kriminologi tenhadap masalah guna-guna: Kompas tahun 1974). Sementara itu
kriminalisasi mengandung juga pengertian aktualisasi pasal-pasal KUHP yang ada. Nyatanya
pasal-pasal yang mengatur pnaktek ilmu gaib mengalami kemandulan. Konon pasal 545
melarang seseorang berprofesi sebagai tukang ramal atau penafsir mimpi. Nyatanya praktek
tukang ramal bertebaran dimana-mana seara tertutup ataupun terbuka. Di pasar dan dipusat
keramaian lainnya banyak praktek dukun ramal menggunakan burung gelatik atau meramal
kode buntut. Dilapisan atas banyak pengusaha pejabat rajin mendatangi peramal kartu
menanyakan nasibnya. Belum lagi ramalan berupa astrologi, palmistri, grafologi yang terdapat
dalam mass media. Kesemuanya ini dibiarkan sehingga undang-undang menjadi disfungsional.

Pasal 546 melarang penjualan benda-benda gaib. Nyatanya sejak lama benda-benda gaib
tertentu mulai dan keris, batu mirah delima, batu anti tembak, keong buntet, rotan nunggal. wesi
kuning ramai dicari dan diperjual belikan dengan harga yang tinggi. Pasal 547 melarang
seseonang untuk mempengaruhi jalannya sidang pengadilan dengan menggunakan jimat dan

Koleksi Artikel dari Biasawae Community
Copyleft © 2005 biasawae.com

mantra. Bagaimana mungkin melacak jimat (bentuknya bermacam-macam) dan mantra?
Apakah tenlarang bagi seorang tendakwa berkomat kamit mulutnya disidang pengadilan
membaca doa guna meningankan hukumannya?

Menurut hemat saya pasal-pasal tersebut tidak mengatur perilaku santet. Harus ada
dekriminalisasi atau penghapusan pasal-pasal ilmu gaib. Biarlah orang meramal, jual bell benda
gaib dan sebagainya, toh secara kriminologis tidak meresahkan masyarakat. Sebaliknya harus
tetap ada kriminalisasi santet dalam arti melahirkan delik baru karena dampak sosial yang
ditimbulkan merupakan faktor potensional kriminogen yang cukup besar. Keresahan
masyarakat, main hakim sendiri, pelecehan agama merupakan produk sampingan yang
ditimbulkannya.

Saya tidak menyarankan penyusunan delik santet yang mengacu kepada perumusan yang
bersifat materiil karena adanya kendala pembuktian. Yang dipidana bukanlah hakekat
penganiayaan atau pembunuhan terselubung yang dilakukan oleh tukang santet, melainkan
perbuatan-perbuatan mereka yang mengganggu ketertiban umum.










Sign up to vote on this title
UsefulNot useful