ARSITEKTUR

DI INDONESIA
MASA
KEMERDEKAAN


PROKLAMASI KEMERDEKAAN 1945
Pembacaan Naskah Proklamasi dan
Pengibaran Bendera Merah Putih di Jl.
Pegangsaan Timur 56.
PENGAKUAN INTERNASIONAL 1949
Konferensi Meja Bundar di Den Haag yang
mengantarkan Indonesia pada Pengakuan
Kedulatan Internasional
PEMIMPIN INTERNASIONAL 1955
Konferensi Asia Afrika di Bandung adalah
penggalangan solidaritas antar negara Asia
Afrika untuk memegang peran penting di
dunia
The Architect
of the Nation

Setelah pengakuan kedulatan RI
secara Internasional, Presiden
Soekarno menujukkan aspirasi untuk
menghantarkan Indonesia ke
panggung dunia.

Secara Arsitektural, hal ini ditunjukkan
melalui pembangunan monumen-
monumen untuk mengungkapkan
suatu bangsa yang bangkit menuju
kejayaannya.

Soekarno memiliki latar belakan
pendidikan Ilmu Bangunan, pernah
magang pada arsitek Wolff Schoemaker
dan merancang sejumlah bangunan
privat maupun publik. Dengan
kemampuan arsitekturalnya, banyak
gagasannya yang diwujudkan melalui
karya para arsitek yang menjadi
“visualizer” bagi ide-idenya.
The Language
of the World

Pada dekade 1950-an – 1960-an
Arsitektur Modern tersebar ke seluruh
dunia bukan hanya di negara-negara
industri maju saja sehingga disebut
sebagai the International Style yang
menjadi bahasa untuk menujukkan
kemajuan dan keunggulan bangsa.

Soekarno sangat terinspirasi oleh Kota
Brasilia yang dibangun oleh arsitek
Oscar Niemeyer dengan komposisi
geometris dan penggunaan material
industrial yang mencolok. Langgam
tradisional seperti Masjid Jami
Bengkulu yang dirancangnya tak lagi
relevan dengan perkembangan jaman
saat itu.
Plaza of Three
Powers, Brasilia,
Oscar Niemeyer.
Soekarno ingin membangun jejak arsitektural bagi semangat
bangsa yang sesuai dengan perkembangan jaman pada saat itu
serta abadi untuk berabad-abad ke depan yang berupa monumen-
monumen besar yang dicirikan dengan:
1. Skala yang sangat besar sehingga tampil sebagai monumen
yang menonjol di lingkungan sekitarnya,
2. Bentuk dasar geometris yang jelas sebagaimana ungkapan
pemikiran rasional,
3. Material dan Teknologi (khususnya beton) berbasis industri
untuk membangun monumen yang tangguh dan tahan lama.
MONUMENTS
FOR THE
NATIONS
Tugu dan Nasionalisme
Soekarno sangat akrab dengan ungkapan Tugu sebagai Monumen bagi semangat
nasionalisme dan perjuangan. Di satu sisi tugu berakar pada simbolisme kuna lingga-yoni
yang melambangkan penyatuan. Di sisi lain sosok vertikal -lugas tugu mudah untuk
disesuaikan dengan arsitektur modern yang diaspirasikannya.

Tugu Pahlawan Surabaya (1953) dan Tugu Muda Semarang (1954)
Tugu Nasional, Monumen Nasional
F. Silaban & RM Soedarsono &
Sayembara Tugu Nasional (1954) dimenangi oleh F. Silaban yang
kemudian Soekarno menugasi Soedarsono untuk
menyempurnakan rancangan tersebut dengan tema lingga-yoni
dengan ujung lidah api. Pembangunan dimulai pada tahun 1961.
Masjid Istiqlal
F. Silaban memenangi sayembara perancangan pada
tahun 1955. Masjid dengan kapasitas 200.000 jamaah
ini menjadi monumen bagi keberadaan Indonesia
sebagai negara dengan komunitas muslim terbesar di
dunia. Bangun prisma berdenah persegi yang
dinaungi kubah berdiameter 45 meter ini hadir
menonjol di tengah ruang terbuka. Ritme yang
terbentuk oleh garis-garis vertikal dan horisontal ini
mendominasi bidang vertikal selubung bangunan
monumental ini.
Dirancang dengan langgam Internasional yang lugas, Masjid
Istiqlal terbentuk atas komposisi elemen-elemen struktural
yang tersusun estetis, yakni: kolom persegi dan balok di luar,
serta kubah dan kolom silindris di dalam.
Masjid Istiqlal
Stadion Gelora Bung Karno
Stadion di Senayan, Jakarta ini dibangun dengan pinjaman lunak dan dukungan teknis
dari Uni Soviet. Soekarno memaksa arsitek dan tenisi Rusia untuk membuat atap
keliling penuh yang disebutnya “tepung gelang” (mungkin melambangkan “gotong
royong”) yang sulit dibuat saat itu. Struktur lipat memungkinkan atap stadion dengan
kapasitas 100.000 ini dibuat tepung gelang. Stadion ini pertama kali dipergunakan
untuk Asian Games 1962, event olah raga internasional pertama yang diselenggarakan
di Indonesia.
Hotel Indonesia
Hotel Indonesia dibangun hampir bersamaan dengan
Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu dan Hotel
Ambarrukmo di Yogyakarta untuk memunjukkan
kemampuan Indonesia dalam menyambut tamu
dunia. Dibangun untuk menyambut tetamu yang
hadir pada Asian Games 1962, Hotel Indonesia
diracang oleh Abel & Wendy Sorensen dari Amerika
dengan Langgam Internasional. Atap berganda dan
ventilasi silang diterapkan untuk pengendali thermal.
Gedung Conefo – DPR-MPR

Gedung ini dimulai pembangunannya pada peringatan 10 tahun
Konferensi Asia Afrika dan ditujukan untuk sidang CONEFO
(Conference of Newly Emerging Forces). Bangunan ini dirancang
Soejoedi Wirjoatmodjo, Dipl Ing lulusan Technische Universiteit
Berlin ini memiliki bentuk kubah ganda yang bertaut yang
disangga dua busur di atas platform persegi.
Gedung berstruktur beton canggih mengembangkan konsep
sepasang sayap yang akan terbang. Meskipun Konferensi tersebut
urung diselenggarakan, Gedung yang berbentuk khas ii menjadi
monumen yang dipergunakan sebagai Gedung DPR-MPR RI

Wisma Nusantara
Wisma Nusantara dirancang oleh Wiratman Wangsadinata
dengan dana pampasan perang Jepang dengan tinggi 29
lantai sehingga menjadi gedung pencakar langit teringgi di
Asia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful