You are on page 1of 21

 

Laporan Final Project Praktikum Rangkaian Logika

Alat Ukur Jarak Digital

Oleh :

Yuni Almaadin (2206.100.035)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2009
 

 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

PENDAHULUAN 

Tachometer merupakan alat yang digunakan pada kendaraan


bermotor, khususnya mobil untuk mengukur kilometer yang teleh ditempuh suatu
kendaran. Pada beberapa jenis kendaraan, tachometer yang digunakan umumnya
disajikan dalam display analog. Kilometer yang yang ditempuh disajikan dalam
format kombinasi bilangan yang berderet.Penghitungan jarak yang telah ditempuh
didasarkan pada prinsip penghitungan putaran roda.
Beberapa kendaraan lain yang telah melakukan inovasi, mengganti
display tachometer dengan display digital. Display ini dapat menyajikan kilometer
tertempuh secara langsung. Display yang digunakan menggunakan sevent segmet.
Prinsip dasar pembuatan tachometer digital adalah dengan
memanfaatkan prinsip counter. Conter dapat digunakan untuk menggeser bit-bit
biner sehingga dapay menghasilkan counting. Prinsip utama counter adalah flip-
flop. Flip-flop yang sering digunakan adalah JK Flip-Flop.

2
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

DASAR TEORI 

Rangkaian logika dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu rangkaian


logika kombinasional dan rangkaian logika sekuensial. Rangkaian logika
kombinasional adalah rangkaian yang keadaan outputnya hanya bergantung pada
kombinasi input-inputnya saja dan tidak bergantung pada keadaan output
sebelumnya. Rangkaian logika sekuensial adalah rangkaian yang keadaan
outputnya bergantung pada kombinasi input-inputnya dan juga bergantung pada
keadaan output sebelumnya.
Rangkaian-rangkaian gerbang logika seperti penjumlah, pembanding,
dekoder / demultiplekser dan multiplekser merupakan rangkaian kombinasional.
Keadaan keluaran rangkaian tersebut pada suatu saat hanya bergantung pada
keadaan masukannya pada saat itu juga. Keadaan masukan ataupun keluaran
sebelumnya sama sekali tidak mempengaruhi keadaan keluaran berdasarkan
masukan terbarunya. Hal semacam ini menunjukkan bahwa pada rangkaian
kombinasional tidak memiliki kemampuan untuk mengingat atau tidak mampu
menyimpan keadaan yang pernah dihasilkan sebelumnya. Dengan kata lain
rangkaian kombinasional tidak memiliki unit pengingat (memory). Piranti digital
yang dapat diprogram, seperti komputer, selain tersusun dari rangkaian
kombinasional tetapi juga terdiri dari unit-unit pengingat (memory). Unit ini
merupakan rangkaian sekuensial, yaitu suatu sistem digital yang keadaan
keluarannya pada suatu saat selain ditentukan oleh keadaan masukannya pada saat
itu tetapi juga tergantung pada keadaan masukan atau keluaran pada saat
sebelumnya. Jadi jelas bahwa pada sistem sekuensial diperlukan unit pengingat
atau memory yang digunakan untuk menyimpan data masa lalunya. Unit terkecil
dari rangkaian digital yang memiliki kemampuan untuk mengingat tersebut adalah
flip-flop.

3
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

Flip-Flop
Flip-flop adalah suatu rangkaian yang memiliki dua keadaan stabil.
Keluaran flip-flop bertahan pada satu keadaan hingga ada pulsa pemicu yang
menyebabkan keluarannya berubah ke keadaan yang lain. Pulsa pemicu tersebut
berlangsung sangat singkat (pendek) dan tepat. Sekali dipicu flip-flop akan
mempertahankan keadaannya yang baru dan menyimpan data sesudah adanya
perintah masukan berhenti. Pada dasarnya flip-flop merupakan rangkaian logika
dengan dua keluaran (Q dan Q’) dengan keadaan yang saling berkebalikan. Jika
sebuah flip-flop dikatakan berada pada keadaan tinggi (1) atau rendah (0), maka
yang dimaksud adalah keadaan pada keluaran normal (Q). Tentu saja keadaan
keluaran komplemen (Q’) selalu berkebalikan dengan Q. Dengan demikian ada
dua keadaan kerja yang mungkin dari suatu flip-flop. Flip-flop memiliki banyak
jenis yaitu FF-SR, FF-SR Berdetak, FF-JK, FF-JKMS, FF-D, FF-T.
1. Flip-Flop S-R
Flip-flop adalah susunan gerbang logika yang menjaga keluaran tetap
stabil walaupun masukan sudah tidak aktif. Keluaran flip-flop ditentukan oleh
nilai masukan dan juga nilai keluaran sebelumnya, sehingga unit logika
kombinasional tidak cukup untuk menangani hal ini. Flip-flop dapat
digunakan untuk menyimpan informasi bit tunggal, dan berlaku sebagai
pembangun memori komputer. Jika kedua masukan pada gerbang NOR dua
masukan bernilai 1, maka keluarannya akan 0, selain itu keluarannya akan 1.
Waktu yang diperlukan untuk menghasilkan keluaran dari masukan gerbang
logika tidaklah seketika tetapi sebesar yang merupakan waktu perambatan
melalui gerbang logika. Waktu tunda ini kadang-kadang dimunculkan sebagai
rangkaian tunda untuk keperluan analisis. Waktu tunda ini secara normal
tidak dimunculkan tetapi tetap ada. Waktu perambatan melalui gerbang NOR
mempengaruhi operasi flip-flop. Jika kita isikan 1 pad S, maka Q akan
bernilai 0 setelah waktu tunda, yang menyebabkan Q bernilai 1 (dianggap R
bernilai 0) setelah waktu tunda 2. Akibatnya adalah selama penggalan waktu
tertentu ada waktu singkat sebesar yang Q dan Q bernilai 0, yang secara logis
tidak dibenarkan, tetapi kondisi ini dapat diperbaiki dengan konfigurasi tuan-
hamba (master-slave) yang akan kita bahas nanti. Jika kemudian S diisi

4
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

dengan 0, maka Q tetap, sampai nilai R beranjak menjadi 1. Dengan demikian


flip-flop S-R dapat menyimpan nilai bit tunggal dan dapat berlaku sebagai
elemen memori paling dasar.
2. Flip-Flop SR Berdetak
Perlu diketahui bahwa masukan ke flip-flop S-R dapat berasal dari
keluaran rangkaian lain, dalam bentuk rangkaian logika berjenjang. Hal ini
biasa terjadi pada rangkaian logika konvensional. Masalahnya adalah transisi
dapatterjadi pada waktu yang tidak diinginkan. Jika sinyal A,B, dan C
semuanya berubah dari keadaan 0 menjadi 1, maka sinyal C akan mencapai
gerbang XOR sebelum A dan B keluar dari gerbang AND. Akibatnya nilai S
akan 1 walaupun sebentar sampai keluaran dari gerbang AND sudah mantap
dan dioperasian XOR dengan C. Jika nilai 1 pada S bertahan cukup lama
maka akan mengakibatkan nilai yang tersimpan dalam flip-flop bisa berubah.
Jika keadaan akhir dari flip-flop sensitif terhadap kedatangan sinyal maka
dapat menimbulkan glitch, yang sebenarnya merupakan keadaan atau keluran
yang tidak diinginkan. Rangkaian yang dapat menghasilkan glitch disebut
rangkaian yang mengandung hazard. Untuk menyelaraskan pengendalian
terhadap rangkaian yang tergantung pada keadaan (misalnya flip-flop) maka
digunakanlah detak (clock) yang akan mengaktifkan rangkaian dalam selang
waktu tertentu secara serentak. Rangkaian detak menghasilkan sinyal 1 dan 0
bergantian terus menerus dengan periode waktu yang tetap sehingga
membentuk gelombang kotak. Waktu yang diperlukan detak untuk naik,
turun dan kemudian mulai naik lagi disebut waktu siklus atau periode.
Gelombang kotak yang ditampilkan pada gambar tersebut adalah bentuk
gelombang detak ideal. Dalam kenyataannya, gelombang tersebut tidak
berbentuk persegi tetapi membulat karena perlu waktu untuk menjadi tinggi
dan rendah, tidak berlangsung seketika. Kecepatan detak berkebalikan dengan
waktu siklus. Untuk waktu siklus sebesar 25 ns/siklus berarti kecepatannya
adalah 1/25 siklus/ns, yang sama dengan 40.000.000 siklus per detik atau 40
MHz. Kita dapat menggunakan sinyal detak untuk menghilangkan hazard
dengan membuat flip-flop S-R berdetak. Simbol CLK berarti clock atau
detak. Sekarang S dan R tidak dapat mengubah keadaan hingga detak bernilai

5
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

tinggi. Dengan demikian S dan R dibuat mantap dahulu pada posisi detak
rendah, baru kemudian detak menjadi tinggi dan nilai yang stabil akan
tersimpan dalam flip-flop.
3. Flip-Flop D
Kelemahan dari flip-flop S-R adalah bahwa untuk menyimpan nilai 1
atau 0, kita harus mengisi 1 pada S atau R. Konfigurasi alternatif untuk
menyimpan nilai 1 atau 0 adalah dengan menggunakan flip-flop D. Flip-flop
D disusun dari flip-flop yang dipasangi pembalik antara masukan S dan R.
Dengan demikian ketika detak bergerak naik, maka nilai pada jalur D akan
disimpan. Flip-flop biasa digunakan pada rangkaian yang mempunyai umpan
balik dari keluaran kembali ke jalur masukan melalui rangkaian lain. Hal ini
kadang-kadang menyebabkan keadaan flip-flop berubah lebih dari sekali
dalam satu siklus detak. Untuk memastikan bahwa dalam satu siklus hanya
terjadi 1 perubahan keadaan pada flip-flop, kita cegat kalang umpan balik
dengan membentuk flip-flop tuan-hamba.
Flip-flop tuan-hamba berisi 2 flip-flop yang disusun berurutan dengan
detak untuk flip-flop kedua dipasang pembalik. Flip-flop tuan akan berubah
saat detak tinggi, tetapi flip-flop hamba tidak berubah sampai detak rendah.
Dengan demikian diperlukan detak naik kemudian turun untuk memindahkan
isi jalur D pada flip-flop tuan ke keluaran Qs pada flip-flop hamba. Simbol
segitiga pada flip-flop tuan-hamba menunjukkan bahwa perubahan keadaan
hanya terjadi pada saat detak berubah naik ( dari 0 ke 1) atau turun (dari 1 ke
0). Flip-flop picuan level keadaan berubah terus-menerus selama detka
bernilai tinggi (atau rendah tergantung desain flip-flop). Flip-flop picuan tepi
berubah hanya saat terjadi perubahan detak dari tinggi-ke-rendah atau dari
rendah-ke-tinggi. Beberapa buku tidak memasang simbol segitiga pada
masukan detak. Untuk membedakan antara flip-flop picuan level atau picuan
tepi digunakan cara lain. Penggunaan simbol segitiga membuat tipe flip-flop
menjadi jelas.

6
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

4. Flip-Flop JK dan T
Selain flip-flop S-R dan D, flip-flop J-K juga termasuk flip-flop yang
cukup terkenal. Flip-flop J-K mempunyai kelakuan yang mirip dengan flip-
flop S-R kecuali bahwa flip-flop ini akan mempunyai keluaran Q=1 untuk
J=1 dan K=0. Saat J=0 dan K=1 maka keluarannya Q=0. Jika J dan K bernilai
1, maka nilai keluaran akan berkebalika dengan nilai keluaran sebelumnya.
Namun untuk J dan K sama-sama bernilai 0, keluaran akan tetap.
Permasalahan pada saat dioperasikan dalam mode bergantian maka jika J dan
K keduanya bernilai tinggi dan detak juga tinggi, flip-flop dapat bergantian
nilainya lebih dari satu kali sampau detak menjadi rendah. Situasi ini
merupakan salah satu alasan penggunaan konfigurasi tuan-hamba.

Register dan Counter


Register ialah suatu komponen yang ada dalam komputer. Register
tersusun atas gate-gate atau rangkaian kombinasional yang bekerja dalam
satu/banyak flip-flop. Register bisa juga hanya terdiri dari flip-flop saja. Fungsi
dari register yaitu :
1. Memory Unit
Register mempunyai fungsi sebagai memory unit artinya bahwa
register dapat menyimpan data atau informasi. Informasi yang disimpan oleh
register biasanya berupa bit-bit biner.
2. Processing Unit
Register selain sebagai memory biasanya juga berfungsi sebagai
processing unit, maksudnya ialah register dapat memproses inputan/informasi
menjadi output yang berbeda. Biasanya register tidak terbatas hanya
menyimpan dan memproses data yang statis/tetap tetapi register yang
berjalan. Register yang berjalan inilah yang sering kita kenal dengan istilah
counter.
Counter ialah register yang berjalan, artinya data yang diproses dan
disimpan oleh register tidak hanya satu tetapi banyak data. Data tersebut
dilewatkan satu per satu melalui register. Data tersebut bisa bertambah atau
berkurang (biasanya disebut up counter dan down counter). Counter inilah

7
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

yang menyimpan dan memproses data sekian banyak satu demi satu sesuai
dengan isi rangkaian logika yang menyusun sebuah counter. Ada beberapa
jenis counter yaitu :
1. Synchronous Counter
Sycrhronous counter merupakan suatu rangkaian yang
mempunyai fungsi menghitung secara berurutan (urutannya tertentu)
baik dari angka kecil ke besar maupun sebaliknya, dimana perubahan
output secara sinkron/serempak diperoleh setelah satu clock (semua
clock input diperoleh dari satu sumber pulsa input).
L1 L3
L2 L4

S1
5V

U4B U3A U3B U4A


U2A U5A S U1C U6A
S U1A S U1B Q J S
Q J Q J _ CP Q J
_ CP _ CP _ CP
Q K Q K Q K Q K
R QClock
R R R 5V

S3
0V

2. Asynchronous Counter
Asynchronous counter merupakan suatu rangkaian yang
mempunyai fungsi menghitung secara berurutan (urutannya tertentu)
baik dari angka kecil ke besar maupun sebaliknya, masing-masing clock
dari input tidak dihubungkan kepada sumber yang sama.

S1
L3 L4 5V
L1 L2

U1B U1A U2A U3A


S S S S QCLOCK
Q J Q J Q J Q J 5V
_ CP _ CP _ CP _ CP
Q K Q K Q K Q K
R R R R

S3
0V

8
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

Decoder Seven Segment

Dekoder seven segment adalah rangkaian untuk menterjemahkan bilangan


biner agar dapat ditampilkan pada display seven segment, misalkan 0 (nol) dalam
biner adalah 0000 pada display seven segment. Untuk menampilkan pada dekoder
akan memberikan sinyal high(aktif) pada semua pin (a,b,c,d,e,f) kecuali pin g
sehingga akan terbentuk angka 0(nol) pada seven segment.

Tabel1. spesifikasi IC74LS49

Spesifikasi merupakan deskripsi dari apa yang ingin dibuat tanpa


menjabarkan bagaimana cara membuat hal itu. Pada tugas akhir ini akan
menspesifikasikan perangkat keras digital dekoder seven segement dengan
menggunakan bahasa “high order logic” (HOL).

Untuk membuktikan bahwa suatu implementasi sesuai dengan spesifikasi


dilakukan verifikasi. Verifikasi ini membuktikan bahwa sebuah implementasi
betul-betul mengimplementasikan apa-apa yang dijabarkan dalam spesifikasinya.

9
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

Pada verifikasi ini menggunakan bahasa “high order logic” (HOL) yang
merupakan formal verifikasi tipe “Theorem proving”.

Spesifikasi Dekoder Seven Segment

Dekoder seven segment merupakan devais yang memiliki fungsi


pemilihan keluaran untuk display seven segment sesuai dengan input yang telah
ditetapkan. Pada dekoder seven segment memiliki input empat buah bilangan
biner (A, B, C, D) dan pin untuk mengaktifkan seven segment(Bl), dengan
keluaran sebanyak 7 sesuai dengan display seven segment




B  c 
 


  e 
D  f 
BCD to 7 segment  g 
Bl 

gambar 1. Blok Input dan Output Pada Dekoder

Pada gambar diatas devais ini didefinisikan BCD yang mempunyai input
eksternal A, B, C, D, Bl dan output eksternal a, b, c, d, e, f, g yang menyatu dalam
satu paket berupa rangkaian terintegrasi (IC/Integrated Circuit).

Pada spesifikasi dekoder ini digunakan input sebanyak lima buah dan
tujuh output sesuai dengan karakteristik IC TTL 74LS49, sehingga didefinisikan
menjadi BCD(A, B, C, D, Bl, a, b, c, d, e, f, g). Dekoder BCD to seven segment
mempunyai spesifikasi cara kerja sebagai berikut :

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,0,0,0.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,1,1,1,1,1,0.

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,0,0,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,1,1,0,0,0,0.

10
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,0,1,0.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,1,0,1,1,1,0,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,01,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,1,1,1,1,0,0,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,1,0,0.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,1,1,0,0,1,1,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,1,0,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,0,1,1,1,1,0,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,1,1,0.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,0,1,1,1,1,1,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 0,1,1,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,1,1,0,0,0,0,0.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,0,0,0.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,1,1,1,1,1,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,0,0,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,1,1,1,0,0,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,0,1,0.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,0,0,1,0,1,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,0,1,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,0,1,1,0,0,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,1,0,0.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,1,0,0,0,1,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,1,0,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 1,0,0,1,0,1,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,1,1,0.

11
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,0,0,1,1,1,1.

• Jika Input D, C, B, A adalah 1,1,1,1.

maka Output a,b,c,d,e,f,g adalah 0,0,0,0,0,0,0.

Sesuai dengan tabel kebenaran dibawah ini.

Masukan Keluaran

D C B A a B c d e f g

0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0

0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0

0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1

0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1

0 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1

0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1

0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1

0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0

1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1

1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1

1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1

1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1

1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1

1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1

1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1

1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0

Tabel 2. Tabel kebenaran Spesifikasi Dekoder

12
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

RANCANGAN FINAL PROJECT 
 

 
Batery

Batery
7 Segment
 
pemilih jarak
 

  Motor
reset
on/off
  pengatur kecepatan

1cm
 

 
Pin
Limit Switching

Komponen yang Dipakai 
a. IC Counter 74191 atau 74193 sebanyak 3 buah.
b. IC Decoder BCD to Seven Segment 7447 sebanyak 3 buah.
c. IC Decoder BCD to Decimal 74145 sebanyak 1 buah.
d. Lampu display 7 Segment sebanyak 3 buah.
e. Resistor 1 KΩ sebanyak 1 buah.
f. IC Quad 2-input AND Gate 7408 sebanyak 1 buah.
g. Switch sebanyak 1 buah.
h. Limit Switch.
i. Regulator.

13
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

IMPLEMENTASI FINAL PROJECT 
 
Display 7  Display 7  Display 7 
segment  segment  segment 
 

  Decoder 
BCD to  Counter m  Counter dm  Counter cm 
 
decimal 
 

 
motor  roda  clock 
  Switch input 

Cara Kerja 
Jarak tempuh yang kita inginkan kita masukkan dalam saklar
inputan, berapa jarak yang diinginkan untuk ditempuh. Dari inputan yang
diinginkan akan menentukan output decoder 74145 yang dihubungkan ke
motor sebagai sumber tegangan bagi motor untuk menggerakkan motor
sehingga apabila motor bergerak maka roda dari mainan akan bergerak.
Truth table decoder disajikan di bawah. Masing-masing ouput pada
decoder dihubungkan dengan switch input. Jika saklar input = n di mana n
adalah input jarak dalam meter maka motor akan berhenti jika counter
meter = n. Hal ini terjadi karena saat counter meter pada keadaan kurang
dari n maka output decoder yang terhubung ke motor dalam keadaan high
sehingga motor bisa berputar sedangkan jika counter meter pada keadaan n
maka ouput yang terhubung ke motor berada dalam keadaan low sehingga
motor berhenti.
 

14
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

 
INPUT  OUTPUT 

A  B  C  D Q0 Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Q6 Q7  Q8  Q9

0  0  0  0  0  1  1  1  1  1  1  1  1  1 

0  0  0  1  1  0  1  1  1  1  1  1  1  1 

0  0  1  0  1  1  0  1  1  1  1  1  1  1 

0  0  1  1  1  1  1  0  1  1  1  1  1  1 

0  1  0  0  1 1 1 1 0 1 1 1  1  1 

0  1  0  1  1  1  1  1  1  0  1  1  1  1 

0  1  1  0  1  1  1  1  1  1  0  1  1  1 

0  1  1  1  1  1  1  1  1  1  1  0  1  1 

1  0  0  0  1 1 1 1 1 1 1 1  0  1 

1  0  0  1  1 1 1 1 1 1 1 1  1  0 

  Truth Table Decoder 74145
Motor kita hubungkan ke sebuah roda di  mana roda tersebut memiliki 
keliling  berkelipatan  1  cm.  Setiap  1  cm  keliling  roda  tersebut  kita  beri  dua 
keadaan gelap dan terang sebagai sensor untuk LDR atau photo diode. LDR kita 
hubungkan ke suatu sumber tegangan. LDR berfungsi sebagai saklar on/off yang 
kita hubungkan ke sebuah counter sebagai clock. Jika roda berputar maka akan 
terjadi  suatu  transisi  dari  0  ke  1  dan  sebaliknya.  Transisi  inilah  yang  akan  kita 
jadikan  sebagai  clock  pada  counter  cm  (centimeter).  Sedangkan  untuk  counter 
desimeter  memperoleh  clock  dari  ripple  counter  cm  dan  untuk  counter  meter 
memperoleh clock dari ripple counter desimeter. 

15
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

PENGUJIAN 

Pengujian yang dilakukan menggunakan teganagan dc 5 volt. Pada pengujian


menggunakan project board, counter dapat berjalan seperti pada rangkaian yang kami
simulasikan. Tapi pada pengujian menggunakan PCB, counter tidak dapat berjalan.

Dalam pengujian yang dilakukan terdapat kekurangan, di mana conter pada


board tidak dapat mencacah.

Masalah lain yang terjadi adalah putaran dynamo tidak dapat menghasilkan torsi
yang cukup untuk memutar clock.

16
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

ANALISIS DATA 
 

Dari pengujian terhadap alat yang kami buat, dapat kami analisis dari tiap-
tiap komponen. Dari rangkaian project board, counter dapat berjalan dengan
memakai clock IC timer 555. Pada alat kami counter berfungsi sebagai pengukur
jarak tempuh motor.

Jarak yang ditempuh motor bergantung pada banyaknya putaran dan


diameter roda motor. Pada tiap 1 cm roda diberi suatu jarum sebagai penggerak
limit switch yang akan dijadikan clock pada counter pertama (counter cm) dan
carry out dari counter cm akan dijadikan clock pada counter dm serta carry out
pada counter dm akan dijadikan clock pada counter meter.

Ouput dari counter sebanyak 4 bit akan dijadikan input dari decoder BCD
to Desimal 74145. Output dari decoder ini akan dijadikan supply pada motor atau
dynamo. Jika kita memasukkan input bernilai n maka output ke-n dari decoder
7445 akan dijadikan supply bagi motor. Pada saat counter meter berada pada
bilangan kurang dari n maka output ke-n dari decoder 7445 akan menghasilkan
logic 1 sehingga mampu memberikan supply tegangan bagi motor. Jika counter
meter berada pada bilangan ke-n maka output dari decoder 7445 akan berada pada
logic 1 sehingga motor tidak akan memperoleh supply tegangan dari decoder dan
akibatnya motor tidak bisa bergerak dan clock akan berhenti sehingga counter
juga akan berhenti.

Counter yang kami gunakan akan didispaly pada 7-segment. Karena driver
yang kami gunakan adalah IC decoder 7447 maka display 7-segment yang kami
gunakan adalah 7-segment common anoda.

Tapi sayangnya pada implementasi menggunakan PCB, counter tidak bisa


menyala. Hal ini mungkin diakibatkan ada circuit yang putus pada saat peleburan
tembaga atau memang kesalahan dari skema untuk menggambarkan rangkaian.

17
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

Namun jika counter dapat menyala, kendala yang mungkin dihadapi


adalah pada motor atau dinamonya. Dynamo yang kami gunakan tidak cukup kuat
untuk memutar roda yang terbebani atau tertahan putarannya oleh limit switch
yang kami pasang pada roda mekanisnya.

18
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

KENDALA‐KENDALA 
Kendala – kendala yang kami hadapi antara lain adalah :
1. Pencetakan board yang kurang sempurna
2. Penyolderan yang kurang sempurna
3. Pemasangan IC yang kurang sempurna
4. Motor yang kami pakai sebagai penggerak clock memiliki torsi yang kecil
 

19
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

KESIMPULAN                                                       
 

Alat pengukur jarak yang kami buat adalah meggunakan keliling roda
sebagai indikasi untuk menentukan seberapa jauh jarak yang telah ditempuh oleh
alat. Alat ini kami buat dengan ketelitian dalam cm. Input yang dapat kita
masukkan hanya berkisar antara 1 hingga 9 meter saja.

Komponen utama yang kami gunakan adalah counter modulo 10 sebagai


pencacah jarak tempuh alat dan motor sebagai penggerak alat ukur tersebut.
Adapun komponen pendukung yang lain adalah limit switch sebagai pembangkit
clock yang bekerja berdasarkan putaran roda dan merupakan fungsi jarak tempuh
alat ukur. Selain itu ada IC decoder 7445 untuk mengubah output biner pada
counter meter menjadi decimal yang nantinya akan digunakan sebagai supply
untuk motor penggerak.

Display yang digunakan adalah dengan menggunakan 7-segment common


anoda dengan driver IC decoder 7447 di mana IC ini bekerja secara active low.

Alat bekerja jika kita memasukkan suatu input yang bernilai n maka
output ke-n dari decoder 7445 akan dijadikan supply bagi motor. Pada saat
counter meter berada pada bilangan kurang dari n maka output ke-n dari decoder
7445 akan menghasilkan logic 1 sehingga mampu memberikan supply tegangan
bagi motor. Jika counter meter berada pada bilangan ke-n maka output dari
decoder 7445 akan berada pada logic 1 sehingga motor tidak akan memperoleh
supply tegangan dari decoder dan akibatnya motor tidak bisa bergerak dan clock
akan berhenti sehingga counter juga akan berhenti.

Kemungkinan alat tidak dapat berjalan disebabkan oleh torsi motor atau
dynamo yang terlalu kecil sehingga tidak mampu memutar roda pada alat ukur
tersebut sehingga counter tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Selain itu
kemungkinan yang lain adalah kesalahan dalam pembuatan circuit pada PCB,

20
 
Yuni Almaadin <2206 100 035> almaadin@gmail.com  
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 

terputusnya circuit, dan penyolderan yang kurang sempurna sehingga arus tidak
bisa mengalir.

21