You are on page 1of 6

1.

Indikator Kinerja Transportasi
Tujuan pengembangan sistem transportasi diarahkan untuk meningkatkan efisiensi
(minimize the cost) dan efektivitas (maximize the benefit). Identifikasi mengenai
kondisi/kinerja jaringan transportasi eksisting (benchmarking of performance) dan
menetapkan kinerja jaringan transportasi yang akan dituju dimasa datang (desired
performance), diperlukan sejumlah indikator yang dapat menggambarkan kinerja elemen
transportasi secara komprehensif. Untuk menilai kinerja sistem transportasi, diperlukan
sebagai langkah awal dalam merumuskan strategi dan kebijakan sistem di suatu wilayah.
Kinerja pelayanan transportasi dibutuhkan untuk mengetahui besaran nilai yang dihasilkan
oleh ketersediaan prasarana maupun sarana transportasi yang tersedia. Kinerja pelayanan
transportasi tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan prasarana dan sarana transportasi
tetapi peran Pemerintah dalam menetapkan legalitas, operator dan para pelaku cukup
berperan.
Tingkat pelayanan transportasi yang efisien dan efektif dapat dinikmati bilamana
kinerja pelayanan seluruh moda transportasi dapat diketahui. Untuk mengetahui kinerja
pelayanan transportasi membutuhkan beberapa pendekatan baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Sistranas (2005) menetapkan bahwa terdapat 14 indikator yang memberikan
ukuran tentang kinerja sistem transportasi yang efektif dan efisien, seperti ditunjukkan pada
Tabel 3 Indikator Penilaian Sistem Transportasi.
Salah satu indikator Kinerja Transportasi sesuai dengan konsepsi sistem transportasi
nasional (Sistranas) seperti dalam tabel berikut ini :
Tabel 3. Indikator penilaian sistem transportasi yang efektif dan efisien
No.
Indikator
Kinerja
Dimensi
Jaringan Prasarana Jaringan Pelayanan
1. Aksesibilitas
Panjang ruang lalulintas terhadap
luas wilayah/ penduduk
Jaringan pelayanan terhadap luas
wilayah/ penduduk
2. Keterpaduan
Keterpaduan dengan jaringan
prasarana moda tranportasi lain
Keterpaduan inter dan antar
jaringan pelayanan
3.
Kapasitas
cukup
Kapasitas permintaan terhadap
kapasitas prasarana jaringan
Jumlah permintaan terhadap
kapasitas jaringan pelayanan
4.
Tarif
Terjangkau
Tarif terhadap biaya pengguna jasa
jaringan prasarana
Tarif terhadap Total
pendapatan pengguna jasa
5. Keselamatan
Jumlah kecelakaan/rugi terhadap
populasi pd jaringan prasarana
Jumlah kecelakaan/kerugian
terhadap jumlah populasi
6. Keamanan
Jumlah kejahatan terhadap populasi
pd jaringan prasarana
Jumlah kejahatan terhadap
populasi pelayanan
7. Ketertiban
Jumlah pelanggaran terhadap
populasi pada jaringan prasarana
Jumlah pelanggaran
terhadap populasi
8. Kemudahan
Tingkat kecukupan rambu/
informasi di jaringan prasarana
Kemudahan sebelum dan
sesudah naik kendaraan
9. Lancar dan Kecepatan rata-rata sepanjang Kecepatan rata2 pelayanan dari
No.
Indikator
Kinerja
Dimensi
Jaringan Prasarana Jaringan Pelayanan
Cepat jaringan prasarana asal ke tujuan
10 Keteraturan
Kecukupan fasilitas pengaturan
sepanjang jaringan prasarana
Jumlah kendaraan berjadwal
terhadap populasi

11.
Ketepatan
Waktu
Jumlah kendaraan tidak tepat waktu
karena jaringan prasarana
Jumlah kendaraan berangkat dan
tiba tepat waktu
12. Kenyamanan -
Jumlah kendaraan ber-AC
terhadap populasi
13. Polusi Rendah
Tingkat pencemaran di ruang lalu
lintas
Jumlah kendaraan wajib uji
melebihi batas ambang polusi
14. Efisien
Realisasi penggunaan jaringan
prasaranaterhadap kapasitas
Realisasi pelayanan
Terhadap kapasitas
Sumber : Sistranas (2005) dan JINCA (2004), Materi Kuliah Teknik dan Manajemen Lalu Lintas

2. Penilaian Kinerja Keamanan Dalam Jaringan Prasarana
Sebagai salah satu indikator kinerja jaringan prasarana dan jaringan pelayanan sistem
transportasi, keamanan menjadi salah satu syarat mutlak yang harus diperhatikan. Hal
tersebut terkait dengan pilihan pengguna transportasi ketika akan melakukan aktifitas yang
berkaitan dengan perpindahan barang dan atau orang. Penilaian terhadap indikator keamanan
meliputi kondisi dimana pengguna transportasi benar-benar merasa aman dan nyaman.
Kondisi aman dan nyaman dapat diartikan sebagai kondisi yang bebas dari gangguan
terhadap pengemudi dan moda yang dikemudikan. Menurut Sistranas (2005) dan Jinca (2012)
Gangguan tersebut meliputi gangguan eksternal terkait alam, manusia dan lainnya, gangguan
keamanan pada kendaraan (moda yang digunakan), gangguan pada simpul pergerakan (halte,
pelabuhan, terminal atau bandara), dan gangguan lain berupa perampokan, pencopetan dan
pungutan liar.










Gambar ….. Faktor-faktor Indikator Keamanan
Kinerja
Keamanan
Manusia
Kendaraan
Jalan, Halte,
Pelabuhan,
Bandara,
Terminal
Alam
Lokasi Gangguan
Faktor Gangguan Faktor Gangguan
Gambar…. Memperlihatkan keamanan dalam aktifitas transportasi disebabkan oleh
faktor gangguan alam dan manusia yang biasanya terjadi di kendaraan dan simpul pergerakan
(halte, pelabuhan, bandara dan terminal).
Terkait penilaian indikator kinerja keamanan transportasi, terdapat beberapa literature
terkait penilaian kepuasan yang juga dapat digunakan sebagai barometer dalam penilaian
kinerja antara lain: Chen (2008) dalam studi terhadap kepuasan pelanggan mengidentifikasi
sebagai hal paling penting dalam memahami perilaku perjalanan, kepuasan pelanggan dengan
kualitas pelayanan yang dirasakan. Perilaku perjalanan melihat kualitas pelayanan angkutan
umum karena cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi nilai yang dirasakan dari
kepuasan, serta akan terus menggunakan pelayanan, selain dari kepuasan keterlibatan sebuah
konsep pemasaran dan perilaku, menggambarkan sikap untuk memprediksi atau menjelaskan
perilaku (Olsen, 2007).
Zaichkowsky (1994) mengatakan keterlibatan atau kepentingan pelayanan tergantung
pada infrastruktur yang sudah ada, sistem pengaturan infrastruktur. Salah satu motif untuk
studi tersebut adalah memberikan dasar yang berharga untuk keputusan strategis dan taktniks
tentang cara mengembangkan dan memanfaatkan sistem transportasi. Dimana tujuan dari
penelitiannya adalah untuk menyelidiki apakah sistem angkutan umum bagi masyarakat
memberikan kepuasan bagi pengguna, dimana setiap peningkatan dalam menyediakan
pelayanan misalnya, peningkatan jumlah keberangkatan bus, jalur metro baru, atau kendaraan
baru. Tujuannya adalah untuk mengisi kesenjangan pengetahuan dengan menganalisis tujuan
angkutan umum dan hubungannya dengan tingkat kepuasan perjalanan
Jika dikaitkan dengan penilaian terhadap kondisi keamanan yang dirasakan oleh
pengguna moda transportasi (masyarakat), akan sangat subjektif dikarenakan penilaian
tersebut lebih menonjolkan perasaan pada kondisi yang pernah pengguna rasakan dan
perspektif setiap pengguna akan berbeda. Oleh karena itu dibutuhkan tolak ukur yang
disepakati pada penskalaan nilai. Jenis penskalaan tersebut dapat ditampilkan dalam skala
likert sebagaimana pada ilustrasi dibawah ini.




Gambar….. Ilustrasi penilaian kinerja keamanan berdasarkan skala likert

0 1 2 3 4 5
Sangat Aman
Aman
Cukup Aman
Kurang Aman
Sangat Kurang
Aman
Dengan mempertimbangkan penilaian pengguna terhadap indikator keselamatan, maka
dapat disimpulkan tingkat kinerja indikator tersebut. Walaupun demikian, kinerja yang
didapatkan masih sangat subjektif dan oleh karena itu untuk memperoleh penilaian yang
relatif dapat dijelaskan secara objektif, maka diperlukan pendekatan lain yang mampu
disimpulkan secara umum dan dapat diterima oleh orang lain.
Pendekatan tersebut dapat berupa pemodelan regresi secara statistik terkait hasil
tersebut. Pemodelan tersebut dapat dilakukan dengan serangkaian uji statistik berupa uji
multikolinearitas, Uji Heteroskedastisitas dan Uji Autokorelasi. Tujuan dari uji tersebut
antara lain:
a. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya
korelasi antar variabel bebas (independen), Jika variabel independen saling berkorelasi,
maka variabel variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen
yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2011).
b. Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain, Jika varian
dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut
homoskedastisitas dan jika berbeda akan disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang
baik adalah model yang tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali, 2011)
c. Uji Autokorelasi bertujuan untuk melihat apakah ada tidaknya autokorelasi dalam suatu
model regresi. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model
regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2011)
Dengan melakukan pendekatan model regresi dan serangkaian uji statistik maka
diharapkan didapat hasil yang lebih baik dalam arti lebih mampu dijelaskan secara akurat dan
objektif.

3. Kaitan Indikator Keamanan Dengan Lalulintas Angkutan Peti Kemas
Aktifitas lalulintas angkutan peti kemas di jalan raya merupakan salah satu bagian dari
kegiatan transportasi. Dengan fungsi utama sebagai pendistribusian barang dalam rangka
peningkatan ekonomi wilayah guna mewujudkan pemerataan tingkat pendapatan masyarakat.
Namun kegiatan tersebut sering kali menjadi kendala dan gangguan bagi para pengguna jalan
lain yang disaat bersamaan menggunakan jaringan jalan yang sama. Gangguan yang
dirasakan berupa rasa tidak aman ketika angkutan petikemas yang secara dimensi kendaraan
memiliki ukuran yang lebih besar, harus berbagi ruang jalan dengan kendaraan lain.
Menurut Keputusan Dirjen Perhubungan Darat No. AJ.306/1/5 Pasal 2 bahwa
penetapan lintas angkutan peti kemas didasarkan pada kriteria antara lain 1). jarak antara asal
dan tujuan yang dipilih yang terpendek, 2) menghubungkan pusat industry, pusat
pergudangan, pusat distribusi dan kombinasi darinya, 3) lebar jembatan tidak kurang 6 meter
untuk angkutan petikemas 20 kaki dan 7 meter untuk lintas angkutan petikemas 40 kaki, 4)
desain kecepatan jalan sekurang-kurangnya 80 km/jam. 4) mempertimbangkan optimalisasi
penugasan antar moda transportasi dan 5) dapat diatur menurut waktu.
Selain itu, KM Perhubungan No.74 Tahun 1990 Pasal 8 tentang angkutan peti kemas
di jalan kategori persyaratan keselamatan muatan, menyatakan bahwa (1) setiap peti kemas
yang diangkut kendaraan bermotor harus sesuai dengan standar agar tidak: a) membahayakan
manusia atau menyebabkan kerusakan terhadap fasilitas umum ataupun milik pribadi,
khususnya akibat terjatuhnya peti kemas dijalan, b) mengganggu pandangan pengemudi atau
mengurangi stabilitas kendaraan pengangkut, (2) setiap peti kemas yang diangkut diatas
kendaraan bermotor harus dikunci dengan kunci pengikat (twist lock) pada setiap lobang
penguncian secara benar dan kuat, (3) peti kemas yang diangkut dengan kendaraan bermotor
tidak boleh melebihi muatan sumbu terberat (MST) yang diizinkan.
Integrasi antar moda angkutan peti kemas dan moda lain diperlukan untuk menjaga
keamanan dan keselamatan dijalan. Selain itu pemberian rasa aman yang harus ditekankan
adalah wujud rasa aman bagi pada pengguna jalan yang bersama-sama moda angkutan peti
kemas memanfaatkan ruang jalan. Rasa aman tersebut dilihat beberapa faktor internal
maupun eksternal antara lain dari:
1. Seberapa besar kesesuaian standar keselamatan yang diterapkan oleh angkutan peti
kemas. Standar keselamatan angkutan peti kemas yang diamanatkan KM Perhubungan
No.74 Tahun 1990 Pasal 8 menjadi hal mutlak yang harus dilakukan, guna menjamin
keselamatan semua pengguna jalan.
2. Olah gerak/manuver angkutan peti kemas dijalan raya. Manuver moda angkutan peti
kemas terkadang memberikan rasa tidak aman bagi pengguna jalan lain. Hal tersebut
dikarenakan bobot dan dimensinya yang sangat besar sehingga membutuhkan ruang jalan
yang juga lebih besar dan disaat yang sama mengganggu aktifitas kendaraan lain.
3. Kondisi fisik jalan (geometrik jalan, kecepatan dan kepadatan lalu lintas). Kondisi jalan
mempengaruhi aktifitas dijalan terkait olah geometrik, kecepatan dan kepadatan
lalulintas. Ketika geometrik jalan tidak sesuai dengan standar kapasitas angkutan peti
kemas, maka akan mengganggu kendaraan lain. Begitupun kecepatan dan kepadatan jalan
yang dapat disumsikan sebagai direct factor pelayanan jalan.
4. Olah gerak/manuver kendaraan lain. Manuver kendaraan lain yang secara bersamaan
beraktifitas dijalan raya, juga berpengaruh terhadap keamanan angkutan petikemas dan
angkutan lain. semakin tinggi kesadaran masyarakat dalam berkendara (bermanuver)
maka akan semakin tinggi rasa aman yang akan dirasakan baik oleh dirinya sendiri
maupun pengguna jalan lain (angkutan peti kemas dan pengguna jalan lain).
5. Kondisi alam. Kondisi tersebut dapat diartikan sebagai kondisi yang tidak terduga terkait
bencana alam (banjir, longsor dll) yang tidak direncanakan, sehingga secara tidak
langsung berpengaruh terhadap aktifitas dijalan raya.




CATATAN :
Penentuan pertanyaan dan atau observasi lapangan yang akan dilakukan terkait rasa
aman pengguna lain terhadap angkutan peti kemas didasarkan pada 5 faktor
diatas..(diuraikan pada Bab III)

CATATAN LAGI:
5 faktor diatas masih bisa ditambahkan, seandainya masih ada faktor lain yang
berpengaruh…