You are on page 1of 13

JUDUL MAKALAH

PENERAPAN MATEMATIKA DALAM PELAJARAN FISIKA

Oleh
Steven Day Dumanauw
NIM: 09725045

JURUSAN PENDIDIKAN SAINS
FAKULTAS PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2009

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 1
BAB I
PENDAHULUAN
Fisika matematis adalah cabang ilmu yang mempelajari "penerapan matematika untuk
menyelesaikan persoalan fisika dan pengembangan metode matematis yang cocok untuk
penerapan tersebut, serta formulasi teori fisika". Ilmu ini dapat dianggap sebagai
penunjang fisika teoritis dan fisika komputasi.

BAB II

PENERAPAN MATEMATIKA DALAM FISIKA

1. Pendahuluan

Pelajaran Fisika salah satu ilmu yang membahas gejala dan prilaku alam, sepanjang
dapat diamati oleh manusia. Cara mengungkapkannya tidak saja kualitatif tetapi juga
kuantitatif. Dengan demikian ada empat cara memahami ilmu fisika tersebut. Pertama
kita memerlukan kejelasan tentang matra atau wadah gejala dan prilaku alam itu
berlangsung, kedua kejelasan tentang objek yang menjadi fokus bahasan. ketiga, kita
perlu kenal alat dan media yang akan digunakan untuk menangkap gejala dan prilaku
alam tersebut, dan keempat adalah bahasa yang digunakan untuk mengungkap prilaku
alam tersebut. Bahasa yang digunakan untuk mengungkap peristiwa alam tersebut
adalah bahasa matematika. Matematika memegang peranan penting dalam fisika. Matematika
di dalam fisika dipelajari secara khusus yaitu dalam mata pelajaran fisika matematika. Fisika
matematika membahas secara terpadu dan sistematis matematika yang dipakai dalam fisika.
Ilmu ini erat sekali hubungannya dengan fisika teori yang berupaya membahas hukum-hukum
fisika secara matematika melalui penelaah secara logis dan perhitungan serta penerapan secara
kuantitatif berbagai hukum-hukum fisika secara empiris. Pada bab I , pembahasan matematika
dibatasi pada penerapan operator nabla, persamaan diferensial, sistem koordinat dan penerapan
integral dalam fisika

Penerapan Operator Nabla

Operator nabla atau disebut juga operator del dengan simbol ∇ , yang bukan merupakan suatu
vektor dalam arti biasanya. Sebagai vektor operator nabla tidak berdiri sendiri, tetapi bekerja
pada suatu fungsi tertentu. Misalkan terdapat fungsi dengan satu variabel f(x) . Misal turunan
dari derivatif df/dx, ini artinya bahwa df = (df/dx)dx, yang maksudnya perubahan dari x, sebesar
da akan menyebabkab perubahan harga f sebesar df, dimana df/dx addalah faktor
pembandingnya. Interferensi geometris dari df/dx merupakan kemiringan dari lengkungan f(x).

Misal suatu fungsi suhu dengan tiga variabel yaitu T(x,y,z) yang menunjukkan suhu pada suatu
ruangan. Menurut teori derivatif parsial pernyattan ini dapat ditulis:
 ∂T   ∂T   ∂T 
dT =  dx +  
dy +  dz (1.1)
 ∂x   ∂y   ∂z 
= ( ∇T ).( dl ) , dengan dl = i dx + j dy + kdz
Steven day dumanauw S2 sains November 2009 2
 ∂T   ∂T   ∂T 
maka gradien suhu T = ∇T =  i + 
 
 j + k , merupakan besaran vektor dengan
 ∂x   ∂y   ∂z 
tiga konponennya yang masing-masing mempunyai arah sesuai dengan arah suatu vektor i, j dan
k. Jadi interferensi geometri suatu gradien, seperti vektor yang mempunyai harga dan arah dan
ditulis dalam bentuk abstrak, yaitu

dT = ∇ T .dl = ∇ T dl cos θ (1.2)
Operator del dedifinisikan sebagai deferensial dari suatu fungsi yang oleh koordinat kartesius
∂ ∂ ∂
definisiskan ∇= i +j +k .
∂x ∂y ∂z
Ada tiga cara dalam perkalian untuk opertor nabla, seperti dalam vektor:
1. Bekerja pada fungsi skalar yang disebut gradien.
 ∂T   ∂T   ∂T 
∇T =  i +   j +  k
 ∂x   ∂y   ∂z 
2. Bekerja pada fungsi vektor yang disebut divergensi, melalui perkalian dot.
  ∂V   ∂V   ∂V 
∇ .V = + 
 + 
 ∂x   ∂y   ∂z 
3. Bekerja pada fungsi vektor melalui perkalian silang yang disebut rotasi atau curl

..i....j....k
∂ ∂ ∂

∇x V = . .
∂x ∂y ∂z
Vx .V y ..Vz
 ∂V z ∂VVy   ∂V x ∂V z   ∂V y ∂VVx 
= i 
 ∂y − ∂z  + j  −  + k
 ∂x − ∂y 

   ∂z ∂x   
beberapa aturan dalam perkalian operator nabla
1. ∇( fg ) = f ( ∇g ) + g ( ∇f )
       
2. ∇( A.B ) = A x ( ∇x B ) + B x ( ∇x A ) + ( A.∇

) B + ( B.∇ )A
  
3. ∇ ( fA) = f (∇

. A) + A(∇

f )
  
∇ x ) = B ( ∇x A ) - A .( ∇x B ).
 B
4. .( A
 
5. ∇ .( fA ) = f( ∇x A ) - A .( ∇ f).
     
(
6. ∇x ( A x B ) = B.∇ A − A.∇ B ) ( )
Perkalian
 
tripel       
1. A.( B x C ) = C .( A x B ) = B.( C x A )
      
2. A x ( B x C ) = B ( A.C ) −C ( A.B )
Turunan kedua 
1. ∇ . ( ∇x A ) = 0.
2. ∇x (∇ f ) =0
  
3. ∇x ( ∇x A ) = ∇ (∇x A) - ∇2 A

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 3
Gradien, Divergensi dan Rotasi/Curl
3.1 Gradien

Anggap medan skalar φ(x,y,z) sebagai fungsi skalar pada setiap titik ruang (x,y,z) dalam
koordinat kartesius. Seebagai fungsi skalar ia harus mempunyai nilai sama pada titik ruang dan
tidak bergantung pada rotasi sistem koordinat.
φ' ( x1' , x2' , x3' ) = φ( x1 , x2, x3 ).
(
∂φ ' x1' , x2' , x3' ) = ∂φ ( x1, x2 , x3 ) = ∂φ∂x j
∑j ∂x
∂φ
= ∑aij ∂x
∂xi' ∂xi j ∂xi j j

Jadi gradien itu merupakan suatu vektor dengan konponen ∂φ ∂x j yang disebut gradien φ,
dalam koordinat kartesius ditulis
∂φ ∂φ ∂φ
∇ φ= i +j +k
∂x ∂y ∂z

Bila dr = idx + jdy + kdz , maka
∂φ ∂φ ∂φ 
∇ φ.dr = ( i +j +k ).( dr = idx + jdy + kdz )
∂x ∂y ∂z
∇ φ.dr = dφ (1.3)
Jadi ∇ φ.dr = dφ merupakan perubahan fungsi skalar φ terhadap perubahan posisi dr.
misalkan titik P dan Q adalah 2 buah titik yang terletak pada permukaan φ( x, y, z ) = c adalah
konstan dan jarak P dan Q adalah dr, sehingga

dφ = (∇φ).dr
∇ φ.dr cosθ = 0, dengan θ = 90 o
Hal ini berarti ∇ φ ⊥dr . Bila diambil dr dari suatu permukaan φ = C 1 ke permukaan
berikutnya φ= C2, maka
dφ = C 2 − C1 = ∇C

dφ = (∇φ).dr = ∇ φ.dr cosθ (1.4)

∇φ

dr dr

Gambar 1.1 Arah gradien dalam sistem koordinat kartesius.
Agar dφ = ∆C mempunyai nilai tertentu, maka dr haruslah minimum. Bila dipilih
dr sejajar dengan ∆C , berarti θ = 0 , sehingga cos θ = 1 . Jadi gradien φ atau ∇ φ
 
adalah suatu vektor yang berarah pada dr , dengan ketentuan bahwa pada arah dr perubahan
φmaksimum.
Gradien suatu skalar merupakan
 konsep yang penting dalam fisika, yang menyatakan hubungan
antara medan listrik E dengan medan potensial V. hubungan tersebut ditulis
Steven day dumanauw S2 sains November 2009 4

E =− ∇V . (1.5)
Tinjauan yang paling mudah mengenai gradien adalah mengenalkan gagasan turunan berarah dari
suatu fungsi peubah banyak, yaitu laju perubahan fungsi pada arah tertentu. Turunan berarah
fungsi skalar φ biasanya dinyatakan dengan dφ , dimana dr menyaatakan vektor
dr
perpindahan yang sangat kecil pada arah yang ditinjau, maka :
dφ φ ( x + ∆x, y + ∆y, z + ∆z ) − φ ( x, y, z )
 = lim

dr ∆r →0 ∆r
∂φdx ∂φdy ∂φdz
= + +
∂xdr ∂ydr ∂zdr
Untuk lebih jelasnya turunan berarah, mari kita tinjau fungsi skalar dua peubah. Jadi φ( x, y )
menyatakan medan skalar dua dimensi. φ dapat digambarkan sebagai suatu fungsi x dan y,
seperti gambar 1.2 di bawah ini

Gambar 1.2. Fungsi φ( x, y )
Untuk fungsi φ( x, y ) = x + y 2 turunan berarah di titik xo, yo bergantung pada arahnya. Jika
2

kita pilih arah yang bersesuaian dengan dx dy = − x o y o , maka akan diperoleh
dφ ∂φdx ∂φdy  x o  dx
= + =  2 xo − 2 y o  =0
dr ∂xdr ∂ydr y o  dr

untuk arah dy dx = y o x o diperoleh hasil sebagai berikut:
dφ  y2  x o2
= 2 xo + 2 o  = 2 x o2 + y o2
dr  xo  x o2 + y o2
 
besarnya harga dr = ( dx ) 2 + ( dy ) 2
Gambar 1.3 di bawah ini menunjukkan fungsi φ = x 2 + y2 yang dirajah kembali sebagai peta
kontur.

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 5
Gambar 1.3. Fungsi φ( x, y ) dari gambar 1.2
Dengan demikian suatu fungsi gradien dapat didefinisikan sebagai berikut:
Gradien suatu fungsi skalar φ adalah suatu vektor yang harganya
merupakan turunan-turunan maksimum di titik yang sedang ditinjau,
sedangkan arahnya merupakan arah turunan berarah maksimum di titik
tersebut.
Lambang gradien yang lazim digunakan adalah operator nabla ( ∇ ) dan grad
∂φ ∂φ ∂φ
∇φ = grad φ = i +j +k (1.6)
∂x ∂y ∂z
3.2 Divergensi
Operator lain yang penting, yang pada dasarnya merupakan turunan, adalah operator divergensi,
seperti divergensi vektor F, yang lazim ditulis dengan div F atau ∇.F yang didefinisikan
sebagai berikut:
Divergensi suatu vektor adalah limit integral permukan persatuan volume
yang melingkupi permukaan dan mendaki nol.
 1 
Div v = ∇ .v = Vlim→o V ∫∫
v .nda (1.7)
Harga limitnya mudah dihitung, sehingga diperoleh divergensi pada koordinat tegak lurus
sebagai berikut:
  ∂v ∂v y ∂v
Div v = ∇.v = x + + z
∂x ∂y ∂z
Divergensi dapat didefinisikan sebagai perkalian antara operator nabla dengan vektor melalui
perkalian dot. Dalam pengertian fisika divergensi didefinisikan sebagai kecepatan suatu fluida
 
∇ .(φv ) dengan v ( x, y , z ) yang mampat dengan rapat massa ρ( x, y , z ) pada titik ruang
(x.y.z) dengan volume dxdydz.

Gambar 1.4 Proses aliran fluida

Netto aliran fluida (dalam arah x) = ( ρv x ) dxdydz dan secara total melaui kotak volume
∂x
dτ = dxdydz diperoleh netto aliran fluida keluar per detik
 ∂
∇.( ρv ) dτ =  ( ρv x ) +

( ) ∂ 
ρv y + ( ρv z ) dxdydz
∂x ∂y ∂z 

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 6
Karena netto aliran fluida mampat (compressible fluid) keluar dari elemen volume per satuan

volume per detik adalah ∇.( ρv ) dan disebut divergensi. Mengingat adanya persamaan
kontinuitas, dimana rumus
∂ρ 
+ ∇.( ρv ) = 0
∂t
dalam hal ini, ρ merupakan fungsi terhadap waktu maupun ruang, ditulis ρ( x, y , z , t ) .
Persoalan divergensi muncul pada berbagai hal dalam fisika, seperti pada medan elektromagnet,
kebocoran neutron dalam reaktor, dan tentang peluang rapat arus dalam mekanika kuantum.
 
.( fv ) dimana f = fungsi skalar dan v adalah fungsi vektor, secara matematika
Gabungan ∇
dapat ditulis


.( fv ) =

( fv x ) + ∂ ( fv y ) + ∂ ( fv z )
∂x ∂y ∂z
 
( )
= ∇f .v + f∇ .v
 
Dalam hal khusus ∇B . =0 , maka vektor B dikatakan homogen, seperti dijumpai dalam
pembahasan tentang medan magnet B .
Teorema divergensi. Integral dari divergensi suatu vektor pada volume V sama dengan
integral permukaan komponen normal vektor itu pada permukaan yang dilingkupi V, yaitu
 
∫∫∫∇.v dV = ∫∫v .nda (1.8)

3.3 Rotasi atau Curl
Rotasi adalah perkalian operator nabla dengan vektor melalui perkalian silang. Perumusan
rotasi ditulis sebagai:
  ∂V ∂VVy  ∂V ∂V z   ∂V y ∂VVx 
∇x v = i z −  + j
 x −  + k 
∂y ∂z   ∂z ∂ x   ∂x − ∂y 
   

..i....j....k
∂ ∂ ∂
= . .
∂x ∂y ∂z
Vx .V y ..Vz

∇x ( fv ) x =
∂
( )
( fv z ) − ∂ fv y 
∂y ∂z 
 ∂v z ∂f ∂v y ∂f 
= f + vz − f − vy 
 ∂y ∂y ∂z ∂z 
Interpretasi fisika dari rotasi adalah sebagai sirkulasi fluida pada suatu loop. Ambil sebagai loop
tersebut terletak di bidang x – y. Sirkulasi tidak lain yaitu mencari integral

∫v .dl . Perhatikan gambar di bawah ini :
(xo,yo+dy) (xo+dy,yo+dy)

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 7
(xo,yo) (xo+dx,yo)

Gambar 1.5 Sirkulasi fluida pada suatu loop
Hasil integrasi loop 1234 = sirkulasi 1234
v ( x, y )dl x + ∫v y ( x, y )dl y + ∫v x ( x, y )dl x + ∫v y ( x, y )dl y
= ∫ x
1 2 3 4
=
 ∂v y   ∂v 
v x ( xo , yo ) dx + v y ( xo , yo ) + dx dy + v x ( xo , yo ) + x dx ( − dx ) + v y ( xo , yo )( − dy )
 ∂x   ∂y 
∂v y ∂v x  
= − dxdy = ∇x v z dxdy
 ∂x ∂ y 

Sistem Koordinat
4.1 Koordinat kartesius

Koordinat kartesius dapat dinyatakan dalam fungsi f(x,y,z), dan
dr = idx + jdy + kdz
dτ = dxdydz
∂t ∂t ∂t
1. Gradien ∇t = i +j +k
∂x ∂y ∂z
 ∂v ∂v y ∂v
2. Divergensi ∇ .v = x + + z
∂x ∂y ∂z

..i....j....k
∂ ∂ ∂
3. Rotasional ∇x v

= . .
∂x ∂y ∂z
Vx .V y ..Vz
 ∂V z ∂VVy  ∂V ∂V z   ∂V y ∂VVx 
= i  + j
 x −  + k 
 ∂y − ∂z   ∂z ∂x   ∂x − ∂y 
   

4.2 Sistem Koordinat Bola

Dalam beberpa hal kita dapat memakai pengetahuan kita mengenai sistem bujur dan lintang
yang dipakai untuk menetukan tempat pada permukaan bumi, tetapi dalam hal tersebut kita hanya
titik pada permukaan bumi, sedangkan titik di atas dan di bawah permukan bumi tidak ditinjau.
Sistem koordinat bola dpat dibangun berdasarkan ketiga sumbu cartesian, seperti pada gmbar
1.6. Sistem koordinat bola merupakan fungsi dari f ( r ,θ,φ) .

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 8
Gambar 1.6 Sistem koordinat bola
dA = p.l
= r sin dφ . rd θ
= r 2 sin θdθdφ
dτ = p.l.t
= r sin dφ . rd θ . dr
= r 2 sin θdθdφdr
  
dr = ro dr + θo rd θ + φo r sin θdφ
∂t  1 ∂t   1 ∂t 
1. Gradiennya : ∇t = ro + θo   + φo 
 

∂r  r ∂θ   r sin θ ∂φ 
 1 ∂ 2  1 ∂ 1 ∂vφ
2. Divergensinya : ∇.v =  r vr  + ( vθ sin θ ) +
r2  ∂r  r sin θ ∂θ r sin θ ∂φ
3. Rotasionalnya : ∇x v =
1 ∂

r sin θ  ∂θ
( )
∂v   1  1 ∂vr
sin θvφ − θ r + 
∂φ 


r  sin θ ∂φ ∂r

rvφ θ +( )

1 ∂
( rvθ ) − ∂vr φ


r  ∂r ∂θ 
4.3 Koordinat Silinder
Koordinat silinder merupakan fungsi dari f( r ,φ, z )
   
dr = ro dr + φo rd φ + zo dz
dτ = rdrd φdz
 ∂t    1 ∂t    ∂t 
1. Gradiennya: ∇t = ro   + φ   r ∂φ  + z o  ∂z 
 ∂r     
∂v
 1 ∂
2. Divergensi : ∇.v = ( rv r ) + 1 φ + ∂v z
r ∂r r ∂φ ∂z

3. Rotasionalnya : ∇x v =
 1 ∂v z ∂vφ    ∂vr ∂v z   1  ∂
 − r +  − φ +  ( )
∂v  
rvφ − r  z
 r ∂φ ∂z   ∂z ∂r  r  ∂r ∂φ 

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 9
Gambar 1.7 Sistem koordinat silinder

5. Fungsi Delta Dirac
banyak usaha yang dilakukan oleh para ahli fisika untuk menyatakan suatu peristiwa alam
dengan menggunakan bahasa matematika, seperti dalam menyatakan muatan

titik sebagai suatu
hal yang khusus dari fungsi rapatan muatan yang umum, yaitu ρ (r ) merupakan cara
matematika yang berguna dalam banyak perhitungan. Selanjutnya muatan titik dapat dituliskan
dalam bentuk  
ρ( r ) = qδ ( r )
δ ( r ) = 0 untuk r ≠ 0


∫∫∫δ( r ′) dv ′ =1
Sangat jelas bagi kita bahwa fungsi delta memberikan ungkapan matematika pada gagasan fisika

untuk suatu muatan titik pada r = 0 . Bentuk lain fungsi delta dapat juga digunakan untuk

menyatakan rapat muatan permukaan σ(r ) , yaitu sebaran muatan yang berharga nol di setiap
tempat,

kecuali pada permukaan tertentu. Dengan perluasan ini integral tunggal yang mencakup
ρ(r ) . Penerapan selanjutnya dapat menjelaskan fungsi berikut:

∫ F (r )δ (r ′)dv ′ = F (0)
F adalah sebarang fungsi skalar atau vektor, karena fungsi yang diintegralkan berharga nol
kecuali di r ′ = 0 . Selanjutnya

∫ F (r )δ (r ′ − ro )dv ′ = F (ro )
   
Jika ρ (r ′) = qi δ (r ′ − ri ) , maka untuk muatan titik qi di ri
 
 1 q i δ (r ′ − ro ) 1 qi
ϕ (r ) = ∫ dv ′ =
4π εo r − ri 4π εo r − ri
Fungsi delta untuk hukum Gauss dalam bentuk diferensial
 1
∇.E = ρ
εo
untuk muatan titik q di r = 0, maka

q r 1 
∇. = qδ ( r )
4π εo r 3 εo

r 
∇. = 4πδ( r )
3
r
 
1 r d 1  r
karena ∇. =   = − 3 , maka
r r dr  r  r
 1  
∇2   = −4π δ(r )
r 

r  1  1 
Selanjutnya ∇. = ∇
 
.r + ∇.r
r3 r3  r3

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 10

3 r  3
=− .r + =0
r4 r r3
Teorema divergensi yang diterapkan pada suatu bola kecil berjejari R yang berpusat dititik asal,
menghasilkan
 
r r .n 1
∫ ∇ . dv = ∫ da = ∫ da = 4π
s R s
v r3 r3
Soal dan Pembahasan

1. Unit vekor r = iˆx + ˆjy +kˆz

( )
1

∂r ∂ x 2 + y 2 + z 2
2

=
∂x ∂x
(
( 2x) x2 + y2 + z2 − )
1 1
2
=
2
x
=
r
df ( r ) ∂r df ( r ) ∂r df ( r ) ∂r
∇ f (r ) = iˆ + ĵ + k̂
dr ∂x dr ∂y dr ∂z
 x   y   z   df ( r )
=  iˆ +   ˆj +  kˆ 
 r   r   r   dr
df ( r )
= r̂o
dr
4 Jika f ( r ) = ar , maka ∇
n f (r ) = anr n −1 r̂o
1 1
∇( ) = ( − ) rˆo
r r
∇r
. =3


∇.r f ( r ) =

[ xf (r )] + ∂ [ yf (r )] + ∂ [ zf (r )]
∂x y ∂z
x 2 df y 2 df z 2 df df
= 3 f (r ) + ( + + ) = 3 f (r ) + r
r dr r dr r dr dr

Soal Latihan (bahan Tutorial)

1. Jelaskan struktur atom pada kain wol, pipa plastik, dan ebonit
2. Kenapa pipa plastik yang digosok-gosok ke kain wol, pipa plastik menjadi muatan positip?
3. Sobekan-sobekan kertas yang tadinya netral, bila didekatkan dengan pipa plastik yang sudah
termuati, sobekan-sobekan kertas yang netral tadi dapa ditarik oleh pipa plastik tersebut.
4. Jelaskan konsep induksi di bawah ini
a. elektroskop, jika pada kepala elektroskop didekatkan dengan benda yang bermuatan
positip, apa yang terjadi, jika kepala elektroskop tersebut dihubungakan dengan bumi,
sementara benda bermuatan positif masih tetap berada ditempat, bagamana daun-daun
elektroskop tersebut. Selanjutnya hubungan ke tanah dilepas, sementara benda
bermuatan masih tetap berada ditempat, apa yang terjadi pada daun elektroskop, dan apa
yang terjadi, jika benda bermuatan dijauhkan dari kepala elektroskop tersebut!
b. Jelaskan konsep penangkal petir !
5. hitung laplace dari fungsi
a. T = x 2 + 2 xy +3 z + 4
b. T = sin x sin y sin z

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 11
c. T = e −5 x sin 4 y cos 3 z
6. tentukan vektor satuan yang tegak lurus pada permukaan
x 2 + y 2 + z 2 = 3 , di titik (1,2,1).
7. Diketahui fungsi skalar s(x,y,z) = (x2 + y2 + z2)-3/2
Hitung gradien s di titik (1,2,3).
8. Tunjukkan bahwa:
1  
a. 3

∫ r .dA =V , dimana V adalah volume per mukaan tertutup.

   
b. B =∇ x A , tunjukkan bahwa ∫ ∫B.dA = 0, untuk setiap permukaan tertutup.

9. Suatu partikel bergerak dalam lintasan lingkaran r =iˆr cos ωt + ˆjr sin ωt
 r
a. Hitung r x o
.
.
b. Tunjukkan bahwa r x ω2 r = 0
Hitung
 
harga rotasional berikut ini
∇ xr f (r ) .

10. Bila f ( r ) = ar n dan r = ix + jy + kz hitung
f (r ) , b. ∇2 f ( r ) , c. ∇
 
a. ∇ .r , d. ∇xr f (r )

12. Diketahui suatu medan E1 = xyi + 2 yzj + 3 xzk
( )
dan E 2 = y 2 i + 2 xy + z 2 j + 2 yzk , tentukan mana diantara kedua medan
diatas merupakan medan
 elektrostatika ? Syarat medan elektrostatika adalah

∇E. ≠0 dan ∇xE =0

BAB III

PENUTUP

Ilmu ini (Matematika) dapat dianggap sebagai penunjang fisika teoritis dan fisika
komputasi.
Bahasa yang digunakan untuk mengungkap peristiwa alam tersebut adalah bahasa
matematika. Matematika memegang peranan penting dalam fisika. Matematika di dalam fisika
dipelajari secara khusus yaitu dalam mata pelajaran fisika matematika.

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 12
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Steven day dumanauw S2 sains November 2009 13