You are on page 1of 26

Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan

memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi
pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam
bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola
yang ditetapkan oleh guru secara cermat. Penggunaan metode ekspositori
merupakan metode pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran
kepada siswa secara langsung.
Penggunaan metode ini siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri
fakta-fakta, konsep dan prinsip karena telah disajikan secara jelas oleh guru.
Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori cenderung
berpusat kepada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi
pembelajaran secara terperinci tentang materi pembelajaran. Metode ekspositori
sering dianalogikan dengan metode ceramah, karena sifatnya sama-sama
memberikan informasi.
Pada umumnya guru lebih suka menggunakan metode ceramah
dikombinasikan dengan metode tanya jawab. Metode ceramah banyak dipilih
karena mudah dilaksanakan dengan persiapan yang sederhana, hemat waktu dan
tenaga, dengan satu langkah langsung bisa menjangkau semua siswa dan dapat
dilakukan cukup di dalam kelas. Popham & Baker (1992 : 79) menjelaskan bahwa
setiap penyajian informasi secara lisan dapat disebut ceramah. Penyajian ceramah
yang bersifat formal dan biasanya berlangsung selama 45 menit maupun yang
informal yang hanya berlangsung selama 5 menit. Ceramah tidak dapat dikatakan
baik atau buruk, tetapi penyampaian ceramah harus dinilai menurut tujuan
penggunaannya.
Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2000 : 13) metode ceramah adalah cara
penyampaian bahan pelajara dengan komunikasi lisan. Metode ceramah lebih
efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi dan pengertian. Margono
(1989 : 30) mengem,ukakan bahwa metode ceramah adalah metode mengajar yang
menggunakan penjelasan verbal. Komunikasi bersifat satu arah dan sering
dilengkapi dengan alat bantu audio visual, demonstrasi, tanya jawab, diskusi
singkat dan sebagainya. Lebih lanjut Hasibuan dan Moedjiono (2000 : 13)
mengemukakan bahwa agar metode ceramah efektif perlu dipersiapkan langkah-
langkah sebagai berikut: a) merumuskan tujuan instruksional khusus yang luas, b)
mengidentifikasi dan memahami karakteristik siswa, c) menyusun bahan ceramah
dengan menggunakan bahan pengait (advance organizer), d) menyampai-kan
bahan dengan memberi keterangan singkat dengan menggunakan papan tulis,
memberikan contoh-contoh yang kongkrit dan memberikan umpan balik (feed
back), memberikan rangkuman setiap akhir pembahasan materi, e) merencanakan
evaluasi secara terprogram. Metode retitasi adalah metode pembelajaran yang lebih
dikenal dengan istilah pekerjaan rumah, meskipun sebutan ini tidak seluruhnya
benar. Metode tanya jawab digunakan bersama dengan metode ceramah, untuk
merangsang kegiatan berfikir siswa, dan untuk mengetahui keefektifan
pengajarannya, sebagai mana diutarakan Popham & Baker (1992 : 89). Penerapan
metode tanya jawab guru dapat mengatur bagian-bagian penting yang perlu
mendapat perhatian khusus.
Dalam proses pembelajaran dengan metode ceramah harus peka terhadap
respon siswa. Skiner dalam Driscoll (1994 : 30) menjelaskan bahwa diskripsi
hubungan antara stimulan dan respon tidaklah sesederhana yang diperkirakan,
melainkan stimulan yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi
ini artinya mempengaruhi respon yang diberikan juga menghasilkan berbagai
konsekwensi yang akan mempengaruhi tingkah laku siswa. Untuk menciptakan
terjadinyan interaksi, menarik perhatian siswa dan melatih keterampilan siswa,
metode ceramah biasanya dikombinasikan dengan metode tanya jawab dan
pemberian tugas. Resitasi atau tugas dapat pula dikerjakan di luar rumah ataupun di
dalam laboratorium. Pasaribu mengemukanan bahwa metode resitasi mempunyai
tiga fase, yaitu : a) guru memberi tugas, b) siswa melaksakan tugas, dan c) siswa
mempertanggung-jawabkan pada guru apa yang telah dipelajari (Sutomo, 2003:
45).
Menurut Sujadi (1983 : 3), di dalam pembelajaran matematika penggunaan
metode ceramah dan tanya jawab tersebut masih ditambah dengan pemberian
contoh-contoh berupa gambar-gambar, model bangunan, dan contoh rumus-rumus
beserta penggunaannya. Guru menjelaskan materi dengan bantuan gambar atau
model, untuk mempermudah penanaman konsep bangun datar dan ruang.
Percival dan Elington dalam Yeni Indrastoeti S.P (1999 : 43) menamakan
model konvensional ini dengan model pembelajaran yang berpusat pada guru (the
Teacher Centered Opproach). Dalam model pembelajaran yang berpusat pada guru
hampir seluruh kegiatan pembelajaran dikendalikan penuh oleh guru. Seluruh
sistem diarahkan kepada rangkaian kejadian yang rapi dalam lembaga pendidikan,
tanpa ada usaha untuk mencari dan menerapkan strategi belajar yang berbeda
sesuai dengan tema dan kesulitan belajar setiap individu.
Somantri (2001 : 45) membedakan metode ekspositori dan metode ceramah.
Dominasi guru dalam metode ekspositori banyak dikurangi. Guru tidak terus
bicara, informasi diberikan pada saat-saat atau bagian-bagian yang diperlukan,
seperti di awal pemebelajaran, menjelaskan konsep-konsep dan prinsip baru, pada
saat memberikan contoh kasus di lapangan dan sebaginya. Metode ekspositori
adalah suatu cara menyampaikan gagasan atau ide dalam memberikan informasi
dengan lisan atau tulisan.
Menurut Herman Hudoyo(1998 : 133) metode ekspositori dapat meliputi
gabungan metode ceramah, metode drill, metode tanya jawab, metode penemuan
dan metode peragaan. Pentatito Gunawibowo (1998 : 6.7) dalam pembelajaran
menggunakan metode ekspositori, pusat kegiatan masih terletak pada guru.
Dibanding metode ceramah, dalam metode ini dominasi guru sudah banyak
berkurang. Tetapi jika dibanding dengan metode demonstrasi, metode ini masih
nampak lebih banyak.
Kegiatan guru berbicara pada metode ekspositori hanya dilakukan pada saat-
saat tertentu saja, seperti pada awal pembelajaran, menerangkan materi,
memberikan contoh soal. Kegiatan siswa tidak hanya mendengarkan, membuat
catatan, atau memperhatikan saja, tetapi mengerjakan soal-soal latihan, mungkin
dalam kegiatan ini siswa saling bertanya. Mengerjakan soal latihan bersama
dengan temannya, dan seorang siswa diminta mengerjakan di papan tulis. Saat
kegiatan siswa mengerjakan latihan, kegiatan guru memeriksa pekerjaan siswa
secara individual dan menjelaskan kembali secara individual. Apabila dipandang
masih banyak pekerjaan siswa belum sempurna, kegiatan tersebut diikuti
penjelasan secara klasikal.
Pendapat David P. Ausebul dalam Pentatito Gunowibowo (1998:6.7)
menyebutkan bahwa metode ekspositori merupakan cara mengajar yang paling
efektif dan efisien dalam menanamkan belajar bermakna. Selanjutnya Dimyati dan
Mudjiono (1999:172) mengatakan metode ekspositori adalah memindahkan
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang
penting adalah 1) menyusun program pembelajaran, 2) memberi informasi yang
benar, 3) pemberi fasilitas yang baik, 4) pembimbing siswa dalam perolehan
informasi yang benar, dan 5) penilai prolehan informasi. Sedangkan peranan siswa
adalah 1) pencari informasi yang benar, 2) pemakai media dan sumber yang benar,
3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.
Dari beberapa pendapat di atas, bahwa metode ekspositori yang digunakan
dalam penelitian ini adalah mengobinasikan metode ceramah, tanya jawab dan
pemberian tugas. Pemberian tugas diberikan guru berupa soal-soal (pekerjaan
rumah) yang dikerjakan secara individual atau kelompok. Adapun hasil belajar
yang dievaluasi adalah luas dan jumlah pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang
dikuasai siswa. Pada umumnya alat evaluasi hasil belajar yang digunakan adalah
tes yang telah dibakukan atau tes buatan guru.

http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/

Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori
By hendrawadimath07
1. PENDAHULUAN

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi

modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya

pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi

dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar,

analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi

di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari

sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis,

sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut

diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan

memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak

pasti, dan kompetitif.

Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan

kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan

matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di

sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam

kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran

merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan

pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal

yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh

pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan

pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-

muridnya ( Rusdi A sirod).

Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi,

2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan

mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat,

dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika

dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan

pernyataan matematika

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang

model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh

4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk

memperjelas keadaan atau masalah

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,

serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan

kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah

satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.

2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVAN

Teori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori

dalam pembelajaran matematika antara lain :

a. Teori Gagne

Dalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan

objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki

dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif

terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.
Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.

• Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis,

symbol notasi

• Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang

benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama

panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll

• Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan

benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.

• Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil,

teori, dll.

b. Teori Ausubel

David Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar

bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel

membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima

bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan ,

bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar

persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu

diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh

siswa.

Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar

menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar
bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu

dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.

Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan

metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar

bermakna.

Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin

bentuk terakhir <!–[if gte msEquation 12]>c2=b2+c2<![endif]–> sudah disajikan (belajar

menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah

segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami <!–[if gte

msEquation 12]>c2=b2+c2<![endif]–> dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila

ia hanya menghafalkan <!–[if gte msEquation 12]>c2=b2+c2<![endif]–> tanpa dikaitkan

dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.

3. CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas / Semester : XII IPA / 1

Topik : Integral

Sub Topik : Integral tak tentu

Waktu : 2 x 45 menit

I. Standar Kompetensi
• Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
II. Kompetensi Dasar
• Memahami konsep integral tak tentu dan integral tertentu
III. Indikator Pencapaian
• Siswa diharapkan dapat mengenal konsep dasar integral tak tentu
• Siswa diharapkan dapat memahami konsep dasar integral tak tentu
• Siswa diharapkan dapat menggunakan konsep integral tak tentu
IV. Sumber / Alat Pembelajaran
• Buku Matematika (Buku Siswa)
• LKS buatan guru
V. Alat / Bahan
• Spidol, pena, pensil, penghapus, dan kertas
VI. Kegiatan Pembelajaran
• Model Pembelajaran : Penemuan terbimbing
• Metode : ekspositori
Pelaksanaan Pembelajaran
A. Pendahuluan (10 menit)
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
Guru melakukan apersepsi dengan cara mengaitkan materi
terdahulu (konsep turunan)
Guru membagikan LKS ke masing-masing siswa
B. Kegiatan Inti (70 menit)
Secara peorangan, siswa diminta menyelesaikan LKS 1 yang
berhubungan dengan konsep integral, dan guru sebagai fasilitator
Beberapa siswa diminta menyajikan hasil kerjanya
Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan
Secara perorangan, siswa diminta menyelesaikan LKS 2 (soal-soal
penggunaan konsep integral).
Beberapa siswa diminta menyajikan hasil kerjanya
Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan
C. Penutup (10 menit)
Guru melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang
telah dilakukan
VII. Penilaian
• Penilaian Proses
− Diskusi
− Aktivitas individual
− Presentasi
• Penilaian hasil
− Lembar jawaban LKS
− Lembar jawaban soal-soal
− PR

Penilaian

1, Tentukan integral tak tentu dari fungsi berikut :

a. F’(x) = 3

b. F’(x) = x2

2. Jalan menuju puncak memiliki kemiringan 4x – 3. Tentukan ketinggian pada jarak 100
meter dari posisi awal sebelum jalan mendaki?

Indikator :

Mengenal dan memahami konsep dasar integral tak tentu

Nama :

Kelas :

Hari/tgl :

MATERI TURUNAN

F(x) = 3 maka f’(x) = …
F(x) = x3 maka f’(x) = …

F(x) = xn maka f’(x) = …

F(x) = 5 x4 + 5 maka f’(x) = …

F(x) = axn maka f’(x) = …

F(x) = axn + b maka f’(x) = …

Masih ingat gak

Diskusikan LKS berikut dengan teman sebangkumu. !

KESIMPULAN

Jika f’(x) atau

http://hendrawadimath07.wordpress.com/2008/06/11/pembelajaran-
matematika-dengan-metode-ekspositori/

Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Posted on 19 Februari 2008 by checep05

Dalam kenyataan sehari – hari sering kita jumpai sejumlah guru yang menggunakan
metode tertentu yang kurang atau tidak cocok dengan isi dan tujuan pengajaran.
Akibatnya, hasilnya tidak memadai, bahkan mungkin merugikan semua pihak terutama
pihak siswa dan keluarganya, walaupun kebanyakan mereka tidak menyadari hal itu.
Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan
pembelajaran, guru sebaiknya menentukan pendekatan dan metode yang akan digunakan
sebelum melakukan proses belajar mengajar. Pemilihan suatu pendekatan dan metode
tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan menjadi
objek pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang
pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna.
Ketika mengajar di kelas 3 A Pak Mamat merasa ragu apakah persiapan mengajar untuk
konsep persilangan di SLTP yang sudah disiapkannya dapat digunakan di kelas ini.
Berdasarkan pengalamannya kelas 3 B agak berbeda dengan kelas 3 lainnya. Karena
sebagian besar siswa di kelas tersebut mempunyai kemampuan belajar lebih rendah
daripada rata – rata kemampuan kelas 3 di sekolahnya. Pak Mamat merencanakan materi
pelajarannya dibagi menjadi beberapa kali pertemuan sehingga memerlukan waktu lebih
banyak dibandingkan dengan kelas 3 yang lainnya. Metode yang digunakannya masih
serupa dengan di kelas lain, hanya ditambah metode bermain peran. Pak Mamat merasa
gembira karena siswa yang diperkirakan akan mengalami kesulitan belajar ternyata
terbantu dengan cara yang ditempuhnya.

A. Pengertian Metode dan Pendekatan
Metode dibedakan dari pendekatan. Pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam
perencanaan, sedangkan metode lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya. Satu
pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan
proses tersebut digunakan beberapa metode. Sebagai contoh dalam pembelajaran
pencemaran lingkungan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut dapat
dipilih dari beberapa pendekatan yang sesuai, antara lain pendekatan lingkungan. Ketika
proses pembelajaran pencemaran lingkungan dilaksanakan dengan pendekatan
lingkungan tersebut dapat digunakan beberapa metode, misalnya metode observasi,
metode didkusi dan metode ceramah. Supaya lebih jelas ikuti perencanaan yang
dilakukan oleh seorang guru ketika akan memberi pembelajaran pencemaran lingkungan
tersebut. Pada awalnya ia memilih pendekatan lingkungan, berarti ia akan menggunakan
lingkungan sebagai fokus pembelajaran. Pada akhir pembelajaran melalui konsep
pencemaran lingkungan siswa akan memahami tentang lingkungan sekitarnya apakah
sudah tercemar atau tidak. Untuk merealisasikan hal tersebut ia menggunakan metode
diskusi dan ceramah. Dalam pembelajarannya ia membuat suatu masalah untuk
didiskusikan oleh siswa kemudian ia akan mengakhiri pembelajaran tadi dengan memberi
informasi yang berkaitan dengan hasil diskusi. Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa metode dan pendekatan dirancang untuk mencapai keberhasilan suatu
tujuan pembelajaran.

B. Beberapa Pendekatan Pada KBM
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran biologi antara lain sebagai berikut :

1. Pendekatan tujuan pembelajaran
Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai. Sebenarnya pendekatan
ini tercakup juga ketika seorang guru merencanakan pendekatan lainnya, karena suatu
pendekatan itu dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semua pendekatan dirancang
untuk keberhasilan suatu tujuan.
Sebagai contoh : Apabila dalam tujuan pembelajaran tertera bahwa siswa dapat
mengelompokan makhluk hidup, maka guru harus merancang pembelajaran, yang pada
akhir pembelajaran tersebut siswa sudah dapat mengelompokan makhluk hidup. Metode
yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dapat berupa metode tugas atau
karyawisata.

2. Pendekatan konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing
memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya.
Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi
fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.
3. Pendekatan lingkungan
Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses
belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami
materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari – hari sering digunakan pendekatan
lingkungan.

4. Pendekatan inkuiri
Penggunaan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan
situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan
teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti ( Dettrick, G.W., 2001 ). Pendekatan inkuiri
dibedakan menjadi inkuiri terpempin dan inkuiri bebas atau inkuiri terbuka. Perbedaan
antara keduanya terletak pada siapa yang mengajukan pertanyaan dan apa tujuan dari
kegiatannya.

5. Pendekatan penemuan
Penggunaan pendekatan penemuan berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi
kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah.
Penemuan tidak terbatas pada menemukan sesuatu yang benar – benar baru. Pada
umumnya materi yang akan dipelajari sudah ditentukan oleh guru, demikian pula situasi
yang menunjang proses pemahaman tersebut. Siswa akan melakukan kegiatan yang
secara langsung berhubungan dengan hal yang akan ditemukan.

6. Pendekatan proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan
siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan,
menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan
dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut
keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.

7. Pendekatan interaktif ( pendekatan pertanyaan anak )
Pendekatan ini memberi kesempata pada siswa uuntuk mengajukan pertanyaan untuk
kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka
ajukan ( Faire & Cosgrove, 1988 dalam Herlen W, 1996 ). Pertanyaan yang diiajukn
siswa sangat bervariasi sehingga guru perlu melakukan llangkah – langkah
mengumpulkan, memilih, dan mengubah pertanyaan tersebut menjadi suatu kegiatan yng
spesifik.

8. Pendekatan pemecahan masalah
Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui
praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan ini ada dua versi. Versi pertama siswa
dapat menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data,
menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan
masalah. Versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang
pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan membantu
memberi petunjuk.

9. Pendekatan sains teknologi dan masyarakat ( STM )
Hasil penelitian dari National Science Teacher Association ( NSTA ) ( dalam Poedjiadi,
2000 ) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM
mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut
ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan
konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan
informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah,
tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang
dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah ilmiah

10. Pendekatan terpadu
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pemaduan dilakukan dengan menekankan pada
prinsip keterkaitan antar satu unsur dengan unsur lain, sehingga diharapkan terjadi
peningkatan pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu
pembelajaran melibatkan lebih dari satu cara pandang.
Pendekatan terpadu dapat diimplementasikan dalam berbagai model pembelajaran. Di
Indonesia, khususnya di tingkat pendidikan dasar terdapat tiga model pemdekatan
terpadu yang sedang berkembang yaitu model keterhubungan, model jaring laba – laba,
model keterpaduan.
Perbandingan model pembelajaran terpadu
Model keterhubungan Model jaring laba – laba Model keterpaduan

C. Beberapa Metode Pada KBM
Beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran biologi adalah :

1. Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini
banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu
khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang
menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya
diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari
guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme
psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari
guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.

2. Metode tanya jawab
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan
mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya
pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok
pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi
pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber
belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses
pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.

3. Metode diskusi
Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam diskusi
terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat.
Dengan metode diskusi keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan
menjadi terangsang, siswa terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan
menerima pendapat orang lain, dan yang lebih penting melalui diskusi mereka akan
belajar bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran bersama.

4. Metode belajar kooperatif
Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok
terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok
ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu.
Model belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model
jigsaw yakni tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan
atau diajarkan pada teman sekelompoknya.

5. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses
kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat
bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat
laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah
papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan
menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema,
membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang
memungkinkan.

6. Metode ekspositori atau pameran
Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua
dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat
untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.

7. Metode karyawisata/widyamisata
Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa
mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan
sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan
aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata
memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan
yang tidak sebentar.

8. Metode penugasan
Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih
banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari
dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai
kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.

9. Metode eksperimen
Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan.
Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada
hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan
sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini
paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan
inkuiri atau pendekatan penemuan.

10. Metode bermain peran
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah –
olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu
konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan
lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.

Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran
sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu
pendekatan dan metode yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya
untuk merealisasikan satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan
kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Ada lima hal yang
perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :
• Kemampuan guru dalam menggunakan metode.
• Tujuan pengajaran yang akan dicapai.
• Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa.
• Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya.
• Sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Beberapa pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran biologi adalah pendekatan
konsep, pendekatan keterampilan proses, pendekatan lingkungan, pendekatan inkuiri,
pendekatan penemuan, pendekatan interaktif, pendekatan pemecahan masalah,
pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, dan pendekatan terpadu. Untuk merealisasikan
suatu pendekatan dalam mencapai tujuan dapat digunakan beberapa metode antara lain
metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode demonstrasi, metode
ekspositori, metode karyawisata, metode penugasan, metode eksperimen, metode belajar
kooperatif, dan metode bermain peran.

http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-
pembelajaran/

PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 4 MALANG
MELALUI BELAJAR KOOPERATIF MODEL JIGSAW DAN EKSPOSITORI
POKOK BAHASAN KELILING DAN LUAS PADA PERSEGI DAN PERSEGI
PANJANG

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH

Salah satu metode pembelajaran yang sering dipakai oleh guru adalah ekspositori.
Metode pembelajaran ini berpusat pada guru, yaitu guru menerangkan ide pokok/ konsep
materi yang diajarkan, setelah itu memberikan soal-soal untuk dikerjakan siswa, bilamana
siswa mengalami kesulitan guru dapat membantu untuk mengatasinya. Padahal, suatu ciri
khas dalam pendidikan modern ialah hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian
sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa didalam proses belajar. Keaktifan
disini berarti keaktifan mental walaupun untuk maksud ini sedapat mungkin
dipersyaratkan keterlibatan langsung keaktifan fisik. Cara belajar yang demikian ini
disebut cara belajar siswa aktif yang disingkat CBSA (Hudojo, 2001:118).

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi pembelajaran aktif yang berpusat
pada siswa. Penelitian ini memfokuskan pada pembelajaran kooperatif model jigsaw.
Alasan pemilihan model jigsaw ini karena merupakan model pembelajaran yang unik
yaitu terdiri dari kelompok ahli dan kelompok asal. Langkah-langkah metode
pembelajaran lebih memotivasi siswa untuk aktif menyelesaikan tugas belajar dan
efektifitas belajar siswa. Selain itu dalam model pembelajaran jigsaw, siswa tidak harus
mempresentasikan hasil laporan kelompok ke depan kelas. Siswa dapat melaporkan pada
kelompok masing-masing. Hal ini dapat mengatasi siswa yang cenderung malu-malu
untuk mengemukakan pendapatnya didepan kelas.

Metode pembelajaran ekspositori dan pendekatan pembelajaran kooperatif model jigsaw
masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan. Adapun kelemahan yang dimiliki
model pembelajaran kooperatif antara lain banyak waktu yang harus tersedia bagi siswa
untuk berinteraksi dalam kelompoknya, sedang kelemahan metode ekspositori adalah
pembelajaran ini belum cukup membuat siswa aktif dan peran siswa terbatas. Oleh
karena itu, perbedaan prestasi belajar dari model pembelajaran keduanya perlu diteliti.
Untuk membedakan prestasi belajar dari model pembelajaran keduanya, peneliti
mengambil pokok bahasan keliling dan luas pada persegi dan persegi panjang terhadap
dua kelas yang berbeda, kelas yang satu menggunakan model pembelajaran ekspositori
sedangkan kelas yang lain menggunakan model pembelajaran jigsaw.
Dari latar belakang di atas, maka dalam penulisan proposal ini penulis mengambil judul ”
Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMPN 4 Malang Melalui Belajar
Kooperatif Model Jigsaw Dan Ekspositori Pokok Bahasan Keliling Dan Luas Pada
Persegi Dan Persegi Panjang”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti mengambil rumusan masalah, yaitu Apakah
prestasi belajar matematika siswa kelas VII SMPN 4 Malang melalui belajar kooperatif
model jigsaw lebih baik daripada pembelajaran ekspositori pokok bahasan keliling dan
luas pada persegi dan persegi panjang.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prestasi belajar matematika siswa
kelas VII SMPN 4 Malang melalui belajar kooperatif model jigsaw dan pembelajaran
ekspositori pokok bahasan keliling dan luas pada persegi dan persegi panjang.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ” Prestasi belajar matematika siswa
kelas VII SMPN 4 Malang melalui belajar kooperatif model jigsaw lebih baik daripada
pembelajaran ekspositori pokok bahasan keliling dan luas pada persegi dan persegi
panjang”.

E. Pentingnya / Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Sebagai dasar untuk menambah wawasan bagi peneliti dalam mengajarkan suatu materi
dengan menggunakan pembelajaran yang tepat.

2. Bagi Guru
Memperkenalkan berbagai macam metode pembelajaran dalam matematika khususnya
dengan pendekatan jigsaw dalam meningkatkan struktur kognitif siswa. Serta sebagai
bahan pertimbangan guru matematika dalam memilih model pembelajaran untuk
meningkatkan kreatifitas siswa.

3. Bagi Siswa

Memberikan variasi model belajar guna meningkatkan kreatifitas siswa sehingga siswa
tidak bosan belajar.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Belajar Matematika

Sesorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu terjadi suatu
proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku(Hudojo, 1990:1).
Lebih lanjut dikatakan bahwa kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku
itu merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku sendiri merupakan hasil
belajar. Dan yang dimaksud pembelajaran matematika adalah suatu aktifitas yang
dirancang untuk membantu memudahkan siswa dalam memahami matematika.

2. Pembelajaran Kooperatif

Menurut Suherman (2003: 269), pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok
kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah,
menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama
lainnya. Para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa setiap
pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompok tersebut. Dan
peranan guru dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai fasilitator dan sebagai
konsultan.

3. Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw ini dalam penggunaannya yaitu, siswa dibagi
dalam beberapa kelompok belajar yang heterogen yang beranggotakan 3-5 orang dengan
menggunakan pola kelompok asal dan kelompok ahli. Para anggota dari kelompok asal
yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk berdiskusi(antar ahli), saling
membantu satu dengan yang lainnya untuk mempelajari topik yang diberikan (ditugaskan
pada mereka). Siswa tersebut kemudian kembali pada kelompok masing-
masing(kelompok asal) untuk menjelaskan kepada teman-teman satu kelompok tentang
apa yang telah dipelajarinya. Siswa pada akhir pembelajaran diberikan kuis dengan
materi yang telah dibahas.

Adapun penerapan dari pembelajaran kooperatif dengan model jigsaw dilaksanakan
dalam dua tahap sebagai berikut:

1. Awal kegiatan pembelajaran
1. Persiapan
1. Materi

Materi pembelajaran kooperatif model jigsaw dibagi menjadi beberapa bagian
pembelajaran tergantung pada banyak anggota dalam setiap kelompok serta
banyaknya konsep materi pembelajaran yang ingin dicapai dan yang akan
dipelajari oleh siswa dalam pembelajarn kooperatif.

1.
1.
2. Membagi siswa dalam kelompok asal dan kelompok ahli.

Kelompok dalam pembelajarn kooperatif model jigsaw beranggotakan 3-5
orang yang heterogen baik dari kemampuan akademis, jenis kelamin, maupun
latar belakang sosialnya.

1.
1.
3. Menentukan skor awal
Skor awal merupakan skor rata-rata siswa secara individu pada kuis
sebelumnya atau nilai akhir siswa secara individual pada semester
sebelumnya.

1.
2. Rencana kegiatan
1. Guru menyampaikan pelajaran secara garis besar
2. Siswa membaca topik ahli dan menetapakan anggota ahli untuk
topik tertentu
3. Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu untuk
mendiskusikannya dalam kelompok ahli
4. Siswa ahli kembali ke kelompok masing-masing untuk
menjelaskan topik yang didiskusikannya
5. Siswa mengerjakan tes individual yang mencakup semua topik
6. Pemberian penghargaan kelompok berupa skor individu dan skor
kelompok atau menghargai prestasi kelompok

2. Rincian kegiatan pembelajaran
1. Membaca

Siswa membaca topik ahli dan menetapkan anggota ahli untuk topik tertentu.

Bahan: 1) lembar ahli untuk masing-masing siswa

2) teks atau bacaan lainnya

1.
2. Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikannya
dalam kelompok ahli.

Bahan : 1) lembar ahli dan teks

2) (pilihan) mendiskusikan garis besar masing-masing topik

1.
3. Laporan kelompok

Siswa ahli kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan topik
yang didiskusikannya kepada anggota kelompokknya.

1.
4. Tes

Ide pokok: Siswa mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik.

1.
5. Penghargaan kelompok

Ide pokok: penghargaan skor kelompok serta memberikan sertifikat
/pengharagaan lain.

1.
6. Refleksi

Refleksi digunakan untuk melihat kemajuan siswa dan kinerja guru.

4. Metode Ekspositori

Metode pengajaran ekspositori merupakan kegiatan mengajar yang berpusat pada
guru. Metode Ekspositori sama seperti metode Ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan
kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Guru pada metode Ekspositori
dominasinya banyak berkurang, karena tidak terus menerus berbicara. Ia berbicara pada
murid pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal dan pada waktu-waktu
yang diperlukan saja. Siswa tidak hanya mendengarkan dan membuat catatan, tetapi juga
mengerjakan soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti

5. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Dan Metode Ekspositori

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibedakan pembelajaran dengan pendekatan
kooperatif model Jigsaw dan pembelajaran dengan model Ekspositori, diantaranya
sebagai berikut:
Pembelajaran model Jigsaw

• Pembelajaran ini mengutamakan keaktifan siswa (berpusat pada siswa)
• Pembelajaran ini berbentuk kelompok-kelompok
• Terdiri atas kelompok ahli dan kelompok asal

Pembelajaran model Ekspositori

• Pembelajaran ini berpusat pada guru (guru lebih mendominasi pelajaran)
• Biasanya siswa tidak dibentuk dalam kelompok-kelompok
• Tidak terdapat kelompok ahli dan kelompok asal

6. Prestasi Belajar

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang secara sadar
sehingga seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak
mengerti menjadi mengerti dan akhirnya dapat mengerti atau memahami sesuatu yang
baik. Sedangkan prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang
sebagai hasil proses belajar yang dicapai siswa dalam bentuk pengetahuan dan
pengalaman terhadap ilmu yang dipelajarinya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini akan membandingkan akibat dari suatu perlakuan tertentu dengan yang
tanpa diberi perlakuan. Rancangan ini membutuhkan dua kelompok untuk menjadikan
sampel penelitian. Satu kelompok eksperimen diberi perlakuan yakni pembelajaran
kooperatif model jigsaw, sedangkan kelompok kontrol dengan pembelajaran metode
ekspositori. Kemudian akan diobservasi untuk melihat apakah ada perbedaan prestasi
belajar dari dua kelompok tersebut.
Rancangan penelitian yang dipilih adalah model post test only control group design.
Penggunaan model ini didasari asumsi bahwa kelompok eksperimen dan kelompok
control mempunyai kemampuan awal yang sama.

Rancangan penelitian ini dapat dilihat pada table berikut ini:

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian

Kelompok Perlakuan Observasi

E X O

K - O

Keterangan:

E: Kelompok eksperimen

K: Kelompok control

X: Perlakuan (pembelajaran kooperatif model jigsaw)

O: Tes prestasi belajar

2. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIC, VIID, VIIE, dan VIIF SMP
Negeri 4 Malang tahun ajaran 2005/2006. Semua kelas dari anggota populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk menjadi sampel, sehingga secara acak melalui undian
diambil dua kelas sebagai sampel penelitian. Untuk penelitian ini diambil dua kelas
sebagai sampel penelitian, yaitu kelas VIIE dan VIIF. Secara acak pula ditentukan bahwa
kelas VIIE merupakan kelas eksperimen yaitu kelas yang mendapatkan pembelajaran
kooperatif model jigsaw dan kelas VIIF merupakan kelas kontrol yaitu kelas yang
mendapatkan pembelajaran dengan ekspositori.

3. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif model jigsaw
dan ekspositori.

1.
2. Variabel Terikat

Variabel terikat adalah permasalahan yang menjadi pusat perhatian yang
merupakan akibat dari variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya
adalah prestasi belajar matematika.

4. Instrumen Penelitian
1. Instrumen Perlakuan

Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola pembelajaran
kooperatif model jigsaw yang berupa rencana pembelajaran untuk pembelajaran
kooperatif model jigsaw. Untuk kelas kontrol menggunakan pembelajaran dengan
metode ekspositori. Instrumen perlakuan digunakan untuk mengetahui
pemahaman siswa dalam mempelajari konsep-konsep yang diberikan serta dapat
digunakan meningkatkan prestasi belajar.

1.
2. Instrumen Prestasi Belajar Matematika

Instrumen Prestasi Balajar Matematika yang dilakukan dalam penelitian ini
yaitu tes prestasi belajar matematika. Tes prestasi belajar metematika dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman konsep metamatika pada pokok
bahasan keliling, luas persegi dan persegi panjang. Tes prestasi belajar ini
dilakukan sekali setelah perlakuan berakhir.

5. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1.
1. Data kemampuan awal siswa

Data ini diperoleh dengan teknik dokumenter, yaitu dengan cara mengambil nilai
tes paling akhir siswa dari pokok bahasan sebelumnya, dan digunakan untuk
mengetahui kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol siswa.

1.
2. Data prestasi belajar metematika

Data diperoleh dengan cara memberi tes kepada siswa setelah dilakukan
pembelajaran kooperatif model jigsaw pada kelompok eksperimen dan metode
ekspositori pada kelompok kontrol.

6. Teknik Analisis Data
1.
1. Uji Prasyarat Analisis Data

Uji prasyarat analisis data digunakan untuk memeriksa keabsahan data apakah
data benar-benar berdistribusi normal, variannya homogen, dan memiliki
kemempuan awal yang sama. Uji analisis data penelitian terdiri dari uji
normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan dua rata-rata.

1.
1.
1.
1. Uji normalitas

Uji normalitas yang digunakan adalah rumus chi-kuadrat

(Sudjana,1996:273)

Keterangan:

: nilai chi-kuadrat

Oi : frekuensi hasil pengamatan
k : jumlah kelas interval

Kriteria data terdistribusi dengan normal jika hitung dengan taraf signifikasi
dan k adalah jumlah kelas.

1.
1.
1.
2. Uji homogenitas varians

Uji homogenitas terhadap dua kelompok data yang digunakan untuk
meyakinkan bahwa kedua kelompok yang digunakan sebagai sampel berasal
dari populasi yang sama.

Rumus yang digunkan untuk uji homogenitas ini adalah:

(Sudjana,1996:250)

1.
1.
1.
1. Uji kesamaan dua rata-rata
2. Uji Hipotesis
2. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas