SKENARIO KATARAK DAN GLAUKOMA (2009

)
Seorang wanita, 65 tahun, datang ke UGD Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dengan
keluhan nyeri dan merah pada mata kanan disertai mual dan muntah sejak 2 hari yang lalu.
Penderita juga mengeluh bila melihat cahaya lampu tampak lingkaran seperti warna pelangi.
Keluhan tersebut baru pertama kali dirasakannya. Sebelumnya penglihatan mata kanan dan
kiri sudah berkurang sejak 6 bulan yang lalu, namun tidak disertai nyeri dan merah. Dia
menyadari bahwa penurunan penglihatan ini terutama memburuk pada cahaya terang. Selama
ini penderita hanya memakai kacamata pada saat membaca.
Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum : sadar dan kooperatif
Vital sign : nadi : 92x/menit, RR:18x/menit, suhu: 36,8
0
C, TD: 130/90mmHg
Mata:
OD : VOD 1/300, konjungtiva mixed injection, kornea keruh, COA : dangkal, pupil dilatasi,
refleks pupil (-), lensa mata sulit dinilai, tekanan bola mata 35,8 mmHg
OS : VOS 6/60, konjungtiva injection (-), kornea jernih, COA : kedalaman cukup, pupil bulat
sentral, refleks pupil (+), lensa mata keruh belum merata, tekanan bola mata 17,8 mmHg
IDENTIFIKASI MASALAH
1. Seorang wanita, 65 tahun, datang ke UGD Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
dengan keluhan nyeri dan merah pada mata kanan disertai mual dan muntah sejak 2 hari
yang lalu.
2. Penderita juga mengeluh bila melihat cahaya lampu tampak lingkaran seperti warna
pelangi. Keluhan tersebut baru pertama kali dirasakannya.
3. Sebelumnya penglihatan mata kanan dan kiri sudah berkurang sejak 6 bulan yang lalu,
namun tidak disertai nyeri dan merah. Dia menyadari bahwa penurunan penglihatan ini
terutama memburuk pada cahaya terang. Selama ini penderita hanya memakai kacamata
pada saat membaca.
4. Mata:
 OD : VOD 1/300, konjungtiva mixed injection, kornea keruh, COA : dangkal, pupil
dilatasi, refleks pupil (-), lensa mata sulit dinilai, tekanan bola mata 35,8 mmHg
 OS : VOS 6/60, konjungtiva injection (-), kornea jernih, COA : kedalaman cukup, pupil
bulat sentral, refleks pupil (+), lensa mata keruh belum merata, tekanan bola mata 17,8
mmHg
ANALISIS MASALAH
1. a. Anatomi, fisiologi, dan histologi mata?
b. Apa penyebab dan patofisiologi nyeri dan merah pada mata kanan?
Penyebab : Nyeri : mix injection ( injeksi silier dan injeksi konjungtiva )
Nyeri dipermukaan;
- Konjungtivitis
- Radang kelopak mata
- Nyeri di dalam orbital:
- Glaukoma
- Iritis
Mekanisme nyeri pada mata kanan
Faktor Usia (65 thn) → proses degeneratif (Densitas epitel  dan Serat lensa meregang)
→ tekanan osmotik lensa ↑ → influks air ke dalam lensa → pembengkakan serat-serat
lensa → ruang anterior bilik mata menyempit → iris terdorong kedepan → menempel
ke jaringan trabekular → menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm →
tekanan humor aqueous ↑ → tekanan intraoccular ↑ → nyeri pada mata kanan
c. Apa penyebab dan bagaimana mekanisme mata merah pada mata ?
Penyebab mata merah pada mata
- Hemorrhagi subkonjungtiva
- Radang di permukaan luar (konjungtivitis & keratitis)
- Radang intraokuler (iritis & glaukoma akut)
- Kongesti mata kanan
- Keratitis
- Vaskulitis retina
- Glaukoma akut
Mekanisme mata merah pada mata kanan
TIO ↑  kompresi struktur mata depan  gangguan aliran darah di konjungtiva dan
badan siliar  vasodilatasi a.siliaris anterior  mata merah
d. Apa penyebab dan mekanisme mual dan muntah sejak 2 hari yang lalu ?
Penyebab : peningktan tekanan intra okuler
Mekanisme : Peningkatan tekanan intra okuler  kompresi bilik mata depan 
gangguan aliran darah di konjungtiva dan badan silier  pelebaran pembuluh darah
arteri konjungtiva dan arteri siliaris anterior  nyeri  aktifasi saraf otonom
parasimpatis ke saluran cerna  mual dan muntah
e. Bagaimana hubungan nyeri dan merah pada mata kanan dengan mual dan
muntah sejak 2 hari yang lalu ?
hubungan nyeri dan merah pada mata kanan dengan mual dan muntah sejak 2 hari
yang lalu karena disebabkan oleh peningkatan tekanan intraokular
f. Bagaimana hubungan jenis kelamin dan umur pada kasus ini ?
 Umur : 65 tahun merupakan faktor resiko (diatas 40 tahun) untuk terjadinya
glukoma
 Jenis Kelamin: dengan rasio 4:1, wanita:pria, maka wanita lebih beresiko besar
dalam terjadinya glukoma
2. a. Apa penyebab dan mekanisme timbulnya penglihatan lingkaran seperti warna
pelangi ?
Faktor Usia (65 thn) → proses degeneratif (Densitas epitel  dan Serat lensa
meregang) → Protein di lensa mata mengalami denaturasi → Lensa menjadi keruh
pada sebagian atau seluruh massa lensa → mata menjadi cembung → Aliran humor
aqueous terhambat → tekanan humor aqueous ↑ → tekanan intraoccular ↑ → lapisan
endotel pada kornea mata → cairan masuk ke stroma kornea mata → edema kornea →
susunan sel longar dan warna keruh → kornea mata menjadi keruh → ketika cahaya
masuk → cahaya terbiaskan oleh adanya halangan akibat lensa mata yang keruh →
penglihatan lingkaran seperti warna pelangi.
b. Apa makna keluhan tersebut baru pertama kali dirasakan ?
Dari keluhan nyeri dan merah pada mata kanan disertai mual dan muntah sejak 2 hari
yang lalu bila melihat cahaya lampu tampak lingkaran seperi warna pelangi dan baru
pertama kali dirasakan menandakan bahwa gejala akut karena dirasakan < 1 minggu
c. Bagaimana hubungan melihat cahaya lampu tampak lingkaran seperti warna
pelangi mual dan muntah dengan keluhan utama ?
aliran humor aquos terhambat  peningkatan tekanan intra okuler glaucoma  kornea
keruh (halo)  kompresi bilik mata depan (coa)  gangguan aliran darah di
konjungtiva dan badan silier  pelebran pembuluh darah a.konjungtiva dan a. ciliaris
anterior (injeksi konjungtiva dan injeksi silier)  nyeri periorbital  merangsang
aktivasi saraf otonom  parasimpatis  kesaluran cerna  mual dan muntah
3. a. Apa penyebab dan bagaimana mekanisme penglihatan mata kanan dan kiri
berkurang ?
tekanan intraoccular ↑ → ↓ aliran darah ke retina → penekanan serabut-serabut saraf
optikus (akson-akson saraf optik) → iskemia → kematian serabut saraf optikus →
impuls ke otak tidak tersampaikan → tidak bisa mempresentasikan fokus melihat →
penglihatan mata kanan dan kiri berkurang
b. Mengapa penglihatan berkurang tapi tidak disertai nyeri dan merah ?
Karena tidak semua gangguan penglihatan disertai nyeri dan merah.
Nyeri pada mata dapat disebabkan oleh terjepitnya ujung ujung saraf optikus,
sedangkan mata merah dapat disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan intra okuler
atau karena infeksi.Pada kasus ini penglihatan berkurang disebabkan karena keruhnya
lensa pada kedua bola mata akibat endapan protein.
c. Mengapa penurunan penglihatan memburuk pada cahaya terang ?
Karena mata menjadi sensitif ditempat terang dan nyaman ditempat lebih gelap oleh
karena adanya kekeruhan pada lensa sehingga cahaya yang masuk susah untuk
difokuskan sehingga penurunan penglihatan memburuk pada cahaya terang.

d. Bagaimana hubungan penurunan penglihatan memburuk pada cahaya terang
dengan hanya menggunakan kacamata pada saat membaca ?

e. Apa makna hanya memakai kacamata pada saat membaca ?
Pada usia muda, lensa mata masih lunak dan lentur, sehingga bentuknya bisa berubah-
ubah guna memfokuskan objek dekat dan objek jauh. Setelah berusia 40 tahun atau
lebih, lensa menjadi lebih kaku akibat menurun nya elastisitas m>ciliaris.. Lensa tidak
dapat dengan mudah merubah bentuknya sehingga lebih sulit untuk membaca pada
jarak dekat. Hal ini merupakan suatu keadaan yang normal, yang disebut dengan
presbiopia.
4. Interpretasi dan mekanisme dari :
a. Vital sign : TD 130/90 mmHg
 Interpretasi : normal tinggi (hipertensi)
 Kadar Normal : menurut JNC 7
b. Mata :
 OD : VOD 1/300
- Interpretasi : penderiata mampu melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter
yang seharusnya dapat dilihat oleh mata normal pada jarak 300 meter.
(kebutaan : V < 3/60) → WHO
- Kadar Normal : 6/6 - 6/18
 konjungtiva mixed injection
- Interpretasi : abnormal karena terjadi pelebaran pembuluh darah di cilia &
sklera (sering pada penderita glaukoma).
- Kadar Normal : (-)
 kornea keruh
- Interpretasi : abnormal karena terjadi kelainan pada kornea mata dan terdapat
pada penderita glaukoma akut.
- Aliran aqeous humor  perpindahan cairan intraokuler kekornea  Edema
kornea  Kornea keruh.
- Kadar Normal : (-) / benin
 COA :
- Dangkal
 Interpretasi : abnormal karena terjadi yang disebabkan iri terdorong ke
depan bilik mata mengakibata COA (camera okuli anterior) dangkal.
 Kadar Normal : (-)
- Pupil dilatasi
 Interpretasi : abnormal hal ini terjadi karena sebagai kompensasi tubuh
kita untuk mengatasi respon pupil yang menurun sehingga pupil berdilatasi
untuk menangkap cahaya lebih banyak.
 Kadar Normal : (-)
- Refleks pupil (-)
 Interpretasi : kebutaan, hal ini terjadi karena pupil melakukan kompensasi
secara terus menerus untuk berdilatasi sehingga mengakibatakan kerusakan
pada pupil.
 Kadar Normal : (+)
- Lensa mata sulit dinilai
 Interpretasi : abnormal karena lensa mata keruh
 Kadar Normal : mudah dinilai
- tekanan bola mata 35,8 mmHg dan cara pemeriksaan
 Interpretasi : ↑ tekanan intraoccular karena terjadi hamabatan pada aliran
humor aqueous.
 Kadar Normal : 15-20mmHg

 OS : VOS 6/60
- Interpretasi : pasien mampu melihat /membaca pada jarak 6 meter yang
seharusnya dapat dibaca oleh mata normal pada jarak 60 meter.
- Kadar Normal : 6/6 - 6/18
 COA : lensa mata keruh belum merata
- Interpretasi : abnormal hal ini terjadi bayangan iris pd lensa terlihat besar &
letaknya jauh terhadap pupil berarti lensa belum keruh seluruhnya atau belum
merata (pada penderita katarak immatur).
- Kadar Normal : lensa mata tidak keruh.
5. Bagaimana diagnosis banding kasus ini
Gambaran
Glaukoma
(sudut tertutup
akut)
Katarak
Diabetik
retinopathy
Uveitis
anterior
Konjungti
vitis
Penglihatan ↓ ↓ ↓ ↓ Normal
Nyeri (perioccular) Nyeri berat - -
Sangat
nyeri
Nyeri
seperti
kemasukan
pasir
Mata kemerahan + - - + +
Mual dan muntah + - - + -
Penglihatan seperti
warna pelangi
- + - - -
Ketajaman penglihatan ↓ ↓ ↓ ↓ -
Tekanan intraocular ↑ Normal Normal Normal
atau ↑
Normal
Konjungtiva mixed
injection
Diffuse ? ? Circum-
corneal
Diffuse
Pupil Mid dilatasi Normal Normal Konstriksi Normal
Kamera okuli anterior Dangkal Normal Normal Normal Normal
Refleks cahaya
menurun
+ + + + -
Mengena sisi Unilateral Unilatera
l/
bilateral
Bilateral Unilateral Bilateral

6. Bagaimana pemeriksaan penunjang ?
 Funduskopi : Papil saraf optik menunjukkan penggaungan dan atrofi, seperti pada
glaukoma simpleks.
 Tonografi : Menunjukkan outflow yang baik. Tetapi bila sudah ada perlengketan antara
iris dan trabekula (goniosinekhia, sinekhiaanterior perifer), maka aliran menjadi
terganggu.
 Gonioskopi : Pada waktu tekanan intaokuler tinggi, sudut bilik mata depan tertutup,
sedang pada waktu tensi intraokuler normal sudutnyasempit. Bila serangan dapat
dihentikan maka sesudah 24 jam,biasanya sudut bilik mata depan terbuka kembali,
tetapi masihsempit. Kalau terjadi serangan yang berlangsung lebih dari 24jam, maka
akan timbul perlengketan antara iris bagian pinggir dengan trabekula (goniosinekhia,
sinekhia anterior perifer)
 Tes provokasi, dilakukan pada keadaan yang meragukan
Tes yang dilakukan : tes kamar gelap, tes midriasis, tes membaca, tes bersujud (prone
test). Untuk glaucoma sudut tertutup, yang umum dilakukan adalah tes kamar gelap
(karena pupil akan midriasis dan pada sudut bilik mata yang sempit, ini akan
menyebabkan tertutupnya sudut bilik mata).
7. Apa diagnosis kerja kasus ini ?
 OD : katarak senilis immature dengan penyulit glaukoma akut (sudut tertutup)
 OS : katarak senilis insipien
8. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini ?
a. Farmakologi
 Katarak
Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala
katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Indikasi Pasien dapat
dioperasi bila ada kemauan dari pasien itu sendiri untuk memperbaiki tajam
penglihatannya (visus). Secara umum, indikasi operasi katarak bila terdapat kondisi
stereopsis, penyusutan lapangan pandang perifer dan gejala anisomethrophia.
Indikasi medikal dilakukannya operasi termasuk pencegahan komplikasi seperti
glaukoma fakolitik, glakukoma fakomorfik, uveitis facoantigenik dan dislokasi
lensa ke bilik mata depan. Indikasi tambahannya adalah untuk diagnosis atau
penatalaksanaan penyakit okuler lainnya, seperti retinopati diabetik atau
glaukoma.Indikasi bedah pada katarak senile, seperti :
 Katarak telah mengganggu pekerjaan sehari-hariwalaupun katarak belum
matur.
 Katarak matur, karena apabila menjadi hipermatur akan menimbulkan penyulit
katarak hipermatur (uveitis dan glaukoma).
 Katarak telah menimbulkan penyulit seperti katarak intumesen yang
menimbulkan glaucoma.
Pembedahan katarak terdiri dari pengangkatan lensa dan menggantinya dengan
lensa buatan. Ada 2 macam pembedahan yang bisa digunakan untuk mengangkat
lensa yaitu ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction) atau EKEK dan ICCE
(Intra Capsular Cataract Extraction) atau EKIK.
 Glaukoma
 Medikamentosa
Pengobatan dengan obat-obatan ditujukan untuk menurunkan tekanan
intraokular dengan cepat, untuk mencegah kerusakan nervus optikus, untuk
menjernihkan kornea, menurunkan inflamasi intraokular, miosis, serta
mencegah terbentuknya sinekia anterior perifer dan posterior. Obat-obat yang
bisa diberikan pada penderita glaukoma sebagai berikut :
1. Prostaglandin analog, seperti:
a. Latanaprost (Xalatan) : konsentrasi 0,005% dan dosis 4 kali sehari.
b. Bimanoprost (lumigan)
2. β-Adrenergic antagonist ( β-bloker ), seperti :
Timolol maleate (timoptic) : obat ini mempunyai konsentrasi 0,25%, 0,5%
dan dosis pemakaian 4 kali sehari. Efeknya yaitu menurunkan produksi
akuos dan menurunkan TIO 20-30%.
3. Adrenergic agonist
 Epinefrin (epifrin) : obat ini mempunyai konsentrasi 0,25%, 0,5%, 1%,
2% dan dosis pemakaian 2 kali sehari. Efeknya yaitu meningkatkan
aliran akuos dan menurunkan TIO sebesar 15-20%.
 Dipivefrin HCl (propin) : obat ini mempunyai konsentrasi 0,1% dan
dosis pemakaian 2 kali sehari. Efeknya yaitu meningkatkan aliran akuos
dan menurunkan TIO sebesar 15-20%.
4. β2-Adrenergik agonist :
Apraclonidin HCl (iopidin) : obat ini mempunyai konsentrasi 0,5%, 1% dan
dosis pemakaian 2-3 kali sehari.
5. Parasympatomimetic (miotic) agents
 Agonist kolinergik (direct acting)
Pilocarpin HCl (isoptocarpine) : obat ini mempunyai konsentrasi 0,2-
10% dan dosis pemakaian 2-4 kali sehari. Efeknya yaitu meningkatkan
aliran trabekular, menurunkan TIO melalui kontraksi otot siliaris,
kontraksi tersebut menarik taji sklera dan menyebabkan anyaman
trabekular teregang dan terpisah.Jalur cairan terbuka dan aliran keluar
akuos meningkat. Obat ini merupakan langkah pertama dalam
terapi glaukoma.
 Anti kolinesterase agent (indirect acting)
Echothiopate iodide (phospholine iodide) : obat ini mempunyai
konsentrasi 0,125% dan dosis pemakaian 2-
Non Medikamentosa
Glaukoma bukan merupakan penyakit yang dapat diobati dengan operasi saja. Indikasi
untuk dilakukannya operasi, yaitu:
1. Target penurunan tekanan intraokular tidak tercapai.
2. Kerusakan jaringan saraf dan penurunan fungsi penglihatan yang progresif meski
telah diberi dosis maksimal obat yang bisa ditoleransi ataupun telah dilakukan laser
terapi ataupun tindakan pembedahan lainnya.
3. Adanya variasi tekanan diurnal yang signifikan pada pasien dengan keruksakan
diskus yang berat.
Operasi biasanya merupakan pendekatan primer baik untuk glukoma kongenital
maupun glaukoma blok papil.
a. Operasi untuk glaukoma sudut terbuka
1. Laser trabekuloplasti
2. Selective laser trabeculoplasty
3. Trabekulektomi
b. Operasi untuk glaukoma sudut tertutup.
1. Laser iridektomi
2. Laser genioplasti atau iridoplasti perifer
3. Pembedahan insisi
9. Bagaimana komplikasi pada kasus ini ?
 Katarak
 Komplikasi Intraoperasi yaitu kerusakan endotel kornea, ruptur kapsula posterior ,
prolaps vitreus, hifema, expulsive haemorrhage , dislokasi nukleus lensa ke dalam
vitreus.
 Komplikasi pascabedah dini yaitu edema kornea, kebocoran luka, prolaps iris,
Camera Oculi Anterior (COA) dangkal atau flat, hifema, glaukoma sekunder ,
dislokasi IOL, endoftalmitis.
 Komplikasi pascabedah lanjut yaitu Posterior Capsular Opacification (PCO),
Cystoid Macular Edema (CME), bullous keratopathy, glaukoma sekunder.
 Glaukoma :
 Kerusakan saraf optic
 Kebutaan
 Kehilangan penglihatan tepi
 Hipertensi ocular
10. Bagaimana prognosis pada kasus ini ?
 Katarak : 90% pasien katarak yang dioperasi, penglihatannya membaik dan tidak
mengalami gangguan.
 Glaukoma :Tanpa pengobatan, glaukoma dapat mengakibatkan kebutaan total.
Apabila obat tetes anti glaukoma dapat mengontrol tekanan intraokular pada mata
yang belum mengalami kerusakan glaukomatosa luas, prognosis akan baik. Apabila
proses penyakit terdeteksi dini sebagian besar pasien glaukoma dapat ditangani
dengan baik.
 Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Quo ad functionam : dubia ad malam

11. Bagaimana kompetensi dokter umum pada kasus ini ?
3a mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan
tambahan yang diminta oleh dokter (pemeriksaan lab. Sederhana / x-ray).Dapat
memutuskan dan member terapi pendahuluan, serta murujuk ke spesialis yang relevan
(bukan kasus gawat darurat).

12. Bagaimana pandangan Islam tentang penglihatan ?
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar
kamu bersyukur. (QS. AN NAHL ayat 78)
Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian: pendengaran, penglihatan, dan
hati. Amat sedikit kamu bersyukur. (QS Al-Mu’minun: 78)
HIPOTESIS
Seorang wanita, 65 tahun mengalami keluhan nyeri dan merah pada mata karena menderita
glaucoma akut pada mata kanan yang disebabkan oleh katarak imatur dan pada mata kiri
mengalami kekeruhan lensa mata yang belum merata disebabkan oleh katarak imatur

KERANGKA KONSEP























Faktor usia
(65 thn)
Degenerasi
lensa
Lensa keruh
Katarak OS Katarak OD
Lensa menjadi
cembung
Hambatan
aliran aquos
humor
COA : Dangkal
Tekanan intra
okuler
Glaukoma
Nyeri Mual Muntah Mata merah
Linkaran
pelangi

♀ 65 tahun
Denaturasi Lensa
Glaukoma Akut
Sudut Sempit

Presbiopi

Pre-Hipertensi
(130/90 mmHg)
Nausea
Vomit
Mata Merah Mata Nyeri
Halo
Penglihatan ↓ terutama
padamemburuk pada
cahaya terang
Hanya memakai
kacamata pada
saat membaca
- konjungtiva mixed
injection
- kornea keruh
- COA dangkal
Lensa Keruh
Belum Merata

Lensa Cembung
Katarak
Immatur
↓ Kelenturan
Dinding arteri
↓ Elastisitas
m.ciliaris
Mendorong Iris
dan Lengket
Aliran Aquos
Homour terhambat
IOP ↑
(35,8 mmHg)
Peregangan N.C.V.1
Opthalmicus
Menekan
Pembuluh Darah
Vasodilatasi

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful