You are on page 1of 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi inhalasi merupakan teknik yang paling sering digunakan pada general anestesi.
1
Obat-obatan anestesi inhalasi adalah obat-obat anesthesia yang berupa gas atau cairan mudah
menguap, yang diberikan melalui pernapasan pasien. Campuran gas atau uap obat anesthesia dan
oksigen masuk mengikuti aliran udara inspirasi, mengisi seluruh rongga paru, selanjutnya
mengalami difusi dari alveoli ke kapiler paru sesuai dengan sifat masing-masing gas.
2
Obat anestesi inhalasi biasanya dipakai untuk pemeliharaan pada anestesi umum, akan
tetapi juga dapat dipakai sebagai induksi. Obat anestesi inhalasi yang paling terkenal poten pada
penggunaan untuk operasi bedah dewasa adalah isofluran, sevofluran, dan desfluran. Untuk
anak-anak halotan dan sevofluran adalah yang paling banyak digunakan. Untuk memilih obat
yang digunakan tergantung dari kesehatan pasien dan efek yang diinginkan untuk keperluan
prosedur operasinya.
2











2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI ANESTESI INHALASI
Obat anestesia inhalasi adalah obat anestesia yang berupa gas atau cairan mudah
menguap, yang diberikan melalui pernafasan pasien. Campuran gas atau uap obat anestesia dan
oksigen masuk mengikuti udara inspirasi, mengisi seluruh rongga paru, selanjutnya mengalami
difusi dari alveoli ke kapiler sesuai dengan sifat fisik masing-masing gas.
2

Anestesi inhalasi adalah obat yang paling sering digunakan pada anestesia umum.
Penambahan sekurang-kurangnya 1% anestetik volatil pada oksigen inspirasi dapat
menyebabkan keadaan tidak sadar dan amnesia, yang merupakan hal yang penting dari anestesia
umum. Bila ditambahkan obat intravena seperti opioid atau benzodiazepin, serta menggunakan
teknik yang baik, akan menghasilkan keadaan sedasi/hipnosis dan analgesi yang lebih dalam.
Kemudahan dalam pemberian (dengan inhalasi sebagai contoh) dan efek yang dapat dimonitor
membuat anestesi inhalasi disukai dalam praktek anestesia umum. Tidak seperti anestetik
intravena, kita dapat menilai konsentrasi anestesi inhalasi pada jaringan dengan melihat nilai
konsentrasi tidal akhir pada obat-obat ini. Sebagai tambahan, penggunaan gas volatil anestesi
lebih murah penggunaanya untuk anestesia umum. Hal yang harus sangat diperhatikan dari
anestesi inhalasi adalah sempitnya batas dosis terapi dan dosis yang mematikan. Sebenarnya hal
ini mudah diatasi,dengan memantau konsentrasi jaringan dan dengan mentitrasi tanda-tanda
klinis dari pasien.
2

Obat anestesi inhalasi biasanya dipakai untuk pemeliharaan pada anestesi umum, akan
tetapi juga dapat dipakai sebagai induksi, terutama pada pasien anak-anak. Gas anestesi inhalasi
yang banyak dipakai adalah isofluran dan dua gas baru lainnya yaitu sevofluran dan desfluran.
sedangkan pada anak-anak, halotan dan sevofluran paling sering dipakai. Walaupun dari obat-
obat ini memiliki efek yang sama (sebagai contoh : penurunan tekanan darah tergantung dosis),
namun setiap gas ini memiliki efek yang unik, yang menjadi pertimbangan bagi para klinisi
untuk memilih obat mana yang akan dipakai. Perbedaan ini harus disesuaikan dengan kesehatan
pasien dan efek yang direncanakan sesuai dengan prosedur bedah.
2

3

Cara pemberian anestesi inhalan ada 3 macam, yaitu :
1. Open Drop
Penderita menghirup masker atau kain kasa yang ditetesi dengan obat anestesia
2. Semi Closed
Penderita menghirup obat anestesia dari suatu alat ( EMO,Mesin anestesi lain,dsb)
3. Closed System
Dengan suatu alat, obat anestesia yang dikeluarkan oleh penderita dapat dihirup
kembali. Sehingga cara ini menghemat pemakaian obat anestesia.
3


2.2 SEJARAH ANESTESI INHALASI
Sejak dahulu manusia telah mulai berusaha mengurangi ekstrakrasa sakit, tetapi tidak
mencapai hasil yang memuaskan. Dokumen tertua adalah tulisan dari Teodorico dr. Borgogni
pada abad ke-13, yaitu dengan spa yang disebut spons tidur atau slaapspoons, resepnya telah
dibuat oleh Nicolas Praerositus pada permulaan abad ke-12 dan obat ramuannya terkenal dengan
nama ypnoticon.
3

Keberhasilan oksida nitrat sebagai anestesi umum inhalansi pertama kali dicatat oleh ahli
kimia Inggris, Humphrey Davy, yang menerbitkan sebuah makalah tentang subjek pada tahun
1800-an. Salah satu pemakaian oksida nitrat pertama yang sukses adalah ekstrak gas gigi tanpa
rasa sakit yang dilakukan oleh William Thomas Green Morton pada tahun 1846.
3

Selama tahun 1800-an, ada beberapa anestesi volatil yang telah digunakan untuk
kepentingan klinis akan tetapi mengandung gas-gas yang mudah terbakar, seperti dietil eter,
cyclopropane dan divinyl eter. Beberapa gas yang tidak mudah terbakar juga ada, seperti
kloroform dan trikloroetilen, namun gas-gas ini dihubungkan dengan kejadian keracunan hepar
(hepatotoksik) dan meracuni saraf (neurotoksik). Pada awal tahun 1930-an penelitian tentang
turunan dari zat kloroform yang mengandung halogen mengindikasikan bahwa zat yang tidak
mudah terbakar dapat dibuat dengan menggunakan bahan fluoride organik.
Kemajuan pengetahuan tentang kimia fluorin pada tahun 1940-an, menghasilkan
penggabungan molekul fluorin dengan biaya yang masih dapat diterima. Kemajuan tentang
4

fluorin pada awalnya didorong oleh ketertarikan terhadap peran fluorin dalam produksi bahan
bakar aviasi beroktan tinggi dan pengayaan uranium-235.
Kemajuan-kemajuan ini merupakan hal yang sangat penting bagi pengembangan anestesi
modern saat ini. Pada masa itu, setidaknya ada 46 senyaawa yang mengandung fluorin disintesis
oleh dr.Earl McBee dalam penelitian yang didukung oleh secret Manhattan project dan oleh the
mallinkrodt company. Walaupun tidak ada satupun dari zat ini yang secara pasti teruji
manfaatnya pada manusia, beberapa zat ini memiliki kedekatan struktur dengan zat yang saat ini
kita kenal dengan nama halotan. Fluorin adalah halogen yang memiliki berat atom yang paling
rendah. Penggantian gas halogen lain pada molekuk eter dengan fluorin, akan menghasilkan
penurunan titik didih, peningkatan stabilitas, dan secara umum, mengurangi toksisitas. Ion
fluoride juga mengurangi hidrokarbobon yang mudah terbakar dari kerangka molekul eter.
Pada tahun 1951, halotan disintesis dan di uji coba secara luas kepada hewan oleh
Suckling di laboratorium ICI di Inggris. Halotan diperkenalkan pada praktek klinik pada tahun
1956 dan secara cepat meluas pemakaiannya, dikarenakan sifatnya yang tidak mudah terbakar
dan memeliki solubilitas yang rendah terhadap jaringan. Halotan relatif memiliki ketajaman
(pungency) yang rendah dan potensi yang tinggi, sehingga dapat diberikan pada konsentrasi
insipirasi yang tinggi untuk menghasilkan anestesia. Halotan terbukti dapat diterima melalui jalur
inhalasi baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak. Keuntungan lain yang dimiliki halotan
adalah insiden nausea dan muntah yang lebih rendah dari gas-gas volatil pendahulunya.
Antara tahun 1959 dan 1966, Terrel dan para koleganya di ohio medical products
(sekarang baxter) mensintesis lebih dari 700 senyawa senyawa ke 347 dan 469 secara berturut-
turut adalah metil etil eter enfluran dan isofluran yang di-halogenasi dengan fluorin dan clron.
Uji coba klinis dari enfluran dan isofluran dilaksanakan hampir secara paralel, melibatkan baik
relawan manusia dan studi pada pasien. Bertahun-tahun kemudian, beberapa senyawa yang
dilakukan oleh terrel diperiksa ulang. Salah satu senyawa, yaitu senyawa ke 653, sangat sulit
untuk di sintesis karena sifatnya yang mudah meledaksehingga tidak mungkin untuk
memberikannya pada pasien dangen alat vaporizer standar. Bagaimanapun juga, senyawa ini
secara utuh terhalogenisasi oleh fluoran, sehingga dipredikis memiliki solubilitas yang rendah
pada darah. Setelah masalah sintesis dan pemberian pada pasien dapat dipecahkan, senyawa ini
5

kemudian diperkenalkan dengan nama desfluran, dan mulai digunakan pada praktek klinik pada
tahun 1993.
Senyawa lain yang di jelaskan pada awal tahun 1970 oleh Wallin dan para koleganya di
travenol laboratoriesyang sedang mengevaluasi isopropil eter terfluorinisasi. Salah satu
senyawa ini memiliki potensi menjadi agen anestetik, yang sekarang kita kenal dengan nama
sevofluran. Seperti dersfluran, senyawa ini memiliki solubilitas yang rendah karena adanya
fluoronasi dari molekul eter.
Perbedaan yang paling penting antara dua anestetik baru, yaitu sevofluran dan desfluran,
dengan isofluran, adalah pada farmakokinetiknya. Keduanya memiliki solubilitas pada darah
yang rendah, sehingga meningkatkan bersihan dari tubuh dan mudahnya mengatur kedalaman
anestesi. Karakteristik dari kedua obat inilah yang membuat mereka sesuai untuk anestesi
ambulatori pada praktik anestesi modern.
4

Dalam praktek anestesiogi masa kini, obat-obatan anestetik inhalasi yang umum
digunakan untuk praktek klinik ialah N2O, halotan, enfluran, isofluran, desfluran, dan
sevofluran. Obat-obatan lain sudah ditinggalkan, karena efek sampingnya yang tidak
dikehendaki, misalnya :
1. Eter : kebakaran, peledakan, sekresi bronkus berlebihan, mual munatah,
kerusakan hepar, baunya yang merangsang.
2. Kloroform : aritmia, kerusakan hepar.
3. Etil-klorida : kebakaran, peledakan, deresi jantung, indeks terapi yang sempit, dan
mudah dirusak kapur soda.
4. Triklor-etilen : dirusak kapur soda, bradi-aritmia, mutagenik
5. Metoksifluran : toksis terhadap ginjal, kerusakan hepar dan kebakaran.

2.3 FARMAKOKINETIK ANESTESI INHALASI

Dalamnya anestesi bergantung pada kadar anestetik di sistem saraf pusat, dan kadar ini
ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi transfer anestetik dari alveoli paru ke darah
dan dari darah ke jaringan otak. Kecepatan induksi bergantung pada kecepatan dicapainya
6

kadarefektif zat anestetik di otak, begitu pula masa pemulihan setelah pemberian obat dihentikan.
Membrane alveoli dengan mudah dapat dilewati zat anestetik secara difusi dari alveoli ke aliran
darah dan sebaliknya. Tetapi, bila ventilasi alveoli terganggu, misalnya pada emfisema paru,
pemindahan anestetik akan terganggu pula.
5,6

Faktor yang menentukan kecepatan transfer anestetik di jaringan otak ditentukan oleh:
A. Kelarutan zat anestetik
B. Kadar anestetik dalam udara yang dihirup pasien (tekanan parsial anestetik)
C. Ventilasi paru
D. Aliran darah paru
E. Perbedaan antara tekanan parsial anestetik di darah arteri dan di darah vena
5,6

A. Kelarutan anestetik dalam darah
Kelarutan ini dinyatakan sebagai koefisien partisi darah/gas (), yaitu
perbandingan antara kadar anestetik dalam darah dengan kadarnya dalam udara
inspirasi pada saat dicapai keseimbangan. Anestetik yang sukar larut (N
2
O, desfluran,
dan sevofluran) koefisien partisinya sangat rendah, sedangkan koefisien partisi
dietileter dan metoksifluran yang mudah larut, sangat tinggi. Ketika berdifusi dalam
darah, anestetik yang sukar larut, hanya membutuhkan sedikit molekul untuk
menaikkan tekanan parsialnya sehingga tekanan parsial gas di dalam darah segera
naik dan induksi anesthesia terjadi lebih cepat. Sebaliknya untuk anestetik yang
mudah larut, diperlukan jumlah yang lebih banyak untuk menaikkan tekanan parsial
di darah sehingga timbulnya induksi lebih lama.
5,6


Gambar 1. Kelarutan anestetik
6

7

B. Kadar anestetik dalam udara inspirasi
Tekanan parsial
Tekanan parsial adalah proporsi yang menggambarkan kadar suatu gas yang
berada dalam suatu campuran gas, misalnya kadar anestetik inhalasi dalam campuran
gas yang dihirup oleh pasien (udara inspirasi). Tekanan parsial suatu anestetik dalam
udara inspirasi dapat diatur besarnya dengan suatu vaporizer atau alat lainnya
5,6


Kadar anestetik dalam campuran gas yang dihirup menentukan tekanan
maksimum yang dicapai di alveoli maupun kecepatan naiknya tekanan parsial di
arteri. Kadar anestetik yang tinggi akan mempercepat transfer anestetik ke darah,
sehingga akan meningkatkan kecepatan induksi anesthesia. Tekanan parsial N
2
O
dalam arteri mencapai 90% tekanan parsial dalam udara yang dihirup setelah 20
menit, sedangkan untuk eter dicapai sesudah 20jam. Untuk mempercepat induksi,
anestetik yang tingkat kelarutannya sedang (enfluran, isofluran, halotan)
dikombinasikan dengan anestetik yang sukar larut (N
2
O) dengan cara meninggikan
dulu tekanan parsial dalam udara yang dihirup. Setelah induksi dicapai, tekanan
parsial dalam udara inspirasi diturunkan untuk mempertahankan anesthesia.
5,6

C. Ventilasi paru
Hiperventilasi mempercepat masuknya gas anestesi ke sirkulasi dan jaringan,
tetapi hal ini hanya nyata pada anestetik yang mudah larut dalam darah (halotan,
dietileter).
5,6

D. Kecepatan aliran darah paru
Bertambah cepat aliran darah paru bertambah cepat pula pemindahan
anestetik dari udara inspirasi ke darah. Namun, hal itu akan memperlambat
peningkatan tekanan darah arteri sehingga induksi anesthesia akan lebih lambat
khususnya oleh anegestik dengan tingkat kelarutan sedang dan tinggi, misalnya
halotan dan isofluran.
5,6


8

E. Perbedaan tekanan parsial anestetik dalam arteri dan vena
Perbedaan kadar anestetik di darah arteri dan vena terutama bergantung pada
ambilan anestetik oleh jaringan. Darah vena yang kembali ke paru mengandung
anestetik yang lebih sedikit daripada darah arteri. Semakin besar perbedaan kadar
anestetik, maka keseimbangan dalam jaringan otak akan semakin lama tercapai.
Ambilan anestetik oleh jaringan ditentukan oleh factor yang sama dengan
mempengaruhi transfer anestetik dari paru ke darah, terutama koefisien partisi darah :
jaringan. Tekanan parsial dalam jaringan juga meningkat bertahap sampai dicapai
keseimbangan. Pada fase induksi, perbedaan kadar arteri-vena sangat dipengaruhi
oleh banyaknya perfusi suatu jaringan. Di otak, jantung, hati, ginjal yang perfusinya
sangat baik, kadar anestetik awal dalam darah vena rendah sekali sehingga perbedaan
kadar anestetik dalam arteri vena sangat besar, makan keseimbangan kadar anestetik
dalam darah arteri akan tercapai dengan lambat. Pada fase pemeliharaan, anestetik
akan terus didistribusikan ke berbagai jaringan dan umumnya tergantung dari
kelarutan anestetik dalam darah.
5,6

2.4 FARMAKODINAMIK ANESTESI INHALASI
Dasar dari terjadinya stadium anesthesia adalah adanya perbedaan kepekaaan berbagai
bagian SSP terhadap anestetik. Sel-sel substantia gelatinosa di kornu dorsalis medulla spinalis
peka sekali terhadap anestetik. Penurunan aktivitas neuron di daerah ini menghambat transmisi
sensorik dari rangsang nosiseptik, inilah yang menyebabkan terjadinya tahap analgesia. Stadium
II terjadi akibat aktivitas neuron yang kompleks pada kadar anestetik yang lebih tinggi di otak.
Aktifitas ini antara lain berupa penghambatan berbagai neuron inhibisi bersamaan dengan
dipermudahnya penglepasan neurotransmitter eksitasi. Selanjutnya, depresi hebat pada jalur
naik di system aktivasi reticular dan penekanan aktivitas reflex spinal menyebabkan pasien
masuk ke stadium III. Neuron di pusat napas dan pusat vasomotor relative tidak peka terhadap
anestesi kecuali pada kadar yang sangat tinggi. Apa yang menyebabkan perbedaan kepekaan
berbagai bagian SSP ini masih perlu diteliti.
5,6



9

Konsentrasi Alveolar Minimum (KAM)
Konsentrasi alveolar minimum atau minimum alveolar concentration (MAC)
anestetik inhalasi adalah konsentrasi alveolar yang dapat menghambat gerakan pada 50%
pasien terhadap stimulus standar seperti insisi bedah. MAC merupakan ukuran yang
berguna karena merefleksikan tekanan parsial anestetik di otak, sehingga dapat
membandingkan secara langsung potensi setiap anestetik sekaligus memberikan standar
baku untuk penelitian. Meskipun demikian, nilai MAC tetap saja hanya merupakan angka
statistikal belaka pada saat menangani pasien; masing-masing pasien merupakan individu
yang unik dan oleh karena itu memerlukan pendekatan yang bersifat individual pula,
misalnya pada saat menentukan dosis induksi.
5,6

Tabel 1. Berbagai sifat anestesi inhalasi



10

Berdasarkan kemasannya, obat anestesia umum inhalasi ada 2 macam, yaitu :
1. Obat anestesia umum inhalasi yang berupa cairan yang mudah menguap.
7

a. Derivat halogen hidrokarbon.
- Halothan
- Trikhloroetilen
- Khloroform
b. Derivat eter.
- Dietil eter
- Metoksifluran
- Enfluran
- Isofluran
2. Obat anestesia umum yang berupa gas.
7

a. Nitrous oksida (N
2
O)
b. Siklopropan

2.5 FARMAKOLOGI KLINIK ANESTESI INHALASI

2.5.1 HALOTAN
Halotan berbentuk cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar
dan tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen, tidak iritatif dan
mudah rusak bila terkena cahaya, tetapi stabil disimpan memakai botol warna gelap.

3,7,8

Dosis

Dosis untuk induksi inhalasi adalah 2-4%, dosis untuk induksi anak 1.5
2%. Pada induksi inhalasi kedalaman yang cukup terjadi setelah 10 menit. Dosis
untuk pemeliharaan adalah 1 2%, dan dapat dikurangi bila digunakan juga N
2
O
atau narkotik. Pemeliharaan pada anak 0.5 2%. Waktu pulih sadar sekitar 10 menit
setelah obat dihentikan.
3,7,8


11

Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, dan Eliminasi
Obat anestesi inhalasi di absorbsi di paru, setelah itu di distribusikan ke
seluruh tubuh.Metabolisme obat anestesi inhalasi secara oksidasi dan reduksi di
dalam reticulum endoplasma hepar.

Eliminasi sebagian besar secara ekshalasi lewat paru, sebagian kecil melalui
urin. Hasil metabolism sebagian besar diekskresi lewat urin sebagian kecil diekskresi
lewat paru.
3,7,8

Efek Farmakologi
Terhadap SSP
Menimbulkan depresi pada SSP di semua komponen otak. Depresi pusat
kesadaran menimbulkan hipnotik, depresi pada pusat sensorik menimbulkan khasiat
analgesia dan depresi pada pusat motorik menimbulkan kelemahan otot. Tingkat
depresinya bergantung pada dosis yang diberikan.
Terhadap pembuluh darah otak menyebabkan vasodilatasi, sehingga aliran
darah otak meningkat, oleh karena itu tidak dipilih untuk anestesi pada kraniotomi.
Peningkatan tekanan intracranial dapat diturunkan dengan hiperventilasi.
3,7,8

Terhadap sistem Kardiovaskular
Pada system kardiovaskular tergantung dosis, tekanan darah menurun akibat
depresi pada otot jantung, makin tinggi dosisnya depresi makin berat. Pada bayi,
halotan menurunkan curah jantung karena turunnya kontraktilitas miokardium dan
menurunnya laju jantung.
Halotan dapat menyebabkan Ventrikel Ekstra Sistole (VES), Ventrikel
Takikardia (VT) dan Ventrikel Fibrilasi (VF).
3,7,8

Terhadap sistem respirasi
Pada konsentrasi tinggi, menimbulkan depresi pusat nafas, sehingga pola
nafas menjadi cepat dan dangkal, volume tidal dan volume nafas semenit menurun
dan menyebabkan dilatasi bronkus.
3,7,8




12

Terhadap ginjal
Halotan pada dosis lazim secara langsung akan menurunkan aliran darah ke
ginjal dan laju filtrasi glomerulus, tetapi efek ini hanya bersifat sementara dan tidak
mempengaruhi autoregulasi aliran darah ginjal.
3,7,8

Terhadap hati
Pada konsentrasi 1,5 vol%, halotan akan menurunkan aliran darah pada
lobules sentral hati sampai 25-30%. Penurunan aliran darah pada lobulus sentral ini
menimbulkan nekrosis sel pada sentral hati yang diduga sebagai penyebab dari
hepatitis post-halothane. Kejadian ini akan lebih bermanifes, apabila diberikan
halotan berulang dalam waktu yang relatif singkat.

Penggunaan Klinik
Halotan digunakan terutama sebagai komponen hipnotik dalam pemeliharaan
anestesia umum. Disamping efek hipnotik, halotan juga mempunyai efek analgetik
ringan dan relaksasi otot ringan. Pada bayi dan anak-anak yang tidak kooperatif,
halotan digunakan untuk induksi bersama-sama dengan N
2
O secara inhalasi.
Untuk mengubah cairan halotan menjadi uap, diperlukan alat penguap
(vaporizer) khusus halotan, misalnya fluotec, halomix, copper kettle, dragger dan
lain-lainnya.
3,7,8

2.5.2 ENFLURAN
Enfluran adalah obat anestesi inhalasi yang bebentuk cair, tidak mudah terbakar,
tidak berwarna, tidak iritatif, lebih stabil dibandingkan halotan, induksi lebih cepat
dibanding halotan, tidak terpengaruh cahaya dan tidak bereaksi dengan logam.
3,7,8

Dosis
1. Untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah 2-3% bersama
dengan N
2
O.
2. Untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan, konsentrasinya berkisar antara 1-
2,5%, sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 0,5-1%.
3,7,8



13

Absorbsi Dan Distribusi, Metabolism, Dan Eliminasi
Setelah diabsorbsi dari paru ke dalam darah, enfluran akan didistribusikan ke
seluruh tubuh. Kelarutan enfluran dalam lemak lebih rendah dibandingkan halotan.
Ekskresi melalui paru dan sebagian kecil melalui urin.
3,7,8

Efek Farmakologik
Terhadap SSP
Pada dosis tinggi menimbulkan twitching (tonik-klonik) pada otot muka dan
anggota gerak. Hal ini terutama dapat terjadi bila pasien mengalami hipokapnia. Kejadian
ini bisa dihindari dengan mengurangi dosis obat dan mencegah terjadinya hipokapnia.
Obat ini tidak dianjurkan pemakaiannya pada pasien yang mempunyai riwayat epilepsy
walaupun pada penelitian terbukti bahwa enfluran tidak menimbulkan bangkitan epilepsi.
Walaupun menimbulkan vasodilatasi serebral, tetapi pada dosis kecil dapat dipergunakan
untuk operasi intrakranial karena tidak menimbulkan peningkatan tekanan intracranial.
Terhadap system Kardiovaskular
Enfluran menimbulkan depresi kontraktilitas miokard, disritmia jarang terjadi,
tidak meningkatkan sensitifitas miokard terhadap katekolamin. Hipotensi dapat terjadi
akibat menurunnya curah jantung.
3,7,8
Terhadap respirasi
Pada system respirasi tidak meningkatkan sekresi bronchial dan ludah, tidak
meningkatkan iritabilitas faring dan laring. Frekuensi nafas meningkat tetapi ventilasi
semenit berkurang karena volume tidal yang menurun.
3,7,8

Terhadap ginjal
Enfluran menurunkan aliran darah ginjal, menurunkan laju filtrasi glomerolus dan
akhirnya menurunkan diuresis. Harus berhati-hati menggunakan enfluran pada pasien
yang mempunyai gangguan fungsi ginjal.
3,7,8

Terhadap hati
Terjadi gangguan fungsi hati yang ringan setelah pemakaian enfluran yang
sifatnya reversible.
3,7,8


14

Terhadap uterus
Menimbulkan depresi tonus otot uterus, namun respon uterus terhadap oksitosin
tetap baik selama dosis enfluran rendah.
3,7,8
Terhadap otot
Meningkatkan relaksasi, tapi untuk laparotomi masih perlu penambahan
pelumpuh otot.
3,7,8

Penggunaan Klinik
Sama seperti halotan. Untuk mengubah cairan enfluran menjadi uap, diperlukan
alat penguap (vaporizer) khusus enfluran.
3,7,8

2.5.3 ISOFLURAN
Isofluran adalah obat anestesi isomer dari enfluran, merupakan cairan tidak
berwarna dan berbau tajam, menimbulkan iritasi jalan nafas jika dipakai dengan
konsentrasi tinggi menggunakan sungkup muka. Tidak mudah terbakar, tidak terpengaruh
cahaya dan proses induksi dan pemulihannya relatif cepat dibandingkan dengan obat-obat
anestesi inhalasi yang ada pada saat ini tapi masih lebih lambat dibandingkan dengan
sevofluran.
3,7,8

Dosis
1. Untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah 2-3%
bersamasama dengan N
2
O.
2. Untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan konsentrasinya berkisar antara 1-
2,5%, sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 0,5-1%.
2,3,7

Pada pasien yang mendapat anestesi isofluran kurang dari 1 jam akan sadar
kembali sekitar 7 menit setelah obat dihentikan. Sedangkan pada tindakan 5-6jam,
kembali sadar sekitar 11 menit setelah obat dihentikan.
3,7,8




15

Efek Farmakologi
Terhadap sistem saraf pusat
Efek depresinya terhadap SSP sesuai dengan dosis yang diberikan. Isofluran tidak
menimbulkan kelainan EEG seperti yang ditimbulkan oleh enfluran. Pada dosis anestesi
tidak menimbulkan vasodilatasi dan perubahan sirkulasi serebrum serta mekanisme
autoregulasi aliran darah otak tetap stabil. Kelebihan lain yang dimiliki oleh isofluran
adalah penurunan konsumsi oksigen otak. Sehingga dengan demikian isofluran
merupakan obat pilihan untuk anestesi pada kraniotomi, karena tidak berperngaruh pada
tekanan intrakranial, mempunyai efek proteksi serebral dan efek metaboliknya yang
menguntungkan pada tekhnik hipotensi kendali.
3,7,8

Terhadap sistem kardiovaskular
Efek depresinya pada otot jantung dan pembuluh darah lebih ringan dibanding
dengan obat anesetesi volatil yang lain. Tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil
selama anestesi. Dengan demikian isofluran merupakan obat pilihan untuk obat anestesi
pasien yang menderita kelainan kardiovaskuler.
3,7,8

Terhadap sistem respirasi
Isofluran juga menimbulkan depresi pernafasan yang derajatnya sebanding
dengan dosis yang diberikan.
3,7,8

Terhadap otot rangka
Menurunkan tonus otot rangka melalui mekanisme depresi pusat motorik pada
serebrum, sehingga dengan demikian berpotensiasi dengan obat pelumpuh otot non
depolarisasi. Walaupun demikian, masih diperlukan obat pelumpuh otot untuk
mendapatkan keadaan relaksasi otot yang optimal terutama pada operasai laparatomi.
3,7,8

Terhadap ginjal
Pada dosis anestesi, isofluran menurunkan aliran darah ginjal dan laju fitrasi
glomerulus sehingga produksi urin berkurang, akan tetapi masih dalam batas normal.
Toksisitas pada ginjal tidak terjadi.
3,7,8




16

2.5.4 SEVOFLURAN
Sevofluran dikemas dalam bentuk cairan, tidak berwarna, tidak eksplosif, tidak
berbau, stabil di tempat biasa (tidak perlu tempat gelap), dan tidak terlihat adanya
degradasi sevofluran dengan asam kuat atau panas. Obat ini tidak bersifat iritatif terhadap
jalan nafas sehingga baik untuk induksi inhalasi. Proses induksi dan pemulihannya paling
cepat dibandingkan dengan obat-obat anestesi inhalasi yang ada pada saat ini.
3,7,8

Dosis
1. Untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah 3,0-5,0%
bersama-sama dengan N2O.
2. Untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan, konsentrasinya berkisar antara 2,0-
3,0%, sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 0,5-1%.
3,7,8


Efek Farmakologi
Terhadap sistem saraf pusat
Efek depresinya pada SSP hampir sama dengan isofluran. Aliran darah otak
sedikit meningkat sehingga sedikit meningkatkan tekanan intrakranial. Laju metabolisme
otak menurun cukup bermakna sama dengan isofluran. Tidak pernah dilaporkan kejadian
kejang akibat sevofluran.
3,7,8

Terhadap sistem kardiovaskuler
Sevofluran relatif stabil dan tidak menimbulkan aritmia. Tahanan vaskuler dan
curah jantung sedikit menurun, sehingga tekanan darah sedikit menurun. Pada 1,2-2
MAC sevofluran menyebabkan penurunan tahanan vaskuler sistemik kira-kira 20% dan
tekanan darah arteri kira-kira 20%-40%. Curah jantung akan menurun 20% pada
pemakaian sevofluran lebih dari 2 MAC. Dibandingkan dengan isofluran, sevofluran
menyebabkan penurunan tekanan darah lebih sedikit.
Sevofluran tidak atau sedikit meyebabkan perubahan pada aliran darah koroner.
Sevofluran menyebabkan penurunan laju jantung. Penelitian-penelitian menyebutkan
bahwa penurunan laju jantung tidak sampai menyebabkan bradikardi.
3,7,8

Terhadap sistem respirasi
Menimbulkan depresi pernapasan dan dapat memicu bronkhospasme.
17

Terhadap otot rangka
Efeknya terhadap otot rangka lebih lemah dibandingkan dengan isofluran.
Relaksasi otot dapat terjadi pada anestesi yang cukup dalam dengan sevofluran. Proses
induksi, laringoskopi dan intubasi dapat dikerjakan tanpa bantuan obat pelemas otot.
3,7,8

Terhadap hepar dan ginjal
Sevofluran menurunkan aliran darah ke hepar paling kecil dibandingkan dengan
enfluran dan halotan. Ada beberapa bukti, sevofluran menurunkan aliran darah ke ginjal,
tetapi tidak ada bukti hal ini menyebabkan gangguan fungsi ginjal pada manusia.
3,7,8

2.5.5 DESFLURAN
Desfluran merupakan halogenasi eter yang rumus bangun dan efek klinisnya sama
dengan isofluran. Desfluran sangat mudah menguap dibandingkan dengan agen volatile
yang lain. Memerlukan alat penguap khusus (TEC-6).
3,7,8

Dosis
Untuk induksi, disesuaikan dengan kebutuhan.

Efek Farmakologi
Terhadap system Kardiovaskular
Menurunkan resistensi vascular sistemik, menyebabkan turunnya tekanan darah.
Peningkatan konsentrasi desfluran dengan cepat menyebabkan peningkatan tekanan
darah, laju jantung, dan katekolamin. Keadaan ini bisa dikurangi dengan memberikan
klonidin, fentanil, atau esmolol. Desfluran tidak meningkatkan aliran darah koroner.

Terhadap sistem respirasi
Menyebabkan menurunnya volume tidal dan meningkatnya frekuensi nafas
sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan CO2. Desfluran bersifat iritatif, sehingga
tidak ideal untuk induksi.
3,7,8




18

Penggunaan Klinik
Desfluran digunakan terutama sebagai komponen hipnotik dalam pemeliharaan
anestesia umum. Disamping efek hipnotik, desfluran juga mempunyai efek analgetik
yang ringan dan relaksasi otot ringan.
3,7,8

2.5.6 N
2
O (NITROGEN OKSIDA)
N
2
O adalah anestesi lemah dan harus diberikan dengan konsentrasi besar (lebih dari
65%) agar efektif. Paling sedikit 20%atau 30% oksigen harus diberikan sebagai
campuran, karena konsentrasi N
2
O lebih besar dari 70-80% dapat menyebabkan hipoksia.
N
2
O tidak dapat menghasilkan anestesia yang adekuat kecuali dikombinasikan dengan zat
anestesi yang lain, meskipun demikian, karakteristik tertentu membuatnya menjadi zat
anestesi yang menarik, yaitu koefisien partisi darah / gas yang rendah, efek anagesi pada
konsentrasi subanestetik, kecilnya efek kardiovaskuler yang bermakna klinis,
toksisitasnya minimal dan tidak mengiritasi jalan napas sehingga ditoleransi baik untuk
induksi dengan masker.
Efek anestesi N
2
O dan zat anestesi lain bersifat additif, sehingga pemberian N
2
O
dapat secara substansial mengurangi jumlah zat anestesi lain yang seharusnya digunakan.
Pemberian N2O akan menyebabkan peningkatan konsentrasi alveolar dari zat anestesi
lain dengan cepat, oleh karana sifat efek gas kedua dan efek konsentrasi dari N2O.
Efek konsentrasi terjadi saat gas diberikan dengan konsentrasi tinggi. Semakin tinggi
konsentrasi gas diinhalasi, maka semakin cepat peningkatan tekanan arterial gas tersebut.
3,7,8

Absorpsi, Distribusi Dan Eliminasi
Absorbsi dan eliminasi nitorus oksida relatif lebih cepat dibandingkan dengan
obat anestesi inhalasi lainnya, hal ini terutama disebabkan oleh koefisien partisi gas darah
yang rendah dari N
2
O. total ambilan N2O oleh tubuh manusia diteliti oleh Severinghause.
Pada menit pertama, N
2
O (75%) dengan cepat akan diabsorbsi kira-kira 1.000 ml/menit.
Setelah 5 menit, tingkat absorbsi turun menjadi 600 ml/menit, setelah 10 menit turun
menjadi 350 ml/menit dan setelah 50 menit tingkat absorbsinya kira-kira 100 ml/menit,
kemudian pelan-pelan menurn dan akhirnya mencapi nol. Konsentrasi N
2
O yang
19

diabsorbsi tergantung antara lain oleh konsentrasi inspirasi gas, ventilasi alveolar dan
ambilan oleh sirkulasi, seperti koefisien partisi darah/gas dan aliran darah (curah
jantung).
N
2
O akan didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Konsentrasi di jaringan
adalah berbanding lurus dengan perfusi per unit volume dari jaringan, lamanya paparan
dan koefisien partisi darah / jaringan zat tersebut. Jaringan dengan aliran darah
besar/banyak seperti otak, jantung, hati dan ginjal akan menerima N
2
O lebih banyak
sehingga akan menyerap volume gas yang lebih besar. Jaringan lain dengan suplai darah
sedikit seperti jaringan lemak dan otot menyerap hanya sedikit N
2
O, ambilan dan
penyerapan yang cepat menyebabkan tidak terdapatnya simpanan N
2
O dalam jaringan
tersebut sehingga tidak menghalangi pulihnya pasien saat pemberian N
2
O dihentikan.N
2
O
dieliminasi melalui paru-paru dan sebagian kecil diekskresikan melalui kulit.
Efek Farmakologi
Terhadap sistem saraf pusat
Berkhasiat analgesia dan tidak mempunyai khasiat hipnotik. Khasiat
analgesianya relatif lemah akibat kombinasinya dengan oksigen. Pada konsentrasi 25%
N
2
O menyebabkan sedasi ringan. Peningkatan konsentrasi menyebabkan penurunan
sensasi perasaan khusus seperti ketajaman, penglihatan, pendengaran, rasa, bau dan
diikuti penurunan respon sensasi somatik seperti sentuhan, temperatur, tekanan dan
nyeri. Penurunan perasaan membuat agen ini cocok untuk induksi sebelum pemberian
agen lain yang lebih iritatif. N
2
O menghasilkan analgesi sesuai besarrnya dosis. N
2
O
50% efek analgesinya sama dengan morfin 10 mg. Bukti menunjukkan bahwa N
2
O
memiliki efek agonis pada reseptor opioid atau mengaktifkan sistem opioid endogen.
Area pusat muntah pada medula tidak dipengaruhi oleh N
2
O kecuali jika terdapat
hipoksia.
Nitrous oksida tidak mengikuti klasifikasi stadium anestesi dari guedel dalam
kombinasinya dengan oksigen dan sangat tidak mungkin mencoba memakai nitrous
oksigen tanpa oksigen hanya karena ingin tahu gambaran stadium anestesi dari guedel.
20

Efeknya terhadap tekanan intrakranial sangat kecil bila dibandingkan dengan obat
anestesi yang lain.
Dalam konsentrasi lebih dari 60%, N
2
Odapat menyebabkan amnesia, walaupun
masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut.
Terhadap susunan saraf otonom, nitrous oksida merangsang reseptor alfa saraf
simpatis, tetapi tahanan perifer pembuluh darah tidak mengalami perubahan.
3,7,8

Terhadap sitem kardiovaskuler
Depresi ringan kontraktilitas miokard terjadi pada rasio N
2
O : O
2
= 80% : 20%.
N
2
O tidak menyebabkan perubahan laju jantung dan curah jantung secara langsung.
Tekanan darah tetap stabil dengan sedikit penurunan yang tidak bermakna.
Terhadap sistem respirasi
Pengaruh terhadap sistem pernapasan minimal. N
2
O tidak mengiritasi epitel
paru sehingga dapat diberikan pada pasien dengan asma tanpa meningkatkan resiko
terjadinya spasme bronkus. Perubahan laju dan kedalaman pernapasan (menjadi lebih
lambat dan dalam) lebih disebabkan karena efek sedasi dan hilangnya ketegangan.
Terhadap sistem gastrointestinal
N
2
O tidak mempengaruhi tonus dan motilitas saluran cerna. Distensi dapat
terjadi akibat masuknya N
2
O ke dalam lumen usus. Pada gangguan fungsi hepar, N
2
O
tetap dapat digunakan.
Terhadap ginjal
N
2
O tidak mempunyai pengaruh yang signifikan pada ginjal maupun pada
komposisi urin.
Penggunaan Klinik
Dalam praktik anestesia, N
2
O digunakan sebagai obat dasar dari anestesia
umum inhalasi dan selalu dikombinasikan dengan oksigen dengan perbandingan
21

N
2
O : O
2
= 70 : 30 (untuk pasien normal), 60 : 40 (untuk pasien yang memerlukan
tunjangan oksigen yang lebih banyak), atau 50 : 50 (untuk pasien yangberesiko tinggi).
Oleh karena N
2
O hanya bersifat analgesia lemah, maka dalam penggunaannya selalu
dikombinasikan degnan obat lain yang berkhasiat sesuai dengan target trias anestesia
yang ingin dicapai.
3,7,8


2.6 PERBEDAAN ANESTETIK INHALASI
Perbandingan anestetik inhalasi baik secara fisik kima maupun secara klinik
farmakologi dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2.
Tabel 1. Perbandingan sifat fisik dan kimia anestetik inhalasi
Anesetetik
inhlasi
Nitrous
Oksida
Halotan Enfluran Isofluran Desfluran Sevofluran
Berat molekul 44 197 184 184 168 200
Titik didih (
o
C) -68 50-50,2 56,6 48,5 22,8-23,5 58,5
Tekanan uap
(mmHg 20
o
C)
5200

243-244

172-174,5

238-240

669-673

160-170

Bau Manis Organik Eter Eter Eter Eter
Turunan eter Bukan Bukan Ya Ya Ya Ya
Pengawet - Perlu - - - -
Koef. Partisi
darah/gas
0,47 2,4 1,9 1,4 0,42 0,65
Dengan kapur
soda 40
o
C
Stabil Tidak Stabil Stabil Stabil Tidak
MAC 37
o
C
usia 30-55
tahun (tekanan
760 mmHg)
104-105 0,75 1,63-1,70 1,15-1,20 6,0-6,6 1,80-2,0

22

Tabel 2. Farmakologi klinik anestetik inhalasi
Anestetik
inhalasi
Nitrous
Oksida
Halotan Enfluran
Isofluran/
Desfluran
Sevofluran
CO 0 -* --* 0 0
HR 0 0 ++* + 0
BP 0 -* --* --* --
Kontraktilitas -* ---* --* --* --
SVR 0 0 - -- -
PVR + 0 0 0 0
TIK + ++ ++ + +
CBF + ++ + + +
Kejang - - + - -
Aliran Darah
Hepar
- -- -- - -
RR + ++ ++ + +
VT - - - - -
PaCO
2
0 + ++ + +
*=Dose Dependent; 0=No Change; -=Decrease; +=Increase
CO=cardiac output; HR=heart rate; BP=blood preasure; SVR=systemic vasculer resistence;
PVR=pulmonary vasculer resistance; TIK=tekanan intrakranial; CBF=cerebral blood flow;
RR=respiratory rate; VT=volume tidal









23

KESIMPULAN
Anestesia inhalasi yang sempurana adalah yang (a) masa induksi dan masa pemulihannya
singkat dan nyaman, (b) peralihan stadium anestesinya terjadi cepat, (c) relaksasi ototnya
sempurna, (d) berlangsung cukup aman, dan (e) tidak menimbulkan efek toksik atau efek
samping yang berat dalam dosis anestetik yang lazim.
3

Dalam melakukan tindakan anestesi yang perlu dimonitor selama operasi adalah tingkat
kedalaman anestesi, efektivitas kardiovaskuler dan efisiensi perfusi jaringan (tekanan darah,
nadi, Saturasi oksigen, MAP, EKG, suhu)
3

Faktor yang mempengaruhi kecepatan transfer anestesik jaringan ke otak ditentukan oleh
(1) kelarutan zat anestetik, (2) kadar anestetik dalam udara yang dihirup oleh pasien atau disebut
tekanan parsial anestetik, (3) ventilasi paru, (4) aliran darah paru , dan (5) perbedaan antara
tekanan parsial anestetik di darah arteri dan di darah vena.
5,6











.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Barash, Paul G.; Cullen, Bruce F.; Stoelting, Robert K.Clinical Anesthesia 5
th
edition.
Lippincott Williams & Wilkins. 2006
2. Mangku, Gde.; Senapathi, Tjokorda Gde Agung Senaphati. Ilmu Anestesi dan Reanimasi.
Jakarta : Indeks Jakarta. 2010
3. Wargahadibrata, Himendra A. Anestesiologi Untuk Mahasiswa Kedokteran.Bandung :
Saga Olahcitra.2011
4. Latief, Said A.; Suryadi, Kartini A,; Dachlan, M. Ruswan. Petunjuk Praktis Anestesiologi
Edisi 3. Jakarta : Fakultas Kedokteran Indonesia. 2007
5. Soenarjo; Jatmiko, Heru Dwi. Anestesiologi. Semarang : Ikatan Dokter Spesialis
Anestesi dan Reanimasi. 2010.
6. Gunawan, Sulistia Gan. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Gaya Baru. 2007
7. Katzung, Bertram G. Basic and Clinical Pharmacology 10
th
edition. Singapore : Mc Graw
Hill Lange. 2007
8. Tjay Tan H.; Rahardja Kirana. Obat Obat Penting : Kasiat, Penggunaan dan Efek
Efek Sampingnya Edisi 6. Jakarta : PT Elex Media Komputindo Gramedia. 2010