You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

Reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Meledaknya petasan,
adalah contoh reaksi yang berlangsung dalam waktu singkat. Proses perkaratan besi,
pematangan buah di pohon, dan fosilisasi sisa organisme merupakan peristiwa-peristiwa
kimia yang berlangsung sangat lambat. Reaksi kimia selalu berkaitan dengan perubahan dari
suatu pereaksi (reaktan) menjadi hasil reaksi (produk). Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai
berkurangnya jumlah (konsentrasi) pereaksi per satuan waktu atau bertambahnya jumlah
(konsentrasi) hasil reaksi per satuan waktu. Laju reaksi adalah berkurangnya jumlah
konsentrasi pereaksi untuk setiap satuan waktu atau bertambahnya jumlah konsentrasi hasil
reaksi untuk setiap satuan waktu .Dinyatakan dengan satuan molaritas per detik ( M / detik
atau mol / L.detik ). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Wujud Zat diantara nya
adalah Konsentrasi pereaksi ,Suhu reaksi ,Luas permukaan bidang sentuh reaksi dan Katalis.
Laju mempunyai penerapan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai
industri. Penerapan ini ditujukan untuk mempermudah dan menambah wawasan dalam
mempelajar laju reaksi dan penerannya.
Dalam dunia sekarang ini banyak reaksi yang kita lakukan baik sadar maupun tidak
sadar. Tubuh kita salah satunya, banyak sekali reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalamnya.
Contoh sederhana, karbohidrat yang kita makan sehari-hari pasti diubah ke bentuk senyawa
yang diperlukan sesuai dengan keperluan tubuh kita. Hal ini tentunya tidak berjalan sendiri
tentunya dibantu oleh suatu enzim. Di sini enzim sebagai katalisator untuk mempercepat
terjadinya reaksi. Dalam dunia nyata contoh reaksi yang berlangsung lambat adalah
perkaratan pada besi (korosi) sedangkan untuk reaksi yang berlangsung cepat adalah
peristiwa ledakan bom. Bom di sini meledak dalam hitungan detik. Namun berbagai reaksi,
hal yang harus kita perhatikan adalah bagaimana cara untuk mempercepat suatu reaksi dalam
waktu yang sesingkat mungkin. Untuk mereaksikan suatu zat atau bahan membutuhkan
waktu yang cukup lama. Maka dari itu digunakan suatu metode untuk mempercepat suatu
reaksi. Metode yang digunakan pun bervariasi sesuai dengan keperluan. Jika metode-metode
suatu reaksi tidak berjalan dengan cepat maka kita harus menambahkan suatu zat yang dapat
mempercepat suatu reaksi dimana zat tersebut tidak bereaksi dengan zat pada reaktan, atau
dapat dikatakan mempercepat suatu reaksi tanpa ikut bereaksi yang dikenal dengan nama
katalisator.
Laju reaksi atau kecepatan reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi zat pereaksi
atau produk tiap satuan waktu. Jika kita tahu persamaan kimia suatu reaksi, maka dapat
ditentukan lajunya dengan mengetahui perubahan konsentrasi reaktan atau produknya yang
dapat dideteksi secara kuantitatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu keadaan
alami atau reaktifitas pereaksi, luas permukaan, konsentrasi, temperatur, katalisator, pelarut
dan cahaya. Hukum laju pada umumnya laju reaksi bergantung pada semua zat-zat yang
terlibat dalam reaksi dan jika konsentrasi suatu pereaksi ditambah, laju reaksi pun meningkat
(Anief, 1988)
1.2. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan laju reaksi
2. Untuk menambah wawasan tentang pemahaman konsep laju reaksi
3. Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju reaksi
3. Bagaimana faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi laju reaksi
1.3. Manfaat Penulisan
1. Sebagai bahan pengetahuan untuk mampu dikembangkan lagi
2. Dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
3. Menambah wawasan dan pengetahuan Penulis.
4. Menambah daya kritis terhadap Penulis.
1.4. Metode Penulisan
1. Studi Pustaka atau metode Literatur, yaitu mempelajari buku-buku acuan yang mendapat
informasi teoritis dan relavan serta mencari dengan berbagai sumber.
2. Dunia Maya atau Internet, yaitu mencari informasi melalui Teknologi Informasi dan
Komunikasi.























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Laju Reaksi
Laju reaksi dapat didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau produk
persatuan waktu. Artinya terjadi pengurangan konsentrasi pereaksi atau pertambahan
konsentrasi produk tiap satuan waktu (Keenan,1990). Laju Reaksi atau kecepaan reaksi
adalah laju atau kecepatan berkurangnya pereaksi atau terbentuknya produk reaksi yang dapat
dinyatakan dalam satuan (konsentrasi per waktu) mol/L/s (untuk zat berwujud cair dan
padat), atau atm/s (untuk zat berwujud gas). Kecepatan reaksi adalah banyaknya mol/liter
suatu zat yang dapat berubah menjadi zat lain dalam setiap satuan waktu.Persamaan laju
reaksinya adalah;
V = K[A][B]
2

Dimana V adalah laju reaksi, K adalah konstanta laju reaksi dan [A][B] adalah konsentrasi
dari zat yang bereaksi.nilai pangkat menyatakan koefisien zat ataupun orde dari reaksi
tersebut. Orde reaksi berrti menjelaskan tentang tingkat reaksi atau hubungan antara
konsentrasi dengan kecepatan (Petrucci,1985).
Persamaan laju reaksi mempunyai dua penerapan utama, yaitu penerapan praktis dan
penerapan teoritis. Dikatakan untuk penerapan praktis adalah dimana telah diketahui
persamaaan laju reaksi dan konstanta laju reaksi, dapat diramalkan laju reaksi dari komposisi
campuran , sedangkan penerapan teoritis adalah dimana laju persamaan digunakan untuk
menentukan mekanisme reaksi (Atkins,1990).
Laju reaksi terukur, sering kali sebanding dengan konsentrasi reaktan suatu pangkat.
Contohnya, laju itu sebanding dengan konsentrasidua reaktan A dan B, sehingga;

V = K[A][B]

Koefisien K disebut konstanta laju yang tidak bergantung pada konsentrasi tetapi bergantung
pada temperatur. Persamaan sejenis ini yang ditentukam secara eksperimen disebut hukum
laju reaksi. Secara formal, hukum laju adala persamaan yang menyatakan laju reaksi V
sebagai fungsi dari konsentrasi semua spesies yang ada termasuk produknya (Atkins, 1990).

Tetapan Laju reaksi disebut juga koefisien laju atau laju reaksi jenis, dengan lambing k
(konstanta). Tetapan laju adalah tetapan perbandingan antara laju reaksi dan hasi kali
konsentrasi spesi yang mempengaruhi laju reaksi. Tetapan laju juga merupakan perubahan
konsentrasi pereaktan atau produk reaksi per satuan waktu dalam suatu reaksi jika konsentrasi
semua pereaksi sama dengan satu.
Laju keseluruhan dari suatu reaksi kimia pada umumnya bertambah jika konsentrasi suatu
pereaksi atau lebih dinaikan. Hubungan antara laju dan konsentrasi dapat diperoleh dari data
eksperimen. Laju reaksinya dapat berbanding lurus dengan [A]
x
dan [B]
y
. Hukum Laju reaksi
yaitu persamaan yang mengaitkan laju reaksi dengan konsentrasi molar atau tekanan parsial
pereaksi dengan pangkat yang sesuai. Laju = suatu tetapan dikalikan dengan suatu fungsi
konsentrasi atau tekanan parsialpereaksi.untuk contoh reaksi di atas dapat dituliskan dalam
bentuk hokum laju reaksi atau persamaan laju reaksi.
Laju reaksi adalah berkurangnya jumlah konsentrasi pereaksi untuk setiap satuan waktu
atau bertambahnya jumlah konsentrasi hasil reaksi untuk setiap satuan waktu.Dinyatakan
dengan satuan molaritas per detik ( M / detik atau mol / L.detik ).
Misalnya pada reaksi :
A B

maka :
Laju reaksi ( v ) =
t
A
A
A
÷
] [
atau v =
t
B
A
A
+
] [

Keterangan :
Tanda ( ÷ ) pada ] [A A menunjukkan bahwa konsentrasi zat A berkurang, sedangkan
tanda ( + ) pada ] [B A menunjukkan bahwa konsentrasi zat B bertambah.
Secara umum dapat digambarkan :



Gambar 3.1Grafik
hubungan perubahan
konsentrasi terhadap
waktu
Stoikiometri Laju Reaksi
Pada persamaan reaksi :
mA + nB pC + qD

Secara umum dapat dituliskan :
Laju reaksi =
t
A
m A
A
÷
] [ 1
=
t
B
n A
A
÷
] [ 1
=
t
C
p A
A
+
] [ 1
=
t
D
q A
A
+
] [ 1

Laju pengurangan B = A ya berkurangn laju x
m
n

Laju pertambahan C = A ya berkurangn laju x
m
p

Laju pertambahan D = A ya berkurangn laju x
m
q

atau :
Laju reaksi = ÷ laju berkurangnya A
= B ya berkurangn laju x
n
m
÷
= C n pertambaha laju x
p
m

= D n pertambaha laju x
q
m

Jika dituliskan dalam persamaan matematika :
Laju pengurangan A =
t
A
A
A
÷
] [

Sehingga :
t
A
A
A
÷
] [
=
t
B
n
m
A
A
÷
] [
=
t
C
p
m
A
A
+
] [
=
t
D
q
m
A
A
+
] [

Laju Reaksi Rerata dan Laju Reaksi Sesaat
 Laju reaksi rerata adalah laju reaksi untuk selang waktu tertentu.
Dirumuskan :
| |
t
pereaksi
v
A
A
÷ = =
t
reaksi hasil
A
A
+
] [

 Laju reaksi sesaat adalah laju reaksi pada saat waktu tertentu.
Biasanya ditentukan dengan menggunakan grafik yang menyatakan hubungan antara
waktu reaksi ( sumbu x ) dengan konsentrasi zat ( sumbu y ).
Besarnya laju reaksi sesaat = kemiringan ( gradien ) garis singgung pada saat t
tersebut.
Langkah-langkah menentukan laju reaksi sesaat :
 Lukislah garis singgung pada saat t
 Lukislah segitiga untuk menentukan gradien ( kemiringan )!
 Laju reaksi sesaat = gradien garis singgung
|
.
|

\
|
A
A
=
t
C
x
y

Konsentrasi zat
Waktu ( t )
Produk
t
C1
C2
t1 t2
C = C2 - C1
t = t2 - t1
Garis singgung pada saat t

2.1.2 Persamaan Laju Reaksi
Secara umum, laju reaksi dapat dinyatakan dengan rumus :
mA + nB pC + qD

| | | |
y x
B A k v . =
Keterangan :
v = laju reaksi
k = konstanta laju reaksi ( nilainya tergantung pada jenis reaktan, suhu dan katalis )
x = orde atau tingkat reaksi terhadap reaktan A
y = orde atau tingkat reaksi terhadap reaktan B
x + y = orde atau tingkat reaksi total / keseluruhan
Harga k akan berubah jika suhu berubah. Kenaikan suhu dan penggunaan katalis
umumnya akan memperbesar harga k.
Catatan penting :
 Orde reaksi ditentukan melalui percobaan dan tidak ada kaitannya dengan koefisien
reaksi.
 Hukum laju reaksi menyatakan bahwa : “ pada umumnya laju reaksi tergantung pada
konsentrasi awal dari zat-zat reaktan. “

2.1.3 Makna Orde Reaksi
“ Orde reaksi menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi reaktan terhadap laju reaksi. ”
Orde reaksi adalah jumlah pangkat konsentrasi dalam hokum laju bentuk diferensial. Secara
teoritis orde reaksi merupakan bilangan bukat kecil, namun dari hasil experiment hal tertentu
orde reaksi merupakan pecahan atau nol. Orde reaksi adalah banyaknya faktor konsentrasi zat
reaktan yang mempengaruhi kecepatan reaksi.
Penentuan orde reaksi tidak dapat diturunkan dari persamaan reaksi tetapi hanya dapat
ditentukan berdasarkan percobaan.
Orde reaksi dapat ditentukan dengan cara:
1. Jika tahap reaksi diketahui atau diamati, maka orde reaksi terhadap masing – masing
zat adalah koefisien dari tahap yang paling lambat.
2. Melalui experiment, dengan cara konsentrasi zat tersebut dinaikan, sedangkan
konsentrasi zat yang lain dibuat tetap.
1. Orde reaksi nol.
Reaksi dikatakan ber’orde nol terhadap salah satu reaktan, jika perubahan konsentrasi
reaktan tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya, asalkan terdapat dalam
jumlah tertentu; perubahan konsentrasi reaktan itu tidak mempengaruhi laju reaksi.
Besarnya laju reaksi hanya dipengaruhi oleh besarnya konstanta laju reaksi ( k ).
| | k X k v = =
0
.

2. Orde reaksi satu.
Suatu reaksi dikatakan ber’orde satu terhadap salah satu reaktan, jika laju reaksi
berbanding lurus dengan konsentrasi reaktan itu.
Jika konsentrasi reaktan itu dilipat-tigakan maka laju reaksinya akan menjadi 3
1
atau 3
kali lebih besar.
| | | | X k X k v . .
1
= =


3. Orde reaksi dua.
Suatu reaksi dikatakan ber’orde dua terhadap salah satu reaktan, jika laju reaksi
merupakan pangkat dua dari konsentrasi reaktan itu.
Jika konsentrasi reaktan itu dilipat-tigakan, maka laju reaksi akan menjadi 3
2
atau 9 kali
lebih besar.
| |
2
. X k v =

4. Orde reaksi negatif.
Suatu reaksi ber’orde negatif, jika laju reaksi berbanding terbalik dengan konsentrasi reaktan tersebut.
Jika konsentrasi reaktan itu diperbesar, maka laju reaksi akan semakin kecil.
Laju Reaksi
( v )
Konsentrasi
Orde Reaksi Negatif

4.2 Teori Tumbukan
 Suatu zat dapat bereaksi dengan zat lain jika partikel-partikelnya saling bertumbukan.
Tumbukan yang terjadi akan menghasilkan energi untuk memulai terjadinya reaksi.
 Terjadinya tumbukan tersebut disebabkan karena partikel-partikel zat selalu bergerak
dengan arah yang tidak teratur.
 Tumbukan antar partikel yang bereaksi tidak selalu menghasilkan reaksi. Hanya
tumbukan yang menghasilkan energi yang cukup serta arah tumbukan yang tepat, yang
dapat menghasilkan reaksi. Tumbukan seperti ini disebut tumbukan yang efektif.
Jadi, laju reaksi tergantung pada 3 hal :
a) Frekuensi tumbukan
b) Energi partikel reaktan
c) Arah tumbukan
 Energi minimum yang harus dimiliki oleh partikel reaktan, sehingga menghasilkan
tumbukan yang efektif disebut energi pengaktifan atau energi aktivasi ( Ea ).
 Semua reaksi, baik eksoterm maupun endoterm memerlukan Ea. Reaksi yang dapat
berlangsung pada suhu rendah berarti memiliki Ea yang rendah. Sebaliknya, reaksi
yang dapat berlangsung pada suhu yang tinggi, berarti memiliki Ea yang tinggi.
 Ea ditafsirkan sebagai energi penghalang ( barrier ) antara reaktan dengan produk.
Reaktan harus didorong agar dapat melewati energi penghalang tersebut sehingga dapat
berubah menjadi produk.
Energi
Jalan reaksi
R
P
Reaktan
Produk
Ea
H
Reaksi Eksoterm
Energi
Jalan reaksi
R
P
Reaktan
Produk
Ea
H
Reaksi Endoterm


2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

Laju suatu reaksi kimia dpat dipengaruhi oleh lima faktor untuk zat yang bersifst larutan
dan ada enam faktor untuk zat yang bersifat gel. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju
reaksi adalah sebagai berikut (Gillas,1984):

a) Konsentrasi
Konsentrasi menyatakan pengaruh kepekatan atau zat yang berperan dalam proses reaksi.
Semakin besar nilai konsentrasi, maka nilai laju reaksi akan semakin besar pula. Hal ini
dikarenakan jumlah zat semakin besar dan peluang untuk melakukan tumbukan semakin
besar. Sehinngga laju reaksi semakin cepat (Anonim a,2011).
Konsentrasi larutan adalah perbandingan antara massa zat terlarut dengan larutnya (zat
dengan pelarutnya). Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut
dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah
zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalahmolar, molal,
dan bagian per juta (part per million, ppm). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan
dapat dinyatakan sebagai encer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi).

b) Suhu
Setiap zat memiliki energi, zat tersebut akan bereaksi membentuk produk bila energi
aktivasinya terpenuhi. Dengan menaikan suhu pada system, berarti akan terjadi peristiwa
menaikan energi aktivasi dan zat menjadi lebih mudah bergerak, sehingga lebih mudah
terjadi tumbukan dan laju reaksi akan menjadi lebih tinggi (Wiryoatmojo, 1988).
Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu dinaikkan. Dengan menaikkan
suhu maka energi kinetik molekul-molekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan
lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. Dengan demikian
lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan
reaksi menjadi lebih besar. Secara matematis hubungan antara nilaitetapan laju reaksi
(k) terhadap suhu dinyatakan oleh formulasi ARRHENIUS:


k = A . e
-
E/RT

dimana:
k : tetapan laju reaksi
A : tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk setiap reaksi
E : energi pengaktifan
R : tetapan gas universal = 0.0821.atm/mol
o
K = 8.314 joule/mol
o
K
T : suhu reaksi (
o
K)


c) Luas Permukaan Sentuh

Umumnya zat yang digunakan adalah padatan yang dilarutkan dalam suatu pelarut. Luas
permukaan total zat tersebut akan semakin bertambah bila ukurannya diperkecil, maka
semakin halus suatu zat, laju reaksi akan semakin besar karena luas permukaan yang bereaksi
semakin besar (Roth dan Blaschke,1989).
Luas permukaan mempercepat laju reaksi karena semakin luas permukaan zat, semakin
banyak bagian zat yang saling bertumbukan dan semakin besar peluang adanya tumbukan
efektif menghasilkan perubahan. Semakin luas permukaan zat, semakin kecil ukuran partikel
zat, reaksi pun akan semakin cepat.
o Pada reaksi heterogen ( reaksi yang fase reaktannya tidak sama ), misalnya logam Zn
dengan larutan HCl; laju reaksi selain dipengaruhi oleh konsentrasi larutan HCl, juga
dipengaruhi oleh kondisi logam Zn tersebut.
o Dalam jumlah ( massa ) yang sama; butiran logam Zn akan bereaksi lebih lambat
daripada serbuk Zn.
o Reaksi akan terjadi antara molekul-molekul HCl dengan atom-atom Zn yang
bersentuhan langsung dengan HCl.
o Pada butiran Zn, atom-atom Zn yang bersentuhan langsung dengan HCl lebih sedikit
daripada serbuk Zn sebab atom-atom Zn yang bersentuhan hanya atom Zn yang ada di
permukaan butiran.
o Jika butiran Zn tersebut dihaluskan menjadi serbuk, maka atom-atom Zn yang semula
ada di bagian dalam akan berada di bagian permukaan dan terdapat lebih banyak atom
Zn yang secara bersamaan bereaksi dengan larutan HCl.
o Semakin luas permukaan bidang sentuh zat padat, semakin banyak tempat terjadinya
tumbukan antar partikel zat yang bereaksi sehingga laju reaksi akan semakin
meningkat juga.
d) Sifat Dasar Pereaksi
Setiap zat memiliki sifat yang khas. Ada yang bersifat padatan, gas dan cairan. Secara
khas, zat yang bersifat gas adalah zat yang paling mudah bereaksi, kemudian tercepat kadua
adalah cairan, kemudian padatan. Semakin renggang suatu zat maka laju reaksi akan semakin
besar karena zat tersebut mamiliki partikel yang makin bebas dan mudah bertumbukan
(Martin,1990).

e) Tekanan
 Pada reaksi yang reaktannya berwujud gas, peningkatan tekanan dapat
meningkatkan laju reaksi. Jika tekanan meningkat, maka volumenya akan
berkurang sehingga konsentrasi gas akan meningkat (konsentrasi berbanding
terbalik dengan volume;
V
n
M = ).
 Jika volumenya berkurang, maka memungkinkan bertambahnya jumlah tumbukan
yang terjadi karena setiap molekul menjadi lebih berdekatan jaraknya.


f) Katalisator

Katalisator adalah suatu zat yang ditambahkan untuk mempercepat laju reaksi. Katalisator
tidak mengalami perubahan kekal dalam reaksi namun mungkin terlibat dalam reaksi. Katalis
mempercepat suatu reaksi dengan menurunkan energi aktivasi, namun tidak mengubah
entalpi reaksi. Katalis ditambahkan pada zatdalam jumlah yang sedikit dan umumnya bersifat
spesifik untuk setiap reaksi (Arsyud,2001). Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke
dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut
terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata
lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama
seperti sebelum reaksi. Katalis ialah zat yang mengambil bagian dalamn reaksi kimia dan
mempercepatnya, tetapi ia sendiri tidak mengalami perubahan kimia yang permanen. Jadi,
katalis tidak muncul dalam laju persamaan kimia balans secara keseluruhan, tetapi
kehadirannya sangat mempengaruhi hukum laju, memodifikasi dan mempercepat lintasan
yang ada.
Katalis menimbulkan efek yang nyata pada laju reaksi, meskipun dengan jumlah yang sangat
sedikit. Dalam kimia industry, banyak upaya untuk menemukan katalis yang akan
mempercepat reaksi tertentu tanpa meningkatkan timbulnya produk yang tidak diinginkan
(Oxtoby, 2001).Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat
reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-
tahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama
reaksi dapat berlangsung lebih cepat
Jenis-jenis katalis yaitu :
 Katalis Homogen.
Adalah katalis yang wujudnya sama dengan wujud reaktannya.
Dalam reaksi kimia, katalis homogen berfungsi sebagai zat perantara ( fasilitator ).
Contohnya :
o Katalis gas NO
2
pada pembuatan gas SO
3
.
o Katalis gas Cl
2
pada penguraian N
2
O

 Katalis Heterogen.
Adalah katalis yang wujudnya berbeda dengan wujud reaktannya.
Reaksi zat-zat yang melibatkan katalis jenis ini, berlangsung pada permukaan
katalis tersebut.

Contohnya :
o Katalis logam Ni pada reaksi hidrogenasi etena ( C
2
H
4
).
o Katalis logam Rodium atau Iridium pada proses pembuatan asam etanoat.
o Katalis logam Ni pada proses pembuatan mentega.
o Katalis logam V
2
O
5
pada reaksi pembuatan asam sulfat ( proses Kontak ).
o Katalis logam Fe pada reaksi pembuatan amonia ( proses Haber-Bosch )
 Biokatalis ( enzim ).
 Adalah katalis yang dapat mempercepat reaksi-reaksi kimia dalam tubuh
makhluk hidup.
 Mekanisme kerjanya dengan metode “ kunci dan gembok “ atau “ lock and key “
yang dipopulerkan oleh Emil Fischer.
 Contohnya :
Enzim amilase = membantu menghidrolisis amilum menjadi maltosa.
Enzim katalase = menguraikan H
2
O
2
menjadi O
2
dan H
2
O
Enzim lipase= menguraikan lipid menjadi gliserol dan asam lemak.
 Autokatalis.
Adalah zat hasil reaksi yang berfungsi sebagai katalis. Artinya, produk reaksi
yang terbentuk akan mempercepat reaksi kimia.
Contohnya :
Reaksi antara kalium permanganat ( KMnO
4
) dengan asam oksalat ( H
2
C
2
O
4
)
salah satu hasil reaksinya berupa senyawa mangan sulfat ( MnSO
4
).
Semakin lama, laju reaksinya akan semakin cepat karena MnSO
4
yang terbentuk
berfungsi sebagai katalis.
2KMnO
4
(aq) + 5H
2
C
2
O
4
(aq) + 3H
2
SO
4
(aq) 2MnSO
4
(aq) + 10CO
2
(g) + K
2
SO
4
(aq) + 8H
2
O(l)

Ada 2 cara yang dilakukan katalis dalam mempercepat reaksi yaitu :
1. Pembentukan senyawa antara ( senyawa kompleks teraktivasi ).
o Pada mumnya reaksi akan berlangsung lambat jika energi aktivasi reaksi tersebut terlalu tinggi. Agar reaksi dapat
berlangsung dengan lebih cepat, maka dapat dilakukan dengan cara menurunkan energi aktivasinya.
o Untuk menurunkan energi aktivasi dapat dilakukan dengan mencari senyawa antara ( transisi ) lain yang
mempunyai energi aktivasi lebih rendah.
o Fungsi katalis dalam hal ini adalah mengubah jalannya reaksi sehingga diperoleh senyawa antara yang energinya
lebih rendah.
o Katalis yang bekerja dengan metode ini adalah jenis katalis homogen ( = katalis yang mempunyai fase yang
sama dengan fase reaktan yang dikatalis ).
Contoh :
A + B C
, berlangsung melalui 2 tahapan yaitu :
Tahap I :
Tahap II :
A + B AB*
AB* C

AB* = senyawa antara ( senyawa kompleks teraktivasi )

o Jika ke dalam reaksi tersebut ditambahkan katalis Z maka tahapan reaksinya menjadi :
Tahap I :
Tahap II :
A + Z AZ*
AZ* + B C + Z ( katalis Z diperoleh kembali )
AZ* = senyawa antara ( senyawa kompleks teraktivasi ) yang terbentuk oleh katalis


2. Adsorpsi.
 Proses katalisasi dengan cara adsorpsi umumnya dilakukan oleh katalis heterogen.
 Pada proses adsorpsi, molekul-molekul reaktan akan teradsorpsi ( terserap ) pada permukaan katalis. Akibatnya
molekul-molekul reaktan tersebut akan terkonsentrasi pada permukaan katalis sehingga dapat mempercepat
reaksi.
 Kemungkinan lain, antar molekul yang bereaksi tersebut akan terjadi gaya tarik sehingga menyebabkan molekul-
molekul tersebut menjadi reaktif.
 Agar katalisis berlangsung efektif, katalis tidak boleh mengadsorpsi zat hasil reaksi. Bila zat hasil reaksi atau
pengotor teradsorpsi dengan kuat oleh katalis, maka menyebabkan permukaan katalis menjadi tidak aktif.
Keadaan seperti ini disebut katalis telah teracuni dan akan menghambat terjadinya reaksi.

h) Efek pelarut
Pengaruh pelarut terhadap laju penguraian obat merupakan suatu topic terpenting untuk
ahli farmasi. Walau efek-efek tersebut rumit dan generalisasi tidak dapat dilaksanakan.
Tampak reaksi nonelektrolik dihubungkan dengan tekanan dalam relative atau parameter
kelarutan dari pelarut dan zat terlarut. (Martin, 1993)
Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap orang yang
berkaitanKefarmasiaan, mulai dari pengusaha obat sampai ke pasien. Pengusaha obat harus
dengan jelas menunjukkan bahwa bentuk obat atau sediaan yang dihasilkannya cukup stabil
sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama, dimana obat tidak berubah
menjadi zat tidak berkhasiat atau racun, ahli farmasi harus mengetahui kestabilan potensial
dari obat yang dibuatnya. Dokter dan pasien harus diyakinkan bahwa obat yang ditulis atau
digunakannya akan sampai pada tempat pengobatan dalam konsentrasi yang cukup untuk
mencapai efek pengobatan yang diinginkan. Ada beberapa prinsip dan proses laju yang
berkaitan dimasukkan dalam rantai peristiwa ini yaitu: kestabilan dan tak tercampurkan,
disolusi, proses absorbs,distribusi dan eliminasi, dan kerja obat pada tingkat molekuler obat
(Martin, 1993).
Sebelum terjadi reaksi, molekul pereaksi harus saling bertumbukan membentuk suatu
molekul kompleks aktif, yang kemudian berubah menjadi hasil reaksi (Produk). Energi yang
di butuhkan untuk membentuk kompleks aktif ialah yang dinamakan energi aktivasi
(Sukardjo, 1985).
Berdasarkan hasil pengamatan, ada dua faktor yang mempengaruhi keefektifan suatu molekul
untuk bertumbukan, yaitu (Petrucci,1985).
1. Hanya molekul yang lebih energetic dalam campuran reaksi akan menghasilkan reaksi
sebagai hasil tumbukan.
2. Probablitas tumbukan untuk menghasilkan reaksi bergantung pada orientasi molekul yang
bertumbukan.

Semakin tinggi nilai aktivasi maka makin kecil reaksi molekul yang teraktifkan dan laju
reaksi menjadi lebih lambat. Arrhenius menyatakan bahwa variasi tetapan reaksi jenis k,
terhadap temperetur dinyatakan sebagai (Vogel,1990).

Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi persatuan waktu. Satuan yang umum
adalah mol/dm
-3-i
. Umumnya laju reaksi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi dan
dapat dinyatakan sebagai
Laju = k f (C
1
, C
2
, …., C
i
)
Di mana k adalah konstanta laju, juga disebut konstanta laju spesifik atau konstanta
kecepaan, C
1
, C
2
, … adalah konsentrasi dari reaktan-reakan dan produk-produk (Dogra,
1990).
Laju reaksi kimia terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau konsentrasi
molekul produk terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap melainkan berubah terus-menerus
seiring dengan perubahan konsentrasi(Chang, 2005).
Pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi laju reaksi berguna dalam mengontrol
kecepatan reaksi berlangsung cepat, seperti pembuatan amoniak dari nitrogen dan hidrogen,
atau dalam pabrik menghasilkan zat tertentu. Akan tetapi kadangkala kita ingin
memperlambat laju reaksi, seperti mengatasi berkaratnya besi, memperlambat pembusukan
makanan oleh bakteri, dan sebagainya (Syukri, 1999).








BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
A. Laju laju reaksi merupakan berkurangnya jumlah konsentrasi pereaksi
untuk setiap satuan waktu atau bertambahnya jumlah konsentrasi hasil
reaksi untuk setiap satuan waktu .
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Wujud Zat diantara
nya adalah Konsentrasi pereaksi ,Suhu reaksi ,Luas permukaan bidang
sentuh reaksi dan Katalis.

 Laju reaksi dipengaruhi oleh luas permukaan.Semakin besar luas permukaan zat
padat yang direaksikan semakin lambat laju reaksinya. Namun,semakin kecil
luas permukaan zat padat yang direaksikan semakin cepat laju reaksi yang
terjadi. Hal tersebut terjadi karena dalam reaksi partikel dalam bentuk cair
bertumbukan dengan partikel padat, peningkatkan luas permukaan dari zat
padat meningkatkan kemungkinan tumbukan bertambah besar.Peningkatan
jumlah tumbukan per detik meningkatkan laju reaksi.
 Energi aktivasi bergantung pada jenis reaksi. Reaksi yang dapat bergantung
pada suhu rendah memiliki energi aktifasi rendah, dan laju reaksi yang rendah.
Reaksi pada suhu yang tinggi memiliki energi aktivasi yang lebi h besar, dan
laju reaksi yang lebih besar juga”.
 Ketika katalis di reaksikan bersama dengan reaksi kimia maka reaksi tersebut
akan mengalami percepatan reaksi (posiif) atau perlambatan (negative).

BAB IV
SARAN DAN PENUTUP
A. Saran
Dengan terselesainya makalah ini, kami berharap agar penyusunan
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.
Kami sangat berharap kepada para pembaca setelah membaca makalah ini,
dapat meningkatkan potensi pembaca dalam pembelajaran sehari -hari.
Mengingat begitu penti ngnya faktor – faktor yang mempengaruhi laju reaksi ,
kami berharap generasi muda dapat memamfaatkan makalah ini, sehingga dapat
meningkatkan potensi intelektulanya.

Daftar Pustaka