1

BAB I
PENDAHULUAN

Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang
berkaitan dengan mati; meliputi pengertian (definisi), cara-cara melakukan
diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya.
Tanatologi merupakan ilmu paling dasar dan paling penting dalam ilmu
kedokteran kehakiman terutama dalam hal pemeriksaan jenazah (visum et
repertum).
1

Dalam ilmu tanatologi akan dipelajari mengenai penentuan kematian,
perubahan-perubahan sesudah mati, saat kematian, dan kegunaan tanatologi.
Penentuan kematian dilakukan berdasarkan konsep mati otak dan mati batang
otak, yang ditandai dengan tidak berespon terhadap semua rangsangan, tidak
sadarnya pasien, hilangnya reflex pupil, hilangnya reflex kornea, tidak ada reflex
menelan, tidak ada reflex vestibulokoklearis dan tidak adanya pernafasan
spontan.
1
Ada beberapa perubahan yang terjadi pada saat manusia mengalami
kematian, yaitu perubahan pada kulit muka, relaksasi otot, perubahan pada mata,
penurunan suhu tubuh, lebam jenazah, dan kaku jenazah. Perubahan – perubahan
yang terjadi setelah kematian dibedakan menjadi dua yaitu perubahan yang terjadi
secara cepat (early) dan perubahan yang terjadi secara lambat (late). Perubahan
yang terjadi secara cepat antara lain henti jantung, henti nafas, perubahan pada
mata, suhu dan kulit. Sedangkan perubahan yang terjadi secara lanjut antara lain
kaku mayat, pembusukan, penyabunan dan mummifikasi.
1
Untuk menentukan saat kematian dapat dilihat dari perubahan pada mata,
lambung, kuku, rambut, cairan serebrospinal, dan adanya reaksi supravital. Pada
mata kita dapat melihat perubahan warna menjadi lebih keruh, pada lambung kita
bisa melihat waktu pengosongan lambung meski tidak memberikan banyak arti,
pada rambut kita dapat mengukur saat kematian dilihat dari pertambahan panjang
rambut, begitu pula yang dapat kita liat pada kuku. Pada cairan serebrospinal saat
kematian dapat dilihat dari kadar nitrogen yang menurun setelah 10 jam kematian,
2

sedangkan reaksi supravital yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis
yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup.
1,2,3

3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanatologi
2.1.1. Definisi Tanatologi
Tanatologi berasal dari dua buah kata, yaitu “thanatos” yang berarti mati
dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi arti sesungguhnya dari tanatologi adalah ilmu
yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi
pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang
terjadi sesudah mati serta kegunaannya.
1,2
Sebelum membahas definisi mati perlu dipahami lebih dahulu bahwa manusia
menurut ilmu kedokteran memiliki dua dimensi, yaitu sebagai individu dan
sebagai kumpulan dari berbagai macam sel. Oleh sebab itu kematian manusia juga
dapat dilihat dari kedua dimensi tadi, dengan catatan bahwa kematian sel (cellular
death) akibat ketiadaan oksigen baru akan terjadi setelah kematian manusia
sebagai individu (somatic death).
1,3,4
Mati individu itu sendiri sebetulnya dapat didefinisikan secara sederhana
sebagai berhentinya kehidupan secara permanen (permanent cessation of life).
Hanya saja, untuk dapat memahami definisi tersebut perlu dipahami lebih dahulu
tentang hidup. Mengenai hal ini nampaknya para ahli sependapat jika hidup
didefinisikan sebagai berfungsinya berbagai organ vital (paru-paru, jantung, dan
otak) sebagai satu kesatuan yang utuh, yang ditandai oleh adanya konsumsi
oksigen. Dengan definisi hidup seperti itu maka definisi mati dapat diperjelas lagi
menjadi berhentinya secara permanen fungsi berbagai organ-organ vital (paru-
paru, jantung, dan otak) sebagai satu kesatuan yang utuh, yang ditandai oleh
berhentinya konsumsi oksigen.
1,3

4


Akibat berhentinya konsumsi oksigen ke seluruh jaringan tubuh maka satu
demi satu sel yang merupakan elemen hidup terkecil pembentuk manusia akan
mengalami kematian pula. Dimulai dari sel-sel yang paling rendah daya tahannya
terhadap ketiadaan oksigen.
1,2,3
Selain kematian individu dan kematian sel, ada satu lagi istilah yang perlu
dipahami yaitu mati suri (appearent death). Pengertian yang sebenarnya dari mati
suri adalah suatu keadaan dimana proses vital turun ke tingkat yang paling
minimal untuk mempertahankan kehidupan, sehingga tanda-tanda klinisnya
tampak seperti sudah mati. Dengan perlatan yang sederhana maka tanda-tanda
kehidupan tidak dapat dideteksi, walaupun sebenarnya yang bersangkutan masih
dalam keadaan hidup. Keadaan ini sering ditemukan pada orang yang mengalami
acute heart failure, tenggelam, kedinginan, anestesi yang terlalu dalam, sengatan
listrik, atau sambaran petir.
1,2,3
Dengan pertolongan yang cepat dan tepat atau kadang-kadang secara
spontan kondisinya dapat pulih kembali seperti sebelumnya. Oleh orang awam,
kembalinya ke kondisi normal secara spontan ini sering disalahartikan sebagai
hidup kembali. Namun harus diyakini bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini
yang dapat hidup kembali sesudah mati.
1,2

2.1.2 Penetuan Kematian
Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu (somatic
death), diperlukan kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik
yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Kriteria diagnostik yang benar
berdasarkan konsep diagnostik yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Kriteria diagnostik pertama yang disusun oleh para ahli di bidang kedokteran
adalah yang dirumuskan berdasarkan konsep “permanent cessation of heart and
respiration death”. Namun dengan ditemukannya respirator (alat napas buatan)
yang dapat mempertahankan fungsi paru-paru dan jantung maka criteria
tradisional tidak dapat dilakukan terhadap pasien-pasien yang menggunakan alat
itu. Karena itulah disusun Kriteria diagnostik baru yang berdasarkan pada konsep
5

“brain death is death”. Terakhir konsep diagnostik ini diperbaiki lagi menjadi
“brain stem death is death”.
1,3,4
Perbaikan ini berangkat dari pemikiran bahwa:
1
1. Mustahil dapat mendiagnosis brain death dengan memeriksa seluruh
fungsi otak dalam keadaan koma, mengingat fungsi tertentu otak (melihat,
mencium, mendengar, fungsi serebeler dann beberapa fungsi kortek)
hanya dapat diperiksa dalam keadaan komposmentis.
2. Proses brain death tidak terjadi secara serentak, tetapi bertahap mengingat
resistensi yang berbeda-beda dari berbagai bagian otak terhadap ketiadaan
oksigen. Dalam hal ini brain stem (batang otak) merupakan bagian yang
paling tahan dibandingan kortek dan thalamus.
3. Brain stem merupakan bagian dari otak yang mengatur fungsi vital,
terutama pernafasan.
Berdasarkan konsep tersebut, tidak kurang dari 30 buah set kriteria
diagnostik telah disusun, namun kriteria yang paling banyak digunakan para
dokter adalah kriteria diagnostik seperti dibawah ini, yaitu:
1
1. Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap
komando/perintah, taktil, dan sebagainya).
2. Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang
berada dibawah pengaruh obat-obatan curare.
3. Tidak ada reflex pupil
4. Tidak ada reflex kornea
5. Tidak ada respon motorik dari saraf cranial terhadap rangsangan.
6. Tidak ada reflex menelan atau batuk ketika tuba endotrakeal didorong
kedalam.
7. Tidak ada reflex vestibulookularis terhadap rangsangan air es yang
dimasukkan ke dalam lubang telinga.
8. Tidak ada nafas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup
lama walaupun pCO
2
sudah melampaui nilai ambang rangsangan nafas (50
torr).
6

Tes klinik tersebut diatas baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah
onset koma serta apneu dan harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes
yang pertama. Sedangkan tes konfirmasi dengan EEG atau angiografi hanya
dilakukan kalau tes klinik memberikan hasil yang meragukan atau jika ada
kekhawatiran akan adanya tuntutan dikemudian hari.
1,3
Dengan adanya kriteria baru itu tidak berarti kriteria tradisional diagnostik
tidak berlaku lagi. Kriteria tradisional tetap diperlukan bagi penentuan kematian
pada kasus-kasus biasa, sedang kriteria baru hanya berlaku bagi kasus-kasus luar
biasa (misalnya keracunan, sengatan listrik, gangguan metabolism, hipotermi, atau
pasien-pasien yang dipersiapkan menjadi donor cadaver).
1,3
Kriteria tradisional itu sendiri sebetulnya didasarkan pada konsep
“permanent cessation of heart beating and respiration death. Dikatakan berhenti
secara permanen (permanent cessation) jika fungsi jantung dan paru-paru terhenti
sekitar 10menit. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa sel-sel otak akan
mengalami kerusakan irreversible jika tidak mendapatkan suplai oksigen selama
10 menit. Di daerah yang suhunya dingin ketahanannya dapat mencapai 1 jam
atau lebih.
1,3
Secara terotiris, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung
dan paru-paru sudah berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya sering
kali terjadi kesalahan diagnosis sehingga diperlukan konfirmasi dengan cara
mengamati selama waktu tertentu. Kebiasaan yang berlaku di Indonesia adalah
mengamati selama 2 jam. Jika waktu tersebut telah terlewati, sedang tanda-tanda
kehidupan tidak juga muncul barulah yang bersangkutan dapat dinyatakan mati
berdasarkan kriteria diagnostik tradisional.
1,3,5
Untuk menentukan apakah paru-paru sudah berhenti bernafas perlu
dilakukan pemeriksaan:
1,3
1. Auskultasi
Tes ini perlu dilakukan secara hati-hari dan lama. Kalau perlu dilakukan
juga auskultasi pada daerah laring.

7


2. Tes Winslow
Yaitu dengan meletakkan gelas berisi air di atas perut atau dadanya. Bila
permukaan air bergoyang berarti masih ada gerakan nafas.
3. Tes Cermin
Yaitu dengan meletakkan kaca cermin di depan mulut dan hidung. Bila
basah berarti masih bernafas
4. Tes Bulu Burung
Yaitu dengan meletakkan bulu burung di depan hidung. Bila bergetar
berarti masih bernafas.
Untuk menentukan jantung masih berfungsi perlu dilakukan pemeriksaan
sebagai berikut:
1,3
1. Auskultasi
Auskultasi dilakukan di daerah prekordial selama 10 menit terus menerus
2. Tes magnus
Yaitu dengan mengikat jari tangan sedemikian rupa sehingga hanya aliran
darah vena saja yang terhenti. Bila bendungan berwarna sianotik berarti
masih ada sirkulasi.
3. Tes Icard
Yaitu dengan cara menyuntikkan larutan dari campuran 1 gram zat
fluorescein dan 1 gram natrium bicarbonas didalam 8 ml air secara
subkutan. Bila terjadi perubahan warna kuning kehijauan berarti masih ada
sirkulasi darah.
4. Incisi arteria radialis
Bila terpaksa dapat dilakukan pengirisan pada arteria radialis. Bila keluar
darah secara pulsasif berarti masih ada sirkulasi darah.

8


2.1.3. Jenis Kematian
Agar suatu kehidupan seseorang dapat berlangsung, terdapat tiga sistem
yang mempengaruhinya. Ketiga sistem utama tersebut antara lain sistem
persarafan, sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Ketiga sistem itu sangat
mempengaruhi satu sama lainnya, ketika terjadi gangguan pada satu sistem, maka
sistem-sistem yang lainnya juga akan ikut berpengaruh.
1

Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis
(mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mat i batang
otak) :
1

1. Mati somatis (mati klinis) ialah suatu keadaan dimana oleh karena sesuatu
sebab terjadi gangguan pada ketiga sistem utama tersebut yang bersifat
menetap. Pada kejadian mati somatis ini secara klinis tidak ditemukan
adanya refleks, elektro ensefalografi (EEG) mendatar, nadi tidak teraba,
denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara
napas tidak terdengar saat auskultasi.
2. Mati suri (apparent death) ialah suatu keadaan yang mirip dengan
kematian somatis, akan tetapi gangguan yang terdapat pada ketiga sistem
bersifat sementara. Kasus seperti ini sering ditemukan pada kasus
keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam
3. Mati seluler (mati molekuler) ialah suatu kematian organ atau jaringan
tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan
hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga
terjadinya kematian seluler pada tiap organ tidak bersamaan
4. Mati serebral ialah suatu kematian akibat kerusakan kedua hemisfer otak
yang irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua
sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih
berfungsi dengan bantuan alat
9

5. Mati otak (mati batang otak) ialah kematian dimana bila telah terjadi
kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversible, termasuk
batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang
otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat
dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan

2.1.4. Tanda Kematian
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada
seseorang berupa tanda kematian yang perubahannya biasa timbul dini pada saat
meninggal atau beberapa menit kemudian. Perubahan tersebut dikenal sebagai
tanda kematian yang nantinya akan dibagi lagi menjadi tanda kematian pasti dan
tanda kematian tidak pasti.
1,3,4

Tanda kematian tidak pasti :
1. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit.
2. Terhentinya sirkulasi yang dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak
teraba.
3. Kulit pucat.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi
Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya, otot-otot polos akan
mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi pada
stadium itu disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang bawah akan
melorot menyebabkan mulut terbuka, dada kolap dan bila tidak ada yang
menyangga anggota tubuh akan jatuh kebawah. Relaksasi yang terjadi
pada otot-otot muka akan mengesankan lebih muda dari umur yang
sebenarnya, sedang relaksasi otot polos akan mengakibatkan iris dan
sfingter ani dilatasi. Oleh sebab itu jika ditemukan dilatasi pada anus,
harus hati-hati untuk menyimpulkan sebagai akibat hubungan seks per
ani.
1
Sesudah relaksasi primer akan terjadi kaku mayat dan selanjutnya
10

akan terjadi relaksasi lagi. Relaksasi terakhir ini disebut relaksasi
sekunder.
1

5. Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera
di kiri-kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberpa jam
berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires scletiques).
Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada
lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan
yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan
tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam paska
mati.Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi
keruh kira-kira 10-12 jam paska mati dan dalam beberapa jam saja fundus
tidak tampak jelas.
Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi
pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter
pupil dengan lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan
saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati
tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya diskus optikus.
Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak
tajam lagi.
Selama 2 jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah skitar diskus
menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar makula yang
menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola vaskuler koroid yang tampak
sebagai bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola
segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi
kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat.
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-
pembuluh besar yang mengalami segmentasi yang dapat ilihat dengan latar
belakang kuning kelabu. Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai
tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur, pada 12 jam pasca mati
diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen
pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi
11

gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang
tampak berwarna coklat gelap.
6. Perubahan dalam lambung
Kecepatan pengosongan lambung sangat berfariasi, sehingga tidak dapat
digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir
dan saat mati. Namun, keadaan lambung dan isinya dapat membantu
dalam membuat keputusan. Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit
tomat, biji-bijian) menandakan bahwa korban setelah meninggal telah
makan makanan tersebut.
7. Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut
rata-rata 0,4 mm per hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat
dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat
dipergunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau
jenggotnya dan diketahui saat terakhir dia mencukur.
8. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas
pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm per hari dapat
dipergunakan untuk memperkirkan saat kematian bila dapat diketahui saat
terakhir yang bersangkutan memotong kuku.
9. Perubahan dalam cairan serebro spinal. Kadar nitrogen asam amino kurang
dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen
non protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam,
kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing
menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.
10. Dalam cairan vitreus. Terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat
untuk memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati.
11. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis
darah pasca mati tidak memebrikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut
semasa hidupnya. Reaksi supravital dapat dilakukan yaitu reaksi jaringan
tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan
tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap
mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat
12

menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati dan
mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca mati,
sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit
sampai 1 jam pasca mati.
Tanda kematian pasti
1. Livor mortis
Nama lain livor mortis ini antara lain lebam mayat, post mortem lividity,
post mortem hypostatic, post mortem sugillation, dan vibices. Livor mortis
adalah suatu bercak atau noda besar merah kebiruan atau merah ungu
(livide) pada lokasi terendah tubuh mayat akibat penumpukan eritrosit
atau stagnasi darah karena terhentinya kerja pembuluh darah dan gaya
gravitasi bumi, bukan bagian tubuh mayat yang tertekan oleh alas keras.
1,3

Bercak tersebut mulai tampak oleh kita kira-kira 20-30 menit pasca
kematian klinis. Pada orang yang menderita anemia atau perdarahan
timbulnya lebam mayat menjadi lebih lama, sedang pada orang yang mati
akibat sakit lama timbulnya lebam mayat menjadi lebih cepat. Makin lama
bercak tersebut makin luas dan lengkap, akhirnya menetap kira-kira 8-12
jam pasca kematian klinis.
1,3,5
Sebelum lebam mayat menetap, masih dapat hilang bila kita menekannya.
Hal ini berlangsung kira-kira kurang dari 6-10 jam pasca kematian klinis.
Setelah 4 jam, kapiler-kapiler akan mengalami kerusakan dan butir-butir
darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah
akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di sekitarnya
sehingga menyebabkan warna lebam mayam pada daerah tersebut akan
menetap serta tidak hilang jika ditekan dengan ujung jari atau jika posisi
mayat dibalik. Jika pembalikan posisi dilakukan sesudah 12 jam dari
kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul pada posisi
terendah karena darah sudah mengalami koagulasi.
1

13


Terjadinya karena adanya gaya gravitasi yang menyebabkan darah
mengumpul pada bagian-bagian tubuh terendah. Mula-mula darah
mengumpul pada vena-vena besar dan kemudian pada cabang-cabangnya
sehingga mengakibatkan perubahan warna kulit menjadi merah kebiruan.
Pada awalnya warna tersebut hanya berupa bercak setempat-setempat yang
kemudian berubah menjadi lebih lebar dan merata pada bagian tubuh
terendah. Kadang-kadang cabang dari vena pecah sehingga terlihat bintik-
bintik perdarahan yang disebut Tardiu’s spot.
1,3
Ada 4 penyebab bercak makin lama semakin meluas dan menetap, yaitu :
1. Ekstravasasi dan hemolisis sehingga hemoglobin keluar.
2. Kapiler sebagai bejana berhubungan.
3. Lemak tubuh mengental saat suhu tubuh menurun.
4. Pembuluh darah oleh otot saat rigor mortis.
Livor mortis dapat kita lihat pada kulit mayat dan juga dapat kita temukan
pada organ dalam tubuh mayat. sehingga perlu dibedakan pada proses
patologik. Lebam mayat pada paru-paru misalnya, perlu dibedakan dengan
proses perdarahan atau pneumonia.
1
Masing-masing sesuai dengan posisi mayat. Lebam pada kulit mayat
dengan posisi mayat terlentang, dapat kita lihat pada belakang kepala,
daun telinga, ekstensor lengan, fleksor tungkai, ujung jari dibawah kuku,
dan kadang-kadang di samping leher. Tidak ada lebam yang dapat kita
lihat pada daerah skapula, gluteus dan bekas tempat dasi.
Lebam pada kulit mayat dengan posisi mayat tengkurap, dapat kita lihat
pada dahi, pipi, dagu, bagian ventral tubuh, dan ekstensor tungkai. Lebam
pada kulit mayat dengan posisi tergantung, dapat kita lihat pada ujung
ekstremitas dan genitalia eksterna. Lebam pada organ dalam mayat dengan
posisi terlentang dapat kita temukan pada posterior otak besar, posterior
otak kecil, dorsal paru-paru, dorsal hepar, dorsal ginjal, posterior dinding
lambung, dan usus yang dibawah (dalam rongga panggul).

14


Ada tiga faktor yang mempengaruhi livor mortis :
1. volume darah yang beredar. Semakin banyak volume darah yang
beredar, llebam mayat lebih cepat dan lebih luas.
2. lamanya darah dalam keadaan cepat cair, dan
3. warna lebam. Ada lima warna lebam mayat yang dapat kita gunakan
untuk memperkirakan penyebab kematian yaitu :
a. warna merah kebiruan merupakan warna normal lebam
b. warna merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN,
atau suhu dingin
c. warna merah gelap menunjukkan asfiksia
d. warna biru menunjukkan keracunan nitrit dan warna coklat
menandakan keracunan aniline
Interpretasi livor mortis dapat diartikan sebagai tanda pasti kemat ian,
tanda memperkirakan saat dan lama kematian, tanda memperkirakan
penyebab kematian dan posisi mayat setelah terjadi lebam bukan pada saat
mati. Livor mortis harus dapat kita bedakan dengan resapan darah akibat
trauma (ekstravasasi darah). Warna merah darah akibat trauma akan
menempati ruang tertentu dalam jaringan. Warna tersebut akan hilang jika
irisan jaringan kita siram dengan air
2. Rigor Mortis
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot
yang kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot,
yang terjadi setelah periode pelemasan/ relaksasi primer; hal mana
disebabkan oleh karena terjadinya perubahan kimiawi pada protein yang
terdapat dalam serabut-serabut otot Perubahan kimiawi yaitu pemecahan
ATP menjadi ADP. Selama masih ada P berenersi tinggi dari pemecahan
glikogen otot maka ADP masih dapat diresintese menjadi ATP kembali.
Jika persediaan glikogen oto habis maka resintese tidak terjadi sehingga
terjadi penumpukan ADP yang akan menyebabkan otot menjadi kaku.
1
15

Berdasarkan teori tersebut maka kaku mayat akan terjadi lebih awal pada
otot-otot kecil, karena pada otot-otot yang kecil persendian glikogen
sedikit. Otot-otot yang kecil itu antara lain otot-otot yang terdapat pada
muka; misalnya otot palpebra, otot rahang dan sebagainya. Sesudah itu
kaku mayat terjadi pada leher, anggota atas, dada, perut dan terakhir
anggota bawah.
1
Kekakuan pada tubuh jenazah akibat rigor mortis perlu dibedakan dengan
kekakuan akibat proses lainnya, seperti misalnya:
a. Cadaveric spasme
Cadaveric spasme atau instantaneous rigor adalah suatu keadaan
dimana terjadi kekakuan pada sekelompok otot dan kadang-kadang da
seluruh otot, segera setelah terjadi kemat ian somat is dan tanpa
melalui relaksasi primer. Kekakuan yang terjadi di sini biasanya
disebabkan oleh kekakuan serombongan otot akibat ketegangan jiwa
atau ketakutan sebelum kematiannya. Keadaan seperti ini sering
ditemukan pada orang yang melakukan bunuh diri, orang-orang yang
mengalami kecelakaan atau yang megalami ketakutan yang sangat
ketika akan dibunuh. Dalam perang Vietnam ditemukan mayat tentara
Amerika dengan cadaveric spasme.
1

b. Heat Stiffening.
Heat Stiffening adalah suatu kekakuan yang terjadi akibat suhu tinggi,
misalnya pada kasus kebakaran. Pada mayat yang terbakar, akan
mengalami kekakuan otot yang disebabkan karena proses koagulasi
protein. Untuk membedakannya dengan kekakuan akibat rigor mortis
tidaklah sulit, sebab pada heat stiffening pengaruh panas pada daerah
kulit akan terlihat jelas
1

c. Cold Stiffening. Cold Stiffening adalah suatu kekakuan yang terjadi
akibat suhu rendah, dapat terjadi bila tubuh korban diletakkan dalam
freezer, atau bila suhu keliling sedemikian rendahnya, sehingga cairan
tubuh terutama yang terdapat sendi-sendi akan membeku. Kekakuan
yang terjadi di sini disebabkan oleh pembekuan cairan di sendi atau di
16

dalam sel-sel otot atau jaringan interstisiil. Pada perabaan terasa dingin
dan bila digerakkan terasa adanya krepitasi. Freezing yang terjadi di
dalam tengkorak dapat menyebabkan sutura pada tulang tengkorak
lepas karena adanya desakan es dari dalam. Jika mayat diletakkan pada
suhu tinggi akan terjadi pelemasan otot
1

Lebih kurang 6 jam sesudah mati, kaku mayat akan mulai terlihat dan
lebih kurang 6 jam kemudian seluruh tubuh akan menjadi kaku. Kekakuan
tersebut akan berlangsung selama 36 sampai 48 jam. Sesudah itu, tubuh
mayat akan mengalami relaksasi kembali sebagai akibat dari proses
degenerasi dan pembusukan. Relaksasi yang terjadi sesudah mayat
mengalami kaku mayat disebut relaksasi sekunder.
1
Urutan terjadinya relaksasi sekunder seperti urutan terjadinya kaku mayat;
yaitu dimulai dari otot-otot pada daerah muka, leher, anggota atas, dada,
perut dan terakhir anggota bawah.
1
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kaku mayat antara
lain:
1,3

a. Persediaan glikogen
Pada mayat dari orang yang sebelum meninggalnya banyak makan
makanan yang mengandung karbohidrat maka kaku mayat akan timbul
lebih lambat. Pada mayat dengan gizi jelek, kaku mayat akan timbul
lebih cepat.
b. Kegiatan otot
Pada orang yang melakukan aktifitas yang berlebihan sebelum
kematiannya, kaku mayatnya akan menjadi lebih cepat.
c. Suhu udara sekitarnya
Pada udara yang suhunya tinggi kaku mayat terjadi lebih cepat dan
berlangsung lebih singkat, sedang pada suhu rendah terjad lebih lambat
dan berlangsung lebih lama. Pada suhu 10 derajat Celcius di bawah nol
kaku mayat tidak terjadi, sedang kekakuan yang terlihat disebabkan
karena adanya freezing atau cold stiffening.

17


d. Umur
Pada anak-anak timbulnya kaku mayat lebih cepat daripada orang
dewasa.
3. Algor Mortis
Algor mortis adalah penurunan suhu tubuh mayat akibat terhentinya
produksi panas dan terjadinya pengeluaran panas secara terus-menerus.
Pengeluaran panas tersebut disebabkan perbedaan suhu antara mayat
dengan lingkungannya. Algor mortis merupakan salah satu perubahan
yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut
post mortem. Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat
lambat dengan bentuk sigmoid. Hal ini disebabkan ada dua faktor, yaitu
masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh mayat dan perbedaan
koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga suhu.
Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti
sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium
sekitarnya. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi,
konduksi, dan pancaran panas.
3
Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat karena masih adanya
produksi panas dari proses glikogenolisis, tetapi sesudah itu penurunan
menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali.
Kalau proses penurunan tersebut digambarkan dalam bentuk grafik maka
gambarannya akan seperti sigmoid atau huruf S terbalik. Jika rata-rata
maka penurunan suhu tersebut antara 0,9 sampai 1 derajat Celsius atau
sekitar 1,5 Farenheit setiap jam, dengan catatan penurunan suhu dimulai
dari 37 derajat celcius atau 98,4 derajat Farenheit. Pengukuran dilakukan
per rectal dengan menggunakan thermometer kiimia yang panjang (long
chemical thermomether).
1,3

18


Penurunan suhu tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara
lain:
1

a. Suhu tubuh pada saat mati
Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati, seperti misalnya pada penderita
infeksi atau perdarahan otak, akan mengakibatkan tingkat penurunan
suhu menjadi lebih cepat. Sedangkan penderita dengan hipotermia
tingkat penurunannya akan menjadi sebaliknya.
b. Suhu medium
Semakin rendah suhu medium tempat tubuh mayat berada akan
semakin cepat tingkat penurunannya. Dengan kata lain semakin besar
perbedaan suhu medium dengan suhu tubuh mayat, semakin besar
tingkat penurunannya.
c. Keadaan udara disekitarnya
Pada udara yang lembab, tingkat penurunannya suhu menjadi lebih
besar. Hal ini disebabkan karena udara yang lembab merupakan
konduktor yang baik. Pada udara yang terus berhembus (angin),
tingkat penurunannya juga semakin cepat.
d. Jenis medium
Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air
merupakan konduktor yang baik.
e. Keadaan tubuh mayat
Pada mayat bayi, tingkat penurunan suhu lebih cepat dibanding mayat
orang dewasa. Hal ini disebabkan karena pada bayi, luas permukaan
tubuhnya relatip lebih besar.
Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat penurunannnya juga lebih
cepat dibandingkan mayat yang tubuhnya gemuk.

19


f. Pakaian mayat
Semakin tipis pakaian yang dipakai, semakin cepat tingkat
penurunannya. Perlu diketahui bahwa estimasi saat kematian dengan
memanfaatkan penurunan suhu mayat hanya bisa dilakukan pada
kematian kurang dari 12 jam.
Penilaian algor mortis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut,
antara lain :
1. Lingkungan sangat mempengaruhi ketidakteraturan penurunan suhu
tubuh mayat.
2. Tempat pengukuran suhu memegang peranan penting.
3. Dahi dingin setelah 4 jam post mortem.
4. Badan dingin setelah 12 jam post mortem.
5. Suhu organ dalam mulai berubah setelah 5 jam post mortem.
6. Bila korban mati dalam air, penurunan suhu tubuhnya tergantung dari
suhu, aliran, dan keadaan airnya.
7. Rumus untuk memperkirakan berapa jam sejak mati. Berbagai rumus
kecepatan penurunan suhu tubuh pasca mati ditemukan sebagai hasil
dari penelitian di negara barat, namun ternyata sukar dipakai dalam
praktek karena faktor-faktor yang berpengaruh berbeda pada setiap
kasus, lokasi, cuaca dan iklim
.1

Meskipun demikian dapat dikemukakan di sini formula Marshal dan
Hoare (1962) yang dibuat dari hasil penelitian terhadpa mayat
telenjang dengan suhu lingkungan 15,5 derajat Celcius, yaitu
penurunan suhu dengan kecepatan 0,55 derajat Celsius tiap jam pada 3
jam pertama paska mati, 1,1 derajat Celsius tiap jam pada 6 jam
berikutnya, dan kira-kira 0,8 derajat Celsius tiap jam pada periode
selanjutnya. Kecepatan penurunan suhu ini menurun hingga 60% bila
mayat berpakaian. Penggunaan formula ini harus dilakukan dengan
hati-hati mengingat suhu lingkungan di Indonesia biasanya lebih
tinggi. Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat
20

mati melalui pengukuran suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di
tempat kejadian perkara (TKP). Caranya adalah dengan melakukan 4-5
kali penentuan suhu rektal dengan interval waktu yang sama (minimal
15 menit). Suhu lingkungan diukur dan di anggap konstan karena
faktor-faktor lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati
dianggap 37 derajat Celsius bila tidak ada penyakit demam. Penelitian
membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 derajat
Celsius tidak mengakibatkan perubahan yang bermakna. Dari angka-
angka di atas, dengan menggunakan rumus atau grafik dapat
ditentukan waktu antara saat mati dan saat pemeriksaan.
4. Putrefaction
Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection.
Pembusukan mayat adalah proses degradasi jaringan. Syarat terjadinya
degradasi jaringan yaitu adanya mikroorganisme dan enzim proteolitik
sebagai autolisa. Proses pembusukan telah terjadi setelah kematian seluler
dan baru tampak oleh kita setelah kira-kira 24 jam kematian. Kita akan
melihatnya pertama kali berupa warna kehijauan (HbS) di daerah perut
kanan bagian bawah yaitu dari sekum (caecum). Lalu menyebar ke seluruh
perut dan dada dengan disertai bau busuk.
Proses otolisa terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan
oleh sel-sel yang sudah mati. Mula-mula yang terkena ialah nukleoprotein
yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya. Seterusnya
dinding sel akan mengalami kehancuran dan akibatnya jaringan akan
menjadi lunak atau mencair. Proses otolisa ini tidak dipengaruhi oleh
mikroorganisme dan oleh sebab itu pada mayat yang bebas hama,
misalnya mayat bayi dalam kandungan, proses otolisa tetap berlangsung.
Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat dan dengan
sendirinya akan memperlambat otolisa, sedang pada suhu yang panas
proses otolisa juga akan mengalami hambatan disebabkan rusaknya enzim
oleh panas tersebut.
1

21

Mengenai mikroorganisme penyebab pembusukan, yang paling utama
adalah oleh kuman Clostridium Welchii yang biasanya ada pada usus
besar. Karena pada orang yang sudah mati semua sistem pertahanan tubuh
hilang maka kuman-kuman pembusuk tersebut dapat leluasa memasuki
pembuluh darah dan menggunakan darah sebagai media untuk
berkembang biak. Kuman itu akan menyebabkan hemolisa, pencairan
bekuan-bekuan darah yang terjadi sebelum atau sesudah mati, pencairan
trombus atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas-
gas pembusukan. Proses tersebut mulai tampak lebih kurang 48 jam
sesudah mati.
1
Bakteri ini menghasilkan asam lemak dan gas pembusukan berupa H2S,
HCN, dan AA. H2S akan bereaksi dengan hemoglobin (Hb) menghasilkan
HbS yang berwarna hijau kehitaman.
Tanda-tanda yang dapat dilihat pada mayat yang mengalami pembusukan
ialah:
1
a. Warna kehijauan pada dinding perut sebelah kanan bawah. Perubahan
warna ini disebabkan adanya reaksi antara H2S (dari gas pembusukan
yang terjadi di usus besar) dengan Hb menjadi Sulf-Met-Hb.
Perubahan ini merupakan tanda pembusukan yang paling dini.
b. Pelebaran pembuluh darah vena superfisial. Pelebaran pembuluh darah
ini disebabkan oleh desakan gas pembusukan yang ada di dalamnya
sehingga pembuluh darah tersebut serta cabang-cabangnya nampak
lebih jelas, seperti pohon gundul (arborescent pattern atau arborescent
mark)
c. Muka membengkak
d. Perut mengembung akibat timbunan gas pembusukan
e. Skrotum laki-laki atau vulva membengkak
f. Kulit terlihat gelembung atau melepuh
g. Cairan darah keluar dari lubang hidung dan mulut
h. Bola mata menjadi lunak
i. Lidah dan bola mata menonjol akibat desakan gas pembusukan
22

j. Dinding perut atau dada pecah akibat tekanan gas
k. Kuku dan rambut lepas
Organ dalam yang cepat membusuk antara lain otak, lien, lambung, usus,
uterus gravid, uterus post partum, dan darah. Organ yang lambat
membusuk antara lain paru-paru, jantung, ginjal dan diafragma. Organ
yang paling lambat membusuk antara lain kelenjar prostat dan uterus non
gravid. Larva lalat dapat kita temukan pada mayat kira-kira 36-48 jam
pasca kematian. Berguna untuk memperkirakan saat kematian dan
penyebab kematian karena keracunan. Saat kematian dapat kita perkirakan
dengan cara mengukur panjang larva lalat. Penyebab kematian karena
racun dapat kita ketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam larva
lalat.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembusukan antara lain:
1
a. Faktor luar, yaitu:
(1) Mikroorganisme
Pada mayat bayi yang baru dilahirkan atau mayat yang tidak
berpakaian proses pembusukkannya akan terhambat. Proses
pembusukan yang lambat juga akan dialami oleh mayat yang
dikuburkan di dalam tanah yang sangat padat.
(2) Suhu disekitar mayat
Proses pembusukan yang paling optimal terjadi pada suhu 70-100
derajat Fahrenheit. Pada suhu di bawah 50 derajat Fahrenheit atau
di atas 100 derajat Fahrenheit, proses pembusukan menjadi lebih
lambat akibat terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme. SUhu
21-37
o
C akan mempercepat pembusukan
(3) Kelembaban udara
Seperti diketahui bahwa proses pembusukan diperlukan
kelembababn udara. Oleh karena itu semakin tinggi kelembaban
semakin cepat pembusukannya.

23

(4) Medium dimana mayat berada
Pembusukan pada medium udara terjadi lebih cepat dibandingkan
pada medium air lebih cepat dibandingkan pada medium tanah
dengan perbandingan udara : air : tanah (1:2:8)
b. Faktor dalam, yaitu:
1

(1) Umur
Pada mayat dari orang-orang tua, proses pembusukannya lebih
lambat disebabkan lemak tubuhnya relatif lebih sedikit.
Pembusukan yang lambat juga terjadi pada mayat bayi yang baru
lahir dan belum pernah diberi makan, sebab pada mayat tersebut
belum kemasukkan kuman-kuman pembusuk.
(2) Sebab kematian
Mayat dari orang yang mati mendadak lebih lambat proses
pembusukkannya daripada yang mati karena penyakit kronis.
Demikian juga mayat dari orang yang mati karena keracuna
khronis dari zat asam karbol, arsen, antimo dan zink klorida.
(3) Keadaan mayat
Proses pembusukan yang cepat terjadi pada tubuh mayat yang
gemuk, edematus, luka-luka atau mayat wanita yang mati sesudah
melahirkan. Sedang proses pembusukan yang lambat terjadi pada
mayat yang ketika hidupnya mengalami dehidradsi.
Pada keadaan tertentu, tanda-tanda pembusukan seperti yang disebutkan di
atas tidak dijumpai. Yang ditemukan adalah modifikasinya, yaitu
mumifikasi atau saponifikasi (adipocere).
1
Mumifikasi dapat terjadi kalau keadaan disekitar mayat kering,
kelembabannya rendah, suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan
bakteri. . Jaringan akan menjadi gelap, keras dan kering. Pengeringan akan
mengakibatkan menyusutnya alat-alat dalam tubuh, sehingga tubuh akan
menjadi lebih kecil dan ringan. Untuk dapat terjadi mummifikasi
dibutuhkan waktu yang cukup lama, beberapa minggu sampai beberapa
24

bulan; yang dipengaruhi oleh keadaan suhu lingkungan dan sifat aliran
udara.
1
- Mayat menjadi kecil
- Kering
- Mengkerut atau melisut
- Warna coklat kehitaman
- Kulit merekat erat dengan tulang di bawahnya
- Tidak berbau
- Keadaan anatominya masih utuh
Adipocere atau saponifikasi adalah suatu keadaan dimana tubuh mayat
mengalami hidrolisis dan hidrogenisasi pada jaringan lemaknya, dan
hidrolisis ini dimungkinkan oleh karena terbentuknya lesitinase, suatu
enzim yang dihasilkan oleh Klostridium welchii, yang berpengaruh
terhadap jaringan lemak. Untuk dapat terjadi adipocere dibutuhkan waktu
yang lama, sedikitnya beberapa minggu sampai beberapa bulan dan
keuntungan adanya adipocere ini, tubuh korban akan mudah dikenali dan
tetap bertahan untuk waktu yang sangat lama sekali, sampai ratusan tahun .
Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di dalam suasana
hangat, lembab, dan basah. Tanda-tanda saponifikasi sebagai berikut:
1,3
-
Warna keputihan

-
Bau tengik seperti bau minyak kelapa

Jika pada mayat terjadi proses saponifikasi atau mumifikasi maka hal itu
dapat dimanfaatkan guna kepentingan identifikasi ataupun pemeriksaan
luka-luka, meskipun terjadinya kematian sudah lama.
Pada pembusukan mayat kita juga dapat menginterpretasikan suatu
kematian sebagai tanda pasti kematian, untuk menaksir saat kematian,
untuk menaksir lama kematian, serta dapat membedakannya dengan bulla
intravital

25


Perbedaan Bulla Intravital Bulla Pembusukan
Warna kulit ari Kecoklatan Kuning
Kadar Albumin & Chlor Tinggi Rendah / Tidak ada
Dasar bulla Hiperemis Merah pembusukan
Jaringan yg terangkat Intraepidermal Antara epidermis & dermis
Reaksi jaringan & respon darah Ada Tidak ada

Gambar 1
Gambar 1&2. Laki-laki ini ditemukan dalam posisi seperti ini sehari
setelah kematiannya. Tubuhnya kaku total. Lututnya tetap terlipat
meskipun posisinya diubah.
5
Gambar2







Gambar 3. Livor mortis. Darah akan turun kebawah sesuai gravitasi dan menetap dalam 8-10 jam.
Lebam mayat ini berwarna merah dengan pinggiran berwarna ungu karena proses pendinginan.
5

26

















Gambar 4&5. Laki-laki ini ditemukan meninggal di ranjang. Dari livor mortis, terlihat
bahwa pasien ini pernah digerakkan. Cairan yang keluar di hidung sama dengan penyebab
noda di ranjang.
5



Gambar 6. Salah satu tanda pertama terjadinya dekomposisi adalah warna kehijauan di kulit,
terutama pada abdomen. Pembusukan dapat terjadi beberapa jam setelah kematian.,
tergantung suhu.
27


Gambar 7. Tekanan internal pada organ dalam terjadi saat gas terbentuk.Tekanan mendorong
darah keluar dari mulut dan hidung.
5





Gambar 8&9. Perubahan pada wajah mulai Nampak selama dekomposisi. Saat dekomposisi,
organ dalam terlihat sama warnanya.
5

28





















Gambar 9&10. Bagian kepala dan tangan mayat ini mengalami mumifikasi karena terletak di
dekat perapian.
5





















Gambar 11 & 12.
Mayat ini masih dapat
diidentifikasi meskipun
telah 10 bulan berada
dalam air. Pada
pemeriksaan yang lebih
dekat, kulit nampak
menebal dan lapisan
kulit terluar menebal
dan kulit ari nya
menghillang. Inilah
adipocere.
29


2.2 Perubahan-Perubahan Setelah Kematian
Selain adanya tanda kematian, jika seseorang meninggal dunia maka pada
tubuhnya akan mengalami berbagai perubahan, antara lain:
1,3
a. Perubahan-Perubahan pada Darah
Sesudah mati akan terjadi penurunan pH darah sebagai akibat dari
penumpukan CO2 saat-saat akhir kehidupannya, glikogenolisis dan
glikolisis. Penurunan pH juga dapat disebabkan oleh penumpukan asam
laktat, pemecahan asam amino dan pemecahan asam lemak.
Setelah 24 jam dari saat kematiannya, keadaan darah mulai berubah
menjadi basa sebagai akibat dari pemecahan protein secara enzimatik.
Pemecahan ini juga akan menyebabkan kenaikan non protein nitrogen.
Proses proteolisis juga akan menyebabkan kenaikan ureum.
Mengenai kadar gula darah, akan mengalami penurunan yang cepat
sesudah mati. Tetapi kadar dekstrose darah pada vena cava inferior akan
mengalami kenaikan sebagai akibat pemecahan glikogen di dalam hati.
Kenaikan kadar dekstrose ini akan merembes sampai ke jantung sebelah
kanan. Kadar dekstrose darah di tempat lain tidak mengalami kenaikan
mengingat paru-paru merupakan barikade yang cukup baik terhadap
perembesan.
b. Kematian Sel (cellulare Death/Moleculare Death)
Jika seseorang sebagai individu telah meninggal dunia maka sel-sel yang
membentuk tubuhnya akan tetap hidup secara sendiri-sendiri, meskipun
sel-sel itu tidak mendapatkan supply oksigen. Ketahanan hidup sel tanpa
oksigen ini berbeda-beda, seperti tersebut di bawah ini:
- Sel-sel usus mampu hidup sampai 2 jam sesudah mati. Dalam periode
ini peristaltik usus sering dijumpai.
- Sel-sel otot tertentu mampu hidup 3 jam sesudah mati. Dalam periode
tersebut otot yang bersangkutan masih dapat mengalami kontraksi jika
dirangsang dengan listrik.
30

- Sel-sel jantung tidak segera mati dan masih dapat berdenyut secara
lemah dn tidak sempurna.
- Otot pupil masih dapat melebar jika diberi obat atropin.
- Spermatozoa mampu hidup selama beberapa jam sesudah mati.

2.3 Kegunaan Tanatologi
Kegunaan tanatologi dalam bidang forensik adalah sebagai berikut:
1,3
1. Untuk Diagnosis Kematian
Sebetulnya menentukan kematian seseorang tidaklah sulit sehingga orang
awam (termasuk penegak hukum) dapat melakukannya, tetapi juga tidak
selalu gampang sehingga kadang-kadang dokter pun dapat melakukan
kesalahan. Oleh karena itu ilmu ini perlu dipahami sungguh-sungguh agar
tidak terjadi kesalahan dalam menegakkan diagnosis kematian.
1

Tanatologi juga perlu dipelajari oleh penegak hukum sebab dalam
pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) tidak tertutup kemungkinan
menemukan korban yang ada kemungkinan masih dalam keadaan hidup
meskipun terlihat tidak bergerak seperti mati.
1
Dalam situasi seperti ini penentuan kematian dapat dilakukan dengan
menggunakan tanda-tanda pasti kematian, antara lain melalui :
- lebam mayat
- kaku mayat
- pembusukan
Jika tanda-tanda pasti kematian tidak ditemukan maka korban harus
dianggap masih dalam keadaan hidup sehingga perlu mendapat
pertolongan (misalnya dengan melakukan pernafasan bantuan) sampai
menunjukkan tanda-tanda kehidupan atau sampai munculnya tanda pasti
kematian yang paling awal, yaitu lebam mayat.
1,3
2. Untuk Penentuan Saat Kematian
Sehubungan dengan alibi seseorang, pemeriksaan forensik untuk
menentukan saat kematian korban menjadi sangat penting sebab dapat
tidaknya seseorang diperhitungkan sebagai pelaku pembunuhan tergantung
31

dari keberadaannya ketika tindak pidana itu terjadi. Tidaklah logis
seseorang dituduh membunuh jika pada saat dilakukannya tindak pidana
berada di tempat yang sangat jauh.
1,3
Perubahan eksternal maupun internal yang terjadi pada tubuh seseorang
yang sudah meninggal dunia dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk
memperkirakan saat terjadinya kematian meskipun sebetulnya range dari
variasi terjadinya perubahan-perubahan itu sangat luas.
1,3
Perubahan-perubahan yang dapat dijadikan bahan kajian tersebut terdiri
atas:
a. Perubahan eksternal, antara lain:
1

- Penurunan suhu
- Lebam mayat
- Kaku mayat
- Pembusukan
- Timbulnya larva
b. Perubahan internal, antara lain:
1

- Kenaikan potasium pada cairan bola mata
- Kenaikan non protein nitrogen dalam darah
- Kenaikan ureum darah
- Penurunan kadar gula darah
- Kenaikan kadar dekstrose pada vena cava inferior
3. Untuk Perkiraan Sebab Kematian (Cause of Death)
Perubahan tak lazim yang ditemukan pada tubuh mayat sering dapat
memberi petunjuk tentang sebab kematiannya.
1
Perubahan warna lebam mayat menjadi:
1
- Merah cerah (cherry-red) memberi petunjuk keracunan carbon
monoksida (CO)
- Coklat memberi petunjuk keracunan Potasium Chlorate
- Lebih gelap, memberi petunjuk kekurangan oksigen
- Keluarnya urine, faeces atau vomitus memebri petunjuk ada relaksasi
sphincter akibat kerusakan otak, anoksia atau kejang-kejang.
32

4. Untuk Perkiraan Cara Kematian (Manner of Death)
Perubahan yang terjadi pada tubuh mayat juga dapat memberi petunjuk
cara kematiannya. Distribusi lebam mayat misalnya, dapat memberi
petunjuk apakah yang bersangkutan mati karena bunuh diri atau
pembunuhan.
1
Pada mayat dari orang yang mati akibat gantung diri (bunuh diri dengan
cara menggantung) biasanya didapati lebam mayat pada ujung kaki,
ujung tangan atau alat kelamin laki-laki. Jika disamping itu juga
ditemukan lebam mayat di tempat lain maka hal itu dapat dipakai sebagai
petunjuk cara kematiannya karena akibat pembunuhan.
1

33

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tanatologi berasal dari dua buah kata, yaitu “thanatos” yang berarti mati
dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi arti sesungguhnya dari tanatologi adalah ilmu
yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi
pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang
terjadi sesudah mati serta kegunaannya.
Ilmu tanatologi mempelajari mengenai penentuan kematian, perubahan-
perubahan sesudah mati, saat kematian, dan kegunaan tanatologi. Penentuan
kematian dilakukan berdasarkan konsep mati otak dan mati batang otak, yang
ditandai dengan tidak berespon terhadap semua rangsangan, tidak sadarnya
pasien, hilangnya reflex pupil, hilangnya reflex kornea, tidak ada reflex menelan,
tidak ada reflex vestibulokoklearis dan tidak adanya pernafasan spontan.

3.2. Saran
Thanatologi merupakan hal yang penting bagi kedokteran forensik karena
untuk membantu menentukan cara kematian, sebab kematian, saat kematian, dan
diagnosis kematian. Oleh sebab itu perlu pelajaran lebih dalam lagi tentang ilmu
ini dan saling melengkapi terhadap ilmu-ilmu yang telah ada.

34

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa
Aksara, 1997; p.131-168.
2. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks,
Practice and Resource. New Jersey : Humana Press. 2006.
3. Dix, J., Graham,M. Causes of death atlas Series : Time of Death,
Decomposition and Identification. New York : CRC Press, 2006.
4. Di Maio, V., Di Maio, D. Forensic Pathology, Second Edition. New York :
CRC Press, 2001.
5. Dix, J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York : CRC Press, 2000.





Sign up to vote on this title
UsefulNot useful