You are on page 1of 42

UNIVERSITAS INDONESIA

KARAKTERISTIK OPERASI DI BIDANG UROLOGI PEDIATRIK DI RSCM


JAKARTA DAN RS HARAPAN KITA 2008-2013
dr. Alwyn G. Samuel
Pembimbing:
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS UROLOGI
JAKARTA
MARET 2014
0
LEMBAR PERSETUJUAN
Penelitian deskriptif dengan judul :
KARAKTERISTIK OPERASI DI BIDANG UROLOGI PEDIATRIK DI RSCM
JAKARTA DAN RS HARAPAN KITA 2008-2013
Penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat menempuh Program Pendidikan
Dokter Spesialis Urologi Fakultas edokteran Uni!ersitas "ndonesia # $umah Sakit
%ipto &angunkusumo 'akarta
(leh :
Alwyn G. Samuel
Disetujui oleh Pembimbing :
). dr. * ttd + * nilai
+
,. dr. * ttd + * nilai
+
Departemen Urologi
Fakultas edokteran Uni!ersitas "ndonesia
$SUP- Dr. %ipto &angunkusumo
'akarta
,.)/
1
ABSTRAK
Lata !"#a$a%&' Studi ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik operasi di
bidang urologi pediatrik di $S%& jakarta pusat dan $S 0arapan kita dari tahun ,..12
,.)3.
M"t()"' Studi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian bersifat retrospektif. Data
diambil dari rekam medis dan status khusus di Departemen Urologi $S%& dan $S
0arapan iata periode ) 'anuari ,..12 3) Desember ,.)3 . Subjek adalah seluruh
pasien yang dilakukan tindakan operasi di $S%& dan di $S 0arapan ita pada kurun
waktu tersebut.
Ha*+#' Dari data tersebut terlihat bahwa total didapatkan )3, kasus pasien dibidang
urologi pediatrik di $S 0arapan ita dari tahun ,..12,.), yang menjalani operasi.
0ipospadia merupakan penyakit tersering yang dijumpai di $S 0arapan ita 'akarta.
Uretroplasti merupakan tindakan tersering yang dilakukan di bidang urologi pediatrik
di $S 0arapan ita 'akarta dari tahun ,..12,.),. Usia Pasien yang dijumpai termuda
adalah 3 bulan dan tertua adalah usia )4 tahun5 dimana rata2rata usia pasien adalah 653
tahun5 Dari data tersebut juga dijumpai bahwa mayoritas pasien adalah laki2laki yaitu
145)7 sementara sisanya perempuan adalah ),587.
Dari data yang diolah terlihat bahwa total didapatkan 919 kasus pasien
dibidang urologi pediatrik di $S%& dari tahun ,..12,.)3 yang menjalani operasi.
0ipospadia merupakan penyakit tersering yang dijumpai di $S 0arapan ita 'akarta.
Uretroplasti merupakan tindakan tersering yang dilakukan di bidang urologi pediatrik
di $S%& 'akarta dari tahun ,..12,.)3 Usia Pasien yang dijumpai termuda adalah 3
bulan dan tertua adalah usia )9 tahun5 dimana rata2rata usia pasien adalah 95, tahun5
Dari data tersebut juga dijumpai bahwa mayoritas pasien adalah laki2laki yaitu 485/7
sementara sisanya perempuan adalah ,.597.
K"*+,-.#a%' :erdasarkan data yang telah diolah tiga diagnosa tersering di $S
0arapan ita adalah hipospadia yaitu 66 kasus */)547+5 fimosis yaitu )) kasus
*1537+5 Undesensus testis yaitu 8 kasus *9517+5 sementara di $S%& diagnosa yang
paling banyak adalah adalah hipospadia yaitu ))) kasus *)95,7+5 hidronefrosis yaitu
8) kasus *)3537+5 Undesensus testis yaitu /. kasus *6517+.
2
Kata $.%/+0 Profil5 (perasi pediatrik5 $S%&5 $S 0arapan ita
3
BAB I' PENDAHULUAN
Urologi pediatrik adalah suatu subspesialistik yang menangani kelainan dari
sistem genitourinaria pada anak2anak' :eberapa masalah yang sering timbul di bidang
urologi pediatrik ini kelainan yang timbul se;ara embriologik. elainan di bidang ini
dapat berupa kelainan pada anatomik dan fungsi dari sistem urinarius seperti ginjal5
ureter5 buli2buli5 dan uretra serta kelainan dari sistem genitalia dan reproduksi seperti
kelainan pada muara uretra5 penis5 testis5 dan juga kelainan kromosom. elainan ini
bisa dikarenakan gangguan perkembangan sistem genitourinaria dari masa pronefros5
mesonefros sampai metanefros dan juga gangguan pada perkembangan sistem
genitalia pada masa embrio serta kelainan genetik. elainan yang sering dijumpai
pada bidang urologi pediatrik di indonesia adalah seperti fimosis5 parafimosis5
undesensus testis atau kriptokhismus5 hipospadia5 epispadia5 dilatasi traktus urinarius
atas5 dan juga refluks.
)
Diagnosa dari kelainan pada bidang urologi pediatrik dapat dideteksi dari
anamnesis gejala gejala yang timbul pada anak5 dapat berupa keluhan abdominal
seperti nyeri abdomen5 dan timbulnya massa pada abdomen5 ataupun gejala pada
skrotum seperti nyeri skrotum5 massa di skrotum5 teraba atau tidaknya kedua testis5
serta gejala pada penis pada anak pria seperti lokasi muara uretra5 ada nyeri pada
penis anak pria. Dapat juga dilihat dari ada atau tidaknya keluhan seperti gejala
penyimpanan urin *!oiding symptoms+5 ada atau tidaknya gejala seperti hematuria dan
infeksi saluran kemih5 ada atau tidaknya masalah pada jenis kelamin yang
men;urigakan5 dan juga ada atau tidaknya hidronefrosis.
,
Pemeriksaan fisik pada urologi pediatrik dapat berupa pemeriksaan se;ara
umum5 pemeriksaaan abdomen5 pemeriksaan skrotum5 pemeriksaan pada penis5 dapat
juga dilakukan pemeriksaaan tamahan seperti pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan radiologis seperti USG5 <%UG5 &$"5 $enal S;an5 %=5dan "<P.
&eningkatnya penggunaan USG dapat mendeteksi kelaianan genitourinaria prenatal.
3
Tujuan akhir dari tindakan pembedahan pada anak adalah untuk
mengembalikan fungsi dan anatomik kembali ke keadaan yang normal. Urologis
pediatrik harus tetap melanjutkan atau memantau perkembangan pasien anak tersebut
sampai tumbuh dewasa. (perasi di bidang pediatrik urologi sangat berkembang akhir2
4
akhir ini. tindakan dapat beruba operasi terbuka5 per laparoskopik serta se;ara robotik.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk melihat karakteristik dari operasi di bidang
urologi pediatrik di "ndonesia.
5
BAB II' TINJAUAN PUSTAKA
U%)"*"%*.* t"*t+*
Cryptorchidism, merupakan istilah yang digunakan untuk menggantikan
istilah undescended testis. edua istilah merujuk pada posisi testis yang abnormal5
tapi ;ryptor;hidism se;ara literal berarti >testis tersembunyi.? Dengan demikian5
undescended testis mungkin istilah lebih tepat karena kebanyakan testis yang tidak
berada dalam skrotum pada saat lahir dapat dideteksi melalui palpasi.
/
=estis yang tidak turun ditemukan pada )7 anak laki2laki pada usia ) tahun5
37 dari bayi laki2laki penuh panjang dan 337 pada bayi prematur saat lahir.
eturunan spontan mungkin sampai usia 9 bulan. =estis yang tidak terpalpasi kira2
kira ,.7 dari seluruh undes;ended testes. ira2kira /.7 dari testis yang tidak
terpalpasi merupakan testis intraabdominal5 /.7 inguinal5 dan ,.7 atrofi atau tidak
terbentuk. %ryptor;hidism ditemukan pada kira2kira 3.7 bayi yang lahir prematur.
659
riptorkismus dapat terjadi unilateral atau bilateral 5 dan testis tidak turun
* UD=s + dapat teraba atau nonpalpable . UD=s mungkin terletak di perut 5 atau daerah
selangkangan atau mungkin salah dalam skrotum mereka mungkin fungsional atau
berhenti berkembang. UD= unilateral lebih umum daripada UD= bilateral 5 yang
terjadi pada )597 sampai )587 pada anak laki2laki.
451
Penyebab dari UD= pada dasarnya tidak diketahui5 meskipun berbagai
mekanisme yang mungkin telah melaporkan seperti migrasi abnormal guberna;ulum
testis5 sekresi kekurangan hormon5 prosesus persisten !aginalis5 dinding perut tidak
normal*belly prune syndrome+5 anomali neurologis bawaan *spina bifida+ dan anomali
genetik. Faktor predisposisi lain termasuk bayi berat lahir rendah5 small size for
gestational age5 kehamilan kembar5 dan paparan estrogen maternal. %ryptor;hidism
ditemukan pada 47 saudara dan kira ,7 dari ayah pada bayi dengan kondisi ini.
654
Diagnosa dini dan penanganan dari testis undesensus sangat dibutuhkan untuk
men;egah fertilitas dan untuk deteksi dini dari keganasan testis. (bser!asi tidak
dianjurkan pada usia melebihi ) tahun karena peenundaan terapi5 angka keberhasilan
yang rendah pada tindakan operasi dan dapat mempengaruhi spermatogenesis5 Pada
usia 9 bulan5 anak dengan testis undesensus seharusnya diperiksa oleh urologis
pediatri; pada anamnesis ditanyakan beberapa pertanyaan seperti apakah testis pernah
teraba di skrotum dan apakah ada riwayat operasi didaerah inguinal5 apakah ada terapi
hormonal pada ibu untuk reproduksi5 kehamilan kembar5 prematuritas5 dan apakah
6
ada riwayat keluarga dengan UD=5 hipospadia5 infertilitas5 inter2se@5 pubertas
prekoks. Pemeriksaan fisik merupakan satu satunya ;ara untuk membedakan antara
tetis yang teraba dan tidak teraba 5 tidak ada keuntungan yang berarti pada
pemerikssaan USG5 %= dan &$" atau angiografi pada pasien dengan testis
undesensus. Pemeriksaan fisik termasuk deskripsi dari skrotum se;ara !isual dan
pemeriksaan pada anak pada posisi supine dan ;rossed Aleg position. Pada saat
pemeriksaan5 pemeriksa harus menghambat refleks kremaster dengan tangan yang
tidak dominan5 segera diatas simfisis pada region groin sebelum menyentuh skrotum.
Pada testis undesensus5 ketika testis dilepas5 testis dengan segera akan berpindah dari
kompartemen s;rotal atas menuju kanalis inguinalis. Sebaliknya5 pada testis retaraktil5
testis retraktil menetap di skrotum sampai refle@ kremaster dipi;u. =estis bisa hilang
dari skrotum dan ini bisa sementara *testis refraktil fisiologis+ atau kriptokidism yang
menetap.

Pada pasien yang terlalu gemuk5 dapat dilakukan dalam posisi sitting ;ross2
legged atau baseball ;at;herBs.=angan pemeriksa harus dalam keadaan hangat untuk
menghindari tertariknya testis ke atas. Pemeriksaan klinis menemukan bahwa 1.7
dari UD= adalah teraba dan berada di kantong dangkal inguinal*3.7+5 kanalis
inguinalis*,.7+5 skrotum atas */67+ dan jarang *67+ perineum atau paha dan bahwa
,.7 UD= adalah non teraba dan berada di rongga perut. =estis non palpable
diperkirakan seperlima dari anak2anak dengan undensen;us testis. Caparoskopi
diagnostik telah umum digunakan untuk penilaian nonpalpable testis dengan akurasi
lokasi testis lebih dari 867.
,59
Pemeriksaan klinis sangat penting dan harus dilakukan
di kondisi yang optimal dibutuhkan seorang anak yang tenang berbaring. 'ika kondisi
tidak terpenuhi5 tidak ada kesimpulan yang pasti bisa ditarik dan pemeriksaan harus
diulang. Pemeriksaan klinis menemukan bahwa 1.7 dari UD= adalah teraba dan
berada di kantong dangkal inguinal*3.7+5 kanalis inguinalis*,.7+5 skrotum atas
*/67+ dan jarang *67+ perineum atau paha dan bahwa ,.7 UD= adalah non teraba
dan berada di rongga perut. =estis non palpable diperkirakan seperlima dari anak2anak
dengan undensen;us testis. Caparoskopi diagnostik telah umum digunakan untuk
penilaian nonpalpable testis dengan akurasi lokasi testis lebih dari 867.
658
"ndikasi pengkoreksian UD= untuk mengoptimalkan fungsi testis5 berpotensi
menurunkan dan memberikan fasilitas diagnosis untuk keganasan testis5 dan
memberikan keuntugan kosmetik dan men;egah komplikasi seperti hernia klinis dan
torsio testis. Untuk mengobati UD=5 pilihan operasi yang efektif dengan tingkat posisi
7
testis sukses 895/7 dengan or;hiope@y primer dan 41547 dan 19 persen dengan satu
tahap dan dua tahap Fowler2Stephens or;hiope@y.
/51
HIPOSPADIA
0ipospadia merupakan salah satu kelainan kongenital saluran kemih. Pada
hipospadia terdapat gangguan perkembangan uretra yang mana meatus uretra
eksternus terletak di permukaan !entral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya
yang normal pada ujung penis. Pada hipospadia didapatkan tiga kelainan anatomi dari
penis yaitu meatus uretra terletak di !entral5 terdapat korde5 dan distribusi kulit penis
di !entral lebih sedikit dibanding di distal.
).
Pre!alensi hipospadia sekitar .5372.5175 menempati frekuensi paling banyak
di antara kelainan kongenital malformasi genitalia eksternal pria. 0ipospadia terjadi
pada ) dari ,..23.. kelahiran hidup bayi laki2laki. Di beberapa negara insidensi
hipospadia mungkin meningkat tetapi terlihat agak menetap5 .5,9 dari )... kelahiran
hidup di &eksiko dan Skandina!ia serta ,5)) tiap )... kelahiran hidup di 0ungaria.
&enurut studi yang dilakukan di Amerika Serikat hipospadia sebagian besar pada
anak kulit putih
.).5),5)/
=erdapat banyak klasifikasi pada hipospadia. 0ipospadia dibagi menurut
posisi meatus dan derajat kelengkungan penis. &eatus uretra eksternal bisa berlokasi
dari glans penis hingga perineum. &akin proksimal letak meatus5 makin berat
kelainannya dan makin jarang frekuensinya lasifikasi hipospadia diantaranya D
anterior *distal+5 medial dan proksimal *posterior+. "nsiden hipospadia anterior *distal+
sebanyak 4)75 medial )97 dan posterior *proksimal+ )37.
).5),
Penyebab dari hipospadia sampai saat ini belum dapat dijelaskan se;ara pasti5
namun teori2teori yang berkembang umumnya mengaitkan kelainan ini dengan
masalah hormonal. Sebuah teori mengungkapkan kelainan ini disebabkan oleh
penghentian prematur perkembangan sel2sel penghasil androgen di dalam testis5
sehingga produksi androgen terhenti dan mengakibatkan maskulinisasi inkomplit dari
alat kelamin luar. Proses ini menyebabkan gangguan pembentukan saluran ken;ing
*uretra+5 sehingga saluran ini dapat berujung di mana saja sepanjang garis tengah
penis tergantung saat terjadinya gangguan hormonal. Semakin dini terjadinya
gangguan hormonal5 maka lubang ken;ing abnormal akan bermuara semakin
mendekat ke pangkal.
)3
8
Diagnosa hipospadia ditegakkan dengan pemeriksaan fisik5 awalnya di;urigai
dengan adanya defisiensi preputium dan dipastikan dengan ditemukannya meatus di
bagian proksimal.
)3
$ekonstruksi urethra saat sekarang ini menjadi tantangan besar dalam bedah
urologi. =idak ada metode yang sesuai untuk semua tipe hipospadia. (leh karena itu
lebih kurang ,.. teknik operasi rekonsruksi uretra telah dikembangkan untuk
penanganan hipospadia. oreksi bedah untuk memperbaiki kelainan anatomi
merupakan satu2 satunya penanganan untuk hipospadia. =ujuan dari koreksi bedah
tersebut untuk memperbaiki posisi batang penis5 glans5 dan meatus5 meluruskan aliran
urin.
))5),5)35)/
DSD 1D+*()" (2 S"3 D"4"#(-,"%t5
Segala gangguan perkembangan seks dimulai dari tingkat kromosom5 gonad
maupun anatomi disebut disorders of sex development *DSD+. Dahulu gangguan ini
disebut sebagai kelamin ganda5 interseks5 genitalia ambiguous atau
pseudohermafrodit. -amun istilah ini sudah dianjurkan untuk tidak digunakan lagi
dan digantikan dengan istilah DSD5 karena istilah2istilah tersebut sering menimbulkan
masalah sosial pada pasien. Sebelumnya interseks mengelompokkan beberapa
kelainan gangguan perkembangan seks ini menjadi 3 kelompok besar5 yaitu:
Masculinized females *female pseudohermaphroditism+5 Incompletely masculinized
male *male pseudohermaphroditism+5 dan true hermaphrodite. Sejak tahun ,..95
European Society for Paediatric Endocrinology *ESPE+ dan Lason !il"ins
Pediatrics Endocrine Society *CFPES+ telah mengeluarkan konsensus mengenai
nomenklatur baru dalam diagnosis DSD. Dalam konsensus ini5 terdapat perubahan2
perubahan dalam penyebutan kelainan2kelainan DSD maupun klasifikasi dari DSD.
onsensus ini telah mengganti istilah #emale pseudohermaphroditism menjadi /9 GG
DSD5 male pseudohermaphroditism menjadi /9 GH DSD5 sedangkan true
hermaphrodite menjadi (!otesti;ular DSD. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel.
9
&anifestasi klinik DSD dapat terlihat pada masa neonatus atau tidak terlihat
sampai menginjak usia pubertas. Pada masa neonatus5 umumnya petugas medis
mendapatkan masalah untuk menentukan jenis kelamin pada bayi yang baru saja
dilahirkan akibat klitoromegali5 pembengkakan daerah inguinal pada neonatus
>perempuan?5 tidak terabanya testis pada neonatus >laki2laki?5 ataupun hipospadia.
Sedangkan pada masa pubertas5 umumnya manifestasi dapat berupa terhambatnya
10
pertumbuhan seks sekunder5 amenore primer5 adanya !irilisasi pada perempuan5
gyne;omastia dan infertilitas.
)6
Penatalaksanaan yang optimal untuk DSD membutuhkan peran dari tim
multidisiplin yang berpengalaman yang meliputi lingkup psikososial5 medis dan
pembedahan serta disiplin ilmu subspesialis lainnya seperti ahli neonatalogi5 pediatrik
endokrinologi5 pediatrik urologi5 endokrinologi ginekologi5 ahli genetik5 konselor5
psikiater atau ahli psikologi5 perawat dan pekerja sosial. Penatalaksaan medis
umumnya adalah meliputi pemberian terapi hormonal. Pemberian terapi hormonal ini
juga termasuk dalam upaya pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis DSD sesuai
dengan klasifikasinya.
)9
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan analisa
kromosom dengan ;ara yang kon!ensional atau menggunakan teknik fluorescence in$
situ hybridization *F"S0+ dengan tujuan untuk melakukan analisis keberadaan
kromosom G dan H. Pemeriksaan lain seperti ultrasonografi abdomen dan pel!is5
pengukuran hormon )42(02progesteron5 testosteron5 gonadotropin5 A&05 elektrolit
dan urinalisis juga sering dibutuhkan untuk dapat menentukan jenis DSD.
)95)4
Selain itu terdapat pula suatu uji dinamik yang bertujuan untuk menguji fungsi
testis untuk memproduksi hormon androgen. Pemeriksaan tersebut disebut sebagai uji
h%G. -amun protokol pemeriksaan dosis5 frekuensi dan kapan saat yang tepat
dimulai pemeriksan masih diperdebatkan. Protokol yang sering digunakan yaitu5
dengan menggunakan h%G )6.. unit selama 3 hari dan sampel pas;a injeksi diambil
setelah ,/ jam dari suntikan terakhir5 serta saat yang tepat dilakukan adalah setelah
melewati masa neonatus *usia lebih dari / minggu karena terkait dengan peningkatan
akti!itas sel Ceydig+. :entuk uji dinamik lainnya adalah dengan melakukan uji
stimulasi adrenocorticotropic hormone *A%=0+ untuk mengetahui ada tidaknya
defek di kelenjar gonad. Selain itu untuk memastikan adanya kelainan pada kelenjar
adrenal pemeriksaan analisis steroid pada urin juga dapat dilakukan. Pemberian terapi
hormon pada DSD didasari atas kebutuhan hormon seks untuk menginisiasi maturasi
pubertas. =erapi hormonal ini dapat dilakukan saat usia penyandang DSD memasuki
usia pubertas dimana lingkungan pergaulannya juga memasuki masa tersebut. 'ika
terlalu lama menunda pemberian terapi hormon dapat menimbulkan keterlambatan
perkembangan genitalia5 fungsi reproduksi dan fungsi seksual serta mempengaruhi
kualitas hidupnya di masa mendatang.
)95)4

11
:erdasarkan guidelines %merican %cademy of Pediatrics5 lingkup
pembedahan sudah termsuk dalam pemilihan terapi DSD. =erapi pembedahan berupa
genitoplasty dapat dilakukan jika diagnosis DSD sudah ditegakkan dengan pasti dan
hasil keluaran pas;a operasi bermanfaat dalam penentuan jenis kelamin di usia
dewasa. &enitoplasty adalah merupakan jenis terapi yang bersifat irre!ersibel seperti
dilakukannya kastrasi dan reduksi phallus pada DSD yang akan menjadi wanita dan
reseksi utero2!agina pada DSD yang akan menjadi pria. =erkadang DSD yang tidak
terdiagnosis pada masa infan dan baru diketahui saat memasuki masa pubertas5 seperti
pada kasus anak perempuan dengan %A0 dan dibesarkan sebagai anak lelaki atau
pada kasus anak lelaki dengan defisiensi )4I2hydro@ysteroid dehydrogenase dan 6J2
redu;tase dibesarkan sebagai anak perempuan. ondisi tersebut menimbulkan
tekanan mental pada orangtua dan penyandang DSD5 namun pemilihan terapi
pembedahan tidak boleh langsung dilakukan sebelum dilakukan pemeriksaan
endokrin dan pendekatan terapi psikososial. Seluruh jenis tindakan pembedahan yang
akan dilakukan harus dipertimbangkan se;ara hati2hati5 dengan selalu mengutamakan
kepentingan pasien di atas segala2galanya.
)95)4
0ingga saat ini penentuan usia yang tepat untuk menentukan kapan sebaiknya
tindakan operasi dilakukan masih diperdebatkan. :erdasarkan aspek psikososial5
tindakan operasi yang dilakukan pada masa infan lebih disukai5 karena lebih mudah
dilakukan dan riwayat trauma operasi dapat dihilangkan jika dibandingkan dengan
melakukan tindakan pembedahan pada anak saat mulai memasuki usia dewasa.
-amun pendapat lain menyatakan bahwa tindakan operasi DSD sebaiknya menunggu
sampai usia yang ;ukup untuk menerima informasi dan selanjutnya dilakukan
informed ;onsent langsung kepada penyandang DSD5 mengingat yang dilakukan
berhubungan dengan fungsi seksualitas. Sebelum dilakukan tindakan pembedahan
penting diketahui bagi pihak orangtua dan penyandang DSD mengenai untung2
ruginya tindakan pembedahan serta hasil akhir yang akan didapat. =ujuan utama
tindakan pembedahan adalah mengembalikan fungsi organ genitalia dibandingkan
fungsi estetiknya. =ujuan lainnya adalah menentukan jenis kelamin yang tepat5
membantu pembentukan image tubuh sesuai dengan jenis kelaminnya5 menghindari
stigma sosial5 dan terakhir berkaitan dengan fungsi seksualiats dalam berhubungan
seksual.
)4
'ika tindakan pembedahan sudah ditetapkan5 setelah menjalankan operasi
penatalaksaan lainnya yaitu aspek psikososial dan medis harus tetap dijalankan se;ara
12
teratur. arena rangkaian penatalaksanaan antara ketiganya saling mendukung satu
sama lain. =erapi pembedahan gonad saat ini juga dinilai penting5 terutama pada kasus
/9GH DSD5 di mana umumnya testis masih tetap berada di dalam rongga abdomen.
emungkinan adanya diferensiasi gonad ke arah keganasan membuat terapi
pengangkatan gonad dibutuhkan. Pemeriksaan biopsi gonad kadang juga diperlukan
untuk membuktikan adanya kelainan disgenesis gonad atau adanya kondisi o!otestis.
)1
S+$.,*+*+
Sunat adalah operasi pengangkatan preputium *kulup+ baik se;ara keseluruhan
atau sebagian. Alasan agama5 kesehatan budaya5 medis5 dan baru2baru ini publik yang
dikenal sebagai indikasi utama prosedur. :iasanya5 hal itu dilakukan dalam periode
neonatal tetapi dapat dilakukan pada usia berapa pun. Untuk memaksimalkan manfaat
kesehatan untuk mengurangi risiko prosedural dan biaya menganjurkan untuk
ditawarkan dalam periode neonatal. Pendekatan bedah sunat yang sangat ber!ariasi.
)8
=he Ameri;an A;ademy of Pediatri;s *AAP+ merekomendasikan sunat laki2
laki yang baru lahir untuk manfaat kesehatan pre!entif dan publik yang telah terbukti
lebih besar daripada risiko dari sunat laki2laki yang baru lahir. Se;ara mutlak indikasi
untuk sirkumsisi adalah phimosis sekunder5 indikasi pembedahan phimosis primer
adalah rekuren balanopostisis5 dan rekuren infeksi saluran urinari pada pasien
abnormalitas saluran urinari. Sirkumsisi pada neonatus yang rutin dapat men;egah
karsinoma penis tidak diindikasikan.
,.
Sunat umumnya dilakukan karena tiga alasan: pertama5 sebagai item dari
praktik keagamaan5 biasanya neonatal meskipun kadang2kadang transpubertally5
sebagai ritus peralihan5 kedua5 sebagai tindakan pen;egahan terhadap penyakit masa
depan untuk pengurangan risiko kanker penis5 saluran kemih infeksi5 dan infeksi
menular seksual5 dan ketiga5 untuk indikasi medis segera. :alanitis@eroti;aobliterans
adalah kondisi kulit yang infiltratif yang menyebabkan phimosis patologis dan telah
dianggap sebagai satu2satunya indikasi mutlak untuk sunat.
,)
Sunat tidak boleh dilakukan sampai setidaknya ), sampai ,/ jam setelah lahir
untuk memastikan bahwa bayi stabil. Periode pengamatan memungkinkan untuk
pengakuan kelainan atau penyakit yang baik harus ditangani sebelum sunat *misalnya5
hiperbilirubinemia atau infeksi+ atau akan menjadi kontraindikasi untuk prosedur
*misalnya5 perdarahan diatesis+. etika ada riwayat keluarga gangguan perdarahan5
13
pemeriksaan laboratorium yang tepat harus dilakukan untuk mengidentifikasi
disfungsi pembekuan mungkin. :ayi dengan kelainan kongenital genital2kemih5
terutama hipospadia5 tidak boleh disunat karena kulup sering digunakan dalam
rekonstruksi. :ayi prematur harus memenuhi kriteria untuk debit dari pembibitan
sebelum sunat dilakukan. ontraindikasi untuk sirkumsisi adalah koagulapati5 infeksi
akut lokal5 dan anomali kongenital pada penis5 hipospadia sebagian dan burried
penis.
,.5,,
F+,(*+* )a% Paa2+,(*+*
Pada akhir tahun pertama kehidupan5 retraksi kulit prepusium ke belakang
sulkus glandularis hanya dapat dilakukan pada sekitar 6.7 anak laki2lakiD hal ini
meningkat menjadi 187 pada saat usia tiga tahun. "nsidens fimosis adalah sebesar 17
pada usia 9 sampai 4 tahun dan )7 pada laki2laki usia )9 sampai )1 tahun.
Parafimosis harus dianggap sebagai kondisi darurat karena retraksi prepusium yang
terlalu sempit di belakang glans penis ke sulkus glandularis dapat mengganggu
perfusi permukaan prepusium distal dari ;in;in konstriksi dan juga pada glans penis
dengan risiko terjadinya nekrosis.
Diagnosis dari fimosis adalah jika prepusium tidak dapat atau hanya sebagian
yang dapat diretraksi5 atau menjadi ;in;in konstriksi saat ditarik ke belakang melewati
glans penis5 harus diduga adanya disproporsi antara lebar kulit prepusium dan
diameter glans penis. Selain konstriksi kulit prepusium5 mungkin juga terdapat
perlengketan antara permukaan dalam prepusium dengan epitel glandular dan atau
frenulum breve. Frenulum breve dapat menimbulkan de!iasi glans ke !entral saat
kulit prepusium diretraksi sementara diagnosis parafimosis dibuat berdasarkan
pemeriksaan fisik.
=erapi fimosis pada anak2anak tergantung pada pilihan orang tua dan dapat
berupa sirkumsisi plastik atau sirkumsisi radikal setelah usia dua tahun. Pada kasus
dengan komplikasi5 seperti infeksi saluran kemih berulang atau balloting kulit
prepusium saat miksi5 sirkumsisi harus segera dilakukan tanpa memperhitungkan usia
pasien. =ujuan sirkumsisi plastik adalah untuk memperluas lingkaran kulit prepusium
saat retraksi komplit dengan mempertahankan kulit prepusium se;ara kosmetik. Pada
saat yang sama5 periengketan dibebaskan dan dilakukan frenulotomi dengan ligasi
arteri frenular jika terdapat frenulum breve. Sirkumsisi neonatal rutin untuk men;egah
karsinoma penis tidak dianjurkan. ontraindikasi operasi adalah infeksi tokal akut
14
dan anomali kongenital dari penis. Sebagai pilihan terapi konser!atif dapat diberikan
salep kortikoid *.5.62.5)7+ dua kali sehari selama ,.23. hari =erapi ini tidak
dianjurkan untuk bayi dan anak2anak yang masih memakai popok5 tetapi dapat
dipertimbangkan untuk usia sekitar tiga tahun. =erapi parafimosis terdiri dari
kompresi manual jaringan yang edematous diikuti dengan usaha untuk menarik kulit
prepusium yang tegang melewati glans penis. 'ika manu!er ini gagal 5 periu dilakukan
insist dorsal ;in;in konstriksi. =ergantung pada temuan klinis lokal5 sirkumsisi dapat
segera dilakukan atau ditunda pada waktu yang lain.
D+#ata*+ Ta$t.* U+%a+.* Ata*
0idronefrosis dapat terdeteksi sejak dalam uterus menggunakan ultrasonografi
pada usia kehamilan )9 minggu. Penyebab tersering adalah stenosis ureteropel!i;
jun;tion *UP'+5 megaureter5 refluks !esikorenal5 sindroma katup uretra dan displasia
multikistik ginjal.
Diagnosis dari hidronefrosis dapat dilakuakan dengan USG. Dimana pada
USG dapat dinilai Ektasis *diameter anterior2posterior dari pel!is renalis5 ekatasis
kaliks+5 besar ginjal5 tebal parenkim5 pola ekho dari korteks5 lebar ureter5 tebal dinding
buli dan residual urine dapat diperiksa dengan pemeriksaan utrasound. :ila ditemukan
diameter pel!is renal lebih dari )6 mm maka hampir dapat dipastikan terdapat
obstruksi dari traktus urinarius atas dan mungkin perlu dipertimbangkan suatu
tindakan. Pemeriksaan ultrasound pertama pada bayi yang telah didiagnosa menderita
ektasis pel!is renal saat masih dalam kandungan harus dikerjakan saat , hari pertama
kehidupannya5 setelah 326 hari dan setelah 3 minggu. Pemeriksaan ultrasound yang
normal pada hari2hari pertama dapat terjadi dan merupakan pemeriksaan sekunder
apabila ditemukan adanya oliguria pada neonatus tersebut.
Diagnosis lainya yang dapat dilakukan untuk diagnosa dilatasi dari saluran
urinarius atas adalah <oiding %ystourethrography *<%UG+. Pada pasien dengan
stenosis UP' atau megaureter5 )/7 menunjukkan adanya refluks !esikorenal *<$$+
pada saat yang bersamaan. Adanya refluks ini harus di!erifikasi atau ditegakkan
dengan menggunakan <%UG kon!ensional preoperatif. "sotop <%UG *dengan bahan
yang mengeluarkan radiasi dosis rendah+ digunakan untuk follow2up. Selain itu dapat
juga dilakukan Diuresis $enografi. arena radiasinya yang rendah5 =;88m2&AG3
merupakan isotop pilihan pada diuresis renografi ini. Pemeriksaan dilakukan setelah
15
hidrasi standard *standardiKe hydration+ dengan menggunakan kateter transuretra.
Perfusi arteri renalis5 transit korteks intrarenal dan ekskresi dari bahan tersebut ke
dalam ;olle;ting system diukur. Apabila terjadi ketidakberesan dalam ekskresi5 maka
akan membutuhkan waktu lebih lama dari setengah kapasitas maksimum radio isotop
ini untuk dapat men;apai pel!is renalis *=)#,+ setelah pemberian furosemid. :ila
absorbsi radio isotop ini sangat ;epat dan setelah diberi diureti; ekskresinya ;epat * =
L M). menit+5 maka hampir tidak ditemukan adanya obstruksi. Adanya
ketidakmampuan atau deteriorasi dari masing2masing fungsi ginjal pada neonatus atau
bayi dengan ditunjang dilatasi traktus urinarius atas mungkin merupakan indikator
terbaik untuk menunjukkan obstruksi yang signifikan. Dapat juga dilakukan
S;intigraphy ginjal dengan asam di2merkaptosuksinil *D&SA+ merupakan metode
ideal untuk mengetahui morfologi ginjal5 perubahan akut akibat infeksi5 jaringan parut
pada ginjal serta gangguan fungsi ginjal5 sebagai ;ontoh suatu displasia ginjal
multikistik dan refluks nefropati. Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dikerjakan pada ,
bulan pertama usia bayi. "ntra!enous Urogram *"<U+ merupakan metode pemeriksan
opsional dan mungkin dilakukan pre2operatif serta apabila dari pemeriksaan
ultrasound belum dapat memastikan. "ndikasi dari "<U pada tahun pertama kehidupan
masih merupakan hal yang problematis. =es Fhitaker dilakukan sebagai pilihan
pemeriksaan antegrade pressure flow apabila diagnosis obstruksi masih belum pasti.
Pengukuran meliputi perfusi kontinyu dari pel!is ginjal melalui jarum per;utaneus
atau apabila diperlukan melalui nefrostomi. 0asil segera yang diperoleh dari tes ini
adalah tingginya laju perfusi yang tidak fisiologis5 melewati batas maksimum seorang
anak5 hasil ini tergantung dari pemeriksa dan tingkat in!asi dari prosedur.
16
Ta!#" 30 2(##(6-.- )+#ata*+ t'.+%a+.* !a&+a% ata* 7a%& *.)a8 )+)+a&%(*a
-"%ata#'
Umur )2, hari Ultrasound Dilatasi *2+

Dilatasi umur326 hari
USG ulangan
:ilateral Unilateral Dilatasi *2+
ontrol USG
Umur 326 hari <%UG Umur ,23minggu <%UG
* katup uretraN+ *refluks+
umur /29 minggu
s;intigrafi
"<P *optional+
P"%ata#a$*a%aa%
St"%(*+* UPJ
Simptomatis stenosis UP' membutuhkan penanganan bedah5 tetapi unilateral stenosis
UP' yang asimptomatis diterapi se;ara subyektif tergantung dari derajat obstruksi dan
fungsi kedua ginjal se;ara terpisah. Apabila perbaikan fungsi ginjal tidak terjadi
dalam 329 bulan pada pasien dengan fungsi ginjal kurang dari ).7 ginjal normal5
maka nefrektomi harus dipertimbangkan5 terutama apabila mulai mun;ul gejala
*seperti U="5 hipertensi5 nyeri daerah flank+. Pasien 2 pasien dengan fungsi ginjal
kurang dari /.7 harus dipertimbangkan pyelopasti. Apabila fungsi ginjal sebelah
lebih dari /.75 inter!ensi operasi diindikasikan hanya apabila mun;ul gejala baru
atau fungsinya menurun menjadi ).7 dengan berjalannya waktu. Sonografi
sebaiknya dilakukan setiap / minggu. S;intigrafi fungsi ginjal harus diulangi dalam
17
jangka ) tahun. Anak2anak yang preoperatifnya menunjukkan fungsi ginjal parsial
dibawah /675 post operatif menunjukkan perbaikan pertumbuhan serta fungsi ginjal
se;ara keseluruhan.
M"&a."t"
&enurut klasifikasi internasional5 megaureter dibagi menjadi primer dan sekunder5
obstruksi dan#atau refluks dan non2refluks5 non2obstruksi. Penatalaksanaan dari
megaureter tipe refluks dijelaskan pada bagian !esikoureter refluks *<U$+. E!aluasi
diagnostik sama seperti pada hidronefrosis unilateral. Derajat obstruksi dan fungsi
ginjal se;ara terpisah ditentukan dengan skintigrafi ginjal dan "<U.
Pada beberapa sur!ei ditunjukkan bahwa inter!ensi operasi berdasar hanya
dari urogram ekskretori saat ini sangatlah jarang. Dengan perbaikan spontan sampai
167 pada pasien dengan megaureter obstruksi primer5 drainage tinggi se;ara Sober
atau ;in;in ureterokutaneostomi saat ini tidak lagi dilakukan.
(perasi ureterosistoneostomi menurut %ohen5 Politano2Ceadbetter atau teknik
Psoas20it;h dapat dipertimbangkan sebagai ;ara operasi. "ndikasi untuk terapi bedah
dari megaureter adalah infeksi rekuren selama menggunakan antibiotika profilaksis5
penurunan fungsi ginjal se;ara terpisah5 tetap terjadinya refluks setelah ) tahun
dibawah profilaksis serta adanya obstruksi yang signifikan.
U"t" R"t($a4a#
Ureter retroka!al bukanlah merupakan suatu anomali dari ureter tetapi anomali dari
!ena ka!a. E!aluasi diagnostik dapat dilihat pada skema unilateral hidronefrosis
*termasuk urogram ekskretori+. Pada keadaan yang sangat jarang ini5 ureter
dipisahkan5 sumber kelainan tersebut dikoreksi dan dilakukan anastomose end2to2end.
H+)(%"2(*+* B+#at"a#
0idronefrosis bilateral dan megaureter sangat jarang terjadi pada perempuan dan
memerlukan pendekatan indi!idual5 yang tidak dapat melalui satu algoritme. Pada
laki2laki5 penyebab tersering adalah obstruksi infra!esikal yang disebabkan oleh katup
uretra. (bstruksi dapat mengakibatkan terjadinya trabekula buli dengan akibat
sekundernya adalah megaureter dan hidronefrosis. Setelah sonografi5 <%UG
sebaiknya segera dikerjakan tanpa ditunda lagi. Apabila tidak ditemukan kelainan
patologis5 pemeriksaan lebih lanjut mengikuti skema hidronefrosis unilateral. Dalam
18
hal refluks5 e!aluasi diagnostik mengikuti skema refluks *bab4+. Pada kasus2kasus
dengan obstruksi infra!esika dengan retensi urin5 kateter suprapubik harus segera
dimasukkan dan antegrade <%UG dapat dikerjakan menyusul. Sonografi dan serum
kreatinin sebaiknya diperiksa setiap hari. Apabila pada sonografi terlihat perbaikan
dan serum kreatinin menurun di bawah .59mg#dC5 reseksi katup se;ara endoskopi
sebaiknya dilakukan pada usia anatara )29 bulan pertama kehidupan *tergantung besar
dan berat bayi+. Endoskopi sebaiknya dipilih mengingat trauma pada uretra dapat
diminimalkan. Dalam hal penanganan awal endoskopi5 dapat dipasang stent pada
uretra *921;h+ pre2operatif. Apabila tidak terdapat perbaikan pada sonografi dan serum
kreatinin tidak menurun dibawah .59mg#dC5 perlu dilakukan di!ersi supra!esika dan
delayed rekonstruksi 928 bulan kemudian harus dijadwalkan.
Di!ersi supra!esika se;epatnya diindikasikan *jarang terjadi+ pada pasien
dengan sepsis dan gross bilateral doli;homegaureter dan gagal ginjal5 atau pada
kondisi gross bilateral doli;homegaureter dan insufisiensi renal yag tidak merespon
atau malah berlanjut memburuk. Ablasi dingin katup endoskopi *transuretra atau
suprapubik+ barulah dilakukan kemudian tergantung perkembangan kondisi pasien
dan adanya kemungkinan berkemih se;ara spontan. <%UG dan pen;itraan radiologi
dari traktus urinarius atas yang terdi!ersi sebaiknya dikerjakan preoperatif.
Refuks
<U$ atau <$$ didefinisikan sebagai aliran balik urin non2fisiologis dari buli
ke dalam ureter atau pel!is renalis. onsekuensi terburuk dari <$$ primer dan
sekunder adalah perkembangan progresif dari gagal ginjal sekunder karena episode
pyelonefritik rekuren serta diikuti dengan hilangnya parenkim ginjal se;ara bertahap.
Sepuluh sampai )67 pasien dengan refluks menderita hipertensi ?renin2
dependent? sebagai sekuel dari fokal iskemi akibat timbulnya jaringan parut pada
ginjal. Probabilitas dari hipertensi sangat berkorelasi dengan luas dan banyaknya
jaringan parut pada parenkim. $efluks ditemukan pada .562)7 anak2anak tanpa U=".
:ila pada neonatus insidens refluks sama pada kedua jenis kelamin5 pada usia lebih
besar5 anak perempuan lebih sering terjangkit penyakit ini /@ lebih banyak dibanding
anak laki2laki.
19
Pada anak2anak dengan rekuren U=" 5 insidens <U$ se;ara signifikan lebih
tinggi *sekitar )/2,87 dari masa = dan usia sekolah pada anak perempuan dan
sekitar 3.7 pada anak laki2laki pada usia yang sama+.
Gejala utama dari <U$ adalah rekuren U=" yang sesekali diikuti dengan
demam. Pemeriksaan radiologi menunjukkan uni atau bilateral refluks pada 3.2627
kasus. <$$ mungkin dapat juga terdiagnosa akibat konsekuensinya5 yaitu hipertensi5
insufisiensi ginjal atau pertumbuhan ginjal yang terhambat. $efluks yang tidak
terdeteksi dapat jatuh pada kondisi refluks nefropati.
S"/(%)a7 R"2#.$*
Awal dari refluks sekunder bukanlah merupakan gangguan primer sejak lahir dari
ureter terminal pada neonatus tetapi lebih merupakan obstruksi anatomikal atau
fungsional atau penyakit inflamasi dari buli5 atau kerusakan langsung pada orifisium
yang sebelumnya intak. =ampaknya banyak refluks5 terutama yang derajat rendah )235
merupakan refluks sekunder dan mungkin dapat menghilang dengan kematangan
fungsi buli. lasifikasi yang digunakan adalah berdasarkan =he "nternational $eflu@
Study %ommittee memperkenalkan sistem yang seragam untuk deskripsi refluks
berdasarkan klasifikasi awal yang telah disusun oleh 0eikel dan Pakkulainen pada
tahun )816. Cebih jauh lagi5 gambaran !oiding ;ystourethrogram yang telah
distandardisasi dideskripsikan untuk kemudian dapat diperbandingkan.
Ta!"# 8 0 Ga)+%& *7*t", .%t.$ "2#.$*
1I%t"%at+(%a# R"2#.3 St.)7 C(,,+tt""9 1:815
Gr." $efluks tidak men;apai pel!is renalis5 berma;am2ma;am derajat dilatasi ureter
Gr."" $efluks men;apai pel!is renali5 tidak terdapat dilatasi ;olle;ting system5
20
Forniks masih normal
Gr.""" Dilatasi ringan sampai sedang dari ureter5 dengan atau tanpa kinkingD dilatasi
sedang dari ;olle;ting systemD forniks normal atau terdapat perubaha
nminimal
Gr."< Dilatasi sedang dari ureter5 dengan atau tanpa kinkingD dilatasi sedang
;olle;ting
systemD forniks blunting tetapi gambaran dari papila masih dapat terlihat
Gr.< Gross dilatasi dan kinking dari ureter5 dilatasi jelas dari ;olle;ting systemD
impresi5 Papila tidak lagi tampakD refluks intraparenkim
=erlepas dari grading refluks ini5 deskripsi atas posisi dan morfologi dari orifisium
ureter *normal5 stadium5 horseshoe atau golf2hole+ sangat menolong untuk
menentukan terapi. Posisi dari orifisium ini harus dikategorikan sebagai A *trigonal+5
:5% atau D *lateral+.
Diagnosis dari refluks yaitu semua pasien yang masih menunggu klarifikasi adanya
refluks harus menjalani prosedur diagnostik standard5 membandingkan hasil
laboratorium *fungsi ginjal+5 status urin dan kultur urin5 bersama2sama dengan riwayat
penyakit dari anamnesa serta pemeriksaan fisik. :ukti langsung ada atau tidaknya
refluks tetap memerlukan <%UG atau sonografi untuk diagnosisawal. Pilihan "<U
dapat dilakukan preoperatif apabila dari sonografi tidak dapat menegakkan adanya
refluks. Pada saat pemeriksaan5 kateter harus terus dipasang.
=anpa adanya bahaya radiasi5 sonografi dapat menunjukkan informasi se;ara
detil tentang ukuran ginjal5 adanya kemungkinan double system5 bentuk dan ukuran
;olle;ting system dan juga memungkinkan kita mengetahui parenkim dari ginjal.
Deteksi dari refluks hanya mungkin dilakukan menggunakan media kontras khusus
atau apabila terjadi gross refluks. Apabila <%UG atau sonografi negatif5 tetapi dari
pemeriksaan klinis men;urigai adanya refluks5 pemeriksaan sebaiknya diulang se;ara
21
Klasifkasi posisi orifcium ureter (dari
Mackie GC !tep"e#s $% & %uple' kid#e(s&
) correlatio# o* re#al d(splasia +it"
positio# o* t"e uret"ral orifce, - .rol
1975/114&274,0
berkala setelah beberapa inter!al5 derajat dari refluks ini tidak konstan pada beberapa
kodisi yang berbeda saat dilakukan pemeriksaan. Apabila terdapat residual urin
setelah berkemih tanpa adanya obstruksi infra!esika5 pemeriksaan urodinamik harus
dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya disfungsi buli#sfingterdan yang
akan menyebabkan refluks sekunder. :ukti ada atau tidaknya refluks juga dapat
dibuktikan melalui pemeriksaan radionu;lida. &engingat radiasi yang dipakai rendah
maka sistografi radionu;lide dapat mem!erifikasi atau menyingkirkan refluks5
terutama untuk pemeriksaan follow2up.
Pemeriksaan endoskopi dapat menolong pada operasi elektif dan dapat
menunjukkan bukti dari konfigurasi patologis dari posisi serta orifisium ureter5 juga
untuk eksklusi dari obstruksi infra!esika. Pemeriksaan dilakukan di bawah anestesi
dan persiapan dikerjakan untuk mengkoreksi refluks yang mungkin terjadi. Untuk
setiap refluks yang diterapi se;ara endoskopi5 konfigurasi dari orifisium ureter lebih
penting daripada derajat refluksD pada kasus orifisium tipe golf2hole5 kemungkinan
keberhasilan adalah rendah.
Ta!"# :0 A#&(+t,a ta8a-a% )+a&%(*+* "2.$* -+,"
Dasar diagnosis riwayat penyakit
pemeriksaan fisisk
tekanan darah
tes laboratorium
analisa urin dan kultur
Sonografi dilatasi
parenkhim ginjal
duplikasi ginjal 222222 opsional 222222 "<U dilatasi#obstruksi
konfigurasi <U 222222 opsional 222222 &AG23 dilatasi#obstruksi
!oiding
D&SA fungsi ren terpisah

Uroflow anak umur 3 thn 2222222 opsional 222222 sistometri
<%UG derajat refluks
refluks pada 2222222 opsional 222222 endoskopi obstruksi
infra!esikal
single#double system
22
konfigurasi <U
konfigurasi uretra
Pembedahan
Strategi penanganan
&edikamentosa
R"2#.$* S"$.%)"
Diagnosis dan terapi dari penyakit yang mendasari tentu saja merupaakn aspek
utama dari refluks sekunder yang didapat. Apabila refluks tetapada setelah terapi
penyakit dasar dilakukan5 terapi dari refluks ini dikerjakan menurut kondisi klinis.
Untuk dapat mendiagnosa refluks sekunder5 haruslah dipastikan bahwa <%UG
dilakukan pada periode non2inflamasi dan apabila penting5 diulang setelah bebas dari
infeksi. Diagnosa lebih lanjut dilakukan sesuai dengan aturan2aturan refluks primer.
Penatalaksanaan refluks memiliki tujuan dari terapi adalah menghindari
terjadinya komplikasi lanjut seperti refluks nefropati. Pilihan terapi meliputi
konser!atif dan pembedahan baik endoskopi maupun terbuka. Pilihan ini dipengaruhi
oleh umur dari penderita5 derajat refluks5 posisi atau konfigurasi orifisium ureter dan
penemuan klinik.
Ta!"# 100 -"%ata#a$*a%aa% "2#.$* -+,"
Umur ) thn konser!atif
Umur )26 thn grade "2""" konser!atif
Grade "<2< pembedahan
Umur O 6 thn pria jarang sbg indikasi op
Fanita pembedahan * krn tingginya angka
"nfeksi terutama saat hamil +
Ta!"# 11 0 P"%ata#$*a%aa% R"2#.$* *"$.%)"
Febris infeksi berulang meskipun
memakai antibiotik profilaksis
Pembedahan
&alformasi tambahan *double kidney5 *tidak untuk umur M 9 bulan+
0ut;h di!erti;ulum5 e;topi; ureter+
23
T"a-+ K(%*"4at+2
=ujuan dari terapi konser!atif adalah pen;egahan terhadap demam U=". :ersama2
sama dengan anamnesa mengenai jumlah ;airan yang diminum dan jenisnya serta
proses berkemih yang teratur *apabila dibutuhkan5 dengan double mi;turation+5
higiene yang baik dan antibiotika profilaktik dosis rendah jangka panjang merupakan
aspek utama dari terapi konser!atif ini.
Dengan asumsi bahwa pada beberapa pasien <$$ menghilang tanpa
inter!ensi pembedahan menegaskan pendekatan konser!atif. emungkinan untuk
perbaikan spontan hanya terjadi apabila pasien tersebut masih sangat muda dengan
refluks derajat rendah dan tanpa kondisi patologis yang serius dari orifisium ureter.
Apabila refluks menetap sampai pada usia dimana tidak mungkin diharapkan terjadi
kesembuhan spontan maka pada anak perempuan harus dilakukan operasi
rekonstruksi. Pada anak laki2laki dengan usia O 6 tahun5 antibiotika profilaksis dapat
dihentikan karena indikasi untuk dilakukan koreksi dari refluks adalah jarang. Apabila
U=" disertai dengan demam terjadi pada saat masih dibawah pemberian antibiotika
profilaksis5 strategi konser!atif harus disingkirkan dan dipilih pendekatan inter!ensi
pembedahan.
T"a-+ P",!")a8a%
Pembedahan sebaiknya tidak dilakukan sampai usia anak sedikitnya 9 bulan.
T"a-+ E%)(*$(-+
Akhir2akhir ini5 pengalaman dengan endoskopi sebagai pilihan terapi masih terbatas.
P",!")a8a% T"!.$a
:erma;am2ma;am teknik untuk mengkoreksi refluks telah dideskripsikan *;ontoh
Ci;h2Gregoir5 Politano2Ceadbetter5 %ohen5 Psoas20it;h+5 prinsipnya adalah
memperpanjang bagian intramural dari submukosa ureter. Angka keberhasilan yang
tinggi melebihi 8675 dengan rendahnya komplikasi5 dapat ditemui dari semua jenis
metode operasi.
Sebagai aturan5 sebelum prosedur ekstra!esikal dilakukan maka endoskopi
harus terlebih dahulu dikerjakan5 dimana orifisium ureter dapat se;ara langsung
dilihat melalui operasi intra!esika. Detil teknik lain yang penting adalah men;akup
24
absolut tension free dari anastomose ureter5 seperti juga preser!asi dari aliran darah
ke ureter distal. Sebagai tambahan5 panjang serta lebar yang ;ukup dari tunnel adalah
suatu keharusan.
Apabila terjadi refluks bilateral5 prosedur Ci;h2Gregoir seperti juga Psoas2
0it;h sebaikanya dikerjakan dalam dua tahap untuk menghindari disfungsi dari buli.
F(##(6-.-
Setelah koreksi pembedahan5 pasien memerlukan antibiotik perioperatif5 yang
dilanjutkan sebagai antibiotik profilaksis selama 9 minggu post operatif. Sebagai
pilihan5 <%UG dapat dikerjakan 3 bulan post operatif untuk membuktikan
keberhasilan terapi refluks. (bstruksi dari traktus urinarius atas dapat ditegakkan
melalui sonografi setelah pasien pulang dan dilanjutkan tiap /29 minggu apabila
terdapat tanda2tanda obstruksi. Dalam semua kasus5 ultrasound rutin dilakukan tiap 3
bulan post operatif.
Semua pasien dengan kerusakan parenkim pada saat refluks dikoreksi harus
melakukan kontrol skintigrafi ), bulan post operatif. Pemeriksaan follow2up harus
meliputi pemeriksaan tekanan darah untuk deteksi awal dari hipertensi renalis.
25
BAB III
MATERIAL DAN METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan melihat data
sekunder dari rekam medik $S%& 'akarta periode ,..12,.)3 dan $S 0arapan ita
,..12,.)3. Data yang terkumpul merupakan data pasien pada bidang urologi
dibidang pediatrik.
D"*a+% P"%"#+t+a%
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif.
L($a*+ )a% ;a$t. P"%"#+t+a%
Penelitian ini dilakukan di $S%& 'akarta dan $S 0arapan ita. Penelitian ini telah
dilaksanakan dari tahun ,..12,.)3.
P(-.#a*+ )a% Sa,-"#
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh pasien $S%& 'akarta dan
$S 0arapan ita yang didiagnosis di bidang pediatrik urologi dari tahun ,..12,.)3
yang telah dilakukan tindakan pembedahan pada bidang pediatrik urologi. =eknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Haitu seluruh pasien yang
didiagnosis dan dilakuakn tindakan pembedahan di bidang pediatrik urologi pada
tahun ,..12,.)3.
P(*"* P"%&.,-.#a% Data
Proses pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis dan status khusus urologi
pasien dari arsip $S%& 'akarta dan $S 0arapan ita yaitu data dari tahun ,..12
,.)3.
26
BAB IV' HASIL PENELITIAN
1' RS Haa-a% K+ta
1'1 Kaa$t"+*t+$ -a*+"% !")a*a$a% <"%+* $"#a,+%
Dari total )3, pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi pediatrik
di $S 0arapan ita tahun ,..12,.), pasien didapatkan bahwa ))6 pasien *145)7+
adalah laki2laki dan sisanya )4 pasien *),587+ adalah perempuan.
27
1'2 Kaa$t"+*t+$ -a*+"% !")a*a$a% U*+a
Descriptives
Statistic Std. Error
usia
Mean 5,3447 ,38628
95% Confidence Interval
for Mean
o!er "ound 4,58#5
$%%er "ound 6,&#89
5% 'ri((ed Mean 5,#5#9
Median 4,####
)ariance &9.696
Std. *eviation 4,438#3
Mini(u( ,25
Ma+i(u( &7,##
,an-e &6,75
Inter.uartile ,an-e 7,##
S/e!ness .822 .2&&
0urtosis 1.35& .4&9
Dari total )3, pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi
pediatrik di $S 0arapan ita tahun ,..12,.), didapatkan bahwa usia dalam tahun
termuda adalah .5,6 tahun atau anak berusia 3 bulan5 dan didapatkan bahwa usia
dalam tahun tertua adalah )4 tahun. Dari data tersebut juga didapat bahwa mean atau
rata2rata usia pasien adalah 653//4 tahun.
28
1'3 Kaa$t"+*t+$ !")a*a$a% )+a&%(*a
Dari total )3, pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi pediatrik
di $S 0arapan ita tahun ,..12,.), pasien didapatkan bahwa dari )3, pasien
tersebut5 diagnosa yang paling banyak adalah hipospadia yaitu 66 kasus */)547+5
fimosis yaitu )) kasus *1537+5 Undesensus testis yaitu 8 kasus *9517+5 hidronefrosis
yaitu 1 kasus *95)7+5 fistel yaitu 9 kasus */567+5 dan kasus lain2lain yang terdiri lebih
dari ,. diagnosa berbeda yaitu /3 kasus *3,59+.
29
1'3'1 H+-(*-a)+a
Dari 66 kasus hipospadia yang ditemukan5 didapatkan bahwa yang terbanyak
adalah hipospadia tipe penoskrotal yaitu 33 kasus *9.7+5 diikuti 0ipospadia tipe
midshaft yaitu 8 kasus *)95/7+5 0ipospadia tipe penile yaitu 6 kasus *85)7+5
0ipospadia tipe glandular dan subkoronal masing2masing 3 kasus *6567+5 dan
hipospadia tipe skrotal yaitu , kasus *3597+.
30
1'3'2 UDT
Dari data diatas terlihat bahwa dari 8 kasus UD=5 ditemukan 6 kasus UD= bilateral
*66597+5 dan / kasus *//5/7+ UD= kanan.
31
1'4 Kaa$t"+*t+$ -a*+"% !")a*a$a% <"%+* t+%)a$a%
Dari total )3, pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi
pediatrik di $S 0arapan ita tahun ,..12,.), pasien didapatkan bahwa dari )3,
pasien tersebut5 didapatkan bahwa jenis tindakan tersering adalah uretroplasti
yaitu sebanyak 69 tindakan */,5/7+5 sirkumsisi yaitu sebanyak )6 tindakan
*))5/7+5 or;hidope@y sebanyak 8 tindakan *9517+5 repair fistel yaitu 9 tindakan
*/567+5 pyeloplasti sebanyak 6 tindakan *3517+5 nefrektomi yaitu , tindakan
*)567+ dan tindakan lain2lain yaitu sebanyak 38 tindakan *,8567+.
32
1'4'1 U"t(-#a*t+
Descriptives
Statistic Std. Error
uretro%lasti
Mean &4#.8# 4.46&
95% Confidence
Interval for Mean
o!er "ound &3&.86
$%%er "ound &49.74
5% 'ri((ed Mean &42.64
Median &2#.##
)ariance &&&4.343
Std. *eviation 33.382
Mini(u( 3#
Ma+i(u( &8#
,an-e &5#
Inter.uartile ,an-e 6#
S/e!ness 1.34# .3&9
0urtosis .37# .628
Dari 69 tindakan uretroplasti didapatkan bahwa lama operasi uretroplasti yang
ter;epat adalah 3. menit dan yang terlama )1. menit dengan rata2rata lama operasi
adalah )/.51. menit.
1'4'2' S+$.,*+*+
Descriptives
Statistic Std. Error
sir/u(sisi Mean 39.## 3.94#
95% Confidence
Interval for Mean
o!er "ound 3#.55
$%%er "ound 47.45
5% 'ri((ed Mean 38.89
Median 3#.##
)ariance 232.857
Std. *eviation &5.26#
Mini(u( 2#
33
Ma+i(u( 6#
,an-e 4#
Inter.uartile ,an-e 35
S/e!ness .4&# .58#
0urtosis 1&.569 &.&2&

Dari )6 tindakan sirkumsisi didapatkan bahwa lama sirkumisisi ter;epat
adalah ,. menit dan yang terlama adalah 9. menit. $ata2rata waktu yang diperlukan
untuk tindakan sirkumsisi adalah 38 menit.
1'4'3 O/8+)(-"37
Descriptives
Statistic Std. Error
orc2ido%e+3
Mean 63.33 7.8&7
95% Confidence
Interval for Mean
o!er "ound 45.3&
$%%er "ound 8&.36
5% 'ri((ed Mean 62.#4
Median 6#.##
)ariance 55#.###
Std. *eviation 23.452
Mini(u( 3#
Ma+i(u( &2#
,an-e 9#
Inter.uartile ,an-e #
S/e!ness &.8#3 .7&7
0urtosis 5.653 &.4##
Dari tindakan or;hidope@y sebanyak 8 tindakan didapatkan bahwa lama
tindakan or;hidope@y yang ter;epat adalah 3. menit dan terlama adalah ),. menit.
$ata2rata lama tindakan or;hidopeksi adalah 9353 menit.
2' R.,a8 Sa$+t C+-t( Ma%&.%$.*.,(
34
2'1 Kaa$t"+*t+$ -a*+"% !")a*a$a% <"%+* $"#a,+%
Dari total 919 pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi
pediatrik di $S%& tahun ,..12,.)3 pasien didapatkan bahwa dari bahwa 6/6 pasien
*485/7+ adalah laki2laki dan sisanya )/) pasien *,.59+ adalah perempuan.
2'2 Kaa$t"+*t+$ -a*+"% !")a*a$a% U*+a
35
Descriptives
Statistic Std. Error
usia
Mean 6.2&65 .&6322
95% Confidence Interval
for Mean
o!er "ound 5.896&
$%%er "ound 6.537#
5% 'ri((ed Mean 5.9942
Median 5.####
)ariance &8.275
Std. *eviation 4.27498
Mini(u( .25
Ma+i(u( &8.##
,an-e &7.75
Inter.uartile ,an-e 7.##
S/e!ness .57& .#93
0urtosis 1.699 .&86
Dari total 919 pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi
pediatrik di $S%& tahun ,..12,.)3 didapatkan bahwa usia dalam tahun termuda
adalah .5,6 tahun atau anak berusia 3 bulan5 dan didapatkan bahwa usia tertua adalah
)1 tahun. Dari data tersebut juga didapat bahwa mean atau rata2rata usia pasien adalah
95, tahun.
2'3 Kaa$t"+*t+$ !")a*a$a% )+a&%(*a
36
Dari total 919 pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi
pediatrik di $S%& tahun ,..12,.)3 pasien didapatkan bahwa diagnosa yang paling
banyak adalah hipospadia yaitu ))) kasus *)95,7+5 hidronefrosis yaitu 8) kasus
*)3537+5 Undesensus testis yaitu /. kasus *6517+ pro sirkumsisi yaitu ). kasus
*)567+5 fistel yaitu 9 kasus *.587+5 fimosis yaitu 9 kasus *..87+ dan kasus lain2lain
yang terdiri lebih dari ratusan diagnosa berbeda yaitu /,, kasus *9)567+.
2'4 Kaa$t"+*t+$ !")a*a$a% )+a&%(*a
37
Dari total 919 pasien yang dilakukan tindakan operasi di bidang urologi
pediatrik di $S%& tahun ,..12,.)3 pasien didapatkan bahwa tindakan yang paling
banyak adalah uretroplasti yaitu )). kasus *)95.7+5 nefrostomi yaitu // kasus *95/7+5
<%UG yaitu /) kasus *95.7+5 or;hidopeksi yaitu 38 kasus *6547+5 sirkumsisi yaitu )1
kasus *,597+5 uretrosistoskopi yaitu 4 kasus *)..7+5 repair fistel yaitu 9 kasus *.587+
dan kasus lain2lain yang terdiri lebih dari ratusan tindakan berbeda yaitu /,) kasus
*9)5/7+.
BAB V' KESIMPULAN
38
Dari data yang diolah terlihat bahwa total didapatkan )3, kasus pasien
dibidang urologi pediatrik di $S 0arapan ita dari tahun ,..12,.), yang menjalani
operasi. 0ipospadia merupakan penyakit tersering yang dijumpai di $S 0arapan ita
'akarta. Uretroplasti merupakan tindakan tersering yang dilakukan di bidang urologi
pediatrik di $S 0arapan ita 'akarta dari tahun ,..12,.),. Usia Pasien yang
dijumpai termuda adalah 3 bulan dan tertua adalah usia )4 tahun5 dimana rata2rata
usia pasien adalah 653 tahun5 Dari data tersebut juga dijumpai bahwa mayoritas pasien
adalah laki2laki yaitu 145)7 sementara sisanya perempuan adalah ),587.
Dari data yang diolah terlihat bahwa total didapatkan 919 kasus pasien
dibidang urologi pediatrik di $S%& dari tahun ,..12,.)3 yang menjalani operasi.
0ipospadia merupakan penyakit tersering yang dijumpai di $S 0arapan ita 'akarta.
Uretroplasti merupakan tindakan tersering yang dilakukan di bidang urologi pediatrik
di $S%& 'akarta dari tahun ,..12,.)3 Usia Pasien yang dijumpai termuda adalah 3
bulan dan tertua adalah usia )9 tahun5 dimana rata2rata usia pasien adalah 95, tahun5
Dari data tersebut juga dijumpai bahwa mayoritas pasien adalah laki2laki yaitu 485/7
sementara sisanya perempuan adalah ,.597.
39
DAFTAR PUSTAKA
). S;hulman SC. <oiding dysfun;tion in ;hildren. Urol %lin -orth Am ,../D
3):/1)A8..
,. Pinto E5 Guignard 'P. $enal masses in the neonate. :iol -eonate )886 91:)46A
1/
3. Frush DP5 Donnelly CF5 $osen -S. %omputed tomography and radiation risks
what pediatri; health ;are pro!iders should know. Pediatri;s ,..3D)),:86)A4.
/.S;hne;k FG5 :ellinger &F. Abnormalities of the =estes and S;rotum and their
Surgi;al &anagement. Pediatri; urology. Fein: %hambell2Falsh Urology5 8
th
ed.
Saunders Else!ier. ,..4. %hapter ),4
6.Pierre DE &ouriPuad. Undens;ended testes in %hildren: =he Paediatri;
Urologist point of !iew. European 'ournal of Endo;rinology )68 S132S19
9.Pierik F05 :urdorf A5 Deddens 'A5 'uttman $E5 Feber $FA. &aternal and
Paternal $isk for %ryptor;hidism and 0ypospadia. Department of Andrology5
Erasmus &%5 $otterdam. En!iron 0ealth Perspe;t. ,../D )),*)6+: p.)64.A)649.
doi: )..),18#ehp.4,/3
4.Farner :F. Pediatri; Surgery. Genitourinary. =owsend: Sabiston te@tbook of
Surgery5 )1
th
ed. Saunders. ,..4. %hapter )4
1. 'ohn &. E!aluation and =reatment of %ryptor;hidism5 %omparati!e
Effe;ti!eness $e!iew -o. 115 prepared by the <anderbilt E!iden;e2based Pra;ti;e
%enter under %ontra;t -o. ,8.2,..42)..962" for the Agen;y for 0ealth;are
$esear;h and Quality5 De;ember ,.),. A!ailable at
www.effe;ti!ehealth;are.ahrP.go!#undes;ended2testi;le.;fm
8.-erli $. :.5 $eddy &. -. and 0iremath &.:. *,.))+. Caparos;opy for the
Undes;ended =estes5 Ad!an;ed Caparos;opy5 Prof. Ali Shamsa *Ed.+5 "S:-: 8412
86323.4294/2/
).. $iedmiller 05 Androulakakis P5 :eurton D5 o;!ara $5 ohl U. Guidelines on
paediatri; urology. European Asso;iation of Urology5,..6.
40
)).Ul haP A5 Akhter -.%omparati!e study of &athieu and Snordgrass repair for
anterior hypospadias. ' Ayub &ed ;oll Abbottabad ,..9D)1*,+.
),.Saleem &S et al. %omparati!e study between =ubulariKed "n;ised Plate
*Snodgrass+ Urethroplasty and $e!erse Flap *&athieuBs+ $epair in Distal
0ypospadias. Ann Pak &ed S;i ,.),D1*,+:892)...
)3.El saadi &&5 =olba A&5 Sarhan AE. Anterior urethral ad!an;ement in repair
of hypospadias: A &odifi;ation of the =e;hniPue. Annals of pediatri; surgery
,.).*9+D)12,).
)/.Cimatahu -5 (ley &05 &onoarfa A. Angka kejadian hipospadia di $SUP Prof
Dr $ D andou &anado periode januari ,..82oktober ,.),. Ejournal Uni!ersitas
Samratulangi ,.)3
)6. Speroff C5 FritK &A. %lini;al gyne;ologi; endo;rinology and infertility. 4th
edition. %alifornia: Cippin;ott Filliams R FilkinsD ,..6.
)9. 0ughes "A. Disorders of se@ de!elopment: a new definition and ;lassifi;ation.
'est Practice ( )esearch Clinical Endocrinology ( Metabolism* ,..1D,,*)+:))82
3/.
)4. 0ughes "A5 -ihoul2Fekete %5 =homas :5 %ohen2ettenis P=. %onsePuen;es of
the ESPE#CFPES guidelines for the diagnosis and treatment of disorders of se@
de!elopment. 'est Practice ( )esearch Clinical Endocrinology ( Metabolism*
,..4D,)*3+:36)296.
)1. &eyer2:ahlburg 0FC. =reatment guidelines for ;hildren with disorders of se@
de!elopment. +europsychiatrie de l,enfance et de l,adolescence* ,..1D69:3/62/8.
)8. Abdullahi abdulwahab2ahmed dan "smaila A.&ungadi .=ehniPue of male
;ir;um;isison .'.Surg.=e;h.%ase $ep .,.)3..'an2jun: 6*)+ )24
,.. S.=ekgul. Paediatri; Urology 338. Guideline on Paediatri; Urology &ar;h
,). 0ayashi .H. Prepu;e: Phimosis5 paraphimosis and ;ir;um;ision.S;ientifi;
world of journal ,.)). Feb5 3:)): ,1823.)
,,. Cearman CA. -eonatal ;ir;um;ision: a dispassionate analysis. %lini;al
(bstetri;s and Gyne;ology )888D/,:1/82168.
41