You are on page 1of 22

Perilaku menyimpang para remaja kian tahun nampaknya semakin mengalami peningkatan.

Tidak
hanya di kota-kota besar, namun juga telah merambah ke banua tercinta Kalimantan Selatan. Saat
ini keberlangsungan generasi remaja semakin terancam. Remaja sangat rentan terjangkit virus
transformasi teknologi dan informasi yang kian merajalela dalam kehidupannya, tanpa dibarengi
pengawasan dan arahan yang benar dalam penggunaannya. Fenomena sek bebas seakan menjadi
hal lumrah terjadi ketika sepasang remaja mengikat sebuah hubungan. Akibat pergaulan yang bebas
itu pula lah akhirnya berbagai dampak negatifpun menjakiti mereka mulai dari kehamilan yang tidak
diinginkan, aborsi, berbagai penyakit kelamin hingga terjadinya penyimpangan seks. Mengapa hal ini
terjadi? Dan bagaimana cara pencegahannya? Semua jawaban ini dikupas habis dalam kegiatan
Seminar Nasional Kesehatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Banjarmasin, dengan tema “ Seks Education dan Fenomena Pergaulan Remaja “.
Bertempat di Ballroom Hotel Roditha Banjarbaru, pada hari minggu (01/06) lalu. Kegiatan seminar
yang bekerjasama dengan Radar Banjarmasin dan Radar Banjar Peduli (RBP) ini menghadirkan tiga
pembicara yaitu Dr. Ryan Thamrin atau yang dikenal Dr. Oz Indonesia, Drs. Ogi Fajar Nuzuli, M. Pd.
MAP selaku Wakil Walikota Banjarbaru sekaligus Ketua Yayasan Radar Banjar Peduli, Yohandromeda
Syamsu SKM, M. Kes. Dosen Poltekkes Banjarmasin sekaligus juga Direktur Eksekutif RBP. Seminar
kesehatan yang berlangsung sekitar empat jam tersebut dibuka langsung oleh Direktur Poltekkes
Kemenkes Banjarmasin, H. Alfian Yusuf, S. Pd, SKM, M. Kes.
Menurut Bang Ogi ( sapaan akrab) yang berkesempatan menjadi pembicara pertama pada
kegiatan seminar tersebut mengatakan fenomena pergaulan remaja yang ada di Banjarbaru saat ini
kian mengkhawatirkan. Hal ini bisa dilihat dari data yang ada di Dinas Kesehatan dan juga banyaknya
pasangan remaja yang tertangkap tangan melakukan seks bebas yang tiap tahun mengalami
peningkatan yang luar biasa. Para remaja hendaknya diberikan pemahaman yang benar tentang seks
itu sendiri. Pendidikan seks tidak hanya penting bagi remaja bahkan mulai dari anak-anak pun
hendaknya mereka sudah berikan pengetahuan yang benar dengan gaya penyampaian yang
disesuaikan dengan usia mereka.
Lalu bagaimana sebenarnya pengaruh seks education itu sendiri terhadap Imunologi Reproduksi.
Hal ini lah yang dibahas pada materi kedua yang disampaikan oleh Yohan dosen Poltekkes
Banjarmasin. Dalam pemaparannya mengatakan dorongan seks itu dipengaruhi oleh suatu hormon
yang ada pada tubuh seseorang, dimana ketika hormon tersebut meningkat yang terjadi adalah
timbulnya dorongan-dorongan untuk bisa dekat dengan lawan jenisnya. Bila seseorang tersebut
gagal mengontrol hormonnya maka dia akan menjadi pribadi yang gagal sehingga terjadilah berbagai
penyimpangan seksual, pemerkosaan, kekerasan seksual terhadap wanita dan anak, gangguan
imunitas dan terserang berbagai penyakit. Mengapa hal tersebut terjadi, tidak lain karna kurangnya
komunikasi antara orang tua dan anak tentang pendidikan seks sehingga komunikasinya pun
menjadi tidak sehat.
Sementara itu moment yang telah ditunggu ratusan peserta yang terdiri dari bidan, perawat,
mahasiswa Poltekkes dan Kedokteran serta juga masyarakat umum ini akhirnya tiba yaitu hadirnya
Dr. Oz Indonesia Dr. Ryan Thamrin yang menjadi pembicara terakhir pada seminar tersebut.
Suasanapun mendadak menjadi heboh dan ramai, apalagi dalam pemaparannya Dr. Ryan Thamrin
melibatkan secara aktif para peserta seminar dalam bentuk tanya jawab. Pada sesi ini dr Ryan
Thamrin memaparkan tentang seks education, yaitu terkait akibat-akibat yang terjadi terhadap
prilaku seks bebas, mulai kehamilan di luar nikah, aborsi hingga cara penularan berbagai penyakit
kelamin terutama HIV/AIDS. (Tim RBP)
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/piala-dunia-2/412-pentingnya-sex-education-bagi-
kalangan-remaja
Makalah seks bebas sebagai bentuk kenakalan remaja
I. Pendahuluan

Masa remaja adalah masa-masa yang paling indah. Pencarian jati diri seseorang
terjadi pada masa remaja. Bahkan banyak orang mengatakan bahwa remaja adalah tulang
punggung sebuah negara. Statement demikian memanglah benar, remaja merupakan
generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menggantikan generasi-generasi
terdahulu dengan kualitas kinerja dan mental yang lebih baik. Di tangan remajalah
tergenggam arah masa depan bangsa ini.

Namun melihat kondisi remaja saat ini, harapan remaja sebagai penerus bangsa yang
menentukan kuaitas negara di masa yang akan datang sepertinya bertolak belakang
dengan kenyataan yang ada. Perilaku nakal dan menyimpang di kalangan remaja saat ini
cenderung mencapai titik kritis. Telah banyak remaja yang terjerumus ke dalam kehidupan
yang dapat merusak masa depan.

Dalam rentang waktu kurang dari satu dasawarsa terakhir, kenakalan remaja semakin
menunjukkan trend yang amat memprihatinkan. Kenakalan remaja yang diberitakan dalam
berbagai forum dan media dianggap semakin membahayakan. Berbagai macam kenakalan
remaja yang ditunjukkan akhir-akhir ini seperti perkelahian secara perorangan atau
kelompok, tawuran pelajar, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan,
penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas pranikah kasusnya semakin
menjamur.

Di antara berbagai macam kenakalan remaja, seks bebas selalu menjadi bahasan menarik
dalam berbagai tulisan selain kasus narkoba dan tawuran pelajar. Dan sepertinya seks
bebas telah menjadi trend tersendiri. Bahkan seks bebas di luar nikah yang dilakukan oleh
remaja (pelajar dan mahasiswa) bisa dikatakan bukanlah suatu kenakalan lagi, melainkan
sesuatu yang wajar dan telah menjadi kebiasaan.

Pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini memang sangatlah
memprihatinkan. Berdasarkan beberapa data, di antaranya dari Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) menyatakan sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-
kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks. Hasil
survei lain juga menyatakan, satu dari empat remaja Indonesia melakukan hubungan
seksual pranikah dan membuktikan 62,7 persen remaja kehilangan perawan saat masih
duduk di bangku SMP, dan bahkan 21,2 persen di antaranya berbuat ekstrim, yakni pernah
melakukan aborsi.

Aborsi dilakukan sebagai jalan keluar dari akibat dari perilaku seks bebas. Bahkan penelitian
LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara) Bandung antara tahun 2000-2002,
remaja yang melakukan seks pra nikah, 72,9% hamil, dan 91,5% di antaranya mengaku
telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Data ini didukung beberapa hasil penelitian
bahwa terdapat 98% mahasiswi Yogyakarta yang melakukan seks pra nikah mengaku
pernah melakukan aborsi. Secara kumulatif, aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3
juta kasus per tahun. Setengah dari jumlah itu dilakukan oleh wanita yang belum menikah,
sekitar 10-30% adalah para remaja. Artinya, ada 230 ribu sampai 575 ribu remaja putri yang
diperkirakan melakukan aborsi setiap tahunnya. Sumber lain juga menyebutkankan, tiap hari
100 remaja melakukan aborsi dan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada
remaja meningkat antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahun.

Selain itu survei yang dilakukan BKKBN pada akhir 2008 menyatakan, 63 persen remaja di
beberapa kota besar di Indonesia melakukan seks pranikah. Dan, para pelaku seks dini itu
menyakini, berhubungan seksual satu kali tidak menyebabkan kehamilan.
Sumber lain juga menyebutkan tidak kurang dari 900 ribu remaja yang pernah aborsi akibat
seks bebas (Jawa Pos, 28-5-2001). Dan di Jawa Timur, remaja yang melakukan aborsi
tercatat 60% dari total kasus (Jawa Pos, 9-4-2005).

II. Tinjauan Pustaka

Istilah “Remaja” berasal dari bahasa latin “Adolescere” yang berarti remaja. Jhon Pieget,
(dalam Lapu,2010) mengungkapkan; secara psikologi masa remaja adalah usia saat
individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa dibawah
tingkat orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkat yang sama

Lapu (2010) juga menuliskan bahwa masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari
masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik,
psikis & psikososial.

Masa remaja memanglah masa-masa yang paling indah. Karena pencarian jati diri
seseorang terjadi pada masa remaja. Namun, di masa remaja seseorang dapat
terjerumus ke dalam kehidupan yang dapat merusak masa depan. Hal itu dapat terjadi
apabila remaja melakukan hal-hal menyimpang yang biasa disebut dengan kenakalan
remaja.
Menurut para ahli, salah satunya adalah Kartono seorang ilmuan sosiologi, (dalam Lapu,
2010) mengemukakan pendapatnya bahwa kenakalan remaja atau dalam bahasa Inggris
dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja
yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan
bentuk perilaku yang menyimpang.

Anonim, (2010) menyebutkan kenakalan remaja meliputi semua prilaku yang menyimpang
dari norma-norma hukum pidana yang dialukukan oleh remaja. Prilaku tersebut akan
merugikan dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya. Sedangkan Daryanto (1997)
menyebutkan kenakalan dengan kata dasar nakal adalah suka berbuat tidak baik, suka
mengganggu, dan suka tidak menurut, sedangkan kenakalan adalah perbuatan nakal,
perbuatan tidak baik dan bersifat mengganggu ketenangan orang lain ; tingkah laku yang
melanggar norma kehidupan masyarakat.

Dalam tulisan-tulisan lain, kenakalan remaja diartikan sebagai suatu outcome dari suatu
proses yang menunjukkan penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran terhadap norma-
norma yang ada. Kenakalan remaja disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor pribadi,
faktor keluarga yang merupakan lingkungan utama (Willis, 1994), maupun faktor lingkungan
sekitar yang secara potensial dapat membentuk perilaku seorang anak. (Mulyono, 1995).

Berbagai macam faktor yang berpengaruh pada kenakalan remaja, yaitu faktor keluarga
(seperti kedekatan hubungan orang tua–anak, gaya pengasuhan orang tua, pola disiplin
orang tua, serta pola komunikasi dalam keluarga) dan faktor lain di luar keluarga (seperti
hubungan dengan kelompok bermain atau „peer group‟, ketersediaan berbagai sarana
seperti gedung bioskop, diskotik, tempat-tempat hiburan, televisi, VCD, internet, akses
kepada obat-obat terlarang dan buku-buku porno serta minuman beralkohol).
(Gunarsa,1995).

Dari berbagai bentuk kenakalan yang dilakukan oleh remaja, seks bebas selalu menjadi
bahasan menarik dalam berbagai tuisan selain kasus narkoba dan tawuran pelajar.
Seks bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan
dalam bentuk tingkah laku. Faktor penyebab remaja melakukan seks bebas, diantaranya
adalah menonton film porno, pengaruh pergaulan bebas, penyaluran hasrat seksual, dan
kurangnya peran dan perhatian orang tua kepada anaknya. (Anonim, 2010)

Anonim (2009) juga menyatakan bahwa seks bebas adalah hubungan seksual yang
dilakukan diluar ikatan pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.
Perilaku seksual diluar nikah terjadi sebagai akibat masuknya kebudayaan barat. Perilaku
seksual di luar nikah sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai sosial
pada masyarakat Indonesia. Masuknya paham Children Of God (COG) sangat bertentangan
dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pada dasarnya COG adalah Free Sex (seks
bebas) merupakan kebebasan hubungan seksual di luar nikah.

Berbagai tulisan tentang seks bebas, salah satunya Saptono (2006) menuliskan data dari
beberapa sumber dan penelitian, di antaranya didapatkan data dari Walikota Bengkulu,
yang menyebutkan hanya 35% siswi SMA didaerahnya yang masih perawan dan data yang
lebih menohok dari Yogyakarta, hasil penelitian Iip Wijayanto menyebutkan, 97% mahasiswi
pernah melakukan hubungan seks pranikah.

III. Pembahasan

Remaja dengan segala perubahan dan fakta-fakta remaja lainnya memang selalu menarik
untuk dibahas. Masa remaja adalah masa yang paling berseri, karena di masa remaja terjadi
proses pencarian jati diri. Ini bertentangan dengan persepsi umum yang mengatakan bahwa
remaja merupakan kelompok yang biasanya tidak berada dengan kelompok manusia yang
lain, ada yang berpendapat bahwa remaja adalah kelompok orang-orang yang sering
menyusahkan orang tua. Karena sebenarnya remaja merupakan kelompok manusia yang
penuh dengan potensi berdasarakan catatan sejarah remaja Indonesia yang penuh vitalitas,
semangat patriotisme yang menjadi harapan penerus bangsa

Kita juga tidak boleh lupa bahwa masa remaja adalah masa yang penuh gejolak, masa yang
penuh dengan berbagai pengenalan dan petualangan akan hal-hal yang baru sebagai bekal
untuk mengisi kehidupan mereka kelak. Di saat remajalah proses menjadi manusia dewasa
berlangsung. Pengalaman manis, pahit, sedih, gembira, lucu bahkan menyakitkan mungkin
akan dialami dalam rangka mencari jati diri. Sayangnya, banyak diantara mereka yang tidak
sadar bahwa beberapa pengalaman yang tampaknya menyenangkan justru dapat
menjerumuskan.

Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal-hal yang negatif dalam rangka
penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah
maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Rasa ingin tahu dari para remaja kadang-
kadang kurang disertai pertimbangan rasional akan akibat lanjut dari suatu perbuatan. Dan
disanalah para remaja banyak yang terjebak dalam beberapa perilaku menyimpang yang
lazim disebut dengan kenakalan remaja.

Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku
menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat
penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma
sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena
dapat membahayakan tegaknya sistem sosial.

Perilaku menyimpang dikalangan remaja atau yang biasa desebut dengan kenakalan remaja
bentuknya bermacam-macam seperti perkelahian secara perorangan atau kelompok,
tawuran pelajar, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan,
penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas pranikah. Bentuk-bentuk kenakalan yang
demikian biasa disebut juga dengan pergaulan bebas.

Perilaku yang penuh dengan kebebasan seringkali mengarah pada kenakalan yang sangat
mencemaskan Sangat menyedihkan saat perilaku ini mengakibatkan tingginya jumlah
penyimpangan dikalangan remaja. Penyimpangan-penyimpangan yang kasusnya makin
marak dan menarik untuk dibahas adalah pergaulan bebas atau lebih spesifiknya disebut
seks bebas.

Dari tahun ke tahun kasus seks bebas di negeri ini makin banyak saja jumlahnya, dan tak
dapat dipungkiri bahwa sebagian pelakunya adalah remaja (pelajar dan mahasiswa). Di
berbagai media pemberitaan baik media massa ataupun media elektronik, yang namanya
kasus seks bebas selalu saja muncul. Inilah indikasi bahwa seks bebas kasusnya makin
marak.

Seperti banyak orang bilang bahwa masa remaja merupakan masa yang rentan, seorang
anak dalam menghadapi gejolak biologisnya. Apalagi ditunjang dengan era globalisasi dan
era informasi yang sedemikian rupa menyebabkan remaja sekarang terpancing untuk coba-
coba mempraktekkan apa yang dilihatnya. Terlebih bila apa yang dilihatnya merupakan
informasi tentang indahnya seks bebas yang bisa membawa dampak pada remaja itu
sendiri. Nah dari sinilah kasus seks bebas di negeri ini semakin hari semakin meningkat. Di
tambah lagi kasus video mesum tiga artis belakangan ini, yang tentunya semakin
mengingatkan kita akan betapa tingginya aktivitas seks bebas ini terjadi di Negara kita.

Kita sebagai generasi penerus bangsa ini seharusnya malu melihat negara kita yang dikenal
dunia dengan populasi mayoritas muslim terbesar, tetapi menjadi konsumen industri
pornografi dan pornoaksi nomor dua setelah Rusia. Tak hanya itu akses masyarakat
Indonesia terhadap nama-nama sex-idol (bintang porno) seperti Pamela Anderson dari
Amerika Serikat atau Maria Ozawa alias Miyabi dari Jepang, terekam oleh google trends
menempati peringkat 1 di dunia selama 3 tahun berturut-turut sampai tahun ini.

Lebih parahnya tentang seks bebas, beberapa penelitian menunjukkan bahwa tujuh dari dari
sepuluh perempuan telah melakukan hubungan seksual sebelum berumur 20 tahun.
Sementara satu dari enam pelajar perempuan aktif bergaul seks bebas. Paling sedikit
mereka berganti pasangan dengan empat laki-laki yang berbeda-beda. Kenyataan tersebut
menunjukkan betapa ironisnya kondisi remaja kita saat ini.

Selain beberapa data jumlah kasus seks bebas yang telah dituliskan di pendahuluan, pakar
seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha mengungkapkan, dari
tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat, dari
sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000.
Didukung juga hasil berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti
Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di Palu, pada tahun 2000 lalu tercatat
remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen., sementara
penelitian pada tahun 1999 lalu terhadap pasien yang datang ke klinik pasutri, tercatat
sekitar 18 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah.

Seperti dikutip dari harian Republika yang memuat hasil survei Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI) yang dilakukan pada 2003 di lima kota, di antaranya Surabaya,
Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta menyatakan bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia
13-15 tahun mengaku telah berhubungan seks dengan pacar mereka. Ironisnya, hubungan
seks itu dilakukan di rumah sendiri, rumah tempat mereka berlindung dan sebagian besar
mereka menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas, sebanyak 12 persen
menggunakan metode coitus interuptus (mengeluarkan sperma di luar organ intim wanita).

Meningkatnya jumlah kasus seks bebas menyebabkan makin tingginya jumlah kehamilan
yang tidak diinginkan (KTD). Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja
menunjukkan kecenderungan meningkat antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap
tahun. Bahkan beberapa survei yang dilakukan pada sembilan kota besar di Indonesia
menunjukkan, KTD mencapai 37.000 kasus, 27 persen di antaranya terjadi dalam
lingkungan pranikah dan 12,5 persen adalah pelajar.

Tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), apalagi bagi kehamilan pranikah di
kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini. Kasus aborsi
remaja di Indonesia ternyata sangat mencengangkan. Angkanya melaju sangat cepat
bahkan melebihi jumlah aborsi di negara negara maju sekalipun. Jumlah kasus aborsi di
Indonesia setiap tahun mencapai 2,3 juta, 30 persen di antaranya dilakukan oleh para
remaja.

Selain menimbulkan hal-hal berbahaya yang tidak diinginkan karena kasus aborsi, seks
bebas juga akan menyebabkan penyakit menular seksual, seperti sipilis, GO (ghonorhoe),
hingga HIV/AIDS, serta meningkatkan resiko kanker mulut rahim untuk wanita. Bahkan jika
hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut
bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.

Kasus AIDS sejak 2007 tedapat 2.947 kasus dan periode Juni 2009 meningkat hingga
delapan kali lipat, menjadi 17.699 kasus. Dari jumlah tersebut, yang meninggal dunia
mencapai 3.586 orang. Bahkan diestimasikan, di Indonesia tahun 2014 akan terdapat
501.400 kasus HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS sudah terdapat di 32 provinsi dan 300
kabupaten/kota. Penderita ditemukan terbanyak pada usia produktif, yaitu 15-29 tahun (usia
remaja masuk di dalamnya).

Uraian tentang kasus seks bebas dan makin banyaknya kehamilan yang tidak diinginkan
(KTD), serta kasus aborsi dan HIV/AIDS di kalangan remaja Indonesia memanglah suatu
fenomena yang sangat memprihatinkan. Aktivitas seks bebas yang makin marak tersebut
masihkah bisa disebut sebagai penyimpangan perilaku atau kenakalan remaja ? ataukah
mengindikasikan bahwa seks bebas sudah menjadi kebiasaan atau gaya hidup ?. Adakah
ini pertanda titik balik budaya kontemporer yang bakal kembali ke zaman jahiliyah yang
primitif dan gelap seperti dulu ? Marilah kita berkaca pada sejarah.

Dilihat dari literatur sejarah, perilaku seks bebas sudah pernah menjadi tradisi dalam
masyarakat zaman jahiliyah dulu. Zaman di mana kondisi masyarakat Arab pra-Islam yang
sangat tenggelam dalam “tanah lumpur” kebodohan dan keterbelakangan. Masyarakat
senang pertikaian dan pembunuhan, kekejaman dan suka mengubur anak perempuan.
Potret sosial mereka begitu gelap, amat primitif dan jauh dari peradaban.

Pada zaman itulah berlaku tradisi perkawinan model seks bebas. Seperti diriwayatkan Imam
Bukhori dalam sebuah hadist yang diceritakan melalui istri Nabi, Aisyah ra, bahwa pada
zaman jahiliyah dikenal 4 cara pernikahan. Pertama, gonta-ganti pasangan. Seorang suami
memerintahkan istrinya jika telah suci dari haid untuk berhubungan badan dengan pria lain.
Bila istrinya telah hamil, ia kembali lagi untuk digauli suaminya. Ini dilakukan guna
mendapatkan keturunan yang baik.

Kedua, model keroyokan. Sekelompok lelaki, kurang dari 10 orang, semuanya menggauli
seorang wanita. Bila telah hamil kemudian melahirkan, ia memanggil seluruh anggota
kelompok tersebut tidak seorangpun boleh absen. Kemudian ia menunjuk salah seorang
yang dikehendakinya untuk di nisbahkan sebagai bapak dari anak itu, dan yang
bersangkutan tidak boleh mengelak. Ketiga, hubungan seks yang dilakukan oleh wanita
tunasusila yang memasang bendera/tanda di pintu-pintu rumah. Dia “bercampur” dengan
siapapun yang disukai. Keempat, ada juga model perkawinan sebagaimana berlaku
sekarang. Dimulai dengan pinangan kepada orang tua/wali, membayar mahar, dan menikah.

Jika menyimak 3 model pertama dalam perkawinan masyarakat zaman jahiliyah di atas, ada
kesamaan budaya dengan perilaku seks bebas, prostitusi dan hamil di luar nikah yang kian
marak di zaman sekarang. Namun, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa seks bebas
adalah budaya remaja atau kaum muda kita. Karena munculnya kasus-kasus seks bebas
bukanlah karena kebodohan pelakunya seperti pada zaman jahiliyah dahulu.

Secara garis besar, penyebab maraknya seks bebas sekarang ini antara lain; kurangnya
kasih sayang orang tua yang akan menyebabkan anak/remaja mencari kesenangan di luar
dan mereka akan bergaul bebas dengan siapa saja yang mereka inginkan dan terkadang
mereka mencari teman yang tidak sebaya yang memungkinkan mereka akan terpengaruh
dangan apa yang dilakukan orang dewasa.

Selain itu peran dari perkembangan teknologi yang memberikan efek positif dan negatif tidak
dapat dipungkiri bahwa setiap individu dari kita merasa senang dengan kehadiran produk
atau layanan yang lebih canggih dan praktis. Tidak terkecuali teknologi internet yang telah
merobohkan batas dunia dan media televisi yang menyajikan hiburan, informasi serta berita
aktual. Di era kehidupan dengan sistem komunikasi global, dengan kemudahan mengakses
informasi baik melalui media cetak, TV, internet, komik, media ponsel, dan DVD bajakan
yang berkeliaran di masyarakat, tentunya memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan
kita, namun perkembangan iptek yang sangat baik dan penting bagi perkembangan ilmu
pengetehuan dan informasi para remaja, namun saat ini remaja justru salah
mempergunakan kecanggihan teknologi tersebut, dan mereka menyelewengkan fungsi
teknologi yang sebenarnya. Bahkan tayangan televisi, media-media berbau porno( bahkan
VCD dan DVD porno yang begitu mudah diperoleh hanya dengan Rp 5.000), semakin
mendekatkan para remaja itu melakukan hubungan seks di luar nikah.

Semua media informasi tersebut menyerbu anak-anak dan dikemas sedemikian rupa
sehingga perbuatan seks itu dianggap lumrah dan menyenangkan. Mulai dari berciuman,
berhubungan seks sebelum nikah, menjual keperawanan, gonta-ganti pasangan, seks
bareng, homo atau lesbi, semuanya tersedia dalam berbagai media informasi.

Dasar-dasar agama yang kurang juga menjadi pendorong terhadap maraknya kasus seks
bebas. Hal ini terkadang tidak terlalu diperhatikan oleh orang tua yang sibuk dengan segala
usaha dan kegiatan mereka dan juga oleh pihak sekolah terkadang kurang memperhatikan
hal ini, karena jika remaja tidak mendapat pendidikan agama yang baik mereka akan jauh
dari Tuhan dan pasti tingkah laku mereka akan sembarangan. Selain itu, tidak adanya
media penyalur bakat dan hobi remaja juga menjadi faktor maraknya kasus seks bebas.

Lain dari hal di atas, seks bebas juga terjadi karena pola pikir yang dangkal dan punya
konsep diri rendah di kalangan remaja, seperti; tidak bisa mengatakan ”TIDAK” terhadap
seks bebas (merasa takut diputus hubungan oleh pacarnya/dijadikan alasan sebagai
pembuktian cinta/pacar sudah membujuk rayu sedemikian rupa, sampai akhirnya tidak bisa
menolak). Bahkan ada yang beranggapan dengan pernah melakukan seks, dianggap „Gaul‟.
Nah, akhirnya ada beberapa orang malah sudah menjalaninya sebagai gaya hidup. Sudah
biasa saja.

Maka dari itu diperlukan upaya penanggulangan dari segala pihak dengan langkah upaya
meningkatkan akses remaja terhadap informasi yang benar dengan merangkul berbagai
kalangan, termasuk media massa. Karena seks bebas di kalangan remaja merupakan
tanggung jawab kita bersama. Mereka adalah asset yang harus kita bina mental dan
moralitasnya. Budaya seks bebas dan gaya hidup nyeleweng akibat adanya westernisasi
harus kita kikis bersama.

Salah satu upaya untuk menanggulangi maraknya seks bebas di kalangan remaja,
(khususnya penghuni kos yang biasa jadi tempat ”beraksi” pelajar dan mahasiswa) selain
perlu dilakukan pengawasan yang ketat dan intensif dari pemilik kos secara proporsional,
juga meningkatkan kesadaran dari orang tua untuk memilihkan tempat kos bagi anak-
anaknya yang layak dan aman. Selain itu, tentu membekali putra-putri remaja dengan
benteng ajaran agama yang kokoh , karena sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk
tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam
kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya.

Dan hal yang tak kalah penting adalah pembekalan tentang seks kepada remaja sedini
mungkin, agar para remaja memiliki pengetahuan yang benar dan akurat mengenai
kesehatan, seksualitas dan aspek-aspek kehidupannya, sehingga tak menjadi salah arah
dalam membuat keputusan dalam hidupnya.

Bertolak dari fenomena yang memprihatinkan tentang seks bebas di kalangan remaja,
penulis yakin dan optimis, masih banyak remaja yang mempunyai sikap dan prinsip yang
kuat. Masiah banyak generasi-generasi emas yang dapat melanjutkan eksistensi dan
membangun negeri ini. Masih banyak remaja yang yang tidak tenggelam dalam pusaran
budaya seks bebas. Oleh karenanya kuatkan hati dan mental terhadap godaan seks bebas
dengan rumus ini : PACARAN + CINTA = PERNIKAHAN, baru kemudian SEKS.

IV. Kesimpulan

Masa remaja adalah masa-masa yang paling indah. Pencarian jati diri seseorang
terjadi pada masa remaja. Bahkan banyak orang mengatakan bahwa remaja adalah tulang
punggung sebuah negara. Statement demikian memanglah benar, remaja merupakan
generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menggantikan generasi-generasi
terdahulu dengan kualitas kinerja dan mental yang lebih baik. Di tangan remajalah
tergenggam arah masa depan bangsa ini.

Masa remaja memanglah masa-masa yang paling indah. Karena pencarian jati diri
seseorang terjadi pada masa remaja. Namun, di masa remaja seseorang dapat
terjerumus ke dalam kehidupan yang dapat merusak masa depan. Hal itu dapat terjadi
apabila remaja melakukan hal-hal menyimpang yang biasa disebut dengan kenakalan
remaja.
Dari berbagai bentuk kenakalan yang dilakukan oleh remaja, seks bebas selalu menjadi
bahasan menarik dalam berbagai tuisan selain kasus narkoba dan tawuran pelajar. Seks
bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam
bentuk tingkah laku.

Meningkatnya jumlah kasus seks bebas menyebabkan makin tingginya jumlah kehamilan
yang tidak diinginkan (KTD). Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja
menunjukkan kecenderungan meningkat antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap
tahun. Bahkan beberapa survei yang dilakukan pada sembilan kota besar di Indonesia
menunjukkan, KTD mencapai 37.000 kasus, 27 persen di antaranya terjadi dalam
lingkungan pranikah dan 12,5 persen adalah pelajar.

Faktor penyebab remaja melakukan seks bebas, diantaranya adalah menonton film porno,
pengaruh pergaulan bebas, dan kurangnya peran dan perhatian orang tua kepada anaknya,
kurangnya dasar ilmu agama, dan pola pikir yang dangkal.

Salah satu upaya untuk menanggulangi maraknya seks bebas di kalangan remaja,
(khususnya penghuni kos yang biasa jadi tempat ”beraksi” pelajar dan mahasiswa) selain
perlu dilakukan pengawasan yang ketat dan intensif dari pemilik kos secara proporsional,
juga meningkatkan kesadaran dari orang tua untuk memilihkan tempat kos bagi anak-
anaknya yang layak dan aman. Selain itu, tentu membekali putra-putri remaja dengan
benteng ajaran agama yang kokoh.

Daftar Pustaka

Anonim.2010.”Pengertian Kenakalan Remaja”.[online].http://matheduunila. blogspot.com
/2009/10/pengertian-kenakalan-remaja.html. (diakses pada tanggal 26 Juni 2010).
Anonim.2010.”Seks Bebas”. [online].http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/seks-
bebas-2/.(diakses pada tanggal 10 Juli 2010).
Daryanto. 1997.Kamus Bahasa indonesia Lengkap.Surabaya:Apollo.
Gunarsa, S.D., & Gunarsa, Y.1995.Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan
Keluarga.Jakarta:PT BPK Gunung Mulia.
Lapu, Yuven Merdiaris,2010.”Kenakalan Remaja”.[online]
http://sabdaspace.com/kenakalan_remaja. (diaksespada tanggal 26 Juni 2010).
Mulyono, B.1995. Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan
Penanggulangannya.Yogyakarta:Kanisius.
Puspitawati, Herien.2000.”Perilaku Kenakalan Remaja Pengaruh Lingkungan Keluarga
dan/atau Lingkungan Teman?”.[online]. http://rudyct.com/PPS702-ipb/01101/HERIEN.htm.
(diakses pada tanggal 26 Juni 2010).
Saptono. 2006. ”Perilaku Seks Bebas Di Kalangan Remaja dan Orang (Dewasa)Sudah
Berkeluarga (Sebuah Kajian tentang Pperilaku dan Kebutuhan)”.[online].
http://www.scribd.com/doc/13753330/Free-Sex. (diaksespada tanggal 26 Juni 2010).
Willis, S. 1994. Problema Remaja dan Pemecahannya. Bandung:Penerbit Angkasa.
Posted by Admin at 4:09 PM
Labels: Makalah Sosial, Makalah Sosiologi



Analisis Perilaku Sex Bebas

ABSTRAK

Akhir-akhir ini kenakalan remaja semakin menunjukkan trend yang amat
memprihatinkan. Kenakalan remaja yang diberitakan dalam berbagai forum dan media
dianggap semakin membahayakan. Berbagai macam kenakalan remaja yang ditunjukkan
akhir-akhir ini seperti perkelahian secara perorangan atau kelompok, tawuran pelajar, mabuk-
mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, dan
seks bebas pranikah kasusnya semakin menjamur.
Di antara berbagai macam kenakalan remaja, seks bebas selalu menjadi bahasan
menarik dalam berbagai tulisan selain kasus narkoba dan tawuran pelajar. Dan sepertinya
seks bebas telah menjadi trend tersendiri. Bahkan seks bebas di luar nikah yang dilakukan
oleh remaja (pelajar dan mahasiswa) bisa dikatakan bukanlah suatu kenakalan lagi,
melainkan sesuatu yang wajar dan telah menjadi kebiasaan.
Pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini memang sangatlah
memprihatinkan. Khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Depok, jambi dan
Banjarmasin. Di kota Depok bergulir kasus siswi SD yang melakukan hubungan intim
dengan kekasihnya seorang pemuda berusia 21 tahun. Menurut data Unit Perlindungan
Perempuan dan Anak (PPA) Polres Depok, rata-rata terdapat 10 kasus persetubuhan remaja
di bawah umur setiap bulan. Bahkan jumlah itu terus meningkat, dimana pihak perempuan
masih berusia 12 hingga 17 tahun, sementara pihak pria berumur sama atau bahkan sudah
usia dewasa. Menurut Kapolres Depok bahwa sex bebas yang terjadi rata-rata perbulan 10
kasus dan itu karena pergaulan bebas.
Di kota Jambi berdasarkan data dari Yayasan Sentra Informasi dan Komunikasi Orang
Kito (SIKOK), dalam dua tahun terakhir (2010-2012), sebanyak 164 remaja (berstatus
pelajar) diketahui hamil di luar nikah. Data per Juni 2012, jumlah pengidap HIV usia remaja
(15-24 tahun) mencapai angka 103 orang. Sedangkan pengidap AIDS mencapai 45 orang.
Sedangkan di kota Banjarmasin Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin,
tercatat ada 148 kasus seks pranikah selama tahun 2011. Yang lebih parah lagi, mayoritas
dari kasus tersebut ternyata dialami siswi SMP.

ANALISIS KASUS
A. Analisis Kasus Berdasarkan Aliran Behaviorisme (Skiner)
Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi
dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah
sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang
diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan
saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang
dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-
konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh
karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan
antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin
dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut.
Menurut Skinner individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah
lakunya melalui belajar,individu bukanlah agen penyebab tingkah laku melainkan suatu point
antara faktor – faktor lingkungandan bawaan yang khas serta secra bersama- sama
menghasilkan akibat tingkah laku yang khas pula pada individu tersebut.
Menurut Pendekatan Behaviorisme kasus sex bebas diatas merujuk pada teori
perubahan prilaku (belajar) dimana para pelaku sex bebas adalah bagian dari produk
lingkungan, sehingga segala perilaku para pelaku sex bebas sebagian besar diakibatkan oleh
pengaruh lingkungan sekitarnya, baik itu dari keluarga terdekat, organisasinya, dan aktifitas
bermasyarakatnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian diri. Menurut aliran ini
bahwa perilaku manusia itu adalah sebagai akibat berinteraksi dengan lingkungan, dan pola
interaksi tersebut harus bisa diamati dari luar. Lingkungan disini banyak sekali bentuknya,
yaitu antara lain teman sekolah, teman bermain, masyarakat disekitarnya, media cetak atupun
elektronik dan keluarga. Jika semua macam lingkungan yang tadi itu di dalamnya sudah
terdapat hal-hal negative seperti gambar bulgar, video porno, pornoaksi dan pornografi, maka
besar kemungkinan khususnya remaja yang melihat semua itu akan dilampiaskan pada hal
negative pula yaitu seperti sex bebas ini. Belajar dalam teori behaviorisme ini selanjutnya
dikatakan sebagai hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dengan respons
yang ditampilkan oleh para pelaku. Respons tertentu akan muncul dari remaja pelaku sex
bebas, jika diberi stimulus dari luar.
Pada umumnya teori belajar yang termasuk ke dalam keluarga besar behaviorisme
memandang manusia sebagai organisme yang netral-pasif-reaktif terhadap stimuli di sekitar
lingkungannya, sehingga jika para remaja sudah terbiasa diberikan atau mendapatkan stimuli
yang negative (seperti pornoaksi dan pornografi) maka mereka juga akan terdorong untuk
memberikan respon terhadap stimuli yang diterimanya. Demikian juga jika stimulus
dilakukan atau dating diterimanya secara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama,
maka akan berakibat berubahnya perilaku remaja tadi itu, dimana perilaku para remaja
mengarah pada penyimpangan (deviasi) seksual pada orang lawan jenisnya.
Dalam terjadinya proses belajar dalam pola hubungan slimulus-respon ini selalu
membutuhkan unsur dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respons, dan penguatan
(reinforcement). Unsur yang pertama, dorongan, adalah suatu keinginan dalam diri seseorang
untuk memenuhi kebutuhan yang sedang dirasakannya. Dalam kasus ini ketika para pelaku
sudah memasuki usia remaja, yaitu usia SMP hingga mahasiswa, dimana di usia itu remaja
mengalami yang namanya masa pubertas. Masa pubertas adalah masa dimana para remaja
mengalami peningkatan dorongan sex yang sangat kuat. Diketika masa pubertas ini para
remaja akan mempunyai kebutuhan keinginan untuk mencari kepuasan dari apa yang
dirasakan. Sehingga salah satu cara untuk memenuhi itu adalah dengan cara melakukan sex
bebas di luar nikah dengan lawan jenisnya, bisa itu pacarnya atau teman dan sahabatnya yang
sudah suka sama suka, bahkan lebih parahnya lagi sampai terjadi pemaksaan yaitu
pemerkosaan. Mereka tidak berpikir kalau perbuatannya melanggar hokum atau tidak yang
penting baginya kenyaman dan kepuasan yang dirasakan.
Unsur berikutnya adalah rangsangan atau stimulus. Unsur ini datang dari luar diri
remaja, dan tentu saja berbeda dengan dorongan tadi yang datangnya dari dalam. Stimulus
datang dari luar , yaitu seperti yang telah dijelaskan di atas tadi. Stimulus dari luar inilah yang
paling besar pengaruhnya terhadap perilaku sex bebas para remaja. Kemungkinan besar
mereka para remaja pelaku sex bebas sering berinteraksi dengan lingkungan yang di
dalamnya ada unsur-unsur sexnya juga. Misalnya, teman-temannya yang sudah terbiasa
dengan sex bebas juga, keseringan nonton film atau sinetron yang ada adegan sexnya, dan
juga keseringan melihat foto-foto bugil yang ada di majalah atau media cetak lainnya.
Sehingga jika keadaan seperti itu tidak dibarengi dengan iman dan kesadaran maka dorongan
untuk melakukan sex bebas di luar nikah akan sering terjadi.
Inti dari pandangan behaviorisme Skiner, bahwa perilaku sex bebas di kalangan remaja
terjadi karena akibat dari proses belajar yaitu lingkungan. Dimana para remaja sering
berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia lingkungan yang negative yang bisa
membawanya pada hal negative pula, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Sebab
dalam kehidupan ini yang paling besar dan kuat pengaruhnya bagi perubahan perilaku adalah
lingkungan.



B. Analisis Kasus Berdasarkan Aliran Psikoanalisa (Sigmund Freud)
Menurut Sigmund FreudTeori Psikoanalisa adalah sebuah teori mengenai 3 proses
tahapan psikis yang ada di diri manusia,yaitu terdiri dari ID, Ego dan Super Ego. Urutan dari
ketiga proses ini tentu tidak dapat diubah karena teori ini adalah suatu yang runtut. Pertama,
di mulai dari tahapan ID. Dimana di dalam ID seorang manusia hanya berisi kumpulan nafsu-
nafsu atau hasrat yang besar, seperti halnya seseorang yang selalu ingin dan ingin berbuat
sex. Kedua, tahapan yang selanjutnya adalah Ego. Ego disini bukan di artikan sempit seperti
yang mengakar di masyarakat yang memiliki arti ke- aku- an diri. Tetapi Ego disini di artikan
sebagai suatu “kesadaran”. Tahapan terakhir adalah Super Ego. Super Ego disini sangat
memiliki andil atau peran yang sangat luar biasa. Superego adalah yang memegang keadilan
atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk,
boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang
sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.
Pada pendekatan Psikoanalisa manusia itu tidak bebas dalam berprilaku, manusia dapat
diramalkan, penyebabnya adalah setiap orang mempunyai pola tertentu, yaitu keseimbangan
pola tingkah laku antara id dan super ego yang kemudian direalisasikan dalam ego.
Psikoanalisa juga berangggapan bahwa para remaja berprilaku berdasarkan dorongan-
dorongan yang ada dalam dirinya, manusia juga berkaitan erat dengan ketidaksadaran dan
kesadaran. Pada masa remaja biasanya dorongan untuk kebutuhan sex sangatlah kuat. Dan
superego ini dibentuk semenjak dari kecil yaitu berdasarkan didikan dari orang tua. Sehingga
jika superego yang ada pada remaja sangat minim maka pastinya dorongan Id itu akan lebih
mendominasi, dan disinilah biasanya akan muncul perilaku negative seperti sex bebas. Nah
pada kasus ini kemungkinan para remaja pelaku sex bebas itu sangat kekurangan dalam
mengetahui dan menyadari nilai-nilai kebenaran dalam masyarakat. Hal ini disebabkan
karena kurangnya pendidikan dari keluarga atau lingkungan lainnya mengenai sex itu sendiri
dan juga nilai-nilai kebenaran lainnya.
Semua kebutuhan instingtif para remaja itu tertanam dan selalu ada dalam struktur
ketidaksadaran (kenyataan psikis yang sebenarnya). Insting adalah perwujutan psikologis dari
suatu sumber rangsangan somatic dalam yang dibawa sejak lahir dan pengalaman-
pengalamnya selama hidup. Kebutuhan instintif para remaja adalah sebagai motif atau
penggerak tingkah laku para remaja yang nantinya menentukan tingkah laku para remaja
dalam usaha memenuhi kebutuhan instingtifnya tersebut.
Kebutuhan seksual atau libido (insting hidup) terdapat dalam ketidaksadaran para
remaja yang dibawa semenjak lahir. Insting inilah yang akan terus mendorong para remaja
untuk memenuhi kebutuhan sexnya. Sehingga dengan begitu mereka akan berusaha mencari
segala cara supaya apa yang diinginkan bisa terpenuhi, dan satu-satunya cara yang paling
memuaskan baginya hanyalah dengan melakukan sex bebas. Namun sebenarnya mereka para
remaja itu mengetahui bahwa apa yang dilakaukan adalah hal yang tidak normal, tapi itu
tidak menjadi masalah baginya sebab pengetahuan atau kesadaran itu telah dikalahkan
dengan kuatnya hawa nafsu yang ada.
Jadi intinya, menurut pandangan psikoanalisa Sigmund Freud perilaku sex bebas terjadi
karena tidak adanya keseimbangan antara Id, ego, dan superego yang ada pada diri remaja.
Dimana Id atau hasrat hawa nafsulah yang paling mendominasi, sedangkan superego yang
seharusnya mengimbangi ternyata sangat minim sekali. Minimnya superego disini karena
akibat semenjak kecil yang tidak dibiasakan dengan penanaman nilai-nilai kebenaran dalam
lingkungan masyarakat.

LAMPIRAN

Seks Bebas Remaja di Depok Meningkat
Marieska Harya Virdhani - Okezone
Kamis, 24 Mei 2012 19:03 wib wib

Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
DEPOK - Jargon Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail untuk menjadikan Depok “Kota
Layak Anak” tampaknya harus dikaji ulang. Sebab, justru kasus seks bebas di kalangan
remaja mengalami peningkatan.
Baru-baru ini, bergulir kasus siswi SD yang melakukan hubungan intim dengan kekasihnya
seorang pemuda berusia 21 tahun. Menurut data Unit Perlindungan Perempuan dan Anak
(PPA) Polres Depok, rata-rata terdapat 10 kasus persetubuhan remaja di bawah umur setiap
bulan
Bahkan jumlah itu terus meningkat, dimana pihak perempuan masih berusia 12 hingga 17
tahun, sementara pihak pria berumur sama atau bahkan sudah usia dewasa.
Kasubnit PPA Polres Depok Aiptu Handayani mengatakan bahwa data kejahatan asusila,
yang dilakukan anak-anak di bawah umur, paling banyak dibandingkan angka kejahatan
lainnya, yang juga dilakukan anak-anak.
Dari kasus yang ada, banyak pula yang menuju persidangan, namun ada juga yang
diselesaikan secara kekeluargaan.
"Kadang-kadang sehari ada dua kasus. Rata-rata 10 kasus per bulan termasuk di tingkat
Polsek. Rata-rata karena pergaulan bebas, usianya SMP bahkan ada yang SD, umumnya
memang suka sama suka," ungkapnya kepada wartawan di Polres Depok, Kamis (24/5/2012).
Handayani mengklaim, dalam kurun waktu tiga bulan trennya juga meningkat. Tak ada unsur
kekerasan, modusnya hanya bujuk rayu dan janji rasa sayang yang diberikan oleh pria.
Terpisah, Kapolres Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni meminta agar masyarakat tak hanya
melihat proses akhirnya. Namun ini semua merupakan proses pembelajaran di lingkungan
keluarga.
"Harus dilihat bagaimana Depok Kota Layak Anak sudah cocok atau tidak, bagaimana peran
orang tua sudah maksimal belum mengajarkan moral, etika, dan agama," jelas Mulyadi.
Jumat, 28 September 2012 12:06
Seks Bebas di Kalangan Remaja Makin Mengkhawatirkan
JAMBI-Perilaku sex bebas di kalangan pelajar sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan
data dari Yayasan Sentra Informasi dan Komunikasi Orang Kito (SIKOK), dalam dua tahun
terakhir (2010-2012), sebanyak 164 remaja (berstatus pelajar) diketahui hamil di luar nikah.
Aktivis SIKOK, Suminah mengatakan, jumlah itu berdasarkan laporan siswi yang meminta
bantuan konseling ke SIKOK. Dia memperkirakan, jumlah pelajar yang hamil di luar nikah
lebih banyak lagi. Sebab, tidak banyak siswi yang mengaku dan minta konseling ketika
mereka hamil di luar nikah.
“Memang belum terlalu banyak. Tapi trennya selalu meningkat,” ujarnya usai seminar
peringatan hari kesehatan sex Se-Dunia di Ruang Pola kantor Gubernur Jambi, kemarin
(27/9).
Menurut Suminah, pelajar hamil yang melakukan konseling ke yayasan SIKOK cukup
beragam. Ada dari SMA, tidak sedikit pula siswi SMP. Rentang umurnya pun bervariasi, ada
yang 17 tahun, bahkan ada remaja umur 14 tahun. “Banyak yang datang minta konseling itu
dari kelas 2 dan beberapa kelas 3,”katanya.
Dari konseling yang mereka lakukan, mayoritas kecenderungan para pelajar itu ingin
menggugurkan kandungannya. Sebab, kebanyakan mereka yang datang ke SIKOK memang
perutnya sudah membesar. Suminah mengaku menemukan sedikitnya 64 pelajar sudah
melakukan upaya aborsi sendiri.
“Itu yang ketauan. Yang sembunyi-sembunyi dan melakukan aborsi sendiri, bisa jadi lebih
banyak lagi,”katanya. Apalagi, beberapa kasus yang mereka temukan, ada sejumlah orang tua
yang langsung mengambil alih kasus anaknya dengan melakukan upaya abrosi sendiri di luar
Jambi.
“Mereka memboyong anaknya ke Jakarta, lalu melakukan aborsi di sana,”ujarnya.
Suminah memperkirakan jumlah siswi hamil di luar nikah di Jambi bisa saja lebih dari 164
orang. Sebab, tidak banyak siswi yang mau terbuka memberi informasi ketika mereka hamil.
Bahkan, jumlah siswi yang melakukan aborsi di yakininya juga lebih dari 64 orang. “Itu yang
ketauan saja. Yang tidak mau melapor dan konseling mungkin lebih banyak lagi,”tegasnya.
Melihat tren kejadian hamil di luar nikah ini, Suminah meyakini perilaku sex bebas yang
dilakukan kalangan remaja dan pelajar sangat tinggi. SIKOK pernah melakukan survey
terhadap 1.182 Siswa SMU/SMK Kota Jambi tahun 2003. Hasilnya, sedikitnya 8 % siswi
mengaku sudah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan pacar.
Anggap saja tren itu stagnan, maka diperkirakan pada tahun 2012 ini ada sekitar 16 ribu dari
total 200 ribu lebih siswa/i, sudah melakukan hubungan suami istri. “Kondisi ini memang
sudah sangat mengkhawatirkan. Apalagi, hubungan sex sudah dianggap hal biasa di kalangan
remaja kita,”ujarnya.
Mantan Direktur Yayasan SIKOK ini menjelaskan, model pacaran yang memberikan ruang
untuk melakukan hal di luar ketentuan adalah buah dari kehidupan sosial yang makin buruk.
Dari konseling yang mereka lakukan, latar belakang remaja putri melakukan hubungan badan
karena ingin membuktikan cinta kepada sang pacar.
Sedangkan yang memotivasi remaja pria melakukan hubungan badan ingin menunjukkan
sikap jantan. “Dan semua itu karena pengaruh lingkungan yang begitu bebas,”katanya.
Apa solusinya? Mempersempit kemungkinan perbuatan itu terjadi dengan membangun
lingkungan yang lebih baik. ”Mempersempit perilaku seperti ini harus dilakukan oleh semua
pihak, baik dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, hingga pemerintah. Sehingga
kemungkinan kejadian ini bisa ditekan,”katanya.
Sementara itu, Ferdia Prakasa, aktivis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jambi
tak menampik tren perilaku sek bebas dikalangan pelajar sudah sangat mengkhawatirkan.
Bahkan, ada pula remaja di Jambi yang berprofesi sebagai penjaja seks. Tingginya angka
seks bebas di kalangan remaja dapat terlihat dari meningkatnya tren usia remaja yang
terjangkit virus mematikan HIV/AIDS.
Data per Juni 2012, jumlah pengidap HIV usia remaja (15-24 tahun) mencapai angka 103
orang. Sedangkan pengidap AIDS mencapai 45 orang.
“Persentase kalangan remaja yang terjangkit berada pada urutan kedua setelah golongan usia
dewasa, di atas 25 tahun. Ini sudah sangat mengkhawatirkan,”ujarnya.
Enny Nadia Simanjorang, dari Duta Remaja Aliansi Satu visi mengatakan, berdasarkan
penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku
pernah melakukan hubungan seks. Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak
bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007,
diperoleh pengakuan remaja bahwa sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan
ciuman, petting, dan oral seks.
Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan. Sebanyak 21,2% remaja SMA
mengaku pernah melakukan aborsi. Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan
aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan. Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka
menonton film porno.
Celakanya, kata dia, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang
perkawinan. “Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau
kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius,”kata dia.
Ia menjelaskan, tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya
dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan
reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya
dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia,
dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh
Asia Tenggara.
Berbagai faktor ikut mempengaruhi dianataranya kurang perhatian orang tua, sekolah yang
kurang dapat mengontrol hal ini atau memang karena tuntutan kemajuan jaman yang
memaksa remaja melakukan hal ini.
”Masalah-masalah remaja seperti ini, sering timbul karena konsep diri remaja juga yang
bermasalah,”katanya.
Berbagai masalah itu perlu segera diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di
sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Menurut dia, pendidikan
Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang
organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan
sebagainya. “Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan
melakukan seks bebas,”pungkasnya.

BANJARMASIN – Pergaulan bebas di kalangan remaja di Banjarmasin semakin
mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, tercatat ada 148
kasus seks pranikah selama tahun 2011. Yang lebih parah lagi, mayoritas dari kasus tersebut
ternyata dialami siswi SMP.
Data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin juga menyebutkan bahwa selain seks pranikah ada
juga kasus infeksi saluran reproduksi sebanyak 30 kasus. Kasus lainnya yakni infeksi
menular seksual (IMS) juga ada sebanyak 30 kasus sedangkan kasus kehamilan tidak
diinginkan atau di luar nikah sebanyak 220 kasus.
Data juga menunjukkan bahwa ada 325 kasus persalinan remaja baik karena menikah di usia
dini maupun di luar nikah. Kasus tertinggi ada di Kecamatan Banjarmasin Selatan, khususnya
dialami siswi SMP.
Menanggapi data mencengangkan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Dr
Rosihan Adhani menyatakan bahwa fakta tersebut harus diwaspadai khususnya dalam rangka
menjaga remaja dari ancaman penyakit kesehatan reproduksi.
“Adanya data tersebut wajib diperhatikan oleh jajaran kesehatan, dengan adanya data tersebut
artinya memang isu bahwa pergaulan remaja semakin memprihatinkan benar adanya,”
katanya kepada Radar Banjarmasin, Senin (1/10).
Diterangkan Rosihan, maraknya seks pranikah di kalangan remaja harus disikapi oleh jajaran
kesehatan dengan memberikan layanan konseling kesehatan. Materi konseling berupa
kesehatan reproduksi dan bahaya penyakit akibat hubungan seks yang tidak semestinya harus
diberikan.
“Saya prihatin ternyata pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi sangat minim.
Indikasinya adalah hasil riset kesehatan dasar ternyata remaja yang mengetahui tentang
kesehatan reproduksi hanya 11 persen, sisanya tidak tahu,” cetusnya.
Menurut peraih gelar doktor dari Universitas 17 Agustus 1945 ini, lemahnya pengetahuan
remaja terhadap kesehatan reproduksi akan berkolerasi dengan tingginya akan seks pra nikah.
Remaja banyak yang tidak tahu bahaya berhubungan seks sembarangan.
“Kami pernah usulkan adanya muatan lokal kesehatan di sekolah tapi dari dinas pendidikan
tidak sepakat,” terangnya. Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel
Dr Ngadimun mengaku prihatin atas fakta tersebut. Meski demikian, ia tidak sepakat dengan
usulan Rosihan agar kesehatan masuk kurikulum muatan lokal.
“Kalau semua permasalahan dititipkan kurikulum saya kira akan membebani siswa. Misalnya
masalah korupsi ada kurikulum anti korupsi, ada masalah narkoba kemudian diusulkan
masuk ke kurikulum, kan tidak bisa demikian, masih ada solusi lain seperti memperkuat mata
pelajaran yang menyangkut budi pekerti,” ucapnya.
Pendidik Mengaku Prihatin
Kasus hamil di luar nikah yang terjadi di kalangan siswi SMP di Banjarmasin benar-benar
mengejutkan berbagai kalangan. Para pendidik mengaku prihatin atas munculnya kasus yang
terjadi di kota yang dikenal religius.
Salah satu guru di SMPN 1 Banjarmasin, H Damiri kaget saat Radar Banjarmasin
menyampaikan informasi tersebut. Menurut dia, adanya siswa SMP yang hamil di luar nikah
menunjukkan bahwa pergaulan remaja khususnya usia SMP sudah sangat mengkhawatirkan.
“Saya sangat prihatin, menurut saya sebagai guru dan juga orang tua memang perlu
pengawasan yang lebih terhadap anak kita terutama yang berusia remaja. Selain itu, anak
juga perlu keteladanan dari guru dan orang tua,” ucapnya, Minggu (30/9).
Menurut Damiri, maraknya siswi SMP yang bergaul melewati batas norma masyarakat tidak
lepas dari minimnya bekal remaja dalam bergaul. Remaja, lanjut Damiri, perlu bekal berupa
arahan dari orang tua tentang cara bergaul dan memilih teman yang baik.
“Orang tua harus mengajarkan bagaimana cara bergaul yang benar,” katanya.
Pendidikan seks dalam arti positif juga wajib diberikan kepada anak remaja. Orang tua harus
mengajarkan kepada anak perempuannya bahwa jika sudah mengalami haid artinya sudah
memasuki pada masa siap dibuahi. Oleh karena itu, remaja perempuan harus menjaga
pergaulan terutama dengan lawan jenisnya.
“Bagi yang beragama Islam, kami di sekolah juga mengajarkan pendidikan agama tentang
haid. Kewajiban seorang muslimah jika sudah haid atau akil baligh bagi remaja putra kita
ajarkan karena hal itu penting,” cetusnya.
Damiri yang sehari-hari mengajar Agama Islam dan Alquran menambahkan, untuk
membentengi siswa-siswi SMPN 1 Banjarmasin pergaulan bebas, pihak sekolah memberikan
beberapa bekal. Salah satunya adalah program Jumat Takwa yang dijalankan setiap Jumat
mulai pukul 07.00-08.00 wita.
Pihak sekolah mendatangkan ustad atau guru agama untuk datang memberikan tausiyah.
Acara tersebut dilakukan di halaman sekolah dengan melibatkan seluruh siswa dan guru.
“Harapannya siswa bisa mengingat bahwa setiap umat Islam perlu menjaga perbuatan,”
ujarnya.
Terkait perkembangan pergaulan remaja dan pelajar dari tahun ke tahun, Damiri yang sudah
10 tahun menjadi tenaga pengajar di SMPN 1 Banjarmasin mengakui adanya tren negatif dari
pergaulan remaja. Semakin tahun menurut dia pergaulan remaja semakin mengkhawatirkan.
“Agak miris saya melihat apalagi di era teknologi sekarang yang makin mudah diakses oleh
siapapun termasuk oleh remaja. Yang terjadi kan tidak mungkin guru dan orang tua bisa
mengawasi anak remajanya terus menerus, bisa saja remaja curi-curi waktu membuka situs
porno dan sebagainya. Menurut saya itu yang paling berbahaya,” tandasnya.
Arahkan Remaja pada Kegiatan Positif
Fenomena hamil di luar nikah yang dialami siswi SMP di Banjarmasin juga mendapat
sorotan dari kalangan ulama muda. Ustad Ahmad Risqon yang juga Ketua Dewan Pimpinan
Wilayah (DPW) Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kalsel
menyarankan kepada orang tua agar mengarahkan anak remajanya untuk aktif dalam kegiatan
yang positif.
“Pertama saya prihatin atas adanya kasus tersebut, selain itu peran orang tua untuk
mengarahkan anaknya agar memiliki kegiatan yang positif juga penting,” katanya kepada
Radar Banjarmasin, Minggu (30/9).
Pentingnya aktifitas positif selain di sekolah menurut Risqon tidak lepas dari banyaknya
waktu para remaja di luar sekolah. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik, para remaja bisa
melakukan apa saja tanpa diketahui oleh orang tua atau guru terutama di luar jam sekolah.
Menurut Risqon, banyak sekali pilihan aktifitas positif bagi remaja khususnya di
Banjarmasin. Salah satunya adalah aktif dalam kepengurusan serta kegiatan remaja masjid
atau angkatan muda masjid. Aktifitas semacam itu menurut Risqon juga tidak akan menguras
waktu bermain remaja.
“BKPRMI punya lembaga dakwah dan pengembangan sumber daya manusia, kami
mengembangkan organisasi seperti remaja masjid dan lainnya. Aktifitas semacam itu bisa
jadi pilihan agar remaja tidak salah bergaul dan bisa mempunyai lingkungan pergaulan yang
baik,” ujar Risqon.
Untuk remaja usia SMP, Risqon menyatakan bahwa BKPRMI mempunyai beberapa kegiatan
unggulan salah satunya adalah Kelompok Studi Islam (KSI). Yang lebih menarik lagi, bagi
remaja usia SMA, BKPRMI mempunyai program dengan nama Lembaga Keluarga Sakinah.
Para remaja usia SMA mendapatkan bekal pengetahuan agama tentang membangun keluarga
sakinah. “Jadi setelah mereka siap berkeluarga, para remaja mampu menjadi keluar sakinah.
Saat usia remaja juga diharapkan mereka terhindar dari pergaulan bebas,” cetusnya.
Meski punya banyak program pembinaan remaja, Risqon mengaku peran lembaganya belum
optimal. Menurut dia, peran orang tua dalam membentengi anaknya dari pergaulan bebas
tetap yang paling utama. (tas/ram)