You are on page 1of 43

1 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Sesak Nafas setelah Jatuh
STEP 1
- Tension pneumothorax: ada gangguan yang melibatkan pleura
visceral, pleura parietal, atau cabang tracheobronchial yg
menyebabkan peningkatan tekanan di dalam rongga dada.
STEP 2
1. Dari mana saja sumber perdarahan pada orang yang terkena
trauma?
2. Apa interpretasi dari VS (RR: 40x/mnt, TD: 90/60 mmHg, N:
120x/mnt, GCS: 9)?
3. Mengapa penderita mengeluh sesak nafas setelah tertabrak
mobil? Apa penyebab sesak nafas setelah trauma?
4. Mengapa penderita kesadarannya menurun, tampak sesak, dan
sianosis?
5. Mengapa dada pasien asimetris, ada memar di hemithorax kanan,
dan suara nafas di hemithorax kanan menghilang?
6. Apa yang menyebabkan akral dingin dan pucat?
7. Trauma apa saja yang terjadi pada pasien tsb?
8. Mengapa dokter sudah memberikan oksigen dan perban tekan
kepada penderita, tetapi kondisinya semakin menurun?
9. Sudah tepatkah penatalaksanaan yang diberikan oleh dokter? Dan
bagaimana penatalaksanaan lebih lengkapnya?
10. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada pasien tsb?

STEP 3
2 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

1. Dari mana saja sumber perdarahan pada orang yang terkena
trauma?
Kepala: perdarahan epidural, subdural, laserasi
Wajah: fraktur maxillofacial
Hidung: perdarahan dari plexux khieselbach
Leher: fraktur cervical
Dada:
- fraktur terbuka/fraktur tertutup. Mengenai a. mamaria interna
- hemothorax pada paru-paru
Abdomen: pada lien, hepar, ginjal terjadi rupture
Ektremitas bawah:
- luka robek, fraktur os. Tibia  perdarahan
- robekan pada a. tibialis
trauma di dalam: rupture aorta abdominalis
perdarahan terjadi krn trauma pada femur dan pelvis
2. Apa interpretasi dari VS (RR: 40x/mnt, TD: 90/60 mmHg, N:
120x/mnt, GCS: 9)?
RR:
- 40x/mnt karena kompensasi dari sesak nafas pada pasien
akibat dari memar hemithorax kanan, perfusi jaringan kurang
- Hemithorax ada memar, sehingga ada tekanan pada paru,
sehingga nyeri.
TD: 90/60 mmHg  hipotensi
N: 120X/mnt merupakan kompensasi dari hipotensi
Ada pengurangan dari volume darah  syok hipovolemik
GCS:
3 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

- TD turun RR meningkat  gangguan perfusi jaringan vital, otak
kurang oksigen
- Cedera kepala sedang  perfusi jaringan turun
- Derajat keparahan dari perdarahan
o Derajat I kehilangan darah <15%
o Derajat II 15-30%
o Derajat III >30%
Syok hemoragik dilihat dari nadi yang melebihi normal.
Syok hipovolemik  kurangnya plasma darah.
3. Mengapa penderita mengeluh sesak nafas setelah tertabrak
mobil? Apa penyebab sesak nafas setelah trauma?
- Perdarahan  oksigen turun karena oksigen diikat oleh
Hb  sesak nafas
- Snoring, gurgling
- Perdarahan  perfusi turun  kesadaran turun, sianosis
- Trauma  terjadi fraktur pada thorax  paru kolaps 
oksigen tak dapat masuk (hematothorax: pleura terdapat
darah sehingga paru kolaps, pneumothorax: ada udara di
pleura shg paru kolaps; mengurangi inspirasi, flail chest:
fraktur costa berurutan menyebabkan asimetris pada
dada).
- Hb turun secara drastis RR meningkat, sesak nafas
- Dari PF ada memar di hemithorax kanan  curiga pada
paru-paru dilihat dari nafasnya  asimetris  gangguan
kompliants paru  pertukaran udara tidak adekuat 
hipoksemia hipoksia  sesak nafas.
- Thorax terbentur  memar  nyeri  nafas dalam tidak
bisa  sesak nafas.
4 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

- Jejas stang pada thorax  udara keluar tidak semestinya
 tension pneumothorax  vena-vena dilatasi  syok
4. Mengapa penderita kesadarannya menurun, tampak sesak, dan
sianosis?
5. Mengapa dada pasien asimetris, ada memar di hemithorax kanan,
dan suara nafas di hemithorax kanan menghilang?
- Suara nafas hemithorax menghilang krn adanya kolaps
paru shg pada auskultasi tak terdengar
- Asimetris krn paru kolaps  mediastinum terdorong ke
kontralateral
- Adanya kelumpuhan pada saraf yang mengatur otot
intercostal  asimetris
- Adanya darah di ruang potensial pleura  paru kolaps
6. Apa yang menyebabkan akral dingin dan pucat?
- Akral dingin terjadi karena tidak dialiri darah (akibat dari
perdarahan)  perfusi dulu ke organ vital
- Pucat terjadi krn perdarahan yg banyak sehingga Hb
turun
- Kompensasi perdarahan  pembuluh darah organ non
vital vasokonstriksi  akral dingin dan pucat
- Sianosis perifer  sentral
7. Trauma apa saja yang terjadi pada pasien tsb?
Trauma kepala, trauma os. Tibia dan robekan di kaki kiri, trauma
pada thorax, trauma cervical  multiple trauma
8. Mengapa dokter sudah memberikan oksigen dan perban tekan
kepada penderita, tetapi kondisinya semakin menurun?
Beri A-B, resusitasi
Diberikan oksigen untuk mengatasi nafasnya
5 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Perban tekan untuk menghentikan perdarahan
Diberi resusitasi cairan kristaloid/koloid
Penanganan fraktur dilakukan setelah A-B-C clear
E: lihat sumber perdarahan atau trauma di tempat lain.

Perhitungan pemberian oksigen  dokter belum adekuat
memberikan oksigen
Perdarahan hebat  transfuse darah

Penanganan tidak adekuat
Cedera kepala
- Epidural hematom  robekan a. meningeal  pasien
sadar tiba-tiba kesadaran turun  beri manitol

Pemberian oksigen berlebih  intoksikasi oksigen

A: jaw thrust, in line immobilization pada cervical
B: pasang pulse oxymetri, beri oksigen
C: perban tekan, resusitasi cairan dengan RL, lakukan
dekompresi/pungsi pada thorax
D: nilai kesadaran
E: lihat trauma di bagian tubuh yang lain

Resusitasi cairan dulu transfuse darah (cek Hb, golongan darah)
6 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Primary survey dan secondary survey (jika primary survey sudah
clear)
9. Sudah tepatkah penatalaksanaan yang diberikan oleh dokter? Dan
bagaimana penatalaksanaan lebih lengkapnya?
Belum tepat
10. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada pasien tsb?
CT-scan kepala, rontgen thorax AP, BGA, darah rutin, cek urin,
foto pada ekstremitas, jika ada abnormalitas pada abdomen 
USG abdomen

7 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

STEP 4
CONCEPT MAPPING
Laki-laki

Multiple trauma
↓ ↓ ↓
Trauma thorax Trauma
ekstremitas
Trauma
capitis

GCS
turun
↓ ↓ ↓

Kolaps paru
Fraktur
tibia
terbuka
perdarahan

Suara nafas
hemithorax
kanan
menghilang


Curiga
pneumothorax

ABCDE


STEP 5
LEARNING ISSUE
1. Dari mana saja sumber perdarahan pada orang yang terkena
trauma?
2. Apa interpretasi dari VS (RR: 40x/mnt, TD: 90/60 mmHg, N:
120x/mnt, GCS: 9)?
3. Mengapa penderita mengeluh sesak nafas setelah tertabrak
mobil? Apa penyebab sesak nafas setelah trauma?
8 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

4. Mengapa penderita kesadarannya menurun, tampak sesak, dan
sianosis?
5. Mengapa dada pasien asimetris, ada memar di hemithorax kanan,
dan suara nafas di hemithorax kanan menghilang?
6. Apa yang menyebabkan akral dingin dan pucat?
7. Trauma apa saja yang terjadi pada pasien tsb?
8. Mengapa dokter sudah memberikan oksigen dan perban tekan
kepada penderita, tetapi kondisinya semakin menurun?
9. Sudah tepatkah penatalaksanaan yang diberikan oleh dokter? Dan
bagaimana penatalaksanaan lebih lengkapnya?
10. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada pasien tsb?

STEP 6
BELAJAR MANDIRI
STEP 7
FINISH
1. Dari mana saja sumber perdarahan pada orang yang terkena
trauma?
Macam Perdarahan :
1. Perdarahan Luar
2. Perdarahan Dalam

Perdarahan Luar
Ada 3 macam perdarahan :
1. Perdarahan dari pembuluh kapiler
Tanda – tandanya :
- Perdarahan tidak hebat
- Keluar perlahan – lahan berupa rembesan
9 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

- Biasanya perdarahan berhenti sendiri walaupun tidak diobati
- Mudah untuk menghentikan dengan perawatan luka biasa

2. Perdarahan dari pembuluh darah balik (vena)
Tanda – tandanya :
- Warna darah merah tua
- Pancaran darah tidak begitu hebat dibanding perdarahan arteri
- Perdarahan mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan
meninggikan anggota badan yang luka lebih tinggi dari jantung.

3. Perdarahan dari pembuluh nadi (arteri)
Tanda – tandanya :
- Warna darah merah muda
- Keluar secara memancar sesuai irama jantung
- Biasanya perdarahan sukar untuk dihentikan

Penanggulangan perdarahan luar
1. Menghentikan Perdarahan
a. Secara alamiah :
• Pembekuan
• Pembuluh darah mengempis
• Penurunan tekanan darah sehingga aliran darah berkurang

b. Dengan pertolongan (3 cara )
• Penekanan langsung pada luka ( dengan tangan atau dengan pembalut
tekan)
• Penekanan pada pembuluh darah yang menjadi sumber perdarahan
• Penekanan dengan torniket

2. Mengganti darah dengan transfusi

Menghentikan Perdarahan dengan Pertolongan

1. Penekanan langsung pada luka
- Dengan tangan
10 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

- Sebaiknya menggunakan kasa steril atau sapu tangan bersih
- Balut tekan dengan penekanan pada daerah luka

2. Menekan pembuluh darah yang menjadi sumber perdarahan
Letak pembuluh darah di atas tulang, di bawah kulit. Pada separuh badan
terdapat 6 titik dimana pembuluh darah dapat ditekan.

a. Arteri Temporalis Superficial
Untuk perdarahan pada kulit kepala dan kepala atas.
Tempat penekanan : pada pelipis ± 1 cm depan lubang telinga luar

b. Arteri Facialis
Untuk perdarahan daerah muka
Tempat penekanan : pada rahang bawah ± 1 cm depan sendi rahang

c. Arteri Carotis Communis
Untuk perdarahan daerah leher, kepala, muka
Tempat penekanan : pada sisi leher

d. Arteri Sub Clavia
Untuk perdarahan seluruh lengan
Tempat penekanan : pada bagian bawah pertengahan tulang selangka

e. Arteri Brachialis
Untuk perdarahan seluruh lengan
Tempat penekanan : pada bagian dalam lengan atas ± 5 jari dari ketiak

f. Arteri Femoralis
Untuk perdarahan seluruh tungkai bawah
Tempat penekanan : pada pertengahan lipat paha.

3. Tekanan dengan Torniket
Biasanya dilakukan pada :
- Perdarahan hebat
- Tangan/ kaki putus
11 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0


Tempat yang baik melakukan pemasangan torniket :
- Pada lengan 5 jari dari ketiak
- Pada tungkai 5 jari dari lipat paha

Alat – alat :
- Torniket
- Pembalut segi tiga yang dilipat
- Dasi
- Karet ban sepeda
- Sepotong kayu/ pensil

Cara kerja :
- Tempat yang akan dipasang torniket diberi alas kain/ kasa.
- Torniket dililitkan dibuat simpul dan dikencangkan dengan sepotong
kayu
Tanda ikatan sudah kencang :
# Denyut nadi distal tidak teraba
# Warna kulit pucat kekuningan
# Perdarahan berkurang atau sampai berhenti

- Tiap 15 menit ikatan dikendorkan selama ± 1 menit
- Ikatan harus jelas terlihat
- Luka ditekan dengan kasa steril

Beberapa hal penting pada pemasangan torniket
1. Bagian yang dipasang torniket tidak boleh ditutup
2. Bagian distal ikatan harus terbuka dan harus diawasi
3. Penderita dengan torniket harus segera dibawa ke RS
4. Bila terjadi amputasi anggota badan, tutup ujungnya dengan kasa steril,
bawa bagian yang putus dalam kantong plastik dengan es menuju RS.

Perdarahan Dalam
Perdarahan dalam adalah perdarahan yang terjadi di dalam rongga dada,
rongga tengkorak dan rongga perut.
12 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Biasanya tidak tampak darah mengalir keluar, tapi terkadang dapat juga
darah keluar melalui lubang hidung, telinga, mulut

Penyebab
- Pukulan keras, terbentur hebat
- Luka tusuk
- Luka tembak
- Pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit
- Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah.
1.


13 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0



Fraktur terbuka disebut juga compound fracture. Fraktur di mana kulit dari ekstremitas yang
terlibat telah ditembus patahan tulang. Fraktur terbuka terbagi atas 3 derajat (R. Gustillo) :
1. Derajat I
 Luka
2. Derajat II
 Laserasi > 1 cm.
 Kerusakan jaringan lunak tidak luas.
 Fraktur kominutif sedang.
 Kontaminasi sedang.
3. Derajat III:
1. terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskuler, serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas:
 Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat
laserasi luas atau fraktur segmental yang disebabkan oleh trauma berenergi
tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
 Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau
kontaminasi masif.
14 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

 Luka pada pembuluh arteri atau saraf perifer.
1. Dari mana saja sumber perdarahan pada orang yang terkena trauma?
Trauma Kapitis Tertutup Disertai dengan Perdarahan Otak Besar
Pada tulang kepala, termasuk di antaranya selaput otak, terjadi keretakan-keretakan.
Dalam keadaan seperti ini, timbul garis/linea fractura sedemikian rupa sehingga
menyebabkan luka pada daerah periferia a. meningia media, yang menyebabkan
perdarahan arteri. Haematoma dengan cepat membesar dan gambaran klinik juga cepat
merembet, sehingga tidak kurang dari 1 jam terbentuk haematomaepiduralis. Penentuan
diagnosis sangat berarti lucidum intervalum (mengigat waktu yang jitu dan tepat). Jadi,
pada epiduralis haematoma, sebenarnya jaringan otak tidak rusak, hanya tertekan
(depresi). Dengan tindakan yang cepat dan tepat, mungkin pasien dapat ditolong. Paling
sering terdapat di daerah temporal, yaitu karena pecahnya pembulnh darah kecil/perifer
cabang-cabang a. meningia media akibat fractura tulang kepala daerah itu (75% pada Fr.
Capitis).
a. Epiduralis haematoma dapat juga terjadi di tempat lain, seperti pada frontal,
parietal, occipital dan fossa posterior, sin. transversus. Foto rontgen kepala sangat
berguna, tetapi yang lebih penting adalah pengawasan terhadap pasien. Saat ini,
diagnosis yang cepat dan tepat ialah CT scan atau Angiografi. Kadangkala kita
sangat terpaksa melakukan "Burr hole Trepanasi", karena dicurigai akan terjadi
epiduralis haematoina. Dengan ini sekaligus bisa didiagnosis dan dekompresi,
sebab terapi untuk epiduralis haematoma adalah suatu kejadian yang gawat dan
harus segera ditangani.
b. Subduralis haematoma akut adalah kejadian akut haematoma di antara durameter
dan corteks, dimana pembuluh darah kecil sinus venae pecah atau terjadi
perdarahan. Atau jembatan vena bagian atas pada interval yang akibat tekanan
lalu terjadi perdarahan. Kejadiannya keras dan cepat, karena tekanan jaringan otak
ke a. meningia sehingga darah cepat tertuangkan dan memenuhi rongga antara
durameter dan corteks. Kejadian dengan cepat memberi tanda-tanda meningginya
tekanan dalan jaringan otak (TIK = Tekanan Intra Kranial).
Pada kejadian akut haematoma, lucidum intervalun akan terasa setelah beberapa
jam sampai 1 atau 2 hari. Tanda-tanda neurologis-klinis di sini jarang memberi
gejala epileptiform pada perdarahan dasar duramater. Akut hematoma subduralis
pada trauma kapitis dapat juga terjadi tanpa Fractura Cranii, nanun pemuluh darah
arteri dan vena di corteks terluka. Pasien segera pingsan/koma. Jadi, di sini tidak
ada "free interval time". Kadang-kadang pembuluh darah besar seperti arteri dan
sinus dapat juga terluka. Dalam kasus ini sering dijunpai kombinasi dengan
intracerebral haematoma sehingga mortalitas subdural haematoma akut sangat
tinggi (80%).
c. Subrachnoidalis Haematoma
Kejadiannya karena perdarahan pada pembuluh darah otak, yaitu perdarahan pada
permukaan dalam duramater. Bentuk paling sering dan berarti pada praktik sehari-
15 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

hari adalah perdarahan pada permukaan dasar jaringan otak, karena bawaan lahir
aneurysma 'pelebaran pembuluh darah'. Ini sering menyebabkan pecahnya
pembuluh darah otak. Gambaran klinik: tidak menunjukkan gejala-gejala
penyakit, tetapi terjadi gangguan ingatan karena timbulnya gangguan meningeal.
d. Akut Intracerebralis Haematoma
Terjadi karena pukulan benda tumpul di daerah korteks dan subkorteks yang
mengakibatkan pecahnya vena yang besar atau arteri pada jaringan otak. Paling
sering terjadi dalam subkorteks. Selaput otak menjadi pecah pula karena tekanan
pada durameter bagian bawah melebar sehingga terjadilah "subduralis
haematoma", disertai gejala kliniknya.
Neurologi klinis dasar



Trauma thorax
Trauma toraks banyak terjadi pada pengendara kendaraan bermotor roda dua akibat
trauma tumpul toraks. Kelainan yang sering dijumpai yaitu fraktur iga yang hampir
mencapai 50%. Selain itu penggunaan sabuk pengaman pada kendaraan roda empat atau
lebih juga sebagai penyebab terjadinya trauma toraks berupa fraktur sternum. Fraktur iga
baik tunggal maupun multipel juga terjadi pada orang tua dengan insidens sekitar 12%.
Insidens sesungguhnya fraktur iga masih belum diketahui dan diperkirakan 50% fraktur
iga tidak terdeteksi dengan foto toraks.2–4
Morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh fraktur iga dan sternum berkaitan erat
dengan penyebab cedera, karena itu identifikasi bahaya yang akan mengancam jiwa
merupakan hal penting. Meskipun fraktur iga cenderung tidak komplit dan tidak
membutuhkan penanganan bedah, tetapi dapat menyebabkan kerusakan paru yang
16 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

bermakna karena akan mempengaruhi ventilasi dan menyebabkan rasa nyeri hebat.
Bagaimanapun juga mengatasi nyeri pada pasien dengan trauma toraks tidak hanya
membantu meringankan keluhan tetapi juga mengurangi serta mencegah komplikasi
sekunder.2–4
Fraktur iga merupakan masalah besar pada paru dengan insidens 84–94% yang berupa
hemotoraks, pneumotoraks, dan kontusio paru.2,3,8
eprints.undip.ac.id/12596/1/img-428090734.pdf

2. Apa interpretasi dari VS (RR: 40x/mnt, TD: 90/60 mmHg, N:
120x/mnt, GCS: 9)? Apa yang menyebabkan akral dingin dan
pucat?
Shock adalah terganggunya perfusi jaringan, dan merupakan diagnosis klinis, sehingga
tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosisnya. Pucat, dingin,
takikardi, pengisian kapiler lambat, penurunan kesadaran menunjukkan penderita dalam
keadaan shock. Takikardi merupakan tanda dini dan bisa dipergunakan untuk diagnosis shock.
Yang juga harus selalu diingat pada penderita trauma, shock biasanya disebabkan oleh
hilangnya darah, shock hemoragik.
Mengapa Pernapasan 50 Kali/Menit
- karena terjadi metabolisme jaringan hipoksik yang menghasilkan asam
laktat yang menyebabkan asidosis metabolic sehingga terjadi takipnoe
- pada trauma multiple, gagal nafas dapat pula terjadi bila trauma
mengenai abdomen atas. Cadangan nafas dapat menurun bila penderita
telah menderita gangguan napas sebelum terjadi trauma sehingga
pertukaran gas tidak cukup. Gagal napas dapat terlihat jika frekuensi
napas dalam 1 menit mencapai 25-30 kali dengan isi alun napas <
4ml/kg dan curah jantung yang rendah
Buku Ajar Ilmu Bedah ; R.Sjamsuhidajat & Wim de Jong
Mengapa Tekanan Darah 90/50 Mmhg
- Penurunan tekanan darah sistolik dianggap tanda khas syok
hipovolemik. Sebelum terjadi penurunan tekanan darah terjadi reaksi
kompensasi tubuh untuk mempertahankan perfusi jaringan organ vital
- Untuk mempertahankan perfusi jaringan supaya kebutuhan metabolit
dan zat asam jaringan dapat dipenuhi, diperlukan tekanan darah
17 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

sekurang-kurangnya 70-80 mmHg. Tekanan darah ini dapat dicapai
dengan memperhatikan prinsip resusitasi ABC
- Karena kehilangan cairan intravaskuler terus menerus, maka tindakan
kompensasi tidak dapat mempertahankan tekanan darah yang memadai
sehingga terjadi dekompensasi dengan akibat penurunan tekanan darah
secara tiba
Buku Ajar Ilmu Bedah ; R.Sjamsuhidajat & Wim de Jong
Mengapa Nadi 140 Kali/Menit
Cedera  volume darah turun secra akut shg tekanan darah turun 
penigkatan detak jantung sbg usaha menjaga otot jantung  takikardia 
timbul gejala awal syok pelepasan katekolamin2 endogen  tahanan
pembuluh darah perifer meningkat  meningkatkan tekanan darah
diastole dan mengurangi tekanan nadi
ATLS


Syok adalah suatu sindroma klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolik yang
ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ
vital.

Tanda-tanda Syok
1. Sistem kardiovaskuler: Gangguan sirkulasi perifer (vasokonstriksi perifer) berupa kulit pucat,
ekstremitas teraba dingin Nadi cepat dan halus (takikardi) pada Bayi > 160 x/menit, Anak usia pra
sekolah > 140 x/menit, Anak usia sekolah - pubertas > 120 x/menit, Dewasa >100 x/menit. Tekanan
darah rendah. Hal ini kurang bisa menjadi pegangan, karena adanya mekanisme kompensasi sampai
terjadi kehilangan ⅓ dari volume sirkulasi. Kurangnya pengisian vena perifer lebih bermakna
dibandingkan penurunan tekanan darah. Vena perifer kolaps. Vena leher merupakan penilaian yang
paling baik, CVP (Central Venous Return) rendah
2. Sistem Respirasi :Pernafasan cepat dan dangkal
3. Sistem Saraf Pusat : Perubahan mental pasien syok sangat bervariasi. Bila tekanan darah rendah
sampai menyebabkan hipoksia otak, pasien menjadi gelisah sampai tidak sadar. Obat sedatif dan
analgetika jangan diberikan sampai yakin bahwa gelisahnya pasien memang karena kesakitan.
4. Sistem Saluran Pencernaan : Bisa terjadi mual dan muntah
5. Sistem Saluran Kencing : Produksi urin berkurang. Normalnya produksi urin pada : Bayi 2 ml/kg/jam,
Anak-anak 1 ml/kg/jam, Dewasa 0,5 ml/kg/jam

Jenis-jenis Syok
18 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0


1. Syok kardiogenik (kegagalan kerja jantung sendiri) ; Penyakit jantung iskemik (IHD), Obat-obatan
yang mendepresi jantung, Gangguan irama jantung
2. Syok hipovolemik ; Kehilangan darah , misalnya pada perdarahan akibat trauma, Kehilangan plasma,
misalnya pada luka bakar, Deidrasi , misalnya puasa terlalu lama, diare, muntah-muntah.
3. Syok neurogenik, Cedera medulla spinalis.
4. Syok anafilaktik, Obat-obatan.
5. Syok sepsis.

Syok hipovolemik Ringan ( kehilangan <20 % volume darah )
• Ekstremitas dingin
• Diaporesis (keringat berlebihan yg abnormal)
• Cemas
• Lemas
• Vena kolaps

o Syok hipovolemik Sedang ( kehilangan 20-40 % volume darah )
• Gejala syok hipovolemik ringan
• Takikardia
• Takipneu
• Oliguria
• Hipotensi ortostatik

o Syok hipovolemik Berat ( kehilangan >40% volume darah )
• Gejala syok hipovolemik ringan dan sedang
• Hemodinamik tidak stabil
• Takikardi
• Hipotensi
• Penurunan kesadaran
http://www.scribd.com/doc/51565716/MULTIPEL-TRAUMA
Patofisiologi:
Telah diketahui dengan baik respon tubuh saat kehilangan
volum sirkulasi. Tubuh secara logis akan segera
memindahkan volum sirkulasinya dari organ non vital dan
dengan demikian fungsi organ vital terjaga karena cukup
menerima aliran darah. Saat terjadi perdarahan akut,
Cardiac output dan denyut nadi akan turun akibat
rangsang ‘baroreseptor’ di aortik arch dan atrium. Volum
sirkulasi turun dan syaraf simpatik ke jantung dan ke
organ lain akan teraktivasi. Akibatnya denyut jantung
19 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

meningkat, terjadi vasokontrisksi dan redistribusi darah
dari nonvital organ, seperti: di kulit, saluran cerna,
dan ginjal. Secara bersamaan sistem hormonal juga
teraktivasi akibat perdarahan akut ini. Dimana akan
terjadi pelepasan hormon kortikotropin. Yang akan
merangsang pelepasan glukokortikoid dan beta-endorphin.
Kelenjar pituitari posterior akan melepas vasopresin,
yang akan meretensi air di tubulus distalis ginjal.
Kompleks-Jukstamedulari akan melepas renin, menurunkan
‘mean arterial pressure’, meningkatkan pelepasan
aldosteron dimana air dan natium akan diresorbsi
kembali. Hiperglisemia sering terjadi saat perdarahan
akut, karena proses glukoneogenesis dan glikogenolisis
yang meningkat akibat pelepasan aldosteron dan growth
hormon. Katekolamin dilepas kesirkulasi yang akan
menghambat aktifitas dan produksi insulin sehingga gula
darah meningkat. Secara keseluruhan bagian tubuh yang
lain juga akan melakukan perubahan spesifik mengikuti
kondisi tersebut. Terjadi proses autoregulasi yang luar
biasa di otak dimana aliran darah akan dipertahankan
secara konstan melalui systemic mean-aliran darah
arterial arterial dipertahankan dalam range yang cukup
luas. Ginjal juga mentoleransi penurunan aliran darah
sampai 90% dalam waktu yang cepat dan aliran darah pada
intestinal akan turun karena mekanisme vasokonstriksi
dari splansnik. Pada kondisi tubuh seperti ini pemberian
resusitasi awal dan tepat waktu bisa mencegah kerusakan
organ tubuh tertentu akibat kompensasinya dalam
pertahanan tubuh.



Sistem kardiovaskular awalnya berespon kepada syok hipovolemik dengan meningkatkan denyut
jantung, meninggikan kontraktilitas myocard, dan mengkonstriksikan pembuluh darah jantung.
20 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Respon ini timbul akibat peninggian pelepasan norepinefrin dan penurunan tonus vagus (yang
diregulasikan oleh baroreseptor yang terdapat pada arkus karotid, arkus aorta, atrium kiri dan
pembuluh darah paru. System kardiovaskular juga merespon dengan mendistribusikan darah ke
otak, jantung, dan ginjal dan membawa darah dari kulit, otot, dan GI.

System urogenital (ginjal) merespon dengan stimulasi yang meningkatkan pelepasan rennin dari
apparatus justaglomerular. Dari pelepasan rennin kemudian dip roses kemudian terjadi
pembentukan angiotensi II yang memiliki 2 efek utama yaitu memvasokontriksikan pembuluh
darah dan menstimulasi sekresi aldosterone pada kortex adrenal. Adrenal bertanggung jawab
pada reabsorpsi sodium secra aktif dan konservasi air.

System neuroendokrin merespon hemoragik syok dengan meningkatkan sekresi ADH. ADH
dilepaskan dari hipothalmus posterior yang merespon pada penurunan tekanan darah dan
penurunan pada konsentrasi sodium. ADH secara langsung meningkatkan reabsorsi air dan
garam (NaCl) pada tubulus distal. Ductus colletivus dan the loop of Henle.

Patofisiology dari hipovolemik syok lebih banyak lagi dari pada yang telah disebutkan . untuk
mengexplore lebih dalam mengenai patofisiology, referensi pada bibliography bias menjadi
acuan. Mekanisme yang telah dipaparkan cukup efektif untuk menjaga perfusi pada organ vital
akibat kehilangan darah yang banyak. Tanpa adanya resusitasi cairan dan darah serta koreksi
pada penyebab hemoragik syok, kardiak perfusi biasanya gagal dan terjadilah kegagalan multi
organ

Maka saat terjadi perdarahan banyak banyak (presyok/syok)banyak syaraf yang terlibat
antara lain:
Syaraf simpatik dan parasimpatik
Berperan pada saat vasokontruksi/vasodilatasi arteri dan vena, meningkatkan tekanan darah dan
denyut jantung meningkatkan kontraktilitas myocard melebarkan cabang broncus menurunkan
sekresi ludah merangsang keluarnya adrenalin

21 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Neuroendrokin juga sangat berperan pada kompensasi tubuh saat terjadi perdarahan.
Neuroendokrin adalah sel-sel yang melepaskan hormon ke dalam darah yang bersirkulasi
sebagai respons terhadap rangsangan saraf. hormon ini dapat berupa amina, neuropeptida, atau
khusus asam amino.mereka mengemas hormon dalam vesikula dan mengirimnya melalui proses
panjang (akson) ke pembuluh darah. Ketika dirangsang (oleh hormon dari aliran darah atau
neuron) dalam sel-sel neuroendokrin mengeluarkan hormon ke dalam aliran darah. Hormon
kemudian berjalanan ke sel sasaran mereka dan dapat merangsang, menghambat atau
mempertahankan fungsi sel-sel ini.Target sel dapat mensuplai kembali informasikepada neuron
ini yang mengatur sekresi lebih lanjut.
Kelompok khusus sel neuroendokrin dapat ditemukan di dasar ventrikel ketiga di otak (di
wilayah yang disebut hipotalamus). Daerah ini mengendalikan sebagian besar hipofisis anterior
sel dan mengatur fungsi seluruh tubuh, seperti respons terhadap stres, dingin, tidur, dan sistem
reproduksi.. Neuron mengirim proses ke daerah terhubung ke tangkai hipofisis dan hormon
(pelepas atau penghambat hormon) dikeluarkan ke dalam aliran darah, dan dibawa oleh
pembuluh portal ke hipofisis sel-sel di mana mereka dapat merangsang, menghambat, atau
mempertahankan fungsi dari jenis sel tertentu.
http://xa.yimg.com/kq/groups/23627341/1423684273/name/PATOFISIOLOGI.docx

Pada syok traumatik terkompensasi, terjadi peningkatan laju nadi dan vasokonstriksi dan
iskemia jaringan non-esensial – toleransi hamparan pembuluh darah memungkinkan daya tahan
lebih lama dan pemulihan yang mudah ketika sudah tercapai hemostasis dan resusitasi selesai.
Syok traumatik tidak terkompensasi, juga dikenal dengan syok progresif, merupakan fase
transisi dimana kehilangan perfusi menyebabkan kerusakan sel dan akan menghasilakn efek
toksik. Sampai pada fase ini syok masih reversibel. Pada syok ireversibel subakut, pasien
diresusitasi sampai mencapai nilai tanda vital yang normal namun karena jeda waktu yang
diperlukan untuk mencapainya sempat menyebabkan gagal sistim organ multipel sebagai akibat
dari iskemia jaringan dan cedera reperfusi. Akhirnya, syok ireversibel akut adalah kondisi
sedang terjadinya perdarahan, asidosis, dan koagulopati yang terus terjadi sampai kepada
kerusakan yang hebat dan bahkan kematian. Progresifitas dari syok terkompensasi menjadi tidak
terkompensasi biasanya akibat masih aktifnya perdarahan merupakan kegawatdaruratan bedah
dan metabolik.
3

Trauma dan perdarahan dengan hipoperfusi jaringan mengganggu termoregulasi sehingga
menyebabkan hipotermia. Beberapa faktor yang menyebabkan hipotermia pada pasien trauma
adalah paparan yang berkepanjangan terhadap lingkungan dingin dan pemberian cairan intravena
22 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

yang dingin. Pasien-pasien trauma yang membutuhkan tindakan pembedahan memperoleh
tambahan suhu dingin dari ruang operasi yang dingin.
Penyebab hipotermia pada pasien trauma adalah:
 Kegagalan termoregulasi dan penurunan produksi panas tubuh, diakibatkan oleh:
o Cedera setempat
o Cedera susunan saraf pusat
o Syok (hipoperfusi jaringan)
o Umur yang ekstrim (terlalu tua atau muda)
o Anestesia umum atau blok neuroaksial
o Kondisi pengobatan seperti pada penderita diabetes mellitus dan gagal jantung
o Pengaruh obat-obatan dan senyawa lain seperti alkohol dan antidepresan trisiklik.
 Meningkatnya kehilangan panas tubuh
o Paparan terhadap lingkungan dingin
o Cairan intravena atau darah transfusi yang dingin
o Luka bakar
o Anestesia umum atau blok neuroaksial
Hipotermia berhubungan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas pada pasien, dengan
penurunan harapan hidup yang dramatis pada suhu sentral kurang dari 34
o
C. Pada trauma pasien,
klasifikasi hipotermia adalah 34 – 36
o
C hipotermia ringan, 32 – 34
o
C hipotermia sedang, dan
< 32
o
C hipotermia berat. Peningkatan morbiditas dan mortalitas behubungan dengan gangguan
koagulasi, asidosis metabolik akibat gangguan perfusi jaringan, instabilitas hemodinamik,
masalah pada saluran nafas, dan infeksi.

23 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Potensi efek buruk hipotermia pada pasien trauma meliputi hal-hal sebagai berikut:
 Gangguan fungsi sistim kardio-respirasi, seperti:
o Depresi jantung
o Iskemia miokard
o Disritmia
o Vasokonstriksi perifer
o Gangguan hantaran oksigen ke jaringan
o Peningkatan konsumsi oksigen ketika terjadi penghangatan kembali
o Penumpulan efek katekolamin
o Peningkatan viskositas darah
o Asidosis metabolik
 Gangguan pembekuan darah, karena:
o Penurunan gerakan faktor-faktor koagulan
o Penurunan fungsi trombosit
 Penurunan klirens obat, akibat:
o Penurunan aliran darah hati
o Penurunan metabolism obat
o Penurunan aliran darah ginjal
 Peningkatan risiko infeksi, karena:
o Penurunan jumlah dan fungsi sel darah putih
o Gangguan respon imun selular
24 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

o Infeksi luka
o Vasokonstriksi termoregulasi
o Penurunan tekanan parsial oksigen subkutan
o Gangguan kerja oksidasi neutrofil dalam membunuh kuman
o Penurunan deposisi kolagen
o Pneumonia
o Sepsis

Penurunan suhu tubuh selama tindakan awal dan resusitasi pada pasien trauma tidak jarang
terjadi dan menyebabkan keluaran yang tidak baik pada pasien trauma. Hipotermia dengan
asidosis dan koagulopati sering disebut sebagai komponen dari “trio letal” pada pasien trauma.
Menggigil yang intensif dapat terjadi pada suhu antara 34
o
C sampai 36
o
C dengan akibat
peningkatan kebutuhan oksigen dan laju metabolism. Selama penghangatan kembali, bisa terjadi
pelepasan bekuan darah dingin dan metabolit asam dari pembuluh darah perifer, dilatasi
pembuluh darah sistemik sehingga terjadi instabilitas kardiovaskular. Instabilitas kardiovaskular
akibat penghangatan kembali pada syok ditandai dengan hipotensi, depresi miokard, dan
pelepasan metabolit asam. Hipotermia yang menyebabkan efek inotropik negatif pada miokard
dan depresi kontraktilitas jantung kiri dapat terjadi pada hipotermia sedang. Hipotermia juga
berhubungan dengan disritmia atrium dan ventrikel. Perubahan EKG awal yang terjadi pada
hipotermia adalah sinus takikardia. Ketika suhu semakin turun maka akan terjadi bradikardia.
Respon jantung terhadap katekolamin juga akan menjadi tumpul ketika terjadi hipotermia, juga
jantung akan menjadi tidak toleran terhadap hipervolemia dan hipovolemia. Hipotermia
intraoperatif meningkatkan kejadian gangguan jantung seperti iskemia, angina unstable, dan
takikardia ventrikel. Peningkatan gangguan jantung dapat lebih hebat dari sekedar vasokonstriksi
perifer, peningkatan kadar norepinefrin, dan perubahan tonus alfa-adrenoseptor akibat reaksi
terhadap suhu dingin. Hipotermia dapat meningkatkan terjadinya infeksi luka operasi akibat
25 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

vasokonstriksi termoregulasi, penurunan tekanan oksigen subkutan, gangguan kemampuan
membunuh kuman netrofil, dan penurunan deposisi kolagen.
Konsentrasi gula darah meningkat dengan hipotermia sehingga membutuhkan terapi insulin
intensif untuk menurunkan mortalitas. Hipotermia dapat menyebabkan gangguan pembekuan
darah akibat gangguan fungsi trombosit, penghambatan pergerakan enzim pembekuan, dan
aktivasi kaskade fibrinolisis. Koagulopati yang mengancam nyawa pada pasien dengan trauma
berat yang membutuhkan transfusi massif berhubungan dengan suhu kurang dari 34
o
C dan
progresivitas asidosis metabolik.
4
Hipotermia dan kombinasi hipotermia-asidosis, namun tidak
asidosis saja menyebabkan gangguan koagulasi. Inhibisi produksi thromboksan B2 menyebabkan
penurunan respon trombosit untuk agregasi. Trombosit selanjutnya akan disimpan di limpa dan
hati dan tidak dapat digunakan. Hipotermia menyebabkan pelepasan senyawa seperti heparin
sehingga menyebkan gejala seperti disseminated intravascular coagulation (DIC). Hal ini
ditandai dengan peningkatan masa protrombin (PT) dan masa parsial tromboplastin (PTT), dan
meningkatnya produksi fibrin. Hipotermia juga mempengaruhi faktor Hageman dan
tromboplastin yang diperlukan untuk membentuk bekuan pada endotel yang cedera.
5

Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi secara independen berhubungan dengan penurunan
suhu tubuh perioperatif. Hal-hal ini meliputi umur, jenis kelamin, berat badan dan luas
permukaan tubuh, suhu tubuh sebelum operasi, riwayat neuropati diabetes, pembedahan
emergensi, jenis pembedahan dan daerah yang terbukar atau pembuluh darah besar yang
terpapar, tehnik anestesi yang digunakan, cara melakukan penghangatan, jumlah cairan infus
yang diberikan, suhu cairan infus dan cairan irigasi, lama operasi, suhu oksigen yang diberikan,
dan suhu ruangan operasi. Tidak menggunakan pemantau suhu tubuh merupakan salah satu
penyebab tidak tercegahnya hipotermia yang terjadi selama pembiusan.
6


Hipotermia yang tidak disengaja pada korban trauma merupakan masalah yang sering terjadi
pada awal fase resusitasi dan sering sering terabaikan. Tindakan-tindakan sederhana sebenarnya
dapat mencegah terjadinya hipotermia pada pasien trauma. Metode menghangatkan pasien
trauma yang hipotermia meliputi baik penghangatan eksternal pasif, penghangatan eksternal
aktif, dan penghangatan internal aktif. Penghangatan eksternal pasif dilakukan dengan
memisahkan pasien dari lingkungan yang dingin dan melakukan penutupan tubuh pasien dari
26 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

paparan dingin. Penghangatan eksternal aktif dapat dilakukan dengan pemberian air atau udara
hangat disekitar tubuh pasien, juga selimut atau benda hangat lainnya. Sedangkan penghangatan
internal aktif dapat dilakukan dengan memberikan inhalasi udara panas, pemberian cairan infus
yang dihangatkan, bilas lambung dengan air hangat, irigasi kandung kemih atau mediastinum
dengan cairan hangat. Penatalaksanaan hipotermia pada pasien trauma seharusnya dimulai
dengan pencegahan kehilangan panas tubuh. Resusitasi cairan dapat menyebabkan penurunan
suhu tubuh, sehingga diperlukan alat penghangat cairan sebelum dimasukkan ke dalam tubuh.
Dari berbagai modalitas terapi non-invasif, penghangatan konveksi efektif dalam
mengembalikan suhu inti tubuh, walaupun panas radiasi mungkin lebih mudah diberikan pada
pasien dengan trauma multipel. Tehnik penghangatan suhu aktif seperti CAVR meningkatkan
suhu inti 1,5
o
C sampai 2,5
o
C/jam, dan dapat mencegah kematian pada pasien trauma yang
mengalami hipotermia.
4

www.perdossi.or.id

2. Mengapa dada pasien asimetris, ada memar di hemithorax kanan, dan suara nafas di
hemithorax kanan menghilang?
Tension pneumotoraks atau pneumotorask ventile terjadi karena mekanisme check valve
yaitu pada saat inspirasi udara masuk ke dalam cavum pleura tetapi pada saat ekspirasi
udaranya tidak dapat keluar.
Semakin lama tekanan udara di dalam rongga pleura akan meningkatkan dan melibihi
tekanan atmosfir. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini dapat menekan paru
sehingga seringmenimbulkan gagal nafas.Tekanan dalam rongga pleura meningkat
sehingga paru mengempis lebih hebat, mediastinum tergeser kesisi lain dan
mempengaruhi aliran darah vena ke atrium kanan. Pada foto sinar tembus dada terlihat
mediastinum terdorong kearah kontralateral dan diafragma tertekan k ebawah sehingga
menimbulkan rasa sakit. Keadaan ini dapat mengakibatkan fungsi pernafasan sangat
terganggu yang harus segera ditangani kalau tidak akan berakibat fatal.
27 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0



28 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0


http://willimhaveyou.files.wordpress.com/2013/11/skenario-1-tentang-triage.pdf
American College of Surgeons Committee on Trauma, ATLS (Advanced Trauma
JLife Support) for Doctor. Edisi ke-8. Chicago : American College of
Surgeons.2008
29 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Kamus Saku Kedokteran DORLAN. Jakarta : EGC, 1998
Sjamsuhidajat, R. Jong Wim de. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : EGC,
2004
Sabiston. Textbook of surgery edisi 19. Philadelphia: Elseiver Saunders. 2012


3. Mengapa penderita mengeluh sesak nafas setelah tertabrak
mobil? Apa penyebab sesak nafas setelah trauma?
FISIOLOGI Dalam keadaan normal rongga toraks dipenuhi oleh paru-paru yang
pengembangannya sampai dinding dada oleh karena adanya tegangan permukaan
(tekanan negatif) antara permukaan pleura parietal dan pleura visceral. Rongga pleura
normalnya berisi sedikit cairan pleura (sebagai pelumas) dan tidak berisi udara.

Karena adanya trauma, gangguan terjadi ketika terbentuk katup 1 arah, yang
memungkinkan udara masuk ke rongga pleura tapi tidak memungkinkan bagi keluarnya
udara. Volume udara ini meningkat setiap kali inspirasi karena efek katup 1 arah.
Akibatnya, tekanan meningkat pada hemitoraks yang terkena. Saat tekanan naik, paru
ipsilateral kolaps. Akibat penurunan fungsi paru : menurunnya compliance paru yang
mengalami penumothoraks pertukaran udara tidak
adekuat  hipoxemia hipoksia sesak napas

A. Berdasarkan Patofisiologi
Simple Pneumothorax Open Pneumothorax Tension Pneumothorax
Patofisiologi Tekanan Udara dlm
rongga pleura sedikit
lebih tinggi dibandingkan
cavum pleura
hemithoraks sisi
kontralateralnya, tetapi
tekanannya masih lebih
rendah daripada tekanan
atmosfir
*Tidak ada mekanisme
ventil
*Tidak ada desakan
mediastinum
Terjadi karena luka terbuka
pada dinding dada sehingga
pada saat inspirasiudara dapat
keluar melalui luka tersebut.
Pada saat inspirasi –
mediastinum normal ; pada
saat ekspirasi- mediastinum
bergeser
Terjadi karena mekanisme
check valve yaitu pada saat
inspirasi udara masuk ke
cavum pleura, tapi pada saat
ekspirasi, udara dalam
cavum pleura tidak dapat
keluar. Semakin lama udara
di dalam cavum pleura
semakin banyak dan
tekanan menjadi lebih
tinggid drpd tknn atmosfer
 menekan paru 
atelektasis
30 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

*Gangguan respirasi dan
ventilasi minimal

Yang bolong pleura
visceral, kecil. Saat
inspirasi udara terserap
Tanda *Keluhan : nyeri, batuk,
sesak
*PF : tertinggal waktu
respirasi, vesikuler
melemah, hipersonor
*Tidak terlihat pelebaran
vena
*Trakhea ditengah
*Tidak ada tanda-tanda
syok

Sama seperti pneumothoraks
simpel
+ terlihat adanya luka
menghisap pada dinding
thoraks
(sucking chest wound)
sesak hebat, takhipnoe,
sianosis, hemithoraks
tertinggal pd pernapasan
tanda-2 syok
pelebaran vena jugularis
trakhea terdorong ke sisi
sehat
> auskultasi : suara napas
tak terdengar
> perkusi : hipersonor

Penanganan

Needle Thoracosintesis
Water Sealed Drainage

31 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0


Pengaturan pernapasan oleh persarafan dilakukan oleh korteks cerebri, medulla
oblongata, dan pons.
a. Korteks Cerebri
Berperan dalam pengaturan pernapasan yang bersifat volunter sehingga memungkinkan
kita dapat mengatur napas dan menahan napas. Misalnya pada saat bicara atau makan.
b. Medulla oblongata
Terletak pada batang otak, berperan dalam pernapasan automatik atau spontan. Pada
kedua oblongata terdapat dua kelompok neuron yaitu Dorsal Respiratory Group (DRG)
yang terletak pada bagian dorsal medulla dan Ventral Respiratory Group (VRG) yang
32 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

terletak pada ventral lateral medula. Kedua kelompok neuron ini berperan dalam
pengaturan irama pernapasan. DRG terdiri dari neuron yang mengatur serabut lower
motor neuron yang mensyarafi otot-otot inspirasi seperti otot intercosta interna dan
diafragma untuk gerakan inspirasi dan sebagian kecil neuron akan berjalan ke kelompok
ventral. Pada saat pernapasan kuat, terjadi peningkatan aktivitas neuron di DRG yang
kemudian menstimulasi untuk mengaktifkan otot-otot asesoris inspirasi, setelah
inspirasi selesai secara otomatis terjadi ekspirasi dengan menstimulasi otot-otot
asesoris.
Kelompol ventral (VRG) terdiri dari neuron inspirasi dan neuron ekspirasi. Pada saat
pernafasan tenang atau normal kelompok ventral tidak aktif, tetapi jika kebutuhan
ventilasi meningkat, neuron inspirasi pada kelompok ventral diaktifkan melalui
rangsangan kelompok dorsal. Impuls dari neuron inspirasi kelompok ventral akan
merangsang motor neuron yang mensyarafi otot inspirasi tambahan melalui N IX dan N
X. Impuls dari neuron ekspirasi kelompok ventral akan menyebabkan kontraksi otot-otot
ekspirasi untuk ekspirasi aktif.
c. Pons
Pada pons terdapat 2 pusat pernapasan yaitu pusat apneutik dan pusat pnumotaksis.
Pusat apneutik terletak di formasio retikularis pons bagian bawah. Fungsi pusat apneutik
adalah untuk mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi dengan cara
mengirimkan rangsangan impuls pada area inspirasi dan menghambat ekspirasi.
Sedangkan pusat pneumotaksis terletak di pons bagian atas. Impuls dari pusat
pneumotaksis adalah membatasi durasi inspirasi, tetapi meningkatkan frekuensi
respirasi sehingga irama respirasi menjadi halus dan teratur, proses inspirasi dan
ekspirasi berjalan secara teratur pula.
4. Mengapa penderita kesadarannya menurun, tampak sesak, dan
sianosis?
Penurunan kesadaranHipoksia yang terus berlanjut kurangnya suplai O2 ke
otak gangguan fungsi otak  penurunan kesadaran Trakea terdorong (deviasi
trakea) menjauhi paru yang mengalami tension pneumothorax: Tension
pneumothoraxtekanan udara yang tinggi  menekan kesegala arah  trakea
terdorong ke arah kontralateral Distensi vena leher (bisa terjadi bila hipotensi
berat)Tension pneumothorax penekanan vena cava superior  tahanan darah yang
kembali ke jantung JVP meningkat vena leher terdistensi HipotensiTension
pneumothorax penekanan jantung dan vena cava superior serta inferior  darah
yang kembali ke jantung berkurang  caridiac output berkurang  tekanan darah
turun (hipotensi akibat shock obstruktif) SianosisTension
pneumothorax  pertukaran udara tidak adekuat  darah mengandung sedikit
O2  pewarnaan yang kebiruan pada darah  tampak warna kebiruan pada kulit dan
mukosa
MEKANISME GEJ ALA - GEJ ALA
33 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0






34 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0



5. Mengapa dada pasien asimetris, ada memar di hemithorax kanan,
dan suara nafas di hemithorax kanan menghilang?
Kasus flail chest  ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan
keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel pada dua atau
lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. Adanya semen flail chest (segmen
mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada. Jika kerusakan parenkim
paru di bawahnya terjadi sesuai dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan hipoksia
yang serius. Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim paru yang
mungkin terjadi (kontusio paru). Walaupun ketidak-stabilan dinding dada menimbulkan gerakan
paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi, defek ini sendiri saja tidak akan
menyebabkan hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini terutama disebabkan
nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang tertahan dan trauma jaringan parunya.
Flail Chest mungkin tidak terlihat pada awalnya, karena splinting (terbelat) dengan dinding dada.
Gerakan pernafasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara asimetris dan tidak terkoordinasi.
Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membantu
diagnosisi. Dengan foto toraks akan lebih jelas karena akan terlihat fraktur iga yang multipel,
akan tetapi terpisahnya sendi costochondral tidak akan terlihat.

Kasus pneumotoraks  Laserasi paru merupakan penyebab tersering dari pneumotoraks
akibat trauma tumpul.Dalam keadaan normal rongga toraks dipenuhi oleh paru-paru yang
pengembangannya sampai dinding dada oleh karena adanya tegangan permukaan antara kedua
permukaan pleura. Adanya udara di dalam rongga pleura akan menyebabkan kolapsnya jaringan
paru. Gangguan ventilasi-perfusi terjadi karena darah menuju paru yang kolaps tidak mengalami
ventilasi sehingga tidak ada oksigenasi. Ketika pneumotoraks terjadi, suara nafas menurun pada
sisi yang terkena dan pada perkusi hipesonor.

Pada tension pneumothorax  Kadangkala defek atau perlukaan pada dinding dada juga
dapat menyebabkan tension pneumothorax. Tension pneumorothorax berkembang ketika terjadi
one-way-valve (fenomena ventil), kebocoran udara yang berasal dari paru-paru atau melalui
35 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

dinding dada masuk ke dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi (one-way-valve). Akibat
udara yang masuk ke dalam rongga pleura yang tidak dapat keluar lagi, maka tekanan di
intrapleural akan meninggi, paru-paru menjadi kolaps, mediastinum terdorong ke sisi
berlawanan dan menghambat pengembalian darah vena ke jantung (venous return), serta akan
menekan paru kontralateral. Pada perkusi didapatkan hipersonor dan auskultasi didapatkan
hilangnya suara nafas pada hemitoraks yang terkena pada tension pneumothorax.

Kasus Hemotoraks  Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari
pembuluh darah interkostal atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh trauma tajam
atau trauma tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya
hemotoraks. Adapun hemotoraks masif yaitu terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1.500
cc di dalam rongga pleura. Hal ini sering disebabkan oleh luka tembus yang merusak pembuluh
darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru. Hal ini juga dapat disebabkan trauma
tumpul. Kehilangan darah menyebabkan hipoksia. Vena leher dapat kolaps (flat) akibat adanya
hipovolemia berat, tetapi kadang dapat ditemukan distensi vena leher, jika disertai tension
pneumothorax. Jarang terjadi efek mekanik dari adarah yang terkumpul di intratoraks lalu
mendorong mesdiastinum sehingga menyebabkan distensi dari pembuluh vena leher. Diagnosis
hemotoraks ditegakkan dengan adanya syok yang disertai suara nafas menghilang dan perkusi
pekak pada sisi dada yang mengalami trauma.
Sebagai patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat dari selang dada sebanyak 1.500 ml,
atau bila darah yang keluar lebih dari 200 ml tiap jamuntuk 2 sampai 4 jam.
Sumber :
1. IKABI, ATLS, American College of Surgeon, edisi ke – 6, tahun 1997.
2. Syamsu Hidayat,R Dan Wim De Jong, Buku Ajar Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
Jakarta,tahun 1995.

6. Trauma apa saja yang terjadi pada pasien tsb?
No. 1
7. Mengapa dokter sudah memberikan oksigen dan perban tekan
kepada penderita, tetapi kondisinya semakin menurun? Sudah
tepatkah penatalaksanaan yang diberikan oleh dokter? Dan
bagaimana penatalaksanaan lebih lengkapnya?
PRimery survey
 AMAN DIRI
 AMAN LINGKUNGAN
 AMAN PASIEN
CEK KESADARAN PASIEN
ABCD Menunjukan respon baik atau px sadar lanjutkan pemeriksaan
36 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

ABCD Tidak baik atau px tidak sadar lakukan :

1). Airway > kontrol servicall
pegang kepala (fiksasi) pasang neck collar (bila curiga f# servical)
buka airway : head tilchinlift (untuk px tidak sadar), atau chin lift (px sadar) lalu
Look Listen Feel, bila gurgling lakukan suction, bila snoring lakukan Jaw thrust
(tindakan manual) gunakan OPA (oro paringeal airway) untuk pasien tidak atau
NPA (naso paringeal airway) untuk pasien yg sadar, dan bila stridor perlu airway
definitif (intubasi/surgikal airway)

Curiga fraktur servikal bila
 trauma kapitis dengan penuruna kesadaran
 multi trauma
 terdapat jejas di atas clavicula kearah cranial
 biomekanika trauma mendukung
Curiga fraktur tulang basis cranii
 perdarahan dari lubang hidung / telinga
 racoon eyes (mata lebam)
 beatle sign (lebam pada telinga
catatan :
* snoring (ngorok) sering terjadi pada pasien tidak sadar karena pangkal lida yg
jatuh
* gurgling (kumur-kumur) terjadi sumbatan karena cairan (darah, sekret)
* stridor, terjadikarena oedem faring/laring (cedera inhalasi) misal px dengan
riwayat terpapar dengan uap panas.

2). BREATHING (iksigenasi + ventilasi)
Nilai pernapasan, berikan oksigen bila ada masalah terhadap ABCD
* canul 2-6 LPM
* Face mask / RM (Rebreathing Mask) 6-10 LPM
* NRM 10-12 LPM
Bila pernapasannya tidak adekuat berikan ventilasi tambahan dengan baging /
ventilator.
Pada pasien trauma waspada terhadap gangguan/masalah breathing yg cepat
menyebabkan kematian.
4 masalah yg mengancam breathing serta tindakannya adalah :
37 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

 Tension pneumothoraks (px sesak, trakea bergesar dan disertai distensi vena
jugularis) tindakannya adalah needle thoracosintesis di ICS 2 midclavikula
 Open pneumothoraks (adanya sucking cest wound pada luka, yaitu paru
menghisap udara lewat lubang luka) tindakannya adalah tutup kassa 3 sisi yg
kedap udara
 Masive Haematothoraks (perdarahan dirongga thoraks) lapor dokter untuk
segera WSD, nilai apa perlu Thoracotomy..?
 Flail chest dengan Kontusio paru perlu definitif
3). CIRCILATION (control perdarahan dan perbaikan volume)
perdarahan external lakukan balut tekan, cek akral dan nadi bila ada tanda2 syok
(hopovolemik) berikan infus 2 jalur dengan cairan Ringer Laktat yang hangan 1-2
L diguyur.
perdarahan internal perabaiki volume untuk cegah syok lebih lanjut

4). DISABILITY (pemeriksaan status neurologis)
Nilai GCS dan PUPIL

EYE :

4 buka mata spontan
3 buka mata terhadap suara
2 buka mata terhadap nyeri
1 tidak ada respon

VERBAL :

5 orientasi baik
4 berbicara mengacau bingung
3 berbicara kata-kata tidak teratur
2 merintih/mengerang
1 tidak ada respon

MOTORIK :

6 bergerak mengikuti perintah
5 melokalisir nyeri
4 fleksi normal (menarik anggota yang di rangsang)
3 fleksi abnormal (dekortikasi)
2 extensi abnormal (deserebrasi)
38 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

1 tidak ada respon

Nilai juga kekuatan otot motorik bandingkan kedua sisinya dengan cara
menggenggam kedua tangan pasien.

5). EXPOSURE (lihat jejas/cidera ancaman yg lain)
Gunting pakaian dan lihat apakah ada jejas atau tidak cegah hipotermi dengan
memberikan selimut, kemudian lakukan log roll dan pasang Long spine board.

INGAT SETIAP SELESAI MELAKUKAN TINDAKAN EVALUASI ULANG!!
RE-EVALUASI ABCDE

Tambahan pada Primary survey :

6). Folley chateter
Lihat ada kontra indikasi, tidak dipasang pada ruptur uretra
pada laki-laki ada di OUE (orivisium ureter external), scrotum hematom, Rectal
tuse prostat melayang.
pada wanita keluar darah, hematum perinium.
Bila tidak ada kontra indikasi pasang, urine pertama dibuang, kemudian tampung,
periksa pengeluaran/jam normal 0,5cc/kgBB/jam untuk dewasa, 1cc/kgBB/jam
untuk anak dan 2cc/kgBB/jam untuk bayi.

7). Gatric Tube
Bila lewat hidung perhatikan konta indikasi fraktur tulang basis caranii

8). Heart Monitor, Pulse oximetry, pemeriksaan Radiologi

Kemudian Re evaluasi ABCDE

Survei Sekunder hanya dilakukan bila ABC pasien sudah stabil

Bila sewaktu survei sekunder kondisi pasien memburuk maka kita harus
kembalimengulangi PRIMARY SURVEY
.

Semua pr osedur yang di l akukan har us di cat at dengan
bai k. Pemer i ksaan dar i kepal asampai ke jari kaki (head-to-toe examination)
dilakukan dengan

39 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

perhatian utama :
Pemeriksaan kepala
• Kelainan kulit kepala dan bola mata• Telinga bagian luar dan membrana timpani•
Cedera jaringan lunak periorbital
Pemeriksaan leher
• Luka tembus leher • Emfisema subkutan• Deviasi trachea• Vena leher yang
mengembang
Pemeriksaan neurologis
• Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS)• Penilaian fungsi
medula spinalis dengan aktivitas motorik • Penilaian rasa raba / sensasi dan refleks
Pemeriksaan dada
• Clavicula dan semua tulang iga• Suara napas dan jantung• Pemantauan ECG (bila
tersedia)
Pasien trauma kepala harus dicurigai juga mengalami trauma tulang leher
sampai terbukti tidak demikian

Pemeriksaan rongga perut (abdomen)


• Luka tembus abdomen memerlukan eksplorasi bedah• Pasanglah pipa nasogastrik
pada pasien trauma tumpul abdomen kecuali bila adatrauma wajah• Periksa dubur
(rectal toucher)• Pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus
externus
Pelvis dan ekstremitas
• Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan melakukan tes
gerakanapapun karena memperberat perdarahan)• Cari denyut nadi-nadi perifer
pada daerah trauma• Cari luka, memar dan cedera lain

CARA PEMASANGAN WSD
1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke
IV dan V, di linea aksillaris anterior dan media.
2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah
ditentukan.
3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir
iga, perdalam sampai muskulus interkostalis.
4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis
kemudian dilebarkan. Masukkan jari melalui lubang
40 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga pleura /
menyentuh paru.
5. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang
telah dibuat dengan menggunakan Kelly forceps
6. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi
dengan jahitan ke dinding dada
7. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah
disiapkan.
8. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang
telah dimasukkan.

ADA BEBERAPA MACAM WSD :
1. WSD dengan satu botol
• Merupakan sistem drainage yang sangat sederhana
• Botol berfungsi selain sebagai water seal juga
berfungsi sebagai botol penampung.
• Drainage berdasarkan adanya grafitasi.
• Umumnya digunakan pada pneumotoraks
2. WSD dengan dua botol
• Botol pertama sebagai penampung / drainase
• Botol kedua sebagai water seal
• Keuntungannya adalah water seal tetap pada satu level.
• Dapat dihubungkan sengan suction control
3. WSD dengan 3 botol
• Botol pertama sebagai penampung / drainase
• Botol kedua sebagai water seal
• Botol ke tiga sebagai suction kontrol, tekanan
dikontrol dengan manometer.

8. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada pasien tsb?
9.
Hal yang
Dinilai
Identifikasi/
tentukan
Penilaian Penemuan Klinis
Konfirmasi
dengan
41 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

Tingkat
Kesadaran
• Beratnya trauma
kapitis
• Skor GCS •  8, cedera
kepala berat
• 9 -12, cedera
kepala sedang
• 13-15, cedera
kepala ringan
• CT Scan
• Ulangi tanpa
relaksasi Otot
Pupil • Jenis cedera
kepala
• Luka pada mata
• Ukuran
• Bentuk
• Reaksi
• "mass effect"
• Diffuse axional
injury
• Perlukaan mata
• CT Scan
Kepala • Luka pada kulit
kepala
• Fraktur tulang
tengkorak
• Inspeksi adanya
luka dan fraktur
• Palpasi adanya
fraktur
• Luka kulit kepala
• Fraktur impresi
• Fraktur basis
• CT Scan
Maksilofasial • Luka jaringan
lunak
• Fraktur
• Kerusakan syaraf
• Luka dalam
mulut/gigi
• Inspeksi :
deformitas
• Maloklusi
• Palpasi : krepitus
• Fraktur tulang
wajah

• Cedera jaringan
lunak
• Foto tulang
wajah

• CT Scan tulang
wajah
Leher • Cedera pada
faring
• Fraktur servikal
• Kerusakan
vaskular
• Cedera esofagus
• Gangguan
neurologis
• Inspeksi
• Palpasi
• Auskultasi
• Deformitas
faring
• Emfisema
subkutan
• Hematoma
• Murmur
• Tembusnya
platisma
• Nyeri, nyeri
tekan C spine
• Foto servikal
• Angiografi/
Doppler
• Esofagoskopi
• Laringoskopi
Toraks • Perlukaan
dinding toraks
• Emfisema
• Inspeksi
• Palpasi
• Jejas,
deformitas,
gerakan
• Foto toraks
• CT Scan
42 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

subkutan
• Pneumo/
hematotoraks
• Cedera bronchus
• Kontusio paru
• Kerusakan aorta
torakalis
• Auskultasi • Paradoksal
• Nyeri tekan
dada, krepitus
• Bising nafas
berkurang
• Bunyi jantung
jauh
• Krepitasi
mediastinum
• Nyeri punggung
hebat
• Angiografi
• Bronchoskopi
• Tube
torakostomi
• Perikardio
sintesis
• USG Trans-
Esofagus
10.
11. Tabel 7- Pemeriksaan Fisik pada Secondary Survey ( lanjutan )
Hal yang
Dinilai
Identifikasi/
tentukan
Penilaian Penemuan klinis Konfirmasi
dengan
Abdomen/
pinggang
• Perlukaan dd.
Abdomen
• Cedera intra-
peritoneal
• Cedera
retroperitoneal
• Inspeksi
• Palpasi
• Auskultasi
• Tentukan arah
penetrasi
• Nyeri, nyeri
tekan abd.
• Iritasi
peritoneal
• Cedera organ
viseral
• Cedera
retroperitonea
l
• DPL
• FAST
• CT Scan
• Laparotomi
• Foto dengan
kontras
• Angiografi
Pelvis • Cedera Genito-
urinarius
• Fraktur pelvis
• Palpasi simfisis
pubis untuk
pelebaran
• Nyeri tekan tulang
pelvis
• Tentukan
instabilitas pelvis
(hanya satu kali)
• Inspeksi perineum
• Pem. Rektum
• Cedera
Genito-
rinarius
(hematuria)
• Fraktur pelvis
• Perlukaan
perineum,
rektum, vagina
• Foto pelvis
• Urogram
• Uretrogram
• Sistogram
• IVP
• CT Scan dengan
kontras
43 | K G D L B M 5 _ S G D 2 0

/vagina
Medula
spinalis
• Trauma kapitis
• Trauma medulla
spinalis
• Trauma syaraf
perifer
• Pemeriksaan
motorik
• Pemeriksaan
sensorik
• "mass effect"
unilateral
• Tetraparesis
Paraparesis
• Cedera radiks
syaraf
• Foto polos
• MRI
Kolumna
vertebralis
• Fraktur
• lnstabilitas
kolumna
Vertebralis
• Kerusakan syaraf
• Respon verbal
terhadap nyeri,
tanda lateralisasi
• Nyeri tekan
• Deformitas
• Fraktur atau
dislokasi
• Foto polos
• CT Scan
Ekstremitas • Cedera jaringan
lunak
• Fraktur
• Kerusakan sendi
• Defisit neuro-
vascular
• Inspeksi
• Palpasi
• Jejas,
pembengkaka
n, pucat
• Mal-alignment
• Nyeri, nyeri
tekan,
Krepitasi
• Pulsasi hilang/
berkurang
•Kompartemen
• Defisit
neurologis
• Foto ronsen
• Doppler
• Pengukuran
tekanan
kompartemen
• Angiografi