24 Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1996

UJI ANALGESIK EKSTRAK ETANOL KERING RIMPANG KENCUR
ASAL PURWODADI PADA MENCIT DENGAN METODE
GELIAT (WRITHING REFLEX TEST)
PENDAHULUAN
K
ENCUR sebagai bahan jamu dm bumbu sudah. populer di
kalangan masyarakat. Selain sebagai penyedap masakan dan
penambah nafsu makan, salah satu indikasinya adalah untuk
penghilang pegel linu atau rasa capek (I).
Pegel diasumsi sebagai rasa r I
kimia yan: I setelah tubuh melakuk I
rasa sakit IIIL;rUpdhal manifestasi hampir serrluu r bl r JULI L uLLLY 6 ~ ~ ~ l d
linu dapat
g dihasilkan
-......-..I,""
~yer i akibat
:an aktifitas
... I ,n....nlr:,
rangsangan
. Nyeri atau
, ntn.. "ainl*
sakit yang sangat mengganggu. Tambahan informasi ilmiah mengenai
manfaat dan khasiat analgesik (penghilang rasa sakit) rimpang kencur
yang relatif mudah didapat dan-dibudidayakan ini akan sangat
membantu dalam upaya peningkatan pengobatan masyarakat (2).
BAHAN DAN CARP
Rimpang kencur (Kuempferiu gulungu L.) Rimpang Kencur diperoleh
dari Purwodadi Lawang (Jawa Timur) yang dipanen pada saat bagian
tmaman di atas tanah mengering. Rajangan rimpang kencur yang
sudah dikeringkan di bawah sinar matahari, ditumbuk dan diayak
Mesh 40, dibuat ekstrak etanol kering dan diberikan secara oral
dengan dosis 10 kali, 15 kali, dan 20 kali dosis manusia. Takaran
yang umum digunakan manusia 18 g/SO kg bb. Diperkirakan bobot
mta-mta manusia 50 kg.
Asetosal Asetosal sebagai pembanding 6 kali dosis manusia (6 x 500
mg/50 kg bb.) diberikan secara oral berbentuk suspensi dalam I mt an
tilose 5%.
Asam asetat Sebagai perangsang nyeri diinjeksikan asam asetat
0.75% I0 mUkg bb, secara intra peritonium.
Etanol 96%. Etanol 96% digunakan sebagai bahan penyari rimpang
kencur secara perkolasi.
Eluen Pada kromatografi lapis tipis sebagai eluen I larutan
diklorometan dan eluen I1 larutan benzen.
Hewan coba Hewan coba yang dipilih adalah jenis yang peka
terhadap rangsangan nyeri, yaitu mencit putih strain Balb C, umur 2-
3 bulan, betina. dan bobot 20 g - 30 g dari Vererinarian Farma,
Sumbaya (LVK).
Pembuatan sediaan ekstrak etanol kering rimpang kencur Serbuk
rimpang kencur dibasahi dengan etanol 96%. didiarnkan selama 3
jam. Setelah itu dipindahkan ke perkolator. bagian atas ditutup kertas
sai ng dan dituangi perlahan-1aha ~yari etanol 96% hingga
permukaan masa tergenang. Di ma 24 jam. kemudian
cairan perkolat dialirkan denga n I mumenit. Proses
perkolasi dihentikan setelah perkour jernln atau zat kandungan telah
tersari sempuma. Perkolat diuapkan sampai kental pada suhu 40°C di
n cairan per
amkan sela
in kecepata
. . . ..
atas tangas air. Perkolat kental diberi aerosil, digems dan diaduk
hingga homogen menjadi ekstrak etanol kering.
Uji identifikasi kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan
eluen I larutan diklorometan, eluen I1 larutan benzen dan sebagai
penampak noda larutan asam asetat pekat.
Cara perlakuan Manisfestasi nyeri akibat pemberian perangsang
nyeri asam asetat 0.75%. 10 mUkg bb., intra peritonium akan
menimbulkan refleks respons geliat (writhing) yang berupa tarikan
kaki ke belakang, penarikan kembali abdomen (retraksi) dan kejang
tetani dengan membengkokkan kepala d m kaki belakang. Metode ini
dikenal sebagai Writhing Rtlflex Test atau Abdominal Constriction
Tesr.
Pada semua mencit dilakukan uji kepekaan, diinjeksi asam asetat
0.75% 10 mUkg bb. Dalam waktu 5 menit, mencit akan memberikan
refleks respons geliat. Di luar ketentuan ini mencit dianggap tidak
1010s uji kepekaan. Sebanyak 30 ekor mencit yang lolos, dibagi dalam
5 grup: grup A, B, C, D, dan E masing-masing 6 ekor. Setelah
dipuasakan 12 jam, grup A diberi larutan tilose 0.5%; grup B,
asetosal 6 kali dosis manusia (3 gl50 kg bb.); grup C, D, dan E
masing-masing diberi ekstrak etanol kering rimpang kencur 10 kali,
15 kali, dan 20 kali dosis manusia atau sama dengan 180 g/50 kg bb.,
270 gl50 kg bb., dan 360 g/50 kg bb. Semua perlakuan diberikan
melalui sonde secara oral sebanyak 20 mUkg bb. Untuk grup B, C,
D, dan E sediaan diberikan berbentuk suspensi dalam larutan tilose
0,5%. Setelah 30 rnenit, mencit diinjeksi perangsang nyeri asam
asetat 0.75% 10 mUkg bb. secara intra peritonium. Selanjutnya
sepuluh menit kemudian diamati jumlah geliat yang tejadi selama 30
menit dengan interval 5 menit (3, 4, 5).
Tabel 1. Jurnlah geliat (writhinl
dan E
g) rnencit sel
.an..
lama 30 mer
Jumlat --I:-'
Mencit 9 1
No. A B C E
1 126 53 9 17 2
2 117 42 17 14 3
3 118 57 48 9 6
4 127 51 9 10 2
5 140 62 43 14 2
6 73 60 37 1 1
X 116,833 54.167 27,167 10,833 2,667
50% X 58.5
-
Analisa data
Pada Tabel 1 terlihat, bahwa jumlah rata-rata geliat grup perlakuan
B, C, D, dan E lebih besar jika dibandingkan 50% jumlah rata geliat
grup kontrol A. Hal ini menunjukkan, bahwa grup perlakuan tersebut
mempunyai kemampuan menahan rangsangan nyeri asam asetat yang
cukup besar.
Analisa varian sederhana yang dilakukan pada data Tabel 1
dengan derajat kemaknaan 5% menghasilkan F hitung = 68,751
sedangkan F tabel = 2,759. Harga F hitung yang lebih besar dibanding
F tabel menunjukkan, bahwa ada perbedaan bermakna jumlah geliat
atau respons nyeri.
Untuk mengetahui perbedaan bermakna antar gmp perlakuan.
dilakukan analisa Least Significant Different Test (LSD test) pada
derajat kemaknaan 5% dengan hasil sebagai berikut:
'Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya. Surabaya
Volume 3 No. 2 Warta Tumbuhan Obat Indonesia 25
Tabel 2. Uji LSD antar grup pada derajat kemaknaan 5%
Perhitungan % efektifitas analgesik dengan rumus:
Keterangan:
0 = tidak ada perbedaan bemakna efek analgesik
+ = ada perbedaan bermakna efek analgesik
Dari Tabel 2 ini dapat dilihat, bahwa ado perbedaan bermakna
efek analgesik antara pemberian ekstrak 10 kali, 15 kali, dan 20 kali
dosis manusia, jika dibandingkan dengan pemberian tilose 0.5% atau
asetosal 6 kali dosis manusia.
Perhitungan proteksi mencit terhadap induksi nyeri asam asetat
0.75% dengan rumus:
% proteksi = 100 - (ujikontrol x 100)
Uji = harga rata-rata jumlah geliat gmp perlakuan (B. C, D, dan E)
Kontrol = harga rata-rata jumlah geliat grup kontrol (A)
dengan hai l sebagai berikut.
Tabel 3. Rekapitulasi perhitungan % pmteksi mencit terhadap induksi
nveri asam asetat 0,75%
-
Gn Rata-rata % pmteksi Keterangan
-
Jumlah geliat
Keterangan:
-
: tidak ada kemampuan untuk menahan rangsang nyeri asam
a r mt ot
+ k menahan rangsang nyeri asam asetat
++ I rangsang nyeri asam asetat tergolong
W"L,..
: ada kemiu
: kemampu:
sedang
mpuan untu
m menahan
++t : kemampuan menahan rangsang nyeri asam asetat tergolong
besar
Disini dqat dilihat, bahwa semakin tinggi harga % proteksi,
semakin kecil jumlah geliat yang tejadi. Hal ini bemi , bahwa
jumlah ekstrak y m pada saat menahan rangsang
nyer ptor nyeri.
ang diberik:
~t pada rese
itu mampu I
% Efektifitas analgesik = % ekstrak x 100%
% proteksi asetosal
dengan hasil sebagai berikut.
Tabel 4. Rekapitulasi perhitungan % efektifitas analgesik
No. X 1 % Efektifitas analgesik
I 76,748 53. 6~0 143.09
I1 90.728 53,638 169.12
Ketenngan:
X = % proteksi ekstnk etanol kering rimpang kencur
Y = % proteksi asetosal
I, 11, 111 masing-masing adalah % efektifitas analgesik ekstrak 10 kali,
15 kali, dan 20 kali dosis manusia dibandingkan asetosal 6 kali dosis
manusia.
Dari Tabel 4 ditunjukkan, bahwa daya penurun rasa nyeri d d
ekstrak tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan asdtosa! ywg
mempakan obat analgesik modem yang telah ada di pasar.
Fakta lain menunjukkan, bahwa mencit yang diberi ekstrak
etanol kering rimpang kencur cenderung tidur. Geliat yang te rjadi per
menit (setiap selang waktu 5 menit) frekuensinya lebih sedikit dan
kualitasnya kecil jika dibandingkan dengan asetosal. Frekuensi geliat
mencit dalam waktu tertentu menunjukkan derajat nyeri yang
dirasakan. Hal ini berarti, bahwa ekstrak tersebut lebih mampu
menurunkan rasa nyeri bila dibandingkan asetosal.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data dapat disimpulkan,
bahwa ekstrak etanol kering rimpang kencur 10 kali, I5 kali, dan 20
kali dosis manusia menunjukkan khasiat analgesik; daya analgesik
lebih besar jika dibandingkan dengan asetosal 6 kali dosis manusia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Perry, LM. Medical Plants Of East & Southeast Asia Attributed Properties and
Uses. The MTT Press, Cambridge. Massachussets and London. England.
1980, hal. 442.
2. Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami (Perhipba). Ernpon-empon dan Tanaman
lain dalam Zingiberaceae. Seri Tanaman Obat. 1989, hal. 38- 40.
3. Mutschler, E. Dinamika Obat, diterjemahkan oieh Widianto M.B.. Ranti AS., Ediii
Kelima. ITB. Bandung. 1991. hal. 177-182.
4. Smith SE. Bagaimana Obat Bekerja. Edisi Pertama, Grafidian Jaya, Jakarta.
1982, hal. 64-68
: 5. Kelompok Kerja llmiah Pengembangan dan Pemanfaatan Obat Bahan Alam.
Penapisan Farmakologi. Pengujian Fiokimia dan Pengujian Klinik. 1991.
hal. 3-A 01.