You are on page 1of 23

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berbicara tentang tanaman tidak akan lepas dari masalah pupuk. Dalam pertanian
modern, penggunaan materi yang berupa pupuk adalah mutlak untuk memacu
tingkat produksi tanaman yang diharapkan.
Seperti telah diketahui bersama bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar
dipasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, maupun
kemasannya. Pupuk–pupuk tersebut hampir 90% sudah mampu memenuhi
kebutuhan unsur hara bagi tanaman, dari unsur makro hingga unsur yang
berbentuk mikro. Kalau tindakan pemupukan untuk menambah bahan-bahan yang
kurang tidak segera dilakukan tanaman akan tumbuh kurang sempurna, misalnya
menguning, tergantung pada jenis zat yang kurang.
Menurut hasil penelitian setiap tanaman memerlukan paling sedikit 16
unsur (ada yang menyebutnya zat) agar pertumbuhannya normal. Dari ke 16 unsur
tersebut, tiga unsur (Carbon, Hidrogen, Oksigen) diperoleh dari udara, sedangkan
13 unsur lagi tersedia oleh tanah adalah Nitrogen (N), Pospor (P), Kalium (K),
Calsium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur atau Belerang (S), Klor (Cl), Ferum atau
Besi (Fe), Mangan (Mn), Cuprum atau Tembaga (Cu), Zink atau Seng (Zn),
Boron (B), dan Molibdenum (Mo). Tanah dikatakan subur dan sempurna jika
mengandung lengkap unsur-unsur tersebut diatas.
Pemberian pupuk yang baik sangat tergantung pada jenis pupuk yang
diberikan dengan teknik atau cara penggunaannya yang tepat sehingga dapat
dimanfaatkan oleh tanaman seefisien mungkin. Oleh karena itu, maka


dilaksanakanlah praktikum Pupuk dan Pemupukan sebagai sarana untuk
pengaplikasian pupuk pada jenis tanaman dengan jenis tanah yang berbeda pula
yang baik dan efisien.
1.2.Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari praktikum Pupuk dan pemupukan yaitu membantu mahasiswa
dalam mempelajari jenis-jenis pupuk, kelebihan, dan kekurangan berbagai jenis
pupuk, mengetahui perbedaan manfaat pupuk organik dan pupuk anorganik,
mengetahui cara memberikan pupuk organik dan pupuk anorganik pada jenis
tanah yang berbeda, serta mampu memberikan rekomendasikan pemupukan pada
tanaman dengan jenis tanah yang berbeda.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat menerapkan atau
mengaplikasian teknik dalam pemupukan yang baik dan benar pada tanaman
dengan jenis tanah yang berbeda.












II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pupuk dan Pemupukan
Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau
biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Dalam
pengertian yang khusus, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau
lebih hara tanaman. (USU, 2011)
Dalam USU Reporsitory (2011), Pemupukan merupakan usaha
memasukkan usaha zat hara kedalam tanah dengan maksud
memberikan/menambahkan zat tersebut untuk pertumbuhan tanaman agar
didapatkan hasil (produksi) yang diharapkan. Disamping itu pupuk dapat
diberikan melalui batang atau daun sebagai larutan. Pupuk diperlukan apabila
tanah sudah miskin akan zat hara, karena telah lama diusahakan.
Cara penempatan pupuk dan pemberian pupuk dalam tanah yang tepat
merupakan hal sangat penting. Agar pupuk dapat dimanfaatkan tanaman secara
baik, pupuk harus berada dalam daerah perakaran. Pupuk tanaman dapat
berbentuk padat, cair atau gas. (USU, 2011)
Macam-macam cara memupuk antara lain (Adityo Guni Waluyo, 2013):
1. Ditabur atau disebar. Diterapkan untuk pupuk berupa butiran (granule)
atau serbuk. Pemupukan cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak
tanamnya rapat atau tidak teratur dan pada tanaman yang sistem
perakarannya dangkal seperti tanaman padi.
2. Larikan. Bikin larikan untuk memupuk, masukkan pupuk ke dalam larikan
kemudian tutup lagi dengan tanah agar pupuk yang diberikan tidak mudah


menguap. Pemupukan cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak
tanamnya lebar dan teratur seperti jagung, kacang tanah, dll.
3. Dimasukkan ke lubang tanam. Digunakan untuk tanaman tahunan yang
sebelumnya diawali dengan pembuatan lubang tanam. Pupuk dimasukkan
ke dalam lubang kemudian ditutup lagi dengan tanah.
4. Pengocoran. Diterapkan untuk pupuk cair atau pupuk padat yang
pemberiannya dilarutkan dulu dalam air. Keuntungan memupuk cara ini
adalah pupuk langsung diserap oleh akar tanaman yang kemudian diolah
oleh daun.
2.2. Tanah Inceptisol
Tanah-tanah pada lahan kering umumnya termasuk ordo Ultisol, Oxisol dan
Inceptisol (Hidayat dan Mulyani 2005). Lebih lanjut Kasno (2009) menyatakan
bahwa dari ketiga ordo tanah tersebut, Inceptisol merupakan jenis tanah yang
potensial untuk dikembangkan dengan luas mencapai 52,0 juta ha secara nasional.
Inceptisol adalah tanah yang kecuali dapat memiliki epipedon okrik dan albik
seperti tanah Entisol, juga dapat memiliki beberapa sifat penciri lain seperti
horison kambik tetapi belum memenuhi bagi ordo tanah lain (Hardjowigeno,
1993). Menurut Soil Survey Staff (2010), konsep sentral Inceptisol adalah tanah-
tanah dari daerah dingin atau sangat panas, lembab, sub lembab dan yang
mempunyai horison kambik dan epipedon okrik. Informasi sifat tanah ini
membantu dalam pengklasifikasian ke dalam sistem klasifikasi tanah baku,
sehingga dapat memberikan pengetahuan awal tentang pengelolaan tanah ini,
terutama dalam ekosistem lahan kering.


Pembentukan solum tanah Inceptisol yang terdapat di dataran rendah
umumnya tebal, sedangkan pada daerah-daerah berlereng curam solum yang
terbentuk tipis. Warna tanah Inceptisol beranekaragam tergantung dari jenis bahan
induknya. Warna kelabu bahan induknya dari endapan sungai, warna coklat
kemerahmerahan karena mengalami proses reduksi, warna hitam mengandung
bahan organik yang tinggi (Resman dkk.,2006).
Sifat fisik dan kimia tanah Inceptisol antara lain; bobot jenis 1,0 g/cm3,
kalsium karbonat kurang dari 40 %, pH mendekati netral atau lebih (pH < 4 tanah
bermasalah), kejenuhan basa kurang dari 50 % pada kedalaman 1,8 m, COLE
antara 0,07 dan 0,09, nilai porositas 68 % sampai 85 %, air yang tersedia cukup
banyak antara 0,1 – 1 atm (Resman dkk., 2006).
Proses pedogenesis yang mempercepat proses pembentukan tanah
Inceptisol adalah pemindahan, penghilangan karbonat, hidrolisis mineral primer
menjadi formasi lempung, pelepasan sesquioksida, akumulasi bahan organik dan
yang paling utama adalah proses pelapukan, sedangkan proses pedogenesis yang
menghambat pembentukan tanah Inceptisol adalah pelapukan batuan dasar
menjadi bahan induk (Resman dkk.,2006). Selanjutnya, menurut Hardjowigeno,
(1993) Inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) dengan
perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah yang matang dan
masih banyak menyerupai sifat bahan induknya.
Walaupun tergolong tanah subur tanah Inceptisol memiliki berbagai
kendala. Kendala pada tanah tersebut adalah pH tanah yang cukup masam, daya
fiksasi P tinggi, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa rendah dan pencucian


hara cukup tinggi. Menurut Donahue (1983 dikutip Munir, 1996), produktivitas
tanah Inceptsol dapat ditingkatkan jika pengelolaan terhadap pemupukan dan
pengolahan tanah serta teknik budidaya dilakuakan secara tepat. Pemupukan P
pada tanah Inceptisol memiliki tingkat efisiensi yang rendah (< 30%) disebabkan
terikatnya P oleh Al dan Fe sehingga peyerapan P oleh akar tanaman juga rendah
dan sebagian besar tersisa dalam tanah.
Kesuburan alami tanah Inceptisol umumnya terdapat pada lapisan atas
yang tebal dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Unsur hara makro
seperti fosfor dan kalium yang terjadi bukan hasil dari illuviasi, reaksi tanah yang
tidak terlalu masam merupakan sifat-sifat tanah Inceptisol yang sering sangat
mendukung untuk pertumbuhan tanaman, tetapi terdapat juga tanah Inceptisol
yang bermasalah yaitu yang mengandung horizon sulfurik (cat clay) yang sangat
masam yang mempengaruhi sifat kimia tanah seperti kurang tersedianya unsur-
unsur hara bagi tanaman (Hardjowigeno, 2003).
Pemanfaatan tanah Inceptisol untuk tanaman pangan umumnya terkendala
oleh sifat-sifat kimia tersebut yang dirasakan berat bagi petani untuk
mengatasinya, karena kondisi ekonomi dan pengetahuan yang umumnya lemah.
Upaya untuk mengatasi kendala pada tanah Inceptisol dilakukan dengan cara
pemberian pupuk hayati mikroriza beragensi Bacillus sp. B-46, yang dapat
meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi sehingga dapat mengurangi
pemakaian pupuk dan pestisida sintetis, serta meningkatkan pendapatan petani.
Aplikasi pupuk hayati mikoriza beragensi bacillus sp. B-46 pada tanaman kedelai
dan cabai dapat meningkatkan serapan P, mengurangi pemakaian pupuk NPK


sebesar 42-49 % dan mengurangi pemakaian pestisida sintetis 20-29 %
(Rokhminarsi et. al., 2009). Pemberian pupuk hayati Mikoriza bersimbiosis
Bacillus sp. B-46 saja tidak akan memberikan hasil yang maksimal untuk
pertumbuhan tanaman. Pupuk N-P-K juga sangat berperan dalam pertumbuhan
tanaman khususnya tanaman Cabai. Jenis pupuk N-P-K yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pupuk ZA, pupuk SP-36, dan Pupuk KCl yang
penggunaannya masing-masing disesuaikan dengan dosis anjuran.
2.3. pH Tanah
Dalam USU Repository (2011), pH tanah merupakan derajat keasaman dan
kebasaan tanah yang pengukurannya didasarkan pada banyaknya konsentrasi ion
hidrogen yang larut dalam tanah, tanah yang sangat asam sebagai pembatasnya.
Nilai pH diukur dengan cara elektromagnetis dilaboratorium. Klasifikasi pH tanah
sebagai berikut :
Tabel 7. Klasifikasi pH tanah
No. Kelas pH Tanah
1 Sangat Masam <4,5
2 Masam 4,5- <5,5
3 Agak Masam 5,5-<6,5
4 Netral 6,5-<7,5
5 Agak Alkalis 7,5-<8,0
6 Alkalis 9,0-<9,0
Sumber : CSR/FAO Staff, 1983 dalam Listyanto, 2008
Istilah pH merupakan pengenal yang lazim untuk menggambarkan derajat
keasaman tanah. Tanah mineral memiliki kisaran pH antara 3.5 dan 10.0 atau
lebih. Sementara itu, tanah gambut dapat memiliki nilai pH antara 3.0 dan 4.0,


sebaliknya tanah alkalin dapat menunjukkan pH lebih dari 11.0. Keasaman tanah
dapat mempengaruhi penyerapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman melalui
pengaruh langsung ion hidrogen, atau pengaruh tidak langsung, yaitu pengaruhnya
terhadap ketersediaan unsur hara dan keberadaan unsur-unsur yang beracun,
seperti Al
3+
(Soepardi 1989). Beberapa unsur hara fungsional berkurang bila pH
dinaikkan dari 5.0 menjadi 7.5 atau 8.0, contohnya besi, mangan, dan zink.
Molibdenum berkurang ketersediaannya bila pH diturunkan.
Status kimia tanah mempengaruhi proses biologik yaitu pertumbuhan
tanaman. Reaksi tanah atau pH tanah yang ekstrim menunjukkan keadaan kimia
tanah yang dapat mengganggu proses biologik. Keasaman tanah juga
mempengaruhi pertumbuhan akar. pH tanah dengan kisaran 5 – 8 berpengaruh
langsung pada pertumbuhan akar. Meskipun masing-masing tanaman
menghendaki kisaran pH tertentu, tetapi kebanyakan tanaman tidak dapat hidup
pada pH yang sangat rendah (di bawah 4) dan sangat tinggi (di atas 9). Keasaman
tanah juga menentukan kelakuan dari unsur-unsur hara tertentu, karena pH dapat
mengendapkan atau membuat unsur hara tersedia (Anonim
a
, 2010).
pH tanah adalah salah satu dari beberapa indikator kesuburan tanah, sama
dengan keracunan tanah. Level optimum pH tanah untuk aplikasi penggunaan
lahan berkisar antara 5–7,5. tanah dengan pH rendah (acid) dan pH tinggi (alkali)
membatasi pertumbuhan tanaman. Efek pH tanah pada umumnya tidak langsung.
Di dalam kultur larutan umumnya tanaman budidaya yang dipelajari
pertumbuhannya baik/sehat pada level pH 4,8 atau lebih (Anonim
a
, 2010)



2.4. Pengapuran
Pengapuran adalah pemberian kapur ke dalam tanah pada umumnya bukan karena
tanah kekurangan unsur Ca tetapi karena tanah terlalu masam. Oleh karena itu pH
tanah perlu dinaikkan agar unsur-unur hara seperti P mudah diserap tanaman dan
keracunan Al dapat dihindarkan (Sarwono hardjowigeno, 1992).
Pemberian kapur (pengapuran) pada tanah masam dimaksudkan
untuk menurunkan atau meniadakan pengaruh Al terhadap pertumbuhan tanaman,
serta meniadakan selaput Al pada akar tanaman, sehingga tanaman
dapat mengambil hara dengan optimum. Pengapuran dapat meningkatkan
ketersediaan hara P dan K dalam tanah. Pemberian kapur dalam tanah
dapat meningkatkan pH tanah, sehingga unsur hara tanah tersedia optimum.
Selain itu pengapuran dapat meningkatkan aktivitas biologi tanah. Pengapuran
juga diberikan karena pH tanah rendah (pH < 5,5). Pada tanah yang mempunyai
pH rendah ketersediaan hara bagi tanaman menurun, aktivitas biologi tanah
berkurang, dan keracunan Al meningkat (Deptan Litbang, 2010).
Dalam FAA-Entertaint (2009), biasanya pemberian kapur dilakukan 1 – 2
minggu sebelum tanam bersamaan dengan pengolahan kedua (penghalusan
agregat tanah) sehingga tercampur merata pada separuh permukaan tanah
olah. Kecuali pada tanah padang rumput yang tidak dilakukan pengolahan
tanah diberikan di permukaan tanah olah. Pemberian kapur dengan alat penebar
mekanik bermotor atau traktor akan lebih efektif dan efisien pada lahan
pertanian yang luas.


Pengapuran harus disertai pemberian bahan organik tanah atau
pengembalian sisa panen ke dalam tanah. Hal ini sangat penting untuk
menghindari pemadatan tanah dan pencucian, serta meningkatkan efek
pemupukan. Selain itu efek bahan organik terhadap pH tanah menyebabkan
reaksi pertukaran ligand antara asam-asam organik dengan gugus hidroksil
dari besi dan aluminium hidroksida yang membebaskan ion OH-. Di samping
itu, elekrton yang berasal dari dekomposisi bahan organik dapat
menetralkan sejumlah muatan positif yang ada dalam sistem kolid sehingga
pH tanah meningkat (Hue, 1992; Yu, 1989 dalam FAA-Entertaint, 2009).
2.5. Pupuk Dasar
Pupuk dasar merupakan pupuk yang digunakan sebagai dasar/pondasi tanaman air
yang akan kita tanam. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan
tanam sejumlah beberapa pupuk organic, Urea, TSP, KCl dengan membuat
larikan atau ditugalkan atau menampurkannya jika pada tanahdalam pot kemudian
ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam
atau diinkubasikan selama beberapa hari untuk pemakaian dalam pot. Pemberian
pupuk Nitrogen merupakan, kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi.
Pemberian pupuk phosphat dan kalium bersama-sama dengan nitrogen
memberikari hasil yang lebih baik. (Deptan Litbang, 2010).
1. Pupuk Urea
Merupakan pupuk Nitrogen untuk pertumbuhan akar, batang dan daun. Sebelum
diserap oleh akar, nitrogen terlebih dahulu diubah menjadi nitrat melalui
beberapa tahapan proses alamiah. Pupuk urea sangat peka terhadap air/ uap


air dan suhu udara. Urea yang terurai oleh air menjadi Carbon Dioksida (CO
2
) dan
Amoniak (NH
3
). Kedua senyawa ini pada suhu khatulistiwa 28º – 31º C
akan menjadi gas. Pada musim kemarau hampir 55 % dari dosis urea yang
ditaburkan hilang oleh penguapan. Dan dimusim hujan, urea akan larut dalam air
mencapai 79% dan hilang dalam proses pencucian. Maka sangat tidak
menguntungkan jika urea ditaburkan pada saat matahari sangat terik atau saat
jumlah air melimpah. (Cooke, 1982)
2. Pupuk Phospat (TSP, SP-36, CiRP, RP dan lainnya)
Pupuk unsur hara Fosfor (P) yang merangsang pertumbuhan akar, khususnya
akar benih dan tanaman muda. Fosfor berfungsi sebagai bahan pembentuk protein,
membantu asimilasi serta mempercepat pembentukan bunga, pematangan biji dan
buah. Sifat fosfat ini bereaksi dengan logam-logam berat, sehingga hanya 1/4
hingga 1/3 bagian dari fosfat yang dapat dimanfaatkan tanaman. Selebihnya
membentuk endapan yang sulit larut dalam air (fiksasi). Proses ini menjadikan
lapisan tanah mengeras, terutama lahan yang sudah berulang kali ditaburi fosfat.
Efek keseluruhannya menyebabkan tertutupnya pori-pori tanah sehingga
transportasi udara, air dan unsur hara tidak berjalan serta mikroba-mikroba yang
bekerja menyuburkan tanah terancam punah. (Tan Kim Hong, 1982)
Rendahnya kadar sulfur (S) di dalam tanah disebabkan oleh penyerapan
tanaman yang tinggi, rendahnya kadar sulfur di dalam pupuk yang selama ini
dipakai oleh petani kelapa sawit dan rendahnya kemampuan tanah dalam
menyediakan sulfur. Sulfur diperlukan dalam jumlah yang tinggi sesudah nitrogen
karena kelapa sawit termasuk tanaman yang bijinya menghasilkan minyak (oil


seed). Semua tanaman jenis ini memerlukan sulfur dalam jumlah yang banyak
untuk pembentukan asam amino dalam menghasilkan protein nabati yang
terkandung di dalam minyak sawit (Kamprath dan Till, 1983).
Pupuk yang dipakai oleh petani mengandung sulfur yang sangat rendah
sehingga kontribusinya dalam menyediakan sulfur juga rendah. Sedangkan kadar
sulfur di dalam tanah kering masam yang jauh dari lokasi industri termasuk sangat
rendah-rendah (masih <250 ppm) karena sumbangan dari udara, dan air hujan
rendah (<5 kg ha-1 tahun-1) (Gupta dan Dubey, 1998).
3. Pupuk MOP (KCL)
Merupakan sumber Kalium (K) bagi tanaman. Fungsi utamanya membantu
pembentukan protein dan karbohidrat. Kalium juga berperan memperkuat tubuh
tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur. Kalium merupakan
sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit.
Untuk tanah yang liat kalium yang ditaburkan terikat oleh komponen tanah
sehingga hanya 1/4 hingga 1/3 dosis yang dapat terserap tanaman. Untuk tanah
berpasir dimana pori-pori tanah cukup besar maka pupuk kalium mudah tercuci
dan terbawa aliran air (Anonim
b
, 2010).
Untuk kasus kalium, kadarnya yang rendah dimungkinkan oleh tingginya
kebutuhan kelapa sawit akan kalium sehingga terjadi penyerapan yang melebihi
unsur hara lainnya. Hal ini dilaporkan oleh Moody et al. (2002) bahwa untuk
menghasilkan sebanyak 27 ton TBS, kelapa sawit memerlukan kalium tertinggi
sebanyak 257 kg, diikuti oleh nitrogen, sulfur, magnesium, kalsium, dan fosfor,
masing-masing sebanyak 190, 60, 54, 43, dan 26 kg.


2.6. KTK Tanah
Menurut Buckman & Brady (1969), Kemampuan koloid tanah dalam menjerap
unsur hara dapat ditentukan dengan mudah. Unsur hara yang terjerap ditukar oleh
barium atau amonium. Jumlah barium atau amonium terukur akan sebanding
dengan jumlah kation yang dijerap oleh koloid tanah. Umumnya penetapan ini
dilakukan pada pH 7 atau lebih.
KTK secara umum dapat memberikan gambaran tentang banyaknya kation
tanah dalam bentuk tersedia yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman maupun
mikroorganisme. Kation-kation memasuki larutan tanah, kemudian diserap oleh
akar dan organisme tanah atau hilang akibat pencucian. Satuan yang dipakai
dalam reaksi kapasitas tukar kation adalah miliekuivalen. Satu miliekuivalen sama
dengan satu miligram ion hidrogen atau sejumlah ion lain yang dapat bergabung
atau menggantikan ion yang sedang diukur. Sebagai contohnya, bila liat
mempunyai nilai KTK 1 miliekuivalen tiap 100 gram (1me/100 gram), maka liat
tersebut dapat menjerap 1 mg hidrogen tiap 100 gram bahan. Satu ekuivalen
hidrogen dalam 100 gram sama dengan 10 ppm. Dengan demikian, tanah tersebut
memiliki 20 kg ion hidrogen tiap hektar. (Eti Sulastri, 2006)
Tan (1991) menjelaskan dalam Eti Sulastri (2006), faktor yang
memengaruhi KTK salah satunya adalah tekstur tanah. Makin halus tekstur tanah,
makin tinggi KTK-nya. Sebagai contohnya, tanah pasir dan lempung berpasir
mengandung sedikit liat koloid, kemungkinan miskin bahan organik (humus),
sehingga nilai KTK-nya rendah. Sebaliknya tanah bertekstur halus mengandung
lebih banyak liat, lebih banyak humus, dan memiliki nilai KTK yang tinggi.


Kejenuhan kation dalam larutan tanah dan serapan hara oleh tanaman juga
besar pengaruhnya terhadap KTK. Bila persentase kejenuhan suatu unsur dalam
tanah tinggi, maka pergantian (pertukaran) kation unsur tersebut relatif sangat
mudah. Demikian pula pengaruh keberadaan ion-ion lain. Misalnya terdapat dua
jenis tanah, keduanya mengandung kalsium, tanah pertama mengandung ion
hidrogen dalam jumlah banyak, sedangkan tanah kedua mengandung ion natrium.
Karena pada tanah pertama ion hidrogen diikat lebih kuat dari pada ion kalsium,
sedangkan pada tanah kedua ion kalsium diikat oleh kompleks jerapan lebih kuat
dari pada ion natrium, maka dapat diramalkan larutan tanah pertama memiliki
kadar kalsium lebih tinggi dibandingkan dengan tanah kedua. Sementara jenis liat
penyusun tanah akan menentukan mudah tidaknya suatu kation digantikan dari
permukaan kompleks jerapan. (Eti Sulastri, 2006)
2.7. C-Organik
Bahan organik tanah merupakan komponen penting penentu kesuburan tanah,
terutama di daerah tropika seperti di Indonesia dengan suhu udara dan curah hujan
yang tinggi. Kandungan bahan organik yang rendah menyebabkan partikel tanah
mudah pecah oleh curah hujan dan terbawa oleh aliran permukaan sebagai erosi,
yang pada kondisi ekstrim mengakibatkan terjadinya desertitifikasi. Rendahnya
kandungan bahan organik tanah disebabkan oleh ketidakseimbangan antara peran
bahan dan hilangnya bahan organik dari tanah utamanya melalui proses oksidasi
biologis di dalam tanah. Erosi tanah lapisan atas yang kaya akan bahan organik
juga sangaberperan dalam berkurangnya kandungan bahan organik tanah tersebut.
Bahan organik tanah merupakan cadangan (pool) bahan organik yang dinamis,


sehingga perubahan bersih (net change) dalam cadangan tersebut lebih informatif
dari pada jumlah mutlaknya (Ellert, 2004).
Pengaruh pemberian bahan organik terhadap struktur tanah sangat
berkaitan dengan tekstur tanah yang diperlakukan. Pada tanah lempung yang
berat, terjadi perubahan struktur gumpal kasar dan kuat menjadi struktur yang
lebih halus tidak kasar, dengan derajat struktur sedang hingga kuat, sehingga lebih
mudah untuk diolah. Komponen organik seperti asam humat dan asam fulvat
dalam hal ini berperan sebagai sementasi pertikel lempung dengan membentuk
komplek lempung-logam-humus (Stevenson, 1982).
Pada tanah pasiran bahan organik dapat diharapkan merubah struktur tanah
dari berbutir tunggal menjadi bentuk gumpal, sehingga meningkatkan derajat
struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi
sedang atau kasar (Scholes et al., 1994). Bahkan bahan organik dapat mengubah
tanah yang semula tidak berstruktur (pejal) dapat membentuk struktur yang baik
atau remah, dengan derajat struktur yang sedang hingga kuat.
2.8. Syarat Tumbuh Tanaman Jagung
Syarat tumbuh tanaman jagung terbagi menjadi dua, yaitu syarat iklim dan
syarat tanah. Syarat iklim terdiri dari: 1) tanaman jagung tumbuh di tanah tropik
dan sub tropic, 2) tanaman jagung dapat beradaptasi luas terhadap lingkungan
tumbuh, 3) ketinggian tempat antara 0-1300 m dpl, 4) suhu udara 13 -38
o
C,
4) selama pertumbuhan, jagung membutuhkan suhu optimum 23-27
o
C (suhu
bukan masalah bagi perkembangan jagung), 5) curah hujan optimum adalah 100


mm-125 mm per bulan, dan 6) untuk pertumbuhan dan produksi jagung
memerlukan penyinaran matahari penuh (Heru Febriansyah,2010).
Menurut Heru Febriansyah (2010), adapun syarat tanah tanaman jagung
yaitu tanaman jagung membutuhkan tanah yang bertekstur lempung, lempung
berdebu, atau lempung berpasir dengan struktur tanah remah, aerasi dan drainase
baik, serta endap air. Keadaan tanah ini dapat memacu pertumbuhan dan produksi
jagung bila tanahnya subur, gembur dan kaya bahan organik. Tanah yang
kekurangan air dapat menimbulkan penurunan produksi jagung hingga 15%.
Tanaman jagung tahan terhadap pH tanah 5,5 sedangkan pH tanah yang paling
baik adalah 6,8. Dari hasil penelitian bahwa reaksi tanah pH 6,8 dapat
menimbulkan hasil yang tinggi. Pada tanah dengan pH 7,5 dan pH tanah di bawah
5,7 pada jagung cendrung menurun.













III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum pupuk dan pemupukan dilaksanakan mulai tanggal 9 Maret
sampai 6 Mei 2013 di Lahan Teaching Farm Industri dan laboratorium
fisika tanah.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum pupuk dan pemupukan adalah
cangkul, linggis, meteran, tali raffia, ayakan, ember, plastik, selotip, dan
alat penghalus, roll film, mistar, dan alat tulis menulis. Sedangkan bahan
yang digunakan yaitu tanah Inceptisol, benih jagung, aquades, kapur
bangunan, pupuk Urea, TSP, dan KCL.
3.3. Prosedur Kerja
Praktikum pupuk dan pemupukan terdiri dari beberapa langkah-langkah
percobaan, yang terdiri sebagai berikut:
3.3.1. Pembukaan Lahan
1. Menentukan lokasi lahan yang akan digunakan dalam praktikum Pupuk
dan Pemupukan.
2. Membersihkan vegetasi yang ada di permukaan tanah.
3. Mengukur luas lahan yang akan digunakan,
4. Memberikan patokan dengan tali raffia pada lahan yang digunakan sebagai
pembatas dengan lahan kelompok yang lain.




3.3.2. Penghalusan
1. Menimbang tanah sebanyak 2,5 kg dan mengering-udarakannya hingga
kadar air dalam tanah sedikit berkurang untuk memudahkan kita dalam
penghalusan tanah.
2. Menghaluskan tanah dengan menumbuk-numbuk tanah dengan perlahan.
3. Mengayak tanah dengan saringan tepung.
4. Memasukkan tanah ke dalam ember dan menutupnya dengan plastik agar
kadar air di dalam ember dapat terjaga.
3.3.3. Perhitungan pH
1. Mengambil sampel tanah sebanyak kurang lebih 1/8 bagian dari roll film.
2. Memasukkannya ke dalam roll film dan menambahkannya dengan
Aquades.
3. Mengocok roll film selama 15 menit. Setelah itu, kita mendiamkannya
terlebih dahulu sebelum akan dilakukan pengukuran pH.
4. Mengukur pH dengan menguunakan kertas indikator pH.
5. Membaa dan mencatat hasil dari pengukuran pH.
3.3.4. Pengapuran
1. Sebelum pemberian kapur, terlebih dahulu kita menghitung dosis kapur
berdasarkan perlakuan yang diinginkan.
2. Dikarenakan dosis yang digunakan untuk semua perlakuan adalah berbeda
maka kita selanjutnya akan menimbang dosis Kapur berdasarkan
perlakuan yang berbeda tersebut.


3. Setelah itu, membuka plastik penutup ember dan mencampurkan tanah
dengan masing-masing Kapur secara merata.
4. Menutup kembali tanah yang telah tercampur Kapur tadi dan
menginkubasikannya selama 14 hari (2 minggu).
3.3.5. Pemberian Pupuk Dasar
1. Sebelum pemberian pupuk dasar, terlebih dahulu kita menghitung dosis
pupuk Urea, TSP, dan KCL berdasarkan perlakuan yang diinginkan.
2. Dikarenakan dosis yang digunakan untuk semua perlakuan adalah sama
maka kita selanjutnya akan menimbang pupuk Urea sebanyak 0,4 gram,
TSP sebanyak 0,2 gram, dan KCL sebanyak 0,2 gram.
3. Setelah itu, membuka plastik penutup ember dan mencampurkan tanah
dengan masing-masing pupuk secara merata pada ember.
4. Menutup kembali tanah yang telah tercampur pupuk dasar tadi dan
menginkubasikannya selama empat hari.
3.3.6. Penanaman benih Jagung
1. Membuka plastik penutup ember
2. Menyiram pot terlebih dahulu sebelum menanam benih Jagung sebanyak 2
biji setiap pot
3.3.7. Pemeliharaan dan Penyulaman
1. Menyiram setiap pagi dan sore dan membersihkan gulma-gulma baik di
dalam maupun diluar pot tanaman Jagung agar pertumbuhan tanaman
Jagung menjadi optimal.
2. Menyulam bibit jagung yang mati dengan bibit jagung yang tumbuh.


3.3.8. Pengukuran
1. Mengukur tinggi tanaman, lebar daun dan jumlah daun, berat kering
tanaman, serta gejala defisiensi sebagai parameter pengamatan yang
dilakukan dalam praktikum pupuk dan pemupukan.
















DAFTAR PUSTAKA
Adityo Guni Waluyo, 2013. Pupuk dan Pemupukan. Diakses di
http://www.jurnalharian.com/2013/01/pupuk-dan-pemupukan.html tanggal
13 Mei 2013, Makassar.

Anonim
a
, 2010. Reaksi Tanah (pH Tanah). Diakses di http://wahyuaskari.
wordpress.com/literatur/reaksi-tanah-ph-tanah/ tanggal 13 Mei 2013,
Makassar.

Anonim
b
, 2010. Jenis-Jenis Pupuk dan Permasalahannya. Diakses di http://plact.
wordpress.com/jenis-jenis-pupuk-dan-permasalahannya/ tanggal 13 Mei
2013, Makassar.

Buckman HO, Brady NC. 1969. The Nature and Properties of Soil. New York:
Macmillan.

Cooke, G.W. 1982. Fertilizer For Maximum Yield. Granada Publishing. London.

Deptan Litbang. 2010. Pengapuran Tanah Masam untuk Jagung dan Kedelai.
Diakses di http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10040.pdf
tanggal 17 April 2013, Makassar.

Eti Sulastri. 2006. Perubahan Kapasitas Tukar Kation Dan Kadar Fosfat Tanah
Akibat Perlakuan Pupuk Organik Dalam Sistem Budi Daya Sayuran
Organik. Diakses di http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456
789/46120/G06esu1.pdf?sequence=1 tanggal 18 april 2013, Makassar
.
Ellert, 2004. Karakteristik Kimia dan Kesuburan Tanah. Diakses di http://
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20920/5/Chapter%20I.pdf
tanggal 18 April 2013, Makassar.
FAA-Entertaint, 2009. Tanah Masam dan Pengapuran. Diakses di http://faa-
entertaint.blogspot.com/2009/03/tanah-masam-dan-pengapuran.html
tanggal 13 Mei 2013, Makassar.

Hardjowigeno S. 1989. Ilmu Tanah. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.

Hardjowigeno S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademika
Pressindo.

Hardjowigeno S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademika
Pressindo. Diakses di http://blog.ub.ac.id/zeindiligentstudent/2011/05/09/
pengapuran-dan-c-organik/ tanggal 17 april 2013, Makassar.



Heru Febriansyah, 2010. Syarat Tumbuh Tanaman Jagung. Diakses di
http://alversia.blogspot.com/2010/09/syarat-tumbuh-tanaman-jagung.html
tanggal 20 Mei 2013, Makassar.

Hidayat dan Mulyani, 2005. Karakteristik Kimia dan Kesuburan Tanah. Diakses
di http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20347/4/Chapter%20II.
pdf tanggal 17 April 2013, Makassar.

Kamprath, E.J. and A.R. Till. 1983. Sulfur Cycling In the Tropics. In G.J. Blair
and A.R Till (Eds.). Sulphur In South-East Asian and South Pacific.

Munir, 1996. Tanah-tanah Utama Indonesia. Jakarta. Pustaka Jaya.

Gupta dan Dubey, 1998. Jenis-Jenis Pupuk dan Permasalahannya. Diakses di
http://plact.wordpress.com/jenis-jenis-pupuk-dan-permasalahannya/
tanggal 13 Mei 2013, Makassar

Moody et al. (2002). Jenis-Jenis Pupuk dan Permasalahannya. Diakses di
http://plact.wordpress.com/jenis-jenis-pupuk-dan-permasalahannya/
tanggal 13 Mei 2013, Makassar

Rokhminarsi et. al., 2009. Efektivitas Pupuk Hayati Mikoriza. Diakses di http://
agrotek-aam.blogspot.com/2012/03/usul-penelitian-mikoriza-dan-bacillus.
html tanggal 13 Mei 2013, Makassar.

Kasno, 2009. Karakteristik Kimia dan Kesuburan Tanah. Diakses pada
http://repository.usu. ac.id/bitstream/123456789/0347/4/Chapter%20II.pdf
tanggal 17 April 2013, Makassar.

Resman, A.S. Syamsul, dan H.S. Bambang. 2006. Kajian beberapa sifat kimia
dan fisika inceptisol pada toposekuen lereng selatan gunung merapi
kabupaten sleman. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan.

Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor: Departemen Tanah Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Stevenson, F.T. 1982. Humus Chemistry. John Wiley and Sons, Newyork.
Diakses di http://suntoro.staff.uns.ac.id/files/2009/04/pengukuhan-prof-
suntoro.pdf tanggal 18 April 2013, Makassar.

Scholes, M.C., M.J. Swift, O.W. Heal, P.A.Sanchez, J.S. Ingram, and R. Dalal.
1994. Soil fertility research in respons to the demand for sustainability. p.
1–15. In P.L. Woomer and M.J. Swift (Eds.). The Biological Management
of Tropical Soil Fertility. John Wiley & Sons, New York, Chichaster,
Brisbane, Toronto, Singapore. Diakses di http://suntoro.staff.uns.ac.id/files
/2009/04/pengukuhan-prof-suntoro.pdf tanggal 18 April 2013.


Tan Kim Hong, 1982. Principles of Soil Chemistry. Marcel Dekker Inc. New
York.

USU reporsitory. 2011. Karakteristik Kimia dan Kesuburan Tanah. Diakses di
http://repository.usu.ac.id/bitstream/12345678/26177/4/Chapter%20II.pdf
tanggal 17 April 2013, Makassar.