1

Mata Kuliah: Perekonomian Indonesia
“Kewirausahaan”
Dosen Pengajar:
Anwar Abbas M.Ag

Disusun Oleh:
Sabrina Fitria 1111046100103


PERBANKAN SYARIAH 6 C
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014


2
BAB I
PENDAHULUAN
Kewirausahaan pada hakikatnya merupakan gejala sosial-ekonomi. Pada masa lalu,
pengusa muncul dari kelas-kelas khusus. Misalnya, di Inggris, Amerika Serikat, dan Turki, para
pengusaha sebagian besar berasal dari kalangan pedagang. Di Perancis, perusahaan kecil muncul
karena pola keluarga. Di Jepang, peranan pengusaha dipegang oleh samurai yang membangun
industri dan menjaga keutuhan struktur sosial melalui kebijaksanaan mengangkat usahawan
muda yang memiliki semangat tinggi atau mengambilnya ke dalam keluarga melalui jalur
perkawinan.
Di sisi lain, Hozelitz mengungkapkan bahwa tokoh pendiri industri pertama di Inggris,
Perancis, dan Jerman adalah orang-orang dengan keterampilan mekanik dibanding orang-orang
dengan keterampilan perdagangan atau keuangan. Orang-orang ini berasal dari golongan buruh,
pekerja tangan, administrator rendah dan pengrajin. Tidak banyak dari mereka yang berangkat
dari keluarga kelas menengah. Sebagian besar dari mereka justru berasal dari kelas rendah yang
tidak punya apa-apa.
1

Bagaimana dengan Indonesia? Pengusaha atau entrepreneur di Indonesia rata-rata
merupakan kelompok necessity entrepreneur. Artinya, minat kelompok ini untuk membangun
usaha muncul karena faktor ekonomi keluarga. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil
mengakibatkan usaha kelompok ini hanya bersifat individu dan kurang menyerap tenaga kerja.
Kelompok ini juga cenderung asal-asalan dalam melakukan manajemen usaha. Padahal
sebenarnya banyak necessity entrepreneur yang memiliki skill yang cukup untuk
mengembangkan usahanya lebih baik lagi.
2

Walaupun begitu, tidak sedikit pengusaha Indonesia yang berhasil mendobrak tembok
yang biasanya membatasi perkembangan necessity entrepreneur tersebut. Contohnya, di Jawa
Timur ada Mohamad Faisol yang mengubah kulit jagung menjadi bahan baku pengganti plastik.
Di Cibinong ada Syauqi Naji yang berhasil mengembangkan sabun susu sapi dengan omzet
sekitar Rp 15juta perbulan. Shinta Pertiwi, mahasiswi dari Yogyakarta, punya cerita lain lagi. Ia

1
M.L Jhingan, 2012, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Jakarta, Rajawali Press, hlm. 428
2
Basuki Pujoalwanto, 2014, Perekonomian Indonesia : Tinjauan Historis, Teoritis, dan Empiris,
Sukoharjo, Graha Ilmu, hlm. 245-246


3
mengolah daun Indigofera menjadi zat pewarna kain tekstil khusus berwarna biru. Saat ini, Ia
dan timnya meraup omzet Rp 70juta dalam tiga bulan.
3
Masih banyak cerita sukses pengusaha
lainnya, namun jumlah tersebut masih belum cukup bila dibandingkan total populasi di Indonesia
yang mencapai 250 juta jiwa.
Professor Myrdal dalam Asian Drama mengatakan bahwa kekurangan wirausaha di Asia,
termasuk di dalamnya Indonesia, terjadi bukan karena kekurangan modal atau sumber daya alam
tetapi karena kekurangan orang-orang dengan pribadi yang memiliki sikap dan pandangan yang
tepat. Padahal wirausaha memiliki peran yang sangat penting dalam membantu program
pembangunan nasional. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas kewirausahaan secara
khusus, termasuk masalah dan solusinya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Mengapa kewirausahaan itu penting?
2. Bagaimana perkembangan wirausaha di Indonesia sejauh ini?
3. Bagaimana perkembangan wirausaha di Indonesia bila dibandingkan negara-negara
ASEAN lain dan negara maju seperti Amerika Serikat?
4. Apa permasalahan kewirausahaan yang dihadapi Indonesia?
5. Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan kewirausahaan tersebut?
6. Bagaimana langkah-langkahnya?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah terjawabnya pertanyaan-pertanyaan pada rumusan masalah di
atas. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan pentingnya kewirausahaan.
2. Menggambarkan perkembangan wirausaha di Indonesia sampai saat ini.

3
Awan Santosa, 2013, Perekonomian Indonesia : Masalah Potensi dan Alternatif Solusi,
Yogyakarta, Graha Ilmu, hlm. 208


4
3. Menggambarkan perkembangan wirausaha di Indonesia bila dibandingkan negara-negara
ASEAN lain dan negara maju seperti Amerika Serikat.
4. Menjabarkan permasalahan kewirausahaan yang dihadapi Indonesia.
5. Mengajukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan kewirausahaan tersebut.
6. Menjabarkan langkah-langkah untuk menjalankan solusi tersebut.



5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pentingnya Kewirausahaan
Pertanyaannya saat ini adalah mengapa penting untuk membicarakan kewirausahaan?
Jawabannya tidak lain adalah karena keberadaan wirausaha dapat mendukung terjadinya
akselerasi pembangunan.
Wirausaha berperan sebagai pengisi gap antara peluang yang potensial dan kenyataan
yang ada. Peranan tersebut, saat ini sangat kita butuhkan sebab banyak potensi negeri seperti
sumber daya alam (SDA) yang belum mampu kita kelola sendiri. Penyebab utamanya adalah
kurangnya jumlah orang yang bermental wirausaha sehingga tidak jarang peran mengelola SDA
tersebut kita lempar begitu saja pada pihak asing.
Lebih detailnya lagi, kewirausahaan penting karena memiliki setidaknya tiga dampak
positif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terutama dihadapi oleh negara-negara
berkembang seperti Indonesia. Pertama, wirausaha membuka jenis usaha baru dalam
perekonomian suatu negara. Ini menandakan semakin kreatifnya masyarakat dalam
mengembangkan jenis usaha dan adanya ketidakpuasan terhadap perusahaan tempat lamanya
bekerja. Masyarakat yang seperti ini sudah terlepas dari mental buruh dan mindset „jadi pegawai
negeri‟. Kedua, wirausaha mampu menyerap tenaga kerja dan membuka lapangan usaha.
Artinya, keberadaan wirausaha dapat membantu mengurangi angka pengangguran. Ketiga,
wirausaha mampu meningkatkan output perkapita nasional. Output perkapita nasional di sini
adalah PDB perkapita. Peningkatan PDB perkapita ini menandakan terjadinya peningkatan
pendapatan masyarakat menuju ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Ketiga hal itulah yang
dapat membantu terjadinya akselerasi pembangunan ekonomi.
Jadi jika suatu negara hanya terdiri dari sekumpulan birokrat serta masyarakat yang
berwatak feodal dan bermental buruh, maka bangsa tersebut akan terseok-seok dalam
menjalankan program pembangunan ekonominya. Dan selama stok wirausaha masih kurang atau
bahkan tidak ada, suatu bangsa akan tenggelam dalam kubangan keterbelakangan. Untuk
mencegah terjadinya hal tersebut, kita perlu memberikan perhatian khusus pada bidang
kewirausahaan serta masalah-masalah yang meliputinya.




6
B. Teori-teori tentang Kewirausahaan
Menurut Bygrave (2004) wirausaha adalah pencipta kekayaan melalui inovasi, pusat
pertumbuhan pekerjaan dan ekonomi, dan pembagian kekayaan yang bergantung pada kerja
keras dan pengambilan risiko, sehingga wirausaha diharapkan dapat memanfaatkan berbagai
kesempatan yang ada untuk memulai menjadi wirausaha.
Terdapat beberapa teori yang menerangkan tentang kewirausahaan. Berikut ini adalah
beberapa di antaranya :
a) Teori Schumpeter : Peranan Pengusaha dalam Pembangunan
Schumpeter berkeyakinan bahwa pembangunan ekonomi terutama diciptakan oleh
inisiatif dari golongan pengusaha yang inovatif dan golongan entrepreneur, yaitu golongan
masyarakat yang mengorganisasi dan menggabungkan faktor-faktor produksi lainnya untuk
memproduksi barang-barang yang dibutuhkan masyarakat.
Schumpeter memiliki pandangan bahwa proses pembangunan yang stagnan yakni tidak
terdapat perkembangan penduduk, tidak ada penanaman modal baru dan pengangguran baru,
wirausaha akan mulai memainkan perannya. Kelompok wirausaha ini akan melakukan
penanaman modal baru dan menggunakan faktor-faktor lainnya untuk melaksanakan dan
menciptakan berbagai pembaharuan. Awalnya hanya segelintir orang saja yang melaksanakan
pembaharuan tersebut. Namun selanjutnya jejak tersebut akan diikuti oleh wirausaha-wirausaha
lain. Pada akhirnya hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan ekonomi yang
tinggi.
4




b) Teori Mc Clellan : N-Ach
Teori yang dikembangkan oleh Mc Clellan ini mengungkapkan bahwa salah satu faktor
yang menjadikan maju-tidaknya suatu bangsa ialah banyak-sedikitnya penduduk yang terjangkit
virus N-Ach. N-Ach atau Need for Achieving merujuk pada hasrat seseorang untuk melakukan

4
Rihardjo Adisasmita, 2013, Teori-teori Pembangunan Ekonomi : Pertumbuhan Ekonomi dan
Pertumbuhan Wilayah, Makassar, Graha Ilmu, hlm. 60-61
Jika jumlah wirausaha semakin banyak, maka peningkatan ekonomi yang
terjadi akan semakin tinggi


7
pencapaian. Jadi semakin banyak anggota masyarakat yang punya semangat N-Ach, akan
semakin maju suatu bangsa.
Seseorang yang terjangkit virus N-Ach ini akan memperlihatkan perilaku yang selalu
ingin meraih prestasi, bekerja keras, penuh tanggung jawab, dan berani mengambil resiko.
Bukankah itu juga merupakan ciri-ciri seorang wirausaha? Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa maju atau tidaknya suatu bangsa, salah satunya ditentukan oleh sedikit banyaknya jumlah
penduduk yang bermental wirausaha.



c) Teori Rachbini
Menurut Rachbini (2002), masalah kewirausahaan merupakan persoalan paling penting di
dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang membangun. Kemajuan atan kemunduran
ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan kelompok wirausahawan
ini. Jika suatu bangsa tidak memiliki modal manusia seperti ini, jangan harap ada kemajuan pada
bangsa tersebut. Sebaliknya, kemajuanyang terjadi pada suatu bangsa dapat dilihat dari
keberadaan dan peranan kelompok wirausahawannya.


d) Teori WW Rostow : Lima Tahap Pembangunan
Peranan kewirausahaan memiliki peran penting bagi pembangunan ekonomi suatu negara
karena dengan adanya wirausaha maka akan ada inovasi dan gagasan baru yang dihasilkan.
Menjadi jelas kiranya meskipun suatu negara kaya akan sumber daya alam tetapi ada dalam
golongan negara berpendapatan rendah apabila tidak memiliki wirausaha yang mampu mengolah
SDA tersebut untuk kesejahteraan negaranya. Rostow menyebutkan bahwa peran wirausaha
dalam pertumbuhan ekonomi sangat penting, terutama dalam mengubah status take off suatu
negara menjadi self-sustained growth.

Jika penduduk suatu negara yang bermental wirausaha semakin banyak,
maka semakin maju pula bangsa negara tersebut.
Jika suatu bangsa tidak memiliki modal wirausahawan, maka tidak akan
terjadi kemajuan pada bangsa tersebut.
Semakin besar wirausaha berperan dalam suatu negara, semakin tinggi
tingkat pertumbuhan ekonominya.


8
C. Perkembangan Wirausaha di Indonesia











Sebelum lari pada karakteristik kewirausahaan di Indonesia, ada beberapa indikator lain
yang harus kita perhatikan karena baik secara langsung atau tidak langsung mereka berpengaruh
atau dipengaruhi oleh perkembangan wirausaha di suatu negara.
1) Tingkat Pengangguran
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, keberadaan wirausaha mampu menyediakan
lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja. Dengan kata lain, angka pengangguran dapat
diminimalisasi. Jadi semakin banyak jumlah wirausaha, maka akan semakin sedikit jumlah
pengangguran yang ada di suatu negara.
Jenis pengangguran yang dititikberatkan di sini adalah pengangguran terbuka.
Pengangguran terbuka terdiri dari :
a. Mereka yang tidak punya pekerjaan dan mencari pekerjaan. Mencari pekerjaan adalah
kegiatan seseorang yang pada saat survei orang tersebut sedang mencari pekerjaan.
Contohnya adalah sebagai berikut :

Wirausah
a
Tingkat
Pemngangguran
Angka
Kemiskinan
PDB NASIONAL
Jumlah Usaha
Jumlah
Wirausaha
Waktu untuk
membuka dan
menutup usaha
Necessity
Entrepreneur
Minat Penduduk
terhadap
Wirausaha
sebagai Karir
Karakteristik
Wirausaha
Yang dipengaruhi
oleh Wirausaha Gambar 1 : Wirausaha dan
Karakterisriknya


9
a) Yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.
b) Yang sudah pernah bekerja, karena suatu hal berhenti atau diberhentikan dan
sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan.
c) Yang bekerja atau mempunyai pekerjaan, tetapi karena sesuatu hal masih
berusaha untuk mendapatkan pekerjaan lain.
b. Mereka yang tidak punya pekerjaan dan mempersiapkan usaha.
Mempersiapkan suatu usaha adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang
dalam rangka mempersiapkan suatu usaha/pekerjaan yang “baru”, yang bertujuan untuk
memperoleh penghasilan/keuntungan atas resiko sendiri, baik dengan atau tanpa
mempekerjakan buruh/pekerja dibayar maupun tidak dibayar. Mempersiapkan yang
dimaksud adalah apabila “tindakannya nyata”, seperti: mengumpilkan modal atau
perlengkapan/alat, mencari lokasi/tempat, mengurus surat ijin usaha dan sebagainya,
telah/sedang dilakukan.
Mempersiapkan usaha tidak termasuk yang baru merencanakan, berniat, dan baru
mengikuti kursus/pelatihan dalam rangka membuka usaha. Mempersiapkan suatu usaha
yang nantinya cenderung pada pekerjaan sebagai berusaha sendiri (own account
worker) atau sebagai berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar atau sebagai
berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar.
c. Mereka yang tidak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak
mungkin mendapatkan pekerjaan.
d. Mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja.
Satu istilah lagi yang harus diperhatikan, yaitu tingkat pengangguran terbuka. TPT (Tingkat
Pengangguran Terbuka) adalah persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.
Tabel 1 di bawah menggambarkan TPT di Indonesia pada tahun 1986-2013. Bila dicermati,
dalam jangka panjang jumlah pengangguran semakin meningkat. Namun terhitung tahun 2006,
jumlah tersebut cenderung menurun. Hal tersebut terus berlangsung sampai Agustus 2013.


10
Menurunnya angka pengangguran ini menurut Endar Prasetio (2011) lebih disebabkan pada
pembangunan ekonomi dalam ketersediaan lapangan pekerjaan yang tersedia bagi
penggangguran, pasaran kerja di Indonesia semakin bersaing dengan semakin dibutuhkannya
tenaga kerja terampil untuk mengimbangi penggunaan teknologi yang digunakan oleh
perusahaan guna proses produksi barang dan jasa untuk kebutuhan ekspor dan konsumsi
domestik. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inflasi yang terkendali telah
mendorong turunnya angka pengangguran dan jumlah penduduk miskin. Meskipun demikian,
kerja keras untuk terus menurunkan angka pengangguran dan jumah penduduk miskin masih
diperlukan. Hal ini mengingat masih banyak permasalahan struktural yang dihadapi oleh
perekonomian Indonesia.
5

Hal yang sama juga berlaku terhadap nilai TPT-nya. TPT turun karena populasi di Indonesia
terus meningkat namun angka penganggurannya justru mengalami penurunan. Jadi, nilai TPT
dipengaruhi oleh jumlah populasi dan jumlah pengangguran di suatu negara.
Tahun
Pengangguran
Tingkat
Pengangguran
Terbuka - TPT
(Juta Orang) (%)
1986 1.82 2.70
1987 1.82 2.62
1988 2.04 2.85
1989 2.04 2.81
1990 1.91 2.55
1991 1.99 2.62
1992 2.14 2.74
1993 2.20 2.78
1994 3.64 4.36
1996 4.28 4.87
1997 4.18 4.69
1998 5.05 5.46
1999 6.03 6.36
2000 5.81 6.08
2001 8.01 8.10
2002 9.13 9.06

5
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/04/11/pengangguran-dan-pertumbuhan-
ekonomi-indonesia-tahun-2009-354059.html


11
2003 9.94 9.67
2004 10.25 9.86
2005 Februari 10.85 10.26
November 11.90 11.24
2006 Februari 11.10 10.45
Agustus 10.93 10.28
2007 Februari 10.55 9.75
Agustus 10.01 9.11
2008 Februari 9.43 8.46
Agustus 9.39 8.39
2009 Februari 9.26 8.14
Agustus 8.96 7.87
2010 Februari 8.59 7.41
Agustus 8.32 7.14
2011 Februari 8.12 6.80
Agustus 7.70 6.56
2012 Februari 7.61 6.32
Agustus 7.24 6.14
2013 Februari 7.17 5.92
Agustus 7.39 6.25
Tabel 1 : Jumlah Pengangguran dan Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1986-2003 (Sumber : BPS,
diolah)
No. Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan
2011 2012 2013
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus

1 Tidak/belum pernah sekolah 92 142 190 370 123 213 82 411 109 865 77 450
2 Belum/tidak tamat SD 552 939 686 895 590 719 503 379 513 534 477 156
3 SD 1 275 890 1 120 090 1 415 111 1 449 508 1 421 653 1 339 072
4 SLTP 1 803 009 1 890 755 1 716 450 1 701 294 1 822 395 1 681 945
5 SLTA Umum 2 264 376 2 042 629 1 983 591 1 832 109 1 841 545 1 925 563
6 SLTA Kejuruan 1 082 101 1 032 317 990 325 1 041 265 847 052 1 259 444
7 Diploma I,II,III/Akademi 434 457 244 687 252 877 196 780 192 762 187 059
8 Universitas 612 717 492 343 541 955 438 210 421 717 441 048
Total 8 117 631 7 700 086 7 614 241 7 244 956 7 170 523 7 388 737
Table 2 : Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan yang Ditamatkan Tahun 2011-2013 (Sumber : BPS)
Berbeda dengan tabel sebelumnya, Tabel 2 menunjukkan jumlah pengangguran
berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Ternyata tamatan SLTA Umum/SMA adalah
penyumbang angka pengangguran tertinggi. Pengamat ekonomi, Hanny Siagian menjelaskan
bahwa keadaan ini disebabkan oleh tingginya minat masyarakat terhadap SMA dibandingkan


12
SLTA Kejuruan/SMK namun tidak dibarengi dengan kemampuan untuk melanjutkan studi ke
jenjang Universitas. Mereka pun akhirnya terjun ke dunia kerja, padahal lulusan SMA tidak
dipersiapkan untuk itu. Akhirnya golongan ini kalah saing oleh tamatan SMK.
6


Gambar 2 : Tingkat Pengangguran Negara-negara di Dunia Tahun 2012 (Sumber :
http://chartsbin.com/view/17519 )
Gambar 1 di atas memperlihatkan tingkat pengangguran negara-negara di dunia pada
tahun 2012. Indonesia, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, mencetak angka pengangguran
sebesar 6,1%. Tapi ternyata, bila dibandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki status
sebagai sebuah negri adidaya, nilai ini sedikit lebih baik karena tingkat pengangguran di
Amerika ternyata sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 8,1%.
Negara dengan tingkat pengangguran tertinggi adalah Zimbabwe, yakni sebesar 95%.
Zimbabwe memang terkenal akan kinerja ekonominya yang buruk. Namun, penyebab utama
tingginya tingkat pengagguran negara ini justru adalah kondisi politiknya.
7

Bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia
merupakan negara dengan tingkat pengangguran tertinggi kedua. Peringkat pertama dipegang

6
http://analisadaily.com/news/read/angka-pengangguran-tinggi-tuntutan-pasar-kerja-
meningkat/39321/2014/06/18
7
http://www.writework.com/essay/main-causes-high-unemployment-zimbabwe-serious-
problem-lan


13
oleh Filipina dengan tingkat pengangguran sebesar 7%, sedikit lebih besar dibanding Indonesia.
Yang cukup mencengangkan adalah fakta bahwa Kamboja merupakan negara dengan tingkat
pengangguran terendah, yaitu sekitar 0%. Menurut ILO (International Labor Organization),
rendahnya angka tersebut disebabkan karena tingginya sektor informal di Kamboja, yaitu hampir
80% dari total lapangan usaha yang ada.
8


Gambar 3 : Tingkat Pengangguran Negara-negara di Dunia untuk Usia 15-24 Tahun 2013 (Sumber :
http://chartsbin.com/view/17627)
Hampir mirip dengan sebelumnya, Gambar 3 di atas menunjukkan tingkat pengangguran
negara-negara di dunia. Bedanya adalah yang diperhitungkan di sini hanya penduduk usia 15-24
tahun atau penduduk usia muda. Nilainya pun tidak jauh berbeda dengan tingkat pengangguran
secara keseluruhan.


2. Tingkat Kemiskinan

8
http://pepycambodia.org/unemployment-in-cambodia/
Semakin banyak jumlah wirausaha di suatu wilayah, semakin sedikit pengangguran
di wilayah tersebut.


14
Indikator selanjutnya yang masih memiliki keterkaitan dengan kewirausahaan adalah
tingkat kemiskinan. Bila wirausaha dapat menyerap tenaga kerja sehingga menurunkan angka
pengangguran, otomatis tingkat kemiskinan juga akan menurun. Jadi semakin banyak wirausaha
di suatu negara, semakin rendah pula tingkat kemiskinan negara tersebut.
Untuk mengukur tingkat kemiskinan, penulis menggunakan konsep kemampuan
memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan
dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar
makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah
penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan
(GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata
pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk
miskin. Sedangkan Presentase Penduduk Miskin adalah adalah persentase penduduk yang berada
dibawah Garis Kemiskinan (GK).
Tahun
Jumlah Penduduk
Miskin (Juta Orang)
Persentase
Penduduk
Miskin
Garis Kemiskinan
(Rp/Kapita/Bulan)
Kota+Desa Kota+Desa Kota Desa
1970
70.00 60.00 n.a n.a
1976
54.20 40.10 4 522,00 2 849,00
1978
47.20 33.30 4 969,00 2 981,00
1980
42.30 28.60 6 831,00 4 449,00
1981
40.60 26.90 9 777,00 5 877,00
1984
35.00 21.60 13 731,00 7 746,00
1987
30.00 17.40 17 381,00 10 294,00
1990
27.20 15.10 20 614,00 13 295,00
1993
25.90 13.70 27 905,00 18 244,00
1996
22.50 11.30 38 246,00 27 413,00
1996
34.01 17.47 42 032,00 31 366,00
1998
49.50 24.20 96 959,00 72 780,00
1999
47.97 23.43 92 409,00 74 272,00
2000
38.74 19.14 91 632,00 73 648,00
2001
37.87 18.41 100 011,00 80 382,00
2002
38.39 18.20 130 499,00 96 512,00
2003
37.34 17.42 138 803,00 105 888,00


15
2004
36.15 16.66 143 455,00 108 725,00
2005
35.10 15.97 165 565,00 117 365,00
2006
39.30 17.75 174 290,00 130 584,00
2007
37.17 16.58 187 942,00 146 837,00
2008
34.96 15.42 204 895,99 161 830,79
2009
32.53 14.15 222 123,10 179 834,57
2010
31.02 13.33 232 989,00 192 353,83
40603
30.02 12.49 253 015,51 213 394,51
40787
29.89 12.36 263 593,84 223 180,69
40969
29.13 11.96 267 407,53 229 225,78
Sep-12
28.59 11.66 277 381,99 240 441,35
Mar-13
28.07 11.37 289 041,91 253 273,31
Table 3 : Jumlah Penduduk Miskin, Presentase Penduduk Miskin, dan Garis Kemiskinan Tahun 1970-2013
(Sumber : BPS, diolah)
Berdasarkan tabel di atas, dalam jangka panjang jumlah penduduk miskin di Indonesia
terus mengalami penurunan. Begitu pun dengan presentase penganggurannya. Hal tersebut
mencerminkan terjadinya penurunan jumlah penduduk miskin yang lebih tinggi dibandingkan
peningkatan jumlah penduduknya. Terlepas dari berbagai protes tentang tidak validnya nilai
tersebut karena kriteria pendapatan yang digunakan terlalu rendah, sebenarnya garis kemiskinan
di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun, baik di desa maupun di kota. Peningkatan
yang positif ini bisa jadi merupakan pengaruh dari pertambahan jumlah wirausaha dalam negeri.


16

Gambar 4 : Tingkat Kemiskinan Negara-negara di Dunia Tahun 2008 (Sumber : http://chartsbin.com)
Peta di atas menggambarkan presentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Posisi Indonesia di sini cukup baik, karena presentase penduduk miskin dibandingkan populasi
totalnya hanya 13,3%. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan Amerika yang memiliki
penduduk miskin sebesar 12% dari populasinya. Sementara itu negara-negara dengan presentase
yang tinggi umumnya berasal dari Benua Afrika serta daerah-daerah yang berada di perbatasan
Amerika Utara dan Amerika Selatan seperti Nigeria dan Honduras.
Menilik kawasan Asia Tenggara, beberapa negara sudah bisa dibilang memiliki jumlah
wirausaha yang cukup. Hal tersebut dicerminkan oleh presentase penduduk miskinnya yang
berada di bawah 16%. Negara-negara yang masuk kategori ini adalah Indonesia, Malaysia,
Thailand dan Vietnam. Laos memiliki 26% penduduk yang tergolong miskin sedangkan sisanya
yaitu Myanmar, Filipina dan Kamboja masih memiliki presentase penduduk miskin di atas 30%.
Sayangnya data Singapura dan Brunei Darussalam tidak tersedia di sini.


3. Produk Domestik Bruto (PDB)
Semakin banyak jumlah wirausaha di suatu wilayah, semakin sedikit jumlah
penduduk miskinnya dan semakin tinggi garis kemiskinannya.


17
PDB adalah jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan
perekonomian di suatu negara dalam suatu periode tertentu.
Perhitungan PDB dapat menggunakan dua cara yaitu metode harga konstan dan metode
harga berlaku. PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang
dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan
menunjukan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun
tertentu sebagai tahun dasar penghitungannya. Karena menggunakan harga pada suatu tahun
tertentu yang dinilai stabil, maka PDB atas harga konstan dapat menghilangkan pengaruh inflasi.
Bila suatu negara mampu mencetak banyak wirausaha, PDB-nya otomatis akan
meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh terserapnya tenaga kerja akibat pembukaan lapangan
usaha. Dengan mendapatkan pekerjaan, pendapatan seseorang akan bertambah dan pada
akhirnya daya belinya juga akan bertambah.

Tabel 4 : PDB Harga Berlaku dengan dan Tanpa Migas Indonesia Tahun 2004-2013 (Sumber : BPS, diolah)
Tabel di atas menunjukkan data historis PDB Indonesia dengan dan tanpa migas dari
tahun 2004-2013. Nilai PDB dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal tersebut bisa jadi
disebabkan oleh bertambahnya wirausaha dalam negeri. Namun metode harga berlaku yang
digunakan juga menimbulkan bias. Sebab, faktor inflasi diperhitungkan di sini.
Tahun Produk Domestik Bruto
Produk Domestik
Bruto Tanpa Migas
2004 2295826.20 2083077.90
2005 2774281.10 2458234.30
2006 3339216.80 2967040.30
2007 3950893.20 3534406.50
2008 4948688.40 4427633.50
2009 5606203.40 5141414.40
2010 6446851.90 5941951.90
2011 7419187.10 6795885.60
2012* 8229439.40 7588322.50
2013** 9083972.20 8416039.50


18

Grafik 1 : PDB Harga Berlaku Negara-negara ASEAN pada 2012
Perbandingan PDB selanjutnya dilakukan terhadap negara-negara di kawasan Asia
Tenggara. Tujuannya adalah untuk melihat posisi Indonesia dibandingkan negara-negara
ASEAN lain bila dilihat dari kacamata PDB. Grafik 1 di atas memperlihatkan perbandingan PDB
perkapita negara-negara ASEAN pada tahun 2012. Indonesia menempati urutan kelima (dengan
pengecualian ASEAN5, ASEAN, dan BCLMV), jauh di bawah Singapura dan Brunei
Darussalam yang melesat meninggalkan tetangga-tetangganya. Seperti yang kita ketahui,
Singapura merupakan negara yang sudah sangat maju. Sedangkan Brunei kaya berkat sumber
daya alamnya yakni minyak bumi dan gas alam.


19

Grafik 2 : Pertumbuhan GDP Negara-negara ASEAN Per Semester 2005-2013
Grafik 2 menunjukkan tingkat pertumbuhan PDB persemester dari tahun 2005-2013.
Walaupun nilainya berfluktuatif, secara umum Singapura tetap memimpin sebagai negara
dengan tingkat pertumbuhan PDB tertinggi. Uniknya adalah pada tahun 2008-2009 di mana
krisis global menghantam dunia, Indonesia merupakan salah-satu negara ASEAN yang tidak
terpengaruh oleh efek domino yang disebabkan oleh krisis global. Buktinya bisa kita lihat pada
gambar di atas. Di saat pertumbuhan PDB negara ASEAN lain anjlok sampai minus, Indonesia
justru cenderung konstan. Hal tersebut masuk akal mengingat PDB di Indonesia ditopang oleh
konsumsi yang tinggi. Tingkat pertumbuhan PDB antar negara ASEAN lebih lengkapnya dapat
dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 5 : Tingkat Pertumbuhan PDB ASEAN 2005-2012
Semakin banyak jumlah wirausahawan dalam suatu negara, semakin tinggi nilai
PDB-nya.


20


4. Jumlah Usaha Berdasarkan Ukurannya
Penulis membagi jenis usaha berdasarkan ukurannya menjadi dua, yaitu Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM) serta Usaha Besar (UB).
Usaha besar adalah usaha bersifat produktif yang memenuhi kriteria kekayaan usaha
bersih di atas Rp10.000.000.000,00, (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha serta dapat menerima kredit dari bank di atas Rp.5.000.000.000,00 (lima milyar
rupiah). Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik, usaha besar adalah usaha dengan jumlah
pegawai/karyawan di atas 100 orang. Sementara itu UMKM adalah singkatan dari Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah yang kriterianya diatur dalam UU No. 20 Tahun 2008.
NO Uraian 2008 2009 2010
A UNIT USAHA (UMKM +
UB)
51.414.262 52.769.280 53.828.569
A. Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah
51.409.612 52.764.603 53.823.732
- Usaha Mikro 50.847.771 52.176.795 53.207.500
- Usaha Kecil 522.124 546.675 573.601
- Usaha Menengah 39.717 41.133 42.631
B. Usaha Besar 4.650 4.677 4.838
II Tenaga Kerja (UMKM +
UB)
96.780.483 98.886.003 102.241.486
A. Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah
87.810.366 90.012.694 93.014.759
- Usaha Mikro 87.810.366 90.012.694 93.014.759


21
- Usaha Kecil 3.519.843 3.521.073 3.627.164
- Usaha Menengah 2.694.069 2.677.565 2.759.852
B. Usaha Besar 2.756.205 2.674.671 2.839.711
Table 6 : Perkembangan UMKM dan UB di Indonesia Tahun 2008-2010
Tabel 6 di atas memperlihatkan struktur usaha di Indonesia berdasarkan size-nya. Satu
hal yang pasti, jumlah usaha di Indonesia semakin menjamur, baik UMKM maupun UB.
Uniknya adalah usaha mikro mempunyai proporsi terbesar dibanding usaha lain, yaitu sekitar
98,9% dari total usaha. Daya serap tenaga kerjanya juga yang paling tinggi, yakni sekitar 97%.
Namun perlu diperhatikan bahwa daya serap tenaga kerja usaha mikro tinggi karena
jumlahnya yang juga banyak. Bila jumlah jumlah tenaga kerja yang terserap dibagi dengan
jumlah usaha mikro, akan didapat hasil bahwa tiap satu usaha mikro yang ada hanya menyerap
dua tenaga kerja (dibulatkan dari 1,7). Sebaliknya, UB justru berperan besar dalam penyerapan
tenaga kerja. Tiap satu UB yang dibuka akan menyerap sekitar 587 orang.
Sebaiknya wirausaha yang menggeluti jenis usaha jenis UMKM terus melakukan
pengembangan agar statusnya berubah menjadi UB. Dengan begitu, daya serapnya terhadap
tenaga kerja juga akan semakin tinggi. Hal tersebut tentunya akan sangat membantu program
pembangunan yang dicanangkan oleh negara.

5. Jumlah Wirausaha
Setelah membahas beberapa indikator yang memiliki hubungan dengan wirausaha, kali
ini kita masuk kepada karakteristik wirausaha itu sendiri. Grafik 3 di bawah menggambarkan
presentase wirausaha dari tahun ke tahun. Seperti yang bisa kita lihat, terdapat kenaikan yang
cukup signifikan dari tahun 2010 ke tahun 2011. Jumlah wirausaha pada Grafik 3 juga
mengalami kenaikan terus-menerus, yang artinya merupakan pertanda baik. Namun tetap saja
pencapaian tersebut belum bisa dikatakan cukup. Indonesia masih harus bekerja keras lagi untuk
mencapai angka kewirausahaan sebesar 2,5%, seperti yang sering disebut-sebut di berbagai
literatur perekonomian Indonesia sebagai syarat minimum wirausaha yang harus dipenuhi oleh
suatu negara.
Semakin banyak Usaha Besar yang ada, semakin banyak tenaga kerja yang
diserapnya.


22

Grafik 3: Jumlah Wirausaha di Indonesia Tahun 2010-2013

Grafik 4 : Jumlah Wirausaha di Indonesia Tahun 2002-2012
Presentase wirausaha di Indonesia masih kalah bila dibangingkan dengan negara-negara
ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Hal tersebut ditunjukkan oleh Grafik 5.
Ketiga negara itu secara berturut-turut memiliki wirausaha sebesar 7,2%, 5%, dan 4,1% dari total
penduduknya. Sementara itu Indonesia masih harus berpuas diri dengan presentase wirausaha
sebesar 1,56%. Amerika, sebagai salah satu negara paling maju di dunia memiliki jumlah
wirausaha yang sangat tinggi, yaitu sebesar 11,50% dari total populasinya.
0.18%
0.24%
1.25%
1.56%
2010 2011 2012 2013
Presentase Wirausaha
0
20000000
40000000
60000000
J
u
m
l
a
h

W
i
r
a
u
s
a
h
a

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Jumlah Wirausaha 4E+074E+074E+075E+075E+075E+075E+075E+075E+076E+076E+07
Jumlah Wirausaha


23

Grafik 5 : Perbandingan Presentase Wirausaha Indonesia dengan Negara lain Tahun 2011


6. Waktu yang Dibutuhkan untuk Memulai dan Menutup Usaha
Waktu yang dibutuhkan untuk memulai usaha adalah jumlah hari dalam kalender yang
dibutuhkan untuk melengkapi prosedur pendirian usaha yang sah secara hukum. Prosedur yang
dimaksud di sini adalah interaksi antara pendiri usaha dengan pihak-pihak eksternal seperti
pemerintah, pengacara, auditor, dan notaris. Jadi, waktu yang dibutuhkan untuk memulai usaha
mencerminkan rumit atau tidaknya birokrasi suatu negara. Suatu negara yang mempermudah
birokrasi pendirian usaha berarti ikut mendukung program kewirausahaannya.
Gambar 5 di bawah menunjukkan jumlah hari yang dibutuhkan oleh negara-negara di
dunia untuk memulai usahanya. Kebijakan di Indonesia rupanya masih kurang mendukung
perkembangan wirausaha. Hal tersebut terlihat dari lamanya waktu yang dibutuhkan oleh
pengusaha di Indonesia untuk mulai menjalankan bisnisnya yakni selama 60 hari. Bila
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia menempati peringkat ketiga
paling rendah sebelum Laos dan Kamboja yang berturut-turut membutuhkan waktu 100 hari dan
Semakin banyak jumlah wirausaha, semakin pembangunan ekonomi suatu negara.


24
85 hari. Dalam hal ini, Singapura merupakan negara dengan jumlah hari tersingkat yakni
sebanyak tiga hari.
Secara internasional, Selandia Baru memegang rangking pertama dengan jumlah hari
pendirian usaha tercepat, yaitu hanya satu hari. Selandia Baru memang terkenal sebagai negara
yang sangat memanjakan investornya. Hal tersebut terlihat dari berbagai kebijakan yang
mempermudah investor untuk masuk. Bank Dunia bahkan menjulukinya sebagai “Easiest in the
world in which to do business”. Sedikit lebih lama daripada Selandia Baru, wirausaha di
Amerika membutuhkan enam hari untuk memulai bisnisnya. Sementara itu negara dengan waktu
terlama adalah Suriname dengan total waktu yang dibutuhkan mencapai 694 hari.

Gambar 5 : Waktu yang Dibutuhkan untuk Memulai Bisnis Tahun 2009 (Sumber : http://chartsbin.com/view/9j5)
Bila sebelumnya kita membicarakan waktu yang digunakan wirausaha dari berbagai
belahan dunia untuk memulai bisnisnya, sebaliknya Gambar 6 menunjukkan waktu yang
dibutuhkan untuk menutup usaha. Sama halnya seperti waktu yang dibutuhkan untuk membuka
usaha, jangka waktu yang terlalu lama bagi seorang wirausaha untuk menutup bisnisnya
menandakan kegagalam hukum suatu negara. Jangan memproklamasikan diri sebagai negara
pro-wirausaha bila kebijakan yang diambilnya sama sekali tidak memudahkan kegiatan
wirausaha.


25
Wirausaha di Indonesia membutuhkan waktu 5,5 tahun untuk menutup usahanya. Angka
ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peringkat kedua terbawah di kawasan Asia
Tenggara. Filipina menempati urutan terbawah dengan waktu yang dibutuhkan untuk menutup
usaha selam 5,7 tahun. Sementara itu Singapura menempati peringkat teratas dengan waktu
selama 0,8 tahun.
Dalam skala internasional, negara yang membutuhkan waktu untuk menutup usaha
tersingkat adalah Irlandia dengan lama 0,4 tahun. Sebaliknya, Mauritania di Benua Afrika
merupakan yang terlama dengan waktu yang dibutuhkan sebanyak 8 tahun.

Gambar 6 : Waktu yang Dibutuhkan untuk Menutup Usaha Tahun 2010 (Sumber : http://chartsbin.com/view/qe4)


Satu lagi indikator yang dapat digunakan untuk melihat seberapa besar dukungan pemerintah
terhadap wirausahanya yakni Ease on Doing Business. Ease on Doing Business adalah suatu indeks yang
diciptakan oleh Bank Dunia untuk melihat negara mana yang paling memiliki iklim kondusif untuk
dijadikan lahan bisnis. Pada hakikatnya, waktu yang dibutuhkan untuk membuka atau menutup usaha
merupakan salah satu determinan Ease on Doing Business juga.
Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuka dan menutup sebuah usaha,
semakin suatu pemerintah mendukung program kewirausahaannya.


26
Secara internasional, negara dengan Ease Doing Business terbaik adalah Singapura, Hong Kong,
dan Selandia Baru secara berturut-turut. Ketiga negara ini memang terkenal akan kecepatan proses
perizinan dan administrasinya dengan tujuan agar investor semakin tertarik untuk menanamkan dananya
di negri mereka.
Di sisi lain, Indonesia meraih ranking ke 121 pada tahun 2010, turun enam peringkat secara yoy.
Bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, peringkat ini termasuk kurang baik karena
Singapura, Malaysia, dan Thailand sudah berhasil menerobos peringkat lima puluh ke bawah.

Gambar 7 : Ease on Doing Business (Sumber : http://chartsbin.com/view/3647 )



7. Jumlah Wirausaha yang Termasuk Necessity Entrepreneur
Necessity Entrepreneur adalah orang yang menjadi entrepreneur karena terpaksa (kalau
bisa tidak jadi pengusaha). Contoh, ada banyak orang yang memiliki usaha sendiri, namun ketika
dirinya diterima jadi pegawai negeri atau dapat tawaran bekerja di perusahaan, maka dia lebih
memilih jadi pegawai lalu meninggalkan usahanya.
Semakin tinggi peringkat/indeks Ease of Doing Business suatu negara, semakin
kondusif pula iklim kerja bagi para wirausahanya.


27


Gambar 8 : Jumlah Wirausaha yang Termasuk Golongan Necessity Entrepreneur (Sumber : http://world-
statistics.org/ )
Menurut gambar di atas, 25,45% wirausaha di Indonesia tergolong Necessity Entrepreneur.
Negara dengan jumlah Necessity Entrepreneur terbanyak adalah Macedonia dengan presentase sebesar
60,98%. Sementara itu Norwegia keluar sebagai negara dengan jumlah Necessity Entrepreneur terendah,
yaitu sebesar 4%. Artinya kesadaran bahwa entrepreneur memiliki peran yang penting dalam menunjang
perekonomian negara sudah tertanam kuat-kuat dalam diri penduduk Norwegia.
Lalu, bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya? Jawaban dari
pertanyaan tersebut dapat kita lihat pada grafik di bawah ini. Sayangnya, terdapat missing data sehingga
ada beberapa negara yang tidak bisa diketahui pasti jumlah necessity driven entrepreneur-nya. Namun,
dari data yang tersedia Indonesia menempati peringkat kedua setelah Filipina yang memiliki presentase
necessity entrepreneur sebesar 43,59%. Tidak mengejutkan, Singapura keluar sebagai pencetak necessity
entrepreneur paling sedikit, yakni sebesar 8,41%.


28

Grafik 6 : Necessity Entrepreneur di Asia Tenggara (Sumber : http://world-statistics.org/)

D. Masalah Kewirausahaan, Solusi, dan Langkah-langkahnya

8. Wirausaha sebagai Pilihan Karir yang Diinginkan
Setelah mendengar berbagai pendapat dari para ahli seperti Schumpeter, Rostow, dll,
apakah pandangan Anda terhadap wirausahawan berubah? Apakah Anda setuju bahwa
wirausaha memang memiliki peran vital dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi
Indonesia? Atau justru sebaliknya? Gambar 9 di bawah menunjukkan presentase penduduk usia
18-64 tahun yang setuju pada ide tersebut dan menaruh minat pada wirausaha sebagai pilihan
karir. Setelah kita cermati baik-baik, 70,83% penduduk Indonesia setuju dengan pernyataan
tersebut.
Bila seluruh negara di Kawasan Asia Tenggara diranking dengan menggunakan indikator
ini, hasilnya adalah Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi setelah Filipina dan Thailand
yang berturut-turut memiliki nilai 84,9% dan 74,5%. Negara yang kurang memiliki minat
terhadap wirausaha adalah Malaysia. Hal tersebut dicerminkan oleh presentasenya yang hanya
mencapai 41,8%.
Semakin sedikit jumlah Necessity Entrepreneur di suatu negara, semakin sadar
masyarakat negara tersebut akan pentingnya peran wirausaha terhadap
pembangunan ekonomi.


29

Gambar 9 : Presentase Penduduk yang Meyakini WIrausaha sebagai Pilih Karie
Secara internasional, negara-negara yang memilih wirausaha sebagai karir pilihan yang
diminatinya biasanya berasal dari negara berkembang seperti Filipina, Brazil, Nigeria, Libya,
dan seterusnya dengan presentase di atas 80%. Sementara itu negara besar seperti Amerika
Serikat, Jepang, Portugal, dan Argentina memiliki penduduk dengan minat kurang terdahap
wirausaha sebagai pilihan karir(lihat Gambar ). Jadi, dapat disimpulkan bahwa semakin maju
suatu negara, semakin penduduknya kurang menaruh minat terhadap wirausaha sebagai pilihan
karirnya.


30

Grafik 7 : Wirausaha Sebagai Pilihan Karir Tahun 2013 (Sumber : http://world-statistics.org/)
Semakin maju suatu negara, semakin sedikit penduduknya yang menaruh minat
pada wirausaha sebagai karir pilihan.


31
D. Masalah Kewirausahaan, Solusi, dan Langkah-langkahnya

Gambar 10 : Masalah Kewirausahaan yang dihadapi Indonesia
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, wirausaha memiliki peran strategis dalam
mendukung program pembangunan secara nasional. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah
pusat untuk merangsang minat masyarakat agar mau menjadi seorang wirausaha. Di antaranya
adalah dengan memasukkan Kewirausahaan sebagai salah satu mata pelajaran wajib bagi murid
SMA/SMK dan mengadakan berbagai program kewirausahaan. Namun kebanyakan generasi
muda kita masih terjerat dalam mental pegawai.
Belum berhasilnya upaya-upaya pemerintah tersebut disebabkan karena adanya beberapa
masalah, yakni :


Masalah
Kewirausa
haan
Masalah
Finansial
Solusi :
Permudah
Akses
Kredit
KUR
Linkage
Program
KKP-E
LPBD-
KUKM
Kerjasama
dengan
Pegadaian
Masalah
Perizinan
Solusi :
Permudah
Sistem
Perizinan
Memotong
tahap
perijinan
Pembentuk
an
Taskforce
Integrasi
jumlah
perizinan
Masalah
Mental
Solusi :
Tanamkan
Mental
Wirausaha
pada
Generasi
Muda
Pendidikan
Non-formal
Seminar
Pelatihan


32
a) Masalah Finansial.
Walaupun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya dalam rangka mencetak
lebih banyak lagi wirausahawan, usaha tersebut tetap saja masih dinilai kurang. Sebab
dalam berbisnis, mental wirausaha saja tidak cukup. Meski modal bukanlah faktor
utama, tetapi bagaimana mungkin seorang wirausaha memulai bisnis tanpa dukungan
finansial? Di sisi lain, dunia perbankan memiliki syarat yang sangat ketat dalam
meminjamkan dananya. Hal ini tentu saja mempersulit langkah para wirausahawan muda.
Di samping itu bunga yang dituntut biasanya juga tinggi.
Solusi :
Permudah pemberian kredit bagi para calon wirausahawan.
Langkah-langkah :
(a) Optimalisasi program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor UMKM
(b) Optimalisasi program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) untuk petani,
peternak, nelayan dan pembudidaya ikan. Pengadaan program ini adalah dalam
rangka pembiayaan intensifikasi padi, jagung kedelai, ubi kayu dan ubi jalar, kacang
tanah dan atau sorgum, pengembangan budidaya tanaman tebu, peternak sapi potong,
ayam buras dan itik, usaha penangkapan dan budidaya ikan serta kepada koperasi
dalam rangka pengadaan pangan berupa gabah, jagung dan kedelai.
(c) Optimalisasi fungsi Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) untuk pembiayaan KUMKM.
(d) Mengadakan kerja sama dengan Pegadaian dan lembaga keuangan lain dalam
pemberian kredit berbunga rendah untuk calon wirausahawan.
(e) Optimalisasi linkage program antara Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.
b) Masalah Perijinan
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sistem birokrasi di negeri kita memang
sangat berbelit-belit. Gambar 4 dan Gambar 5 yang menunjukkan lamanya waktu bagi
seorang wirausahawan untuk memulai dan menutup bisnis merupakan sedikit dari banyak


33
bukti yang ada. Selain faktor lamanya waktu, biaya „non formal‟ yang harus dikeluarkan
untuk „uang saku‟ para pejabat pemberi ijin tidaklah kecil bagi para calon wirausahawan
ini.
Solusi :
Permudah akses perizinan bagi calon wirausahawan muda.
Langkah-langkah :
(a) Memotong tahapan perijinan, misalnya dari 12 tahap menjadi 8 tahap.
(b) Kembangkan pelayanan satu pintu atau pembentukan taskforce yang melibatkan
semua pihak.
(c) Integrasi jumlah perizinan, misalnya dari 19 perizinan menjadi hanya 4 perizinan.
c) Masalah Mental
Berbeda dengan dua masalah sebelumnya, masalah ketiga ini berasal dari pribadi
calon wirausahawan sendiri. Meski kurikulum kewirausahaan sudah diperkenalkan sejak
beberapa tahun silam, namun mental wirausaha tidak juga tumbuh dalam diri para
generasi muda. Selama ini, para pendidik beranggapan bahwa pendidikan kewirausahaan
adalah mengajarkan ketrampilan-ketrampilan membuat berbagai macam barang produksi
saja, tidak lebih dari itu. Padahal bukan itulah esensi dari kewirausahaan.
Solusi :
Lakukan upaya-upaya lain yang lebih produktif dalam menanamkan jiwa wirausaha pada
anak.
Langkah-langkah :
(a) Maksimalisasi fungsi-fungsi lembaga pendidikan non formal untuk menumbuhkan
jiwa kewirausahaan seperti yang banyak terjadi di Amerika.
(b) Perbanyak seminar-seminar kewirausahaan dengan mengundang pakar dan praktisi.
(c) Perbanyak pelatihan-pelatihan baik in door maupun out door untuk meningkatkan
keberanian dan ketanggapan terhadap dinamika perubahan lingkungan.



34
KESIMPULAN
 Kewirausahaan penting untuk dibicarakan karena keberadaannya dapat mendorong terjadinya
akselerasi pembangunan. Sebaliknya wirausaha yang ada kurang, suatu bangsa akan
tenggelam dalam kubangan keterbelakangan.
 Terdapat beberapa tokoh yang mengemukakan teori yang berkaitan dengan kewirausahaan
seperti Schumpeter, Teori N-Ach, Rachbini, dan Teori Lima Tahap Pembangunan Rostow.
Namun mereka semua sepakat bahwa wirausaha memang memiliki peran penting terhadap
pembangunan ekonomi suatu negara.
 Perkembangan wirausaha di Indonesia dapat dilihat dari berbagai indikator seperti jumlah
wirausahawan, presentase wirausahawan, jumlah usaha berdasarkan ukurannya, dan waktu
yang dibutuhkan untuk membuka dan menutup usaha.
 Bila dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat, kewirausahaan di Indonesia
belum bisa dibilang bagus. Sedangkan bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan
Asia Tenggara, Indonesia memang bukan yang terjelek namun peringkatnya secara umum
masih ada di bagian bawah.
 Masalah yang dihadapi kewirausahaan di Indonesia adalah masalah finansial, masalah
perizinan, dan masalah mental.
 Solusi yang penulis tawarkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah permudah akses
kredit untuk calon wirausahawan, permudah sistem perizinan, dan lakukan upaya-upaya
untuk menanamkan mental wirausaha pada generasi muda.