Topik: Diare Akut Dehidrasi Berat

Tanggal (kasus): 3 Januari 2014 Persenter: dr. Ratmawati
Tangal presentasi: Penyelia: dr. Ulfah Kartikasari
Tempat presentasi: RSUD Majenang
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan  □ Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan pustaka
□ Diagnostik  □ Manajemen □ Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi  □ Anak □ Remaja □ Dewasa □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi:
Bayi, 4 bulan, kiriman klinik Raffa datang ke RSUD Majenang bersama kakek dan neneknya
dengan penurunan kesadaran. Di perjalanan dari klinik Raffa, pasien sempat henti nafas dan
dilakukan bantuan nafas dengan ambu bag. Pasien sebelumnya buang air besar cair sejak 2
hari ini. Dalam sehari buang air besar lebih dari 10 kali. BAB cair volume kurang lebih ¼
gelas belimbing setiap BAB, masih ada ampasnya, nyemprot, tidak ada lendir maupun
darah. Sebelum buang air besar cair, pasien sempat demam selama 2 hari disertai batuk
berdahak. Setelah demam turun, baru diikuti dengan BAB cair dan perut kembung. Saat
diberi respon bayi tidak menanggapi respon yang diberikan.

□ Tujuan: mengetahui penatalaksanaan diare
Bahan bahasan: □ Tinjauan pustaka □ Riset □ Kasus  □ Audit
Cara membahas: □ Diskusi □ Presentasi dan diskusi  □ E-mail □ Pos

Data pasien: Nama: By. F No registrasi: 022580
Nama klinik: dr. Ulfah Kartikasari Telp: 08121409345 Terdaftar sejak:
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Diare Akut Dehidrasi Berat dengan penurunan kesadaran.
2. Riwayat Pengobatan:
Bayi tidak berobat.
3. Riwayat kesehatan/Penyakit:
Sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan serupa
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada keluarga yang mengeluhkan hal serupa.
5. Riwayat pekerjaan:
-
6. Lain-lain:
Kesadaran : apatis
Keadaan Umum : tampak pucat
TTV : HR : 124x/menit reguler, RR: 6x/menit, T: 38,3
0
C
Status Gizi : Baik
Kepala : Mesocephal
Mata : CA-/-, SI-/-, pupil isokor φ 3mm/3mm, refleks cahaya +/+, cekung +/+, air mata -/-
Telinga: tidak ada otorhea
Hidung : NCH -/-, disch -/-, deformitas-/-
Mulut : sianosis (+), bibir kering (+), lidah kotor (-), FH (-), T1-T1 .
Leher : pembesaran KGB (-), JVP 5+2cmH
2
O, deviasi trakhea (-)
Thorax :
Cor:
I : dinding dada simetris +/+, IC tidak tampak.
Pa : IC teraba di SIC 5 LMCS
P : Batas jantung normal
A : S1>S2, reguler, gallop (-), murmur (-)
Pulmo :
I : pengembangan dada simetris kanan dan kiri, ketinggalan gerak (-), retraksi (+)
Pa : Vocal fremitus kanan = kiri
P : sonor di seluruh lapang paru
A : Suara dasar vesikuler, Wh -/-, RBH +/+, RBK +/+
Abdomen:
Inspeksi : cembung
Auskultasi: peristaltik (+) meningkat
Perkusi : hipertimpani
Palpasi : defans muscular (-), nyeri tekan (-),H/L tidak teraba, turgor kulit >2 detik
Ekstrimitas : Tidak ada edema, akral dingin, turgor kulit buruk, gerakan ekstremitas tidak
berespon.
Daftar Pustaka:
1. Bass M. Rotavirus dan Agen-Agen Virus Gastroenteritis Lain. Dalam: Wahab S, editor.
Nelson Ilmu Kesehatan Anak. edisi 15. Jakarta EGC 1999.
2. Depkes RI, 2011. Buku Saku Lima Langkah Tuntaskan Diare (online) (http://www.dinkes-
tts.web.id/bank-data/category/7-pedoman-penanganan-diare.html?download=17:buku-
saku-lintas-diare., diakses tanggal 12 Januari 2014)
3. Hasan R, Alatas H. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Buku 1. Jakarta. Badan Penerbit FK UI.
1997
4. International Child Health Review Collaboration, 2013. Diare. (http://www.ichrc.org/bab-5-
diare, diakses tanggal 20 Januari 2014).
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis Diare dengan Dehidrasi Berat
2. Patofisiologi Diare
3. Penatalaksanaan Diare dengan Dehidrasi Berat
4. Komplikasi Diare

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:
1. Subyektif:
Pasien datang dengan penurunan kesadaran kemudian selama di perjalanan pasien sempat henti
nafas dan diberikan ventilasi tekanan positif dengan ambu bag. Sebelumnya pasien mengalami
demam dan batuk selama 2 hari, setelah demam turun pasien mengalami BAB cair dan sering dengan
frekuensi >10 kali. Keadaan ini merupakan kegawatdaruratan dari komplikasi diare dengan dehidrasi
berat. Diare dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi (bakteri, virus atau infestasi parasit),
malabsorbsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan psikologis. Dalam sehari pasien buang air besar
lebih dari 10 kali. BAB cair volume kurang lebih ¼ gelas belimbing setiap BAB, masih ada ampasnya,
nyemprot, tidak ada lendir maupun darah. Diare juga disertai dengan perut kembung.
Dari anamnesis, didapatkan diagnosis bahwa pasien mengalami diare dengan dehidrasi berat yang
disebabkan oleh infeksi virus.

2. Objektif:
Kesadaran : Apatis
Keadaan Umum : Tampak pucat
TTV : N : 124x/menit reguler, Rr: 6x/menit, t: 38,3
0
C
Status gizi : Baik
Kepala : Mesocephal
Mata : CA-/-, SI-/-, pupil isokor φ 3mm/3mm, refleks cahaya +/+, cekung +/+, air mata -/-
Telinga: tidak ada otorhea
Hidung : NCH -/-, disch -/-, deformitas-/-
Mulut : sianosis +/+, bibir kering (+), lidah kotor (-), FH (-), T1-T1 .
Leher : pembesaran KGB (-), JVP 5+2cmH
2
O, deviasi trakhea (-)

Thorax :
Cor:
I : dinding dada simetris +/+, IC tidak tampak.
Pa : IC teraba di SIC 5 LMCS
P : Batas jantung normal
A : S1>S2, reguler, gallop (-), murmur (-)
Pulmo :
I : pengembangan dada simetris kanan dan kiri, ketinggalan gerak (-), retraksi (+)
Pa : Vocal fremitus kanan = kiri
P : sonor di seluruh lapang paru
A: Suara dasar vesikuler, Wh -/-, RBH +/+, RBK +/+
Abdomen:
Inspeksi : cembung
Auskultasi: peristaltik (+) meningkat
Perkusi : hipertimpani
Palpasi : defans muscular (-), nyeri tekan (-),H/L tidak teraba, turgor > 2 detik

Ekstrimitas :
Tidak ada edema, akral dingin, turgor kulit buruk, gerakan pada ekstrimitas tidak ada.

Hasil pemeriksaan fisik, mendukung diagnosis diare akut dehidrasi berat. Diagnosis ditegakkan
berdasar:
 Gejala klinis (BAB cair 2 hari. Dalam sehari > 10 kali, volume kurang lebih ¼ gelas belimbing setiap
BAB, masih ada ampasnya, nyemprot, tidak ada lendir maupun darah. Sebelumnya diawali demam
dan batuk. Perut kembung. Pasien mengalami penurunan kesadaran).
 Keadaan Umum apatis, respirasi 6x/menit, mata cekung +/+, air mata -/-, mulult kering +/+,
sianosis (+), perut cembung, bising usus (+) meningkat, hipertimpani, turgor kulit >2 detik, gerak
ekstremitas tidak berespon.

3. ”Assessment”(penalaran klinis):
Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi dari diare baik yang terjadi secara akut maupun kronis.
Menurut derajat dehidrasinya diare terbagi menjadi tiga yaitu
Gejala / Derajat
Dehidrasi
Diare Tanpa Dehidrasi Diare Dehidrasi
Ringan/Sedang
Diare Dehidrasi Berat
Bila terdapat dua tanda atau lebih
Keadaan Umum Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, lunglai/tidak sadar
Mata Tidak cekung Cekung Cekung
Keinginan untuk Normal, tidak ada rasa Ingin minum terus, Malas minum
minum haus ada rasa haus
Turgor kulit Kembali segera Kembali lambat Kembali sangat lambat
Dehidrasi pada diare terjadi akibat peningkatan hilangnya cairan dan elektrolit (natrium, kalium
dan bikarbonat) yang terkandung dalam tinja cair anak yang tidak diganti secara adekuat, sehingga
timbullah kekurangan cairan dan elektrolit.
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan betambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya
(>3x perhari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah dan atau
lendir.
Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain tidak memberikan
ASI eksklusif selama 4-6 bulan pertama kehidupan bayi, tidak memadainya penyediaan air bersih,
pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan atau MCK, kebersihan lingkungan dan
pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan
yang tidak baik. Selain hal-hal tersebut, beberapa faktor yang ada pada penderita dapat
meningkatkan kecenderungan untuk terjangkit diare antara lain umur, gizi buruk, imunodefisiensi,
berkurangnya keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu
terakhir dan faktor genetik.
Prinsip mekanisme terjadinya diare cair terbagi menjadi dua, yaitu sekretorik dan osmotik.
Meskipun dapat melalui kedua mekanisme tersebut, diare sekretorik lebih sering ditemukan pada
infeksi saluran cerna. Walaupun begitu, kedua mekanisme tersebut dapat terjadi bersamaan pada
satu anak.

1. Diare osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit dengan cepat
untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus dengan cairan ekstrasel. Adanya bahan
yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut
bersifat hipertoni dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmose antara
lumen usus dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeable, air akan mengalir
kearah jejunum, sehingga akan banyak terkumpul air dalam lumen usus. Na
+
akan mengikuti masuk
ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na
+

normal. Sebagian kecil cairan ini akan dibawa kembali, akan tetapi sebagian yang lainnya akan tetap
tinggal di lumen usus karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa, sukrose,
laktose, maltose di segmen ileum dan melebihi kemampuan absorbsi kolon, sehinga terjadi diare.
Bahan-bahan seperti karbohidrat dan jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah
berlabihan akan memberikan dampak yang sama.
Pada infeksi virus menyebabkan terjadinya perubahan morfologi dan fisiologis mukosa jejunum.
Virus enteropatogen seperti Rotavirus menyebabkan infeksi lisis pada enterosit. Invasi dan replikasi
virus dalam sel menginduksi kematian lepasnya sel. Enterosit yang lepas digantikan oleh sel imatur.
Akibatnya terjadi penurunan enzim lactase dan gangguan transport glukosa-Natrium karena
penurunan aktivitas Na-K-ATPase. Hal ini menyebabkan terjadinya maldigesti karbohidrat dan diare
osmotic.
2. Diare Sekretorik
Diare sektorik terjadi karena sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus yang terjadi akibat
gangguan absorbsi natrium oleh vilus saluran pencernaan, sedangkan sekresi klorida tetap
berlangsung atau meningkat. Keadaan ini menyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai
tinja cair. Diare sekretorik ditemukan pada diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri akibat adanya
rangsangan pada mukosa usus halus oleh toksin E.coli atau V. cholera.01.

Beberapa bahan-bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin bakteri dan bahan
kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu bentuk dihidroxy, serta asam lemak
rantai panjang. Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara meningkatkan konsentrasi
intrasel cAMP dengan aktivasi adenil siklase (Vibrio cholerae), aktivasi guanil siklase dengan
akumulasi cGMP intraselular (ETEC), perubahan Ca
++
intraseluler yang selanjutnya akan mengaktifasi
protein kinase (EPEC) dan stimulasi system saraf enterik (Vibrio cholerae). Pengaktifan protein kinase
akan menyebabkan fosforilase membrane protein sehingga mengakibatkan perubahan saluran ion,
dan menyebabkan keluarnya Cl
-
di kripta saluran pencernaan. Disisi lain terjadi peningkatan pompa
natrium yang masuk ke dalam lumen usus bersama klorida.
Tanda dan gejala diare berdasarkan penyebabnya

Gejala klinis
Etiologi
Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Kolera
Masa Tunas:
Panas 17-72 jam 24-48 jam 6-72 jam 6-72 jam 6-72 jam 48-72 jam
Mual + ++ ++ - ++ -
Muntah Sering Jarang Sering + - Sering
Nyeri perut Tenesmus Tenesmus,
kramp
Tenesmus,
kolik
- Tenesmus,
kramp
Kramp
Nyeri kepala - + + - - -
Lamanya
sakit
5-7 hari >7 hari 3-7 hari 2-3 hari variasi 3 hari
Sifat tinja:
Volume Sedang Sedikit Sedikit Banyak Sedikit Banyak
Frekuensi 5-10 x > 10x Sering Sering Sering Terus
menerus
Konsistensi Cair Lembek Lembek Cair Lembek Cair
Darah - + Kadang - + -
Bau Langu - Busuk - - Amis khas
Warna Kuning
Hijau
Merah-hijau Kehijauan Tak berwarna Merah-hijau Seperti air
cucian beras
Leukosit - + + - - -
Lain-lain Anoreksia Kejang ± Sepsis ± Meteorismus Infeksi
sistemik ±
-


4. ”Plan”:
Diagnosis: Kecil kemungkinannya penyebab penurunan kesadaran ini bukan disebabkan oleh diare
akibat virus. Upaya diagnosis sudah optimal.
Terapi:
- O
2
2 liter per menit
- Ventilasi Efektif
- IVFD RL 50 cc dalam 1 jam pertama
150 cc dalam 5 jam berikutnya
- Inj. Dexametason 2,5 mg
Pengobatan:
Pengobatan diare bertujuan untuk:
1. Mengatasi dehidrasi yang telah ada
2. Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan setelah diare setelah
dehidrasi teratasi
3. Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan memberikan
suplemen zinc
Lima pilar tatalaksana diare:
1. Rehidrasi
2. Pemberian Zinc selama 10 hari berturut-turut
3. Pemberian ASI dan makanan selama ataupun setelah diare
4. Pemberian Antibiotik selektif
5. Nasehat kepada orang tua
Penilaian A B C
Lihat:
Keadaan umum

Mata
Air mata
Mulut dan lidah
Rasa haus

Baik,sadar

Normal
Ada
Basah
Minum biasa,tidak haus

*Gelisah,rewel

Cekung
Tidak ada
Kering
*haus ingin minum
banyak

*lesu,lunglai/tidak sadar
Sangat cekung
Kering
Sangat kering
*malas minum atau
tidak bisa minum
Periksa: turgor kulit Kembali cepat *kembali lambat *kembali sangat lambat
Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan/sedang
Bila ada 1 tanda*
ditambah 1 atau lebih
tanda lain
Dehidrasi berat
Bila ada 1 tanda*
ditambah 1 atau lebih
tanda lain
Terapi Rencana terapi A Rencana terapi B Rencana terapi C
Tabel Penetuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995
Tujuan pengobatan diatas dapat dicapai dengan cara mengikuti rencana terapi yang sesuai,
seperti yang tertera pada gambar dibawah ini:

1. Rencana terapi A : penanganan diare di rumah
Jelaskan kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di rumah:
 Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau)
Jelaskan pada ibu:
- pada bayi muda, pemberian ASI merupakan pemberian cairan tambahan yang utama. Beri
ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.
- jika anak memeperoleh ASI eksklusif, beri oralit, atau air matang sebagai tambahan
- jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri 1 atau lebih cairan berikut ini: oralit, cairan
makanan(kuah sayur, air tajin) atau air matang
Anak harus diberi larutan oralit dirumah jika:
- anak telah diobati dengan rencana terapi B atau dalam kunjungan
- anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah berat
Ajari pada ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6 bungkus oralit (200ml) untuk
digunakan dirumah. Tunjukan pada ibu berapa banyak cairan termasuk oralit yang harus
diberikan sebagai tambahan bagi kebutuhan cairanya sehari-hari:
- <2 tahun: 50 sampai 100 ml setiap kali BAB
- >2 tahun : 100 samapai 200 ml setiap kali BAB
Katakan pada ibu
- agar meminumkan sedikit-sedikit tetapi sering dari mangkuk/ cangkir/gelas
- jika anak muntah, tunggu 10 menit. kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat.
- lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.
 Beri tablet Zinc
Pada anak berumur 2 bulan keatas, beri tablet zinc selama 10 hari dengan dosis :
- umur <6 bulan : ½ tablet (10 mg) perhari
- umur >6 bulan : 1 tablet (20 mg) perhari
 Lanjutkan pemberian makanan
 Kapan harus kembali
2. Rencana terapi B
Penanganan dehidrasi sedang/ ringan dengan oralit. Beri oralit di klinik sesuai yang dianjurkan
selama periode 3 jam.
Usia <4 bulan 4-11 bulan 12-23 bulan 5-4 tahun 5-14tahun >15 tahun
Berat badan <5 kg 5-7,9 kg 8-10,9 kg 11-15,9 kg 16-29,9 kg >30 kg
Jumlah (ml) 200-400 400-600 600-800 800-1200 1200-2200 2200-4000
Jumlah oralit yang diperlukan 75 ml/kgBB. Kemudian setelah 3 jam ulangi penilaian dan
klasifikasikan kembali derajat dehidrasinya, dan pilih rencana terapi yang sesuai untuk
melanjutkan pengobatan.
Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai tunjukan cara menyiapkan oralit di
rumah, tunjukan berapa banyak larutan oralit yang harus diberikan dirumah untuk menyelesaikan
3 jam pertama. Beri bungkus oralit yang cukup untuk rehidrasi dengan menambah 6 bungkus lagi
sesuai yang dianjurkan dalam rencana terapi A.
Jika anak menginginkan oralit lebih banyak dari pedoman diatas, berikan sesuai kehilangan
cairan yang sedang berlangsung. Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menyusu,
beri juga 100-200 ml air matang selama periode ini. Mulailah memberi makan segera setelah anak
ingin makan dan lanjutkan pemberian ASI. Tunjukan pada ibu cara memberikan larutan oralit dan
berikan tablet zinc selama 10 hari.
3. Rencana terapi C (penanganan dehidrasi berat dengan cepat)
Beri cairan intravena secepatnya. Jika anak bisa minum, beri oralit melalui mulut, sementara
infus disiapkan. Beri 100 ml/kgBB cairan ringer laktat atau ringer asetat (atau jika tak tersedia,
gunakan larutan NaCl) yang dibagi sebagai berikut.
Umur Pemberian pertama
30ml/kgBB selama
Pemebrian berikut 70ml/kgBB
selama
Bayi
(dibawah umur12 bulan)
1 jam* 5 jam
Anak
(12 bulan sampai 5 tahun)
30 menit* 2 ½ jam
*ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangat lemah atau tidak teraba
Periksa kembali anak setiap 15-30 menit. Jika status hidrasi belum membaik, beri tetesan
intravena lebih cepat. Juga beri oralit (kira-kira 5ml/kgBB/jam) segera setelah anak mau minum,
biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan beri anak tablet zinc sesuai dosis dan
jadwal yang dianjurkan. Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam
(klasifikasikan dehidrasi), kemudian pilih rencana terapi untuk melanjutkan penggunaan.
Prinsip pemberian terapi cairan pada gangguan cairan dan elektrolit ditujukan:
1. Memenuhi kebutuhan akan rumatan (maintenance) dari cairan dan elektrolit
2. Mengganti kehilangan cairan yang terjadi
3. Mencukupi kehilangan cairan abnormal dari yang sedang berlangsung.
Pada diare Cairan Rehidrasi Oral merupakan terapi cairan utama. CRO telah 25 tahun
berperan dalam menurunkan angka kematian bayi dan anak dibawah 5 tahun karena diare.
Jika dikaitkan dengan kasus, pada pasien ini setelah pemberian 50cc cairan yang pertama
menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Bayi mulai bernapas regular dengan irama 24 kali
per menit walaupun bayi belum menangis keras. Kemudian pemberian cairan dilanjutkan dengan
maintenance yaitu 150cc dalam 5 jam. Selama pemberian maintenance, keadaan pasien
berangsur membaik. Kulit dan mulut mulai memerah dan suara napas tambahan mulai
menghilang. Tepat 5 jam setelah pemberian cairan maintenance pasien menangis keras dan
kesadarannya mulai pulih. Pasien masuk ruangan dan dibolehkan pulang dengan keadaan
membaik.

PENGOBATAN DIETETIK
Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh. Tujuannya
adalah memberikan makanan kaya nutrien sebanyak anak mampu menerima. Sebagian besar anak
dengan diare cair, nafsu makannya timbul kembali setelah dehidrasi teratasi. Meneruskan pemberian
makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal termasuk kemampuan menerima
dan mengabsorbsi berbagai nutrien, sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak
dikurangi. Sebaliknya, pembatasan makanan akan menyebabkan penurunan berat badan sehingga
diare menjadi lebih lama dan kembalinya fungsi usus akan lebih lama. Makanan yang diberikan pada
anak diare tergantung pada, makanan yang disukai dan pola makan sebelum sakit serta budaya
setempat.


ZINC
Pemberian Zinc terbukti mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan
nafsu makan anak. Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan
yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada
efeknya terhadap imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses
perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorbsi
air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan
jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat pembersihan patogen
di usus. Pemberian zinc dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk
anak-anak:
- anak dibawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari
- anak diatas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh dari diare. Untuk
bayi tablet zinc diberikan dalam air matang, ASI atau oralit. Untuk anak lebih besar, zinx dapat
dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.


TERAPI MEDIKAMENTOSA
Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare seperti antibiotika, antidiare,
absorben, antiemetic, dan obat yang mempengaruhi mikroflora usus. Beberapa obat mempunyai
lebih dari satu mekanisme kerja, banyak diantaranya mempunyai efek toksik sistemik dan sebagian
besar tidak direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2-3 tahun. Secara umum dikatakan
bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut. Probiotik dapat diberikan
sebagai mikroorganisme hidup dalam makanan yang difermentasi yang menunjang kesehatan
melalui terciptanya keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik. Pencegahan diare dapat
dilakukan dengan pemberian probiotik dalam waktu yang panjang terutama untuk bayi yang tidak
minum ASI.

KOMPLIKASI
1. Dehidrasi berat yang berakibat pada kematian
2. Gangguan elektrolit dapat berupa hipernatremia, hiponatremia, hiperkalemia, hipokalemia
3. Demam
4. Edema/overhidrasi
5. Asidosis metabolik
6. Ileus paralitik
7. Kejang
o Hipoglikemia: terjadi jika anak dipuasakan terlalu lama.
o Kejang demam
o Hipernatremia dan hiponatremia
8. Malabsorbsi dan intoleransi laktosa
Pada penderita malabsorbsi atau intoleransi laktosa, pemberian susu formula selama diare dapat
menyebabkan: Volume tinja bertambah, berat badan tidak bertambah atau gejala/tanda dehidrasi
memburuk, dalam tinja terdapat reduksi dalam jumlah cukup banyak.
Tindakan:
a. Mencampur susu dengan makanan lain untuk menurunkan kadar laktosa dan menghidari efek
“bolus”
b. Mengencerkan susu jadi ½-1/3 selama 24 -48 jan. Untuk mangatasi kekeurangan gizi akibat
pengenceran ini, sumber nutrient lain seperti makanan padat, perlu diberikan.
c. Pemberian “yogurt” atau susu ynag telah mengalami fermentasi untuk mengurangi laktosa dan
membantu pencernaan oleh bakteri usus.
d. Berikan susu formula yang tidak mengandung/rendah laktosa, atau ganti dengan susu kedelai.
9. Malabsorbsi glukosa
Jarang terjadi. Dapat terjadi pada penderita diare yang disebabkan oleh infeksi, atau penderita
dengan gizi buruk. Tindakan: pemberian oralit dihentikan, berikan cairan intravena

10. Muntah
Muntah dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus atau gastritis yang menyebabkan gangguan
fungsi usus atau mual yang berhubungan dengan infeksi sistemik. Muntah dapat juga disebabkan
karena pemberian cairan oral terlalu cepat.

11. Akut kidney injury
Mungkin terjadi pada penderita diare dengan dehidrasi berat dan syok.


PENCEGAHAN
1. Mencegah penyebaran kuman pathogen penyebab diare
Kuman-kuman patoggen penyebab diare umumnya disebarkan secara fekal oral. Pemutusan
penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan pada cara penyebaran ini. Upaya pencegahan
diare yang terbukti efektif meliputi:
a. Pemberian ASI yang benar
b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan
sebelum makan
e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
f. Membuang tinja bayi yang benar
2. Memperbaiki daya tahan tubuh penderita
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan dapat juga
mengurangi resiko diare antara lain:
a. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun
b. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan member makan dalam jumlah yang
cukup untuk memperbaiki status , gizi anak.
c. Imunisasi campak.
d. Vaksin rotavirus, diberikan untuk meniru respon tubuh seperti infeksi alamiah, tetapi infeksi
pertama oleh vaksin tidak menimbulkan, manifestasi diare.

Majenang, Januari 2014
DOKTER PENDAMPING DOKTER INTERNSHIP


dr. Ratmawati dr. Ulfah Kartikasari

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful