BAB I

PENDAHULUAN

Waduk Cirata rnerupakan waduk yang dibangun dengan membendung Sungai Citarum yang terletak
di Jawa Barat. Waduk mulai dioperasikan pada tahun 1987 dengan tujuan utamanya untuk PLTA
(pembangkit listrik tenaga air). Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1988 perairan waduk
rnulai dikernbangkan untuk lahan budidaya perikanan dengan sistem KJA (keramba jaring apung)
khususnya diperuntukkan bagi masyarakat sekitar waduk yang lahannya terkena darnpak pembangunan
waduk.
Budidaya ikan sistem KJA di waduk, termasuk salah satu sistem produksi perikanan budidaya
perairan tawar yang terus berkembang karena terdapat sejumlah kemudahan dibandingkan dengan sistern
budidaya lainnya. Menurut Beveridge (2004) keuntungan budidaya ikan dalam KJA yaitu keramba
jaring apung konstruksinya sederhana dan mudah dibuat, rnudah dikelola, ikan yang ditebar rnudah
dipantau, proses pemanenan tidak sulit dan dapat dengan rnudah menambah jumlah unit keramba pada
saat ingin mengernbangkannya.
Waduk Cirata masih menjadi tujuan pengembangan budidaya ikan dengan sistem KJA, karena
sarnpai dewasa ini masih terjadi peningkatan luasan area KJA. Hasil perhitungan luasan area KJA
menggunakan data satelit ALOS AVNIR-2 menunjukkan adanya peningkatan luasan area KJA sekitar
dalam waktu 4 bulan yaitu dari luasan area KJA 892 Ha pada bulan Juni 2008 menjadi 949 Ha pada
bulan September 2008 (Radiarta dan Ardi, 2009). Dilain pihak, telah muncul beberapa permasalahan
seperti terjadinya kematian masal ikan, berjangkitnya penyakit ikan dan bahkan turunnya produksi ikan
budidaya. Hasil penelitian menunjukkan produksi ikan di Waduk Cirata pada tahun 1995 sekitar 2300
kg per KJA, namun pada tahun 2002 produksi turun sekitar 400 kg per KJA (Abery et al, 2005).
Menurut Komarawidjaja (2005) ikan budidaya (Cyprinus carpio) yang dipelihara dalam KJA
pertumbuhannya tidak norrnal karena berkurangnya pakan alami di perairan waduk dan meningkatnya
akumulasi senyawa toksik.
Potensi perairan waduk sebagian besar daya gunanya sangat tergantung pada kualitas badan air
waduk; jika kualitas air menurunimemburuk/ terpolusi maka potensi potensi tersebut akan hilang dengan
sendirinya. Berkenaan dengan hal tersebut maka mempertahankan kualitas air waduk pada kisaran
kondisi yang mampu mendukung kegiatan budidaya ikan sangat diperlukan. Ini berarti bahwa segala
bentuk proses perubahan kearah menurunnya kualitas badan air Waduk Cirata harus dihindarkan.
Proses pemburukan/penurunan kualitas air inilah yang biasa dikenal sebagai pencemaran air.
Dalam upaya menjaga eksistensi budidaya ikan sistem KJA di perairan waduk, dengan ini
dibutuhkan inforrnasi tentang data kualitas air yang mendukung keberlanjutan usaha budidaya tersebut.
Dalam rangka ini dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui karakteristik sifat fisika, kimia dan
biologi perairan waduk pada kolom air yang dimanfaatkan set>agai area t>udidaya KJA. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat rnenjadi informasi dalarn pengelolaan budidaya ikan sistem KJA di
waduk yang berkelanjutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Komarawidjaja (2004) menyatakan bahwa secara ekologis, potensi ekonomi waduk akan
dipengaruhi oleh kualitas perairan (kesuburan) waduk, umur waduk dan kualitas kehidupan di dalam
waduk. Bahkan kesuburan waduk yang berlebih (eutrifik) dapat dikatakan sebagai faktor kunci bagi
fungsi ekologis, karena pada akhimya akan berpengaruh buruk terhadap kehidupan di ekosistern
waduk.
Pembiaran proses pencemaran nutrien dapat rnenghantarkan waduk menjadi tidak layak untuk
kegiatan apapun. Menurut Gamo (2005) badan air waduk Cirata tercemar oleh beberapa logam berat
yang berbahaya bagi kesehatan seperti Hg, Cd, Pb dan Se. Pencemaran oleh logarn berat ini telah
mengakibatkan konsentrasi logam berat tersebut dibeberapa tempat melebihi batas konsentrasi yang
diijinkan bagi bahan baku air minum (Gol. B) dan media budidaya perikanan serta perternakan (Gol.
C).
Waduk Cirata memiliki daerah draw-down (dorodon) yang luas sekitar 581,0 Ha. Adanya daerah
dorodon yang luas ini, maka lingkungan perairan cenderung akan menjadi subur, akibat adanya
akumulasi bahan organik yang berasal dari tumbuhan air yang mati terendam pada saat elevasi muka
air naik. Selain itu kegiatan budidaya perikanan yang berlangsung di badan air pada waduk Cirata akan
berdarnpak langsung terhadap penurunan kualitas air waduk tersebut. Sisa pakan yang tidak
termanfaatkan dari kegiatan budidaya ikan secara intensif ini akan rnemacu perubahan ekosistern
waduk menjadi eutrofikasi. Masukan zat hara secara kontinu ke perairan waduk akan senantiasa
menimbulkan dan mempercepat pencemaran air (Husen, 2005).
Menurut Husen (2005), jumlah KJA di waduk Cirata saat ini rnencapai kurang lebih 40.000 petak
yang berarti telah mencapai 3,3% dari tuas perairan waduk. Berdasarkan pengalaman dari negara
Cina yang memanfaatkan waduk sebagai kegiatan budidaya ikan hanya mengizinkan maksimal 0,3%
untuk perairan yang sudah mengalami lahapan eutropik.
Kondisi waduk Cirata saat ini telah tercemar oleh nutrien yang berasal dar i buangan organik
kegiatan budidaya ikan di KJA. Kondisi ini telah merubah status danau Cirata dari awalnya
merupakan danau yang oligotropik menj.i danau yang hipertrofik. Hal ini juga didukung oleh
kejadian yang selalu berlangsung setiap tahun yaitu terjadinya kernatian ikan secara me.adak. Hal ini
diduga terjadi karena adanya kasus pembalikan massa air yang biasa disebut menjadi arus balik atau
umbalan (up welling). Pada kejadian tersebut akan terjadi pembalikan massa air dimana segala
nutrien yang membahayakan seperti NH,. H,S sebagai hasil penguraian dari sisa-sisa pakan dan
kotoran yang mengendap akan terangkat ke permukaan, membentuk umbalan air berwarna hitarn
pekat serta berbau.
Kejadian yang selalu terjadi setiap tahun tersebut diakibatkan telah terjadinya dekomposisi bahan
organik, dekomposisi ini akan meningkatkan amoniak, fosfor, sulfur dan menurunkan oksigen
terlarut dalam perairan terutarna pada saat malam hari atau pada saat cahaya matahari berkurang.
Keseimbangan nutrient dan kekurangan oksigen serta rendahnya cahaya matahari pada lingkungan
akan mendorong phytoplankton mencari lingkungan yang sesuai dengan naiknya phytoplankton
tersebut ke permukaan air. Ukuran koloni dan gas vakuola menjadi kendali posisi beberapa
ganggang hijau yang tinggal dalarn cahaya yang rendah yaitu dekat dasar zona photik. Ganggang ini
dapat tinggal didasar atau tenggelam perlahan didasar dalam jumlah yang berlimpah pada lapisan
therrnokline dimana terdapat banyak nutrient dan rnasih terdapat cahaya. Gangang hijau dapat naik
ke permukaan ketika musim panas habis. Phytoplanton ini dapat turnbuh pada oksigen rendah dan
menggunakan gas vacuole mereka sehingga mereka dapat terapung.
Pada permukaan danau ganggang hijau terlihat seperti buihrfilm terapung diatas perrnukaan air
Ganggang hijau terapung dapat mencapai waktu yang cukup lama karena ganggang hijau/biru berisi
gas vacuole. Ganggang yang berisi gas vacuole karena terjadi keseimbangan nutrient di sekitar
lingkungan dengan mengapung ganggang hijau dapat meresap cahaya dan kompetisi yang rendah
memanfaatkan nutrient sehingga ganggang hijau mendominasi phytoplankton di banyak danau
eutropik. Phytoplanton membutuhkan surnber nitrogen yang dapat dipergunakan setelah diambil
langsung. Nitrogen pada urnumnya diambil dari ammoniurn-N, nitrat dan nitrite dan. mengandung
fosfor Secara umum, populasi microphytoplankton meningkat sesuai dengan meningkatnya
ketersediaan nitrogen dan fosfor. Distribusi phytoplankton akan konsisten secara lebih luas sesuai
dengan gerakan air dan terdapatnya nutrient dan kehadiran herbivore. Pada musim panas
pertumbuhan phytoplankton berkurang seiring dengan berkurangnya nutrient dalam air. Kebanyakan
alga adalah lebih berat dibanding air, alga akan kararn pada arus air. Banyak phytoplankton
berbentuk silinder dan sederhana dengan bagian punggung berbagai bentuk sehingga tenggelamnya
lambat bahkan rnenyebabkan perputaran. Pada beberapa diatom memiliki punggung yang besar
kadang kadang terdapat lendir. Lendir ini dapat meniadakan fungsi hidrodinamika. Beberapa jenis
diatorn dapat mengumpulkan minyak dan mengapung di permukaan danau. Dengan kondisi danau
arata saat ini secara fisik warna perairan di waduk Cirata ini akan menjadi hijau pekat, berlendir dan
menjadi hitam kecoklatan jika tidak mendapat sinar rnatahari. Oleh karena itu Direktorat teknologi
Lingkungan BPPT pada akhir tahun 1999 telah menyimpulkan bahwa waduk Cirata saat itu telah
tercemar berat oleh nutrien hasil dari buangan organik kegiatan budidaya ikan. Akibatnya, waduk
menjadi badan air yang hipertropik yang dalam pemanfaatan fungsinya dapat menimbulkan
kontraproduktif (Husen, 2006).
Berdasarkan hasil penelitian Garno (2002) bahwa penyuburan yang terjadi di waduk Cirata oleh
unsur N dan P, sebagian besar bersumber dari limbah yang berasal dari kegiatan budidaya perikanan
yang ada cii waduk, limbah domestik dan limbah pertanian.
Banyaknya unsur N dan P pada waduk Cirata maka akan banyak terdapat phytoplankton. Jenis
phytoplankton yang sangat menyukai pupuk nitrat adalah jenis alga terutama ganggang hijau.
Tumbuhan ini akan menutupi permukaan air, sehingga menghambat sinar matahari yang masuk
kedalam air. Hal ini dapat menyebabkan organisme atau tumbuhan air akan mati. Bakteri pembusuk
akan menguraikan organisme yang mati, baik tanaman maupun hewan yang ada di dasar perairan.
Proses pembusukan ini atau dekomposisi akan banyak menggunakan oksigen teriarut dalam air,
sehingga terjadi hypoksia atau kadar oksigen akan menurun secara drastis dan pada akhirnya
kehidupan biologis di perairan danau juga akan sangat t>erkurang. Oleh karena itu peningkatan
unsur hara yang sangat tinggi yang mengakibatkan terjadinya perubahan danau menjadi eutrofik
akan rnengakibatkan dampak negatif dimana akan terjadi perubahan keseimbangan antara kehidupan
tanaman air dan hewan air yang ada di danau Cirata.
Fosfor dan nitrogen merupakan unsur hara pembatas. Kebutuhan terhadap N adalah sekitar 16 kali
lebih besar daripada kebutuhan P. Percobaan Chiandani dan Vighi (1974) menunjukkan bahwa
kebutuhan alga terhadap unsur N dan P adalah (13 — 17) 1 (perbandingan jurnlah atom) atau (6 —
8) 1 (perbandingan bobot). Penarnbahan N ke perairan danau tidak rnempunyai pengaruh atau
sedikit pengaruh terhadap produksi danau. Penambahan sejurnlah kecil P dapat merangsang produksi
secara nyata. Penambahan C dan unsur mikro tidak nyata pengaruhnya ( Robarts dan Southall 1977).
Bukti analisis data penelitian produktivitas, biomassa plankton, dan unsur hara pada danau-danau
dan reservoir-reservoir menunjukkan bahwa P biasanya merupakan unsur hara pembatas. Dari
penelitian danau di seluruh dunia menunjukkan bahwa perbandingan kandungan N P di atas 8:1
(nilai batas kr)tis). Dianjurl(an adanya penyediaan N yang cukup untuk memasok kebutuhan alga.

BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan penelitian ini untuk rnengetahui kondisi kualitas perairan Waduk Cirata dan daya dukung
perairannya untuk mendukung budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung yang
berkelanjutan






BAB IV
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan di Waduk Cirata, Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui metode survey
(stratified samp)ing method) (Ludwig dan Reyno)ds. 1988) pada 7 sebaran titik stasiun pengamatan
(Gambar 1). Penelitian dilakukan pada tanggal 6 -7 Agustus 2010.
Ada 2 jenis data yang dikurripulkan yaitu data insitu yang terdiri dari: DO (oksigen terlarut), suhu,
pH, dan total padatan terlarut (TDS) yang diukur rnenggunakan Water Quality Checker (WQC) merk
YSI 556 dan kecerahan perairan diukur menggunakan secchi di sck. Selanjutnya data eksitu
merupakan data hasil analisis sampel air di Laboratorium Proling IPB (Institut Pertanian Bogor),
yang terdiri dari: BOD, COD, TP, P0a, TN, NO2, NO3, NH3, Pb, Cd, klorofil -a, dan fitoplankton.
Sampel air diambil menggunakan Vam Dom Sampler di tiga strata kedalaman mulai dari
permulcaan, 3 meter dan 7 meter untuk 4 dari 7 stasiun pengamatan (stasiun 1, 2, 3, dan 4) seperti
pada Gambar 1. Stasiun 1 dan 2 masing-masing merupakan inlet Sungai Citarum dan Sungai
Cibalagung merupakan Sub DAS Citarum, stasiun 3 adalah tengah waduk yang padat KJA, dan
stasiun 4 merupakan daerah outlet (daerah DAM). Sarnpel air dimasukkan dalam botol polyetilen
ukuran 1 liter, sampel disimpan dalam coolbox yang diberi es sampai dibawa ke laboratorium untuk
dianalisa. Data diolah rnenggunakan grafik, tabulasi dan ODV (ocean data view) version 3.4.3
(Schlitzer, 2009). ODV digunakan untuk melihat profil kualitas perairan waduk yang dilihat dari
penampang melintang (stasiun 3, 5, 6, dan 7) dan membujur (stasiun 1,3 dan 4) (Gambar 1).

Gambar 1. Lokasi penelitian di Waduk Cirata, dan sebaran titik pengarnatan kualitas perairan


BAB V
HASIL DAN BAHASAN
Gambaran umum kondisi perairan waduk berdasarkan hasil analisis beberapa parameter kualitas
air yang telah dilakukan pada bulan Agustus, September dan Oktobef, seperti terlihat masing-masing
pada Tabel 1, 2 dan 3. Parameter amonia selama pengamatan di sebagian besar stasiun pengamatan
telah melebihi baku mutu untuk perikanan dengan kisaran nilai 0,00 - 1.870 mg/l. Hal terjadi diduga
akibat terjadinya penguraian nitrogen dalam kondisi anoerob. Selain itu, logam berat kadmiurn (Cd)
juga telah melebihi t>aku mutu perairan yang ditetapkan untuk perikanan terutama pada stasiun 1
dan 2 m hampir pada semua kedalaman. Nilai kosentrasi Cd selama pengamatan berkisar antara
0,006 — 0,015 mg/I. Tingginya kosentrasi Cd di kedua stasiun tersebut disenyalir berasal dari
buangan limbah industri yang masuk melalui inlet Waduk Cirata. Tingginya kosentrasi beberapa
parameter kimia perairan tersebut di atas membahayakan bagi kelangsungan hidup organisme perairan
terutama ikan budidaya, karena dalam batas kosentrasi tertentu dapat mengakibatkan kematian bagi
ikan.

Tabel 1. Kisaran dan rata-rata nilai parameter fisika, kimia dan biologi kualitas air pada bulan
Agustus di Waduk Cirata
Tabel 2. Kisaran dan rata-rata nilai parameter tisika, kimia dan biologi kualitas air pada bulan
September di Waduk Cirata

Tabel 3. Kisaran dan rata-rata nilai parameter fisika, kirnia dan biologi kualitas air pada bulan
Oktober di Waduk Cirata

Aspek parameter biologi perairan, nilai kosentrasi klorofil cukup tinggi terutama pada stasiun dengan
kisaran 4.070 - 34.232 ug/L. Kosentrasi klorofil cukup tinggi terutarna pada stasiun 3 dan stasiun 4
dibandingkan dua stasiun lainnya, kedua stasiun tersebut masing-masing merupakan tengah dan outlet
waduk. Tingginya kosentrasi klorofil di kedua stasiun ini merupakan akibat adanya akumulasi beban
nutrien N dan P baik dari sisa pakan maupun bersal dari aktivitas di sekitar waduk yang rnasuk melalui
inlet waduk.
Kosentrasi klorofil yang tinggi mengindikasikan tingginya tingkat kesuburan perairan waduk. Kondisi
perairan waduk yang sangat subur juga tidak baik bagi organisrne perairan terutama ikan budidaya,
karena dapat mempengaruhi ketersediaan oksigen terlarut dalam air terutama pada waktu berlansungnya
proses penguraian sejumlah plankton yang mati.
Hasil pengukuran suhu, total padatan terlarut (TDS) dan DO (oksigen terlarut) yang dilakukan secara
in situ. Perubahan suhu yang drastis umurnnya mulai terjadi pada kedalaman 7 meter, dengan kisaran
perbedaan suhunya lebih kurang 1 °C (29 °C - 28 °C). Penurunan suhu perairan terlihat berbanding
terbalik dengan meningkatnya total padatan terlarut (TDS), seperti pada stasiun 1 dan 4 (Gambar 2).
Perubahan suhu terjadi diduga akibat terhambatnya cahaya matahari yang masuk ke perairan karena
tingginya kosentrasi TDS. Tingginya TDS juga berdampak terhadap rendahnya nilai keoerahan berkisar
75 — 95 cm.

Garnbar 2. Distribusi suhu dan total padatan terlarut di Waduk Cirata


Beban organik yang masuk ke perairan waduk tidak hanya dapat memperburuk kondisi DO perairan,
namun juga meningkatkan sumber nutrien perairan. Menurut Garno (2003) semua bentuk lirnbah
organik yang ciiuraikan oleh bakteri akan selalu mengandung nutrien (N dan P) yang merupakan
indikator tingkat kesuburan perairan. Ketersediaan nutrien N dan P dapat dilihat dari tingkat kosentrasi
TN (total nitrogen) dan TP (total fosfor). Hasil pengukuran yang dilakukan pada bulan Agustus,
Septernber dan Oktober rnenunjukkan kosentrasi TP di perairan waduk berkisar antara 0.006 - 0.491
mg/I. Kosentrasi TP dalam perairan Waduk Cirata cukup tinggi rnelebihi baku mutu (0,20 mg/I), akibat
adanya akumulasi yang disinyalir berasal dari aktivitas budidaya ikan dan aktivitas pemanfaatan lahan
di cactment waduk yang menggunakan fosfor baik pertanian rnaupun pemukiman yang beban
limbahnya masuk melalui inlet waduk seperti tertihat pada Gambar 3a, 4a dan 5a di stasiun 1 dan 2.
Kosentrasi TP yang tinggi menyebabkan rneningkatnya kesuburan perairan. Atici et a I. (2005)
menyatakan kosentrasi TP yang berkisar antara 0.09-1.5 mgrt terrnasuk perairan yang eutrofik.

Gambar 3. Kazi,kntriakt:ola sebaran TP, TN dan klorofil-a pada bulan September di A

Sebaran TN dan TP cukup bervariasi dari kedalaman perrnukaan sampai kedalarnan 7 meter dalam
pengarnatan selama tiga bulan. Namun, sedikit berbeda kondisi TN dan TP pada bulan Oktober dimana
TN dan TP cenderung lebih tinggi di stasiun 1 pada kedalaman 7 meter. Hal ini terjadi kuat dugaan
akibat mulai rnusim hujan sehingga sejumlah N dan P yang terbawa oleh sungai yang sernakin besar
dialirkan ke waduk (Gambar 5a dan 5b). Tingginya ketersediaan TN dan TP di perairan Waduk Cir ata
mengakibatkan meningkatnya ketersediaan nutrien. Hal ini mengakibatkan perairan waduk menjadi
sangat subur. Kesuburan perairan sangat tinggi terutarna pada kedalaman 3 sampai 7 meter seperti
terlihat pada Gambar 3C dan 4C. Perairan yang sangat subur dapat mempengaruhi ketersediaan oksigen
terlarut di perairan.

Hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) perairan menunjukkan DO menurun secara drastis
terjadi mulai pada kedalaman 3 rneter bahkan mulai kedalaman 7 meter DO cenderung lebih kecil dari 3
mg/I terutama di stasiun 3 dan 4 pada Gambar 7 dan 8. kondisi seperti ini terjadi selama pengamatan
(bulan Agustus, September dan Oktober) Hal ini terjadi disiyalir karena oksigen terlarut semakin
banyak dibutuhkan oleh bakteri dalam proses penguraian beban organik. Akibat semakin
terakumulasinya beban organik kearah outlet dari limbah sisa pakan dan masukan dari inlet. Hayami et
(2008) menyatakan cepatnya dekomposisi bahan organik diimbangi dengan laju konsumsi oksigen yang
tinggi sehingga ketersediaan oksigen dalam perairan semakin buruk. Di lain pihak, pengadukan
permukaan air Waduk Cirata oleh angin relatif lemah karena relatif terlindung sehingga penyerapan
oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara menjadi rendah.
Sementara itu, tingkat pemanfaatan area perairan waduk untuk budidaya ikan sistem KJA
disebagian besar badan air waduk sudah sangat padat, seperti terlihat sebaran KJA pada Gambar 1. Hal
ini diyakini kondisi DO perairan terutama ke arah outlet waduk dapat bertambah buruk. Menurut Barus
(2002) nitai DO perairan sebaiknya tidak lebih kecil dari 8 mg/I, Connell (2000) menyatakan DO dalam
air umumnya berada dalam kisaran 6 — 14 mg/I, bila DO turun sangat mernpengaruhi organisme
perairan. Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa kualitas perairan waduk yang dimanfaatkan
untuk budidaya ikan sistem KJA yang memanfaatkan kolom air sampai kedalaman 7 meter kondisinya
cenderung menurun karena ketersediaan DO sudah semakin kecil. Hal ini diduga sampai kedalaman 7
meter terjdi pemanfaatan oksigen oleh bakteri dalarn proses penguraian bahan organik yang cukup
tinggi, sarnpai kedalarnan tesebut kepadatan fitoplankton cukup tinggi yang memanfaatkan oksigen
untuk fotosintesis, dan terjadinya kompetisi penggunaan oksigen oleh ikan terutama ikan dalam KJA
yang ditebar dengan kepadatan tinggi.

BAB Vl
KESIMPULAN
Perairan Waduk Cirata menerima beban nutrien TN dan TP baik yang berasal dari limbah sisa
pakan budidaya ikan maupun yang masuk dari inlet waduk cenderung meningkat. Peningkatan beban
nutrien rnemperburuk ketersediaan oksigen terlarut dan meningkatnya bahan toksik berupa arnoniak di
perairan. Hasil indentifikasi logam berat jenis kadmium (Cd) juga telah melebihi baku mutu. Penelitian
ini telah berhasil rnengidentifikasi pola karakteristik sejumlah pararneter kualitas perairan waduk
dengan menggunkan Ocean Data View (ODV) version 3.4.3. Pola kualitas perairan Waduk Cirata yang
diidentifikasi menunjukkan kualitas perairan cenderung semakin buruk ke arah oulet waduk. Demikian
juga dengan pola beban nutrien TP dan TN cenderung semakin rneningkat kearah oulet.. Pola
karakteristik kualitas perairan waduk dapat dijadikan acuan dalam menata penempatan KJA di kolom
air waduk agar tidak terjadi akumulasi beban limbah yang dapat memperburuk kualit as perairan waduk.


DAFTAR PUSTAKA
Aberry, N.W., Sukadi, F., Budhiman, A.A., Kartamihardja, E.S., Koeshendrajana, S., Buddhiman, De
Silva, S.S., 2005. Fisheries and cage culture of three reservoirs in West Java, Indonesia: a case study of
ambitious development and resulting interactions. Fisheries Management and Ecology 12, 315-330
Atim, T., Obali, O., Caliskan, H.. 2005. Control of Water Pollution and Phytoplanktonic Algal Flora in
Bayindir Dam Reservoir (Ankara). Vol. 22, (1-2): 79-82. Barus, T.A. 2002. Pengantar Limnologi.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Chiandani G, Vighi M. 1974. The N:P ratio and tests with Selenastrurn to predict eutrophication in
lakes. Water Res., 8:1063-9.
Connell, D.W. 2000. Besic Concepts of Environmental Chemistry. Lewis Publilshers. Boca Reton, New
York.
[FA01 Food and Agnculture Organization. 1988. Aspects of FAO's Policies, Programrnes Budget and
Activities Aimed at Contributing to Sustainable Development. Document to the 94th Session of FAO
Council. Rome, Italy.
Guerrero, R. D. 2007. Eco-Friendly Fish Farrn Management and Production of Safe Aquaculture Foods
in the Philippines
Garno, Y.S. 2002. Dinamika dan status kualitas air waduk Multi guna Cirat a. Jurnal Saint dan
Teknologi BPPT. Jakarta.
HaYami Y" !<" Y°shinc' :1<tl-ieGgrnact> l',.eSser2vOCinfJbatrlantid°onnZifl<nnZirtgeyr, r9r=4,17 a
tropical reservoir
Krismono, A.S.N. dan Krismono. 2003. Indikator Umbalan Dilihat dari Aspek Kualitas Air di Perairan
waduk ir. H. Djuanda, Jatiluhur-Jawa Barat, JPPI Volume 9 (4): p 73 - 85.
Landner, L. 1976. Eutrofication of Lakes Causes Effect and Means for Control, with Emphasis on Lakes
Rehabilitation. WHO-Regional Oftice for Europe ICP/CEP 210. Stokholm, Sweden.
Robarts RD, Southall GC. 1977. Nutrient limitation of phytoplankton growth in seven tropical man-
made lakes with sp.ral reference to Lake Mcllwaine, Rhodesia. Arch.Hydrobiol., 79:1-35.
Radiarta, I N. dan Ardi, I. 2009. Pemetaan Distribusi Keramba Jaring Apung Ikan Air Tawar di Waduk
Cirata, Jawa Barat dengan Multi Temporal Data ALOS AVNIR-2. Jurnal Riset Akuakultur, Vol. 4 (3):
439 — 446.
Schlitzer, R. 2009. Ocean Data View. htto://o..awi.de, 2009
[UNEP] United Nations Environment Programme. 2004. Guidelines for the Integrated Managernent of
the Watershed- Phytotechnology and Ecohydrology. Freshwater Managernent , No. 5.
Umar, C. Dan Astuti, L.P. 2006. Status Trofik Danau Sentani, Papua. Serninar Nasional Lirnnologi
2006, Pengelolaan Surnberdaya Perairan Darat secara Terpadu di Indonesia. Pusat Peneliltian
Limnologi.