Istiqomah

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu
Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa
waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah
Wa man yudhlil falaa haadiyalah
Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah
wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
artinya : Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang kita memuji-Nya,
kita memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, yang kita memohon dari kejelekan jiwa-
jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Saya bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang Haq untuk
disembah melainkan Ia Subhanahu wa Ta’ala dan tiada sekutu bagi-Nya serta Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ya ayyuhal-ladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna
illa wa antum muslimun [Ali 'Imran : 102]
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan
janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan islam” [Ali 'Imran : 102]
-----
Topik yang ingin saya bahas kali ini adalah istiqomah.
Di Bandung ada masjid yang bernama masjid Istiqomah. Kita tidak membahas itu
 Kita membahas istiqomah yang lain.
Apakah yang dimaksud dengan istiqomah? Salah satu jawabannya, istiqomah
adalah usaha untuk mempertahankan rutinitas dalam pekerjaan baik (amal
sholih). Dalam Al Qur’an, istiqomah didefinisikan sebagai sebagai keteguhan
sikap, yakni Allah swt adalah Tuhan yang haq.

QS Al-Fushilat 30:

-
ت ص : ٣۰

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah"
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (tsummas-taqoomuu),
maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah
mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Jadi pada intinya, istiqomah adalah teguh, konsisten, mantap, tegak berdiri.
Tetap berjalan sesuai dengan tujuannya. Dalam kultum ini saya mengeksplorasi
lebih lanjut bahwa istiqomah itu tidak hanya dikaitkan kepada ibadah (ritual)
saja, tetapi juga termasuk dalam menjalankan amalan atau perbuatan yang baik
dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam prakteknya untuk istiqomah itu selalu saja ada distraction, gangguan,
hambatan, sehingga kita gagal untuk istiqomah. Shalat, misalnya, diganggu
dengan ide-ide untuk meninggalkannya. Dari pada shalat, lebih baik tidur. Atau
shalat menghabiskan waktu. Ada orang-orang yang mengatakan, yang penting
kita baik, tidak perlu shalat. Jangan terpengaruh. Istiqomah tetap mengerjakan
shalat.
Untuk perbuatan baik yang bukan ibadah ritual misalnya, ada orang yang rajin
membersihkan sampah di lingkungannya, tetapi melihat orang lain tidak
melakukannya maka dia merasa beda sendiri. Akhirnya dia jadi malas untuk
melakukan pekerjaan yang baik itu. Untuk apa kita beberesih sementara orang
lain tidak? Nah itu dia. Semestinya kita tetap istiqomah dengan amalan baik ini.
Ada banyak perilaku-perilaku yang seharusnya kita istiqomah untuk
menjalaninya. Misalnya, tertib dan sabar dalam berkendaraan (lalu lintas),
santun dalam bertutur sapa. Bagi yang sedang sekolah, istiqomah dalam pergi ke
sekolah dan belajar. Bagi yang kuliah, istiqomah dalam kuliah dan mengerjakan
skripsi. Yang sedang mengerjakan penelitian, istiqomah dalam mengerjakan
topik penelitian. Jangan berganti-ganti topik karena melihat topik yang lain
seperti lebih mudah / menarik. Bagi yang bekerja, istiqomah dalam mengerjakan
pekerjaannya tanpa merasa iri melihat pekerja lain yang mungkin terlihat lebih
mudah dalam bekerja.
Kegagalan dalam istiqomah itu dapat terjadi karena kita ini manusia.
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu,
diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa,
maka tetaplah istiqomah pada jalan yan lurus menuju kepada-Nya dan
mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6).
Bagaimana kiat kita agar tetap istiqomah?
Pertama, kita harus yakin dulu bahwa apa yang kita kerjakan itu merupakan hal
yang baik. Hal yang harus dilakukan. Jika kita tidak yakin, maka akan mudah
digoyah. Kita menjadi ragu ketika orang-orang mengabaikan atau mencemooh
apa-apa yang kita lakukan. Kita tetap istiqomah dengan agama kita.
Kedua adalah dengan membaca atau mendengar kisah-kisah perjuangan orang
lain yang istiqomah sehingga dapat dijadikan teladan. Kisah-kisah seperti ini
menambah semangat (bagi yang masih mengerjakan perbuatan baik) atau
mengingatkan kembali (bagi yang sudah mulai lupa untuk melakukan perbuatan
baik). Kisah-kisah ini bisa tentang kisah para nabi, atau juga kisah-kisah orang di
sekitar kita yang istiqomah.
Tentu saja kita harus terus berdoa agar tetap dapat istiqomah. Berusaha dan
berdoa.
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha
Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Semoga kultum ini dapat menjadi pengingat kembali agar kita tetap istiqomah.
Semangat!
(Kultum – BR, Bandung, 20 Juli 2014)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful