0

FAKTOR-FAKTOR PSIKOLOGIS YANG MEMPENGARUHI
PERHATIAN SISWA DALAM BELAJAR
DI MADRASAH ALIYAH MA’ARIF UDANAWU BLITAR

Proposal Skripsi
Ditulis untuk memenuhi sebagai persyaratan guna memperoleh
gelar Sarjana Psikologi Islam (S.Psi)










Oleh :
RIZQY MEI ZUANITA
NIM: 9334.022.10

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM
JURUSAN USHULUDDIN DAN ILMU SOSIAL
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2014
1

FAKTOR-FAKTOR PSIKOLOGIS YANG MEMPENGARUHI PERHATIAN
SISWA DALAM BELAJAR DI MADRASAH ALIYAH MA’ARIF UDANAWU
BLITAR
A. Latar Belakang
Hubungan manusia dengan lingkungan dapat dijelaskan dengan teori
stimulus-respon. Stimulus merupakan rangsangan dari luar manusia, atau sesuatu
hal yang mempengaruhi manusia. Psikologi lingkungan membahas tentang
stimulus sebagai lingkungan yang akan mempengaruhi manusia yang
berinteraksi dengannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa lingkungan fisik
atau lingkungan sosial.
1

Hubungan antara manusia dengan lingkungan dapat dilihat sebagai suatu
sistem. Lingkungan merupakan suatu input yang menerpa pada manusia, dan
didalam diri manusia akan diproses masukan lingkungan tersebut. Hasil dari
proses dalam diri manusia akan menjadi keluarnya yang berupa tingkah laku.
Dengan demikian, hubungannya dapat lebih mudah dijelaskan dalam sistem
tersebut.
Masukan dari lingkungan yang akan masuk pada manusia dalam
psikologi disebut sebagai stimulus. Manusia memiliki keunikan dalam
menghadapi suatu stimulus, yaitu mempunyai kemampuan menyeleksi masukan
yang berupa stimulus tersebut. Stimulus lingkungan yang akan masuk atau
mengena pada manusia begitu banyak. Manusia akan menyeleksi stimulus mana
yang relevan, dan akan diproses oleh manusia.
Manusia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan. Lingkungan tidak
dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Lingkungan selalu mengitari
manusia dari waktu ke waktu, sehingga antara manusia dan lingkungan terdapat
hubungan timbal balik dimana lingkungan mempengaruhi manusia dan

1
Zulrizka Iskandar, Psikologi Lingkungan: Teori dan Konsep (Bandung: PT. Refika Aditama, 2012),
18
2

sebaliknya manusia juga mempengaruhi lingkungan. Begitu pula dalam proses
belajar belajar mengajar, lingkungan merupakan sumber belajar yang
berpengaruh dalam proses belajar dan perkembangan anak.
Belajar, tentu saja bukan sekedar penyerapan informasi. Lebih dari itu,
belajar adalah proses pengaktifan informasi. Ia melibatkan upaya pengaksesan
informasi dan penyimpanannya didalam memori terdalam. Proses penyimpanan
informasi merupakan satu bagian dari proses belajar. Menangkap stimuli adalah
bagian proses belajar lainnya. Begitu juga, persepsi dan perhatian.
2

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, secara ringkas ada tiga
macam, yaitu individual, sosial, dan faktor instruktural. Faktor individual adalah
faktor internal siswa, seperti kondisi jasmani dan rohaninya. Faktor sosial adalah
faktor eksternal siswa, seperti kondisi lingkungan. Adapun faktor struktural
adalah pendekatan belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan
siswa dan guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
3

Faktor-faktor lingkungan nonsosial seperti gedung sekolah dan letaknya,
tempat tinggal seseorang, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar
yang digunakan pelajar.
4

Sekolah merupakan lingkungan belajar bagi seseorang. Ketika
lingkungan belajar tersebut muncul sebuah permasalahan, maka permasalahan
tersebut akan mengganggu kegiatan belajar dan mengajar. Permasalahan yang
muncul pada lingkungan sekolah bisa saja permasalahan dari lingkungan sekolah
itu sendiri dan juga bisa berasal dari lingkungan sekitar sekolah.
Sebuah permasalahan dari sekitar lingkungan sekolah bisa berupa
kepadatan, kebisingan, dan bahkan bisa berupa pencemaran udara. Semua
permasalah tersebut dapat mengganggu kegiatan proses belajar dan mengajar di

2
Mahmud, Psikologi Pendidikan (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010), 67.
3
Ibid., 93.
4
Ibid., 101.
3

sekolah. Karena masalah-masalah tersebut merupak sebuah stimulus yang
nantinya akan direspon oleh siswa dan guru.
Salah satu lokasi yang telah diobservasi adalah Madrasah Aliyah Ma’arif
Udanawu Blitar. Sekolah tersebut terletak diantara pemukiman penduduk yang
tidak begitu padat karena letaknya yang berada di desa. Letak sekolah tersebut
juga bukan berada pada jalur lalu lintas yang padat. Namun, letak sekolah
tersebut bersebelahan dengan sebuah kandang ayam petelur milik salah satu
peternak di daerah tersebut. Karena letaknya yang berdampingan dengan
kandang, maka muncul sebuah permasalahan yaitu bau dari kotoran ayam.
Pada saat musim kemarau kandang tersebut tidak memunculkan
permasalahan sama sekali, namun ketika musim penghujan datang maka
permasalahan mulailah muncul yang berupa bau kotoran ayam. Dampak yang
dirasakan bagi siswa dan guru sangatlah besar. Tetapi pada kelas tertentu saja
dampak yang sangat besar itu dirasakan yaitu pada siswa dan pengajar kelas Xc.
Seseorang yang menghirup udara kotor, maka ia akan mengalami
kekurangan oksigen didalam darah. Oksigen yang dihirup oleh manusia pun
jumlahnya tidak banyak seperti udara yang tidak tercemar. Dengan kondisi
tersebut, orang akan merasa pusing, kerusakan saraf, gangguan memori dan
atensi. Kekurangan oksigen yang kronis dalam medis, kondisi tersebut disebut
pula sebagai chronic airflow obstruction (gangguan pengalir udara yang kronis),
dan akan berpengaruh pada atensi yang kompleks. Kecepatan memroses
informasi dan mengingat akan menurun, mangganggu “short term memory” dan
juga ”long term memory”. Kinerja pengamatan kurang, menghambat
kemampuan perencanaan dan mengorganisasi.
5

Berdasarkan keterangan diatas permasalahan yang muncul adalah
masalah perhatian dalam berlajar bagi siswa. Dalam hal perhatian, William
James menjelaskan “Atensi adalaha pemusatan pikiran, dalam bentuk yang jernih

5
Ibid., 174.
4

dan gamblang, terhadap sejumlah objek simultan atau sekelompok pikiran.
Pemusatan (focalization) kesadaran adalah intisari atensi. Atensi
mengimplikasikan adanya pengabaian objek-objek tertentu secara efektif”.
6

Siswa sangat sulit sekali untuk bisa memperhatikan pelajaran dengan
baik ketika bau kotoran ayam sangat menyengat. Bahkan ada beberapa siswa
yang sampai tidak sadarkan diri karena tidak tahan dengan bau yang sangat
menyengat.
Suatu pertimbangan penting dalam mengonstruksi fasilitas pendidikan
adalah kontrol lingkungan, termasuk penerangan, suhu udara, ventilasi, dan
akustik. Kurangnya kontrol lingkungan yang memadai akan menyebabkan
sejumlah permasalahan seperti mata lelah karena cahaya menyilaukan atau
ketidaknyamanan karena kepanasan atau kedinginan. Kurangnya kontrol
lingkungan dapat juga memberi kontribusi padapola perilaku yang buruk, tidak
hanya pada anak melainkan juga pada orang dewasa.
7

Iklim ruang kelas sangat berpengaruh terhadap konsentrasi. Jika anak
merasa kurang nyaman dengan suhu ruangan, konsentrasi dan perhatian mereka
akan beralih tersita oleh ketidak nyamanan fisik mereka. Jika hal itu terjadi,
maka pembelajaran menjadi tidak efektif. Oleh karena itu sirkulasi udara dan
kondisi jendela sangat penting. Para guru diharapkan menyadari secara penuh
kondisi suhu dan iklim ruang kelas anak-anaknya sehingga pembelajaran dapat
berjalan lebih efektif dan efisien.
Fenomena di atas merupakan sedikit gambaran mengenai permasalahn
yang ada di Madrasah Aliyah Ma’arif Udanawu. Dari pandangan dan latar
belakang ini, maka peneliti mencoba meneliti lebih dalam mengenai perhatian
(atensi), dengan judul “Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Perhatian
Siswa Dalam Belajar di Madrasah Aliyah Ma’arif Udanawu Blitar”.


6
Robert L. Solso, et. al., Psikologi Kognitif (Jakarta: Erlangga, 2008), 90.
7
Rita Mariyana, et. al., Pengelolan Lingkungan Belajar (Jakarta: Kencana, 2010), 84.
5

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka peneliti
membuat rumusan masalah yang difokuskan pada: “Bagaimanakah faktor-faktor
psikologis mempengaruhi perhatian siswa dalam belajar di madrasah aliyah
udanawu blitar?”.
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk menggambarkan faktor-faktor psikologis yang
mempengaruhi perhatian siswa dalam belajar. Serta untuk memperoleh gambaran
bagaimana faktor-faktor psikologis dapat mempengaruhi perhatian siswa dalam
belajar.
D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
a. Memperoleh gambaran mengenai faktor-faktor psikologis yang
mempengaruhi perhatian siswa dalam belajar.
b. Dapat menambah khasanah pengetahuan dalam bidang keilmuan
psikologi pada umumnya dan khususnya psikologi lingkungan dan
psikologi kognitif.
c. Dapat dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui faktor-faktor
psikologis yang mempengaruhi perhatian bagi penelitian dimasa
mendatang.
2. Kegunaan Praktis
a. Bagi pihak peneliti dan lingkungan akademik, penelitian ini dapat
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan aplikasinya
dibidang psikologi.serta menjadi acuan bagi STAIN, khususnya Prodi
Psikologi Islam dalam kajian dibidang Ilmu Psikologi.
b. Bagi para dewan guru MA. Ma’arif Udanawu, penelitian ini dapat
memberikan manfaat berupa pengetahuan mengenai gangguan perhatian
6

siswa dalam belajar serta dampaknya bagi psikologis siswa jika gangguan
psikologis tersebut sering terjadi.
c. Bagi pihak peneliti, sebagai sarana memperdalam pengetahuan dan
menambah wawasan dibidang Psikologi. Sehingga dapat dipahami
bagaimana pengaplikasiannya. Dan diharapkan dapat memberikan
manfaat serta wawasan yang lebih luas sehingga memperoleh khasanah
pemikiran yang lebih baik bagi peneliti dalam mengembangkan disiplin
ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menuntut ilmu di perkuliahan,
sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
E. Telaah Pustaka
1. Yachinta Triana Puspita, dengan judul skripsi “Pengaruh Perhatian Siswa
Dalam Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas
Tinggisekolah Dasar Se-Gugus Iv Kecamatan Pengasih Tahun Ajaran
2011/2012”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perhatian siswa
dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar Matematika siswa kelas tinggi
SD segugus IV Kecamatan Pengasih tahun ajaran 2011-2012.
Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan variabel bebas
perhatian siswa dalam pembelajaran dan variabel terikatnya prestasi belajar
Matematika yang dilaksanakan pada bulanApril 2012. Subjek penelitian ini
adalah siswa kelas tinggi (IV dan V) SD se-gugus IV Kecamatan Pengasih,
dengan jumlah populasi 234 siswa dan sampel 148 siswa. Teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik stratified proportional random
sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui metode angket dan
dokumentasi. Metode angket digunakan untuk mengumpulkan data perhatian
siswa., sedangkan metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data
prestasi belajar Matematika siswa. Uji validitas menggunakan rumus product
moment, dan uji reliabilitas menggunakan rumus alpha. Uji prasyarat analisis
7

data menggunakan uji normalitas dan linieritas. Pengujian hipotesis
menggunakan analisis regresi sederhana.
Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh perhatian siswa dalam
pembelajaran terhadap prestasi belajar Matematika kelas tinggi SD se-gugus
IV Kecamatan Pengasih tahun ajaran 2011/2012. Hal tersebut ditunjukkan
oleh hasil perhitungan analisis regresi linier yaitu sig (p) < α atau 0,000 <
0,05 dan r hitung > r tabel atau 0,414 > 0,159. Perhatian siswa dalam
pembelajaran berkontribusi terhadap prestasi belajar Matematika sebesar
17,2%.
2. Ni Kt. R. Kartika, Nym. Natajaya, Kd. Rihendra, e-Journal Program
Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Administrasi
Pendidikan (Volume 4 Tahun 2013) dengan judul “Determinasi Lingkungan
Sekolah, Disiplin Belajar, Dan Kualitas Pembelajaran Terhadap Prestasi
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi (Studi Pada Siswa SMA PGRI 2
Denpasar Tahun Pelajaran 2012-2013)”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji determinasi lingkungan
sekolah terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA
PGRI 2 Denpasar, determinasi disiplin belajar terhadap prestasi belajar siswa
pada mata pelajaran di SMA PGRI 2 Denpasar, determinasi kualitas
pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di
SMA PGRI 2 Denpasar, determinasi secara bersama-sama lingkungan
sekolah,disiplin belajar, dan kualitas pembelajaran terhadap prestasi belajar
siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA PGRI 2 Denpasar.
Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan pendekatan
kuantitatif jenis ex-post facto. Populasi penelitian adalah seluruh kelas X, XI
dan XII di SMA PGRI 2 Denpasar dengan sampel yang berjumlah 120 orang.
Hasil analisis menunjukkan determinasi lingkungan sekolah, disiplin belajar
dan kualitas pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa masing -masing
mencapai 16,1 %, 3,9%, 9,9%. Sumbangan ketiga faktor tersebut secara
8

holistic terhadap prestasi siswa sebesar 78,6%. Dengan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan lingkungan
sekolah, disiplin belajar dan kualitas pembelajaran terhadap pretasi belajar
siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA PGRI 2 Denpasar.

9

3. Kajian Teoritik
1. Atensi
Ketika membicarakan “atensi” dari sudut pandang psikolog kognitif
masa kini, kita mengacu pada sebuah proses kognitif yang menyeleksi
informasi penting dari dunia disekeliling kita (melalui panca indera),
sehingga otak kita tidak secara berlebihan dipenuhi oleh informasi yang tidak
terbatas jumlahnya.
8

Perhatian adalah padanan dari kata attention dalam bahasa inggris.
Menurut Keneth E. Andersen, perhatian (attention) adalah “proses mental
ketika suatu stimuli atau serangkaian stimuli berposisi menonjol dalam
kesadaram seiring dengan keadaan stimuli yang lainnya sedang melemah”.
9

Menurut Willian James, Atensi adalaha pemusatan pikiran, dalam
bentuk yang jernih dan gamblang, terhadap sejumlah objek simultan atau
sekelompok pikiran. Pemusatan (focalization) kesadaran adalah intisari
atensi. Atensi mengimplikasikan adanya pengabaian objek-objek tertentu
secara efektif.
10

Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas
individu yang ditujukan kepada suatu objek atau sekumpulan objek.
Kalau individu sedang memperhatikan sesuatu benda misalnya, ini
berarti bahwa seluruh aktifitas individu dicurahkan atau dikonsentrasikan
kepada benda tersebut. Tetapi disamping itu individu juga dapat
memperhatikan banyak objek sekaligus dalam suatu waktu. Jadi yang
dicakup bukanlah hanya satu objek, tetapi sekumpulan objek-objek. Jadi
perhatian merupakan penyeleksian terhadap stimuli.
Dengan demikian maka apa yang diperhatikan akan betul-betul
disadari oleh individu, dan akan betul-betul jelas bagi individu yang

8
Solso, Kognitif., 91.
9
Mahmud, Pendidikan., 70.
10
Solso, Kogniti., 90.
10

bersangkutan. Perhatian muncul ketika terjadi pengonsentrasian salah satu
alat indra serta mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indra
lainnya.
Pengalaman sehari-hari mengajari kita bahwa kita akan
memperhatikan sejumlah isyarat dari lingkungan kita lebih sering dari isyarat
yang lain, dan isyarat yang kita perhatikan tersebut umumnya diproses lebih
lanjut oleh sistem kognitif, sedangkan isyarat yang diabaikan tidak
mengalami pemrosesan lebih lanjut isyarat yang kita perhatikan dan yang kita
abaikan tampaknya dipengaruhi kendali kita terhadap situasi yang
bersangkutan (seperti menggunakan “instant repaly” untuk melihat apakah
seorang pemain sepak bola melakukan offside) dan dipengaruhi pula oleh
sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman jangka panjang kita (seperti
membaca sebuah laporan teknis untuk menemukan fakta tertentu). Dalam
kedua situasi diatas, mekanisme atensi memusatkan diri pada stimuli
tertentu, dan mengabaikan stimuli yang lain. Meskipun stimuli yang “tidak
penting” seringkali seolah-olah dibuang keluar dari sistem, terkadang stimuli
yang tidak penting tersebut tidak sungguh-sungguh disingkirkan, melainkan
sekedar diberi prioritas sekunder. Robert J. Stenberg menjelaskan dalam
bukunya tentang teori atensi yaitu, “Teori sumber daya atensi (attensional
resources theory) membantu mnjelaskan bagaimana kita dapat melakukan
lebih dari satu tugas yang menuntut atensi pada satu waktu”.
11
Mereka yakin
kalau manusia memiliki beberapa sumber daya atensi yang sudah baku
sehingga mereka dapat memilih untuk mengalokasikan berdasarkan apa yang
diminta tugas.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perhatian. Secara garis
besar, faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian terbagi dua yaitu faktor
eksternal dan faktor internal.

11
Rober J. Stenberg, Psikologi Kognitif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 89.
11

a. Faktor Eksternal
Situasi yang merupakan penarik perhatian oleh para psikolog
barat disebut attention getter . sebagian psikolog menyebut situasi yang
menarik perhatian dengan dereminan perhatian eksternal. Situasi yang
menarik perhatian terdiri dari:
12

1. Gerak, secara visual, manusia tertarik pada objek-objek yang
bergerak.
2. Intensitas stimuli, manusia akan memperhatikan stimuli yang lebih
menonjol dibandingkan stimuli yang lainnya.
3. Kebaruan, hal-hal baru selalu menarik perhatian manusia.
4. Pergaulan, hal-hal yang disajikan berkali-kali serta ditambah variasi
akan menarik perhatian.
b. Faktor Internal
Tingkat perhatian seseorang dipengaruhi oleh keadaan
internalnya. Tingkat perbedaan perhatian pelajar tehadap pelajaran pun
terkait dengan faktor internal mereka. Ada beberapa faktor internal yang
mempengaruhi perhatian, yaitu sebagai berikut:
13

1. Faktor Biologis
Pelajar yang belajar dalam keadaan lapar konsentrasinya tidak
akan terfokus pada pelajaran matematika yang disampaikan oleh
gurunya. Sejelas apapun penjelasannya. Perhatiannya terfokus pada
makanan. Secara keseluruhan, perhatian manusia dipengaruhi oleh
faktor biologis.
2. Faktor Sosiopsikoligis
Apabila seorang pelajar ditugaskan untuk meneliti beberapa
jumlah pelajar perempuan dalam sebuah kelas, ia tidak akan dapat
menjawab berapa jumlah perempuan yang berkerudung hitam.

12
Mahmud, Pendidikan., 70.
13
Ibid., 71.
12

3. Faktor Sisiogenis, Kebiasaan, Sikap, dan Kemauan
Dalam perjalanan piknik kepegunungan,sikap orang berbeda-
beda. Seorang ahli botani akan memerhatikan bunga-bunga, geolog
akan memerhatikan bebatuan, ahli zoologi akan
memerhatikanbinatang, begitu juga ahli-ahli yang lainnya akan
memerhatikan hal yang terkait dengan keahliannya. Sebuah cerita
humor tapi tidak lucu menyebutkan bahwa lenapa orang padang
selalu kalah dalam balap mobil. Konon, karena disetia tikungan,
orang padang selalu terganggu perhatiannya dengan memikirkan
apakah strategis atau tidak kalau mendirikan warung nasi ditikungan
itu. Cerita ini bukan ukuran. Namun, sekedar ingin menggambarkan
bahwa motif sosiogenis sangat berpengaruh terhadap perhatian setiap
orang.
Ditinjau dari segi timbulnya perhatian, perhatian dapat dibedakan atas
perhatian spontan dan perhatian tidak spontan.
14

1. Perhatian spontan, yaitu perhatian yang timbul dengan sendirinya,
timbul dengan secara spontan. Perhatian ini erat hubungannya dengan
minat individu. Apabila invidu telah mempunyai mina tterhadap suatu
objek, maka terhadap objek itu biasanya timbul perhatian yang spontan,
secara otomatis perhatian itu akan timbul. Misalnya apabila seseorang
mempunyai minat terhadap musik, maka secara spontan perhatiannya
akan tertuju kepada musik yang didengarnya.
2. Perhatian tidak spontan, yaitu perhatian yang ditimbulkan dengan
sengaja, karena itu harus ada kemauan untuk menimbulkannya. Seorang
murid mau tidak mau harus memperhatikan pelajaran sejarah misalnya,
sekalipun dia tidak menyenanginya, karena dia harus mempelajarinya.

14
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2010), 112.
13

Karena itu untuk dapat mengikuti pelajaran tersebut, dengan sengaja
harus ditimbulkan perhatiannya.
Didlihat dari banyaknya objek yang dapat dicakup oleh perhatian
pada satu waktu, perhatian dapat dibedakan menjadi perhatian yang sempit
dan perhatian yang luas.
15

1. Perhatian yang sempit, yaitu perhatian individu pada suatu waktu hanya
dapat memperhatikan sedikit objek.
2. Perhatian yang luas, yaitu perhatian individu yang pada suatu waktu
dapat memperhatikan banyak objek sekaligus. Misalnya orang melihat
pasar malam, ada orang yang dapat menangkap banyak objek sekaligus,
tetapi sebaliknya ada orang yang tidak dapat berbuat demikian
Sehubungan dengan ini perhatian dapat juga dibedakan atas perhatian
yang terpusat dan perhatian yang terbagi-bagi.
16

1. Perhatian yang terpusat, yaitu individu pada suatu waktu hanya dapat
memusatkan perhatiannya pada sesuatu objek.
2. Perhatian yang terbagi-bagi, yaitu individu pada suatu waktu dapat
memperhatikan banyak hal atau objek.
Dilihat dari fluktuasi perhatian,maka perhatian dapat dibedakan
menjadi perhatian yang statis dan perhatian yang dinamis.
17

1. Perhatian yang statis, yaitu individu dalam waktu yang tertentu dapat
dengan statis atau tetap perhatiannya tertuju kepada objek tertentu.
Orang yang mempunyai perhatian semacam ini sukar memindahkan
perhatiannya dari satu objek ke objek lain.
2. Perhatian yang dinamis, yaitu individu dapat memindahkan
perhatiannya secara lincah dari satu objek ke objek lain. Individu yang

15
Ibid.
16
Ibid., 113.
17
Ibid.
14

mempunyai perhatian semacam ini akan mudah memindahkan
perhatiannya dari satu objek ke objek lain.
2. Teori-Teori Dalam Psikologi Lingkungan
a. Teori Beban Lingkungan
Hubungan antara manusia dengan lingkungan dapat dilihat
sebagai suatu sistem. Lingkungan merupakan suatu input yang menerpa
pada manusia,dan didalam diri manusia akan diproses masukan
lingkungan tersebut. Hasil dari proses dalam diri manusia akan menjadi
keluarnya yang berupa tingkah laku. Dengan demikian, hubungannya
dapat lebih mudah dijelaskan dalam sistem tersebut.
Masukan dari lingkungan yang akan masuk pada manusia dalam
psikologi disebut sebagai stimulus. Manusia memiliki keunikan dalam
menghadapi suatu stimulus, yaitu mempunyai kemampuan menyeleksi
masukan yang berupa stimulus tersebut. Stimulus lingkungan yang akan
masuk atau mengena pada manusia begitu banyak. Manusia akan
menyeleksi stimulus mana yang relevan, dan akan diproses oleh
manusia.
Namun demikian, manusia sering menghadapi situasi yang tak
terhindarkan dimana stimulus lingkungan yang masuk kepada manusia
cukup banyak yang relevan. Dalam situasi demikian, manusia akan
mengalami situasi sulit untuk menyeleksi stimulus lingkungan.
Dalam situasi stimulus lingkungan yang begitu banyak akan
memberikan informasi, manusia akan memberikan perhatian yang
menyempit untuk lebih fokus pada informasi yang paling relevan. Namun
informasi yang masuk begitu banyak, sehingga stimulus tersebut mulai
dirasakan menekan dirinya. Stimulus demikian dapat menyebabkan
dirinya stres, dan stimulus lingkungan tersebut menjadi “stressor”.
18


18
Zulrifka, Lingkungan., 43.
15

Cohen dan Milgram mengungkapkan mengenai proses
penyempitan perhatian kedalam suatu model dalam menangani data yang
begitu banyak dari stimulus lingkungan, baik data yang baru hingga yang
tidak diinginkan. Cohen dan Milgram menyatakan bahwa manusia
mempunyai kapasitas yang terbatas dalam mengolah informasi. Ketika
manusia menerima informasi dalam jumlah yang banyak, dan informasi
tersebut melebihi kapasitas untuk memproses informasi, maka ia akan
merasakan sebagai beban yang berlebih. Strategi yang biasanya dilakukan
oleh manusia dalam menghadapi situassi beban lingkungan adalah
mengabaikan informasiyang lain masuk.
19

Empat asumsi dasar dalam teori beban lingkungan, yaitu:
20

1. Manusia mempunyai kapasitas yang terbatas untuk memproser
informasi/stimulus yang masuk, dan hanya menyimpannya dalam
jumlah yang terbatas dalam satu waktu.
2. Ketika masukan dari lingkungan telah melebihi kapasitas untuk
mengolah dan memberikan perhatian pada lingkungannya, maka
strategi yang normal adalah mengabaikan masukan yang kurang
relevan, dan memberikan atensi kepada informasi yang berlebih. Atau
dengan perkataan lain terjadi proses seleksi terhadap informasi yang
berasal dari lingkungan.
3. Ketika stimulus lingkungan muncul pada manusia, maka ia akan
beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini berarti bahwa dalam
dirinya akan melakukan evaluasi tentang stimulus lingkungannya
dengan cara proses memantau, dan memberikan putusan cara
mengatasi hal-hal yang dihadapi. Proses ini menunjukkan bahwa
apabila stimulus lingkungan yang muncul secara tak terduga, tidak
bisa dikendalikan masukannya, maka upaya untuk melakukan

19
Ibid.
20
Ibid., 44.
16

adaptasi akan lebih besar dan memberikan perhatian yang lebih pula.
Pada akhirnya, dalam proses tersebut akan membutuhkan alokasi
perhatian yang lebih besar.
4. Jumlah perhatian yang ada pada diri seseorang adalah tidak konstan,
dan mungkin dalam waktu temporer akan menyedot kapasitas dalam
memberikan perhatian. Kondisi yang memerlukan perhatian yang
panjang, maka hal ini akan menimbulkan beban yang berlebih.
Kondisi yang dirasakan oleh seseorang ketika ia mengalami beban
berlebihan karena informasi yang diberikan oleh lingkungan adalah tidak
menyenangkan. Seseorang merasa terganggu untuk lebih memfokuskan
perhatiannya dalam menyeleksi informasi yang sangat relevan. Dalam
situasi demikian., ketegangan dalam diri akan muncul. Apabila hal ini
berlangsung dalam waktu yang lama, maka informasi yang berlebihan
tersebut akan mengganggu konsentrasi, dan pada akhirnya kinerja yang
ditampilkan akan menurun.
b. Teori Adaptasi
Manusia selalu mencari stimulus yang moderat, atau tidak
terlampau berlebihan dan tidak kekurangan stimulusnya. Dengan
demikian stimulus lingkungan yang memiliki tingkatan sedang bebannya
atau stimulasinya adalah stimulus lingkungan yang disukainya. Wohlwill
menyatakan stimulasi yang disukai manusia adalah stimulasi yang
moderat diungkapkan pada teori tingkat adaptasi. Seseorang menilai lebih
atau kurangnya stimulus adalah dengan adanya pengindraan dan persepsi.
Hal ini berarti bahwa teori adaptasi mengacu pada teori kognitif. Pada
kognisi yang dimiliki seseorang akan menilai stimulus lingkungan,
sehingga ia akan melakukan adaptasi.
21


21
Ibid., 45.
17

Dalam hubungannya antara manusia dengan lingkungan ada tiga
kategori seperti yang dikemukakan oleh Wohlwill. Ketiga kategori
tersebut adalah stimulasi pengindraan, stimulasi sosial, dan penggerakan
(stimulus yang bergerak). Manusia tidak menginginkan adanya stimulasi
pengindraan yang berlebihan dan kekurangan. Demikian juga dengan
stimulasi sosial yang berupa interaksi yang terlampau banyak atau
terisolasi.
Didalam teori adaptasi terdapat tiga dimensi yang dapat membuat
stimulus yang muncul pada seseorang menjadi optimal. Adapun dimensi
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Intensitas stimulus yang mengenai manusia, ketika berinterkasi
dengan lingkungan.apabila seseorang menerima stimulus yang
berlebihan atau terlampau kecil intensitasnya maka ia akan terganggu
secara psikologis.
2. Keragaman stimulus yang menerpa manusia dalam berinteraksi
dengan lingkungan. Apabila manusia berada pada lingkungan yang
kurang memberikan stimulasi, maka akan muncul kebosanan. Tetapi
terlampau beragam stimulus akan dirasakan melelahkan.
3. Pola stimulus yang dipersepsi adalah meliputi struktur dan kejelasan
polanya. Apabila seseorang menerima stimulus dengan pola yang
tidak jelas atau sangat bervariasi sehingga mengaburkan struktur
stimulusnya akan dirasakan sebagai mengganggu.
Interaksi manusia dengan lingkungannya, ia akan mencari
stimulus lingkungan yang optimal, yaitu stimulus yang moderat dalam
ketiga dimensi diatas. Namun demikian, apabila stimulus lingkungan
yang muncul adalah tidak optimal, maka manusia akan menoleransi
stimulus lingkungannya.
Selain pemahaman mengenai adaptasi, ada pemahaman lain dalam
membahas interaksi antara manusia dengan lingkungan, yaitu yang
18

disebut dengan adjustment. Sonnenfeld menyatakan bahwa adjustment
adalah manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan, ia mengubah
lingkungan agar sesuai dengan keinginannya. Dalam hal ini manusia
berusaha mempertahankan standar yang dimiliki.
22

Adaptasi dan adjustment, ada beberapa hal yang membedakan
mekanismenya, yaitu:
23

1. Adaptasi:
a. Manusia mengikuti kehendak lingkungannya, dan ia menoleransi
lingkungannya. Atau ia memperbesar ambang toleransinya
terhadap lingkungan.
b. Manusia tidak perlu melakukan upaya untuk mengatasi
lingkungan.
2. Adjustment:
a. Manusia mengubah lingkungan agar sesuai dengan standar yang
dimiliki.
b. Manusia harus memiliki kemampuan untuk dapat mengubah
lingkungan, baik kemampuan intelektual, skill, maupun uang.
c. Teori Stress Lingkungan
Lingkungan yang berada di sekitar manusia memberikan stimulasi
yang dapat dimaknakan sebagai stresor atau stimulus yang dapat
menimbulkan tekanan pada seseorang. Karakteristik stresor atau
lingkungan stimulus yang menimbulkan tekanan pada diri seseorang
adalah stimulus yang mengancam pada diri seseorang. Dalam berbagai
peristiwa yang dirasakan mengancam dapat berupa masalah bagi dirinya,
atau sesuatu hal yang berpotensi untuk menjadi masalah.

22
Ibid., 47.
23
Ibid.
19

Faktor-faktor yang memungkinkan seseorang yang merasa
terancam adalah dikarekan adanya penilaian terhadap objek lingkungan.
Penilaiannya dapat dikategorikan sebagai berikut:
24

1. Peristiwa yang dikategorikan sebagai kejadian yang mendadak, dan
tidak ada atau seikit sekali memberikan peringatan bahwa akan terjadi
suatu peristiwa. Peristiwa ini disebut sebagai catalysmic events.
Peristiwa ini dapat memberikan dampak yang besar, dan biasanya
membutuhkan upaya yang besar untuk mengatasinya.
2. Kategori stres personal yang merupakan stres yang dialami oleh
seseorang, dan tidak melanda banyak orang seperti halnya pada
cataclysmic event. Peristiwa dari stres personal ini pun tidak dapat
diduga peristiwanya, seperti meninggalnya orang yang dicintai, atau
saktnya keluarga, hilangnya pekerjaan.
3. Stres yang berulang kali terjadi, sehingga seseorang dapat mengalami
peristiwanya setiap hari. Stres yang dialami seseorang ini relatif
dirasakan ringan bila dibandingkan dengan dua kategori stres diatas.
Manusia akan melakukan upaya mengatasi situasi stres yang
dirasakannya. Ia akan membuat strategi untuk mengatasi stres yang
dirasakannya. Apabila ia berhasil menggunakan strategi dalam mengatasi
stres yang dirasakan, maka ia akan bertingkah laku “adaptation” atau
”adjustment”. Tetapi, apabila ia gagal mengatasi stres, maka ia akan
mengalami kejenuhan dan pada akhirnya ia akan lebih menderita, dan
mempunyai peluang yang lebih parah dalam gangguan psikologisnya.
3. Pencemaran Udara
Manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya, dan mengatakan
bahwa lingkungan udara tercemar atau kotor. Seseorang dapat menilai
udaranya tercemar adalah melakukan proses persepsi tentang lingkungan

24
Ibid., 48.
20

udara yang tercemar. Persepsi tentang pencemaran udara sangat bergantung
pada faktor fisik dan psikologis. Pada umumnya orang akan mempersepsi
pencemaran udara adalah negatif karena bau dan asap atau debu. Tetapi udara
yang telah tercemar dan berbahaya adalah tidak mengandung bau dan asap
(seperti gas CO).
Bau-bauan akan berkaitan dengan olfactory membrane yang terdapat
di hidung, dengan mengirimkan sinyal keotak untuk kemudian
diinterpretasikan. Sebagai contoh, peternakan sapi akan dipersepsi
mengganggu masyarakat sekitarnya, dan telah menjadi pencemaran
lingkungan. Bau yang dikeluarkan oleh peternak sapi adalah karena bau yang
beredar disekitarnya.
Penelitian-penelitian laboratorium juga menunjukkan bukti bahwa
perubahan suasana hati dipercepat oleh polusi udara, termasuk didalamnya
asap rokok. Bau badan yang menyengat dalam ruangan juga dapat
menimbulkan stres. Hal ini telah banyak dibuktikan dalam serial
penelitiannya James Rotton dkk. Kondisi stresful ini sangat mudah kita
temukan diterminal, stasiun, didalam bis kota, kereta api, dan kendaraan
umum lainnya yang biasanya penuh sesak oleh orang-orang yang
bergelantungan mengeluarkan berbagai bau badan yang tidak sedap.
25

Seseorang yang menghirup udara kotor, maka ia akan mengalami
kekurangan oksigen didalam darah. Oksigen yang dihirup oleh manusia pun
jumlahnya tidak banyak seperti udara yang tidak tercemar. Dengan kondisi
tersebut, orang akan merasa pusing, kerusakan saraf, gangguan memori dan
atensi. Kekurangan oksigen yang kronis dalam medis, kondisi tersebut
disebut pula sebagai chronic airflow obstruction (gangguan pengalir udara
yang kronis), dan akan berpengaruh pada atensi yang kompleks. Kecepatan
memroses informasi dan mengingat akan menurun, mangganggu “short term

25
DK. Halim, Psikologi Lingkungan Perkotaan (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 185.
21

memory” dan juga ”long term memory”. Kinerja pengamatan kurang,
menghambat kemampuan perencanaan dan mengorganisasi.
26

Kekurangan oksigen di dalam darah dapat disebabkan oleh
pencemaran udara yang sedemikian beratnya. Kehilangan oksigen dalam
jumlah yang besar dan waktu yang cukup lama,bisa terjadi dalam bentuk
Anoxia (tidak adanya oksigen dalam jumlah yang cukup) atau Anoxemia
(darah kurang menyuplai oksigen). Kondisi anoxia dan anoxemia terjadi
sebagai akibat hilangnya/kurangnya oksigen yang fatal, dalam waktu lebih
dari 5-10 menit. Kurangnya oksigen akan mengakibatkan kerusakan otak.
Hippocampus, basal ganglia dan cerebal cortex sangat peka dengan
kekurangan oksigen. Dengan demikan, kerusakan otak dapat terjadi pada
bagian tersebut. Kerusakan sel otak pada dasarnya tidak dapat tergantikan.
27

4. Metode Penelitian
Penelitian sebagai sistem ilmu pengetahuan, memainkan peran penting
dalam bangunan ilmu pengetahuan itu sendiri. Maksudnya, penelitian
menempatkan posisi yang paling urgen dalam ilmu pengetahuan untuk
mengembangkan ilm pengetahuan.
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif. Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif lebih ditujukan
untuk mencapai pemahaman mendalam mengenai organisasi atau peristiwa
khusus daripada mendeskripsikan bagian permukaan dari sampel besar dari
sebuah populasi.
28
Penelitian ini juga bertujuan untuk menyediakan penjelasan
tersirat mengenai struktur, tatanan, dan pola yang luas yang terdapat dalam suatu
kelompok partisipan.
Berdasarkan pengalaman dalam melakukan berbagai penelitian kualitatif
terdiri dari tiga model, yaitu format deskriptif, format verifikatif, dan format

26
Iskandar, Lingkungan., 174.
27
Ibid., 175.
28
Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial (Jakarta: Salemba
Humanika, 2012), 7.
22

grounded theory. Ketiga format ini memiliki model yang tidak sama satu dengan
lainnya.
29

a. Jenis/Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kualitatif. Penelitian sosial menggunakan format deskriptif
kualitatif bertujuan untuk mengkritik kelemahan penelitian kuantitatif (yang
terlalu positivisme), serta bertujuan untuk menggambarkan, meringkas
berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial
yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik
realitas itu kepermukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau
gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu.
30

Format deskriptif pada umumnya dilakukan pada penelitian dalam
bentuk studi kasus. Format deskriptif kualitatif studi kasus tidak memiliki ciri
seperti air (menyebar dipermukaan), tetapi memusatkan diri pada suatu unit
tertentu dari berbagai fenomena. Dari ciri yang demikian memungkinkan
studi ini dapat amat mendalam dan demikian bahwa kedalaman data yang
menjadi pertimbangan dalam penelitian model ini. Karena itu, penelitian itu
bersifat mendalam dan “menusuk” sasaran penelitian. Tentunya untuk
mencapai maksud ini peneliti membutuhkan waktu yang relatif lama.
Pada cirinya yang lain, deskriptif kualitatif studi kasus merupakan
penelitian eksplorasi dan memainkan peranan yang amat penting dalam
menciptakan hipotesis atau pemahaman orang tentang berbagai variable
sosial.
31

Dengan demikian, format deskriptif kualitatif lebih tepat apabila
digunakan untuk meneliti masalah-masalah yang membutuhkan studi
mendalam.

29
M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Jakarta: Kencana, 2011), 67.
30
Ibid., 68.
31
Ibid., 69.
23

b. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dalam penelitian ini berada di Madrasah Aliyah
Ma’arif Udanawu Blitar tepatnya di Jl. Raya Bakung Desa Bakung
Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar khususnya kelas Xc dengan jumlah
siswanya adalah 38 siswa. Metode sampling yang digunakan adalah non-
random sampling. Non-ramdom sampling merupakan metode sampling yang
setiap individu atau unit dari populasi tidak memiliki kemungkinan (non-
probability) yang sama untuk terpilih.
32
Dalam metode ini terdapat tiga
teknik yaitu, accidental sampling, quota sampling, purposeful sampling.
Namun, peneletiti hanya menggunakan satu teknik saja sebagai teknik
pengambilan sampling, yaitu teknik purposeful sampling. Teknik purposeful
sampling merupakan teknik yang berdasarkan kepada ciri-ciri yang dimiliki
oleh subjek yang dipilih karena ciri-ciri tersebut sesuai dengan tujuan
penelitian yang akan dilakukan.
33

Contoh penggunaan prosedur purposif (purposeful) adalah antara lain
dengan menggunakan key person. Ukuran besaran individu key person atau
informan, yang mungkin atau tidak mungkin ditunjuk sudah ditetapkan
sebelum pengumpulan data, tergantung pada sumber daya dan waktu yang
tersedia, serta tujuan penelitian.
34

c. Data Dan Sumber Data
1. Sumber Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek
penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan
data langsung kepada subyek penelitian.
35
Sumber data primer dalam
penelitian ini adalah siswa kelas Xc MA. Ma’arif Udanawu Blitar.
2. Data skunder

32
Herdiansyah, Metodologi., 106.
33
Ibid.
34
Bungin, Penelitian., 107-108.
35
Saifudin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), 91.
24

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung
didapat dari subyek penelitian.
36
Data sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini adalah para guru MA Ma’arif Udanawu dan angket.
d. Metode Pengumpulan Data
Data adalah sesuatu yang diperoleh melalui sebuah metode
pengumpulan data yang akan diolah dan dianalisis dengan suatu metode
tertentu yang selanjutnya akan menghasilkan suatu hal yang dapat
menggambarkan atau mengindikasikan sesuatu. Pada penelitian kualitatif,
bentuk data berupa kalimat atau narasi dari subjek atau responden penelitian
yang diperoleh melalui suatu teknik pengumpulan data yang kemudian data
tersebut dianalisis dan diolah dengan menggunakan teknik analisis data
kualitatif dan akan menghasilkan suatu temuan atau hasil penelitian yang
akan menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan.
37

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara,
observasi, dokumentasi, serta focus group discussion (FGD) atau dalam
literatur lain disebut dengan focus groups are effective (FGE).
a) Wawancara
Menurut Stewart & Cash, wawancara diartikan sebagai sebuah
interaksi yang di dalamnya terdapat pertukaran atau berbagai aturan,
tanggung jawab, perasaan, kepercayaan, motif, dan informasi.
38

Pada umumnya, wawancara dalam penelitian kualitatif ataupun
wawancara lainnya terdiri atas tiga bentuk, yaitu wawancara terstruktur,
wawancara semi-terstruktur, dan wawancara tidak terstruktur.
39
Pada
penelitian ini peneliti hanya menggunakan dua bentuk wawancara, yaitu
wawancara terstruktur dan wawancara semi-terstruktur.
b) Observasi

36
Ibid.
37
Herdiansyah, Metodologi., 116.
38
Ibid., 118.
39
Ibid., 121.
25

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia
dengan menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya
selain pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit.
40

Catwright & Catwright mendefinisikan sebagai suatu proses melihat,
mengamati dan mencermati serta “merekam” perilaku secara sistematis
untuk tujuan tertentu. Observasi ialah suatu kegiatan mencari data yang
dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan dan diagnosis.
41

c) Dokumentasi
Studi dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data
kualitatif dengan melihat atau menganalisa dokumen-dokumennyang
dibuat oleh subjek itu sendiri atau oleh orang lain tentang subjek. Studi
dokumentasi bertujuan untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang
subjek melalui suatu media tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau
dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan.
42

Secara detail bahan dokumentasi terbagi bebrapa macam yaitu:
43

1) Otobiografi,
2) Surat-surat pribadi, buku-buku atau catatan harian, memorial,
3) Kliping,
4) Dokumen pemerintah maupun swasta,
5) Cerita roman dan cerita rakyat,
6) Data di server dan flashdisk,
7) Data tersimpan di web site, dan lain-lain.
e. Analisa Data
Analisis data merupakan tahap pertengahandari serangkaian tahap
dalam sebuah penelitian yang mempunya fungsi yang sangat penting. Hasil

40
Bungin, Penelitian., 118.
41
Herdiansyah, Metodologi., 131.
42
Ibid., 143.
43
Bungin, Penelitian., 125
26

penelitian yang dihasilkan harus melalui proses analisis data terlebih dahulu
agar dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
Teknik analisis data interaktif menurut Miles & Huberman terdiri dari
empat tahapan yang harus dilakukan yaitu:
44

1. Pengumpulan data
Proses pengumpulan data dilakukan sebelum penelitian, pada saat
penelitian, dan bahkan di akhir penelitian. Idealnya, proses pengumpulan
data sudah dilakukan ketika penelitian masih berupa konsep atau draft.
Proses pengumpulan adata pada penelitian kualitatif tidak memiliki
segmen atau waktu tersendiri, melainkan sepanjang penelitian yang
dilakukan proses pengumpulan data dapat dilakukan.
45

2. Reduksi data
Inti dari reduksi data adalah proses penggabungan dan
penyeragaman segala bentuk data yang diperoleh menjadi satu bentuk
tulisan (script) yang akan dianalisis. Hasil dari wawancara, hasil
observasi, hasil studi dokumentasi dan/atau hasil dari FGD diubah
menjadi bentuk tulisan (script) sesuai dengan formatnya masing-
masing.
46

3. Display daya
Display data adalah mengolah data setengah jadi yang sudah
seragam dalam bentuk tulisan dan sudah memiliki alur tema yang jelas ke
dalam suatu matriks kategorisasi sesuai tema-tema yang sudah
dikelompokkan dan dikategorikan, serta akan memecah tema-tema
tersebut ke dalam bentuk yang lebih konkret dan sederhana yang disebut
dengan subtema yang diakhiri dengan memberikan kode dari subtema

44
Herdiansyah, Metodologi., 164.
45
Ibid.
46
Ibid., 165.
27

tersebut sesuai dengan verbatim wawancara yang sebelumnya telah
dilakukan.
47

4. Penarikan kesimpulan/verifikasi
Kesimpulan menurut Miles & Huberman secara esensial berisi
tentang uraian dari seluruh subkategorisasi tema yang tercantum pada
tabel kategorisasi dan pengodean yang sudah terselesaikan disertai
dengan qoute verbatim wawancara.
48

Terdapat tiga tahapan yang harus dilakukan dalam tahap
kesimpulan/verifikasi. Pertama, menguraikan subkategori tema dalam
tabel kategorisasi dan pengodean disertai dengan quote verbatim
wawancaranya. Kedua, menjelaskan hasil temuan penelitian dengan
menjawab pertanyaan penelitian berdasarkan
aspek/komponen/faktor/dimensi dari central phenomenon penelitian.
Ketiga, membuat kesimpulan dari temuan tersebut dengan memberikan
penjelasan dari jawaban pertanyaan penelitian yang diajukan.
49



47
Ibid., 176.
48
Ibid., 179.
49
Ibid.
28

Outline Penelitian
FAKTOR-FAKTOR PSIKOLOGIS YANG MEMPENGARUHI
PERHATIAN SISWA DALAM BELAJAR DI MADRASAH ALIYAH
UDANAWU BLITAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
B. Fokus Penelitian
C. Tujuan Penelitian
D. Kegunaan Penelitian
BAB II LANDASAN TEORI
A. Perhatian (atensi)
B. Teori Psikologi Lingkungan
C. Pencemaran Udara
BAB II METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
B. Kehadiran Peneliti
C. Lokasi Penelitian
D. Sumber Data
E. Pengumpulan Data
F. Analisis Data
G. Pengecekan Keabsahan Data
H. Tahap-Tahap Penelitian
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITI
A. Paparan Data
B. Temuan Penelitian
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
29

Daftar Pustaka
Azwar, Saifudin. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Bungin, M. Burhan. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana, 2011.
Halim, DK. Psikologi Lingkungan Perkotaan. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Herdiansyah, Haris. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial Jakarta:
Salemba Humanika, 2012.
Iskandar, Zulrizka. Psikologi Lingkungan: Teori dan Konsep. Bandung: PT. Refika
Aditama, 2012.
Mahmud. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010.
Mariyana, Rita. et. al. Pengelolan Lingkungan Belajar. Jakarta: Kencana, 2010.
Solso, Robert L. et. al. Psikologi Kognitif. Jakarta: Erlangga, 2008.
Stenberg, Rober J. Psikologi Kognitif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2010.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful