Koma

Gangguan kesadaran merupakan suatu keadaan di mana seseorang tidak dapat
mengenali lingkungannya dan tidak mampu memberikan tanggapan yang cukup
terhadap rangsangan (penglihatan, suara, sensasi). Terdapat beberapa tingkat
gangguan kesadaran, di mana koma merupakan tingkat kesadaran yang paling
rendah. Pada koma terdapat keadaan penurunan kesadaran yang sangat dalam,
tidak ada gerakan spontan, dan tidak ada respon terhadap nyeri.
Kondisi tidak sadar dan koma ini merupakan masalah umum dalam kedokteran.
Keadaan ini mendominasiunit gawat darurat pada berbagai pelayanan rumah
sakit. Ketidaksadaran dan kehilangan kesadaran ini memiliki gejala dan
penjelasan yang berbeda, walaupun dapat disebabkan oleh berbagai penyakit.
Gangguan kesadaran dapat dibagi menjadi: gangguan pada komponen otak
yang membuat diri tetap terjaga (fungsi terjaga), gangguan pada komponen
otak yang mengatur isi kesadaran, atau gangguan pada kedua hal di atas.
Tingkah laku yang berhubungan dengan komponen otak yang membuat diri
tetap terjaga seperti : kemampuan untuk bangun dari tidur, membuka mata, dsb.
Bagian dari batang otak yang mengatur hal ini adalah sebuah struktur yang
disebut sebagai formasio retikularis (reticular activating system = RAS).
Sedangkan tingkah laku yang berhubungan dengan komponen otak yang
mengatur isi kesadaran seperti: kemampuan untuk sadar diri,
berbahasa, integrasi ruang dan waktu, emosi, mengungkapkan alasan, dan hal -
hal lain yang membuat kita sebagai manusia yang utuh. Bagian dari otak yang
mengatur hal ini adalah sebuah struktur yang disebut sebagai korteks serebral.
Akan tetapi, kesadaran timbul karena terdapat pengaturan antara korteks serebri
dan batang otak yang dalam keadaan normal bekerja secara sinkron. Korteks
serebri sendiri mengatur tinggi rendahnya kesadaran, sedangkan batang otak
merupakan on dan off nya kesadaran. Sebagai penghubung kedua komponen
diatas terdapat serabut yang disebut sebagai diffuse projecting fiber sebagai
pengantar. Berdasarkan hal-hal diatas, gangguan kesadaran harus melibatkan
proses yang mempengaruhi formasioretikularis, diffuse projecting fiber dan
korteks serebri, atau keduanya secara bersamaan.
Koma merupakan kegagalan dari kedua komponen diatas (fungsi terjaga dan isi
kesadaran). Hal ini perlu dibedakan dari demensia yang merupakan kondisi di
mana terdapat gangguan pada isi kesadaran, tetapi kemampuan seseorang
untuk tetap terjaga masih ada. Delirium merupakan kondisi di mana terdapat
gangguan pada kemampuan seseorang untuk tetap terjaga. Akan tetapi, kadang
disertai dengan gangguan pada isi kesadaran. Gangguan kejiwaan kadangkala
juga dapat memiliki gejala seperti halusinasi atau delusi. Berikut adalah tabel
yang menampilkan beberapa perbedaan antara delirium, demensia, dan
gangguan kejiwaan :
KARAKTERISTIK DELIRIUM DEMENSIA GANGGUAN KEJIWAAN
Awal Mula Timbul
Gangguan
Dalam Beberapa Hari Tersembunyi (Perlahan-
lahan)
Tiba - Tiba
Variasi Gangguan
dalam 24 Jam
Fluktuatif Stabil Stabil
Kesadaran Berkurang Sadar Sadar
Atensi (Perhatian) Terdapat Kelainan Normal Dapat Terdapat Kelainan
Kognisi Terdapat Kelainan Terganggu Dapat Terganggu
Orientasi Terganggu Seringkali Terganggu Dapat Terganggu
Halusinasi Penglihatan dan/atau
Penciuman
Seringkali Tidak Ada Biasanya Melibatkan
Indera Penci uman
Delusi Sementara Biasanya Tidak Ada Bertahan Lama
Gerakan Abnormal Ada (Tremor, dll) Seringkali Tidak Ada Tidak Ada
Sumber : Tintinalli’s Emergency Medicine : A Comprehensive Study Guide
6
th
Edition.
Dampak koma adalah dibutuhkannya perawatan jangka panjang. Kemungkinan
sembuh lebih baik pada pasien kelompok anak-anak dan remaja. Koma yang
disebabkan karena kelainan metabolik memiliki kemungkinan sembuh yang lebih
baik dibandingkan dengan koma yang disebabkan oleh trauma. Segala pendapat
mengenai kemungkinan sembuh pada orang dewasa biasanya hanya berupa
perkiraan, dan biasanya dipengaruhi oleh faktor -faktor seperti : usia, penyakit
lain yang ada, dan konsisi kesehatan secara keseluruhan.
GEJALA
Gejala dari koma bervariasi bergantung pada kedalaman koma dan penyebab.
Beberapa variasi pernapasan tidak normal dapat dilihat pada pasien koma.
Ukuran pupil (biji mata), evaluasi saraf-saraf otak, kelemahan satu sisi, dan
respons terhadap stimulus merupakan hal-hal yang perlu dilihat lebih lanjut.
Penemuan dari pemeriksaan diatas dapat membagi koma menjadi dua kategori
besar yaitu koma karena kelainan metabolik-toksik (adanya disfungsi sistem
saraf pusat yang menyeluruh) dan koma karena kelainan struktural otak (adanya
disfungsi sistem saraf pusat yang setempat).
Koma karena kelainan metabolik-toksik memiliki gejala klinis yang sangat luas.
Secara umum, karena disfungsi yang dihasilkan menyeluruh mengenai sistem
saraf pusat, gejala yang ditimbulkan tidak mengarah ke salah satu bagian dari
otak. Kelainan gerakan seperti postur tidak normal, gerakan tanpa disadari,
terjadi pada anggota gerak secara simetris (dialami oleh anggota gerak kanan
dan kiri secara bersamaan). Respon ukuran biji mata terhadap cahaya biasanya
juga normal. Jika terdapat kelainan gerak bola mata, gerakan tersebut juga
dialami oleh bola mata kanan dan kiri. Hal yang cukup khas adalah pada kasus
keracunan zat sedatif seperti barbiturat, biji mata dapat berukuran sangat besar,
pasien tidak bernapas menyerupai pasien dengan mati otak. Pada kasus koma
karena infeksi susunan saraf pusat, gejala demam atau leher kaku dan adanya
abnormalitas pada cairan otak dan sumsum tulang belakang mengarahkan
kearah diagnosis ini.
Koma karena kelainan struktural otak memberikan gejala sesuai lokasi di mana
kelainan itu ada. Pada kelainan yang berlokasi di bagian atas otak dapat
memberikan gejala kelemahan tubuh 1 sisi (asimetris). Kelainan yang berlokasi
di bagian bawah dan belakang otak dapat memberikan gejala postur abnormal di
mana tangan satu atau keduanya lurus di sisi tubuh, dengan jari mengepal
& kaki lurus disertai dengan ukuran biji mata yang membesar dan tidak respons
terhadap rangsangan cahaya (respon normal membuat biji mata mengecil jika
terkena rangsang cahaya) atau malah ukuran biji mata yang sangat kecil (pin-
point pupil) dan tidak respons terhadap rangsangan cahaya jika kelainan
terdapat pada lokasi otak bagian bawah yang berbeda.
Koma kadang dapat terjadi pada pasien dengan gangguan jiwa. Tentunya, hasil
pemeriksaan akan terjadi perbedaan selain riwayat penyakit yang tidak begitu
jelas. Respons biji mata terhadap rangsang cahaya, tegangan otot, refleks-
refleks biasanya normal.
Apabila riwayat dan pemeriksaan fisik tidak dapat menunjukkan penyebab
terjadinya koma, maka diperlukan pencitraan dengan CT atau MRI. Akantetapi,
sebagian besar penyebab koma dapat diektahui tanpa pencitraan sistem saraf.
PENYEBAB
Sebagian besar penyebab koma adalah karena masalah medis yang jelas seperti
karena kelainan metabolik-toksik yang antara lainnya adalah : kadar gula
darah yang tinggi, kadar gula darah yang rendah, keracunan pada tubuh karena
fungsi hati dan ginjal yang telah gagal, gangguan elektrolit tubuh, keracunan
dan intoksikasi obat-obatan.
Kelainan struktural yang dapat menyebabkan koma antara lain : stroke karena
sumbatan atau perdarahan, trauma kepala, infeksi sistem saraf pusat, tumor
otak. Penyakit gangguan peredaran darah otak seperti perdarahan dan
sumbatan pada pembuluh darah otak merupakan penyebab terbesar kejadian
koma.
Selain melihat dari kedua bagian besar kelainan yang dapat menyebabkan koma,
penyebab juga dapat dilihat dari sifat serangan yang dapat menyebabkan koma.
Kondisi yang menyebabkan koma mendadak misalnya keracunan minuman keras
atau obat-obatan, perdarahan otak, trauma, serangan jantung, epilepsi(ayan),
atau sumbatan pembuluh darah otak. Koma yang terjadi secara lebih perlahan
sampai bermanifestasi biasanya disebabkan oleh masalah medis sebelumnya
atau kelainan saraf sebelumnya seperti tumor atau riwayat sumbatan pembuluh
darah otak.
PENGOBATAN
Tujuan utama adalah mencegah kerusakan sistem saraf yang lebih parah.
Berbagai kondisi seperti tekanan darah yang rendah, kadar gula darah yang
rendah, kadar kalsium serum yang tinggi, kurangnya oksigen pada jaringan
tubuh, suhu tubuh yang terlalu tinggi perlu segera diperbaiki. Penanganan awal
yang dilakukan selalu memperhatikan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi
darah sebelum menilai kesadaran pasien. Setelah itu, pemeriksaan tanda-tanda
vital (tekanan darah, denyut nadi, laju napas), pemeriksaan ke dalam bola mata,
pemeriksaan untuk menilai kekakuan leher, dan pemeriksaan saraf dapat
diutamakan sebelum pemeriksaan lengkap lainnya. Penanganan khusus
bergantung pada penyebab yang menyebabkan gangguan kesadaran.
Diperlukan suntikan nalokson jika terjadi overdosis narkotika dan
suntikan dekstrosa jika terjadi hipoglikemia(kadar gula darah yang rendah). Pada
kasus stroke yang diakibatkan oleh sumbatan, dapat diberikan obat untuk
memecahkan sumbatan, jika tidak terdapat perdarahan otak. Pemberian cairan
infus tertentu perlu hati-hati pada gangguan serius otak karena berpotensi
menyebabkan pembengkakan otak. Perlu diperhatikan luka pada tulang leher,
terutama jika ingin melakukan tindakan yang membutuhkan manipulasi
leher. Sakit kepala dengan demam dan tanda rangsang selaput otak (seperti:
kaku pada leher) merupakan tanda dibutuhkannya pemeriksaan
cairan serebrospinal (otak dan sumsum tulang belakang) untuk mendiagnosis
radang selaput otak.

SUMBER
Dorland’s Illustrated Medical Dictionary 32
nd
Edition. Elsevier. 2012.
Budiman. BAB 31 : Penatalaksaan Umum Koma dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FKUI. 2007.
BAB IV : Gangguan Kesadaran dalam Advanced Neurology Life Support (ANLS) Student
Course Manual oleh Indonesian Neurological Association.
Tintinalli JE, Kelen GB, Stapczynski JS. Chapter 229 : Altered Mental Status and Coma
dalam Tintinalli’s Emergency Medicine : A Comprehensive Study Guide 6
th
Edition. USA :
McGraw-Hill. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful