You are on page 1of 9

Mitigasi Bencana

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Banyak terjadinya berbagai bencana alam yang menimpa Indonesia seperti
gempa bumi dan tsunami salah satunya adalah diakibatkan oleh letak geografis
Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng dunia. Selain itu, masih
banyak terdapatnya gunung berapi aktif di Indonesia masih bisa memicu
terjadinya bencana gunung berapi.
Potensi bencana alam yang tinggi pada dasarnya tidak lebih dari sekedar refleksi
fenomena alam yang secara geografis sangat khas untuk wilayah tanah air kiita.
Indonesia merupakan negara kepulauan tempat dimana tempat tiga lempeng
besar dunia bertemu, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan
lempeng Pasifik. Interaksi antar lempeng-lempeng tersebut lebih lanjut
menempatkan Indosesia sebagai wilayah yang memiliki aktifitas kegunungapian
dan kegempaan yang cukup tinggi.
Potensi bencana alam ini telah diperparah oleh beberapa permasalahan lain
yang muncul di tanah air kita yang memicu peningkatan kerentanan. Laju
pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, sebagai salah satu contohnya, akan
banyak membutuhkan kawasan-kawasan hunian baru yang pada akhirnya
kawasan hunian tersebut akan terus berkembang dan memnyebar hingga
mencapai wilayah-wilayah marginal yang tidak aman. Tidak tertib dan tepatnya
tata guna lahan, sebagai inti dari permasalahan ini, adalah faktor utama yang
menyebabkan adanya peningkatan kerentanan. Peningkatan kerentanan ini akan
lebih diperparah bila aparat pemerintah maupun masyarakatnya sama sekali
tidak menyadari dan tanggap terhadap adanya potensi bencana alam di
daerahnya. Pengalaman memperlihatkan bahwa kejadian-kejadian bencana alam
selama ini telah banyak menimbulkan kerugian dan penderitaan yang cukup
berat sebagai akibat dari perpaduan bahaya alam dan kompleksitas
permasalahan lainnya. Untuk itu diperlukan upaya- upaya yang komprehensif
untuk mengurangi resiko bencana alam, antara lain dengan melakukan upaya
mitigasi.



B. Rumusan Masalah
1. Definisi Mitigasi Bencana
2. Jenis-Jenis Mitigasi
3. Manfaat Mempelajari Mitigasi Bencana
4. Contoh Mitigasi Bencana
C. Tujuan
1. Mengetahui Definisi Mitigasi Bencana
2. Mengetahui Jenis-Jenis Mitigasi Bencana
3. Memahami Manfaat Mempelajari Mitigasi Bencana
4. Memahami Cara Penanggulangan Bencana
























BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Mitigasi Bencana
Dari latar belakang tentang bencana alam di Indonesia, mitigasi bencana
merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik tolak utama
dari manajemen bencana. Sesuai dengan tujuan utamanya yaitu mengurangi
dan/atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik
berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama
kegiatan penjinakan/peredaman atau dikenal dengan istilah Mitigasi.
Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang
termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana sebagai
akibat dari perbuatan manusia (man-made disaster).
Mitigasi pada umumnya dilakukan dalam rangka mengurangi kerugian akibat
kemungkinan terjadinya bencana, baik itu korban jiwa dan/atau kerugian harta
benda yang akan berpengaruh pada kehidupan dan kegiatan manusia. Untuk
mendefenisikan rencana atau srategi mitigasi yang tepat dan akurat, perlu
dilakukan kajian resiko (risk assessmemnt) .
Kegiatan mitigasi bencana hendaknya merupakan kegiatan yang rutin dan
berkelanjutan (sustainable). Hal ini berarti bahwa kegiatan mitigasi seharusnya
sudah dilakukan dalam periode jauh-jauh hari sebelum kegiatan bencana, yang
seringkali datang lebih cepat dari waktu-waktu yang diperkirakan, dan bahkan
memiliki intensitas yang lebih besar dari yang diperkirakan semula.
Tujuan utama (ultimate goal) dari Mitigasi Bencana adalah sebagai berikut :
1. Mengurangi resiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana khususnya
bagi penduduk, seperti korban jiwa (kematian), kerugian ekonomi (economy
costs) dan kerusakan sumber daya alam.
2. Sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembangunan.
3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awareness) dalam
menghadapi serta mengurangi dampak/resiko bencana, sehingga masyarakat
dapat hidup dan bekerja dengan aman (safe).



B. Jenis-Jenis Mitigasi
Secara umum, dalam prakteknya mitigasi dapat dikelompokkan ke dalam
mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural berhubungan
dengan usaha-usaha pembangunan konstruksi fisik, sementara mitigasi non
struktural antara lain meliputi perencanaan tata guna lahan disesuaikan dengan
kerentanan wilayahnya dan memberlakukan peraturan (law enforcement)
pembangunan. Dalam kaitan itu pula, kebijakan nasional harus lebih
memberikan keleluasan secara substansial kepada daerah-daerah untuk
mengembangkan sistem mitigasi bencana yang dianggap paling tepat dan paling
efektif-efisien untuk daerahnya.
1. Mitigasi Struktural
Mitigsasi struktural merupakan upaya untuk meminimalkan bencana yang
dilakukan melalui pembangunan berbagai prasarana fisik dan menggunakan
pendekatan teknologi, seperti pembuatan kanal khusus untuk pencegahan
banjir, alat pendeteksi aktivitas gunung berapi, bangunan yang bersifat tahan
gempa, ataupun Early Warning System yang digunakan untuk memprediksi
terjadinya gelombang tsunami.
Mitigasi struktural adalah upaya untuk mengurangi kerentanan (vulnerability)
terhadap bencana dengan cara rekayasa teknis bangunan tahan bencana.
Bangunan tahan bencana adalah bangunan dengan struktur yang direncanakan
sedemikian rupa sehingga bangunan tersebut mampu bertahan atau mengalami
kerusakan yang tidak membahayakan apabila bencana yang bersangkutan
terjadi. Rekayasa teknis adalah prosedur perancangan struktur bangunan yang
telah memperhitungkan karakteristik aksi dari bencana.
2. Mitigasi Non-Struktural
Mitigasi non-struktural adalah upaya mengurangi dampak bencana selain dari
upaya tersebut di atas. Bisa dalam lingkup upaya pembuatan kebijakan seperti
pembuatan suatu peraturan. Undang-Undang Penanggulangan Bencana (UU PB)
adalah upaya non-struktural di bidang kebijakan dari mitigasi ini. Contoh lainnya
adalah pembuatan tata ruang kota, capacity building masyarakat, bahkan sampai
menghidupkan berbagaia aktivitas lain yang berguna bagi penguatan kapasitas
masyarakat, juga bagian ari mitigasi ini. Ini semua dilakukan untuk, oleh dan di
masyarakat yang hidup di sekitar daerah rawan bencana.
Kebijakan non struktural meliputi legislasi, perencanaan wilayah, dan asuransi.
Kebijakan non struktural lebih berkaitan dengan kebijakan yang bertujuan untuk
menghindari risiko yang tidak perlu dan merusak. Tentu, sebelum perlu
dilakukan identifikasi risiko terlebih dahulu. Penilaian risiko fisik meliputi
proses identifikasi dan evaluasi tentang kemungkinan terjadinya bencana dan
dampak yang mungkin ditimbulkannya.
Kebijakan mitigasi baik yang bersifat struktural maupun yang bersifat non
struktural harus saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.
Pemanfaatan teknologi untuk memprediksi, mengantisipasi dan mengurangi
risiko terjadinya suatu bencana harus diimbangi dengan penciptaan dan
penegakan perangkat peraturan yang memadai yang didukung oleh rencana tata
ruang yang sesuai. Sering terjadinya peristiwa banjir dan tanah longsor pada
musim hujan dan kekeringan di beberapa tempat di Indonesia pada musim
kemarau sebagian besar diakibatkan oleh lemahnya penegakan hukum dan
pemanfaatan tata ruang wilayah yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan
sekitar. Teknologi yang digunakan untuk memprediksi, mengantisipasi dan
mengurangi risiko terjadinya suatu bencana pun harus diusahakan agar tidak
mengganggu keseimbangan lingkungan di masa depan.

C. Manfaat Pendidikan Dini Mitigasi Bencana
Dalam UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana mitigasi bencana
didefinisikan sebagai sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana. Namun dalam implementasinya ke
masyarakat masih sangat minim akibatnya masyarakat terutama di wilayah
rawan bencana belum memiliki pengetahuan memadai akan kebencanaan dan
tidak mempunyai kemampuan adaptif dengan keadaan dan proses pemulihan
pasca bencana.
Pengetahuan masyarakat tentang kearifan lokal terasa semakin menurun karena
kurang sosialisasi dan pembinaan. Karena itu peningkatan kesadaran dan
pemberdayaan masyarakat sangat mutlak diperlukan. Seiring dengan itu,
penggalian terhadap kearifan lokal sangat diperlukan karena memberikan
pemahaman dan panduan dalam lingkup tradisi lokal bagaimana menjalani
kehidupan sehari-hari, termasuk pengetahuan ciri-ciri bencana dan larangan
melakukan kegiatan yang merusak lingkungan atau keseimbangan ekosistem.
Menggali potensi kearifan lokal yang ada di dalam masyarakat Nias dapat
dilakukan dengan melalui pendekatan partisipatif serta melibatkan dukungan
banyak pihak seperti budayawan, sosiolog, tokoh masyarakat dan pendidik.
Kearifan lokal yang mulai kurang dikenal dan dihayati dapat diformat dalam
bahasa publik, bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.
Budaya mitigasi berbasis kearifan lokal perlu dibangun sejak dini dalam diri
setiap elemen masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya
sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Dalam
hal ini, mitigasi dibangun bukan pula hanya sebagai sistem peringatan dini tetapi
ia menjadi sebuah budaya dalam perilaku masyarakat. Langkah efektif yang bisa
dilakukan antara lain adalah melalui pembekalan kepada masyarakat baik
melalui pendidikan di bangku sekolah maupun pelatihan kepada masyarakat
umum. Pengetahuan tentang kebencanaan seyogianya menjadi muatan lokal di
wilayah yang paling rawan gempa.
Pendidikan di sekolah bagi siswa sangat strategis untuk menanamkan
pengetahuan tentang kebencanaan sejak usia dini dan sosialisasi tentang
kearifan lokal yang dimiliki daerah tersebut. Sekolah adalah sarana yang efektif,
dimana dengan peran guru terhadap murid mampu mendorong terbangunnya
budaya mitigasi dalam lingkup sekolah dan keluarga.
Sesungguhnya banyak cara kreatif untuk melakukan sosialisasi, diantaranya
melalui pelatihan, penyuluhan dan simulasi. Materi yang disosialisasikan berupa
panduan yang sifatnya sederhana sehingga mudah dipahami, mudah dibuat, dan
dikemas menarik perhatian sesuai dengan daya tangkap masyarakat.
Mengembangkan kemampuan masyarakat dalam pengetahuan dan teknologi
lokal, serta kelembagaan lokal yang mereka miliki akan lebih mudah bila dapat
dikomunikasikan dengan bahasa yang mereka pahami.
Upaya lainnya dalam penguatan peran pemangku kepentingan lainnya seperti
pemda dalam penanggulangan bencana dapat dilakukan melalui pemberian
pelatihan kepada aparatnya yang mencakup pemahaman mengenai kebijakan
yang mengatur tentang pengelolaan kebencanaan saat dan pasca bencana,
memberikan pelatihan menggunakan perangkat-perangkat sistem peringatan
dini, atau mendukung usaha preventif kebencanaan lainnya.
Membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi dan pengurangan risiko bencana
harus dilakukan secara menyeluruh dan terus menerus dengan komitmen
penuh. Sudah saatnya pula kita pula belajar menghargai, itikad baik untuk
memelihara lingkungan dan upaya positif masyarakat dalam mitigasi dapat
diberi perhatian dan dukungan karena telah berkontribusi bagi kepentingan
banyak orang. Ini sangat efektif dalam membangun budaya mitigasi, dan
disinilah kebersamaan itu memiliki arti yang sesungguhnya.

D. Contoh Mitigasi Bencana
Berdasarkan pengamatan selama ini, kita lebih banyak melakukan kegiatan
pasca bencana (post event) berupa emergency response dan recovery daripada
kegiatan sebelum bencana berupa disaster reduction/mitigation dan disaster
preparedness. Padahal, apabila kita memiliki sedikit perhatian terhadap
kegiatan-kegiatan sebelum bencana, kita dapat mereduksi potensi bahaya/
kerugian (damages) yang mungkin timbul ketika bencana.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan sebelum bencana dapat berupa
pendidikan peningkatan kesadaran bencana (disaster awareness), latihan
penanggulangan bencana (disaster drill), penyiapan teknologi tahan bencana
(disaster-proof), membangun sistem sosial yang tanggap bencana, dan
perumusan kebijakan-kebijakan penanggulangan bencana (disaster
management policies).
Secara umum kegiatan manajemen bencana dapat dibagi dalam kedalam tiga
kegiatan utama, yaitu:
1. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi,
kesiapsiagaan, serta peringatan dini.
2. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat
untuk meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan search and rescue
(SAR), bantuan darurat dan pengungsian.
3. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi,
dan rekonstruksi.
Kegiatan pada tahap pra bencana ini selama ini banyak dilupakan, padahal justru
kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah
dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan
pasca bencana. Sedikit sekali pemerintah bersama masyarakat maupun swasta
memikirkan tentang langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan apa yang perlu
dilakukan didalam menghadapi bencana atau bagaimana memperkecil dampak
bencana.
Kegiatan saat terjadi bencana yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana,
untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan
korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian, akan mendapatkan
perhatian penuh baik dari pemerintah bersama swasta maupun masyarakatnya.
Pada saat terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh
perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun
material. Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah
keuntungan yang harus dikelola dengan baik, agar setiap bantuan yang masuk
dapat tepat guna, tepat sasaran, tepat manfaat, dan terjadi efisiensi.
Kegiatan pada tahap pasca bencana, terjadi proses perbaikan kondisi
masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana
dan sarana pada keadaan semula. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah
bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan dilaksanakan harus memenuhi
kaidah-kaidah kebencanaan serta tidak hanya melakukan rehabilitasi fisik saja,
tetapi juga perlu diperhatikan juga rehabilitasi psikis yang terjadi seperti
ketakutan, trauma atau depresi.
Mitigasi bencana mencakup baik perencanaan dan pelaksanaan tindakan-
tindakan untuk mengurangi resiko-resiko dampak dari suatu bencana yang
dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-
tindakan pengurangan resiko jangka panjang.
Upaya mitigasi dapat dilakukan dalam bentuk mitigasi struktur dengan
memperkuat bangunan dan infrastruktur yang berpotensi terkena bencana,
seperti membuat kode bangunan, desain rekayasa, dan konstruksi untuk
menahan serta memperkokoh struktur ataupun membangun struktur bangunan
penahan longsor, penahan dinding pantai, dan lain-lain. Selain itu upaya mitigasi
juga dapat dilakukan dalam bentuk non struktural, diantaranya seperti
menghindari wilayah bencana dengan cara membangun menjauhi lokasi
bencana yang dapat diketahui melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta
dengan memberdayakan masyarakat dan pemerintah daerah. Berikut ini contoh
bencana alam yang sering terjadi di Indonesia :
Banjir adalah meluapnya air dari saluran dan menggenangi kawasan sekitarnya.
Sembilan puluh persen dari kejadian bencana alam berhubungan dengan banjir.
Ada dua jenis banjir, yaitu banjir bandang (kiriman) dan banjir pasang surut.
Adapun beberapa penyebab terjadinya banjir, adalah :
a. Hujan dalam jangka waktu yang panjang atau besarnya curah hujan
selama berhari-hari.
b. Erosi tanah menyisakan batuan yang menyebabkan air hujan mengalir
deras di atas permukaan tanah tanpa terjadi resapan.
c. Buruknya penanganan sampah yang menyumbat saluran-saluran air
sehingga tubuh air meluap dan membanjiri daerah sekitarnya.
d. Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi
jalan atau tempat parkir yang menyebabkan hilangnya daya serap air hujan.
Pembangunan tempat permukiaman bisa menyebabkan meningkatnya resiko
banjir sampai 6 kali lipat dibandingkan tanah terbuka yang biasanya mempunyai
daya serap air tinggi. Masalah ini sering terjadi di kota-kota besar yang
pembangunannya tidak terencana dengan baik. Peraturan pembuatan sumur
resapan di daerah perkotaan kurang diawasi pelaksanaannya.
e. Bendungan dan saluran air yang rusak, walaupun tidak sering terjadi,
namun bisa menyebabkan banjir terutama pada saat hujan deras yang panjang.
f. Keadaan tanah dan tanaman, tanah yang ditumbuhi banyak tanaman
mempunyai daya serap air yang besar. Tanah yang tertutup semen, paving, atau
aspal sama sekali tidak menyerap air. Pembabatan hutan juga dapat merupakan
penyebab banjir.
g. Di daerah bebatuan, daya serap air sangat kurang sehingga bisa
menyebabkan banjr kiriman atau banjir bandang.
Dampak banjir adalah tersebarnya berbagai penyakit disebabkan oleh
penggunaan air yang digunakan masyarakat baik air minum maupun air sumur
yang telah tercemar oleh air banjir. Air banjir membawa banyak bakteri, virus,
parasit dan bibit penyakit lainnya, termasuk juga unsur-unsur kimia yang
berbahaya. Umumnya, penyakit yang sering terjadi adalah diare dan penyakit
yang disebabkan oleh nyamuk/serangga, seperti Demam Berdarah, Malaria, dll.
Adapun tindakan-tindakan penanggulan banjir yang bisa dilakukan adalah
sebagai berikut :
1) Pastikan perlatan kebutuhan emergency tetap kering.
2) Jangan makan dengan menggunakan perlatan yag terkontaminasi dengan
air banjir, tapi :
a) Gunakan air bersih untuk mencuci piring, mencuci dan lain-lain.
b) Rebus air sebelum digunakan. Biarkan air menidih sekuang-kurangnya 7
menit. Hanya minum air yang sudah direbus, bukan air mentah.
c) Gosok gigi atau buat es dari air bersih yang sudah direbus.
3) Sterilkan peralatan makanan dengan menggunakan air panas.
4) Jangan gunakan peralatan listrik yang terendam banjir.
5) Hati-hati dengan ular, kalajengking, atau binatang berbisa lainnya yang
masuk ke dalam rumah.
6) Masuk ke dalam rumah dengan menggunakan sepatu karet/boot dan
sarung tangan.
7) Bersihkan sisa lumpur yang berada di lantai atau menempel di dinding
sesegera mungkin. Sisa lumpur yang kering akan menimbulkan debu dan dapat
mengganggu kesehatan ( mengganggu saluran pernapasan, iritasi mata, dan
gatal-gatal).
8) Terus dengarkan radio untuk mendengarkan kerusakan-kerusakan
infrastruktur yang terjadi seperti jalan, jembatan, bangunan penting dll. Ini
penting untuk petunjuk
9) Jangan mendekati bangunan yang tergenang air, karena air bisa meresap ke
dalam tanah di bawah pondasi dan menyebabkan tanah akan menurun
kekuatannya sehingga bangunan roboh.
Mitigasi bencana yang efektif harus memiliki tiga unsur utama, yaitu penilaian
bahaya, peringatan dan persiapan.
1. Penilaian bahaya (hazard assestment); diperlukan untuk mengidentifikasi
populasi dan aset yang terancam, serta tingkat ancaman. Penilaian ini
memerlukan pengetahuan tentang karakteristik sumber bencana, probabilitas
kejadian bencana, serta data kejadian bencana di masa lalu. Tahapan ini
menghasilkan Peta Potensi Bencana yang sangat penting untuk merancang
kedua unsur mitigasi lainnya.
2. Peringatan (warning); diperlukan untuk memberi peringatan kepada
masyarakat tentang bencana yang akan mengancam (seperti bahaya tsunami
yang diakibatkan oleh gempa bumi, aliran lahar akibat letusan gunung berapi,
dsb). Sistem peringatan didasarkan pada data bencana yang terjadi sebagai
peringatan dini serta menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk
memberikan pesan kepada pihak yang berwenang maupun masyarakat.
Peringatan terhadap bencana yang akan mengancam harus dapat dilakukan
secara cepat, tepat dan dipercaya.
3. Persiapan (preparedness). Kegiatan kategori ini tergantung kepada unsur
mitigasi sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang membutuhkan
pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan
pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus
melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari latar belakang tentang bencana alam di Indonesia, mitigasi bencana
merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik tolak utama
dari manajemen bencana. Sesuai dengan tujuan utamanya yaitu mengurangi
dan/atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik
berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama
kegiatan penjinakan/peredaman atau dikenal dengan istilah Mitigasi.
Kegiatan saat terjadi bencana yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana,
untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan
korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian, akan mendapatkan
perhatian penuh baik dari pemerintah bersama swasta maupun masyarakatnya.
Pada saat terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh
perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun
material. Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah
keuntungan yang harus dikelola dengan baik, agar setiap bantuan yang masuk
dapat tepat guna, tepat sasaran, tepat manfaat, dan terjadi efisiensi.
Upaya mitigasi dapat dilakukan dalam bentuk mitigasi struktur dengan
memperkuat bangunan dan infrastruktur yang berpotensi terkena bencana,
seperti membuat kode bangunan, desain rekayasa, dan konstruksi untuk
menahan serta memperkokoh struktur ataupun membangun struktur bangunan
penahan longsor, penahan dinding pantai, dan lain-lain. Selain itu upaya mitigasi
juga dapat dilakukan dalam bentuk non struktural, diantaranya seperti
menghindari wilayah bencana dengan cara membangun menjauhi lokasi
bencana yang dapat diketahui melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta
dengan memberdayakan masyarakat dan pemerintah daerah.









DAFTAR PUSTAKA

Dr. Suprawoto, S.H., M.Si. 2008. Memahami Bencana. Jakarta. Departemen
Komunikasi Dan Informatika Republik Indonesia.
http://semangateli.blogspot.com/2008/10/mitigasi-bencana.html
http://www.unpad.ac.id/archives/39740
http://niasonline.net/2010/09/21/membangun-budaya-mitigasi-bencana-
berbasis-potensi-kearifan-lokal-nias/
http://taganabanten-info.blogspot.com/2009/10/manajemen-penanganan-
bencana-berbasis.html