DEFINISI

Takikardi supraventrikular (TSV) adalah satu jenis takidisritmia yang ditandai dengan
perubahan laju jantung yang mendadak bertambah cepat menjadi berkisar antara 150
kali/menit sampai 250 kali/menit. Kelainan ini sering terjadi pada demam, emosi, aktivitas
fisik dan gagal jantung.
EPIDEMIOLOGI
Takikardi supraventrikular merupakan kegawatdaruratan kardiovaskular yang sering
ditemukan pada bayi dan anak. Angka kejadian TSV diperkirakan 1 per 250.000 sampai 1 per
250. Angka kekerapan masing-masing bentuk TSV pada anak berbeda dengan TSV pada
dewasa.

Angka kejadian TSV pada anak berkisar 1 dari 250 anak tapi sering gejalanya samar-
samar dan sering disalahartikan dengan gejala dari penyakit umum lainnya pada anak.
TSV pada bayi biasanya terjadi pada hari pertama kehidupan sampai usia 1 tahun,
tapi sering terjadi sebelum umur 4 bulan. Sebagian besar TSV pada bayi dengan struktur
jantung yang normal dan hanya 15% bayi TSV yang disertai dengan penyakit jantung, karena
obat-obatan atau karena demam.

PATOFISIOLOGI

Gangguan irama jantung disebabkan oleh gangguan pembentukan rangsang, gangguan
konduksi rangsang dan gangguan pembentukan serta penghantaran rangsang.
a. Gangguan pembentukan rangsang
Gangguan ini dapat terjadi secara pasif atau aktif. Bila gangguan rangsang terbentuk
secara aktif di luar urutan jaras hantaran normal, seringkali menimbulkan gangguan
irama ektopik dan bila terbentuk secara pasif sering menimbulkan escape rhytm
(irama pengganti).
- Irama ektopik timbul karena pembentukan rangsang ektopik secara aktif dan
fenomena reentry
- Escape beat (denyut pengganti) ditimbulkan bila rangsang normal tidak atau
belum sampai pada waktu tertentu dari irama normal, sehingga bagian jantung
yang belum atau tidak mendapat rangsang itu bekerja secara otomatis untuk
mengeluarkan rangsangan instrinsik yang memacu jantung berkontraksi.
- Active ectopic firing terjadi pada keadaan dimana terdapat kenaikan kecepatan
automasi pembentukan rangsang pada sebagian otot jantung yang melebihi
keadaan normal.
- Reentry terjadi bila pada sebagian otot jantung terjadi blokade unidirectional
(blokade terhadap rangsang dalam arah antegrad) dimana rangsang dari arah
lain masuk kembali secara retrograd melalui bagian yang mengalami blokade tadi
setelah masa refrakternya dilampaui. Keadaan ini menimbulkan rangsang baru
secara ektopik. Bila reentry terjadi secara cepat dan berulang-ulang, atau tidak
teratur (pada beberapa tempat), maka dapat menimbulkan keadaan takikardi
ektopik atau fibrilasi.
b. Gangguan konduksi
Kelainan irama jantung dapat disebabkan oleh hambatan pada hantaran (konduksi)
aliran rangsang yang disebut blokade. Hambatan tersebut mengakibatkan tidak
adanya aliran rangsang yang sampai ke bagian miokard yang seharusnya menerima
rangsang untuk dimulainya kontraksi. Blokade ini dapat terjadi pada tiap bagian
sistem hantaran rangsang mulai dari nodus SA atrium, nodus AV, jaras HIS, dan
cabang-cabang jaras kanan kiri sampai pada percabangan purkinye dalam miokard.
c. Gangguan pembentukan dan konduksi rangsangan
Gangguan irama jantung dapat terjadi sebagai akibat gangguan pembentukan
rangsang bersama gangguan hantaran rangsang.
Mekanisme Terjadinya TSV
Berdasarkan pemeriksaan elektrofisiologi intrakardiak, terdapat dua mekanisme terjadinya
takikardi supraventrikular yaitu:

(1). Otomatisasi (automaticity)
Irama ektopik yang terjadi akibat otomatisasi sebagai akibat adanya sel yang mengalami
percepatan (akselerasi) pada fase 4 dan sel ini dapat terjadi di atrium, A-V junction, bundel
HIS, dan ventrikel. Struktur lain yang dapat menjadi sumber/fokus otomatisasi adalah vena
pulmonalis dan vena kava superior. Contoh takikardi otomatis adalah sinus takikardi. Ciri
peningkatan laju nadi secara perlahan sebelum akhirnya takiaritmia berhenti. Takiaritmia
karena otomatisasi sering berkaitan dengan gangguan metabolik seperti hipoksia,
hipokalemia, hipomagnesemia, dan asidosis.
(2). Reentry
Ini adalah mekanisme yang terbanyak sebagai penyebab takiaritmia dan paling mudah
dibuktikan pada pemeriksaan elektrofisiologi. Syarat mutlak untuk timbulnya reentry adalah:
a. Adanya dua jalur konduksi yang saling berhubungan baik pada bagian distal maupun
proksimal hingga membentuk suatu rangkaian konduksi tertutup.
b. Salah satu jalur tersebut harus memiliki blok searah.
c. Aliran listrik antegrad secara lambat pada jalur konduksi yang tidak mengalami blok
memungkinkan terangsangnya bagian distal jalur konduksi yang mengalami blok
searah untuk kemudian menimbulkan aliran listrik secara retrograd secara cepat
pada jalur konduksi tersebut.

Gambar 1. Proses terjadinya TSV
KLASIFIKASI
Terdapat 3 jenis TSV yang sering ditemukan pada bayi dan anak, yaitu:
 Takikardi atrium primer (takikardi atrial ektopik)
Terdapat sekitar 10% dari semua kasus TSV, namun TSV ini sukar diobati. Takikardi
ini jarang menimbulkan gejala akut. Penemuannya biasanya karena pemeriksaan
rutin atau karena ada gagal jantung akibat aritmia yang lama. Pada takikardi atrium
primer, tampak adanya gelombang “p” yang agak berbeda dengan gelombang p
pada waktu irama sinus, tanpa disertai pemanjangan interval PR. Pada pemeriksaan
elektrofisiologi intrakardiak tidak didapatkan jaras abnormal (jaras tambahan).

 Atrioventricular re-entry tachycardia (AVRT)
Pada AVRT pada sindrom Wolf-Parkinson-White (WPW) jenis orthodromic, konduksi
antegrad terjadi pada jaras his-purkinye (slow conduction) sedangkan konduksi
retrograd terjadi pada jaras tambahan (fast conduction). Kelainan yang tampak pada
EKG adalah takikardi dengan kompleks QRS yang sempit dengan gelombang p yang
timbul segera setelah kompleks QRS dan terbalik. Pada jenis yang antidromic,
konduksi antegrad terjadi pada jaras tambahan sedangkan konduksi retrograd
terjadi pada jaras his-purkinye. Kelainan pada EKG yang tampak adalah takikardi
dengan kompleks QRS yang lebar dengan gelombang p yang terbalik dan timbul pada
jarak yang jauh setelah kompleks QRS.

 Atrioventricular nodal reentry tachycardia (AVNRT)
Pada jenis AVNRT, reentry terjadi di dalam nodus AV, dan jenis ini merupakan
mekanisme yang paling sering menimbulkan TSV pada bayi dan anak. Sirkuit tertutup
pada jenis ini merupakan sirkuit fungsional. Jika konduksi antegrad terjadi pada sisi
lambat (slow limb) dan konduksi retrograd terjadi pada sisi cepat (fast limb), jenis ini
disebut juga jenis typical (slow-fast) atau orthodromic. Kelainan pada EKG yang
tampak adalah takikardi dengan kompleks QRS sempit dengan gelombang p yang
timbul segera setelah kompleks QRS tersebut dan terbalik atau kadang-kadang tidak
tampak karena gelombang p tersebut terbenam di dalam kompleks QRS. Jika
konduksi antegrad terjadi pada sisi cepat dan konduksi retrograd terjadi pada sisi
lambat, jenis ini disebut jenis atypical (fast-slow) atau antidromic. Kelainan yang
tampak pada EKG adalah takikardi dengan kompleks QRS sempit dan gelombang p
terbalik dan timbul pada jarak yang cukup jauh setelah komplek QRS.

Penyebab

1. Idiopatik, ditemukan pada hampir setengah jumlah pasien. Tipe idiopatik ini biasanya
terjadi lebih sering pada bayi daripada anak.
2. Sindrom Wolf Parkinson White (WPW) terdapat pada 10-20% kasus dan terjadi
hanya setelah konversi menjadi sinus aritmia. Sindrom WPW adalah suatu sindrom
dengan interval PR yang pendek daninterval QRS yang lebar; yang disebabkan oleh
hubungan langsung antara atrium dan ventrikel melalui jaras tambahan.
3. Beberapa penyakit jantung bawaan (anomali Ebstein’s, single ventricle, L-TGA)
Gejala Klinis
Gejala klinis takikardia supraventrikular (TSV) pada bayi tidak khas, umumnya terjadi pada
bayi di bawah usia 4 bulan. Bayi biasanya dibawa ke dokter karena mendadak gelisah,
irritabel, diaforesis, tidak mau menetek atau minum susu,. Kadang-kadang orangtua
membawa bayinya karena bernafas cepat dan tampak pucat. Dapat pula terjadi muntah-
muntah. Laju nadi sangat cepat sekitar 200-300 per menit, tidak jarang disertai gagal
jantung atau kegagalan sirkulasi yang nyata.

Takikardia supraventrikular pada anak yang serangan pertamanya dimulai pada usia
yang lebih tua seringkali disebabkan oleh sindrom WPW, baik yang manifes maupun yang
tersembunyi (concealed). Berbeda dengan TSV pada bayi, pada kelompok ini tidak dijumpai
tanda gagal jantung atau kegagalan sirkulasi karena frekuensi jantung yang lebih lambat.
Yang sering menyebabkan pasien dibawa ke dokter adalah rasa berdebar dan perasaan tidak
enak.

Berbeda dengan TSV pada bayi dan anak, TSV kronik dapat berlangsung selama
berminggu-minggu bahkan sampai bertahun-tahun. Hal yang menonjol adalah frekuensi
denyut nadi yang lebih lambat, berlangsung lebih lama, gejalanya lebih ringan dan juga lebih
dipengaruhi oleh sistem susunana saraf autonom. Pada sebagian besar pasien terdapat
disfungsi miokard akibat TSV pada saat serangan atau pada TSV sebelumnya.

Gejala klinis lain TSV dapat berupa palpitasi, lightheadness, mudah lelah, hoyong,
nyeri dada, nafas pendek dan bahkan penurunan kesadaran. Pasien juga mengeluh lemah,
nyeri kepala dan rasa tidak enak di tenggorokan.
Risiko terjadinya gagal jantung sangat rendah pada anak dan remaja dengan TSV tapi
risikonya meningkat pada neonatus dengan TSV, neonatus dengan WPW dan pada anak
dengan penyakit jantung. Bila takikardi terjadi saat fetus, dapat menyebabkan timbulnya
gagal jantung berat dan hidrops fetalis.

DIAGNOSIS
Diagnosis TSV berdasarkan pada gejala dan tanda sebagai berikut:

a. Pada bentuk akut: pucat, gelisah, takipneu dan sukar minum
b. Denyut jantung; 180-300 kali/menit (mungkin sulit dihitung)
c. Dapat terjadi gagal jantung (bila dalam 24 jam tidak membaik)
d. EKG:
e. Pemeriksaan esophageal electrophysiology dapat digunakan sebagai prediktor
apakah
bayi membutuhkan obat anti aritmia.

PENATALAKSANAAN
Secara garis besar penatalaksanaan TSV dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu:

a. Penatalaksanaan segera
b. Penatalaksanaan jangka panjang

a. Penatalaksanaan segera
1. Tindakan yang dulu lazim dicoba pada anak yang lebih besar adalah perasat valsava
tidak dianjurkan pada bayi, karena jarang sekali berhasil. Perasat valsava berupa
pemijatan sinus karotis, dan tekanan pada bola mata akan tetapi berisiko terjadinya
luka pada mata dan retina. Apabila tidak jelas terdapat gagal jantung kongestif atau
kegagalan sirkulasi dapat dicoba refleks selam (diving reflex). Cara lain yang
dianjurkan oleh karena sering dilaporkan berhasil (lebih kurang pada 25% kasus)
adalah dengan menutup muka bayi dengan kantong plastik berisi air es (sekitar 10-
20 detik) dan jangan sekali-sekali membenamkan muka bayi ke`dalam air es. Cara ini
efektif pada jenis takikardi yang melibatkan nodus AV tapi responnya kurang baik
pada sebagian besar bentuk takikardi atrial primer.
2. Pemberian adenosin. Adenosin merupakan nukleotida endogen yang bersifat
kronotropik negatif, dromotropik, dan inotropik. Efeknya sangat cepat dan
berlangsung sangat singkat dengan konsekuensi pada hemodinamik sangat minimal.
Adenosin dengan cepat dibersihkan dari aliran darah (sekitar 10 detik) dengan
cellular uptake oleh sel endotel dan eritrosit. Obat ini akan menyebabkan blok
segera pada nodus AV sehingga akan memutuskan sirkuit pada mekanisme reentry.
Adenosin mempunyai efek yang minimal terhadap kontraktilitas jantung.
Adenosin merupakan obat pilihan dan sebagai lini pertama dalam terapi TSV
karena dapat menghilangkan hampir semua TSV. Efektivitasnya dilaporkan pada
sekitar 90% kasus. Adenosin diberikan secara bolus intravena diikuti dengan flush
saline, mulai dengan dosis 50 µg/kg dan dinaikkan 50 µ/kg setiap 1 sampai 2 menit
(maksimal 250 µ/kg). Dosis yang efektif pada anak yaitu 100 – 150 µg/kg. Pada
sebagian pasien diberikan digitalisasi untuk mencegah takikardi berulang.

Efek samping adenosin dapat berupa nyeri dada, dispnea, facial flushing, dan
terjadinya A-V bloks. Bradikardi dapat terjadi pada pasien dengan disfungsi sinus
node, gangguan konduksi A-V, atau setelah pemberian obat lain yang mempengaruhi
A-V node (seperti beta blokers, calsium channel blocker, amiodaron). Adenosin bisa
menyebabkan bronkokonstriksi pada pasien asma.

3. Verapamil juga tersedia untuk penanganan segera TSV pada anak berusia di atas 12
bulan, akan tetapi saat ini mulai jarang digunakan karena efek sampingnya. Obat ini
mulai bekerja 2 sampai 3 menit, dan bersifat menurunkan cardiac output. Banyak
laporan terjadinya hipotensi berat dan henti jantung pada bayi berusia di bawah 6
bulan. Oleh karena itu verapamil sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang
berusia kurang dari 2 tahun karena risiko kolap kardiovaskular. Jika diberikan
verapamil, persiapan untuk mengantisipasi hipotensi harus disiapkan seperti kalsium
klorida (10 mg/kg), cairan infus, dan obat vasopressor seperti dopamin. Tidak ada
bukti bahwa verapamil efektif mengatasi ventrikular takikardi pada kasus-kasus yang
tidak memberikan respon dengan adenosin. Penelitian membuktikan bahwa
verapamil intravena efektif pada 100% pasien TSV.
4. Pada pasien AVRT atau AVNRT, prokainamid mungkin juga efektif. Obat ini bekerja
memblok konduksi pada jaras tambahan atau pada konduksi retrograd pada jalur
cepat pada sirkuit reentry di nodus AV. Hipotensi juga sering dilaporkan pada saat
loading dose diberikan.
5. Digoksin dilaporkan juga efektif untuk mengobati kebanyakan TSV pada anak.
Digoksin tidak digunakan lagi untuk penghentian segera TSV dan sebaiknya dihindari
pada anak yang lebih besar dengan WPW sindrom karena ada risiko percepatan
konduksi pada jaras tambahan. Digitalisasi dipakai pada bayi tanpa gagal jantung
kongestif.

Penelitian oleh Wren dkk tahun 1990, pada 29 bayi dengan TSV,
pengobatan efektif dengan digoksin. Digoksin memperbaiki fungsi ventrikel, baik
melalui pengaruh inotropiknya maupun melalui blokade nodus AV yang ditengahi
vagus.
6. Bila adenosin tidak bisa digunakan serta adanya tanda gagal jantung kongestif atau
kegagalan sirkulasi jelas dan alat DC shock tersedia, dianjurkan penggunaan direct
current synchronized cardioversion dengan kekuatan listrik sebesar 0,25 watt-
detik/pon yang pada umumnya cukup efektif. DC shock yang diberikan perlu sinkron
dengan puncak gelombang QRS, karena rangsangan pada puncak gelombang T dapat
memicu terjadinya fibrilasi ventrikel. Tidak dianjurkan memberikan digitalis sebelum
dilakukan DC Shock oleh karena akan menambah kemungkinan terjadinya fibrilasi
ventrikel. Apabila terjadinya fibrilasi ventrikel maka dilakukan DC shock kedua yang
tidak sinkron. Apabila DC shock kedua ini tetap tidak berhasil, maka diperlukan
tindakan invasif.
7. Bila DC shock tidak tersedia baru dipilih alternatif kedua yaitu preparat digitalis
secara intravena. Dosis yang dianjurkan pada pemberian pertama adalah sebesar ½
dari dosis digitalisasi (loading dose) dilanjutkan dengan ¼ dosis digitalisasi, 2 kali
berturut-turut berselang 8 jam.
8. Bila pasien tidak mengalami gagal jantung kongestif, adenosin tidak bisa digunakan,
dan digitalis tidak efektif, infus intravena phenylephrine bisa dicoba untuk konversi
cepat ke irama sinus. Phenylephrine dapat meningkatkan tekanan darah dengan
cepat dan mengubah takikardi dengan meningkatkan refleks vagal. Efek phynilephrin
(Neo-synephrine) sama halnya dengan sedrophonium (tensilon) yang meningkatkan
reflek vagal seperti juga efek anti aritmia lain seperti procainamid dan propanolol.
Metode ini tidak direkomendasikan pada bayi dengan CHF karena dapat
meningkatkan afterload sehingga merugikan pada bayi dengan gagal jantung. Dosis
phenylephrin 10 mg ditambahkan ke dalam 200 mg cairan intravena diberikan secara
drip dengan pengawasan doketr terhadap tekanan darah. Tekanan sistolik tidak
boleh melebihi 150-170 mmHg.

b. Penanganan Jangka Panjang
1. Medikamentosa
2. DC shock
3. Ablasi kateter
4. Pemakaian alat pacu jantung
5. Tindakan bedah

KESIMPULAN
Takikardi supraventrikular merupakan kegawatdaruratan kardiovaskular yang sering
ditemukan pada bayi dan anak. Penyebab TSV adalah idiopatik, sindrom Wolf
Parkinson White (WPW) dan beberapa penyakit jantung bawaan (anomali Ebstein’s,
single ventricle, L-TGA).
Gejala klinis lain TSV dapat berupa gelisah, irritabel, diaforesis, tidak mau
menetek atau minum susu. Kadang-kadang orangtua membawa bayinya karena
bernafas cepat dan tampak pucat. Dapat pula terjadi muntah-muntah. Laju nadi
sangat cepat sekitar 200-300 per menit, tidak jarang disertai gagal jantung atau
kegagalan sirkulasi yang nyata, palpitasi, lightheadness, mudah lelah, hoyong, nyeri
dada, nafas pendek dan bahkan penurunan kesadaran. Pasien juga mengeluh lemah,
nyeri kepala dan rasa tidak enak di tenggorokan.

Risiko terjadinya gagal jantung
sangat rendah pada anak dan remaja dengan TSV tapi risikonya meningkat pada
neonatus dengan TSV, neonatus dengan WPW dan pada anak dengan penyakit
jantung.
Diagnosis TSV berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan EKG.
Penatalaksanaan TSV berupa penatalaksanaan segera dan jangka panjang yaitu
medikamentosa, DC shock, ablasi kateter, pemakaian alat pacu jantung dan tindakan
bedah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful