You are on page 1of 99

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

DI PESANTREN MODERN AL-AQSHA
(Studi Deskriptif pada Program Pesantren Modern al-Aqsha Jatinangor )

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam
pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung





Oleh:
SHOFWAN ABDUL AZIZ
NIM. 208 203 484




BANDUNG
2012 M/ 1433 H




ABSTRAK
Shofwan Abdul Aziz: Implementasi Pendidikan Karakter di Pesantren Modern
AlAqsha (Studi Deskriptif pada Program Pesantren Modern al-Aqsha
J atinangor)
Dekadensi moral bangsa ini perupakan pekerjaan rumah pendidikan.
Maka, pendidikan karakter merupakan solusi dan kebutuhan pendidikan bangsa
ini. Pendidikan karakter merupakan usaha untuk membentuk pribadi anak, supaya
menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Hal
tersebut dapat diimplementasikan pada lembaga pendidikan sebagai pencetak
generasi manusia yang dapat menentukan nasib bangsa. Pesantren merupakan
salah satu lembaga pendidikan yang berpotensi untuk membangun karakter anak
didik. Salah satu pesantren yang menerapkan pendidikan karakter adalah Pondok
Modern Al-Aqsha Jatinangor.
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
konsep dan implementasi pendidikan karakter di pesantren modern al-Aqsha
yang mempunyai ciri khas pendidikan dari lembaga pendidikan lainnya.
Kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini bahwa
pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mempunyai paradigm focus
terhadap kualitas hati dalam bentuk akhlak (karakter) dan tidak hanya kualitas
intelektual. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai
karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran
atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan
karakter akan optimal jika diterapkan mulai dari pengajaran, keteladanan,
pembiasaan, pemotivasian, penegakan aturan dan pengawasan. Demikian juga
Pondok Modern Al-Aqsha menerapkan pendidikan karakter dengan menanamkan
nilai-nilai kebaikan kepada para santrinya.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dimana
peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan dengan triangulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif/ kualitatif melalui data reduction, data
display dan conclusion drawing/ verification. Dalam penelitian ini, penulis
menggunakan studi deskriptif dengan mempelajari secara intensif suatu objek
yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pertama, Pondok
Modern Al-Aqsha mempunyai cita-cita yang sangat mulia untuk mecetak para
santrinya untuk memiliki karakter yang baik (character education). Kedua,
Pendidikan karakter yang diterapkan di Pondok secara terencana, sistematis,
holistik, dan evaluatif. Pendidikan karakter diimplementasikan pada setiap
aktivitas pondok baik secara implisit maupun eksplisit. Usaha pondok dalam
menerapkan karakter mencakup pembelajaran, keteladanan, pembiasaan,
pemotivasian, sampai penegakan aturan. Ketiga, Penerapan pendidikan karakter
sangat didukung dengan situasi dan kondisi Pondok Modern Al-Aqsha. Dengan
tinggalnya para santri di asrama, pembentukan karakter dapat dilakukan secara
optimal. Namun keteladanan (figur), kurangnya kekompakkan dan kedisiplinan
para pengurus (konsistensi) menjadi kendala yang harus dipecahkan selanjutnya.




IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN MODERN
ALAQSHA (STUDI DESKRIPTIF PADA PROGRAM PESANTREN
MODERN AL-AQSHA JATINANGOR)
Oleh:
Shofwan Abdul Aziz
NIM. 208203484
Menyetujui,
Pembimbing I




Dra. Hj. Tati SD, M. Ag
NIP. 150178462
Tanda Tangan




___________________
Pembimbing II



Saca Suhendi, M. Ag
NIP. 197301212005011004
Tanda Tangan





___________________
Lulus diuji tanggal 28 Juni 2012
Penguji I




Drs. Yaya Suryana, M. Ag
NIP. 195705311985031002
Tanda Tangan




___________________
Penguji II



Hariman Surya S, M. Ag
NIP. 19741008200901002
Tanda Tangan





___________________
Mengetahui
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. H. Ujang Dedih, M.Pd
NIP. 196408021993031002




Perjalanan sesungguhnya dalam menemukan sesuatu yang baru bukan
dengan mencari pemandangan-pemandangan baru, melainkan dengan
memiliki pandangan baru –Marcel Proust-






ُ
ن
ْ
س
ُ
ح
َ
و
ُ
لا
َ
ن
َ
يا
َ
م
ْ
ي
ِ
ف ى
َ
ض
ّ
رلا
ُ
ن
ْ
س
ُ
ح
ْ
لا
َ
ن
َ
ي
ْ
َ
ل ا
َ
م
ْ
ي
ِ
ف ل
ِ

ّ
ك
َ
وّ تلا






Karya ini penulis persembahkan untuk :

Ibu dan ayahanda tercinta Lilis Kholisoh dan
T. Rahmat N, S.Pd yang selalu memberikan
keikhlasan do’a setiap saat dan motivasi
serta dukungan yang tak ternilai harganya.
Tak lupa kepada teman-teman kelas PAI-E, KKM
055, Kelompok PPL MTs As-Sawiyah,KKMB 2012,
HMI Maung Hanjaro, Evi Nurhidayati, Hambali
MF, Ridwan F, Lilis R, Nenden K, Dasep S,
Asep R, Siti Sumiati, Tata, Bara K, Iwan,
Sofian,Isak Parid, S.Pd.I, Pak Ade Saepulloh,
Bu Aan Hasanah, dan semuanya yang
berkontribusi dalam penulisan ini. Semoga
kita semua mendapatkan ridha dan maghfirah
Allah Swt. di dunia dan akhirat. Amiin !


i

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt. yang telah
memberikan rahmat dan limpahan nikmat-Nya. Salawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada pahlawan moral kita Nabi Muhammad Saw. yang telah
memberikan contoh karakter yang mulia.
Karya tulis (skripsi) ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Strata Pendidikan Islam (S. Pd. I).
Penulis haturkan terima kasih dan doa kepada semua pihak yang telah
mendukung dan memberikan semangat dalam penyempurnakan penulisan ini.
Lebih khusus, rasa terima kasih penulis haturkan kepada orang tua , Dra. Hj. Tati
SD., M.Ag sebagai pembimbing I dan Saca Suhendi, M.Ag sebagai pembimbing
II yang memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis.
Saran dan kritik konstruktif sangat penulis harapkan.Semoga karya tulis
ini dapat memberikan kontribusi positif kepada para pembaca dan semua pihak
yang peduli terhadap dunia pendidikan dan karakter bangsa.

Bandung, Juni 2012


Penulis



ii

DAFTAR ISI

ABSTRAK
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 5
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ............................................................. 5
D. Kerangka Pemikiran ................................................................................. 6
E. Langkah-langkah Penelitian .................................................................... 10
BAB II TEORI DAN ESENSI PENDIDIKAN KARAKTER .............................. 14
A. Definisi dan Tujuan Pendidikan .............................................................. 14
B. Definisi Karakter dan Pendidikan Karakter ............................................. 19
1. Definisi Karakter ................................................................................ 19
2. Definisi Pendidikan Karakter ............................................................. 23
3. Diskursus Pendidikan Karakter dan Pendidikan Akhlak ................... 25
C. Pengertian Pesantren ................................................................................ 27
D. Ruang Lingkup Pendidikan Karakter ....................................................... 27
1. Karakteristik Dasar Pendidikan Karakter........................................... 28
2. Kurikulum Holistik ............................................................................ 28
3. Paradigma Fokus Pendidikan ............................................................. 30
4. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter .................................................. 31


iii

5. Nilai-nilai Karakter yang Perlu Ditanamkan...................................... 32
E. Implementasi Pendidikan Karakter pada Unsur Pendidikan .................... 35
1. Pendidikan Karakter secara Terpadu melalui Pembelajaran ............. 35
2. Pendidikan Karakter secara Terpadu melalui Manajemen Sekolah .. 37
3. Pendidikan Karakter secara Terpadu melalui Ekstrakurikuler .......... 38
4. Pendidikan Karakter pada Lingkungan Pendidikan ........................... 39
BAB III IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN
MODERN AL-AQSHA ........................................................................................... 41
A. Profil Pesantren ........................................................................................ 41
1. Sejarah Pesantren ............................................................................... 41
2. Visi dan Misi SMP Plus Al-Aqsha .................................................... 44
3. Kelembagaan SMP Plus Al-Aqsha .................................................... 49
B. Analisis nilai-nilai Pendidikan Karakter di Pondok Modern Al-Aqsha ... 51
1. Keimanan ........................................................................................... 52
2. Kepedulian ......................................................................................... 53
3. Kejujuran ............................................................................................ 55
4. Keberanian ......................................................................................... 56
5. Cinta Ilmu .......................................................................................... 57
6. Tanggung Jawab dan Kemandirian .................................................... 58
7. Kedisiplinan ....................................................................................... 59
8. Kebersihan.......................................................................................... 60
9. Kerapihan ........................................................................................... 61
10. Kepemimpinan dan Keadilan ............................................................. 61


iv

11. Hormat dan Santun ............................................................................. 62
C. Analisis Pendidikan Karakter di Pondok Modern Al-Aqsha
1. Pengajaran .......................................................................................... 62
2. Keteladanan ........................................................................................ 64
3. Pembiasaan ......................................................................................... 67
4. Pemotivasian ...................................................................................... 70
5. Penegakkan Aturan ............................................................................ 72
6. Pengawasan ........................................................................................ 74
BAB IV PENUTUP .................................................................................................. 77
A. Kesimpulan ............................................................................................. 77
B. Saran ......................................................................................................... 78
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



v

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Persepsi Internasional Terhadap Beberapa Negara ASEAN ....................... 3
Tabel 2. Data Prestasi Siswa Pondok Modern Al-Aqsha ........................................... 58
Tabel 3. Monitoring Karakter Anak .......................................................................... 76

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema kerangka pemikiran penelitian ..................................................... 9
Gambar 2. Struktur Organisasi SMP Plus Al-Aqsha ................................................. 50
Gambar 3. Pembiasaan salat dhuha berjamaah ......................................................... 52
Gambar 4. Perpindahan Kamar .................................................................................. 54
Gambar 5. Papan Kehilangan ..................................................................................... 56
Gambar6. Latihan Berpidato (Muhadharah) ............................................................. 57
Gambar 7. Menghapal Pelajaran ............................................................................... 59
Gambar 8. Mengantre untuk Makan .......................................................................... 60
Gambar 9. Operasi Kebersihan (Tandziif al-„am)..................................................... 61
Gambar 10. Pengurus OPPMA .................................................................................. 62




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Penulis mengambil tema tentang entitas pembangunan karakter pada dunia
pendidikan. Hal tersebut diambil berdasarkan rasa keprihatian penulis terhadap
kondisi bangsa ini yang ada dalam krisis multidimensi, baik dalam aspek sosial,
pendidikan, moral, ekonomi, dan aspek lainnya.
Secara idealisme, tentunya kita menginginkan tetesan karakter kebaikan
dapat diterima oleh calon-calon generasi penerus bangsa ini. Merekalah yang
menentukan nasib bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Menjadikan citra
bangsa Indonesia berkualitas dari semua aspeknya. Namun semua itu berakar dari
sebuah kualitas karakter baik yang dimiliki para penerus peradaban bangsa ke
depan.
Oleh karenanya, negara mengatur pendidikan Indonesia untuk
memperhatikan karakter dalam orientasi pendidikannya. UU No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menyebutkan:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.”
2



Dengan demikian, selain bertugas mencerdaskan bangsa ini, lembaga
pendidikan mempunyai tugas dan tujuan untuk membentuk kualitas karakter
bangsa ini.
Adapun butir-butir nilai/ karakter yang harus diperhatikan, seperti yang
disebutkan dalam Character Counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa
karakter-karakter yang menjadi pilar yaitu: dapat dipercaya (trustworthiness); rasa
hormat dan perhatian (respect); tanggung jawab (responsibility); jujur (fairness);
peduli (caring); kewarganegaraan (citizenship); ketulusan (honesty); berani
(courage); tekun (diligence); dan integritas (Abdul M. & Dian A., 2011: 43).
Sebagai pertimbangan pentingya pendidikan karakter, kondisi saat ini yang
mengkhawatirkan dapat kita perhatikan dalam suatu perbincangan di PBNU
(Pengurus Besar Nadhatul Ulama), Gusdur berkata bahwa diagnosis penyakit
bangsa ini harus dimulai dari karakter bangsa ini. Mengutip seorang penggiat
filsafat kebudayaan, Tony Doludea yang mengatakan bahwa karakter manusia
Indonesia adalah mudah iri hati, picik, dan tidak menyadari solidaritas untuk
tujuan bersama. Mereka juga suka memperoleh sesuatu secara instan,
mengabaikan proses dan kerja keras, percaya kepada klenik (dukun), dan tidak
dapat menerima kekalahan. “Karakter itu ada dalam diri seluruh manusia
Indonesia, mulai dari politisi, akademisi, intelektual, pemimpin, tokoh agama,
hingga orang awam, dan rakyat miskin”. Mental Indonesia tersebut membuat
masyarakat tidak lagi percaya kepada kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Kondisi
tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sulit diwujudkan di Indonesia
(Maman I., 2010: 118).
3



Berikut tabel yang menggambarkan bahwa bangsa Indonesia berada dalam
krisis multi dimensi.
Tabel 1. Persepsi Internasional Terhadap Beberapa Negara ASEAN
(Skala 0: terbaik 10: terburuk)
Negara Infrastruktur
Sistem
Hukum
Kestabilan
Politik
Penghormatan
Properti
Intelektual
Tingkat
Transparansi
Corporate
Gevemance
Singapura 0 2 2 3 4 2,5
Malaysia 4 4,5 4 6 6 6
Thailand 5 8 3,5 8 8 8
Filipina 6,5 8 6,5 7,5 6 6
Vietnam 7 7,5 3,5 8 8 7
Indonesia 8 10 8 10 9 9
Sumber: Ratna Megawangi. Pendidikan Karakter. (Depok : Indonesia
Heritage Foundation (IHF). 2004)

Ratna Megawangi (2004:6) mengatakan bahwa rendahnya kredibilitas
Indonesia di mata dunia internasional adalah cerminan dari perilaku individu-
individu yang tidak berkarakter, sehingga berdampak negatif terhadap
pengelolaan negara, korporasi, sistem hukum, yang akhirnya akan menurunkan
daya saing Indonesia, dan seterusnya membuat Indonesia terpuruk secara sosial,
ekonomi, dan budaya. Sebenarnya, semua masalah bangsa tersebut bermula dari
sebuah kualitas karakter. Krisis multidimensi sebenarnya berakar pada rendahnya
kualitas moral bangsa yang ditandai dengan membudidayanya praktek Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme (KKN), konflik (antar etnis, agama, politisi, remaja, dan
antar daerah), meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, dan banyak
lagi. Budaya korupsi yang merupakan praktik pelanggaran moral (ketidakjujuran,
tidak bertanggung jawab, rendahnya disiplin, rendahnya komitmen kepada nilai-
4



nilai kebaikan), adalah penyebab utama negara kita sulit untuk bangkit dari krisis
ini.
Untuk menjawab masalah tersebut, pendidikan merupakan lembaga yang
mempunyai potensi besar dalam memberikan solusi (problem solver). Salah satu
lembaga pendidikan yang peduli terhadap pendidikan karakter diantaranya adalah
pesantren modern al-Aqsha. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah
dilaksanakan oleh penulis (06/10/11.14.00 WIB), pesantren modern al-Aqsha
mempunyai program-program yang bertendensi membangun karakter santrinya
(character building). Program-program tersebut memberikan nilai-nilai
kedisiplinan dan pembiasaan karakter yang baik, seperti membiasakan bangun
pagi, salat berjamaah, membaca al-Quran, menegakkan kedisiplinan,
membersihkan lingkungan, melayani teman yang sedang sakit, menegakkan
hukum atau peraturan pesantren dan kegiatan lainnya yang bermuatan nilai
pembentukkan karakter (character building value).
Ditinjau dari waktu penerapannya, program-program yang bernilai
pendidikan karakter tersebut diterapkan pesantren modern al-Aqsha secara utuh
(holistic), dimulai ketika para santri bangun tidur sampai mereka beranjak ke
tempat tidur lagi.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas tentang pentinganya
penerapan pendidikan karakter secara holistik, maka penulis tertarik mengadakan
penelitian terhadap penerapan pendidikan karakter pada suatu lembaga pendidikan
yang akan disajikan dengan judul: “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN
5



KARAKTER DI PESANTREN MODERN AL-AQSHA “ (Studi Deskriptif
pada Program Pesantren Modern Al-Aqsha Jatinangor ).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah
penelitian adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep pendidikan karakter di pesantren modern al-Aqsha?
2. Bagaimana implementasi pendidikan karakter di pesantren modern al-Aqsha?
3. Apa pendukung dan kendala implementasi pendidikan karakter di pesantren
modern al-Aqsha?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dan kegunaan
penelitian adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Penelitian
a) Mengetahui konsep pendidikan karakter di pesantren modern al-Aqsha.
b) Mengidentifikasi implementasi pendidikan karakter di pesantren modern
al-Aqsha.
c) Mengetahui pendukung dan kendala implementasi pendidikan karakter di
pesantren modern al-Aqsha.
2. Kegunaan penelitian
a) Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
keilmuan dalam bidang pendidikan umumnya, maupun pada Pendidikan
Agama Islam khususnya.
6



b) Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memperoleh informasi bagi
pihak pesantren khususnya dan lembaga pendidikan secara umumnya,
mengenai penerapan pendidikan karakter dalam hal ini harus diterapkan
secara holistik.
D. Kerangka Pemikiran
Pendidikan merupakan keniscayaan, diantaranya adalah dalam rangka
membina kualitas hati (heart) sebagai arti konotasi dari moral atau karakter.
Menurut ahmad Tafsir, salah satu tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia
memiliki rohani yang berkualitas tinggi (Uus Ruswandi, 2008:25). Syaibani
mengemukakan manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu jasmani, akal, dan ruhani.
Oleh karenanya, pendidikan harus diorientasikan untuk mengembangkan ketiga
unsur tersebut. Begitu juga dengan Marthin Luther King menyetujui pemikiran
tersebut dengan mengatakan, “Intelligence plus character, that is the true aim of
education.” Kecerdasan plus karakter, itulah tujuan yang benar dari pendidikan
(A. Majid & Dian 2011: 2 &75).
Berbicara tentang urgensi pendidikan karakter tersebut, pendidikanlah
yang menjadi media pembentukkan karakter bangsa ini. Menurut Herbert Spencer
“Education has for its object the formation of character”, (Pendidikan
mempunyai sasarannya pembentukan karakter). Kemudian, Mahatma Gandhi
mengatakan: “Birth and observanceofforms cannot determine one‟s superiority or
inferiority. Character is the only determining factor”. ” Kelahiran dan
menjalankan ritual fisik tidak dapat menentukan derajat baik dan buruk seseorang.
7



Kualitas karakterlah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang. (Ratna
Megawangi, 2004:2, 77)
Yang menjadi orientasi pendidikan karakter adalah aspek emosional atau
afektif, bukan pemahaman kognitif saja. Pendidikan karakter lebih cenderung
terhadap kecerdasan emosi otak kanan, yakni kompetensi sikap hati (heartstart),
berbeda dengan paradigm focus pendidikan dahulu yang cenderung terhadap
kecerdasan otak kiri, atau IQ (headstart). Dengan prioritas orientasi pendidik
terhadap aspek emosional (heartstart), setiap individu bangsa ini diharapkan
mempunyai kualitas moral yang unggul sebagai dasar pembangunan bangsa ini
dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Channing
(Ratna Megawangi, 2004: 17) bahwa “harapan besar masyarakat adalah kualitas
akhlak setiap individu” (The great hope of society is individual character).
Mengenai implementasi pendidikan karakter, Murip Yahya (2010:56)
mengatakan bahwa pendidikan keluarga (informal) merupakan pendidikan
pertama dan utama. Orang tua memegang peranan utama dalam memikul
tanggung jawab pendidikan anak dengan pemeliharaan dan pembiasaan. Orang
tua juga untuk pertama kalinya mereka menanamkan pendidikan yang pertama
dengan anak. Selanjutnya, pendidikan masyarakat (nonformal) merupakan
lingkungan ketiga setelah keluarga dan sekolah dengan tugas membantu anak
untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari
pendidikan sekolah.
Berdasarkan hal tersebut, maka pendidikan karakter tidak akan efektif jika
hanya diterapkan di sekolah saja. Pendidikan karakter harus pula diterapkan di
8



lingkungan keluarga dan pergaulan (masyarakat) secara sinergis. Pendidikan
karakter di sekolah dikontrol oleh para guru. Pendidikan karakter di keluarga
dikontrol oleh kedua orang tua. Pendidikan karakter di masyarakat dikontrol oleh
(tokoh) masyarakat.
Karakter dapat dibentuk dengan adanya suatu kebiasaan yang dilakukan
secara berulang-ulang yang didahului oleh kesadaran dan pemahaman. Dengan
demikian sebagai orang tua maka berkewajiban untuk membantu anak dalam
pembentukan karakter yang baik mulai sejak dini, diawali dengan pembentukan
karakter dalam lingkungan keluarga, sekolah dan juga lingkungan, termasuk di
sini penyelenggara pendidikan oleh pesantren.
Dalam konteks implementasi pendidikan karakter di pesantren, teman,
pengurus dan keluarga pesantren dapat dikatakan sebagai esensi dari tri pusat
pendidikan yang telah disebutkan sebelumnya.Karena merekalah yang memiliki
intensitas interaksi terhadap anak yang dapat menjadi faktor perkembangan
santri.Dalam hal ini penyelenggara pendidikan berperan penuh sebagai
pembangun citra atau karakter santri.Stake holder pesantren dapat mendesain
pendidikan seindah mungkin, dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya-
dalam hal ini pendidikan karakter-.
Seorang penyelenggara pendidikan harus memposisikan dirinya sebagai
seorang figur yang berkarakter terlebih dahulu, termasuk dalam hal ini guru.
Seorang guru dapat menjadi figur yang dapat ditiru oleh seorang anak ketika ia
berinteraksi. Thomas Lickona mengatakan bahwa “values are caught”, yang
9



terjemahan bebasnya adalah nilai-nilai yang ditangkap anak adalah melalui contoh
dari guru atau orang tuanya (Ratna Megawangi, 2004: 161) .
Lingkungan internal pesantren harus mendukung terhadap perkembangan
karakter anak. Karena, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter
apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap
anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Tentunya ini
merupakan usaha yang menyeluruh yang dilakukan oleh semua pihak; (Ratna
Megawangi, 2004:62) dalam hal ini adalah penghuni dan pengelola pesantren .
Adapun nilai-nilai dasar yang dibina dalam pendidikan karakter menurut
Ari Ginanjar Agustian (Abdul majid & Dian A, 2011:43) dengan teori ESQ
menyodorkan pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan
merujuk kepada sifat-sifat mulia Allah, yaitu al-Asma al-Husna. Sifat-sifat dan
nama-nama mulia Tuhan inilah sumber inspirasi setiap karakter positif yang
dirumuskan oleh siapapun. Dari sekian banyak karakter yang biasa diteladani dari
nama-nama Allah itu, Ari merangkumnya dalam tujuh karakter dasar, yaitu: 1)
jujur; 2) tanggung jawab; 3) disiplin; 4) visioner; 5) adil; 6) peduli; 7) kerja sama.
Berdasarkan uraian di atas, maka kerangka pemikiran penelitian ini dapat
dilihat pada skema dibawah ini :








Pendidikan karakter
Konsep dan teori penerapan
pendidikan karakter menurut
para ahli
Penerapan pendidikan
karakter secara
holistik

Penerapan pendidikan
karakter di pesantren
Pendidikan
Kondisi alamiah Pendidikan
karakter di pesantren
Esensi penerapan
pendidikan karakter
10



Gambar 1. Skema kerangka pemikiran penelitian
Keterangan gambar:

: Penjabaran konsep/ realitas
: Hasil cross check
: Cross check dengan para ahli
Dari sudut pandang pendidikan, dihimpunlah beberapa teori/ konsep dan
realitas yang ada di Pesantren Modern al-Aqsha mengenai penerapan pendidikan
karakter secara holistik . Teori/ konsep dan realitastersebut dikumpulkan dan
hasilnya akan dikomparasikan satu sama lain. Berdasarkan sejumlah langkah
tersebut, dapat diketahui keserasian antara teori pendidikan karakter menurut para
pakar dengan penerapan pendidikan karakter di Pesantren Modern al-Aqsha.
E. Langkah-langkah Penelitian
1. Menentukan Tempat Penelitian
Adapun yang menjadi tempat penelitian adalah Pesantren Modern al-
Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang.
2. Menentukan Metode
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif karena,
permasalahan belum jelas, holistik, kompleks, dinamis dan penuh makna sehingga
tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut dijaring dengan menggunakan
metode penelitian kuantitatif dengan instrument seperti test dan kuesioner
(Sugiyono, 2010: 399).
11



Sugiyono (2010:15) mengatakan bahwa metode penellitian kualitatif
adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya
adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan
sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik
pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/
kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
generalisasi.
3. Menentukan Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland (Moleong, 2011: 157) sumber data utama
dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
Data-data yang dikumpulkan berasal dari pengurus dan siswa pesantren
modern al-Aqsha secara purposive dan snowball (primer) yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data dan sumber-sumber lainnya yang
relevan dengan pembahasan penelitian seperti dokumen, baik berupa buku,
majalah,karya tulis, e-book, (sekunder) yang tidak langsung memberikan data
kepada pengumpul data (Sugiyono, 2010:15).
4. Menentukan Strategi Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan studi deskriptif. Studi
deskriptif menuturkan dan menafsirkan data yang berkenaan dengan fakta,
keadaan, variable, dan fenomena yang terjadi saat penelitian berlangsung dan
menyajikannya apa adanya. Pada penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan
12



pengontrolan keadaan saat penelitian berlangsung, seperti pemberian treatment,
dan kontrol terhadap variabel luar. (Subana & Sudrajat, 2001: 89)
5. Menentukan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural
setting (kondisi alamiah), sumber data primer dari pesantren modern al-Aqsha dan
teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participan
observation), wawancara mendalam (in depth interview), dokumentasi dan
gabungan / triangulasi (Sugiyono, 2010: 309)
6. Menentukan Instrumen Penelitian
Moleong (2011:168) mengatakan bahwa kedudukan peneliti dalam
penelitian kualitatif merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis,
penafsir data, dan akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Oleh karena
itu, Sugiyono (2010:305) menyebutkan bahwa yang menjadi instrument atau alat
penelitian adalah peneliti itu sendiri (human instrument) .
7. Analisis Data dan Membuat Kesimpulan
Bogdan (Sugiyono, 2010: 334) menyatakan bahwa analisis data adalah
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah
dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.
Proses analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan
data secara interaktif, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data
menurut Model Miles and Huberman, yaitu data reduction (merangkum dan
memilih hal-hal yang pokok), data display (membuat uraian singkat, bagan,
13



hubungan antar kategori, dan sejenisnya), dan conclusion drawing/ verification
(penarikan kesimpulan). (Sugiyono, 2010: 337).
8. Mementukan Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data adalah mengadakan pemeriksaan terhadap keabsahan
data yang terkumpul. Hal ini dilakukan berdasarkan kepada kriteria derajat
kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan
(dependability), dan kepastian (confirmability) (Lexy J. Moleong, 2007: 324).
Cara yang ditempuh adalah sebagai berikut:
a. Perpanjangan keikutsertaan; dilakukan dengan cara tinggal di lokasi dan
terlibat langsung dalam kegiatan dengan waktu/ frekuensi yang cukup lama.
Perpanjangan keikutsertaan ini dilakukan mulai taggal 17 Mei sampai
Agustus 2012.
b. Triangulasi; dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian dengan sumber,
teknik, penyelidikan dan teori yang berbeda. Misalnya hasil wawancara
dengan pengamatan, informasi dari seseorang informan dengan informasi dari
orang lain, data dan realita.
c. Pengecekan sejawat; dilakukan dengan cara diskusi analitik dengan sejawat.
Dalam hal ini sesama ahli/ peneliti atau dosen pembimbing.
d. Uraian rinci; dilakukan dengan cara mengurai hasil-hasil penelitian secara
rinci, teliti dan cermat sehingga tergambar konteks tempat penelitian
dilakukan yang terkadang menjadi uraian tabel.




BAB II
TEORI DAN ESENSI PENDIDIKAN KARAKTER

A. Definisi dan Tujuan Pendidikan
1. Definisi Pendidikan
Secara etimologi bahasa Arab (Al-Quran dan Hadits), pendidikan dapat
diterjemahkan pada istilah “tarbiyah, ta‟lim, dan ta‟dib”. Ketiga istilah memiliki
makna yang berbeda, walaupun ketiganya saling melengkapi. Makna tarbiyah
memiliki tiga akar kebahasaan, yaitu: Pertama, yang memiliki arti tambah dan
berkembang; Kedua, yang memiliki arti tumbuh dan menjadi besar; Ketiga, yang
memiliki arti memperbaiki, menguasai urusan, memelihara, merawat dan
menunaikan. Selanjutnya, istilah ta‟lim mengandung arti proses transmisi ilmu
pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
Adapun istilah ta‟dib mengandung pengertian pendidikan kepribadian, sopan
santun dan penanaman akhlak. (Murip Yahya:2010: 11)
Pendidikan disebut juga dengan istilah pedagogi, yaitu suatu kegiatan
atau aktivitas yang sedang dilakukan, dapat berupa tindakan pendidikan, seperti
menasihati, menegur, dan sebagainya, yang bertujuan untuk mencapai suatu
tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan ilmu untuk dapat melakukan aktivitas
tersebut dikenal dengan istilah pedagogik (berasal dari bahasa Inggris: pedagogic)
atau ilmu mendidik. Pedagogik atau pedagogia, berasal dari kata Yunani, yaitu
paedagogiek, kata turunan dari kata yang hampir sama dengan sebelumnya, yaitu
15



paedagogia, paedagogia, yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Paedagogia
berasal dari kata paes, berarti anak dan ago, berarti saya membimbing atau
memimpin. Sedangkan paedagogos adalah seorang laki-laki atau bujang dari
zaman Yunani Kuno, yang berkewajiban membawa anak-anak ke sekolah.
Menurut terminologi, pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan
terencana untuk membantu perkembangan potensi pada kemampuan manusia agar
bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang indvidu dan sebagai
warga negara/ masyarakat, dengan memiliki isi (materi), strategi kegiatan dan
teknik penilaian yang sesuai. Pendidikan dipandang mempunyai peranan yang
besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan manusia. (Jalaludin
dalam Uus Ruswandi, 2008:6) Alferd North Whitehead mengambil pengertian
pendidikan adalah pembinaan keterampilan menggunakan pengetahuan (Ahmad
Tafsir. 2008: 26)
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 bab I ayat 1 dinyatakan bahwa pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan
masyarakat.
Dalam Dictionary of Psychology (1972) pendidikan diartikan sebagai …
the institutional procedures which are employed in accomplishing the
development of knowledge, habits, attitudes, etc. Usually the term is applied to
formal institution. Jadi, pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat
16



kelembagaan (seperti sekolah dan madrasah) yang dipergunakan untuk
menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan,
kebiasaan, sikap, dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal
dan nonformal di samping secara formal seperti di sekolah, madrasah, dan
institusi-institusi lainnya. Bahkan, menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat
berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction).(Muhibbin Syah,
2010:11)
Redja Mudyaharjo dalam Murip Yahya (2010: 14-15) berpendapat
bahwa pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi dua pengertian.
1. Pendidikan dalam arti sempit, pendidikan adalah sekolah atau persekolahan
(schooling). Sekolah adalah pendidikan formal sebagai hasil rekayasa dari
peradaban manusia, di samping keluarga, dunia kerja, negara, dan lembaga
keagamaan. Pendidikan dalam arti sempit melahirkan karakteristik tersendiri,
yaitu:
a. Pendidikan tidak berlangsung seumur hidup, tetapi berlangsung dalam
jangka waktu yang terbatas;
b. Pendidikan tidak berlangsung dimanapun dalam lingkungan hidup, tetapi
di tempat tertentu yang telah ditentukan dan direkayasa;
c. Pendidikan lembaga formal yang terstruktur dan diciptakan khusus untuk
menyelenggarakan kegiatan pendidikan tertentu;
d. Bentuk-bentuk kegiatan pendidikan berorientasi pada isi pendidikan yang
terprogram dalam bentuk sebuah kurikulum;
17



e. Tujuan pendidikan tidak melekat bersatu dalam setiap proses pendidikan,
tetapi dirumuskan sebelum proses pendidikan berlangsung.
2. Pendidikan dalam arti luas. Pendidikan diartikan pengalaman belajar
seseorang atau keseluruhan belajar setiap orang sepanjang hidupnya.
Pendidikan dalam arti luas ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Tempat berlangsungnya pendidikan tidak terbatas;
b. Tidak ada batas waktu dan tempat;
c. Tidak dibatasi oleh kurikulum.
3. Pendidikan dalam arti luas terbatas. Pendidikan diartikan dalam pengertian
formal dan mengakui adanya pendidikan luar sekolah. Karakteristik
pendidikan luas terbatas adalah :
a. Pendidikan berlangsung di luar sekolah dan luar sekolah;
b. Pengalaman luar sekolah dan dikembangkan di sekolah atau sebaliknya;
c. Proses pendidikan di sekolah berlangsung proses komunikasi insan dua
arah atau timbal balik.
Lepas dari pendidikan dalam arti sempit, luas dan luas terbatas,
pengertian pendidikan yang telah dirumuskan tokoh pendidikan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa pendidikan mengandung unsur-unsur berikut ini :
1. Usaha, pendidikan mengandung unsur adanya usaha yang perlu dilakukan;
2. Tujuan, pendidikan adalah sebuah proses yang mempunyai tujuan;
3. Lingkungan, pendidikan adalah proses yang berlangsung dalam suatu
lingkungan tertentu;
4. Kesengajaan, pendidikan adalah aktivitas yang disengaja.
18



Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha
atau aktivitas yang disengaja dan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak
didik yang di dalamnya terlibat berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu
dengan yang lainnya, sehingga membentuk suatu sistem yang saling
mempengaruhi.
2. Tujuan Pendidikan
Dengan mengetahui definisi pendidikan di atas, maka tujuan pendidikan
adalah menciptakan manusia yang berkualitas, mempunyai baik manusia maupun
dengan Tuhan dan makhluk-Nya. Mempunyai kompetensi intelektual, emosional,
an spiritual yang cerdas dan bernilai.
Sebagaimana dikutip dari Uus Ruswandi, dkk. (2008: 128) pendidikan
tidak semata-mata hanya berorientasi pada cita-cita intelektual saja. Namun juga
tidak melupakan nilai-nilai ketuhanan, individual dan sosial. Artinya, proses
pendidikan di samping akan menuntut dan memancing potensi intelektual
seseorang, juga menghidupkan dan mempertahankan unsur manusiawi dalam
dirinya dengan landasan iman dan taqwa.
Menurut Jalaludin dan Abdullah Idi (1997), pada perjalanan proses
pendidikan, peranan efektif terhadap pembinaan kepribadian manusia dapat
melalui lingkungan dan juga didukung oleh faktor pembawaan sejak lahir. Pada
dasarnya, tujuan pendidikan untuk manusia guna membina kepribadian manusia
itu sendiri agar lebih sempurna. Sempurna disini mempunyai kriteria oleh masing-
masing pribadi, masyarakat, bangsa, satu tempat dan waktu. Pendidikan yang
terutama dianggap sebagai transfer kebudayaan, pengembangan ilmu pengetahuan
19



akan membawa manusia mengerti dan memahami lebih luas tentang masalah yang
dihadapinya. (Uus Ruswandi, dkk, 2008: 19-20)
Kemudian Paulo Freire mengatakan bahwa tujuan pendidik ialah
membentuk manusia transitif (kemampuan menangkap dan menanggapi masalah-
masalah lingkungan serta kemampuan berdialog tidak hanya dengan sesama,
tetapi dengan dunia beserta segala isinya). (Made Pidarta, 2007: 18)
Dengan mengetahui tujuan pendidikan menurut para pakar di atas, dapat
disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membina potensi diri dan
kepribadian manusia untuk menjadi manusia yang lebih baik.
B. Definisi Karakter dan Pendidikan Karakter
1. Definisi Karakter
Winnie yang dipahami oleh Ratna Megawangi, menyampaikan bahwa
istilah karakter diambil dari bahasa Yunani yang berarti „to mark‟ (menandai).
Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Ada dua pengertian
tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku.
Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus tentulah orang
tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang
berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan
karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan dengan
„personality‟. Seseorang baru bisa disebut „orang yang berkarakter‟ (a person of
character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah normal. . (Ratna Megawangi,
2004: 80)
20



Sementara itu, definisi karakter menurut Victoria Neufeld & David B.
Guralnik adalah „distinctive trait, distinctive quality, moral strength, the pattern of
behavior found in an individual or group‟. (Masnur Muslich 2011: 71) Dengan
kata lain bahwa karakter adalah ciri khusus, kualiatas khusus, kekuatan moral, dan
pola perilaku yang tertanam dalam individu atau kelompok.
Menurut pendapat lain, karakter berasal dari bahasa Latin “kharakter”,
“kharassein”, “kharax”, dalam bahasa Inggris: character dan Indonesia
“karakter”, Yunani character, dari charassein yang berarti membuat tajam,
membuat dalam. Dalam kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat,
watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang
dengan yang lain. Nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal
seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan,
kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.
Menurut Hornby & Parnwell (1972) karakter adalah kualitas mental atau
moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Hermawan Kertajaya (2010)
mendefinisikan karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau
individu. Ciri khas tersebut adalah “asli” dan mengakar pada kepribadian benda
atau individu tersebut dan merupakan „mesin‟ pendorong bagaimana seorang
bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu. (Abdul M. & Dian A., 2011:
11)
Dalam istilah bahasa Arab karakter ini mirip dengan akhlak (akar kata
khuluk), yaitu tabiat atau kebiasaan melakukan yang baik. AlGhazali
21



menggambarkan bahwa akhlak adalah tingkah laku seseorang yang berasa; dari
hati yang baik. (Ratna Megawangi, 2004: 25)
Simon Philips (2008) mengungkapakan bahwa karakter adalah kumpulan
tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan
perilaku yang ditampilkan. Sementara Koesoema A (2007) menyatakan bahwa
karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai “ciri atau
karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari
bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa
kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.” Menurut Suyanto, karakter adalah
cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang biasa membuat keputusan
dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Imam Ghazali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu
spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam
diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Dengan
demikian, karakter bangsa sebagai kondisi watak yang merupakan identitas
bangsa. (Masnur Muslich 2011: 70)
Istilah karakter dan kepribadian atau watak sering digunakan secara
bertukar-tukar, tetapi Allport menunjukkan kata watak berarti normatif, serta
mengatakan bahwa watak adalah pengertian etis dan menyatakan bahwa character
is personality evaluated and personality is character devaluated (watak adalah
kepribadian yang dinilai, dan kepribadian adalah watak yang tak dinilai).
22



Karakter adalah watak, sifat, atau hal-hal yang memang sangat mendasar
yang ada pada diri seseorang. Hal-hal yang sangat abstrak yang ada pada diri
seseorang. Sering orang menyebutnya dengan tabiat atau perangai.
Apa pun sebutannya, karakter ini adalah sifat batin manusia yang
mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatannya. Banyak yang memandang atau
mengartikannya identik dengan kepribadian. Karakter ini lebih sempit dari
kepribadian dan hanya merupakan salah satu aspek kepribadian sebagaimana juga
temperamen. Watak dan karakter berkenaan dengan kecenderungan penilaian
tingkah laku individu berdasarkan standar-standar moral dan etika.
Sikap dan tingkah laku seorang individu dinilai oleh masyarakat
sekitarnya sebagai sikap dan tingkah laku yang diinginkan atau ditolak, dipuji atau
dicela, baik ataupun jahat.
Dengan mengetahui adanya karakter (watak, sifat, tabiat ataupun
perangai) seseorang dapat memperkirakan reaksi-reaksi dirinya terhadap berbagai
fenomena yang muncul dalam diri ataupun hubungannya dengan orang lain,
dalam berbagai keadaan serta bagaimana mengendalikannya.
Karakter dapat ditemukan dalam sikap-sikap seseorang, terhadap dirinya,
terhadap orang lain, terhadap tugas-tugas yang dipercayakan padanya dan dalam
situasi-situasi yang lainnya.
Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki
perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang
terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan
23



dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan. (Abdul M. & Dian
A., 2011: 12)
Sebagaimana diungkapkan oleh Ryan dan Bohlin, karakter disini
mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good),
mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).
(Abdul M. & Dian A., 2011: 11) Maka dapat disimpulkan bahwa karakter adalah
kepribadian atau watak yang bertendensi terhadap nilai-nilai kebaikan yang telah
tertanam dalam jiwa individu.
2. Definisi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pertama kali dicetuskan oleh pedagog Jerman F.W.
Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-
spiritual dalam proses pembentukan pribadi. Tujuan pendidikan, menurut
Foerster, adalah untuk pembentukan karakater yang terwujud dalam kesatuan
esensial antara si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. (Doni
Koesoema A, 2007:44)
Ratna Megawangi (2004: 95) mendefinisikan bahwa pendidikan karakter
merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil
keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari,
sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada
lingkungannya. Nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan kepada anak-anak
adalah nilai-nilai universal yang mana seluruh agama, tradisi, dan budaya pasti
menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai universal ini harus menjadi
24



perekat bagi seluruh anggota masyarakat walaupun berbeda latar belakang
budaya, suku, dan agama.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kaesadaran, atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan
karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school
life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di
sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga
sekolah/ lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu
perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus
berkarakter.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah sesuatu yang
dilakukan guru, yang mampu memengaruhi karakter peserta didik. Guru
membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan
bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi,
bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. (Aan H, 2012:44)
Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan
makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya
25



adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga
masyarakat, dan warga negara yang baik. (Jamal M. Asmani, 2011:32)
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter
merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma,
budaya, dan adat istiadat.
3. Diskursus Pendidikan Karakter dan Pendidikan Akhlak
Setelah mengetahui pengertian pendidikan karakter tersebut, terdapat
istilah pendidikan akhlak dalam pendidikan Islam. Hal ini memerlukan sekilas
pembahasan dalam hubungannya dengan pendidikan karaker.
Akhlak merupakan sifat yang melekat dalam diri seseorang, dan dari sifat
itu memunculkan berbagai perbuatan yang dilakukan secara spontan, alami,
mudah, sehingga tidak lagi perlu pertimbangan (D. Nurulhaq, 2009: 2). Sehingga
pendidikan akhlak menurut Ibn Miskawaih (Abdul majid & Dian A, 2011:10)
merupakan upaya terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara
spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Dalam
pendidikan akhlak ini, kriteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang
muncul merujuk pada Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber tertinggi ajaran
Islam.
26



Dalam hubungannya kenapa dalam penulisan ini mengambil istilah
„pendidikan karakter‟, terdapat dua sudut pandang (Abdul majid & Dian A,
2011:14). Pertama, Pendidikan karakter lebih tinggi daripada pendidikan akhlak
(moral), karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang
salah. Lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation)
tentang yang baik sehingga siswa didik menjadi paham, mampu merasakan, dan
mau melakukan yang baik. Menurut Ratna Megawangi, moral adalah
pengetahuan seseorang terhadap hal yang baik atau buruk. Sedangkan karakter
adalah tabiat seseorang yang langsung di-drive oleh otak.
Kedua, istilah pendidikan karakter datang sebagai bentuk kritik dan
kekecewaan terhadap praktik pendidikan akhlak (moral) selama ini walaupun
secara substansial, keduanya tidak memiliki perbedaan yang prinsipil.Walaupun
demikian, Ya‟kub (Abdul majid & Dian A, 2011:15) mengatakan bahwa karakter
(etika, moral) memiliki perbedaan dengan akhlak sebagai berikut:
1. Akhlak (etika Islam) menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran
baik buruknya perbuatan, didasarkan pada ajaran Allah Swt. (Al-Quran) dan
ajaran Rasul-Nya (Sunnah).
2. Akhlak bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima oleh seluruh
manusia di segala waktu dan tempat.
3. Akhlak mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang
luhur dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran sinar petunjuk
Allah Swt. menuju keridhaan-Nya.
27



C. Pengertian Pesantren
Pesantren atau pondok merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam,
di mana asrama sebagai tempat para santri belajar mengaji dan ilmu-ilmu agama
Islam kepada seorang kiai. (Abu Muhammad FH. & Zainuri S,2009:232)
Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa pesantren,pondok pesantren, atau
sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sekolah Islam berasrama yang
terdapat di Indonesia. Pendidikan di dalam pesantren bertujuan untuk
memperdalam pengetahuan tentang Al-Quran dan Sunnah Rasul, dengan
mempelajari bahasa arab dan kaidah-kaidah tata bahasa-bahasa Arab. Para pelajar
pesantren (disebut sebagai santri) belajar di sekolah ini, sekaligus tinggal pada
asrama yang disediakan oleh pesantren. Institusi sejenis juga terdapat di negara-
negara lainnya; misalnya di Malaysia dan Thailand selatan yang disebut sekolah
pondok, serta di India dan Pakistan yang disebut madrasa Islamia.
D. Ruang Lingkup Pendidikan Karakter
Secara tidak disadari secara normatif, banyak sekolah yang telah
menerapkan program pendidikan karakter. Sekolah menerapkan nilai-nilai
kebaikan dan kedisiplinan terhadap anak didiknya. Sekolah menerapkan kegiatan-
kegiatan yang dapat membangun karakter (character buiding) anak didiknya.
Oleh karena itu perlu adanya pengakajian kembali tentang scope (ruang lingkup)
pendidikan karakter ini.
Berbicara tentang ruang lingkup pendidikan karakter , sebagaimana
disarankan Philips (2000), pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-
mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman
28



moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti, yang luhur dan lalin sebagainya.
Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada
yang melanggar, menumbuhsuburkan (cherising), nilai-nilai yang baik dan
sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang
buruk. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character base
education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping
mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter, seperti pelajaran Agama, Sejarah,
Kewarganegaraan, dan sebagainya. (Bambang N. dalam Masnur Muslich, 2011:
52)
1. Karakteristik Dasar Pendidikan Karakter
Menurut Foerster dalam (Masnur Muslich, 2011:127), pencetus
pendidikan karakter dan pedagog Jerman, ada empat ciri dasar dalam pendidikan
karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur
berdasarkan hierarki nilai. Kedua, koherensi yang memberikan keberanian, yang
membuat seseorang teguh prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi
baru atau takut resiko. Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan
aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai pribadi. Keempat, keteguhan dan
kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang
dipandang baik; dan setia merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen
yang dipilih.
2. Kurikulum Holistik
Dalam menerapkan pendidikan karakter memerlukan implementasi
tehadap kurikulum yang disebut dengan kurikulum holistik atau kurikulum
29



holistik berbasis karakter. Adapun menurut John Dewey yang dikutip oleh Ratna
Megawangi (2004: 119) mengatakan bahwa sekolah yang tidak mempunyai
program pendidikan karakter tetapi dapat memberikan suasana lingkungan
sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai moral, sekolah tersebut mempunyai
pendidikan moral yang disebut hidden curriculum (kurikulum tersembunyi).
Namun dengan cara ini belum cukup. Menurut Marvin W. Berkowitz, pendidikan
karakter di sekolah yang dianggap efektif adalah dengan menggunakan kurikulum
pendidikan karakter formal, atau kurikulum yang secara eksplisit mempunyai
tujuan pembentukan karakter anak. Selain itu, sekolah juga harus mempunyai visi
dan misi yang bertujuan membentuk anak yang berkarakter.
Dengan kata lain, pendidikan karakter yang utama adalah dengan
mengintegrasikannya terhadap kurikulum pendidikan secara holistik.
Sebagaimana dikatakan Masnur Muslich( 2011: 32) bahwa untuk mencapai tujuan
pendidikan karakter yang utuh perlu ditunjang oleh kurikulum yang
mendukungnya, yaitu “Kurikulum Holistik”. “Kurikulum Holistik” atau
“Kurikulum Holistik Berbasis Karakter” (Character-based Integrated
Curriculum) merupakan kurikulum terpadu yang “menyentuh” semua aspek
kebutuhan anak.Sebuah kurikulum yang terkait, tidak berkotak-kotak dan dapat
merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang
menarik dan kontekstual. Bidang-bidang pengembangan yang ada di setiap satuan
pendidikan dikembangkan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait
dengan pendidikan personal dan sosial, pengembangan berpikir/ kognitif,
pengembangan karakter, dan pengembangan persepsi motorik dapat teranyam
30



dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu
dan menyeluruh (holistik).
3. Paradigma Fokus Pendidikan
Sistem pendidikan Negara Indonesia cenderung menuntut terhadap
kualitas kecerdasan kognitif saja. Terlihat ketika pemberian penghargaan prestasi
diraih oleh siswa-siswa yang cerdas secara kognitif saja. Masnur Muslich
(2011:21) mengatakan bahwa barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa
sistem pendidikan di Indonesia sebetulnya hanya menyiapkan para siswa untuk
masuk ke jenjang perguruan tinggi atau hanya untuk mereka yang memang
mempunyai bakat dan potensi akademik (ukuran IQ tinggi) saja. Hal ini terlihat
dari bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi
akademik siswa yang sering hanya diukur dengan kemampuan logika-matematika
dan abstraksi (kemampuan bahasa,menghafal, abstraksi atau ukuran IQ). Padahal,
banyak potensi lainnya yang perlu dikembangkan. Berdasarkan teori Howard
Gardner tentang kecerdasan majemuk, potensi akademik hanyalah sebagian saja
dari potensi-potensi lainnya.
Dengan semakin disadari akan pentingnya pembentukkan karakter
sebagai solusi pendidikan sejak dini, di dunia internasional sudah ada perubahan
paradigma fokus pendidikan, dari apa yang disebut era “Headstart” (lebih
mementingkan kecerdasan otak kiri, atau IQ) ke arah era “Heartstart”
(mementingkan kecerdasan emosi otak kanan). Era “Headstart” menekan anak
“harus bisa”, sehingga ada kecenderungan anak dipaksa untuk belajar terlalu dini
(early childhood training). Akibatnya, banyak terjadi kasus-kasus antisocial
31



personality disorder, learning disability, dan masalah-masalah lainya. Indikator
yang terlihat adalah kualitas lulusan rendah, tingkat stress remaja tinggi, tawuran,
dan sebagainya. (David Elkind dikutip oleh Ratna Megawangi, 2004:40)
Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi ciri pendidikan karakter yaitu
perubahan orientasi pendidikan atau paradigma fokus pendidikan. Berubahnya
sasaran pembinaan pendidikan yang cenderung terhadap headstart menuju
heartstart.
4. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter mempunyai nilai tambah (added value) dibanding
bentuk pendidikan yang berlaku sekarang ini.Oleh karena itu, pendidikan karakter
mempunyai prinsip-prinsip sebagaimana Character Education Quality Standards
merekomendasikan sebelas prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter yang
efektif, sebagai berikut.
1. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter;
2. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup
pemikiran, perasaan, dan perilaku;
3. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif, dan efektif utuk
membangun karakter;
4. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian;
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang
baik;
32



6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang
yang menghargai semua siswa, membangun karakter mereka, dan
membantu mereka untuk sukses;
7. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para siswa;
8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi
tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia kepada nilai dasar
yang sama;
9. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam
membangun inisiatif pendidikan karakter;
10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam
usaha membangun karakter;
11. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru
karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan siswa.

5. Nilai-nilai Karakter yang Perlu Ditanamkan
Perdebatan tentang nilai-nilai apa yang harus diajarkan dalam pendidikan
karakter terdapat dua kubu pendapat yang saling berbeda yaitu kubu moral
relativism dan moral absolute.
Mereka yang menganut moral relativism berpandangan bahwa moral
baik dan buruk adalah tergantung bagaimana individu mendefinisikannya (whose
values). Kubu ini menggunakan metode pendidikan karakter dengan cara “value
clarification or moral reasoning” tanpa menerapkan standar baik dan buruk, dan
biasanya dilakukan dengan cara diskusi di kelas. Prinsip moral, baik itu yang
33



berasal dari agama, budaya, atau sosial politik, adalah bukan suatu yang innate,
alami, atau mengandung makna keabadian, tetapi suatu yang dikonstruksikan oleh
lingkungan sosial. Berhubung manusia bisa beragam latar belakang sosialnya,
maka nilai-nilai yang dianut juga beragam.
Namun William Kilpatrick (1992) mengkritik hal tersebut. Cara pandang
tersebut dianggap menjadi penyebab terjadinya dekadensi moral pada remaja
Amerika, karena anak tidak mengetahui mana moral yang baik dan mana yang
buruk. Oleh karena itu, anak perlu diperkenalkan standar etika dan moral. Kubu
moral absolute yang dianggap kubu konservatif ini percaya bahwa ada standar
moral yang berlaku universal (absolut universal atau moral universal) dimana
setiap agama dan budaya pasti mengakuinya. Common values seperti konsep
benar dan salah, reward and punishment, keadilan (natural justice), cinta
kebajikan (loving indness) dan moral universal lainnya dapat menjadi perekat
yang efektif pada masyarakat heterogen sehingga akan tercipta relasi sosial yang
harmoni. (Ratna Megawangi, 2004: 97-101)
Adapun nilai-nilai dasar yang menjadi common value tersebut dalam
Abdul majid & Dian A (2011:43), diantaranya Indonesian Heritage Foundation
merumuskan Sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter.
Kesembilan karakter tersebut yaitu:
1. cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya;
2. tanggung jawab, disiplin dan mandiri;
3. jujur;
4. hormat dan santun;
5. kasih sayang, peduli, dan kerja sama;
34



6. percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah;
7. keadilan dan kepemimpinan;
8. baik dan rendah hati;
9. toleransi, cinta damai dan persatuan.

Sementara dalam Character Counts di Amerika mengidentifikasikan
bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar yaitu:
1. dapat dipercaya (trustworthiness);
2. rasa hormat dan perhatian (respect);
3. tanggung jawab (responsibility);
4. jujur (fairness);
5. peduli (caring);
6. kewarganegaraan (citizenship);
7. ketulusan (honesty);
8. berani (courage);
9. tekun (diligence);
10. integritas.

Selain itu, Ari Ginanjar Agustian dengan teori ESQ menyodorkan
pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk kepada sifat-
sifat mulia Allah, yaitu al-Asma al-Husna. Sifat-sifat dan nama-nama mulia
Tuhan inilah sumber inspirasi setiap karakter positif yang dirumuskan oleh
siapapun. Dari sekian banyak karakter yang biasa diteladani dari nama-nama
Allah itu, Ari merangkumnya dalam tujuh karakter dasar, yaitu:
35



1. jujur;
2. tanggung jawab;
3. disiplin;
4. visioner;
5. adil;
6. peduli;
7. kerja sama.

E. Implementasi Pendidikan Karakter pada Unsur Pendidikan
1. Pendidikan Karakter secara Terpadu melalui Kurikulum
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, implementasi pendidikan karakter
dalam pendidikan memerlukan kurikulum yang eksplisit. Kurikulum pendidikan
karakter diterapkan secara jelas dan tegas terhadap penyelenggaraan pendidikan.
Nilai-nilai pembangunan karakter diintegrasikan secara utuh (holistik) terhadap
seluruh komponen kurikulum, baik itu pembelajaran, bahan ajar, metode, dan lain
sebagainya.
Salah satu kurikulum pendidikan karakter yang secara eksplisit
dijalankan adalah metode pendidikan STAR (Stop, Think, Act, and Review) yang
dikembangkan oleh Jefferson Center for Character Education yang berkedudukan
di California, Amerika Serikat. Metode ini hanya memerlukan waktu 10 sampai
15 menit sehari sebelum kelas dimulai. Anak-anak mendapatkan pendidikan
pendidikan karakter dengan instruksi yang diberikan oleh guru sesuai dengan
kurikulum yang tersedia, dengan menggunakan beberapa tema secara bergantian
(be responsible, be on time, be nice, be a good listener, dan sebagainya). Dengan
36



menggunakan metode ini murid-murid sekolah digiring untuk mengerti konsep-
konsep dengan cara berdiskusi. Kekurangan dari metode ini adalah kurang
melibatkan aspek loving dan acting.(Ratna Megawangi, 2004:119)
Selain itu terdapat model pendidikan holistik berbasis karakter. Tujuan
dari model ini adalah untuk membentuk manusia secara utuh (holistic) yang
berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual,
dan intelektual siswa secara optimal, serta membentuk manusia yang life long
learners (pembelajar sejati). Strategi yang dapat diterapkan antara lain sebgai
berikut. (Masnur Muslich, 2011:33)
1. Guru menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid,
yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh
dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang
konkrit, bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active
learning, contextual learning, inquiry-based learning, integrated learning)
2. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (conducive
learning community) sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam
suasana yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan
memberikan semangat.
3. Guru memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan
berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the
good, and acting the good,
37



4. Guru menerapkan metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-
masing anak, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan juga Sembilan
aspek kecerdasan manusia.

2. Pendidikan Karakter secara Terpadu melalui Manajemen Sekolah
Dalam manajemen terkandung pengertian pemanfaatan sumber daya
untuk tercapai tujuan. Sumber daya adalah unsur-unsur dalam manajemen, yaitu:
manusia (man), bahan (materials), mesin/ peralatan (machines), metode/ cara
kerja (methods), modal uang (money), dan informasi (information). Sumber daya
bersifat terbatas, sehingga tugas manajer adalah mengelola keterbatasan sumber
daya secara efisien dan efektif agar tujuan tercapai.
Dalam konteks dunia pendidikan, yang dimaksud dengan manajemen
pendidikan/ sekolah adalah suatu proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pendidikan dalam upaya menghasilkan lulusan yang sesuai dengan visi, misi, dan
tujuan pendidikan itu sendiri.
Berdasarkan pada uraian tersebut, keterkaitan antara nilai-nilai perilaku
dalam komponen-komponen moral karakter (knowing, feeling, dan action)
terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, kebangsaan, dan
keinternasionalan membentuk suatu karakter manusia yang unggul (baik).
Penyelenggaraan pendidikan karakter memerlukan pengelolaan yang
memadai.Pengelolaan yang dimaksudkan adalah bagaimana pembentukan
karakter dalam pendidikan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara
memadai. (Zainal Aqib & Sujak, 2011:14)

38



3. Pendidikan Karakter secara Terpadu melalui Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata
pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik
sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang
secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang
berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.
Visi kegiatan ekstrakurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan
minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik
yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Misi ekstrakurikuler
adalah (1) menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik
sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka, (2)
menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik
mengekspresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.
(Zainal Aqib & Sujak, 2011:14)

a. Fungsi kegiatan ekstrakurikuler adalah berikut:
1) Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk
mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan
potensi, bakat, dan minat mereka.
2) Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan
kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
39



3) Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan
suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan peserta didik yang
menunjang proses perkembangan.
4) Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk
mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
b. Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler
1) Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan
potensi, bakat, dan minat pseserta didik masing-masing.
2) Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan
keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
3) Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut
keikutsertaan peserta didik secara penuh.
4) Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana
yang disukai dan menggemberikan peserta didik.
5) Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun
semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
6) Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang
dilaksanakan untuk kepentingan untuk kepentingan masyarakat.

4. Pendidikan Karakter pada Lingkungan Pendidikan
Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat pendidikan yang baik bagi
pertumbuhan karakter siswa. Segala peristiwa yang terjadi di dalam sekolah
semuanya dapat diintegrasikan dalam program pendidikan karakter. Dengan
demikian, pendidikan karakter merupakan sebuah usaha bersama dari semua
40



warga sekolah untuk menciptakan sebuah kultur baru di sekolah, yaitu kultur
pendidikan karakter. Untuk itu, ada beberapa lingkungan pendidikan di sekolah
yang dapat menjadi lahan tempat pendidikan karakter, itu dapat diterapkan baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Peristiwa pengajaran di dalam kelas merupakan momen pendidikan
karakter yang sangat strategis.Di dalam kelas, guru tak ubahnya seorang manajer
yang sedang mengendalikan dan mengarahkan lingkungannya. Dalam perjumpaan
antara guru dan siswa inilah terdapat proses penanaman nilai secara lebih nyata.
Guru dan siswa berhadapan dan berdialog secara langsung sebagai pribadi.
Mereka secara bersama-sama membentuk komunitas belajar.(Zainal Aqib,
2011:99-100)
Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap
keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter.
Menurut Quraish Shihab (1996), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang
dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan.
Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya
dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. (Masnur Muslich, 2011: 53)




BAB III
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
DI PESANTREN MODERN AL-AQSHA

A. Profil Pesantren
1. Sejarah Pesantren
Pesantren Modern Al-Aqsha didirikan pada tanggal 21 Rajab 1414 H
atau 2 Februari 1994 M. yang operasionalnya dimulai pada tahun pelajaran
1994/1995. secara kelembagaan, Pesantren Modern Al-Aqsha berada di dalam
sebuah Yayasan Al-Aqsha yang didirikan pada tahun yang sama. Kemudian
secara yuridis Yayasan ini dilegalkan pada tanggal 27 Agustus 1996 dengan akta
notaris No. 10 Tahun 1996 oleh notaris Anita Sukarna Takariawan, SH. Sesuai
dengan akta notaris tersebut, badan pendiri Yayasan Al-Aqsha ini adalah KH.
Hasan Abdullah Muhyi, Bapak Abo Hidayat, dan Bapak Drs. Mukhlis Aliyudin
M.Ag.
Melalui rapat badan pendirinya, Yayasan Al-Aqsha membentuk sebuah
lembaga pendidikan pondok pesantren yang dinamakan Pondok Modern Al-
Aqsha dan menunjuk Bapak Drs. Kyai Mukhlis Aliyudin, M.Ag sebagai
penanggung jawab sekaligus sebagai pengasuh pondok.
Pendirian Pondok Modern Al-Aqsha dilatarbelakangi oleh kehendak
yang tinggi dari para pengurus Yayasan akan adanya lembaga pendidikan yang
mampu melahirkan generasi umat Islam yang berkualitas baik dalam ilmu agama
maupun ilmu umum. Untuk tujuan dimaksud, Pondok Modern Al-
42



Aqsha sejak awal pendiriannya hingga kini (1994-2012) membawahi dua lembaga
pendidikan formal, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Kulliyatul al-
Muallimin wa al-Muallimat al-Islamiyah (KMMI). Secara operasional kedua
lembaga di atas tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya dipadukan
dalam sebuah wadah pendidikan yang disebut dengan SMP Plus Pondok Modern
Al-Aqsha. SMP Plus ini kemudian dikenal secara administratif dengan nama SMP
Plus Al-Aqsha.
SMP Plus Pondok Modern Al-Aqsha (selanjutnya disebut dengan SMP
Plus Al-Aqsha) berlokasi di jalan Raya Jatinangor kelurahan Cibeusi Jatinangor
Kabupaten Sumedang. Meskipun secara demografi letak SMP Plus Al-Aqsha ini
berada di wilayah Kabupaten Sumedang, namun SMP Plus Al-Aqsha ini pada
hakekatnya berada di sekitar kawasan pendidikan Jatinangor, sekitar ± 1 Km dari
Cileunyi Cinunuk Kab Bandung atau pertengahan antara Cileunyi dan Jatinangor.
Tepatnya, Lokasi Al-Aqsha berada di ujung barat Kab Sumedang, yaitu di
wilayah perbatasan antara Kab Sumedang dengan Kab Bandung.
Kurikulum yang digunakan di SMP Plus Al-Aqsha mengacu pada
kurikulum Pendidikan Nasional dan kurikulum Pondok Modern Gontor yang
dipadukan dengan kurikulum pesantren salafi. Kurikulum Depdiknas digunakan
sebagai kurikulum formal SMP Plus Al-Aqsha, sedangkan kurikulum Pondok
Modern Gontor dan kurikulum salafi digunakan sebagai kurikulum plus atau
muatan lokalnya.
Perpaduan kurikulum di atas diharapkan menjadi ciri khas SMP Plus Al-
Aqsha yang didedikasikan untuk mencetak para santri/siswa agar memiliki
43



kompetensi baik di bidang pengetahuan umum maupun di bidang pengetahuan
agama.
Sistem pendidikan di SMP Plus Al-Aqsha adalah sistem pendidikan yang
berbasis pondok pesantren, dikatakan demikian karena siswa SMP Plus Al-Aqsha
diwajibkan untuk bermukim di pesantren atau diasramakan. Siswa yang tidak
tinggal di asrama hanya dikhususkan bagi mereka yang bertempat tinggal di
sekitar lingkungan SMP Plus Al-Aqsha yang setiap awal tahun pelajaran quotanya
dibatasi.
Jenjang pendidikan SMP Plus Al-Aqsha setingkat dengan SLTP (Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama), setingkat di sini tidak berarti sama, karena secara
substansi mengandung dua sistem pendidikan yaitu SMP (Sekolah Menengah
Pertama) dan KMMI (Kulliyatul al-Muallimin wa al-Muallimat al-Islamiyah)
yang dapat diterjemahkan dengan sekolah guru agama.
Dengan demikian, salah satu ciri khas SMP Plus Al-aqsha adalah
mengajarkan dua bidang ilmu secara optimal yaitu bidang ilmu pengetahuan
umum dan bidang ilmu keagamaan. Di samping itu, para siswa di SMP Plus Al-
Aqsha dituntut untuk bisa berbahasa Arab dan Inggris secara aktif.
Tujuan pendidikan SMP Plus Al-Aqsha secara spesifik dapat diketahui
melalui motto pendidikan SMP Plus Al-Aqsha dan panca jiwa Pondok Modern
Al-Aqsha yaitu:
Motto Pendidikan SMP Plus Al-Aqsha :
1. Berbudi tinggi
2. Berbadan sehat
44



3. Berpengetahuan luas
4. Berfikir kreatif dan dinamis
Sedangkan Panca Jiwa Pondok Modern Al-Aqsha sendiri adalah:
1. Keikhlasan
2. Kesederhanaan
3. Berdikari
4. Ukhuwah Islamiyah
5. Kebebasan
Pengakuan pemerintah terhadap SMP Plus Al-Aqsha ini dinyatakan
dalam SK Kanwil Depdiknas Propinsi Jawa Barat No. 1233/102/Kep/E/1995.
Berdasarkan hasil akreditasi yang dilakukan pada tanggal 10 Nopember 2010,
SMP ini sudah terakreditasi dengan nilai A
2. Visi dan Misi SMP Plus Al-Aqsha
Mengacu pada visi dan misi serta tujuan pendidikan nasional, visi, misi,
dan tujuan pendidikan di SMP Plus Al-Aqsha dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Visi SMP Plus Al-Aqsha
Menjadi Sekolah Menengah Pertama yang unggul dan kompetetif pada aspek
ilmu pengetahuan dan ilmu agama tingkat Jawa Barat pada tahun 2014.
2. Misi SMP Plus Al-Aqsha
Berdasarkan visi tersebut di atas, maka misi yang senantiasa dijadikan
rujukan pengelolaan bagi para pengurusnya dalam proses pendidikan dan
pembelajaran di SMP Plus Al-Aqsha adalah :
45



1. Menyelenggarakan pendidikan secara profesional dengan cara
mengintegrasikan pengetahuan umum dan pengetahuan agama.
2. Menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, serta responsif
terhadap perkembangan dan perubahan.
3. Mengembangkan budaya akademis di kalangan guru untuk mencapai
keunggulan kompetitif di era global.
4. Membangun dan meningkatkan etos kerja guru dan karyawan untuk
mencapai penyelenggaraan pendidikan secara efektif dan efisien.
5. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan memfasilitasi peserta didik untuk
mencapai standar kompetensi lulusan dan keunggulam kompetitif.
6. Membangun dan mengelola sistem administrasi akademik secara efektif
dan efisien.
7. Membangun ukhuwah islamiyah, budaya ilmiah dan akhlak karimah di
lingkungan dan di tengah masyarakat.
8. Membangun kerja sama dengan pihak lain dalam rangka pengembangan
pendidikan dan ekonomi Pondok Modern Al-Aqsha
9. Membina, membimbing, mengasuh, dan memfasilitasi peserta didik untuk
taat beribadah, berakhlak mulia (karimah), berbadan sehat, memiliki
pengetahuan yang luas, dan dapat berfikir kreatif dan dinamis
3. Tujuan Pendidikan SMP Plus Al-Aqsha
a. Mendidik dan memfasilitasi peserta didik agar berbudi tinggi, berbadan
sehat, berpengetahuan luas, dan berfikir kreatif dan dinamis ;
46



b. Mempersiapkan peserta didik agar memiliki jiwa keikhlasan,
kesederhanaan, kemandirian, kekeluargaan, kebebasan ;
c. Mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang
siap pakai dan siap guna;
d. Mempersiapkan peserta didik untuk memiliki berbagai kompetensi dan
motivasi dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Misi SMP Plus Al-Aqsha tersebut di atas secara operasional diuraikan
dalam bentuk program kerja sebagai berikut:
1. Program jangka pendek
Program jangka pendek SMP Plus Al-Aqsha adalah program kerja yang
harus dicapai dalam kurun waktu 1 s/d 15 tahun (1994-2009), sebagai upaya
untuk membuat program kerja yang lebih kongkrit berdasarkan kondisi obyektif
yang ada yaitu:
a. Penataan dan peningkatan peran para pengelola (pegawai struktural) SMP
Plus Al-Aqsha ;
b. Pemberdayaan dan pengembangan SDM para pengurus, guru, dan
karyawan ;
c. Pengadaan, penataan, dan pengembangan administrasi pengelolaan
lembaga, pengelolaan sistem pembelajaran dan pendidikan, sarana dan
prasarana untuk pendidikan dan pembelajaran, serta asrama dan
lingkungan kampus Pondok Modern Al-Aqsha ;
47



d. Pengadaan dan peningkatan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti
kegiatan pramuka, kursus komputer, drumband, bela diri, kesenian, seni
baca Al-Quran, kaligrafi, dan olah raga ;
e. Upaya kerja sama dengan pihak lain dalam rangka pengembangan
ekonomi Pondok Modern Al-Aqsha
f. Optimalisasi kualitas pendidikan dan pembelajaran di SMP Plus Al-
Aqsha.
2. Program jangka menengah
Program jangka menengah SMP Plus Pondok Modern Al-Aqsha adalah
program kerja yang harus dicapai dalam kurun waktu 15 s/d 30 tahun (2009-2024
M), sebagai upaya untuk membuat program kerja yang lebih kongkrit berdasarkan
kemungkinan kemampuan yang ada, yaitu :
a. Optimalisasi peran pegawai struktural SMP Plus Al-Aqsha agar lebih
kreatif, inovatif, dan berdedikasi tinggi.
b. meningkatkan kualitas SDM para pengurus, guru, karyawan, dan para
pembantu di SMP Plus Al-Aqsha.
c. mewujudkan struktur kelembagaan yang dikelola dengan baik oleh para
pengelola dan pengurus Pondok Modern Al-Aqsha.
d. Merumuskan pengembangan jenjang pendidikan (ke SMU Plus), sarana
dan prasarana pendidikan dan asrama, serta lingkungan kampus Pondok
Modern Al-Aqsha.
e. menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler yang dapat dijadikan
bekal bagi para peserta didik di dalam kehidupan di masyarakat.
48



f. mewujudkan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka pengembangan
pendidikan, pembelajaran, ketrampilan, dan perekonomian Pondok
Modern Al-Aqsha.
g. meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran di Pondok Modern
Al-Aqsha.
3. Program jangka panjang
Program jangka panjang SMP Plus Pondok Modern Al-Aqsha adalah
program kerja yang harus dicapai dalam kurun waktu 30 s/d 50 tahun, sebagai
upaya untuk memberikan arah bagi pelaksanaan berbagai program di SMP Plus
Pondok Modern Al-Aqsha secara umum, yaitu:
a. Meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan dan pembelajaran di SMP
Plus Al-Aqsha agar peserta didik berakhlak karimah, berbadan sehat,
berpengetahuan luas, serta berfikiran kreatif, inovatif, dan dinamis ;
b. Mengupayakan agar SMP Plus Al-Aqsha menjadi lembaga pendidikan
yang mandiri, unggul, dan dikenal baik di dalam negeri maupun di luar
negeri ;
c. Meningkatkan mutu dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan yang
representatif dan tepat guna bagi seluruh peserta didik ;
d. Mendirikan jenjang pendidikan lain yang lebih tinggi (SMU atau
perguruan tinggi) yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.
e. Berperan aktif mengisi pembangunan Indonesia seutuhnya.


49



3. Kelembagaan SMP Plus Al-Aqsha
Lembaga SMP Plus Al-Aqsha memiliki ciri khas sebagai konsekuensi
dari keberadaannya sebagai ujung tombak dari realisasi program pendidikan
Pondok modern Al-Aqsha secara umum, yakni pembinaan mental spiritual,
pembelajaran dan penguasaan ilmu pengetahuan agama dan umum, dan
pengasuhan peserta didik.
Struktur kelembagaan SMP Plus Al-Aqsha ini selanjutnya akan
diuraikan dalam bentuk bagan berikut:
1. Pelindung/Nasehat : KH. Moh. Noeh
2. Pemimpin Pondok : Drs. Mukhlis Aliyudin, M.Ag
3. Bidang Litbang : Abdullah Syafe‟i, M.Ag
4. Kepala SMP : Drs. Apit Miftahudin
5. Kepala KMMI : Muhamad Zakaria S.sos. I
6. Wakasek Bidang Kurikulum SMP : Cecep Abdul Salam, S.Pd
7. Wakasek Bidang Kurikulum KMMI : Hendri Final
8. Wakasek Kesiswaan : Apip Hadi Susanto, M.M.
9. Wakasek Sarana dan Prasarana : H. Aab Sjambas, B.A.
10. Wakasek Sist. Informasi dan : M. Saidiman, S.T.
Laboratorium
11. Kabag. Tata Usaha : Dewi Fauziyyah, S.Sos.I
12. Pengasuhan : 1. Jajang Rahmat, S.Sos.I
2. Imas Adidah, S.Pd.I
13. Bagian Penggerak Bahasa : Kahfi Fajar Abdullah
50



14. Bagian Pramuka : Wildana Nugraha
15. Bagian Perpustakaan : Ai Yeni Fujianti
16. Bagian Lab. Komputer : Heru Fitriansyah
17. Bagian Drumband : Anwar Abdurrochman
Dasep Syarif Hidayat
Gambar 2. Struktur Organisasi SMP Plus Al-Aqsha




Keterangan :
……….. : Garis Koordinasi
_______ : Garis Komando




PimpinanPondok
Kapala
SMP
Kapala
KMMI
TU
TU
Pelindung/
Penasehat
1. Bimb/Konseling
2. Pengasuhan
3. Penggerak Bahasa
4. Pramuka
5. Perpustakaan
6. Lab. Komputer
7. Ekskul
8. OPPMA
9.
Wakasek
Bid Sarana/
Prasarana
Wakasek Bid
Kurikulum
Wakasek Bid
Kesiswaan
Wakasek
S. Informasi,
Lab &
Perpus.
Puslitbang
51



B. Analisis nilai-nilai Pendidikan Karakter di Pondok Modern Al-Aqsha
Melihat dari visi, misi, dan tujuan Pondok Modern Al-Aqsha, Pondok ini
sangat memperhatikan nilai-nilai karakter yang akan tertanam dan menjadi bekal
diri santri untuk hari ini dan masa depannya. Nilai-nilai karakter tersebut
diintegrasikan terhadap aturan dan program-program kegiatan pondok secara
eksplisit dan implisit.
Apip Hadi Susanto, sebagai kesantrian mengatakan bahwa Pondok
Modern Al-Aqsha mempunyai cita-cita dalam mencetak anak didik yang
berkualitas dan berkarakter. Untuk itu, mulai dari input – process – output
memerlukan perhatian yang serius. Rekrutmen para calon santri dilaksanakan
secara selektif dengan dasar pertimbangan kualitas intelektual dan akhlak secara
balance. begitu juga dalam proses pendidikan, hardware (sarana & prasarana) dan
software (program). Dengan demikian, pondok akan menghasilkan anak didik
(output) yang sesuai dengan cita-cita lembaga yang intelek dan berkarakter.
Secara umum, internalisasi karakter dilakukan secara optimal. Setiap hari
para santri diberikan pengarahan dan bimbingan karakter oleh pembimbing atau
wali kelasnya. Hal tersebut dilakukan secara rutin setiap hari melalui kegiatan
perwalian atau wejangan dari wali kelas dan bimbingan dari musyrif
(pembimbing). Adapun dilakukan secara berlangsung dilakukan peneguran secara
langsung dan memberikan keteladan. Adapun nilai-nilai karakter yang pondok
tanamkan adalah sebagai berikut.


52



1. Keimanan
Keimanan merupakan nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan
yang bersifat religius. Dengan kata lain, pikiran, perkataan, dan tindakan
seseorang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan atau ajaran
agama. (Jamal M. Asmani, 2011: 36) Keimanan akan tercitra terhadap kehidupan
seseorang seperti terbiasa membaca doa sebelum dan sesudah melakukan
kegiatan, beribadah, menjalankan perintah agamanya, mengaji dan kegiatan
lainnya yang bermanfaat untuk kebaikan dunia akhirat.
Keimanan dalam Islam selanjutnya harus berpengaruh ke dalam segala
aktivitas yang dilakukan manusia, sehingga berbagai aktivitas tersebut bernilai
ibadah. Dalam hubungan ini Yusuf Al-Qardawi mengatakan bahwa iman menurut
pengertian yang sebenarnya adalah kepercayaan yang meresap ke dalam hati,
dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh
bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. (Abuddin Nata,
2006:85)

Gambar 3. Pembiasaan salat dhuha berjamaah
53



Pondok Modern Al-Aqsha sangat memperhatikan keimanan para santri
kepada Allah Swt. Untuk mencapai hal tersebut, para santri dibiasakan untuk rajin
beribadah seperti salat lima waktu berjamaah, salat dhuha berjamaah, salat
tahajud, puasa sunah senin-kamis, dan ibadah lainnya.
Untuk meningkatkan keimanan kepada Allah juga, para guru
mengarahkan pembelajaran mereka untuk meningkatkan keimanan para santri.
Dengan demikian, para santri dibekali nilai-nilai keimanan secara qauliyah
(bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits) dan Kauniyah (bersumber dari hukum
alamiah)
Kemudian ketika perwalian atau wejangan dan setiap mau beranjak tidur
diberikan pelajaran dan bimbingan mengenai berbagai hal, diantaranya mengenai
akhlak dan tauhid (keimanan).
2. Kepedulian
Kepedulian merupakan ungkapan dari rasa simpati terhadap diri
seseorang. Rasa simpati menurut Abu Ahmadi (2003:110) adalah suatu
kecenderungan untuk ikut serta merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan
orang lain. Dengan kata lain, suatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan
sesuatu yang sedang dirasakan oleh orang lain. Di sini ada situasi feeling with
another person. Simpati dapat timbul karena persamaan cita-cita, mungkin karena
penderitaan yang sama, atau karena berasal dari daerah yang sama, dan
sebagainya.
Inti dari rasa kepedulian adalah bagaimana seseorang dapat merasakan
kondisi orang lain dalam hatinya dan memberikan perhatian yang mendalam. Oleh
54



karena itu, Islam mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama manusia.
Sebagaimana dikutip dalam Hadits Bukhari (Ratna Megawangi, 2004: 96) None
of you has faith unless he loves for his brother what he loves for himself (Tidak
beriman seseorang kecuali ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya
sendiri).
Ungkapan cinta yang terdapat dalam hadits Rasulullah tersebut salah
satunya ada rasa kepedulian terhadap sesama dengan saling memberi apabila
kekurangan, menolong apabila membutuhkan, dan mengingatkan apabila
melakukan kesalahan.
Ada beberapa kegiatan dan keadaan di mana para santri dibentuk untuk
memiliki kepedulian. Santri yang mendapatkan giliran piket dituntut untuk
memiliki kepedulian terhadap kebersihan, sosial, dan keamanan. Santri yang piket
bertanggung jawab terhadap temannya yang sedang sakit, bahkan terkadang oleh
santri yang peduli terhadap temannya yang tidak piket berdasarkan panggilan
jiwa.

Gambar 4. Perpindahan Kamar
55



Kepedulian di Pondok Modern ini dapat diaplikasikan pada setiap aspek
kehidupan yang bernilai baik. Kepedulian dapat disalurkan terhadap kebersihan,
sosial, dan akademis. Salah satunya ketika ada teman yang sedang sakit. Dengan
panggilan jiwa dan kadang menjadi piket, para santri suka merawat, mengantar ke
kamar mandi, mengingatkan salat lima waktu kepada temannya tersebut.
Kepedulian juga tercipta ketika melakukan suatu kegiatan seperti olah
raga. Ketika ada temannya yang sedang kelelahan, ketika lari pagi, mereka saling
menunggu dan membantu.
Biasanya para orang tua santri menengok anak-anaknya setiap seminggu
sekali dan ada pula yang tidak. Bagi santri yang ditengok biasanya memiliki uang
dan makanan yang lebih. Di sini lah tumbuh rasa kepedulian, mereka saling
berbagi makanan bahkan saling meminjamkan uang atau meminjamkan barang
dan hal itu berlaku secara bergillir.
3. Kejujuran
Kejujuran merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia.
Kejujuran merupakan benih yang dapat menumbuhkan kepercayaan. Oleh karena
itu, pondok sangat memperhatikan masalah kejujuran ini. Ketika seorang santri
melakukan pelanggaran, dia akan masuk mahkamah untuk diminta
pertanggungjawaban perbuatannya. Di situ dia belajar untuk mengakui kesalahan
secara jujur walaupun konsekuensinya akan mendapatkan hukuman.
Contoh lainnya mengenai barang temuan. Ketika seorang santri
menemukan barang temuan, dia harus melaporkannya kepada pengurus. Bahkan
56



yang menarik di sini terdapat „Papan Kehilangan‟. Papan kehilangan berfungsi
sebagai tempat untuk barang-barang yang hilang atau benda yang terjatuh tidak
diketahui pemiliknya dan ditemukan oleh salah satu santri. Selebihnya, kejujuran
ini menjadi pembelajaran para santri secara alamiah sebagai proses interaksi
sosial.
Setiap hari para santri mendapat bimbingan dari musyrif untuk memiliki
budi pekerti yang baik, termasuk di sini mengenai kejujuran. Keadaan dan
kondisi asrama yang kompleks menuntut para santri untuk memiliki kejujuran.
Barang-barang dan uang yang terbuka atau tidak dalam pengawasan pemiliknya
mungkin menjadi kesempatan untuk berperilaku tidak jujur. Di sini lah terdapat
pembentukkan mental kejujuran para santri yang kiranya membutuhkan
bimbingan dan arahan untuk menuju arah yang lebih baik.
4. Keberanian
Dalam rangka melatih keberanian dan aktualisasi diri para santri, pondok
menyelenggarakan beberapa kegiatan ekstrakurikuler seperti latihan pidato
(muhadharoh), drumband, paduan suara, latihan pidato tiga bahasa, kursus
Gambar 5. Papan Kehilangan
57



kaligrafi, qiroat, seni musik, seni drama, kursus dua bahasa, taekwondo, sepak
bola, volly ball dan silat.
Kegiatan ekstrakurikuler dan KMMI tersebut merupakan sarana untuk
mengaktualisasikan diri dan melatih mental para santri. Salah satunya adalah
kegiatan Muhadhoroh. Muhadhoroh merupakan kegiatan latihan berpidato dengan
menggunakan berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Arab, dan Sunda. Selain itu
juga terdapat Public contest dan perlombaan-perlombaan lainnya.
Dalam menanamkan keberanian, para pembimbing (musyrif atau ustadz)
memberikan pembelajaran untuk memimpin suatu kegiatan atau memberikan ide
gagasan mengenai suatu masalah.
5. Cinta Ilmu
Selain kegiatan keterampilan dan seni, sebagai kaum pelajar, para santri
diberikan pemantapan dalam hal kecerdasan pikir dan mencintai ilmu
pengetahuan seperti kursus IPA, matematika, dan bahasa. Hal tersebut terbukti
dengan beberapa prestasi yang telah didapatkan oleh SMP Pondok Modern Al-
Aqsha dari beberapa lomba.
Gambar6. Latihan Berpidato (Muhadharah)
58



Tabel 2. Data Prestasi Siswa Pondok Modern Al-Aqsha
No Jenis Prestasi Tahun Juara
Tingkat
Lokal Nasional
1.
Cerdas cermat bahasa
Inggris
2003 III Kab. Sumedang
2. MESSA Al-Ma‟soem 2003 II Kab. Sumedang
3. Jambore Ranting 2003 II Kab. Sumedang
4. Jambore Ranting 2004 III Kab. Sumedang
5. Hari Bhayangkara 2004 Hrp. I Kab. Sumedang
6.
Cerdas Cermat
Matematika
2006 III Bandung Timur
7. Kontes Matematika 2006 II Sda
8. Juara UmumPramuka 2007 Umum Sda
9.
Juara Umum
Pramuka
2008 Umum Sda
10.
Lomba Dongeng
Basa Sunda
2010 III Kab. Sumedang
6. Tanggung Jawab dan Kemandirian
Secara personal, masing-masing santri akan mendapatkan tanggung
jawab, baik dalam bidang kebersihan, keamanan, akademik, sosial, dan
kedisiplinan. Mereka hidup mandiri tanpa dampingan orang tua sehingga para
santri dituntut untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan diri dan lingkungan
sekitarnya, mulai dari pakaian, lemari, kamar, dan asrama. Ketika seorang santri
pulang, dia harus pulang kembali ke pondok sesuai catatan dengan tepat waktu.

59



Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab juga, organisasi merupakan
pembelajaran bagi santri untuk memikul amanat dan bertanggung jawab atas
kewajibannya menjalankan kewajibannya sebagai pengurus. Dengan
berorganisasi, para santri dituntut untuk belajar bertanggung jawab secara praktis
(learning by doing). Salah satu pembelajaran tanggung jawab tersebut seperti
adanya Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), baik mengenai kinerjanya sebagai
pengurus maupun tentang keuangan.
Para santri akan mendapatkan giliran untuk menjadi piket siang (haris
an-nahar) ataupun malam (haris al-lail). Santri yang menjadi piket mempunyai
kewajiban untuk menjaga kebersihan dan keamanan pondok, serta merawat orang
sakit.
7. Kedisiplinan
Yang menjadi ciri khas dan keunggulan di Pondok Modern Al-Aqsha ini
salah satunya adalah kedisiplinan. Kedisiplinan ditegakkan mulai dari bangun
pagi sampai beranjak tidur kembali. Ketika pagi hari, semua harus bangun untuk
melaksanakan salat subuh dan bagi yang terlambat akan mendapatkan hukuman
dari pengurus. Ketika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, para santri
Gambar 7. Menghapal Pelajaran
60



tidak diperkenankan untuk berada di kamar. Kedisiplinan tersebut diterapkan
secara penuh oleh pengurus selama sehari penuh. Guna menegakkan kedisiplinan
tersebut, terdapat bel dan lonceng dalam memberikan komando dan menjalankan
kedisiplinan tersebut.
Para santri membiasakan kedisiplinan terhadap norma-norma dan nilai –
nilai yang berlaku di pondok. Seperti membiasakan disiplin berbahasa, mengantre
ketika mengambil makan, tepat waktu dalam melaksanakan ibadah atau kegiatan,
selalu berkomunikasi dengan pengurus, menjaga kebersihan dan keamanan.
8. Kebersihan
Kebersihan mencerminkan seseorang mempunyai karkater yang baik. Di
pondok ini sangat memperhatikan kebersihan. Hal tersebut diterapkan pada semua
lingkungan yang ada di pondok Al-Aqsha, mulai dari kamar santri, asrama,
lapangan, kelas, halaman, dan lingkungan lainnya.
Para santri dituntut untuk mandiri, khususnya dalam hal menjaga
kebersihan diri dan perlengkapannya. Setiap santri harus bisa mencuci pakaian
dan barang-barangnya secara mandiri.
Gambar 8. Mengantre untuk Makan
61



Setiap kamar memiliki piket kebersihan. Selain itu, pada setiap hari
minggu diadakan pembersihan umum (tandziif al-„amm) dengan dibagi beberapa
kelompok untuk membersihkan beberapa tempat dan ditunjuk satu orang sebagai
penanggung jawabnya. Ada juga haaris an-nahar yang salah satunya bertugas
untuk menjaga kebersihan lingkungan pondok dari siang sampai sore hari secara
bergilliran.
9. Kerapihan
Kerapihan mencerminkan kepribadian seseorang. Oleh karena itu, di
pondok ini diselipkan bimbingan mengenai kerapihan diri, pakaian, dan
lingkungannya. Diantaranya, pembimbing (musyrif) mengajarkan melipat dan
menyetrika baju dengan rapih untuk perempuan dan belajar menggunakan sarung
untuk laki-laki.
Setiap penghuni asrama bertanggung jawab terhadap kerapihan kamar
dan lingkungan asrama, mulai dari lemari, kasur, halaman, dan lingkungan sekitar.
10. Kepemimpinan dan keadilan
Pondok Modern Al-Aqsha mengajarkan para santrinya untuk memiliki
jiwa kepemimpinan dan keadilan (leadership and justice). Melalui Organisasi
Pelajar Pondok Modern Al-Aqsha (OPPMA) dan lingkungannya para santri dapat
Gambar 9. Operasi Kebersihan (Tandziif al-„am)
62



menjadi sarana untuk melatih mental dan keterampilan untuk menjadi pemimpin
yang adil, baik itu menjadi ketua umum, ketua bidang, anggota, dan ketua kamar
dan kelas.

11. Hormat dan Santun
Para santri dibiasakan untuk saling menghormati dan menyayangi
terhadap sesama. Ketika santri bertemu dengan guru atau pembimbingnya, mereka
saling menyapa dan memberi salam atau mencium tangannya. Dengan kondisi
asrama yang kompleks, para santri dituntut untuk saling menghormati dan
menghargai hak milik dan eksistensi temannya. Apabila tidak seperti tersebut,
mereka akan mendapatkan sanksi sosial secara alamiah sebagai konsekuensinya.

C. Analisis Pendidikan Karakter di Pondok Modern Al-Aqsha
1. Pengajaran
Smith mendefinisikan Pengajaran sebagai proses menanamkan
pengetahuan dan keterampilan (teaching is imparting knowledge or skill). Dalam
hal pendidikan karakter, mengajarkan karakter berarti memberikan pemahaman
Gambar 10. Pengurus OPPMA
63



kepada para santri tentang struktur nilai tertentu, keutamaan, dan maslahatnya.
Mengajarkan nilai memiliki dua faedah. Pertama, memberikan pengetahuan
konsep tentang nilai. Kedua, membandingkan atas pengetahuan yang telah
dimiliki oleh santri. (Aan Hasanah, 2012:134-135)
Pengajaran mengenai nilai-nilai karakter di pondok Modern Al-Aqsha
dilakukan secara formal melalui mata pelajaran seperti al-akhlaq li al-baniin/ li
al-banaat, pendidikan agama, dan kewarganegaraan. Adapun secara informal
pengajaran karakter dilakukan melalui kegiatan perwalian atau bimbingan.
Perwalian di pondok ini merupakan kegiatan bimbingan yang dilakukan oleh wali
santri dan para santri. Hal ini dilakukan setiap hari setelah salat magrib dan
dilakukan oleh pembimbing (musyrif) sebelum beranjak tidur.
Bimbingan wali kelas dan musyrif tersebut merupakan kegiatan yang
sangat berarti dalam membimbing para santri untuk berakhlak mulia. Dalam
bimbingan tersebut berisi tentang pengarahan dan bimbingan akademis maupun
akhlak dan tauhid. Bahkan, anak-anak dapat mencurahkan problematika yang
dihadapinya selama di pondok. Selain itu, pengajaran atau pemberian teguran
dilakukan juga secara langsung kepada anak didik secara berlangsung.
Untuk pengetahuannya, seminggu sekali para santri mempelajari kitab
kuning mengenai akhlak (sulam at-taufiq, ta‟lim wa al-muta‟allim, al-akhlaq li al-
baniin/ banaat), akidah, fiqh (safiinatun an-naja), qur‟an, dan hadits.
Dalam memberikan pengajaran mengenai akhlak ataupun soft skill,
terdapat agenda kuliah umum yang diselenggarakan dua minggu sekali. Dalam
64



kuliah umum tersebut dibahas mengenai bimbingan komunikasi, akhlak,
psikologi, dan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh para santri.
Namun dalam pengajaran nilai-nilai baik ini terdapat hal yang sangat
penting selain pengetahuan (kognitif), yaitu perubahan perilaku (afektif dan
psikomotor). Menurut Chaplin dalam Muhibbin Syah (2010:110), proses belajar
adalah any change in any object or organism, particularly a behavioral or
psychological change (suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau
kejiwaan).
Dengan demikian, seorang guru/ pembimbing seyogianya mengetahui
hasil pengajaran dan bimbingannya terhadap para anak didik yaitu adanya
perubahan yang progresif dalam kehidupan sehari-harinya. Hal tersebut
memerlukan waktu secara kontinu agar dapat memperhatikan kehidupan anak
sehari-hari dan mengevaluasinya ketika pengajaran/ bimbingan berlangsung.
2. Keteladanan
Keteladanan menjadi salah satu penentu keberhasilan tujuan pendidikan
karakter. Tumpuan pendidikan karakter terdapat pada pundak guru, pembimbing,
dan para pengurus. Konsisitensi dalam memngajarkan pendidikan karakter tidak
sekedar melalui sesuatu yang dikatakan melalui pembelajaran di ruangan,
melainkan nilai itu juga tampil dari diri sang guru dan para atasannya dalam
kehidupan nyata di luar kelas. (Jamal M. Asmani, 2011:68) Sehingga Lickona
dalam Ratna Megawangi (2004: 155) mengatakan, “We teach who we are.” (Kita
mengajar tentang siapa diri kita).
65



Keteladanan merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan. Oleh
karena itu, seorang pendidik harus memberikan keteladanan terhadap anak
didiknya. Hal tersebut dipandang penting sebagaimana Aan hasanah (2012:135)
mengatakan bahwa manusia lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat.
Pendidik harus terlebih dahulu memiliki karakter yang hendak diajarkannya.
Keteladanan tidak hanya bersumber dari pendidik, melainkan pula seluruh
manusia yang ada di lingkungan pendidikan besangkutan, termasuk dari keluarga
dan masyarakat.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Arnold A. Lazarus & Clifford N.
Lazarus (2005: 276) bahwa keteladanan akan membangun karakter yang baik.
Orang tua, guru, teman, pelatih, mentor, dan tetangga yang mendukung kualitas
yang disukai dan secara konstruktif membetulkan perilaku yang kurang disukai
adalah kunci menuju karakter.
Oleh karena itu, para pengelola dan pendidik di Pondok Modern Al-
Aqsha sangat mengutamakan keteladanan. Mereka memberikan contoh perilaku
yang baik di setiap harinya, baik itu mengenai kedisiplinan bahasa, kebersihan,
tanggung jawab, dan karakter lainnya. Guru-guru atau para musyrif (pembimbing)
di pondok ini dituntut untuk menjadi figur atau memberikan suri tauladan bagi
para santri bimbingannya seperti memberi salam, pergi salat ke mesjid dan
bersikap bijaksana.
Dalam memberikan keteladanan, pengurus harus bangun terlebih dahulu
sebelum para santri yang lainnya dibangunkan. Pengurus harus disiplin dalam
berbahasa, menjaga kebersihan, dan menegakkan peraturan. Ketika pengurus
66



bersikap dan menjalankan kewajibannya harus mencerminkan kedewasaan,
kebijaksanaan, dan keteladanan. Untuk itu, para musyrif memberikan arahan
kepada mereka dalam menjalankan kewajibannya sebagai pengurus.
Namun berdasarkan observasi, implementasi keteladanan ini masih
belum dilakukan secara holistis. Masih terdapat pembimbing atau pengurus yang
tidak memberikan teladan penuh kepada para santri, baik masalah kedisiplinan,
keimanan, kebersihan, dan lain sebagainya.
Hal ini harus menjadi perhatian khusus dan adanya evaluasi menuju
perbaikan. Karena kalau murid-murid menilai seorang guru yang sering berkata
moral, tetapi tidak dalam tindakan, maka murid belajar bahwa tindakan yang
melanggar prinsip-prinsip moral adalah hal yang biasa. Inilah yang menyebabkan
banyaknya orang yang tahu perbuatan salah, tetapi tetap melakukannya.
Akibat negatif lain dari penolakan keberadaan sisi gelap (dark side),
adalah dengan mencari kambing hitam, atau ingin memarahi orang lain yang
dianggap bersalah. Murid-muridnya biasanya akan menjadi tumpahan kemarahan
gurunya, yang sebenarnya adalah kemarahan kepada sifat yang ada dalam diri
gurunya sendiri. Guru yang sering menyalahkan murid-muridnya, tidak akan
dapat menjadi pendidik moral yang efektif. (Ratna Megawangi, 2004:166)
Dan yang harus diketahui selanjutnya oleh para guru, pembimbing
(musyif) dan para pengurus bahwa menurut Barlow (1985), sebagian besar upaya
belajar manusia –dalam hal ini belajar untuk berkarakter− terjadi melalui peniruan
(imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Siswa dapat mempelajari
67



respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari
orang lain misalnya guru dan orang tuanya. (Muhibbin Syah, 2010:79)
3. Pembiasaan
Pembiasaan merupakan usaha internalisasi suatu perilaku atau nilai yang
dilakukan secara berulang-ulang. Oleh karenanya, dalam pendidikan karakter,
pembiasaan sangatlah penting. Sikap atau perilaku yang telah menjadi kebiasaan
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Aan hasanah, 2012:136) : a) Perilaku
tersebut relatif menetap. b) Pembiasaan umumnya tidak memerlukan fungsi
berpikir yang cukup tinggi, misalnya untuk dapat mengucapkan salam cukup
fungsi berpikir berupa mengingat atau meniru saja. c) Kebiasaan bukan sebagai
hasil dari proses kematangan, tetapi sebagai akibat atau hasil pengalaman atau
belajar. d) Perilaku tersebut tampil secara berulang-ulang sebagai respons
terhadap stimulus yang sama.
Pembiasaan menurut Burghardt (1973) merupakan perwujudan perilaku
belajar siswa. Kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan
respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang. Pembiasaan
meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Karena proses penyusutan/
pengurangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap
dan otomatis.(Muhibbin Syah, 2010:117)
Pembiasaan atau nurture (sosialisasi dan pendidikan) merupakan salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi karakter (kepribadian) manusia selain
nature (faktor alami atau fitrah). Fitrah manusia menurut perspektif agama adalah
cenderung kepada kabaikan, namun masih mengakui adanya pengaruh lingkungan
68



yang dapat mengganggu proses tumbuhnya fitrah. Hal ini memberikan
pembenaran perlunya faktor nurture, atau lingkungan budaya, pendidikan, dan
nilai-nilai yang perlu disosialisasikan kepada anak-anak. (Ratna Megawangi,
2004:25-26)
Menyangkut pembiasaan karakter, pondok menjadikan kualitas karakter
yang baik menjadi landasan utama dalam semua kegiatan para santri, baik ketika
belajar formal maupun belajar informal. Sehingga dalam penilaian prestasi santri,
karakter menjadi pertimbangan yang sangat signifikan. Oleh karena itu,
pembiasaan nilai-nilai karakter di Pondok Modern Al-Aqsha diterapkan melalui
program-program kegiatan dan diawasi dengan aturan-aturan kedisiplinan. Anak-
anak dibiasakan untuk salat lima waktu dengan berjamaah, salat dhuha, mengantre
ketika menunggu giliran makan, menerapkan kebersihan di setiap tempat dengan
adanya piket dan pembersihan umum (tandziif al-„amm), menciptakan hidup
sehat, para santri wajib berolah raga setiap hari minggu pagi dan setiap sore hari
para santri difasilitasi berbagai macam sarana olah raga dan kegiatan-kegiatan
lainnya mengajarkan para santri untuk berkarakter baik.
Pondok Modern Al-Aqsha sangat memperhatikan keimanan para santri
kepada Allah Swt. Untuk mencapai hal tersebut, para santri dibiasakan untuk rajin
beribadah seperti salat lima waktu berjamaah, salat dhuha berjamaah, salat
tahajud, puasa sunah senin-kamis, dan ibadah lainnya.
Salah satu keunggulan dari Pondok Modern Al-Aqsha adalah pembiasaan
kedisiplinan. Mulai dari bangun tidur sampai beranjak tidur lagi, para santri
membiasakan untuk disiplin terhadap norma dan nilai yang berlaku di pondok.
69



Seperti membiasakan mengantre ketika mengambil makan, tepat waktu dalam
melaksanakan ibadah atau kegiatan, selalu berkomunikasi dengan pengurus,
menjaga kebersihan dan keamanan.
Dalam membudayakan karakter yang baik tersebut, pembimbing
memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan arahan dan bimbingan
kepada santri untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan (virtues). Para pengurus
sebagai penegak aturan yang berlaku di pondok harus benar-benar menegakkan
pembiasaan karakter positif yang salah satunya dengan adanya reward dan
punishment.
Menyangkut hal tersebut, Muhibbin Syah (2010:79) menyinggungnya
dengan istilah conditioning. Conditioning merupakan prosedur belajar dalam
mengembangkan perilaku sosial dan moral dan pada dasarnya sama dengan
prosedur reward (ganjaran/ member hadiah atau mengganjar) dan punishment
(hukuman/ member hukuman). Dasar pemikirannya adalah sekali seorang siswa
mempelajari perbedaan antara perilaku yang menghasilkan ganjaran dengan
perilaku yang mengakibatkan hukuman, ia senantiasa berpikir dan memutuskan
perilaku sosial tertentu yang perlu ia perbuat.
Pembiasaan yang dilakukan pondok modern Al-Aqsha ini sangat
bermanfaat dalam internalisasi nilai kebaikan untuk masa depan para santrinya.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukann oleh Universitas Otago, di New
Zeland, Anak yang biasa untuk menyehatkan jiwanya sejak dini (well-adjusted
toddlers) akan menjadi orang-orang yang berhasil dan sehat jiwanya setelah
dewasa. Berdasarkan penelitian tersebut, Tim Utton berkata: “At 3, you‟re made
70



for life” (Pada usia tiga tahun, kamu dibentuk untuk seumur hidup). (Ratna
Megawangi, 2004: 25)
Pembiasaan karakter di Pondok Modern Al-Aqsha dilakukan secara
holistis dalam sehari-harinya. Namun hal tersebut memerlukan ketegasan,
perhatian dan evaluasi secara kontinu. Karena, masih terdapat santri yang tidak
membiasakan untuk mengindahkan aturan dan karakter baik. Salah satunya ketika
mengantre makan dan tidak ada pengawasan dari pengurus yang akan
menegurnya, masih terdapat santri yang tidak melakukan salat sunat rawatib
walaupun salat itu diwajibkan.
4. Pemotivasian
Memberikan motivasi dalam konteks pendidikan karakter berarti usaha
untuk menimbulkan keseluruhan daya penggerak di dalam diri santri yang
menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah tujuan pendidikan
karakter.
Oemar Hamalik dalam Sobry Sutikno (2009: 73) menjelaskan, ada tiga
fungsi motivasi, yaitu:
a. Mendorong manusia untuk berbuat.
b. Menentukan arah perbuatan. dan
c. Menyeleksi perbuatan.
Berdasarkan pendapat tersebut, pemotivasian dalam pendidikan karakter
berarti bagaimana usaha pendidik dalam mendorong para siswa untuk berkarakter
dalam berbuat, selektif dan berusaha untuk menghindari hal-hal yang negatif.
71



Dalam rangka memberikan semangat baru dalam melakukan bimbingan
dan pengajaran kepada santri, setiap malam jum‟at para guru (ustadz),
pembimbing (musyrif), pengasuhan (ri‟ayah) dan kesantrian melakukan
musyawarah internal rutin seminggu satu kali bersama pimpinan pondok (mudir).
Malam selasa para musyrif mengadakan musyawarah juga bersama kesantrian.
Dalam musyawarah tersebut dibahas mengenai hal-hal yang penting sekali
dilakukan oleh mereka seperti figur/ keteladanan, kedisiplinan, kinerja,
pembelajaran dan sharing masalah dalam melakukan bimbingan.
Setiap hari para santri diberikan pengarahan dan bimbingan karakter oleh
pembimbing atau wali kelasnya. Hal tersebut dilakukan secara rutin setiap hari.
Setelah magrib terdapat kegiatan perwalian atau wejangan dari wali kelas dan
bimbingan dari musyrif (pembimbing) setiap sebelum beranjak tidur. Dalam
kegiatan ini, wali santri atau pembimbing (musyrif) dapat melakukan
pemotivasian mengenai berbagai aspek seperti prestasi akademik santri, akhlak
(karakter), dan masalah-masalah lain yang dihadapi para santri selama di pondok.
Dalam memberikan motivasi kepada para santri, pondok memberlakukan
sistem poin dalam kepatuhan dan pelanggaran. Dalam hal motivasi kebersihan,
pengurus mengadakan lomba kebersihan antarkamar atau antarkelas. Setiap hari
senin diumumkan kamar/ kelas apa yang menjadi kamar/ kelas terbersih atau
terkotor. Bagi yang mendapatkan predikat kamar/ kelas terbersih akan
mendapatkan piala bergilir. Hal tersebut sangat efektif dalam memotivasi para
santri untuk menjaga kebersihan lingkungannya.
72



5. Penegakan Aturan
Dalam implementasi pendidikan karakter, perlu adanya penegakan
aturan. Pada proses awal pendidikan karakter, penegakan aturan merupakan
setting limit, dimana ada batasan yang tegas dan jelas, mana yang harus dan tidak
harus dilakukan, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak didik.
(Aan Hasanah, 2012:138)
Penegakan aturan ini merupakan pendukung kedisiplinan dalam
menjalankan program-program yang bertendensi character education. Para
pengurus dalam Organisasi Pelajar Pondok Modern Al-Aqsha (OPPMA)
mempunyai kewajiban dalam menegakkan aturan-aturan dan mendukung dalam
menjalankan semua program yang telah diprogramkan oleh pondok.
Mengenai penegakan aturan dalam rangka pendidikan karakter, para
pengurus bertugas menggiring para santri untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang
telah dijadwalkan. Selain itu, para pengurus memberikan sanksi atau hukuman
terhadap santri yang melakukan pelanggaran yang tidak sesuai dengan norma-
norma dan nilai-nilai yang berlaku di Pondok Modern Al-Aqsha.
Penegakan disiplin merupakan hal yang utama dalam mendukung
program-program pendidikan karakter. Aturan yang berlaku harus dilaksanakan
dan diawasi dengan kedisiplinan. Penegakan aturan dilaksanakan oleh semua para
santri khususnya oleh pengurus.
Adapun salah satu aturan yang harus ditaati oleh para santri adalah
tengko (teng komando). Dalam menegakkan aturan tersebut terdapat funishment
(hukuman) bagi yang melakukan pelanggaran. Dimulai dari teguran, memakai
73



rompi pelanggaran (untuk laki-laki) dan kerudung (himar) pelanggaran (bagi
perempuan), dibotak, sampai dikeluarkan dari pondok sesuai dengan tingkat
pelanggarannya.
Namun dalam menegakkan aturan dalam konteks reward and punishment
ini terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, yakni mengenai kualitas dan
bentuknya. Sebagaimana Arnold A. Lazarus & Clifford N. Lazarus (2005: 122-
125) menjelaskan hal-hal dalam menegakkan hukum atau pola asuh sebagai
berikut:
1. Menerapkan konsekuensi yang alamiah dari setiap tindakan adalah sikap
permisif dengan nilai khusus;
2. Anak mempunyai hak suara yang setidaknya didengar dan diakui, kalaupun
memang tidak disetujui;
3. Jangan mencampurkan perilaku yang tidak baik dan jati diri dasar anak;
4. Berilah hukuman sesuai batas, jangan sampai menyakiti;
5. Pikirkan akibat panjang: Akankah tindakan saya ini membantu anak untuk
bertumbuh dan mampu membuat penilaian yang sehat dan mandiri dalam
hidupnya?
Kemudian, dalam rangka menegakan hukum ini, para penegak hukum
dituntut untuk bersikap konsisten, tegas dan selaras dengan penegak hukum
lainnya. Jangan sampai terdapat salah satu pengurus tidak mengizinkan izin
pulang terhadap seorang santri tetapi pengurus lainnya mengizinkannya. Salah
seorang pengurus berpihak terhadap seseorang atau kelas tertentu, dan sikap
74



inkonsisten lainnya. Hal ini harus ditanggapi secara serius karena akan berdampak
negatif terhadap tegaknya pendidikan karakter yang menjadi cita-cita pondok.
6. Pengawasan
Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (karakter), pengurus dan
pembimbing harus melakukan pengawasandan evaluasi yang dilakukan secara
kontinu dan tegas. Jangan sampai terdapat santri yang tidak membiasakan untuk
mengindahkan aturan dan karakter baik. Seperti contoh yang telah dibahas di atas,
terdapat santri yang ketika mengantre makan dan tidak ada pengawasan dari
pengurus yang akan menegurnya, masih terdapat yang tidak melakukan salat sunat
rawatib walaupun salat itu diwajibkan.
Franklin G. Moove (1964) memberikan arti pengawasan sebagai
tindakan-tindakan yang berkaitan unntuk memperbaiki kegiatan. Sedangkan
George R. Terry (1978) mengartikan pengawasan sebagai kegiatan lanjutan yang
bersangkutan dengan ikhtiar untuk mengidentifikasikan pelaksanaan program
yang harus sesuai dengan rencana. (Sobry Sutikno, 2010:47)
Dalam Sobry Sutikno (2010: 49) disebutkan bahwa terdapat tiga bentuk
pengawasan, yaitu: 1) Pengawasan atasan langsung; 2) Pengawasan fungsional; 3)
Pengawasan melekat (waskat).

1. Pengawasan atasan langsung
Pengawasan atasan langsung merupakan pengawasan yang dilakukan
oleh atasan terhadap pelaksanaan tugas, pemberian petunjuk atau tindakan
korektif bila perlu.
75



Dalam rangka memberikan pengawasan dan evaluasi, setiap malam
jum‟at pimpinan pondok (mudir) melakukan musyawarah internal rutin seminggu
satu kali dengan para guru (ustadz), pembimbing (musyrif), pengasuhan (ri‟ayah)
dan kesantrian. Malam selasa para musyrif mengadakan musyawarah juga
bersama kesantrian. Dalam musyawarah tersebut dibahas mengenai hal-hal
tuntutan figur/ keteladanan, kedisiplinan, kinerja, pembelajaran dan sharing
masalah dalam melakukan bimbingan.
2. Pengawasan fungsional
Pengawasan fungsional ini dilakukan oleh aparat secara khusus ditugasi
untuk membantu pimpinan untuk melaksanakan pengawasan dalam batas
kewenangan yang ditentukan.
Dalam pengarahan dan bimbingan karakter yang dilakukan, pembimbing
atau wali kelasnya dapat melakukan pengawasan dan evaluasi secara rutin setiap
hari. Setelah magrib terdapat kegiatan perwalian atau wejangan dari wali kelas
dan bimbingan dari musyrif (pembimbing) setiap sebelum beranjak tidur
merupakan kesempatan untuk mengevaluasi berbagai hal termasuk karakter para
santri.
Selain itu, musyrif yang selalu berinteraksi dengan para santri harus
benar-benar mengetahui bagaimana kondisi para anak bimbingannya, khususnya
dalam hal ini karakter anak bimbingannya.Untuk itu, musyrif membuat data
karakter anak-anak bimbingannya dalam rangka evaluasi pendidikan karakter
anak yang selanjutnya akan menjadi perhatian dan pertimbangan pembimbing.

76



No. Nama Santri Karakter Positif Karakter Negatif
1 ……………….. Disiplin Tidak Jujur
Tabel 3. Monitoring Karakter Anak
3. Pengawasan melekat (waskat)
Pengawasan melekat dilakukan oleh setiap pejabat/ pengurus dalam hal
menjalankan tugasnya masing-masing dengan membandingkan tindakan yang
ada, sedang, atau telah dilaksanakan.
Berdasarkan hal tersebut pimpinan pondok (mudir), guru (ustadz),
pembimbing (musyrif), pengasuhan (ri‟ayah), kesantrian, dan pengurus harus
melaksanakan pengawasan dan evaluasi secara individu dalam rangka
mengetahui asal-usul masalah dalam aspek organisatoris dan introspeksi diri atau
perenungan untuk menjadi sosok/ figur yang teladan dan dapat melangkah menuju
arah yang lebih baik.




BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis mengenai implementasi pendidikan karakter di
Pesantren Modern Al-Aqsha, maka dapat dipaparkan beberapa simpulan sebagai
berikut :
1. Pondok Modern Al-Aqsha mempunyai cita-cita yang sangat mulia untuk
mecetak para santrinya untuk memiliki karakter yang baik, yakni memiliki
ketaatan beribadah, berakhlak mulia (karimah), berbadan sehat, memiliki
pengetahuan yang luas, dan dapat berfikir kreatif dan dinamis. Oleh karena
itu, nilai akademis dalam mengukur penilaian santri tidak menjadi hal yang
utama. Kualitas dan pembentukan karakter (akhlak) menjadi landasan setiap
aktivitas di Pondok Modern Al-Aqsha. Untuk menanamkan karakter tersebut,
hal utama yang ditanamkan adalah berawal dari pembiasaan dan kedisiplinan.
2. Pondok Modern Al-Aqsha sangat mementingkan kualitas karakter para
santrinya. Pendidikan karakter yang diterapkan di Pondok Modern Al-Aqsha
dilakukan secara terencana, sistematis, holistik, dan evaluatif. Pendidikan
karakter diimplementasikan pada setiap aktivitas pondok baik secara implisit
maupun eksplisit. Usaha pondok dalam menerapkan karakter mencakup
pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, pemotivasian, sampai penegakan
aturan. Hal tersebut dilakukan dimulai dari para pimpinan (mudir),
78



pengasuhan (riayah), pembimbing (musyrif), ustadz, pengurus (munadzamah)
sampai para santri secara personal.
3. Penerapan pendidikan karakter sangat didukung dengan situasi dan kondisi
Pondok Modern Al-Aqsha. Dengan tinggalnya para santri di asrama,
pembentukan karakter dapat dilakukan secara optimal. Kedisiplinan dan
aktivitas-aktivitas bernilai positif dapat dikonsumsi oleh para santri dengan
didukung oleh para pembimbing dan guru yang berkompeten. Walaupun
demikian, terdapat kendala yang harus dipecahkan dalam
mengimplementasikan pendidikan karakter ini. Keteladanan (figur),
kurangnya kekompakkan dan kedisiplinan para pengurus (konsistensi) kadang
menjadi hambatan yang harus dipecahkan.
B. Saran
1. Pendidikan karakter merupakan usaha untuk menuju fitrah seluruh
manusia yang universal. Oleh karena itu, karakter yang baik akan selalu
diterima semua orang. Namun, pendidikan karakter akan sulit diterapkan
kepada anak didik apabila kesadaran dan karisma tidak diperhatikan.
Motivasi intrinsik (kesadaran) dan keteladanan merupakan sasaran awal
yang harus dibangun baik untuk para anak didik bahkan untuk para
pembimbing dan pengurus.
2. Kepada para pendidik dan pelajar, hendaknya kita sama-sama untuk
membangun kualitas karakter diri kita dalam membangun generasi penerus
bangsa yang beradab dan menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa.




DAFTAR PUSTAKA

______. 2009. Pedoman Penyususan Karya Tulis I lmiah Skripsi Tesis Disertasi.
UIN SGD Bandung
Aan Hasanah. 2012. Pendidikan Karakter Berperspektif I slam.Bandung: Insan
Komunika
Abdul Majid & Dian Andayani. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif I slam.
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Abu Ahmadi. 2003. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Abu Muhammad FH. & Zainuri Siroj.2009. Kamus I stilah Agama I slam (KI AI ).
Jakarta Barat: PT. Albama
Abuddin Nata. 2006. Metodologi Studi I slam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Ahmad Tafsir. 2008. I lmu Pendidikan dalam perspektif I slam. Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya
Arismantoro. 2008. Character Building “Bagaimana Mendidik Anak
Berkarakter?”. Yogyakarta: Tiara Wacana
Arnold A. Lazarus & Clifford N. Lazarus. 2005. Staying Sane in a Crazy World.
Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer
Dadan Nurulhaq. 2009. Baham Ajar Mata Kuliah Tasawuf. Fakultas Tarbiyah
dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Doni Koesoema A. 2007. Pendidikan Karakter (Strategi Mendidik Anak di
Zaman Global). Jakarta: Grasindo




Fatchul Mu‟in. 2011. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik & Praktik.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Jamal Ma‟mur Asmani. 2011. Buku Panduan I nternalisasi Pendidikan Karakter
di Sekolah. Jogjakarta: Diva Press
Lexy J. Moleong.2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya
M. Subana & Sudrajat. 2001. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: CV.
Pustaka Setia
Made Pidarta. 2007. Landasan Kependidikan (Stimulus I lmu Pendidikan
Bercorak I ndonesia.Jakarta: Rineka Cipta
Mahmud & Tedi Priatna.2005 Pemikiran Pendidikan I slam.Bandung: Sahifa
Maman Imanulhaq F. 2010. Fatwa dan Canda Gusdur. Jakarta: PT. Kompas
Media Nusantara
Masnur Muslich. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis
Multidimesional. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Pendidikan (Dengan Pendekatan Baru).
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Murip Yahya. 2010. Pengantar Pendidikan. Solo: Solo Press
Ratna Megawangi. 2004. Pendidikan Karakter. Depok : Indonesia Heritage
Foundation (IHF)
Sobry Sutikno. 2009. Belajar dan Pembelajaran(Upaya Kreatif dalam
Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil).Bandung: Prospect




Sobry Sutikno. 2010. Pengelolaan Pendidikan (Tinjauan Umum dan Konsep
I slami). Bandung: Prospect
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Tim Redaksi Kamus bahasa Indonesia. 2008. Kamus Besar Bahasa I ndonesia (e-
book). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Uus Ruswandi, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Bandung: CV. Insan Mandiri
Wikipedia. 2012. Pesantren. [online]. Tersedia:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#s0, 14 Juni 2012
Zainal Aqib & Sujak. 2011. Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter.
Bandung: Yrama Widya
Zainal Aqib. 2011. Pendidikan Karakter Membangun Perilaku Positif Anak
Bangsa. Bandung: CV. Yrama Widya








RIWAYAT HIDUP


Shofwan Abdul Aziz dilahirkan di Bandung pada tanggal
29 September 1989 yangmerupakan anak ketiga dari tiga
bersaudara dari pasangan Bapak T. Rahmat, S.Pd dan Lilis
Kholishah. Adapun alamat penulis adalah kampung Bojong Mulyasari RT 01 RW
22 Desa Margamulya Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung.
Jenjang pendidikan yang pernah penulis tempuh adalah 1) SDN Bojong
waru (lulus tahun 2002); 2) MTs YPP Darul Hikam Banjaran (lulus tahun 2005);
3) MA YPP Darul Hikam (lulus tahun 2008); 4) SI PAI UIN SGD Bandung
(masuk tahun 2008).
Adapun pengalaman organisasi yang pernah penulis ikuti adalah 1)
OSTRA sebagai ketua (2007-2008); 2) OSIS sebagai bendahara (2006-2007); 3)
HIMA-J PAI UIN SGD anggota bidang Pers (2009); 4) HMI Komtar
Cab.Bandung (2008-sekarang); 5) KSR PMI Unit UIN SGD sebagai sekretaris
(2008-sekarang); 6) Kopma UIN SGD (2010-sekarang); 7) BKPK Dekopinda
Bandung sebagai ketua (2010-sekarang); 8) KKMB ketua bidang PSDA (2012).





KISI-KISI PENELITIAN

NO
POKOK MASALAH/ SUB
MASALAH
TPD SUMBER DATA
1 a. Latar Alamiah Pesantren
Modern Al-Aqsha
1. Sejarah berdiri
2. Tahun berdiri
3. Visi dan misi
b. Kondisi Objektif
Pesantren
1. Keadaan pendidik
dan tenaga pendidik
2. Keadaan sarana
prasarana
3. Keadaan siswa
c. Letak geografis Pesantren
Modern Al-Aqsha
- Wawancara
- Observasi
- Dokumentasi
- Ketua
Pesantren
- Kepala Sekolah
- Kepala Asrama
- Ketua OPPMA
- Guru/ Ustadz
- Siswa
- Staf sekolah/
Pesantren
2. Implementasi Pendidikan
Karakter di Pesantren
Modern Al-Aqsha
a. Standar kompetensi siswa
b. Kurikulum pesantren
c. Manajemen Pesantren
1. Pengajaran
2. Keteladanan
3. Pembiasaan
4. Pemotivasian
5. Penegakan Aturan
6. Pengawasan
- Wawancara
- Observasi
- Dokumentasi
- Ketua
Pesantren
- Kepala Sekolah
- Kepala Asrama
- Ketua OPPMA
- Guru/ Ustadz





d. Kegiatan dan program
pesantren
3. Faktor Kendala dan
Penunjang Penerapan
Pendidikan Karakter
- Wawancara

- Ketua
Pesantren
- Kepala Sekolah
- Kepala Asrama
- Guru/ Ustadz
- Siswa
4. Hasil yang Dicapai Pesantren
Modern Al-Aqsha
a. PBM
b. Prestasi siswa
c. Karakter Siswa
d. Unggulan pesantren
Modern Al-Aqsha
- Wawancara
- Observasi
- Dokumentasi
- Kepala Sekolah
- Kepala Asrama
- Ketua OPPMA







PEDOMAN WAWANCARA

A. LATAR ALAMIAH PONDOK MODERN AL-AQSHA JATINANGOR
KABUPATEN SUMEDANG
1. Bagaimana sejarah berdirinya Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor
Kabupaten Sumedang?
2. Tahun berapa didirikannya Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor
Kabupaten Sumedang?
3. Siapa Pendiri Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten
Sumedang?
4. Keadaan fisik sarana dan prasarana Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor
Kabupaten Sumedang
a. Berapa jumlah bangunan seluruhnya?
b. Fasilitas apa saja yang tersedia?
c. Berapa jumlah ruang belajar?
d. Bagaimana setatus tanah, dan berapa luas tanah yang dipakai?
5. Apa tujuan, visi dan misi Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten
Sumedang?
6. Keadaan pendidik dan peserta didik di Pondok Modern Al-Aqsha
Jatinangor Kabupaten Sumedang:
a. Pendidik
1. Ada berapa jumlah guru yang mengajar di pondok ini?
2. Berasal dari mana guru yang mengajar di pondok ini?
3. Bagai mana tata cara penerimaan guru?
b. Perserta didik
1. Berapa jumlah santri seluruhnya?
2. Bagaimana latar belakang sosial ekonomi santri di pondok ini?
3. Bagaimana syarat dan penerimaan santri di pondok ini?





B. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN
MODERN AL-AQSHA JATINANGOR SUMEDANG
1. Apa tujuan pelaksanaan program kegiatan berbasis pembangunan karakter
di Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang?
2. Bagaimana proses penanaman karakter positif di Pondok Modern Al-
Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang?
a. Siapa saja pihak yang terlibat dalam membimbing dan membangun
karakter santri dan dan apa tugasnya?
b. Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam membangun karakter santri?
c. Apa saja yang menjadi sumber dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan
terhadap santri?
d. Bagaimana metode yang digunakan dalam membimbing dan
menanamkan karakter positif terhadapa para santri?
e. Bagaimana jadwal kegiatan para santri?
f. Pendekatan apa yang digunakan dalam proses pelaksanaan bimbingan
dan penanaman karakter terhadap para santri?
3. Apakah yang menjadi standar kompetensi para santri di Pondok Modern
Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang?
4. Bagaimana kurikulum Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor dalam
menanamkan karakter terhadap para santrinya?
5. Usaha apa saja yang dilakukan oleh pihak pengelola Pesantren Modern Al-
Aqsha untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan terhadap siswanya?
6. Apa yang menjadi keunggulan Pesantren Modern Al-Aqsha?
7. Apakah pemimpin pesantren menekankan pengelola pesantren untuk
menerapkan pendidikan karakter?
8. Bagaimana usaha pengelola pesantren untuk menyeimbangkan kualitas
akhlak dan kecerdasan otak santrinya?




C. FAKTOR KENDALA DAN PENUNJANG PENERAPAN PENDIDIKAN
KARAKTER DI PONDOK MODERN AL-AQSHA JATINANGOR
SUMEDANG
1. Apa yang menjadi kendala penerapan nilai-nilai kebaikan terhadap para
siswa di Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang?
2. Apa yang menjadi pendukung penerapan nilai-nilai kebaikan terhadap para
siswa di Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang?
3. Upaya apa yang dilakukan untuk mengatasinya?

D. HASIL YANG DICAPAI PESANTREN MODERN AL-AQSHA
JATINANGOR SUMEDANG
1. Bagaimana hasil yang telah dicapai dalam menanamkan karakter positif
terhadap para santri di Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten
Sumedang ?





PEDOMAN OBSERVASI

A. LATAR ALAMIAH PONDOK MODERN AL-AQSHA JATINANGOR
KABUPATEN SUMEDANG
1. Letak geografis Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten
Sumedang
2. Kondisi fisik dan fasilitas pendidikan:
a. Ruang belajar
b. Ruang kepala sekolah, guru, TU,BK, tamu dan sebagainya.
c. Sarana ibadah
d. Kegiatan ekstrakurikuler
e. Peralatan olah raga
3. Keadaan pendidik dan tenaga pendidik
4. Keadaan siswa
B. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN
MODERN AL-AQSHA JATINANGOR SUMEDANG
1. Proses pelaksanaan pendidikan karakter Pondok Modern Al-Aqsha
Jatinangor Kabupaten Sumedang
2. Kegiatan-kegiatan yang memberikan nilai positif terhadap para santri
a. Pengajaran
b. Keteladanan
c. Pembiasaan
d. Pemotivasian
e. Penegakan Aturan
f. Pengawasan




C. FAKTOR KENDALA DAN PENUNJANG PENERAPAN PENDIDIKAN
KARAKTER
1. Faktor Kendala dan Penunjang Penerapan Pendidikan Karakter
D. HASIL YANG DICAPAI PESANTREN MODERN AL-AQSHA
JATINANGOR SUMEDANG
1. Mengamati para santri untuk mengetahui hasil yang telah dicapai dalam
pendidikan karakter di Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten
Sumedang
2. Mengamati karakter guru, pengurus dan semua pihak terkait di Pondok
Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang










PEDOMAN MENYALIN

A. LATAR ALAMIAH PONDOK MODERN AL-AQSHA JATINANGOR
KABUPATEN SUMEDANG
1. Data tentang latar belakang berdirinya Pondok Modern Al-Aqsha
Jatinangor Kabupaten Sumedang yang meliputi: sejarah berdiri, tahun
berdiri, letak geografis, tujuan, visi dan misi.
2. Data tentang kondisi objektif Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten
Sumedang yang meliputi: keadaan fasilitas pondok, jumlah kelas, keadaan
pondok, santri, dan lokasi pondok.
B. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN
MODERN AL-AQSHA JATINANGOR SUMEDANG
1. Data tentang proses pelaksanaan pendidikan karakter di Modern Al-Aqsha
Jatinangor Kabupaten Sumedang yang meliputi: personil, kegiatan,
metode, sumber, dan waktu pelaksanaan.
C. FAKTOR KENDALA DAN PENUNJANG PENERAPAN PENDIDIKAN
KARAKTER
1. Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pendidikan
karakter di Modern Al-Aqsha Jatinangor Kabupaten Sumedang
D. HASIL YANG DICAPAI PESANTREN MODERN AL-AQSHA
JATINANGOR SUMEDANG
1. Data tentang karakter santri.
2. Data tentang prestasi santri.