You are on page 1of 8

SUNAN KALIJAGA, WALI YANG ORISINAL

Posted on 5 Oktober 2010



Kadilangu terletak tak jauh dari Demak di Jawa Tengah. Kalau Anda datang dari arah Semarang,
sebelum sampai di Demak bisa mampir ke Kadilangu dahulu. Udara biasanya panas, tetapi orang-
orang yang mengalir tanpa putus wajahnya begitu tulus dan ketulusan itulah yang memberi
perasaan damai. Memang, di sanalah terletak makam yang dalam tesis Sumanto Al Qurtuby, Arus
Cina-Islam Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di
Nusantara Abad XV & XVI (2003) disebutkan sebagai paling dikeramatkan di Jawa Tengah, yakni
makam Sunan Kalijaga.

Nama ini terdengar begitu akrab, tetapi lebih akrab lagi adalah karya-karyanya sebagai pendakwah
kreatif, yang sering dimanfaatkan tanpa disadari lagi sebagai gubahan Sunan Kalijaga. Seperti terjadi
dengan kidung Rumeksa Ing Wengi, yang disamping berfungsi sebagai kidung tolak bala, jika
dibawakan Nyi Bei Madusari juga terdengar indah sekali. Perhatikan :

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna.
Ada kidung melindungi di malam hari
Penyebab kuat terhindar dari segala kesakitan
Terhindar dari segala petaka
Jin dan setan pun tidak mau
Segala jenis sihir tidak berani
Apalagi perbuatan jahat
Guna-guna dari orang tersingkir
Api menjadi air
Pencuri pun menjauh dariku
Segala bahaya akan lenyap.

Kidung ini disusun dalam sastra macapat yang ditulis dalam metrum dhandhanggula. Sebuah ulasan
dalam buku best seller yang ditulis seorang sarjana agronomi, Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga
(2003) karya Achmad Chodjim, dengan memikat telah menghadirkan makna kidung yang juga bisa
berarti sabda atau firman, sebagai teknik membangkitkan konsentrasi dan kekuatan pikiran.
Menurut Chodjim, kata-kata yang tertata rapi di dalam sebuah doa, sebenarnya untuk menjadi titik
perhatian dan tujuan dari pelafal doa. Titik perhatian inilah yang akan membangkitkan konsentrasi
dan dengan itu menjelmakan kekuatan pikiran.

Mengacu kepada Michael Talbot dalam Mysticism and The New Physics: Beyond Space-Time,
Beyond God, To The Ultimate Cosmic Consciousness (1981), Chodjim memaparkan bahwa kekuatan
pikiran dapat menghasilkan sebuah medan biogravitasi (gravitasi makhluk hidup) yang dapat
berinteraksi dengan dan mengubah medan gravitasi yang mengendalikan materi. Teori ini
terbuktikan oleh populernya kidung gubahan Sunan Kalijaga sebagai penolak bala kejahatan yang
dilakukan malam hari. Mulai dari kejahatan masuk akal seperti pencurian, sampai yang disebut
gaib seperti sihir, teluh, santet, yang tentunya dipercaya keberadaannya pada masa kehidupan
Sunan Kalijaga.

Chodjim menyampaikan kisah nyata, bahwa kidung ini masih berfungsi di desa pada masa kini demi
kebutuhan praktis, misalnya mengusir hama tikus. Dikisahkan bahwa pelafal doa berpuasa 24 jam,
makan sahur dan buka tengah malam, lalu kidung Rumeksa ing Wengi ini dibaca sambil mengelilingi
pematang sawah atau ladang. Alhasil, tikus benar-benar tidak datang ke sawah tersebut. Perhatikan,
bukan tikus mati di mana-mana, melainkan sekadar tidak datang. Menurut Chodjim, doa memang
bukan untuk merusak, tetapi menjaga harmoni alam. Disebutkan dengan tegas sebagai doa, bukan
sihir atau mantra negatif dan yang disebut doa secara sungguh-sungguh memiliki kesakralan dan
kesucian.

Adapun hubungan fakta atas kidung Rumeksa ing Wengi dan reputasi Sunan Kalijaga sebagai
pendakwah, agama Islam diperkenalkan Sunan Kalijaga tidak sebagai formalitas yang kaku. Dalam
perbincangan bait-bait selanjutnya dari kidung tersebut yang terlalu panjang dikutip di sini, Chodjim
menekankan betapa Sunan Kalijaga mementingkan terbangunnya keyakinan dalam beragama
daripada hafalan atas doa-doa itu sendiri, dan karena orang Jawa abad XV tidak mudah
mengucapkan apalagi memahami bahasa Arab, dalam memperkenalkan orang Jawa terhadap
keindahan dan kebesaran beragama, Sunan Kalijaga mengacu alam pikiran Jawa masa itu.

Dalam disertasi yang ditulis seorang pemuda 29 tahun pada 1935, Manunggaling Kawula Gusti:
Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa, disebutkan bahwa di antara para wali, ajaran
Sunan Kalijaga adalah yang paling orisinil. Pemuda itu, P.J.Zoetmulder, yang kelak terkenal sebagai
mahapakar Jawa Kuno, mengambil kesimpulannya antara lain setelah memeriksa Serat Wirid yang
ditulis Ranggawarsita, yang berisi ajaran-ajaran para tokoh yang secara bersama disebut sebagai
Walisanga, para pendakwah yang menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad XV.

Seperti apakah ujudnya orisinalitas itu, dan mengapa orisinalitas harus dianggap penting? Rupa-
rupanya, dalam penyebaran agama Islam, kecenderungan Sunan Kalijaga untuk peduli kepada
konteks lokal di tempat ia berdakwah sangat dimaknai sampai hari ini. Namun sebelum sampai ke
sana, mungkin baik kita ikuti kembali sastra lisan tentang proses kewalian Sunan Kalijaga, yang
jangan dicari kefaktaannya melainkan makna yang berada di balik kisah itu. Historiografi Jawa sulit
dibaca seperti membaca buku sejarah modern -karena itu harus selalu diterima sebagai materi untuk
ditafsirkan kembali.

Episode brandal

Ada sebuah episode dalam kehidupan Sunan Kalijaga, yang boleh kita sebut sebagai episode Brandal
Lokajaya. Memang, sebelum mendapat pencerahan dan disebut Sunan Kalijaga, disebutkan bahwa ia
bernama Raden Syahid, putra Adipati Tuban, yakni Tumenggung Wilatikta yang juga disebut Aria
Teja IV, seorang keturunan Ranggalawe. Dipandang secara politis, penyebutan Ranggalawe ini
bukanlah hubungan, melainkan penghubungan dengan Majapahit, demi legitimasi kekuasaan
Mataram kelak -seolah-olah Sunan Kalijaga menjadi penghubung dan sekaligus pengukuh
kesinambungan Majapahit-Demak-Mataram.

Sebagai Raden Syahid, disebutkan betapa pemuda ini sudah sangat kritis terhadap kemiskinan di
sekitarnya dalam kekuasaan Majapahit, sehingga ia bertindak sebagai maling budiman, yakni
merampok orang kaya yang korup, dengan cara mencegatnya di dalam hutan dan hasilnya dibagikan
kepada orang-orang miskin. Mohon dicatat juga terdapatnya versi lain, seperti yang dikutip Nacy K.
Florida dari Babad Jaka Tingkir untuk disertasinya Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang
(1995), bahwa Raden Syahid merampok bukan karena ia seorang maling budiman, melainkan karena
betul-betul bejat. Dalam kedua versi, Raden Syahid bertemu batunya ketika mencegat seorang tua
yang tidak diketahuinya adalah Sunan Bonang, seorang wali kutub tingkat pertama.

Seperti biasa, ia bermaksud membegal Sunan Bonang, terutama tongkatnya yang dalam
pandangannya berlapis emas -tetapi ketika berhasil merebutnya, ternyata hanya terbuat dari
kuningan, maka lantas dikembalikan. Sunan Bonang berkata jangan menganggap remeh yang
tampaknya sederhana, dan ia perlihatkan betapa tongkat itu mampu mengubah buah aren menjadi
emas. Dengan bernafsu, Raden Syahid memanjat untuk mengambil buah-buah emas itu, yang
ternyata berubah menjadi buah hijau kembali saat itulah Raden Syahid menyadari kerendahan
derajat hidupnya. Ia lantas menyatakan ingin berguru kepada Sunan Bonang, bukan untuk bisa
mengubah buah menjadi emas, melainkan untuk belajar ilmu-ilmu.

Sunan Bonang lantas menancapkan tongkatnya di tanah, dan meminta Raden Syahid tafakur di sana
sambil menjaga tongkatnya itu, sebelum akhirnya berlalu untuk membantu Raden Patah
membangun kerajaan Demak. Peristiwa itu berlangsung di tepi sungai, dan dari ketafakurannya
selama bertahun-tahun di sana Raden Syahid mendapat nama sebutannya, Sunan Kalijaga.

Alkisah selama tafakur Raden Syahid berhasil menghayati arti kehidupan, dan ketika Sunan Bonang
kemudian menemuinya kembali (sangat terkenal ilustrasi tentang akar-akaran yang sudah meliputi
seluruh tubuh Raden Syahid) segeralah ia diberi pelajaran, yang isinya bisa dirujuk dalam Suluk
Linglung Sunan Kalijaga yang ditulis Iman Anom pada 1884, dan telah diterbitkan dalam bahasa
Indonesia oleh Balai Pustaka pada 1993. Dalam suluk linglung itu juga dikisahkan pertemuan Sunan
Kalijaga dengan Nabi Khidir di tengah samudera ketika akan beribadah haji ke Mekah, yang sangat
mirip dengan cerita wayang Dewaruci, bahwa untuk mendapatkan pencerahan seseorang cukup
memasuki dirinya sendiri, yang dalam dirinya merupakan alam luas tak berbatas.

Kisah ini, dengan berbagai perbedaan versi yang tidak mengubah alur, sangat terkenal, dan
merupakan sejarah paling pokok dari pembangunan karakter Sunan Kalijaga : yakni bahwa selalu
ada segi-segi kebadungan dalam diri Sunan Kalijaga justru sesuatu yang sangat penting dalam
kelanjutan sejarah penyebaran Islam di Jawa, seperti terlihat dari perdebatannya dengan para wali
lain untuk mempertahankan warisan tradisi Hindu-Buddha dalam kesenian sebagai sarana
berdakwah, yang tentu tidak begitu saja bisa segera diterima oleh para sunan yang sangat teguh
dalam syariat agama.

Dalam kompromi dengan para wali lain itulah, Sunan Kalijaga dengan kreatifnya mengubah boneka
wayang kulit yang semula tiga dimensi menjadi pipih dua dimensi (supaya tidak seperti patung, yang
di Saudi Arabia masa itu tentu identik dengan berhala), serta memanfaatkan segala sarana
pertunjukannya seperti layar yang putih dan kosong, blencong, bayangbayang, posisi penonton di
depan atau di belakang layar, dan wayang kulit itu sendiri untuk berfilsafat dan berdakwah,
menyampaikan ajaran agama Islam dengan cara yang dipahami dan disukai oleh masyarakat Jawa.
Bukankah pertanyaan sederhana seperti, Kalau wayang digerakkan oleh dalang lantas siapa yang
menggerakkan dalang?, akan sangat mudah mengundang renungan atas kekuasaan Tuhan?
Orisinalitas dalam pemikiran Sunan Kalijaga untuk mempertahankan lokalitas jelas merupakan
kontribusi penting bagi kemandirian identitas budaya Islam di Jawa, dulu maupun sekarang.

Saka Tatal & Jung Cina

Peristiwa penting lain dalam riwayat Sunan Kalijaga terlihat dari kasus saka tatal yang terkenal.
Diriwayatkan bahwa para wali bergotong royong membangun Mesjid Demak, dan Sunan Kalijaga
mendapat bagian mendirikan salah satu dari empat tiang utama Mesjid. Entah kenapa, Sunan
Kalijaga sudah sangat terlambat ketika memulai pekerjaannya, sehingga dengan kesaktian-nya ia
terpaksa menggantikan balok kayu besar itu dengan potongan-potongan balok kecil, yang disebut
tatal dan ternyata tiang yang tampaknya darurat itu mampu menyangga atap mesjid, sama kuat
dengan tiang-tiang utama lain, meski sekarang tentunya sudah direnovasi. Dalam tradisi lisan Jawa,
saka tatal itu adalah bukti kedigdayaan Sunan Kalijaga, tetapi bagi penelitian ilmiah, soalnya ternyata
menjadi lain.

Dalam buku Qurtuby yang sudah disebutkan, tesis yang meneliti peranan Tionghoa dalam
penyebaran Islam di Indonesia, disebutkan bahwa teknik perakitan yang digunakan Sunan Kalijaga
untuk menyangga atap mesjid dengan himpunan tatal itu sama dengan cara penyambungan
potongan kayu untuk tiang kapal jung Cina. Sehubungan dengan tujuan penelitiannya, timbul
pertanyaan-pertanyaan seperti berikut : Apakah Sunan Kalijaga memintabantuan tukang-tukang asal
Tiongkok, yang tentunya terdapat dalam masyarakat Tionghoa yang telah bermukim sepanjang
Pantai Utara di Jawa; apakah Sunan Kalijaga, sebagai wali yang kreatif dan menghayati hadits
tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina, telah mempelajari teknik itu dari orang-orang Tionghoa; dan
yang paling rawan adalah, apakah Sunan Kalijaga sendiri adalah seorang keturunan Tionghoa?

Semua ini baru pertanyaan. Sejumlah buku sejarah yang kurang teliti, antara lain oleh seja-rawan
kenamaan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara-Negara
Islam di Nusantara (1968), dengan yakin pernah menyebutkan nama lain Sunan Kalijaga sebagai Gan
Si Cang. Sumber Muljana adalah buku M.O. Parlindungan berjudul Tuanku Rao (1964), dan sumber
Parlindungan adalah Malay Annal (Catatan Tahunan Melayu) yang terdapat dalam penelitian pakar
kenamaan Belanda, H.J. de Graaf dan Pigeaud, tetapi yang tidak satu sejarawan pun sebelumnya,
dalam hal Sunan Kalijaga, berani memastikannya.

Kita tidak punya ruang untuk berkisah tentang Gan Si Cang yang terhubungkan dengan Sunan
Kalijaga, sehingga menimbulkan kerancuan, tetapi bisa melihat apa pendapat Qurtuby sebagai
peneliti mutakhir: Mungkinkah cerita kesaktian Sunan Kalijaga di atas sebetulnya hanyalah narasi
masyarakat tradisional atas keahlian teknologi perkapalan yang dimiliki sang sunan? Atau Gan Si
Cang sebetulnya hanyalah tokoh khayalan yang sengaja diciptakan peng-gubah teks Malay Annals
untuk menyamarkan figur Sunan Kalijaga? Qurtuby berpendapat agak susah untuk
mengidentifikasikan Gan Si Cang dengan Sunan Kalijaga, karena tradisi lokal tak secuilpun
memunculkan kecinaan Sunan Kalijaga; namun kiranya pendapat Qurtuby berikut sangat menarik:
Kalaupun Gan Si Cang adalah tokoh historis, kemungkinan ia adalah nama lain bukan Sunan
Kalijaga yang bisa saja pada waktu itu dimanfaatkan keahliannya oleh penguasa Demak untuk turut
serta membangun mesjid.

Sementara itu, dalam pemeriksaan Florida atas Babad Jaka Tingkir sebagai bagian disertasinya, kita
akan menemukan ulasan menarik atas peranan tokoh Sunan Kalijaga, ketika pembangunan Mesjid
Demak sampai kepada saat harus menentukan arah kiblat. Dalam babad ini terdapat adegan
perdebatan para wali tentang arah kiblat. Nancy Florida, yang meneliti budaya Jawa selama 25 tahun
sebelum sampai penulisan disertasi ini, menafsirkannya secara politis sebagai penawaran, bahkan
kadang disebut juga perlawanan Muslim Jawa terhadap hegemoni Islam pusat di Mekah
masalahnya, bukankah tidak mungkin menghadapkan arah kiblat tidak ke Kabah? Disebutkan, Sunan
Kalijaga diberi tugas menangani masalah ini, agar kiblat tetap seperti seharusnya, tanpa memberi
posisi Muslim Jawa tunduk kepada suatu kekuasaan duniawi di manapun, meski tetap tunduk
menyerahkan diri kepada Tuhan, karena Islam memang berarti penyerahan diri.

Maka Sunan Kalijaga mengambil langkah berikut, seperti dibahasakan oleh Florida sendiri dalam
menganalisis Babad Jaka Tingkir. Sunan Kalijaga merampungkan proses lokalisasi ini. Berkat
penanganan ajaibnya, sang Mesjid akhirnya menurut bersepakat dengan Kabah Mekah, dan pada
saat yang sama Kabah pun menurut bersepakat dengan Mesjid Demak. Tindakan Kalijaga adalah
suatu hal yang radikal:

Tangan kanan memegang Kabah Allah /Tangan kiri memegang /Balok puncak Mesjid itu /Ditariklah
keduanya / Telah terulur diadu terantuk / Atap Kabah dan balok puncak Mesjid / Dinyatakan
sewujud / Sempurna segaris tiada melenceng.

Dengan tindakan berganda ini, keduanya dinyatakan dan dibuktikan sebagai keberadaan atau
substansi yang satu. Kenyataan satu-yang-adalah-dua itu yang menyatakan pemapanan kiblat
diwujudkan dengan kesegarisan dalam keterhubungan antara struktur Demak dan Mekah yang di
dalamnya struktur Mekah (meskipun jelas lebih tua) tidaklah memiliki dominasi yang mutlak.
Kesepakatan diraih berkat penanganan sang wali merdeka Kalijaga menghasilkan perwujudan Mesjid
Demak sebagai pusat salah satu pusat di dalam dunia Islam yang tidak mengakui kekuasaan
duniawi mana pun sebagai mutlak. Tindakan berganda yang membuka peluang untuk penyebaran
berbagai-bagai pusat ini justru berhasil, karena tindakan ini merupakan perlawanan terhadap
keterpinggiran mereka yang memang ada di pinggir.

Tentu saja kita tidak bisa mengandaikan bahwa Sunan Kalijaga dalam babad tersebut adalah Sunan
Kalijaga historis, yang dari darah dan daging, tetapi bukankah justru tugas penelitian sejarah tidak
sekadar memisahkan antara yang mitos dan fakta, melainkan juga menafsirkan mitos demi
pemahaman sejarah secara menyeluruh? Setidaknya kita mendapatkan informasi dari babad
tersebut, bagaimana masyarakat Jawa memandang Sunan Kalijaga : kreatif dan merdeka.

Lir-ilir, lir-ilir

Makam Sunan Kalijaga kini berada di dalam rumah kokoh dengan ukiran Jepara terbaik di pintu,
jendela, maupun tiang-tiangnya. Bisa dibayangkan betapa masa lalu, ketika Sunan Kalijaga bermukim
dan mengajar di sana, tempat itu tentu jauh lebih sunyi daripada sekarang. Tanpa listrik tentu, dan
tanpa suara bising dari jalan raya antarkota. Namun meski dahulu kala Kadilangu adalah desa yang
sunyi, bisa dibayangkan terdapatnya keceriaan yang melingkupinya, berkat wibawa dan kegairahan
seorang wali pecinta kesenian, yang selalu siap dan terbuka terhadap perubahan. Sehingga, meski
antara pemakaman yang wingit dan pasar cinderamata di luarnya tampak seolah-olah tidak cocok,
jika masyarakat di sekitarnya tidak keberatan, maka Sunan Kalijaga pun kiranya bisa dibayangkan
tidak akan terlalu keberatan.

Catatan ini ingin menekankan, bahwa ziarah pustaka bisa membuat pemikiran kita jadi produktif,
sebagai alternatif ziarah kuburan yang sebenarnya, meski penghayatan lingkungan bukannya
tidak penting tanpa kita harus jadi sejarawan professional. Maka kita tutup ziarah ini dengan
sebuah lagu dolanan gubahan Sunan Kalijaga, yang bukan hanya ceria tapi juga penuh makna,
karena sebenarnya membawa sebuah pesan keagamaan yang serius :

Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, dak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Domono jlumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
Ya surak-a surak horeeee!