You are on page 1of 28

TUGAS MATAKULIAH

BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN KELAS B


(PNA3248B)

PEMELIHARAAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM) KOMODITAS
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Disusun oleh:
1. Citra Recha Sari (12008)
2. Restiyana Vita W. (12075)
3. Zulham Aaron Mochamad (12172)
4. Rivandi Pranandita Putra (12175)
Dosen Pengampu : Prof. (Emer) Dr. Ir. Woerjono Md., M.Sc




PROGRAM STUDI AGRONOMI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
DAFTAR ISI

Konsolidasi atau Sensus Tanaman.
Penyisipan Tanaman.
Pengukuran Pertumbuhan Tanaman, Analisa Daun, dan Monitoring Pembungaan.
Pemeliharaan Piringan, Jalan Rintis dan Gawangan.
Pembuatan Jalan Pikul.
Pemasangan Titi Panen dan TPH.
Pemupukan Tanaman..
Tunas Pasir dan Kastrasi..
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Sawit
Daftar Pustaka.


















DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tanaman Kelapa Sawit..
Gambar 2. Piringan Kelapa Sawit yang Dibersihkan Gulmanya Secara Manual.
Gambar 3. Piringan Kelapa Sawit yang Dibersihkan Gulmanya Secara Kimia..
Gambar 4.
Gambar 4 a. Gulma Pakis Raja.
Gambar 4 b. Gulma Rumput Bendera
Gambar 4 c. Gulma Pohon.
Gambar 5.
Gambar 5 a.Colapogonium Caeruleum (CC)..
Gambar 5 b.Colapogonium Muconoides (CM)..
Gambar 5 c. Wedelia trilobata L, Penutup Tanah pada Lahan Gambut.
Gambar 6. Pemupukan Tanaman Sawit Harus Mengandung Nitrogen dan Kalium.
Gambar 7. Pembersihan Daerah Piringan..
Gambar 8. Penempatan Pupuk pada Kelapa Sawit Kotoran Lain.
Gambar 9. Tunas Pasir Kelapa Sawit..
Gambar 10. Ulat Api..
Gambar 11. Kelapa Sawit (TBM) Terserang Tikus.
Gambar 12. Kumbang Penggerek Pucuk Oryctes rhinoceros
Gambar 13 Kerusakan Titik Tumbuh Akibat Serangan Hama Kumbang Penggerek Pucuk
(Oryctes rhinoceros).
Gambar 14. Penyakit Busuk Pangkal Batang Disebabkan oleh Ganoderma boninense









DAFTAR TABEL

Tabel 1. Rekomendasi Pupuk Tunggal yang Digunakan Perkebunan dalam Memenuhi
Kebutuhan Hara Makro Bagi Tanaman Kelapa Sawit.
Tabel 2. Dosis Pemupukan TBM Kelapa Sawit
























Manajemen Pemeliharaan Tanaman Sawit dari Segi Agronomis

Gambar 1. Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Pemeliharaan tanaman pada komoditas perkebunan yang bersifat tahunan, biasanya
dikelompokkan ke dalam tanaman belum menghasilkan atau di singkat (TBM) dan tanaman
menghasilkan disingkat (TM). TBM pada kelapa sawit adalah masa sebelum panen (dimulai
dari saat tanam sampai panen pertama) yaitu berlangsung 30-36 bulan. Periode waktu TBM
pada tanaman kelapa sawit terdiri dari:
TBM 0 : menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami kacangan penutup tanah
dan kelapa sawit sudah ditanam pada tiap titik panjang.
TBM 1 : tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan)
TBM 2 : tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan)
TBM 3 : tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan)
Berikut ini akan dibahas tentang manajemen pemeliharaan kelapa sawit pada periode
waktu 0 tahun di lapangan sampai dengan tanaman menjelang berbunga pertama (sekitar
umur 3 tahun-an). Di antara tahapan penting dalam manajemen pemeliharaan tanaman kelapa
sawit yaitu perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan, pengawasan pelaksanaan
pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM).
Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, sejak bibit sawit selesai ditanam di
lahan sampai tanaman mulai pertama kali berbunga meliputi:
1. Konsolidasi atau Sensus Tanaman.
2. Penyisipan Tanaman.
3. Pengukuran Pertumbuhan Tanaman.
4. Pemeliharaan Piringan, Jalan Rintis dan Gawangan.
5. Pembuatan Jalan Pikul
6. Pemasangan Titi Panen dan TPH.
7. Pemupukan Tanaman.
8. Tunas Pasir dan Kastrasi.
9. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Sawit.
10. Manajemen Irigasi/ Pengairan.

1) KONSOLIDASI ATAU SENSUS TANAMAN
Konsolidasi atau disebut juga sensus adalah kegiatan yang dilakukan untuk
menginventarisasi tanaman yang mati, tumbang, atau terserang hama atau penyakit. Selain itu
dilakukan pula menegakkan tanaman yang tampak miring dan memadatkan tanah setelah
selesai kegiatan penanaman. Kerapatan tanaman kelapa sawit sesuai standar pohon yang
sehat harus dicapai pada bulan ke 12 setelah penanaman. Sensus pada TBM 1 dengan
penyisipan menjadi prioritas utama. Sensus pada TBM 1 dilakukan pada umur 2, 6 dan 10
bulan setelah tanam.
Tanaman yang tidak normal diberi tanda silang cat berwarna putih. Sensus
selanjutnya adalah sensus tanaman tidak produktif yaitu dilakukan pada saat dimulai kastrasi
pada bulan ke 14 dan 18. Oleh karena itu, untuk kegiatan kastrasi bunga betina yang ada di
pohon non produktif (sensus ke 1 s.d sensus ke 4) tidak dibuang.
Berikutnya adalah sensus tanaman produksi rendah yaitu dilakukan 4 kali pada umur
14, 17, 20, dan 23 bulan setelah tanama dengan cara:
Sensus pertama pada umur 14 bulan (Ss 1) yaitu dilakukan pada pohon yang
berbunga betina 4 diberi tanda dot pada pelepah ketiga dengan cat warna putih
Sensus kedua pada umur 17 bulan (Ss 2) yaitu pohon hasil Ss 1 dilihat kembali, dan
apabila jumlah bunga betina 3 maka diberi tanda dot pada pelepah yang sama
sehingga jumlah dotnya ada dua.
Sensus ketiga pada umur 20 bulan (Ss 3) yaitu pohon hasil Ss 2 dilihat kembali, dan
apabila jumlah bunga betina 3 maka diberi tanda dot lagi sehingga jumlah dotnya
ada tiga.
Sensus keempat pada umur 23 bulan (Ss 4) yaitu pohon hasil Ss 3 dilihat kembali,
dan apabila jumlah bunga betina 3 maka diberi tanda dot lagi sehingga jumlah
dotnya ada empat. Pohon-pohon hasil sensus keempat dengan tanda dot 4 dianggap
tanaman kelapa sawit tidak produktif dan harus dilakukan
pembongkaran serta penyisipan pada 3 bulan berikutnya (tanaman berumur 26 bulan).

2) PENYISIPAN TANAMAN/ PENYULAMAN
Kegiatan penyisipan tanaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati,
hilang atau kemungkinan besar tanaman tidak akan berproduksi optimal. Kedua kegiatan
sensus dan penyisipan bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman-tanaman yang ada di
lapangan adalah tanaman produktif. Pelaksanaan penyisipan tanaman yaitu 3-6 bulan setelah
tanam, sehingga dimungkinkan terjadinya keseragaman panen. Frekuensi waktu penyisipan
tanaman dilakukan dengan ketentuan 2-4 rotasi per tahun selama 18 bulan sejak tanam.
Cara penyisipan tanaman yaitu tanaman yang mati dicabut dan ditempatkan dalam
gawangan. Kemudian penyisipan tanaman dilakukan dengan diawali pembuatan titik tanam.
Penanaman dilakukan dengan mengikuti prosedur biasa, kecuali bibit yang digunakan bibit
yang lebih besar (umur 12 bulan) sehingga dimungkinkan dilakukan pemotongan pelepah
bibit. Pupuk pada saat penyisipan tanaman, diberikan sebanyak 1,5 kali dosis pupuk per
lubang dari pada penanaman awal. Selanjutnya diperlakukan sama seperti pada tanaman lain
di sekitarnya.
Peralatan yang digunakan dalam penyisipan tanaman yaitu:
Truk dengan bak rata dan terbuka atau traktor trailer.
Sekop bertangkai panjang.
Kaleng yang telah ditera untuk pemupukan lubang tanam.
Kereta dorong untuk angkutan dalam kebun.
Pisau tajam.
Bahan yang digunakan dalam penyisipan tanaman yaitu:
Kayu untuk menopang pohon yang miring.
Pupuk dasar.

3) PENGUKURAN PERTUMBUHAN TANAMAN, ANALISA DAUN, DAN
MONITORING PEMBUNGAAN TANAMAN
Kegiatan pengukuran pertumbuhan TBM sawit merupakan upaya untuk memperoleh
data tingkat pertumbuhan dan kondisi tanaman. Caranya yaitu mengukur panjang pelepah
pada berbagai umur. Data hasil pengukuran tersebut akan dibandingkan dengan standar yang
telah ditetapkan. Pada analisa daun, contoh daun mulai diambil pada masa TBM 3. 1x/bln.
0,04 -0,06 HK/ha, dimana 1 KCD (Kesatuan Contoh Daun) diambil dari setiap blok (16-25
ha). Mencatat pohon-pohon yang telah mengeluarkan bunga. 1x/ bulan. Monitoring
oembungaan TBM sawit dilakukan dengan cara mengamati tiap pohon dan hasilnya
digambarkan pada peta sensus. 1 HK/ha.
4) PEMELIHARAAN PIRINGAN, JALAN RINTIS, DAN GAWANGAN
Piringan (circle weeding) yaitu daerah yang berada di sekitar pokok kelapa sawit yang
berbentuk lingkaran. Diameter masing-masing piringan berbeda, tergantung dari umur
tanaman. Tanaman umur 2-6 bulan lebar piringan jari-jari60 cm, 6-12 bulan lebar piringan
jari-jari 75 cm, 12-24 bulan lebar piringan jari-jari 100 cm, 24-36 bulan lebar piringan jari-
jari 100-125 cm, dan umur lebih dari 24 bulan lebar piringan jari-jari 200 cm. Tujuan adanya
piringan pada pertanaman kelapa sawit yaitu memudahkan proses pemanenan, memudahkan
dalam pengutipan brondolan dan perawatan tanaman dan mencegah adanya hama dan
penyakit tanaman. Oleh sebab itu, pada areal ini tidak boleh adanya gulma dan LCC (kriteria
W0) yang akan mengganggu kegiatan pemupukan, pemanenan dan dapat menjadi inang bagi
hama dan penyakit. Selain itu, piringan juga berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan
pupuk. Oleh karena itu, kondisi piringan senantiasa bersih dari gangguan gulma.
Pemeliharaan piringan dan gawangan bertujuan antara lain untuk:
Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur hara, air,
dan sinar matahari.
Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan.
Pemeliharaan piringan dan gawangan bebas dari gulma dapat dilakukan secara
manual atau secara kimia. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara manual yaitu tenaga
manusia dengan menggunakan cangkul. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara kimia
dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida.

Gambar 2. Piringan Kelapa Sawit yang Dibersihkan Gulmanya Secara Manual

Gambar 3. Piringan Kelapa Sawit yang Dibersihkan Gulmanya Secara Kimia
Pelaksanaan pemeliharaan piringan dan gawangan, harus memperhatikan beberapa
ketentuan sebagai berikut:
P 0 = menyingkirkan semua gulma, kacangan bersih dari gulma (kacangan 100%)
umur 0-6 bulan, rotasi 2 minggu;
P 1 = kacangan 85%, rumput lunak 15%, umur 7-12 bulan, rotasi 3 minggu
P 2 = kacangan 70%, rumput lunak 30%, umur 12- 18 bulan, rotasi 3 minggu;
P 3 = kacangan bercampur dengan rumput lunak, bebas dari lalang dan anakan kayu,
umur > 18 bulan rotasi 4 minggu.
Standar pembuatan dan pemeliharaan piringan dan jalan rintis dilakukan dengan cara:
Piringan bebas dari gulma sampai radius 30 cm di luar tajuk daun atau maksimal
180 cm dari pohon;
Pembuatan jalan rintis dilakukan pada umur tanaman 1-12 bulan dengan
perbandingan 1:8, dan waktu tanaman berumur lebih dari 12 bulan. Jalan rintis dibuat
dengan perbandingan 1:2 dengan lebar 1,2 m.
Perawatan jalan rintis/tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan piringan.
Pekerjaan penyiangan (P) atau weeding (W) pada TBM dilakukan dengan kriteria sebagai
berikut:
TBM 1 : W1 penutup tanah seluruhnya (100%) kacangan. Rumput-rumput gulma
lain dibersihkan semuannya dan
TBM 2 : W1 seperti pada TBM 1
TBM 3 : W3 yaitu 70% kacangan + 30% gulma lunak; bebas lalang.
Gulma yang diberantas adalah jenis gulma yang bersifat negatif bagi tanaman budidaya
yakni: Alang-alang, mikania, pahitan, pakis, dan teki. Gulma kacangan yang merambat ke
pohon diturunkan. Gulma lunak yang tidak perlu diberantas adalah jenis wedusan, sintrong.
Contoh jenis-jenis gulma dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 a. Gulma Pakis Raja Gambar 4 b. Gulma Rumput Bendera


Gambar 4 c. Gulma Pohon

Sedangkan contoh tanaman penutup tanah dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 a.Colapogonium Caeruleum (CC) 5 b. Colapogonium Muconoides (CM)

Gambar 5 c. Wedelia trilobata L, Penutup Tanah pada Lahan Gambut
Pekerjaan penyiangan/ weeding penutup tanah dilakukan dengan periode waktu
sebagai berikut:
Bulan ke 1 s.d 4 : Penyiangan intensif dengan interval 2-2-2-3-4 minggu
Bulan ke 5 s.d 7 : Satu kali per 2 bulan
Bulan ke 8 s.d 22 : Satu kali per 1 bulan
Pekerjaan penyiangan pada gawangan yaitu dilakukan dengan dua cara, yaitu secara
manual dan kimia. Penyiangan secara manual dilakukan dengan cara mencabut atau
menggaruk gulma. Jika tinggi gulma/vegetasi > 70 cm, penyiangan dilakukan dengan cara
dibabat (baik menggunakan sabit atau menggunakan mesin pemotong rumput).

5) PEMBUATAN JALAN PIKUL
Pembuatan jalan pikul dilakukan sebagai jalan untuk pemeliharaan tanaman. Lebanya 80-
100 cm. Alat yang digunakan untuk membuat jalan pikul adalah cangkul dan parang babat.
Tanaman penutup tanah yang berada ditengah gawangan dibuka bersih menjadi jalan
kontrol/pasar pikul.
TBM 1 : 1 jalan pikul untuk 8 baris tanaman. 400 m/HK.
TBM 2 : 1 jalan pikul untuk 4 baris tanaman. 400 m/HK.
TBM 3 : 1 jalan pikul untuk 2 baris tanaman. 400 m/HK.
6) PEMASANGAN TITI PANEN DAN TPH
Titi panen merupakan pembuatan jembatan pada setiap jalan rintis yang melewati
parit atau saluran air, sehingga jalan rintis dapat dilalui tanpa hambatan. Tujuan titi panen
adalah mempermudah pekerja panen dalam mengambil/mengangkut buah sawit. Titi panen
harus segera dibuat setelah jalan rintis tersedia. Pemasangan titi panen dilakukan dengan
ketentuan sebagai berikut:
TBM 1 dipasang titi panen pada rintis = 25%
TBM 2 dipasang titi panen pada rintis = 25%
TBM 3 dipasang titi panen pada rintis = 50%
Titi panen dapat dibuat dari kayu atau beton. Penggantian titi panen berbahan kayu ke
bahan beton sebaiknya sudah dimulai pada TBM 3 dan telah selesai TM. Jumlah titi panen
tergantung dari jumlah parit dan saluran air. Untuk menentukan jumlah dan panjang titi panen
harus didasarkan data sensus yang akurat. Ukuran lebar titi panen tegantung pada kebutuhan
dan harus dapat dilalui angkong dengan lebar titi panen sekitar 20 cm. TPH merupakan
tempat pengumpulan hasil panen kelapa sawit. TPH harus dibuat /dipersiapkan sejak 3-6
bulan sebelum panen. Caranya yaitu memiilih tempat yang datar kemudian membersihkan
penutup tanah/rumput dengan menggunakan cangkul. Ukuran TPH adalah 2 meter x 2 meter.
Jarak antara TPH satu dengan TPH yang lain adalah sekitar 50 meter (tiap 6 gawangan).

7) PEMUPUKAN TANAMAN
Pohon kelapa sawit memerlukan banyak unsur hara tanaman untuk pertumbuhan daun
dan pembentukan tandan buah. TBM lebih memerlukan nitrogen untuk pertumbuhan
vegetatifnya. Sasaran utama pemupukan TM kelapa sawit adalah memberikan tanaman sawit
unsur hara yang memadai sehingga pertumbuhan vegetatif-nya sehat agar memiliki ketahanan
terhadap serangan hama dan penyakit. Perencanaan pemupukan tanaman kelapa sawit belum
menghasilkan (TBM) berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) dan
RAB. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM) meliputi:
Blok tanaman yang akan dipupuk
Jumlah kebutuhan pupuk per blok
Permintaan kendaraan
Tempat pengeceran pupuk
Jenis dan jumlah peralatan pemupukan
Pemberian pupuk harus terintegrasi antara pupuk mineral dan pupuk organik.
Perencanaan pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang telah
ditetapkan. Rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit didasarkan pada prinsip 4T, yaitu
(tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat metode). Dosis pupuk ditentukan berdasarkan
umur tanaman, hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, jenis tanah, hasil
percobaan, dan kondisi visual tanaman.

Gambar 6. Pemupukan Tanaman Sawit Harus Mengandung Nitrogen dan Kalium

a. Metode Pemupukan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memupuk tanaman sebagai berikut:
Membersihkan terlebih dahulu piringan dari rumput, alang-alang dan pada areal
datar semua pupuk ditabur merata mulai 0,5 m dari pohon sampai pinggir piringan;
Pada areal yang berteras, pupuk disebar pada piringan kurang lebih 2/3 dari dosis di
bagian dalam teras dekat dinding bukit, sisanya (1/3 bagian) diberikan pada bagian
luar teras.

Gambar 7. Pembersihan Daerah Piringan


Gambar 8. Penempatan Pupuk pada Kelapa Sawit Kotoran Lain.

b. Waktu Pemupukan
Pupuk harus tersedia pada waktu yang ditentukan, sehingga keberadaannya tidak
menjadikan suatu hambatan bagi tanaman yang akan dipupuk. Adapun waktu yang terbaik
untuk melakukan pemupukan adalah pada saat musim penghujan, yaitu pada saat keadaan
tanah berada dalam kondisi sangat lembab, tetapi tidak sampai tergenang air. Dengan
demikian, pupuk yang diberikan di masing-masing tanaman dapat segera larut dalam air,
sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman. Jumlah air tanah yang sangat baik untuk
melarutkan pupuk adalah sekitar 75% dari kapasitas lapang. Hal ini dapat dicapai jika sehari
sebelumnya telah terjadi hujan sebanyak sekitar 20 mm serta pada bulan-bulan sebelumnya
tidak terjadi defisit air. Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun >60 mm/bln.
Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
Pupuk dolomit dan Rock Phosphate (RP) diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk
memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP/KCl
dan urea/ZA.
Jarak waktu penaburan dolomit/RP dengan urea/ ZA minimal 2 minggu.
Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu dua bulan.
Adakalanya berdasarkan rekomendasi pemupukan pada masa TBM, pupuk
diaplikasikan sebanyak 3 kali dalam setahun, dimana untuk pupuk N, P, K, Mg, dan Bo dapat
diberikan menjelang dan pada akhir musim hujan. Untuk pupuk N dapat diberikan bagian
pada saat menjelang (awal) musim hujan dan bagian diberikan pada akhir musim hujan.
Untuk pupuk P dan k dapat diberikan sebanyak bagian pada saat menjelang (awal) musim
hujan dan bagian lagi pada akhir musim hujan. Untuk pupuk Mg diberikan sebanyak 2/3
bagian pada saat menjelang (awal) musim hujan dan 1/3 bagian lagi dapat diberikan pada
akhir musim hujan. Untuk pupuk boraks dapat diberikan sebanyak bagian pada saat
menjelang (awal) musim hujan dan bagian lagi dapat diberikan pada saat akhir musim
hujan. Namun, kadangkala diperoleh rekomendasi yng menganjurkan aplikasi pemupukan
pada masa TBM I setiap 2 atau 3 bulan sekali, pada masa TBM II setiap 6 bulan sekali dan
masa TBM III hanya satu kali setahun.
c. Frekuensi Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 - 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan
umur kondisi tanaman. Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan
frekuensi yang lebihbanyak. Frekuensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman,
namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.
d. Jenis dan Dosis Pupuk
Jenis pupuk untuk kelapa sawit dapat berupa pupuk tunggal, pupuk campuran, pupuk
majemuk, dan pupuk organik. Pemilihan jenis pupuk, disarankan agar hati-hati karena banyak
beredar di pasaran berbagai bentuk dan komposisi hara. Berbagai jenis pupuk diuraikan
sebagai berikut.
d.1. Pupuk tunggal
Pupuk tunggal merupakan pupuk yang mengandung satu jenis hara utama. Pupuk
tunggal yang dipergunakan perkebunan kelapa sawit dalam memenuhi kebutuhan hara makro
bagi tanaman kelapa sawit dan direkomendasikan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)
disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekomendasi Pupuk Tunggal yang Digunakan Perkebunan dalam Memenuhi
Kebutuhan Hara Makro Bagi Tanaman Kelapa Sawit
Hara Pupuk Spesifikasi
N Urea 46%
ZA 21% N, 23% S
SP-36 P205 total: 36%
P2O5 (larut dalam asam sitrat 2%): 34%
S: 5%
RP P2O5 total: min 36%
P2O5 (larut dalam asam sitrat 2%): 34%
Ca + Mg (setara CaO): min 40%
Al2O3 + Fe2O3: maks 3%
Kadar air: maks 3%
Kehalusan (lolos saringan 80 mesh): min 50%
Kehalusan (lolos saringan 25 mesh): min 80%
K MOP (KCl) K2O: 60%
Mg Kleserit MgO: 26%
S: 21%
Dolomit MgO: min 18%
CaO: min 30%
Al2O3 + Fe2O3: maks 3%
SiO2: maks 5%
Kadar air: maks 5%
Ni: maks 5 ppm
Kehalusan (lolos saringan 100 mesh)

d.2. Pupuk campuran
Untuk memenuhi kebutuhan hara secara khusus dan mengurangi biaya aplikasi, beberapa
pupuk tunggal dapat dicampur menjadi pupuk campuran.
d.3. Pupuk majemuk
Pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung beberapa unsur hara yang
dikombinasikan dalam satu formulasi Keuntungan penggunaan pupuk majemuk adalah
semua unsur hara utama diaplikasikan dalam satu rotasi pemupukan.


d.4. Pupuk organik
Akibat terjadinya kelangkaan pupuk dan mahalnya pupuk anorganik serta
meningkatnya kesadaran masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan, maka beberapa
perusahaan perkebunan kelapa sawit telah menggunakan pupuk organik untuk kegiatan
pemupukan tanaman sawit. Caranya yaitu memanfaatkan hasil potongan pelepah daun kelapa
sawit, potongan hasil tanaman penutup tanah, atau tandan kosong kelapa sawit. Pemberian
bahan organik sebagai pupuk memberikan pengaruh sangat kompleks terhadap pertumbuhan
tanaman. Pengaruh bahan organik terhadap pertumbuhan tanamanm terutama karena
kemampuannya memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Hal ini terjadi karena meningkatnya
kegiatan mikroorganisme di dalam tanah sehingga struktur tanah menjadi lebih baik (lebih
remah), aerasi tanah dan kapasitas menahan air meningkat, serta adanya bahan organik akan
berfungsi sebagai mulsa yang melindungi permukaan tanah dari erosi dan pencucian hara.
Setelah dibahas berbagai jenis pupuk di atas, berikut diuraikan kebutuhan pupuk
tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM). Jenis dan dosis pupuk yang digunakan
disesuaikan dengan umur tanaman, jenis tanah dan waktu pemberiannya. Secara umum dosis
pupuk yang digunakan berdasarkan umur tanaman yaitu disajikan pada Tabel 2. Namun,
untuk memperoleh ketentuan dosis pupuk secara akurat dapat dilakukan melalui analisa tanah
dan analisa daun di suatu areal perkebunan.
















Tabel 2. Dosis Pemupukan TBM Kelapa Sawit
Umur Tanaman
(bulan)
Dosis Pupuk (kg/pohon)
ZA atau Urea RP MoP (Kc) Kleserite HGF Borate
Saat Tanam - 0,50 - - -
1 0,10 - - - -
3 0,25 - - - -
5 0,25 0,50 0,15 0,10 -
8 0,25 - 0,35 0,15 0,02
12 0,50 0,75 0,35 0,25 -
Jumlah TBM 1 1,35 1,75 1,00 0,70 0,02
16 0,50 - 0,50 0,50 0,03
20 0,50 1,00 0,50 0,50 -
24 0,50 - 0,75 0,50 0,05
Jumlah TBM 2 1,50 1,00 1,75 1,50 0,08
28 0,75 1,00 0,75 0,75 -
32 0,75 - 1,00 0,75 -
Jumlah TBM 3 1,50 1,00 1,75 1,50 -
Total 4,35 3,75 4,50 3,70 0,10


8) TUNAS PASIR DAN KASTRASI
a. Tunas Pasir
Sebelum areal/blok masuk dalam kategori TM tidak diperbolehkan melakukan
pekerjaan tunas apapun karena pada waktu tersebut jumlah pelepah belum optimum.
Sehingga pelepah produktif tidak boleh dibuang. Prinsip tunas pasir adalah hanya membuang
pelepah yang berada satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan pelepah kering.
Pekerjaan tunas pasir dilakukan dengan cara membuang pelepah satu lingkaran paling
bawah (dekat tanah) dan juga pelepah kering. Dilakukan 6 bulan sebelum TM. Pelepah
kering dipotong memakai dodos. Pelepah dipotong rapat ke pangkal dengan memakai dodos
kecil (mata dodos 8 cm), kemudian pelepah-pelepah tersebut dikeluarkan dari piringan dan
disusun di gawangan mati. Sesudah pekerjaan tunas pasir selesai, maka dilarang keras
memotong/ memangkas pelepah untuk tujuan apa pun, kecuali untuk analisis daun, ini pun
hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja. Tunas pasir dapat dilihat pada Gambar 9.


Gambar 9. Tunas Pasir Kelapa Sawit
b. Kastrasi
Kastrasi atau disebut juga ablasi merupakan pekerjaan penting pada kelapa sawit sebelum
tanaman beralih dari TBM ke TM. Oleh karena itu, sebelum melakukan kastrasi terlebih
dahulu dilakukan monitoring pembungaan. Caranya yaitu mencatat pohon-pohon yang telah
berbunga. Hasil catatan tersebut kemudian digambarkan pada peta sensus.
Tanaman kelapa sawit mulai mengeluarkan bunga setelah berumur 9 bulan,
tergantung pertumbuhannya. Pada saat tersebut, bunga yang dihasilkan masih belum
membentuk buah sempurna sampai tanaman berumur sekitar 24 bulan sehingga tidak
ekonomis untuk diolah. Oleh sebab itu, semua bunga maupun buah yang keluar sampai
dengan umur 24 bulan perlu dibuang atau diablasi.
Ablasi merupakan aktivitas membuang semua produk generatif,yaitu bunga jantan,
betina, dan seluruh buah (yang terlanjur jadi) guna mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa
sawit. Pelaksanaan ablasi terakhir dilakukan enam bulan sebelum pokok dipanen. Tujuan
utama dilakukannya ablasi adalah mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang tidak
ekonomis ke pertumbuhan vegetatif sehingga pokok sawit yang telah diablasi akan lebih kuat
dan pertumbuhannya seragam. Dengan demikian, pertumbuhan buah akan lebih besar dan
seragam, serta menghambat perkembangan hama dan penyakit.
Ablasi biasanya dilakukan pada umur 18 bulan sejak tanam dilapangan sampai
dengan 24 bulan. Setelah itu, bunga betina yang keluar dibiarkan sehingga tanaman sudah
dapat dipanen pada umur 30 bulan. Ablasi mulai dilaksanakan jika lebih dari 50% pokok
kelapa sawit dalam satu blok telah mengeluarkan bunga jantan dan atau betina. Umumnya,
ablasi mulai dilakukan saat tanaman berumur 18 bulan di lapangan. Pelaksanaan ablasi
dilakukan setiap dua bulan sekali sampai tanaman berumur 24 bulan. Alat yang digunakan
untuk ablasi yaitu dosis dengan lebar mata 8 cm dan arit kecil.

9) PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SAWIT
Hama dan penyakit pada pkelapa sawit belum menghasilkan dan sudah menghasilkan
adlaah tidak berbeda. Terkait dengan tugas manajemen pengendalian maka perlu jenis hama
dan penyakit dominan.
a. Hama Tanaman Kelapa Sawit
Beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit yaitu:
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
UPDKS antara lain ulat api, ulat kantong (Mahasena corbett), ulat bulu merupakan
hama utama yang dapat menurunkan produksi 30-40% dalam 2 tahun setelah kehilangan
daun sebanyak 50%. Contoh ulat api yang menyerang pohon muda terdapat pada Gambar 10.

Gambar 10. Ulat Api
Hama ini biasanya menyerang daun mulai dari bagian bawah. Daun-daun yang
terserang biasanya berlubang atau sobek hingga tinggal tulang-tulang daun, ada serangan
hebat, daun akan habis. Pengendalian UPDKS dilaksanakan dengan sistem pngendalian hama
terpasu (PHT) yaitu berdasarkan monitoring populasi kritis, mengutamakan pelestarian, dan
pemanfaatan musuh alami. Penentuan populasi diterapkan dengan mengamati 1 poon
contoh/ha kelapa sawit setiap bulan sekali. Setiap pohon diambil 2 pelepah yang telretak pada
bagian bawah dan tengah tauk kelapa sawit. Apabila terjadi serangan UPDKS, maka jumlah
pohon contoh ditambah menjadi 5 pohon/ha dan diamati setiap 2 minggu sekali. Pengamatan
dilakukan terhadap 1 pelepah/pohon contoh, yakni pada pelepah yang diduga paling banyak
dijumpai UPDKS. Apabila perlu dilakukan tindakan pengendalian, maka pada saat sebelum
pengendalian, populasi UPDKS harus dihitung, begitu pula 1 minggu setelah pengendalian.
Hal ini dimaksudkan untuk menentukan perlu tidaknya pengendalian ulangan. Penggunaan
insektisida sistemik diupayakan sebagai tindakan terakhir dan dipilih jenis yang aman
terhadap lingkungan, parasitoid, dan predator.
Tanaman yang bermanfaat bagi tanaman kelapa sawit adalah:
Euphorbia heterophylla L (patik emas).
Borreria alata L (Setawar/Jukut minggu/Emprah/Goletrak).
Cassia tora L.
Turnera subulata L.

Tikus ( Rattus tiomanicus, Rattus sp.)
Jenis tikus yang sering ditemukan di areal kebun kelapa sawit adalah tikus belukar
(Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattusrattus argentiventer), tikus rumah (Rattus rattus
diardii) dan tikushuma (Rattus exulans). Dari keempat jenis tikus di atas, tikus belukar
merupakan dominan di perkebunan kelapa sawit. Contoh kelapa sawit yang terserang tikus
dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Kelapa Sawit (TBM) Terserang Tikus
Tikus menyerang tanaman kelapa sawit yang berumur 0-1 tahun pada bagian titik
tumbuh/umbut, merusak bunga jantan dan bunga betina, menggigit dan mengerek buah
tanaman kelapa sawit. Pada pembibitan tanaman umumnya hama tikus ini menyerang titik
tumbuh. Pada bibit tanaman yang terserang hama ini tumbuh tidak normal karena jaringan-
jaringan titik tumbuh rusak. Pada serangan berat dapat menyebabkan bibit tanaman tidak
dapat berkembang dan akhirnya mati. Hama ini dapat menimbulkan kehilangan produksi
mencapai 5 %. Perlukaan buah akibat keratan tikus dapat meningkatkan kadar asam lemak
bebas minyak kelapa sawit. Oleh karena itu hama ini perlu dikendalikan. Hama tikus ini pada
umumnya agak sulit untuk diberantas, karena tempat hidupnya luas dan sering berpindah-
pindah. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan cara antara lain:
secara mekanis yakni dengan cara merusak sarangnya dan pengasapan/ emposan
serta membunuhnya pada saat hama tikus keluar dari sarangnya.
secara biologis yakni menggunakan masuh alami atau predator seperti burung hantu,
kucing, ular.

Kumbang penggerek (Oryctes sp)
Kumbang penggerek pucuk merupakan hama yang menimbulkanmasalah pada
seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia yaitu dari Oryctes rhinoceros. Kumbang ini
secara morfologi berukuran panjang 4 cm berwarna coklat tua kehitaman. Pada bagian kepala
memiliki tanduk kecil sehingga sering disebut kumbang tanduk atau kumbang badak
(Gambar 12).

Gambar 12. Kumbang Penggerek Pucuk Oryctes rhinoceros
Kumbang betina mempunyai bulu lebat pada bagian ujung perutnya, sedangkan yang
jantan tidak berbulu. Kumbang yang baru keluar langsung menyerang kelapa sawit,
kemudian kawin.selanjutnya kumbang betina meletakkan telur pada bahan organik yang
sedang mengalami pembusukan seperti batang kelapa sawit mati, kotoran kerbau/sapi,
kompos/sampah dan lain-lain. Telur menetas dalam waktu 9 -14 hari. Kumbang terbang dari
tempat persembunyiannya menjelang senja sampai agak malam (sampai dengan jam 21.00
WIB), dan jarang dijumpai pada waktu larut malam. Dari pengalaman diketahui, bahwa
kumbang banyak menyerang kelapa pada malam sebelum turun hujan. Keadaan tersebut
ternyata merangsang kumbang untuk keluar dari persembunyiannya. Kumbang O. rhinoceros
menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun.
Kumbang jantan maupun betina menyerang kelapa sawit. Kumbang tanduk hinggap
pada pelepah daun yang agak muda, kemudian mulai menggerek ke arah titik tumbuh kelapa
sawit. Panjang lubang gerekan dapat mencapai 4.2 cm dalam sehari, jika titik tumbuhnya
habis maka tanaman akan mati. Pucuk kelapa sawit yang terserang, bila membuka daunnya
tampak seperti kipas atau bentuk lain yang abnormal (Gambar 13)

Gambar 13. Kerusakan Titik Tumbuh Akibat Serangan Hama Kumbang Penggerek
Pucuk (Oryctes rhinoceros)
Metode pengendalian dilakukan dengan monitoring secara teratur setiap bulan,
terhadap 15 % jumlah seluruh tanaman (sampel tanam; setiap 6 baris diambil 1 baris
tanaman). Selama 2 tahun pertama setelah kelapa sawit dipindah tanam ke lapangan, apabila
ditemukan 3-5 ekor kumbang/ha, maka pemberantasan harus dilakukan. Pada kelapa sawit
yang berumur lebih dari dua tahun, akibat serangan hama ini menjadi kurang berbahaya.
Dengan demikian, padat populasi kritis dinaikkan menjadi 15-20 ekor/ha.
Upaya pencegahan yang dapat menghambat perkembangan larva Oryctes rhinoceros
adalah penutupan batang kelapa sawit bekas replanting dengan kacangan penutup tanah
secepat mungkin. Hal ini dapat mencegah serangga untuk meletakkan telurnya pada batang
mati tersebut. Tindakan pemberantasan yang dapat dilakukan:
- pengumpulan kumbang secara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan
menggunakan alat kail dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi
kumbang 3-5 ekor/ha, setiap dua minggu jika populasi kumbang 5-10 ekor/ha, dan setiap
minggu jika populasi kumbang lebih dari 10 ekor.
- penghancuran tempat peletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan pengumpulan
larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.
- pemberantasan secara kimiawi menaburkan insektisida butiran karbosulfan sebanyak (0.05-
0.10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/pohon, setiap1-2
kali/bulan pada pucuk kelapa sawit.
- pemerangkapan kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap. Ferotrap tersebut
terdiri atas satu kantong feromonsintetik (etil-4 metil oktanoat) yang digantungkan dalam
ember plastik kapasitas 12 liter. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah
dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm
untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu
setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga
digunakan pelengkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu ferotrap cukup efektif untuk 1
ha dan satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama sekitar 60 hari. Setiap 2
minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh.

b. Penyakit Tanaman Kelapa Sawit
Beberapa penyakit dominan pada tanaman kelapa sawit sebelum menghasilkan buah adalah:
Penyakit Busuk Pangkal Buah (BPB)
Penyakit ini disebabkan oleh Ganoderma boninense. Ganoderma boninense
merupakan jamur tanah hutan hujan tropis. Jamur G. boninense bersifat saprofit (dapat hidup
pada sisa tanaman) dan akan berubah menjadi patogenik apabila bertemu dengan akar
tanaman kelapa sawit yang tumbuh di dekatnya. Serangan BPB dapat terjadi sejak bibit
sampai tanaman tua, tetapi gejala penyakit biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di
lapangan. Penyakit ini dijumpai pada tanaman berumur 5 tahun. Serangan penyakit ini yang
paling tinggi dijumpai pada umur 10-15 tahun, tetapi hal ini bervariasi tergantung pada
kebersihan kebun dan sejarah tanaman di kebun tersebut. Kehilangan tanaman sampai dengan
80% telah dilaporkan padatempat-tempat yang berasal dari konversi kelapa. Patogen ini
umumnya menyerang pangkal batang tanaman. Gejala yang tampak pertama kali adalah
adanya bercak kekuningan pada pelepah muda. Begitu penyakit berkembang warna kuning
semakin jelas. Daun yang tua menjadi layu, patah pada pelepahnya dan menggantung pada
batang. Sedang pangkal batang menghitam, getah keluar dari tempat yang terinfeksi dan
akhirnya batang membusuk dengan warna coklat muda. Tanda pertama adanya infeksi adalah
munculnya bagian busuk pada pangkal batang. Bagian yang busuk kemudian berkembang ke
atas dan sekitar batang (Gambar 14).

Gambar 14. Penyakit Busuk Pangkal Batang Disebabkan Oleh Ganoderma boninens)
Serangan penyakit ini pada bagian atas tanaman dapat terjadi dimana saja pada batang
tanaman. Gejala pertama yang dapat dilihat adalah adanya bagian atas tajuk patah. Beberapa
tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit busuk pangkal batang sebagai
berikut:
- Melakukan pembersihan lahan terutama terhadap sisa-sisa tanaman kelapa atau
kelapa sawit.
- Menghindari penanaman kelapa sawit dekat dengan perkebunan kelapa (Cocos
nucifera L.).
- Melakukan sensus terhadap tanaman setiap 6 bulan sekali untuk mengidentifikasi
tanaman yang terserang/terinfeksi jamur.
Tindakan pengendalian dapat dilakukan, antara lain:
- Pengendalian secara mekanis yakni membongkar, mengumpulkan dan membakar
tanaman yang terserang penyakit, terutama bagi tanaman yang terinfeksi ada jamur.
- Pangkal batang dan perakarannya dibongkar hingga kedalaman 15 -20 cm serta
dikeluarkan dari lahan perkebunan kelapa sawit.
- Tanaman yang terinfeksi tanpa ada jamur, tetapi masih tetap berproduksi, harus
dimonitor / kontrol terus.
- Pengendalian secara kimiawi yakni sekitar pohon yang terserang dibuat parit selebar
30 cm, dalam 1 m (parit isolasi),kemudian pinggir parit disemprot dengan fungisida.
- Menggunakan biofungisida Marfu-PBahan aktif yang digunakan untuk biofungisida
Marfu-P adalahsporakonidia dan klamidospora jamur Trichoderma koningii.
10) MANAJEMEN IRIGASI/ PENGAIRAN
Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa
sawit. Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat
terganggu, berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif maupun fase
generatif. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi
daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah. Pada keadaan yang
lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang dicerminkan oleh
daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif kekeringan menyebabkan
terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya pembentukan bunga,
meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah
kecil dan rendemen minyak buah rendah. Pengairan pada perkebunan kelapa sawit untuk
TBM harus memperhatikan hal-hal berikut :
1. Air yang digunakan tidak berasal dari sungai yang tercemar limbah
2. Air yang digunakan tidak berasal dari rawa karena air rawa memiliki derajad
keasaman rendah dan mengandung asam organik tinggi sehingga dapat meracuni
tanaman
3. Air yang digunakan harus sehat, tidak mengandung asam-asam, garam-garam, zat-zat
beracun dll
4. Kualitas dan kesehatan air untuk penyiraman sebaiknya diuji laboratorium, terutama
yang berasal dari sungai
Secara garis besar ada 3 macam sistem pengairan yang digunakan di pembibitan,
yaitu:
A. Penyiraman Manual
Sistem manual sering digunakan pada lahan yang luasnya kurang dari 2 hektar. Sistem
ini banyak membutuhkan tenaga kerja, sehingga untuk lahan skala besar tidak efisien bila
menggunakan sistem ini. Ada beberapa macam yang termasuk dalam sistem manual ini, yaitu
1. Sistem Penampungan Air (Watercan System)
2. Sistem Selang Air
Sistem irigasi manual kalau dilihat dari sisi kebutuhan bahan memang tidak banyak
membutuhkan material, namun dilihat dari tenaga kerja, yang dibutuhkan cukup besar. Oleh
sebab itu sistem ini tidak direkomendasikan untuk pembibitan dengan skala besar.



B. Sistem Sprinkler
Perlengkapan dari sistem ini mampu bertahan dan bisa diperbaiki sehingga bisa
dipakai bertahun-tahun. Bahkan dapat dibongkar dan kemudian dipasang lagi di lokasi lain.
Pemasangan jaringan sprinkler membagi areal pembibitan menjadi dua bentuk segi empat
yang sama luasnya. Parit digali di tengah-tengah areal kemudian pipa utama ditanam di
dalam parit tersebut. Besar pipa utama diameternya 10 cm bila luas lahan 8 hektar atau
kurang. Bila luas pembibitan lebih dari 8 hektar besar pipa utama yang dipasang lebih besar
lagi.
Penggunaan sprinkler dengan sistem permanen terbukti membutuhkan biaya yang
cukup besar dibanding dengan penggunanaan sprinkler dengan sistem yang dapat dipindah-
pindahkan, walaupun sistem yang terakhir lebih banyak membutuhkan tenaga kerja yang
lebih banyak. Keuntungan dengan penggunaan sistem sprinkler baik yang permanen maupun
yang dapat dipindah-pindahkan adalah air yang diterima tanaman pada saat penyiraman dapat
stabil dan seragam volumenya antara tanaman satu dengan tanaman lainnya.
C. Selang Politen Perforasi (Perforated Polythene Layflat Tube)
Sistem ini menggunakan selang politen perforasi bagian permukaan atas diberi
lubang. Antara lubang satu dengan yang lainnya berjarak 15 cm dan membentuk dua baris
sepanjang selang. Selang biasanya dikemas dalam bentuk rol, satu rol panjang 100 m, dengan
berat lebih kurang 2,5 kg. Dengan bentuk dan berat tersebut selang sangat mudah untuk
diangkat dan dipindah-pindahkan. Untuk pipa utamanya menggunakan pipa jenis PVC,
sehingga cukup ringan dan mudah untuk diangkut.













DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Perawatan Tanaman Belum Menghasilkan. <http://membangunkebun
kelapasawit.webs.com/perawatantbm.htm>. Diakses pada tanggal 20 Mei 2013.
Mangunsong, I. 2013. Perawatan Pohon Kelapa Sawit. <http://daunhijau.com/category/
kelapa-sawit/perawatan-pohon-kelapa-sawit/>. Diakses pada tanggal 20 Mei 2013.
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya, Jakarta.
Pardemean, M. 2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit. Agro
Media Pustaka, Jakarta.
Risza, S. 1994. Kelapa Sawit, Upaya Peningkatan Produktivitas. Kanisius, Yogyakarta.
Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit: Teknik Budidaya, Panen, dan Pengolahan.
Kanisus, Yogyakarta.
Sundari. 2013. Babat Gulma Piringan Kelapa Sawit TBM. <http://sundari075210.
student.ipb.ac.id/2013/03/03/babat-gulma-piringan-kelapa-sawti-tbm/>. Diakses pada
tanggal 20 Mei 2013.
Wikipedia. 2013. Kelapa Sawit. <http://ms.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit>. Diakses pada
tanggal 20 Mei 2013.