OPINI: Mudik dan Nostalgia Kampung

Oleh:
Arif Saifudin Yudistira
Santri di Bilik Literasi
Kontributor di retakankata.com
Fenomena mudik yang sudah menjadi tradisi masyarakatIndonesia, sampai
sekarang tetap menjadi topik yang menarik untuk dikaji. Ia tak hanya
menyangkut urusan kebudayaan, sosial, politik, tapi juga merambah ke urusan
ekonomi dan bisnis. Mulai dari industri hiburan, industri telekomunikasi hingga
perbankan ingin menyambut masyarakat dalam bermudik. Mereka mulai giat
melakukan promosi, dari mulai program telekomunikasi melalui jaringan
handphone hingga program acara mudik gratis yang diselenggarakan oleh
berbagai perusahaan.
Tidak hanya dari kalangan ekonom dan pebisnis, partai politik pun tak mau
kalah. Partai politik pun menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk menghias
jalan dengan baliho, spanduk dan juga ribuan ucapan selamat hari raya dan
ucapan maaf. Mudik tiba-tiba menjadi barisan kata-kata mutiara. Tak hanya
dihandphonekita, spanduk di jalan dan iklan di televisi ramai oleh kata-kata
indah. arangkali telinga kita makin risih dan merasa !klise” mendengar ucapan
maaf di saat lebaran.
Mudik jadi bertebaran kata, tapi miskin makna. "ita jadi kehilangan makna
mudik. Mudik jadi sebatas memenuhi jad#al liburan hari raya semata, begitu
juga bagi mereka yang sudah merencanakan liburan ke tempat pari#isata,
mudik tak beda dengan liburan.
Mudik melampau pengertian normatif semacam itu. Tanah asal atau rumah
tempat kita lahir, bila dalam terminologi Freudian, dianggap sebagai tempat
untuk tidur, bermimpi, tempat berlindung, tapi lebih dari itu, ia juga tempat
untuk pengeraman.
Mudik bisa dipandang dari sudut itu. Ia adalah tempat kita melakukan
perjalanan kembali. Mengembalikan kita pada memori masa silam yang
berhubungan erat dengan bagaimana jejak-jejak sejarah kita di masa lampau,
jejak-jejak kita sebagai manusia desa. $ari sinilah mudik bisa dipandang
sebagai rahim-simbolik. Ia adalah tempat yang akan melahirkan kembali
kedirian dan kesejatian kita.
Mudik mengajarkan kita bah#a apa yang kita capai selama ini adalah bagian
dari kesinambungan dan bagian dari kolektivitas. Maka, orang yang memahami
mudik, ia tak akan begitu saja melupakan orang, kerabat kampung, dan orang-
orang yang ikut mendoakan keberhasilannya di kota.
"ota tak bisa menampung gairah kerinduan dan gejolak ji#a yang
merindukan nostalgia serta suasana kampung. %uasana kampung yang masih
erat dengan senyum, sapa dan salam begitu dirindukan oleh kita. "ampung
menjadi oase dari iklim kekerabatan yang erat, hubungan komunikasi yang
intim, dan juga hubungan kekeluargaan yang masih terjaga. &illiams '()**+
menyebut kampung dalam pengertian ia merupakan bagian dari sekelompok
orang yang hidup dalam hubungn satu sama lain yang erat, sebagai gaya hidup,
sebagai pembentukan sosial,sebagai kelompok kelas, dan sebagai struktur
perasaan.
"ampung dilihat dari struktur perasaan inilah yang dirindukan oleh para
pemudik. $i kampung, ,ebaran tak hanya urusan maaf-memaafkan semata, ia
juga berkait erat dengan berbagai macam tradisi. Tradisi ketupat dan
tradisi kenduren adalah hal yang masih dijaga di kampung meski seiring dengan
berkembangnya Islam puritan, tradisi seperti itu kian hilang.
Tradisi semacam itu mengembalikan kembali bah#a kampung adalah kesatuan
perasaan senasib dan sepenanggungan, semua orang di desa memiliki perasaan
yang sama, mereka merasa memiliki hajatan maupun acara tersebut. Makanan
dan ketupat hanyalah simbolisasi dari kebersamaan dan keragaman. ,ebih dari
itu, kupat merupakan simbol dari hati yang ikhlas untuk saling memberi dan
saling memaafkan. Tradisi semacam ini memang bukan ke#ajiban, akan tetapi
melalui tradisi itulah masyarakat sebagai struktur perasaan dihadirkan kembali
dalam nuansa lebaran.
Tradisi mudik tak hanya mengajarkan kita dan mengingatkan kita pada tempat
asli kita, tapi lebih dari itu, ia mengajarkan kita pada pentingnya doa. $oa
orangtua kita di rumah, doa kerabat, dan doa #arga masyarakat adalah bekal
untuk kita mengarungi kehidupan kita di masa mendatang. $ari perjumpaan
dan silaturahmi itulah kita kembali memperoleh kisah, kabar dan bagaimana
kerinduan kita pada kampung terobati. Melalui tradisi sungkeman, kita tak
hanya mera#at jejak dan memori kita di masa silam melainkan membaca
kembali kampung kita di masa sekarang.
Nostalgia
Mudik adalah nostalgia. Ia adalah nostalgia bagi kita untuk men-iarahi dan
menyusuri jejak-jejak biografis kita di masa silam. .da cerita, ada kisah dan
ada masa lalu yang kita rasakan ketika kita mele#ati jalan pulang. /alan pulang
tak hanya mengingatkan kita pada ibu, sebagai rahim. Ia juga mengingatkan
kita pada ibu sebagai tempat untuk memproduksi atau tempat yang melahirkan
kita. "ita lahir dari ibu, kita lahir dari kampung, dan kita mesti mengingat
kampung meski hanya dalam ingatan.
"ita merindukan nuansa desa yang masih hijau, masih rimbun dan penuh
oksigen. "ita merindukan kekerabatan yang erat, kita merindukan musik
'gamelan+, tradisi dan alunan kehidupan desa yang tenang dan
tak kemrungsung. 0umah-rumah yang selalu terbuka ketika ,ebaran diartikan
sebagai bentuk hati kita yang selalu terbuka untuk memberi dan meminta maaf.
1al ini tentu berbeda dengan iklim kota yang serba tertutup, individual dan
semakin renggang.
$i desa itulah sebenarnya kita menemukan kembali kedirian kita, rasa
kemanusiaan kita melalui nuansa yang dihadirkan disana. "ita diajak kembali
untuk memikirkan dan merenungkan kembali bah#a kita dilahirkan dari rahim
desa. $i desa itulah kehidupan dan kedirian kita berada. %etelah
sekian lama kita memasuki kehidupan kota yang penuh dengan polutan, penuh
dengan keberingasan, dan ketidakteraturan.
"ita memerlukan desa, kita merindukan desa, dan kita ingin menghadirkan
desa ke dalam diri kita. Mudik sebagai jalan untuk menginsafi kedirian kita,
kedesaan kita, keluguan kita dan ri#ayat kita sebagai manusia desa. "ita
diajarkan kembali untuk menghidupkan kembali tepaselira(tenggang
rasa),menghormati, silaturahim, dan tradisi-tradisi yang ada di desa.
Mudik tak sekadar laku raga#i, ia adalah laku spiritual untuk mengajak ji#a kita
kembali kepada tempat yang membesarkan kita. Tempat dimana jejak-jejak
biografis kita dihadirkan. Tempat dimana kita diajarkan dan dididik serta
dibekali dongeng-dongeng kearifan, cerita-cerita yang penuh kebijaksanaan.
Melalui mudik itulah kita sebenarnya mencoba kembali meski tak bisa
sepenuhnya.
Meski ji#a kita sudah terlanjur menjadi manusia kota. "arena itulah mudik
mesti ditempuh, meski dengan jalan berpeluh. Meski dengan jalan yang
panjang. Meski dengan nya#a melayang. %ebab mudik adalah upaya
menemukan kita yang sejati, menemukan kita yang sebenarnya, menemukan
kembali ri#ayat kita yang hampir lupa.
Menemukan diri kita yang tergerus oleh berbagai kemajuan dan kecanggihan
-aman. "ita dipaksa berjalan terlalu cepat, dipaksa oleh arus #aktu yang tak
manusia#i. $i saat itulah mudik adalah oase dan energi kita untuk menapaki
masa-masa mendatang. $engan ri#ayat dan biografi kita, dengan doa dan
air mata bunda. $engan mengembalikan ingatan kita kepada desa itulah kita
berharap tak menjadi hilang kesejatian kita, kita berharap tak melupakan
darimana dan kemana kita akan pulang.
http://joglosemar.co/2!"/#/mudik$dan$nostalgia$kampung.html

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful