BAB I

PENDAHULUAN
Medikolegal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek
yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Akhir-akhir ini, karena
maraknya kasus dugaan malpraktek medik atau kelalaian medik di Indonesia, ditambah
“keberanian” pasien yang menjadi korban untuk menuntut hak-haknya, para dokter seakan
baru mulai „sibuk‟ berbenah diri. Terutama dalam menghadapi kasus malpraktek.
„Kesibukan‟ ini terjadi sejalan dengan makin baiknya tingkat pendidikan dan keadaan sosial
ekonomi masyarakat, dan meningkatnya (7)
Demikian saktinya media, hingga berbagai pengadilan dirancang untuk mengadili
dokter yang melakukan malapraktik. Selain sudah mempunyai Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran (MKEK) dan Pengadilan Negeri, ada yang mengusulkan pembentukan Majelis
Kehormatan Profesi Dokter (MKPD) dan peradilan ad hoc. Dalam hal seorang dokter
diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum), maka ia
akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk
dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan
untuk mempertahankan akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini
MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran
etik dan/atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. Di kemudian hari Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh
UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis yang menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin
profesi kedokteran Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang
sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed
consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Bahkan di dalam praktek
kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena
banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma
hukum yang mengandung nilai-nilai etika. Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga
kewajiban memenuhi standar profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang
dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Etik
yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan keprofesian yang memiliki sanksi
disiplin profesi yang bersifat administratif. Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli
hukum menganggap bahwa standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai
domain hukum, padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi
adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian pelanggaran standar
profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum. World
Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menelorkan sumpah dokter
(dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran Internasional
berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama
dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat
dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional. Selain Kode Etik Profesi di
atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-
prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam
menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari
segi moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika
biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat
keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di
bidang medis.
Pada banyak kasus medikolegal kompleks yang sampai ke pengadilan, banyak yang
memerlukan pendapat saksi ahli karena metodologi dan tata laksana standar kedokteran ada
di luar pengetahuan juri. Jika terdapat tuduhan tindakan malpraktik maka orang yang
mengajukan tuduhan tersebut disyaratkan untuk memberikan bukti adanya penyimpangan
tersebut. Bukti tersebut harus datang dari ahli yang memiliki kualifikasi yang sesuai dengan
subjek yang dipermasalahkan. Karena itu, umumnya banyak didapatkan dokter enggan
bersaksi melawan teman sejawatnya. Alasan keengganannya tersebut bervariasi mulai dari
stigma tuduhan malpraktik, nama buruk yang didapat setelah bersaksi, ancaman
pengeluaran dari komunitas tempat dia bernaung, ancaman dari perusahaan asuransi dokter
tersebut, ancaman pengadilan profesi, dan adanya konspirasi untuk tutup mulut.
Pembelaan yang lebih relevan dan dapat diterapkan dalam praktik kedokteran
sehari-hari termasuk :
(1) Asumsi pasien mengenai resiko berdasarkan surat persetujuan yang telah dibuat
(2) Faktor penyebab kelalaian terletak di tangan pasien
(3) Kelalaian terletak pada pihak ke tiga. Terdapat pencegahan-pencegahan tertentu
yang dapat dilakukan secara rutin sehingga tuduhan malpraktik dapat dielakkan.
Hal ini termasuk :
1. Mempekerjakan dan melatih asisten dengan arahan langsung sampai asisten tersebut
dapat memenuhi standar kualifikasi yang ada.
2. Mengambil langkah hati-hati untuk menghilangkan faktor resiko di tempat praktik.
3. Memeriksa secara periodik peralatan yang tersedia di tempat praktik.
4. Menghindari dalam meletakkan literatur medis di tempat yang mudah diakses oleh
pasien. Kesalahpahaman dapat mudah terjadi jika pasien membaca dan menyalahartikan
literatur yang ada.
5. Menghindari menyebut diagnosis lewat telepon.
6. Jangan meresepkan obat tanpa memeriksa pasien terlebih dahulu.
7. Jangan memberikan resep obat lewat telepon.
8. Jangan menjamin keberhasilan pengobatan atau prosedur operasi yang ada.
9. Rahasiakanlah sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia. Jangan membocorkan
informasi yang ada kepada siapapun. Rahasia ini hanya diketahui oleh dokter dan
pasien.
10. Simpanlah rekam medis secara lengkap, jangan menghapus atau mengubah isi yang ada.
11. Jangan menggunakan singkatan-singakatan atau simbol-simbol tertentu di rekam medis.
12. Gunakan formulir persetujuan yang sah dan sesuai Docu-books adalah alat bantu yang
penting dalam menyimpan surat persetujuan yang telah dibuat.
13. Jangan mengabaikan pasienmu.
14. Cobalah untuk menghindari debat dengan pasien tentang tarif dokter yang terlampau
mahal. Buatlah diskusi dan pengertian dengan pasien mengenai tarif dokter yang wajar.
15. Pada tiap kali pertemuan, gunakanlah bahasa yang dapat dimengerti oleh pasien. Jangan
pernah menduga jika pasien mengerti apa yang kita ucapkan.
16. Jalinlah empati untuk setiap masalah yang dialami pasien, dengan ini tata laksana akan
menjadi komprehensif.
17. Jangan pernah berbohong, memaksa, mengancam, atau melakukan penipuan kepada
pasien. Jangan mengakali pasienmu. Jangan mengarang-ngarang cerita mengenai
penyakit pasien.
18. Jangan pernah melakukan pemasangan alat bantu, pengobatan atau tata laksana jika
pasien masih berada dalam pengaruh alkohol atau pengaruh pengobatan yang
mengandung narkotika.
19. Jangan pernah menawarkan untuk membiayai pengobatan pasien dengan dana sendiri.
Jika pengobatan yang diberikan melebihi polis asuransi yang pasien miliki, maka jangan
limpahkan kepada polis asuransi yang kita miliki.
20. Jangan menjelek-jelekkan pasien atau teman sejawatmu.
21. Jangan pernah ikut serta dalam gerakan tutup mulut.
Pembelaan Dapat Dilakukan Seorang Dokter Jika Diisukan Melakukan
Penelantaran. Meskipun seorang pasien mengajukan kasus prima facie bahwa dokter telah
melakukan penelantaran, bahkan mengajukan bukti bahwa dokter tersebut tidak
memberikan kenyamanan pelayanan kesehatan sesuai standar media yang diharapkan oleh
pasien pada waktu tertentu atau berdasarkan kepercayaan pada doktrin res ipsa loquitur
(Bukti – bukti berbicara untuk dirinya sendiri), hukum membolehkan seorang dokter untuk
membela dirinya, selain penyangkalan tindakan penelantaran. Pembelaan yang dapat
dilakukan, antara lain :
1. Perkiraan resiko tindakan pada pasien
2. Keikutsertaan terjadinya penelantaran oleh pasien sendiri
3. Bahwa penelantaran tersebut bukan untuk melindungi dokter tersebut
melainkan orang lain, misal perawat
The Assumption of Risk, Violenti non fit Injuria. Biasanya, kenyataan bahwa pasien
mengetahui resiko dari tindakan medis dan mau mendapat terapi tersebut tidak melepas
kewajiban dokter tersebut dalam menangani pasien dengan baik. Bagaimanapun juga jika
pasien bersikeras mendapat penanganan yang dapat membahayakannya, melawan saran
dari dokter, maka dokter tersebut lepas dari tanggung jawabnya. Posisi ini dapat menjadi
sangat rumit jika pasien yang ditangani berada dalam kondisi mental yang kurang siaga
dalam menerima tanggung jawab menjalankan instruksi, dalam hal ini yang dimaksud
adalah mengerti dan memahami penjelasan sang dokter.(2)
Sikap dokter terhadap hukum.
Dokter yang terlibat pada kasus hukum dan telah membaca laporan kasus hukum
sering kesal pada tatalaksana yang diterima oleh mereka sendiri atau koleganya di tangan
pengacara. Namun, terlihat jelas dari laporan kasus singkat pada bab ini, bahwa pasien telah
sering mengalami banyak kehilangan dan satu-satunya kesempatan kompensasi untuk
dirinya sendiri dan tergugat bergantung pada tindakan hukum. Juga jelas dari laporan kasus
bahwa pengadilan menjunjung tinggi reputasi dokter saat hal tersebut mungkin, dan tidak
boleh bersimpati terhadap disabilitas pasien yang berpengaruh pada keputusan hukum.
Sikap tidak memihak ini lebih dijelaskan pada kasus Roe and Woolley v. Minister of
Health dimana terdapat cedera berat pada penggugat, namun pengadilan mengatakan bahwa
‟kami seharusnya tidak menghukum kelalaian yang hanya merupakan kecelakaan. Kami
seharusnya selalu berada pada kehati-hatian terhadapnya, terutama pada kasus melawan
rumah sakit dan dokter.‟Untuk perlindungan diri, seorang dokter harus selalu
memperhatikan kasus-kasusnya dengan seksama, bersiap memberikan alasan untuk segala
keputusan yang dibuatnya dan menjaga pasien agar tetap diinformasikan dengan baik dan
berada dalam kepercayaannya. Jika pada saat tidak beruntung ia menjadi tergugat secara
hukum, maka ia telah memiliki dasar yang baik untuk pembelaan. Selama mendengarkan
kasus, ia harus berpengetahuan penuh mengenai semua kenyataan yang terjadi pada kasus,
walaupun terkadang terlewat saat sesi pertanyaan, dan harus bersiap untuk menjawab
pertanyaan berdasarkan pemahamannya atas tatalaksana dan pendapatnya. Ia harus
mengingat bahwa kapanpun tindakannya dipertanyakan, ia harus selalu terlihat mempunyai
alasan yang tepat. Ia tidak pernah harus menunjukkan bahwa tindakannya sempurna.
Apabila seorang dokter telah terbukti dan dinyatakan telah melakukan tindakan
malpraktek maka dia akan dikenai sanksi hukum sesuai dengan UU No. 23 1992 tentang
kesehatan. Dan UU Praktek kedokteran dalam BAB X Ketentuan Pidana Pasal 75 ayat (1)
yang berbunyi Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling
banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Sehubungan dengan hasil keputusan
Mahkama Konstitusi pasal tersebut telah mengalami revisi, dimana salah satu keputusan
dari Mahkama Konstitusi adalah ketentuan ancaman pidana penjara kurungan badan yang
tercantum dalam pasal 75, 76, 79, huruf a dan c dihapuskan. Namun mengenai sanksi
pidana denda tetap diberlakukan.
Ayat (2) berbunyi Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan
sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama
3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Surat tanda
registrasi sementara dapat diberikan kepada dokter dan dokter gigi warga negara asing yang
melakukan kegiatan dalam rangka pendidikan, pelatihan, penelitian, pelayanan kesehatan di
bidang kedokteran atau kedokteran gigi yang bersifat sementara di Indonesia
Ayat (3) berbunyi Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan
sengaja. Surat tanda registrasi yang dimaksud adalah melakukan praktik kedokteran tanpa
memiliki surat tanda registrasi bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).


Selain pasal 75, masih ada beberapa pasal yang akan menjerat dokter apabila
melakukan kesalahan yaitu diantaranya Pasal 76, 77, 78, dan 79.
jika tertundanya penbedahan tersebut disebabkan kelalaian dokter, maka sikap
dokter tersebut bertentangan dengan lafal sumpah dokter, KODEKI Bab II pasal 10
dan KUHP pasal 304 dan 306
Lafal sumpah dokter:
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita.
KODEKI Bab II pasal 10
Seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
kemanusiaan
KUHP pasal 304
Barang siapa yang dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan seseorang
dalam kesengsaraan, sedangkan ia wajib memberi kehidupan, perawatan dan
pemeliharaan berdasarkan hukum yang berlaku baginya atau karena suatu
perjanjian, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan
atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,-KUHP pasal 306(2) jika salah satu
perbuatan tersebut berakibat kematian, maka bersalah dihukum dengan hukuman
perjara selama-lamanya 9 tahun.
Praktik hukum disiplin.
Pengertian disiplin tidak dicantumkan secara tegas dalam UU Nomor 29 Tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran. Namun kata disiplin dikaitkan dengan ”menegakkan
disiplin” seperti pada pasal 55 ayat (1) yang merupakan alasan dibentuknya Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), suatu organ atribusian baru di ”sisi
hilir” pengaturan praktik kedokteran yang secara khusus kelak akan mengembangkan
bentuk hukum baru, yakni hukum disiplin (medik). Pada bagian penjelasannya tertulis:
”yang dimaksud dengan ”penegakan disiplin” dalam ayat ini adalah penegakan
aturan-aturan dan/atau ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan
pelayanan yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi”
Dengan demikian penegakan disiplin yang merupakan sendi hukum disiplin
kedokteran adalah :
a. Penegakan aturan-aturan dalam pelayanan kesehatan/kedokteran dan atau
b. Penegakan ketentuan penerapan keilmuan dalam pelayanan
kedokteran/kesehatan
c. Wajib diikuti dokter/dokter gigi
Bertolak dari pengertian tersebut dapat diartikan secara sederhana bahwa disiplin
adalah aturan dan penerapan keilmuan yang wajib diikuti oleh dokter/dokter gigi (subyek
hukum) dalam menjalankan profesinya (obyek hukum) dalam konteks berada dalam wujud
hubungan dokter – pasien (hubungan hukum). Dengan demikian hukum disiplin adalah
hukum yang mempelajari pelbagai hal yang berkaian dengan kewajiban (tentu saja
termasuk hak-hak) dalam suatu bangunan kesatuan hubungan profesional dokter – pasien,
yang meliputi aturan dan penerapan keilmuan kedokterannya yang dimiliki selaku kaum
profesi untuk mencapai tujuan kedokteran tertentu demi kepentingan pasien sebagai
bahagian dari masyarakat. Secara anatomis, hukum disiplin akan menyorot mutu dokter
sebagai profesi (dalam keadaan ”diam”, sebelum berhubungan dengan pasiennya) dan
secara fisiologis, hukum disiplin menyorot hubungan dokter – pasien sebagai sesuatu yang
”bergerak” atau dinamis). Dalam konteks UU Praktik Kedokteran, hukum disiplin medik
”diam” akan melingkupi kiprah Konsil Kedokteran Indonesia sebagai lembaga atribusian
baru di ”sisi hulu” yang diamanatkan untuk memproduksi dokter ”lege artis” – siap
mengadbdi bagi perlindungan (kesehatan) masyarakat, memberdayakan kelembagaan
profesi serta membimbing sesama dokter untuk tetap atau bahkan lebih lege artis.
Sedangkan hukum disiplin ”bergerak” akan memberi ”pekerjaan rumah” bagi MKDKI
untuk mengawasi pelaksanaan praktik dokter/dokter gigi, termasuk menjatuhkan sanksi
bagi pelanggarnya.