BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Penyakit diare hingga saat ini masih
merupakan salah satu penyebab utama kesakitan
dan kematian. Hampir di seluruh dunia pada
semua kelompok usia bisa diserang oleh diare,
tetapi penyakit berat dengan kematian yang
tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita.
Di negara berkembang, anak-anak menderita
diare lebih dari 12 kali per tahun dan hal ini
menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari
semua penyebab. (Anan, 2004) dalam (Zubir dkk,
2006).
Di negara berkembang, anak-anak balita
mengalami rata-rata 3-4 kali kejadian diare per
tahun tetapi di beberapa tempat terjadi lebih dari 9
kali kejadian diare per tahun atau hampir 15-20%
waktu hidup anak dihabiskan untuk diare
(Soebagyo, 2008).
Menurut catatan World Health Organization
(WHO), diare menyebabkan kematian 2 (dua) juta
anak di dunia setiap tahun. Sedangkan berdasarkan
Depratemen Kesehatan Republik Indonesia (1999),
mengatakan bahwa Diare adalah penyebab utama
kesakitan dan kematian pada anak di negara
berkembang diperkirakan 1.3 miliar episode dan 3.2
juta kematian setiap tahun.
Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan
kesehatan dan ekonomi masyarakat, akan tetapi kasus diare
masih tetap tinggi dan masih menjadi masalah dibidang
kesehatan. Penyakit ini juga terkenal dengan nama muntah berak
(muntaber) ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di Timor
Leste, artinya terjadi secara terus-menerus di semua daerah,
baik di perkotaan maupun di pedesaan, khususnya di daerah-
daerah miskin atau daerah yang kurang mengakses terhadap
pelayanan kesehatan.
Di Timor Leste berbagai upaya penanganan, baik secara
medik maupun upaya perubahan perilaku dengan melakukan
perbaikan sanitasi lingkungan serta memberikan penyuluhan
terus-menerus. Namun upaya-upaya tersebut belum
memberikan hasil yang menggembirakan. Karena di Timor Leste
hingga saat ini penyakit diare paling banyak terdapat pada pasien
yang berobat di rumah sakit berdasarkan umur dan jenis
kelamin, yaitu diare akut dan diare disentriataudarah.
Berdasarkan data Ministério da Saúde, Integrated
Diseases Surveillance (IDS) Report Districk, menunjukan
bahwa pada tahun 2009 diare akut terdapat 56.723 kasus,
dan diare disentri atau darah terdapat 9.785 kasus.
Sedangkan pada tahun 2010, kasus diare akut meningkat
sampai 67.903, dan diare berdarah juga meningkat hingga
9.999. Disamping itu pada tahun 2009, di Distrito Dili,
diare akut terdapat 2.087 kasus, dan diare disentri atau
berdarah terdapat 698 kasus. Sedangkan pada tahun 2010
diare akut mempunyai perubahan yaitu terdapat 4.266
kasus dan diare disentri atau berdarah meningkat yaitu
terdapat 1.12 kasus.
Tawi (2008), memberikan suatu konsep
bahwa kuman penyebab diare umumnya spesifik
pada suatu daerah tertentu, tergantung pada
keadaan sanitasi lingkungan dan perilaku
masyarakat setempat. Di daerah dimana tingkat
kebersihan lingkungannya buruk dan warganya
yang membiasakan diri untuk hidup sehat sering
ditemui kejadian diare terutama karena adanya
kontaminasi air atau makanan oleh kuman atau
bakteri patogen.
Di samping itu kondisi lingkungan yang buruk disertai
rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk berperilaku
sehat, menjadikan faktor yang menyebabkan terjadinya
penyebaran penyakit diare pada masyrakat di pedesaan.
Oleh karena itu, penyakit menular yang sering di
jumpai di kawasan Suku Comoro salah satunya adalah diare,
diikuti dengan penyakit lainnya. Gaya hidup, perilaku serta
rendahnya tingkat pendidikan dan keadaan ekonomi rendah,
tidak memperhatikan sanitasi lingkungan, makanan yang
terkontaminasi serta proses penggunaan air bersih dalam
lingkungan rumah tangga, sehingga dapat menyebabkan usus
atau jalur rentan terhadap serangan bakteri diare.
Di Timor-Leste, walaupun semua
pembangunan penyediaan air bersih sampai ke
pedesaan, untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat, tetapi jika dilihat dari cara
penggunaannya masih dipengaruhi oleh banyak
hal salah satunya adalah perilaku masyarakat
untuk mengkonsumsi dan menggunakan air
bersih dengan aman khususnya masyarakat di
Suku comoro. Karena terbatasanya tenaga
kesehatan masyarakat maupun kurangnya
pengetahuan tentang proses pengunaan sarana
air bersih sehingga terjadinya penyakit seperti
diare.
1.2.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apakah ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan kasus diare di
Suku Comoro ?
2. Apakah ada hubungan antara penggunaan sarana air bersih dengan kasus
diare di Suku Comoro ?
3. Apakah ada hubungan antara penyediaan dan pengunaan sarana air bersih
dengan kasus diare di suku Comoro ?

1.3.Pembatasan Masalah
Dengan terbatasnya referensi, waktu serta biaya penelitian, maka dalam
penelitian ini, hanya meneliti mengenai.
1. Hubungan antara penyediaan air bersih dengan kasus diare di Suku Comoro.
2. Hubungan antara perilaku penggunaan sarana air bersih dengan kasus diare di
Suku Comoro.
3. Hubungan antara penyediaan dan pengunaan sarana air bersih dengan kasus
diare di suku Comoro.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pembatasan masalah diatas maka, dalam
penulisan ini, peneliti mempunyai 2 tujuan yakni tujuan
umum dan tujuan khusus adalah sebagai berikut:
1.3.1. Tujuan umum
• Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubugnan penyediaan dan penggunaan sarana air bersih,
dengan kasus diare di Suku Comoro, Sub-Distrito Dom
Aleixo, Distrito Dili tahun 2014.
1.3.2. Tujaun khusus
Dibawah ini dapat diuraikan tujuan khusus adalah sebagai
berikut:
• Untuk mengetahui Hubungan antara penyediaan air bersih
dengan kasus diare di Suku Comoro.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Air Bersih
2.1.1.Pengertian air bersih
Menurut Mulia, Ricki M, (2005), air merupakan senyawa kimia
yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi.
Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa
lain. Penggunaan air yang utama dan sangat vital bagi
kehidupan adalah sebagai air minum. Hal ini terutama untuk
mencukupi kebutuhan air di dalam tubuh manusia. Mengingat
bahwa peran air, sangat diperlukan adanya sumber air yang
dapat dilihat dari segi kuantitas (penyediaan) maupun
kulitasnya (penggunaan).
2.2. Penyediaan air besih untuk minum

Menurut Notoatmodjo, (2007), air adalah sangat
penting bagi kehidupan manusia. Menusia akan lebih cepat
meniggal karena kekurangan air dari pada kekurangan
makanan. Tubuh manusia untuk orang dewasa, sekitar 55-60
% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 %,
dan untuk bayi sebesar 80 %. Kebutuhan manusia akan air
sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi,
mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya.
Menurut perhitungan World Health Organization (WHO) di
negara-negara maju setiap orang memerlukan air antara 60-
120 liter per hari.
Menurut Slamet J.S, (2007) mengatakan bahwa air
minum bagi manusia adalah salah satu kebutuhan utama,
manusia mengunakan air untuk berbagai keperluan seperti
mandi, cuci, kakus, produksi pangan, papan dan sandang.
Dan mengingatkan pula bahwa berbagai penyakit dapat di
tularkan oleh air melalui perantara kepada manusia pada
saat manusia memamfaatkannya, maka tujuan utama
menyediakan air minumataubersih bagi masyarakat adalah
mencegah penyakit bawaan air. Dengan demikian maka
diharapkan, bahwa semakin banyak masyarakat
menggunakan yang air bersih semakin turun pula morbiditas
penyakit bawaan air.
2.3. Kualitas air minum
Menurut Slamet J.S, (2007), Air minum yang ideal
seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak
berbau. Sehingga dapat mengatakan bahwa air minum
seharusnya tidak mengandung kuman patogen atau segala
makhluk yang membahayakan kesehatan manusia. Tidak
mengandung zat kimia yang dapat mengubah fungsi tubuh
tidak dapat diterima secara stetis dan dapat merugikan
secara ekonomis. Air itu seharusnya tidak korosif, tidak
meninggalkan endapan pada seluruh jaringan distribusinya.
Pada hakekatnya, tujuan kualitas air minum ini di buat untuk
mencegah terjadinya penyebaran penyakit bawaan air
(water-borne diseases).
2.4. Persyaratan air minum yang sehat.
Menurut Notoatmodjo, (2007), mengatakan agar air
munim tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut
hendaknya di usahakan mendekati persyaratan-persyaratan
kesehatan, setidak-tidaknya diusahakan mendekati
persyaratan-persyaratan di bawah ini:
a) Syarat Fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening,
(tidak berwarna), tidak berasa, suhu di bawah udara di luar.
Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak
sukar. Menurut Sutrisno,. dkk, (2004), air yang memenuhi
persyaratan fisik, yaitu; Air tidak boleh berwarna, berasa,
berbau, suhu air hendaknya di bawah suhu udara (sejuk ±
25
0
C) dan air harus jernih. Syarat-syarat kekeruhan dan
warna dipenuhi oleh setiap jenis air minum di mana
dilakukan penyaringan.
b) Syarat Bakteriologis
Menurut Notoatmodjo, (2007) Air untuk
keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala
bakteri, terutama beketeri patogen. Cara ini untuk
mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh
bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel air
tersebut. Sedangkan Menurut Sutrisno, T. dkk. (2004), air
minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit
seperti bakteri E. Coli. Bakteri patogen yang mungkin ada
dalam air adalah Bakteri Typshum, Vibrio colerae, bakteri
dysentrie, Entamoeba hystolica dan Enteritis (penyakit
perut). Dengan demikian dapat megatakan bahwa air
yang mengandung golongan Coli dianggap telah
terkontaminasi (berhubungan) dengan kotoran manusia.
c) Syarat Kimiawi
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat
tertentu dalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan
atau kelebihan salah satu zat kimia dalam air, akan
menyebabkan ganguan fisiologis pada manusia.
Menurut Sutrisno,. dkk. (2004), air yang memenuhi
persyaratan kimia, air tersebut tidak boleh
mengandung racun, zat-zat mineral atau zat-zat kimia
tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah
ditentukan.

2.5. Pengolahan Air Minum
Menurut Kusnaedi (2002), yang dikutip oleh Mulia,
Ricki M, (2005), tujuan pengolahan air minum merupakan
upaya untuk mendapatkan air yang bersih dan sehat sesuai
dengan standar mutu air. Proses pengolahan air minum
merupakan proses perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi
air baku agar memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air
minum.
Menurut Sutrisno,, T, dkk (2004) pengolahan air
adalah usaha-usaha teknis yang dilakukan untuk mengubah
sifat-sifat suatu zat. Dalam proses pengolahan air minum
pada lazimnya dikenal dengan dua cara antara lain:
Pengolahan lengkap atau (Complete Treatment Prosses),
yaitu air akan mengalami pengolahan lengkap, baik fisik,
kimiawi, dan bakteriologis.
a. Pengolahan fisik
Pengolahan fisik yaitu suatu tingkat pengolahan yang
bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-
kotoran yang kasar, penyisihan lumpur dan pasir, serta
mengurangi kadar zat-zat organi yang ada di dalam air.
b. Pengolahan kimia
Pengolahan kimia yaitu suatu tingkat pengolahan dengan
mengunakan zat-zat kimia untuk membantu proses
pengolahan selanjutnya, seperti pada penumbuhan kapur
dalam proses pelunakan dan sebagainya.
c. Pengolahan bakteriologis
Pengolahan bakteriologis yaitu suatu tingkat pengolahan
untuk membunuh atau memusnahkan bakteri-bakteri yang
terkandung dalam air yakni dengan cara atau
2.1.6. Pengaruh Air Terhadap Kesehatan

Penggunaan air yang tidak memenuhi syarat dapat
menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan. Gangguan
kesehatan tersebut dapat berupa penyakit menular maupun
tidak menular. Penyakit menular umumnya disebabkan oleh
makhluk hidup; sedangkan penyakit tidak menular umunya
bukan disebabkan oleh makhluk hidup.
Penyakit menular yang disebarkan oleh air secara langsung
diantara masyarakat disebut penyakit bawaan air (water
borne disease). Hal ini dapat terjadi karena air merupakan
media yang baik dan tempat bersarangnya bibit penyakit atau
agen. Menurut Mulia, Ricki M, (2005), mengatakan beberapa
penyakit bawaan air antara lain dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.






2.2.2Diare
2.2.2.1.Definisi
Berdasarkan Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,
(2010) Diare (atau dalam bahasa kasar disebut menceret) dalam Bahasa
Melayu diare disebut diarea, dan dalam bahasa Inggris diare disebut
diarrhea. Jadi diare adalah suatu penyakit di mana penderita mengalami
rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang
memiliki kandungan air yang berlebihan.
Menurut Hendarwanto (1996, mengatakan bahwa: diare adalah buang air
besar (defekasi) dengan tinja, berbentuk cairan atau setengah cairan
(setengah padat), dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak
dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja).
berdasarkan manual Ministério da Saúde dan WHO (2000)
mengatakan bahwa diare merupakan tinja yang mengandung air yang lebih
banyak dari normal. Dengan demikin diare dapat disebut juga berak encer
atau cair yang terjadi secara berkelangsungan selama beberapa jam bahkan
selama beberapa hari.
2.2.2. Jenis Diare
Berdasarkan Departemem Kesehatan RI, (1999), secara klinis diare dapat di
bedakan menjadi tiga bagian besar yaitu: diare akut, diare disentri (diare darah) dan
diare persisten.
1. Diare akut
Diare akut adalah diare yang terjadi secara akut dan berlangsung kurang dari 14 hari
(bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari) dengan pengeluarkan tinja yang lunak atau cair
yang sering dan tampa darah, dan sering di sertai dengan muntah dan panas, sehingga
menyebabkan dehidrasi.
2. Diare disentri / darah
Diare disentri (darah) adalah diare yang disertai dengan darah dalam tinja akibat disentri
atau ialah anoreksi penurunan berat badan dengan cepat dan kerusakan mukosa usus
karena bakteri invosit. Diare ini sering di sebabkan oleh bakteri Sigella, Campylobacter
Jejuri, serta E. Coli Enteroivansite atau Salmonela pada anak-anak dan pada orang muda
(dewasa) disebabkan oleh Disentri Entamoeba Histolyca.
3. Diare persisten
Diare persisten adalah diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung lebih dari
14 hari dengan dimulainya diare cair atau disentri.
Sedangkan Ministry of Health and WHO (2000) Sekitar 20% dari diare akut akan berlanjut
menjadi diare Persisten. Diare ini seringkali menyebabkan masalah gizi.
2.2.3. Epidemiologi
KOPAPDI VI Jakarta, (1984), yang dikutib oleh
Hendarwanto, (1996), diare akut merupakan masalah yang
umumnya ditemukan di seluruh dunia. Di Amerika Serikat
diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien
pada ruang praktek dokter, sementara di beberapa rumah
sakit di Indonesia data menunjukan diare akut karena infeksi
(gastroenteritis) terdapat pada peringkat pertama sampai
dengan keempat pasien dewasa yang datang berobat
kerumah sakit.
Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui
mulut (oralfecal) antara lain melalui makanan dan minuman
.yang tercemar oleh tinja atau secara langsung melalui tinja
penderita.
2.2.4. Etiologi Diare
Berdasarkan Departemen Kesehatan RI (1999)
menyimpulkan bahwa sampai beberapa tahun yang lalu,
kuman-kuman patogen hanya dapat diidentifikasikan dari
25% dari tinja penderita diare akut. Pada saat ini dengan
menggunakan teknik yang baru, tenaga laboratorium yang
berpengalaman dapat mengidentifikasikan pada 75 %
kasus pada pendrita yang datang ke sarana kesehatan dan
sekitar 50 % kasus-kasus ringan di masyarakat. Menurut
Hendarwanto 1996), Diare akut karena infeksi dapat
ditimbulkan karena bakteri, parasit dan virus.
a. Bakteri
Terdiri dari bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi,
Salmonella paratyphi, Shigella dysenteries, Shigella
flexneri, Vibrio cholera, Vibrio Eltor, Vibrio
parahemolyticus, Clostridium perfritigens, Campilobacter
(Helicobakter), Jejuni, Staphylococcus, Streptokok sp,
Yersinia intestinalis, Coccidiosis
b. Parasit
Protozoa: Entamoeba Histolica, Giardia lamblia,
Trichomonas hominis, Isospora sp.
Cacing: A. lumbricoides , A. duodenale, N. americanus, T.
trichiura, O. velmicularis, S. stercoralis, T. saginata dan T.
solium.
c. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk.
2.2.5. Cara penularan
Menurut Sutrisno, dkk, (2004) mengatakan bahwa cara
penularan organisme penyebab penyakit atau organisme
patogen yang berada dalam air adalah sebagai berikut:
a. Bakteri
1. Virus cholera dapat menyebabkan penyakit kolera, di
tularkan melalui air, makanan dan oleh lalat
2. Salmonella typhi, dapat menyebabkan penyakit deman
typhoid, ditularakn melalui air dan makanan
3. Siggella dysentriae, menyebabkan penyakit disentri
basilar (Bacillry dysentery), ditularkan melalui fekal oral.
Juga melalui kontak dengan susu, makanan dengan
bantuan lalat.
4. Salmonella paratyphi, menyebabkan demam partyphoid,
ditularkan melalui air, juga dengan fekal oral.
b. Protozoa
Entoniseba hystolica, menyebabkan penyakit disenti
amuba (Amoebic Dysentry), ditularkan melalui air, juga
melalui makanan dengan bantuan lalat.
c. Virus
Infectious hepatitis, menyebabkan hepatitis infetiosa,
ditularkan melalui air, susu, makanan (termasuk kerang
dan kepiting).
2.2.6. Gejala diare.
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan
frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari, yang kadang
disertai : muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak ada
nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran, rasa mual
dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang
disebabkan oleh infeksi virus.
2.2.7. Masa Inkubasi
Menurut Oscar (2008), mengatakan bahwa masa
dari masuknya kuman ke dalam tubuh sampai
timbulnya gejala yang disebut masa inkubasi
bervariasi tergantung pada jenis kuman
penyebabnya. Shigella misalnya, memiliki masa
inkubasi 16 sampai 72 jam, sedangkan masa
inkubasi virus berkisar antara 4 sampai 48 jam.
Sedangkan parasit umumnya memiliki masa
inkubasi yang lebih panjang, seperti Giardia
misalnya, memiliki masa inkubasi antara 1 sampai
3 minggu.
2.2.8. Patofisiologi
Menurut Hendrawarto (1996), mengatakan bahwa
sekitar 9-10 cairan memasuki saluran cerna setiap
harinya, berasal dari luar dan dari dalam tubuh kita
(sekresi cairan lambung, empedu dan sebagainya).
Sebagian besar 75-85% dari tersebar akan diresorbsi
kembali di usus halus dan sisanya sebanyak 1500 ml akan
memasuki usus besar. Sejumlah 90 dari cairan di usus
besar akan diresorbsi, sehingga tersisa sejumlah 150-250
ml yang akan ikut membentuk tinja.
Menurut Sumardibarata (1996), mengatakan
bahwa diare dapat di sebabkan oleh satu atau lebih
patofisiologi adalah sebagai berikut:
• Osmolaritas intraluminal yang meninggi , disebut diare
osmotik
2.2.9. Pencegahan diare
Berbagai kuman penyebab diare di sebabkan melalui jalan
oralfekal seperti air, makanan, dan tangan yang tercemar,
maka pemutusan penyebaran kuman penyebab harus di
fokuskan pada cara penyebarannya. Berdasarkan
Departemen Kesehatan RI, (1999) upaya yang terbukti
efektif adalah sebagai berikut:
1. Pemberian ASI saja pada bayi yang berumur masih 4-6
bulan.
2. Menhindari pengunaan susu botol.
3. Memperbaiki cara penyiapan dan penyimpanan
makanan pendamping (untuk mengunjugi paparan ASI dan
perkembang biakan).
4. Pengunaan air bersih untuk minum.
2.3.1. Defenisi Operasional dan Kerangka
Konsep
Berdasarkan kerangka teori di atas maka penulis
membuat suatu kerangka konsep penelitian. Dalam
kerangka konsep penelitian ada dua varibel penelitian
yaitu variabel bebas (Independen) dan variabel terikat
(Dependen).
Variabel bebas (independen) adalah variabel yang tidak
tergantung dinotasi dengan (X) dalam hal ini penyediaan
air bersih sebagai varibel X
1
dan Penggunaan sarana air
bersih sebagai variabel X
2
. Sedangkan varibel terikat
(dependen) adalah variabel tergantung dinotasi dengan Y
yaitu kasus diare, dimana kasus diare tergantung pada
kondisi atau keadaan air bersih
3.4.Hipotesis Penelitian
Istilah hipotesis berasal dari yunani, yang mempunyai 2 kata yaitu
“hipo” artinya sementara dan “thesis” yang artinya peryataan atau sementara.
Jadi Hipotesis adalah pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya.
Riduwan (2004), memberikan arti hipotesis adalah jawaban atau dugaan
sementara yang harus diuji kebenarannya melalui penelitian ilimiah.
Jadi hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis
asosiatif untuk memberikan jawaban yang pada permasalahan yang bersifat
hubungan. Dengan demikian maka hipotesis yang perlu di uji hubungannya
adalah sebagai berikut:
Apakah ada hubungan yang signifikan antara penyediaan air bersih dengan
kasus diare di Suco Comoro.
Apakah ada hubungan yang signifikan antara Perilaku penggunaan air bersih
dengan kasus diare di Suco Comoro.
Apakah ada hubungan yang signifikan antara penyediaan dan penggunaan
sarana air bersih terhadap Kasus Diare.