1

Hubungan Ginjal dengan Gangguan Keseimbangan Cairan Tubuh
Imelda Trivintia Monas
102012458 / F4
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Email: imelda.monas@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak: Sistem kemih beserta hormonal dan syaraf dengan masing-masing fungsinya
memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh manusia.
Keseimbangan cairan tubuh yang dimaksud disini adalah keseimbangan zat asam
dan basa pada tubuh manusia. Fungsi inilah yang sering disebut fungsi homeostasis
dari ginjal guna menjaga keseimbangan cairan ekstraseluler. Untuk mempelajari
akan fungsi tersebut akan dibahas mengenai mekanisme kerja ginjal, struktur
makroskopik dan mikroskopik ginjal , mekanisme kerja hormon serta
keseimbangan asam basa itu sendiri.
Kata kunci : sistem kemih,keseimbangan asam basa
Abstract: Urinary system along with hormonal and neural functions with respective
important role in maintaining fluid balance of the human body. Fluid balance of the
body in question here is the balance of acid and alkaline substances in the human
body. This function is often referred to renal function in order to maintain
homeostasis of extracellular fluid balance. To learn the functions will be discussed
on the mechanism of action of the kidneys, the macroscopic and microscopic
structure of the kidney, the mechanism of action of hormones and acid base
balance itself.
Key word : urinary system, acid alkaline balance




2


Pendahuluan
Kelangsungan hidup dan fungi normal sel bergantung pada pemeliharaan stabilitas
konsentrasi garam, asam dan elektrolit lain didalam tubuh. Dan kelangsungan hidup sel juga
bergantung pada pengeluaran secara terus menerus bahan-bahan sisa metabolik toksik yang
dihasilkan oleh sel-sel ketika melakukan reaksi-reaksi kimia untuk mempertahankan hidup.
Ginjal berperan besar dalam mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi
banyak konstituen plasma, khususnya elektrolit dan air, dan dengan membuang semua bahan
sisa metabolik (kecuali karbondioksida yang dikeluarkan lewat paru). Sewaktu berulang-
ulang tersaring oleh ginjal, plasma mempertahankan kostituen-konstituen yang tidak
diinginkan aau berlebihan ke urine. Yang terutama penting adalah kemampuan ginjal
mengatur volume dan osmolaritas (konsentrasi zat terlarut) lingkungan cairan internal dengan
mengontrol keseimbangan garam dan air. Yang juga penting adalah kemampuan ginjal
membantu dan mengatur pH dengan mengendalikan pengeluaran asam dan basa di urin.
Pembahasan
Makroskopik ginjal
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, disebelah
kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal dibelakang peritoneum,
dan karena itu diluar rongga peritoneum. Kedudukan ginjal dapat diperkirakan dari belakang,
mulai dari ketinggian vertebra torakalis terakhir sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal
kanan sedikit lebih rendah dari kiri, karena hati menduduki ruang banyak disebelah kanan.
1
Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat.
2

a. Fascia renal adalah pembungkus terluar. Pembungkus ini melabuhkan ginjal pada
struktur di sekitarnya dan mempertahankan posisi organ.
b. Lemak perirenal adalah jaringan adiposa yang terbungkus fasia ginjal. Jaringan ini
membantali ginjal danmembantu organ tetap pada posisinya.
c. Kapsul fibrosa (ginjal) adalah membran halu transparan yang langsung membungku
ginjal dan dapat dengan mudah dilepas.

Suplai darah2

3

1. Arteri renalis adalah percabangan aorta abdomen yang mensuplai masing-masing
ginjal dan masuk kehilus melalui cabang anterior dan posterior.
2. Cabang anterior dan posterior arteri renalis membentuk arteri-arteri interlobaris yang
mengalur diantara piramida-piramida ginjal.
3. Arteri arkuat berasal dari arteri interobaris pada area pertemuan antara korteks dan
medula
4. Arteri interobularis merupaka percabngan arkuata di sudut kanan dan melewati
korteks
5. Arteriol aferen berasal dri arteri interlobularis. Satu arteriol aferen membentuk sekitar
50 kapiler yang membentuk glomerolus.
6. Arteriol eferen meninggalkan setiap glomerolus dan membentuk jaringan kapilar lain.
Kapilar peritubular yang mengelilingi tubulus proksimal dan distal untuk memberi
nutrien pada tubulus tersebutdan mengeluarkan zat-zat yang direabsorbsi.
a. Arteriol eferen dari glomerolus nefron korteks memasuki jaring-jaring kapiler
peritubular yang mengelilingi tubulus kontortus distal dan proksimal pada
nefron tersebut
b. Arteriol aferen dari glomerolus pada nefron juxtaglomerular memiliki
perpanjanga pembuluh kapilar pajang yang lurus disebut vasa recta yang
berdesenden ke dalam piramida medula. Lekukan vasa recta membentuk
lengkungan jepit yang melewati ansa henle. Lengkungan ini memungkinkan
terjadinya pertukaran zat antara ansa henle dan kapiler serta memegang
peranan dalam konsentrasi urine.
7. Kapiler peritublar mengalir ke dalam vena korteks yang kemudian menyatu dan
membentuk vena interlobularis
8. Vena arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena arkuata bermuara ke
dalam vena interlobaris yang bergabung untuk bermuara ke dalam vena renali. Vena
ini meninggalkan ginjal untuk bersatu dengan vena cava inferior.
Ureter
Ureter adalah saluran perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari pelvis ginjal yang
merentang hingga Vesica Urinaria. Ureter memiliki panjang antara 25 sampai 30 cm. Saluran
ini menyempit di 3 tempat :
 Proksimal ureter, yaitu pada uretero pelvic junction

4

 Tempat persilangan ureter dengan vasa illiaca yang biasa disebut flexura marginalis
 Distal ureter, yaitu pada muara ureter ke dalam vesica urinaria

Arteri yang mendarahi ureter adalah ujung atas oleh arteriae renalis, kemudian bagian
tengah oleh arteriae testicularis atau arteriae ovarica, dan didalam pelvis oleh arteriae
vesicalis superior. Darah vena dialirkan kedalam vena yang sesuai dengan arteri. Nodi aortic
lateralis dan nodi iliaca. Plexus renalis, testicularis, dan plexus hypogastrica (didalam pelvis).
Serabut-serabut aferen berjalan bersama dengan saraf simpatis dan masuk ke dalam medulla
spinalis setinggi segmen lumbalis I dan II.
Biasanya, batu ginjal dapat menyangkut pada 3 tempat tersebut sehingga
menyebabkan nyeri yang biasa disebut Colic Ginjal. Lapisan muscular memiliki aktivitas
Peristaltik Intrinsik, mengalirkan urin menuju Vesica Urinaria untuk kemudian dikeluarkan
dari tubuh.
Vesica Urinaria
Vesica Urinaria adalah suatu organ yang berfungsi untuk menampung urin. Pada laki–
laki, organ ini terletak tepat dibelakang Symphisis Pubis dan didepan Rektum. Pada
perempuan, organ ini terletak agak dibawah uterus, di depan vagina. Vesica urinaria yang
kosong berbentuk pyramid, mempunyai apex, basis, dan sebuah facies superior serta dua
buah fascies inferolateralis, juga mempunyai collum. Saat kosong, berukuran kecil seperti
buah kenari, dan terletak di pelvis. Sedangkan saat penuh berisi urine, tingginya dapat
mencapai umbilicus dan berbentuk seperti buah pir. Vesica urinaria yang kosong pada orang
dewasa seluruhnya terletak didalam pelvis, bila vesica urinaria terisi, dinding atasnya
terangkat sampai masuk region hypogastricum. Pada anak kecil, vesica urinaria yang kosong
menonjol diatasa perture pelvis superior, kemudian bila cavitas pelvis membesar, vesica
urinaria terbenam didalam pelvis untuk menempati posisi seperti pada orang dewasa.
Bagian dalam vesica urinaria terdiri atas tunica mukosa sebagian besar berlipat-lipat
pada vesica urinaria yang kosong dan lipatan-lipatan tersebut akan menghilang bila vesica
urinaria terisi penuh. Area tunica mukosa yang meliputi permukaan dalam basis vesica
urinaria dinamakan trigonum vesicae liutaudi. Disini, tunica mucosa selalu licin, walaupun
dalam keadaan kosong karena membrane mukosa pada trigonum ini melekat dengan erat
pada lapisan otot yang ada dibawahnya.

5

Trigonum vesica dibatasi disebelah atas oleh rigi muscular yang berjalan dari muara
ureter yang satu ke muara ureter lain dan disebut sebagai plica interureterica. Uvula vesica
merupakan tonjolan kecil yang terletak tepat dibelakang ostium urethrae yang disebabkan
oleh lobus medius prostatae yang ada dibawahnya. Tunica muscularis vesica urinaria
terdiriatas otot polos yang tersusun dalam tiga lapisan yang saling berhubungan yang
disebutsebagai musculus detrusor vesicae. Pada collum vesicae, komponen sirkuler dari
lapisan ototini menebal untuk membentuk musculus sphincter vesicae.
Pendarahan vesica urinaria berasal dari arteri vesicalis superior dan inferior, cabang
arteri iliaca interna. Venae membentuk plexus venosus vesicalis, dibawah berhubungan
dengan plexus venosus prostaticus dan bermuara ke vena iliaca interna. Pada system
pembuluh limfe bermuara ke nodi iliaci interni dan externi. Persarafan Vesica urinaria berasal
dari plexus hypogastrica inferior. Serabut pasca ganglionik simpatis berasal dari ganglion
lumbalis pertama dan kedua lalu berjalan kebawah turun ke vesica urinaria melalui plexus
hypogastricus. Serabut preganglionik parasimpaticus yang muncul sebagai nervi spancnici
pelvic berasal dari nervus sacrales.
Urethra
Urethra adalah saluran akhir dari Tractus Urinarius, yang mengalirkan urine ke luar
tubuh. Pada pria, urethra memiliki panjang hingga 20 cm, dan selain berfungsi untuk
mengeluarkan urine, juga berfungsi untuk membawa keluar semen, namun tidak pada
saatyang bersamaan.

Urethra pada pria dibagi menjadi 3 bagian:
1. Urethra pars Prostatika
Dikelilingi oleh kelenjar prostat, dan merupakan muara dari 2 buah duktus
ejakulatorius. Juga merupakan muara dari beberapa duktus dari kelenjar prostat
2. Urethra pars Membranosa
Bagian terpendek. Berdinding tipis dan dikelilingi oleh otot rangka sfingter
urethra eksterna
3. Urethra pars Cavernosa
Bagian terpanjang. Menerima duktus dari kelenjar bulbourethralis dan bermuara
pada ujung penis. Sebelum mulut penis, bagian ini membentuk suatu dilatasi

6

kecil, yang disebut Fossa Navicularis. Bagian ini dikelilingi oleh Korpus
Spongiosum yang merupakan suatu kerangka ruang vena yang besar.

Urethra pada wanita memiliki panjang yang jauh lebih pendek. Ujung mulut urethra
pada wanita terletak dalam vestibulum, antara Clitoris dan Vagina. Perbedaan panjang dan
letak anatomis dari urethra ini, mengakibatkan perbedaan resiko akan terjadinya infeksi
saluran kemih. Pada wanita, lebih mudah terjadi infeksi karena pendeknya panjang urethra,
dan dekatnya dengan Vagina, yang memiliki banyak mikroorganisme sebagai flora normal,
namun bersifat infeksius jika berpindah tempat.

Mikroskopik Ginjal
2
Satu ginjal mengandung 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk
urine. Setiap nefron memiliki satu kompone vaskular (kapiler) dan sau komponen tubular.
1. Glomerulus adalah gulungan kapiler yang dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda
disebut kapsula bowman. Glomerulus dan kapsul bowman bersama-sama membentuk
sebuah korpuskel ginjal.
a. Lapisan visceral kapsula bowman adalah lapisan internal epitelium. Sel-el
lapisan visceral dimodifikasi menjadi podosit(sel seperti kaki) yaitu sel-sel
epitel khusus disekitar kapilar glomerular.
i. Setiap sel podosit melekat pada permukaan yang mengandung prosesus
sekunder yang disebut processus kaki atau pedikel kaku
ii. Pedikel berintegrasi degan processus yang sama dari podosit tetangga.
Ruang sempit antar pedikel-pedikel yang berinterdigitasi disebut
filtration slits (pori-pori dari celah) yang lebarya sekitar 25 nm. Setiap
pori dilapisi selapis membran tipis ang memungkinkan aliran beberapa
molekul dan menahan aliran molekul lainnya.
iii. Barier filtrasi glomerular adalah barier jaringan yang memisahkan
darah dalam kapiler glomerular dari ruang dalam kapsul bowman.
Barier ini terdiri dari endhotelium kapiler,membran dasar (lamina
basalis) kapilar dan filtration slit.
b. Lapisan parietal kapsul bowman membentuk tepi terluar korpuskel ginjal.

7

i. Pada kutub vaskular korpuskel ginjal, arteriola aferen masuk ke
glomerulus dan arteriol eferen keluar dari glomerulus.
ii. Pada kutub urinarius korpuskel ginjal, glomerulus memfiltrasi aliran
darah yang masuk ketubulus kontortus proksimal.
2. Tubulus kontortus distal, panjangnya mencapai 15 mm dan sangat berliku. Pada
permukaan yang menghadap lumen tubukus ini terdapat sel-sel epiteliai kuboid yang
jaya akan mikrovilus (brush border) dan memperluas area permukaan lumen
3. Ansa henle, tubulus kontortus proksima mengarah ke tungkai desenden ansa henle
uang masuk ke dalam medula,membentuk lengkungan jepit yang tajam(lekukan) dan
membalik ke atas membentuk tungkai asenden ansa henle.
a. Nefron korteks terletak dibagian terluar korteks. Nefron ini memiliki lekukan
pendek yang memanjang ke sepertiga bagian atas medula.
b. Nefron jukstamedular terletak di dekat medula. Nefron ini memiliki lekukan
panjang yang menjulur kedalam piramida medula.
4. Tubulus kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar 5 mm dan
membentuk segmen terakhir nefron.
a. Di sepanjang jalurnya, tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen.
Bagian tubulus yang bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel
termodifikasi yang disebut macula densa. Macula densa berfungsi sebagai
suatu kemoreseptor dan stimulasi oleh penurunan ion natrium.
b. Dinding arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa mengandung
sel-sel otot polos termodifikasi yang disebut se jukstaglomerulat. Sel ini
distimulasi melalui penurunan tekanan darah untuk memproduksi renin.
c. Macula densa, sel jukstaglomerular, dan sel mesangium saling bekerja untuk
membentuk aparatus jukstaglomerular yang penting dalam pengaturan tekanan
darah.
5. Tubulus dan duktus pengumpul. Karena setiap tubulus pengumpul berdesenden di
korteks, maka tubulus terebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal.
Tubulus pengumpul membentuk duktus pengumpul besar yang lurus. Duktus
pengumpul membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam kaliks
minor. Kaliks minor bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui kaliks mayor. Dari
pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung kemih.
I. Mekanisme Pembentukan dan Pengeluaran Urine

8

Urine yang keluar dari tubuh merupakan hasil proses penyaringan plasma darah oleh
ginjal, yang melalui beberapa proses yang rumit. Kemudian hasil tersebut dikeluarkan oleh
organ-organ pengeluaran urine atau bisa kita sebut tractus urinarius. Berikut ini merupakan
pembahasan dari system pembentukan urine dan pengeluaran urine yang akan dijelaskan
secara terpisah.
3
Pembentukan Urine
Secara garis besar, proses pembentukan urine terdiri atas proses filtrasi, reabsorbsi,dan juga
sekresi. Namun proses tersebut nantinya masih dtambah dengan proses-prosestambahan
lainnya. Berikut ini pembahasannya;
4
1. Filtrasi
Filtrasi darah terjadi di glomerulus, dimana jaringan kapiler dengan struktur
spesifik dibuat untuk menahan komponen selular dan medium-molekular-protein
besar ke dalam vascular system, menekan cairan yang identik dengan plasma di
elektrolitnya dan komposisi air. Cairan ini disebut filtrate glomerular. Tumpukan
glomerulus tersusun dari jaringan kapiler. Di mamalia, arteri renal terkirim dari
arteriol afferent dan melanjut sebagai arteriol eferen yang meninggalkan glomrerulus.
Tumpukan glomerulus dibungkus didalam lapisan selepit helium yang disebut kapsula
bowman. Area antara glomerulus dan kapsula bowman disebut bowman space dan
merupakan bagian yang mengumpulkan filtrate glomerular, yang menyalurkan ke
segmen pertama dari tubulus proksimal. Struktur kapiler glomerular terdiriatas 3
lapisan yaitu: endothelium capiler, membrane dasar, epiutelium visceral. Endothelium
kapiler terdiri satu lapisan sel yang perpanjangan sitoplasmik yang ditembus oleh
jendela atau fenestrate.
4
Dinding kapiler glomerular membuat rintangan untuk pergerakan air dan
solutemenyebrangi kapiler glomerular. Ada beberapa mekanisme tekanan yang
menimbulkanterjadinya filtrasi. Tekanan-tekanan itu antara lain ialah;
1) Tekanan hidrostatik kapiler darah, merupakan tekanan utama yang mendorong
terjadinya filtrasi, tekanan ini diperkirakan sekitar 55 mmHg. Tekanan ini
bersifat mendorong plasma dari kapiler glomerulus ke ruang bowman.
2) Tekanan onkotik kapiler, yang merupakan tekanan yang ditimbulkan oleh
kepekatan protein, tekanan ini sifatnya menarik air, besarnya sekitar 30 mmH.
Sehingga menarik plasma dari ruang bowman ke kapiler glomerulus. Tekanan

9

onkotik tidak ada padakapsula bowman karena di dalam ruang bowman tidak
terdapat protein. Sebab proteintidak dapat menembus kapiler glomerulus
ketika difiltrasi.
3) Tekanan hidrostatik kapsula bowman, merupakan tekanan yang sama seperti
tekananhidrostatik kapiler, namun sifatnya mendorong plasma dari kapsula
bowman ke kapiler glomerulus. Tekanan ini berkisar sebesar 15 mmHg.
Maka resultan dari ketiga tekanan tersebut sebesar 10 mmHg yang jalannya menuju
kekapsula bowman. Ini merupakan Tekanan yang menimbulkan adanya filtrasi, dan
laju filtrasi ini biasa disebut sebagai GFR (Glomerulus Filtration Rate) atau laju
filtrate glomerulus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi GFR antara lain:
5
a) Tekanan arteri, bila tekanan arteri meningkat, ini jelas meningkatkan tekanan
di dalam glomerulus, sehingga laju glomerulus meningkat, tetapi peningakatan
filtrasi masih di atur oleh autoregulasi untuk menjaga tekanan glomerulus
yang meningkat drastic.
b) Efek kontriksi arteriol aferen, pada laju filtrasi glomerulus kontriksi arteriol
aferen menurunkan kecepatan aliran darah ke dalam glomerulus dan juga
menurunkan tekanan glomerulus, akibatnya terjadi penurunan terjadi
penurunan glomerulus.
c) Efek kontriksi arteri eferen, kontriksi ateriol eferen meningkatan tahanan
terhadap alirankeluar dari glomerulus dan ini akan meningatkan laju
glomerulus dan filtrasinya, tetapi
bila penyempitan arteri terlalu besar dan aliran darah sangat terhalang maka laj
u filtrasi juga akan menurun.
d) Efek aliran darah glomerulus atau laju filtrasi glomerulus, bila arteiol eferen
dan eferen berkontraksi, maka jumlah darah yang mengalir ke glomerulus tiap
menitnya akan menurun. Kemudian karena cairan filtrasi dari glomerulus
maka konsentrasi protein plasma dantekanan osmotic koloid plasma dalam
glomerulus akan meningkat. Sebaliknya ini akanmelawan filtrasi, sehingga
bila aliran darah glomerulus turun secara bermakna di bawah normal, maka
laju filtrasi mungkin menjadi tertekan secara serius walaupun tekanan
glomerulus tinggi.
Pada umunya molekul dengan raidus 4 nm atau lebih tidak tersaring, sebaliknya
molekul-molek nm atau kurang akan tersaring tanpa batasan. Bagaimanapun

10

karakteristik juga mempengaruhi kemampuan dari komponen darah untuk
menyebrangi filtrasi. Selain itu beban listirk (electric charged) dari setiap molekul
juga mempengaruhi filtrasi. Kation (positive) lebih mudah tersaring dari pada anion.
Bahan-bahan kecil yang dapat terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino,
natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan
menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat
glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi
tidak mengandung protein. Hasil penyaringan tersebut kemudian terus berjalan kearah
tubulus kontortus proksimal.

2. Penyerapan ( Absorbsi)
Tubulus proksimal bertanggung jawab terhadap reabsorbsi bagian terbesar dari
filtered solute. Kecepatan dan kemampuan reabsorbsi dan sekresi dari tubulus renal tidak
sama. Pada umumnya pada tubulus proksimal bertanggung jawab untuk mereabsorbsi
ultra filtrate lebih luas dari tubulus yang lain. Paling tidak 60% kandungan air, 67% Na.
Bahan lain yang tersaring, di reabsorbsi sebelum cairan meninggalkan tubulus proksima.
Tubulus proksimal tersusun dan mempunyai hubungan dengan kapiler peritubular yang
memfasilitasi pergerakan dari komponen cairan tubulus melalui 2 jalur : jalur transeluler
dan jalur paraseluler. Jalur transeluler, kandungan (substance) dibawa oleh sel dari cairan
tubulus melewati epical membrane plasma dan dilepaskan ke cairan interstisial dibagian
darah dari sel, melewati basolateral membrane plasma.
Jalur paraseluler, kandungan yang tereabsorbsi melewati jalur paraseluler bergerak
dari cairan tubulus menuju zonula ocludens yang merupakan struktur permeable yang
mendempet sel tubulus proksimal satu dan lainnya. Paraselluler transport terjadi dari
difusi pasif. Ditubulus proksimal terjadi transport Na melalui Na, K pump. Di kondisi
optimal, Na, K, ATPase pump manekan tiga ion Na kedalam cairan interstisial dan
mengeluarkan 2 ion K ke sel, sehingga konsentrasi Na di sel berkurang dan konsentrasi
K di sel bertambah. Selanjutnya disebelah luar difusi K melalui canal K membuat sel
polar. Jadi interior sel bersifat negative pergerakan Na melewati sel apical difasilitasi
spesifik transporters yang berada di membrane. Pergerakan Na melewati transporter ini
berpasangan dengan larutan lainnya dalam satu pimpinan sebagai Na (contransport) atau
berlawanan pimpinan (counter transport).
Substansi diangkut dari tubulus proksimal ke sel melalui mekanisme ini
(secondaryactive transport) termasuk gluukosa, asam amino, fosfat, sulfat, dan organic

11

anion. Pengambilan active substansi ini menambah konsentrasi intraseluler dan membuat
substansi melewati membrane plasma basolateral dan kedarah melalui pasif atau difusi
terfasilitasi. Reabsorbsi dari bikarbonat oleh tubulus proksimal juga di pengaruhi
gradient Na.
Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat
glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan
terjadi penambahan zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.
Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrate dikeluarkan dalam urin. Tiap
hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa.
Sebagian besar darizat-zat ini direabsorbsi beberapa kali.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang
komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang
masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa
metabolisme
yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03′, dalam urin primer dapat
mencapai 2% dalam urin sekunder. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara.
Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa
osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.



3. Sekresi
Tubulus ginjal mampu secara selektif menambahkan zat-zat tertentu ke dalam cairan
filtrasi melalui proses sekresi tubulus. Sekresi suatu zat meningkatkan ekskresinya dalam
urine. Sistem sekresi yang terpenting adalah untuk;
1) H+, yang penting untuk mengatur keseimbangan asam-basa.
2) K+, yang menjaga konsentrasi K+ plasma pada tingkat yang sesuai untuk
mempertahankaneksitabilitas normal membrane sel otot dan saraf
3) Anion dan kation organic, yang melaksanakan eliminasi senyawa-senyawa
organic asing dari tubuh.
Sekresi juga terkadang dapat disebut sebagai proses augmentasi, yaitu proses
penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin
yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi

12

lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin. Zat sisa
metabolisme adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini
sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H20, NHS, zat
warnaempedu, dan asam urat.
Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan
yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya
bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat
dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat
digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut.
Amonia(NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun
bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian, jika untuk
sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang
beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah
merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan
dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin. Asam urat
merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan
mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air
rendah.
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Urine
4
1. Hormon
a) ADH
Hormon ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat
mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh. Hormon ini dibentuk oleh hipotalamus
yang ada di hipofisis posterior yang mensekresi ADH dengan meningkatkan
osmolaritas dan menurunkan cairan ekstrasel ( Frandson,2003 )
b) Aldosteron
Hormon ini berfungsi pada absorbsi natrium yang disekresi oleh kelenjar adrenal
ditubulus ginjal. Proses pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan
konsentrasi kalium, natrium, dan sistem angiotensin rennin ( Frandson, 2003)
c) Prostaglandin
Prostagladin merupakan asam lemak yang ada pada jaringan yang berlungsi
merespons radang, pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus, dan pengaturan

13

pergerakan gastro intestinal. Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur
sirkulasi ginjal (Frandson, 2003)


d) Gukokortikoid
Hormon ini berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang
menyebabkan volume darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium
(Frandson,2003)

2. Renin
Selain itu ginjal menghasilkan Renin; yang dihasilkan oleh sel-sel apparatus
jukstaglomerularis pada :
 Konstriksi arteria renalis ( iskhemia ginjal )
 Terdapat perdarahan ( iskhemia ginjal )
 Uncapsulated ren (ginjal dibungkus dengan karet atau sutra )
 Innervasi ginjal dihilangkan

3. Transplantasi ginjal ( iskhemia ginjal )
Sel aparatus juxtaglomerularis merupakan regangan yang apabila regangannya turun
akan mengeluarkan renin. Renin mengakibatkan hipertensi ginjal, sebab renin
mengakibatkan aktifnya angiotensinogen menjadi angiotensin I, yg oleh enzim lain
diubah menjadiangiotensin II; dan ini efeknya menaikkan tekanan darah.

4. Zat - zat diuretik
Banyak terdapat pada kopi, teh, alkohol. Akibatnya jika banyak mengkonsumsi zat
diuretik ini maka akan menghambat proses reabsorpsi, sehingga volume urin
bertambah.

5. Suhu internal atau eksternal
Jika suhu naik di atas normal, maka kecepatan respirasi meningkat dan mengurangi
volume urin.

6. Konsentrasi Darah

14

Jika kita tidak minum air seharian, maka konsentrasi air dalam darah rendah.
Reabsorpsi air di ginjal mengingkat, volume urin menurun.

7. Emosi
Emosi tertentu dapat merangsang peningkatan dan penurunan volume urin.

Pengeluaran Urine / Miksi

Pengeluaran urine dari luar tubuh atau biasa disebut miksi dimulai setelah urine
selesai dibentuk oleh ginjal, urin lalu disalurkan melalui ureter ke kandung kemih (vesica
urinaria). Kontraksi peristaltic otot polos di dalam urethra mendorong urine bergerak maju
dari ginjal ke kandung kemih. Ureter menembus dinding kandung secara oblik, Susunan
anatomis seperti ini mencegah aliran balik urine dari kandung kemih ke ginjal apabila terjadi
peningkatan tekanan di dinding kandung kemih.
Dinding kandung kemih terdiri dari otot polos yang dilapisi sel epitel khusus. Otot
polos kandung kemih dapat sangat meregang tanpa menyebabkan peningkatan ketegangan
dinding kandung kemih. Otot polos kandung kemih mendapat banyak persarafan serat
parasimpatis, yang apabila dirangsang akan menyebabkan kontraksi kandung kemih. Apabila
saluran keluar melalui urethra terbuka, kontraksi kandung kemih menyebabkan pengosongan
urine dari kandung kemih. Walaupun demikian, pintu keluar kandung kemih dijaga oleh dua
sfingter. Sfingter urethra interna dan sfingter urethra eksterna. Sfingter urethra interna terdiri
atas otot polos dan dibawah control involunter. Dan sfingter urethra eksterna terdiri atas otot
lurik dan diabawah control volunter, sehingga dapat diatur sesuai keinginan kita.
Kandung kemih dapat menampung 250 sampai 400 ml urine sebelum reseptor regang
didindingnya memulai reflex berkemih. Refleks ini menyebabkan pengosongan kandung
kemih secara involunter dengan secara bersamaan menyebabkan kontraksi kandung kemih
yang disertai pembukaan sfingter urethra interna dan eksterna. Berkemih dapat untuk
beberapa saat dan dengan sengaja dicegah sampai waktu yang lebih tepat dengan
pengencangan secara sengaja sfingter urethra eksterna dan diafragma pelvis sekitarnya.
Berikut ini merupkan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah urine yang dikeluarkan dalam
sehari;
1. Usia
Pengeluaran urin usia balita lebih sering karena balita belum bisa mengendalikan
rangsangan untuk miksi dan balita makanan balita lebih banyak berjenis cairan

15

sehingga urin yang dihasilkan lebih banyak sedangkan pengeluaran urin pada lansia
lebih sedikit karena setelah usia 40 tahun, jumlah nefron yang berfungsi biasanya
menurun kira-kira10% tiap tahun.
2. Jenis dan jumlah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh
3. Life Style dan aktivitas
Seorang yang suka berolahraga, urin yang terbentuk akan lebih sedikit dan lebih pekat
karena cairan lebih banyak digunakan untuk membentuk energy sehingga cairan yang
dikeluarkan lebih banyak dalam bentuk keringat.
4. Status kesehatan
Orang yang dalam keadaan sehat produksi urinnya akan berbeda dengan orang sakit.
Orang yang sakit mengeluarkan urin bisa lebih banyak ataupun sedikit bergantung
pada penyakit yang dideritanya.
5. Psikologis
Orang yang cemas metabolismenya lebih cepat sehingga urin lebih cepat dikeluarkan.
6. Cuaca
Bila cuaca panas cairan tubuh lebih banyak dikeluarkan dalam bentuk keringat
sedangkan cuaca dingin cairan tubuh akan dikeluarkan dalam bentuk urin.
7. Jumlah air yang diminum
Akibat banyaknya air yang diminum, akan menurunkan konsentrasi protein yang
dapat menyebabkan tekanan koloid protein menurun sehingga tekanan filtrasi kurang
efektif. Hasilnya, urin yang diproduksi banyak.
8. Saraf
Rangsangan pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus aferen sehingga
aliran darah ke glomerulus berkurang. Akibatnya, filtrasi kurang efektif karena
tekanan darah menurun.
9. Banyak sedikitnya hormone insulin
Apabila hormon insulin kurang (penderita diabetes melitus), kadar gula dalam darah
akan dikeluarkan lewat tubulus distal. Kelebihan kadar gula dalam tubulus distal
mengganggu proses penyerapan air, sehingga orang akan sering mengeluarkan urin.

Keseimbangan Asam-Basa5
Mekanisme langkah-langkah ini telah sangat berkembang memerlukan energi dan
transport aktif, berbeda dengan ekskresi karbondioksida di paru yang terjadi hanya dengan

16

difusi pasif sederhana. Kedua proses, reabsorbsi bikarbonat terfiltrai di tubulus proksimalis
dan ekskresi asam di tubulus distalis dicapai dengan sekresi ion hidrogen dari sel-sel tubulus
ke lumen tubulus. Untuk etiap ion bikarbonat berpindah dari sel ke kapiler peritubuler dan ke
sirkulasi. Peningkatan sekresi ion hidrogen meningkatkan perpindahan bikarbonat ke plasma,
sehingga meningkatkan kadar bikarbonat plasma. Penurunan sekresi ion hidrogen tubulus
menurunkan jumlah bikarbonat yang masuk ke dalam plasma.
Reabsorbsi di tubulus proksimalis tergantung pada sekresi ion hidrogen dari sel ke
lumen tubulus, menggantikan natrium protein transpor membran antiporter. Di sel-sel tubulus
proksimalis ion hidrogen dan bikarbonat diproduksi dari penghancuran(dissolusi) asam
karbonat yang dikataisa oleh karbonik anhidrase. Bersamaan dengan sekresi ion hidrogen ke
lumen tubulus, bikarbonat keluar dari sel melalui membran baso-lateral kedalam kapiler
peritubular. Dalam lumen tubulus, ion hidrogen yang disekresi berikatan dengan bikarbonat
terifltrasi unntuk membentuk asam karbonat. Asam karbonat yang baru erbentuk sgera diubah
menjadi CO2 dan H2o oleh enzim karbonik anhidrase yang ada dalam membran sel tubulus
proksimalis dan terpapar pada isi lumen. Produk konversi asam karbonat, CO2 dan H2O,
segera berdifusi ke dalam ssel,dan menjadi substart untuk pembentuk kembali asam karbonat
dalam sel, diperantarai oleh karbonik anhidrase intraseluler. Mekanisme ini untuk
memastikan tidak adanya bikarbonat yang lewat segmen nefron sebelah distal dan jumlah
bikarbonat sama dengan jumlah yang terfiltrasi dapat dikembalikan ke kapiler peritubuler.

Kesimpulan
Ginjal adalah organ yang memegang peran vital pada mekanisme sistem urinaria.
Sistem ini menjadi satu kesatuan untuk mengatur suhu serta ekskresi cairan tubuh. Sehingga
jika terjadi gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh bisa menimbulkan gangguan eksresi
cairan-cairan tubuh.






17

Daftar Pustaka
1. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Penerbit PT Gramedia. Jakarta.
Hal 245.
2. Sloane Ethel. Anatomi dan fisiologis untuk pemula. Penerbit buku kedokteran EGC.
Jakarta: 2004.
3. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari Sel ke Sistem / Lauralee Sherwood; alih bahasa,
Brahm U. Pendit; editor, Beatricia I. Santoso. Ed 2. Jakarta: EGC; 2001.
4. Fungsi ginjal dan proses pembentukan urine. Edisi 2007. Diunduh
darihttp//eni.web.ugm.ac.id, 2 Oktober 2009.
5. Arvin BK. Ilmu Kesehatan Anak vol.1. Ed 15. Penerbit Buku Kedokteran
EGC.Jakarta; 2008.s