Hak Asasi Manusia beserta Kasus-Kasus Pelanggaran

HAM


Hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya
yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan
setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Oleh karena
itu, hak asasi tidak dapat dicabut oleh orang lain atau lembaga kekuasaan tertentu.
Ciri-ciri hak asasi manusia adalah :
a. Hak asasi manusia tidak perlu diberikan, dibeli, atau diwarisi. Hak asasi manusia adalah
bagian dari manusia secara ototmatis .
b. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama,
etnis, pandangan politik, atau asal usul sosial dan bangsa.
c. Hak asasi manusia tidak dapat dilanggar. Tidak ada yang bisa membatasi atau melanggar hak
orang lain. Seseorang tetap mempunya hak asasi manusia walaupun negara membuat hukum
yang tidak melindungi atau melanggar hak asasi manusia tersebut.
Macam macam hak asasi manusia. Banyak pandangan yang menyebutkan macam macam hak
asasi manusia, antara lain sebagai berikut.
a. Thomas hobbes
Menurut thomas hobbes, satu satunya hak asasi adalah hak hidup
b. John locke
Menurut john locke, hak asasi meliputi hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak milik.
c. Universal decralation of human rights
Universal decralation of human rights terdiri atas 30 pasal yang dikelompokkan menjadi 3
bagian, yaitu:
1. Hak politik dan yuridis
2. Hak hak atas martabat dan integritas manusia
3. Hak- hak sosial, ekonomi, dan budaya
Pada dasarnya hak asasi manusia terdiri atas dua hak dasar yang paling fundamental, yaitu
hak persamaan dan kebebasan. Dari kedua hak tersebut lahir hak-hak asasi lainnya seperti
hak untuk hidup. Hak berkeluarga, atau melanjutkan keturunan, hak mengembangkan diri,
hak memperoleh keadilan, hak atas kebebasan pribadi, hak atas rasa aman, hak atas
kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintah, hak wanita dan hak anak-anak. Tanpa kedua
hak dasar (hak persamaan dan perbedaan), hak-hak asasi manusia yang lain (seperti tersebut
di atas) akan sulit sekali di tegakkan.
Dari bermacam-macam hak asasi yang melekat pada manusia, secara universal dapat
diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Hak asasi pribadi (personal rights), antara lain meliputi:
1. Hak kebebasan berpendapat
2. Hak kebebasan beragama, serta
3. Hak kebebasan bergerak
b. Hak asasi ekonomi (property rights), antara lain meliputi:
1. Hak memiliki
2. Hak manfaat
3. Hak membeli
4. Hak menjual
c. Hak asasi sosial dan kebudayaan (social and culture rights) antara lain meliputi:
1. Hak mendapatkan pelayanan kesehatan
2. Hak mendapatkan pendidikan
3. Hak mendapatkan perlindungan
d. Hak asasi keadilan (procedural rights) antara lain meliputi :
1. Hak mendapatkan keadilan
2. Hak mendapatkan perlindungan
3. Hak mendapatkan peradilan
e. Hak asasi politik (political rights) antara lain meliputi:
1. Hak untuk memilih
2. Hak untuk dipilih
3. Hak untuk berorganisasi atau berserikat dan berkumpul

Sebagai negara demokrasi, pemerintah indonesia berupaya mewujudkan kehidupan rakyatnya
yang adil dan sejahtera. Sejak negara indonesia berdiri berdiri, telah berkomitmen memberi
perlindungan dalam penegakan hak asasi manusia. Hal ini sebagaimana tertulis dalam sila
sila pancasila. Demikian halnya dalam konstitusi negara indonesia danberbagai peraturan
perundang undangan lainnya yang ada sekarang ini, telah mengakui dan melindungi hak hak
dasar manusia.




Berikut ini berbagai instrumen HAM di indonesia.
a. UUD Tahun 1945 (termasuk Amandemen I s.d IV).
b. Ketetapan (TAP) MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang HAM.
c. Piagam HAM Indonesia Tahun 1998.
d. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM .
e. UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
f. UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga

1. Kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia dalam rangka perlindungan dan
kemajuan sesuai dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah
sebagai berikut :
Kasus-Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia pada Era Orde Baru dan Reformasi
NO. Tahun Kasus Pelanggaran HAM
1. 1966 a. Penahanan dan pembunuhan tanpa pengadilan terhadap PKI terus
berlangsung, banyak yang tidak terurus secara layak di penjara, termasuk
mengalami siksaan dan intimidasi di penjara.
b. Dr. Soumokil, mantan pemimpin Republik Maluku Selatan, dieksekusi
pada bulan Desember.
c. Sekolah-sekolah Cina di Indonesia ditutup pada bulan Desember.
2. 1967 a. Koran-koran berbahasa Cina ditutup oleh pemerintah.
b. April, gereja-gereja di Aceh diserang, berbarengan dengan demonstrasi
anti Cina di Jakarta.
c. Kerusuhan anti Kristen di Ujung Pandang.

3. 1969 a. Tempat Pemanfaatan Pulau Buru dibuka, ribuan tahanan yang tidak
diadili dikirim kesana.
b. Operasi Trisula dilancarkan di Blitar Selatan.
c. Tidak menyeluruhnya proses referendum yang diadakan di Irian Barat
sehingga hasil akhir jajak pendapat yang menyatakan ingin bergabung
dengan Indonesia belum mewakili suara seluruh eakyat Papua.
d. Dikembangkannya peraturan-peraturan yang membatasi dan mengawasi
aktivitas politik, partai politik dan organisasi kemasyarakatan. Di sisi lain,
Golkar disebut-sebut bukan termasuk partai politik.
4. 1970 a. Pelarangan demo mahasiswa.
b. Peraturan bahwa Korpri harus loyal kepada Golkar.
c. Soekarno meninggal dalam “tahanan” Orde Baru.
d. Larangan penyebaran jara Bung Karno.
5. 1971 a. Usaha peleburan partai-partai.
b. Intimidasi calon pemilih pada pemilu tahun 1971 serta kam[panye berat
sebelah dari Golkar.
c. Pembangunan Taman Mini yang disertai penggusuran tanah tanpa ganti
rugi yang layak.
d. Pemerkosaan Sum Kuning, penjual jamu di Yogyakarta, oleh pemuda-
pemuda yang diduga masih ada hubungan darah dengan Sri Paku Alam,
yang kemudia diadili adalah Sum Kuning sendiri. Akhirnya Sum Kuning
dibebaskan.
6. 1972 Kasus sengketa tanah di Gunung Balak dan Lampung.
7. 1973 Kerusuhan anti Cina meletus di Bandung.
8. 1974 a. Penahanan sejumlah mahasiswa dan masyarakat akibat demo anti Jepang
yang meluas di Jakarta disertai oleh pembakaran-pembakaran pada
peristiwa Malari. Sebelas pendemo terbunuh.
b. Pemberedelan beberapa koran dan majalah, antara lain “Indonesia Raya”
pimpinan Muchtar Lubis.
9. 1975 a. Invansi tentara Indonesia ke Timor Timur.
b. Kasus Balibo, terbunuhnya lima wartawan asing secara misterius.
10. 1977 a. Tuduhan subversi terhadap Suwito.
b. Kasus tanah Siria-ria.
c. Kasus Wasdri, seorang pengangkat barang di pasar, membawakan barang
milik seorang hakim perempuan. Namun, ia ditahan polisi karena
meminta tambahan atas bayaran yang kurang dari si hakim
d. Kasus subversi komando Jihad.
11. 1978 a. Pelarangan penggunaan karakter-karakter huruf Cina di setiap
barang/media cetak di Indonesia.
b. Pembungkaman gerakan mahasiswa yang menurut koreksi atas
berjalannya pemerintahan, beberapa mahasiswa ditahan, antara lain Heri
Ahmadi.
c. Pemberedelan tujuh surat kabar, antara lain Kompas,yang memberitakan
peristiwa di atas.
12. 1980 a. Kerusuhan anti Cina di Solo selama tiga hari. Kekerasan menyebar ke
Semarang, Pekalongan, dan Kudus.
b. Penekanan terhadap para penanda tangan Petisi 50. Bisnis dan kehidupan
mereka dipersulit, dilarang ke luar negeri.
13. 1981 Kasus Woyla, pembajakan pesawat Garuda Indonesia oleh muslim radikal
di Bangkok. Tujuh orang terbunuh dalam peristiwa ini.
14. 1982 a. Kasus Tanah Rawa Bilal.
b. Kasus Tanah Borobudur. Pengembangan objek wisata Borobudur di Jawa
Tengah memerlukan pembebasan tanah di sekitarnya. Namun, Penduduk
tidak mendapat ganti rugi yang memadai.
c. Majalah Tempodiberedel selama dua bulan karena memberitakan insiden
terbunuhnya tujuh orang pada peristiwa kampanye pemilu di Jakarta.
Kampanye massa Golkar diserang oleh massa PPP, militer turun tangan
sehingga jatuh korban jiwa tadi.
15. 1983 a. Orang-orang sipil bertato yang diduga penjahat kambuhan ditemukan
tertembak secara misterius di muka umum.
b. Pelanggaran gencatan senjata di Timor Timur oleh ABRI.
16. 1984 a. Berlanjutnya pembunuhan misterius di Indonesia.
b. Peristiwa pembantaian di Tanjung Priok.
c. Tuduhan subversi terhadap Dharsono.
d. Pengeboman beberapa gereja di Jawa Timur.
17. 1985 Pengadilan terhadap aktivis-aktivis Islam terjadi di berbagai tempat di
Pulau Jawa.
18. 1986 a. Pembunuhan terhadap peragawati Dietje di Kalibata. Pembunuhan
diduga dilakukan oleh mereka yang memiliki akses senjata api dan berbau
konspirasi kalangan elite.
b. Pengusiran, perampasan, dan pemusnahan becak dari Jakarta.
c. Kasus subversi terhadap Sanusi.
d. Eksekusi beberapa tahanan G 30 S/PKI.
19. 1989 a. Kasus tanah Kedung Ombo.
b. Kasus tanah Cimacan, pembuatan lapangan golf.
c. Kasus tanah Kemayoran.
d. Kasus tanah Lampung, 100 orang tewas oleh ABRI. Peristiwa ini dikenal
dengan peristiwa Talang Sari.
e. Bentrokan antara aktivis Islam dan aparat di Bima.
f. Badan Sensor Nasional dibentik terhadap publikasi dan penerbitan buku.
Anggotanya terdiri beberapa dari unsur intelijen oleh ABRI.
20. 1991 Pembantaian di pemakaman Santa Cruz, Dili terjadi oleh ABRI terhadap
peemuda-pemuda Timor yang mengikuti prosesi pemakaman rekannya.
Dua ratus orang meninggal.
21. 1992 a. Keluar keppres tentang monopoli perdagangan cengkih oleh perusahaan
Tommy Soeharto.
b. Penangkapan Xanana Gusmao.
22. 1993 Pembunuhan terhadap seorang aktivisburuh perempuan, Marsinah pada
tanggal 8 Mei 1993.
23. 1994 Tempo, Editor, dan Detik diberedel, diduga sehubungan dengan
pemberitaan tentang pembelian kapal perang bekas oleh Habibie.
24. 1995 a. Kasus Tanah Koja.
b. Kerusuhan di Flores.
25. 1996 a. Kasus pembunuhan wartawan koran Bernas Yogyakarta, Faud
Muhammad Syafruddin (Udin) pada tanggal 16 Agustus 1996.
b. Kasus tanah Balongan.
c. Sengketa antara penduduk setempat dengan pabrik kertas Muara Enim
mengenai pencemaran lingkungan.
d. Sengketa tanah Manis Mata.
e. Kasus waduk Nipah di Madura, korban jatuh karena ditembak aparat
ketika mereka memprotes penggusuran tanah mereka.
f. Kasus penahanan dengan tuduhan subversi terhadap Sri Bintang
Pamungkas berkaitan dengan demo di Dresden terhadap Pak Harto
yangberkunjung di sana.
g. Kerusuhan Situbondo, puluhan gereja dibakar.
h. Penyerangan dan pemmbunuhan terhadap pendukung PDI pro-Megawati
pada tanggal 27 Juli 1996.
i. Kerusuhan anti Kristen di Tasikmalaya. Peristiwa ini dikenal dengan
Kerusuhan Tasikmalaya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 26 Desember
1996.
j. Kerusuhan Sambas Sangualedo. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30
Desember 1996.
26. 1997 a. Kasus tanah Kemayoran.
b. Kasus pembantaian mereka yang diduga pelaku dukun santet di Jawa
Timur.
27 1998 a. Kerusuhan Mei di beberapa kota meletus, aparat keamanan bersikap pasif
dan membiarkan. Ribuan jiwa meninggal, puluhan perempuan diperkosa
dan harta benda hilang. Tanggal 13-15 Mei 1998.
b. Pembunuhan terhadap beberapa mahasiswa Trisakti di Jakarta, dua hari
sebelum kerusuhan Mei.
c. Pembunuhan terhadap beberapa mahasiswa dalam demonstrasi
menentang Sdang Istimewa 1998. Peristiwa ini terjadi pada 13-14
November 1998 dan dikenal sebagai tragedi Semanggi I.
28. 1999 a. Pembantaian terhadap Tengku Bantaqiyah dan muridnya di Aceh.
Peristiwa ini terjadi 24 Juli 1999.
b. Pembumihangusan kota Dili, Timor Timur oleh militer Indonesia dan
milisi prointegrasi. Peristiwa ini terjadi pada 24 Agustus 1999.
c. Pembunuhan terhadap seorang mahasiswa dan beberapa warga sipil
dalam demonstrasi penolakan Rancangan Undang-Undang
Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB). Peristiwa ini terjadi pada
23-24November 1999 dan dikenal sebagai peristiwa Semanggi II.
d. Penyerangan terhadap Rumah Sakit Jakarta oleh pihak keamanan.
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 Oktober 1999.
29. 2000 a. Kerusuhan di Poso.
b. Ledakan bom di Kedubes Filipina dan Malaysia di Jakarta yang
menyebabkan meninggalnya beberapa orang dan luka-luka termasuk
Kedubes Filipina, Leonides T. Caday.
30. 2001 a. Kekerasan antara etnis Dayak dan Madura di Kalimantan.
b. Ledakan bom di kawasan Plaza Atrium yang menyebabkan enam orang
cedera.
31. 2002 Ledakan bom di sebuah klub malam di daerah Pantai Kuta, Bali yang
menyebabkan 202 orang meninggal dunia dan 300 orang lebih luka-luka.
Selain itu, ledakan bom juga terjadi di Pantai Sanur dan Manado,
Sulawesi Utara, serta di Mc. Donald‟ Makassar yang menyebabkan tiga
orang tewas dan sebelas luka-luka.
32. 2003 a. Pembicaraan damai antara pemerintah Indonesia dan GAM gagal.
Akibatnya, militer Indoonesia melakukan serangan ofensif ke kubu
gerilya GAM. Darurat militer dilakukan di Provinsi Aceh (2003-2004).
b. Terjadi ledakan bom di depan Hotel Mariott Jakarta, yang menyebabkan
belasan orang meninggal dan 152 orang lainnya luka-luka.
c. Kasus Bulukumba yang menyebabkan dua orang meninggal serta
puluhan orang ditahan dan luka-luka. Kasus ini berkaitan dengan
keinginan PT. London Sumatra untuk melakukan perluasan area
perkebunan mereka, tetapi masyarakat menolak upaya tersebut.
33. 2004 a. Ledakan bom kembali terjadi di Kedubes Australia di Jakarta yang
menyebabkan 5-11 orang meninggal dan ratusan orang lainnya luka-luka.
b. Pembunuhan aktivis HAM yang bernama Munir pda tanggal 7 September
2004 di pesawat Garuda dalam perjalanannya menuju Amsterdam.
34. 2005 a. Tiga siswa SMU di Poso yang sedang berjalan ke sekolah dipenggal
kepalanya oleh sekelompok orang tidak dikenal. Kekerasan ini merupakan
bagian dari konflik beragama yang melanda Poso.
b. Ledakan bom kembali terjadi di Kota Palu yang menyebabkan delapan
orang meninggal dan melukai 45 orang lainnya.
35. 2006 a. Insiden perbatasan Timor Timur. Tiga penduduk Nusa Tenggara Timur
meninggal ditembak oleh polisi perbatasan Timor Timur.
b. Aparat keamanan menembak mati seorang pelajar di Papua dan
mencederai dua orang lainnya. Peristiwa ini diduga terkait dengan
pengungsian 43 warga Papua ke Australia dua hari sebelumnya.
c. Bentrokan dan penembakan saat aparat TNI, polisi, dan satpam PT.
Freeport Indonesia mengusir warga setempat yang melakukan
pendulangan emas di Sungai Kabur Wanamon.
d. Tiga petugas polisi dan seorang intel TNI meninggal, serta puluhan orang
terluka akibat bentrokan terkait demonstrasi penolakan PT. Freeport
Indonesia di depan Universitas Cenderawasih, Jayapura.
36. 2007 Insiden Alas Tlogo di Psuruan, Jwa Timur, akibat sengketa tanahantara
militer dan petani.
37. 2008 Insiden Monas memicu aksi protes terhadap kekerasan secara nasional.
38. 2009 a. Peledakan bom di Hotel Mariott Jakarta yang menyebabkan sedikitnya 9
orang meninggal dan beberapa orang lainnya luka-luka.
b. Prita Mulyasari konsumen Rumah Sakit Omni Internasional yang dituduh
mencemarkan nama baik melalui media elektronik oleh pihak rumah
sakit.
39. 2010 a. Penyerangan kantaor HMI di Makassar.
b. Bentrokan terjadi di makam Mbah Priok di kawasan Tanjung Priok,
Jakarta. Bentrokan tersebut berujung pada meninggalnya tiga anggota
Satpol PP dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.
c. Kematian Syaifullah, kepala biro Kompas wilayah Kalimantan yang
diduga berhubungan dengan pelanggaran hak asasi karena profesinya di
media massa. Demikian juga dengan kasus kematian Arsep Pajarino,
wartawan senior Sriwijaya Post di Palembang, kemungkinan berkaitan
dengan tugasnya sebagai wartawan.

1. Kasus Tanjung Priok (1984)
Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang berawal dari
masalah SARA dan unsur politis. Dalam peristiwa ini diduga terjadi pelanggaran HAM
dimana terdapat rarusan korban meninggal dunia akibat kekerasan dan penembakan.

2. Kasus terbunuhnya Marsinah, seorang pekerja wanita PT Catur Putera Surya Porong,
Jatim (1994)
Marsinah adalah salah satu korban pekerja dan aktivitas yang hak-hak pekerja di PT Catur
Putera Surya, Porong Jawa Timur. Dia meninggal secara mengenaskan dan diduga menjadi
korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penganiayaan dan pembunuhan.

3. Kasus terbunuhnya wartawan Udin dari harian umum bernas (1996)
Wartawan Udin (Fuad Muhammad Syafruddin) adalah seorang wartawan dari harian
Bernas yang diduga diculik, dianiaya oleh orang tak dikenal dan akhirnya ditemukan sudah
tewas.

4. Peristiwa Aceh (1990)
Peristiwa yang terjadi di Aceh sejak tahun 1990 telah banyak memakan korban, baik dari
pihak aparat maupun penduduk sipil yang tidak berdosa. Peristiwa Aceh diduga dipicu oleh
unsur politik dimana terdapat pihak-pihak tertentu yang menginginkan Aceh merdeka.

5. Peristiwa penculikan para aktivis politik (1998)
Telah terjadi peristiwa penghilangan orang secara paksa (penculikan) terhadap para aktivis
yang menurut catatan Kontras ada 23 orang (1 orang meninggal, 9 orang dilepaskan, dan 13
orang lainnya masih hilang).

6. Peristiwa Trisakti dan Semanggi (1998)
Tragedi Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998 (4 mahasiswa meninggal dan puluhan lainnya
luka-luka). Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998 (17 orang warga sipil
meninggal) dan tragedi Semanggi II pada 24 September 1999 (1 orang mahasiswa meninggal
dan 217 orang luka-luka).

7. Peristiwa kekerasan di Timor Timur pasca jejak pendapat (1999)
Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia menjelang dan pasca jejak pendapat 1999 di timor
timur secara resmi ditutup setelah penyerahan laporan komisi Kebenaran dan Persahabatan
(KKP) Indonesia - Timor Leste kepada dua kepala negara terkait.

8. Kasus Ambon (1999)
Peristiwa yang terjadi di Ambon ni berawal dari masalah sepele yang merambat kemasala
SARA, sehingga dinamakan perang saudara dimana telah terjadi penganiayaan dan
pembunuhan yang memakan banyak korban.

9. Kasus Poso (1998 – 2000)
Telah terjadi bentrokan di Poso yang memakan banyak korban yang diakhiri dengan
bentuknya Forum Komunikasi Umat Beragama (FKAUB) di kabupaten Dati II Poso.



10. Kasus Dayak dan Madura (2000)
Terjadi bentrokan antara suku dayak dan madura (pertikaian etnis) yang juga memakan
banyak korban dari kedua belah pihak.

11. Kasus TKI di Malaysia (2002)
Terjadi peristiwa penganiayaan terhadap Tenaga Kerja Wanita Indonesia dari persoalan
penganiayaan oleh majikan sampai gaji yang tidak dibayar.

12. Bom Bali I ( 12 Oktober 2002 )
Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di kota kecamatan Kuta di pulau
Bali, Indonesia, mengorbankan 202 orang dan mencederakan 209 yang lain, kebanyakan
merupakan wisatawan asing. Peristiwa ini sering dianggap sebagai peristiwa terorisme
terparah dalam sejarah Indonesia. Beberapa orang Indonesia telah dijatuhi hukuman mati
karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut. Abu Bakar Baashir, yang diduga sebagai
salah satu yang terlibat dalam memimpin pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah pada
Maret 2005 atas konspirasi serangan bom ini, dan hanya divonis atas pelanggaran
keimigrasian.

13. Bom Bali II ( 1 Oktober 2005 )
Pengeboman Bali 2005 adalah sebuah seri pengeboman yang terjadi di Bali pada 1 Oktober
2005. Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang
tewas dan 196 lainnya luka-luka. Pada acara konferensi pers, presiden Susilo Bambang
Yudhoyono mengemukakan telah mendapat peringatan mulai bulan Juli 2005 akan adanya
serangan terorisme di Indonesia. Namun aparat mungkin menjadi lalai karena pengawasan
adanya kenaikan harga BBM, sehingga menjadi peka.

14. Tragedi Semanggi
Tragedi Semanggi menunjuk kepada dua kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan
dan agenda Sidang Istimewa yang mengakibatkan tewasnya warga sipil. Kejadian pertama
dikenal dengan Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998, masa pemerintah
transisi Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil. Kejadian kedua dikenal
dengan Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999 yang menyebabkan tewasnya
seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh jakarta serta menyebabkan 217
korban luka - luka.


15. Kasus Marsinah
Marsinah (10 April 1969?–Mei 1993) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur
Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan
terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan
di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.
16. Kasus Munir ( Pejuang HAM )
Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta
jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab
yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif
Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.

17. Kasus Babeh Baekuni
Nama Bakeuni alias Babe, mendadak terkenal. Setelah ditangkap polisi, lelaki berusia 50
tahun itu diduga menjadi pelaku pembunuhan dan mutilasi anak-anak jalanan di Jakarta. Ada
yang dibuang di Jakarta, sebagian “dikubur” di sawah milik keluarganya di tepi Kali Gluthak
Desa Mranggen, Magelang, Jawa Tengah.

18. Pelanggaran HAM oleh TNI
Umumnya terjadi pada masa pemerintahan PresidenSuharto, dimana (dikemudian hari
berubah menjadi TNI dan Polri) menjadi alat untuk menopang kekuasaan. Pelanggaran HAM
oleh TNI mencapai puncaknya pada akhir masa pemerintahan Orde Baru, dimana perlawanan
rakyat semakin keras.

19. Kasus Pelanggaran yang terjadi di Maluku
Konflik dan kekerasan yang terjadi di Kepulauan Maluku sekarang telah berusia 2 tahun 5
bulan; untuk Maluku Utara 80% relatif aman, Maluku Tenggara 100% aman
dan relatif stabil, sementara di kawasan Maluku Tengah (Pulau Ambon, Saparua, Haruku,
Seram dan Buru) sampai saat ini masih belum aman dan khusus untuk Kota Ambon sangat
sulit diprediksikan, beberapa waktu yang lalu sempat tenang tetapi sekitar 1 bulan yang lalu
sampai sekarang telah terjadi aksi kekerasan lagi dengan modus yang baru ala ninja/penyusup
yang melakukan operasinya di daerah – daerah perbatasan kawasan Islam dan Kristen (ada
indikasi tentara dan masyarakat biasa). Penyusup masuk ke wilayah perbatasan dan
melakukan pembunuhan serta pembakaran rumah. Saat ini masyarakat telah membuat sistem
pengamanan swadaya untuk wilayah pemukimannya dengan membuat barikade-barikade dan
membuat aturan orang dapat masuk/keluar dibatasi sampai jam 20.00, suasana kota sampai
saat ini masih tegang, juga masih terdengar suara tembakan atau bom di sekitar kota. Akibat
konflik/kekerasan ini tercatat 8000 orang tewas, sekitar 4000 orang luka – luka, ribuan
rumah, perkantoran dan pasar dibakar, ratusan sekolah hancur serta terdapat 692.000 jiwa
sebagai korban konflik yang sekarang telah menjadi pengungsi di dalam/luar Maluku.
Masyarakat kini semakin tidak percaya dengan dengan upaya – upaya penyelesaian konflik
yang dilakukan karena ketidak-seriusan dan tidak konsistennya pemerintah dalam upaya
penyelesaian konflik, ada ketakutan di masyarakat akan diberlakukannya Daerah Operasi
Militer di Ambon dan juga ada pemahaman bahwa umat Islam dan Kristen akan saling
menyerang bila Darurat Sipil dicabut. Banyak orang sudah putus asa, bingung dan trauma
terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di Ambon ditambah dengan ketidak-jelasan proses
penyelesaian konflik serta ketegangan yang terjadi saat ini.
Komunikasi sosial masyarakat tidak jalan dengan baik, sehingga perasaan saling curiga antar
kawasan terus ada dan selalu bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang menginginkan
konmflik jalan terus. Perkembangan situasi dan kondisis yang terakhir tidak ada pihak yang
menjelaskan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi sehingga masyrakat mencari
jawaban sendiri dan membuat antisipasi sendiri.
Wilayah pemukiman di Kota Ambon sudah terbagi 2 (Islam dan Kristen), masyarakat dalam
melakukan aktifitasnya selalu dilakukan dilakukan dalam kawasannya hal ini terlihat pada
aktifitas ekonomi seperti pasar sekarang dikenal dengan sebutan pasar kaget yaitu pasar yang
muncul mendadak di suatu daerah yang dulunya bukan pasar hal ini sangat dipengaruhi oleh
kebutuhan riil masyarakat; transportasi menggunakan jalur laut tetapi sekarang sering terjadi
penembakan yang mengakibatkan korban luka dan tewas; serta jalur – jalur distribusi barang
ini biasa dilakukan diperbatasan antara supir Islam danKristen tetapi sejak 1 bulan lalu
sekarang tidak lagi juga sekarang sudah ada penguasa – penguasa ekonomi baru pasca
konflik.
Pendidikan sangat sulit didapat oleh anak – anak korban langsung/tidak langsung dari konflik
karena banyak diantara mereka sudah sulit untukmengakses sekolah, masih dalam keadaan
trauma, program PendidikanAlternatif Maluku sangat tidak membantu proses perbaikan
mental anak malah menimbulkan masalah baru di tingkat anak (beban belajar bertambah)
selain itu masyarakat membuat penilaian negatif terhadap aktifitas NGO (PAM dilakukan
oleh NGO).
Masyarakat Maluku sangat sulit mengakses pelayanan kesehatan, dokter dan obat – obatan
tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dan harus diperoleh dengan harga yang mahal;
puskesmas yang ada banyak yang tidak berfungsi.
Belum ada media informasi yang dianggap independent oleh kedua pihak, yang diberitakan
oleh media cetak masih dominan berita untuk kepentingan kawasannya (sesuai lokasi media),
ada media yang selama ini melakukan banyak provokasi tidak pernah ditindak oleh Penguasa
Darurat Sipil Daerah (radio yang selama ini digunakan oleh Laskar Jihad (radio SPMM/Suara
Pembaruan Muslim Maluku).

20. Pelanggaran HAM atas Nama Agama
Kita memiliki banyak sejarah gelap agamawi, entah itu dari kalangan gereja Protestan
maupun gereja Katolik, entah dari aliran lainnya. Bahwa kadang justru dengan simbol
agamawi, kita melupakan kasih, yaitu kasih yang menjadi „atribut‟ Tuhan kita Yesus
Kristus. Hal-hal ini dicatat dalam buku sejarah dan beberapa kali kisah-kisah tentang
kekejaman gereja difilmkan. Salah satu contohnya dalam film The Scarlet Letter, film tentang
hyprocricy Gereja Potestan yang „menghakimi‟ seorang pezinah dan kelompok-kelompok
yang dianggap bidat, adalagi filmThe Magdalene Sisters, juga film A Song for A Raggy Boy,
The Headman, “The Name of the Rose” , dan masih banyak lainnya. Kini, telah hadir film
yang lumayan baru, yang diproduksi oleh Saul Zaentz dan disutradarai oleh Milos Forman,
dua nama ini cukup memberi jaminan bahwa film yang dibuat mereka selalu bagus yaitu film
GOYA‟s GOST.
Mungkin saja film GOYA‟s GOST ini akan membuat „marah‟ sebagian kelompok, namun
apa yang dikemukakan oleh Zaentz dan Forman, sebagaimana kekejaman “Inkuisisi” telah
tercatat dalam sejarah hitam Gereja. Kisah-kisah kekejamannya juga terekam dalam lukisan-
lukisan karya Seniman Spanyol Francisco Goya (1746–1828 ), yang menjadi tokoh sentral
dari film GOYA‟s GOST ini.
Kita telah mengenal banyak sekelompok manusia dengan atribut agama, berlindung dalam
lembaga agama, mereka justru melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity)
entah itu Kristen, Islam atau agama apapun. Atas nama „agama yang suci‟ mereka melakukan
„pelecehan yang tidak suci‟ kepada sesamanya manusia. Akhir abad 20 atau awal abad 21,
akhir-akhir ini kita disuguhi sajian-sajian berita akan kebobrokan manusia yang beragama
melanggar hak asasi manusia, misalnya kelompok Al-Qaeda dan sejenisnya menteror dengan
bom, dan olehnya mungkin sebagian dari kita telah prejudice menempatkan orang-orang
Muslim di sekitar kita sama jahatnya dengan kelompok „Al-Qaeda‟. Di sisi lain Amerika
Serikat (AS) sebagai „polisi dunia‟ sering memakai „isu terorisme yang dilakukan Al-Qaeda‟
untuk melancarkan macam-macam agendanya. Invasi AS ke Iraq, penyerangan ke Afganistan
dan negara-negara lain yang disinyalir „ada terorisnya‟. Namun kehadiran pasukan AS dan
sekutunya di Iraq tidak berdampak baik, mungkin pada awalnya terlihat AS dengan sejatanya
yang super-canggih menguasai Iraq dalam sekejap, namun pasukan mereka babak-belur
dalam „perang-kota‟, ini mengingatkan kembali sejarah buruk, dimana mereka juga kalah
dalam perang gerilya di Vietnam. Kegagalan pasukan AS mendapat kecaman dari dalam
negeri, bahkan sekutunya, Inggris misalnya. Tekanan-tekanan ini membuat PM Inggris Tony
Blair memilih mengakhiri karirnya sebelum waktunya baru-baru ini. Karena ia berada dalam
posisi yang sulit : menuruti tuntutan dalam negeri ataukah menuruti tuan Bush.
Memang kita akui banyak kebrutalan yang dilakukan oleh para teroris kalangan Islam
Fundamentalis, contoh Bom Bali dan sejenisnya di seluruh dunia. Tapi tidak menutup
kemungkinan Presiden Amerika Serikat, George Bush adalah juga seorang „Fundamenalis‟
dalam „Agama‟ yang dianutnya, karena gaya Bush yang sering „secara implisit‟ terbaca
dimana ia menempakan dirinya sebagai penganut Kristiani yang memerangi terorisme dari
para teroris Muslim Fundamentalis. Tentu saja apa-apa yang mengandung “fundamentalis”
entah itu Islam/ Kristen/ agama yang lain, bermakna tidak baik. Sebelumnya, ditengah-tengah
„isu anti terorisme (Islam)‟, sutradara Inggris, Ridley Scott memproduksi film The Kingdom
of Heaven, barangkali bisa juga digunakan untuk menyindir Presiden Bush yang sering
menggunakan kata“crusades” dalam pidatonya. Film The Kingdom of Heaven adalah sebuah
„otokritik‟ bagi Kekristenan, dan sajian „ironisme‟ dari ajaran Kristus yang penuh kasih.
Bahwa perang Salib yang telah terjadi selama 4 abad itu bukanlah suatu kesaksian yang baik,
tetapi lebih merupakan sejarah hitam.
Dibawah ini review dari sebuah film, tentang kejahatan dibawah payung Agama, bukan
berniat melecehkan suatu Agama/ Aliran tertentu, melainkan sebagai perenungan apakah
perlakuan seseorang melawan/menindas orang lain yang tidak „seagama‟ itu tujuannya
membela Allah? membela tradisi? membela doktrin, ataukah membela diri sendiri?
21. Pelanggaran HAM oleh Mantan Gubernur Tim-Tim
Abilio Jose Osorio Soares, mantan Gubernur Timtim, yang diadili oleh Pengadilan Hak Asasi
Manusia (HAM) ad hoc di Jakarta atas dakwaan pelanggaran HAM berat di Timtim dan
dijatuhi vonis 3 tahun penjara. Sebuah keputusan majelis hakim yang bukan saja meragukan
tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar apakah vonis hakim tersebut benar-benar
berdasarkan rasa keadilan atau hanya sebuah pengadilan untuk mengamankan suatu
keputusan politik yang dibuat Pemerintah Indonesia waktu itu dengan mencari kambing
hitam atau tumbal politik. Beberapa hal yang dapat disimak dari keputusan pengadilan
tersebut adalah sebagai berikut ini.
Pertama, vonis hakim terhadap terdakwa Abilio sangat meragukan karena dalam Undang-
Undang (UU) No 26/2000 tentang Pengadilan HAM Pasal 37 (untuk dakwaan primer)
disebutkan bahwa pelaku pelanggaran berat HAM hukuman minimalnya adalah 10 tahun
sedangkan menurut pasal 40 (dakwaan subsider) hukuman minimalnya juga 10 tahun, sama
dengan tuntutan jaksa. Padahal Majelis Hakim yang diketuai Marni Emmy Mustafa
menjatuhkan vonis 3 tahun penjara dengan denda Rp 5.000 kepada terdakwa Abilio Soares.
Bagi orang yang awam dalam bidang hukum, dapat diartikan bahwa hakim ragu-ragu dalam
mengeluarkan keputusannya. Sebab alternatifnya adalah apabila terdakwa terbukti bersalah
melakukan pelanggaran HAM berat hukumannya minimal 10 tahun dan apabila terdakwa
tidak terbukti bersalah ia dibebaskan dari segala tuduhan.
Kedua, publik dapat merasakan suatu perlakuan “diskriminatif” dengan keputusan terhadap
terdakwa Abilio tersebut karena terdakwa lain dalam kasus pelanggaran HAM berat Timtim
dari anggota TNI dan Polri divonis bebas oleh hakim. Komentar atas itu justru datang dari
Jose Ramos Horta, yang mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kemungkinan hanya rakyat
Timor Timur yang akan dihukum di Indonesia yang mendukung berbagai aksi kekerasan
selama jajak pendapat tahun 1999 dan yang mengakibatkan sekitar 1.000 tewas. Horta
mengatakan, “Bagi saya bukan fair atau tidaknya keputusan tersebut. Saya hanya khawatir
rakyat Timor Timur yang akan membayar semua dosa yang dilakukan oleh orang Indonesia”

22. Kontroversi G 30 S PKI
Di antara kasus-kasus pelanggaran berat HAM, perkara seputar peristiwa G30S bagi KKR
bakal menjadi kasus kontroversial. Dilema bisa muncul dengan terlibatnya KKR untuk
memangani kasus pembersihan para aktivis PKI.
Peneliti LIPI Asvi Marwan Adam melihat, kalau pembantaian sebelum 1 Oktober 1965 yang
memakan banyak korban dari pihak Islam, karena pelakunya sama-sama sipil, lebih mudah
rekonsiliasi. ”Anggaplah kasus ini selesai,” jelasnya. Persoalan muncul ketika KKR mencoba
menyesaikan pembantaian yang terjadi pasca G30S.
Asvi menjelaskan, begitu Soeharto pada 1 Oktober 1965 berhasil menguasai keadaan, sore
harinya keluar pengumuman Peperalda Jaya yang melarang semua surat kabar terbit –kecuali
Angkatan Bersenjata (AB) dan Berita Yudha. Dengan begitu, seluruh informasi dikuasai
tentara. Berita yang terbit oleh kedua koran itu kemudian direkayasa untuk
mengkambinghitamkan PKI sebagai dalang G30S yang didukung Gerwani sebagai simbol
kebejatan moral. Informasi itu kemudian diserap oleh koran-koran lain yang baru boleh terbit
6 Oktober 1965.
Percobaan kudeta 1 Oktober, kemudian diikuti pembantaian massal di Indonesia. Banyak
sumber yang memberitakan perihal jumlah korban pembantaian pada 1965/1966 itu tidak
mudah diketahui secara persis. Dari 39 artikel yang dikumpulkan Robert Cribb (1990:12)
jumlah korban berkisar antara 78.000 sampai dua juta jiwa, atau rata-rata 432.590
orang. Cribb mengatakan, pembantaian itu dilakukan dengan cara sederhana. ”Mereka
menggunakan alat pisau atau golok,” urai Cribb. Tidak ada kamar gas seperti Nazi. Orang
yang dieksekusi juga tidak dibawa ke tempat jauh sebelum dibantai. Biasanya mereka
terbunuh di dekat rumahnya. Ciri lain, menurutnya, ”Kejadian itu biasanya malam.” Proses
pembunuhan berlangsung cepat, hanya beberapa bulan. Nazi memerlukan waktu bertahun-
tahun dan Khmer Merah melakukannya dalam tempo empat tahun. Cribb menambahkan, ada
empat faktor yang menyulut pembantaian masal itu. Pertama, budaya amuk massa, sebagai
unsur penopang kekerasan. Kedua, konflik antara golongan komunis dengan para pemuka
agama islam yang sudah berlangsung sejak 1960-an. Ketiga, militer yang diduga berperan
dalam menggerakkan massa. Keempat, faktor provokasi media yang menyebabkan
masyarakat geram. Peran media militer, koran AB dan Berita Yudha, juga sangat krusial.
Media inilah yang semula menyebarkan berita sadis tentang Gerwani yang menyilet
kemaluan para Jenderal. Padahal, menurut Cribb, berdasarkan visum, seperti diungkap Ben
Anderson (1987) para jenazah itu hanya mengalami luka tembak dan memar terkena popor
senjata atau terbentur dinding tembok sumur. Berita tentang kekejaman Gerwani itu memicu
kemarahan massa. Karena itu, Asvi mengingatkan bahwa peristiwa pembunuhan massal pada
1965/66 perlu dipisahkan antara konflik antar masyarakat dengan kejahatan yang dilakukan
oleh negara. Pertikaian antar masyarakat, meski memakan banyak korban bisa diselesaikan.
Yang lebih parah adalah kejahatan yang dilakukan negara terhadap masyarakat, menyangkut
dugaan keterlibatan militer (terutama di Jawa Tengah) dalam berbagai bentuk penyiksaan dan
pembunuhan. Menurut Cribb, dalam banyak kasus, pembunuhan baru dimulai setelah
datangnya kesatuan elit militer di tempat kejadian yang memerintahkan tindakan kekerasan.
”Atau militer setidaknya memberi contoh,” ujarnya. Ini perlu diusut. Keterlibatan militer ini,
masih kata Cribb, untuk menciptakan kerumitan permasalahan. Semakin banyak tangan yang
berlumuran darah dalam penghancuran komunisme, semakin banyak tangan yang akan
menentang kebangkitan kembali PKI dan dengan demikian tidak ada yang bisa dituduh
sebagai sponsor pembantaian. Sebuah sarasehan Generasi Muda Indonesia yang
diselenggarakan di Univesitas Leuwen Belgia 23 September 2000 dengan tema ”Mawas Diri
Peristiwa 1965: Sebuah Tinjauan Ulang Sejarah”, secara tegas menyimpulkan agar dalam
memandang peristiwa G30S harus dibedakan antara peristiwa 1 Oktober dan sesudahnya,
yaitu berupa pembantaian massal yang dikatakan tiada taranya dalam sejarah modern
Indonesia, bahkan mungkin dunia, sampai hari ini. Peritiwa inilah, simpul pertemuan itu,
merupakan kenyataan gamblang yang pernah disaksikan banyak orang dan masih menjadi
memoar kolektif sebagian mereka yang masih hidup. Hardoyo, seorang mantan anggota
DPRGR/MPRS dari Fraksi Golongan Karya Muda, satu ide dengan hasil pertemuan Belgia.
”Biar adil mestinya langkah itu yang kita lakukan.” Mantan tahanan politik 1966-1979 ini
kemudian bercerita. “saya pernah mewawancarai seorang putera dari sepasang suami-isteri
guru SD di sebuah kota di Jawa Tengah. Sang ayah yang anggota PGRI itu dibunuh awal
November 1965. Sang ibu yang masih hamil tua sembilan bulan dibiarkan melahirkan putera
terakhirnya, dan tiga hari setelah sang anak lahir ia diambil dari rumah sakit persalinan dan
langsung dibunuh.” Menurut pengakuan sang putera yang pada 1965 berusia 14 tahun,
keluarga dari pelaku pembunuhan orang tuanya itu mengirim pengakuan bahwa mereka itu
terpaksa melakukan pembunuhan karena diperintah atasannya. Sedangkan Ormas tertentu
yang menggeroyok dan menangkap orang tuanya mengatakan bahwa mereka diperintah oleh
pimpinannya karena jika tidak merekalah yang akan dibunuh. Pimpinannya itu kemudian
mengakui bahwa mereka hanya meneruskan perintah yang berwajib. Hardoyo menambahkan:
kemudian saya tanya, ”Apakah Anda menyimpan dendam?” Sang anak menjawab, ”Semula
Ya.” Tapi setelah kami mempelajari masalahnya, dendam saya hilang. ”Mereka hanyalah
pelaksana yang sebenarnya tak tahu menahu masalahnya.” Mereka, tambah Hardoyo, juga
bagian dari korban sejarah dalam berbagai bentuk dan sisinya.
Bisa jadi memang benar, dalam soal G30S atau soal PKI pada umumnya, peran KKR kelak
harus memilah secara tegas, pasca 1 Oktober versus sebelum 1 Oktober.


2.Contoh kasus-kasus pelanggaran HAM yang ada di Indonesia dan di
lingkungan sekitar yang disimak melalui berbagai media cetak maupun
elektronik.Pelanggaran Hak Asasi Manusia seperti dilingkungan keluarga,
dilingkungan sekolah atau pun dilingkungan masyarakat.
Contoh kasus pelanggaran HAM dilingkungan keluarga antara lain:
1. Orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anaknya (tentang masuk sekolah,
memilih pekerjaan, dipaksa untuk bekerja, memilih jodoh).
2. Orang tua menyiksa/menganiaya/membunuh anaknya sendiri.
3. Anak melawan/menganiaya/membunuh saudaranya atau orang tuanya sendiri.
4. Majikan dan atau anggota keluarga memperlakukan pembantunya sewenang-wenang
dirumah.

Contoh kasus pelanggaran HAM di sekolah antara lain :
1. Guru membeda-bedakan siswanya di sekolah (berdasarkan kepintaran, kekayaan, atau
perilakunya).
2. Guru memberikan sanksi atau hukuman kepada siswanya secara fisik (dijewer,
dicubit, ditendang, disetrap di depan kelas atau dijemur di tengah lapangan).
3. Siswa mengejek/menghina siswa yang lain.
4. Siswa memalak atau menganiaya siswa yang lain.
5. Siswa melakukan tawuran pelajar dengan teman sekolahnya ataupun dengan siswa
dari sekolah yang lain.
Contoh kasus pelanggaran HAM di masyarakat antara lain :
1. Pertikaian antarkelompok/antargeng, atau antarsuku(konflik sosial).
2. Perbuatan main hakim sendiri terhadap seorang pencuri atau anggota masyarakat yang
tertangkap basah melakukan perbuatan asusila.
3. Merusak sarana/fasilitas umum karena kecewa atau tidak puas dengan kebijakan yang
ada.