You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga
mulut yaitu: tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsila faucial), tonsila lingual (tonsila
pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius. Peradangan pada tonsila palatina biasanya meluas ke
adenoid dan tonsil lingual. Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak.

Tonsilitis kronis merupakan salah satu penyakit yang paling umum dari daerah
oral dan ditemukan terutama di kelompok usia muda. Kondisi ini karena peradangan kronis
pada tonsil. Data dalam literatur menggambarkan tonsilitis kronis klinis didefinisikan oleh
kehadiran infeksi berulang dan obstruksi saluran napas bagian atas karena peningkatan
volume tonsil. Kondisi ini mungkin memiliki dampak sistemik, terutama ketika dengan
adanya gejala seperti demam berulang, odinofagia, sulit menelan, halitosis dan limfadenopati
servikal dan submandibula.

Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan yang menahun
dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan
fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat.
Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7 provinsi (Indonesia) pada tahun
1994-1996, prevalensi Tonsilitis Kronis 4,6% tertinggi setelah Nasofaringitis Akut
(3,8%)Insiden tonsilitis kronik di RS Dr. Kariadi Semarang 23,36% dan 47% di antaranya
pada usia 6-15 Tahun.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI DAN FISIOLOGI TONSIL
Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer
merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil
palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tuba.
1

Gambar 1. Tonsil

a. Tonsil Palatina
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil
pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar
posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-
masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak
selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa
supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:
 Lateral– m. konstriktor faring superior
 Anterior – m. palatoglosus
 Posterior – m. palatofaringeus
 Superior – palatum mole
 Inferior – tonsil lingual
Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat, folikel
germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan linfoid)
1
Fosa Tonsil
Fosa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah
otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior.
Pilar anterior mempunyai bentuk seperti kipas pada rongga mulut, mulai dari palatum mole
dan berakhir di sisi lateral lidah. Pilar posterior adalah otot vertikal yang ke atas mencapai
palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak dan ke arah bawah meluas hingga dinding
lateral esofagus, sehingga pada tonsilektomi harus hati-hati agar pilar posterior tidak terluka.
Pilar anterior dan pilar posterior bersatu di bagian atas pada palatum mole, ke arah bawah
terpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring.
2

Kapsul Tonsil
Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran jaringan ikat, yang
disebut kapsul. Walaupun para pakar anatomi menyangkal adanya kapsul ini, tetapi para
klinisi menyatakan bahwa kapsul adalah jaringan ikat putih yang menutupi 4/5 bagian tonsil.


Plika Triangularis
Diantara pangkal lidah dan bagian anterior kutub bawah tonsil terdapat plika
triangularis yang merupakan suatu struktur normal yang telah ada sejak masa embrio. Serabut
ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat pengangkatan tonsil dengan jerat. Komplikasi
yang sering terjadi adalah terdapatnya sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah.
5
Pendarahan
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. karotis eksterna, yaitu
1) A. maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris dan A. palatina
asenden;
2) A. maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden;
3) A. lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal;
4) A. faringeal asenden.
Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh A. lingualis dorsal dan bagian
posterior oleh A. palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh A.
tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh A. faringeal asenden dan A. palatina desenden.
Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran
balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus faringeal.
6

Aliran getah bening
Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal
profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah M. Sternokleidomastoideus,
selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya
mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak
ada.

Persarafan
Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V melalui ganglion
sfenopalatina dan bagian bawah dari saraf glosofaringeus.

Imunologi Tonsil
Tonsila palatina merupakan jaringan limfoepitel yang berperan penting sebagai sistem
pertahanan tubuh terutama terhadap protein asing yang masuk ke saluran makanan atau
masuk ke saluran nafas (virus, bakteri, dan antigen makanan). Tonsil merupakan jaringan
limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang
dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-
75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel
membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam
proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobulin spesifik.
Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG.
6
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan
proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1)
menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi
antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik. Aktivitas imunologi terbesar
tonsil ditemukan pada usia 3 – 10 tahun.
1

b. Tonsil Faringeal (Adenoid)
Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang
sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti
suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini
tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa
faringeus.

Gambar 2. adenoid
Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring.
Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior,
walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid
bervariasi pada masing-masing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran
maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi.

c. Tonsil Lingual
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum
glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada
apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata.
3




TONSILITIS KRONIS
Definisi
Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang terjadi
berulang-ulang atau infeksi subklinis. Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan
diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang keadaan tonsil diluar
serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior dan
apabila tonsil ditekan keluar detritus.
7

Gambar 3. Tonsilitis

Epidemiologi
Insiden tonsilitis kronik di RS Dr. Kariadi Semarang 23,36% dan 47% di antaranya
pada usia 6-15 Tahun. Sedangkan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode April 1997
sampai dengan Maret 1998 ditemukan 1024 pasien tonsilitis kronik atau 6,75% dari seluruh
jumlah kunjungan.
5


Etiologi
Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari Commission on
Acute Respiration Disease bekerja sama dengan Surgeon General of the Army America
dimana dari 169 kasus didapatkan data sebagai berikut :
 25% disebabkan oleh Streptokokus β hemolitikus yang pada
masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi
dalam serum penderita.
 25% disebabkan oleh Streptokokus golongan lain yang tidak
menunjukkan kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita.
Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influenza.
Infeksi virus biasanya ringan dan dapat tidak memerlukan pengobatan yang khusus
karena dapat ditangani sendiri oleh ketahanan tubuh. Penyebab penting dari infeksi virus
adalah adenovirus, influenza A, dan herpes simpleks (pada remaja). Selain itu infeksi virus
juga termasuk infeksi dengan coxackievirus A, yang menyebabkan timbulnya vesikel dan
ulserasi pada tonsil. Epstein-Barr yang menyebabkan infeksi mononukleosis, dapat
menyebabkan pembesaran tonsil secara cepat sehingga mengakibatkan obstruksi jalan
napasyang akut.
4
Infeksi jamur seperti Candida sp tidak jarang terjadi khususnya di kalangan bayi atau
pada anak-anak dengan immunocompromised.



Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu :
8

 Rangsangan kronis (rokok, makanan)
 Higiene mulut yang buruk
 Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah)
 Alergi (iritasi kronis dari allergen)
 Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
 Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak adekuat.
Patofisiologi
Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripta tonsil. Karena proses radang
berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses
penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut
sehingga kripta akan melebar.
Secara klinis kripta ini akan tampak diisi oleh Detritus (akumulasi epitel yang mati,
sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripta berupa eksudat berwarna kekuning
kuningan). Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan
dengan jaringan sekitar fossa tonsilaris. Pada anak-anak, proses ini akan disertai dengan
pembesaran kelenjar submandibula.
8
Manifestasi Klinis
Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang
berulang ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan (odinofagi),
nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan, terasa
kering dan pernafasan berbau.
Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis yang
mungkin tampak, yakni :
1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan
sekitar, kripta yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti
keju.
2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti
terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripta yang melebar dan
ditutupi eksudat yang purulen.
Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak
antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka
gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :
7
T
0
: Tonsil masuk di dalam fossa
T
1
: <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T
2
: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T
3
: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T
4
: >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Gambar 4 . Grade Tonsilitis

Gambar 5 . Grade Tonsilitis




Imunologi
Sistem imun pada tonsilitis kronis
Tonsil dan cincin Waldeyerlain merupakan bagian dari Mucosa Associated Limphoid
Tissue (MALT). MALT berperan penting sebagai respon imun pada permukaan mukosa
setempat. Pada MALT ini, terdapat kumpulan sel-sel yang tersebar merata di lamina propria
dinding saluran cerna, saluran nafas. MALT ini juga dikenal sebagai kumpulan sel-sel yang
terorganisasi dalam bentuk folikel yang terdiri dari limfosit, plasmasit dan fagosit.Tonsil
selalu terpapar oleh mikrorganisme yang masuk melalui saluran nafas dan saluran cerna.
Sebagai bagian dari MALT, tonsil berfungsi mematangkan sel limfosit B serta
menyebarluaskan sel B terstimulasi menuju jaringan mukosa dan kelenjar sekretori di tubuh.
9
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit 0,1-0,2% dari
keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah
50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%.
10
Aktivitas imunologi terbesar dari tonsil ditemukan pada usia 3-10 tahun. Pada usia
lebih dari 60 tahun Ig-positif sel B dan sel T berkurang sama sekali pada semua kompartemen
tonsil.
11
Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel membran, makrofag,
sel dendrit dan APCs (Antigen Presenting Cells)yang berperan dalam proses transportasi
antigen. Dalam tonsil tersebut juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel
pembawa IgG.
10
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi. Tonsil
mempunyai 2 fungsi, yaitu:81.Menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan
efektif.Sebagai tempat produksi antibodi yang dihasilkan oleh sel plasma yang berasal dari
diferensiasilimfosit B.Awal proses responimun terjadi ketika antigen memasuki ruang
orofaring mengenai epitel kripti yang merupakan kompartemen tonsil pertama sebagai barier
imunologis. Sel limfoid yang ditemukan dalam ruang epitel kripti tonsil disusun oleh sel
limfosit B dan sel T. Sel T intraepitel menghasilkan berbagai sitokin antara lain IL-2, IL-4,
IL-6, TNF-α, INF-γ dan TGF-ß.
12
Respon imun tonsil tahap kedua terjadi setelah antigen melalui epitel kripti dan
mencapai daerah ekstrafolikuler atau folikel limfoid. Respon imun berikutnya berupa migrasi
limfosit. Migrasi limfosit ini berlangsung terus menerus dari darah ke tonsil dan kembali ke
sirkulasi melalui sistem limfe.
Tonsil berperan tidak hanya sebagai pintu masuk, tetapi juga sebagai pintu keluar
limfosit, beberapa kemokin dan sitokin. Kemokin yang dihasilkan kripti akan menarik sel B
untuk berperan di dalam kripti
11
Gambaran respon imun pada tonsillitis kronis menunjukkan terjadinya peningkatan
deposit antigen pada jaringan tonsil. Hal ini menyebabkan peningkatan regulasi sel-sel
imunokompeten yang terjadi terus-menerus. Peningkatan IL-1β dan IL-6 bertanggung jawab
terhadap efek sistemik tonsilitis kronis seperti demam rematik, pustulosis palmaris ataupun
glomerulonefritis akut.
12

Penelitian yang dilakukan oleh Dilek pada tahun 2010. Mengatakan bahwa tonsil pada
penderita tonsilitis kronis akan mengekspresikan enzim siklooksigenasi (COX) 1 dan 2.
Aktifnya enzim tersebut akan menghasilkan mediator inflamasi yaitu prostaglandin yang
membantu regulasi imunitas seluler dan humoral, memodulasi sitokin, dan mengaktivasi
proliferasi sel T. Hal sebaliknya yang terjadi, aktivasi sel T dan B akan meningkatkan
ekspresi dari enzim Cox-2, sehingga proses inflamasi akan meningkat.
10

Pada penderita tonsilitis kronis, level serum IgG, IgM, dan IgA meningkat dari jumlah
normalnya. Hal ini dihubungkan dengan keadaan terjadinya stimulasi oleh antigen yang terus
menerus pada tonsil.
10

Peningkatan produksi IgA pada kasus tonsilitis kronis dihubungkan dengan insiden
terjadinya IgA nefropati, yaitu terjadinya deposit IgA pada glomerolus ginjal. Namun hingga
saat ini belum didapatkan penjelasan bagaimana mekanisme pasti dari penyakit tersebut.
Sistem Imun Pasca Tonsilektomi
Penelitian yang dilakukan oleh Ogra pada tahun 1971 dikutip oleh Wood,
menyimpulkan bahwa terjadi penurunan antibodi IgA yang signifikan pada pasien pasca
tonsilektomi dan didapatkan peningkatan kejadian poliomeilitis setelah dilakukan imunisasi.
Hal tersebut juga didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Ballester, dkk pada tahun
2006 yang menyimpulkan bahwa terdapat penurunan jumlah level serum IgA pada pasien
yang menjalani tonsilektomi. Namun penurunan IgA yang lebih signifikan terjadi bila
dilakukan tindakan tonsilektomi dan apendektomi sekaligus. Donovan melalui penelitiannya
pada tahun 1973 mendapatkan peningkatan terjadinya resiko infeksi oleh kuman
Haemophilus influenzae akibat penurunan serum IgA setelah operasi tonsilektomi.
11

IgA merupakan antibodi yang dihasilkan oleh jaringan mukosa limfoid. Transpor
aktifnya melalui epitel. IgA merupakan pertahanan pertama pada daerah mukosa dengan cara
menghambat perkembangan antigen lokal, dan telah dibuktikan dapat menghambat virus
menembus mukosa. Terjadinya penurunan level serum IgA yang dikenal dengan istilah
defisiensi serum IgA akan menyebabkan berkurangnya pertahanan pada mukosa.
Penelitian yang dilakukan oleh Faramarzi, dkk pada tahun 2006 menyimpulkan
terjadinya penurunan jumlah limfosit T, namun akan kembali normal sekitar 8 minggu paska
tonsilektomi. Tidak terdapat perubahan yang bermakna pada level serum IgG, IgM dan
jumlah limfosit B sebelum dan sesudah tonsilektomi. Terjadi peningkatan level serum IgA
ketika 2 minggu setelah dilakukannya tonsilektomi, namun pengukuran IgA yang dilakukan 8
minggu setelah tindakan tonsilektomi didapatkan penurunan level serum.
12
Penelitian yang dilakukan oleh Kaygusuz pada tahun 2003 mengenai perbandingan sistem
imunitas anak-anak sebelum dan setelah tonsilektomi, menyimpulkan bahwa terjadi
penurunan yang tidak signifikan pada level serum CD3
+
, CD8
+,
dan CD19
+
. Terjadi
peningkatan yang cukup signifikan pada level serum CD4
+
dan penurunan signifikan level
serum CD25
+
setelah tindakan tonsilektomi. Terdapat penurunan pada level serum IgA, IgG,
IgM serta komplemen C3 dan C4 dan bahkan pengukuran yang dilakukan 1 bulan setelah
tonsilektomi terjadi penurunan yang cukup signifikan pada level serum tersebut
10

Diagnosis
Adapun tahapan menuju diagnosis tonsilitis kronis adalah sebagai berikut
1. Anamnesa
Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting karena hampir 50% diagnosa dapat
ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada
tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise, sakit pada
sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri pada leher.
2. Pemeriksaan Fisik
Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian
kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta
tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti keju atau dempul
amat banyak terlihat pada kripta. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil
yang kecil, biasanya membuat lekukan, tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen
yang tipis terlihat pada kripta.
5



Perbedaan Tonsilitis akut, tonsillitis kronis eksaserbasi akut dan tonsillitis kronis
AKUT
KRONIS EKSASERBASI
AKUT
KRONIS
Tonsil
hiperemis
+ + -
Tonsil
edema
+ + +/-
Kriptus
melebar
- + +
Destruitus +/- + +
Perlengketan - + +

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita Tonsilitis Kronis:
 Mikrobiologi
Penatalaksanaan dengan antimikroba sering gagal untuk mengeradikasi kuman
patogen dan mencegah kekambuhan infeksi pada tonsil. Kegagalan mengeradikasi
organisme patogen disebabkan ketidaksesuaian pemberian antibiotika atau penetrasi
antibiotika yang inadekuat. Gold standard pemeriksaan tonsil adalah kultur dari dalam
tonsil. Kuman terbayak yang ditemukan yaitu Streptokokus beta hemolitikus diukuti
Staflokokus aureus.
8

 Histopatologi
Penelitian yang dilakukan Ugras dan Kutluhan tahun 2008 di Turkey terhadap 480
spesimen tonsil, menunjukkan bahwa diagnosa Tonsilitis Kronis dapat ditegakkan
berdasarkan pemeriksaan histopatologi dengan tiga kriteria histopatologi yaitu ditemukan
ringan- sedang infiltrasi limfosit, adanya Ugra’s abses dan infitrasi limfosit yang difus.
Kombinasi ketiga hal tersebut ditambah temuan histopatologi lainnya dapat dengan jelas
menegakkan diagnosa Tonsilitis Kronis.
7

Penatalaksanaan
Medikamentosa
Dengan pemberian antibiotika sesuai kultur. Pemberian antibiotika yang bermanfaat
pada penderita Tonsilitis Kronis Cephaleksin ditambah metronidazole, klindamisin ( terutama
jika disebabkan mononukleosis atau abses), amoksisilin dengan asam klavulanat ( jika bukan
disebabkan mononukleosis)
Operatif
Dengan tindakan tonsilektomi. Pada penelitian Khasanov et al mengenai prevalensi
dan pencegahan keluarga dengan Tonsilitis Kronis didapatkan data bahwa sebanyak 84 ibu-
ibu usia reproduktif yang dengan diagnosa Tonsilitis Kronis, sebanyak 36 dari penderita
mendapatkan penatalaksanaan tonsilektomi.
Indikasi Tonsilektomi
Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan
prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi di
indikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini indikasi utama adalah
obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil. Berdasarkan the American Academy of
Otolaryngology- Head and Neck Surgery ( AAO-HNS) tahun 1995 indikasi tonsilektomi
terbagi menjadi :
1. Indikasi absolut
a) Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas atas,disfagia berat,gangguan
tidur, atau terdapat komplikasi kardiopulmonal
b) abses peritonsiler yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase, kecuali jika
dilakukan fase akut.
c) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
d) Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi

2. Indikasi relatif
a) Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan pengobatan
medik yang adekuat
b) Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medik
c) Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik dengan
pemberian antibiotik kuman resisten terhadap β-laktamase.
1

.Kontraindikasi Tonsilektomi
Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi, namun bila
sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang
―manfaat dan risiko‖. Keadaan tersebut adalah:
1. Gangguan perdarahan
2. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat
3. Anemia
4. Infeksi akut yang berat

Teknik Operasi Tonsilektomi
Pengangkatan tonsil pertama sebagai tindakan medis telah dilakukan pada abad 1
Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan menggunakan jari tangan. Di
Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik
Guillotine dan diseksi.
7
 Diseksi: Dikerjakan dengan menggunakan Boyle-Davis mouth gag, tonsil dijepit
dengan forsep dan ditarik ke tengah, lalu dibuat insisi pada membran mukus.
Dilakukan diseksi dengan disektor tonsil atau gunting sampai mencapai pole bawah
dilanjutkan dengan menggunakan senar untuk menggangkat tonsil.
 Guilotin: Tehnik ini sudah banyak ditinggalkan. Hanya dapat dilakukan bila tonsil
dapat digerakkan dan bed tonsil tidak cedera oleh infeksi berulang.
 Elektrokauter: Kedua elektrokauter unipolar dan bipolar dapat digunakan pada
tehnik ini. Prosedur ini mengurangi hilangnya perdarahan namun dapat menyebabkan
terjadinya luka bakar.
 Laser tonsilektomi
:
Diindikasikan pada penderita gangguan koagulasi. Laser KTP-
512 dan CO2 dapat digunakan namun laser CO2 lebih disukai.tehnik yag dilakukan
sama dengan yang dilakukan pada tehik diseksi.

Komplikasi Tonsilektomi
1. Komplikasi anestesi
Komplikasi anestesi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Komplikasi yang
dapat ditemukan berupa :
• Laringosspasme
• Gelisah pasca operasi
• Mual muntah
• Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi
• Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hipotensi dan henti jantung
• Hipersensitif terhadap obat anestesi.
2. Komplikasi Bedah
Komplikasi pasca bedah dapat digolongkan berdasarkan waktu terjadinya yaitu immediate,
intermediate dan late complication.

Komplikasi segera (immediate complication) pasca bedah dapat berupa perdarahan dan
komplikasi yang berhubungan dengan anestesi. Perdarahan segera atau disebut juga
perdarahan primer adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pasca bedah.
Keadaan ini cukup berbahaya karena pasien masih dipengaruhi obat bius dan refleks batuk
belum sempurna sehingga darah dapat menyumbat jalan napas menyebabkan asfiksi.
Penyebabnya diduga karena hemostasis yang tidak cermat atau terlepasnya ikatan.
6

perdarahan dan iritasi mukosa dapat dicegah dengan meletakkan ice collar dan
mengkonsumsi makanan lunak dan minuman dingin.
6
Pasca bedah, komplikasi yang terjadi kemudian (interme diate complication) dapat berupa
perdarahan sekunder, hematom dan edem uvula, infeksi, komplikasi paru dan otalgia
Perdarahan sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pasca bedah. Umumnya
terjadi pada hari ke 5-10. Jarang terjadi dan penyebab tersering adalah infeksi serta trauma
akibat makanan; dapat juga oleh karena ikatan jahitan yang terlepas, jaringan granulasi yang
menutupi fosa tonsil terlalu cepat terlepas sebelum luka sembuh sehingga pembuluh darah di
bawahnya terbuka dan terjadi perdarahan. Perdarahan hebat jarang terjadi karena umumnya
berasal dari pembuluh darah permukaan. Cara penanganannya sama dengan perdarahan
primer.
7
Late complication pasca tonsilektomi dapat berupa jaringan parut di palatum mole. Bila
berat, gerakan palatum terbatas dan menimbulkan rinolalia. Komplikasi lain adalah adanya
sisa jaringan tonsil. Bila sedikit umumnya tidak menimbulkan gejala, tetapi bila cukup
banyak dapat mengakibatkan tonsilitis akut atau abses peritonsil.
8

II. KOMPLIKASI
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar atau
secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. Adapun berbagai komplikasi
yang kerap ditemui adalah sebagai berikut :
9

1. Komplikasi sekitar tonsila
 Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan abses.
 Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal dari
penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan penjalaran
dari infeksi gigi.
 Abses Parafaringeal\
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening atau pembuluh
darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid, kelenjar limfe
faringeal, os mastoid dan os petrosus.
 Abses Retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak usia 3
bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.
 Tonsilolith (kalkulus tonsil).
Tonsililith dapat ditemukan pada Tonsilitis Kronis bila kripta diblokade oleh sisa-sisa dari
debris. Garam inorganik kalsium dan magnesium kemudian tersimpan yang memicu
terbentuknya batu. Batu tersebut dapat membesar secara bertahap dan kemudian dapat terjadi
ulserasi dari tonsil. Tonsilolith lebih sering terjadi pada dewasa dan menambah rasa tidak
nyaman lokal atau foreign body sensation. Hal ini didiagnosa dengan mudah dengan
melakukan palpasi atau ditemukannya permukaan yang tidak rata pada perabaan.
 Kista tonsilar.
Disebabkan oleh blokade kripta tonsil dan terlihat sebagai pembesaran kekuningan diatas
tonsil. Sangat sering terjadi tanpa disertai gejala. Dapat dengan mudah didrainasi.
 Fokal infeksi dari demam rematik dan glomerulonephritis.
Dalam penelitiannya Xie melaporkan bahwa anti-streptokokal antibodi meningkat pada 43%
penderita Glomerulonefritis dan 33% diantaranya mendapatkan kuman Streptokokus beta
hemolitikus pada swab tonsil yang merupakan kuman terbanyak pada tonsil dan faring. Hasil
ini megindikasikan kemungkinan infeksi tonsil menjadi patogenesa terjadinya penyakit
Glomerulonefritis.
7












BAB III
KESIMPULAN

Tonsilitis Kronis secara umum diartikan sebagai infeksi atau inflamasi pada tonsila
palatina yang menetap. Tonsilitis Kronis disebabkan oleh serangan ulangan dari Tonsilitis
Akut yang mengakibatkan kerusakan yang permanen pada tonsil. Organisme patogen dapat
menetap untuk sementara waktu ataupun untuk waktu yang lama dan mengakibatkan gejala-
gejala akut kembali ketika daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan. Tonsilitis
berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak
sehat.
Anamnesa dan pemeriksaan fisik diagnostic diperlukan untuk menegakkan diagnosa
penyakit ini. Pada Tonsilitis Kronis tonsil dapat terlihat normal, namun ada tanda-tanda
spesifik untuk menentukan diagnosa seperti plika anterior yang hiperemis, pembesaran
kelenjar limfe, dan bertambahnya jumlah kripta pada tonsil. Secara klinis pada tonsilitis
kronik didapatkan gejala berupa nyeri tenggorok atau nyeri telan ringan, mulut berbau, badan
lesu, sering mengantuk, nafsu makan menurun, nyeri kepala dan badan terasa meriang.
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil
(Adenotonsilektomi). Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana penatalaksanaan
medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan gejala-gejala. Indikasi
tonsilektomi pada tonsilitis kronik adalah jika sebagai fokus infeksi, kualitas hidup menurun
dan menimbulkan rasa tidak nyaman serta memenuhi indikasi relative dan absolute.




DAFTAR PUSTAKA
1. Rusmarjono, Kartoesoediro S. Tonsilitis kronik. In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala & Leher ed Keenam. FKUI Jakarta: 2007. p212-25.
2. Boies AH. Rongga Mulut dan Faring. In: Boies Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: ECG,
1997. p263-340
3. Snell, R.S. (1991) Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, bagian 3, edisi 3,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
4. Nelson WE, Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM. Tonsil dan Adenoid. In: Ilmu
Kesehatan Anak Edisi 15 Volum 2. Jakarta: ECG,2000. p1463-4
5. Hassan R, Alatas H. Penyakit Tenggorokan. In: Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak jilid
2. Jakarta :FKUI, 2007.p930-33.
6. Hatmansjah. Tonsilektomi. In: Cermin Dunia Kedokteran vol 89. [online].1993.[cited,
2012 dec 2]. Available from: URL: http://www. cerminduniakedokteran .com
7. Amalia, Nina. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis D RSUP H. Adam Malik Medan
Tahun 2009. 2011.pdf
8. Faramarzi A, Shamsdin A, Ghaderi A. IgM, IgG, IgA Serum Levels and Lymphocytes
Count Before and After Adenotonsillectomy. Department of Otolaryngology, Head and
Neck Surgery. Shiraz University of Medical Sciences. Iran. J. Immunol. Vol. 3. No. 4
.2006. p.187-191.
9. Byron JB, Jonas JT, Head and Neck Surgery Otolaryngology. 4
th
Ed. Vol. One.
Lippincott Williams & Wilkins. Newlands. 2006 ; pg 1184-98
10. Kaygusuz I, Gödekmerdanb A, Karlidaˇga T, Kele¸s E, Yalçin S, et al. Early Stage
Impacts of Tonsillectomy on Immune Functions of Children. Department of
Otorhinolaryngology. Fırat University Medical Faculty. Turkey. International Journal of
Pediatric Otorhinolaryngology. Vol. 67. 2003. p.1311—1315.
11. Muhardjo. Pengaruh Adenotonsilektomi Pada Anak Enotonsilitis Kronis Obstruktif
Terhadap Imunitas. 2007.
12. Dilek FH, Sahin O, Tokyol C, Mazlum M, Aycicek A. Expression of Cyclooxygenase-1
and 2 in Chronic Tonsillitis. Department of Pathology and Ear, Nose. Kocatepe
University. School of Medicine. Afyonkarahisar. Turkey. Indian Journal of Pathology
and Microbiology. Volume 53. 2010. p. 457-460