You are on page 1of 51

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Olahraga merupakan salah satu aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kualitas
kesehatan individual dan mencegah berbagai penyakit. Kurangnya aktivitas fisik
merupakan faktor resiko tertinggi ke-empat terhadap angka mortalitas global (WHO,
2010). Olahraga secara umum mempengaruhi fungsi sistem pernafasan, sirkulasi,
neuromuskular dan endokrin (Katch, 2011), pengaruh yang ditimbulkan pada sitem-
sistem tersebut cenderung meningkatkan fungsi sistem dan meningkatkan kesehatan
(WHO, 2010).
Pada sistem sirkulasi salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan
parameter hematologis, perubahan ini meliputi peningkatan leukosit dan eritrosit (Bhatti,
2007). Peningkatan komponen hematologis ini (eritrosit) berkaitan erat dengan
peningkatan hemoglobin darah, kadar hemoglobin darah meningkat sebagai mekanisme
kompensasi terhadap keadaan kekurangan oksigen akibat aktivitas fisik yang meningkat
(Ganong, 1999). Selain olahraga kadar hemoglobin juga dipengaruhi oleh banyak faktor
seperti status gizi, riwayat pendarahan, penyakit akut dan kronis, kondisi tempat tinggal,
dan lainnya (Choudhary, 2011). Maka pada penelitian ini peneliti tertarik meneliti
besarnya pengaruh olahraga dengan peningkatan hemoglobin pada individu yang
memiliki latar belakang yang relatif serupa. Menurut Dhamayanti (2010), kadar
hemoglobin merupakan suatu indeks untuk mengukur apakah mahasiswa dalam keadaan
2

normal ataupun anemia, sebanyak 26,5 % remaja perempuan dan 20 % laki-laki usia 15-
19 tahun menderita kekurangan zat besi. Sedangkan prevalensi kebugaran jasmani di
Amerika serikat meningkat sebesar 8,6% pada wanita dan 3,5 % pada pria selama tahun
2001 hingga tahun 2005. Pada tahun 2001, wanita yang tergolong bugar memiliki
prevalensi sebesar 43%. Kemudian pada tahun 2005 meningkat menjadi 46,7%.
Sedangkan pria yang tergolong bugar memiliki prevalensi sebesar 43% pada tahun 2001,
dan meningkat menjadi 49,7% pada tahun 2005. Indikator untuk kebugaran jasmani di
Amerika Serikat adalah aktivitas fisik yang dilakukann oleh masyarakat dinegara
tersebut. ( Pusjas, 2005)
Data dari Behavioral Risk Factor Surveilance System ( BRFSS ) berdasarkan
survey pada tahun 2001, 2002, dan 2003 menunjukan bahwa 38,6 % masyrakat Asia dan
masyarakat Hawaii atau masyarakat di Kepulauan Pasifik lainnya, memiliki tubuh yang
tergolong bugar. Sedangkan sebanyak 24% masyarakatnya memiliki kebugaran yang
kurang, terlihat dari tidak ada aktivitas fisik yang dilakukan selama waktu luang.
Di Indonesia , menurut data dari Sport Development Index (SDI) pada tahun
2006, hanya sebesar 1.08 % masyarakat yang memiliki tingkat kebugaran baik sekali,
4,07 % tergolong baik, 13,55% termasuk kategori sedang, 43,90% tergolong kurang
bugar, dan 37,40 % tergolong kurang sekali. Di Indonesia hasil pengukuran tingkat
kesegaran jasmani yang dilakukan oleh pusat kesegaran jasmani di 22 propinsi pada
tahun 2005 terhadap 7685 orang pelajar dan mahasiswa hasilnya adalah 38,4 % kurang
dan kurang sekali, 9,53 % baik dan baik sekali, sedangkan sisanya dinyatakan sedang.
3

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada remaja adalah
makanan, usia, jenis kelamin, aktivitas, merokok, dan penyakit yang menyertainya
seperti leukemia, thalasemia, dan tuberkulosi. Makanan merupakan zat-zat gizi atau
komponen gizi yang terdapat dalam makanan yang dimakan digunakan untuk menyusun
terbentuknya haemoglobin yaitu Fe (zat besi) dan protein. Usia Anak-anak, orang tua,
ibu yang sedang hamil akan lebih mudah mengalami penurunan kadar Hemoglobin.
Pada anak-anak dapat disebabkan karena pertumbuhan anak-anak yang cukup pesat dan
tidak di imbangi dengan asupan zat besi sehingga dapat menurunkan kadar Hemoglobin
(National Anemia Action Council, 2009). Jenis kelamin perempuan lebih mudah
mengalami penurunan dari pada laki-laki, terutama pada saat menstruasi (Curtale et al.,
2000).
Aktivitas fisik manusia sangat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah.
Pada individu yang secara rutin berolahraga kadar hemoglobinnya akan sedikit naik. Hal
ini disebabkan karena jaringan atau sel akan lebih banyak membutuhkan O
2
(oksigen)
ketika melakukan aktivitas (Bahri dkk., 2009). Olahraga merupakan serangkaian gerak
raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak dan meningkatkan kemampuan
gerak. Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik, artinya olahraga
sebagai alat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial.Struktur
anatomis-anthropometis dan fungsi fisiologinya stabilitas emosionalnya dan kecerdasan
intelektualnya maupun kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan (Giriwijoyo,
2000). Futsal merupakan olahraga yang populer pada saat ini di semua kalangan
termasuk mahasiswa. Futsal sangat bermanfaat bagi kebugaran tubuh individu. Olahraga
futsal secara langsung meningkatkan kemampuan fisik seperti pengaturan napas,
4

pengaturan gerak tubuh, serta melatih otot-otot pada tubuh individu yang melakukannya
secara rutin. Daya tahan tubuh akan meningkat bila seseorang melakukan olahraga
secara rutin (Handoko, 2009). Olahraga secara rutin dapat meningkatkan kadar
hemoglobin. Futsal dianggap olahraga yang praktis untuk dilakukan karena tidak
memakan waktu yang lama. Olahraga ini semakin digemari karena dapat dilakukan pada
kondisi cuaca apapun karena pelaksanaannya dilakukan di dalam ruangan (indoor).
Mahasiswa melakukan futsal pada siang hari dan malam hari. Ganong (2003)
menyebutkan hemoglobin dalam darah berfungsi untuk pengangkutan O
2
dari paru-paru
ke seluruh tubuh.O
2
ditukar dengan CO
2
(karbondioksida) di dalam alveolus. O
2

dibutuhkan oleh tubuh untuk proses metabolisme, sedangkan CO
2
dikeluarkan dari
dalam tubuh. O
2
diedarkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah yang diikat oleh
hemoglobin membentuk senyawa Hemoglobin. Kondisi udara pada malam hari berbeda
dengan siang hari. Tumbuhan mengeluarkan CO
2
pada malam hari, hal ini berbeda
dengan siang hari dimana tumbuhan menyerap CO
2
. Kondisi ini menyebabkan udara
pada malam hari lebih banyak mengandung gas CO
2
. Hal ini secara tidak langsung
mempengaruhi sirkulasi udara pada sistem pernapasan manusia. Seseorang akan lebih
sedikit memperoleh O2 bila berkegiatan di malam hari (Cahyono,2005). Mahasiswa
secara rutin melakukan futsal pada siang hari dan ada juga mahsiswa yang melakukan
futsal malam hari. Aktivitas fisik sangat mempengaruhi hemoglobin yang berguna untuk
mengikat oksigen, sedangkan kondisi udara terdapat perbedaan antara kondisi pada
waktu siang dan malam hari dimana pada siang hari lebih banyak O2 dibanding CO2
dan sebaliknya pada malam hari. Berdasarkan konsep, teori dan fenomena diatas maka
peneliti tertarik untuk meneliti “Perbedaan Kadar Hb Antara Mahasiswa Yang Rutin
5

Berolahraga Futsal Pada Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesenian IKIP Dengan
Mahasiswa Yang Jarang Berolahraga Pada Fakultas Keguruan Ilmu Pengetahuan IKIP
Periode Januari 2013 Oktober 2013”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah
pada penelitian ini sebagai berikut "Apakah terdapat perbedaan kadar hemoglobin
Antara Mahasiswa Yang Rutin Berolahraga Futsal Pada Universitas IKIP Jurusan
Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesenian IKIP dengan Mahasiswa Yang Jarang
Berolahraga Pada Universitas IKIP jurusan MIPA
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian, penulis mempunyai tujuan yang saling
berkaitan sehingga tujuan tersebut dapat tercapai. Adapun tujuan dapat diuraikan sebagai
berikut :
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Kadar Hb Antara Mahasiswa Yang Rutin Berolahraga Futsal
Pada Universitas IKIP jurusan Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesenian IKIP
dengan Mahasiswa Yang jarang Berolahraga Pada Universitas IKIP jurusan MIPA.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi karakteristik responden yang melakukan olahraga futsal
dan yang tidak melakukan olahraga futsal berdasarkan usia dan lama waktu
bermain futsal
6

2. Untuk Mengetahui kadar Hb responden yang berolahraga
3. Untuk Mengetahui kadar Hb responden yang jarang berolahraga
4. Untuk Menganalisa adanya perbedaan kadar Hb pada mahasiswa yang
berolahraga dan jarang berolahraga
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan Karya Tulis Ilmiah adalah :
1.4.1. Bagi Peneliti
1.4.1.1. Sebagai syarat kelulusan program study S1. Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Al-azhar.
1.4.1.2. Untuk menghetahui seberapa besar informasi ilmiah mengenai perbedaan
kadar Hb pada mahasiswa yang berolahraga dan tidak berolahraga dengan
cara pengukuran kadar nilai Hb.

1.4.2. Bagi Pendidikan
Diharapkan agar lebih memperhatikan khususnya dalam dunia kesehatan
bahwa olahraga yang rutin dapat mempengaruhi kadar nilai Hb seseorang
yang berolahraga.
1.4.3. Bagi Masyrakat
7

Agar masyarakat dapat mengetahui manfaat berolahraga, sehingga
masyarakat sadar bahwa pentingnya berolahraga secara rutin dapat menjaga
kesatabilan kadar nilai Hb dan untuk menjaga kesehatan jasmani maupun
rohani.

8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. HEMOGLOBIN
2.1.1. Pengertian Hemoglobin
Eritrosit atau sel darah merah merupakan salah satu komponen sel yang
terdapat dalam darah, fungsi utamanya adalah sebagai pengangkut
hemoglobin yang akan membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan
(Guyton, 1995). Eritrosit merupakan suatu sel yang kompleks, membrannya
terdiri dari lipid dan protein, sedangkan bagian dalam sel merupakan
mekanisme yang mempertahankan sel selama 120 hari masa hidupnya serta
menjaga fungsi hemoglobin selama masa hidup sel tersebut (Williams, 2007).
Eritrosit berbentu bikonkaf dengan diameter sekitar 7,5 μm, dan tebal 2 μm
namun dapat berubah bentuk sesuai diameter kapiler yang akan dilaluinya,
selain itu setiap eritrosit mengandung kurang lebih 29 pg hemoglobin, maka
pada pria dewasa dengan jumlah eritrosit normal sekitar 5,4jt/ μl didapati
kadar hemoglobin sekitar 15,6 mg/dl (Ganong, 1999).
Hemoglobin adalah protein tetramer yang terdiri dari dua pasang subunit
polipeptida yang berbeda (α,β,γ,δ,S). Meskipun memiliki panjang secara
keseluruhan yang serupa, polipeptida α (141 residu) dan β (146 residu) dari
hemoglobin A dikodekan oleh gen yang berbeda dan memiliki struktur
9

primer yang berlainan. Sebaliknya, rantai β,δ dan γ hemoglobin manusia
memiliki struktur primer yang sangat terlestarikan . Struktur tetramer
hemoglobin yang umum dijumpai adalah sebagai berikut: HbA (hemoglobin
dewasa normal) = α2β2, HbF (hemoglobin janin) = α2γ2, HbS (hemoglobin
sel sabit) = α2S2 dan HbA (hemoglobin dewasa minor) = α2δ2 (Murray,
Granner, Mayes, Rodwell, 2003).

Gambar 2.1 Struktur Hemoglobin
(Sumber: bio.miami.edu)
Sel-sel darah merah mampu mengkonsentrasikan hemoglobin dalam
cairan sel sampai sekitar 34 gm/dl sel. Konsentrasi ini tidak pernah meningkat
lebih dari nilai tersebut, karena ini merupakan batas metabolik dari mekanisme
pembentukan hemoglobin sel. Selanjutnya pada orang normal, persentase
hemoglobin hampir selalu mendekati maksimum dalam setiap sel. Namun bila
10

pembentukan hemoglobin dalam sumsum tulang berkurang, maka persentase
hemoglobin dalam darah merah juga menurun karena hemoglobin untuk
mengisi sel kurang. Bila hematokrit (persentase sel dalam darah normalnya 40
sampai 45 persen) dan jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel nilainya
normal, maka seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung 16 gram/dl
hemoglobin, dan pada wanita rata-rata 14 gram/dl ( Guyton & Hall,1997).
Sarana yang menyebabkan oksigen terikat pada hemoglobin adalah jika
juga sudah terdapat molekul oksigen lain pada tetramer yang sama. Jika oksigen
sudah ada, pengikatan oksigen berikutnya akan berlangsung lebih mudah.
Dengan demikian, hemoglobin memperlihatkan kinetika pengikatan komparatif,
suatu sifat yang memungkinkan hemoglobin mengikat oksigen dalam jumlah
semaksimal mungkin pada organrespirasi dan memberikan oksigen dalam
jumlah semaksimal mungkin pada partial oksigen jaringan perifer (Murray,
Granner, Mayes, Rodwell,2003).
11


Gambar 2.2 Kurva Pengikatan Oksigen Pada Hemoglobin Dan Mioglobin
Sumber: colorado.edu
Disamping mengangkut oksigen dari paru ke jaringan perifer,
hemoglobin memperlancar pengangkutan karbon dioksida (CO2) dari jaringan
ke dalam paru untuk dihembuskan ke luar. Hemoglobin dapat langsung
mengikat CO2 jika oksigen dilepaskan dan sekitar 15% CO2 yang dibawa di
dalam darah diangkut langsung pada molekul hemoglobin. C02 bereaksi dengan
gugus α-amino terminal amino dari hemoglobin, membentuk karbamat dan
melepas proton yang turut menimbulkan efek Bohr. (Murray, Granner, Mayes,
Rodwell, 2003)
12

Hemoglobin mengikat 2 proton untuk setiap kehilangan 4 molekul
oksigen dan dengan demikian turut memberikan pengaruh yang berarti pada
kemampuan pendaparan darah. Dalam paru, proses tersebut berlangsung
terbalik yaitu seiring oksigen berikatan dengan hemoglobin yang berada dalam
keadaan tanpa oksigen (deoksigenasi), proton dilepas dan bergabung dengan
bikarbonat sehingga terbentuk asam karbonat.dengan bantuan enzim karbonik
anhidrase, asam karbonat membentuk gas CO2 yang kemudian dihembuskan
keluar. (Murray, Granner, Mayes, Rodwell, 2003)
Dalam jaringan perifer, defisiensi oksigen meningkatkan akumulasi 2,3-
bisfosfogliserat (BPG). Senyawa ini dibentuk dari senyawa intermediate 1,3-
bisfosfogliserat yang bersifat glikolitik. Satu molekul bisfosfogliserat (BPG)
terikat per tetramer hemoglobin di dalam rongga tengah yang dibentuk oleh
keempat subunit. BPG diikat oleh jembatan garam di antara atom-atom
oksigennya dan kedua rantai β melalui gugus terminal aminonya (Val NA1)
disamping oleh residu Lys EF6 dan His H21.

13


Gambar 2.3 Struktur 2,3-bisfosfogliserat
Sumber: ncbi.nlm.gov
Dengan demikian, BPG menstabilkan hemoglobin bentuk T atau bentuk
deoksigenasi dengan melakukan pengikatan-silang terhadap rantai β dan
membentuk jembatan garam tambahan yang harus diputus sebelum
pembentukan bentuk R. BPG berikatan lebih lemah dengan hemoglobin janin
dibandingkan hemoglobin dewasa karena residu H21 pada rantai γ adalah Ser
bukannya His dan tidak dapat membentuk jembatan garam dengan BPG. Oleh
karena itu, BPG memberikan efek yang lebih lemah terhadap stabilisasi bentuk
T HbF dan menyebabkan HbF mempunyai afinitas yang lebih tinggi terhadap
oksigen dibandingkan HbA (Murray, Granner, Mayes, Rodwell, 2003).
Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari
4 subunit. Setiap subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi
dengan suatu polipeptida.Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung
besi.Polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul
14

hemoglobin.Ada dua pasang polipeptida didalam setiap molekul hemoglobin
(Ganong, 2003).
Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin yang
mengangkut O
2
dan CO
2
dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian
dapar intraselular. Molekul-molekul hemoglobin terdiri dari dua pasang rantai
polipeptida dan empat gugus hem, masing-masing mengandung sebuah atom
besi. Konfigurasi ini memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna
(Supriasa, 2001).
Hemoglobin merupakan senyawa pembawa O
2
pada sel darah merah.
Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hemoglobin/100 ml dalam
darah dapat digunakan sebagai indek kapasitas sebagai O
2
pada darah.
Kandungan hemoglobulin yang rendah dengan demikian mengindikasikan
anemia (Supriasa, 2001). Pengertian lain hemoglobin adalah pigmen merah
pembawa O2 pada eritrosit dan di bentuk oleh eritrosit yang berkembang dalam
sum-sum tulang. Pembentukan berlangsung dari setaium perkembangan
eritroblas sampai retukulosit. Molekul-molekul Hemoglobin terdiri atas dua
pasang rantai polipeptida (Globin) dan empat kelompok heme (Price & Wilson,
2004). Globulin merupakan satu protein yang terbentukdari empat polipetida
yang sangat berlipat lipat.Sedangkan heme merupakan gugus nitrogenosa non
protein yang mengandung besi (Sherwood, 2001).
Hemoglobin dibentuk dalam sitoplasma sel sampai stadium
retikulosit.Setelah inti sel dikeluarkan, hilang juga RNA dari dalam sitoplasma,
15

sehingga dalam sel darah merah tersebut tidak dapat dibentuk protein lagi, begitu
juga berbagai enzim yang sebelumnya terdapat dalam sel darah merah dan
protein membran sel (Suyono, 2001).
Pembentukan hemoglobin dimulai dalam proeritroblas dan kemudian
dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit, karena ketika retikulosit
meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit
tetap membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya (Guyton
& Hall, 1997).
2.1.2. Fungsi Hemoglobin
Hemoglobin dalam tubuh manusia memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Mengangkut O2 dari organ respirasi ke jaringan perifer dengan cara
membentuk oksihemoglobulin. Oksihemoglobin ini akan beredar secara luas
pada seluruh jaringan tubuh. Jika kandungan O2 di dalam tubuh lebih
rendah dari pada jaringan paru-paru, maka ikatan oksihemoglobulin akan
dibebaskan dan O2 akan digunakan dalam metebolisme sel.
2. Mengangkut karbon dioksida dari berbagai proton, seperti ion Cldan ion
hidrogen asam (H+) dari asam karbonat (H2CO3) dari jaringan perifer ke
organ respirasi untuk selanjutnya diekskresikan ke luar. Oleh karena itu,
hemoglobin juga termasuk salah satu sistem buffer atau penyangga untuk
menjaga keseimbangan pH ketika terjadi perubahan PCO2 (Martini, 2009).

16

2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Hemoglobin
Kadar Hemoglobin seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh paparan
Pb(timbal), kebiasaan minum teh setiap hari setelah makan, menkonsumsi
alkohol serta merokok dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin (Mehdi et al.,
2000). Konsumsi teh setiap hari dapat menhambat penyerapan zat besi sehingga
akan mempangruhi terhadap kadar Hemoglobin (Gibson, 2005). Beberapa
faktor lain yang mempengaruhi kadar Hemoglobin antara lain:
1. Usia
Anak-anak, orang tua, ibu yang sedang hamil akan lebih mudah mengalami
penurunan kadar Hemoglobin. Pada anak-anak dapat disebabkan karena
pertumbuhan anak-anak yang cukup pesat dan tidak di imbangi dengan
asupan zat besi sehingga dapat menurunkan kadar Hemoglobin (National
Anemia Action Council, 2009).
2. Jenis Kelamin
Perempuan lebih mudah mengalami penurunan daripada laki-laki, terutama
pada saat menstruasi (Curtale et al., 2000).
3. Penyakit Sistemik
Beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin yaitu
Leukimia, thalasemia, tuberkulosi. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi
produksi sel darah merah yang disebabkan karenan terdapat gangguan pada
sum-sum tulang (Hoffbrand et al., 2005).


17

4. Pola Makan
Pola makan adalah menu makanan yang dalam keseharian oleh
seseorang.Pola makan yang sehat tercantum dalm pemilihan menu makanan
yang seimbang (Prasetyono, 2009). Sumber zat besi terdapat dimakanan
bersumber dari hewani dimana hati merupakan sumber yang paling banyak
mengandung Fe (antara 6,0 mg sampai dengan 14,0 mg). Sumber lain juga
berasal dari tumbuh-tumbuhan tetapi kecil kandunganya sehingga bisa
diabaikan (Gibson, 2005). Zat besi didalam makanan berbentuk hem yaitu
berikatan dengan protein atau dalam bentuk nonhem yang berbentuk
senyawa besi inorganik yang komplek. Zat besi hem lebih banyak diabsorbsi
dibanding dengan zat besi nonhem. Sumber zat besi hem adalah hati, ginjal,
daging, ayam, ikan dimana dalam usus diserap 15-35%. Sumber nonhem
umumnya terdapat dalam makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan dan
serelia, sedikit dalam daging, ikan, telur (Burgess, 1993).
5. Faktor lain yang diperhatikan adalah faktor yang mempengaruhi
penyerapan dari Fe, atara lain macam bahan itu sendiri. Yang berasal dari
hewani 7-22% dan dari tumbuh-tumbuhan 1-6%. Yang mempermudah
absorbsi besi nonhem adalah Vitamin C (buahbuahan yang mengandung
asam citrid dan sayuran seperti tomat dll), makanan yang mengandung zat
besi hem dan makanan yang telah difermentasi.Sedangkan makan yang
menghambat absorbsi besi adalah makanan yang mengandung tannin,
phytat, fosfat, kalsium dan serat dalam bahan makanan (Henrietta, 1982;
18

Burgess 1993). Konsumsi teh dan kopi satu jam setelah makan akan
menurunkan absorbsi dari zat besi sampai 40% untuk kopi dan 85% untuk
teh, karena terdapat zat polyphenol seperti tannin yang terdapat dalam teh
(Bothwell, 1992). Pada penelitian yang dilakukan olah Muhilal dan
Sulaeman (2004), didapat absorbsi zat besi besi turun sampai 2% oleh
karena konsumsi teh, sedangkan absorbsi tanpa konsumsi the hanya
diabsorbsi sekitar 12%. Entimilasi dari kebutuhan makan yang mengandung
metode estimasi food frekuensi bagaimana frekuensi makan itu dikonsumsi
dalam satu periode waktu. Food frekuensi menggunakan design kuisioner
atau interview (Wahlqvist, 1997). Angka kecukupan gizi (AKG) adalah
suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi hampir semua orang
menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas tubuh
untuk mencegah terjadinya defisiensi gizi. Kegunaan AKG antara lain :
a. Untuk menilai kecukupan gizi yang telah dicapai
b. Untuk perhiyunhaan pemberian makanan tambahan
c. Untuk perencanaan penyediaan pangan tingkat regional atau nasional
d. Untuk standar label gizi makan yang dikemas
e. Untuk bahan pendidikan gizi terutama yang terkait dengan kebutuhan
kelompok umur dan kegiatan.

2.1.4. Efek Kekurangan Kadar Hemoglobin
Kadar hemoglobin dalam tubuh harus pada nilai yang normal.Apabila kadar
hemoglobin di bawah normal akan terjadi hal-hal sebagai berikut :
19

1. Sering pusing
Hal ini disebabkan otak sering mengalami periode kekurangan pasokan O2
yang di bawa hemoglobin terutama saat tubuh memerlukan tenaga yang
banyak.
2. Mata berkunang-kunang
Kurangnya O2 otak akan mengganggu pengaturan saraf-saraf pusat mata.
3. Pingsan
Kekurangan O2 dalam otak yang bersifat ekstrim/mendadak dalam jumlah
besar akan menyebabkan pingsan.
4. Nafas cepat
Jika Hemoglobin kurang, untuk memenuhi kebutuhan O2 maka
kompensasinya menaikkan frekwensi nafas.Orang awam menggambarkan
ini dengan sesak nafas.
5. Jantung berdebar
Untuk menculupi kebutuhan O2 maka jantung harus memompa lebih sering
agar darah yang mengalir di paruparu lebih cepat mengikat O2.
6. Pucat
Hemoglobin adalah zat yang zat yang mewarnai darah menjadi merah maka
kekurangan yang ekstrim akan menyebabkan pucat pada tubuh. Untuk
mengetahui secara pasti tentunya harus dengan pemeriksaan kadar
Hemoglobin secara laboratorik. Kadar hemoglobin adalah salah satu
pengukuran tertua dalam laboratorium kedokteran dan tes darah yang paling
sering dilakukan (Isbister dkk., 1999).
20


2.1.5. Interprestasi Gejala Dalam Hubungannya Dengan Kadar hemoglobin
1. Hemoglobin
Respon tubuh bila terjadi kekurangan hemoglobin beraneka ragam
tergantung tingkat keparahanya. Berikut merupakan gejala yang timbul bila
seseorang kekurangan hemoglobin
a. Hemoglobin >10 gram % : Gejala terjadi jika system transpor
O2mengalami stres karena meningkatnya permintaan O2 (misalnya :
latihan, demam) atau karena berkurangnya oksigenasi darah (misalnya :
gangguan paru-paru, tempat tinggi, merokok, pajanan terhadap karbon
monoksida).
b. Hemoglobin 8 – 10 gram % : Gejala meningkatnya curah jantung pada
saat istirahat dapat diperhatikan (misalnya : berdebar-debar) terutama
dalam pasien tua, tetapi sebagai aturan umum gejala tidak berat.
c. Hemoglobin < 8 gram % : Meningkatnya gejala-gejala pada saat
istirahat, tergantung pada cadangan kardiorespiratorius (Isbisterdkk.,
1999).
2.1.6. Penetapan Kadar Hemoglobin.
Kadar hemoglobin darah ditentukan dengan bermacam-macam cara antara
lain: cyanmethemoglobin, sahli, talquist ,dan hemometer digital.
1. Cara Fotoelektrik: Cyanmethemogobin.
Hemoglobin darah diubah menjadi Cyanmethemogobin(hemoglobinsianida)
dalam larutan yang berisi kaliumsianida. Absorbansi larutan diukur pada
21

gelombang 540 nm atau filter hijau. Larutan Drabkin yang dipakai pada cara
ini mengubah hemoglobin, oksihemoglobin, methemoglobin dan
karboksihemoglobin menjadi Cyanmethemogobin. Sulfhemoglobin tidak
berubah dan karena itu tidak ikut diukur (Gandasoebrata, 2001). Caranya
adalah :
a. Ke dalam tabung kolorimeter dimasukkan 5,0 ml larutan Drabkin.
b. Dengan pipet hemoglobin diambil 20 μl darah (kapiler, EDTA atau
oxalat); sebelah luar ujung pipet dibersihkan, lalu darah itu dimasukkan
ke dalam tabung kolorimeter dengan membilasnya beberapa kali.
Campurlah isi tabung dengan membalikkannya beberapa kali. Tindakan
ini juga akan menyelenggarakan perubahan hemoglobin menjadi
sianmethemoglobin.
c. Bacalah dalam spektrofotometer pada gelombang 540 nm; sebagai
blanko digunakan larutan Drabkin.
d. Kadar hemoglobin ditentukan dari perbandingan absorbasinya dengan
absorbansi standard sianmethemoglobin atau dibaca dari kurve tera.
Cara ini sangat bagus untuk laboratorium rutin dan sangat
dianjurkan untuk penerapan kadar hemoglobin dengan teliti karena standard
cyanmethemoglobin yang ditanggung kadarnya bersifat stabil dan dapat
dibeli. Kesalahan cara ini dapat mencapai ± 2 %.
Larutan Drabkin: natrium bikarbonat 1 g; kalium sianida 50 mg;
kaliumferrisianida 200 mg; aqua dest ad 1000 ml. Adakalanya ditambahkan
sedikit detergent kepada larutan Drabkin ini supaya perubahan menjadi
22

sianmethemoglobin berlangsung lebih sempurna dalam waktu singkat.
Simpan reagens ini dalam botol coklat dan perbaruilah tiap bulan. Meskipun
larutan Drabkin berisi sianida, tetapi ia tidak dianggap racun dalam
pengertian sehari-hari karena jumlah sianida itu sangat kecil.
Kekeruhan dalam suatu sampel darah mengganggu pembacaan
dalam fotokolorimeter dan menghasilkan absorbansi dan kadar hemoglobin
yang lebih tinggi dari sebenarnya. Kekeruhan semacam ini dapat disebabkan
antara lain oleh leukositosis, lipemia dan adanya globulin abnormal seperti
pada macroglobulinemia.
Laporan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin dengan memakai
cara cyanmethemoglobin dan spektrofotometer hanya boleh menyebut satu
angka (digit) di belakang tanda desimal; melaporkan dua digit sesudah
angka desimal melampaui ketelitian dan ketepatan yang dapat dicapai
dengan metode ini. Variasi-variasi fisiologis juga menyebabkan digit kedua
di belakang tanda desimal menjadi tanpa makna.
2. Cara Sahli
Pada cara ini hemoglobin diubah menjadi hematin asam, kemudian warna
yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standard dalam alat itu
(Gandasoebrata, 2001). Caranya adalah :
a. Memasukkan kira-kira 5 tetes HCl 0,1 n ke dalam tabung pengencer
hemometer.
b. Isaplah darah (kapiler, EDTA, atau oxalat) dengan pipet hemoglobin
sampai garis tanda 20 μl
23

c. Menghapuslah darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet.
d. Mencatat waktunya dan segeralah alirkan darah dari pipet ke dalam
dasar tabung pengencer yang berisi HCl itu. Hati-hati jangan sampai
terjadi gelembung udara.
e. Mengangkat pipet itu sedikit, lalu isap asam HCl yang jernih itu ke
dalam pipet 2 atau 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tinggal
dalam pipet.
f. Mencampurkan isi tabung itu supaya darah dan asam bersenyawa; warna
campuran menjadi coklat tua.
g. Menambahkan air setetes demi setetes, tiap kali diaduk dengan batang
pengaduk yang tersedia. Persamaan warna campuran dan batang
standard harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah saat darah dan
HCl dicampur. Pada usaha mempersamakan warna hendaknya tabung
diputar demikian sehingga garis bagi tidak terlihat.
h. Bacalah kadar hemoglobin dengan gram/100 ml darah.
Cara Sahli ini bukanlah cara yang teliti. Kelemahan metodik
berdasarkan kenyataan bahwa kolorimetri visual tidak teliti, bahwa hematin
asam itu bukan merupakan larutan sejati dan bahwa alat itu tidak dapat
distandardkan.Cara ini juga kurang baik karena tidak semua macam
hemoglobin diubah menjadi hematin asam, umpamanya
karboxyhemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin. Kesalahan yang
biasanya dicapai oleh ± 10 % kadar hemoglobin yang ditentukan dengan
cara Sahli dan cara-cara kolorimetri visual lain hanya patut dilaporkan
24

dengan meloncat-loncat ½ gr%, sehingga laporan menjadi ump, 11,11½, 12,
12½, 13 gr%.
Janganlah melaporkan hasil dengan memakai angka desimal
seperti 8,8; 14; 15,5 gr% ketelitian dan ketepatan cara sahli yang kurang
memadai tidak membolehkan laporan seperti itu.
Hemoglobinometer yang berdasarkan penetapan hematin asam
menurut Sahli dibuat oleh banyak pabrik. Perhatikanlah bahwa bagianbagian
alat yang berasal dari pabrik yang berlainan biasanya tidak dapat saling
dipertukarkan: tabung pengencer berlainan diameter; warna standard
berlainan intensitasnya dll.
Selain cara sahli ada pula cara-cara lain yang berdasarkan
kolorimetri dengan hematin asam; di Indonesia cara sahli masih banyak
digunakan di laboratorium-laboratorium kecil yang tidak mempunyai
fotokolorimeter. Yang banyak dipakai di laboratorium klinik ialah cara-cara
fotoelektrik dan kolorimetrik visual (Gandasoebrata, 2001).
3. Cara Talquist (Oktia, 1999)
Mempunyai kesalahan yang paling besar dibandingkan carapemeriksaan
yang lain dan paling mudah dilakukan.Cara pemeriksaan:
a. Ambil darah dari ujung jari
b. Teteskan pada kertas talquist
c. Cocokan dan baca pada standard yang ada
4. Hemometer Digital (Easy Touch)
Cara kerja hemometer digital:
25

a. Memastikan code card sudah terpasang pada alat hemometer digital.
b. Memasang strip pada ujung alat.
c. Membersihkan ujung jari pada bagian yang akan diambil darahnya.
d. Setelah darah yang keluar pada ujung jari sudah cukup, dekatkan sampel
darah pada ujung jari tersebut ke satu mulut strip supaya diserap
langsung oleh ujung mulut strip.
e. Menunggu hasilnya dan baca kadar Hemoglobinnya.
Kelebihan dari hemometer digital adalah tingkat keakuratannya
lebih valid daripada hemometer sahli, lebih cepat, dan lebih simpel cara
pemeriksaannya. Sedangkan kekurangannya yaitu harga lebih mahal.
Nilai Normal menurut Dacie (1996)
a. dewasa laki-laki : 13,5 - 18,0 gr%
b. dewasa wanita : 11,5 - 16,5 gr%
c. bayi (< 3bln) : 13,6 - 19,6 gr%
d. umur 1 tahun : 11,0 - 13,0 gr%
e. umur 12 tahun : 11,5 - 14,8 gr%

2.2. Masa Remaja (mahasiswa)
2.2.1. Definisi
Mahasiswa adalah individu yang menempuh pendidikan diperguruan
tinggi (Supratman, 2001). Remaja yang duduk di bangku perguruan tinggi berada
26

pada masa remaja akhir, yaitu usia 18-21 tahun. Pada masa, berbagai minat
muncul sebagai perwujudan nilai yang dimiliki oleh remaja.remaja. Masa remaja
berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13
tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria (Rusmini & Siti, 2004). Sedangkan
menurut Darajat (1990), remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak
dan dewasa.
Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa
perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-
anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula
orang dewasa yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003)
bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara
masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan
sosial emosional.
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12
hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga,
yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja
pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir. Masa remaja menjadi empat
bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun,
masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 22 tahun
(Deswita, 2006).
Definisi yang dipaparkan oleh Rusmini & Siti, Darajat, dan Santrock
tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa
27

anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana
pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun
psikologis.
2.2.2. Aktivitas Remaja
Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot
rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada
(kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit
kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global
(WHO, 2010).
2.2.3. Manfaat Aktivitas Fisik terhadap Kesehatan
Aktivitas fisik secara teratur memiliki efek yang menguntungkan terhadap
kesehatan yaitu :
1. Terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, tekanan darah
tinggi, kencing manis, dan lain-lain.
2. Berat badan terkendali
3. Otot lebih lentur dan tulang lebih kuat
4. Bentuk tubuh menjadi ideal dan proporsional
5. Lebih percaya diri
6. Lebih bertenaga dan bugar.



28

2.2.4. Oksigen (O2)
O2 merupakan salah satu kebutuhan vital untuk kehidupan kita.Dengan
mengkonsumsi O2 yang cukup akan membuat organ tubuh berfungsi dengan
optimal. Bagian tubuh yang terbanyak membutuhkan O2 adalah sel-sel tubuh dan
otak.Kita memenuhi kebutuhan O2melalui pernapasan dan air minum. Saya akan
membahas kebutuhan O2 melalui sistem pernapasan.
Fungsi O2 dalam tubuh: sebagai salah satu bahan yang dibutuhkan dalam
proses metabolisme sel yang terdapat di seluruh tubuh. Kalau tidak ada O2, maka
sel tidak dapat menjalankan aktivitas metabolisme, sehingga sel tidak dapat
menghasilkan zat-zat lain yang diperlukan tubuh maka sel akan mati.
Cara mendapatkan O2 : Dari pernafasan, pada saat inspirasi (menarik
nafas). Tuhan sudah menciptakan tubuh kita dengan begitu sempurna. Tubuh kita
di lengkapi dengan paru paru yang berfungsi utk menampung O2 (di alveolus,
seperti kantong-kantong, yang merupakan bagian terkecil dari saluran pernafasan.
Dinding alveolus ini bersentuhan dengan kapiler (pembuluh darah yang terkecil).
Pada saat inspirasi, kita menarik nafas, O2 masuk ke dalam paru sampai ke
alveolus dan O2 akan ditarik oleh hemoglobin yang ada di sel darah merah. jadi
sel darah merah yang ada di kapiler bisa menarik O2 yang ada di alveolus karena
ada hemoglobin. Lalu sel darah merah dengan hemoglobin yang sudah mengikat
O2 di dalamya akan membawa dan mendistribusikan O2 ini ke seluruh sel sel di
dalam tubuh agar bisa dipakai oleh sel tersebut.
Di alveolus terjadi pertukaran : O2 dari alveolus masuk ke dalam kapiler,
karbondioksida dari kapiler di lepas ke alveolus untuk di buang pada saat kita
29

menghembuskan nafas atau eksiprasi. Cara mengukur jumlah O2 yang ada di
dalam tubuh adalah dengan mengukur saturasi O2 di dalam darah, yaitu sekitar 98
-99%. Jika saturasi mencapai 100% maka tubuh akan kehilangan mekanisme
untuk bernafas, karena seolah olah tubuh tidak perlu lagi O2. Jadi nafas akan
cenderung spontan karena tubuh kita perlu O2. Atau karena ada keseimbagan O2
– CO2 dalam tubuh (Asmadi, 2011).
2.2.5. Fungsi oksigen (O2) dalam pembentukan hemoglobin
Pertukaran zat atau proses metabolisme adalah semua rangkaian
reaksireaksi kimia dalam tubuh dengan tujuan untuk menghasilkan energi. Untuk
dapat berlangsungnya proses metabolisme dalam tubuh diperlukan O2 sebagai
bahan bakar yang diperoleh dari proses respirasi.
Hemoglobin merupakan molekul utama yang bertanggung jawab untuk
mengangkut O2 dan karbondioksida dalam darah.Melalui fusi ini O2 dibawa dari
paru-paru diedarkan keseluruh jaringan tubuh yang membutuhkan.Faktor yang
sangat mempengaruhi suplai O2 kepada jaringan tubuh adalah jumlah sel-sel
darah merah dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalamnya.Seseorang yang
menderita anemia defisiensi zat besi, maka jumlah hemoglobin dalam darahnya
lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak anemia.
Dengan demikian orang yang menderita anemia suplai O2 ke dalam
jaringan-jaringan tubuh akan mengalami gangguan karena alat transportasinya
kurang, secara otomatis O2 yang diangkutpun menjadi berkurang. Dengan
berkurangnya O2 yang ada dalam jaringan tubuh maka proses metabolisme akan
terganggu dan tidak dapat optimal. Dengan tidak optimalnya proses metabolisme
30

maka kebutuhan akan energi untuk proses belajar mengalami gangguan. Semakin
tinggi kadar hemoglobin dalam darah, maka semakin banyak pula O2 yang dapat
diangkut ke berbagai jaringan tubuh (Ganong, 2003).
2.2.6. Olahraga
1. Definisi Olahraga
Olahraga merupakan serangkaian gerak raga yang teratur dan
terencana untuk memelihara gerak (mampertahankan hidup) dan
meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup).Olahraga
merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik, artinya olahraga sebagai
alat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial.Struktur
anatomis-anthropometis dan fungsi fisiologinya stabilitas emosionalnya dan
kecerdasan intelektualnya maupun kemampuan bersosialisasi dengan
lingkungan (Giriwijoyo, 2000).
Makna olahraga menurut ensiklopedia Indonesia adalah gerak badan
yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau
rombongan. Aktivitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan aktivitas
khusus seperti berburu atau dalam olahraga pertandingan (athletic games).
UNESCO mendefinisikan olahraga sebagai aktivitas fisik berupa permainan
yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur alam, orang lain, ataupun diri
sendiri.Sedangkan Dewan Eropa merumuskan olahraga sebagai aktivitas
spontan, bebas dan dilaksanakan dalam waktu luang.
Definisi terakhir ini merupakan cikal bakal panji olahraga di dunia
Sport for All dan di Indonesia, memasyarakatkan olahraga dan
31

mengolahragaka masyarakat (Rusli & Sumardianto, 2000). Olahraga
mempunyai tujuan yang berbeda-beda, diantaranya adalah untuk
meningkatkan kesegaran jasmani, berprestasi dan rekreasi. Olahraga futsal
secara teratur dapat meningkatkan kemampuan tubuh dalam memasukan dan
mengeluarkan udara dari paru-paru.volume total darah dan darah menjadi
lancar dalam mengangkut oksigen (Budiwanto, 2008).
2. Manfaat olahraga bagi kesehatan
a. Meningkatkan kerja dan fungsi jantung, paru dan pembuluh darah yang
ditandai dengan :
 Aerobik adalah olahraga yang dilakukan secara terus-menerus dimana
kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh. Misalnya: Jogging,
senam, renang, bersepeda.
 Anaerobik adalah olahraga dimana kebutuhan oksigen tidak dapat
dipenuhi seluruhnya oleh tubuh. Misalnya : Angkat besi, lari sprint
100 M, tenis lapangan, bulu tangkis.
 Denyut nadi istirahat menurun.
 Isi sekuncup bertambah.
 Kapasitas bertambah.
 Penumpukan asam laktat berkurang.
 Meningkatkan pembuluh darah kolateral.
 Meningkatkan HDL Kolesterol.
 Mengurangi aterosklerosis.
b. Meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang yang ditandai pada :
32

 Pada anak : mengoptimalkan pertumbuhan.
 Pada orang dewasa : memperkuat masa tulang,menurunkan nyeri sendi
kronis pada pinggang, punggung dan lutut. Meningkatkan kelenturan
(fleksibilitas) pada tubuh sehingga dapat mengurangi
cedera.Meningkatkan metabolisme tubuh untuk mencegah kegemukan
dan mempertahankan berat badan ideal. Mengurangi resiko terjadinya
berbagai penyakit seperti
Tekanan darah tinggi : mengurangi tekanan sistolik dan diastolik.
Penyakit jantung koroner : menambah HDLkolesterol dan mengurangi
lemak tubuh.
Kencing manis : menambah sensitivitas insulin.Infeksi : meningkatkan
sistem imunitas.
c. Meningkatkan sistem hormonal melalui peningkatan sensitifitas hormon
terhadap jaringan tubuh.
d. Meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit melalui
peningkatan pengaturan kekebalan tubuh.
3. Manfaat Olahraga pada Hemoglobin
Olahraga atau aktivitas fisik manusia sangat mempengaruhi kadar
hemoglobin dalam darah.
Pada individu yang secara rutin berolahraga kadar hemoglobinnya
akan naik. Hal ini disebabkan karena jaringan atau sel akan lebih banyak
membutuhkan O2 ketika melakukan aktivitas (Bahri et al., 2009). Secara
umum olahraga akan mengakibatkan peningkatan metabolisme tubuh
33

terutama pada otot-otot skeletal, peningkatan metabolisme ini bertujuan
meningkatan produksi energi (ATP) untuk memenuhi kebutuhan energi untuk
aktivitas tersebut. Peningkatan metabolisme ini diikuti peningkatan kebutuhan
O2, untuk memenuhi kebutuhan O2 dan pengeluaran CO2
Aktivitas fisik yang terus menerus tersebut akan menimbulkan
keadaan hipoksia pada tubuh, pada level seluler keadaan hipoksia ini akan
memicu faktor transkripsi HIF-1 (hypoxia induced factor-1) yang berperan
dalam adaptasi jaringan terhadap keadaan rendah oksigen, HIF-1 pada
jaringan di ginjal dan hati akan memicu teranskripsi gen eritropoietin sehingga
akan dihasilkan eritropoietin yang akan dilepas ke peredaran darah (Williams,
2007). Teori ini juga didukung oleh penelitian yang memaparkan individu
yang hidup di dataran rendah dengan kondisi rendah oksigen pada dataran
tinggi, kondisi hipoksia yang terus menerus ini didapati meningkatkan kadar
hemoglobin secara signifikan (Calbet, 2002) serta panas diperlukan kerja
terpadu berbagai mekanisme kardiovaskular dan pernafasan. Perubahan
sirkulasi akan meningkatkan aliran darah ke otot, sementara sirkHemoglobin
mempunyai peran yang sangat penting dalam sistem sirkulasi. Fungsi utama
hemoglobin alam tubuh adalah mengangkut oksigen yang akan berdifusi dari
alveoli kedalam darah paru dan kemudian melepaskan oksigen di dalam
kapiler jaringan perifer dan di teruskan menuju sel yang tekanan gas
oksigenya lebih rendah (Guyton & Hall, 1997).
Menurut Pate (2004), salah satu yang mempengaruhi kesegaran
jasmani adalah kapasitas pembawa oksigen. Oksigen dibawa oleh aliran darah
34

ke jaringan sel-sel tubuh, termasuk sel-sel otot jantung. Pengangkutan O2 ini
dimaksudkan untuk menunjang proses metabolisme aerob yang terjadi di
dalam mitokondria dan khususnya beta oksidasi pada metabolisme lemak
selain proses oksidasi pada siklus krebs. Energi yang terjadi akan dipakai
untuk kerja eksternal jantung yang ditandai dengan kontraksi dan relaksasi
jantung. Terdapat hubungan yang erat antara laju konsumsi
oksigemmiokardium dengan kerja yang dihasilkan oleh jantung. Makin kuat
jantung bekerja maka semakin banyak O2 yang dibutuhkan oleh selsel
jantung. Oleh karena hemoglobin memegang peranan penting dalam fungsi
transportasi oksigen dalam darah. Konsentrasi hemoglobin yang rendah dapat
mengurangi angka maksimal pengiriman oksigen ke jaringan, sehingga akan
mengurangi O2 maksimal dan mengganggu kapasitas kesegaran jasmani
(Pate, 2004). Individu yang secara rutin berolahraga kadar hemoglobinnya
akan naik. Hal ini disebabkan karena jaringan atau sel akan lebih banyak
membutuhkan oksigen ketika melakukan aktivitas. Kegiatan fisik yang
meningkat mengakibatkan kebutuhan energi juga meningkat sehingga
dibutuhkan kadar oksigen yang lebih banyak untuk mnghasilkan energi
melalui proses glikolisis atau glikogenolisis secara aerob. dan hemoglobin
memiliki kompensasi dengan peningkatan gr% sehingga kadar hemoglobin
dalam darah juga meningkat (Bahri dkk., 2009).
2.2.7. Perbedaan kadar Hemoglobin Vena dan Kapiler
Kapiler adalah pembuluh darah yang sangat kecil dan di situ arteri berakhir dan
vena mulai. Kapiler membentuk jaringan pembuluh darah dan bercabang-
35

cabang di dalam sebagian besar jaringan tubuh. Oleh sebab itu, darah dalam
kapiler terus – menerus berubah susunan dan warnanya karena terjadinya
pertukaran gas. Sedangkan vena membawa darah ke arah jantung, maka dari itu
darah vena berwarna lebih tua dan agak ungu karena banyak dari oksigennya
sudahdiberikan kepada jaringan.(Evelyn C. Pearce, 2006)
Darah yang lipemik dapat menyebabkan hasil yang lebih tinggi dari
seharusnya.Adanya leukositosis berat ( lebih dari 50.000/ul ) menyebabkan
hasil pengukuran kadar hemoglobin lebih tinggi dari sebenarnya.( Arjatmo
Tjokronegoro, Hendra Utama, 1996 ). Keterkaitan Hemoglobin Vena dan
Kapiler, Kapiler adalah pembuluh darah yang sangat kecil dan disitu arteri
berakhir dan vena mulai. Kapiler membentuk jaringan pembuluh darah dan
bercabang-cabang di dalam sebagian besar jaringan tubuh. Oleh sebab itu,
darah dalam kapiler terus–menerus berubah susunan dan warnanya karena
terjadinya pertukaran gas.Sedangkan vena membawa darah ke arah jantung,
maka dari itu darah vena berwarna lebih tua dan agak ungu karena banyak dari
oksigennya sudah diberikan kepada jaringan.(Evelyn C. Pearce, 2006). Pada
dasarnya darah vena dan kapiler sama, berada dalam satu siklus peredaran
darah yang saling berkaitan dan keduanya dapat digunakan sebagai sampel
pemeriksaan hematologi (khususnya pemeriksan kadar hemoglobin ). Maka
dari itu, peneliti ingin mengetahui apakah perbedaan susunan dan warna yang
terdapat pada darah kapiler maupun vena, berpengaruh terhadap hasil
36

pemeriksaan kadar hemoglobin darah. Berdasarkan pemeriksaan perbedaan kadar
hemoglobin metode cyanmeth antara darah kapiler dan vena pada mahasiswa Analis
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang didapatkan hasil bahwa niai rata-rata
kadar Hb darah kapiler sebesar 13,4 gr/dl dan rata-rata kadar Hb darah vena dalah sebesar
13,9 gr/dl. (Mardhiyanto, 2010)
2.3 Kerangka Teori












Nilai Hb
Tinggi
Nlai Hb
Normal
Nilai Hb
Rendah
Tidak Pernah
Berolahraga
Rutin Melakukan
Olahraga Futsal

Nilai Kadar hemoglobin
Pola makan Merokok Penyakoit Sistemik Olahraga Usia
Perbedaan Nilai kadar Hb
37

2.4.Kerangka konsep
















Rutin melakukan
olahraga futsal
Kadar
hemoglobin
Faktor-faktor yang
mempengaruhi
kadar Hemoglobin:

1. Pola Makan
2. Merokok
3. Usia
4. Penyakit sistemik
5. Olahraga
38

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Desain / Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional yaitu metode studi analitik dengan
menggunakan desain case control study yang mengkaji hubungan antara efek (dapat berupa
penyakit atau kondisi kesehatan) tertentu dengan faktor resiko tertentu. Pada awal studi
dilakukan identifikasi kasus dengan kriteria yang jelas. Sebagai bahan pembanding
(kontrol) diambil subyek dari populasi yang sama yang tidak mempunyai efek yang diteliti.
Pemilihan kontrol dilakukan secara matching (Sastroasmoro, 1995).
Selanjutnya kedua kelompok ditelusuri ke belakang (retrospektif) berdasarkan urutan
waktu untuk mencari perbedaan dalam pengalaman terpajan oleh faktor yang diduga
sebagai penyebab timbulnya efek kadar hb kemudian perbedaan pengalaman kedua
kelompok dibandingkan untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan sebab akibat
(Budiarto, 2004).
Adapun dalam penelitian ini, peneliti membandingkan antara perbedaan kadar Hb
antara mahasiswa yang rutin berolahraga futsal pada Universitas IKIP Mataram FPOK
dengan mahasiswa yang tidak pernah berolahraga pada Universitas IKIP Mataram Fakultas
MIPA.




39

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lapangan futsal Grand Mataram futsal dan Universitas IKIP
Mataram. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan oktober tahun 2013.
3.3. Variabel dan Definisi Operasional
3.3.1. Variabel Penelitian
a. Variable independent (bebas) : Rutin melakukan olahraga futsal dan jarang
melakukan olahraga
b. Variable dependent (terikat) : Kadar Hemoglobin Mahasiswa
3.3.2. Definisi Operasional
a. Olahraga Futsal
Adalah Salah satu aktivitas berolahraga dengan prosedur hampir sama
dengan sepak bola, dimainkan oleh 2 tim, 1 tim terdiri dari 5 pemain.
Alat ukur/ pelaksanaan : Sore dan Malam
Hasil Ukur :
Pukul 14.00- 21.00
Skala : Nominal
b. Kadar Hemoglobin
Adalah merupakan senyawa pembawa O2 pada sel darah merah
yang dapat diukur secara kimia
Alat ukur : Hemometer digital (Easy Touch)
Cara Ukur :
a. Memastikan code card sudah terpasang pada alat hemometer
digital.
40

b. Measang strip pada ujung alat.
c. Membersihkan ujung jari pada bagian yang akan diambil
darahnya.
d. Setelah darah yang keluar pada ujung jari sudah cukup,
dekatkan sampel darah pada ujung jari tersebut ke satu mulut
strip supaya diserap langsung oleh ujung mulut strip.
e. Tunggu hasilnya dan baca kadar Hemoglobinnya.
c. Rutin Berolahraga adalah kegiatan olaharga yang dilakukan oleh seseorang
minimal 6-8 kali dalam sebulan dan dilakukan selama 6 bulan berturut-
turut
d. Jarang berolahraga adalah kegiatan berolahraga yang dilakukan maksimal
2 kali dalam sebulan dan tidak dilakukan selama 3 bulan berturut-turtut

Hasil ukur : Nilai Normal menurut Dacie (1996) dewasa lakilaki : 13,5 -18,0
gr%
Skala : ratio

3.4. Populasi dan Sample
3.3.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2003). Populasi dalam
penelitian ini adalah mahasiswa laki-laki IKIP FPOK angkatan 2009-2012 yang
41

berjumlah 289 orang dan mahasiswa IKIP MIPA angkatan 2009-2012 yang
berjumlah 324 orang.

3.3.2. Sampel
a. Sampel Penelitian
Sampel penelitian terdiri dari kasus dan kontrol dengan perbandingan
jumlah 1:1. Pemilihan sampel dilakukan secara simple random sampling. Pada
cara ini, terlebih dahulu dihitung jumlah populasi yang akan dipilih sampelnya.
Kemudian diambil sebagian secara acak (Sastroasmoro, 1995).
Untuk dapat menentukan jumlah sampel dapat dihitung dengan
menggunakan rumus studi kasus control berpasangan sebagai berikut
(Subagyo,2004) :





n = sampel
zα = tingkat kemaknaan (ditetapkan peneliti)
zβ = power (ditetapkan peneliti)
P = perkiraan proporsi
R = Odds Ratio (OR) (ditetapkan peneliti)
Q = 1-P
n = (zα/2 + zβ PQ)
2

( P – ½)
P = R
1 + R
42

n = (zα/2 + zβ:PQ)2
( P – ½ )
= (1,96/2 + 1,282 : 3/5 x 2/5)2
( 4/5 – ½ )
4)2
1/10
= (0,98 + 0,6)2 10
= 86 orang

b. Kriteria Kasus dan Kontrol
1. Kriteria Kasus
a) Kriteria Inklusi
 Bersedia berpartisipasi dalam penelitian
 Mahasiswa FKIP berjenis kelamin laki-laki.
 Rutin bermain futsal 6-8 kali dalam 1 sebulan.
 Minimal sudah bermain futsal selama 5 bulan
 Mahasiswa yang melakukan futsal pada siang hari..
 Mahasiswa yang berusia 18 sampai 23 tahun.
b) Kriteria Eksklusi
43

 Memiliki riwayat penyakit yang mempengaruhi kadar Hb seperti
thalasemia
 Dalam keadaan tidak bisa diwawancarai
 Mahasiswi IKIP berjenis kelamin perempuan
2. Kriteria Kontrol
a) Kriteria Inklusi
 Bersedia berpartisipasi dalam penelitian
 Mahasiswa IKIP berjenis kelamin laki-laki.
 Bersedia berpartisipasi dalam penelitian
 maksimal 2 kali dalam sebulan dan tidak dilakukan selama 3 bulan
berturut-turtut
 Jarang melakukan olaharaga apa pun dalam waktu 5 bulan
b) Kriteria Eksklusi
 Memiliki riwayat penyakit yang mempengaruhi kadar Hb seperti
thalasemia
 Dalam keadaan tidak bisa diwawancarai
 Mahasiswi IKIP berjenis kelamin perempuan

3.5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data.
Instrumen dalam penelitian ini adalah:
1. Kuesioner
2. Hemometer Digital
44


3.6. Cara Penelitian (Alur Penelitian)
Adapun langkah – langkah penelitian adalah sebagai berikut :
1. Dilakukan pendataan terhadap semua mahasiswa yang melakukan olahraga futsal pada
siang hari dan malam hari dan bersedia untuk mengikuti penelitian ini.
2. Setelah data terkumpul dilakukan pengelompokan peserta yang
3. memenuhi kriteria inklusi kepada kedua kelompok yaitu mahasiswa yang rutin
melakukan olahraga futsal dan mahasiswa yang tidak bberolahraga sama sekali
4. Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan menggunakan easy touch.
5. Kemudiaan dilakukan pengisian check list mengenai karakteristik


45










Matching Individual












Gambar Alur Penelitian
Menentukan Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Permohonan Persetujan
Pengambilan sampel IKIP Mataram

Kontrol ( Mahasiswa yang
Tidak Rutin Berolahraga
Januari-oktober 2013 )
Kasus (Mahasiswa Yang Rutin
berolahraga futsal Januari- oktober 2013)
Pengisian kuesioner
Melakukan Pemeriksaan Nilai Kadar
Hemoglobin
Melakukan Pemeriksaan Nilai Kadar
Hemoglobin
Analisa Korelasi
46


3.7. Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Hasil
3.7.1. Pengumpulan data
a. Data primer
Data primer dikumpulkan dengan cara wawancara langsung dan observasi
kepada responden dengan menggunakan lembar observasi seperti identitas,
alamat, umur, mahasiswa yang dilakukan di FKIP Mataram.
b. Data sekunder didapatkan dari data rekapan mahasiswa di kantor tata usaha FKIP
Mataram seperti identitas, alamat, umur, mahasiswa Pengolahan data
a. Editing
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir atau
checklist apakah jawaban dan skoring yang ada sudah jelas, lengkap, relevan
dan konsisten.
b. Coding
Melakukan pemberian kode-kode tertentu dengan tujuan mempersingkat dan
mempermudah pengolahan data.
c. Entry data
Kegiatan memasukkan data yang telah didapat ke dalam program komputer
yang ditetapkan (SPSS 17).
d. Cleaning data
Melihat kembali data yang telah dimasukkan atau sudah dibersihkan dari
kesalahan, baik dalam pengkodean atau pada entry data.

47

3.7.2. Analisa data
a. Analisa univariat
Analisa univariat dimaksudkan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi
dari tiap variable.

b. Analisa bivariat
Variabel independen dan variabel dependen menggunakan uji statistic Kai
kuadrat (x
2
) dengan derajat kepercayaan 95% (α=0,05). Uji x
2
yang digunakan
adalah uji t-test independen untuk kelompok berpasangan, dimana Uji ini
digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua
kelompok sampel yang tidak berhubungan. Jika ada perbedaan, rata-rata
manakah yang lebih tinggi. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau
rasio.
Untuk analisis pada penelitian ini akan menggunakan program Statistical
Product and Service Solution (SPSS) for Windows versi 17.
Langkah-langkah pada program SPSS
1. Masuk program SPSS
2. Klik variable view pada SPSS data editor
3. Pada kolom Name ketik nilaiujn, dan kolom Name pada baris kedua ketik kelas.
4. Pada kolom Decimals, ubah nilai menjadi 0 untuk semua variabel.
5. Pada kolom Label, untuk kolom pada baris pertama ketik Nilai Ujian, untuk kolom
pada baris kedua ketik Kelas.
48

6. Pada kolom Values, untuk kolom pada baris pertama biarkan kosong (None). Untuk
kolom pada baris kedua klik pada kotak kecil, pada value ketik 1, pada Value Label
ketik kelas A, lalu klik Add. Langkah selanjutnya pada Value ketik 2, pada Value
Label ketik kelas B, lalu klik Add. Kemudian klik OK.
7. Untuk kolom-kolom lainnya boleh dihiraukan (isian default)
8. Buka data view pada SPSS data editor, maka didapat kolom variabel nilaiujn dan
kelas.
9. Ketikkan data sesuai dengan variabelnya (pada variabel kelas ketik dengan angka 1
dan 2 (1 menunjukkan kelas A dan 2 menunjukkan kelas B)
10. Klik Analyze - Compare Means - Independent Sample T Test
11. Klik variabel Nilai Ujian dan masukkan ke kotak Test Variable, kemudian klik
variabel Kelas dan masukkan ke kotak Grouping Variable, kemudia klik Define
Groups, pada Group 1 ketik 1 dan pada Group 2 ketik 2, lalu klik Continue.
12. Klik OK, maka hasil output yang didapat adalah sebagai berikut:


Sebelum dilakukan uji t test sebelumnya dilakukan uji kesamaan varian (homogenitas)
dengan F test (Levene,s Test), artinya jika varian sama maka uji t menggunakan Equal Variance
Assumed (diasumsikan varian sama) dan jika varian berbeda menggunakan Equal Variance Not
Assumed (diasumsikan varian berbeda).

Langkah-langkah uji F sebagai berikut:
1. Menentukan Hipotesis
49

Ho

: Kedua varian adalah sama (varian kelompok rutin olahraga futsal dan jarang olahraga
futsal adalah sama)
Ha : Kedua varian adalah berbeda (varian kadar hemoglobin yang berolahraga futsal rutin
dan kadar hemoglobin yang jarang berolahraga adalah berbeda).
2. Kriteria Pengujian (berdasar probabilitas / signifikansi)
Ho diterima jika P value > 0,05
Ho ditolak jika P value < 0,05
3. Membandingkan probabilitas / signifikansi
Nilai P value (> 0,05) maka Ho diterima.
4. Kesimpulan
Apabila nilai probabilitas (signifikansi) dengan equal variance assumed (diasumsikan
kedua varian sama) adalah < 0,05 maka Ho diterima.
Pengujian independen sample t test
Langkah-langkah pengujian sebagai berikut:
1. Menentukan Hipotesis
2. Menentukan tingkat signifikansi
Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikansi  = 5%.
Tingkat signifikansi dalam hal ini berarti kita mengambil risiko salah dalam mengambil
keputusan untuk menolak hipotesis yang benar sebanyak-banyaknya 5% (signifikansi 5%
atau 0,05 adalah ukuran standar yang sering digunakan dalam penelitian)
3. Menentukan t hitung
Dari tabel di atas didapat nilai t hitung (equal variance assumed)
4. Menentukan t tabel
50

Tabel distribusi t dicari pada  = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df)
dengan rumus n-k=. Dengan pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025) atau dapat dicari di Ms
Excel dengan cara pada cell kosong ketik =tinv lalu enter.
5. Kriteria Pengujian
Ho diterima jika - t tabel < t hitung < t tabel
Ho ditolak jika -t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel
Berdasar probabilitas:
Ho diterima jika P value > 0,05
Ho ditolak jika P value < 0,05
6. Membandingkan t hitung dengan t tabel dan probabilitas
7. Kesimpulan

3.8. Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti memperhatikan masalah etika penelitian. Etika
penelitian meliputi:
a. Informal consent (lembar persetujuan)
Sebelum dilaksanakan penelitian, peneliti memberikan informasi tentang tujuan
dan manfaat penelitian. Sampel penelitian yang setuju berpartisipasi dalam penelitian
dimohon untuk menandatangani lembar persetujuan penelitian yang disertakan dengan
lembar observasi.



51

b. Considentiality (kerahasiaan)
Peneliti menyimpan data penelitian pada dokumen pribadi penelitian dan data-
data penelitian dilaporkan dalam bentuk kelompok bukan sebagai data-data yang
mewakili pribadi sampel penelitian (Sastroasmoro, 1995).