You are on page 1of 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah
masalah besar bagi Negara-negara berkembang. Dinegara miskin sekitar
20-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan
kehamilan. Menurut data statistic yang dikeluarkan WHO sebagai badan
PBB yang menangani masalah bidang kesehatan, tercatat angka kematian
ibu dalam kehamilan dan persalinan di dunia mencapai 515.000 jiwa
setiap tahun (Iskandar, 2008).
Angka kematian ibu di Negara tetangga tahun 2003 tercatat 95 per
100.000 dan Singapura 9 per 100.000 (Siswono, 2003). Sebab pasti belum
diketahui frekuensi kejadian 2 per 1000 kehamilan (Esti, 2009). Penyebab
kematian ibu cukup kompleks, dapat digolongkan atas faktor-faktor
reproduksi, komplikasi obstetrik langsung telah banyak diketahui dan
dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit. Menurut SKT
2001, penyebab obstetric langsung sebesar 90% sebagian besar perdarahan
(28%) dan infeksi (11%) penyebab tidak langsung kematian ibu berupa
kondisi kesehatan yang diderita misalnya kurang energy kronis (37%)
(Inayah, 2008).
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah
perdarahan 40-60%, infeksi 20-30% dan keracunan kehamilan 20-30%
sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat
kehamilan (Inayah, 2008). Hasil Survey Demokrasi Indonesia (SDKI)
tahun 2007 menyatakan bahwa kematian ibu (AKI) di Indonesia mencapai
248 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan di kota Medan jumlah Angka
Kematian Ibu (AKI) diperkirakan 33-/100.000 kelahiran hidup ini
2

menunjukkan angka kematian ibu masih besar jika dibandingkan dengan
angka kematian ibu ditingkat nasional (Menkes, 2007).
Hasil pengumuman data Tingkat Pusat, Subdirektorat kebidanan
dan kandungan Subdirektorat Kesehatan Keluarga dari 325
Kabupaten/Kota menunjukkan bahwa persentase ibu hamil resiko tinggi
dengan Hiperemisis Gravidarum berat yang dirujuk dan mendapatkan
pelayanan kesehatan lebih lanjut sebesar 20,44%. Provinsi dengan
oresentase tertinggi adalah provinsi Sulawesi Tengah (96,53%) dan di
Yogyakarta (76,60%) sedangkan yang terendah adalah provinsi Maluku
Utara (3,66%) dan Sumatera Selatan (3,81%) (Profil Kesehatan Indonesia,
2013).
Mual dan muntah adalah gejala yang wajar dan sering di dapatkan
pada kehamilan trimester I. mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi
dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang
lebih terjadi setelah 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan
berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi
pada 60-80% primigravida dan 40-60% terjadi pada multigravida. Satu
diantara seribu kehamilan gejala-gejala lain menjadi berat (Sarwono,
2005).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang definisi dari Hiperemisis Gravidarum ?
2. Apa saja etiologi dari Hiperemisis Gravidarum ?
3. Bagaimana patologi dari Hiperemisis Gravidarum ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Hiperemisis Gravidarum ?
5. Apa saja tanda dan gejala dari Hiperemisis Gravidarum ?
6. Bagaimana penatalaksanaan dari Hiperemisis Gravidarum ?
7. Bagaimana kompliksai dari Hiperemisis Gravidarum ?



3

C. Tujuan
1. Untuk mengtahui definisi Hiperemisis Gravidarum.
2. Untuk mengetahui etiologi dari Hiperemisis Gravidarum.
3. Untuk mengetahui patologi dari Hiperemisis Gravidarum.
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari Hiperemisis Gravidarum.
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala Hiperemisis Gravidarum.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada Hiperemisis Gravidarum.
7. Untuk mengetahui komplikasi yang ditimbulkan dari Hiperemisis
Gravidarum.

D. Metode Penulisan
Bab I Pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan
metode penulisan.
Bab II Konsep Teori berisi definisi, etiologi, patologi, patofisiologi,
tanda dan gejala, penatalaksanaan dan komplikasi dari Hiperemisis
Gravidarum.
Bab III Asuhan Keperawatan Teori berisi pengkajian, diagnosa
keperawatan dan intervensi teoritis dari Hiperemisis Gravidarum.
Bab IV Kesimpulan berisi kesimpulan dan saran.








4

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi
Wiknjosastro (2005) mengatakan bahwa Hiperemisis gravidarum
adalah mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil, seorang ibu
menderita hiperemisis gravidarum jika seorang ibu memuntahkan segala
yang dimakan dan dimumnya hingga berat badan ibu sangat turun, turgor
kulit kurang diurese kurang dan timbul aseton dalam air kencing.
Hiperemisis Gravidarum juga dapat diartikan keluhan mual muntah
yang dikategorikan berat jika ibu hamil selalu muntah setiap kali minum
ataupun makan. Akibatnya, tubuh sangat lemas, muka pucat, sdan
frekuensi buang air kecil menurun drastis, aktifitas sehari-hari menjadi
terganggu dan keadaan umum menurun. Maski begitu, tidak sedikit ibu
hamil yang masih mengalami mual muntah sampai trimester ketiga
(Cunningham, 2005).
Salah satu masalah yang terjadi pada masa kehamilan, yang bisa
meningkatkan derajat kesakitan adalah terjadinya Gestosis pada masa
kehamilan atau penyakit khas terjadi pada masa kehamilan, dan salah satu
gestosis dalam kehamilan adalah Hiperemisis Gravidarum (Sastrawinata,
2004).

B. Etiologi
Penyebab hiperemisis gravidarum belum diketahui secara pasti.
Tidak ada bukti bahwa penyakit ini belum diketahui secara pasti. Tidak
ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik juga tidak
ditemukan kelainan biokimia, perubahan-perubahan anatomik yang terjadi
pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan
5

vitamin serta zat-zat lain akibat kelemahan tubuh karena tidak makan dan
minum. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan
susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat
inanisi.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :
1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida,
mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada
mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa
faktor hormon memegang penting, karena pada kedua keadaan
tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk kelebihan
(Wiknjosastro, 2005).
2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan
metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak
ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik
(Wiknjosastro, 2005).
3. Alergi. Sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak,
juga disebut sebagai salah satu faktor organik (Wiknjosastro,
2005).
4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit
ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemisis
gravidarum belum diketahui dengan pasti. Rumah tangga yang
retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan
persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat
menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan
muntah sebagai ekspresi tidak sabar terhadap keengganan menjadi
hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup (Wiknjosastro,
2005). Kurangnya penerimaan terhadap kehamilan dinilai memicu
perasaan mual dan muntah ini. Pada waktu hamil muda, kehamilan
dinilai tidak diharapkan, apabila karena kegagalan kontrasepsi
ataupun karena hubungan diluar nikah. Hal ini bisa memicu
6

penolakan ibu terhadap kehamilannya tersebut (Cunningham,
2005).
5. Faktor adaptasi dan hormonal. Pada wanita hamil yang kekurangan
darah lebih sering terjadi hiperemis gravidarum dapat dimasukkan
dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan
anemia. Wanita primigravida dan overdistensi rahim pada hamil
ganda dan hamil mola hidatidosa, jumlah hormon yang dikeluarkan
terlalu tinggi dan menyebabkan terjadinya hiperemisis gravidarum
(Manuaba, 1998). Peningkatan Hormon Estrogen dan Hormon
Chorionic Gonadotropin (HCG). Pada kehamilan dinilai terjadi
perubahan juga pada sistem endrokrinologi, terutama untuk
hormon Estrogen HCG yang dinilai mengalami peningkatan. Pada
kehamilan Mola hidatidosa dan kehamilan Ganda, memang terjadi
pembentukan hormon yang berlebihan.

C. Faktor Resiko
Faktor risiko untuk hiperemesis gravidarum adalah:
a. Kehamilan sebelumnya dengan hiperemesis gravidarum
b. Berat badan tinggi
c. Kehamilan multipel
d. Penyakit trofoblastik
e. Nuliparitas
Merokok berhubungan dengan risiko yang lebih rendah untuk hiperemesis
gravidarum

D. Patologi
Menurut Prawirohadjo (2005), bedah mayat pada mayat wanita yang
meninggal karena hiperemisis gravidarum menunjukkan kelainan-kelainan
pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada
malnutrisi oleh beberapa macam sebab adalah :
7

a. Pada hati tampak degenerasi lemak tanpa nekrosis yang terletak
sentrilobuler, kelainan ini nampaknya tidak menyebabkan kematian
dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus-menerus. Tetapi
separuh penderita yang meninggal karena hiperemisis gravidarum
menunjukkan gambaran mikroskopik hati yang normal.
b. Pada jantung menjadi tampak lebih kecil daripada biasanya dan
beratnya atrofi dan sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang
ditemukan perdarahan sub-endokardital.
c. Di otak dapat ditemukan enselopati Wernicke yaitu dilatasi kapiler dan
perdarahan kecil-kecil di daerah corpora mamilaria vntrikel ketiga dan
keempat.
d. Ginjal tampak pucat dan degerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli
kontorti.

















8

E. WOC





























Faktor Alergi Faktor Predisposisi
Emisis Gravidarum
Komplikasi
Hiperemisis Gravidarum
Faktor
Psikologik
Intake Nutrisi
Menurun
Gg. Nutrisi
Kekurangan
Tubuh
Pengeluaran
Nutrisi
Berlebihan
Kehilangan Cairan Berlebihan
Dehidrasi
CES dan Plasma
Kekurangan
Volume dan
elektrolit
Gg.
Keseimbangan
Cairan dan
Elektrolit
Penurunan
Suhu Tubuh
Alkalosis
Hemokonsentrasi
Metabolisme
Intra sel
Menurun
Otot Lemah
Kelemahan Tubuh
Intleransi
Aktivitas
Aliran Darah
ke Jaringan
Menurun
Perfusi
Jaringan Otak
Penurunan
Kesadaran
Perubahan
Mental
Tachicardi
Gg. Pertukaran Gas
(02 dan CO2)
Peningkatan Estrogen
Penurunan Pengosongan Lambung
Peningkatan Tekanan Gaster
Kesulitan
Bernafas
O2 dalam
darah buruk
Gg. Pola
Nafas Tidak
Efektif
Psikologik
Depresi
Menarik Diri
9

F. Tanda dan Gejala
Batas antara mual dan muntah dalam kehamilan yang masih fisiologik
dengan hiperemisis gravidarum tidak jelas, akan tetapi muntah yang
menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari telah memerlukan
perawatan yang intensif.
Menurut Wiknjosastro (2005), hiperemisis gravidarum berdasarkan berat
ringannya gejala dapat dibagi ke dalam 3 tingkatan.
a. Tingkatan I. Ringan ditandai dengan muntah terus-menerus yang
mempengaruhi keadan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu
makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium. Nadi
meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun,
turgor kulit mengurang, lidah mongering dan mata cekung.
b. Tingkatan II sedang, penderita telihat lebih lemah dan apatis, turgor
kulit lebih mengurang lebih mongering dan tampak kotor, nadi kecil
dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat
badan turun dan mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria
dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan, karena
mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam
kencing.
c. Tingkatan III berat, keadaan umum lebih parah, muntah berhenti,
kesadaran menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat,
suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada
susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke, dengan
gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini adalah
akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B komplek.
Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati.




10

Menurut Ida Bagus Ggde Manuaba (2007) tanda dan gelaja dari
Hiperemisis Gravidarum yaitu :
TINGKAT
GEJALA
KLINIS
GEJALA KLINIS PENATALAKSANAAN
Tingkat
Pertama
 Muntah terus-menerus
sehingga menimbulkan :
- Dehidrasi, turgor
kulit turun
- Nafsu makan
berkurang
- Berat badan turun
- Mata cekung dan
lidah kering
 Epigastriium nyeri karena
asam lambung meningkat
dan terjadi regurgitasi ke
esophagus
 Nadi menibgkat dn tekanan
darah menurun
 Frekuensi nadi sebesar 100
kali/menit
 Tampak lemah dan lemas
 Menyarankan ibu
hamil untuk
mengubah pola
makan menjadi
lebih sering
dengan porsi kecil
 Menganjurkan
untuk makan roti
kering atau
biskuit dan teh
hangat dan
menghindari
makanan
berminyak serta
berbau lemak
 Makanan yang
dianjurkan untuk
diet hiperemisis I,
II, III adalah roti
panggang, biskuit,
crakers, buah
segar dan sari
buah, minuman
botol ringan,
sirup, teh dan
kopi encer

Tingkat
Kedua
 Dehidrasi makin meningkat,
akibatnya :
- Turgor kulit makin
turun
- Lidah kering dan
kotor
- Mata tampak
cekung
 Kardiovaskuler :
- Frekuensi nadi
semakin cepat di
atas 100 kali/menit
- Nadi kecil karena
volume darah
menurun
- Panas badan
meningkat
 Menyarankan ibu
hamil untuk
mengubah pola
makan menjadi
lebih sering
dengan porsi kecil
 Menganjurkan
untuk makan roti
kering atau
biskuit dan teh
hangat dan
menghindari
makanan
berminyak serta
berbau lemak
 Jika dengan cara
penatalaksanaan
11

 Liver fungsinya terganggu,
menimbulkan ikterus yang
khususnya tampak pada
mata
- Fungsi lainnya
terganggu
 Ginjal : dehidrasi
menimbulkan gangguan
fungsi ginjal yang
menyebabkan :
- Oliguria
- Anuria
- Terdapat timbunan
benda keton aseton
yang dapat
diperkirakan dengan
baunya yang khas.
 Berat badan makin turun
 Kadang-kadang muntah
bercampur darah akibat
rupture esophagus dan
pecahnya mukosa lambung
pada sindrom Maltory
Weiss.
pada diatas tidak
ada perbaikan
maka ibu hamil
tersebut diberi
obat penenang
Sedativa yang
sering diberikan
adalah
pohenobarbital,
vitamin yang
dianjurkan yaitu
vitamin B1 dan
B2 yang berfungsi
untuk
mempertahankan
kesehatan syaraf,
jantung, otot serta
meningkatkan
pertumbuhan dan
perbaikan sel
(admin, 2007) dan
B6
berfungsimenurun
kan keluhan atau
gangguan mual
dan muntah bagi
ibu hamil dan
juga membantu
dalam sintesa
lemak untuk
pembentukan sel
darah merah
(admin, 2007)
antihistaminika
juga dianjurkan
pada keadaan
lebih berat
diberikan
antimimetik
seperti disklomin
hidrokhloride,
avomin
(wiknjosastro,
2005)
 Perawatan di
Rumah sakit bila
keadaan semakin
memburuk
Tingkat
Ketiga
 Muntah berhenti atau terjadi
muntah campur darah
 Perawatan di
Rumah sakit bila
12

karena mukosa lambung dan
esophagus robek dan
menimbulkan perdarahan.
 Sindrom Maltory Weiss.
 Keadaan kesadaran makin
menurun hingga mencapai
somnolen atau koma
 Terdapat ensefalopati
Wernicke :
- Nistagmus
- Diplopia
- Gangguan mental
 Kardiovaskuler :
- Nadi kecil, tekanan
darah menurun, dan
temperature
meningkat.
 Gastrointestinal :
- Ikterus semakin
berat
- Terdapat timbunan
aseton yang
semakin tinggi
dengan bau yang
makin tajam
 Ginjal :
- Oligouria semakin
berat dan menjadi
anuria
keadaan semakin
memburuk
 Cairan infus yang
cukup elektrolit,
karbohidrat dan
protein. Bila perlu
ditambahkan
vitamin B
kompleks,
vitamin C, dan
kalium
 Berikan obat-
obatan pada
derajat II
 Terapi psikologis
apabila
penanganan
dengan pemberian
obat dan nutrisi
yang adekuat
tidak memberikan
respon


G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada ibu dengan hiperemis gravidarum dimulai dengan :
a. Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemis gravidarum perlu dilaksanakan
dengan jalan memberikan penerangan tentang kehamilan dan
persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual dan kadang- kadang muntah merupakan gejala
yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah
kehamilan bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari
dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu
bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan
untuk makan roti kering atau biscuit dengan teh.
13

Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya
dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam
keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya
dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan
factor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak
mengandung gula.
b. Obat –obatan
Apabila dengan cara tersebut diatas keluhan dan gejala tidak
mengurang maka diperlukan pengobatan. Sedativa yang sering
diberikan adalah pohenobarbital, vitamin yang dianjurkan yaitu
vitamin B1 dan B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan
syaraf, jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan
sel (admin, 2007) dan B6 berfungsimenurunkan keluhan atau
gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam
sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah (admin, 2007)
antihistaminika juga dianjurkan pada keadaan lebih berat diberikan
antimimetik seperti disklomin hidrokhloride, avomin (wiknjosastro,
2005)
c. Isolasi
Isolasi dilakukan dalam kamar yang tenang cerah dan peredaran
udara yang baik hanya dokter dan perawat yang boleh keluar masuk
kamar sampai muntah berhenti dan pasien mau makan. Catat cairan
yang masuk dan keluar dan tidak diberikan makan dan minum selama
24jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan
berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
d. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat
disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi
pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya
dapat menjadi latar belakang penyakit ini (wiknjosastro, 2005)

14

e. Diet
Ciri khas diet hiperemisis adalah penekanan karbohidrat kompleks
terutama pada pagi hari, serta menghindari makanan yang berlemak
dan gorengan-gorengan untuk menekan rasa mual dan
muntah,sebaiknya diberi jarak dalam pemberian makan dan minum.
Diet dalam hiperemisis bertujuan untuk menggnti persediaan glikogen
tubuh dan mengontrol asidosis secara berangsur memberikan makanan
berenergi dan zat gizi yang cukup (dinar, 2008).
Ada tiga macam diet pada hiperemisis gravidarum, yaitu :
1) Diet hiperemisis 1 diberikan pada hiperemisis tingkat III. Makanan
hanya berupa roti kering dan buah-buahan.
2) Diet hiperemisis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai
gizi tinggi.
3) Diet hiperemisis III diberikan kepada penderita dengan hiperemisis
ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan
bersama makanan.
4) Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemisis I, II, III adalah
roti panggang, biskuit, crakers, buah segar dan sari buah, minuman
botol ringan, sirup, teh dan kopi encer.
5) Diet pada ibu yang mengalami hiperemisis terkadang melihat
kondisi si ibu dan tingkatan hiperemisisnya.

Tabel 1
Komposisi gizi yang dianjurkan pada ibu dengan hiperemisis
Nilai gizi Diet hiperemisis
I
Diet hiperemisis
II
Diet hiperemisis
III
Energi (kkal)
Protein (g)
Lemak (g)
Karbohidrat (g)
Kalsium (mg)
Besi (mg)
Vitamin A (RE)
1100
15
2
259
100
9,5
542
1700
57
33
293
300
17,9
2202
2300
73
59
368
400
24,3
2270
15

Tiamin (mg)
Vitamin C (mg)
Natrium (mg)
0,5
283
-
0,8
199
267
1
199
362

Tabel 2
komposisi bahan makanan atau contoh menu dalam sehari diet
hiperemisis I
Waktu Bahan makanan URT
Pukul 08.00

Pukul 10.00

Pukul 12.00



Pukul 14.00

Pukul 16.00
Pukul 18.00



Pukul 20.00

Roti panggang
Selai
Air jeruk
Gula pasir
Roti panggang
Selai
Papaya
Gula pasir
Air jeruk
Gula pasir
Papaya
Roti panggang
Selai
Pisang
Gula pasir
Air jeruk
Gula pasir
2 iris
1 sdm
1 gls
1 sdm
2 iris
1 sdm
2 ptg sdg
1 sdm
1 gls
1 sdm
1 gls
2 iris
1 sdm
1 bh sdg
1 sdm
1 gls
1 sdm

Tabel 3
Komposisi bahan makanan atau contoh menu dalam sehari diet
hiperemisis II dan III
Pukul Bahan
Makanan
Diet hiperemisis ii
Berat urt
Diet hiperemisis III
Berat URT
Pagi



10.00


Siang


Roti
Telur ayam
Margarine
Selai
Buah
Gula pasir
Biskuit
Beras
Daging
Tahu
2 iris
1 btr
½ sdm
1 sdm
1 ptg sdg papaya
1 sdm
-
1 gls nasi
1 ptg sedang
½ bh bsr
2 iris
1 btr
1 sdm
1 sdm
1 ptg sdg papaya
1 sdm
2 bh
1 ½ gls nasi
1 ptg sdg
1 ptg sdg
16




16.00




Malam





20.00



Sayuran
Buah
Minyak
Buah
Gula pasir
Biskuit
Agar
Susu
Beras
Ayam
Tempe
Sayuran
Buah
Minyak
Roti
Margarine
Selai
Gula pasir
¾ gls
1 ptg sdg papaya
-
1 ptg sdg
1 sdm
2 bh
-
-
1 gls nasi
1 ptg sdg
1 ptg sdg
¾ gls
1 ptg sdg papaya
-
2 iris
½ sdm
1 sdm
1 sdm
¾ gls
1 ptg sdg papaya
½ sdm
1 ptg sdg
2 sdm
2 bh
½ sdm
1 gls
½ gls nasi
1 ptg sdg
2 ptg sdg
¾ gls
1 ptg sdh papaya
½ sdm
2 iris
1 sdm
1 sdm
1 Sdm

H. Komplikasi
Dampak yang ditimbulkan dapat terjadi pada ibu dan janin, seperti
ibu akan kekurangan nutrisi dan cairan sehingga keadaan fisik ibu menjadi
lemah dan lelah dapat pula mengkibatkan gangguan asam basa, pneumini
aspirasi, robekan mukosa pada hubungan gastroesofagi yang menyebabkan
peredaran rupture esophagus, kerusakan hepar dan kerusakan ginjal, ini
akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin
karena nutrisi yang tidak terpenuhi atau tidak sesuai dengan kehamilan,
yang mengakibatkan peredaran darah janji berkurang (setiawan, 2007).
Pada bayi, jika hiperemisis ini terjadi hanya di awal kehamilan tidak
berdampak terlalu serius, tapi jika sepanjang kehamilan si ibu menderita
hiperemisis gravidarum, maka kemungkinan bayinya mengalami BBLR,
IUGR, prematur hingga terjadi abortus (wiknjosastro, 2005)






17

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

A. Pengkajian
1. Identitas
a. Nama Klien
Nama klien, ibu dan ayah perlu ditanyakan agar tidak keliru bila
ada kesamaan dengan klien lain.
b. Umur
Digunakan untuk mengetahui masa reproduksi klien beresiko
tinggi atau tidak. Wanita hamil umumnya tidak boleh kurang dari
16 tahun dan lebih dari 35 tahun.
c. Agama
Untuk memudahkan dalam memberikan nasehat spiritual sesuai
dengan kepercayaan yang dianut.
d. Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien, sehingga dalam
memberikan asuhan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan.
e. Pekerjaan
Untuk mengetahui tingkat ekonomi klien dan pengaruh pekerjaan
terhadap kehamilan klien.
f. Alamat
Untuk memudahkan dimana tempat tinggal klien, sehingga
memudahkan petugas kesehatan dalam melakukan kunjungan
rumah.
Anamnesa
Pada tanggal :
Pukul :

18

2. Alasan kunjungan ini Untuk mengetahui berapa kali ibu memeriksakan
kehamilannRiwayat Kehamilan
a. Riwayat Mesntruasi
Yang perlu ditanyakan adalah :
 Menarche untuk mengetahui keadaan alat kelamin dalam
normal atau tidak
 Siklus menstruasi untuk mengetahui adanya penyakit yang
menyertai.
 Haid terakhir lamanya
 Banyaknya darah yang keluar
 Konsistensinya
 Teratur tidaknya haid yang digunakan untuk membantu
diagnosa lamanya kehamilan dan untuk memperhitungkan
taksiran persalinan.
b. Pergerakan anak
Pada kasus Hyperemesis Gravidarum pergerakan belum dirasakan
karena pada kasus ini terjadi pada trimester I.
c. Tanda- tanda kehamilan
Pada kasus hamil untuk menemukan apakah kehamilan ini
diketahui melalui proses pemeriksaan laboratorium.
d. Keluhan
Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya klien mengeluh mual
dan muntah yang berlebihan sampai mengganggu aktivitas sehari-
hari.
e. Diet / makan
Makan dan jenis makanan pada kasus hyperemesis gravidarum
makanan yang berlemak merangsang mempengaruhi ibu yang
mengakibatkan tidak nafsu makan.
f. Pola eliminasi
Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya pasien BAB
mengalami konstipasi dan BAKnya mengalami oliguri.
19

g. Aktivitas sehari – hari
Pada kasus hyperemesis gravidarum aktivitanya terganggu karena
biasanya badanya terasa lemah.
h. Imunisasi TT
Untuk mencegah tetatus nenatorum, maka ibu hamil sebaiknya
mendapatkan imunisasi TT2 kali dengan interval 4 minggu dari
TT1.
i. Kontrasepsi yang pernah digunakan
Untuk mengetahui kontrasepsi apa yang pernah digunakan.
3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul
sewaktu hamil dan melahirkan yang ditanyakan berapa kali itu hamil
atau sekarang ini anak yang keberapa.
4. Riwayat Penyakit yang pernah diderita
Karena penyakit yang pernah diderita dapat timbul kembali karena
keadaan ibu yang lemah pada waktu kehamilan atau setelah
melahirkan nanti. Pertanyaan yang diajukan nanti adalah apakah
pernah menderita penyakit hepatitis yang bisa menurun pada bayi
melalui trans plasenta, penyakit jantung, paru-paru, diabetes mellitus,
gemelli, apakah alergi terhadap makanan dan obat-obatan, apakah
punya kebiasaan merokok dan minum jamu-jamuan.
5. Susunan keluarga yang tinggal dirumah.
Digunakan untuk mengetahui struktur keluarga yang tinggal
serumah, serta berapa besar tanggungan hidup keluarga yang dapat
berpengaruh pada kehamilan. Kepercayaan yang berhubungan dengan
kehamilan, persalinan, nifas untuk mengetahui apakah ibu punya
keyakinan dengan kehamilan, persalinan, nifas atau tidak.
6. Riwayat kesehatan keluarga.
Karena dalam kehamilan daya tahan tubuh ibu menurun bila ada
penyakit yang menular dapat lekas menular kepada ibu dan
mempengaruhi janin ( Prawirohardjo : 2002 : 278 ).
20

7. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum
 Kesadaran : Pada kasus hiperemesis gravidarum
umumnya lemah.Stabil Menurun dari composmentis
sampai koma
 Untuk mengetahui Keadaan emosional yang dialami
oleh ibu
 Tanda-tanda vital
 Tekanan darah : Biasanya pada kasus hiperemesis
gravidarum tekanan darahnya turun.
 Nadi : Biasanya pada kasus hiperemesis
gravidarum denyut nadinya meningkat > 100 x menit
(Prawirohardjo, 2002 : 278).
 Suhu : Biasanya pada kasus hiperemesis
gravidarum suhu tubuhnya meningkat.
 Muka
 Kelopak mata : Cekung
 Konjungtiva : Pucat
 Sklera : Putih
 Cloasma gravidarum : ada atau tidak ada.
 Oedem : ada atau tidak ada
 Hidung
 Polip : ada atau tidak ada
 Pendarahan : ada atau tidak
 Sekret : ada atau tidak ada
 Peradangan : ada atau tidak ada
 Mulut dan gigi
 Caries : ada atau tidak ada
 Gusi : ada pendarahan atau tidak
 Tonsil : ada pembengkakan atau tidak ada
 Telinga
21

 Serumen : ada/ tidak
 Pembesaran kelenjar tiroid : ada/ tidak
 Pembesaran kelenjar limfe : ada/ tidak
 Dada
 Jantung : ictus cordis regular/ tidak
 Paru-paru : ada/ tidak ronchi dan wheezing
 Payudara
 Bentuk : simetris/ tidak
 Kebersihan : bersih/tidak
 Benjolan : ada/ tidak
 Rasa Nyeri : ada/ tidak
 Punggung dan pinggang
 Posisi tulang belakang : lordosis/ tidak
 Pinggang nyeri : ada/ tidak nyeri ketuk
 Ekstermitas atas dan bawah
 Oedema kanan / kiri :ada/ tidak ada
 Kekakuan sendi dan otot :ada/ tidak ada
 Varises kanan/kiri : ada/tidak ada
 Reflek patella : kanan/kiri positif/ negatif
 Abdomen
 Linea : Tidak ada
 Striae : Tidak ada
 Pembesaran : sesuai umur kehamilan atau tidak
 Benjolan : tidak ada
 Konsistensi : lembek
 TFU (Tinggi Fundus Uterus)
 Leopold I
 Pemeriksa menghadap kearah muka ibu hamil
 Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian
dalam fundus
 Konsistensi uterus
22

 Leopold II
 Menentukan batas samping rahim kanan dan
kiri
 Menentukan letak punggung janin
 Leopold III
 Menentukan apa yang terdapat dibagian
terbawah
 Untuk menentukan bagian terbawah janin
apakah bagian tersebut sudah masuk pintu atas
panggul atau belum ( jika belum bagian
terbawah tersebut dapat digoyangkan )
 Leopold IV
 Pemeriksaan menghadap kearah kiri ibu hamil
Seberapa jauh bagian terbawah janin masuk
pintu atas panggul (Mochtar : 2001).
 Fetus DJJ : belum terdengar
 Anogenital
 Vagina : Terdapat tanda chadwick, elastisitas
bertambah, tidak ada pembengkakan kelenjar
bartolini dan skene.
 Anus : Tidak ada haemoroid
8. Interprestasi Data
Diagnosa Dasar Masalah Kebutuhan : G…P…A…
Hiperemesis Gravidarum biasanya terjadi pada kehamilan trimester 1
sehingga ketika dilakukkan pemeriksaan leopold janin masih teraba
balotement dengan keadaan ibu hamil mengalami hiperemesis
gravidarum.
a. Muntah > 10 x dalam 24 jam
b. Mata cekung
c. Bibir kering
d. Berat badan turun
23

e. Tekanan darah sistole 90-130 mmHg, diastole 60-90 mmHg
f. Pernafasan 16-20 x/menit
g. Nadi 60-100 x/menit
h. Suhu 36-37 0C
i. Ibu merasa cemas
j. Konseling lebih lanjut
9. Indentifikasi Diagnosa / Masalah Potensial
Pada langkah ini dapat diidentifikasi diagnosa atau masalah potensial
lain berdasarkan rangkaian masalah atau diagnosa yang sudah
teridentifikasi.
Diagnosa potensial
Pada janin : IUGR, Abortus
Pada ibu : Hyperemesis gravidarum tingkat lebih tinggi
10. Identifikasi Kebutuhan Segera
Dalam teori mengatakan bagi penderita hiperemesis gravidarum
tingkat I tidak diperlukan kolaborasi dengan SpOG (Mochtar, 1998 :
195).
11. Perencanaan Asuhan secara menyeluruh
Periksa kemungkinan lain mual antara lain faktor penyulit dalam
kehamilan dan penyakit yang memerlukan pembedahan seperti
apendisitis atau ileus obstruktif lainnya.
Lakukan pemeriksaan darah :
 Hemoglobin,
 BUN dan serum creatinibe
 Elektrolit
 Gula darah
 Test Fungsi Hepar, Kadar TSH dan tiroksin
Batasi asupan makan makan per oral.
Berikan terapi cairan untuk mengatasi dehidrasi
Lakukan pemberian makanan via NGT – naso gastric tube bila
hiperemesis parah.
24

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi
 Anti alergi (Antihistamin, Dramamin, Avomin dll.)
 Anti emetik (Mediamer B6, Emetrole dll.)
 Vitamin (terutama B kompleks, vitamin C)
12. Pelaksanaan
Memeriksa kemungkinan lain mual antara lain faktor penyulit dalam
kehamilan dan penyakit yang memerlukan pembedahan seperti
apendisitis atau ileus obstruktif lainnya.
Melakukan pemeriksaan darah :
 Hemoglobin,
 BUN dan serum creatinibe
 Elektrolit
 Gula darah
 Test Fungsi Hepar, Kadar TSH dan tiroksin
Membatasi asupan makan makan per oral.
Memberikan terapi cairan untuk mengatasi dehidrasi
Melakukan pemberian makanan via NGT – naso gastric tube bila
hiperemesis parah.
Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi
Anti alergi (Antihistamin, Dramamin, Avomin dll.)
 Anti emetik (Mediamer B6, Emetrole dll.)
 Vitamin (terutama B kompleks, vitamin C)
13. Evaluasi
Ibu bersedia untuk tidak makan-makanan yang berminyak
Ibu bersedia makan sedikit tapi sering
Ibu bersedia banyak minum
Ibu bersedia untuk tidak memakan makanan dan meminum-minuman
yang asam
Ibu tahu dan mengerti tentang keadaan kehamilannya
Ibu telah mendapatkan terapi obat
Ibu bersedia untuk datang pada kunjungan ulang berikutnya
25

B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan mual dan muntah
2. Gangguan perpusi jaringan berhubungan dengan penurunan perfusi
jaringan.
3. Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya edema
pada paru.
4. Hipotermi berhubungan adanya dehidrasi.
5. Gangguan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan mual muntah yang berlebih.

C. Rencana Keperawatan
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN
INTERVENSI RASIONAL
Ganguan keseimbangan
cairan dan elektrolit
kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan
dengan mual/ muntah.
Data obyektif:
HT menurun
Konjungtiva pucat
TD menurun, suhu
meningkat, nadi
meningkat, RR
meningkat.
Tujuan: keseimbangan
cairan dan elektrolit
sesuai dengan
kebutuhan tubuh.
Kriteria hasil:
Turgor kulit kembali
normal dapat balik
kembali dalam dan
delik
Haluaran urin normal
3-5 ml/ jam.
Mukosa mulut:
lembab.
Mandiri:
1. Kaji suhu dan turgor
kulit, membrane
mukosa, tekanan
darah, suhu,
masukan/ haluaran
dan berat jenis urin.
Timbang berat
badan klien dengan
standar.
2. Anjurkan
peningkatan masukan
minuman berkarbonat,
makan 6 kali sehari
dengan jumlah yang
1. Memberikan data
berkenaan dengan
semua
kondisi.peningkatan
kadar hormone
gonadotropin krionik
(HCG), perubahan
metabolisme KH, dan
penurunan mortilitas
gaftrik memperberat
mual dan muntah
pada trimester
pertama.
2. Membantu dalam
mengenyampingkan
26

Mata cekumg.
Turgor kulit: tidak
elastis.
Mukosa mulut kering.
Oliguri
BUN meningkat
Data subjektif:
Haus/ dehidrasi
Turgor kulit: elastis.
BUN normal (of= 10-
25 mg/ 100 ml; of=
8-20 mg/ 100 ml)
TTV:
o TD: N (120/ 180
mmHg)
o T º: 36-37,5 ºC
o RR: 16-20 x/ mnt
o N: 80-100 x/ mnt
o HT: N 37-47

sedikit dan makanan
tinggi KH (mis: pop
corn, roti kering
sebelum bangun tidur).
3. Tentukan adanya/
frekuensi mual
berlebihan atau
menetap muntah.
4. Kaji hal-hal yang
meningkatkan mual
dan muntah.
Misalnya bau-bauan
yang terlalu,
makanan yang
terlalu asin atau
manis.
5. Kaji hal-hal yang
menurunkan mual
dan muntah missal
makanan diberikan
waktu hangat,
suasana yang
menyenangkan.
6. Ajarkan pada ibu
waktu bangun tidur
pagi hari:
Jangan langsung
penyebab lain untuk
mengatasi masalah
dalam
mengidentifikasikan
intervensi.
3. Membantu dalam
menentukan adanya
muntah yang tidak
dapat dikontrol
(hiperemesis
gravidarum) pada
awalnya muntah
dapat mengakibatkan
alkalosis, dehidrasi
dan ketidak
seimbangan
elektrolit. Muntah
yang tidak dapat
diatasi atau yang
berat dapat
menimbulkan
asidosis, memerlukan
intervensi lanjut.
4. Menurunkan faktor
penyebab terjadinya
mual muntah
5. Meningkatkan
kenyamanan dan
27

pergi dari
tempat tidur.
Minum air putih.
7. Libatkan keluarga:
Menghadirkan
suami dan
keluarga
terdekat klien
ketika klien
dirawat
Keluarga/suami
berusaha
meyakinkan
klien bahwa
klien tidak
perlu cemas
menghadapi
kehamilannya.
Kolaborasi:
8. Pantau hasil
pemeriksaan
laboratorium sesuai
indikasi
Elektrolir
selera makan.
6. –
7. Menurunkan rasa
cemas.
8. Indikator dalam
membantu untuk
mengevaluasi
tingkat
ataukebutuhan
hidrasi.
9. Membantu dalam
meminimalkan
mual/ muntah dan
menurunkan
keasaman jambung
muntah yang sering
(hiperemesis
gravidarum)
mengakibatkan
bilirubin dan
mengetahui
frekuensi muntah,
memudahkan kita
melakukan tindakan
tang lebih lanjut.
10. Meningkatkan pada
dehidrasi
28

Ht
BUN
9. Berikan cairan
elektrolit glukosa
atau vitamin secara
parentera/ sesuai
indikasi.
10. Lakukan tes urine.
hipovolemik
menurunkan fungsi
ginjal, meningkatkan
BUN. Membantu
menghentikan atau
mencegah
kemungkinan
hipokalemi yang
berat
Ganguan perfusi jaringan
berhubungan dengan
perfusi jaringan.
Data obyektif:
TD
Data subjektif:
Akral dingin
Kesadaran menurun
Tujuan: menunjukkan
perfusi adekuat.
Kriteria hasil:
TTV stabil:
Kulit hangat dan
kering
Tingkat kesadaran
membaik
(komposmentis).
Haluaran urin normal
2/3 ml/ jam.
Mandiri:
1. Pertahankan tirah
baring, Bantu
dengan aktivitas
perawatan.
2. Pantau TTV.
3. Kaji perubahan pada
sensori, NN ex
kesuraman mental,
agitasi, supor,
koma, delirium.
4. Kaji kulit terhadap
perubahan warna,
suhu, kelembaban.
5. Catat haluaran urin
setiap jam dan
1. Menurunkan beban
kerja miokard dan
konsumsi O
2

memaksimalkan
aktivitas dan perfusi
jaringan.
2. Bila terjadi takikardi,
mengacu pada
stimulasi skunder
system saraf simpatis
untuk menekan
respon untuk
mengganikan
kerusakan pada
hipovolumit.jika
terjadi hipotensi
menunjukkan curah
jantung yang
menurun.
29

setiap menit.
Kolaborasi:
1. Berikan obat-obatan
sesuai petunjuk:
kortisteroid
2. Pantau pemeriksaan
laboratorium
misalnya: GDA,
kadar laktat.
3. Perubahan menunjukan
penyimpangan
perfusi serebral
hipoksenia atau
asidosis.
4. Mekanisme
kompensasi dari
vasodilatasi
mengakibatkan kulit
hangat, merah muda,
kering adalah
karakteristik dari
hiperperfusi.
5. Penurunan haluaran
urin dengan
peningkatan berat
jenis akan
mengindikasikan
penurunan perfusi
ginjal.
1. Meskipun
controversial, steroid
mungkin diberikan
untuk kepentingan
potensial terhadap
penurunan
permeabilitas kapiler,
peningkatan perfusi
ginjal dan
30

pencegahan
pembentukan
mikroemboli.
2. Perkembangfan
asidosis respiratorik/
metabolic
merefleksikan
kehilangan
mekanisme
kompensasai,
misalnya penurunan
perfusi ginjal/
ekskresi hydrogen
dan akumulasi asam
laktat.
Gangguan pola napas
tidak efektif
berhubungan dengan
adanya oedema pada
paru.
Data obyektif:
Takipnea
Dispnea (pernafasan
tersengal-sengal)
Penurunan bunyi nafas
krekels.
Tujuan: pola pernafasan
menjadi efektif.
Kriteria hasil:
Menunjukkan pola
nafas efektif dengan
frekuensi dan
kedalaman dalam
rentang normal dan
pural jelas bersih.
Bunyi nafas:
vasikuler.
RR: reguler, 16-20 x/
Mandiri:
1. Kaji frekuensi,
kedalaman
pernafasan dan
ekspansi dada. Catat
upaya pernafasan,
termasuk
penggunaan otot
bantu/ pelebaran
nasal.
2. Auskultasi bunyi
nafas dan catat
adanya bunyi nafas
1. Kecepatan biasanya
meningkat, disepnea
dan terjadi
peningkatan kerja
nafas.kedalaman
nafas bervariasi
tergantung derajat
gagal nafas ekspansi
dada terbatas yang
berhubungan
atelektuasi dan nyeri
dada pleruitik
2. Bunyi nafas menurun/
tidak ada bila jalan
31

Batuk (sputum)
Data subjektif:
Mengeluh gangguan
pola tidur.
gelisah
menit. adventisius seperti
krekels.
3. Tinggikan kepala dan
bantu pengubahan
posisi.
4. Observasi pola batuk
dan karaktre secret.
5. Dorong/ bantu pasien
dalam nafas dalam
dan latihan batuk.
Kolaborasi:
6. Berikan O
2
tambahan
7. Berikan humidifikasi
tambahan mis:
nebuliser ultra
sonic.
8. Bantu fisioterapi dada
(mis: drainase
portural dan perkusi
area yang tak sakit/
tiupan botol).
nafas obstruksi
sekunder terhadap
perdarahan, bekuan/
kolab jalan nafas
kecil.
3. Duduk tinggi
memungkinkan
ekspansi paru dan
memudahkan
pernafasan.
4. Kongesti alveolar
mengakibatkan batuk
kering/ iritasi. Sputim
berdarah dapat
diakibatkan oleh
kerusakan jaringan
(infak paru) atau anti
koagulan berlebih.
5. Dapat meningkatkan
banyaknya seputum
dimana gangguan
ventilasi dan
ditambah ketidak
nyamanan upaya
bernafas.
6. Memaksimalkan
bernafas dan
menurunkan kerja
32

nafas.
7. Memberikan
kelembaban pada
membrane mukosa
dan membantu
mengencerkan sekret
untuk memudahkan
pembrtsihan.
8. Memudahkan upaya
pernafasan dalam dan
meningkatkan
drainase sekret dari
segmen paru kedalam
bronkus, dimana
dapat lebih
mempercepat
pembuangandengan
batuk/ penghisap.
Ganguan integritas kulit
berhubungan dengan
penurunan turgor kulit.
Data Objektif:
Turgor kulit menurun
Membran mukosa
menurun
Data Subjektif:
Tujuan:
Integritas kulit kembali
normal
Kriteria hasil:
Turgor kulit
meningkat
Membran mukosa
lembab
1. mandikan dengan air
hangat dan sabun
ringan
2. dorong pasien
mengubah posisi
dengan sering
3. anjurkan klien untuk
menghindari kering
kulit apapun,
kecuali dengan ijin
1. mempertahankan
kebersihan tanpa
mengiritasi kulit
2. meningkatkan sirkulasi
dan mencegah tekanan
pada kulit atau
jaringan yang tidak
perlu
3. dapat meningkatkan
33

Mengeluh kulit kering dokter
4. anjurkan
menggunakan
pakaian lembut dan
longgar
iritasi
4. mencegah iritasi dan
terjadinya cidera
dermal.
Ganguan perubahan
nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan
dengan mual muntah
yang berlebihan.
Data obyektif:
Berat badan menurun.
Turgor kulit jelek.
Bising usus menurun.
Membrane mukosa
menurun/ kering.
Data subjektif:
Lelah.
Letih.
Anoreksia.
Mual.
Tujuan:
Berat badan kembali
normal.
Kiteria hasil:
Berat badan kembali
normal/ ideal:
penambahan berat
badan tidak boleh
lebih dari 12 kg
selama kehamilan.
Pasien tidak
mengalami
anoreksia kembali
makan 3x sehari.
Bising usus: normal.
Membrane mukosa
lembab.
Mual hilang.
1. Anjurkan pilihan
tinggi protein zat
besi dan MTC bila
masukan oral
dibatasi.
2. Tingkatkan masukan
sedikitnya 2000
ml/hari jus, sup dan
cairan nutrisi lain.
3. Anjurkan tidur atau
istirahat adekuat.
Kolaborasi:
4. Berikan cairan atau
nutrisi parenteral,
sesuai indikasi.
5. Berikan preparat zat
besi atau vitamin
sesuai indikasi.
6. Bantu penempatan
selang nurogastrik
1. Protein membentuk
peningkatan
pemulihan dan
regenerasi jaringan
baru. Zat besi perlu
untuk sintesis Hb.
Vitamin C
memudahkan untuk
absorbsi zat besi dan
perlu untuk sintesis
dinding sel.
2. Memberikan kalori dan
nutrisi lain untuk
memenuhi kebutuhan
metabulik serta
menggantikan
kebutuhan metabolic
serta menggantikan
kebutuhan cairan,
karena meningkatnya
volume cairan
sirkulasi.
3. Menunjukkan kerja
34

atau Niller-Abbott.
7. Anjurkan klien untuk
mempertahankan
intek cairan dan
nutrisi yang adekuat
dan timbang berat
badan setiap hari.
metabolisme,
memungkinkan
nutrisi dan O
2

digunakan untuk
proses pemulihan.
4. Memungkinkan perlu
untuk mengalami
dehidrasi
menggantikan
kehilangan cairan dan
memberikan nutrisi
yang perlubila
masukan oral
dibatasi.
5. Bermanfaat dalam
memperbaiki anemia
atau defisiensi bila
ada.
6. Mungkin perlu untuk
dikompresi
gastrointestinal, pada
adanya distensi
distensi atau
perifnitis.
7. Untuk mengganti
cairan dan makanan
yang keluar saat
muntah dan
35

memonitor bila
terjadi penurunan
berat badan.
Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan
suplai dan kebutuhan.
Data obyektif:
Nadi lemah
Kelelahan otot
Kehilangan tonus
Data subjektif
Mengeluh lemas
Mengeluh cepat lelah
Tujuannya:
Klien dapat melakukan
aktivitas seperti
biasanya
Kriteria hasil:
Nadi 80 x/mnt
Kekuatan otot dan
tonus kembali
normal
Klien tidak merasa
cepat lelah
1. Evaluasi laporan
kelelahan
2. Anjurkan klien
mengikuti aktivitas
dengan istirahat
yang cukup.
3. Identifikasi faktor
stres yang dapat
memperberat
4. Berikan bantuan
dalam aktivitas
sehari-hari
1. Menentukan derajat
dari efek ketidak
mampuan
2. Menghemat energi dan
menghindari
penggunaan tenaga
terus-menerus untuk
meminimalkan
kelelahan
3. Mungkin mempunyai
efek akumulatif
(sepanjang faktor
psikologis) yang
dapat diturunkan bila
ada masalah
4. Mengubah energi,
memungkinkan
berlanjutnya aktivitas
yang dibutuhkan.





36

FORMAT PENGKAJIAN
DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Tanggal/jam : .................
perawat : .................
Tempat : .................

I. PENGKAJIAN DATA
A. Data Subyektif
1) Identitas
Nama : ................. Nama suami : .................
Umur : ................. Umur : .................
Suku/bangsa : ................. Suku bangsa : .................
Agama : ................. Agama : .................
Pendidikan : ................. Pendidikan :.................
Pekerjaan :................. Pekarjaan : .................
Alamat : .................
2) Keluhan utama
..................
3) Data Keperawatan
a. Haid
Menarche : .................
Lamanya : .................
Siklus : .................
Sifat darah : .................
Banyaknya : .................
Dismenorhea : .................
Keputihan : .................
Amenorhea : .................
Keluhan : .................

37

b. Riwayat kehamilan sekarang
HPHT : .................
HPL : .................
Umur kemilan: .................
Riwayat ANC sejak umur kehamilan : .................
Tempat ANC : .................
Frekuensi ANC :
TRIMESTER FREKUENSI ANC
TM 1
TM 2
TM 3
.................
Belum dikaji
Belum dikaji

Keluhan-keluhan pada trimester :
TRIMESTER KELUHAN
TM 1
TM 2
TM 3
.................
Belum dikaji
Belum dikaji

c. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu
.................

(Berikan Tanda Check Lish J ika J awaban Ya)
4) Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
-Keluhan utama : Ibu mengatakan bahwa ..................
- Riwayat penyakit yang menderita :
Ashma
DM
TBC
Jantung
Sering Makan,Minum
38

Hipertensi
Sakit Kuning (Hepatitis)
Kejang Sampai Keluar Busa (Epilepsi)
Keputihan Gatal – Gatal (PMS)
Penyakit Lain : ......................................
.Pengobatan yang telah didapat : Ibu mengatakan.................
pada trimester pertama.
· Alergi terhadap obat : Ibu mengatakan.................

b. Riwayat kesehatan yang lalu
· Penyakit yang pernah diderita : Ibu mengatakan .................
· Operasi yang pernah dialami : Ibu mengatakan .................

c. Riwayat kesehatan keluarga
· Riwayat Penyakit yang pernah diderita : Ibu mengatakan .................
· Operasi yang pernah dialami : Ibu mengatakan .................
· Keturunan Kembar : Ibu mengatakan .................

5) Riwayat Psiko Sosial Ekonomi
a. Status Perkawinan
· Umur waktu menikah : ................., Usia suami : .................
· Kawin berapa kali : .................
· Lama perkawinan : .................
b. Respon ibu / keluarga terhadap kehamilannya
- Tanggapan ibu terhadap kehamilannya :.................
- Penerimaan ibu terhadap kehamilannya saat ini :.................
- Tanggapan suami / keluarga terhadap kehamilannya :.................
- Rencana menyusui :.................
- Pengambilan keputusan dalam keluarga :................
c. Kebiasaan Hidup
· Merokok dan minuman keras
39

· Minum jamu

d. Kebiasaan sehari – hari
Kebutuhan Sebelum Hamil Saat Hamil
# Pola Makan
Frekuensi
Porsi
Jenis makanan
Makanan
pantang
Keluhan
Merokok
Minuman keras
Minum jamu

.................
.................
.................
.................
.................
.................
.................
.................

.................
.................
.................
.................
.................
.................
.................
.................
# Istirahat
Lama Tidur
Keluhan

................
.................

.................
.................
# Personal
Hygiene
Mandi
Keramas
Sikat Gigi

.................
.................
.................

.................
.................
.................
# Kehidupan
seksual
Frekuensi
Keluhan

.................
.................

.................
.................
# Eliminasi
Frekuensi BAK
Warna
Bau

.................
.................
.................

.................
.................
.................
40

Keluhan
Frekuensi BAB
Warna
Bau
Konsistensi
Keluhan

.................
.................

.................
.................


.................
.................
.................
.................
.................
.................

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : ................. Kesadaran :
.................
b. Tanda-tanda vital:
T: .................mmHg
N: .................x/ menit
S: .................
0
C
R: .................x/menit
c. BB sebelum hamil : ................. kg Sekarang: .................
kg
d. Tinggi badan : ................. cm
e. Lila : ................. cm

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala dan leher
 Rambut :
Warna Hitam
Bersih
Pertumbuhan Baik,
Kulit Kepala Ada Lesi

41

 Wajah :
Oedem
Simetris

 Mata :
Konjungtiva Anemi
Sklera Ikterik
Ada Sekret

 Hidung :
Bersih
Polip
Simetris
Secret

 Mulut :
Bersih
Warna Kemerahan
Siemtris
Gigi Caries
Karang Gigi
Warna Kemerahan
Oedem
Warna Merah
Kelembapan
Simetris
Lesi

 Telinga :
Bersih
Serumen
b. Leher :
Kelenjar thyroid : Pembengkakkan
42

Kelenjar Parotis : Pembengkakan
Bentuk :Simetris
Massa : Ada Massa
Kekakuan :

c. Dada
Auskultasi jantung : .................
Auskultasi paru : .................
Bentuk :.................

d. Payudara
Pembesaran : Ada
Bentuk dan ukuran : Simetris
Warna : Normal
Keadaan putting : Menonjol
Pengeluaran : Tidak ada
Jenis : Tidak ada
Hyeprpigmentasi : Areola
Benjolan : Ada benjolan / massa
Nyeri : Nyeri
KGB Axila : Ada pembesaran

e. Abdomen :
· Hiperpigmentasi : .................
· Bekas luka OP : .................
· Bentuk : .................
· Palpasi Leopold :
- Leopold I : -
- Leopold II : -
- Leopold III : -
- Leopold IV : -
43

· DJJ : -
· TFU : -
· TBJ : -
f. Ekstremitas
Oedema :
Kuku jari : Pucat
Varises : Ada
Reflek patela : +/-
Turgor Kulit : .................
g. Genetalia Eksterna : tidak dilakukan pemeriksaan
h. Pemeriksaan Penunjang : tidak dilakukan pemeriksaan
i. Pemeriksaan Inspekulo : tidak dilakukan pemeriksaan
j. Pemeriksaan Panggul Luar : tidak dilakukan pemeriksaan
II. INTERPRESTASI DATA
Tanggal/jam : .................
1. Diagnosa Keperawatan : Ny.....umur.....tahun G
.....
P
.....
A
....
, umur
kehamilan.... minggu dengan Hiperemesis Gravidarum.
S = Ibu mengatakan .................
O = keadaan umum : ................. kesadaran: .................
VS : T : .................mmHg
N : .................x/ menit
R : ................. x/menit
S : .................
o
C
HPHT : .................
HPL : .................
UK : .................
Palpasi leopold : .................
Turgor Kulit : .................

2. Masalah : Cemas
Dasar =
44

S : ibu mengatakan ..................
O : ibu tampak ..................

III. DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL DAN ANTISIPASI
.................

IV. TINDAKAN SEGERA
.................

V. PERENCANAAN
Tanggal/jam : .................
1. Beritahu ibu bahwa kondisi ibu dan kehamilannya......
2. Observasi KU dan VS......
3. Beritahu ibu tentang cara mengurangi mual muntah .....
4. Beri dukungan dan motivasi pada ibu .....
5. Berikan terapi .....
6. Anjurkan ibu untuk kontro kembali setelah obat habis atau bila
ada keluhan.....

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal / jam : .................
1. Memberitahu ibu bahwa kondisi ibu dan kehamilannya..
2. Mengobservasi KU dan VS.
3. Memberitahu ibu tentang cara mengurangi mual muntah seperti :
· Istirahat yang cukup
· Makan makanan yang tinggi karbohidrat dan protein yang
dapat membantu mengurangi rasa mual ( roti, kentang , biskuit
) dan banyak makan sayur dan buah.
· Makan sedikit – sedikit tapi sering.
· Di pagi hari sewaktu bangu tidur jangan langsung terburu –
buru bangun. Cobalah duduk dahulu dan perlahan – lahan
45

berdiri, bila sangat mual ketika bangun, siapkan snack atau
biscuit di dekat tempat tidur, dan memakannya sebelum berdiri.
· Hindari makanan yang merangsang mual seperti makanan
berbumubu menyengat, asam ,manis, amis dan berminyak.
· Minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi
karena muntah. Hindari minum yang mengandung cafein, teh
dan kopi.
4. Memberi dukungan dan motivasi pada ibu

5. Memberikan terapi:
.................
6. Anjurkan ibu untuk kontrol kembali setelah obat habis atau bila ada
keluhan.

VII. EVALUASI
Tanggal / jam : .................
1. Keadaan umum : ................. kesadaran: .................
VS : T : ................. mmHg N : .................x/menit
R : .................x/menit S : .................
o
C
2. Ibu sudah mengetahui konsdisi ibu dan kehamilannya.
3. Ibu sudah mengerti tentang cara mengurangi mual dan muntah.
4. Ibu sudah tidak cemas lagi setelah mendapatkan pengobatan bahwa mual
muntah saat hamil muda itu sering terjadi pada kehamilan yang
pertama.
5. Ibu sudah diberikan terapi.
6. Ibu bersedia untuk kontrol kembali setelah obat habis atau bila ada
keluhan.



46

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Wiknjosastro (2005) mengatakan bahwa Hiperemisis gravidarum
adalah mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil, seorang ibu
menderita hiperemisis gravidarum jika seorang ibu memuntahkan segala
yang dimakan dan dimumnya hingga berat badan ibu sangat turun, turgor
kulit kurang diurese kurang dan timbul aseton dalam air kencing.
Penyebab hiperemisis gravidarum belum diketahui secara pasti.
Menurut Wiknjosastro (2005), hiperemisis gravidarum berdasarkan berat
ringannya gejala dapat dibagi ke dalam 3 tingkatan yaitu Tingkatan I, II
dan III.

B. Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna maka dari itu kami
ingin meminta kritik dan saran dari pembaca serta dosen pembimbing
agar makalah yang saya buat bisa menjadi sempurna dan jauh lebih baik
dari sebelumnya, serta kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
para pembaca mudah - mudahan bisa menjadikan makalah ini jauh lebih
sempurna dan bermanfaat bagi semuanya.