You are on page 1of 70

―Sangkamadeha‖ Pohon Kehidupan Orang Batak

―Sangkamadeha‖ diartikan sebagai pengekspresian hidup dan kehidupan manusia dalam dunia
nyata dengan segala kebanggaan dirinya.
―sangkamadeha‖ merupakan penggambaran pohon kehidupan pemberian sang pencipta
(Mulajadi Nabolon) kepada manusia.
Sejak muda hingga tua, pohon ini tumbuh tegak lurus dan tajuknya “sundung” (menuju) langit.
Hidup di dunia dalam pertengahan usia adalah perkembangan sangat subur dan optimal, berkaya-
nyata untuk dirinya dan orang lain.
Hasangapon, hagabeon dan hamoraon, adalah gambaran kesuburan yang dinikmati atas karunia
sang khalik,
Biji berkecambah, tumbuh tunas, kemudian mekar. Dahan mengembang ke samping dan ke
segenap penjuru angin, bagaikan tangan-tangan membentang (mandehai). Tumbuh makin
matang (matoras) dan semakin kuat (pangko).
Dalam bahasa Batak, disebut ”torasna jadi pangkona”, diartikan sebagai kedewasaan yang
dibarengi kebiasaan-kebiasaan hidup yang menjadi tabiat. Dalam kiasan (umpasa) Batak disebut
“torasna jadi pangkona, somalna jadi bangkona”.
Menjelang ujur, tajuk semakin tinggi dan tetap menuju ke atas. Di masa tua, upaya pencapaian
“sundung di langit” semakin terarah. Dari sana awalnya datang, di sana juga berakhirnya. Inilah
akhir hidup manusia. Semua menuju ke penciptanya.
Perjalanan kehidupan manusia diakhiri, dan “sundung” ke alam penciptaan. Semua yang
diperoleh di alam nyata, dunia fana, akan ditinggalkan.
Kebanggaan terpuji adalah tabiat yang baik dan benar, sesuai hukum dan adat istiadat. disebut
sebagai “hasangapon”.
Cabang dan ranting yang banyak akan mempengaruhi kerimbunan dedaunan. Akar yang kokoh
dan kerimbunan daun (hatoropon) sebagai gambarannya. Banyaknya populasi, disebut
“hagabeon”.
Buah adalah biji disertai zat bermanfaat untuk pertumbuhan dan stimulant kepada mahluk hidup
untuk menyebarkannya. Ada buah, ada pemanfaat dan ada pertumbuhan. Inilah yang disebut
“hamoraon,
Parjuragatan, mengartikan tempat bergelantungan ke sumber penghidupan. Sumber
penghidupan ada beragam, seperti apa yang diberikan secara langsung (material) dan tidak
langsung (non-material).Pemimpin adalah “parjuragatan”, di mana ditemukan keadilan dan
pencerahan.Dia adalah “urat” (akar) hukum dan keadilan. Orang kaya (namora) adalah
“parjuragatan”. Karena akar, memberi kehidupan material, penyambung hidup.
Kekayaan dengan `banyaknya buah`, bila tidak ada manfaat bagi orang lain, tidak akan ada yang
berperan `menaburnya`.
Dia akan seperti ilalang yang menebar biji oleh tiupan angin karena tidak ada memberi manfaat
dari buahnya bagi mahluk lain.
Kekurangan harta disebut “napogos” (miskin). Bila hartanya hanya cukup untuk bekal satu tahun
disebut “parsaetaon” (pra sejahtera).
Bila sudah bisa menabung untuk cadangan pengembangan disebut “naduma” (sejahtera). Bila
harta sudah menumpuk disebut `paradongan”.
“Namora” adalah sebutan kehormatan untuk yang aktif menolong sesama dengan harta bendanya
sendiri. Jabatan ini, juga disandang dalam “harajaon” yang diartikan sebagai bendahara.
Kepada Raja dan “namora” disebut akar dari hukum dan kehidupan.
 Raja urat ni uhum,
 Namora urat ni hosa,
Bila ada orang yang memiliki banyak harta, tapi tega membiarkan manusia di sekitarnya
kelaparan, dia tidak dapat disebut “namora”, tapi “paradongan” atau “pararta.
Jika seseorang bermohon kepada Yang maha Kuasa “hamoraon”, jabarannya adalah harta benda,
berikut hati yang iklas untuk mau dan mampu melakukan pertolongan kepada sesama manusia.
Ada yang membedakan “hau sangkamadeha” dengan hau parjuragatan dan hau sundung di
langit.
Menurut penjelasan beberapa orang tua dan pandai mengukir (gorga), bahwa penggambarannya
adalah satu, tapi penjelasannya beragam.
Banyak yang memitoskan sebutan itu seperti pohon yang tumbuh di alam penciptaan, sehingga
banyak yang tidak memahami pemaknaan beberapa perkataan itu dalam satu penggambaran.

Pada rumah “gorga” lama, gambaran “hau sangkamadeha” ini selalu dilukiskan dalam dinding
samping agak di depan. Dalam penggambarannya kadang ada yang menyertakan gambar burung
dan ular membelit.
Kayu yang berbuah selalu dihinggapi burung pemakan buah. Ular pun datang ke pohon itu,
untuk memangsa burung (marjuragat). Semua mahluk berhak hidup, seperti manusia diberi
hidup, menjadi bagian dari ekosistem.
Namun, dari semua mahluk yang “marjuragat” dalam pohon hidup, hanya manusia yang
memahami “sundung di langit”.
Ada pemahaman lain yang dijelaskan, bahwa dalam menjalani hidup harus cermat dan teliti
karena banyak musuh yang mengintip.
Sejak pemahaman barat masuk ke batak, dan mereka mengetahui penjelasan dari pohon (hau
sangkamadeha), ada anjuran untuk tidak membuat lukisan itu lagi dalam rumah adat
Batak.Pemahaman itu dianggap sesat. Sehingga, kemudian banyak rumah adat batak dibangun
tidak menggambarkannya lagi. Tapi, diganti dengan gambar orang barat yang membawa hal
baru, yang cenderung menyesatkan budaya batak.
Pemerhati budaya, Baginda Sahat Napitupulu, tinggal di Malaysia, menilai, orang Batak
zaman dulu, cukup genius. Sebab, mereka mampu menggambarkan serta merumuskan tentang
pohon kehidupan.
“Banyak filosopi yang dapat dimaknai dari sangkamadeha yang mengambarkan posisi kita
sebagai orang batak. Apakah terkategori `napogos`, `parsaetaon`, `naduma`, `paradongan` dan
`namora/harajaon`, “ujarnya.
Tapi, kata dia lagi, jika sudah jadi “namora”, jangan lupa membantu orang di sekeliling. Sanak
saudara yang masih butuh bantuan. Kalau bisa, bantuannya jangan hanya dalam bentuk
uang/materi. Melainkan, kemudahan pendidikan dan pengembangan keahlian.
Martua Sidauruk, praktisi hukum dari Jakarta, menyampaikan idenya, untuk melakukan
invetarisasi tentang nilai “habatahon” di bidang hukum.
Alasannya, dia contohkan dalam “hukum kontrak”. Hukum adat Batak, jauh lebih maju dan
bersifat universal dari hukum nasional.
Antara lain, disebutkannya, semua praktisi hukum umumnya mengetahui, hukum kontrak
bersifat universal. Di dalamnya, terkandung satu prinsip, janji lebih kuat daya ikatnya dari
undang-undang.Tapi, kata dia lagi, daya mengikatnya hanya berlaku bagi mereka yang membuat
perjanjian saja. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.Dilanjutkannya, dalam hukum adat batak, ada sebuah umpasa “Togu
urat ni bulu, toguan urat ni padang. Togu na nidok ni uhum, toguan na ni dok ni padan”.
Artinya, kata Martua, ikrar (padan) bagi orang batak, tidak hanya berlaku bagi mereka yang
membuat padan itu saja, tapi secara turun temurun.
Makanya, sebut Martua, kita sering mendengar dan menemukan, adanya pantangan atau tabu
tertentu, serta ikatan tertentu bagi satu marga dengan marga lain. Juga, sesama satu rumpun
marga tertentu untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Bahkan, lanjutnya “pinompar” (keturunan) dari orang yang membuat padan tersebut, hingga hari
ini masih menghormati dan tidak berani melanggar padan itu. Alasannya, antara lain, takut akibat
pelanggaran yang dilakukan.
Dalam hal ini, keistimewaan padan atau janji dari orang Batak bukan hanya bersifat legalistik,
tetapi juga bersifat magis.
Bicara tentang budaya Batak dulu dan sekarang, cenderung diklaim sebagai kekeliruan
(haliluon).
Sejatinya, kebebasan berpikir tanpa terikat satu doktrin, akan menguraikan nilai budaya Batak
secara total, semampunya berdasarkan pemahaman yang utuh tanpa dilatari kepentingan
golongan tertentu.

Dari beberapa sumber
9 Januari 2013 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
Tata Cara Pelaksanaan adat Batak (10)
Tentang pengucapan Umpasa;
a) Kalau kita hendak mengucapkan umpasa terlebih dahulu dikatakan:”Sai dilehon Tuhanta
pardenggan basa i ma di hamu songon nani dokni umpasa on,”
b) Siapa yang layak mengucapakan umpasa Pasu-pasu?
Biasanya dahuu hanya pihak hula-hula yang mengucapkan umpasa pasu-pasu kepada
parboruonnya, orang tua kepada anak-anaknya, abangan kepada adik-adiknya, jadi tidak boleh
pihak boru mengucapkan umpasa pasu-pasu kepada hula-hulanya. Tetapi kalau keadaan sangat
perlu boleh saja asalkan didahului dengan ucapan sbb:”Santabi di hula-hula nami, ndada na
naeng mamasumasu hami rajanami ia hudok pe angka umpasa annon songon tangiang pangidoan
nami doi tu Tuhanta,”.
(artinya: Maaf kan kami Hulahula kami, tidak ada maksud kami untuk mamasu-masu raja kami,
kalaupun ada kata umpasa yang saya tuturkan itu adalh sebagai do’a memohon kepada Tuhan
adanya). Setelah itu diucapakn umpasa tersebut.
Tetapi didalam pangampuan tidak perlu mengatakan sesuatu permohonan maaf untuk
mengucapakna umpasa pasu-pasu seperti:
• Tur-tur ma inna anduhur, tio ninna lote
Angka pasupasumuna i sai unang muba unang mose.“
c) Selayaknya pengucapan umpasa harus teratur .Kalau banyak umpasa yang akan diucapkan,
harus dijaga keterarturan dalam pengutaraannya jangan diucapkanumpasa seperti:
• Andor hadupang togutogu ni lombu;
Sai sarimatua ma hamu sahat tuna mangiringngiring pahompu.
Setelah itu dilanjutkan pula dengan umpasa :
• Giringgiring gostagosta;
Sai tibu ma hamu mangiringngiring jala mangompaompa,
Urutan umpasa dalam pengucapan tidak tepat lagi.Sebaiknya seperti yang tertera dibawah ini:
1-Umpasa untuk harapan agara kokoh dan rukun rumah tangga sbb:
• Bagot na mararirang ditoruna panggongonan,
Badan muna ma na so ra sirang, tondimuna masigonggoman.
2- Umpasa untuk keturunan yang banyak (hagabeon):
• Bintang ma na rumiris tu ombun na sumorop;
Anak pe dihamu sai riris, boru pe antong torop.
3- Umpasa agar mempunyai harta/kekayaan (Maradong):
• Urat ni nangka ma tuurat ni hotang;
Batudia pe hamu malangalangka, ba sai disi ma hamu dapotan.
4- Umpasa agar selalu Tuhan bersama mereka :
• Eme sitambatua parlinggoman ni soorok;
Dilehon Tuhanta ma di hamu tua jala sai hotma hamu diparorot.
5- Umpasa Penutup:
• Sahatsahat ni solu sahat ma tu bontean;
Sahat ma hamu leleng mangolu,
Sahat tu parhorasan dohut tu panggabean.
d- Sering juga diucapkan kepada pihak hulahula kata permintaan:
”Sai manumpak ma tondi muna, manuai sahalamu dihami parboruon muna“.
Kalimat ini dahulu adalah sesuatu permintaan yang sering diajukan kepada pihak hulahula kerna
dahulu ada perumpamman bahwa hulahula adalag tuhan yang nampak. Tetapi sekarang setelah
orang batak sudah mengenal Agama dan Tuhan Yang satu maka kata permintaan tersebut diatas
tidak dipergunakan lagi,tetapi tidak secara keseluruhan dihapus ada sebagian yang ditiadakan
dan diganti sesuai dengan perkembangan orang batak yang sudah mengenal Tuhan,Tuhan sajalah
yang berhak memberi „Tua“. Adapun kata permintaan pada pihak hulahula diucapkan sebagai
berikut:
„ Sai manumpak ma tondimu manuai sahalamu marhite tangiangmuna mangido pasupasu sian
Tuhanta dihami parboruon muna“
e- Jangan terlalu mengotot.
Sewaktu membicarakan mahar/beli (sinamot), parjambaran serta yang berkaitan dengan acara
tersebut sering ada yang terlalu mengotot untuk mempertahankan kehendaknya atau
kebolehannya (nabinotona) atau yang sering dilakukan didaerahnya. Sekarang hal seperti itu
tidak lagi pantas dilakukan. Ini yang perlu diingat:
a- Saling mencintai dan menyayangi yang harus ditonjolkan ini sebagai dasar adat yang baik.
b- Sekerang tidak ada lagi yang menguasai/ mengerti dengan pas mengenai adat secara 100 %,
oleh karenanya alangkah baiknya saling pengertian.
c- Jadi kebiasaan dimana dilaksanakan acara (pesta) dilaksanakan:“ Solup na didapot do,
parsuhathonon.”
f- Haruslah kita ingat pada pesan-pesan”Dalihan Na Tolu” dari orang-orang tua kita yang
terdahulu.yaitu:
a. Hati-hati sesama semarga, “Manat mardongan tubu”
b. Lemah lembut pada pihak boru;”Elek Marboru,” serta
c.. Sujud pada pihak hulahula “Somba marhulahula”
d. Juga harus sopan berbicara, dan jangan terlalu rakus (hisabhu) pada makanan yang disajikan.
Sehubungan dengan pesan dan petuah-petuah dari orang-orang tua dahulu adalah:
1) Pangkuling hasesega, papangan hasisirang.“
2) Ndada ala ni godangna umbahen na didapothon, ndada ala ni otikna umbahen na tininggalhon.
3) Hata mamunjung hata lalaen,hata torop sabungan ni hata.
4) Tuat siputi, nangkok sideak.
5) Ia i na umuli, i ma tapareak’
6) Niarit lili mambahen pambaba
7) Jolo nidilat bibir asa nidok hata.
g-Yang perlu diingat pada penyampaian atau mengucapkan tudutudu ni sipanganon,atau sewaktu
penyampaian( acara) Upa-upa.:
Sewaktu penyampaian Tudutudu ni sipanganon dan upaupa harus dipegang tepi piring (pinggan)
oleh kedua belah pihak baik si pemberi maupun sipenerima
h- Berdoa:
Kalau kita dari pihak hasuhutan (tuan rumah) jangan lupa memulainya dengan berdoa agar hajat
kita terlaksana dengan baik dan diselalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Filsafat Batak disetiap pekerjaan Adat Batak:
1- Filsafat tentang ―Juhut ni boru‖ : Mengikuti adat Batak “Hosa do alini hosa” artinya kalau
kita mengambil yang bernyawa maka kita akan mengembalikan dengan yang bernyawa pula.
Jadi kalau kawin anak kita laki-laki maka dia akan meminang anak perempuan dari marga lain
(kalau menurut hukum diatas maka
akan diganti pula dengan orang) tetapi itu mustahil maka digantilah dengan hewan (Kerbau,
lembu atau kambing dan bagi yang beragama Keristen Babi), jadi hewan itu menjadi ganti
tubuh/daging dari anak perempuan yang kita ambil (lamar).Karena itulah dinamakan “ mangan
juhut ni boru, dan itupula sebabnya siwanita tersebut tidak boleh memakan daging tadi, begitu
juga pihak laki-laki tidak ikut sebagai parjambar.
2- Filsafat tentang “Hagabeon,Hasangapon,Hamoraon”:
Ada tiga nasihat/ pesan yang harus diingat masyarakat Batak, sehubungan dengan
Dalihan Natolu yaitu
I- Manat mardongan tubu: artinya kalau kita ingin dihormati, maka hendaknyalah kita
hati-hati, maksudnya panggillah Bapak (amang) kepada tingkatan Bapak (sai paramaon),
Abang (hahang) kepada tingkat abang (parhahaon), Adik (anggia) kepada tingkat adik (si
paranggion). Jangan selalu memposisikan diri kepada yang tidak patut, meskipun kita
sudah kaya atau berpangkat, seperti dalam suatu acara meskipun kita sebagai haha
partubu kalau masih ada didalam acara itu tingkatan Bapak (Bapak Uda), maka
sepantasnya-lah kita harus mendahulukan beliau untuk berbicara (pajolohon).
II- Somba marhula-hula artinya: kalau kita hendak bahagia atau mempunyai anak cucu
yang banyak dan baik (gabe), maka hormatlah marhula-hula (prinsip ini samapai
sekarang masih tetap dijalankan orang batak). Pada Zaman dahulu orang batak
beranggapan bahwa ditangan Hula-hula itulah hagabean.
III- Elek ma Boru, artinya: kalau mau kaya (mamora), lemah lembutlah pada boru,
maksudnya: Jangan sekali-kali boru (hela) seenaknya saja menyuruh seperti menyuruh
anak-anak atau dipaksa disetiap/ sembarang waktu dan dalam segala hal. Ataupun
dibentak sesuka hati, hal itu tidak diperbolehkan untuk dilakukan. Yang seharusnya
adalah harus kita membujuk dengan kata-kata yang menyejukkan untuk menyuruhnya.
Kalaupun pihak boru menolak karena sesuatu hal dapat diterima akal jangan marah dan
mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Kalu kita elek marboru bagaimanapun pihak
boru tidak akan tega sampai hati menolak kita, dan boru tidak akan membiarkan kita
susah, dan kita sebagai pihak hula-hula selalu diposisikan di tempat yang terhormat.
Inilah yang dinamakan kekayaan yang sebenarnya.
bersambung—11
19 Januari 2011 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
Tata Cara Pelaksanaan adat Batak (9)
Tata cara Berbicara (Ruhut-ruhut ni Pangkataion) :

1- Sebaiknya ditentukan lebih dahulu siapa juru bicara (parhata), agar dapat dia
mengatur waktunya dan dipersiapkan apa yang akan dibicarakannya, karena kesiapan
sangat menentukan kesuksesan pembicaraan. Biasanya parjambaran yang berbicara atas
dasar kesepakatan.
2- Setiap akan berbicara sebaiknya berdiri apabila yang dalam acara tersebut lebih dari 30
orang (torop), dan suaranya seharusnya kuat agar semua dapat mendengar.
3- Sebaiknya bentuk kalaimat yang akan diucapkan sebaiknya dalam ketulusan, wajar dan
dalam suasana kekeluargaan. Jangan ada dalam pembicaraan kita unsur-unsur negatif,
seperti kasar, marah,mengkritik,juga humor ynag dapat menyinggung perasaan.
4- Berbicara jangan terlalu panjang, kata-kata jangan diulang-ulang, tidak terarah,
menjaga waktu.
5- Apabila ada yang mengatakan hal yang tidak benar seharusnya diperbaiki dengan
keramah tamahan dan lembut.
6- Bila mempergunakan Umpama, cukup 1 atau dua umpama, Dan sebaiknya umpama
atau umpasa, diucapakan sesuai dengan aslinya, jangan dirobah .
7- Jangan sampai terjadi, yang pantas berbicara atau yang layak menerima Jambar hata
(Yan pantas berbicara) tidak berbicara. Lebih baik singkat dari pada kurang.
8- Bila kebetulan ada seseorang yang terkemuka hadir dalam acara tersebut (Punguan),
yang terpandang kedudukannya dimasyarakat atau dalam hal kepintaran dan pengalaman
sebaiknya diusahakan agar diberi kesempatan berbicara.
9- Sebelum acara ditutup atau paampuhon tu suhut (Acara ditutup oleh pihak yang
mempunyai hajat (Hasuhutan). Kalau masih ada waktu sebaiknya ditawarkan juga pada
orang yang ingin berbicara..
Yang perlu diperhatikan:

1-Tentang Raja Parhata (Juru bicara):
Dalam semua acara Adat yang besar seperti (marhata sinamot, marunjuk, mangadaton/
mangadati, mangopoi jabu, mamestahon tambak ni ompu) dll, selalu ada juru bicara/
pande hata dari yang punya acara(hasuhutan), rapat yang singkat dengan sabutuhanya
untuk menetapkan siapa diantara mereka yang memimpin acara (raja parhata) dalam
rapat tersebut kurang lebih begini dialoknya:
Protokol pihak punya hajat memulai:
‖ Hamu angka haha doli dohot anggidolinami, ia dihita pomparanni ompu…… nunga
tahasomalhon, molo masa dihita pomparan ni omputa paitonga ulaon songon na taadopi
sadarion, ba hamu hahadoli manang anggidoli ma gabe raja parhata. Nuaengpe, ba
mardos ni tahi ma hamu hahadoli dohot anggidolinami manang na ise bahenon muna na
gabe raja parhata sian hamu. Botima.‖
(artinya: Kalian Haha doli dan Anggi doli kami, kita sudah membiasakan kalau ada pesta,
seperti yang kita hadapi sekarang, maka salah satu dari Haha doli atau Anggi doli yang
menjadi juru bicara/ raja parhata , botima)
Jawaban dari pihak hahadoli:
‖ido tutu anggi doli,toho do na nidokmi, jadi ala hami do na baruon gabe raja parhata di
ulaon muna parpudi, ba ianggo sadarion sian anggi dolita ma na gabe raja parhata,
botima.‖
(artinya: Benar itu Anggi doli apa yang engkau katakan, tetapi karena kami dahulu yang
menjadi raja parhat pada pesta mu, maka sekarang giliran Anggi doli kitalah yang
menjadi raja parhata, botima)
Jawaban dari pihak anggidoli:
‖tutu doi, haha doli na nidok munai. Ba hami pe atong ndada manjua disi, rade do hami
nagabe raja parhata.‖
(artinya: Benar itu Haha doli apa yang kau katakan itu, kamipun tidak menolak untuk
menjadi raja parhata)
(setelah itu menghadaplah dia pada kumpulan saompunya lalu dia mengutarakan
penawaran tersebut) Nunga sude hita mambege hatai.Jadi nuaeng, ba ise ma sian hita na
gabe parhata?.: biasanya yang terpilih adalah yang pandai berbicara )
2- Umpama serta Umpasa.:
Bagi Orang Batak sangatlah penting Umpama dan Umpasa tersebut disetiap acara-acara
adat, terutama sewaktu acara formal dlm permufakatan.(marhata-sidenggandenggan).
Karena didalam pembicaraan tersebut sangatlah diutamakan kasih sayang tanpa
menyinggung perasaan dari pihak manapun karena didalam umpama dan umpasa penuh
dengan unsur-unsur kesopanann dan perumpamaan yang sangat indah dan sangat mudah
dimengerti semua pihak makna yang dikandung perumpamaan dan umpasa tersebut. Dan
meninggalkan kesan bagi yang mendengarnya. Misalnya untuk menasihati seseorang:
„Ua jolo tangkas ma pingkiri hata sidohononmu‖, itu sebenarnya sudah baik tetapi lebih
tepat dn berkesan kalau diucapkan ditambah dengan umpama:―
• Niarit lili bahen pambaba,
• Jolo nidilat bibir asa nidok hata;
Begitu juga kalau menunjukkan kebenaran suatu perbuatan misalnya:‘Ikon patut do
tongtong pasangapon jala oloan hulahula―, dan lebih berkesan kalau dimtambah dengan
umpasa yang telah dibuat oleh orangtua dahuli sebagai berikut:
• Lata pe na lata, duhutduhut do sibutbuton,
• Hata pe nahata, pangidoan ni hulahula do situruton.
Dibawah ini disertakan beberapa contoh-contoh yang berkaitan dengan umpama serta
Umpasa sebagai berikut:
1- mengenai guna Adat dengan Hukum nya:
• Sinuan bulu, sibahen na las,
• Sinuat adat dohot uhum, sibahen na horas;
2- Mengenai kewajiban mengikuti Adat:
• Omputa raja di jolo martungkot sialagurdi,
• Angka nauli tinonahon ni angka omputa parjolo, siihutonon nihita parpudi
3- Maengenai kepatuhan pada Raja dan menghormati Hulahula:
• Barisbaris ni gaja dirura pangaloan,
• Molo marsuru raja daedo so oloan.
• Dijolo raja aipareahan,
• Dipudi sipaimaon
4- Mengenai Janji (padan)
• Habang ambaroba, paihutihut rura,
• Padan naung nidok, ndang jadi mubauba.
5- Mengenai Harta warisan (arta Teantanan):
• Niarit tarugi porapora,
• Molo tinean uli, ingkon teanon do dohot gora.
6- Mengenai Piutang dan Utang:
• Jolo binarbardo sumban, asa binarbar pardingdingan,
• Jolo ginarar do utang, asa tinumggu parsingiran.
• Molo mauas haluang,laho ma tu dangirdangir,
• Molo nunga diudean parutang, ndang margogo be parsingir;
7- Mengenai Rumah tangga:
• Butarbutar mataktak, butarbutar maningkii,
• Molo mate hahana, anggina ma maningkii;
• Ndang boi dua pungga saihot ( maksudnya tidak bisa dikawini dua laki-laki yang satu
bapa satu ibu perempuan sebapa seibu)
• Ansuan sisadasada, pago di panguaan,
• Sisamudar sisamarga, tongka masibuatan.
• Sidangka ni arirang,
• Na so tupa sirang.
8- Mengenai permusuhan:
• Ndang boi bingkas bodil so jolo sampak aek.
( maksudnya: kalau tidak ada sebab)
• Pisang na marsantung ndang tabaon.
(maksudnya: Orang yang telah bersembah/bersujud dan menyerah tidak boleh dibunuh.
Begitujuga halnya marboruboru yang sedang hamil, tidak boleh dibunuh).
9- Mengenai hukum(Uhum):
• Panggu maniktihi, hudali mangula saba;
Molo baoa do magigi (ndiniolina), ba simago ugasanna.
• Sidangka sidangkua, tu dangka ni singgolom,
Na sada gabe dua natolu gabe onom, utang ni sipahilolong.
• Sineat niraut, gambiri tat daonna.
(Maksudnya: kalau ada orang menghina temannya serta ada niat berdamai/minta maaf ,
harus memotong hewan untuk dimakan oleh yang dihina beserta raja dan teman
sekampung.)
• Pat ni lote tu pat ni satua;
Sai mago do pangose, mamora na niuba
• Na tartolon jabu, anak ni manuk daonna.
(maksudanya: tartolon jabu = kesasar dia memilih tempat tidurnya, sehingga pergi
ketempat tiduk adik perempuannya (isteri adiknya) atau ipar (isteri saudara laki dari
isterinya), masalah ini dahulu sering trejadi karena rumah zaman dahulu tidak
mempunyai kamar-kamar. Malahan dalam satu rumah ada samapai 5 rumah tangga
bahkan lebih. Dan Lampu pada malam hari dipadamkan. Jadi jangan sampai terjadi
perkelahian diantara yang bersaudara maka harus mengakui kesalahan (ma na tolon jabu)
dengan memotong hewan (Ayam) untuk dimakan seisi rumah.
• Hinurpas batu, sinigat oma;
Molo ro tuhas, gana ma daonna.
10- Memberi Nasihat :
• Molo litok aek ditoruan, tingkiron ma tu julu.
• Unang songon taganing marguru tu anakna.
• Tiniptip sanggar bahen huruhuruan;
Jolo siningkun marga asa binoto partuturan
(bersambung ….10)
19 Januari 2011 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
Adakah Hubungan Budaya Batak dengan budaya India
??? ..(1)
Pada masa lalu, orang-orang India masuk ke Tanah Batak melalui kota Barus (Baros) dan
Tapanuli Selatan yang pada waktu itu merupakan kota perniagaan yang sangat penting
dalam perdagangan gading badak, gading gajah, kapur barus, kemenyan, emas. Untuk
memperlancar dan mempermudah penyaluran barang-barang dagangan ke luar negeri,
mereka membentuk kongsi perdagangan (Gilde) dan sekaligus mendirikan sebuah
perkampungan di daerah Barus. Orangorang India Selatan ini pada umumnya datang dari
daerah Cola, Pandya, Malayalam. Mereka berasal dari keturunan orang Tamil yang
kemudian hari tinggal menetap di Barus dan Kalasan. Sebagian dari orang-orang India
Tamil ini masuk ke daerah pedalaman Tapanuli dan melakukan kontak dengan penduduk
yang ada di sana. Mungkin karena putus hubungan dengan tanah airnya India, mereka
berasimilasi ke dalam suku bangsa Batak. Dapat dipastikan, bahwa sebagian dari marga
Sembiring adalah keturunan mereka; teristimewa yang namanama marganya
menunjukkan asalnya yaitu: Colia, Pandia, Pelawi, Meliala, Brahmana, dan Keling.
Interaksi yang cukup lama antara orang India dengan orang Batak mengakibatkan
terjadinya percampuran kebiasaan sehingga kebiasaan yang satu saling mempengaruhi
kebiasaan yang lain. Di tanah Batak misalnya akibat pengaruh orang India beberapa
perubahan-perubahan terdapat dalam kehidupan orang Batak seperti:
1. Aksara Batak adalah adaptasi dari tulisan India.Kemungkinan langsung ditiru dari
orang India di Barus,mungkin juga dari aksara Jawa Kuno di Tapanuli Selatan.
Aksara Jawa Kuno sendiri ditiru dari aksara India;
Aksara India Benggala dan India Brahmi (Asoka)

Aksara dari Suku Batak:

Akasara Jawa :

2. Astrologi (perbintangan);
3. Beberapa alat berguna tentang pertanian, pertenunan, kesenian;
4. Permainan catur;
5. Kesusastraan berupa kata-kata atau istilah-istilah Sansekerta (India), dan bahkan
6. Kepercayaan-kepercayaan.
Pengaruh orang India di tanah Batak juga dapat dilihat melalui Candi Portibi yang ada di
Padang Lawas (Tapanuli Selatan) sebagai salah satu saksi sejarah bekas peninggalan
orang India (Hindu) di Tanah Batak. Di samping itu, pengaruh orang India juga telah
sampai ke Balige (Toba-Samosir). Kata ‗Balige‘ berasal dari perkataan ‗Baligeraja‘ yang
berasal dari kata dalam bahasa India ‗Mahligairaja‘. Di pedalaman kota Balige tepatnya
di desa Sibodiala masih terdapat bekas
tiang-tiang dari batu yang oleh penduduk dinamai ‗Sombaon Sibasiha‘ (Keramat Tiang),
yang merupakan bekas tiang-tiang candi Mahligairaja yang beralih menjadi ‗Balige raja‘
lalu menjadi ‗Balige‘.
Kuatnya pengaruh India di tanah Batak sampai membuat orang Batak kabur di dalam
membedakan mana kebudayaan orang Batak asli dan mana yang diserap dari orang India.
Memang, masuknya orang India ke tanah Batak tidak menggantikan agama Batak
animisme (Batak Parmalim) menjadi agama Hindu. Tetapi banyak istilah dan tokoh
kepercayaan orang India meresap masuk dan disembah dalam kepercayaan Batak
(bahkan sampai sekarang). Misalnya dewa Batara Guru, dewa Soripada (jadi Balasori),
dewa Mangalabulan, dewa Naga (jadi Nagapadoha), dewa Pani (ingat: Pane na Bolon), dan
lain-lain yang merupakan tokoh dewa-dewa orang India yang meresap ke dalam
kepercayaan orang Batak.
Sebutan Debata sebenarnya berasal dari kata Sansekerta (India) yaitu ‗Dewata‘ yang
berarti ‗dewa‘ (= jamak). Lebih jelasnya baca buku karangan N. Siahaan, B.A. yang
berjudul Sejarah Kebudayaan Batak (Terlampir sebagian dari Buku dimaksud di hal. 31).
Kata atau istilah Debata berasal dari bahasa Sansekerta (India) yang mengalami
penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek Batak tidak mengenal huruf c, y,dan w
sehingga dewata berubah menjadi Debata atau nama Charles dipanggil Sarles, hancit
(sakit) dipanggil menjadi hansit.
Setiap kata atau istilah Sansekerta yang memiliki huruf w, kalau masuk ke dalam Bahasa
Batak akan diganti menjadi huruf b,atau huruf yang lain.
Istilah-istilah Sansekerta yang diserap dalam bahasa Batak:

*Perhatikan huruf yang dicetak tebal
Dari contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa huruf w dalam bahasa Sansekerta (India)
kalau diserap ke dalam bahasa Batak akan berganti menjadi huruf b atau huruf-huruf
lainnya, karena faktor pengucapan (lafal). Ini menjelaskan bahwa kata ‗Dewata‘ dalam
bahasa Sansekerta setelah diserap ke dalam bahasa Batak berganti menjadi Debata.
Dewata inilah yang mem-‗bunglon‘ ke dalam bahasa Simalungun menjadi ‗Naibata‘ dan di
daerah Karo menjadi ‗Dibata‘ yang artinya tetap sama = ‗dewa‘.
Bersambung…..
12 Desember 2010 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
TATA CARA PELAKSANAAN ADAT BATAK (2)
Pendahuluan
Harian Kompas pada tanggal 19 Oktober 2000 dengan tulisan seorang warga negara dari
salah satu tetangga dekat Sumatera bernama Prof.Bilver Sing yang menetap di Australia
sebagai staff Pusat studi Pertahanan dan strategi di Australia National University
mengatakan dengan tegas “bahwa ditinjau dari segi Politik, Hukum, Sosial dan Ekonomi
dan Budaya sebenarnya negara Indonesia sudah hancur!”
Sungguh tepat apa yang dikatakan pepatah ―Semut dipelopak mata tak nampak, Gajah
diseberang lautan kelihatan. Apa yang terjadi diluar dari Nusantara sungguh cepat
kelihatan dan diketahui bahkan di adopsi, sedangkan bagaimana dan apa yang terjadi di
sekitar sendiri tidak diperdulikan, apakah baik atau buruk, turun atau naik, hilang atau
berkembang ini tidak menjadi pusat perhatian putra-putra Indonesia yang berpendidikan,
apakah dia jebolan universitas ternama di Indonesia atau produk university-university
made in Amerika, Inggeris , Jerman, atau eropah lainnya. Yang jelas mereka tidak begitu
berminat untuk pembenahan yang nuansa kemasyarakatan atau Budaya Tradisional, pada
umumnya mereka berorientasi pada Kekayaan atau kemewahan.
Alangkah aibnya kita bangsa Indonesia dengan penilaian seorang Ilmuawan Asia, apakah
pernyataan beliau sebagai tegoran kepada rekan-rekannya Ilmuawan atau sekedar
sindiran bagi kaum intelektual Indonesia yang hanya dapat memandang Gajah diseberang
lautan. Namu demikian masih cukup banyak anak bangsa Indonesia menyadari keadaan
yang melanda bangsa ini.
Kalau ditinjau dari pokok penilaian Bilver yaitu ―Politik,Hukum,sosial,ekonomi dan
Budaya‖, tidak lain menunjukkan kebobrokan Moral yang sangat pada Bangsa Indonesia,
yang notabene berlandaskan Pancasila dan asas National spritual, dengan Agama Islam
mayoritas diatas 80 0/0 dari jumlah penduduk Indonesia. Apa yang terjadi sebenarnya
pada bangsa ini. Apakah masih kita tuding dengan Arus Globalisasi, apa dengan seiring
dengan Eforia demokrasi dan reformasi muncul ekses negatif yang menyertainya antara
lain kegiatan melecehkan Pancasila dan UUD 1945 baik berupa tulisan di koran-koran,
maupun di seminar atau ceramah.Kalau itu masalahnya, maka sama dengan mencoba
mengaburkan bahkan menghilangkan Jati diri Bangsa, yang juga merembes kesetiap
sendi-sendi masyarakat Indonesia termasuk pada budaya suku-suku yang begitu banyak
jumlahnya di bumi Nusantara.
Dan yang sangat memprihatinkan terjadinya gentok-gentokan bahkan mengorban-kan
nyawa sesama suku tapi berbeda keyakinan, karena tidak menghayati makna budaya yang
ditanamkam leluhur mereka. Yang sangat menonjol pada suku Batak khususnya dansuku-
suku di sumatera umumnya adalah dapatnya rukun serta toleran dengan menetrapkan
prinsip-prinsip budaya didalam bermasyarakat disetiap suku meskipun berbeda agama.
Masalah yang pokok adalah harus kita menyadari dengan dasar apa terbentuknya
Republik ini, meskipun pada saat pendeklarasian republik ini mayoritas beragama Islam
namun dengan kesadaran yang tinggi para tokoh-tokoh Islam pada saat itu dapat
menerima setiap usul kelompok-kelompok minoritas (Nasrani, maluku, Banten, Batak dan
lain-lainnya). Oleh karena itu budaya pada setiap suku pada negara kita yang plurastik ini
sebenarnya sangat berperan dalam membentuk moral dan kestabilan , disamping faktor-
faktor lain.
Seiring dengan masalah itu, maka penyusun berpendapat perlu disusun kembali pada
sebuah buku sebagai salah satu penuntun mencari dan mengembalikan Jati diri utamanya
bagi suku Batak. Penilaian Bilver terhadap Indonesia, harus dapat menjadi pendorong
pembenahan kembali bangsa ini, sebelum terlanjur Total kehancurannya. Tidak ada
istilah terlambat, itulah prinsip penyusun Buku ini, atau lebih baik terlambat daripada
masa bodoh. Meskipun penyusun tidak dilatar belakangi Ilmu khusus tentang Bataklogi,
namun berlandaskan kesadaran dan keyakinan serta keprihatinan, penyusun mencoba
mebolak balik lembaran-lembaran halaman Buku dari perpustakaan.
Tidak ada maksud penyusun untuk berpretensi menonjolkan diri ataupun pembenaran
mutlak akan isi Buku ini, hanya ingin menggugah para intelektual yang berwawasan luas
tentang ke Batakan mau menyisihkan sebagian waktunya menggali kembali jati diri
bangsa khususnya Intelektual Batak yang cukup berprestasi. Tolong sapa dan ingatkan
penyusun kalau ada kesalah disana sini tetapi jangan saya tegor karena elat dan late , ini
bukan membangun, kalau tidak benar katakan dimana yang tidak benar dan tunjuki
penyusun demi kebaikan bersama kita orang Batak . Tidak ada Gading yang tidak retak,
tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan dan kekhilafan atau dengan kata lai tidak
ada manusia yang sempurna..
Kritik hanya bisa berlaku apabila ada objek yang dikritik. Jadi buku ini terbuka untuk
dikritik demi kesempurnaan dalam rangka menemukan jati diri suku Batak.
Buku ini dimulai dengan sejarah Batak, dan sedikit silsilah Batak hingga empat genarasi,
kemudian kepercayaan nenek moyang Batak, serta beberapa budaya Batak yang boleh
dikatakan menonjol, dan bebarapa tata acara Adat lengkap dengan dialok-dialoknya.
Dalam hal dialok upacara Adat dalam buku ini, tidaklah menjadi keharusan sama dengan
dalam buku ini, namun bisa menjadi pedoman atau gambaran semata,tergantung situasi
dan kondisi upacara diadakan.
Mauliate
Penyusun:
DAFTAR ISI ADAT BATAK

1. Pendahuluan hal -1
2. Daftar isi —————————————————–
3. Bab.I- Sekilas sejarah Suku Batak ———————
Siapakah orang Batak ? ————————————
Sebelas dari sub etnis Batak adalah: hal——————
1. Bab-II-Kepercayaan atau Agama Leluhur Batak —
Legenda Suku Batak ————————————–
Silsilah ——————————————————-
1. Baba.III – Kemelut melanda suku Batak ———–
2. Bab. IV.Kebudayaan Batak – —————————
Adat ———————————————————–
Gondang sabangunan —————————————
Seni tari ——————————————————
Astronomi,Alamanak Pertanggalan ———————-
Nama Bulan
Nama Hari
Pembagian waktu dalam sehari
Mata Angin
Aksara / Alfabet
Seni bangunan
Seni Tenun
Bab. V- Adat Batak –Dalihan Na tolu
1. Kekerabatan/ Partuturan :-38
2. Implementasi (penerapan) Dalihan Na tolu:-45
3. Alaman- 45
4. Sipanganon -46
5. Parhtaan – 48
6. Umpama / umpasa- 48
7. Ulos-49
8. Filsafat tentang mangulosi.-50
9. Makna atau arti Ulos -51
10. Aturan-aturan tentang pemberian ulos – 54
11. Tata cara pemberian ulos -55
12. Pemberian ulos kepada anak yangbaru lahir:-55

1. Ulos pada upacara kematian -58
2. Memberi Ulos Panggabei:-60
3. Beras (sipir Ni tondi) :-60
4. Bab. VI- Tata Cara Adat- 61
5. Tata cara Berbicara (Ruhut-ruhut ni Pangkataion) :-61
6. Yang perlu diperhatikan:-61
7. Tentang pengucapan Umpasa;- 64
8. Filsafat Batak disetiap pekerjaan Adat Batak:-66
9. Tata cara Perkawinan Dengan adapt Batak -67
10. Membagi Tudutudu ni sipanganon:-72
11. Membicarakan Mas Kawin ( Marhata Sinamot):-74
12. Tata cara Marhata sinamot, – 85
13. Manikir Lobu:-88
14. Tonggo raja:-89
15. Panganon sibuahabuhai:-93
16. Pesta unjuk – 94
17. Manulangi- 95
18. Membagi Jambar-96
19. Mangulosi -100
20. Marhata sigabe-gabe- 103
21. Kelahiran/Melahirkan Anak Pertama -106
22. Penabalan Marga pada orang yang bukan orang Batak-115
23. LARI KAWIN-121
Bab I.
Sekila sejarah Suku Batak
Menurut kepercayaan Batak, Pusuk Buhit adalah asal muasal suku Batak, yang kemudian
berpencara kesekitar nya hingga ke Aceh, karena tidak memiliki bukti sejarah secara
ilmiah maka dianggap sebgai suatu mitos yang disampaikan secara turun temurun. Ada
beberapa versi tentang keberadaan suku Batak: menurut
Cunninghamdalam bukunya ―The postwar migration of the toba bataks to east sumatra‖,
mengatakan bahwa perpindahan orang Batak bersamaan dengan gelombang perpindahan
besar-besaran bangsa Melayu Tua pada sekitar tahun 2000 sebelum masehi.
Sedangkan menurut Harahap dalam bukunya “Perihal Bangsa Batak‖ mengatakan bahwa
nenek moyang orang batak berasal dari utara, yang berpindah kekepulauan Filipina dan
berpindah lagi kesulawesiselatan, mereka kemudian berlayar kearah barat versama angin
timur di sumatera selatan, disekitar lampung , setelah menyelusuri pantai barat mereka
mendarat dipelabuhan Barus sekarang, lalu pindah ke pedalaman dan menetap dikaki
gunung Pusuk Buhit ditepi pulau samosir, yang dianggap sebagai tempay asal usul
ketutunan Batak, versi lain dari Harhap juga mengatakan :bahwa nenekmoyangBatak
berasal dari Hindia muka (india), pindah ke Burma, lalu turun ketanah genting kera di
utara Malaysia, dari sana berlayar kearah barat dan mendarat disalah satu atau beberapa
tempat dipantai timur sumatera Utara seperti Tanjung Balai dan Batubara, dikabupaten
Asahan, serta Pangkalan brandan atau Kuala simpang dikabupaten Aceh Timur, dari
tempat-tempat inilah mereka masuk kepedalaman disekitar danau toba, dan ada sebagian
menuju Pelabuhan Deli, lalu menyusuri sungai wampu kearah hulu samapai
kepegunungan Karo, dan dari sana turun kepinggiran Danau Toba . Dan sebagian
berlayar dari Malak menyusuri pantai barat sumatera arah ke utara lalu mendarat di
pantai Barus dan Sibolga serta Tapong kanan singkil di Aceh Barat, terus masuk
kepedalaman kabupaten Dairi, dan perjalanan dilanjutkan hingga Pusuk Buhit lalu
menetap disana.
Namun berdasarkan sejarah yang umun diketahui bahwa si Raja Batak dan
rombongannya datang dari Hindia belakang, akibat imigran besar-besaran akibat gejolak
di India,diimana kerajan dari utara menyerang kerajaan yang ada diselatan India,
kerajaan-kerajaan yang ditundukkan mengungsi kewilayah asia tenggara, terus ke
Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula,
lebih kurang 8 Km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang.Versi lain
mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga
bermukim di pinggir Danau Toba.
Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja
Sisingamangaraja XII salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19
(wafat 1907), maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke-20. Batu bertulis
(prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar
Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari
India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di
Barus. Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah
Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah
timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.
Pengaruh Hindu terhadapa orang Batak sangat jelas kelihatan pada bentuk aksara Batak
yang mirip tulisan Awalokitecwara (seperti aksara Jawa Hindu), dan juga mitos-mitos
orang Batak.
Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan :
 Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur danau Toba
(Simalungun sekarang), dari selatan danau Toba (Portibi) atau dari barat danau
Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang
orang Tamil di Barus.
 Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat
Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah timur Danau
Toba (Simalungun)
Sebutan Raja kepada si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan,
bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan si Raja Batak
seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan dsb, meskipun tidak memiliki
wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah. Selanjutnya menurut buku TAROMBO
BORBOR MARSADA anak si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU
TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah
dipercaya terbentuknya Marga Marga Batak.

SIAPAKAH ORANG BATAK? :
1. Batak Toba (Tapanuli) : mendiami Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara,
Tapanuli Tengah mengunakan bahasa Batak Toba.
2. Batak Simalungun : mendiami Kabupaten Simalungun, sebagian Deli Serdang, dan
menggunakan bahasa Batak Simalungun.
3. Batak Karo : mendiami Kabupaten Karo, Langkat dan sebagian Aceh dan
menggunakan bahasa Batak Karo
4. Batak Mandailing : mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan, Wilayah Pakantan dan
Muara Sipongi dan menggunakan bahasa Batak Mandailing
5. Batak Pakpak : mendiami Kabupaten Dairi, dan Aceh Selatan dan menggunakan
bahasa Pakpak.
Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara geografis dibagi sbb:
Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka
bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak.
Namun demikian, Ada yang berpendapat dan berkeyakinan bahwa etnis Batak bukan
hanya 5, akan tetapi sesungguhnya ada 11 [sebelas], ke 6 etnis batak tersebut adalah : 1.
Batak Pesisir, 2. Batak Angkola, 3. Batak Padang lawas, 4.Batak Melayu, 5.Batak Nias,
6.Batak Alas Gayo.
Sebelas dari sub etnis Batak adalah:
1- Batak TOBA ,di- Kab.Tapanuli Utara, Tengah, Selatan
2- Batak SIMALUNGUN,di- Kab.Simalungun,sebelah Timur danau Toba
3- Batak KARO,di- Kab Karo, Langkat dan sebagian Aceh
4- Batak PAKPAK [Dairi],di- Kab Dairi dan Aceh Selatan
5- Batak MANDAILING,di- Wilayah Pakantan dan Muara Sipongi
6- Batak PASISIR,di- Pantai Barat antara Natal dan Singkil
7- Batak ANGKOLA,di- Wilayah Sipirok dan P. Sidempuan
8- Batak PADANGLAWAS ,di- Wil. Sibuhuan, A.Godang, Rambe, Harahap
9- Batak MELAYU,di- WiL Pesisir Timur Melayu
10- Batak NIAS,di- Kab/Pulau Nias dan sekitarnya
11- Batak ALAS GAYO,di- Aceh Selatan,Tenggara, Tengah
Yang disebut wilayah Tanah Batak atau Tano Batak ialah daerah hunian sekeliling Danau
Toba, Sumatera Utara. Seandainya tidak mengikuti pembagian daerah oleh Belanda
[politik devide et impera] seperti sekarang, Tanah Batak konon masih sampai di Aceh
Selatan dan Aceh Tenggara.
BATAK ALAS GAYO
Beberapa lema/dialek di daerah Alas dan Gayo sangat mirip dengan lemah bahasa Batak.
Demikian juga nama Si Alas dan Si Gayo ada dalam legenda dan tarombo Batak. Dalam
Tarombo Bona Laklak [tarombo pohon Beringin] yang dilukis cukup indah oleh L.Sitio
[1921] nama Si Jau Nias, dan Si Ujung Aceh muncul setara nama Sorimangaraja atau Si
Raja Batak I. Disusul kemudian hadirnya Si Gayo dan Si Alas setara dengan Si Raja Siak
Dibanua yang memperanakkan Sorimangaraja, kakek dari Si Raja Batak.
BATAK PAKPAK
Sebagian kecil orang Pakpak enggan disebut sebagai orang Batak karena sebutan MPU
Bada tidak berkaitan dengan kata OMPU Bada dalam bahasa Batak. Kata MPU menurut
etnis Pakpak setara dengan kata MPU yang berasal dari gelar di Jawa [MPU Sendok,
MPU Gandring]. Tetapi bahasa Pakpak sangat mirip dengan bahasa Batak, demikian juga
falsafah hidupnya.
BATAK KARO
Sub etnis ini juga bersikukuh tidak mau disebut sebagai kelompok etnis Batak. Menurut
Prof Dr. Henry G Tarigan [IKIP Negeri Bandung] sudah ada 84 sebutan nama marga
orang Karo. Itu sebabnya, orang Karo tidak sepenuhnya berasal dari etnis Batak, karena
adanya pendatang kemudian yang bergabung, misalnya marga Colia, Pelawi, Brahmana
dsb. Selama ini di Tanah Karo dikenal adanya MERGA SILIMA [5 Marga].
BATAK NIAS
Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka
bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak,
bukan dari Pusuk Buhit. Masuk akal karena secara geografis pulau Nias terleta agak
terpencil di Samudera Indonesia, sebelah barat Sumatera Utara.Namun demikian, mereka
mempunyai marga marga seperti halnya orang Batak.
Catatan:
Di antara masyarakat Batak ada yang mungkin setuju bahwa asal usul orang Batak dari
negeri yang berbeda, tentu masih sangat masuk akal. Siapa yang bisa menyangkal bahwa
Si Raja Batak, antara tahun 950-1250 Masehi muncul di Pusuk Buhit, adalah asli leluhur
Orang Batak? Sejak jaman dahulu orang Batak memang perantau ulung. Di Sunatera
Utara saja banyak orang Batak yang bermukim di daerah Asahan, Labuhan Batu
Sumatera Utara, Dan yang lebih menyolok lagi adalah setelah Belanda membuka
perkebunan-perkebunan di sumatera timur sedang di daerah Toba pada saat itu sangat
kritis kondisi prekonomian. Mereka yang merantau kedaerah yang mayoritas memeluk
Agama Islam banyak menghilangkan atau merobah marganya, karena daerah asalnya
mayoritas memeluk keristen Seperti daerah Silindung dan Toba, contohnya: keturunan
sibagot ni Pohan yang merantau ke Tapanuli selatan, mereka merobah marganya menjadi
Marga Pohan sedang marganya di tempat asalnya adalah Siahaan, Simanjuntak atau
Napitupulu dll, dan yang merantau kedaerah Asahan sama sekali mereka
menyembunyikan marga mereka, dengan pertimbangan agar dapat diterima masyarakat
setempat. Bahkan di daerah Langkat ditemukan penduduk bermarga seperti Gerning,
Lambosa, Ujung Pinayungan, Berastempu,Sibayang, Kinayam, Merangin angin, dll yang
konon merupakan kelompok marga Malau .Belakangan ini setelah berdirinya organisasi
PBI ( Persatuan Batak Islam) secara lambat laun mereka menampakkan marga
mereka.Untuk dapat Hidup apapun yang dilakukan bagi Orang Batak Perantau dimana
Langit dijujung disitu adalah kampungnya, bagaimana cara akan dilakukan itulah tekad,
mereka akan mudah beradaptasi.Pada zaman dahulu Agama monoteis agdalah agama
yang tidak dikenal dan boleh dikatakan suatu hal yang baru. Yang menjadi pegangan bagi
Orang Batak perantau pada masa itu adalah adat atau budaya jangan sampai hilang
(mago)
Banyak literatur literatur tersimpan di Negeri Belanda yang mengungkap bagaimana
sesungguhnya pluralisme di Nusantara. Namun dengan kacamata Nasional kita melihat
bahwa Indonesia sangat kaya dengan adat dan budaya daerah, salah satunya adalah
budaya Batak! Keaneka ragaman ini dipelajari oleh Belanda dengan cermat, sebagai alat
melemahkan perjuangan dari kelompok suku atau etnis dan terakhir mengadu domba
antar Agama dan antar suku. Ini dapat dilihat dengan membawa putra-putra suku bagian
timur Indonesia yang beragama Kristen menyerang pejuang-pejuang bagian Barat
Nusantara misalnya Aceh, Jawa dan sumatera, dan sebaliknya untuk melemahkan
perjuangan orang-orang bagian timur mempergunakan putra-putra bagian Barat yang
beragama Islam. Contoh yang nyata Untuk melemahkan perjuangan kaum Paderi
Belandan mempergunakan putra-putra Batak sebagai pasukannya yang diperbantukan.
Harus diakui keaneka ragaman mempunyai kelemahan sensitif akan suatu prinsip.
Dan yang harus diakui mengenai sejarah Suku Batak berbeda- beda disetiap Sub suku
Batak, terutama dari sudut Mitosnya ataupun legenda-legendanya. Seperti di suku Batak
simalungun, ada keyakinan dari orang simalungun bahwa mereka adalah keturunan
Majapahit. Dan ada diantara suku Bangsa Batak, bahwa nenek moyang mereka mereka
adalah dari India. Namun ini tidak perlu dipersoalkan yang benar adalah semua suku
Batak berbudaya sama meskipun ada perbedaan disana sini, disebabkan perobahan jaman
dengan masuknya agama-agama Monoteis kewilayah Batak. Dan hal itu sangat
memungkinkan karena keberadaan Barus sebagai kota atau pelabuhan terbuka sejak
zaman dahulu kala atau dengan kata lain sebelum masehi.
Perbedaan pandangan tentang Sejarah suku Batak menandakan keperdulian setiap orang
Batak terhadap sukunya, dan ini adalah suatu kekayaan. Banyak Bukti-bukti sejarah yang
membuktikan Barus sebagai wilayah kerajaan Batak menjadi persinggahan pedagang-
pedagang baik dari Kerajaan-kerajaan di Nusantara maupun dari kerajaan-kerajaan dari
luar untuk keperluan akan Damar atau Kapur Barus dan Kemenyan dan Hasil Bumi
lainnya.
Kebesaran nama Barus mengundang dunia luar singgah, Bangsa Asing dari berbagai
belahan bumi membuat suatu perobahan langsung atau tidak langsung bagi masyarakat
sekitar Barus yang mayoritas suku Batak. Perobahan-perobahan tersebut berdampak
positif bagai masyarakat Batak, baik dari segi pengetahuan tentang Alam, sosial dan
Hukum.termasuk, tidak ketinggalan pedagang-pedagang dari India pada tahun 1088
berdasarkan Tiang bertulis dari Lobu tua dan juga pedagang dari Arab yang beragama
Islam juga mengunjungi Barus untuk mendapatkan Damar. Jadi hampir boleh dikatakan
Barus menjadi pusat budaya dan Agama.

Sejarah asal usul nenek moyang Si Raja Batak dari Pusuk Buhit
Bab II.
KEPERCAYAAN ATAU AGAMA LELUHUR BATAK:

Legenda Suku Batak
Agama atau Kepercayaan Orang Batak:
Orang Batak Percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa Yang disebut:‖Ompu
Mulajadi Nabolon‖
Dia yang menjadikan apa-apa yang ada, dan tidak kawin dan tidak beranak, dan
menjadikan sesuatu hanya dengan ucapan saja, dari tidak ada bisa dijadikan menjadi ada.
Karena itu Mulajadi Nabolon disebut juga Ompu Raja Mulamula, Ompu Raja Mulajadi,
menunjukkan Dialah permulaan dari yang tidak ada. (kutipan dari Pustaha Batak oleh
WM.Hutagalung halaman.2)
Kepercayaan keagamaan Batak asli bertumpu pada kekuatan Roh yang dinamakan Tondi
maupun hantu (begu), untuk berhubungan dengan Begu maka diperlukan media
perantara yang berbnama Datu (dukun). Dengan Mantera yang dilantunkan seorang datu
dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan Roh dan begu.
Dan mengyakini bahwa Ompu Mulajadi Na Bolon menciptakan 7 (tujuh) lapis Langit,
yang setiap langitnya dihuni oleh roh-roh yang telah mati sesuai dengan amal perbuatan-
nya semasa hidup, adapun ketujuh lapis langit itu adalah sebagai berikut:
1. Langit Pertama:
Dijadikan untuk tempat orang mngerjakan pekerjaan yang terbalik/bertentangan (suhar),
Jadi setiap orang yang pekerjaannnya bertentangan (suhar) selama hidupnya maka dia
akan di balikkan oleh Mulajadi Nabolon kepalanya kebawah dan kakinya keatas setalh dia
mati tetapi itu begunya.
1. Langit kedua :
Tempat orang-orang kerjanya semasa hidupnya adalah pencuri, dan apa yang dicuri
selama hidupnya,akan selalu dipegangnya
1. Langit Ketiga:
Tempat orang-orang yang suka menambah-nambah omongan (siganjang dila), disinilah
tempat begunya, dan lidahnya akan ditarik oleh Mulajsdi Nabolon sampai 10 sampai 100
depa agar terseret-seret sewaktu berjalan.Inilah hukumannya bagi siganjang dila.
1. Langit keempat :
Tempat orang bunuh diri dan orang yang selalu buat keributan semasa hidupnya, dan
pada tempat ini mereka saling membuat keributan, dan bagi orang yang bunuh diri dia
akan dipasung dengan besi pasung agar tidak dapat bergerak, oleh karena begu orang
bunuh diri tidak dapat siar (nyusup kepada orang hidup).
1. Langit kelima:
Adalah tempat bagi orang-orang suka menolong orang yang susah dan orang miskin.
Nanti disana dia akan berkumpul dengan orang yang pernah dibantunya dan dia akan
menerima balasan dari Mulajadi Nabolon berlipat ganda segala apa yang pernag yang
baik dibuatnya kerna itu dikatakan orang Batak : ― Ia uli sinuan, uli do gotilon, ia duri
sinuan duri do gotilon.‖
1. Langit keenam:
Disini Mula jadi Nabolom menanamkan segala suhatsuhat setiap manusia (menanamkan
bentuk/ sifat ). Apabila baik suhatsuhat yang ditanamkan pada manusia di langit keenam
(banua ginjang) maka orang itu akan memiliki suhasuhat baik pula di Benua Tonga
(bumi), Dan sebaliknya bila buruk maka buruk pula di bumi (banua tonga).
1. Langit Ketujuh:
Disinilah tempat Mula jadi Nabolon, karena itu adalah langit diatas langt. Kesinilah segala
orang-orang yang baik terhormat
Setelah selesai diciptakan Langit maka Mulajadi Nabolon menciptakan; Mata Hari,
kemudian Bulan, dan Bintang-bintang, dan bintang-bintang ini dinamai: Bintang Ilala,
Sijombut, Sigarani api, Sidongdong, Sialapariama, Sialasungsang, Marihur,
Martimus, Bisnu, Borma, Sori dan lain-lainnya.
Manukmanuk Hulambujati:
Keyakinan orang Batak yang pertama sekali diciptakan Mulajdi Nabolon adalah
Manukmanuk Hulambujati, Moncongnya besi, berkuku gelang yang berkilau. Dan
besarnya sebesar kunang-kunang besar. Alkisah Manukmanuk Hulambujati memiliki
Telur tiga buah yang besarnya jauh lebih besar dari badannya. Oleh karena itu dia
menghubungi Leangleang mandi untunguntung na bolon, dan berkata:
“Wahai Leangleang mandi untunguntung na bolon! Kasihanilah aku sampaikanlah dulu
keluhanku ini pada Mulajadi Nabolon, saya tidak tahu apa yang harus kubuat telur (tinaru)
yang tiga ini, diselimutipun tidak bisa“.
Maka pergilah Leangleang mandi menyampaikan pesan tersebut pada Mulajadi Nabolon
:”Ale Ompung, dahanon dibosta do ahu na so marlaok botabota, na so lopa dihata na so lolos
di tona, Pesan dari Manukmanuk hulambungjati, bagaimana harus dibuatnya telur
(tinaruna) yang tiga itu?“.
Maka Mulajadi Nabolon berkata:
“ Katakanlah biar dierami telurnya itu, aku lebih tahu, tapi bawalah 12 petik makanan
(dahanon), itulah yang dimakannya setiap petiknya dimakan setiap bulan, kalau sudah putus
muncungnya maka pukulkanlah ketelurnya, itulah sampaikan padanya,― kataNya pada
Leangleang mandi.
Maka kembalilah Leangleang mandi menyampaikan pesan dari Mulajadi Nabolon pada
Manukmanuk Hulambajati, setelah mendapat petunjuk maka dilaksanakannya apa yang
dipesankan kepadanya melalui Leangleang mandi.
Setelah genap 12 bulan, putus (rumintop) lah moncong manukmanuk hulambungjati,
setelah itu maka dipukulkanlah muncungnya itu pada telur yang tiga, maka lahirlah dari
setiap telur seperti manusia laki-laki (sesuatu yang tidak bisa terpikir ciptaan Tuhan), dari
Telur pertama lahir:
1- Batara Guru:
Batara Guru doli, Batara guru panungkunan, Batara Guru Pandapotan setiap kerajaan,
Yang memegang timbangan disetiap yang diciptakannya.
(Mula ni gantang tarajuan, hatian sibola timbang, ninggala sibola tali, tu atas so ra
mungkit, tu toru sora monggal, tu lambung so ra teleng)
2- Raja Odapodap
Ini adalah yang mengamati semua segala perbuatan yan diciptakan
Dari telur kedua lahir:
1- Batara Sori (debata Sori) dari telur kedua:
Sori-sori haliapan, Sori-sori habubuhan na pitu hali malim, napitu hali solam, sinolamhon
ni ibotona si boru panolaman. Yang bernamakan si boru ―Anting Malela‖ yang tidak bisa
bersumpah dan tidak bisa disumpahi, yang tidak boleh mencuri dan tidak dapat kecurian,
yang membuat parsorion yaitu sori Gabe, sori Mago atau nasib dari setiap manusia yang
dapat kita lihat dari umpa orang batak sebagai berikut: ‖Andilo nahinan,
handangkadangan ma nuaeng, pinangido nahinan, jaloon ma nuaeng.‖ Inilah yang
mengirim Sisingamangaraja.
2- Tuan Dihurmajati dari telur ketiga:
Ini adalah ompu ni Panenabolon yang menempati
Dari Telur ketiga lahirlah:
1- Balabulan.
Balabulan matabun, Balabulan na rubunan, na rubun di pucuknya, Datu Paratalatal, Datu
Parusulusul, Berkudakan Sibaganding Tua, Parpiso Simangan mangeluk, Bertombak dua
ujung, dialah mulanya hadatuaon pada manusia.
Catatan: Batara Guru, Batara sori, Balabulan yang sering dikatakan debata na tolu,
natolu suhu, natolu harajaon (jadi bukan Mulajadi Nabolon)
2- Raja Padoha atau Partanduk Pitu
Yang bertempat di Banua toru, yang menbuat Gempa (lalo)
Pemberian Nama pada setiap yang menetas tersebut atas petunjuk Mulajadi Na Bolon
melalui Leangleang Mandi dan atas perintah Mulajadi Na Bolon,
Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang
pendamping wanita. Manukmanuk Hulambujati kembali memohon pada melalui
Leangleang Mandi dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik :
SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, dan mendapatkan 2 orang anak laki
laki dan 2 orang anak perempuan diberi nama:
1. TUAN SORI MUHAMMAD,
2. DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA
3. SIBORU SORBAJATI
4. SIBORU DEAK PARUJAR.
Anak kedua, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan
anak laki-laki bernama:
1. TUAN SORIMANGARAJA
sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU
PANUTURI yang melahirkan:
1. TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.
Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir seorang anak laki-laki, namun
karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon
(Maha Pencipta). "Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA," kata Mulajadi
Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi
abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka
dikawinkan.
Batara Guru menanya: "Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan
kepada laki-laki mana?"
Maka dijawab Ompu Soripada dengan penuh kekhawatiran karena anaknya yang
ditawarkan adalah berwujud Kadal:"Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJ ATI
dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapun akan kami penuhi,
tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,".
Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai
rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka
dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan
calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa
terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud
kadal. Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan
Debata: "Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal," katanya terisak-isak.
"J angan begitu adikku," kata Datu Tantan Debata. "Kami semua telah menyetujui bahwa
itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat
jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda."
Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya
luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar "gondang" karena ia ingin
"manortor" (menari) semalam suntuk. Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka
sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya. Menjelang
matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke "para-
para" dan dari sana ia melompat ke "bonggor" kemudian ke halaman dan yang
mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!
Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang
terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya,
Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda. Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak
keras. "Sorry ya, apa lagi saya," katanya. Namun karena didesak terus, ia akhirnya
mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar "gondang" semalam suntuk
karena ia ingin "manortor" juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit
tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah
laut di benua tengah (Banua Tonga).
Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-
layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak. Sayangnya, tanah
yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA. Siboru
Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga. "Ya"
katanya. "Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan." Siboru
Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat
pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil
dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke bawah tanah (Banua Toru).
Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana itulah
keyakinan orang Batak .
Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.
Tetapi dia memilih tinggal di Banua Tonga (bumi), maka Mulajadi Na Bolon mengutus
RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA
MULA di kaki gunung Pusuk Buhit. Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar :
1. RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan
2. BORU ITAM MANISIA (perempuan).
Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunya 3 anak laki laki :
1. RAJA MIOK MIOK,
2. PATUNDAL NA BEGU dan
3. AJI LAPAS LAPAS.
Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau
karena mereka berselisih paham.
Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama:
1. ENGBANUA,
dan 3 cucu dari Engbanua yaitu:
1. RAJA UJUNG,
2. RAJA BONANG BONANG dan
3. RAJA JAU.
Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias.
Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama:
1. RAJA TANTAN DEBATA,
Dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, Yang menjadi leluhur
orang Batak dan berdiam di Sianjur MulaMula di kaki Gunung Pusuk Buhit!
Silsilah/ Tarombo :
Sebagai gambaran singkat cikal baklal Orang Batak digambarkan dalam bentuk schema
sebagai berikut:



Alkisah tentang si Raja Batak, yang mempunyai anak dua orang yaitu Guru TateaBulan
dan Raja Isumbaon,setelah kedua anaknya itu beranjak dewasa dan kemudian kawin
maka kedua anakpun memohon sesuatu untuk bagian Mereka:
”Amang aha do bagisn silehononmu di hami be, paboa anakmu hami?” (wahai Bapak
apakah yang akan kau berikan kepada kami ,tanda kami anakmu?)
Raja Batak menyahut pertanyaan kedua anaknya:
”Apa yang ada padaku itulah yang akan kubagikan pada kalian itulah adat, yang akan
dibagikan anak adalah milik Bapaknya .”
Kemudian disela kedua anaknya:
” Memang benar bapak tetapi bukan itu saja yang kami mintak, berikanlah kepada kami yang
belum pernah kami lihat, dan yang tidak kami ketahui?”
Raja Batak menjawab anaknya:
”Yang kalian mintak itu belum dapat saya penuhi, tetapi marilah sama-sama kita mohonkan
kepafda Omputa Mulajadi Nabolon.”
Setelah sepakat akan usul Bapaknya si Raja Batak ,maka merekapun mempersiapkan
perlengkapan untuk memohon kepada Ompung Mulajadi Nabolon dengan mencari Ayam
Jantan dan betina. Untuk dipersembahkan kepada Mulajadi Nabolon., maka mulailah si
Raja Batak berdoa atau membaca mantera-manteranya.
Setelah beberapa lama jawaban doa mereka dijawab oleh Ompung Mulajadi Nabolo
dengan mengirimkan dua gulungan terbuat dari tikar, yang masing-masing isinya sebagai
berikut: Gulungan pertama berisi surat Agong yang tertulis berupa:
1. Tentang perdukunan (Hadatuon).
2. Ilmu tentang hantu (Habeguon.)
3. Ilmu Pencak silat (Parmonsahon).
4. Ilmu menghilang, (Pangaliluon)
Gulungan pertama ini diberikan kepada anaknya Guru TateanBulan. Sedangkan
Gulungan kedua diberikan kepada anaknya Raja Isumbaon, yang berisi tentang:
1- Kerajaan (Harajaon).
2- Ilmu Hukum (paruhumon)
3- Parumaon.
4- Partiga-tigaon.
5- Paningaon.


Berdasarkan silsilah atau Tarombo Batak maka Si Raja Batak sebagai leluhurnya melalu
keturunannya Guru Tatean Bulan dan Raja Isumbaon.Namun menurut versi R Sinaga
ada 3 anak dari si Raja Batak yaitu yang ketiga Toga laut yang dikatakannya sebagai
leluhur dari orang-orang Nias.
Tuan Sori mangaraja mempunyai tiga isteri;isteri pertama adalah : Nai Ambaton, Nai
Rasaon dan Nai Suanon. Keturunan Nai suanon adalah Sorba dibanua Sebagai generasi ke
4 (empat) dari si Raja Batak
Sorba dijulu berdomisili di Pangururan, dan anak kedua Sorba dijae bermukim di Sibisa,
uluan sedangkan anak ketiga yang bungsu Sorba dibanua berdomisili di Lumban gorat
Balige dan keturnan dari Sorba dibanua adalah SiBagotni pohan sebagai generasi ke 5
(lima) dari si Raja Batak.
Pada Umumnya Orang Tua zaman dahulu selalu menanamkan moral tinggi kepada anak-
anaknya dan dipesankan agar ajaran tersebut diajarkan secara turun temurun. Salah satu
contoh saya mengutip pesan Raja SiBagot ni pohan kepada anak-anaknya (ada empat
orang), sebagai berikut:
‖Parjolo ma hudok tu hamu; Ingkon denggan hamu tongtong masi ajarajaran,
masianjuanjuan, jala Masihaholongan. Sai Pasiding hamu ma nasa parbadaan, alai eahi
hamu ma pardamean. Ai:
 Metmet bulung ni baja, metmetan do bulung ni banebane;
 Ndang adong laba ni marbada , alai lehetan do na mardame.
Ikon marsada ni tahi jala saoloan hamu tongtong di ganup siulaon, asa saut na sinangkap
ni rohamuna ,
 Aek godang do aek laut;
 Dos ni roha do sibahen na saut.
Ingot hamu tongtong adat dohot uhum maradophon angka dongan tubu, Hulahula, boru
nang aleale.
 Sai unang ma lupa horbo sian barana,
 Sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.
Ingkon tigor tongtong uhum dohot pambahenan tu saluhut (ingkon sijujung ni ninggor,
sitingkos ni ari)
Ingkon hormat jala pantun hamu maradophon halak.
 Pantun do hangoluan, tois do hamagoan
Ndang jadi lea roha mamereng na pogos dohot na marsiak bagi, alai ingkon asi do roha
mamereng nasida.Ingkon urupan do halak na di bagasan hagogotan manang
parmaraan.Ingkon pasangapon do angka natua-tua jala oloan hatana,ai:
 Tahuak manuk di tanonbara ni ruma,
 Halak na pasangap natuatua, ido halak na martua.
Kurang lebih begitulah pesan beliau dan masih banyak lagi pesan-pesan terutama bagai
mana agar keturunannya jangan lupa kepada Maha Pencipta Ompung Mulajadi Na
Bolon. Dan arti pesan-pesan diatas sebagai berikut:
(Yang Pertama saya pesankan pada kalian anak-anakku dan semua keturunan ku:‖
Haruslah kalian tetap saling mengajari, saling memaafkan, serta saling mengasihi. Harus
kalian hindari pertengkaran. Tapi kalian ciptakan lah perdamean.
 Metmet bulung ni baja, metmetan do bulung ni banebane;
 Ndang adong laba ni marbada , alai lehetan do na mardame.
Artinya:
Kecik daun baja , lebih kecil daun banebane;
Tidak ada gunanya pertengkar, tetapi lebih baik kalau berdame.
Kalian harus sehati dan seia sekata disetiap ada pekerjaan, agar bisa terwujud apa yang
kalian cita-citakan.
 Aek godang do aek laut;
 Dos ni roha do sibahen na saut.
Artinya :
Air besar adalah air laut;
Kesepakatan membuat segalanya terjadi.
Kalian harus mengingat tetap akan adat dan hukum(uhum) bagaimana menghadapi
dongan tubu, Hulahula, Boru serta Aleale.
 Sai unang ma lupa horbo sian barana,
 Sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.
Artinya:
Jangans sampai lupa kerbau akan kandangnya;
Jangan sampai lepas Ulos dari sangkutannya.
Jadi harus lurus dan benar hukum(uhum) dan perbuatan dijalankan untuk semuanya.
Harus kalian hormat dan sopan menghadapi orang-orang. Sikap sopan santun adalah
jalan kehidupan , dan ceroboh/tidak beradat sumber malapetaka. Tidak boleh kalian hina
melihat orang miskin serta orang yang susah, tetapi harus kalian mengasihi mereka, harus
dibantu orang didalam kesusahan dan orang yang ditimpa kemalangan.
Kalian harus menghormati Orang tua , serta didenga dan dituruti nasihatnya ai:
 Tahuak manuk di tanonbara ni ruma,
 Halak na pasangap natuatua, ido halak na martua.
Artinya:
Berkokok ayam di bawah rumah;
Orang yang menghormati orang tua dialah yang mendapat rahmat.
Kurang lebih begitulah terjemahan dari pesan-pesan dari Raja Bangot Ni Pohan kepada
anak dan keturunannya yang menanamkan nilai moral. Dan layak di patuhi.
Kita cukupkan dahulu sampai disini tentang asal muasal dari orang Batak untuk dapat
menjadi pedoman dalam memaknai ulasan tentang adat istiadat dihalaman selanjutnya,
dan akan lebih muda menyelami tata cara adat yang diuraikan nanti, karena laku tata
cara adat tersebut tidak terlepas dari muatan muatan moral yang berintikan saling
mengasihi dan menghormati hak-hak yang telah di hukumkan didalam prinsip ―Dalihan
Na tolu―
Bab.III.
KEMELUT MELANDA SUKU BATAK

Sejarah Batak mencatat bahwa Batak telah mengalami cobaan-cobaan yang sangat berat
dan menentukan dalam kesatuan dan keutuhan yang dapat kita bagi dalam 3 priode yaitu
:
1- Priode I tahun 1820 – 1821: Orang Padri (beragama Islam) dari Sumatera Barat
menyerang tanah Batak yang pepuler dikalangan Batak (tingki ni Pidari). Tentang Perang
Paderi ini sangat banyak versinya, salah satu versi yang mengatakan terjadinya
penyerangan kaum Paderi menyerang ketanah Batak Toba adalah untuk membalas
dendam oleh salah seorang dari clan Sinambela (Pongki Nangolngolan yang bermarga
sinambela), yang lain memang adalah strategi yang dilakukan Paderi membendung
masuknya Belanda dari Aceh ke Minangkabau melalui Tanah Batak, maka perlu direbut
Tanah Batak. Terlepas dari semua versi tersebut, dampak dari penyerangan kaum paderi
ketanah Batak sangat luar biasa, Korban manusia tidak terbilang banyaknya hingga tidak
sempat menguburkannya dan membuang mayat-mayat tersebut ke Danau Toba hingga
korban bertambah akibat epidemi penyakit menular. Disamping itu Rumah dan materi
tidak terkecuali jadi sasaran penyerangan tersebut. Pada priode ini boleh dikatakan
priode yang sangat menentukan dalam kesatuan Batak . Sebelum terjadinya penyerangan
Paderi ke Tanah Batak boleh dikatakan orang Batak dikawasan Sumatera Utara masih
bersatu dalam lingkungan Kerajaan dinasti Sisingamangaraja (negeri Toba tua) yang
terdiri 3 puak (sub suku bangsa) : 1- Gayo Alas (Aceh tua), 2- Pakpak 3- Toba. Tetapi
akibat agresi tentera padri timbullah Impasse (kesulitan yang susah dipecahkan) dalam
segala bidang, baik dalam kemasyarakatan maupun dalam kerohanian, Dan ini dimulai
dengan gugurnya SisingamangarajaX (ompu Tuan Nabolon) sebagai Maharaja yang
dipercayai kesaktiannya dan tidak terkalahkan oleh siapapun karena adalah wakil dari
Mulajadi Nabolon di Tanah Batak .
Tujuan Penyerangan ketanah Batak adalah untuk mengembangkan Agama I slam dan
menbendung perkembangan Keristen yang berbarengan dengan kedatangan penjajah
Belanda. Tetapi karena dilancarkan dengan kekerasan terhadap suatu suku bangsa yang
fanatik terhadap kebudayaannya, maka akhirnya gagal, sebaliknya impasse ini kemudian
telah menjadi pucuk dicinta ulam tiba bagi penjajah Belanda dan penyebaran ke keristenan
sehingga separatisme dan desintegrasi menjadi-jadi ditengah-tengah masyarakat sukubangsa
Batak , dimana timbullah puakpuak baru: 1- Simalungun, 2- Dairi, 3- Karo, 4- Angkola-
Mandailing dan 5- Batak Melayu. ( dikutip dari Sejarah Batak oleh Batara Sangti hal. 25)
Penyerangan kaum paderi hanya mampu mengislamkan sampai batas sipirok atau sebata
Tapanuli selatan, dengan demikian hampir boleh dikatakan semua daerah tapanuli selatan
menganut Agama islam, meskipun sebelum penyerangn secara prontal dari tuanku Rao
dengan pasukan paderinya ke daerah Batak telah lebih dahulu mubalik-mubalik dari
daerah minangkabau memasuki daerah terdekat dengan Minangkabau.
2. Priode kedua ini masuknya Misionari-misionari dari Eropah dan Amerika .
Dimulai dengan Burton dan Ward dari Inggeris tahun diperkirakan pada tahun Priode II
Masuknya Missionari-missionari dari Eropah. Dimulai dengan Burton dan Ward dari
Inggeris yandiperkirakan 1824, kemudian diusir oleh Orang Batak dan kemudian Lyman
dan Munson yang akhirnya dibunuh oleh orang Batak yang tidak berkenan dengan
kehadiran mereka ditanah Batak yang kemudian kemudian masuknya Belanda ketanah
Batak untuk memotong hubungan anatara pejuang-pejuang Aceh dengan Minangkabau
yang terus bergolak, penyekatan yang efisien hanyalah dengan menduduki Tanah Batak,
tetapi ditanah Batak pun Belanda menghadapi pejuang-pejuang Batak yang lebih gigih
menentang kehadiran Belanda, hal ini dapat terjadi adalah jauh sebelum masuknya
Belanda di Aceh, Suku Batak telah mengadakan hubungan dengan orang-orang Aceh,
banyak orang Batak yang menuntut ilmu peperangan dan lainnya ke kerajaan Aceh, saat
Belanda akan memasukli tanah Batak Aceh mengirimkan beberapa ahli perangnya
membantu pejuang-pejuang Batak yang dipimpin Sisingamangaraja ke XII. Seiring
masuknya Belanda ketanah Batak kelompok Missionari dari Jerman yaitu
Dr.I.L.Nommensen memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan missinya dan
berhasil. Nomensen cukup pandai, beliau beradaptasi dengan budaya Batak yang sangat
dijunjung tinggi orang Batak, sakit dan penderitaan oleh pasukan Islam melalui pasukan
paderi diobati oleh kelembutan Nomensen, dan kemampuan Nomensen mengadakan
negoisasi dengan pemerintahan Belanda untuk memposisikan putra-putra Batak yang
telah memeluk agama Keristen menjadi pemimpin (jaihutan, demang) didaerah daerah
tertentu. Strategi ini sangat didukung oleh Belanda.
Pada tanggal 11 oktober 1833 dikeluarkan komisaris jenderal pemerintahan Hindia
Belanda bernomor:310. yang menyatakan resminya dibentuk distrik Batak maka secara
juridis Belanda resmi menguasai tanah Batak, bersamaan dengan kekalahan Kaum
Paderi, meskipun telah distrik Batak telah menjadi kekuasaan Belanda namun perlawanan
Orang Batak masih terus dibawah pimpinan Sisinga mangaraja XII
3- Priode Perang dunia ke 2. Setelah kekalahan Jerman maka sekutu memusatkan
kekuatannya melumpuhkan Jepang. Sebelum Jepang menginjak tanah Batak Belanda
telah menguasai pemerintahan dan mengatur administrasi di Tanah Batak.Masuknya
Jepang di tanah Batak, membuat kekuasaan Belanda pudar dan tersingkir kemudian
diganti oleh jepang dengan semboyan ―saudara tua―, meskipun mengaku saudara tua
bukan berarti sikapnya lebih bersaudara namun sebaliknya Jepang lebih kejam menindas
dan memperlakukan orang batak diperlakukan tidak layak sebagai manusia. Orang-orang
Batak yang telah didik dan diberi kesempatan belajar oleh Belanda, serta pemuda-pemuda
Batak yang latih oleh Jepang didalam kemeliteran mempelopori perlawanan terhadap
kemungkaran Jepang.Dan boleh dikatan pada priode ini boleh dikatakan priode
pematangan dalam hal berpolitik bagi putra-putra Batak. Yang tertekan dan yang
dibesarkan belanda dalam pendidikan bersama-sama bangkit dengan putra-putra
Indonesia lainnya untuk mendeklerasikan diri untuk merdeka menjadi satu
negara.banyak orang batak yang jadikan romusa.
Tidaklah berlebihan kalau dikatakan ketiga priode ini membuat dinamika kehidupan yang
berlandaskan nilai-nilai budaya berubah, bahkan kestuan orang Batakpun terancam,
pengaruh agama Keristen di Batak Toba sangat kuat dan sebaliknya pada Batak
Mandailing dan Angkola, Agama Islam sangat dominan. Dengan demikian nilai-nilai
budaya dan nilai-nilai religi Batak pun terkontaminasi dengan Agama yang dianut, seperti
Batak Toba budaya dan agama leluhur telah di injilisasikan dan Batak Mandailing dan
Angkola unsur-unsur keislaman. Namun yang tetap utuh prinsip kekarabatan ―Dalihan
natolu baik didaerah Batak toba maupun didaerah Mandailing dan Angkola; yaitu di
Batak toba disebut :dongan sabutuha, Boru dan Hulahula sedang di Mandailing dan
Angkola disebut; Kaha anggi, anak boru dan Mora. Dan tradisi Martarombo atau
Martutur menjadi nilai budaya yang melestarikan semangat primordialisme. Jadi
kesimpulan dari dampak dari ketiga priode tersebut Bagi kelompok orang Batak yang
beragama kristen maka landasan utama perikehidupannya adalah kristen misalnya Batak
Toba. Orang Batak yang bergama Islam, seperti Mandailing dan Angkola landasan utama
perikehidupannya adalah Islam. Meskipun ada nilai tambah bagi Orang Batak Toba
dalam mengamalkan ajaran-ajaran adat istiadat jauh lebih kuat, bahkan dalam situasi
tertentu bisa lebih kuat dibandingkan dengan kekristenannya. Dan tidak jarang urusan
gereja menjadi tersisih karena kepentingan adat yang mendesak, ini besarkemungkinan
karena kemampuan orang Batak toba menyelaraskan prinsip-prinsip adat dengan ajaran
injil, seperti penyebutan Ompung atau dewa menjadi Debata dan yang lain-lainnya.
Dan yang menarik untuk diperhatikan beberapa nilai yang paling menonjol pada orang
Batak khususnya Batak toba sangat peka terhadap konflik dan Uhum dan kemampuan
menyelesaikannya dengan berbagai argumentasi berdasarkan pengamalan mereka
terhadap petuah-petuah ―Ompung sijolojolo tubu― oleh karena itu hampir boleh dikatan
konflik tidak menjadi aib bagi orang Batak Toba. Selain itu apresiasi (penilaian dan
penghargaan) orang Batak terhadap nilai-nilai hukum dengan menelaah suatu ungkapan
yang terkenal sebagai berikut:
 Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu hata ni uhum toguan hata ni padan
Maksudnya :―walaupun kuat akar bambu, lebih kuat lagi akar ilalang, walaupun kuat
keputusan hukum lebih kuat lagi keputusan janji. (ini sebagai versi Batak Toba). Pada
orang Batak Mandailing dan angkola yang mayoritas beragama Islam sebagai berikut:
 Togu urat ni bulu, togu dope urat ni antoladan,
Togu pe hata ni uhum, toguan dope hata ni janji dohot padan.
Artinya : walaupun akar bambu kuat, lebih kuat lagi akar antoladan, walau kuat
keputusan hukum, lebih kuat lagi keputusan janji dan ikrar.
Orang Batak hampir boleh dikatakan bergumul dan hidup didalam konflik dalam
pengertian positif, karena setiap ada hajat untuk mengadakan suatu acara orang Batak
akan mengadak permusyawaratan terlebih dahulu dalam suatu forum formal , dalam
forum tersebut sering terjadi perdebatan bahkan terjadi konflik meskipun akhirnya dapat
diselesaikan secara kekeluargaan. Kebiasaan-kebiasaan ini membuat orang Batak
menghadapi konflik dapat dengan tenang sambil berpikir mencari jalan keluar.
Kemelut yang dihadapi suku Batak tidak saja membuat perpecahan yang sengaja
diciptakan oleh kaum penjajah, tetapi juga mematangkan dan pembelajaran bagi orang-
orang Batak untuk dapat menemukan jati dirinya. Tidak ada maksud untuk membuka
luka lama atau mendeskritkan suatu kelompok, setidaknya melalui sejarah ataupun
pengalaman suku bangsa dan dengan memahaminya bisa menjadi tolak ukur untuk
mawas diri. Pada hakikatnya manusia cenderung untuk lupa dan melupakan sejarahnya,
tanpa menyadarai banyak hal-hal yang perlu di hayati apa makna kejadian tersebut, dan
tantangan apa yang akan dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Harus ditanamkan
didalam diri setiap Orang Batak atau siapapun bahwa tidak ada istilah terlambat untuk
pembenahan diri ataupun menemukan Jati diri.
Kesimpulan :
Sebab-sebab Stagnan penggalian sejarah dan kebudayaan Batak :
satu; Akibat politik Belanda untuk mengurangi kefanatikan dari orang-orang batak, patuh
kepada hukum adat, patuh kepada yang dihormati dll, dan mempengaruhi setiap penulis-
penulis asing tentang Sejarah Batak, agar mengutamakan kepentingan kolonialisme
Belanda.
Kedua; adalah sikap Animisme phobi dari kalangan batak yang telah memasuki Agama
monotisme, seperti pihak Keristen, melarang margondang didalam setiap pesta seperti
pesta memasuki rumah, acara adat sewaktu orang tua yang meninggal, perkawinan dll.,
atau dengan kata lain melakukan acara spritual yang ada indikasi mengundang Roh.
Demikian juga Islam fanatik yang berpaham Wahabi (hambali), melarang segala aktifitas
spritual diluar rukun Islam. Melarang bergaul atau bersilaturahmi dengan orang-orang
ynag bukan Islam (kristen) yang dianggap kafir, kelompok Islam fundamental kadang
kadang sangat berlebihan didalam penafsirn ajaran-ajaran agama Islam yang akhirnya
membuat suatu suku bangsa dapat berpecah bahakan yang satu keluarga karena
perbedaan paham mazhab bisa retak, ini bukan lah yang dikehendaki oleh Tuhan Maha
Pencipta.
Kedua faktor diatas membuat lambatnya kemajuan orang Batak, masih bergulat disekitar
keyakinan berdasarkan Agama yang dianut. Kekaburan sejarah, tidak musatahil orang
Batak Gayo Alas tidak mengaku sebagai orang Batak demikian juga Karo,Simalungun,
Nias, Mandailing Angkola, sipirok, masing-masing menyebut kelompoknya dengan Orang
Batak karo menyebut dirinya suku Karo, suku Mandailing atau selatan, dll tanpa
memakai embel-embel Batak.
Memang diatas tadi telah dijelaskan secara sekilas tentang Agama leluhur atau
Keparcayaan orang Batak, yang juga salah satu dari bagaian Budaya, Namun selanjutnya
akan dibahas adalah tentang tata cara dari bagian Budaya.
Bersambung ……(tata cara pelaksanaan adat batak 3)
26 Agustus 2010 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
Bahasa Batak Toba – 3
Perbedaan Lafal (Ucapan)
Perbedaan itu berada pada pemakaian bahasa :
 Lafal dialek Silindung dan Sibolga halus dan lembut,
 lafal dialek Humbang agak halus,
 lafal dialek Toba dan Samosir agak keras
Perbedaan Semantis.
Kata [lae] ―ipar‖ dipergunakan pada dialek Silindung,Toba,Samosir, dan Sibolga,
sedangkan pada dialek Humbang kata lae berarti saudara perempuan ayah. Kata
“opung”, anak saudara laki-laki ibu dipergunakan pada dialek Toba dan Samosir,
sedangkan pada dialek Humbang, Silindung, dan Sibolga untuk mengatakan anak saudara
laki-laki ibu dipergunakan kata “tunggane”.Disamping itu kata tungganedipakai juga
untuk mengatakan saudara laki-laki isteri
Untuk mengatakan “belum lagi “ pada dialek Toba, Silindung dan Sibolga dipergunakan
kata “ndang do pe” , pada dialek Humbang dipergunakan kata “ndang kede”, dan pada
dialek Samosir dipergunakan kata “ndang poso” atau “ndang koso”
Kata “puang” (panggilan kepada orang kedua, menunjukkan hubungan yang akrab),
dipergunakan pada dialek Silindung, Sibolga dan Humbang, sedangkan pada dialek Toba
dipergunakan kata “kedan” dan puang . Pada dialek Samosir kedua kata itu dianggap
kasar, hanya dipergunakan kepada orang kedua yang statusnya jauh lebih rendah
daripada kita.

Watas Isoglos diantara dialek-dialek Bahasa Batak Toba.
Seperti yang sudah dijelaskan didepan bahwa isoglos (garis watas kata) adalah garis yang
memisahkan setiap gejala bahasa dari dua lingkungan kata atau bahasa berdasarkan
wujud atau sistem kedua lingkungan itu yang berbeda, yang dinyatakan pada peta bahasa
.
GAris watas kata itu kadang-kadang juga disebut heteroglos, oleh karena itu untuk
memperoleh gambaran yang benar mengenai batas-batas dialek ,harus dibuat watas kata
yang merangkumsegala segi kebahasaan dari hal-hal yang diperkirakan akan memberikan
hasil yang memuaskan.
Dari garis watas kata itu terlihat bahwa tidak akan ada satupun diantara anasir yang
memberikan garis yang benar-benar sama sehingga akan selalu terdapat beberapa
perbedaan . Walaupun demikian pada garis besarnya akan terlihat adanya suatu irama
atau gerak garis itu yang sama sehingga dapat diperkirakan dimana batas-batas dialek
yang dimaksud itu. Dalam baha BAtak Toba watas kata diantar dialek dialek itu dapat
dilihat pada peta diatas.
(bersambung –4)
28 Juli 2010 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
Tata Cara Pelaksanaan Adat …8
BAB VI
TATA CARA ADAT
-Tata Acara dan Urutan Sistem Pernikahan Adat Na Gok
1. Mangarisika.
Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka
penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua
pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis
barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.
2. Marhori-hori Dinding/marhusip.
Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam
hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.
3. Marhata Sinamot.
Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk
melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).
4. Pudun Sauta.
Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk
pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah
makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota
kerabat, yang terdiri dari :
A.Kerabat marga ibu (hula-hula)
B.Kerabat marga ayah (dongan tubu)
C.Anggota marga menantu (boru)
D.Pengetuai (orang-orang tua)/pariban, Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak
keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.
5. Martumpol (baca : martuppol).
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana
perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gerejab.. Tata cara Partumpolon
dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut
Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua
mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting).
Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali
tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan
nikah (pamasu-masuon).
6. Martonggo Raja atau Maria Raja.
Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak
diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :
A. Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknisb..
B. Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada
pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan
pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
C. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan
fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.
7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan).
A. Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan
pernikahan oleh pejabat gereja).
B. Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai
suami-istri menurut gereja.
C.Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam
acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang
tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk
D.Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk.
Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri.
Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :
[a]. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging)
dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.
.Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos
yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang
pengantin ke rumah paranak.
9. Mangihut di ampang (dialap jual).
Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria
dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat
pria.
10. Ditaruhon Jual.
Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai
wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para
namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa
manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.
11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)

A. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka
diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut
ke rumah pengantin pria.
B. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru
12. Paulak Une.

A. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya,
maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya
untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama
keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum
berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
B. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya
dan selanjutnya memulai hidup baru.
13. Manjahe.
Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau
pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat
tinggal) dan mata pencarian.
14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)

A. Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah
berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki)
maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga
(yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru).
B. Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke
sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga
ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.
(bersambung ..9)
21 Mei 2010 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
Asal Mula Dalihan Na Tolu


Alkisah sbb:
Pada suatu hari Raja Panggana yang terkenal pandai memahat dan mengukir
mengadakan pengembaraan keliling negeri. Untuk biaya hidupnya, Raja Panggana sering
memenuhi permintaan penduduk untuk memahat patung atau mengukir rumah.
Walaupun sudah banyak daerah/ negeri yang dilaluinya dan banyak sudah patung dan
ukiran yang dikerjakannya, masih terasa padanya sesuatu kekurangan yang membuat
dirinya selalu gelisah.
Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia hendak mengasingkan diri pada satu tempat
yang sunyi. Di dalam perjalanan di padang belantara yang penuh dengan alang-alang ia
sangat tertarik pada sebatang pohon tunggal yang hanya itu saja terdapat pada padang
belantara tersebut. Melihat sebatang pohon tunggal itu Raja Panggana tertegun.
Diperhatikannya dahan pohon itu, ranting dan daunnya. Entah apa yang tumbuh pada
diri Raja Panggana, ia melihat pohon itu seperti putri menari. Dikeluarkannya alat-
alatnya, ia mulai bekerja memahat pohon itu menjadi patung seorang putri yang sedang
menari. Ia sangat senang, gelisah hilang. Sebagai seorang seniman ia baru pernah
mengagumi hasil kerjanya yang begitu cantik dan mempesona. Seolah-olah dunia ini telah
menjadi miliknya. Makin dipandangnya hasil kerjanya, semakin terasa pada dirinya suatu
keagungan.
Pada pandangan yang demikian, ia melihat patung putri itu mengajaknya untuk menari
bersama. Ia menari bersama patung dipadang belantara yang sunyi tiada orang.
Demikianlah kerja Raja Panggana hari demi hari bersama putri yang diciptakannya dari
sebatang kayu. Raja Panggana merasa senang dan bahagia bersama patung putri.
Tetapi apa hendak dikata, persediaan makanan Raja Panggana semakin habis. Apakah
gunanya saya tetap bersama patung ini kalau tidak makan ? biarlah saya menari sepuas
hatiku dengan patung ini untuk terakhir kali. Demikian Raja Panggana dengan penuh
haru meninggalkan patung itu. dipadang rumput yang sunyi sepi tiada berkawan. Raja
Panggana sudah menganggap patung putri itu sebagian dari hidupnya.
Berselang beberapa hari kemudian, seorang pedagang kain dan hiasan berlalu dari tempat
itu. Baoa Partigatiga demikian nama pedagang itu tertegun melihat kecantikan dan gerak
sikap tari patung putri itu. Alangkah cantiknya si patung ini apabila saya beri berpakaian
dan perhiasan. Baoa Partigatiga membuka kain dagangannya. Dipilihnya pakaian dan
perhiasan yang cantik dan dipakaikannya kepada patung sepuas hatinya.
Ia semakin terharu pada Baoa Partigatiga belum pernah melihat patung ataupun manusia
secantik itu. dipandanginya patung tadi seolah-olah ia melihat patung itu mengajaknya
menari. Menarilah Baoa Partigatiga mengelilingi patung sepuas hatinya. Setelah puas
menari ia berusaha membawa patung dengannya tetapi tidak dapat, karena hari sudah
makin gelap, ia berpikir kalau patung ini tidak kubawa biarlah pakaian dan perhiasan ini
kutanggalkan. Tetapi apa yang terjadi, pakaian dan perhiasan tidak dapat ditanggalkan
Baoa Partigatiga. Makin dicoba kain dan perhiasan makin ketat melekat pada patung.
Baoa Partigatiga berpikir, biarlah demikian. Untuk kepuasan hatiku baiklah aku menari
sepuas hatiku untuk terakhir kali dengan patung ini. Iapun menari dengan sepuas hatinya.
Ditinggalkannya patung itu dengan penuh haru ditempat yang sunyi dan sepi dipadang
rumput tiada berkawam.
Entah apa yang mendorong, entah siapa yang menyuruh seorang dukun perkasa yang
tiada bandingannya di negeri itu berlalu dari padang rumput tempat patung tengah
menari. Datu Partawar demikian nama dukun. Perkasa terpesona melihat patung di putri.
Alangkah indahnya patung ini apabila bernyawa. Sudah banyak negeri kujalani, belum
pernah melihat patung ataupun manusia secantik ini. Datu Partawar berpikir mungkin ini
suatu takdir. Banyak sudah orang yang kuobati dan sembuh dari penyakit. Itu semua
dapat kulakukan berkat Yang Maha Kuasa.
Banyak cobaan pada diriku diperjalanan malahan segala aji-aji orang dapat dilumpuhkan
bukan karena aku, tetapi karena ia Yang Maha Agung yang memberikan tawar ini
kepadaku. Tidak salah kiranya apabila saya menyembah Dia Yang Maha Agung dengan
tawar yang diberikannya padaku, agar berhasil membuat patung ini bernyawa. Dengan
tekad yang ada padanya ini Datu Partawar menyembah menengadah keatas dengan
mantra, lalu menyapukan tawar yang ada pada tangannya kepada patung. Tiba-tiba
halilintar berbunyi menerpa patung. Sekitar patung diselimuti embun putih penuh cahaya.
Waktu embun putih berangsur hilang nampaklah seorang putri jelita datang bersujud
menyembah Datu Partawar. Datu Partawar menarik tangan putri, mencium keningnya
lalu berkata : mulai saat ini kau kuberi nama Putri Naimanggale. Kemudian Datu
Partawar mengajak Putri Naimanggale pulang kerumahnya. Konon kata cerita kecantikan
Putri Naimanggale tersiar ke seluruh negeri. Para perjaka menghias diri lalu bertandang
ke rumah Putri Naimanggale. Banyak sudah pemuda yang datang tetapi belum ada yang
berkenan pada hati Putri Naimanggale.
Berita kecantikan Putri Naimenggale sampai pula ketelinga Raja Panggana dan Baoa
Partigatiga. Alangkah terkejutnya Raja Panggana setelah melihat Putri Naimanggale
teringat akan sebatang kayu yang dipahat menjadi patung manusia. Demikian pula Baoa
Partigatiga sangat heran melihat kain dan hiasan yang dipakai Putri Naimanggale adalah
pakaian yang dikenakannya kepada Patung, Putri dipadang rumput. Ia mendekati Putri
Naimanggale dan meminta pakaian dan hiasan itu kembali tetapi tidak dapat karena tetap
melekat di Badan Putri Naimanggale. Karena pakaian dan hiasan itu tidak dapat terbuka
lalu Baoa Partigatiga menyatakan bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Raja
Panggana menolak malahan balik menuntut Putri Naimanggale adalah miliknya karena
dialah yang memahatnya dari sebatang kayu.
Saat itu pula muncullah Datu Partawar dan tetap berpendapat bahwa Putri Naimanggale
adalah miliknya. Apalah arti patung dan kain kalau tidak bernyawa. Sayalah yang
membuat nyawanya maka ia berada di dalam kehidupan. Apapun kata kalian itu tidak
akan terjadi apabila saya sendiri tidak memahat patung itu dari sebatang kayu. Baoa
Partigatiga tertarik memberikan pakaian dan perhiasan karena pohon kayu itu telah
menajdi patung yang sangat cantik. Jadi Putri Naimanggale adalah milik saya kata Raja
Panggana. Baoa Partigatiga balik protes dan mengatakan, Datu Partawar tidak akan
berhasrat membuat patung itu bernyawa jika patung itu tidak kuhias dengan pakaian dan
hiasan. Karena hiasan itu tetap melekat pada tubuh patung maka Raja Partawar memberi
nyawa padanya. Datu Partawar mengancam, dan berkata apalah arti patung hiasan jika
tidak ada nyawanya ? karena sayalah yang membuat nyawanya, maka tepatlah saya
menjadi pemilik Putri Naimanggale.
Apabila tidak maka Putri Naimanggale akan kukembalikan kepada keadaan semula. Raja
Panggana dan Baoa Partigatiga berpendapat lebih baiklah Putri Naimanggale kembali
kepada keadaan semula jika tidak menjadi miliknya. Demikianlah pertengkaran mereka
bertiga semakin tidak ada keputusan. Karena sudah kecapekan, mereka mulai sadar dan
mempergunakan pikiran satu sama lain. Pada saat yang demikian Datu Partawar
menyodorkan satu usul agar masalah ini diselesaikan dengan hati tenang didalam
musyawarah. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mulai mendengar kata-kata Datu
Partawar. Datu Partawar berkata : marilah kita menyelesaikan masalah ini dengan hati
tenang didalam musyawarah dan musyawarah ini kita pergunakan untuk mendapatkan
kata sepakat. Apabila kita saling menuntut akan Putri Naimanggale sebagai miliknya saja,
kerugianlah akibatnya karena kita saling berkelahi dan Putri Naimanggale akan kembali
kepada keadaannya semula yaitu patung yang diberikan hiasan. Adakah kita didalam
tuntutan kita, memikirkan kepentingan Putri Naimanggale? Kita harus sadar, kita boleh
menuntut tetapi jangan menghilangkan harga diri dan pribadi Putri Naimanggale.
Tuntutan kita harus kita dasarkan demi kepetingan Putri Naimanggale bukan demi
kepentingan kita. Putri Naimanggale saat sekarang ini bukan patung lagi tetapi sudah
menjadi manusia yang bernyawa yang dituntut masing-masing kita bertiga. Tuntutan kita
bertiga memang pantas, tetapi marilah masing-masing tuntutan kita itu kita samakan
demi kepentingan Putri Naimanggale.

Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mengangguk-angguk tanda setuju dan bertanya
apakah keputusan kita Datu Partawar ? Datu Partawar menjawab, Putri Naimanggale
adalah milik kita bersama. Mana mungkin, bagaimana kita membaginya. Maksud saya
bukan demikian, bukan untuk dibagi sahut Datu Partawar. Demi kepentingan Putri
Naimanggale marilah kita tanyakan pendiriannya. Mereka bertiga menanyakan pendirian
Putri Naimanggale. Dengan mata berkaca-kaca karena air mata, air mata keharuan dan
kegembiraan Putri Naimanggale berkata : ―Saya sangat gembira hari ini, karena kalian
bertiga telah bersama-sama menanyakan pendirian saya.
Saya sangat menghormati dan menyayangi kalian bertiga, hormat dan kasih sayang yang
sama, tiada lebih tiada kurang demi kebaikan kita bersama. Saya menjadi tiada arti
apabila kalian cekcok dan saya akan sangat berharga apabila kalian damai. Mendengar
kata-kata Putri Naimanggale itu mereka bertiga tersentak dari lamunan keakuannya
masing-masing, dan memandang satu sama lain. Datu Partawar berdiri lalu berkata :
Demi kepentingan Putri Naimanggale dan kita bertiga kita tetapkan keputusan kita :
a. Karena Raja Panggana yang memahat sebatang kayu menjadi patung, maka pantaslah
ia menjadi Ayah dari Putri Naimanggale. SUHUT
b. Karena Baoa Partigatiga yang memberi pakaian dan hiasan kepada patung, maka
pantaslah ia menjadi Amangboru dari Putri Naimanggale. BORU
c. Karena Datu Partawar yang memberikan nyawa dan berkat kepada patung, maka
pantaslah ia menjadi Tulang dari Putri Naimanggale. HULA-HULA
Mereka bertiga setuju akan keputusan itu dan sejak itu mereka membuat perjanjian,
padan atau perjanjian mereka disepakati dengan :
Pertama, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale Raja Panggana, Baoa Partigatiga
dan Datu Partawar akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dan mungkin
terjadi dengan jalan musyawarah.
Kedua, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale dan turunannya kelak, Putri
Naimanggale dan turunannya harus mematuhi setiap keputusan dari Raja Panggana, Baoa
Partigatiga dan Datu Partawar.
Kesimpulan:
Dari cerita tersebut, bahwa hakikat DALIHAN NA TOLU adalah musyawarah untuk
menyelesaikan masalah demi kebaikan orang yang dikasihi dalam hal ini PUTRI NAI
MANGGALE.
2 Mei 2010 togapardede 2 Komentar
Kategori: Budaya.
Tata cara pelaksanaan adat Batak – 7
Makna atau arti dari Ulos:

1- Mangiring: Ulos ini mempunyai ragi saling iring beriring, melambangkan kesuburan
dan kesepakatan.Ulos ini sering dipakai sebagai parompa (menggendong anak) dengan
harapan agar mendapat anak lagi anak yang digendong. Dan ulos ini juga diberikan
kepada boru yang baru berumah tangga dengan harapan sianak segera mempunyai
keturunan (anak), cara memakaikannya adalah : pinartalitali atau di sinampesampehon.
Juga ulos dapat dipakai sebagai tali-tali (detar) bagi laki-laki dan untuk wanita disebut
saong atau tudung. Sedang pada saat paapeho goar ulos ini dapat dipakai sebagai bulang-
bulang.
2- Mangiring Pinarsunsang: dipakai ulos ini apabila ada dalam keluarga marsisuharan
partuturan, sebagai contoh dulunya dia adalah Hula-hula menjadi Parboruan
(Pinarhulahula hian gabe pinarboru). Jadi Ulos ini diberikan kepada penganten atau
parompa dari anaknya, sewaktu memberikan ulos ini selalu diiringi dengan umpama sbb:
― Rundut biur ni eme mambahen tu porngisna, masijaitan andor nigadong mambahen tu
ramosna.‖
3- Bintang Maratur : Ulos ini raginya menggambarkan jejeran Bintang yang teratur,
Jejaran bintang ini menggambarkan orang yang patuh ,rukun seia sekata dalam ikatan
kekeluargaan juga dalam sidangonon (kekayaan)atau hasangapon ( kemuliaan) tidak ada
yang timpang. Semuanya berada dalam tingkatan yang rata-rata sama. Leluhur (omputa
sijolojolo tubu) pernah berkata bahwa ―Ulos siboru Habonaran, Siboru Deak Parujar,
mulani panggantion dohot parsorhaon,pargantang pamonori na so boi lobinaso boi hurang.
maka ulos itu disebut adalah: Bintang maratur (marotur), Siatur maranak, siatur
marboru, siatur hagabeon, siatur hamoraon., bagi orang yang mau memintaknya kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu didalam menyampaikan ulos ini sering diiringi
dengan Kata-kata sbb: “ Ulos bintang marotur do on, asa sai anggiat ma diatur jala dilehon
Tuhanta yang Maha pengasih (Debata parasi ro ha) di hamu hagabeon dohot pansamotan,
asa ro nian angka i di tingki na lehet, diombas na denggan jala mambahen tua dihamu”.
Kalau ulos ini jadi Parompa untuk diuloskan maka dikatakanlah sbb: “ Ia ulos on bintang
marotur do, asa sai anggiat ma diparbisuhi Tuhanta Yang Maha Pengasih (debata Parasi ro
ha) I hamu manogunogu jala mangatur dakdanakon dohot angka tinodohonna na naeng ro
dope, sai gabe jolma na olo aturon ma ibana jala ibana sandiri gabe jolma n malo mangatur
angka tinodohonna, tu hadengganon dohot harentaon.”.
4- Ulos Godang: kadang disebut juga ini adalah ―Sadum- Angkola‖, memang diakui Ulos
ini sangat bagus dan Cantik harganyapun termasuk mahal dan lebih mahal dari Ragidup
meskipun derajatnya lebih rendah dari Ragidup. Ulos ini sering diuloskan kepada anak
kesayangan, filsafat dari ulos ini adalah sbb: Agar harapan kepada anak yang diulosi
dapat seperti nama ulos tersebut ―Ulos Godang‖ dihari kemudian dan memberi kebaikan
atau dapat menyenangkan keluarga dekat dan teman-temannya, kerna perbuatan baiknya
itu maka anak tersebut mendapat berkah dari Tuhan.
5- Ulos Ragihotang : Pada zaman dahulu rotan (hotang) adalah tali pengikat sebuah benda
yang sangat kuat dan ampuh. Inilah yanglambangkan oleh ragi tersebut, oleh karena itu
ulos ini diberikan kepada pengantin disebut sebagai „ulos Hela―. Dengan pemberian ulos
ini maka maksudnya adalah agar ikatan batin kedua pengantin dapat teguh dan kokoh
seperti rotan. Dan cara memberikannya pada kedua pengantin ial;ah disampirkan dari
sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan laki-laki, dan ujung
sebelah kiri dipegang tangan kiri pengantin perempuan lalu disatukan ditengah dada
seperti terikat. Umumnya ulos ini sering dipergunakan masyarakat Batak karena
kharisma yang dimilikinya, Ulos Ragi Hotang yang baik namanya adalah ― Potir si na
gok‖.
6- Ulos Sitolu (n) Tuho: Disebut sitoluntuho, karena raginya berjejer tiga merupakan
tuyho atau tugal (yang biasanya dipakai untuk melonangi tanah menanam benih). Ini
adalah ulos yang sesuai dengan simbol Dalihan natolu. Jadi kalau ulos ini diuloskan
kepada penganten atau untuk paropa diiringi dengan : ―Manat mardongan tubu, elek
marboru, somba marhulahula‖, dan ditambahi dengan kata-kata lain, atu umpasa yang
sesuai dengan tujuan atau kepada siapa dan dalam rangka apa pemberian ulos itu, apakah
untuk memberi pasu-pasu agar saling mencintai dan sampai hari tuanya, untuk pasu-pasu
Hagabeon, atau untuk pasu-pasu pansamotan. Juga ulos ini diberikan oleh Hulahula
kepada pihak boru yang masih terhitung jauh maka disebut ―ulos panoropi―
7- Bolean : Ulos ini sering diberikan kepada anak atau keturunanya yang sedang
mengalami kemalangan/kesulitan sebagai penghiburan (mangapuli).
8- Sibolang : dulu namanya ―siBulang‖. Dahulu Ulos ini diberikan sebagai penghormatan
kepada orang pantas di hormati karena berjasa. Kalau sekarang diberikan untuk
mangulosi Hela maka diberilah namanya ―Ulos Pansamot‖, dengan harapan kepada yang
diulosi, agar dapat menjadi tempat pengaduan. Juga ulos ini sering juga dibuat untuk
menghadapi adat kepada yang meninggal, juga dibuat sebagai ―tujung‖ bagi janda atu
duda (namabalu). Dengan kata lain ulos ini dapat dipergunakan untuk suka cita dan duka
cita, kalau ulos dipergunakan untuk duka cita biasanya dipilih yang warnanya hitam
menonjol, sedangkan untuk suka cita diberikan yang berwarna putihnya menonjol. Dalam
acara duka cita ulos yang berwarna hitamnya menonjol paling sering dipergunakan untuk
―ulos saput―. Sedang dalam perkawinan ulos ini dipergunakan sebagai tutup ni Ampang,
dan ulos yang warna putih menonjol digunakan dengan menyandangkan disebut „ulos
Pamotari―.
9- Ragidup : Membuat Ulos ini memang sangat sulit dan rumit, dan ulos ini termasuk ulos
yang bernilai tinggi atau mempunyai kelas, karena bila diperhatikancorak ulos ini
sepertinya hidup, dan ada juga mengatakan ulos ini sebagai ―simbol ni ngolu‖ . oleh
karenanya Orang Batak tidak takut miskin asal bisa hidup seperti dikatakan umpasa; ―
Agia lapalapa asal ditoru sobuan, agia pe malapalap asal ma di hangoluan; Ai sai naboi do
partalaga gabe parjujuon.‖ Karena ulos ini termasuk istimaewa maka semua bagian-
bagian dari ulos ini mempunyai makna seperti: 1- Dua sisinya boleh dikatakan sebagai
batas, yang berarti bahwa ada batis didunia ini. 2- Diantara sisi dua itu ada tiga bagian
yaitu bagian tengah dari yang tiga itu disebut ―badan‖ sedangkan yang dua lagi bagian
ujung (hampir sama bentuknya) disebut ―inganan ni na pi narhalak baoa, sedang yang
satu lagi adalah inganan ni napinarhalak ni boru.‖ Badan warnanya ―merah pangko
birong‖ bentuknya dan bergaris-garis putih (―honda‖, sedangkan nadiparhalak baoa dan
nadiparhalak boru sebagai simbol hagabeon mendapat anak dan boru dan didalamnya
terdapat juga 3 bunga (Gorga) yang dinamakan : 1- ―Antinganting‖ sebagai simbol
kekayaan. 2- ―Sigumang‖ sebagai simbol ketekunan dan kemakmuran , karena Sigumang
adalah hewan yang termasuk rajin dan tekun. 3- “Batu ni ansimun” sebagai simbol
kesehatan sebagai mana yang sering disebut “ Ansimun sipalambok, tawar sipangalamuni.”
Karena Ulos ini adalah ulos yang sanagt berarti dan bermakna maka untuk membeli atau
mendapatkan ulos ini harus hati hati , semua bentuk ataupun gorga yang ada di ulos itu
sangat menentukan oleh karenanya ulos itu haru mempunyai syarta sbb: 1- Harus Terang
dan bersih (tio/torang) dilihat ulos tersebut. 2- Harus rapi tenunannya. 3- Harus ganjil
bilangan “honda”. 4- harus tepat bilangan “ipon” nya. (yaitu beberapa ragi bunga yang
posisinya ada diantara ― Sigumang‖ dengan ―Batu ni ansimun‖.
10- Ragidup silinggom : Perbedaan Ragidup Silinggom dengan Ragidup yang biasa adalah
warna/bentuknya holom (linggom) karena itu disebut Rgidup siLinggom, Ulos ini
diberikan kepada anak yang mempunyai pangkat (kekuasaan) Filsafatnya ― agar dapat
berlindung pada orang yang diberikan ulos, bagi orang yang lemah dan miskin, kalau ini
dipenuhi oleh yang mendapatkan ulos maka dianya akan mendapat pasu-pasu dari Tuhan.
Dan ulos ini jarang dijual belikan kalaupun ingin mendapatkannya harus dipesan kepada
partonun. Ulos ini sekarang sering diberikan kepada pejabat yang sedang berkunjung
kedaerah.
11- Ulos surisuri togutogu : Ada keistimewaan ulos ini rambu-rambunya tidak dipotong
bahkan dia terus bersambung (mardomu), jadi layaknya seperti sarung, karena itu
memakaikannya harus disarungkan, oleh karena itu ulos ini sering disebut ―ulos
Lobulobu‖ dengan arti biar masuk segala yang baik kerumah orang yang memakainya.
Kalau ulos ini dipakai anak gadis untuk menggendong adiknya (ibotonya) sering dia
bersenandung sbb: ― Ulos lobulobu, marrambu ho ditongatonga, tibuma ho ito dolidoli,
jala mambahen silasni roha.‖ Tetapi kalau yang digendongnya adalah adiknya perempuan
maka senandungnya adalah sbb : ― Ulos lobulobu, marrambu ho ditongatonga, sinok
mamodom ho anggi, suman tu boru ni namora.‖
12- Ulos Jungkit : Ulos ini disebut ulos na ni dondang atau ulos purada. Purada atau
permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak
gadis dari keluarga Raja-raja merupakan hoba-hoba yang dipakai hingga batas dada.
Juga pada waktu menerima tamu pembesar atau pada waktu kawin. Dahulu Purada atau
permata ini dibawa oleh saudagar dari India lewat pelabuhan Barus, akan tetapi pada
pertengahan abad XX ini, permata tersebut tidak lagi diperdagangkan maka bentuk
permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara manjungkit benang ulos tersebut. Ragi
yang diperoleh hampir mirip dengan kain songket buatan Rejang dan lebong, karena
proses pembuatannya yang sangat sulit menyebabkan ulos ini merupakan barang langka
sehingga kedudukannya diganti dengan kain songket tersebut. Inilah sebabnya baik
didaerah leluhur siraja Batakpun pada waktu acara perkawinan kain songket ini dipakai
pengganti ulos na didondang. Ini salah satu bukti bahwa nilai ulos sudah pudar bagi orang
Batak
13- Ulos Jugia : Ulos disebut juga ―ulos na so ra pipot― atau Pinunsan. Biasanya disimpan
di „parmonang-monang― sebagai ulos komitan. Menurut kepercayaan lama ulos ini tidak
dapat dipakai sembarang orang kecuali orang yang sudah saur matua (mempunyai cucu
dari anaknya laki-laki dan anaknya perempuan). Selama masih ada anaknya yang belum
kawin atau belum punya keturunan, walaupun telah mempunyai cucu dari anak laki-laki
dan anak perempuan biasanya masih sungkan untuk memakai ulos Jugia ini. Hanya orang
yang disebut ―na gabe‖ yang berhak memakai ulos ini karena ukuran hagabeon dalam
adat Batak bukanlah ditinjau dari kedudukan satau pangkat melainkan keturunannya
apakah semua sudah ―hot ripe‖.Beratnya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan
ulos ini merupakan benda langka hingga banyak orang yang tidak mengenalnya. Ulos
Jugia sering merupakan barang warisan orang tua kepada anaknya karena nilainya sama
dengan Sitoppi ( emas yang dipakai oleh isteri Raja-raja pada waktu pesta).
14- Ulos Runjat: Ulos ini biasanya dipakai oleh orang-orang kaya atau orang terpandang
sebagai ulos edang-edang (pada waktu pergi keundangan). Ulos ini dapat juga diberikan
kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Na Tolu diluar
husuhutan Bolon. Misalnya oleh Tulang, Pariban dan Paramai.. Juga ulos Runjat ini dapat
diberikan pada waktu mangupa-upa atau ulaon si las ni roha(acara gembira). Ulos
Ragidup, ulos Jugia, Ragi Hotang,Ulos Sadum, dan ulos Runjat boleh dikatan jenis ulos
homitan (simpanan) yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena ulos ini
jarang dipakai , hingga tidak perlu dicuci. Ya cukup dijemur di siang hari pada waktu
bulan purnama (tula)
15- Ulos Surisuri Ganjang: Ulos ini bernama ulos surisuri. Karena raginya berbentuk sisir
yang memanjang maka dinamakan ulos surisuri ganjang. Dahulu ulos ini dipergunakan
sebagai ampe-ampe/hande-hande . Pada waktu margondang ,ulos ini dipergunakan oleh
pihak hulahula untuk manabei pihak borunya. Karena ulos ini sering juga disebut ulos
sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini yaitu ukuran panjang melebihi ulos biasa, dan bisa
dipakai sebagai ampe-ampe bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan sehingga
kelihatan ssipemakai sepertinya memakai dua ulos.

Aturan-aturan tentang pemberian Ulos:
Berbicara adat Batak maka Ulos membawa peranan besar, jadi dalam setiap upacara adat
Batak maka Prinsip Dalihan Natolu berlaku dengan demikian Ulos sebagai sarana Hula-
hula memberi pasupasunya kepada hasuhutan .
Pihak mana yang memberi Ulos dan kepada siapa diberi Ulos diantara suku Batak ada
beberapa perbedaan, seperti didaerah Toba, Simalungun, dan Karo yang memberi Ulos
adalah pihak Hula-hula kepada Boru. Sedangkan di Papak (Dairi), Tapanuli Selatan,
pihak borulah yang memberikan ulos kepada Hulahula (Moranya), atau Kula-kula.
Meskipun ada perbedaan ini bukan berarti mengurangi nilai dan makna suatu ulos dalam
upacara Adat.
Disamping Hula-hula yang dapat memberikan ulos ,juga Dongan tubu, dan pariban yang
lebih tua bisa memberi ulos kepada orang yang berhajat. Jadi kesimpulannya yang dapat
memberi ulos adalah orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi (dalam urutan
kekeluargaan) dari sipenerima Ulos.
Dalam pesta perkawinan umpamanya tat urutan pemberi ulos adalah sebagai berikut:
1. Orang tua Pengantin perempuan.
2. Tulang pengantin perempuan, termasuk tulang rorobot.
3. Dongan sabutuha dari orang tua pengantin perempuan yang dalam hal ini disebut
Paidua (pamarai)
4. Pariban yaitu boru ni hulahula (orangtua penganti perempuan)
5. terakhir tulang pengantin laki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari
sinamot yang diterima orang tua pengantin perempuan dari pihak paranak (Titin
marakup) yaitu sebanyak 2/3 dari pihak parboru dan 1/3 dari Paranak. Tintin
Marakup ini disampaikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada tulang
sianak (pengantin laki-laki), maka dinamaknlah ―Tintin Marakup‖.
Tata cara pemberian Ulos:
Menurut tatacara adat Batak setiap orang akan menerima minimum 3 macam ulos, dari
mulai lahir sampai akhir hayatnya. Ulos inilah yang disebut ulos na marsituhu yang dapat
digolongkan sebagai ulos ni tondi, menurut falsafah Dalihan na tolu.
Adapun perincian ketiga ulos tersebut adalah :
1. Diterima sewaktu dia dilahirkan disebut ulos ―Parompa‖.
2. Diterima pada masuk jenjang perkawinan disebut ―Ulos Hela‖.
3. Diterima sewaktu meninggal disebut ―Ulos Saput‖
Bila seseorang meninggal dalam usia muda atau meninggal tanpa meninggalkan
keturunan (mate hadiaranna) maka kepadanya diberikan ulos yang disebut ―Ulos par
olang-olangan‖
Bila meninggal dan meninggalkan anak masih kecil-kecil (sapsap mar dum), bila laki-laki
disebut ―Matipul Ulu‖, bila perempuan disebut ―Marompas tataring‖,maka kepadanya
diberi ulos Saput.
Bila meninggal sari/saur matua maka dia mendapat ―Ulos Panggabei‖ yang diterima dari
semua hulahula , baikhulahula sendiri maupun hulahula ni anak serta hulahula dari cucu.
Biasanya ulos panggabei ini diterima oleh seluruh turunannya. Pada saat seperti inilah
berjalan ulos ―Jugia‖, dan ulos jugia ini diberikan kepada orangtua yang turunannya
belum ada yang meninggal (martilaha matua).
I- Pemberian ulos kepada anak yang baru lahir:
Bila anak lahir, ada dua hal yang perlu diperhatikan :
1- apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak;
2- Apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga?―
Pada point pertama , bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang Ayah yang bukan
anak sulung maka yang menamakan nama (mampe goar) cukup orang tuanya saja. Tetapi
pada point kedua yang lahir itu adalah anak sulung dari seorang Ayah sulung pula pada
satu keluarga maka yang bmemberi nama (mampe goar) adalah Ayahnya sendiri dan
kakeknya. ( amani si…. dan Ompu ni……).
Perlu diperhatikan pada gelar ompu……, Bila gelar tersebut tidak mempunyai kata
sisipan „Si― maka gelar yang diperoleh itu adalah dari anak sulung perempuan (ompu
bao). Dan sebaliknya pabila mendapatan sisipan „Si― menjadi Ompu si…., maka berarti
gelar ompu tersebut berasal dari anak sulung laki-laki (ompu suhut).
Untuk point pertama tadi, pihak hulahula hanya menyediakan 2 buah ulos yaitu 1- ulos
Parompa untuk sianak 2- Ulos Pargomgom mampe goar untk Ayahnya.Untuk si anak
sebagai parompa dapat diberikan ulos Mangiring, sedangkan untuk Ayahnya diberikan
ulos Suri-suri ganjang.
Untuk point kedua, pihak Hulahula harus menyediakan ulos sebanyak 3 buah, yaitu 1-
ulos Parompa untuk sianak, 2- ulos Pargomgom untuk si Ayah, 3- Ulos Sitolutruho sebgai
bulang untuk ompungnya.
Seiring dengan pemberian ulos tersebut , maka kata-kata yang diucapkan sebagai berikut(
untuk anak yangbaru lahir):
“Ucok, sadarion nunga pinuka goarmu, sai anggiat ma goar mi goar marsarak, goar na mura
jou-jou on, hipas-hipas ho mamboan. Dison pasahaton nami ma tu ho ulos pangiring, asa
mangiring anak dohot boru ho sian on tu joloan on, Horas ma“.
(artinya: Ucok, hari ini sudah ditabalkan namamu, semoga namamu itu nama yang
terkenal dan mudah di sebu-sebut, semoga kau sehat-sehat membawa namamu itu, disini
kami sampaikan untukmu satu ulos pangiring, agar membawa anak dan boru kau pada
waktu yang akan datang, Horasma)
Sedangkan kata-kata untuk si Ayah dan Ibunya sebagai berikut:
“Di hamu hela/boru nami, mulai sadarion marbonsir naung pinuka goar ni buha baju muna,
sadarion mulai mampe goar ni buha baju muna, sadarion mulai mampe ma goar dihamu mar
amni dohot inani…., dison pasahatan nami ma tu hamu ulos suri suri ganjang, asa ganjang
umurmu mamboan goar panggoari ni pahompu i. Hata ni umpama ma dohonon nami;
(artinya: Bagi kalian Menantu dan boru kami, mulai sekarang sehubungan dengan
ditabalkan nama anak pertama kalian, mulai sekarang kalian ditabalkan dengan nama
anak kalian tersebut menjadi amani…. Dan ina ni…..; disini kami sampaikan satu ulos
suri-suri ganjang, agar panjang umur kalian membawa nama cucu tersebut, seperti kata
umpasa kami katakan)
§ Tubu ma hariara, diatsa nitorna di ginjang, lehetma I boroytan ni horbo siopat pusoran.
Mantak goar sijou-jou on mai, hipasjala mariang, goar na mura jouon, dirgak bohi
mamboan.
Kata-kata yang diucapkan kepada sikakek (ompung):
“Di hamu lae dohot ito, dibagasan sadarion ditonga ni jabu na marsangap namartua on, ima
jabu sigomgom pangisi na on marlas ni roha hita, ala nunga jumpang na niluluan, tarida na
dijalahan. Mula sadarion mampe goar do hamu lae, ito , marompuni… ala marbonsir sian
goar ni pahompunta na ta pungka sadarion. Hupasahat hami ma tu hamu ulos ragi idup
songon patuduhon balga ni roha nami. Hata ni umpasa do honon nami dihamu:
(artinya: Bagi kalian lae dan ito, pada hari ini ditengah rumah na marsangap na martua
ini, yaitu rumah yang melindungi penghuni yang sedang bersukacita karena kita telah
menemui yang dicari , dan nampak yang dicari. Mulai sekarang kalian menyandang nama
Marompu…. Sehubungan dengan nama cucu kita yang kita tabalkan sekarang. Kami
sampaikanlah satu ulos ragi idup sebagai menunjukkan senang hati kami . seperti kata
umpasa kami katakan pada kalian)
§ Andor hadumpang ma togu-togu ni lobu;
Saur matua ma hamu lae ito, mamboan goar I huhut mangiring-iring pahompu.
II- Tata cara pemberian Ulos pada saat perkawinan:

Dalam upacara perkawinan ,pihak hulahula harus menyediakan ulos si tot ni pansa yaitu:
1- Ulos marjabu (hela dohot boru)
2- Ulos pansamot/gomgom untuk orang tua pengantin Laki-laki.
3- Ulos Pamarai diberikan kepada saudara yang lebih tua dari pengantin laki-laki atau
saudara kandung Ayah.
4- Ulos Simolohon diberikan kepada iboto pengantin laki-laki atau bila belum ada yang
menikah iboto dari Ayah.
Ulos yang tersebut diatas disebut adalah ulos yang paling minimal harus disediakan oleh
hula-hula (orang tyua pengantin perempauan).
Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru diampuan hanya bila perkawinan
tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan
tersebut dilaksanakan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang
tidak diberikan.
Sering kita lihat banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarja dekat, dahulu
ulos inilah yang disebut ragi-ragi ni sinamot. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot
(menerima sebahagian dari sinamot) memberi ulos sebagian imbalannya, dalam umpama
disebut: ―Malo manapol,ingkon mananggal‖, Umpasa ini mengandung pengertian, orang
Batak itu tidak mau terutang adat, tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang
dimaksud kan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya, siapa penerima
gologoli dari ragi-ragi ni sinamot. Ini berakibat timbulnya kedudukan yang tidak
sepatutnya (margoli-goli). Maksudnya untuk membalas undangan pesta adat yang
diberikan kepada ale-ale (umum), kadang-kadang disamping memberi tumpak/kado
bahkan para undangan memberi ulos atau dengan istilah Ulos Holong. Sedangkan Istilah
Ulos Holong sebenarnya adalah diluar prinsip ―Dalihan Na Tolu‖.
Cara pemberian ulos:
Ulos Ragihotang telah dipersiapkan Hulahula (orang tua pengantin perempuan) untuk
diberikan kepada pengantin yang disebut Ulos Hela (ulos marjabu).
Tetapi apabila orang tua pihak perempuan diakili oleh keluarga dekat maka dia berhak
memberikan ulos tersebut kepada pengantin. Dan sebaliknya apabila Orang tua laki-laki
yang diwakili maka ulos pansamaot tersebut harus diserahkan dala keadaan terlipat,
sedang ulos Pargomgom (untuk pangamai) dapat diserahkan secara biasa. Biasanya pada
acara demikian pihak Hula-hula harus mempersiapkan ulos sebanyak 20 (dua puluh) ulos
untuk ulos Pansamot dan ulos Pargomgom.
Sedangkan kata-kata yang diaturkan oleh Hulahula adalah sebagai berikut:
”Hupasahat hami dison sada ulos tu hamu amang hela dohot tu ho borungku, sada ulos
herbang na ganjang, hapal jala bidang. Taringot tu ganjang na, tujuan na sai tu ganjang na
ma antong umurmu songon ni dok ni umpasa:
(artinya: kami sampaikan disini untuk kalian menantu kami serta untuk kau boruku satu
ulos yang lebar dan panjang, tebal serta besar. Mengingat panjangnya agar panjang umur
kalian seperti yang dikatakan umpasa)
 Ni umpat padang togu, mangihut simar bulu-bulu;
Tu lelengna hamu mangolu, rodi na sarsar uban di ulu.
Taringot dihapalna, tujuanna sai tu hapal ma holong ni roha di hamu na nadua songon
nidok ni umpama:
(artinya: mengingat tebalnya, tujuannya agar tebal rasa cinta mencintai pada kalian
seperti yang dikatakan umpasa)
 Mar siamin aminan ma hamu, songon lampak ni gaol;
Marsitungkol tungkolan songon suhat di robean,
I a mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru,
Tongon ma hamu sahata saoloan
Taringot tu bidang na on natujuanna sai tubuan tampuk ma hamu sian asi ni rohani Tuhanta
songon nidok ni umpasa:
(artinya: mengingat lebarnya bermaksud semoga kalian melahirkan keturunan berkat
kasih dari Tuhanseperti yang dikatakan umpasa)
 Situmbur ni pakkat, tu situmbur ni hotang;
Tusi hamu mangalangka, disi ma hamu dapotan.
 Binanga ni sihombing ma, binongka di tara bunga;
Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua,
Sai siur ma na pinahan, gabe na ni ula.
Kemudian disandangkan ulos tersebut kekedua pengantin, setelah selesai pemberian ulo
maka dijemputlah sedikit beras (boras sipir ni tondi) ditaburkan kepada umum sambil
menyerukan Horas 3 kali.
Kemudian menyusul pemberi ulos kepada orang tua pengantin laki-laki atau wakilnya.
Umpasa berikut sering disampaikan seiring dengan pemberian ulos:
“Jongjong do hami dison lae , ito pasahathon sada ulos na margoar ulos pansamot tu hamu
siala naung hujalo hami sinamotmu, marbonsir diulaonta sadarion. J ala laos on ma ito lau
ulos pargomgom asa mulai sadarion, gomgomonmu ma anakmu dohot parumaenmu.Songon
nidok ni umpasa ma:
(artinya: Kami berdiri disini lae, ito untuk menyampaikan satu ulos yang bernama ulos
pansamot untuk kalian karena kami telah menerima sinamot/mas kawin kalian,
sehubungan dengan acara kita hari ini. Jadi inilah ito ulos panggomgom agar mulai
sekarang kau ayomi anakmu serta menantumu seperti apa yang dikatakan umpasa:)
 Manginsir ma sidohar, diuma ni palipi;
Tudeak na ma hamu marpinompar, jala bagasmu sitorop pangisi.
Songon panutup ito:
(artinya: sebagai penutup ito:)
 Sahat sahat ni solu ma sahat tu bontean;
Nunga saut tu parhorasan, sahat tu panggabean.
Sesudah itu berjalanlah pemberi ulos (sitot ni Pansa) kepada pamarai dan simolohon.
Pemberian ulos ini biasanya diwakilkan kepada suhut paidua.
Setelah ulos-ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari
tulang laki-laki di sebut Ulos panggabei. Ini dilaksanakan setelah acara pemberian Tintin
marangkup.
III- Ulos pada upacara kematian

Ulos yang diserahkan pada waktu meninggal, Apabila seseorang meninggal, seperti
dikatakan tadi inilah yang terakhir dia menerima ulos dari Hulahulanya.
Tingkat kematian menentukan jenis ulos yang diberikan. Jika seseorang meninggal muda
maka ulos yang diberikan dinamai ulos „Parolang-olangan― dan biasanya dari jenis
parompa . Dan bila yang meninggal adalah telah berkeluarga (matipul ulu/ marompas
tataring), maka ulos yang diserahkan pada orang yang meninggal adalah „Ulos Saput―,
dan pada isterinya/jandanya diberikan „Ulos Tujung―.. Bila yang meninggal saur atau sari
matua maka kepadanya diberikan „Ulos Panggabei―.
Tentang Ulos Saput dan Tujung perlu dijelasjkan tentang pemberiannya. Menurut para
orang tua, yang memeberikan saput ialah pihak Tulang sebagai bukti bahwa tulang masih
tetap ada hubungannya dengan berenya. Sedang Ulos Tujung diberikan oleh pihak Hula-
hula .Ini penting agar tidak terjadi kesalahan.
Tata cara pemberiannya:
Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga) maka tidak ada acara pemberian
sapaut. Bila yang meninggal adalah orang yang telah berkeluarga maka pihak pihak hula-
hula mempersiapkan ulos Tujung dan Pihak Tulang menyediakan Ulos Saput, untuk
diserahkan, seiring dengan pemberian ulos tersebut maka pihak Tulang memberi ulos
Saput dari Tulang menyerahkannya dengan kata-kata:
“Dison bere hupasahat hami dope sada ulos tu ho songon saput ni dagingmu, ulos parpudi
laho manopot sambulom. Songon tanda do on na dohot do hami mar habot ni roha di
halalaom. Pabulus ma roham, topot ma ingananmu rap dohot Tuhanta na patulus
pardalanmu”.
(artinya: Disisni bere kami sampaikan lagi sebuah ulos untuk kamu sebagai pembalut
badanmu, ulos terakhir untuk menemui tanah asalmu. Ini sebagai tanda menunjukkan
bahwa kami ikut berduka cita atas keberangkatanmu. Ikhlaskanlah, dan pergilah kau
menemui Tuhanmu)
Kemudian pihak hulahula memeberikan tujung:
“Sadarion (ito/hela) pasahaton nami do tuho ulos tujung. Boha bahenon ito/hela, nunga
songon i huroha bagian mu, marbahir siubeonmu, sambor nipim mabalu ho. Alani I unduk
ma panailim marnida halak, patoru ma dirim maringot Tuhan, songon nidok ni umpasa ma
dohonon nami:
(artinya: Hari ini ito/hela kami sampaikanlah kepadamu Ulos Tujung. Apa yang harus
dikatakan lagi ito/hela sudah harus begitu nasibmu, marbahir siubeonmu, sambor nipim
kau menjadi janda/duda. Oleh karena itu tunduklah pandangan mu melihat orang, dan
rendahkan lah hatimu mengingat Tuhan)
 Hotang binebe-bebe, hotang punulos-pulos;
Unang iba mandele, ai godang do tudos-tudos.
Setelah beberapa hari berselang maka dilanjutkan dengan upacara mengungkap tujung
yang dilakukan oleh pihak Hula-hula. Mengenai waktunya tergantung kesepakatan kedua
belah pihak.
Hulahula menyediakan beras dipiring, air bersih untuk mencuci muka dan air puti satu
gelas, Acara dibuat pada waktu pagi (parnakok ni mataniari). Kata-kata untk mengiringi
acara tersebut adalah:
”Sadarion ungkapon nami ma tujung on sian simajujungmu, asa ungkap na ari matiur,
ungkap silas niroha tu hamu di joloanon, husuapi ma dainang/ helangku asa bolong sude ilu
ilum, na mambahen golap panailian.
(artinya: Hari ini kami buka tujung ini dari kepala kamu, agar terbuka hari yang cerah,
membuka kesenangan pada masa-masa yang akan datang, saya cuci mukamu ito/hela agar
terbuang semua kesedihanmu yang membuat gelap penglihatanmu.)
 Sai bagot na ma dungdung ma tu pilopilo na marajar;
Sai mago ma na lungun tu joloanon, ro ma na jagar.
Dison muse aek sitiotio, tio inum dainang/ laengku ma on, sai tio ma panggabean tio
parhorasan di hamu tu joloanon. Huhut dison boras sipir ni tondi, sai pir ma nang tondim.
( artinya: I ni ada air yang sangat jernih, jernih diminum oleh ito/lae, agar terang
panggabean, terang parhorasan bagi kalian dihari mendatang. Serta disini ada beras spir ni
tondi agar kuat tondimu.)
 Martantan ma baringin, marurat jabi-jabi
Horas ma tondi madingin, tumpakon ni Mulajadi.
Beras kemudian dijemput lalu ditaburkan diatas kepala sebanyak tiga kali. Biasanya
seluruh anak yang ditinggalkan almarhumpun dicuci mukanya dan ditaburkanberas
dikepalanya.
Dahulu kepada sipemberi ulos biasanya diberikan piso-piso sebagai panggarar adat.
Sekarang ini sering diganti dengan uang.
IV- Memberi Ulos Panggabei:
Bila seorang tua yang sari atau atau saur matua meninggal, maka seluruh hulahula akan
memberikan ulos panggabei. Dan biasanya ulos ini tidak lagi diberikan kepada yang
meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu, cicit).
Kata-kaya yang mengiringi pemberian ulos adalah sebagai berikut:
“Di hamu pomparan ni lae nami (amang boru) on. Dison hupasahat hami tu hamu sada ulos
panggabei. Ulos on ulos panggabei,sai mangulosipanggabean ma on, mangulosi parhorasan,
mangulosi daging dohot tondimu, hamu sude pomparan ni lae/amangboru on. Horas ma
dihita sude..”
(artinya: Untuk kalian semua keturunan lae/ amang boru kam, idisini kami sampaikan
satu ulos panggabei. Ulos ini ulos panggabei, agar mangulosi panggabean bagi kalian,
mangulosi parhorasan, dan mangulosi badan dan tondi kaliansemua keturunan lae/amang
boru ini, horas bagi kita semua.)
Biasanya ulos ini jumlahnmya sesuai dengan urutan hulahula mulai dari hulahula, bona
tulang, bona ni ari, dan seluruh hulahula anaknya maupun hulahula cucunya.
Begitulah kurang lebih tentang Ulos dengan filsafat hidup yang terkandung didalamnya.
Beras (sipir Ni tondi) :

Sebagai bahan pokok sehingga beras dianggap sebagai bahan sumber kehidupan yang
sangat penting, oleh karena itu Beras dianggap memiliki kekuatan magis memberikan
kehidupan bagi manusia, itulah sebabnya harus dijaga dan diurus dengan baik, tidak
boleh dbuang sembarangan dan harus disimpan ditempat khusus, karena itulah Beras
dibuat sebagai simbol pemberian atau mengukuhkan tondi ‖Sipir ni tondi‖, (penguat
jiwadan roh) yang bermakna jauh dari gangguan roh-roh jahat. Beras umumnya
diberikan oleh pihak Hulahu pada borunya.
6 Februari 2010 togapardede Tinggalkan komentar
Kategori: Budaya.
Tata cara pelaksanaan adat Batak – 6
III-Parhataan :
Dalam setiap upacara adat, betutur kata mempunyai persyaratan tertentu, tidak boleh asal
bicara, kasar unsur marah,menyindir menyinggung perasaan, jadi harus wajar tepat dan
pantas, tulus, dan kekeluargaan. Karena ada keyakinan orang Batak kalau berbicara
dengan perkataan buruk akan mendapat dampak buruk pula dan kehancuran dan dan
sebaliknya berkata baik akan mendapat yang baik dan keberuntungan.Oleh karena itu
didalam parhataan selalu diselipkan peribahasa atau perumpamaan yang keindahan dan
nilai-nilai moralnya sangat menentukan kesopansantunan didalam setiap berbicara.
Peranan Raja parhata (juru bicara) yang mempunyai kemampuan bertutur kata yang
baik sangatlah penting agar terhindar dari dampak negatif.
IV- Umpasa dan Umpama :
Hampir boleh dikatakan disetiap berbicara tentang budaya Batak, Umpasa berperanan
besar, suatu bentuk puisi yang bernafaskan pemberian berkat (hata pasu-pasu), jadi suatu
permohonan kepada yang Maha Kuasa agar kandungan makna rangkaian klimat tersebut
benar-benar dapat terwujud dan menjadi kenyataan nikmat yang dapat dirasakan oleh
orang yang dituju sesuai dengan falsafa dan kepercayaan Orang Batak.
Umpasa bukan saja hanya sekedar puisi berpantun, yang dibuat orang karena suatu
keahlian semata-mata dan tercipta seketika pada saat kita diberi kesempatan memperoleh
jambar hata, namun Umpasa tercipta melalui suatu kejadian yang kemudian diambil
hikmahnya dengan penuh sakral sejalan dengan alam pikiran dan falsafah orang Batak.
Oleh karena Umpasa tercipta berdasarkan pengalaman pada ompu sijolojolo tubu, maka
isi selalu berdasarkan perumpamaan alam ketika itu. Memamng sekarang sering
dimasukkan unsur-unsur modern dengan mengganti kata-kata yang dikenal saat
sekarang. Baiknya demi menjaga ke sakralan dan keindahan umpasa sebaiknya kita
pertahankan Umpasa yang dibuat oleh pendahulu (ompu sijolojolo tubu. Tidak masalah
umpasa tersebut bolak balik atau sering diucapkan, yang penting makna dan tujuannya
yang perlu dikhayati dan di resapi.
Umpasa di ucapkan setelah inti masalah di utarakan, untuk menekankan bahwa inti kata-
kata yang diutarakannya itu layak dan didukung oleh ompu sijolojolo tubu dalam bentuk
Umpasa yang dibuat mereka.
Adapun perbedaan Umpasa dengan Umpama adalah :
Umpasa adalah sebagai Tamsil berbentuk pantun dua atau empat baris: Baris pertama
sebagai sampiran dan baris kedua asebagai isi, mis:
Ø Landit jala porhot ni simargalagala;
Ø Hansit jala ngotngot naung adong gabe soada.
Sedang kan Umpama adalah: perumpamaan atau peribahasa . sebgai contoh :
Ø Siganda sigandua, tu pusuk ni singgolom;
Ø Nasada gabe dua, utang ni sipahilolong.
Jadi perbedaan antara Umpasa dengan Umpama hanya perbrdaan makna sakral, Umpasa
lebih dipergunakan memberi pasupasu.
V-Ulos:

Adalah suatu kain tenun taradisional Batak, dengan bermacam corak dan masing-masing
mempunyai nama dan makna serta fungsi yang berbeda pula. Umumnya ini diberikan oleh
pihak hulahula kepada borunya. Karena Ulos ini memiliki makna religi maka
pembuatannya mempunyai persyaratan religi pula, didalam pemberian pasu-pasu oleh
hula-hula kepada boru seiring dengan memberi ulos, orang Batak yakin ulos memiliki
nilai-nilai sakral itulah sebabnya pihak boru yang mendapat ulos dari hulahulanya merasa
mendapat restu (pasupasu) yang dapat memberikan berkat kebahagiaan hidup bagi
penerimanya.
Hingga sekarang tradisi memakai ulos masih dapat kita lihat terutama pada acara-acara
adat Batak, yang sering dipakai adalah seperti ulos Jugia, Ragi hotang ragi dup, sadum,
dan tidak semua ulos dapat dipakai sehari-hari.
Ulos dalam proses pembuatannya, terbuat dari bahan yang sama yaitu benang yang
dipintal dari kapas. Dan yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatan nya
yang dapat merupakan ukuran dalam penentuan nilai sebuah ulos
Sedangkan pemberian warna dasar pada sebuah ulos adalah dari sejenis tumbuhan Nila
(salaon) yang dimasukkan didalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini
direndam (digon-gon) berhari-hari, sampai getahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya
dibuang.Hasilnya ialah sebuah cairan berwarna hitam ke biru-biruan disebut Itom.
Dalam periuk lain yang disebut (palabuan) disediakan air hujan yang tertampung pada
lekuk batu (aek ni naturige) dicampur dengan air kapur secukupnya . Cairan yang
berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan kedalam palabuan tadi, lalu diaduk
hingga larut, ini disebut manggaru.
Kedalam cairan inilah benang tadi dicelupkan (disop). Sebelum dicelup benang terlebih
dahulu dililit dengan benang lain pada bagian tertentu menurut warna yang diinginkan.
Baru proses pencelupan dimulai, berulang ulang hingga warna yang diharapkan dapat
dicapai, proses ini memakan waktu yang sangat lama, berbulan-bulan bahkan ada yang
sampai tahunan.
Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi disepuh dengan air lumpur yang
dicampur dengan air abu yang dimask hingga mendidih sampai benang benang tadi
kelihatan mengkilat. Ini disebut mar-sigira, biasanya pekerjaan ini dilakukan pada waktu
pagi ditepi kali.
Bila warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk
diunggas agar benang menjadi kuat.
Benang ini sebelumnya direndam dulu dengan nasi yang lembek/bubur nasi yang kental,
dan sesudah cairan ini meresap keseluruh benang, digantung pada sebuah penggunggasan
untuk diunggas. Setiap jenis warna digulung pada hul-hul yang beda. Inilah yang
kemudian di ani (dirajut), lalu ditenun.
Bila kita memeperhatikan ulos Batak secara teliti, maka akan kelihatan bahwa cara
pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi, tidak kalah bila
dibandingkan dengan karya daerah lain.
Tingkatan ulos:
Seperti yang dikatakan tadi bahwa yang membedakan nilai ulos adalah tergantung proses
pembuatannya yang mempunyai tingkatan tertentu.
Misalnyabagi seorang gadis yang belajar bertenun, baru diperkenankan membuat ulos
parompa (yang dipergunakan untuk menggendong anak) ini disebut Mallage.
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memebri warna yang
diinginkan. Tingkatan yang paling tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan 7
(tujuh) buah lidi ( marsi pitu lili) dimana yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu
bertenun segala jenis ulos.
Filsafat tentang Mangulosai:

Ini adalah bagian yang penting karena dilatar belakangi sistem perkampungan yang
umumnya hidup disekitar pegunungan atau ditepian danau (tao) maka cuzcany/iklimnya
selalu dingin, karena itu orang batak sangat mengharapkan/ merindukan panas (halason),
yang dapat kita dari umpasa/peribahasanya sbb: ― Sinuan bulu mambahen las, Sinuan
partuturan sbahen horas‖. Karena itu pada perkampungan Batak umumnya ditananm
bambu disamping pertahanan (menjaga musuh) juga berfungsi sebagai penahan angin
yang terlalu kencang (membawa dingin) disekitar pegunungan. Ada tiga yang dapat
membuat senang ―las roha), bagi leluhur di zaman dahulu yaitu: 1- Matahari, 2- Api, 3-
Ulos. Masalah Api bukan menjadi sesuatu yang dipikirkan karena itu tetah ada dan teatp
ada sesuai dengan waktyunya, sedangkan Api dapat dibuat, tetapi tidak praktis untuk
dipergunakan untuk menghangatkan badan terutama pada malam hari, sangat berbeda
dengan Ulos hanya tinggal menyelimutkan kebadan saja sudah hangat.Oleh karena itu
nenek moyang zaman dahulu untuk memanaskan atau kiasan dari menyenangkan hati
anak- anaknya maka diberilah ulos. Begitulah sangat berartinya ulos bagi kehidupan
masyarakat Batak, hingga untuk kepesat atau ke pakan (onanpun sering orang batak
zaman dulu menyandangkannya ( dialiton). Akhirnya Mangulosi masuk sebagai salah satu
unsur dari adat. Dan mempunyai tata cara dalam mempergunakannya sbb: Pemberian
Ulos umunya dilakukan oleh yang dituakan maksudnya Dari Tulang (hula-hula) kepada
boru (parboruan), Orang tua kepada anak, Amang boru tu pormaen, Haha tu anggi. Dan
ulos yang diberikanpun harus lah Ulos yang pantas, seperti: Ragidup sebagai ulos
pargomgom kepada ibunya menantu (hela). Sibolang atau Ragihotang sebagai pansamot
kepada bapaknya menantu (hela), begitu juga yang akan diberikan kepada menantu
(hela). Ragi dup juga diberi kepada boru sebagai ulos mula gabe ( sewaktu mengharap
kelahiran anak pertama).
Ditinjau dari segi pemakaian maka ada 3macam ulos yaitu:
1- Siabitonon: ragidup, Sibolang, Runyat, Jobit, Simarinjamisi, Ragi pangko dll.
2- Sihadangkononhon (sampesampe): Sirara, Sumbat, Bolean, Mangiring, Surisuri,
Sadum, dll
3- Sitalitalihonon: Tumtuman, Mangiring, Padangrusa, dll
(bersambung –7)
6 Februari 2010 togapardede 1 Komentar
Kategori: Budaya.
« Older Entries
 Ooo Kawan:
 Recent Post:
o Wujud Akulturasi Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Indonesia (1)
o Pulau Mursala Dan Putri Runduk (2-habis)
o Pulau Mursala Dan Putri Runduk (1)
o 12 warisan si Raja Batak Sebagai Pedoman Hidup
o Wilmar Sitorus /Thio Seng Hap (A Hok)
o Darah Manusia Ketika Berdoa , Sedih ,Takut, Dan Jatuh Cinta
o Suku Batak dengan berbagai perkembangannya
o Bahasa Yang Paling Banyak Digunakan Di Dunia Tahun 2013
o Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit ―Atala‖
o PARMALIM, ADALAH BAGIAN DARI BUDAYA BATAK
o REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA TIMUR (1)
o Tata Cara Pelaksanaan Adat Batak (14)
o Tata Cara Pelaksanaan Adat Batak (13)
o Penyebab Putra Batak Banyak Jadi Pengacara
o Kekerabatan (Partuturan)
 Tulisan Teratas
o 100 Tokoh Batak dari Si Raja batak hingga abad 19
o Wujud Akulturasi Kebudayaan Hindu-Budha dengan Kebudayaan
Indonesia
o Aek Sipitu Dai - Air Tujuh Rasa ada di Tanah Batak
o 100 tokoh batak dari si Raja Batak hingga abad 19 (2)
o Tata Cara Pelaksanaan Adat Batak (13)
o KERAJAAN BATAK PERTAMA, BERAGAMA ISLAM.
o SI BORU NANTINJO-AWAL TERJADINYA PULAU MALAU
o Pulau Mursala Dan Putri Runduk (2-habis)
o Wujud Akulturasi Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Indonesia (1)
o Sejarah Pembagiam waktu Indonesia
 Gambar dalam sejarah:
o About
o Aceh punya epos:
o Budaya
o Buku Tamu
o Ragam Budaya Indonesia
o Sejarah
o Tuhan Maha Besar
o Video
o Video Sejarah
 Toga pardede‘s.blog

edis (@edis0607) on SI BORU NANTINJO-AWAL TERJADIN…

asolihin on Wujud Akulturasi Kebudayaan Is…

sahat on Umpasa dalam Sastra Budaya Bat…

sahat on Kandungan di dalam Ulos,Umpasa…

azlin on Beberapa analisa tentang Gunun…

Johan on REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA TI…

William Leesekhun on REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA TI…

Jerry simare-mare on Aek Sipitu Dai – Air Tuj…

kartikeya on Siapakah yang berdiam di sekit…

ronauli T on Tata cara pelaksanaan adat Bat…

Tulus Andri Nababan on Aek Sipitu Dai – Air Tuj…

Andika Tobing on Aek Sipitu Dai – Air Tuj…

tengku rudy syahputr… on REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA TI…

Ryan eko hutagalung on Aek Sipitu Dai – Air Tuj…

Choiri on Wujud Akulturasi Kebudayaan Hi…
 GLOBETRACKR:

 Online ?

 Follow:
 Blog Stats
o 167,953 hits
 Flickr Photos
More Photos

 Meta-Thp:
o Mendaftar
o Masuk log
o RSS Entri
o RSS Komentar
o WordPress.com


 Thp:
Juli 2014
S S R K J S M
« Sep
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31
 Arsip
o September 2013 (4)
o Agustus 2013 (1)
o Juli 2013 (2)
o Juni 2013 (2)
o Mei 2013 (1)
o April 2013 (5)
o Maret 2013 (4)
o Februari 2013 (1)
o Januari 2013 (5)
o Desember 2012 (1)
o Oktober 2012 (4)
o Agustus 2012 (7)
o Maret 2012 (3)
o Februari 2012 (1)
o Januari 2012 (2)
o Desember 2011 (4)
o November 2011 (3)
o Oktober 2011 (1)
o Juli 2011 (4)
o Juni 2011 (2)
o April 2011 (5)
o Maret 2011 (4)
o Februari 2011 (3)
o Januari 2011 (2)
o Desember 2010 (1)
o Agustus 2010 (2)
o Juli 2010 (2)
o Mei 2010 (6)
o April 2010 (2)
o Februari 2010 (5)
o Januari 2010 (10)
o Maret 2009 (8)
 Meta
o Mendaftar
o Masuk log
o RSS Entri
o RSS Komentar
o WordPress.com
 EasyCounter

HTML Counter

 kategori
o Budaya.
o Sejarah
o Uncategorized
 Gondang & Tortor Batak :
o Gendang Karo Jahe
o Gondang Mula-mula
o Gondang Namartua Pusuk Buhit
o Gondang Sahala
o Gondang Sakkae Horbo Ambarita
o Gondang Sampur Marorot
o Gondang Sampur Marorot
o Gondang Si Tuan Bataraguru
o Gondang Sipaidua
o Lasam-lasam (Batak karo)
o piso surit (karo)
o Si Bunga Jambu
o simalungun asli serunai
o Tor tor Sipitu Sawan
 Tarian Nusantara:
o 01- Aceh
o 02- Deli – Melayu
o 03- Karo -Sumatera utara
o 04- Simalungun – Sumut
o 05- Batak Toba- sumut
o 06- Mandailing – sumut
o 07- Tari Minang
o 08-Riau -melayu
o 09- Jambi- melayu
o 10- Lampung
o 11- Sumatera Selatan
o 12- Sunda-Jabar
o 13- Banten- sunda
o 14- Yogja – Kraton
o 15- Surakarta – Kasunanan
o 16- Solo – Mangkunegaran
o 17- Bali – tari pendet
o 18- Lombok
o 19- Ambon
o 20- Maluku
o 21- Kalimantan- Dayak
o 22- Minahasa- sulut
o 23- Sulawesi
o 24-Ternate
o 25- Papua
 Negara pengunjung

 Pra sejarah
o Temuan Artefak Ungkap Kehidupan Zaman Perunggu 7 Desember 2011
Aretafk Zaman Perunggu(sumber : kompas.com) CAMBRIDGE,
KOMPAS.com — Arkeolog menemukan ratusan artefak di rawa
Cambridgeshire, Inggris. Penemuan artefak itu merupakan yang terbesar
dan mampu mengungkap potret kehidupan manusia pada zaman perunggu,
lebih kurang 3.000 tahun lalu.Keranjang anyaman, pegangan pedang
berbahan kayu, dan fragmen tekstil adalah bebe […]
o Ancaman Kepunahan Situs Megalitikum Terjan 7 Desember 2011
Batu Berpahat Wajah Raksasa, salah satu bagian dari situs megalitikum
Terjan di Rembang, Jawa Tengah. (sumber foto : kompas.com) REMBANG,
KOMPAS.com - Situs peninggalan zaman megalitikum di kawasan Bukit
Selodiri, Desa Terjan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa
Tengah, terancam punah karena saat ini lahan penyangga situs tersebut
telah dijual pemilik […]
o Kota Hilang di Libya Ditemukan 10 November 2011
Kota hilang yang ditemukan di Sahara, barat daya Libya, merupakan bekas
peradaban Garamantes (sumber: kompas.com)KOMPAS.com - Teknik
pencitraan satelit berhasil menemukan bukti baru keberadaan peradaban
yang hilang di Gurun Sahara wilayah barat daya Libya. Jatuhnya rezim
Khadafy telah membantu para arkeolog untuk mengeksplorasi sejarah pra
Islam Libya, yang […]
o Menyusuri Jejak Nenek Moyang Kita 25 Oktober 2011
Rekonstruksi Homo erectus dipajang di Museum Geologi, Bandung, Jawa
Barat, Minggu (27/9/2009). Rekonstruksi wajah tersebut berdasarkan
spesimen tengkorak P VIII oleh Yoichi Yazawa dengan supervisi oleh Dr
Fachroel Aziz dari Museum Geologi dan hisao Baba dari Jepang untuk
pameran Rivving Pithecanthropus di Jepang, tahun 1996. (sumber :
kompas.com)KOMPAS - Nen […]
o Studio Seni Tertua di Dunia Ditemukan 25 Oktober 2011
Cangkang yang berisi oker sebagai bukti bahwa penduduk Afrika Selatan
sudahmengenal studiosejak 100.000 tahun lalu.(sumber foto:
kompas.com)KOMPAS.com - Arkeolog menemukan tempat yang mungkin
menjadi studio artis tertua di dunia di Gua Blombos, selatan Kota Cape
Town, Afrika Selatan. Tempat yang diperkirakan berusia 100.000 tahun itu
digunakan untuk membuat […]
o Megalit Pagaralam Kurang Perawatan 6 Maret 2011
Salah satu megalit yang kondisinya tidak terawat dan rusak(sumber :
sripoku.com) PAGARALAM, SRIPOKU.COM - Pagaralam merupakan
salah satu daerah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang banyak
memiliki kekayaan budaya dan peninggalan pra sejarah, megalit. Namun
dari sekian batu megalit hanya ada beberapa saja yang dirawat selebihnya
hanya dibiarkan saja. Ak […]
o Manusia Tinggalkan Pohon 3,5 Juta Tahun 7 Februari 2011
Seekor orangutan (Pongo pygmaeus wumbii) di atas pohon diPulau Kaja,
Sungai Rungan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.(sumber foto :
kompas.com)KOMPAS.com - Sebagian jenis hewan primata saat ini masih
banyak yang menghabiskan waktunya di pohon seperti orangutan dan kera
macaca. Namun, sebagian lainnya hidup di darat seperti gorila dan
simpanse.Manusia yang sec […]
o Warga Lahat Temukan Megalit Lumpang Batu 7 Februari 2011
Lumpang batu di komplek megalitik di Desa Pulaupanggung Sekendal,
Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat, Selasa (16/2).(sumber foto :
kompas.com/Eddy Hasby (ED)LAHAT, SUMSEL, KOMPAS.com--Warga
Desa Sekayun, Kecamatan Gumay Ulu, Kebupaten Lahat, Sumatera Selatan,
Senin, menemukan megalit lumpang batu diduga merupakan peninggalan
dari zaman prasejarah yang sud […]
o Why Is Radiocarbon Dating Important To Archaeology? 28 Januari 2011
By : Kelly LongAssociate State Archaeologist"Archaeology has the ability to
open unimaginable vistas of thousands, even millions, of years of past human
experience." � Colin Renfrew When it comes to dating archaeological
samples, several timescale problems arise. For example, Christian time
counts the birth of Christ as the beginning, AD 1 (Anno Do […]
o Manusia pelihara (dan makan) anjing 9.400 tahun yang lalu 26 Januari 2011
Hewan anjing(sumber : google.com)Oleh : Alex PangestuBerdasarkan
temuan dia sebuah gua di Texas, para ilmuwan menarik kesimpulan kalau
manusia sudah mulai memelihara anjing setidaknya 9.400 tahun yang lalu.
Anjing saat itu bukan hanya dipelihara, tapi pada beberapa ritual, anjing
dikonsumsi sebagai makanan. Ilmuwan berhasil mengidentifikasi sebuah
tulang--se […]
 Gondang & Tortor Batak :
o Gendang Karo Jahe
o Gondang Mula-mula
o Gondang Namartua Pusuk Buhit
o Gondang Sahala
o Gondang Sakkae Horbo Ambarita
o Gondang Sampur Marorot
o Gondang Sampur Marorot
o Gondang Si Tuan Bataraguru
o Gondang Sipaidua
o Lasam-lasam (Batak karo)
o piso surit (karo)
o Si Bunga Jambu
o simalungun asli serunai
o Tor tor Sipitu Sawan
 Tarian Nusantara:
o 01- Aceh
o 02- Deli – Melayu
o 03- Karo -Sumatera utara
o 04- Simalungun – Sumut
o 05- Batak Toba- sumut
o 06- Mandailing – sumut
o 07- Tari Minang
o 08-Riau -melayu
o 09- Jambi- melayu
o 10- Lampung
o 11- Sumatera Selatan
o 12- Sunda-Jabar
o 13- Banten- sunda
o 14- Yogja – Kraton
o 15- Surakarta – Kasunanan
o 16- Solo – Mangkunegaran
o 17- Bali – tari pendet
o 18- Lombok
o 19- Ambon
o 20- Maluku
o 21- Kalimantan- Dayak
o 22- Minahasa- sulut
o 23- Sulawesi
o 24-Ternate
o 25- Papua
 pardedejabijabi
Blog pada WordPress.com. | The Dark Wood Theme.
Ikuti
Follow ―Toga Pardede's Blog‖
Get every new post delivered to your Inbox.
Ditenagai oleh WordPress.com