You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dermatitis adalah peradangan pada kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon
terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen menimbulkan kelainan klinis
berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan
keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya
beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung menjadi kronik dan residif.
1,2,
Dermatitis !ontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang
menempel pada kulit. Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak
iritan dan dermatitis kontak alergikan. !eduanya dapat bersifat akut maupun kronis.
1,2,
Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotoksik lokal langsung dari bahan iritan baik
fisika maupun kimia yang bersifat tidak spesifik, pada sel"sel epidermis dengan respon
peradangan pada dermis dalam #aktu dan konsentrasi yang cukup. Dermatitis kontak iritan
(D!$) dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis kelamin.
%umlah penderita D!$ diperkirakan cukup banyak terutama yang berhubungan dengan
pekerjaan (D!$ akibat kerja), namun dikatakan angkanya secara tepat sulit diketahui.
&
'enyebab munculnya D!$ adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut,
deterjen, minyak pelumas, asam alkali, serbuk kayu, bahan abrasif, en(im, minyak, larutan
garam konsentrat, plastik berat molekul rendah atau bahan kimia higroskopik. )ejala klinis
dermatitis iritan dibedakan atas dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis iritan kronik.
Diagnosis D!$ didasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis
1,&
Dermatitis kontak alergi (D!*) adalah dermatitis yang disebabkan oleh reaksi
hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan"bahan kimia yang kontak dengan kulit dan dapat
mengaktivasi reaksi alergi. +ila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah
penderita dermatitis kontak alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang kulitnya
sangat peka (hipersensitif).
1,2
Page | 1
'enyebab dermatitis kontak alergik (D!*) adalah alergen, paling sering berupa
bahan kimia dengan berat molekul ,1--- delton. 'enderita pada umumnya mengeluh gatal.
!elainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis. .ntuk menetapkan bahan alergen
penyebab dermatitis kontak alergik diperlukan anamnesis yang teliti, ri#ayat penyakit yang
lengkap, pemeriksaan fisik dan uji tempel,
1,2,&
'engobatan yang tepat pada dermatitis kontak didasarkan kausa, yaitu menyingkirkan
penyebabnya. Tetapi, seperti diketahui penyebab dermatitis multi faktor, kadang juga tidak
diketahui dengan pasti. %adi pengobatan bersifat simtomatis, yaitu dengan menghilangkan
atau mengurangi keluhan dan gejala, dan menekan peradangan. /ecara sistemik pada kasus
ringan dapat diberikan antihistamin, pada kasus berat dapat diberikan kortikosteroid.
/edangkan secara topikal prinsip umumnya adalah dermatitis akut diobati dengan kompres
terbuka (0a1l -,23), bila subakut diberi losio, krim, pasta atau linimentum. !rim diberikan
pada daerah yang berambut sedangkan pasta diberikan pada daerah yang tak berambut. +ila
kronik diberi salap.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Page | 2
A. Definisi Dermatitis
Dermatitis adalah peradangan pada kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon
terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen menimbulkan kelainan klinis
berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan
keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya
beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung menjadi kronik dan residif.
1,2,
B. Etiologi Dermatitis
'enyebab dermatitis dapat berasal dari luar (eksogen), misalnya bahan kimia
(contoh4 detergen, asam, basa, oil, semen), fisik (contoh 4 sinar, suhu), mikroorganisme
(bakteri, jamur) dapat pula dari dalam (endogen), misalnya dermatitis atopik. /ebagian
lain tidak diketahui etiologinya yang pasti.
1,2,&
C. Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang
menempel pada kulit
1,&
D. Klasifikasi Dermatitis Kontak
1.
Dermatitis iritan merupakan reaksi peradangan kulit non imunologi, jadi kerusakan
kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. Dermatitis kontak iritan
adalah efek sitotoksik lokal langsung dari bahan iritan baik fisika maupun kimia,
yang bersifat tidak spesifik, pada sel"sel epidermis dengan respon peradangan pada
dermis dalam #aktu dan konsentrasi yang cukup
1,2,,5,&
2.
Dermatitis kontak alergi terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi
terhadap suatu alergen. Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang disebabkan
oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan"bahan kimia yang kontak
dengan kulit dan dapat mengaktivasi reaksi alergi
1,2,,5,&
E. Dermatitis Kontak Iritan
• Definisi
Page | 3
Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit non immunologi, jadi
kerusakan kulit terjadi langsung tanpa di dahului proses sensitisasi. Dermatitis kontak
iritan adalah efek sitotoksik lokal langsung dari bahan iritan baik fisika maupun kimia,
yang bersifat tidak spesifik, pada sel"sel epidermis dengan respon peradangan pada
dermis dalam #aktu dan konsentrasi yang cukup
1,2,,6,&
• Epiemiologi
Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan
umur, ras, jenis kelamin. %umlah penderita D!$ diperkirakan cukup banyak, terutama
yang berhubungan dengan pekerjaan (D!$ akibat kerja), namun angkanya secara tepat
sulit diketahui. 7al ini disebabkan oleh banyak penderita dengan kelainan primer tidak
datang berobat atau bahkan tidak mengeluh.
1
• Etiologi
'enyebab munculnya dermatitis jenis ini adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya
bahan pelarut, deterjen, minyak, pelumas, asam, alkali dan serbuk kayu. !elainan kulit
yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi bahan tersebut
dan vehikulum juga dipengaruhi oleh faktor lain. 8aktor yang dimaksud yaitu lama
kontak, kekerapan (terus menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih
permiabel, demikian pula gesekan dan trauma fisis. /uhu dan kelembapan lingkungan
juga ikut berperan. 8aktor individu yang ikut berpengaruh pada D!$ misalnya perbedaan
ketebalan kulit, usia, ras, jenis kelamin, penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami.
1,2.6.&
• Patogenesa
!elainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui
kerja kimia#i atau fisis. +ahan iritan merusak lapisan tanduk, dan mengubah daya ikat air
kulit. !ebanyakan bahan iritan (toksin) merusak membran lemak (lipid membran)
keratinosit, tetapi sebagian dapat menembus membran sel dan merusak lisosom,
mitokondria, atau komponen inti. !erusakan membran mengaktifkan pospolipase dan
melepaskan asam arakidonat (**), diasilgliserida (D*)), platelet aktivating faktor
('*8), dan inositida ($'). ** dirubah menjadi prostaglandin (')) dan leukotrien (9T).
') dan 9T menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan permeabilitas vaskular sehingga
mempermudah transudasi komplemen dan kinin. ') dan 9T juga bertindak sebagai
Page | 4
kemoatraktan kuat untuk limfosid dan neotropil, serta mengatifasi sel mas melepas
histamin, 9T, ') lain, dan '*8, sehingga memperkuat perubahan vaskular.
1,2,,&
D*) dan second mesengger lain mestimulasi ekspresi gen dan sintesi protein.
!eratinosit juga membuat molekul permukaan 79*"D: dan adhesi intra sel 1. 'ada
kontak dengan iritan, keratinisit juga melepakan T08"a, suatu sitokin proinflamasi yang
dapat mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adhesi
sel dan pelepasan sitokin.
1,2,,&
:entetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik ditempat
terjadinya kontak dikulit berupa eritema, edema, panas, nyeri bila iritan kuat. +ahan iritan
lemah akan menimbulkan kelainan kulit dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh
karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sa#arnya.
1,2,,&
• Klasifikasi Dermatitis Kontak Iritan
a. Dermatitis kontak iritan ak!t
:eaksi ini bisa beraneka ragam dari nekrosis hingga keadaan yang tidak lebih
daripada sedikit dehidrasi (kering) dan kemerahan. !ekuatan reaksi tergantung dari
kerentanan individunya dan pada konsentrasi serta ciri kimia#i kontaktan, adanya oklusi
dan lamanya serta frekuensi kontak.
,&
/atu kali kontak yang pendek dengan suatu bahan kimia#i kadang"kadang sudah
cukup untuk mencetuskan reaksi iritan. !eadaan ini biasanya disebabkan oleh (at alkali
atau asam, ataupun oleh detergen. .ap dan debu alkali dapat menimbulkan rekasi iritan
pada #ajah. %ika lemah maka reaksinya akan menghilang secara spontan dalam #aktu
singkat. 9uka bakar kimia merupakan reaksi iritan yang terutama terjadi ketika bekerja
dengan (at"(at kimia yang bersifat iritan dalam konsentrasi yang cukup tinggi.
,&
!ontak yang berulang"ulang dengan (at iritan sepanjang hari akan menimbulkan
fissura pada kulit (chapping reaction), yaitu berupa kekeringan dan kemerahan pada
kulit, akan menghilang dalam beberapa hari setelah pengobatan dengan suatu pelembab.
:asa gatal dapat pula menyertai keadaan ini, tetapi yang lebih sering dikeluhkan pasien
adalah rasa nyeri pada bagian yang mengalami fissura. ;eskipun efek kumulatif
diperlukan untuk menimbulkan reaksi iritan, namun hilangnya dapat terjadi spontan kalau
penyebabnya ditiadakan.
,&
Page | 5
". Dermatitis kontak iritan kronis
D!$ kronis disebabkan oleh kontak dengan iritan lemah yang berulang"ulang dan
mungkin bisa terjadi oleh karena kerjasama berbagai macam faktor. +isa jadi suatu bahan
secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan, tetapi bila bergabung
dengan faktor lain baru mampu. !elainan baru nyata setelah berhari"hari, berminggu"
minggu atau bulan, bahkan bisa bertahun"tahun kemudian. /ehingga #aktu dan rentetan
kontak merupakan faktor paling penting
1,6
.
)ejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal dan terjadi
likenifikasi, batas kelainan tidak tegas. +ila kontak terus berlangsung maka dapat
menimbulkan retak kulit yang disebut fissura. *dakalanya kelainan hanya berupa kulit
kering dan skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita. /etelah kelainan
dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian
1,6
• Diagnosa
Diagnosis D!$ ditegakkan berdasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan
gambaran klinis. D!$ akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat sehingga
penderita pada umumnya masih ingat apa yang menjadi penyebabnya. /ebaliknya D!$
kronis timbulnya lambat serta mempunyai variasi gambaran klinis yang luas, sehingga
adakalanya sulit dibedakan dengan dermatitis kontak alergik. .ntuk itu diperlukan uji
tempel dengan bahan yang dicurigai.
1
• Diagnosa Baning
a. Dermatitis atopik
*da ri#ayat atopi pada penderita atau keluarganya, kadar $g< di dalam serum
meningkat
b. Dermatitis numular
9esi berbentuk uang logam
c. Dermatofitosis
+erbatas tegas, pinggir aktif dan bagian tengah agak menyembuh.
d. Dermatitis /eboroik
/kuama berminyak, #arna kekuningan
e. 'soriasis
Page | 6
/kuama tebal dan tidak ditemukan ri#ayat kontak
f.. !andidiasis
+iasanya dengan lokalisasi yang khas. <floresensi berupa eritema, dan erosi.
1,&,=
• Penatalaksanaan
.paya pengobatan dermatitis kontak iritan yang terpenting adalah menghindari
pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisis maupun kimia#i, serta
menyingkirkan faktor pemberat. +ila hal ini dapat dilaksanakan dengan sempurna, dan
tidak terjadi komplikasi, maka dermatitis kontak iritan tersebut akan sembuh dengan
sendirinya tanpa pengobatan topikal, mungkin cukup dengan pelembab untuk
memperbaiki kulit kering. *pabila diperlukan, untuk mengatasi peradangan dapat
diberikan kostikosteroid topikal, misalnya hidrokortison, atau untuk kelainan yang kronis
dapat dia#ali dengan kortikosteroid yang lebih kuat.
1,2,&,=
'emakaian alat pelindung diri yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja
dengan bahan iritan , sebagai salah satu upaya pencegahan umum4

7indari sumber toksis

'engobatan bergantung jenis iritan, jika asam kuat, tindakan berupa pencucian
dengan air, kemudian basa dan natrium bikarbonat.

/etelah dicuci diberi salep atau krim kortikosteroid.
1,2,&,=
 /istemik
" *ntihistamin 4 1hlorpheniramine ;aleate 5 mg "5>?hari
1eteri(ine 1- mg 1>1?hari
'ada kasus akut dan berat dapat diberikan kortikosteroid.

!ortikosteroid4
prednison 5-"&- mg?hari pada orang de#asa
metilprednisolon 5"5@ mg? hari
 Topikal

!artikosteroid seperti hidrokortison 1"23.
6
• Prognosis
Page | 7
+ila bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan
sempurna, maka prognosisnya kurang baik. !eadaan ini sering terjadi pada dermatitis
kontak iritan kronis yang penyebabnya multi faktor, juga pada penderita atopi.
1, &
• Komplikasi
*dapun komplikasi D!$ adalah sebagai berikut4

D!$ meningkatkan resiko sensitisasi pengobatan topikal

lesi kulit bisa mengalami infeksi sekunder, khususnya oleh Staphylococcus
aureus

neurodermatitis sekunder (liken simpleks kronis) bisa terjadi terutama pada
pekerja yang terpapar iritan di tempat kerjanya atau dengan stress psikologik

hiperpigmentasi atau hipopigmentasi post inflamasi pada area terkena D!$

jaringan parut muncul pada paparan bahan korosif atau ekskoriasi.
&
#. Dermatitis Kontak Alergikan
• Definisi
Dermatitis kontak alergi terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi dan
elisitasi terhadap suatu alergen. Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan"bahan kimia yang
kontak dengan kulit dan dapat mengaktivasi reaksi alergi
1,2,,6,&
• Epiemiologi
+ila dibandingkan dengan D!$, jumlah penderita D!* lebih sedikit karena hanya
mengenai orang yang keadaan kulitnya sangat peka atau hipersensitifitas. Diramalkan
bah#a jumlah D!* maupun D!$ makin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah
produk yang mengandung bahan kimia yang dipakai oleh masyarakat. 0amun informasi
mengenai prevalensi dan insiden D!* dimasyarakat sangat sedikit, sehingga berapa
angka yang mendekati kebenaran belum didapat. Dulu diperkirakan bah#a kejadian D!$
akibat kerja sebanyak @-3 dan D!* 2-3, tapi data baru dari inggris dan amerika serikat
menunjukkan bah#a dermatitis kontak akibat kerja karena alergi ternyata cukup tinggi
yaitu berkisat anrata 6-"&-3. /edangkan dari suatu penelitian ditemukan frekuensi D!*
bukan akibat kerja tiga kali lebih sering dari pada D!* akibat kerja.
Page | 8
• Etiologi
'enyebab D!* adalah bahan kimia sederhana dengan berat molekul umumnya
rendah (,1--- delton), merupakan alergen yang belum di proses disebut hapten, bersifat
lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum korneum sehingga mencapai sel
epidermis diba#ahnya (sel hidup). +erbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya D!*
misalnya potensi sensitisasi alergen, dosis perunit area, luas daerah yang terkena, lama
pajanan, oklusi, suhu dan kelembaban lingkungan, vehikulum dan p7 serta faktor
individu.
1,2,&
• Patogenesis
;ekanisme terjadinya kelainan kulit pada D!* adalah mengikuti respon imun yang
diperantarai oleh sel (cell"mediated immune respons) atau reaksi imunologi tipe $A, suatu
hipersensitivitas tipe lambat. :eaksi ini terjadi melalui dua fase, yaitu fase sensitasi dan
fase elisitasi. 7anya individu yang telah mengalami sensititasi dapat menderita D!*.
 #ase sensitisasi
7apten yang masuk dalam epidermis mele#ati stratum korneum akan ditangkap oleh
sel langerhans dan dikonjungasikan pada molekul 79* , D: menjadi antigen
lengkap. /etelah keratinosit terpajan oleh hapten yang juga mempunyai sifat iritan
akan melepaskan sitokin atau interleukin 1 ($9 1) yang akan mengaktifkan sel
langerhans sehingga mampu menstimulasi sel T. *ktivasi tersebut meningkatkan
sekresi sitokin tertentu ( misalnya, interleukin 1). /erta ekspresi molekul permukaan
sel termasuk ;71 kelas 1 dan 2, inca;"1, 9;7 dan + =. /itokin proinflamasi lain
yang dilepaskan keratinosit yaitu T08"a, yang mengaktifasi sel T, makrofag dan
granulosit. T08"a menekan produksi <"cadherin yang mengikat sel langerhans pada
epidermis juga menginduksi aktivitas gelatinolisis, sehingga memperlancar sel
langerhans mele#ati membran sel basalis bermigrasi ke kelenjar getah bening.
Dalam kelenjar limfe sel langerhans mempresentasikan kompleks 7 , D: antigen
kepada sel T penolong spesifik, yaitu mengeksperesikan molekul 1D5 dan kompleks
reseptor sel T 1D. /el langerhans mengekskresi interleukin 1 yang menstimulasi sel
Page | 9
T untuk mengekspresikan reseptor interleukin 2. /itokin ini akan menstimulasi
proliperasi sel T spesifik. Turunan sel ini yaitu sel T memori akan meninggalkan
kelenjar getah bening dan beredar keseluruh tubuh. 8ase ini berlangsung selama 2"
minggu.
1,&
 #ase elisitasi
8ase kedua hipersensitifitas tipe lambat terjadi pada pajangan ulang alergen (hapten).
/eperti pada pasien sensitifasi, hapten akan ditangkap oleh sel langerhans dan
diproses secara kimia menjadi antigen. !omplek 7D: antigen akan dipresentasikan
kepada sel T memori, baik di kulit maupun di kelenjar limfe. /el langerhans
menskresikan interleukin 1 yang menstimulasi sel T untuk memproduksi interleukin
2: ($9"2:) yang akan menyebabkan proliferasi sel T di kulit. /el T memori
mengeluarkan $80γ yang akan mengaktifkan keratinosit mengekspresi $1*;"1 dan
79*"D:, 79*"D: memungkinkan keratonosit untuk berinteraksi langsung dengan
sel T 1D5 dan juga memungkinkan prensentasi antigen kepada sel T.
1,&
!eratonosit menghasilkan juga sejumlah sitokin antara lain interleukin $9 1, $9 &,
T08"a, dan );1/8, semua dapat mengaktifasi sel T. $nterkeukin 1 dapat
menstimulasi keratinosit menghasilkan eukosanoit. /itokin dan eukosanoit akan
mengaktifakan sel mast dan makrofag. /el mast akan melepaskan histamin, berbagai
jenis faktor kemotatik, ')<2 dan ')D2 dan leuktotrin +5, eukosanoit baik yang
berasal dari sel mast maupun dari keratinosit atau leukosit menyebabkan dilatasi
vaskular dan meningkatkan permeabilitas sehingga molekul larut seperti komplemen
dan kinin mudah berdifusi kedalam dermis dan epidermis. /elain itu faktor kemotatik
dan eukosanoit akan menarik neutrofil, monosit, dan sel darah lain dalam pembuluh
darah masuk ke dalam dermis. :ententan kejadian tersebut akan menimbulkan
respon klinik D!*. fase ini berlangsung antara 25"5@ jam.
1,&
• Diagnosa
Diagnosis D!* ditegakkan berdasarkan atas dasar anamnesis secara cermat dan
pemeriksaan klinis yang teliti. *namnesis mengenai bahan kontak apa"apa saja yang
dicurigai termasuk menanyakan ri#ayat pekerjaan, hobi, obat"obatan yang pernah
digunakan, kosmetik, bahan"bahan yang diketahui menimbulkan alergi, penyakit kulit
Page | 10
yang pernah dialami, ri#ayat atopi baik yang bersangkutan maupun keluarganya. /elain
itu dilakukan pemeriksaan fisik karena dengan melihat lokasi dan pola kelaianan kulit
dapat diketahui penyebabnya. %ika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan tambahan,
seperti pemeriksaan eosinofil darah tepi dan uji tempel.
1,2,,&
$. U%i Tempel
Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya di punggung. .ntuk melakukan uji
tempel diperlukan antigen, biasanya antigen standar misalnya 8inn 1hamber /ystem !it
dan T.:...< test. *dakalanya test dilakukan dengan antigen bukan standar, dapat berupa
bahan kimia murni, atau lebih sering bahan campuran yang berasal dari rumah,
lingkungan kerja atau tempat rekreasi. %angan melakukan uji tempel dengan bahan yang
tidak diketahui.
1,&
+ahan yang secara rutin dan dibiarkan menempel dikulit, misalnya kosmetik,
pelembab, bila dipakai untuk uji tempel, dapat langsung digunakan. +ila menggunakan
bahan yang secara rutin dipakai dengan air untuk membilasnya, misalnya sampo, pasta
gigi, harus diencerkan terlebih dahulu. +ahan yang tidak larut dalam air diencerkan atau
dilarutkan dalam vaselin atau minyak mineral. 'roduk yang diketahui bersifat iritan,
misalnya deterjen, hanya boleh diuji bila diduga keras penyebab alergi. *pabila pakaian,
sepatu atau sarung tangan yang dicurigai penyebab alergi, maka uji tempel dilakukan
dengan potongan kecil bahan tersebut direndam dalam air garam yang tidak dibubuhi
bahan penga#et atau air dan ditempelkan di kulit dengan memakai Finn Chamber,
dibiarkan sekurang"kurangnya 5@ jam. 'erlu diingat bah#a hasil positif dengan alergen
bukan standar perlu control (6 sampai 1- orang), untuk menyingkirkan kemungkinan
karena iritasi.
1,&
+erbagai hal berikut ini perlu diperhatikan dalam pelaksanaan uji tempel4
1,&
1. Dermatitis harus sudah sembuh. +ila masih dalam keadaan akut atau berat dapat
terjadi reaksi Bangry backC atau Be>cited skinC reaksi positif palsu, dapat juga
menyebabkan penyakit yang sedang dideritanya makin memburuk.
2. Test dilakukan sekurang"kurangnya satu minggu setelah pemakaian kortikosteroid
sistemik dihentikan (#alaupun dikatakan bah#a uji tempel dapat dilakukan pada
Page | 11
pemakaian prednison kurang dari 2- mg?hari). 'emberian kortikosteroid topical
dipunggung dihentikan sekurang"kurangnya 1 minggu sebelum test dilaksanakan.
/edangkan antihistamin sistemik tidak mempengaruhi hasil tes, kecuali diduga
karena urtikaria kontak.
. .ji tempel dibuka setelah dua hari, kemudian dibaca, pembacaan kedua dilakukan
pada hari ke" sampai ke"= setelah aplikasi.
5. 'enderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebabkan uji tempel menjadi
longgar (tidak menempel dengan baik), karena memberikan hasil negative palsu.
'enderita juga dilarang mandi sekurang"kurangnya dalam 5@ jam, dan menjaga agar
punggung selalu kering setelah dibuka uji tempelnya sampai pembacaan terakhir
selesai.
6. .ji tempel dengan bahan standar jangan dilakukan terhadap penderita yang
mempunyai ri#ayat tipe urtikaria dadakan, karena dapat menimbulkan urtikaria
generalisata bahkan reaksi anafilaksis.
1,&
/etelah dibiarkan menempel selama 5@ jam, uji tempel dilepas. 'embacaan
pertama dilakukan 16"- menit setelah dilepas, agar efek tekanan bahan yang diuji telah
menghilang. 7asilnya dicatat seperti berikut4
1,&
1 D reaksi lemah (nonvesikular)4 eritema, infiltrat, papul (E)
2 D reaksi kuat4 edema atau vesikel (EE)
D reaksi sangat kuat (ekstrim)4 bula atau ulkus (EEE)
5 D meragukan4 hanya macula eritematosa (F)
6 D iritasi4 seperti terbakar, pustule atau purpura ($:)
& D reaksi negative (")
= D e>cited skin
@ D tidak ditest (0TDnot tested)
:eaksi e>cited skin atau angry back merupakan reaksi positif palsu, suatu fenomena
regional disebabkan oleh satu atau beberapa reaksi positif kuat, yang dipicu oleh
hipersensitivitas kulit, pinggir uji tempel yang lain menjadi reaktif.
1,2,&
Page | 12
'embacaan kedua perlu dilakukan sampai satu minggu setelah aplikasi, biasanya =2
jam atau 2& setelah aplikasi. 'embacaan kedua ini penting untuk membantu membedakan
antara respon alergik atau iritasi. .ntuk menghindari reaktif semu hasil dapat dibaca lagi
setelah & atau = hari. :espon alergik biasanya menjadi lebih jelas antara pembacaan
kesatu dan kedua, bera#al dari E?" ke E atau EE bahkan ke EEE ( :eaksi tipe crescendo),
sedangkan respon iritan cenderung menurun ( reaksi tipe decrescendo). :eaksi positif
palsu dapat terjadi antara lain bila konsentrasi terlalu tinggi, atau bahan tersebut bersifat
iritan bila keadaan tertutup (oklusi), efek pinggir uji tempel, umumnya karena iritasi,
bagian tepi menunjukkan reaksi lebih kuat, sedang dibagian tengahnya reaksi ringan atau
sama sekali tidak ada.
1,2,&
:eaksi negatif palsu dapat terjadi misalnya konsentrasi terlalu rendah, vehikulum
tidak tepat, bahan uji tempel tidak melekat dengan baik, atau longgar akibat pergerakan,
kurang cukup #aktu penghentian pemakaian kortikosteroid sistemik atau topikal. .ji
tempel biasanya dilakukan 5 minggu setelah dermatitisnya hilang.
1,2,&
• Diagnosa Baning
a. Dermatitis atopik
*da ri#ayat atopi pada penderita atau keluarganya, kadar $g< didalam serum
meningkat
b. Dermatitis numular
9esi berbentuk uang logam
c. Dermatofitosis
+erbatas tegas, pinggir aktif dan bagian tengah agak menyembuh.
d. Dermatitis /eboroik
/kuama berminyak, #arna kekuningan
e. 'soriasis
/kuama tebal dan tidak ada ditemukan ri#ayat kontak
f. !andidiasis
+iasanya dengan lokalisasi yang khas. <floresensi berupa eritema dan erosi.
1,&,=
Page | 13
• Penatalaksanaan
7al yang perlu diperhatikan pada pengobatan dermatitis kontak adalah upaya
mencegah terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab, dan menekan kelainan
kulit yang timbul. !ortikosteroid dapat diberikan dalam jangka pendek untuk mengatasi
peradangan pada dermatitis kontak alergika akut yang ditandai dengan eritema, edema,
vesikel atau bula, serta eksudatif (madidans ) misalnya prednison - mg?hari. .mumnya
kelainan kulit akan mereda setelah beberapa hari, serta kelainan kulitnya cukup
dikompres dengan larutan garam faal atau larutan air salisil 141---.
1,2,6,&
.ntuk dermatitis kontak alergika ringan atau dermatitis kontak alergika akut yang
telah mereda (setelah mendapat pengobatan kostikoteroid sistemik) cukup diberikan
kortikosteroid atau makrolaktam (pimecrolimus atau tacrolimus) secara topikal.
1,2,&,=
 .mum4
− 7indari faktor penyebab
 !husus4
− /istemik
o *ntihistamin 4 1T; 5 mg "5 >?sehari
o !ortikosteroid4 metilprednisolon 5"5@ mg?hari, prednisolon -
mg?hari
− Topikal
%ika lesi basah diberi kompres 0acl -,23. %ika sudah mengering diberi
kortikosteroid topikal seperti hidrokortison 1"2 3, triamsinolon -,1 3,
deso>imetasone 2"2,63 dan betametason"dipropionat -,-63.
1,2,&
• Prognosa
'rognosis dermatitis kontak alergi umumnya baik, sejauh bahan kontaknya dapat
disingkirkan. 'rognosis kurang baik dan menjadi kronis bila terjadi bersamaan dengan
dermatitis oleh faktor endogen (dermatitis atopik, dermatitis numularis atau terpajan oleh
alergen yang tidak mungkin dihindari, misalnya berhubungan dengan pekerjaan tertentu
atau yang terdapat dilingkungan penderita.
1,&
Page | 14
DA#TA& PUSTAKA
1. 7am(ah ;ochtar. 2--=. Dermatitis. Dalam4 Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin <disi
!elima. %akarta4 8akultas !edokteran $ndonesia. 7al4 262"2&-
2. 7. ;ar#ali, Dermatitis. Dalam 4 Ilmu Penyakit Kulit. %akarta4 7ipokrates. 7al 6"56
. )raham G +urn toni.Dermatitis Dalam4 Dermatologi. %akarta4 *irlangga. 7al &&"=
5. :obin,!enneth *, *rndt. Dermatologi. Dermatitis Dalam4 Pedoman erapi
Dermatologis.%akarta47ipokrates. 7alaman 22"6
6. /iregar :./. 2--5. Dermatitis. Dalam4 !tlas "er#arna Saripati Penyakit Kulit <disi
!edua. %akarta 4 <)1. 7al 1=@"1@2
&. http?? repository.dermatitis.usu.ac.id
=. http??repository.dermatitis kontak.usu.ac.id
Page | 15
LAP'&AN KASUS
/eorang pasien pria bernama Tjokai /embiring berumur =5 tahun, suku batak, agama
!risten, pekerjaan pensiunan *+:$, datang ke poliklinik penyakit kulit dan kelamin
:/.'; pada tangagal 1= januari 2-15 dengan keluhan utama bercak kemerahan yang
meninggi disertai rasa gatal pada punggung kaki kanan dan kiri serta sela jari pertama
kaki kanan dan kiri dialami Hs sejak 1 bulan ini.
*#alnya muncul bercak kemerahan yang meninggi disertai rasa gatal dipunggung kaki
kanan dan kiri serta sela jari pertama kaki kanan dan kiri setelah Hs menggunakan sendal
jepit s#allo#. !arena gatal Hs menggaruknya sehingga bercak kemerahan sedikit berair
dan juga ditemukan adanya sisik halus. Hs belum pernah berobat sebelumnya dan
sekarang Hs memutuskan untuk berobat ke poliklinik kulit dan kelamin :/.';.
Dari anamnesis ri#ayat penyakit keluarga tidak dijumpai, ri#ayat penyakit terdahulu
sakit jantung, ri#ayat pemakaian obat tidak dijumpai.
Dari pemeriksaan fisik dijumpai keadaan umum dan status gi(i baik. 'ada
pemeriksaan dermatologi ditemukan ruam plak eritema, skuama dan erosi. 9okasinya
yaitu regio dorsum pedis de>tra et sinistra dan regio interdigitalis 1 de>tra et sinistra.
'emeriksaan laboratorium tidak dilakukan.
+erdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien, diagnosis banding pasien
ini adalah dermatitis kontak ec sendal jepit s#allo#, dermatitis atopik dan tinea pedis.
'enatalaksanaan pada pasien ini secara umum adalah menghindari pemakaian sendal
jepit dan menjaga kebersihan kaki. /ecara khusus diberikan urea 1-3 crem 2 > sehari
(pagi" sore), Deso>imetasone -,63 crem 2 > sehari (pagi"sore)
Page | 16
'rognosis pada pasien ini baik.

Page | 17
$am"ar (. Dermatitis kontak
DISKUSI
Diagnosis dermatitis kontak pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. 'ada anamnesis, ditemukan bercak kemerahan yang meninggi disertai
rasa gatal pada punggung kaki kanan dan kiri yang sudah dialami Hs sejak 1 bulan ini,
namun Hs belum pernah berobat sebelumnya.
)atal"gatal ini dirasakan Hs semenjak Hs memakai sendal jepit s#allo#. Tiba"tiba
muncul bercak kemerahan yang meninggi disertai rasa gatal di punggung kaki kanan dan
kiri serta sela jari pertama kaki kanan dan kiri Hs . !arena gatal Hs menggaruknya
sehingga bercak kemerahan sedikit berair dan juga ditemukan adanya sisik halus. 7al ini
sesuai kepustakaan yang menyatakan bah#a diagnosis dermatitis kontak ditegakkkan
berdasarkan hasil anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
jika diperlukan. 'enderita umumnya mengeluh gatal. 'ada yang akut berupa lesi polimorf
yang dimulai dari bercak eritematosa yang berbatas jelas, kemudian diikuti edema,
papulovesikel, vesikel atau bula.
9okalisasi yaitu regio dorsum pedis de>tra et sinistra dan regio interdigitalis 1 de>tra
et sinistra. 7al ini sesuai dengan kepustakaan bah#a lokasi dermatitis kontak yaitu pada
daerah yang mengalami kontak dengan alergen penyebab.
'enatalaksaan pasien ini secara umum adalah menghindari garukan, menjaga
kebersihan diri dan menjaga kontaknya terulang kembali (mengganti sendal dengan
tipe?bahan yang lain). Terapi sistemik yang diberikan adalah ceteri(in 2 71l 1>1- mg.
7al ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bah#a penatalaksanaan secara
umum adalah mencegah terulangnya kontak dengan alergen penyebab serta menekan
kelainan kulit yang timbul. /ecara khusus diberikan kortikosteroid topikal, seperti krim
hidrokortison 13, diflucortolon valerat -,13 atau krim betametason valerat -,---63"
Page | 18
-,13. Terapi sistemik diberikan antihistamin seperti chloropheniramine maleate "5 mg,
2">?hari.
'rognosis pada pasien ini baik, hal ini sesuai dengan kepustakaan bah#a bila bahan
penyebab dermatitis dapat disingkarkan dengan sempurna, maka prognosisnya baik. 'ada
os ditemukan penyebab timbulnya dermatitis kontak adalah sendal jepit s#allo#.
Page | 19