Hipospadia

Nama : An.A
Umur : 4 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Pruwatan,Bumiayu
Agama : Islam
Tgl Masuk Rs : Minggu, 8 Juni 2014
Tgl Anamnesis : Senin, 9 Juni 2014
No. CM : 00812534


Keluhan Utama
• Lubang kencing terletak dibawah
kemaluan
Keluhan tambahan
• Pancaran air kencing kurang jauh
Pasien dibawa oleh orang tuanya ke RSMS
dengan keluhan lubang kencing terletak
dibawah kemaluan.
Keluhan ini muncul dan telah diketahui oleh
orang tua pasien sejak pasien dilahirkan.
Namun pasien tidak menyangkal adanya nyeri
saat buang air kecil, buang air kencing tidak
lancar, terasa panas saat buang air kecil,
maupun demam.
Orang tua pasien telah diberitahu oleh bidan
bahwa anaknya harus dibawa ke dokter bedah.
Namun dibiarkan sampai usia 4 tahun. Pada
akhirnya pasien dibawa ke poliklinik oleh orang
tuanya dan disarankan pasien untuk dilakukan
operasi.
RPD
• Riwayat persalinan di
bidan
• Riwayat ibu konsumsi
obat-obatan saat
hamil disangkal
• Riwayat trauma saat
persalinan disangkal
• Riwayat alergi obat
disangkal
• Riwayat operasi dan
mondok disangkal
RPK
• Tidak ada keluarga
yang menderita
penyakit yang sama
Keadaan Umum :Sedang
Kesadaran :Composmentis
Vital sign :
Tekanan darah : 110/60 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 28 x/menit
Suhu : 36,5
0
C

 Kepala:mesochepal, rambut hitam, distribusi
rambut merata, rambut tidak mudah dicabut.
 Mata :konjungtiva anemis (-), sklera
nikterik (-), pupil bulat isokor 3mm/3mm, reflex
cahaya (+/+) normal.
 Hidung: Discharge (-), deviasi septum nasi (-)
 Telinga: Simetris kanan kiri, discharge (-)
 Mulut: Sianosis (-), lidah kotor (-)
 Leher: JVP tidak meningkat, kelenjar limfe tidak
membesar.

Jantung
S
1
> S
2
reguler, bising (-), gallop (-)
Paru-paru
Suara dasar vesikuler, suara tambahan ronkhi ( -/-),
wheezing (-/-)

Status Lokalis Abdomen
 Inspeksi : Datar
 Auskultasi : Bising usus (+) Normal
 Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), massa (-),
hepar / lien tidak teraba, ballotement (-)
 Perkusi : Tympani di seluruh lapang abdomen,
asites (-).
Ekstrimitas
 Superior : akral hangat, edema -/-, sianosis -/-,
deformitas -/-.
 Inferior : akral hangat, edema -/-, sianosis -/-,
deformitas -/-.

Status lokalis
Regio genital
Inspeksi : lubang kencing terletak di bagian
ventral penis di bawah dari glans penis, tidak
tampak massa, tidak tampak luka, warna
kulit normal
Palpasi : nyeri tekan (-), tidak teraba
massa

Darah Lengkap
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
MPV
11,3 gr/dl L
11340/ul
32% L
4,2 x 10ˆ
6
/ul
562.000/ul H
77,2 Fl L
27,1 pg
35,1
13,3
9,0
Hitung Jenis
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
0,4
4,7 H
0,2 L
41,1
47,0 H
6,6
PT
APTT
11,4 detik L
40,9 detik H
Kimia Klinik
Natrium
Kalium
Klorida
Kalsium
138 mmol/L
3,7 mmol/L
99 mmol/L
8,8 mg/dl

Hipospadia

Striktur uretra

Operatif
Chordectomi



Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam



 Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra
eksternus (lubang kencing) terletak di bagian bawah dari penis
dan letaknya lebih kearah pangkal penis dibandingkan normal
(Schnack et al, 2010).
Gambar 2.1 perbandingan penis normal dengan hipospadia
Gambar 2.2 Anatomi Penis



Gangguan
organogenesis
• Maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena
involusi yang prematur dari sel interstisial
testis.
Multifaktorial
• Faktor Genetika
• Faktor Eksogen
• Faktor Herediter
• Faktor Endokrin
• Faktor Lingkungan
Perkembangan uretra in
utero  usia 8 minggu dan
berakhir pada 5 minggu
Uretra  penyatuan
lipatan uretra sepanjang
pemukaan ventral penis.
Glandula uretra 
kanalisasi funikulus
ektoderm yang tumbuh
melalui glans untuk
menyatu dengan lipatan
uretra
Hipospadia  penyatuan di
garis tengah lipatan uretra
tidak lengkap sehingga
meatus uretra terbuka pada
sisi ventral penis
Hipospadia terjadi karena
tidak lengkapnya
perkembangan uretra dalam
utero.
Hipospadia  lubang uretra
terletak pada perbatasan
penis dan skrotum.
Hipospadia adalah lubang
uretra bermuara pada lubang
frenum, sedang lubang
frenumnya tidak terbentuk,
tempat normalnya meatus
urinarius ditandai pada glans
penis sebagai celah buntu.



Tipe Sederhana/Tipe
Anterior (60-70%)
• Terletak di anterior
yang terdiri dari tipe
glandular dan coronal
• meatus teletak pada
pangkal glands penis
• kelainan ini bersifat
asimtomatik dan tidak
memerlukan suatu
tindakan.
• Bila meatus agak
sempit dapat
dilakukan dilatasi atau
meatotomi.
Tipe penil/Tipe Middle
(10-15%)
• meatus terletak
antara glands penis
dan scrotum
• Biasanya disertai
dengan kelainan
penyerta, yaitu tidak
adanya kulit
prepusium bagian
ventral, sehingga
penis terlihat
melengkung ke bawah
atau glands penis
menjadi pipih.
• perlu intervensi
tindakan bedah secara
bertahap, mengingat
kulit di bagian ventral
prepusium tidak ada
maka sebaiknya pada
bayi tidak dilakukan
sirkumsisi karena sisa
kulit yang ada dapat
berguna untuk
tindakan bedah
selanjutnya.
Tipe Posterior (20%)
• Pertumbuhan penis
akan terganggu,
kadang disertai
dengan scrotum
bifida, meatus uretra
terbuka lebar dan
umumnya testis tidak
turun.
Gambar 2.3 Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/meatus
 Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis
 Penis melengkung ke bawah
 Penis tampak seperti berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis
 Jika berkemih, anak harus duduk
 Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di
bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus
 Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian
punggung penis
 Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
membentang hingga ke glands penis, teraba lebih keras dari jaringan
sekitar
 Kulit penis bagian bawah sangat tipis
 Tunika Dartos, Fasia Buch dan Korpus Spongiosum tidak ada.
 Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glands
penis.
 Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok
 Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum)
 Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

Diagnosis hipospadia jelas pada
pemeriksaan inspeksi daerah genital
Pada masa prenatal hipospadia dapat
didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound
Jika tidak teridentifikasi sebelum
kelahiran, maka biasanya dapat
teridentifikasi pada pemeriksaan setelah
bayi lahir
Pada orang dewasa yang menderita
hipospadia dapat mengeluhkan kesulitan
untuk mengarahkan pancaran urine.
Untuk saat ini penanganan hipospadia adalah
dengan cara operasi.
Tujuannya untuk merekonstruksi penis agar lurus
dengan orifisium uretra pada tempat yang
normal atau diusahakan senormal mungkin.
Operasi sebaiknya dilaksanakan pada saat usia
anak yaitu enam bulan sampai usia prasekolah.

Operasi pelepasan
chordee dan
tunneling
• Operasi ini dilakukan pada usia 1 ½ – 2 tahun
• Dilakukan operasi eksisi chordee dari muara uretra sampai ke
glans penis.
• Untuk melihat keberhasilan setelah eksisi dilakukan tes ereksi
buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCl 0,9 % ke dalam
korpus kavernosum
• Pada saat yang bersamaan dilakukan operasi tunneling yaitu
pembuatan uretra pada gland penis dan muaranya
Operasi
uretroplasti
• Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama.
• Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang diinsisi
secara longitudinal paralel di kedua sisi.
• Operasi hipospadia ini sebaiknya sudah selesai dilakukan
seluruhnya sebelum si anak masuk sekolah, karena
dikhawatirkan akan timbul rasa malu pada anak akibat
merasa berbeda dengan teman-temannya.
Variasi
teknik yang
populer
adalah
tunneling
Sidiq-
Chaula
•Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang
berepitel pada glands penis
•Dilakukan pada usia 1 ½-2 tahun.
•Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. Penutupan
luka operasi menggunakan prepusium bagian dorsal dan kulit penis.
Variasi
teknik yang
populer
adalah
tunneling
Sidiq-
Chaula
•Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi saat
parut sudah lunak.
•Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke
glands, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah.
•Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit
prepusium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan
pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama
dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang.
Teknik
Horton dan
Devine
•Teknik ini dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang
sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadia jenis distal (yang letaknya
lebih ke ujung penis).
•Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan
pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah.
•Mengingat pentingnya prepusium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka
sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan
operasi hipospadia.
 Komplikasi awal yang terjadi adalah perdarahan,
infeksi, jahitan yang terlepas, nekrosis flap, dan
edema.
 Komplikasi lanjut : Stenosis sementara karena
edema atau hipertropi scar pada tempat
anastomosis, Kebocoran traktus urinaria karena
penyembuhan yang lama, fistula uretrocutaneus,
striktur uretra, divertikulum, residual chordee /
rekuren chordee, striktur uretra (terutama pada
sambungan meatus uretra yang sebenarnya
dengan uretra yang baru dibuat) atau
fisula, infertilitas, serta gangguan psikososial
Terimakasih

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful