You are on page 1of 49

1

PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN


KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILEM Osteochilus hasselti C.V.
YANG DIPELIHARA DALAM KERAMBA JARING APUNG DI
WADUK CIRATA DENGAN PAKAN PERIFITON







Oleh :
Prabowo Wicaksono
C01400057






SKRIPSI



















PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2005
2
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul :

PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILEM Osteochilus hasselti C.V. YANG
DIPELIHARA DALAM KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA
DENGAN PAKAN PERIFITON.

adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka
di bagian akhir Skripsi ini.



Bogor, Oktober 2005




PRABOWO WICAKSONO
C01400057



















3
PRABOWO WICAKSONO. C01400057. Pengaruh Padat Tebar terhadap
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nilem Osteochilus hasselti C.V.
yang Dipelihara dalam Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata dengan Pakan
Perifiton. Dibimbing oleh ENANG HARRIS dan IRZAL EFFENDI.


RINGKASAN

Saat ini waduk Cirata mengalami masalah serius seperti blooming algae,
sedimentasi yang tinggi, biodiversitas ikan dan penurunan kualitas air.
Penyebabnya antara lain dari limbah domestik atau rumah tangga, limbah
pertanian dan limbah pabrik serta sisa pakan dan hasil metabolit ikan (CO
2
, NH3
dan H
2
S) dari aktivitas KJA. Algae (plankton) di waduk Cirata dapat dimanfaatkan
dengan cara memelihara hewan-hewan pemakan plankton (plankton feeder) atau
perifiton, salah satunya adalah ikan nilem Osteochilus hasselti C.V. Ikan ini
tergolong herbivora yang aktif memakan plankton, perifiton dan berbagai jenis
tumbuhan air. Beberapa petani ikan di Cirata telah menanam ikan nilem di
keramba, namun hanya terbatas sebagai sambilan yang dipelihara pada jaring
kolor bersama dengan ikan Nila. Saat ini percobaan ikan nilem yang meneliti
pertumbuhan dan sintasan belum pernah dilakukan sebelumnya, oleh karena itu
pada penelitian ini dilakukan percobaan terhadap ikan nilem dengan merujuk
padat tebar ikan mas di KJA waduk Cirata.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar yang
berbeda (35, 70 dan 105 ekor/m
3
) terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup
dan FCR ikan nilem dalam KJA dengan pakan perifiton. Percobaan dilakukan
pada bulan Desember 2004 hingga Februari 2005 di KJA Bonafeed, waduk
Cirata, Cianjur. Benih ikan nilem (panjang 7,1 - 7,4 cm, bobot 4,6 - 5,3 g)
dipelihara dalam 9 jaring berukuran 1x1x2 m. Selama pemeliharaan benih diberi
perifiton yang terdapat pada jaring bekas berukuran 1x0,5 m. Perifiton tersebut
didapatkan dengan cara merendam jaring bekas tersebut ke dalam air selama 7-
12 hari. Berat perifiton yang didapat setiap jaring bekas adalah 5 g (bobot kering).
Pakan diberikan pada setiap kepadatan ikan masing-masing sebanyak 1,2 dan 3
lembar setiap pagi, siang dan sore. Peubah yang diamati adalah pertambahan
bobot dan panjang, laju pertumbuhan harian, kelangsungan hidup, konversi
pakan dan kualitas air. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap
(RAL) dengan 3 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali, Uji Tuckey digunakan
untuk menganalisis data peubah yang diamati.
Benih ikan nilem mengalami pertambahan bobot dan panjang selama 48
hari pemeliharaan. Pada kepadatan 35, 70 dan 105 ekor/m
3
masing-masing
bobot rata-rata ikan bertambah dari 4,91 g menjadi 10,95 g ; 4,79 g menjadi 9,05
g dan 4,83 g menjadi 7,35 g, pertambahan bobot tidak berbeda nyata (P>0,05).
Sejalan dengan pertambahan bobot, rata-rata panjang ikan nilem selama
pemeliharaan pada kepadatan 35, 70 dan 105 ekor/m
3
masing-masing
bertambah dari 7,32 cm menjadi 9,39 cm ; 7,35 cm menjadi 8,45 cm dan 7,36 cm
menjadi 8,00 cm juga tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05). Laju
pertumbuhan harian ikan nilem pada kepadatan 35, 70 dan 105 ekor/m
3
berturut-
turut sebesar 1,66 % ; 1,34 % dan 0,88 % (P>0,05). Sementara kelangsungan
hidup ikan nilem pada kepadatan 35, 70 dan 105 ekor/m
3
masing-masing adalah
sebesar 99,52 % ; 96,07% dan 95,56 % (P>0,05). Pada kepadatan 35, 70 dan
105 ekor/m
3
, konversi pakan ikan nilem menunjukkan nilai berturut-turut sebesar
1,76 ; 2,35 dan 4,25 yang berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05).
Pada penelitian ini konversi pakan tertinggi dihasilkan dari kepadatan 35
ekor/m
3
yaitu 1,76. Namun, mengacu pada pemanfaatan plankton dan perifiton di
4
Waduk Cirata, maka pertumbuhan terbaik dihasilkan dari kepadatan 105 ekor/m
3

yaitu dengan penambahan bobot dan panjang masing-masing sebesar 2,52 g
dan 0,64 cm serta kelangsungan hidup 95,55% dan konversi pakan 4,25. Hal
tersebut disebabkan karena kepadatan 105 ekor/m
3
menghabiskan perifiton
dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan kepadatan lainnya. Padat tebar
yang berbeda ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ikan
nilem pada kepadatan 35, 70 dan 105 ekor/m
3
. Oleh karena itu pertumbuhan
perifiton dan plankton yang tinggi di waduk Cirata dapat dimanfaatkan dengan
pemeliharaan ikan nilem di kepadatan 105 ekor/m
3
.





























5
PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILEM Osteochilus hasselti C.V.
YANG DIPELIHARA DALAM KERAMBA JARING APUNG DI
WADUK CIRATA DENGAN PAKAN PERIFITON




SKRIPSI




Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Perikanan pada
Departemen Budidaya Perairan









Oleh :
Prabowo Wicaksono
C01400057











PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2005
6
SKRIPSI


Judul Skripsi : Pengaruh Padat Tebar terhadap Pertumbuhan dan
Kelangsungan Hidup Ikan Nilem Osteochilus hasselti C.V.
yang dipelihara dalam Keramba Jaring Apung di
Waduk
Cirata dengan Pakan Perifiton.
Nama : Prabowo Wicaksono
Nomor Pokok : C01400057
Program Studi : Teknologi dan Manajemen Akuakultur




Menyetujui,
Komisi Pembimbing



Prof. Enang Harris Irzal Effendi, M.Si
Ketua Anggota





Diketahui,



Dr. Kadarwan Soewardi
Dekan





Tanggal Lulus :
7
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT , dengan izin-Nya penulis dapat
menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini yang berjudul Pengaruh
Padat Tebar terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nilem
Osteochilus hasselti C.V. yang Dipelihara dalam Keramba Jaring Apung di
Waduk Cirata dengan Pakan Perifiton .
Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Enang Harris M.S dan bapak Ir. Irzal Effendi M.Si
selaku pembimbing skripsi yang memberikan dorongan dan arahan guna
membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhirnya.
2. Bapak Dr. Ir. Dedi Jusadi M.Sc selaku ketua Departemen Budidaya Perairan
sekaligus pembimbing akademik penulis yang selalu memberikan
nasehatnya.
3. Bapak Dr. Ir. Agus Oman Sudrajat, M.Sc selaku wakil dekan sekaligus
dosen penguji tamu yang telah memberikan bimbingannya kepada penulis.
4. Bapak Ir. H. Harmadi M.T dan Ibu Hj. Susi Darti sebagai orang yang
senantiasa mendidik anak-anaknya dengan penuh kesabaran dan kasih
sayangnya.
5. Kakak tercinta, Mba Neni dan Mas Hamdiah yang memberikan dukungan
moril maupun materil serta abangku Cahyo mekanik.
6. Saudara-saudaraku di FKM-C tempat berlabuhnya hati dan pikiran. Semoga
Allah memberikan kita semua kenikmatan yang kekal di jannah-Nya.
7. Teman-teman SISTEKers 37 : Rio, Dani, Corro, Adit, Calie, Uci38 dan
BDP37 Wendi, Tanribali, Riduan, Asep dan Arif dan semoga Allah membalas
kebaikan kalian.
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugasnya
yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu.
Penulis menyadari ada banyak kekurangan dan kelemahan dalam tugas
akhir ini. Kritik dan saran sangat diharapkan agar menjadi koreksi dan perbaikkan.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.

Depok, Oktober 2005

Penulis

8
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung, 21 Maret 1982, anak ke 3 dari 3 beraudara
dalam keluarga bapak Ir. H. Harmadi, M.T dan ibu Hj. Susi Darti. Penulis
memulai pendidikan formal di SD Negeri 8 Mekarjaya Depok pada tahun 1988,
kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3 Depok pada tahun 1994 dan SMU
Negeri 1 Depok pada tahun 1997. Penulis melanjutkan pendidikannya ke jenjang
perguruan tinggi pada tahun 2000, di Institut Pertanian Bogor melalui jalur
UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Departemen Budidaya Perairan, Program Studi Teknologi dan
Manajemen Akuakultur.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di HIMAKUA (Himpunan
Mahasiswa Akuakultur) pada tahun 2003 sebagai Staf Kajian dan
Pengembangan Program serta FKM-C (Forum Keluarga Muslim Perikanan)
sebagai Ketua Umum pada tahun yang sama. Penulis juga pernah aktif menjadi
Asisten Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air dan Asisten Mata Kuliah Pendidikan
Agama Islam untuk Tingkat Persiapan Bersama. Praktek Lapangan yang pernah
diikuti berjudul Pembenihan Ikan Kerapu Lumpur (Ephinephelus coioides) dan
Pembesaran Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Besar Riset dan
Penelitian Budidaya Laut (BBRPBL) Gondol, Bali. Untuk menyelesaikan studi di
fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB, penulis melakukan penelitian dengan
judul PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILEM Osteochilus hasselti C.V. YANG
DIPELIHARA DALAM KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA
DENGAN PAKAN PERIFITON.











9
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ............................................................................................. iv

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ v

I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 3
2.1. Karakteristik Waduk......................................................................... 3
2.2 Eutrofikasi ....................................................................................... 5
2.3. Perifiton ........................................................................................... 7
2.4. Budidaya Keramba Jaring Apung ................................................... 8
2.5. Klasifikasi dan Distribusi Ikan Nilem ............................................... 10
2.6. Morfologi Ikan Nilem ....................................................................... 10
2.7. Kebiasaan Makanan Ikan Nilem .................................................... 11
2.8. Pertumbuhan ................................................................................ 12
2.9. Padat Penebaran ............................................................................ 12
2.10. Parameter Fisika dan Kimia Perairan ............................................. 13

III. BAHAN DAN METODE............................................................................. 16
3.1. Waktu dan Tempat .......................................................................... 16
3.2. Persiapan Alat ................................................................................. 16
3.3. Rancangan Percobaan ................................................................... 18
3.4. Parameter yang Diukur ................................................................... 18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 21
4.1. Hasil ................................................................................................ 21
4.2. Pembahasan ................................................................................... 25

V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 28
5.1. Kesimpulan ...................................................................................... 28
5.2. Saran ............................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 29

LAMPIRAN....................................................................................................... 32







10
DAFTAR TABEL

1. Ciri berbagai tipe waduk menurut Suwignyo (2003) ................................. 3

2. Data Morfometri dan Hidrologi Waduk Cirata, Jawa Barat. ...................... 3

3. Klasifikasi tingkat kesuburan perairan berdasarkan
kandungan unsur N dan P oleh Wetzel (2001) ......................................... 6

4. Jenis makanan ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
tiap musim di Desa Pananjuk, Kabupaten Garut ...................................... 11

5. Bobot akhir ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
padat tebar yang berbeda.......................................................................... 21

6. Panjang akhir ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
padat tebar yang berbeda.......................................................................... 22

7. Laju Pertumbuhan Harian ikan nilem (Osteochilus hasselti
C.V.) pada padat tebar yang berbeda ....................................................... 23

8. Kelangsungan Hidup ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.)
pada padat tebar yang berbeda................................................................. 23

9. Konversi pakan ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
padat tebar yang berbeda dengan pakan perifiton.................................... 24

10. Panjang dan Bobot ikan Nilem yang dipelihara pada Kolam
di Dearah Magek-Sumatra Barat dan KJA Cirata-Jawa
Barat .......................................................................................................... 26

11. Estimasi biaya operasi budidaya ikan Nilem di Keramba
Jaring Apung ............................................................................................. 36













11
DAFTAR GAMBAR

1. Profil perairan menggenang....................................................................... 5

2. Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.) ..................................................... 10

3. Susunan wadah pemeliharaan dalam satu petak keramba...................... 17

4. Letak substrat perifiton yang digantung dalam wadah
pemeliharaan. ............................................................................................ 17

5. Grafik Bobot ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
padat tebar 35, 70 dan 105 ekor/m
3
yang diberi pakan
perifiton ...................................................................................................... 21

6. Grafik Panjang ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
padat tebar 35, 70 dan 105 ekor/m
3
yang diberi pakan
perifiton ..................................................................................................... 22

7. Grafik Profil DO (mg/l) dalam 24 jam di KJA Bonafeed, Waduk
Cirata .................................................................................................. 35

8. Grafik Profil Ammonia (mg/l) Waduk Cirata pada penelitian
ikan Nilem .................................................................................................. 35

9. Grafik Profil suhu (
o
C) di KJA Bonafeed, Waduk Cirata.................................... 36

10. Grafik Profil pH di KJA Bonafeed, Waduk Cirata ............................................. 36

















12
I . PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Waduk Cirata dibangun pada awal tahun 1984 dengan luas 6.400 hektar,
menggenangi 28 desa dalam 8 kecamatan di Kabupaten Bandung, Purwakarta
dan Cianjur. Waduk ini dibangun dengan membendung sungai Citarum yang
berhulu di wilayah dataran tinggi Bandung. Letak waduk Cirata berada diantara
waduk Saguling (berdiri tahun 1981) di Kabupaten Bandung dan waduk Ir.
Djuanda (berdiri tahun 1966) di Jatiluhur, Purwakarta. Fungsi utama waduk ini
adalah bagi pengadaan listrik, pariwisata, pertanian dan perikanan yang
menunjang pandapatan masyarakat setempat. Dalam bidang perikanan yang
dikembangkan adalah budidaya di keramba jaring apung (KJA).
Menurut Husein dalam Suganda (2001), hasil pengamatan Direktorat
Teknologi Lingkungan BPPT tahun 1999 menunjukkan kegiatan usaha KJA di
waduk Cirata memberikan sumbangan terhadap pencemaran. Sebanyak 27.786
keramba yang beroperasi mengakibatkan nilai N mencapai 4 ppm yang jauh dari
kisaran normal perairan yaitu 0,8 ppm, sementara nilai P mencapai 0,57 ppm
yang juga jauh dari kisaran normal perairan yaitu 0,03 ppm. Kadar N dan P di
waduk Cirata telah melampaui tingkat kesuburan normal yang disebut Eutrofikasi.
Peristiwa ini pada akhirnya menjadi ledakan pertumbuhan (blooming) seperti
fitoplankton dan eceng gondok. Dampak dari Eutrofikasi ini adalah penurunan
kualitas air, biodiversitas ikan, estetika, pandangkalan, dan sebagainya (Sulastri,
2003). Limbah (sisa pakan, feses, hasil metabolit dan planton yang mati) yang
berada di dasar perairan menjadi ancaman bagi ikan di KJA ketika terjadi
upwelling atau turn over. Upwelling mengangkat lapisan bawah perairan yang
membawa material-material kimiawi yang bersifat toksik seperti CO
2
, NH
3
dan
H
2
S dengan kondisi yang minim akan oksigen atau bahkan tidak ada sama sekali.
Peristiwa ini mengakibatkan kematian masal yang merugikan para petani di KJA.
Plankton di waduk Cirata sebenarnya dapat dimanfaatkan dengan
memelihara ikan-ikan pemakan plankton (plankton feeder) dan perifiton, salah
satunya adalah ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.). Menurut Huet (1970), ikan
nilem termasuk pemakan plankton, perifiton dan tumbuhan air. Benih ikan nilem
memakan fitoplankton dan zooplankton yang tergolong kedalam kelas
Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae dan Cyanophyceae
(Hardjamulia, 1978).
13
Pada penelitian ini dilakukan percobaan padat tebar ikan nilem dengan
pemberian perifiton. Sebagai acuannya, penulis menggunakan kepadatan ikan
mas dalam KJA di waduk Cirata. Menurut Hendayana (2002) setiap musimnya
petani di Cirata menebar benih berukuran panjang 2 jari sebanyak 97 ekor/m
2
,
dengan berat sekitar 12,5 g/ekor, sedangkan di kecamatan Mande-Cirata setiap
musimnya menanam sebanyak 140 ekor/m
2
dengan berat sekitar 7,14 g/ekor
(Ade, karyawan KJA, 2005, Komunikasi Pribadi).


1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, konversi pakan
dan kelangsungan hidup ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) yang dipelihara
dalam jaring apung dengan padat tebar berbeda, dengan pemberian perifiton
sebagai pakan.






















14
II . TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Waduk
Setiap perairan menggenang yang terbentuk akibat pembendungan aliran
sungai disebut waduk atau reservoir (Suwignyo, 2003). Waduk merupakan badan
air yang dibangun atau dimodifikasi oleh manusia untuk keperluan atau tujuan
khusus, guna menyediakan sumberdaya yang dapat diandalkan dan dapat
dikontrol. Menurut Suwignyo (2003), berdasarkan tipe sungai yang dibendung
dan kegunaan airnya, maka dikenal 3 tipe waduk yaitu: waduk lapangan, waduk
irigasi dan waduk serbaguna (Tabel 1).
Tabel 1. Ciri berbagai tipe waduk menurut Suwignyo (2003).
No. Ciri-Ciri
Waduk
Lapangan
Waduk Irigasi
Waduk
Serbaguna
1 Sungai asal Waduk Episodik Intermiten Permanen
2 Luas perairan (Ha) < 10 10 - 500 > 500
3 Kedalaman maksimal (m) < 5 5 - 25 25 100
4 Masa berair (bulan) 6 9 9 - 12 12
5 Fungsi Lokal Irigasi Listrik/irigasi, dll

Berdasarkan tipe waduk di atas, waduk Cirata yang luasnya mencapai
6.200 hektar dengan kedalaman antara 25-106 m tergolong waduk serbaguna.
Waduk yang didirikan sejak 20 tahun yang lalu ini merupakan pembendungan
aliran sungai Citarum sebagai sungai terpanjang di Jawa Barat yang berhulu di
wilayah dataran tinggi Bandung. Data morfometri dan hidrologi waduk Cirata
disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Data morfometri dan hidrologi waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat.
Dimensi Nilai
Tinggi tanggul
Panjang tanggul
Luas permukaan
Panjang maksimum
Lebar rata-rata
Kedalaman maksimum
Kedalaman rata-rata
Panjang total garis pantai
Elevasi dasar waduk (dpl)
Volume air maksimum
125 m
453,5 m
6200 ha
14,5 km
4,3 km
106 m
34,9 m
181 km
225 m
2,165x10
6
m
3

Sumber : Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Perikanan Waduk Cirata (1999)

Secara sosial waduk ini memberikan banyak kontribusi bagi mayarakat
sekitar Kabupaten Cianjur dan Purwakarta, mulai dari listrik, air bersih, irigasi,
perikanan hingga wisata. Pada awalnya, kondisi perairan di waduk ini tergolong
bersih dan normal, namun besarnya aktivitas masyarakat di sekitar sungai
15
Citarum (kawasan Bandung) terutama pada sektor perdagangan, industri dan
pemukiman yang mencapai kurang lebih 6 juta jiwa memberikan perubahan
kualitas air. Perubahan ini ditambah juga dengan adanya aktivitas budidaya ikan
di KJA yang mencapai 27.786 petak yang beroperasi, dengan rerata konversi
pakan 1,51 serta jumlah pakan 8.556 kg /petak/ tahun, maka dalam setahun
diperkirakan menyerap 237.737 ton pakan.
Ikan-ikan yang dijumpai di perairan ini antara lain seperti mas, nila, tawes,
betutu, bawal dan mujair. Sekitar pinggiran waduk, banyak dijumpai tumbuhan air
seperti eceng gondok (Eichornia crassipes). Pada musim kemarau antara bulan
April-Agustus, penyurutan air waduk bisa mencapai 5-7 m setiap minggu,
namun tidak terjadi secara mingguan berturut-turut (Ali, pegawai KJA, 2005,
komunikasi pribadi). Saat musim penghujan tiba, air berangsur kembali mencapai
ketinggian semula.
Waduk Cirata termasuk dalam tipe perairan menggenang. Menurut
Suwignyo (2003), bila perairan cukup dalam, besar kemungkinan adanya
stratifikasi kolom air. Berdasar pada daya tembus cahaya matahari kedalam
kolom air, akan didapatkan zona fotik di bagian atas dan zona afotik dibagian
bawah. Berkaitan dengan kemampuan fotosintesa fitoplankton di perairan, maka
di zona fotik tersedia cukup oksigen (O
2
). Sebaliknya di zona afotik akan
kekurangan oksigen namun kaya karbondioksida (CO
2
). Sedikit di atas batas
zona fotik-afotik akan didapat daerah yang disebut sebagai titik kompensasi
(compensation point). Pada lokasi tersebut oksigen hasil fotosintesa impas untuk
kebutuhan respirasi organisme yang ada di daerah itu, dengan kata lain
fotosintesa bersih (net photosynthesis) dilokasi tersubut nihil (Gambar 1).
Selain cahaya matahari, terjadi pula stratifikasi kolom air berdasarkan
suhu. Sebagaimana diketahui, suhu semakin menurun dengan meningkatnya
kedalaman. Pada kedalaman dimana terjadi penurunan suhu yang sangat tajam
dinamakan termoklin, dengan adanya termoklin maka kolom perairan terbagi
menjadi zona eplimnion di bagian atas dan zona hypolomnion di bagian bawah
(Suwignyo, 2003). Adanya perbedaan suhu air yang nyata antara kedua zona ini
mencegah terjadinya percampuran masa air bagian atas dan bawah. Namun
stratifikasi tersebut dapat berubah jika mengalami pengadukan masa air.
Pengadukan terjadi ketika suhu pada lapisan atas perairan (semula lebih panas
dari lapisan bawah kolom air) berubah menjadi lebih rendah karena pengaruh
fisik tertentu, sehingga berat jenis air pada lapisan tersebut menjadi lebih besar
dan bertukar dengan lapisan di bawah yang berat jenisnya lebih ringan.
16

pelagis litoral

C fotik
A S
H Epilimnion U
A afotik H
Y
Kaya Unsur Hara
termoklin U
A CO
2
hypolimnion


Gambar 1. Profil perairan menggenang (Suwignyo, 2003).


2.2 Eutrofikasi
Istilah eutrofikasi mengacu pada perubahan status perairan. Eutrofikasi
juga diartikan sebagai pengkayaan unsur hara anorganik dalam suatu ekosistem
perairan. Menurut Pratiwi (2003) berdasarkan cara masuknya unsur hara,
eutrofikasi dikelompokan menjadi dua, yaitu eutrofikasi artifisial atau kultural bila
peningkatan nutrien disebabkan oleh aktivitas manusia dan eutrofikasi natural
jika peningkatannya terjadi tanpa campur tangan manusia.
Aktivitas budidaya ikan di KJA dalam jumlah besar mempengaruhi
kualitas perairan. Menurut Li (1994), permukaan danau yang sempit dengan
padatnya keramba dapat mengurangi perubahan kualitas air, mengurangi
produksi dan kualitas ikan serta mengurangi efisiensi ekonomi. Posisi keramba
yang terlalu dekat antara keramba yang lain juga dapat mengurangi kualitas air di
keramba itu sendiri (Schmittou, 1993). Perubahan kualitas perairan ini umumnya
berasal dari kegiatan pemberian pakan dan kotoran ikan. Boyd dan Bowman
(1997), mengatakan bahwa rata-rata sisa pakan dan feses dalam jumlah yang
besar dapat terakumulasi di dasar perairan di bawah keramba, sehingga
menyebabkan kondisi anaerob yang sering menghasilkan racun seperti laktat,
amoniak, gas metan dan hidrogen sulfida.
Terakumulasinya bahan organik & anorganik (N, S dan P) dalam jumlah
besar di kolom air menyebabkan penyuburan air secara cepat. Distribusi Nutrien
ini kemudian digunakan untuk pertumbuhan fitoplankton & zooplankton serta
sedimentasi dalam kolom air (Harris, 1986). Unsur-unsur utama nutrien yang
17
diperlukan untuk produktivitas primer fitoplankton antara lain C, N, P, S dan Si.
Menurut Reynold (1984), karbon (C) diperlukan dalam jumlah banyak untuk
proses fotosintesis, fosfor (P) diperlukan untuk pertumbuhan, nitrogen (N) untuk
memenuhi kebutuhan protein dan asam-asam amino, sedangkan silikon (Si)
sedikit diperlukan untuk kebutuhan protein dan dalam jumlah besar untuk
pembentukan dinding sel terutama pada kelompok diatom.
Seperti halnya yang terjadi di waduk Cirata, menurut Husein dalam
Suganda (2001), jumlah pakan yang dibutuhkan selama setahun 8.556 kg per
unit keramba, sehingga menyerap 237.737.016 kg pakan dari 27.786 unit
keramba yang ada. Dengan memperhatikan kandungan N dan P pada ikan dan
pada pakan, akhirnya dapat diketahui limbah metabolit yang masuk ke dalam
perairan, yaitu dengan mengurangi jumlah kadar N dan P pada pakan dengan
kadar N dan P pada ikan. Maka diperoleh 8.667.168 kg kadar N dan 1.239.067
kg kadar P yang masuk dalam perairan dari feses ikan. Jika volume waduk
sebesar 2.165 juta m
3
, maka setiap meter kubiknya dalam setahun akan
mendapat beban pencemar sebanyak 4.003,31 mg kadar N dan 572,32 mg
kadar P. Oleh karena itu menurut klasifikasi kesuburan Wetzel (2001), kadar N
dan P pada Waduk Cirata telah melampaui kisaran normal dan menjadi blooming
fitoplankton (Tabel 3).

Tabel 3. Klasifikasi tingkat kesuburan perairan berdasarkan kandungan unsur N
dan P oleh Wetzel (2001).
Parameter
Rata-rata
& Kisaran
Oligotrofik
(tidak rusak)
Mesotrofik
(normal)
Eutrofik
(rusak)
Hipereutrofik
(rusak parah)
Rataan 8 26.7 84.4 Total fosfor
(mg/m
3
) Kisaran 3-17.7 10.9-95.6 > 16.2 750-1200
Rataan 661 753 1875 Total nitrogen
(mg/m
3
) Kisaran 307-1630 361-1387 > 393

Eutrofikasi muncul dengan ciri-ciri yang mudah dikenali seperti ledakan
pertumbuhan (blooming) tumbuhan tertentu, baik berupa fitoplankton seperti
Microcystis spp. atau tumbuhan semacam Salvinia spp. (apu-apu) atau eceng
gondok. Demikian pula pertumbuhan fitoplankton yang tinggi di waduk Cirata
berpengaruh terhadap aktivitas budidaya ikan, jaring-jaring tempat mereka
memelihara ikan cepat ditumbuhi perifiton. Pada jaring apung di Cirata, perifiton
dapat menempel dalam waktu kurang dari 1 minggu, sehingga jaring yang
digunakan untuk memelihara ikan mas, patin dan gurame cepat kotor. Salah
seorang petani ikan di Cirata mengatakan bahwa sebagian jaringnya yang
ditebar benih nilem tampak bersih dari perifiton, sehingga tidak menghalangi
18
sirkulasi arus yang melewati jaring (Ir. Nano, pemilik KJA, 2005, Komunikasi
pribadi). Perifiton yang menempel di jaring dapat mengganggu pertumbuhan ikan
apabila jumlahnya berlebih, karena selain mengurangi sirkulasi oksigen yang
masuk juga potensial untuk membawa penyakit. Namun bila dimanfaatkan
secara baik (untuk pakan nilem) dapat mengurangi pertumbuhan plankton.

2.3 Perifiton
Menurut Welch (1980) perifiton adalah mikroflora atau mikrofauna yang
tumbuh di atas substrat di bawah permukaan air. Mikroflora atau mikrofauna
yang dimaksud adalah tumbuhan atau hewan berukuran sangat kecil
(mikroskopis) yang hidup di perairan. Pennak (1964) mengatakan bahwa perifiton
disebut sebagai aufwuchs yaitu seluruh kelompok organisme (umumnya
mikroskopis) yang hidup menempel pada benda atau permukaan tumbuhan air
yang terendam, tidak menembus substrat, diam atau bergerak di permukaan
substrat tersebut. Round (1964) dalam Wood (1967). menggunakan istilah
perifiton untuk alga yang tumbuh di permukaan substrat buatan (bewuchs) atau
substrat alami (aufwuchs).
Tipe substrat sangat menentukan proses kolonisasi dan komposisi
perifiton. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan dan alat penempelan
perifiton. Kemampuan perifiton menempel pada substrat menentukan
eksistensinya terhadap pencucian oleh arus atau gelombang yang dapat
memusnahkannya (Ruttner, 1974). Selain itu perkembangan perifiton juga
ditentukan oleh kemantapan substrat. Substrat dari benda hidup sering bersifat
sementara karena adanya proses pertumbuhan & kematian. Setelah tumbuh
cepat kemudian mantap, selanjutnya mati dan membusuk. Sedangkan pada
substrat benda mati akan lebih bersifat mantap (Ruttner, 1974).
Menurut Welch (1980), kompisisi perifiton di perairan mengalir dapat
berupa satu atau beberapa jenis diatom: algae biru berfilamen, algae hijau
berfilamen, bakteri atau jamur berfilamen, protozoa dan rotifer serta beberapa
jenis serangga. Weitzel atau (1979) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang
secara umum menjadi pembatas bagi pertumbuhan perifiton adalah tipe perairan
(danau, sungai, laut), ketersediaan cahaya (lama penyinaran, kecerahan,
kekeruhan), tipe substrat (kondisi, lokasi, kedalaman dan ketersediaan),
pergerakan air (arus dan kecepatan), pH, alkalinitas, kesadahan, unsur hara (N,
P, C), bahan terlarut (Ca, S, Si), logam berat & logam kelumit (Fe, Cu, Cr, V, Se),
juga suhu, salinitas, oksigen dan CO
2
.
19
2.4 Budidaya di Keramba Jaring Apung
Keramba jaring apung biasanya berada di perairan umum yang tergenang,
misalnya danau, situ atau waduk. Menurut Khairuman et al., (2002), dari
keseluruhan luas waduk hanya 1,6 % saja yang dapat dimanfaatkan untuk
pemeliharaan ikan di KJA, karena air waduk juga digunakan untuk kepentingan
umum yang lain. Di waduk Cirata jumlah KJA yang diizinkan hanya 12.000 unit
tetapi kenyataannya telah mencapai 24.976 unit lebih (Danakusumah, 1999).
Menurut Li (1994), permukaan danau yang sempit dengan padatnya keramba
dapat menyebabkan perubahan kualitas air, mengurangi produksi dan kualitas
ikan serta mengurangi efisiensi ekonomi. Posisi keramba yang terlalu dekat
antara keramba yang lain juga dapat mengurangi kualitas air di keramba itu
sendiri (Schmittou, 1993). Menurut Beveridge (1966) nitrifikasi yang tinggi sering
terjadi pada keramba yang terletak di perairan tenang.
Berlebihnya jumlah KJA menyebabkan sisa pakan dan feses yang setiap
hari terbuang menghasilkan limbah yang terakumulasi di kolom perairan. Tepat di
dasar perairan dapat ditemukan keadaan yang miskin oksigen dan penuh bahan-
bahan pencemar yang bersifat toksik. Jika terjadi pengadukan waduk akan
menyebabkan penurunan oksigen terlarut secara drastis yang mengakibatkan
kematian ikan.
Waring adalah kantong pemeliharaan yang umumnya digunakan untuk
memelihara ikan pada fase awal atau pendederan. Waring terbuat dari bahan
polyethyline berwarna hitam dengan ukuran mata waring 4 mm. Ukuran kantong
waring 7x7x2 m. Sementara kantong untuk pembesaran digunakan bahan
polyethyline no. 240 D/12 yang berukuran 7x7x2 m dengan lebar mata jaring 1-
1,25 inchi dan satu kantong pembesaran menggunakan satu jaring kolor
berukuran 7x7x3 m dengan mata jaring 1-1,25 inchi.

2.5 Klasifikasi dan Distribusi Ikan Nilem






Gambar 2. Ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.)
20
Klasifikasi ikan nilem menurut Saanin (1984) dan Weber dan de Beaufort
(1916) adalah sebagai berikut :
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub ordo : Cyprinoidea
Familia : Cyprinidae
Sub familia : Cyprininae
Genus : Osteochilus
Spesies : Osteochilus hasselti (C.V.)
Di Indonesia ikan nilem dikenal dengan nama nilem, lehat, magut, regis,
milem, muntu, palung, palau, pawas, puyau, asang, penopa, dan karper (Saanin,
1984). Daerah penyebarannya meliputi : Malaysia, Thailand, Vietnam, kamboja,
Indonesia (pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi) (Djajadiredja, et
al.,1977)


2.6 Morfologi Ikan Nilem
Ikan nilem mempunyai bentuk tubuh pipih, mulut dapat disembulkan.
Posisi mulut terletak diujung hidung (terminal). Posisi sirip perut terletak di
belakang sirip dada (abdominal). Ikan nilem tergolong bersisik lingkaran (sikloid).
Rahang atas sama panjang atau lebih panjang dari diameter mata, sedangkan
sungut moncong lebih pendek daripada panjang kepala. Permulaan sirip
punggung berhadapan dengan sisik garis rusuk ke-8 sampai ke-10. Bentuk sirip
dubur agak tegak, permulaan sirip dubur berhadapan dengan sisik garis rusuk
ke-22 atau ke-23 di belakang jari-jari sirip punggung terakhir. Sirip perut dan sirip
dada hampir sama panjang. Permulaan sirip perut dipisahkan oleh 4 - 4
1
/
2
sisik
dari sisik garis rusuk ke-10 sampai ke-12. Sirip perut tidak mencapai dubur. Sirip
ekor bercagak. Tinggi batang ekor hampir sama dengan panjang batang ekor
dan dikelilingi oleh 16 sisik (Weber dan de Beaufort, 1916). Menurut warna
sisiknya, ikan nilem dapat dibedakan menjadi 2, yaitu ikan nilem yang berwarna
coklat kehitaman atau coklat hijau pada punggungnya dan terang di bagian perut
dan ikan nilem merah dengan punggung merah atau kemerah-merahan dengan
bagian perut agak terang (Hardjamulia, 1978).


21
2.7 Kebiasaan Makanan Ikan Nilem
Ikan nilem termasuk pemakan plankton, perifiton dan tumbuhan air (Huet,
1970). Benih ikan nilem memakan fitoplankton dan zooplankton yang tergolong
kedalam kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae dan
Cyanophyceae (Hardjamulia, 1979). Menurut Hartono (1999) jenis perifiton yang
dimakan ikan nilem pada tiap musimnya berbeda (Tabel 4) .
Tabel 4. Jenis makanan ikan nilem pada tiap musim di desa Pananjuk,
kabupaten Garut.
Kelas Kemarau Ii (%) Hujan Ii (%)
Chlorophyceae Schizomeris
Mougeotia
Microspora
45,16
16,07
4,82
Schizomeris
Closteriopsis
Microspora
35,57
5,68
0,17
Bacillariophyceae Frustalia
Rhopalodia
Gyrosigma
Diatoma
Tabellaria
Navicula
23,18
5,36
2,75
1,34
0,26
0,02
Diatoma
Tabellaria
Rhopalodia
Navicula
Gyrosigma
Frustalia
Diatomalia
Coscinodiscus
19,79
3,83
1,52
1,44
1,17
0,83
0,15
0,10
Cyanophyceae Oscillatoria
Spirulina
Aphazomenioa
1,16
0,74
0,41
Tak teridentifikasi Daun
Detritus
0,27
0,31
Daun
Detritus
10,95
7,57
Ket : Ii (%) adalah Index Propenderance yang menyatakan persentase jumlah makanan dalam
lambung ikan.

Menurut seorang yang melakukan pembesaran ikan nilem di KJA Cirata,
ikan nilem sangat agresif dalam memanfaatkan perifiton yang tumbuh pada jaring
dibandingkan ikan nila, hingga jaring pemeliharaan bersih dari lumut. Makanan
lain yang disukai nilem adalah sayuran berupa daun kol dan sawi yang sudah
agak membusuk (Ir. Nano, pemilik KJA, 2005, Komunikasi pribadi).
Pada penelitian di waduk Wonogiri didapatkan makanan ikan nilem
adalah Bacillariophyceae sebagai makanan utama dan Chlorophyceae,
Cyanophyceae serta fragmen tumbuhan air sebagai makanan pelengkapnya
(Winanto, 1982).

2.8 Pertumbuhan
Pertumbuhan didefinisikan sebagai perubahan ukuran baik panjang, berat
atau volume dalam jangka waktu tertentu. Pertumbuhan dapat dipengaruhi oleh
dua faktor yaitu faktor dalam dan luar. Faktor dalam meliputi sifat keturunan,
umur, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan memanfaatkan makanan.
22
Sementara faktor luar meliputi suhu, kimia perairan dan makanan yang tersedia
(Sjafei et al., 1989)
Menurut Ayu (2003) benih ikan nilem di daerah Magek-Sumatra Barat
dipelihara dalam kolam darat dengan panjang awal 10 cm dan bobot 20-30 g,
untuk betina pertumbuhannya mencapai 150 g dengan panjang 25 cm setelah
dipelihara 1,5-2 tahun sedangkan untuk jantan dapat mencapai 80-100 g dengan
panjang 20 cm setelah dipelihara selama 1 tahun.

2.9 Pengaruh Padat Penebaran terhadap Pertumbuhan
Padat penebaran adalah jumlah ikan persatuan luas atau volume kolam
atau wadah pemeliharaan ikan lainnya. Pada keramba jaring apung pembesaran
ikan nilem belum pernah dilakukan sebelumnya sehingga padat tebar yang ada
belum diketahui, tetapi berdasarkan klasifikasi yang dimillikinya ikan nilem
memiliki kerabat dekat ikan mas, yaitu dalam satu famili Cyprinidae. Maka padat
tebar ikan nilem di jaring apung dapat disesuaikan dengan padat tebar ikan mas.
Menurut Amidarhana (2001) petani ikan di Jatiluhur untuk jenis usaha
monokultur menebar benih ikan mas pada petak berukuran 7x7 m rata-rata 94
kg/petak/musim tanam atau sekitar 287 ekor/m
2
/musim tanam. 1 kg benih ikan
mas rata-rata berjumlah 150 ekor atau setara 6,67 g/ekor dengan panjang
berkisar 4-10 cm. Menurut Hendayana (2002) petani di Cirata menebar benih
berukuran panjang 2 jari atau seukuran pisau silet (disebut benih silet)
sebanyak 60 kg/petak/musim tanam atau sekitar 97 ekor/m
2
/musim tanam, benih
yang ditebar berjumlah 80 ekor/kg atau setara dengan 12,5 g/ekor, sedangkan di
Kecamatan Mande-Cirata setiap musimnya menanam sebanyak 50 kg/petak
atau sekitar 140 ekor/m
2
dengan jumlah benih 140 ekor/kg atau setara dengan
7,14 g/ekor (Ade, karyawan KJA, 2005, Komunikasi Pribadi).
Menurut Harper dan Pruginin (1981) jumlah ikan yang ditebar bergantung
pada produktivitas kolam seperti kuantitas, kualitas dan tingkat manajemen
(aerasi, aliran air, dan sebagainya). Peningkatan hasil melalui peningkatan
kepadatan hanya dapat dilakukan dengan intensifikasi yaitu pengelolaan pakan
dan lingkungan. Selain itu, menurut Werdemeyer (1996) peningkatan kepadatan
akan mengganggu proses fisiologis dan tingkah laku ikan terhadap ruang gerak
yang akhirnya menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis, pemanfaatan
makanan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Menurut Harper dan Pruginin
(1981), peningkatan padat penebaran dapat diikuti dengan pertumbuhan yang
23
maksimal serta peningkatan hasil selama pakan tercukupi dan kualitas air tetap
mendukung.

2.10 Parameter Fisika dan Kimia Perairan
Suhu
European Inland Fisheries Advisory Commision (1969) menganjurkan
untuk ikan Cyprinidae, kenaikan suhu tidak melebihi dari 6
o
C di atas suhu
perairan asal, dengan batas tertinggi 30
o
C (Wardoyo, 1975). Menurut Pescod
(1973) ikan mempunyai toleransi yang berbeda-beda terhadap gradien suhu. Hal
ini tergantung dari jenis ikan, stadia, daur hidupnya, suhu aklimatisasinya,
oksigen terlarut, musim dan populasi.
Suhu yang baik untuk kehidupan ikan nilem adalah 18 - 28
o
C dengan
ketinggian yang tepat untuk pemeliharaan ini adalah sampai 800 m di atas
permukaan laut, dengan ketinggian optimal antara 400 - 700 m (Hardjamulia,
1978) Pada penelitian ikan nilem di Situ Babakan, suhu perairan berkisar 25 -
30,5
o
C (Karyati,1987), di Waduk Lahor 29,5 - 30
o
C (Lumbanbatu,1979) dan di
Waduk Wonogiri pada musim kemarau 26,5 - 30
o
C, pada musim hujan 25,5 -
28.3
o
C (Winanto, 1982).
Kecerahan
Kecerahan menggambarkan penetrasi cahaya yang dapat masuk ke
perairan. Kecerahan di perairan dipengaruhi oleh faktor abiotik seperti partikel
lumpur dan faktor biotik seperti plankton (Hickling, 1971). Makin tinggi kecerahan,
makin tinggi penetrasi cahaya matahari ke dalam air, sehingga lapisan air yang
produktif makin tinggi (Welch, 1980). Pada penelitian tentang ikan nilem di Situ
Babakan didapatkan nilai kecerahannya 15 - 41 cm (Karyati, 1987).
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman atau pH mempunyai pengaruh yang besar terhadap
kehidupan organisme akuatik, sehingga seringkali pH dari suatu perairan dipakai
sebagai petunjuk untuk menyatakan baik buruknya parameter air sebagai
lingkungan hidup. Batas minimum toleransi ikan air tawar, pada umumnya pH 4
dan batas maksimumnya 11. Tetapi populasi ikan akan tumbuh dengan baik
pada kisaran 6 - 9. Jika nilai pH air tidak berada pada kisaran tersebut dalam
waktu yang agak lama, maka reproduksi dan pertumbuhan ikan akan berkurang
(Jones, dalam Wardoyo, 1975 ; Boyd, 1979). Menurut Rottman dan Shireman
(1992) ikan dapat hidup di perairan pada kisaran pH antara 3,5 - 10, tetapi
kisaran yang optimal untuk beberapa jenis ikan adlah 6,5 - 9. Sedangkan Pescod
24
(1973) menyarankan pH perairan yang ideal bagi perikanan berkisar antara 6,5 -
8,5.
Pada penelitian tentang ikan nilem di Waduk Lahor nilai pH 7,5 - 8,5
(Lumbanbatu, 1979), di Situ Babakan nilai pH 6,5 - 7,5 (Karyati, 1987) dan di
Waduk Wonogiri nilai pH pada musim kemarau 8,1 - 8,3 dan pada musim hujan
6,1 - 6,8 (Winanto, 1982).
Oksigen Terlarut
Kebutuhan oksigen ikan bervariasi tergantung jenis, umur dan kondisi
alami. Ikan kecil biasanya mengkonsumsi oksigen yang lebih besar dibandingkan
ikan dewasa. Penurunan kelarutan oksigen secara kronis dapat menyebabkan
stress pada ikan, sehingga meningkatkan peluang infeksi pada ikan (Rottman
dan Shireman, 1992). Boyd (1979) menyatakan bahwa kelarutan oksigen dalam
air dipengaruhi oleh suhu, salinitas, tekanan parsial gas dan agitasi. Sebaliknya
pengurangan kelarutan oksigen di perairan dipengaruhi oleh respirasi organisme
dan bakteri aerob sebagai pengurai bahan organik.
Pada penelitian tentang ikan nilem di Situ Babakan didapatkan nilai DO
terendah adalah 3,1 mg/l dan tertinggi 8,3 mg/l. Hal ini disebabkan karena
adanya tumbuhan air dan plankton (Karyati, 1987). Di Waduk Lahor nilai 5,6 - 7,6
mg/l (Lumbanbatu, 1979) dan di Waduk Wonogiri nilai DO pada musim kemarau
2,4 - 6,2 mg/l dan pada musim hujan 4,22 - 5,34 mg/l (Winanto, 1982).
Amoniak-Nitrogen (NH
3
-N)
Keberadaan amoniak dihasilkan dalam proses pembusukkan bahan
organik olah bakteri. Pada perairan yang tidak tercemar, senyawa ini relatif
rendah yaitu kurang dari 1 mg/l. Pescod (1973) menyarankan agar kandungan
amoniak untuk daerah tropis tidak lebih dari 1 mg/l. Bila lebih, maka akan
menghambat daya serap haemoglobin terhadap oksigen, yang mengakibatkan
ikan mati lemas. Daya racun amoniak terhadap ikan berbeda-beda tergantung
daya permeabilitas insang terhadap molekul-molekul beracun tersebut (Wardoyo,
1975).







25
III . BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Desember 2004 hingga bulan
Februari 2005 di Keramba Jaring Apung, Perusahaan pribadi Kolam Bonefeed,
waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat.

3.2 Persiapan Al at
3.2.1 Wadah Pemeliharaan
Wadah pemeliharaan yang digunakan adalah 9 buah jaring berukuran
1x1x2 m yang terbuat dari bahan polyethyline (PE) berwarna hitam dengan
lebar mata jaring 4 mm. Pemasangan jaring disusun secara berurutan dalam
satu petak keramba yang berukuran 7x7 m. Jarak permukaan air terhadap mulut
jaring 30 cm dan jaring diikat pada sisi keramba dan tali permanen (bahan PE)
agar letak jaring berada di tepi petak (Gambar 3).
Agar jaring dapat tenggelam dalam air dan membentuk sesuai ukurannya
yang persegi, maka diberi pemberat yang diikatkan pada keempat ujung jaring di
dasar. Pemberat yang digunakan terbuat dari gelas plastik bekas yang diisi
semen dan diberi tali pada bagian atasnya. Jumlah pemberat yang dipakai
sebanyak 4 buah/jaring dengan berat rata-rata 400 g/buah.
3.2.2 Substrat Perifiton
Substrat perifiton menggunakan jaring bekas berukuran 1x 0,5 m dengan
lebar mata jaring 4 mm, diberi pemberat dari batu yang dibungkus plastik dan
digantungkan pada tali utama agar substrat dapat berdiri tegak saat dimasukkan
dalam wadah pemeliharaan, sehingga ikan mudah untuk makan dari segala arah
(Gambar 4).
Perifiton ditumbuhkan dengan cara merendam potongan substrat tersebut
di bagian luar KJA atau tempat yang telah disediakan khusus selama 7-12 hari.
Setiap hari substrat diperiksa untuk memastikan pertumbuhan perifiton dan
menghindari kerusakkan seperti tersangkut benda asing, putus dan sebagainya.






26

Rakit bambu ukuran 7x7 m


Wadah pemeliharaan (1x1x2 m)



Tali permanen

Rumah jaga


Gambar 3. Susunan wadah pemeliharaan dalam satu petak keramba






Jaring bekas 1 x 0,5m
Wadah pemeliharaan ikan
( jaring berukuran 1x1x2 m )

Batu pemberat yang dibungkus plastik


Pemberat @ 400 g

Gambar 4. Letak substrat perifiton yang digantung dalam wadah pemeliharaan.

3.2.3 Penebaran Benih
Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nilem (Osteochilus
hasselti C.V) berukuran 7,1-7,4 cm dengan berat 4,6-5,3 g , yang didapatkan dari
petani ikan waduk Cirata, Cianjur. Sebelum dipindahkan pada wadah
pemeliharaan, benih diadaptasikan terlebih dahulu dalam jaring berukuran 7x7x2
m. Kemudian dilakukan penyortiran ukuran 7 cm agar diperoleh yang seragam
dengan berat rata-rata benih adalah 4,87 g . Penebaran dilakukan pagi hari
untuk menghindari stress pada ikan. Penebaran dibagi dalam 3 kepadatan
masing-masing 35 ekor/m
3
, 70 ekor/m
3
dan 105 ekor/m
3
.
27
3.2.4 Pemberian Pakan dan Sampling
Substrat yang direndam selama 7-12 hari, diperiksa setiap pagi untuk
memastikan agar substrat tidak terganggu dari benda-benda seperti plastik,
kayu atau bambu yang mudah tersangkut. Setelah itu diberikan pada kepadatan
rendah, sedang dan tinggi dengan jumlah masing-masing 1, 2 dan 3 lembar
(sesuai perbandingan jumlah penebaran ikan). Frekuensi pemberian pakan
3x/hari pada waktu pagi, siang dan sore hari dengan jumlah perifiton sebanyak 5
g (bobot kering) setiap substratnya. Substrat yang telah habis direndam kembali
dan diganti dengan substrat baru lain pada hari berikutnya. Sampling untuk
mengetahui perkembangan bobot ikan dilakukan setiap 16 hari sekali, sebanyak
30% dari jumlah populasi untuk pengukuran berat dan 10% dari jumlah populasi
untuk pengukuran panjang. Selama percobaan, sampling didapatkan sebanyak 5
kali dalam 64 hari. Tetapi pada data hanya disajikan hingga sampling 4,
perbedaan ini disebabkan karena kesalahan pada Feeding Rate setelah hari ke-
48 sehingga data sampling ke-5 tidak dapat digunakan.

3.3 Rancangan Percobaan
Perlakuan yang diberikan 3 macam, yaitu kepadatan rendah 35 ekor/m
3
,
kepadatan sedang 70 ekor/m
3
dan kepadatan tinggi 105 ekor/m
3
dengan
rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 3 ulangan. Analisis data pada rancangan percobaan ini menggunakan
Analysis of Covarian (ANOVA).

3.4 Parameter yang diukur
Parameter yang diukur terdiri dari dari parameter-parameter yang bersifat
kuantitatif yang meliputi : bobot awal dan akhir ikan, panjang awal dan akhir ikan,
kelangsungan hidup benih (survival rate) serta data kualitas air.
3.4.1 Derajat Kelangsungan Hidup (SR)
Derajat kelangsungan hidup merupakan prosentase jumlah ikan dalam
keadaan hidup dalam kurun waktu tertentu dari seluruh ikan yang ditebar pada
awal pemeliharaan. Pengukuran derajat kelangsungan hidup ikan dilakukan
dengan membandingkan jumlah ikan yang hidup pada akhir dengan awal
pemeliharaan, rumus perhitungan sebagai berikut :
SR
Ikan
= % 100

an pemelihara awal pada hidup yang Ikan


an pemelihara akhir pada hidup yang Ikan

28
3.4.2 Laju Pertumbuhan Harian
Laju pertumbuhan harian merupakan persentase pertambahan bobot
badan ikan per hari selama masa percobaan.

a =

1
o
t
W
W
t x 100% (Zonneveld, et al., 1991)

a : Laju pertumbuhan harian (100%)
W
t
: Bobot rata-rata ikan pada saat akhir (g)
W
o
: Bobot rata-rata ikan pada saat awal (g)
t : Lama pemeliharaan (hari)

3.4.3 Pertumbuhan Panjang Mutlak
Pertumbuhan panjang mutlak merupakan ukuran panjang ikan yang
diukur dari bagian kepala hingga sirip ekor. Pengukuran dilakukan setiap 16 hari
sekali, secara langsung dengan menggunakan mistar plastik. Pada percobaan
ini digunakan mistar berukuran 20 cm dengan ketelitian 1 mm.

Pm = L
t
- L
o
(Effendie, 1997)

Pm : Pertumbuhan panjang mutlak (cm)
L
t
: Panjang rata-rata akhir (cm)
L
o
: Panjang rata-rata awal (cm)

3.4.4 Konversi Pakan
Konversi pakan menunjukkan perbandingan bobot pakan yang
dikonsumsi dengan pertambahan beratnya. Jumlah pakan yang dikonsumsi
dapat dihitung melalui bobot kering dari substrat+perifiton, dikurangi bobot kering
substrat, dikali dengan feeding rate, feeding frequency dan lama pemeliharaan.
FCR
( )
o t
W W
F

= (Tacon, 1983)

FCR : Konversi pakan
F : Jumlah total pakan yang dikonsumsi (g)
W
t
: Bobot biomassa ikan uji pada akhir pemeliharaan (g)
W
o
: Bobot biomassa ikan uji pada awal pemeliharaan (g)

29
3.4.5 Analisis Fisika dan Kimia Air
Analisis kualitas air seperti suhu diukur menggunakan termometer dan pH
menggunakan pH-meter. Pengambilan sampel amonia dilakukan setiap 10 hari,
sedangkan dissolved oxygen (DO) diukur setiap 2 jam selama sehari pada awal
percobaan dengan menggunakan DO-meter dan kecerahan diukur
menggunakan Secchi disc.

















30
10,95
9,63
7,35
4,91
7,3
9,37
4,79
7,02
7,98
4,83
6,67
6,83
0
2
4
6
8
10
12
14
16
1 16 32 48
Waktu (Hari)
B
o
b
o
t

i
k
a
n

(
g
)
35 ekor/m3 70 ekor/m3 105 ekor/m3
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Bobot Ikan Nilem

Bobot ikan nilem bertambah setelah dipelihara selama 48 hari dengan
diberi pakan perifiton. Pada kepadatan 35 ekor/m
3
bobotnya bertambah lebih dari
2 kali lipat bobot awal, sedangkan kepadatan 105 ekor/m
3
bertambah lebih dari
1,5 kali lipat bobot awal. Pertambahan bobot pada kepadatan 35, 70 dan 105
ekor/m
3
berturut-turut sebesar 6,04 g ; 4,84 g dan 2,52 g (gambar 4).










Gambar 5. Grafik bobot ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada padat tebar
35, 70 dan 105 ekor/m
3
yang diberi pakan perifiton.


Melalui analisis covarian, bobot akhir ikan nilem yang dipelihara pada
kepadatan 35 ekor/m
3
tidak berbeda nyata (P>0,05) dari kepadatan 70 dan 105
ekor/m
3
. Simpangan baku pada masing-masing perlakuan menunjukkan nilai
yang cukup rendah (Tabel 5).

Tabel 5. Bobot akhir ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V) pada padat tebar yang
berbeda.
Padat Tebar
Ulangan
35 ekor/m
3
70 ekor/m
3
105 ekor/m
3

1 12,86 10,80* 7,78
2 11,43 9,29 7,30
3 8,57 8,81 6,98
Rata-rata 10,95 2,18

9,63 1,04

7,35 0,40

Ket *) : Missing data


31
9,39
8,65
8 7,32
8,05
8,72
7,35
7,69
8,29
7,36
7,58
7,87
5
6
7
8
9
10
11
12
1 16 32 48
waktu (hari)
p
a
n
j
a
n
g

(
c
m
)

35 ekor/m3 70 ekor/m3 105 ekor/m3
4.1.2 Panjang Ikan Nilem
Sejalan dengan pertambahan bobot, panjang rata-rata ikan nilem selama
pemeliharaan pada kepadatan 35, 70 dan 105 ekor/m
3
masing-masing
bertambah sebanyak 2,07 ; 1,30 dan 0,64 cm (Gambar 6). Pada kepadatan 35
dan 105 ekor/m
3
panjangnya bertambah lebih dari 1 kali lipat dari panjang
awalnya.










Gambar 6. Grafik Panjang ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada padat
tebar 35, 70 dan 105 ekor/m
3
yang diberi pakan perifiton.

Panjang akhir ikan nilem yang dipelihara dengan padat tebar 35 ekor/m
3

tidak berbeda nyata (P>0,05) dari kepadatan 70 dan 105 ekor/m
3
. Simpangan
baku pada masing-masing perlakuan juga menunjukkan nilai yang cukup rendah
(Tabel 6).

Tabel 6. Panjang akhir ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V) pada padat tebar
yang berbeda.
Padat Tebar
Ulangan
35 ekor/m
3
70 ekor/m
3
105 ekor/m
3

1 9,91 9,05* 8,28
2 9,77 8,69 7,77
3 8,47 8,21 7,96
Rata-rata 9,39 0,80

8,65 0,42

8,00 0,26

Ket *) : Missing data

4.1.3 Laju Pertumbuhan Harian Ikan Nilem
Pertumbuhan ini menunjukkan persentase penambahan bobot ikan per
hari selama masa pemeliharaan. Pertumbuhan harian di kepadatan 35, 70 dan
105 ekor/m
3
masing-masing menunjukkan nilai sebesar 1,66 ; 1,50 dan 0,88 %
(Tabel 7). Dari analisa statistik yang dilakukan, pertumbuhan harian ikan nilem
32
yang dipelihara pada kepadatan 35 ekor/m
3
juga tidak berbeda nyata (P>0,05)
dari kepadatan 70 dan 105 ekor/m
3
.

Tabel 7. Laju pertumbuhan harian ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
padat tebar yang berbeda.
Padat Tebar (ekor/m
3
)
Ulangan
35 70 105
1 2,18 1,82* 1,01
2 1,62 1,36 0,98
3 1,19 1,31 0,66
Rata-rata 1,66 0,50

1,50 0,28

0,88 0,19

Ket *) : Missing data

4.1.4 Kelangsungan Hidup
Angka kelangsungan hidup pada akhir percobaan ikan nilem memberikan
hasil yang tidak berbeda jauh. Rata-rata kelangsungan hidup pada kepadatan
35, 70 dan 105 ekor/m
3
masing-masing sebesar 99,52 ; 93,73 dan 95,55 %
(Tabel 8). Analisa menunjukkan padat tebar yang berbeda tidak memberikan
pengaruh yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap kelangsungan hidup benih ikan
nilem.

Tabel 8. Kelangsungan hidup ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada padat
tebar yang berbeda.
Padat Tebar (ekor/m
3
)
Ulangan
35 70 105
1 98,57 89,05* 87,14
2 100 94,29 100
3 100 97,86 99,52
Rata-rata 99,52 0,83

93,73 4,43 95,55 7,29

Ket *) : Missing data


4.1.5 Konversi Pakan
Selama pemeliharaan berlangsung perlakuan 35 ekor/m
3
menghabiskan
133 lembar, perlakuan 70 dan 105 ekor/m
3
masing-masing menghabiskan 256
dan 379, dengan bobot kering perifiton yaitu 5 g/lembar. Konversi pakan pada
ketiga perlakuan ternyata menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Pada
kepadatan 35 ekor/m
3
sebesar 1,76 ; kepadatan 70 ekor/m
3
sebesar 2,28
sedangkan pada kepadatan 105 ekor/m
3
sebesar 4,25 (Tabel 9).

33
Tabel 9. Konversi pakan ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada padat tebar
yang berbeda dengan pakan perifiton.
Padat Tebar (ekor/m
3
)
Ulangan
35 70 105
1 1,17 2,16* 4,58
2 1,55 2,35 3,31
3 2,56 2,34 4,86
Rata-rata 1,76 0,72
a
2,28 0,11
a
4,25 0,83
b

Ket *) : Missing data

4.1.6 Kualiatas Air
Kualitas air selama penelitian berlangsung dalam keadaan baik untuk
pemeliharaan ikan. Nilai DO dari awal hingga akhir penelitian berkisar antara
3,59 di pagi hari dan 7,73 di siang hari. Suhu dan pH masing-masing berada
pada kisaran 29-34
o
C dan 7,5-8,8 serta kecerahan yang memang sangat rendah
yaitu 96 cm. Parameter lainnya seperti ammonia dapat dilihat pada Lampiran.


4.2 Pembahasan
Berdasarkan tiga perlakuan diatas, bobot ikan nilem mengalami
pertumbuhan selama pemeliharaan 48 hari. Pertumbuhan terjadi apabila ikan
hidup pada lingkungan yang optimum (suhu, pH dan oksigen) serta kebutuhan
makanan yang mencukupi. Pada penelitian ini makanan berupa pakan alami
perifiton yang diberi sesuai perbandingan padat tebar. Kepadatan 35, 70 dan
105 ekor/m
3
masing-masing diberi substrat perifiton sebanyak 1, 2 dan 3 lembar.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hepher dan Pruginin dalam Suhadi (2003)
yang menyatakan peningkatan kepadatan ikan tanpa disertai peningkatan jumlah
pakan yang diberikan akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan dan
jika telah sampai pada batas carrying capacity maka pertumbuhannya akan
terhenti sama sekali.
Kualitas air yaitu DO, ammonia, suhu, kecerahan dan pH pada penelitian
ini masih berada dalam kisaran optimal. Sesuai yang diutarakan Hepher dan
Pruginin (1981), Peningkatan padat penebaran dapat diikuti dengan
pertumbuhan yang maksimal serta peningkatan hasil selama pakan tercukupi
dan kualitas air tetap mendukung. Oleh karena itu, kedua faktor tersebut tidak
mempengaruhi pertumbuhan ikan.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan bobot dan panjang
dari tiga kepadatan tersebut sama baiknya. Berdasarkan analisis data yang
34
dilakukan, menjelaskan bahwa ketiga perlakuan tersebut tidak berbeda nyata
(P>0,05). Hal tersebut disebabkan karena kebutuhan lingkungan dan makanan
(perifiton) masih dalam keadaan yang mencukupi. Sama halnya dengan bobot
dan panjang, laju pertumbuhan harian ikan (a) juga tidak berbeda nyata antara
tiga perlakuan (P>0,05). Peningkatan kepadatan (stock density) pada percobaan
ini belum menunjukkan adanya penurunan pada laju pertumbuhan harian ikan.
Hal ini juga disebabkan karena kebutuhan lingkungan (faktor kimia, fisika dan
biologi perairan) dan makanan masih menunjang bagi pertumbuhan ikan nilem.
Mengenai kebutuhan makanan, Warren dan Davis (1967) berpendapat bahwa
pemberian pakan dalam jumlah yang disesuaikan dengan bobot masing-masing
perlakuan menyebabkan perbedaan pertumbuhan harian (a) tidak terjadi.
Pertumbuhan ikan dapat terjadi bilamana sejumlah makanan yang dicerna
melebihi jumlah makanan yang diperlukan untuk pemeliharaan tubuh. Sama
halnya dengan pertumbuhan harian, nilai kelangsungan hidup (SR) juga sama
antar perlakuan (P>0,05). Hal ini juga diduga karena kondisi lingkungan dan
pakan yang masih tercukupi.
Sedangkan pada nilai konversi pakan (FCR), tiga perlakuan tersebut
menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Ketika dilanjutkan melalui Uji
Tuckey memperlihatkan bahwa antara kepadatan 35 dan 70 ekor/m
3
tidak
berbeda nyata, namun konversi pakan kedua perlakuan tersebut berbeda nyata
dengan kepadatan 105 ekor/
3
. Menurut Allen (1974) ruang gerak ikan akan
berpengaruh terhadap keeffisienan konversi makanan. Penurunan keeffisienan
konversi makanan dapat dibuktikan pada konversi pakan yang cenderung
menurun sejalan dengan peningkatan padat tebar. Pada perlakuan 35 ekor/m
3

nilai FCR sebesar 1,76 ; perlakuan 70 ekor/m
3
nilai FCR sebesar 2,28 dan
perlakuan 105 ekor/m
3
nilai FCR sebesar 4,25. Hal ini diduga bahwa ruang gerak
yang semakin sempit memberikan tekanan (stresor) pada kepadatan yang tinggi,
sehingga energi yang dihasilkan dari metabolisme untuk pertumbuhan sebagian
digunakan terlebih dahulu untuk bertahan dari stres. Dalam hal ini tingkat stres
yang ditimbulkan belum mencapai keadaan dimana ikan tidak mau makan,
sehingga pertumbuhan tetap berjalan. Maka dengan kata lain ikan makan banyak
untuk menghasilkan energi yang sebagian digunakan untuk bertahan dari stres
dan sebagian lagi digunakan untuk pertumbuhan.
Secara keseluruhan pertumbuhan ikan nilem pada ukuran benih yang
dipelihara di jaring terapung dengan menggunakan pakan perifiton tergolong
lebih cepat jika dibandingkan dengan ikan nilem yang dipeluhara pada kolam-
35
kolam darat dengan sistem polikultur. Pada kolam darat umumnya diberikan
pelet dan sayuran berupa kol atau sawi. Seperti penelitian ikan nilem yang
dilakukan Ayu (2003) di daerah Magek-Sumatra Barat dipelihara pada kolam
darat dengan pakan pelet dan sayuran. Percobaan tersebut menunjukkan
pertumbuhan harian ikan nilem sebesar 0,38 %, nilai ini lebih kecil dibandingkan
pertumbuhan harian yang dihasilkan dari penelitian ini yaitu sebesar 1,66 %
untuk kepadatan 35 ekor/m
3
dan 0,88 % untuk kepadatan 105 ekor/m
3
(Tabel 10).
Perbedaan ini dapat disebabkan karena pada penelitian di KJA Cirata, ikan nilem
tidak dipelihara bersama ikan lain (monokultur). Keberadaan perifiton di KJA juga
lebih besar karena tingkat kesuburan waduk yang tinggi jika dibandingkan
dengan kolam darat di daerah Magek.

Tabel 10. Panjang dan Bobot ikan nilem yang dipelihara pada kolam di dearah
Magek, Sumatra Barat dan KJA Cirata, Cianjur, Jawa Barat.

Ukuran Awal Ukuran Akhir
Daerah
Umur
Ikan
(bulan)
Panjang
(cm)
Berat
(g)
Panjang
(cm)
Berat
(g)
Pertumbuhan
Harian (%)
Sistem
Budidaya
Sumber
8 18 50-60 0,38
18-24 25 150 0,38
Magek,
Sumatra Barat
12
10 20-30
20 80-100 0,37
Kolam
Darat
Ayu
(2003)
7,32 4,91 10,21 11,78 1,66 Cirata, Cianjur
Jawa Barat
1,5
7,36 4,83 8,46 6,59 0,88
KJA
Percobaan
ini

Jika mengacu pada pemanfaatan plankton dan perifiton untuk
mengurangi Blooming algae maka perlakuan 105 ekor/m
3
yang menjadi padat
tebar optimal, karena mampu menghabiskan jumlah perifiton yang banyak
dibandingkan perlakuan lainnya. Namun jika mencari keuntungan produksi yang
maksimal maka perlakuan 70 ekor/m
3
merupakan padat tebar yang optimal
karena dengan pakan yang sedikit dihasilkan daging yang lebih banyak dari
perlakuan lainnya. Pada percobaan ini perlakuan kepadatan 70 ekor/m
3

memberikan keuntungan produksi yang paling besar dibandingkan dengan
perlakuan lainnya yaitu sekitar 80% lebih (Lampiran 6).








36
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Untuk memanfaatkan plankton dan perifiton yang tinggi di Cirata, maka
padat tebar yang terbaik dalam budidaya ramah lingkungan adalah 105 ekor/m
3

dengan FCR sebesar 4,25 karena menghabiskan perifiton dalam jumlah banyak.
Namun jika mencari keuntungan produksi yang maksimal maka kepadatan 70
ekor/m
3
adalah yang optimal karena dengan perifiton yang lebih sedikit
dihasilkan daging yang lebih banyak.

5.2 Saran
Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah
kepadatan ikan nilem untuk mengetahui kepadatan optimal bagi pertumbuhan
ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V) dengan memanfaatkan pakan alami berupa
perifiton.














37
DAFTAR PUSTAKA

Allen KO. 1974. Effect of Stocking Density and Water Exchange Rate on Growth
and Survival of Channel Cattfish (Letaheny punetatus). Incircular
Tanks. Aquaculture.
Amidarhana A. 2001. Analisis Produktivitas Usaha Budidaya Ikan dalam
Keramba Jaring Apung di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta,
Propinsi Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.Hal 27.
Ayu LR. 2003. Prospek Pengembangan Usaha Pembenihan Ikan Mas dan Nilem
di Nagari Magek, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam,
Sumatra Barat. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 33.
Beveridge MCM. 1966. Cage Culture (2nd Edition). Fishing News Books.
England, 346 p.
Boyd CE. 1979. Water Quality Management in Warm Water Fish Pond. Craft :
Master Printer, Inc Opelika. Alabama.
Boyd C.E. 1982. Water Quality Management for Pond. Fish Culture. Auburn
University. Elsevier Science Publishing Company , Inc. New York.

Boyd C.E. dan Bowman JR. 1997. Pond Bottom Soils. In Dynamics of Pond
Aquaculture (ed. H.S. Egna & C.E. Boyd), pp. 135-162. CRC Press,
Boca Raton, New York.

Danakusumah E. 1999. Kemungkinan Penggunaan Ikan Mola
(Hypopthalmichthys molitrix) sebagai Agen Pembersih Perairan
Waduk. h. XXII (1-4). Prosiding. Semiloka Nasional Pengelolaan dan
Pemanfaatan Waduk. 30 November 1999, Bogor. PPLH-LP.

Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

Hardjamulia A. 1979. Budidaya Perikanan. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio
L.), Ikan Tawes (Puntius javanicus), Ikan Nilem (Ostheochilus
hasselti). Sekolah Ilmu Perikanan. SUPM. Bogor. Badan Pendidikan,
Latihan dan Penyuluhan Pertanian. Dept. Pertanian. Hal 19.

Harris GP. 1986. Phytoplankton Ecology. Structure, Function and Fluctuation.
Chapman and Hall, London. New York. 384 p.

Hendayana D. 2002. Analisis Usaha Perikanan Budidaya Perairan Waduk
dengan Jaring Apung (Kasus Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur, Jawa
Barat). Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Hal 50.

Herpher B. dan Pruginin Y. 1981. Comercial fish farming : With Special
Reference to Fish Culture in Israel. John Wiley & Sons New York. 88
p.

38
Hickling CF. 1971. Fishculture. Faber and Faber, London.

Huet M. 1970. Tex book of Fish Culture. Breeding and Cultivation. De Wyngeaut,
Brussel. 425p.

Karyati T. 1987. Studi Luas Relung Asosiasi Habitat dan Makanan Serta Pola
Reproduksi Ikan Nilem (Ostheochilus hasselti) dan Tawes (Puntius
javanicus) Di Situ Babakan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta
Selatan. Skripsi. Jurusan MSP. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Institut Pertanian Bogor. Hal 137.

Khairuman, Suhenda D dan Gunadi B. 2002. Budidaya Ikan Mas secara Intensif.
Jakarta. Penerbit Argo Media Pustaka.

Li SF. 1994. Fish Culture in Cages and Pens. In Freshwater Fish Culture in China:
Principels and Practice (ed. S.F. Li & J. Mathias), pp. 305-346.
Elsevier, Amsterdam.

Lumbanbatu, D.T.F. 1979. Aspek Biologi Reproduksi Beberapa Jenis Ikan di
Waduk Lahor, Jawa Timur. Karya Ilmiah. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 169.

Payne AI. 1986. The Ecology of Tropical Lakes and Rivers. John Wiley & Sons,
Chichester, Great Britain.

Pescod MB. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standart for
Tropical Countries. AIT, Bangkok. 59 p.

Pratiwi NTM. 2003. Peran Plankton dalam Mengevaluasi Kualitas Air.
Manajemen Bioregional Jabodetabek : Profil dan Strategi Pengelolaan
Situ, Rawa dan Danau. Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor.

Reynold CC. 1984. The Ecology of Freshwater Fitoplankton. Cambridge
University Press. London. New York, 383 p.

Ruttner F. 1974. Fundamentals of Limnology. University of Toronto Press.
Toronto, 295 p.

Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Vol I dan I. Bina Cipta,
Bandung. Hal 1508.

Shcmittou HR. 1993. High Density Fish Culture in Low Volume Cages.
Aquaculture, American Soybean Association. Vol. AQ41 1993/7, 78 p.

Sjafei DS, Rahardjo MF, Affandi R dan Sulistiono. 1989. Ikhtiologi. Jurusan
Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 183.

Suganda H. 2001. Arus Balik, Membuat Periuk Nasi Terbalik. Harian Kompas.
Senin 16 April 2001, Jakarta. Hal 27.


39
Suganda H. 2001. Bom Waktu dari Saguling dan Cirata.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/01044/16/daerah/bomw25.htm.
[20 Mei 2004]

Suhadi I. 2003. Pendederan Kerapu Bebek Cromileptes altivelis di Keramba
Jaring Apung dengan Padat Tebar yang Berbeda. Skripsi. Jurusan
Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor. Hal 6.

Sulastri. 2003. Karakteristik Ekosistem Perairan Danau Dangkal. Manajemen
Bioregional Jabodetabek : Profil dan Strategi Pengelolaan Situ, Rawa
dan Danau. Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor.

Suwignyo P. 2003. Ekosistem Perairan Pedalaman, Tipologi dan
Permasalahannya. Manajemen Bioregional Jabodetabek : Profil dan
Strategi Pengelolaan Situ, Rawa dan Danau. Pusat Penelitian Biologi-
LIPI, Bogor.

Tacon AG dan De Saliva SS. 1983. Aquaculture. 11-20 p.

Warren CE. dan Davis GE. 1967. Laboratory Studies on The Feeding
Bioenergetics and Grownd of Fishes. P:175-214 in S.D. Gerging. The
Biological Basic of Freshwater Fish Production. Blackwell Scientific
Publication, Oxford.

Weber M dan de Beauford LF. 1916. The Fishes of The Indo Australian
Archipelago. Vol III. EJ. Brill Ltd, Leiden. 455 p.

Welch EB. 1980. The Ecological Effect of Waste Water. Cambridge University
Press, Cambridge.

Wetzel RG. 2001. Limnology. Lake and River Ecosystem. Third Edition.
Academic Press. San Diego. New York.

Weitzel RL. 1979. Methods and Measurements of Perifiton Communities. A
Review American Society for testing and Materials, Philadelphia. 163p.

Winanto T. 1982. Aspek Biologi Kebiasaan Makanan, Hubungan Panjang, Berat
dan Fekunditas Ikan Tawes (Puntius javanicus) dan Ikan Nilem
(Ostheochilus hasselti) di Waduk Wonogiri, Jawa Tengah, Pada Awal
Penggenangan. Karya Ilmiah. Jurusan MSP. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 183.

Wood EJF. 1967. Microbiology of Ocean and Estuaries. Elsevier Publishing
Company, New York. 319 p.

Zonneveld N, Huisman EA dan Boon JH. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. PT.
Gramedia Pustaka Utam, Jakarta. 108 p.





40


























LAMPIRAN


























41
Lampiran 1. Bobot akhir ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V) pada padat
tebar yang berbeda.

Padat Tebar
Ulangan
35 ekor/m
3
70 ekor/m
3
105 ekor/m
3

1 12,86 10,80* 7,78
2
11,43 9,29 7,30
3
8,57 8,81 6,98
Rata-rata 10,95 2,18

9,63 1,04

7,35 0,40

Ket *) : Missing data


Tabel Sidik Ragam
Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Between Groups 19,8747 2 9,937352 4,967205 0,053388 5,143253
Within Groups 12,00355 6 2,000592
Total 31,87826 8 31,87826
F hit. < F tabel : Tidak berbeda nyata























42
Lampiran 2. Panjang akhir ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V) pada padat
tebar yang berbeda.

Padat Tebar
Ulangan
35 ekor/m
3
70 ekor/m
3
105 ekor/m
3

1 9,91 9,05* 8,28
2
9,77 8,69 7,77
3
8,47 8,21 7,96
Rata-rata 9,39 0,80

8,65 0,42

8, 0,26

Ket *) : Missing data


Tabel Sidik Ragam
Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Between Groups 2,865079 2 1,43254 4,900294 0,054756 5,143253
Within Groups 1,754025 6 0,292337
Total 4,619104 8
F hit. < F tabel : Tidak berbeda nyata


































43
Lampiran 3. Laju pertumbuhan harian ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V)
pada padat tebar yang berbeda.

Padat Tebar
Ulangan
35 ekor/m
3
70 ekor/m
3
105 ekor/m
3

1 2,18 1,82* 1,01
2
1,62 1,36 0,98
3
1,19 1,31 0,66
Rata-rata 1,66 0,50

1,50 0,28

0,88 0,19

Ket *) : Missing data


Tabel Sidik Ragam
Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Between Groups 1,012356 2 0,506178 4,182135 0,072879 5,143253
Within Groups 0,7262 6 0,121033
Total 1,738556 8
F hit. < F tabel : Tidak berbeda nyata























44
Lampiran 4. Kelangsungan hidup ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V)
pada padat tebar yang berbeda.

Padat Tebar
Ulangan
35 ekor/m
3
70 ekor/m
3
105 ekor/m
3

1 98,57 89,05* 87,14
2
100 94,29 100
3
100 97,86 99,52
Rata-rata 99,52 0,83

93,73 4,43 95,55 7,29

Ket *) : Missing data

Tabel Sidik Ragam
Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Between Groups 52,5974 2 26,2987 1,073945 0,399317 5,143249
Within Groups 146,9276 6 24,48793
Total 199,525 8
F hit. < F tabel : Tidak berbeda nyata.
































45
Lampiran 5. Konversi pakan ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) pada
padat tebar yang berbeda dengan pakan perifiton.

Padat Tebar (ekor/m
3
)
Ulangan
35 70 105
1 1,17 2,16* 4,58
2
1,55 2,35 3,31
3
2,56 2,34 4,86
Rata-rata 1,76 0,72
a
2,28 0,11
a
4,25 0,83
b

Ket *) : Missing data


Tabel Sidik Ragam
Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Between Groups 10,3606 2 5,180299 12,79293 0,006855 5,143249
Within Groups 2,429608 6 0,404935
Total 12,79021 8
F hit. > F tabel : berbeda nyata.


Tukey HSD
N
Subset for
alpha = .05

Kepadatan
1 2
35 ekor/m
3
3 1,76
70 ekor/m
3
3 2,28
105 ekor/m
3
3 4,25
Sig. 0,598 1,000
















46
Lampiran 6. Hasil analisis proksimat ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V)
dan perifiton.

Ikan nilem pada awal penelitian :
Kepadatan
(ekor/m
3
)
Kadar Air
Kadar
Abu
Protein Lemak
Serat
Kasar
BETN
35/70/105 76,77 4,09 15,40 2,34 0,21 1,19

Ikan nilem pada akhir penelitian :
Kepadatan
(ekor/m
3
)
Kadar Air
Kadar
Abu
Protein Lemak
Serat
Kasar
BETN
30 77,29 4,27 15,33 1,64 0,03 1,43
70 77,21 4,60 16,16 1,48 0,06 0,48
105 77,32 5,10 15,70 1,08 0,15 0,65
Ket : Dalam % bobot basah
Perifiton :
Kadar Air Kadar Abu Protein Lemak Serat Kasar BETN
97,06 1,64 0,46 0,05 0,40 0,39
Ket : Dalam % bobot basah























47
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0:00 2:00 4:00 6:00 8:00 10:00 12:00 14:00 16:00 18:00 20:00 22:00
Waktu (jam)
o
k
s
i
g
e
n

(
p
p
m
)
0,075
0,025
0,034
0,063
0,032
0,054
0,04
0,095
0,049 0,052
0,052
0,082
0,001
0,049
0,045
0,048
0,039
0,001
0
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05
0,06
0,07
0,08
0,09
0,1
1 11 21 31 41 51
Waktu (hari)
A
m
m
o
n
i
a

(
p
p
m
)
35 ekor/m3 70 ekor/m3 105 ekor/m3
Lampiran 7. Profil DO dan amoniak di KJA Bonafeed, waduk Cirata, Cianjur,
Jawa Barat.

Dissolved Oxygen (mg/l)
Waktu (jam)
Tanggal
00.00 02.00 04.00 06.00 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 20.00 22.00
10 'Des 5,43 5,17 4,31 4,75 5,63 6,15 7,51 9,24 8,5 7,63 5,88 5,03
11 'Des 4,5 4,12 3,2 4,18 5,77 6,42 5,57 7,16 6,31 5,88 4,88 4,37
12 'Des 4,01 3,37 3,25 3,25 3,89 4,2 5,81 6,8 6,47 6,13 5,42 3,94
Rata2 4,65 4,22 3,59 4,06 5,1 5,59 6,297 7,73 7,09 6,55 5,393 4,447









Gambar 7. Grafik profil DO (mg/l) dalam 24 jam di KJA Bonafeed, waduk Cirata, Cianjur Jawa
Barat.


Amoniak (mg/l)
Waktu Pemeliharaan (hari ke-)
Kepadatan
(ekor/m
3
)
1 11 21 31 41 51
35 0,032 0,054 0,075 0,04 0,063 0,025
70 0,001 0,082 0,095 0,052 0,049 0,052
105 0,001 0,048 0,034 0,039 0,049 0,045









Gambar 8. Grafik profil Ammonia (mg/l) di KJA Bonafeed, waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat.
26
27
28
29
30
31
32
33
34
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49 51 53 55 57 59 61 63
Waktu pemeliharaan (hari)
S
u
h
u

Pagi Siang Sore
6,5
7
7,5
8
8,5
9
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49 51 53 55 57 59 61 63
Waktu pemeliharaan (hari)
p
H
Pagi Siang Sore












Gambar 9. Grafik profil suhu (
o
C) selama 48 hari di KJA Bonafeed, waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat.














Gambar 10. Grafik profil pH selama 48 hari, di KJA Bonafeed, waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat.

Estimasi biaya operasi budidaya ikan Nilem di Keramba Jaring Apung.
Perlakuan
Jml Awal
(ekor)
Jml Akhir
(ekor)
Bobot awal
(g)
Bobot akhir
(g)
Biomasa awal
(g)
Biomasa akhir
(g)
Harga benih*
(Rp)
Harga panen*
(Rp)
? (Rp)
Rataan
(Rp)
A1 70 69 4,5714 12,8571 320 887,14 4800 13307 8507
A2 70 70 5,2857 11,4286 370 800,00 5550 12000 6450
A3 70 70 4,8571 8,5714 340 600,00 5100 9000 3900
6286

B1 140 120 5,07 10,79 710 1294,80 10650 19422 8772
B2 140 132 4,8571 9,2857 680 1225,71 10200 18386 8186
B3 140 137 4,7143 8,8095 660 1206,90 9900 18104 8204
8186

C1 210 183 4,8095 7,7778 1010 1423,33 15150 21350 6200
C2 210 210 4,5714 7,3016 960 1533,33 14400 23000 8600
C3 210 209 5,0952 6,9841 1070 1459,68 16050 21895 5845
6882

Ket : *) Harga Benih Rp.15.000,-/kg
*) Harga Panen Rp.15.000,-/kg (Ukuran panen = Ukuran pendederan)