Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 1

Siti Fadlina (95713006)

UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN
(UKL-UPL) TERKAIT DAMPAK PEMBANGUNAN KAWASAN
PARIWISATA TERHADAP LINGKUNGAN
(Studi Kasus : Pantai Teupin Layeu-Gapang, Kota Sabang)
FADLINA, SITI (95713006)
Mahasiswa Magister Terapan Perencanaan Kepariwisataan
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
Institut Teknologi Bandung
ABSTRAK
Pembangunan kawasan pariwisata selain memberikan dampak positif terhadap
perkembangan wilayah di kota dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian
masyarakat, pelaksanaan kegiatan pembangunan kawasan pariwisata ini juga
berpeluang menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Untuk mengantisipasi
dan mengendalikan dampak negatif serta meningkatkan dampak positif, maka
sejak proses perencanaan pembangunan kawasan ini perlu dilengkapi dengan
studi kelayakan lingkungan yang selanjutnya dijadikan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh izin lingkungan dan izin usaha dan/atau kegiatan. Setiap
usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib Amdal, wajib
memiliki UKL-UPL. Setiap penyelenggara usaha dan/atau kegiatan pariwisata
wajib memelihara, mencegah, menanggulangi pencemaran dan atau kerusakan
lingkungan. Secara prinsip kegunaan UKL-UPL sama dengan kegunaan Amdal
yang dapat berfungsi sebagai dokumen yang berdayaguna dan berhasilguna.
Untuk itu terdapat tata cara di dalam penyusunannya dengan syarat utama yaitu
dokumen-dokumen tersebut harus dihasilkan dari suatu proses penyusunan yang
dapat dipertanggung-jawabkan, berkualitas, perumusan kelola dan pantau yang
jelas, tegas, dapat dioperasionalkan, dan legal binding. Penetapan UKL-UPL
dilakukan oleh pejabat yang berwenang di bidang perizinan usaha/kegiatan. Para
bupati/walikota di daerahnya masing-masing dapat mengambil inisiatif untuk
mengatur penyusunan UKL-UPL di daerah termasuk penetapan daftar usaha
dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL dengan membuat peraturan daerah mengenai
UKL-UPL sesuai dengan landasan hukum diatasnya. Mekanisme penyusunan UKL-
UPL terdiri dari beberapa tahapan proses yang harus dilalui, proses awal dan
yang paling utama yaitu pemrakarsa harus menyusun dokumen UKL-UPL. Pihak-
pihak yang terlibat langsung dalam mekanisme penyusunan UKL-UPL yaitu
pemrakarsa, instansi lingkungan, dan instansi perizinan usaha/kegiatan.
sedangkan pihak yang terlibat tidak langsung yaitu pakar lingkungan, pakar
teknis, konsultan, masyarakat yang berkepentingan, dan lembaga pelatihan.
Kata Kunci : upaya pengelolan lingkungan, upaya pemantauan lingkungan,
kawasan pariwisata, izin lingkungan, izin usaha/kegiatan
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 2
Siti Fadlina (95713006)

1. PENDAHULUAN
Pembangunan sebuah kawasan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Proses pelaksanaan pembangunan di satu
pihak akan selalu menimbulkan perubahan lingkungan yang dapat menimbulkan
dampak, baik negatif maupun positif. Apabila pembangunan yang dilaksanakan di
suatu daerah menimbulkan dampak terhadap komponen lingkungan geo-fisik-
kimia dan sosial ekonomi budaya, maka harus dilakukan upaya meningkatkan
dampak positif dan memperkecil dampak negatif. Upaya ini dilakukan agar
lingkungan terjaga kualitasnya, pelestarian sumber daya alam dan
pemanfaatannya serta kesejahteraan masyarakat.
Dampak negatif yang ditimbulkan diantaranya adalah pencemaran terhadap
lingkungan, baik udara, air maupun daratan. Pencemaran mengakibatkan kualitas
lingkungan menurun, akan lebih fatal apabila lingkungan tidak dapat
dimanfaatkan sebagaimana fungsi sebenarnya. Hal ini harus disadari, bahwa
keadaan lingkungan yang ditata dengan sebaik-baiknya untuk menyangga
kehidupan saat ini dan yang akan datang dapat berubah dengan cepat. Perubahan
ini menunjukkan perkembangan yang optimis mengarah pada tuntutan zaman,
namun menjadi sebaliknya, krisis lingkungan timbul dimana-mana. Kemunduran
demikian diawali dengan gejala pencemaran dan kerusakan yang belum begitu
terlihat.
Dengan menyadari bahwa setiap kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak
terhadap lingkungan hidup, maka perlu memperkirakannya pada perencanaan
awal, sehingga dengan cara demikian dapat dipersiapkan langkah pencegahan
maupun penanggulangan dampak negatifnya dan mengupayakan dalam bentuk
pengembangan dampak positif dari kegiatan tersebut.
Dalam pembangunan perekonomian berkesinambungan dewasa ini khususnya
pariwisata seharusnya timbul kesadaran bagi pelaku masyarakat atau golongan
masyarakat yang bergerak di bidang usaha pariwisata untuk mengelola
pencemaran terhadap lingkungan bekerjasama dengan lembaga yang memantau
kegiatan agar mengurangi dan memperkecil pencemaran lingkungan. Misalnya
pencemaran lingkungan sampah yang sudah sangat lazim terjadi di dalam usaha
pariwisata, Sehingga perlunya penanggulangan oleh pengelola untuk
mewujudkan kelestarian lingkugan yang bersih. Dampak negatif yang
ditimbulkan dari pencemaran sampah tersebut, akan berdampak pada ekosistem
laut maupun lingkungan darat di sekitarnya.
Untuk mengantisipasi dan mengendalikan dampak negatif serta meningkatkan
dampak positif, maka sejak proses perencanaan pembangunan kawasan
pariwisata perlu dilengkapi dengan Studi Kelayakan Lingkungan. Sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi
dengan analisis mengenai dampak lingkungan, yang pelaksanaannya diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL). Dalam Penjelasan Peraturan pemerintah Nomor 27 Tahun
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 3
Siti Fadlina (95713006)

1999 tersebut dikemukakan bahwa untuk kegiatan yang tidak menimbulkan
dampak besar dan penting dan atau dampak yang ditimbulkan secara teknologi
dapat dikelola, maka tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL), tetapi harus dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL). Begitu
juga sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11
Tahun 2006 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi
AMDAL, maka kegiatan Pembangunan Kawasan Pariwisata ini bukan
dikategorikan jenis kegiatan yang wajib menyusun Analisis mengenai Dampak
Lingkungan. Oleh sebab itu studi kelayakan lingkungan rencana kegiatan
pembangunan kawasan pariwisata hanya dikategorikan wajib menyusun studi
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
(UKL-UPL) sebagai acuan bagi pelaksana dalam melakukan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan.
2. IZIN USAHA KAWASAN PARIWISATA
Menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Usaha
Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi
pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata. Usaha
pariwisata meliputi daya tarik wisata, kawasan pariwisata, jasa transportasi
wisata, jasa perjalanan wisata, jasa makanan dan minuman, penyediaan
akomodasi, penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi, penyelenggaraan
pertemuan, perjalanan insentif, konferensi dan pameran, jasa informasi
pariwisata, jasa konsultan pariwisata, jasa pramuwisata, wisata tirta dan spa.
Usaha pariwisata tersebut dapat dirinci lagi sesuai karakteristik dan jenisnya
serta ketersediaan di kabupaten/kota. Untuk usaha daya tarik pariwisata dapat
dibagi menjadi usaha daya tarik wisata alam, usaha daya tarik wisata budaya,
usaha daya tarik wisata buatan/binaan manusia. Usaha jasa makanan dan
minuman dirinci menjadi usaha restoran, usaha rumah makan, usaha kafe, usaha
bar/kedai minum, dan usaha jasa boga. Sedangkan usaha kawasan pariwisata
tidak dirinci kembali karena merupakan usaha yang kegiatannya membangun
dan/atau mengelola kawasan dengan luas tertentu untuk memenuhi kebutuhan
pariwisata.
Dalam penyelenggaraannya, usaha kawasan pariwisata diselenggarakan oleh
badan usaha. Pengusaha kawasan pariwisata harus memenuhi persyaratan
sekurang-kurangnya mempunyai kantor yang tetap yang dilengkapi dengan
fasilitas pendukung usaha, menguasai lahan peruntukan bagi pembangunan dan
pengelolaan kawasan pariwisata sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Pengusaha kawasan pariwisata harus dapat mengendalikan
kegiatan pembangunan dan pengelolaan sarana dan prasarana dengan
memperhatikan kepentingan kelestarian lingkungan, mengurus perizinan yang
diperlukan bagi pihak lain yang akan memanfaatkan kawasan pariwisata untuk
menyelenggarakan kegiatan usaha pariwisata, memperhatikan kebijakan
pengembangan wilayah yang berlaku dan memberikan kesempatan kepada
masyarakat di sekitarnya untuk berperan serta dalam kegiatan usaha pariwisata
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 4
Siti Fadlina (95713006)

di dalam kawasan pariwisata. Selain itu penyelenggaraan usaha kawasan
pariwisata dilakukan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Induk
Pengembangan Pariwisata Nasional serta Rencana Induk Pengembangan
Pariwisata Daerah.
Penyelenggaraan kegiatan usaha pariwisata wajib memiliki izin usaha dan nomor
induk yang diberikan oleh Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk. Izin usaha
dan/atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis untuk
melakukan usaha dan/atau kegiatan.
Beberapa persyaratan izin usaha pariwisata, antara lain Peruntukan, IMB, HO,
Sertifikat Tanah, UKL-UPL, NPWP, dan Lunas PBB (apabila sudah ada bangunan).
Sebagian besar usaha pariwisata diharuskan untuk memiliki persyaratan UKL-
UPL, namun tidak seluruhnya. Untuk usaha pariwisata yang bersifat kegiatan yang
tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan, tidak diwajibkan untuk
menyertakan dokumen UKL-UPL didalam persyaratan izin usahanya, seperti jasa
biro/agen perjalanan wisata, jasa konsultan pariwisata, jasa penyelenggaraan
pertemuan, jasa pramuwisata, dan sebagainya.
Dalam pembangunan sebuah kawasan pariwisata diperlukan persyaratan UKL-
UPL sebagai salah satu syarat perizinan usahanya yang berfungsi sebagai izin
lingkungan. Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang
melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL dalam
rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk
memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan).
Setiap Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL-UPL wajib
memiliki Izin Lingkungan. Izin Lingkungan diperoleh melalui tahapan kegiatan
yang meliputi penyusunan AMDAL dan UKL-UPL, penilaian AMDAL dan
pemeriksaan UKL-UPL, dan permohonan serta penerbitan Izin Lingkungan.
3. UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN UPAYA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN (UKL-UPL)
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
adalah dokumen pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan
yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan (Pasal 1 Permen LH No.13 Tahun 2010). UKL-UPL bersifat spesifik bagi
masing-masing jenis usaha atau kegiatan yang dikaitkan dengan dampak yang
ditimbulkan. Oleh karena itu Pedoman Teknis UKL dan UPL ditetapkan oleh
instansi yang bertanggung jawab (sektoral) untuk setiap jenis usaha atau kegiatan
yang dikaitkan langsung aktivitas teknis usaha atau kegiatan yang bersangkutan.



Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 5
Siti Fadlina (95713006)
















Gambar 1. Proses Penyusunan dan Pemeriksaan UKL-UPL serta Penerbitan
SKKL dan Izin Lingkungan
Sumber : Permen Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan
Dokumen Lingkungan
3.1. Penyusunan Dokumen UKL-UPL
Dokumen UKL-UPL dibuat pada fase perencanaan proyek sebagai kelengkapan
dalam memperoleh perizinan. Bagi usaha/kegiatan yg telah berjalan namun
belum memiliki UKL-UPL diwajibkan menyusun DPLH (dokumen pengelolaan
lingkungan hidup). Dibuat untuk proyek-proyek dengan dampak lingkungan yang
dapat diatasi, skala pengendaliannya kecil dan tidak kompleks.
Penyusunan dokumen UKL-UPL mengacu pada pedoman yang berlaku dan
menyesuaikan dengan standar teknis yang biasa berlaku pada bidang
usaha/kegiatan yang bersangkutan (Lampiran II Permen LH No.13 Tahun 2010).
Pada intinya penyusunan dokumen ini dilakukan dengan langsung
mengemukakan informasi setiap jenis usaha/kegiatan yang bersifat spesifik
untuk masing-masing proyek yang dapat menimbulkan dampak potensial
terhadap lingkungan hidup serta mengemukakan informasi tentang kondisi
lingkungan sekarang dan dampak potensial dari setiap jenis kegiatan terhadap
komponen lingkungan hidup.
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 6
Siti Fadlina (95713006)

Bentuk upaya pengelolaan dan pemantauan harus dilakukan untuk menangani
dampak potensial yang timbul sesuai dengan tahapan kegiatan seperti penentuan
batas wilayah UKL-UPL yang diperlukan untuk membatasi pelaksanaan UKL-UPL
agar sesuai dengan sasarannya dan penentuan dampak potensial yang timbul
akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Batas tersebut harus ditentukan
dengan melakukan pelingkupan terlebih dahulu, dengan mengacu pada metode
dan kaedah ilmiah yang berlaku.
3.2. Sistematika Dokumen UKL-UPL
Setidaknya dokumen UKL-UPL meliputi 5 bab yaitu: (I) pendahuluan; (II)
rencana usaha atau kegiatan; (III) komponen lingkungan; (IV) dampak potensial
kegiatan terhadap komponen lingkungan; (V) upaya pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup. Dilengkapi lampiran yang di antaranya memuat tabel ringkasan
UKL-UPL dan memuat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan upaya
pengelolaan dan pemantauan lingkungan dan ditandatangani oleh pemrakarsa di
atas meterai yang cukup serta dibubuhi cap usaha atau kegiatan yang
bersangkutan.
Format UKL-UPL sesuai Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13
tahun 2010 tentang upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan
lingkungan hidup dan surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup, minimal berisi hal-hal mengenai :
a. Identitas Pemrakarsa, berisi isian nama perusahaan, nama pemrakarsa,
alamat kantor,nomor telepon/fax).
b. Rencana Usaha dan/atau Kegiatan, berisi nama rencana usaha/kegiatan
serta lokasi rencana usaha/kegiatan. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan,
seperti antara lain : nama jalan, desa, kecamatan, kabupaten/kota dan
propinsi tempat akan dilakukannya rencana usaha dan/atau kegiatan. Untuk
kegiatan-kegiatan yang mempunyai skala usaha dan/atau kegiatan besar,
seperti kegiatan pertambangan, perlu dilengkapi dengan peta lokasi kegiatan
dengan skala yang memadai (1:50.000 bila ada) dan letak lokasi berdasarkan
Garis Lintang dan Garis Bujur.
c. Skala usaha dan/atau Kegiatan, berisi ukuran luasan dan atau panjang
dan/atau volume dan/atau kapasitas atau besaran lain yang dapat digunakan
untuk memberikan gambaran tentang skala kegiatan. Sebagai contoh antara
lain Bidang Industri (jenis dan kapasitas produksi, jumlah bahan baku dan
penolong, jumlah penggunaan energi dan jumlah penggunaan air), Bidang
Pertambangan (luas lahan, cadangan dan kualitas bahan tambang, panjang
dan luas lintasan uji seismik dan jumlah bahan peledak), Bidang Perhubungan
(luas, panjang dan volume fasilitas perhubungan yang akan dibangun,
kedalaman tambatan dan bobot kapal sandar dan ukuran-ukuran lain yang
sesuai dengan bidang perhubungan), Pertanian (luas rencana usaha dan/atau
kegiatan, kapasitas unit pengolahan, jumlah bahan baku dan penolong, jumlah
penggunaan energi dan jumlah penggunaan air), Bidang Pariwisata (luas
lahan yang digunakan, luas fasiltas pariwisata yang akan dibangun, jumlah
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 7
Siti Fadlina (95713006)

kamar, jumlah mesin laundry, jumlah hole, kapasitas tempat duduk tempat
hiburan dan jumlah kursi restoran).
d. Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan/atau Kegiatan, berisi
komponen-komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diyakini akan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Teknik penulisan dapat
menggunakan uraian kegiatan pada setiap tahap pelaksanaan proyek, yakni
tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi atau dengan
menguraikan komponen kegiatan berdasarkan proses mulai dari penanganan
bahan baku, proses produksi, sampai dengan penanganan pasca produksi.
e. Dampak Lingkungan yang Akan Terjadi, berisi uraian secara singkat dan
jelas mengenai kegiatan yang menjadi sumber dampak terhadap lingkungan
hidup, jenis dampak lingkungan hidup yang terjadi, ukuran yang menyatakan
besaran dampak; dan hal-hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan
dampak lingkungan yang akan terjadi terhadap lingkungan hidup serta
ringkasan dampak dalam bentuk tabulasi.
f. Program Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup, berisi uraian
secara singkat dan jelas mengenai: (1) Langkah-langkah yang dilakukan untuk
mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya untuk menangani dan
menanggulangi keadaan darurat; (2) Kegiatan pemantauan yang dilakukan
untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dampak dan ketaatan terhadap
peraturan di bidang lingkungan hidup; (3) Tolok ukur yang digunakan untuk
mengukur efektifitas pengelolaan lingkungan hidup dan ketaatan terhadap
peraturan di bidang lingkungan hidup.
g. Tanda Tangan dan Cap, setelah UKL-UPL disusun dengan lengkap,
pemrakarsa wajib menandatangani dan membubuhkan cap usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan.
4. STUDI KASUS : PANTAI TEUPIN LAYEU-GAPANG, KOTA SABANG
Kawasan Pariwisata Pantai Teupin Layeu-Gapang berlokasi di Kota Sabang
Provinsi Aceh. Kawasan ini merupakan kawasan pariwisata yang sudah dikenal di
mancanegara dan menjadi tujuan wisata bahari yang menyajikan pemandangan
alam bawah laut. Kawasan ini terdiri dari 2 (dua) pantai utama yaitu Pantai
Teupin Layeu dan Pantai Gapang yang terletak di KM 23 dari Kota Sabang menuju
Kilometer 0(nol) Indonesia. Sebagai kawasan pariwisata, kawasan Teupin Layeu-
Gapang merupakan kawasan yang berkembang cepat sehingga mendorong
pembangunan fasilitas khususnya untuk kegiatan wisata secara tidak terkendali
dan tertata. Berbagai fasilitas wisata seperti penginapan/bungalow dan cottage
berlokasi di lereng bukit dan hanya mementingkan view pemandangan yang
indah ke laut tanpa menyadari bahwa sebenarnya lokasi tersebut masuk ke dalam
kawasan lindung yang tidak membolehkan ada bangunan rumah
tinggal/penginapan.


Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 8
Siti Fadlina (95713006)













Gambar 2. Peta Pulau Weh - Sabang
Sumber : www.galuhwulandari.blogspot.com diakses 13 Mei 2014
Tidak terkendalinya perkembangan kawasan ini menyebabkan menurunnya
kualitas lingkungan kawasan. Disamping itu, kawasan ini merupakan kawasan
rawan bencana longsor. Dalam peta kerawanan bencana di dalam draft RTRW
Kota Sabang, kawasan ini terletak pada daerah rawan longsor dari perbukitan.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan suatu upaya penataan untuk mencapai
kualitas lingkungan yang lebih baik, sekaligus juga dapat memberikan arahan
terhadap pemanfaatan lahan sesuai tata ruang yang berlaku.






Gambar 3. Pantai Teupin Layeu dan Pantai Gapang
Sumber : Koleksi Pribadi, 2012
Potensi dan kecenderungan pertumbuhan fisik secara cepat pada Kawasan
Teupin Layeu-Gapang, menyebabkan prioritas penanganan/penataan terutama
dilakukan pada kawasan yang padat, daerah pusat perdagangan, permukiman
campuran, atau pada kawasan yang kondisi geografisnya memerlukan perhatian
khusus atas pertimbangan keamanan serta keserasiannya terhadap lokasi
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 9
Siti Fadlina (95713006)

setempat. Untuk meningkatkan pemanfaatan ruang kota yang terkendali,
Pemerintah Kota Sabang telah melengkapinya dengan Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungannya (RTBL) Kawasan Teupin Layeu-Gapang yang diperlukan
sebagai perangkat pengendali pertumbuhan serta memberi panduan terhadap
wujud bangunan dan lingkungan pada suatu kawasan. RTBL ini disusun setelah
suatu produk perencanaan tata ruang kota yang disahkan oleh Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota setempat sebagai Peraturan Bupati/Walikota
(Perbup/Perwal).
Dengan mengacu pada Rencana Tata Ruang Kota yang berlaku, selanjutnya
disusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Pariwisata
Teupin Layeu – Gapang yang memberikan arahan pengendalian pemanfaatan
ruang dan menindaklanjuti Rencana Rinci Tata Ruang, serta sebagai panduan
rancangan kawasan dalam rangka perwujudan kualitas bangunan gedung dan
lingkungannya. Salah satu rencana dan program pengembangan kawasan
pariwisata ini yaitu dengan membangun One Stop Service Area di lokasi
perencanaan baru.
4.1. Rencana Usaha Kawasan Pariwisata
Pembangunan One Stop Service Area dilaksanakan dengan tujuan penyediaan
sarana dan prasarana pariwisata yang dimasih kurang (khususnya ruang terbuka
publik dan tempat parkir) serta pengendalian terhadap pembangunan sarana
pariwisata yang tidak sesuai dengan peruntukan ruangnya. Selain itu, One Stop
Service Area ini dibangun untuk kepentingan umum baik wisatawan maupun
masyarakat yang direncanakan sesuai citra dan jati diri lokasi yang perlu
dikemukakan dan dirancang untuk dapat memberikan kontribusi positif terhadap
kawasan.
Rencana pembangunan One Stop Service Area di kawasan Teupin Layeu-Gapang
diharapkan akan mempunyai kejelasan menyangkut kebijaksanaan pembangunan
fisiknya dari Pemerintah Daerah setempat, termasuk di dalamnya mengenai izin
usaha dan/atau kegiatan pariwisata. Salah satu syarat mengenai izin usaha
dan/atau kegiatan tersebut adalah UKL-UPL. Upaya Pengelolaan Lingkungan dan
Upaya Pemantauan lingkungan (UKL-UPL) merupakan sebuah dokumen yang
disusun dengan maksud: (1) Mencegah, mengendalikan dan menanggulangi
dampak negatif serta mengembangkan dan meningkatkan dampak positif yang
diprakirakan akan timbul sesuai dengan kemampuan sumberdaya (tenaga, waktu
dan biaya) yang dimiliki dari adanya proyek pembangunan One Stop Service Area
ini; (2) Merumuskan upaya pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan
untuk mencegah/menanggulangi/ meniadakan dampak negatif yang akan timbul
serta sekaligus mengembangkan dampak positif yang akan terjadi; (3)
Menetapkan upaya-upaya pemantauan lingkungan dengan parameter indikator
berdasarkan penataan terhadap peraturan, tingkat kecenderungan dan tingkat
kritis; (4) Merinci pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan upaya pengelolaan dan
upaya pemantauan lingkungan, pola koordinasi dan pengawasan yang diperlukan.
Pembangunan One Stop Service Area direncanakan dibangun berdekatan dengan
area Pantai Teupin Layeu, Jalan Nasional Sabang - KM 23, Desa/Gampong Iboih,
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 10
Siti Fadlina (95713006)

Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang. Batas administrasi kawasan pariwisata
Teupin Layeu-Gapang yaitu sebelah utara adalah selat malaka, sebelah timur
adalah Pulau Rubiah, sebelah selatan dan barat adalah Jalan Nasional Sabang –
KM 0.
Kegiatan usaha pada kawasan pariwisata ini selain pembangunan One Stop Service
Area meliputi : (a) penyewaan lahan yang telah dilengkapi dengan prasarana
sebagai tempat untuk menyelenggarakan usaha pariwisata; (b) penyewaan
fasilitas pendukung lainnya; (c) penyediaan bangunan-bangunan untuk
menunjang kegiatan usaha pariwisata dalam kawasan pariwisata. Selain kegiatan
diatas, badan usaha kawasan pariwisata dapat juga menyelenggarakan sendiri
usaha pariwisata lain dalam kawasan yang bersangkutan.
4.2. Skala Usaha, Komponen Rencana Usaha, dan Dampak yang Akan
Terjadi.
Dalam Kawasan Pariwisata ini, One Stop Service Area direncanakan akan dibangun
pada luas lahan sebesar 2350 m
2
dengan beberapa area kegiatan yang memiliki
fungsinya masing-masing, meliputi area bisnis (kafe makan minum, tempat
souvenir, dll), historical and education area (mini museum dan information
center), area penunjang (ruang tunggu supir, ruang toilet/WC), area parkir, dan
area pintu gerbang (ruang jaga dan entry gate).
Usaha atau kegiatan yang direncanakan tersebut diyakini dapat memberikan
dampak terhadap lingkungan hidup baik pada saat prakonstruksi, konstruksi,
operasi dan pasca konstruksi (operasional). Komponen rencana usaha dan/atau
kegiatan kawasan pariwisata Teupin Layeu-Gapang yang diyakini akan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komponen Rencana Usaha Kawasan Pariwisata yang diyakini
Menimbulkan Dampak terhadap Lingkungan Hidup
No. Tahap
Usaha/Kegiatan
Komponen yang diyakini Menimbulkan dampak
terhadap Lingkungan Hidup
1. Pra Konstruksi Pembebasan lahan (luas lahan 2350 m
2
dan status
kepemilikan lahan adalah milik Pemerintah Daerah Kota
Sabang)
2. Konstruksi  Pembukaan dan Pematangan Lahan
 Pembangunan fisik (fasilitas-fasilitas publik di dalam One
Stop Service Area)
 Mobilisasi alat dan bahan Mobilisasi tenaga kerja
 Pencegahan Kebakaran (menggunakan racun api ukuran
10 liter)
 Pembangunan Tangki air bersih
 Pembangunan Jalan
3. Pasca Konstruksi
(Operasional)
 Aktivitas kawasan pariwisata
 Kegiatan operasional kawasan pariwisata
Sumber : Hasil Analisis, 2014
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 11
Siti Fadlina (95713006)

Tujuan dari penyusunan dokumen UKL-UPL Pembangunan Kawasan Pariwisata
di Pantai Teupin Layeu – Gapang, Kota Sabang adalah mengidentifikasi komponen
kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan mengidentifikasi
komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak sebagai akibat
adanya proyek peningkatan/pembangunan jalan serta memprediksi dan
mengevaluasi besarnya dampak lingkungan yang terjadi. Prediksi dan evaluasi
besarnya dampak lingkungan yang terjadi dapat dilakukan dengan membuat
tabulasi yang berisi kolom-kolom yang menerangkan sumber dampak, jenis
dampak, sifat dampak, besaran dampak dan keterangannya. Untuk besaran
dampak diperlukan kajian dan analisis lebih lanjut dengan berbagai analisis dan
pengetesan secara kimia, biologi dan fisik.
Tabel 2. Matrik Dampak terhadap Lingkungan yang Diyakini Ditimbulkan
dari Pembangunan Kawasan Pariwisata
No.
Sumber
Dampak
Jenis Dampak
Sifat
Dampak
Keterangan
A. Tahap Pra Konstruksi
1. Perencanaan Keresahan pedagang dan masyarakat
sekitar kawasan
Negatif Lokasi kegiatan
dan sekitarnya
B. Tahap Konstruksi
1. Mobilisasi alat
dan bahan
 Penurunan kualitas udara dan
peningkatan kebisingan
 Gangguan kemacetan
Negatif Lokasi kegiatan
dan jalan raya di
depan lokasi
2. Pematangan
lahan
 Penurunan kualitas udara dan
peningkatan kebisingan
 Peningkatan run off
 Penurunan kuantitas flora dan fauna
Negatif Lokasi kegiatan
dan sekitarnya
3. Pembangunan
fisik
 Penurunan kualitas udara dan
peningkatan kebisingan
 Peningkatan run off
Negatif Lokasi kegiatan
dan sekitarnya
4. Mobilisasi
tenaga kerja
 Terbukanya lapangan kerja
 Peningkatan pendapatan
masyarakat
 Kecemburuan sosial
Positif Kelurahan
Sukakarya dan
sekitarnya
C. Tahap Pasca Konstruksi
1. Aktivitas
Kawasan
Pariwisata
 Terbukanya lapangan kerja
 Peningkatan pendapatan
masyarakat
 Kecemburuan sosial
Positif
Negatif
Kota sabang dan
sekitarnya
2. Operasional
Kawasan
Pariwisata
 Peningkatan limbah cair dan padat
 Peningkatan lalu lintas
 Penurunan kualitas air permukaan
 Penurunan kualitas udara dan
peningkatan kebisingan
 kebakaran
Negatif Lokasi kegiatan
dan sekitarnya
Sumber : Hasil Analisis, 2014
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 12
Siti Fadlina (95713006)

4.3. Program Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup
Setelah diketahui jenis dampak dan besaran dampak dari pembangunan kawasan
pariwisata Pantai Teupin Layeu-Gapang, langkah selanjutnya yaitu merumuskan
saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh proyek atau instansi lain yang
terkait guna mengurangi dampak negatif, yang dijabarkan dalam rumusan umum
Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL).
Rumusan umum ini biasanya ditampilkan dalam sebuah tabel atau matrik.
Tabel upaya pengelolaan lingkungan (UKL) terdiri dari kolom-kolom yang berisi
uraian singkat dari jenis dampak, sumber dampak, komponen lingkungan yang
terkena dampak, tolok ukur dampak, tujuan pengelolaan lingkungan, pengelolaan
lingkungan (upaya, lokasi dan periodik), biaya pengelolaan lingkungan, instansi
(pelaksananya, pengawas, dan pelaporan). Sedangkan tabel upaya pemantauan
lingkungan (UPL) terdiri dari kolom-kolom yang berisi uraian singkat dari jenis
dampak, sumber dampak, komponen lingkungan yang terkena dampak, tolok
ukur dampak, parameter lingkungan yang dipantau, tujuan pemantauan, metode
pemantauan, lokasi pemantauan, waktu/frekuensi pemantauan, instansi
(pelaksananya, pengawas, dan pelaporan).
Sebagai contoh dari langkah pengelolaan lingkungan pada tahap pra konstruksi
yaitu jenis dampak keresahan pedagang dan masyarakat sekitar kawasan, maka
upaya pengelolaan lingkungan hidupnya yaitu dengan melakukan sosialisasi
terhadap pedagang dan masyarakat mengenai pembangunan kawasan pariwisata
serta menjamin pedagang dan masyarakat terhadap kepastian dapat bekerja
didalam kawasan pariwisata apabila kawasan sudah dibangun. Tolok ukur
efektivitas pengelolaannya adalah tidak terjadi gejolak dan konflik di dalam
komunitas pedagang dan masyarakat akibat adanya rencana pembangunan
kawasan pariwisata. Langkah pemantauan pada tahap pra konstruksi ini dapat
dilakukan dengan metode wawancara dan penyebaran kuesioner mengenai
tanggapan masyarakat terhadap rencana pembangunan kawasan pariwisata ini.
5. KESIMPULAN
Pada umumnya pembangunan kawasan pariwisata dilaksanakan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat dan keluarga maupun pengunjung atau
wisatawan yang semakin lama semakin meningkat terhadap kebutuhan tempat
wisata. Selain itu kawasan pariwisata juga dapat memajukan kepariwisataan,
meningkatkan persaingan usaha, meningkatkan pendapatan Daerah dan Negara,
dan membuka lapangan pekerjaan.
Dalam perencanaan pembangunan kawasan pariwisata, pencemaran lingkungan
dan dampak lainnya baik negatif dan positif dapat diperkirakan terjadi. Dengan
melakukan studi kelayakan lingkungan, diharapkan pelaksanaan pembangunan
kawasan pariwisata tersebut dapat berwawasan lingkungan hidup dan
terkelolanya sumber daya secara bijaksana serta terwujudnya pembangunan
pariwisata berkelanjutan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan dan mutu
hidup masyarakat.
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 13
Siti Fadlina (95713006)

Penyusunan dokumen UKL-UPL setidaknya memerlukan kajian secara sumir,
sedangkan dokumen Amdal dihasilkan dari proses kajian/telaah yang lebih
mendalam. UKL-UPL adalah sebuah dokumen yang berfungsi sebagai pedoman
untuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan agar kualitas lingkungan terjaga
dan tidak rusak karena adanya pendirian kawasan pariwisata. UKL-UPL juga
dapat membantu mengambil keputusan dan pemilihan alternatif yang layak dari
segi lingkungan.
Secara umum UKL-UPL disusun untuk menangulangi, meminimisasi atau
mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan
belum beroperasi (pra konstruksi), ketika beroperasi (konstruksi) maupun
hingga saat pasca konstruksi usaha atau kegiatan kawasan pariwisata berakhir.
UKL-UPL didalam proses penyusunannya juga mencoba untuk meningkatkan
dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih
besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang
turut menikmati dampak positif tersebut.
Bagi pemerintah, UKL-UPL berfungsi untuk mempermudah kontrol lingkungan,
mengendalikan pencemaran lingkungan, penataan ruang yang sesuai, dan
monitoring bagi suatu kegiatan yang berdampak pada lingkungan. Bagi
perusahaan dapat memberikan manfaat, antara lain memonitoring pencemaran
lingkungan yang dihasilkan, tersertifikasi usaha dan/atau kegiatannya, dan
memudahkan pelaporan ke Pemda setempat. Sedangkan untuk masyarakat dapat
memberi manfaat agar lingkungan tempat tinggalnya tidak rusak, air sungai tidak
terkontaminasi sehingga masih dapat digunakan, dan memudahkan kontrol
lingkungan dari masyarakat sekitar maupun LSM lingkungan.
Selain hal tersebut Pembangunan One Stop Service Area di kawasan pariwisata
Teupin Layeu-Gapang diharapkan mempunyai manfaat untuk mengarahkan
jalannya pembangunan sejak dini dengan mewujudkan program pengelolaan dan
pemantauan lingkungan secara efektif, tepat guna, serta meningkatkan kualitas
bangunan gedung dan lingkungan/kawasan. Pembangunan kawasan pariwisata
juga diharapkan mampu mengendalikan pertumbuhan fisik suatu
lingkungan/kawasan, menjamin implementasi pembangunan agar sesuai dengan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan/kawasan
yang berkelanjutan serta menjamin terpeliharanya hasil pembangunan pasca
pelaksanaan, karena adanya rasa memiliki dari masyarakat terhadap semua hasil
pembangunan.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pekerjaan Umum, 2012: Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan
Teupin Layeu-Gapang Kota Sabang, Provinsi Aceh. Jakarta: PT. Reka Spasia
Indonesia
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 14
Siti Fadlina (95713006)

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL)
Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Usaha
dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL
Permen LH No.13 Tahun 2010 tentang upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya
pemantauan lingkungan hidup dan surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup
Permen Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan
Dokumen Lingkungan
www.galuhwulandari.blogspot.com diakses 13 Mei 2014