Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

i



Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan dan karunia yang
telah diberikanNya sehingga buku Petunjuk Praktikum Analisis Bahan 2014 ini dapat
terselesaikan. Buku panduan ini dimaksudkan untuk membantu kelancaran pelaksanaan
Praktikum Analisis Bahan Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Tahun 2014. Materi yang ada didalam buku ini disusun berdasarkan urutan kode mata praktikum
yang bersangkutan secara terpisah satu dengan yang lain agar dapat lebih mudah dipahami. Pada
edisi kali ini, terdapat beberapa penyempurnaan dari edisi sebelumnya. Dengan adanya
perubahan tersebut diharapkan adanya peningkatan kualitas Praktikum Analisis Bahan secara
keseluruhan.
Penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah memberikan bantuan dalam penyusunan buku ini, diantaranya dosen pembimbing
praktikum, para asisten dan laboran. Kami juga menyampaikan terimakasih atas dukungan dan
fasilitasi yang telah diberikan oleh Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada. Kami
menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari segi materi maupun penulisan. Oleh
karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari segenap
pembaca dan pengguna demi perbaikan di masa mendatang. Semoga buku ini dapat memberikan
manfaat untuk kemajuan dan perkembangan pendidikan di Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Gadjah Mada.


Yogyakarta, Maret 2014


Penyusun
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

iii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................................ ii
Daftar Isi .................................................................................................................................. iii
Daftar Dosen Pembimbing Praktikum dan Asisten ................................................................. iv
Format Penulisan Laporan Ringkas ........................................................................................ v
Format Penulisan Laporan Resmi ........................................................................................... vii
Tata Cara Penulisan Laporan .................................................................................................. xi
Keselamatan Kerja di Laboratorium ....................................................................................... xiii
Pengukuran Suhu dan Kenaikan Titik Didih..................................................................... 1
Peneraan Alat Ukur Laju Alir Fluida ............................................................................... 14
Pengukuran Rapat Massa dan Konduktansi ..................................................................... 24
Modulus Patah dan Kuat Desak Bahan Padat ................................................................. 40
Pengukuran Tegangan Muka dan Kekentalan Zat Cair ................................................... 51
Analisis Volumetri .....................................................................................…………….. 67
Analisis Gravimetri .......................................................................................................... 80
Spektrofotometri………………………………………………………………………… 89
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

iv

DAFTAR DOSEN PEMBIMBING PRAKTIKUM
DAN ASISTEN
A. PENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH
Dosen Pembimbing : Sang Kompiang Wirawan, ST., MT., Ph.D
Asisten Praktikum : 1. Ihsan Prayogo Sutjipto (pagi)
2. Baskoro Ajie (siang)
B. PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR FLUIDA
Dosen Pembimbing : Ahmad Tawfiequrrahman Y., ST., MT., D.Eng
Asisten Praktikum : 1. Mahardita Cahyuningtyas (pagi)
2. Albertus Fuad Prajna Harto Subagyo (siang)
C. PENGUKURAN RAPAT MASSA DAN KONDUKTANSI
Dosen Pembimbing : Himawan Tri Bayu Murti Petrus, ST., ME
Asisten Praktikum : 1. Septiana Damayanti (pagi)
2. Wahyu Faizal Ardy (siang)
D. MODULUS PATAH DAN KUAT DESAK BAHAN PADAT
Dosen Pembimbing : Indra Perdana, ST., MT., Ph.D
Asisten Praktikum : 1. Ade Hidayat (pagi)
2. Indrayana Pratama (siang)
E. PENGUKURAN TEGANGAN MUKA DAN KEKENTALAN ZAT CAIR
Dosen Pembimbing : Yuni Kusumastuti, S.T., M.Eng.
Asisten Praktikum : 1. Kikis Yulianti (pagi)
2. Ardina Lukita Diyani Putri (siang)
F. ANALISIS VOLUMETRI
Dosen Pembimbing : Ir. Suprihastuti Sri Rahayu, M.Sc
Asisten Praktikum : 1. Daniswara Krisna Prabatha (pagi)
2. Rifkah Akmalina (siang)
G. ANALISIS GRAVIMETRI
Dosen Pembimbing : Ir. Harry Sulistyo, SU., Ph.D
Asisten Praktikum : 1. Dewi Kurniati (pagi)
2. Evan Caesario Tedjososrokuntjoro (siang)
H. SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Dosen Pembimbing : Chandra Wahyu Purnomo, ST., M.Sc
Asisten Praktikum : 1. Veronica Candra Gunawan (pagi)
2. Fildzah Hanifati (siang)
.

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

v

FORMAT PENULISAN LAPORAN RINGKAS

JUDUL MATA PRAKTIKUM
I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini adalah:
1. ....
2. ....

II. CARA KERJA
Cara kerja berupa uraian secara lengkap dan rinci mengenai tahap-tahap dalam percobaan.
Uraian tersebut dituliskan dalam bentuk narasi menggunakan kalimat pasif.
Setiap kalimat yang diawali dengan angka atau rumus senyawa tertentu, maka harus dituliskan
dalam kata-kata. Contoh : 5 gram ….. ditulis Lima gram…., H
2
SO
4
…. ditulis Asam sulfat…..

III. HASIL PERCOBAAN
A. Data
Semua data yang ada di laporan sementara ditulis kembali di bagian ini.
B. Analisis Data
Berisi persamaan-persamaan yang digunakan untuk perhitungan, lengkap dengan nomor
persamaan dan keterangan dari variabel-variabel yang digunakan, dilengkapi dengan
perhitungan.

IV. PEMBAHASAN
Berisi penjelasan mengenai hasil percobaan yang diperoleh serta penjelasan mengenai grafik
yang dibuat (jika ada).

V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1. ....
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

vi

2. ....

VI. SARAN
Berisi saran untuk kemajuan Praktikum Analisis Bahan (bukan saran untuk asisten secara
pribadi).
Yogyakarta, 2013
Asisten, Praktikan,
Nama Lengkap Asisten Nama Lengkap Praktikan

Catatan: Laporan sementara disertakan di akhir laporan.

KETENTUAN PENGUMPULAN LAPORAN RINGKAS
1. Laporan dikumpulkan kepada asisten jaga maksimal 1 (satu) minggu setelah praktikum
dilakukan dan juga sebagai syarat untuk mengikuti praktikum selanjutnya.
2. Laporan dikumpulkan dalam bentuk sudah dijilid rapi.
3. Laporan akan dikoreksi oleh asisten dan dikembalikan kepada praktikan maksimal 2 (dua)
minggu setelah tanggal pengumpulan laporan untuk direvisi oleh praktikan.
4. Laporan yang telah direvisi dikembalikan kepada asisten dengan waktu sesuai dengan
kebijakan asisten.
5. Keterlambatan pengumpulan laporan yang telah direvisi akan dikenai pengurangan nilai
sebanyak 2 (dua) poin per hari.
6. Kartu acara harus selalu dibawa pada saat pengambilan dan pengumpulan laporan.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

vii

FORMAT PENULISAN LAPORAN RESMI

JUDUL MATA PRAKTIKUM
I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini adalah:
1. ....
2. ....

II. DASAR TEORI
Berisi teori-teori yang berhubungan dengan praktikum terkait. Sumber dari dasar teori yang
digunakan harus dicantumkan. Contoh: …dikenal sebagai ‘pektin’(Kertesz, 1951).

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. ....
2. ….
Sumber bahan juga harus ditulis, misalnya: Aquadest yang diperoleh dari laboratorium Proses
dan Analisis Bahan.
B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar rangkaian alat berikut:

Gambar 1. Rangkaian Alat ............................................................
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

viii

Alat yang digambar hanya alat utama saja. Merk dagang dari alat yang digunakan harus di
cantumkan, misalnya : Gelas beker pyrex 250 ml.

C. Cara Percobaan
Cara kerja berupa uraian secara lengkap dan rinci mengenai tahap-tahap dalam percobaan.
Uraian tersebut dituliskan dalam bentuk narasi menggunakan kalimat pasif.

D. Analisis Data
Berisi persamaan-persamaan yang digunakan untuk perhitungan, lengkap dengan nomor
persamaan dan keterangan dari variabel-variabel yang digunakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi hasil percobaan dan penjelasan mengenai hasil percobaan yang diperoleh serta penjelasan
mengenai grafik yang dibuat (jika ada).

V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1. ....
2. ....

VI. DAFTAR PUSTAKA
Berisi daftar pustaka yang dijadikan acuan dalam penulisan laporan. Cara penulisan dijelaskan
pada bagian selanjutnya.
Yogyakarta, 2014
Praktikan, Praktikan,

Nama Lengkap Praktikan Nama Lengkap Praktikan 2
Asisten,

Nama Lengkap Asisten

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

ix

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Identifikasi hazard terdiri dari:
Identifikasi hazard proses selama praktikum, merupakan identifikasi kegiatan yang memiliki
potensi bahaya selama praktikum beserta penanganannya. Contoh: mengambil H
2
SO
4
di lemari
asam.
Identifikasi hazard dari bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan. Contoh: HCl.
B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
Berisi poin-poin alat perlindungan diri apa saja yang harus digunakan selama percobaan beserta
kegunaannya. Contoh: Jas laboratorium lengan panjang.

C. Manajemen Limbah
Berisi poin-poin limbah yang dihasilkan dalam percobaan disertai dengan penanganannya.
Contoh: Sisa larutan NaOH.

D. Data Percobaan
Semua data yang ada di laporan sementara ditulis kembali di bagian ini.

E. Perhitungan
Berisi perhitungan yang diperoleh dari hasil percobaan.
Catatan: Laporan sementara disertakan di akhir laporan.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

x

KETENTUAN PENGUMPULAN LAPORAN RESMI
1. Laporan resmi yang ditulis tangan dikumpulkan kepada asisten jaga maksimal 1 (satu) minggu
setelah praktikum dilakukan. Setiap praktikan membuat satu laporan.
2. Laporan dikumpulkan dalam bentuk sudah dijilid rapi.
3. Laporan akan dikoreksi oleh asisten dan dikembalikan kepada praktikan maksimal 1 (satu)
minggu setelah tanggal pengumpulan laporan untuk direvisi oleh praktikan.
4. Laporan yang telah direvisi dikembalikan kepada asisten dengan waktu sesuai dengan
kebijakan asisten.
5. Laporan yang telah di-acc oleh asisten dikembalikan lagi kepada praktikan untuk diketik.
Setiap kelompok membuat satu laporan.
6. Laporan yang telah diketik kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing masing-
masing mata praktikum.
7. Batas waktu pengumpulan laporan resmi yang sudah dikonsultasikan kepada dosen
pembimbing adalah 4 (empat) minggu setelah praktikum dilakukan.
8. Kartu acara harus selalu dibawa pada saat pengambilan dan pengumpulan laporan.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

xi

TATA CARA PENULISAN LAPORAN

1. Laporan yang ditulis tangan ditulis dengan tinta berwarna hitam di kertas folio bergaris.
2. Laporan yang diketik dicetak pada kertas HVS 80 gram/m
2
ukuran A4 dengan line
spacing 1,5 dan margin: Atas : 4 cm Bawah : 3 cm Kiri : 4 cm Kanan : 3 cm.
3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku.
4. Tidak diperbolehkan menyingkat kata.
5. Menggunakan tanda baca yang tepat.
6. Tidak diperbolehkan menggunakan kata penghubung untuk memulai kalimat.
7. Permulaan kalimat yang berupa bilangan, lambang, atau rumus kimia ditulis dengan kata-
kata. Contoh: NaOH dibuat.... Natrium hidroksida dibuat....
8. Menggarisbawahi setiap istilah asing (jika ditulis tangan) atau dicetak miring (jika
diketik). Contoh: aquadest atau aquadest.
9. Penulisan sumber dijadikan satu dengan kalimat.
10. Contoh: ... dikenal sebagai ‘pektin’ (Kertesz, 1951).
11. Penulisan pada cover menggunakan huruf kapital.
12. Judul mata praktikum ditulis dengan huruf kapital.
13. Contoh: PENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN
14. Judul bab ditulis dengan huruf kapital (jika diketik) dan digaris bawah (jika ditulis
tangan).
Contoh:
I. TUJUAN PERCOBAAN (jika diketik)
I. TUJUAN PERCOBAAN (jika ditulis tangan).
15. Daftar/ tabel diberi border atas dan bawah dengan garis double dan tidak boleh dipenggal
kecuali lebih dari satu halaman. Nomor dan judul daftar ditempatkan di atas daftar.
16. Yang termasuk gambar adalah gambar alat, bagan serta grafik. Gambar alat merupakan
gambar penampang depan alat utama dan rangkaian alat. Keterangan dituliskan di tempat
yang kosong pada gambar, sedangkan nomor dan judul gambar ditempatkan di bawah
gambar.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

xii

17. Penomoran daftar, gambar, persamaan:
• Daftar/ tabel diberi nomor urut dengan angka romawi besar. Jika diketik tulisan
dibuat bold, sedangkan jika ditulis tangan tulisan diberi garis bawah. Contoh:
Daftar I. .... atau Daftar I. ....
• Gambar diberi nomor urut dengan angka arab. Jika diketik tulisan dibuat bold,
sedangkan jika ditulis tangan tulisan diberi garis bawah. Contoh: Gambar 1. ....
atau Gambar 1. ....
• Persamaan diberi nomor urut dengan angka arab di dalam kurung pada tepi kanan.
Contoh:
CaSO
4
+ K
2
CO
3
↔ CaCO
3
+ K
2
SO
4
(1)
18. Ketentuan penulisan daftar pustaka:
Ke bawah menurut abjad nama akhir penulis pertama.
Ke kanan:
• Buku : Nama akhir penulis, tahun terbit, “judul buku”, jilid, edisi ke, nomor
halaman, nama penerbit, kota.
• Majalah/ jurnal : Nama akhir penulis, tahun terbit, “judul penelitian”, nama
majalah (singkatan resmi), jilid, nomor halaman.
19. Syarat tidak inhall laporan:
• Harus sesuai ketentuan (format) laporan.
• Seluruh bab dan sub bab harus ada.
• Gambar rangkaian alat utama harus ada dan lengkap.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

xiii

KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM



Di dalam laboratorium praktikan harus:

• Mencuci tangan ketika masuk dan keluar laboratorium,dan ketika kontak dengan bahan-
bahan kimia.
• Selalu memakai jas laboratorium lengan panjang yang dikancingkan.

• Memakai alat perlindungan diri seperti masker, sarung tangan, dan goggle.

• Mengikat rambut panjang ke belakang.

• Memastikan bahwa label telah sesuai dengan bahan-bahan kimia yang ada di dalamnya
dan dalam kondisi yang baik.
• Mencabut dan mematikan aliran listrik dan air di akhir percobaan.


Di dalam laboratorium praktikan dilarang:

Bekerja di luar area kerja.

Menggunakan gelang, kalung, dan lengan yang terlalu longgar.
Bekerja sendiri di laboratorium, khususnya untuk resiko tinggi.
Merokok, makan,dan minum.
Meletakkan makanan di kulkas bersama bahan-bahan kimia.

Menggunakan lensa kontak.

Menggunakan kembali suatu wadah untuk bahan kimia lain tanpa membuang label awal.
Membawa bahan kimia dalam saku baju atau saku jas laboratorium.

Menghisap menggunakan mulut.

Menyentuh bahan kimia.

Menyimpan bahan kimia dalam jumlah besar di laboratorium.

Menuangkan bahan kimia ke wastafel.











Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

xiv

Beberapa contoh simbol bahaya yang terdapat pada label bahan kimia:




Untuk informasi lebih lengkap lihat poster “Keselamatan Kerja di Laboratorium” yang ada di
Laboratorium Analisis Bahan.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

1

PENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN
(A)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui prinsip kerja termometer berisi zat alir dan thermocouple digital.
2. Mengetahui cara menera alat ukur suhu.
3. Menerapkan hasil peneraan untuk pengukuran kenaikan titik didih larutan.
4. Menentukan pengaruh konsentrasi zat terlarut elektrolit dan non elektrolit terhadap
kenaikan titik didih air.

II. DASAR TEORI
Suhu (temperatur) merupakan peubah proses yang sangat penting dalam proses-
proses baik dalam skala laboratorium maupun skala industri, karena suhu dapat
mempengaruhi kinerja unit proses yang melibatkan reaksi kimia, maupun unit operasi pada
sistem pemisahan, seperti distilasi, pengeringan, penguapan, penyerapan, kristalisasi, dan
lain-lain. Pada dasarnya suhu berkaitan dengan energi kinetik molekul suatu senyawa. Suhu
dapat didefinisikan sebagai kondisi suatu benda (potensial) yang menentukan perpindahan
kalor (heat) menuju atau dari benda lain, atau secara lebih praktis sebagai tingkat (derajat)
kepanasan (hotness) atau kedinginan (coldness).
Ada beberapa skala (satuan) suhu, seperti Kelvin, Celcius, Fahrenheit, Reamur,
Rankine, dan International Practical Temperature Scale (IPTS). Prinsip kerja alat pengukur
suhu diantaranya adalah :
1. Kenaikan volume benda oleh kenaikan suhu, seperti pada termometer berisi zat alir
(fluida: cair dan gas) dan bimetal (padat).
2. Kenaikan tegangan listrik (emf) akibat naiknya beda suhu pada pasangan logam (Seebeck
Effect), seperti thermocouple digital.
3. Perubahan tahanan suatu bahan (logam maupun semi-logam) akibat perubahan suhu
media yang terukur, seperti bimetal.
4. Kenaikan intensitas radiasi kalor dengan naiknya suhu bahan, seperti pada pyrometer.
Secara umum, hubungan antara perubahan suhu dengan perubahan sifat fisis dapat
digambarkan sebagai berikut:
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

2


Gambar 1. Profil Perubahan Suhu dan Sifat Fisis Bahan
Hubungan tersebut dapat digunakan sebagai kurva baku, sehingga perubahan suhu
media dapat diketahui melalui perubahan sifat fisisnya. Alat ukur suhu yang merupakan salah
satu sistem pengukuran mungkin tersusun atas beberapa elemen, seperti ditunjukkan pada
bagan berikut:


Gambar 2. Elemen Sistem Pengukuran Suhu
Termometer dengan prinsip kerja perubahan volume merupakan termometer yang
elemen penyusunnya paling sedikit, yaitu elemen perasa dan elemen penampil. Termometer
berisi cairan mempunyai elemen perasa berupa cairan pengisi, dan elemen penampil yang
berupa gelas kapiler berskala. Demikian juga termometer berisi gas, elemen perasanya berupa
uap/ gas, dan elemen penampilnya berupa simpangan. Elemen perasa termometer bimetal
berupa dua lapis logam yang mempunyai muai volum yang berbeda, dan perubahan elemen
perasanya ditunjukkan dengan simpangan.
Thermocouple merupakan elemen perasa sekaligus tranduser, karena hasil
pengukurannya berupa tegangan listrik. Pada umumnya, tegangan yang dihasilkan sangat
kecil, sehingga isyarat ini biasanya diolah lebih lanjut dengan penguat dan pengubah isyarat
dari tegangan menjadi suhu, untuk kemudian ditampilkan atau dicetak. Prinsip kerja bimetal
berdasarkan pemuaian dua buah logam yang disusun sedemikian rupa, sehingga pada saat
Media
terukur
Elemen
perasa
Primer
Tran-
duser
Pengkondisi
isyarat/
pengubah
Transmisi data/
telemetri
Pemroses
data
Tampilan data
Pencetak data
Perekam data
Suhu,
0
C
Sifat
fisis
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

3

memuai, panjang kedua logam tidak sama yang diakibatkan oleh koefisien muai logam yang
berbeda.
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung padajenis zat
terlarut tetapi tergantung pada banyaknya partikel zat terlarut dalam larutan. Titik didih
adalah suhu di mana terjadi perubahan wujud zat dari cair ke gas pada tekanan tertentu. Pada
tekanan 1 atm, air mendidih pada suhu 100 °C karena pada suhu itu tekanan uap air sama
dengan tekanan udara di sekitarnya. Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarut
disebut kenaikan titik didih (Δ T
b
). Kenaikan titik didih tidak bergantung pada jenis zat
terlarut, tetapi hanya tergantung pada konsentrasi partikel (molalitas) dalam larutan. Oleh
karena itu, kenaikan titik didih tergolong sifat koligatif. Molalitas adalah konsentrasi larutan
yang dinyatakan dengan jumLah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut.
Mendidihnya suatu zat cair diamati dari timbulnya gelembung-gelembung udara
yang terbentuk secara terus-menerus pada berbagai bagian zat cair. Dengan adanya zat
terlarut dalam suatu zat cair (pelarut) menimbulkan interaksi antara partikel terlarut dengan
partikel pelarut sehingga tekanan uap larutan akan turun dan menyebabkan titik didih larutan
tersebut akan naik karena energi yang diperlukan oleh pelarut untuk membentuk uap agar
tekanan uap sama dengan tekanan udara di sekitarnya meningkat. Kenaikan titik didih terjadi
pada larutan di mana zat terlarut termasuk zat non-volatil.
Menurut Raoult hubungan antara kenaikan titik didih larutan dengan konsentrasi zat
terlarut adalah sebagai berikut :
b
b
mxK T = ∆
(1)

dengan,
b
T ∆ = kenaikan titik didih (
o
C)

b
K = tetapan kenaikan titik didih (
o
C/molal)
m = molalitas larutan (molal)
Zat terlarut dalam larutan elektrolit bertambah jumLahnya karena terurai menjadi
ion-ion, sedangkan zat terlarut pada larutan nonelektrolit jumLahnya tetap karena tidak
terurai menjadi ion-ion, sesuai dengan hal-hal tersebut maka sifat koligatif larutan
nonelektrolit lebih rendah daripada sifat koligatif larutan elektrolit. Oleh karena itu untuk
larutan elektrolit berlaku persamaan
{ } α ) 1 ( 1 − + = ∆ n mxK T
b
b
(2)

dengan, n= jumLah ion yang dihasilkan
misal untuk NaClNa
+
+ Cl
-
maka n=2
α = derajat ionisasi zat elektrolit
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

4

untuk elektrolit kuat dapat dianggap terionisasi sempurna, α ≈1

Diagram di bawah ini menunjukkan perubahan kenaikan titik didih dan hubungannya
dengan tekanan uap larutan. Semakin rendah tekanan uap larutan, semakin tinggi juga titik
didihnya. Dapat dilihat bahwa penambahan zat terlarut ke dalam solven dapat menurunkan
tekanan uap dan menaikkan titik didih.


Gambar 3. Phase Diagram for a Solvent and its Solution with a Nonvolatile Solute

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Garam dapur (NaCl) yang diperoleh dari Laboratorium Analisis Bahan Jurusan
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada.
2. Glukosa monohidrat (C
6
H
12
O
6
.H
2
O) yang diperoleh dari Laboratorium Analisis
Bahan Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada..
3. Aquadest yang diperoleh dari Laboratorium Analisis Bahan Jurusan Teknik
Kimia Universitas Gadjah Mada.



Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

5

B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

















Gambar 4. Rangkaian Alat Utama Percobaan Peneraan Alat Ukur Suhu










Gambar 5. Rangkaian Alat Pengukuran Kenaikan Titik Didih Larutan
C. Cara Kerja
Percobaan yang dilakukan meliputi peneraan alat ukur suhu dan pengukuran kenaikan
titik didih larutan.
1. Peneraan Alat Ukur Suhu (Menggunakan Termomemeter Raksa)
Keterangan:
1. Panel instrument
2. Blower
3. Water heater
4. Vacuum flask
5. Bimetal udara
6. Termometer alkohol 110
0
C
7. Termometer raksa 110
0
C
8. Tombol on/off temperature
measurement bench
9. Tombol on/off blower
10. Tombol on/off water heater
11. Steker temperature measurement
bench
12. Sensor thermistor
13. Sensor platinum resistance
14. Sensor thermocouple
15. Display platinum resistance
16. Display thermistor
17. Display thermocouple
18. Display tegangan listrik
Keterangan:
1. Labu Leher tiga
2. Pendingin bola
3. Thermocouple
4. Pemanas mantel
5. Layar Penunjuk Suhu
6. Statif dan klem
7. Steker
8. Pengatur skala
pemanas
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

6

a. Pengukuran Suhu Udara
Catat suhu udara yang ditunjukkan termometer raksa, termometer alkohol dan
thermocouple pada udara terbuka setelah suhu yang ditunjukkan alat ukur
konstan.
b. Pengukuran Suhu Air Ledeng
1. Masukkan air ledeng secukupnya kedalam gelas beker 250 mL.
2. Celupkan termometer raksa dalam air ledeng tersebut.
3. Catat suhu termometer raksa setelah nilainya konstan.
4. Ulangi percobaan dengan memakai termometer alkohol dan thermocouple.
c. Pengukuran Suhu Air Mendidih
1. Didihkan air ledeng secukupnya dalam water heater (skala water heater =
4).
2. Celupkan termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocouple
dalam air pada water heater yang sedang mendidih.
3. Catat suhu tiap alat ukur setelah suhunya konstan.
d. Pengukuran Suhu Es Melebur
1. Masukkan es batu ke dalam vacuum flask sampai mencair.
2. Celupkan termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocouple
dalam leburan es melalui lubang pada tutup vacuum flask.
3. Catat suhu yang di tunjukkan tiap alat ukur setelah nilainya konstan.
e. Pengukuran Suhu Udara Panas
1. Pasang termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocouple
pada lubang yang tersedia pada pipa blower.
2. Hidupkan blower dengan menekan tombol on.
3. Catat suhu tiap alat ukur setelah nilainya konstan.
f. Pengukuran Suhu Es+Garam
1. Masukkan es batu ke vacuum flask dan menambah garam dapur
secukupnya, lalu membiarkan es batu mencair.
2. Celupkan termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocouple
ke dalam campuran garam dan leburan es melalui lubang pada vacuum
flask.
3. Catat suhu tiap alat ukur setelah nilainya konstan.
2. Pengukuran Kenaikan Titik Didih
a. Pengukuran titik didih aquadest.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

7

1. Ambil 250 mL aquadest dengan gelas beker PYREX 250 mL.
2. Panaskan gelas beker PYREX 250 mL berisi aquadest tersebut di atas
kompor sampai mendidih.
3. Catat suhu didih aquadest yang ditunjukkan termometer alkohol dan
thermocouple.
b. Pengukuran titik didih larutan gula
1. Timbang gula pasir sebanyak 85,5 gram pada gelas beker 250 mL
menggunakan neraca analitis digital.
2. Masukkan aquadest ke dalam labu ukur 250 mL sampai tanda batas.
3. Larutkan 85,5 gram gula pasir dengan aquadest dari labu ukur 250 mL
tersebut dalam gelas beker 600 mL. Akan diperoleh larutan gula 1 molal.
4. Tuang sebagian larutan gula tersebut (sekitar 100 mL) ke dalam labu leher
tiga 500 mL dengan bantuan corong gelas.
5. Panaskan larutan gula dalam labu leher tiga yang dilengkapi pendingin bola
di atas pemanas mantel pada skala 8.
6. Sisa larutan gula yang di belum dimasukkan ke labu leher tiga, dipanaskan
di atas kompor listrik dengan wadah gelas beker PYREX 600 mL sampai
suhunya sekitar 80
o
C (suhu dicek secara berkala menggunakan
thermocouple).
7. Masukkan larutan gula dari langkah 6 ke dalam labu leher tiga.
8. Panaskan larutan gula di dalam labu leher tiga sampai mendidih ditandai
dengan suhu yang konstan.
9. Catat suhu didih larutan gula yang ditunjukkan termometer alkohol dan
thermocouple.
10. Tuang larutan gula ke dalam gelas beker 600 mL lalu tambahkan 171 gram
gula pasir dan aduk dengan gelas pengaduk hingga homogen.
11. Ulangi langkah 4 sampai 10 dua kali lagi hingga diperoleh 3 data
percobaan.
c. Pengukuran titik didih larutan garam
1. Timbang garam dapur (NaCl) sebanyak 14,625 gram pada gelas beker 250
mL menggunakan neraca analitis digital.
2. Masukkan aquadest ke dalam labu ukur 250 mL sampai tanda batas.
3. Larutkan 14,625 gram NaCl dengan dari labu ukur 250 mL tersebut dalam
gelas beker 600 mL. Akan diperoleh larutan garam 1 molal.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

8

4. Tuang sebagian larutan garam tersebut (sekitar 100 mL) ke dalam labu
leher tiga 500 mL dengan bantuan corong gelas.
5. Panaskan larutan garam dalam labu leher tiga yang dilengkapi pendingin
bola di atas pemanas mantel pada skala 8.
6. Sisa larutan garam yang di belum dimasukkan ke pemanas mantel
dipanaskan di atas kompor listrik dengan wadah gelas beker PYREX 600
mL sampai suhunya sekitar 80
o
C (suhu dicek secara berkala menggunakan
thermocouple).
7. Masukkan larutan garam dari langkah 6 ke dalam labu leher tiga.
8. Panaskan larutan garam di dalam labu leher tiga sampai mendidih ditandai
dengan suhu yang konstan.
9. Catat suhu didih larutan garam yang ditunjukkan termometer alkohol dan
thermocouple.
10. Tuang larutan garam ke dalam gelas beker 600 mL lalu tambahkan 29,25
gram garam dan aduk dengan gelas pengaduk hingga homogen.
11. Ulangi langkah 4 sampai 10 dua kali lagi hingga diperoleh 3 data
percobaan.

4. Analisis Data
1. Peneraan Alat Ukur Suhu
Hubungan antara suhu yang ditunjukkan termometer raksa (T
1
, K) dengan suhu yang
ditunjukkan alat ukur yang ditera (T
2
, K) dinyatakan dengan persamaan berikut:
T
2
= A T
1
+ B (1)
Dengan regresi linier (least-square method) diperoleh:
A =
n∑1
1
1
2
-∑1
1
∑1
2
n∑1
1
2
-(∑1
1
)
2
(2)
B =
∑1
2
-A∑1
1
n

(3)
Data untuk perhitungan regresi linier disajikan dalam tabel :
No T
1
T
2
T
1
2
T
1
x T
2


Σ
Dari nilai A dan B, diperoleh persamaan linier hubungan suhu termometer raksa
dengan suhu termometer yang ditera.
Kesalahan relatif persamaan terhadap data percobaan dihitung sebagai berikut:
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

9

Kcsoloℎonrcloti¡ = _
1
2 pcrscmccn
-1
2 pcrccbccn
1
2 pcrscmccn
_ x 1uu % (4)
Data disajikan dalam bentuk tabel:
No T
1
T
2
percobaan T
2
persamaan Kesalahan
relatif

Σ
Kcsoloℎonrcloti¡roto -roto =
∑KcsuIuhun¡cIutì]
n
(5)
dengan, n = jumLah data
Grafik hubungan suhu termometer raksa dengan suhu termometer yang ditera dapat
dibuat dengan mengeplot nilai T
2
hasil persamaan dan nilai T
2
hasil percobaan
terhadap nilai T
1
.
Peneraan dilakukan terhadap termometer alkohol dan thermocouple digital. Grafik
masing-masing dibuat terpisah dan dilampirkan di pembahasan.

2. Pengukuran Kenaikan Titik Didih Larutan
Suhu yang didapat dari percobaan kenaikan titik larutan, dimasukkan ke persamaan
yang Anda dapatkan dari perhitungan peneraan alat ukur suhu. Persamaan yang
digunakan untuk menera hasil suhu terukur ditulis kembali dan disajikan dalam
bentuk T
1
=f(T
2
):
I
1
=
I
2
-B
A
(6) uan (7)
Persamaan (6) untuk termometer alkohol dan (7) untuk thermocouple.
Hasil perhitungan peneraan alat ukur suhu disajikan dalam tabel berikut:
No. Bahan
Suhu terukur dari percobaan (T
2
) Suhu hasil peneraan terhadap termometer raksa (T
1
)
Termometer
alkohol, K
Thermocouple,
K
Termometer
alkohol, K
Thermocouple, K
1. Aquadest
2.
Garam

3.
4.
5.
Gula

6.
7.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

10

Suhu yang telah ditera inilah yang kemudian digunakan untuk menghitung kenaikan
titik didih atau ΔTb pada bagian kenaikan titik didih larutan.





















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil percobaan harus diawali dengan deskripsi singkat mengenai tujuan dan manfaat
percobaan. Pembahasan dibahas per tahap prosedur kerja. Uraikan sedikit saja
prosedur kerja Anda, diikuti dengan pembahasan terkait tahap tersebut, diikuti dengan
asumsi yang Anda ambil dalam melakukan percobaan dan perhitungan pada tahap
tersebut dan mengapa asumsi tersebut Anda ambil, ditutup dengan kesulitan-kesulitan
yang Anda alami pada tahap tersebut.
Untuk pengukuran suhu, dibuat grafik hasil peneraan termometer alkohol dan
thermocouple terhadap termometer raksa. Dilihat juga kesalahan relatif persamaan yang
Anda hasilkan dari regresi linier terhadap hasil percobaan, persamaan yang manakah
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

11

yang lebih akurat dalam mewakili data yang Anda dapat dari percobaan. Jika ada hasil
percobaan/perhitungan yang menyimpang dari dasar teori, dibahas.
Untuk kenaikan titik didih larutan, dibuat grafik molalitas terhadap ΔTb untuk larutan
gula dan larutan garam dengan thermocouple dan termometer raksa, akan dihasilkan
empat grafik. Data percobaan ditampilkan dalam bentuk titik-titik, dan antar titik
jangan disambung dengan garis. Hasil perhitungan ΔTb menggunakan persamaan
ditampilkan dalam garis lurus, jangan ada titik-titiknya. Bahas grafiknya satu per
satu, jika terjadi penyimpangan antara data percobaan dengan garis persamaan, berikan
alasan mengapa. Jangan lupa membahas perbedaan kenaikan titik didih antara larutan
garam dan gula, mana yang lebih besar, dan sesuaikan dengan dasar teori. Jika ada data
dan/atau perhitungan yang tidak sesuai dengan dasar teori, dibahas mengapa. Tidak
perlu menuliskan penyebab kesalahan relatif.

V. KESIMPULAN
Buatlah kesimpulan yang sesuai dengan tujuan percobaan dan hal-hal yang anda
temukan dalam pelaksanaan praktikum. Jangan menulis ulang tujuan, cara kerja,
dan dasar teori di bagian kesimpulan.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Brown, G.G., Fourst, A.S., and Scherdewind, R., 1950, “Unit Operation,” pp. 541-
547,John Wiley and Sons, Inc., New York.
Considine, D.M., 1957, “Process Instruments and Controls Handbook”, McGraw-Hill
Book Company, Inc., New York.
Eckman, D.P., 1966, “ Industrial Instrumentation”, Wiley Eastern Ltd., John Wiley and
Sons, Inc., New York.
Jones, B.E., 1980, “Instrumentation, Measurements, and Feedback”, Tata McGraw-Hill
Publishing Company, Ltd., New Delhi.
Perry, R.H., and Green, D.W., 1984, “Perry’s Chemical Engineers Handbook,” 6
th
ed.,
pp. 3-45, 3-127, 3-248, 12-3, 12-8, McGraw-Hill Company, Inc., New York.
Smith, J.M. and Van Ness, 1975, “Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics,” 3
rd
ed., pp. 573, McGraw-Hill Kogakusha, LTD., Tokyo.
Treybal, R.E., 1981, “Mass Transfer Operation,” 3
rd
ed., pp. 227-231, 237, McGraw-
Hill Kogakusha, LTD., Japan.

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

12

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
a. Proses
b. Alat
c. Bahan

Penanganan Hazard

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
a. Jas laboratorium lengan panjang
b. Masker
c. Sarung tangan
d. Sepatu tertutup

C. Manajemen Limbah
D. Data Percobaan
E. Perhitungan




















Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

13

LAPORAN SEMENTARAPENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH
LARUTAN
(A)

Nama : 1. NIM :
: 2. NIM :
3. NIM :

Asisten :Ihsan P. Sutjipto/Baskoro Ajie

A. Data Percobaan
1. Peneraan Alat Ukur Suhu

Media Terukur Termometer Raksa (°C) Termometer Alkohol (°C) Thermocouple(°C)
Air mendidih
Udara blower
Udara
Air
Es Melebur
Air es + garam

2. Pengukuran Kenaikan Titik Didih Larutan
Tekanan : 1 atm
Titik didih aquadest (pelarut) : Thermocouple :
: Termometer alkohol :
Massa pelarut : 250 gram

No. Larutan Massa (gram)
Titik didih (
o
C)
Termometer alkohol Thermocouple
1.

Garam

+
+ +
2.

Gula

+
+ +

Asisten jaga, Praktikan,
1.
2.
3.

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

14

PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR FLUIDA
(B)

I . TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah membuat kurva baku hubungan antara tinggi
pelampung dalam rotameter cairan dengan laju alir air dan kurva baku hubungan antara tinggi
pelampung dalam rotameter gas dengan laju alir udara.

II. DASAR TEORI
Dalam perancangan alat dan pemipaan dalam industri terdapat beberapa besaran
yang perlu diperhatikan. Selain sifat fluida itu sendiri seperti densitas dan viskositas fluida,
debit fluida dan laju alir fluida juga memegang peranan penting. Terdapat beberapa pilihan
alat yang dapat digunakan untuk mengukur laju alir fluida, salah satunya adalah rotameter.
Rotameter berbentuk tabung yang terbuat dari gelas, kaca atau plastik yang
transparan. Tabung ini memiliki diameter atas yang sedikit lebih besar dibandingkan diameter
bawahnya. Pada dinding rotameter terdapat garis-garis skala ukuran panjang untuk mengukur
ketinggian float atau pelampung yang terdapat di dalam tabung.
Bahan pelampung dapat diganti-ganti sesuai dengan rapat massa dan laju maksimum
zat cair yang diukur. Pelampung dapat bergerak naik dan turun secara bebas karena didorong
oleh zat alir yang mengalir dari bagian bawah rotameter ke atas. Pada keadaan stabil yaitu
ketika tinggi pelampung tidak lagi berubah-ubah, terbentuk keseimbangan gaya dimana gaya
ke atas (gaya Archimedes) dan gaya gesek pelampung sama dengan gaya berat pelampung.
Rotameter bekerja dengan prinsip beda tekanan tetap. Semakin besar perbedaan
tekanan, laju alir fluida menjadi semakin besar yang menyebabkan ketinggian pelampung
juga semakin besar karena gaya dorong dari fluida yang bertambah kuat.
Pada pengukuran laju alir cairan pengukuran dapat dilakukan langsung dengan
mengukur debit cairan yang tertampung selama jangka waktu tertentu, berbeda dengan
pengukuran laju alir gas. Pengukuran laju alir gas dilakukan secara tidak langsung, dengan
mengukur debit air yang terdesak oleh aliran gas. Dalam hal ini diasumsikan volume air yang
terdesak sama dengan volume gas yang mengalir.
Kalibrasi dapat didefinisikan sebagai suatu operasi untuk mencari hubungan antara
suatu kuantitas dari suatu alat ukur dan kuantitas terkait berdasarkan suatu standar pada
kondisi tertentu. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah hasil kalibrasi tersebut hanya
berlaku pada kondisi saat kalibrasi dilakukan.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

15

Kalibrasi suatu alat ukur laju alir fluida menghasilkan hubungan antara suatu
variabel bebas dengan laju alir fluida. Misalnya pada rotameter, dihasilkan hubungan antara
variabel bebas tinggi pelampung dalam rotameter dengan variabel terikat laju alir fluida. Laju
alir fluida dapat dinyatakan dalam massa per satuan waktu, volume per satuan waktu, dan
besaran lain yang berhubungan dengan laju alir fluida.
Alat ukur laju alir dapat dikalibrasi secara gravimetrik dengan menimbang berat
fluida yang tertampung di dalam suatu bejana. Selain itu, alat ukur laju alir juga dapat
dikalibrasi secara volumetrik dengan mengukur volume fluida yang tertampung dalam
bejana.
Idealnya, semua alat ukur laju alir dikalibrasi secara in situ, untuk menghindari
perbedaan fluida dan pengaruh instalasi terhadap kalibrasi alat ukur laju alir.

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Air Ledeng
2. Udara

B. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar rangkaian alat
berikut:

Gambar 1. Rangkaian Alat Percobaan Pengukuran Laju Alir Zat Alir Cairan

Keterangan:
1. Pipa pengeluaran air
2. Statif
3. Rotameter
4. Float (Pelampung)
5. Bak penampung air
6. Pipa pengatur aliran ke bak
7. Pipa overflow
8. Pipa pengatur aliran ke rotameter

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

16






Gambar 2. Rangkaian Alat Percobaan Pengukuran Laju Alir Zat Alir Gas

C. Cara Kerja
Peneraan Laju Alir Zat Cair
1. Suhu air ledeng diukur di gelas ukur dengan termometer alkohol 110
o
C.
2. Kran Pemasukan dibuka untuk mengisi bak penampungan air hingga penuh dan
terjadi aliran overflow.
3. Ketinggian float diatur pada ketinggian 6 cm.
4. Debit cairan yang mengalir dalam rotameter diukur pada selang waktu 5 ± 0,20
detik dengan menggunakan stopwatch dan gelas ukur 50 mL atau 100 mL.
5. Volume air tertampung dan waktu stopwatch dicatat.
6. Pengambilan data dilakukan sebanyak 5 kali berurutan untuk ketinggalan float
yang sama.
7. Debit untuk ketinggian float yang lain 5,50 : 5,00 ; 4,50 ; 4,00 ; 3,50 ; 3,00 ; 2,50 ;
2,00 ; 1,50.

Peneraan Laju Alir Zat Gas
1. Suhu udara diukur dengan termometer ruangan.
2. Rangkaian alat disiapkan dan semua kran pada rangkaian alat ditutup.
3. Botol penampung diisi air hingga tanda batas.
4. Ketinggian cairan pada selang pengeluaran akhir dengan tinggi cairan pada botol
penampung diatur agar sejajar.
Keterangan:
1. Meteran tekanan
2. Kran overflow
3. Kompresor
4. Kran pengatur aliran
5. Rotameter
6. Float (Pelampung)
7. Pipa pengeluaran
8. Botol penampung air
9. Statif
10. Kran overflow
11. Kran pengatur aliran gas
12. Tabung pengaman
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

17

5. Kompresor dinyalakan dan diisi udara hingga tekanan 5 kg/cm².
6. Kran penghubung tabung pengaman dan kompresor dibuka, tabung gas pengaman
diisi.
7. Tekanan udara di kompresor dicatat, kran penghubung tabung gas dan rotameter
dibuka.
8. Ketinggian float rotameter diatur 15 cm dengan menggunakan penjepit klem,
dijaga konstan.
9. Debit aliran yang keluar diukur pada selang waktu 3 ± 0,20 detik dengan bantuan
stopwatch dan gelas ukur 100 mL atau 50 mL.
10. Volumer air tertampung dan waktu di stopwatch dicatat. Pengambilan data
dilakukan sebanyak 5 kali untuk ketinggian float yang sama.
11. Debit untuk ketinggian float yang lain 13,00 ; 11,00 ; 9,00 ; 7,00 ; 5,00
12. Tekanan akhir udara yang tersisa di kompresor dicatat.
13. Udara yang tersisa didalam kompresor dan tabung pengaman dikeluarkan secara
perlahan.

D. Analisis Data
Pengukuran laju alir zat cair dan gas
1. Menghitung debit rata-rata untuk tiap ketinggian float h dengan rumus:

Q
i
V
i
t
i
(1)

5
5 4 3 2 1
Q Q Q Q Q
Q
avg
+ + + +
= (2)
2. Menentukan Hubungan Debit Fluida Cair dan Gas Q dengan Ketinggian Float (h)
a. Dengan Pendekatan Linear
Q = ah + b

(3)
Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear hingga didapatkan nilai konstanta
a dan b untuk persamaan (3)
b. Pendekatan Eksponensial
Q = a e
bh
(4)
Melakukan linearisasi hingga diperoleh persamaan :
ln Q = ln a + bh (5)
Dengan pemisalan dituliskan kembali menjadi:
y = A + Bx (6)
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

18

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear hingga didapatkan nilai konstanta
a dan b untuk persamaan (4).
3. Menghitung Kesalahan Relatif dengan persamaan :

o
o
Qpersamaan
Qpercobaan Qpersamaan
Er 100 ×

= (7)
Kesalahan Relatif Rata-Rata :
Er
avl
= (∑ Er linear)/n (8)
Er
ave
= (∑ Er eksponensial)/n (9)

IV. PEMBAHASAN
Bahas data percobaan Anda, hasil perhitungan, dan grafik Anda, hubungkan dengan teori
yang ada.

V. KESIMPULAN
Tuliskan kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang telah dilaksanakan.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Perry, R.H. and Green, D.W.,1997, ”Perry’s Chemical Engineers’ Hand Book”, 7 ed.,
McGraw-Hill Book Co., Singapore.
Brown, G.G., 1950, ”Unit Operations”, John Wiley and Sons, Inc., New York.
Nevers, N.D., 1970, ”Fluid Mechanics”, 2 ed., Addison Wesley Publishing Company,
New York.
Halliday, D. and Resnick, R., alih bahasa Silaban, P. dan Sucipto, E., 1994, ”Fisika I”,
edisi ke-3, Penerbit Erlangga, Jakarta.
McCabe, W.L., Smith , C.J., and Harriot, P., alih bahasa Jisyi, E.,“Operasi Teknik Kimia
Jilid I”, edisi ke-4, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Paton, R., 2005, ”Calibration and Standards in Flow Measurement”, pp. 1-3, 5, National
Engineering Laboratory, Scotland.






Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

19

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Semua bahan yang digunakan untuk praktikum ini diidentifikasi tingkat ke-hazard-
annya sesuai dengan MSDS dan proses praktikum yang berbahaya diidentifikasi dan
disertakan cara penanganannya.
B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
1. Jas Laboratorium lengan panjang
2. Masker
3. Sarung Tangan
4. Sepatu tertutup
C. Manajemen Limbah
Setiap limbah yang dihasilkan dalam praktikum dijelaskan dibuang kemana dan
disertai alasan. Limbah praktikum ini berupa air ledeng dan udara bertekanan.
D. Data Percobaan
Lampirkan data percobaan yang telah diperoleh pada praktikum.
E. Perhitungan
Pengukuran Laju Alir Zat Cair dan Zat Gas
Menghitung debit rata-rata untuk tiap ketinggian float (h) dan tabelkan data yang
diperoleh.
Q
i
V
i
t
i
(10)
Qavg =
Q
1
+ Q
2
+ Q
3
+Q
4
+Q
S
5
(11)
No. V t Q,cm
3
/s Qavg , cm
3
/s H,cm
1. V
1

V
2

V
3

V
4

V
5

t
1

t
2

t
3

t
4

t
5

Q
1
Q
2
Q
3

Q
4

Q
5

Q
avg 1
H
1



Menentukan Hubungan Debit Fluida Cair dan gas (Q) dengan Ketinggian Float h
1. Pendekatan Linear
Rumus Umum : Q = ah + b

(12)
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

20

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear dengan terlebih dahulu membuat
tabel seperti berikut :
No. Q, cm
3
/s h,cm (h)
2
Q×h
1.


n.
Σ
….. ………

Kemudian evaluasi tetapan a dan b dengan formulasi :
∑ ∑
∑ ∑ ∑


=
2
) (
2
h h n
h Q hQ n
a
(13)

n
h a Q
b
∑ ∑

=
(14)

2. Pendekatan Eksponensial
Rumus Umum : Q = a e
bh
(15)
Dengan linearisasi diperoleh:
ln Q = ln a + bh (16)
Dengan pemisalan maka kita dapat menuliskan kembali rumus di atas :
y = A + Bx (17)
Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear dengan terlebih dahulu membuat tabel
seperti berikut:
No. Q,cm
3
/s ln Q (y) h,cm (x) x
2
x * y
1.

n
Σ



Kemudian evaluasi tetapan A dan B dengan formulasi :
∑ ∑
∑ ∑ ∑


=
2
) (
2
x x n
y x xy n
B

(18)
n
x B y
A
∑ ∑

=

(19)

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

21

Setelah nilai A dan B diketahui, cari nilai a dan b dengan menyubsitusi ke rumus
pemisalan lalu tuliskan kembali persamaan lengkapnya :
Q = a e
bh
(20)
3. Menghitung Kesalahan Relatif
Ambil contoh data dan hasil perhitungan baik dengan pendekatan linear maupun
eksponensial:
Q
percobaan
= ……. cm
3
/s
Q
persamaan linear
= ……..cm
3
/s
Q
persamaan eksponensial
= ……..cm
3
/s
Hitung kesalahan relatif tiap pendekatan kemudian tabelkan dan hitung kesalahan
relatif rata-ratanya :

o
o
Qpersamaan
Qpercobaan Qpersamaan
Er 100 ×

=

(21)
No. Q percobaan,cm
3
/s Q persamaan,cm
3
/s Er Linear,% Er eksponensial,%
1.
...
...
n.

……. …….

Kesalahan Relatif Rata-Rata :
Er
avl
= (∑ Er linear)/n (22)
Er
ave
= (∑ Er eksponensial)/n (23)
Buat grafik yang menggambarkan hubungan antara debit aliran zat cair dan zat gas
dengan ketinggian float dengan menggunakan persamaan pendekatan linear dan
eksponensial.
Bandingkan hasilnya pada masing-masing grafik persamaan pendekatan dengan grafik
yang diperoleh dari hasil percobaan.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

22

LAPORAN SEMENTARA
PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR FLUIDA
(B)

Nama : 1. NIM :
2. NIM :
3. NIM :
Hari/tanggal :
Asisten : Mahardita Cahyuningtyas / Albertus Fuad P. H. S.

DATA PERCOBAAN
1. Peneraan Laju Alir Zat Cair

h(cm) 6 5,5 5
T (°C) °C °C °C
Q=V/t
(cm
3
/s)


4,5 4 3,5
°C °C °C


3 2,5 2
°C °C °C


1,5
°C











Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

23

2. Peneraan Laju Alir Gas
P awal : kg/cm²
P akhir : kg/cm²
T udara : °C

h(cm) 15 13
Q =V/t
(cm3/s)


11 9


7 5




Yogyakarta,
Asisten jaga, Praktikan,
1.

2.

3.























Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

24

PENGUKURAN RAPAT MASSA DAN KONDUKTANSI
(C)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Memahami, dan mempraktikkan cara pengukuran rapat massa dan konduktansi dengan
alat ukur.
2. Menentukan konsentrasi larutan sampel dengan mengukur rapat massa dan
konduktansinya dengan bantuan kurva standar.

II. DASAR TEORI
A. RAPAT MASSA
Rapat massa atau densitas, didefinisikan sebagai massa persatuan volume yang
biasa dilambangkan dengan ρ dan dapat dirumuskan dengan persamaan :
p =
m
v
(1)

Rapat massa umumnya mempunyai satuan kg/m
3
atau gram/mL. Massa (m) dan
volume (V) adalah sifat ekstensif, artinya nilainya tergantung pada jumLah bahan
yang sedang diselidiki, sedangkan densitas adalah sifat intensif yang nilainya tidak
tergantung pada jumLah bahan yang diselidiki, atau nilainya tetap untuk suatu kondisi
yang tetap pula.
Disamping rapat massa ada istilah specific gravity yang didefinisikan sebagai
perbandingan antara rapat massa yang diukur dengan rapat massa pembanding
(referensi). Specific gravity tidak mempunyai satuan, karena merupakan suatu
perbandingan. Umumnya yang dijadikan rapat massa referensi adalah rapat massa
aquadest murni pada suhu 4 °C dan pada tekanan atmosferik (1 atm), karena pada
suhu dan tekanan tersebut rapat massa dari air adalah 1 gram/mL. Specific gravity
dilambangkan dengan Sg yang dapat dirumuskan dengan persamaan :
Sg =
pcuì¡un
puquudcst
(2)
Rapat massa dipengaruhi oleh beberapa faktor :
1. Konsentrasi larutan.
Semakin besar konsentrasi larutan maka rapat massa dari larutan itu juga akan
bertambah. Hal ini disebabkan karena semakin besar konsentrasinya, maka jumLah
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

25

dari partikel yang terlarut juga bertambah sehingga rapat massanya juga akan
bertambah besar.
2. Suhu dan tekanan.
Untuk cairan, rapat massa hanya sedikit berubah bila terjadi perubahan suhu atau
tekanan karena sifat dari cairan yang incompressible, sedangkan untuk gas, rapat
massa sangat dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Pada umumnya semakin tinggi
suhu, maka volume dari fluida akan bertambah besar. Rapat massa berbanding
terbalik dengan volume, sehingga jika volume dari fluida bertambah maka rapat
massanya akan berkurang. Sedangkan tekanan tidak mempunyai pengaruh
langsung terhadap rapat massa, namun tekanan berpengaruh terhadap suhu. Jika
tekanan bertambah maka suhu juga akan meningkat.
3. Fasa dari zat yang diukur rapat massanya.
Tiap fasa dari zat mempunyai rapat massa yang berbeda. Secara umum
perbandingan dari rapat massa untu tiap fasa dari yang terbesar hingga yang
terkecil adalah fasa padat, cair dan gas.

Rapat massa cairan dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai alat antara
lain dengan menggunakan piknometer, hidrometer, dan neraca Wesphalt. Untuk
padatan dapat digunakan metode Archimedes. Pada percobaan ini digunakan
piknometer dan hidrometer.
Prinsip pengukuran rapat massa dengan piknometer adalah dengan mengukur
massa dari cairan menggunakan neraca analitis digital dan kemudian dibandingkan
dengan volume piknometer yang telah diketahui sehingga dapat diperoleh rapat
massanya. Pada percobaan ini, suhu yang digunakan adalah suhu lingkungan.
Prinsip pengukuran dengan hidrometer adalah memakai hukum Archimedes
dimana gaya keatas yang diberikan oleh cairan sama dengan berat hidrometer
tersebut. Rapat massa fluida berbanding terbalik dengan tinggi bagian hidrometer
yang tercelup. Makin besar rapat massa dari suatu cairan, maka bagian dari
hidrometer yang tercelup akan semakin sedikit.

B. KONDUKTOMETRI
Konduktansi adalah kebalikan dari tahanan, atau bisa ditulis:
KonJuktonsi =
1
R
(3)
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

26

Parameter penting yang banyak digunakan dalam mempelajari mekanisme
penghantaran listrik dalam larutan adalah kebalikan dari tahanan spesifik yang disebut
konduktansi spesifik (σ ), mempunyai satuan Ω
-1
m
-1
atau sering disebut dengan S
adalah siemen. Dalam suatu larutan elektrolit muatan listrik akan dibawa oleh ion-ion.
Ion-ion positif (kation) akan bergerak dalam larutan menuju katoda (kutub negatif)
sedangkan ion-ion negatif (anion) bergerak menuju anoda. Ion-ion yang paling mudah
tereduksi atau teroksidasi mungkin akan menerima atau melepaskan elektron sehingga
akan menyebabkan perubahan komposisi larutan akibat penghantaran arus searah.
Konduktivitas larutan elektrolit tergantung pada tiga faktor: jumLah muatan,
mobilitas, dan konsentrasi ion. Ion dengan dua muatan misalnya A
2-
akan mampu
menghantarkan dua kali muatan listrik yang dapat dihantarkan ion A
-1
. Mobilitas ion
adalah kecepatan bergerak ion dalam larutan. Mobilitas ion dipengaruhi olah sifat-
sifat solven, beda tegangan listrik, dan ukuran ion (yakni semakin besar ion akan
semakin kurang mobilitasnya). Mobilitas ion juga dipengaruhi oleh suhu dan
viskositas dari solven. Untuk ion, solven, dan suhu tertentu, konduktansi ditentukan
oleh konsentrasi ion. Oleh karena itu, konsentrasi ion dapat ditentukan berdasar nilai
konduktansi larutan. Konsentrasi merupakan variabel yang penting dalam larutan
elektrolit maka biasanya konduktivitas larutan elektrolit dihubungkan dengan
konsentrasi melalui besaran konduktivitas ekivalen yang didefinisikan sebagai :
A =
k
C
cq
(4)

dengan: Λ = konduktivitas ekivalen
κ = konduktivitas per satuan volume larutan
C
eq
= konsentrasi ekivalen larutan
Dalam literatur (Dean, 1992) pada umumnya data ekivalen konduktansi
diberikan dalam satuan Ω
-1
.cm
2
. gram ekivalen
-1
sedangkan konsentrasi sering
diberikan dalam grek/liter dan κ dalam Ω
-1
.cm
-1
, maka persamaan di atas sering
ditulis dalam bentuk:
A =
1000k
C
cq
(5)
Karena masing-masing ion adalah bermuatan listrik, maka dalam larutan akan
terjadi interaksi elektrostatik (saling tolak atau saling tarik) diantara ion-ion tersebut.
Interaksi ini akan semakin besar dengan semakin tinggi konsentrasi. Maka hanya
dalam keadaan sangat encer (infinite solution) sajalah larutan elektrolit akan
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

27

berkelakuan ideal. Maka biasanya pengukuran dilakukan konsentrasi larutan elektrolit
dengan prinsip konduktometri harus dilakukan dengan pengenceran atau untuk larutan
yang sangat encer.

Gambar1. Prinsip Penghantaran Listrik Berdasarkan Wheatstone

Konduktometer pada dasarnya adalah alat pengukur konduktansi yang biasanya
berupa sebuah jembatan Wheatstone dan cell konduktivitas seperti yang secara
skematik terlihat dalam Gambar 1. Tahanan A adalah sebuah cell yang berisi sampel
yang ditinjau. Tahanan B adalah tahanan variabel sedangkan tahanan D dan E sudah
tertentu harganya. Tahanan B dan kapasitor C dapat diatur hingga titik setimbang
dapat tercapai. Dalam keadaan ini berlaku persamaan:
R
A
R
B
=
R
D
R
E
(4)
dengan mengetahui harga tahanan B, D, dan E, maka tahanan (dan juga konduktansi)
dari cell dapat ditentukan.
Nilai konduktometri dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
a) Suhu
Pada suhu yang semakin tinggi, ternyata mobilitas elektron bergerak semakin
cepat. Hal ini disebabkan pada suhu tinggi elektron akan menyerap energi dari
lingkungan untuk melakukan ionisasi. Semakin banyak jumLah ion-ion dalam
larutan, mengakibatkan semakin besar nilai dari konduktansinya.
b) Kosentrasi
Konduktansi juga dipengaruhi oleh konsentrasi. Semakin besar konsentrasi
menyebabkan semakin besarnya konduktansi. Hal ini disebabkan pada larutan
yang pekat interaksi ionnya akan semakin mudah jika dibandingkan dengan
larutan yang encer. Selain itu konsentrasi yang besar juga akan menyebabkan
tumbukan partikel semakin sering, yang memberi dampak pada semakin banyak
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

28

Keterangan :
1. Neraca analisis digital
2. Pintu neraca
3. Display
4. Pan neraca
5. Tombol On/Off
6. Tombol re-zero
7. Tombol konversi
8. Piknometer 25 mL+tutup
9. Steker
pula ion yang dihasilkan, dan oleh karena itu konduktansi dari suatu larutan
elektrolit akan semakin besar. Konduktansi akan menghasilkan hasil yang akurat
apabila diukur pada larutan yang encer. Karena ion-ion yang terdapat pada larutan
yang encer mempunyai mobilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan larutan
pekat.

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Natrium klorida (NaCl)
2. Aquadest
3. Air ledeng
B. Rangkaian Alat Percobaan

Gambar 2. Rangkaian Alat Pengukuran Rapat Massa dengan Hidrometer


Gambar 3. Rangkaian Alat Pengukuran Rapat Massa Fluida Cair dengan
Piknometer 25 mL dan Neraca Analisis Digital



Keterangan:
1. Gelas Ukur 250 mL
2. Hidrometer
3. Fluida cair yang diukur
4. Beban pemberat hidrometer
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

29

Keterangan :
1. Larutan KOH
2. Gelas beker
3. Konduktometer
4. Knop on/off
5. Knop pengatur skala pembacaan
6. Probe
7. Adaptor
8. Steker
9. Penyangga probe
Gambar 4. Rangkaian Alat Pengukuran Konduktansi

C. Cara Kerja
1. Pembuatan Larutan NaCl Berbagai Konsentrasi
a. Timbang NaCl sebanyak 25 gram dengan bantuan gelas arloji dan
menggunakan neraca analitis digital.
b. Larutkan NaCl dengan aquadest sebanyak 300 mL di dalam gelas beker 600
mL dan aduk hingga homogen.
c. Masukkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 500 mL dengan bantuan corong
gelas dan tambahkan aquadest hingga tanda batas, kemudian gojog larutan
hingga homogen.
d. Tuang larutan tersebut ke gelas beker 600 mL.
e. Ambil 100 mL larutan NaCl yang telah dibuat dengan menggunakan gelas
ukur 100 mL, kemudian masukkan ke dalam labu ukur 500 mL. Tambahkan
aquadest hingga tanda batas dan gojog larutan hingga homogen.
f. Tuang larutan NaCl yang telah diencerkan tersebut ke dalam gelas beker 600
mL.
g. Ambil 100 mL larutan NaCl yang telah diencerkan dengan menggunakan pipet
volum 25 mL, kemudian masukkan ke dalam labu ukur 500 mL. Tambahkan
aquadest hingga tanda batas dan gojog larutan hingga homogen.
h. Tuang larutan NaCl yang telah diencerkan tersebut ke dalam gelas beker 600
mL.

6
9
8
7 2
1
4 5
3
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

30

2. Pengukuran Rapat Massa Berbagai Cairan dengan Menggunakan Piknometer
pada Suhu Percobaan
a. Ukur suhu percobaan (lingkungan) dengan menggunakan termometer dan catat
hasil pengukurannya.
b. Timbang piknometer kosong dengan neraca analitis digital dan catat hasil
pengukurannya.
c. Isi piknometer dengan aquadest hingga penuh dengan bantuan pipet tetes,
kemudian tutup piknometer hingga tidak ada udara di dalamnya. Timbang
piknometer tersebut dan catat hasil pengukurannya.
d. Keluarkan aquadest pada piknometer, kemudian cuci dan keringkan
piknometer tersebut.
e. Ulangi langkah percobaan c dan d untuk pengukuran rapat massa air ledeng,
larutan NaCl berbagai konsentrasi, dan larutan sampel.

3. Pengukuran Rapat Massa Berbagai Cairan dengan Menggunakan Hidrometer
pada Suhu Percobaan
a. Tuang aquadest ke dalam gelas ukur 250 mL.
b. Ukur rapat massaaquadest dengan memasukkan hidrometer 0,900-1,000
gr/mL atau 1,000-1,200 gr/mL dengan perlahan-lahan.
c. Baca skala hidrometer dan catat hasil pengukuran.
d. Ulangi langkah percobaan a sampai c untuk pengukuran rapat massa air
ledeng, larutan NaCl berbagai konsentrasi, dan larutan sampel.

4. Pengukuran Rapat Massa Larutan NaCl dengan Menggunakan Hidrometer pada
Berbagai Suhu
a. Siapkan baskom plastik berisi air dan es batu.
b. Tuang larutan NaCl hasil pengenceran 25xsebanyak ± 300 mL ke dalam gelas
beker 600 mL, kemudian dinginkan larutan tersebut hingga suhu larutan 20
o
C.
c. Setelah suhu larutan mencapai 20
o
C, tuang larutan tersebut ke dalam gelas
ukur 250 mL dan ukur rapat massa larutan dengan menggunakan hidrometer
0,900-1,000 gr/mL atau 1,000-1,200 gr/mL dengan perlahan-lahan. Catat hasil
pengukurannya.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

31

d. Tuang kembali larutan NaCl tersebut ke dalam gelas beker 600 mL, lalu
panaskan larutan dengan menggunakan kompor listrik hingga suhu larutan
30
o
C.
e. Setelah suhu larutan mencapai 30
o
C, tuang larutan tersebut ke dalam gelas
ukur 250 mL dan ukur rapat massa larutan dengan menggunakan hidrometer
0,900-1,000 gr/mL atau 1,000-1,200 gr/mL dengan perlahan-lahan. Catat hasil
pengukurannya.
f. Tuang kembali larutan NaCl tersebut ke dalam gelas beker 600 mL, lalu
panaskan larutan dengan menggunakan kompor listrik hingga suhu larutan
40
o
C.
g. Setelah suhu larutan mencapai 40
o
C, tuang larutan tersebut ke dalam gelas
ukur 250 mL dan ukur rapat massa larutan dengan menggunakan hidrometer
0,900-1,000 gr/mL atau 1,000-1,200 gr/mL dengan perlahan-lahan. Catat hasil
pengukurannya.
h. Ulangi langkah percobaan b sampai g untuk larutan NaCl hasil pengenceran 5x
dan larutan NaCl hasil pengenceran 1x.

5. Pengukuran Konduktansi Larutan NaCl Berbagai Konsentrasi pada Berbagai
Suhu
a. Tuang aquadest sebanyak 40 mL ke dalam gelas beker 50 mL.
b. Letakkan gelas beker 50 mL yang berisi aquadest ke dalam baskom plastik
yang berisi air es dan dinginkan larutan hingga suhu larutan 20
o
C.
c. Ukur konduktansi aquadest pada suhu 20
o
C tersebut dengan konduktometer
dan catat hasil pengukurannya.
d. Cuci probe pada konduktometer dengan aquadest dalam gelas beker 50 mL.
e. Panaskan aquadest tersebut dengan menggunakan kompor listrik hingga suhu
larutan 35
o
C.
f. Ukur konduktansi aquadest pada suhu 35
o
C tersebut dengan konduktometer
dan catat hasil pengukurannya.
g. Cuci probe pada konduktometer dengan aquadest dalam gelas beker 50 mL.
i. Ulangi langkah percobaan a sampai g untuk air ledeng, larutan NaCl hasil
pengenceran 25x, larutan NaCl hasil pengenceran 5x dan larutan NaCl hasil
pengenceran 1x.

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

32

6. Pengukuran Konduktansi Larutan Sampel pada Suhu Percobaan
a. Tuang larutan sampel sebanyak 40 mL ke dalam gelas beker 50 mL.
b. Ukur konduktansi larutan sampel tersebut dengan konduktometer dan catat
hasil pengukurannya.
c. Cuci probe pada konduktometer dengan aquadest dalam gelas beker 50 mL.

D. Analisis Data
1. Penentuan Rapat Massa Berbagai Cairan pada Suhu Percobaan
a. Penentuan volume piknometer
m
aqua
= m
pa
– m
po
(5)

V
aqua
=
m
cquc
ρ
¡eI
(6)

V
p
= V
aqua
(7)
dengan : m
aqua
= massa aquadest (gram)
m
pa
= massa piknometer + aquadest (gram)
m
po
= massa piknometer kosong (gram)
V
aqua
= volume aquadest (mL)
ρ
ref
= rapat massa aquadest referensi pada suhu percobaan
(gram/mL)
V
p
= volume piknometer (mL)

b. Penentuan rapat massa berbagai cairan pada suhu percobaan
m
cair
= m
pc
– m
po
(8)
ρ
cair
=
m
ca¡¡
V
¡
(9)
dengan : m
cair
= massa cairan yang diukur (gram)
m
pc
= massa piknometer + cairan yang diukur (gram)
ρ
cair
= rapat massa cairan yang diukur (gram/mL)

2. Penentuan Konsentrasi Larutan NaCl
a. Penentuan konsentrasi larutan NaCl awal
C
0
=
m
NaCI
V
NaCI
(10)
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

33

dengan : C
0
= konsentrasi larutan NaCl mula-mula (gram/mL)
m
NaCl
= massa NaCl yang tertimbang (gram)
V
NaCl
= volume larutan NaCl (mL)

b. Penentuan konsentrasi larutan NaCl hasil pengenceran
V
1
.C
1
= V
2
.C
2
(11)

dengan : V
1
= volume larutan NaCl sebelum pengenceran yang diambil
(mL)
C
1
= konsentrasi larutan NaCl sebelum pengenceran (gram/mL)
V
2
= volume larutan NaCl sesudah pengenceran (mL)
C
2
= konsentrasi larutan NaCl sesudah pengenceran (gram/mL)

3. Pembuatan Kurva Standar Rapat Massa Larutan NaCl pada Suhu Percobaan
dengan Menggunakan Piknometer dan Hidrometer
Persamaan hubungan antara konsentrasi larutan NaCl dengan rapat massa tiap
larutan pada suhu lingkungan adalah :
y = A.x + B (12)

dengan : y = rapat massa larutan NaCl (gram/mL)
x = konsentrasi larutan NaCl (gram/mL)
A =
n.∑xy -∑x.∑y
n.∑x
2
-(∑x)
2
(13)
B =
∑y- A.∑x
n
(14)

Untuk menghitung kesalahan relatif, persamaan yang digunakan adalah :

Kesalahan relatif=¡
rapat massa pcrsamaan-rapat massa pcrcobaan
rapat massa pcrsamaan
¡ x 1uu% (15)
Kesalahan relatif rata-rata =
∑kcsaIahan rcIatII
n
(16)

dengan : n = jumLah data

Kurva/grafik yang dibuat adalah :
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

34

- Grafik hubungan antara rapat massa dengan konsentrasi larutan NaCl pada
suhu percobaan dengan menggunakan piknometer.
- Grafik hubungan antara rapat massa dengan konsentrasi larutan NaCl pada
suhu percobaan dengan menggunakan hidrometer.

4. Penentuan Konsentrasi Larutan Sampel yang Terukur dengan Piknometer dan
Hidrometer
Persamaan yang diperoleh dari perhitungan no 3, digunakan untuk menentukan
konsentrasi larutan sampel.
y = A.x + B (12)

x =
y -B
A
(17)
dengan : x = konsentrasi larutan sampel (gram/mL)
y = rapat massa larutan sampel yang terukur (gram/mL)
A dan B = konstanta

5. Pembuatan Kurva Standar Rapat Massa Larutan NaCl pada Berbagai Suhu Tiap
Konsentrasi dengan Menggunakan Hidrometer
Persamaan hubungan antara suhu dengan rapat massa tiap larutan adalah :
y = A.T + B (18)

dengan : y = rapat massa larutan NaCl (gram/mL)
T = suhu larutan NaCl (
o
C)
A =
n.∑Ty -∑T.∑y
n.∑T
2
-(∑T)
2
(19)
B =
∑y- A.∑T
n
(20)

Untuk menghitung kesalahan relatif, digunakan persamaan (11) dan (12).

Kurva/grafik yang dibuat adalah :
- Grafik hubungan antara rapat massa dengan suhu larutan NaCl untuk setiap
konsentrasi dalam satu grafik.

6. Pembuatan Kurva Standar Konduktansi Larutan NaCl pada Berbagai Konsentrasi
Setiap Suhu dengan Menggunakan Konduktometer
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

35

Persamaan hubungan antara konsentrasi dengan konduktansi tiap larutan adalah :
K = A.N + B (21)

dengan : N = konsentrasi larutan NaCl (gram/mL)
K = konduktansi larutan NaCl (S)
A =
n.∑•€ -∑•.∑€
n.∑€
2
-(∑€)
2
(22)
B =
∑•- A.∑€
n
(23)
Untuk menghitung kesalahan relatif, persamaan yang digunakan adalah :

Kesalahan relatif=¡
kon•‚ktansI pcrsamaan-kon•‚ktansI pcrcobaan
kon•‚ktansI pcrsamaan
¡ x 1uu% (24)
Kesalahan relatif rata-rata =
∑kcsaIahan rcIatII
n
(16)

dengan : n = jumLah data
Kurva/grafik yang dibuat adalah :
- Grafik hubungan antara konduktansi dengan konsentrasi larutan NaCl pada
tiap suhu.

7. Penentuan Konsentrasi Larutan Sampel dengan Konduktometer
a. Penentuan nilai konduktansi pada suhu percobaan
Persamaan yang digunakan adalah :

T -T

T
3S
-T

=
• -•


3S
-•

(25)
dengan : T = suhu percobaan (
o
C)
T
20
= suhu sebesar 20
o
C
T
35
= suhu sebesar 35
o
C
K = konduktansi pada suhu percobaan (S)
K
20
= konduktansi pada suhu 20
o
C (S)
K
35
= konduktansi pada suhu 35
o
C (S)

b. Pembuatan kurva standar pada suhu percobaan
Pembuatan kurva standar pada suhu percobaan dilakukan dengan
menggunakan persamaan (21), (22), dan (23).
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

36

c. Penentuan konsentrasi larutan sampel
Penentuan konsentrasi larutan sampel dilakukan dengan menggunakan
persamaan yang diperoleh dari perhitungan 7.b.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hal-hal yang harus dibahas adalah :
1. Bahas hasil percobaan dan grafik yang diperoleh.
2. Bahas perbandingan rapat massa aquadest dan air ledeng.
3. Dari kedua cara pengukuran rapat massa, antara piknometer dan hidrometer mana
yang memberikan ketelitian lebih tinggi. Bandingkan dengan teori.
4. Jika terjadi penyimpangan dari teori, bahas apa yang menjadi penyebab
penyimpangan tersebut.
5. Bahasan lain yang dianggap perlu.

V. KESIMPULAN
Berisi tentang kesimpulan berdasarkan tujuan dan hasil percobaan.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Basset, J., R.C. Denney, G.H. Jefery, dan J. Mendhem, 1994, Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Brown, G.G., 1950, Unit Operations, John Willey and Sons, Inc., New York.
Brown R.D., 1985, Introduction to Chemical Analysis, p.p 3290332, Mc Graw-Hill
Book Co., Singapore.
Dean, J.A., 1992, Lange’s Hand Book of Chemistry, 14
th
edition, Mc. Graw-Hill
Inc., New York.
Holman, J. P., 1985, Metode Pengukuran Teknik, 4 ed, Erlangga, Jakarta.
Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta.







Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

37

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Hazard proses dari praktikum ini diantaranya adalah penggunaan alat-alat
yang rentan pecah, penggunaan kompor listrik dan penggunaan alat
konduktometer
Hazard bahan kimia pada praktikum ini adalah garam NaCl.
B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
Alat perlindungan diri yang dipakai adalah : jas lab, masker, sarung tangan
karet. Jas lab digunakan untuk melindungi tubuh dari bahan-bahan kimia yang
digunakan selama praktikum.
(Tulislah alat perlindungan diri lain yang dirasa penting pada praktikum ini
beserta alasan pemakaiannya).
C. Manajemen Limbah
Tuliskan limbah apa saja yang dihasilkan pada praktikum ini, tuliskan juga
analisis kandungannya dan tempat pembuangannya.
D. Data Percobaan
E. Perhitungan

























Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

38

LAPORAN SEMENTARA
PENGUKURAN RAPAT MASSA DAN KONDUKTANSI
( C )

Nama Praktikan : 1. NIM :
2. NIM :
Hari/Tanggal :
Asisten : Septiana Damayanti / Wahyu Faizal Ardy

DATA PERCOBAAN
A. Pengukuran Rapat Massa
Suhu percobaan = ...................
o
C
Massa NaCl = ................... gram
Volume larutan NaCl = ................... mL

Massa piknometer kosong = ................... gram

Pengukuran rapat massa berbagai cairan dengan piknometer dan hidrometer pada
suhu percobaan.
No Cairan
Berat piknometer +
cairan, gram
Densitas cairan dengan
hidrometer, gram/mL
1 Aquadest
2 Air Ledeng
3 Larutan NaCl Pengenceran 1 x
4 Larutan NaCl Pengenceran 5 x
5 Larutan NaCl Pengenceran 25 x
6 Larutan Sampel

Pengukuran rapat massa larutan NaCl dengan hidrometer pada berbagai suhu
dan konsentrasi.
No Suhu,
o
C
Densitas larutan NaCl, gram/mL
Pengenceran 1x Pengenceran 5 x Pengenceran 25 x
1 20
2 30
3 40

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

39

B. Pengukuran Konduktivitas
Pembuatan Kurva Standard
No. Cairan
Konduktansi pada
20
o
C, S
Konduktansi pada
35
o
C, S
1. Larutan NaCl pengenceran 1 x
2. Larutan NaCl pengenceran 5 x
3. Larutan NaCl pengenceran 25 x
4. Aquadest
5. Air Ledeng

Penentuan Konsentrasi Larutan Sampel pada Suhu Percobaan
Konduktansi = ...................S

Yogyakarta,
Asisten Jaga, Praktikan,
1.

2.





















Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

40

(1)
MODULUS PATAH DAN KUAT DESAK BAHAN PADAT
(D)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk :
1. Mengukur modulus patah dan kuat desak bahan padat berupa plester yang
merupakan campuran semen dan pasir.
2. Mencari hubungan antara komposisi campuran dengan kuat mekanik bahan.

II. DASAR TEORI
Material dalam bahan padat sangat penting perannya dalam kehidupan manusia,
termasuk diantaranya industri kimia. Pada setiap praktek dilapangan tentunya banyak
dijumpai material padat yang digunakan. Dalam pemilihan bahan padat banyak hal
yang perlu diperhatikan seperti ketahanan terhadap gaya mekanik, ketahanan terhadap
suhu, dan ketahanan terhadap bahan kimia. Salah satu parameter tersebut adalah
ketahanan terhadap gaya mekanik, dimana parameter ini meliputi kuat tarik, kuat desak,
modulus patah, dan momen puntir. Pada percobaan ini akan dipelajari penentuan
modulus patah dan kuat desak suatu bahan.

A. Modulus Patah
Modulus patah merupakan tegangan lengkung maksimum yang mampu ditahan
suatu benda agar tidak patah.Gaya-gaya yang bekerja pada pengukuran modulus patah
dengan metode “three point bending strength”disajikan pada gambar1.

Gambar 1. Gaya-gaya yang Bekerja Pada Padatan

Pada bahan getas yang memiliki hubungan tegangan-regangan linier, nilai
modulus patah dapat dihitung menggunakan persamaan (1).


b
=
….y



Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

41

(2)
(3)
(4)
dengan:






Resultan momen di sebelah kiri atau kanan dari gaya F pada gambar 1 dapat
dinyatakan sebagai berikut:
ΣΓ =
2
L
.
2
F


=
4
F.L


M =
4
F.L




Gambar 2. Luas Penampang Padatan yang Menerima Gaya F.
Pada gambar 2 diketahui bahwa sumbu netral dari bahan berada di pertengahan
tebal benda (t) dan membujur searah dengan lebar benda (w), sehingga secara
matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:
ˆ =
1
2
t
A = ‰. t
Dari persamaan (3) dan (4), maka momen inersia penampang benda yang
menerima gaya dapat diperoleh sebagai berikut:
I
x
=

|
¹
|

\
|
) . ( . .
2
1
2
t w d t
= w.

dt t . .
4
1
2


b

= Modulus patah padatan, kgf/cm
2
M = Resultan momen di sebelah kiri atau kanan
penampang yang menerima gaya, kgf.cm

y = Jarak tepi benda ke sumbu netral, cm
I
x
= Momen inersia penampang yang menerima gaya
(terhadap sumbu netral), cm
4
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

42

(5)
(6)
(8)
(7)
=
3
. .
12
1
t w


Apabila persamaan (2), (3), dan (5), disubstitusikan ke persamaan (1), maka akan
menghasilkan:

Bila gaya F dihasilkanoleh dongkrak hidrolik, maka nilai F dapat ditentukan
sebagai berikut:



dengan:


Apabila persamaan (7) disubstitusikan ke persamaan (6), maka akan
menghasilkan persamaan (8).

2
2
. . 8
. . . . 3
t w
L d P
b
π
σ =
Persamaan (8) di atas hanya berlaku jika diambil asumsi sebagai berikut:
− Permukaan benda uji halus dan rata.
− Posisi pisau pematah tepat diantara kedua penumpu.
− Titik berat sampel berada tepat di antara kedua penumpu.
− Gaya berat sampel diabaikan.

Rangkaian alat percobaan modulus patah dapat dilihat pada gambar 3.
σ
b
=
|
¹
|

\
|
|
¹
|

\
|
|
¹
|

\
|
3
w.t
12
1
2
t
4
F.L

σ
b
=
2
2wt
3FL

F =
piston
P/A
F =
4
. ..
2
d P π

P = Tekanan hidrolik pembacaan, kgf/cm
2
d = Diameter piston, cm
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

43

(9)










Gambar 3. Rangkaian Alat Percobaan untuk Mengukur Modulus Patah Plester

B. Kuat Desak
Kuat desak adalah besaran yang menyatakan nilai gaya desak per satuan luas
permukaan penahan benda (A) atau tegangan desak (σ
C
) maksimum yang mampu
ditahan suatu benda agar benda tidak mengalami keretakan.

Gambar 4. Gaya yang bekerja pada plester pada percobaan pengukuran kuat
desak plester

Tegangan yang ditimbulkan karena pengaruh gaya F adalah sebagai berikut:




dengan, A = luas permukaan yang di arsir

σ
c
=
A
F

σ
c
=
A
d P g
. 4
. . .
2
π

Keterangan Gambar 3:
1. Rangka alat uji kuat desak
2. Pisau pematah
3. Mur
4. Sampel/plester padatan
5. Pisau-pisau penumpu
6. Piston
7. Kaca pelindung
8. Dongkrak hidrolik
9. Indikator tekanan
10. Valve pelepas tekanan
11. Tuas pengungkit.

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

44

N pada gambar 4 adalah gaya normal yang diberikan permukaan penahan benda.
Jika N tidak ada, benda tidak akan mengalami pendesakan tetapi justru bergerak ke
bawah.
Persamaan (9) diatas hanya berlaku jika mengambil asumsi:
1. Permukaan sampel halus dan rata.
2. Penekanan berlangsung secara kontinyu dan steady.
Rangkaian alat percobaan modulus patah dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Rangkaian Alat Percobaan untuk Mengukur Kuat Desak Plester

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan bahan
Berdasarkan posisinya dalam sistem periodik unsur, umumnya material
dikelompokan menjadi 3, yaitu logam, non-logam dan transisi. Logam mudah melepas
elektron menjadi ion positif dan berikatan dengan elemen non-logam yang cenderung
bermuatan negatif. Bahan keramik berdasarkan terminologi umum adalah bahan non-
organik padat yang tersusun atas elemen metalik dan non metalik (Van Vlack, 1964).
Bahan yang termasuk keramik sederhana adalah MgO, BaTiO
3
, SiO
2
, dan SiC
sedangkan yang termasuk keramik kompleks antara lain clay, mullite dan amorphous
glass.
Bahan yang diuji kekuatannya dalam percobaan ini adalah bahan keramik yang
terbuat dari campuran semen dan pasir. Ada beberapa faktor yang menentukan
kekuatan bahan, antara lain:
− Bentuk agregat.
− Ukuran agregat, ada ukuran optimum agar kekuatannya maksimum.
Keterangan Gambar 5:
1. Rangka alat uji kuat desak
2. Plat penekan atas
3. Sampel/plester padatan
4. Plat penekan bawah
5. Piston
6. Kaca pelindung
7. Dongkrakhidrolik
8. Indikator tekanan
9. Valve pelepas tekanan
10. Tuas pengungkit.

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

45

− Homogenitas.
− Unsur.
− Porositas.
− Kondisi saat pembuatan.
Dalam percobaan ini akan dihitung nilai dari modulus patah dan kuat desak bahan
pada berbagai perbandingan komposisi semen dan pasir.

III. METODOLOGI PERCOBAAN
A. Bahan
− Sampel A (semen : pasir = 1:3)
− Sampel B (semen : pasir = 1:5)
− Sampel C (semen : pasir = 1:7)
− Sampel D (semen : pasir = 1:9)
− Sampel E (semen : pasir = 1:10)
− Sampel F (semen : pasir = 1:12)
− Sampel G (semen : pasir = 1:14)
− Sampel H (semen : pasir = 1:16)

B. Alat
− Alat uji modulus patah (gambar 3)
− Alat uji kuat desak (gambar 5)
− Penggaris 30 cm
− Jangka sorong
− Kaca pembesar/lup

C. Cara Kerja
1. Modulus Patah
− Persiapkan alat uji modulus patah dengan memasang tuas pengungkit pada
dongkrak hidrolik, dan memastikan valve pelepas tekanan tertutup rapat.
− Ukur dimesi sampel A, yakni lebar sampel (w) dan tebal sampel (t) menggunakan
penggaris.
− Ukur jarak kedua ujung pisau penumpu (L) menggunakan penggaris, dan diameter
piston (d) menggunakan jangka sorong.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

46

(10)
− Letakkan sampel di atas kedua pisau penumpu sedemikian sehingga posisi pisau
pematah tepat berada ditengah sampel.
− Naikkan posisi sampel dengan cara mengungkit tuas sampai permukaan atas
sampel menyentuh pisau pematah.
− Amati indikator tekanan dan lanjutkan pengungkitan secara perlahan sampai
sampel patah.
− Catat angka yang ditunjukkan indikator pada saat sampel patah.
− Turunkan posisi pisau penumpu dengan membuka valve pelepas tekanan.
− Lakukan lagi percobaan untuk sampel A sebanyak 2 kali.
− Lakukan hal yang sama untuk sampel B, C dan D (masing-masing 3 kali).
2. Kuat Desak
− Persiapkan alat uji kuat desak dengan memasang tuas pengungkit pada dongkrak
hidrolik, memastikan valve pelepas tekanan tertutup rapat, memastikan plat
penekan atas dan bawah dalam kondisi bersih.
− Ukur panjang sisi-sisi permukaan sampel E yang akan menerima gaya
menggunakan penggaris. Pilih permukaan penerima gaya dari sampel E yang
paling halus, paling datar dan bentuknya beraturan.
− Ukur diameter piston (d) menggunakan jangka sorong.
− Letakkan sampel pada plat penekan bawah.
− Naikkan posisi sampel dengan cara mengungkit tuas sampai permukaan atas
sampel menyentuh pisau pematah.
− Amati indikator tekanan dan lanjutkan pengungkitan secara perlahan sampai
sampel menunjukkan keretakan.
− Turunkan posisi plat penekan bawah dengan membuka valve pelepas tekanan.
− Lakukan percobaan untuk sampel E sebanyak 2 kali.
− Catat angka yang ditunjukkan indikator pada saat sampel retak.
− Lakukan lagi percobaan untuk sampel E sebanyak 2 kali.
− Lakukan hal yang sama untuk sampel F, G dan H (masing-masing 3 kali).
D. Analisis Data
1. Menghitung nilai modulus patah (σ
b
) sampel dengan persamaan (8) :

2
2
. . 8
. . . . 3
t w
L d P
b
π
σ =
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

47

(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(19)
2. Menghitung nilai modulus patah rata – rata.
3
σ σ σ
σ
b.A3 b.A2 b.A1
b.A
+ +
=

3. Membuat persamaan pendekatan modulus patah rata-rata sebagai fungsi
komposisi P (X) dengan metode regresi linier least square.
b
σ = f (X) = mX + k ; m dan k = konstanta
Š =

Œ+‹
. 1uu % ; O = jumLah semen, P = jumLah pasir

4. Membuat persamaan pendekatan modulus patah sebagai fungsi komposisi P(x)
dengan metode regresi eksponensial :
ˆ = o. c
•Ž
; a, b = konstanta
5. Menghitung kesalahan relatif σ
b
hasil persamaan regresi linier dan eksponensial
terhadap σ
b
hasil eksperimen:

.100%
σ
σ σ
% relatif, Kesalahan
n b.persamaa
en b.eksperim n b.persamaa

=

data jumlah
relatif kesalahan
rata - rata relatif Kesalahan

=

6. Menghitung standard deviasi (SD) percobaan Modulus Patah.
•• = ‘
1
n
∑(
b.A
σ
ì
-
b.A
σ
’’’’’
)
2
; n = jumLah data

7. Menghitung nilai kuat desak (σ
c
) sampel dengan persamaan (9):
σ
c
=
A
d P g
. 4
. . .
2
π



8. Menghitung nilai kuat desak rata – rata dan standar deviasi percobaan :
3
σ σ σ
σ
c.E3 c.E2 c.E1
c.E
+ +
=

9. Membuat persamaan pendekatan kuat desak (σ
c
) sebagai fungsi fraksi komposisi
P (X) dengan metode regresi linier least square:
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

48

(20)
(21)
(16)
(22)
( ) k mX X f σ
c
+ = =
; m dan k = konstanta
10. Membuat persamaan pendekatan modulus patah sebagai fungsi komposisi P(x)
dengan metode regresi eksponensial :
ˆ = o. c
•Ž
; a, b = konstanta
11. Menghitung kesalahan relatif σ
C
hasil persamaan regresi linier dan eksponensial
terhadap σ
C
hasil eksperimen:
.100%
σ
σ σ
% relatif, Kesalahan
n c.persamaa
en c.eksperim n c.persamaa

=

data jumlah
relatif kesalahan
rata - rata relatif Kesalahan

=

12. Menghitung standard deviasi (SD) percobaan kuat desak:
•• = ‘
1
n
∑(
c.E
σ
ì
-
cE
σ
’’’’’
)
2
; n = jumLah data

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Bahas data percobaan, hasil perhitungan, dan grafik Anda, hubungkan dengan teori
yang ada.
V. KESIMPULAN
Tuliskan kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang telah dilaksanakan.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Andrews, A.I., 1928, “Ceramic Test and Calculation”, pp. 43-46, John Wiley and Sons,
Inc., New York.
Timoshenko, S., 1958, “Strength of Materials Part I”, Robert E. Kriegler, New York.
Van Vlack, L. H., 1964, “Physical Ceramics for Engineers”, Addison-Wesley Publishing
Company, Inc., London.












Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

49

LAPORAN SEMENTARA
MODULUS PATAH DAN KUAT DESAK BAHAN PADAT
(D)


Nama Praktikan : 1. NIM: 1.
2. 2.
3. 3.

Hari/Tanggal :
Asisten : Ade Hidayat / Indrayana Pratama

Data Percobaan :

1. Percobaan Modulus Patah
Diameter silinder piston (D) = cm
Jarak ujung-ujung pisau penumpu = cm

No. Sampel w,cm t,cm P,kgf/cm
2

1
A
(O:P= 1:3)

2
3
4
B
(O:P=1:5)

5
6
7
C
(O:P = 1:7)

8
9
10
D
(O:P =1:9)

11
12


Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

50

2. Percobaan Kuat Desak
Diameter silinder piston (D) = cm

No Sampel A, cm
2
P, kgf/cm
2

1
E
(O:P=1:10)

2
3
4
F
(O:P=1:12)

5
6
7
G
(O:P=1:14)

8
9
10
H
(O:P=1:16)

11
12



Mengetahui: Yogyakarta, 2014

Asisten Jaga, Praktikan,



1).



2)











Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

51

PENGUKURAN TEGANGAN MUKA DAN
KEKENTALAN ZAT CAIR
( E )

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Memahami pengertian dasar tegangan muka.
2. Memahami metode tekanan maksimum gelembung dan kenaikan pipa kapiler untuk
penentuan tegangan muka.
3. Menentukan besaran kental relatif dari suatu cairan dengan air sebagai zat
pembanding berdasarkan hukum Hougen-Poiseuille.
4. Menentukan pengaruh suhu terhadap kekentalan dinamik suatu zat cair.

II. DASAR TEORI
Tegangan permukaan merupakan suatu sifat istimewa yang dialami suatu zat dalam
fasa cair. Pada fasa cair, semua molekul cairan dikelilingi oleh molekul-molekul cairan yang
lain dengan daya tarik intermolekuler ke segala arah dan gaya tersebut saling menghilangkan.
Akan tetapi kondisi pada permukaan cairan menjadi lain karena ada bagian yang tidak
dikelilingi oleh cairan itu sendiri. Kondisi ini mengakibatkan adanya gaya resultan yang
mengarah ke dalam cairan yang menimbulkan sifat kecenderungan untuk memperkecil luas
permukaan.









Gambar 1. Ilustrasi Gaya Intermolekuler pada Zat Cair

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

52

1
3
2
5
4
Satuan yang dipakai dalam perhitungan tegangan muka adalah dyne/cm. Untuk air,
tegangan mukanya lebih kurang sebesar 72,6 dyne/cm pada 20°C, sedangkan bahan-bahan
organik cair besarnya antara 20 – 30 dyne/cm.
Ada beberapa metode penentuan tegangan muka. Semuanya berdasar fenomena
yang berkaitan dengan tegangan muka dan yang banyak digunakan adalah :
1. Tekanan maksimum gelembung.
2. Kenaikan kapiler.
3. Tetes.
4. Cincin
Dalam pembahasan di bawah ini hanya akan dibatasi dua cara yang pertama.

A. Metode Tekanan Maksimum Gelembung
Keterangan:
1. Statif dan klem
2. Erlenmeyer 500 mL
3. Manometer
4. Gelas beker 500 mL
5. Pipa kapiler
6. Termometer alkohol
7. Penggaris



Gambar 2. Rangkaian Alat Metode Tekanan Maksimum Gelembung
Bagian penting dari metode ini adalah penentuan jari- jari maksimum gelembung
yang dapat diketahui dengan keluarnya gelembung udara pada ujung pipa yang dicelupkan ke
dalam cairan. Karena adanya sedikit kenaikan tekanan udara, gelembung akan pecah dengan
jari-jari yang lebih besar daripada jari-jari mulut pipa. Apabila jari-jari gelembung sama
dengan jari-jari mulut pipa akibatnya tekanan udara dalam pipa akan mencapai maksimum.
Dengan menyamakan tekanan-tekanan yang bekerja pada bejana dan manometer dalam
keadaan setimbang, harga tegangan muka dapat ditentukan.

Pada metode ini juga diperhatikan syarat dari cairan pengisi manometer dan buret
tidak berbeda karakteristik dan bebas dari pengotor.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

53







Gambar 3. Proses Lepasnya Gelembung dari Pipa Kapiler
Tekanan pada permukaan gelembung dalam keadaan setimbang akan memiliki hubungan:

1
g ”
1
• –
B
=
2—
r
• “
2
g ”
2
•–
B
(1)
2—
r
= g ( “
1

1
-“
2

2
) (2)
˜ =
¡ ™
2
( p
1
b
1
- p
2
b
2
) (3)
Dengan : ˜ = koefisien tegangan muka,dyne/cm,N/m
g = gravitasi bumi, m/s
2

r = jari-jari gelembung dalam pipa kapiler, cm
ρ
1
= massa jenis zat cair dalam manometer, g/mL
ρ
2
= massa jenis zat cari dalam bejana , g/mL
h
1
= selisih tinggi permukaan cairan dalam manometer, cm
h
2
= selisih tinggi permukaan zat cair dengan ujung gelembung udara dalam pipa,
cm

Dari persamaan diatas dapat diuraikan gaya-gaya yang bekerja, yaitu :
a. Tekanan hidrostatis = ρ
1
g h
1

b. Tekanan barometer = P
B

c. Tekanan hidrostatis dari bawah = ρ
2
g h
2

d. Tekanan karena tegangan muka =
2 š
¡


B. Metode Kenaikan Kapiler
Jika sebuah pipa kapiler ujungnya dicelupkan dalam zat cair yang membasahi
dinding (meniskus cekung), maka zat cair akan naik setinggi h. Pada saat setimbang, gaya ke
atas akan sama dengan gaya ke bawah, sedang untuk gaya ke samping saling meniadakan.
Kenaikan cairan dalam pipa kapiler akan berhenti setelah cairan mencapai h karena gaya F
1

akan diimbangi oleh gaya F
2
. Gaya F
2
ini disebabkan oleh berat cairan atau gaya berat zat
cair yang naik.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

54

1
2
3

Gambar 4. Neraca Gaya di Permukaan Cairan Dalam Pipa Kapiler

Gaya keatas = F
1
= 2 π r γ cos θ
Gaya kebawah = Gaya berat zat cair yang naik
= F
2
= π r
2
ρ g h
Dengan: F
1
= gaya atas , N,dyne
r = jari-jari kapiler, m,cm
γ = tegangan muka ,N/m, dyne/cm
θ = sudut kontak
ρ = massa jenis cairan , kg/l, g/cm
3

h = tinggi cairan , m, cm
g = percepatan gravitasi, m/s
2
,cm/s
2

Keterangan :
1. Gelas beker
2. Penggaris
3. Pipa kapiler (1 mm, 2mm, dan 3 mm)
Gambar 5. Keadaan Permukaan Zat Cair pada Percobaan dengan Metode
Kenaikan Kapiler.

Pada percobaan dengan metode ini, komponen mendatar akan saling meniadakan
sehingga yang mempengaruhi hanya gaya ke atas dan gaya ke bawah. Pada keadaan
seimbang,
Gaya ke atas = Gaya ke bawah
F
1
= F
2
(4)
2 π r γ cos θ = π r
2
ρ g h (5)
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

55

γ = ρ g h r
2 cos θ (6)
Bila zat cair yang digunakan adalah air sehingga membasahi sempurna dinding
kapiler maka θ dianggap 0 sehingga cos θ = 1, rumus diatas akan menjadi :
γ = ρ g h r
2 (7)

C. Kekentalan Zat Cair
Viskositas atau kekentalan suatu fluida merupakan besaran resistansi terhadap laju
perubahan geraknya. Pendekatan teori melalui interaksi-interaksi molekuler dapat digunakan
dalam memprediksi nilai viskositas dari suatu fluida. Viskositas cairan akan berkurang
dengan naiknya temperatur, dimana pengekangan dari gaya-gaya intermolekulernya
berkurang, yang menyebabkan gerakan molekulnya menjadi lebih mobile. Dari hubungan
viskositas Newton, dimensi viskositas dapat dinyatakan sebagai hubungan antara tegangan
geser dan laju peregangan (Welty J.R. et al, 2002 terjemahan oleh Ir.Gunawan
Prasetio,MBA).
› =
œ
J•žJˆ

Dalam sistem SI, viskositas dinamik dinyatakan dalam Pa.s atau poise.
Kekentalan dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung
berbentuk silinder, sedangkan alat standar yang biasa digunakan adalah viskosimeter Ostwald
yang bekerja berdasarkan hukum Poiseuille. Prinsip dari viskosimeter Ostwald dapat dilihat
pada gambar berikut:








Gambar 6. Prinsip kerja Viskosimeter Ostwald

Keterangan:
1. Arah aliran penghisap
2. Arah aliran fluida
BA – Batas atas
BB – Batas bawah
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

56

l
t ghr
l
t ghr
V
η
πρ
η
πρ
8 8
4
0
0
4
0 0
= =
o
relatif
t r
t r
0 0
4
0
ρ
ρ
µ
µ
µ = =
Untuk aliran zat cair yang laminer dalam suatu tabung, Poiseuille menemukan
bahwa volume yang dialirkan keluar pipa per satuan waktu t untuk jari-jari r dan panjang pipa
l dengan beda tekanan P adalah :

V
t
=
Ÿ ‹ r
4
8 q I
(8)

(9)
Pengukuran kekentalan yang tepat dengan persamaan diatas sukar dicapai. Hal ini
disebabkan nilai r dan l sukar ditentukan secara tepat. Untuk menghindari hal ini dalam
praktiknya digunakan suatu cairan pembanding.
Dengan viskosimeter Ostwald, dapat diukur waktu untuk cairan sampel dan cairan
pembanding yang mengalir melalui pipa kapiler yang sama. Tekanan p berubah-ubah tetapi
selalu berbanding langsung dengan rapat massa zat pembanding (ρ
0
) dan rapat massa zat
sampel (ρ) sehingga :

(10)
Dengan: ρ
0
= rapat massa zat pembanding
ρ = rapat massa zat sampel
r
0
= jari-jari kapiler viskosimeter untuk zat pembanding
r = jari-jari kapiler viskosimeter untuk zat sampel
t
0
= waktu alir zat pembanding
t = waktu alir zat sampel

Viskositas cairan meningkat dengan semakin besarnya tekanan, namun semakin
menurun secara eksponensial seiring dengan semakin tingginya temperatur.
µ = B e
A
T
,
(11)
Dalam bentuk logaritmiknya :
ln µ = ln B •
A
T
(12)

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Aquadest
2. Larutan NaCl 15 %
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

57

3. Minyak goreng
B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar rangkaian
alat berikut:















Gambar 7. Rangkaian Alat Metode Tekanan Maksimum Gelembung











Gambar 8. Rangkaian Alat Metode Kenaikan Pipa Kapiler
Keterangan :
1. Air
2. Buret 50 mL
3. Cairan pengisi
manometer
4. Cairan sampel
5. Erlenmeyer
6. Gelas beker
250 mL
7. Klem
8. Manometer
9. Pipa kapiler
10. Statif
11. Selang
peghubung
12. Termometer
alkohol 110°

Keterangan :
1. Gelas beker 250 mL
2. Pipa kapiler
3. Penggaris
4. Larutan sampel
5. Termometer alkohol 110°
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

58
















Gambar 9. Rangkaian Alat Pengukuran Viskositas Zat Cair

C. Cara Percobaan
1. Metode Tekanan Maksimum Gelembung
a. Ukur diameter dalam pipa kapiler dengan penggaris.
b. Isi gelas beker dengan aquadest dan ukur suhu aquadest dengan termometer.
c. Tutup kran buret dan isi buret dengan air sampai hampir penuh.
d. Seimbangkan tinggi cairan di kaki kanan dan kiri manometer.
e. Ukur ho (tinggi cairan di kaki kanan dan kiri manometer saat seimbang).
f. Masukkan pipa kapiler yang sudah dirangkai dengan selang dari manometer ke
dalam gelas beker sedalam h
2
dari permukaan cairan.
g. Buka kran buret perlahan-lahan.
h. Baca hm (permukaan air dalam kaki terbuka) pada manometer tepat saat
gelembung akan lepas pada ujung pipa kapiler (bentuk gelembung tepat ½ bola).
i. Ulangi percobaan hingga didapatkan 5 data dan lakukan hal yang sama dengan
larutan NaCl 15%.
j. Kembalikan larutan NaCl 15% ke botol penyimpanannya.


Keterangan :
1. Air
2. Bola penghisap
3. Circulating bath
4. Gabus
5. Gelas ukur 250 mL
6. Hidrometer
7. Knop pengatur suhu
8. Penjepit kayu
9. Steker
10. Termometer alkohol 110°
11. Thermostat
12. Tombol Power
13. Tombol Cooling
14. Viskosimeter Ostwald
0,6mm
15. Viskosimeter Ostwald 1
mm
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

59








Gambar 10. Skema Gambar Metode Tekanan Maksimum Gelembung

2. Metode Kenaikan Kapiler
a. Ukur diameter dalam dari 3 buah pipa kapiler dengan penggaris.
b. Isi gelas beker dengan aquadest dan ukur suhu aquadest dengan termometer.
c. Masukkan pipa kapiler dan penggaris ke dalam gelas beker.
d. Tarik pipa kapiler ke atas, sampai tinggi cairan dalam pipa kapiler konstan.
e. Ukur tinggi kenaikan aquadest dalam pipa kapiler terhadap permukaan cairan
aquadest di dalam gelas beker (meniskus cekung cairan).
f. Ulangi percobaan sehingga didapatkan 5 kali.
g. Ulangi percobaan dengan 2 pipa yang lain.
h. Lakukan percobaan yang sama dengan larutan NaCl 15%.
i. Kembalikan larutan NaCl 15% ke botol penyimpanan.

3. Kekentalan Zat Cair
a. Hidupkan water bath dan atur knop suhu pada suhu 30
o
C.
b. Isi minyak ke dalam viskosimeter Ostwald berdiameter 1 mm dan aquadest ke
dalam viskosimeter Ostwald berdiameter 0.6 mm.
c. Isi gelas ukur 250 mL dengan minyak goreng dan masukkan hidrometer ke
dalamnya.
d. Letakkan viskosimeter (dengan bantuan penjepit kayu), gelas ukur, dan
termometer alkohol 110
o
C ke dalam water bath. Tunggu 15 menit agar suhu
fluida mendekati/sama dengan suhu water bath.
e. Setelah suhu 30ᵒC tercapai pada termomer, catat suhu yang tertera pada
termometer tersebut sebagai suhu awal (To), kemudian zat cair dinaikkan lebih
tinggi dari tanda paling atas pada Viskosimeter Ostwald dengan bola penghisap.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

60

f. Lepaskan bola penghisap pada ujung Viskosimeter Ostwald dan hidupkan
stopwatch saat zat cair tersebut melewati tanda paling atas. Stopwatch kemudian
dimatikan saat zat cair tersebut melewati tanda paling bawah. Catat waktu yang
diperlukan oleh zat cair tersebut, catat pula suhu pada termometer sebagai suhu
akhir (Ta).
g. Ulangi langkah pada poin f sebanyak 3 kali, masing-masing untuk minyak dan
aquadest.
h. Catat rapat massa yang terbaca pada skala hidrometer.
i. Naikkan suhu water bath menjadi 40
o
C (kira-kira 5 menit). Tunggu 5 menit agar
suhu fluida sama dengan suhu water bath.
j. Ulangi langkah pada poin e,f, dan g.
k. Ulangi percobaan untuk suhu 50, 60, dan 70
o
C.
l. Matikan water bath setelah semua percobaan selesai dan kembalikan minyak
goreng ke botol penyimpannya serta bersihkan alat-alat.

4. Penimbangan
a. Bersihkan kemudian timbang piknometer kosong 25 mL beserta tutupnya dengan
neraca analitis digital dan catat hasilnya.
b. Timbang piknometer 25 mL yang berisi aquadest sampai penuh, dengan neraca
analitis digital dan catat hasilnya.
c. Keluarkan aquadest dari piknometer dan keringkan.
d. Timbang piknometer 25 mL yang berisi larutan NaCl 15% dengan neraca analitis
digital dan catat hasilnya.
e. Kembalikan larutan NaCl 15% ke botol penyimpanan dan bersihkan piknometer.

D. Analisis Data
1. Menentukan Rapat Massa Zat Cair
a. Menentukan rapat massa zat cair
Massa cairan = (massa piknometer+tutup+cairan) – (massa piknometer
kosong+tutup) (13)
Volume cairan = volume piknometer (14)
Rapat massa cairan =
Vcairan
n massacaira

(15)
b. Menghitung kesalahan relatif perhitungan rapat massa zat cair
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

61

Rapat massa referensi dapat diketahui dengan metode interpolasi berdasarkan
data yang didapatkan dari literatur.
1-1
1
1
2
- 1
1
=
p- p
1
p
2
- p
1
(16)
K-K
1
k
2
- k
1
=
p- p
1
p
2
- p
1
(17)
dengan, T = suhu (ᵒC)
ρ = rapat massa (g/mL)
k = konsetrasi (%)

Kesalahan relatif = % 100 x
referensi
percobaan referensi
ρ
ρ ρ −
(18)

2. Menentukan Tegangan Muka dengan Metode Tekanan Maksimum Gelembung
• h
1
= 2 (hm-h
0
) (19)
• ”
1
’’’
=
n
h
∑ 1
(20)

• ”
2
’’’
=
n
h
∑ 2
(21)

• r =
Ð
2
(22)




• Tegangan Muka (γ)

(
(
¸
(

¸

− =
__
2 2
__
1 1
2
1
h h gr ρ ρ γ
(23)
dengan, g = percepatan gravitasi bumi (981 cm/s
2
)
r = jari – jari pipa kapiler (cm)
D = diameter pipa kapiler (cm)
ρ
1
= rapat massa cairan pada manometer (g/mL)
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

62

ρ
2
= rapat massa cairan uji (g/mL)
˜’ = tegangan muka (
uyne
cm
)
h
0
= ketinggian cairan pada manometer sebelum pipa kapiler dicelupkan
(ketika ketinggian kaki kiri dan kanan manometer sama) (cm)
h
m
= ketinggian cairan pada kaki terbuka manometer ketika terbentuk ½
gelembung pada ujung pipa kapiler yang tercelup (cm)
h
1
= selisih ketinggian cairan pada manometer (cm)
h
2
= kedalaman pipa yang tercelup dari permukaan (cm)
ℎ1
’’’’
= selisih ketinggian rata – rata cairan pada manometer (cm)
”2
’’’’
= keualaman pipa iata -iata uaii peimukaan caiian (cm)
n = jumLah percobaan
Lakukan perhitungan yang sama untuk aquadest dan larutan NaCl 15%.

3. Menentukan Tegangan Muka dengan Metode Kenaikan Pipa Kapiler

n
h
h

=
__
(24)

• r =
Ð
2
(25)
• h r g ρ γ
2
1
=
(26)



˜ iata -iata(˜’) =
∑š
n
(27)
dengan, h = tinggi cairan dalam pipa kapiler (cm)


= tinggi cairan rata –rata dalam pipa kapiler (cm)
D = diameter pipa kapiler (cm)
g = percepatan gravitasi bumi (981 cm/s
2
)
r = jari - jari pipa kapiler (cm)
ρ = rapat massa zat cair (g/mL)
n = jumLah percobaan

Lakukan perhitungan yang sama untuk aquadest dan larutan NaCl 15%.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

63

4. Menentukan Kesalahan Relatif Rata – Rata ˜’ (Tegangan Muka) Aquadest
H referensi diketahui dengan metode interpolasi berdasarkan data yang didapatkan
dari literatur.
T-T
1
T
2
- T
1
=
—- —
1

2
- —
1
(28)

dengan, T= suhu (ᵒC)
γ = tegangan muka (dyne/cm)
Kesalahan relatif pengukuran tegangan muka aquadest baik untuk metode tekanan
maksimum gelembung maupun kenaikan pipa kapiler dihitung dengan rumus
berikut:
Kesalahan relatif = ¡

¡eIe¡ens¡
- —
¡e¡cobaan

¡eIe¡ens¡
¡ × 1uu% (29)

5. Kekentalan Zat Cair
• ( )
3 2 1
__
3
1
t t t t + + =
(30)

• T

=
( T
avaI
+ T
aRh¡¡
)
2
(31)
• r =
Ð
¡iskcsimctcr cstwcld
2
(32)
• µ
rcIatII
=
µ
m¡nyaR
µ
cqucdcst
=
p ¡
4
t

p
ƒ
¡
ƒ
4
t
ƒ
’’’
(33)


Dengan, μ = vskositas (cp)
ρ
0
= rapat massa aquadest (g/mL)
ρ = rapat massa minyak (g/mL)
r
0
= jari – jari viskosimeter Ostwald untuk aquadest (cm)
r = jari – jari viskosimeter Ostwald untuk minyak (cm)

o
t = waktu alir rata –rata aquadest (detik)
t = waktu alir rata – rata minyak (detik)

• μ
•InamIk mInyak = µ
¡eIat¡I
× µ
standa¡ (aquadest)
(34)
Mencari hubungan suhu dengan viskositas dinamik zat cair.
T
A
Be = µ
(35)

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

64

T
A
B + = ln ln µ
(36)

Misalkan y = ln μ
b = ln B
a = A
x = 1 T

/
Diselesaikan dengan regresi linear:
Persamaan (36) menjadi: y = b +ax
a =
n∑(xy)- ∑x ∑y
n(∑x
2
)-(∑x)
2
(37)
b =
∑y-a∑x
n
(38)
Kemudian dibuat grafik hubungan antara ln μ dengan 1/T

dan µ dengan T

.

Kesalahan relatif persamaan linier = ¡
Inµ pc¡co•uun-Inµ pc¡sumuun
Inµ pc¡co•uun
¡ × 1uu% (39)
Kesalahan relatif persamaan eksponensial = ¡
µ pc¡co•uun-µ pc¡sumuun
µ pc¡co•uun
¡ × 1uu% (40)
Lalu dihitung kesalahan relatif rata-rata untuk masing-masing persamaan (kesalahan relatif
rata – rata untuk persamaan linier dan untuk persamaan eksponensial).
Kesalahan relatif rata – rata =
∑KcsuIuhun ¡cIutì]
n
(41)


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Poin-poin dalam hasil dan pembahasan:
• Asumsi- asumsi yang digunakan dalam praktikum.
• Data/Grafik beserta penjelasan.
• Perbandingan hasil praktikum dengan teori yang ada .
• Faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan muka (diamati dari praktikum).
• Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas (diamati dari praktikum).
• Penyebab penyimpangan hasil percobaan dengan teori (jika menyimpang).

V. KESIMPULAN
Poin-poin dalam kesimpulan:
• Hasil perhitungan (dibuat poin-poin).
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

65

• Kecenderungan data yang didapat (contoh: semakin tinggi ... maka ... akan semakin
besar).

VI. DAFTAR PUSTAKA.
Bird, T., 1993, ”Kimia Fisika Untuk Universitas”, Gramedia, Jakarta.
Daniels, F., J. H. Mathews, J. W. Williams, P. Bender, G. W. Murphy, R. A. Alberty,
1956, ”Experimental Physical Chemistry”, 5 ed., McGraw-Hill Book Company,
Inc., New York.
Sukardjo, 1985, ”Kimia Fisika”, hal. 101-109, Bina Aksara, Jakarta.
Welty, J.R., Wicks, C.E., Wilson, R.E., dan Rorrer G., Dasar-Dasar Fenomena
Transport, Alih Bahasa Ir.Gunawan Prasetio, MBA, Volume 1, Cetakan
Keempat, Jakarta:Erlangga, 2004.

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Paparkan bahaya dari bahan yang digunakan dan juga bahaya yang dapat timbul dari
penggunaan alat dan juga unsafe act. Lengkapi juga dengan cara mengatasinya.

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
Paparkan alat perlindungan diri yang perlu digunakan saat praktikum beserta alasan.

C. Manajemen Limbah
Bahas setiap limbah yang dihasilkan dari praktikum ini, dan jelaskan penanganannya.
Limbah diklasifikasi berdasarkan fasaya : padat, cair, gas.

D. Data Percobaan
E. Perhitungan
(Grafik hasil perhitungan diletakkan di pembahasan, sedangkan nomograph
diletakkan di perhitungan).


Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

66

LAPORAN SEMENTARA
PENGUKURAN TEGANGAN MUKA DAN
KEKENTALAN ZAT CAIR
(E)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.
2. 2.
Hari/Tanggal :
Asisten : Kikis Yulianti/Ardina Lukita Diyani Putri

DATA PERCOBAAN
A. Pengukuran Tegangan Muka
1. Metode tekanan Maksimum Gelembung
No
Aquadest,T=
o
C
No
NaCl …..% ,T=
o
C
Diameter Pipa = cm Diameter Pipa = cm
ho,cm hm,cm h2,cm ho,cm hm,cm h2,cm
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5

2. Metode Kenaikan Kapiler
No.
Aquadest, T=
o
C
Pipa 1,d= cm Pipa 2,d= cm Pipa 3,d= cm
1.
2.
3.
4.
5.




Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

67

No.
NaCl ....%, T=
o
C
Pipa 1,d= cm Pipa 2,d= cm Pipa 3,d= cm
1.
2.
3.
4.
5.

3. Penimbangan
No Objek yang ditimbang Berat,gram
1
2
3

B. Pengukuran Kekentalan Zat Cair
No
Suhu (T) ρ
minyak
,g/mL
t minyak t aquadest
To,
o
C Ta,
o
C 1 2 3 1 2 3
1
2
3
4
5

Yogyakarta,
Asisten Jaga, Praktikan,
1.

2.







Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

68

ANALISIS VOLUMETRI
(F)

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan konsentrasi larutan standar NaOH dengan titrasi asidimetri-alkalimetri.
2. Menentukan konsentrasi larutan standar Na
2
S
2
O
3
dengan titrasi iodometri.

II. DASAR TEORI
Analisis volumetri adalah analisis kimia kuantitatif dengan mengukur volume
larutan standar yang dapat bereaksi dengan suatu senyawa dalam larutan yang akan
ditentukan konsentrasinya. Analisis dilakukan dengan cara titrasi, yaitu menambahkan
larutan standar tetes demi tetes melalui buret ke dalam erlenmeyer yang berisi larutan yang
akan ditentukan konsentrasinya. Titrasi dihentikan saat reaksi sempurna tercapai, yang
disebut juga titik ekivalen. Meskipun tercapainya titik ekivalen kemungkinan dapat diketahui
dengan adanya perubahan pada larutan yang dititrasi (misalnya timbul endapan, atau
terbentuk senyawa kompleks), namun untuk memperjelas, kadang diperlukan indikator yang
sesuai yang memberikan perubahan (warna) yang jelas, sehingga akhir titrasi dapat diketahui
(titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik ekivalen.
Larutan standar adalah larutan suatu zat yang konsentrasinya atau normalitasnya
sudah diketahui dengan pasti. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam molaritas. Molaritas
menyatakan jumLah mol zat terlarut dalam setiap liter larutan. Sedangkan normalitas
menyatakan banyaknya mol ekivalen (grek) zat terlarut dalam setiap liter larutan. Untuk
asam, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion H
+
. Dan untuk basa, 1 mol ekivalennya
sebanding dengan 1 mol ion OH
-
. Sehingga, dapat dituliskan persamaan yang
menghubungkan normalitas dengan molaritas sebagai berikut.
N = M x valensi (1)
dengan, N = Normalitas larutan
M = Molaritas larutan
Valensi = Valensi dari zat terlarut
Larutan dari bahan yang mempunyai kemurnian yang tinggi, mempunyai berat
ekivalen yang tinggi, stabil (sehingga beratnya dapat diketahui dengan pasti), mudah larut
dalam air atau pelarut lainnya, disebut larutan standar primer. Misalnya larutan dari H
2
C
2
O
4,

K
2
Cr
2
O
7
, Na
2
B
4
O
7
.10H
2
O. Jadi larutan standar primer dapat langsung digunakan pada titrasi
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

69

tanpa harus di standarisasi terlebih dahulu. Sedang larutan standar sekunder (misalnya HCl,
Na
2
S
2
O
3
) harus distandarisasi lebih dahulu dengan larutan standar primer bila akan
digunakan untuk menentukan normalitas larutan yang ingin diketahui konsentrasinya.
Berdasarkan reaksi yang terjadi dalam proses titrasi, analisis volumetri/ analisis
titrimetri digolongkan menjadi :
1. Asidi-alkalimetri (netralisasi)
2. Oksidimetri-reduksi (redoks)
3. Pengendapan
4. Pembentukan kompleks
Dalam praktikum ini hanya Asidimetri-alkalimetri dan Oksidimetri-reduksi (redoks)
yang dipraktekkan.
1. Titrasi Asidi - Alkalimetri
Asidimetri adalah titrasi terhadap suatu basa bebas atau larutan garam terhidrolisis
yang berasal dari suatu asam lemah dan basa kuat dengan larutan standar asam kuat.
Sedangkan alkalimetri adalah titrasi terhadap suatu larutan asam bebas atau larutan garam
terhidrolisis yang berasal dari suatu basa lemah dan asam kuat dengan larutan standar basa
kuat. Untuk menentukan konsentrasi larutan NaOH digunakan larutan standar HCl
(Asidimetri), yang diketahui konsentrasi, setelah larutan HCl tersebut distandarisir dengan
larutan boraks (standar primer). Reaksi yang terjadi:
Na
2
B
4
O
7(aq)
+ 5H
2
O
(l)
+ 2HCl
(aq)
2NaCl
(aq)
+4H
3
BO
3(aq)
(2)
Terbentuknya asam lemah H
3
BO
3
membuat pH larutan pada titik akhir titrasi < 7.
Oleh karena itu digunakan indikator methyl orange yang memiliki trayek pH 3,1 - 4,4.
Indikator ini memberikan perubahan warna dari orange menjadi merah bata pada saat titik
ekivalen tercapai. Berdasarkan berat (yang tepat) boraks yang dilarutkan dan volum HCl
(yang tepat) yang diperlukan sampai perubahan warna terjadi, konsentrasi HCl dapat
diketahui. Selanjutnya larutan standar HCl digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan
NaOH. Pada saat titik ekivalen, seluruh NaOH bereaksi sempurna dengan HCl membentuk
garam NaCl, sebagai berikut:
NaOH
(aq)
+ HCl
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)
(3)
Karena NaCl adalah garam netral, maka pH larutan pada titik ekivalen sekitar 7,
maka digunakan indikator phenolphtalein yang memiliki trayek pH 8,3-10 dan memberikan
perubahan warna dari merah muda menjadi tidak berwarna.
2. Titrasi Redoks
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

70

Titrasi Redoks adalah metode penentuan kuantitatif yang reaksi utamanya adalah
reaksi oksidasi dan reduksi. Reaksi ini hanya dapat berlangsung kalau terjadi interaksi dari
senyawa/unsur/ion yang bersifat oksidator dengan senyawa/unsur/ion yang bersifat reduktor.
Jadi kalau larutan standarnya oksidator, maka analat harus bersifat reduktor atau sebaliknya.
Berdasarkan jenis oksidatornya maka titrasi Redoks digolongkan antara lain:
Permanganometri (bila larutan standar primer yang digunakan KmnO4), Dikhrometri
(larutan standar primer yang digunakan K
2
Cr
2
O
7
), Iodimetri/Iodometri (larutan standar
primer I
2
langsung/tidak langsung). Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan
proses iodimetri/ iodometri adalah natrium thiosulfat (biasanya berbentuk pentahidrat
Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O). Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama, oleh karena
itu konsentrasi yang tepat harus distandarisasi dengan larutan standar primer I
2
. Pada
praktikum ini, konsentrasi larutan standar Na
2
S
2
O
3
ditentukan dengan titrasi Iodometri tidak
langsung, menggunakan larutan standar primer I
2
yang dibebaskan dari reaksi oksidasi KI
dengan K
2
Cr
2
O
7
dalam suasana asam (dengan penambahan HCl atau H
2
SO
4
). Reaksi yang
terjadi:
Cr
2
O
7
2-
(aq)
+ 6I
-
(aq)
+ 14H
+
(aq)
↔ 2Cr
3+
(aq)
+ 3I
2(g)
+ 7H
2
O
(l)
(4)
Pada reaksi ini digunakan KI berlebih, agar semua Cr
2
O
7
2-
bereaksi dan sisa KI
berguna untuk melarutkan I
2
yang terbentuk (I
2
sangat sedikit/tidak larut dalam air tapi
mudah larut dalam dalam larutan yang mengandung ion iodida/ KI membentuk kompleks
Iodida : I
2
+I
-
I
3
-
yang mudah larut dalam air). Selanjutnya Iodium (I
2
) yang timbul dititrasi
dengan larutan standar natrium thiosulfat (Na
2
S
2
O
3
).
Pati/amilum adalah indikator yang digunakan dalam titrasi Na
2
S
2
O
3
, karena amilum
membentuk kompleks dengan I
2
yang menimbulkan warna biru tua yang masih jelas
meskipun hanya terdapat sedikit I
2
. Pada titik ekivalen, iod yang terikat akan hilang sehingga
warna biru akan pudar dan perubahan warna dapat diamati. Penambahan amilum dilakukan
pada saat titik akhir titrasi hampir tercapai (saat iod yang tersisa dalam larutan tinggal
sedikit), yang ditandai dengan terbentuknya warna coklat pada larutan. Hal ini dilakukan agar
amilum tidak membungkus iod, yang mengakibatkan warna biru tua sulit hilang dan
akibatnya titik akhir titrasi tidak dapat diamati.
Perubahan warna yang dapat diamati selama iodometri berlangsung:
a. Pada saat penambahan K
2
Cr
2
O
7
pada larutan yang berisi Na
2
CO
3
, KI, dan HCl pekat,
terjadi perubahan dari tidak berwarna menjadi coklat pekat/ gelap. Perubahan warna
ini menandakan terjadinya reaksi antara ion kromat pada K
2
Cr
2
O
7
dengan ion iod.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

71

b. Pada saat titrasi larutan campuran Na
2
CO
3
, KI, HCl dan K
2
Cr
2
O
7
dengan
menggunakan larutan Na
2
S
2
O
3
, terjadi perubahan warna dari coklat gelap menjadi
coklat bening. Perubahan ini menunjukan terjadinya reaksi berikut:
2S
2
O
3
2-
(aq)
+ I
2(g)
S
4
O
6
2-
(aq)
+ 2I
-
(aq)
(5)
c. Setelah amilum diteteskan, terjadi perubahan warna dari coklat bening menjadi biru
kehitaman/ gelap. Hal ini disebabkan oleh amilum yang mengikat iod menjadi
iodamilum sehingga terjadi perubahan warna.
d. Pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna dari biru gelap menjadi hijau
kebiruan, yaitu saat Na
2
S
2
O
3
kembali ditambahkan ion sulfit bereaksi dengan sisa
iod (yang sudah terikat pada amilum).

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. HCl 0,1 N
2. Aquadest
3. Boraks (Na
2
B
4
O
7
.10H
2
O)
4. Natrium hidroksida (NaOH)
5. Indikator methyl orange (m.o)
6. Indikator phenol pthalein (p.p)
7. Kalium dikromat (K
2
Cr
2
O
7
) 0,1 N
8. Natrium tiosulfat pentahidrat
(Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O)
9. Natrium karbonat (Na
2
CO
3
)
10. Kalium Iodida (KI)
11. Pati
B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar rangkaian
alat berikut:

Keterangan :
1. Buret 50 mL
2. Kran Buret
3. Erlenmeyer
4. Titran
5. Titrat



Gambar 1. Rangkaian Alat Titrasi
1
4
2
3
5
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

72

C. Cara Percobaan
Asidimetri – Alkalimetri
1. Standarisasi larutan standar HCl 0,1 N
a. Timbang 0,2 gram boraks dalam gelas arloji dengan neraca analitis digital.
b. Masukkan boraks ke dalam erlenmeyer 250 mL dengan bantuan corong gelas.
c. Semprot sisa-sisa boraks yang menempel pada gelas arloji sehingga semua boraks
masuk ke dalam erlenmeyer
d. Tambahkan aquadest hingga volumenya 30 mL.
e. Goyang- goyang erlenmeyer hingga larutan homogen.
f. Tambahkan 3-5 tetes methyl orange.
g. Isi buret dengan larutan standard HCl 0,1 N sampai tanda batas nol.
h. Titrasi larutan boraks hingga titik ekivalen tercapai.
i. Catatlah volume larutan HCl yang diperlukan.
j. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

2. Pembuatan larutan NaOH 0,1 N
a. Siapkan 10 mL aquadest dalam gelas beker 100 mL
b. Timbang 0,4 gram NaOH dengan botol timbang.
c. Masukkan NaOH ke dalam gelas beker, lalu aduk hingga homogen.
d. Pindahkan larutan NaOH ke dalam labu ukur 100 mL, tambahkan aquadest hingga
tanda batas dan gojog hingga homogen.

3. Penentuan konsentrasi larutan NaOH 0,1 N
a. Ambil 10 mL larutan NaOH 0,1 N dengan pipet volum 10 mL lalu tuang ke dalam
erlenmeyer 125 mL.
b. Tambahkan 3 tetes indikator phenolpthalein.
c. Isi buret dengan larutan standard HCl 0,1 N sampai tanda batas nol.
d. Titrasi larutan NaOH sampai titik ekivalen.
e. Catat volume larutan HCl yang diperlukan.
f. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

4. Penentuan konsentrasi larutan NaOH X N
a. Ambil 10 mL larutan NaOH X N dengan pipet volum 10 mL lalu tuang ke dalam
erlenmeyer 125 mL.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

73

b. Tambahkan 3 tetes indikator phenolpthalein.
c. Isi buret dengan larutan standard HCl 0,1 N sampai tanda batas nol.
d. Titrasi larutan NaOH sampai titik ekivalen.
e. Catat volume larutan HCl yang diperlukan.
f. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

Iodometri
1. Pembuatan larutan standar Na
2
S
2
O
3

a. Timbang 2,5 gram Na
2
S
2
O
3
dalam gelas arloji menggunakan neraca analitis digital.
b. Masukkan Na
2
S
2
O
3
ke dalam gelas beker 250 mL yang berisi aquadest 50 mL lalu
aduk sampai larut.
c. Saring larutan menggunakan kertas saring dan tuangkan larutan ke dalam labu ukur
100 mL.
d. Tambahkan aquadest hingga batas dan gojog hingga homogen.

2. Pembuatan indikator pati
a. Timbang 0,1 gram pati dalam gelas arloji dengan neraca analisis digital.
b. Masukkan pati ke dalam gelas beker 250 mL.
c. Tambahkan aquadest sampai volume ±50 mL.
d. Panaskan larutan pati sambil diaduk hingga mendidih

3. Peneraan larutan Na
2
S
2
O
3

a. Timbang 3 gram KI dan 1 gram Na
2
CO
3
dalam gelas arloji menggunakan neraca
analitis digital.
b. Masukkan KI dan Na
2
CO
3
ke dalam erlenmeyer 250 mL bertutup yang berisi 50 mL
aquadest.
c. Goyang-goyang erlenmeyer hingga larutan homogen.
d. Tambahkan HCl pekat 1:1 sejumLah ±5 mL ke dalam erlenmeyer dengan pipet
volum 5 mL sambil digoyang pelan.
e. Tambahkan larutan K
2
Cr
2
O
7
yang telah disediakan dengan pipet volum 25 mL dan
goyangkan hingga homogen.
f. Tutup erlenmeyer dengan gelas arloji dan simpan di tempat gelap ±10 menit.
g. Isi buret dengan larutan Na
2
S
2
O
3
sampai tanda batas nol.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

74

h. Titrasi larutan K
2
Cr
2
O
7
dalam erlenmeyer bertutup tadi dengan larutan Na
2
S
2
O
3

sampai berwarna coklat muda.
i. Tambahkan indikator pati sampai larutan menjadi biru kehitaman.
j. Lanjutkan titrasi hingga larutan berubah warna menjadi hijau kebiruan.
k. Catat volume larutan Na
2
S
2
O
3
yang diperlukan.
l. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

D. Analisis Data
1. Menghitung normalitas HCl teoritis
N
HCI
=
10 v
1
nKp
v
2

(6)
dengan, N
HCl
= normalitas HCl, N
V
1
= volum HCl pekat, mL
n = jumLah H
+
dalam molekul HCl
K = kadar HCl pekat, %
ρ = massa jenis HCl, g/mL
V
2
= volum setelah pengenceran, mL
Mr = massa molekul relatif HCl = 35,5 g/mol


2. Standarisasi HCL dengan boraks
Normalitas HCl yang sebenarnya :
N
HCI
=
2 m
bcrcks
v
HCl

bcrcks
(7)
dengan, N
HCl
= normalitas HCl yang sebenarnya, N
m
boraks
= massa boraks, mg
Mr
boraks
= massa molekul relatif boraks = 382 mg/mmol
V
HCl
= volum HCl untuk titrasi, mL

3. Standarisasi NaOH dengan HCl
• Normalitas NaOH teoritis :
N
Nu0H
=
m n
M¡ v
NcOH
(8)
dengan, N
NaOH
= normalitas NaOH, N
m = massa NaOH, mg
n = jumLah OH
-
dalam molekul NaOH = 1
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

75

Mr = massa molekul relatif NaOH = 40 mg/mmol
V
HCl
= volum larutan NaOH, mL
• Normalitas NaOH sebenarnya :
N
Nu0H
=
N
HCl
v
HCl
v
NcOH
(9)
dengan, N
NaOH
= normalitas NaOH sebenarnya, N
V
NaOH
= volum NaOH yang dititrasi, mL
N
HCl
= normalitas HCl sebenarnya untuk titrasi, N
V
HCl
= volum HCl untuk titrasi, mL
4. Standarisasi larutan NaOH X N dengan HCl
Normalitas NaOH X N dihitung dengan persamaan berikut:
N
Nu0H X N
=
N
HCl
v
HCl
v
NcOH X N
(10)
dengan, N
NaOH X N
= normalitas NaOH X N, N
V
NaOH X N
= volum NaOH X N yang dititrasi, mL
N
HCl
= normalitas HCl sebenarnya untuk titrasi, N
V
HCl
= volum HCl untuk titrasi, mL

5. Standarisasi Na
2
S
2
O
3

• Normalitas Na
2
S
2
O
3
teoritis :
N
Nu
2
S
2
0
3
=
mNu
2
S
2
0
3
M¡Nu
2
S
2
0
3
vNu
2
S
2
0
3
(11)
dengan, N Na
2
S
2
O
3
= normalitas larutan Na
2
S
2
O
3
, N
m Na
2
S
2
O
3
= massa Na
2
S
2
O
3
, mg
Mr Na
2
S
2
O
3
= massa molekul relatif Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O = 248 mg/mmol
V Na
2
S
2
O
3
= volum larutan Na
2
S
2
O
3
, mL
• Normalitas K
2
Cr
2
O
7
sebenarnya :
N
K
2

2
0
¨
=
6 mK
2

2
0
¨
M¡K
2

2
0
¨
vK
2

2
0
¨
(12)
dengan, N K
2
Cr
2
O
7
= normalitas larutan K
2
Cr
2
O
7
sebenarnya, N
m K
2
Cr
2
O
7
= massa K
2
Cr
2
O
7
, mg
Mr K
2
Cr
2
O
7
=massa molekul relatif K
2
Cr
2
O
7
= 294 mg/mmol
V K
2
Cr
2
O
7
= volum larutan K
2
Cr
2
O
7
, mL
• Normalitas Na
2
S
2
O
3
sebenarnya :
N
Nu
2
S
2
0
3
=
v
K
2
Cr
2
O
¨
N
K
2
Cr
2
O
¨
v
Na
2
5
2
O
3
(13)
dengan, N Na
2
S
2
O
3
= normalitas larutan Na
2
S
2
O
3
sebenarnya, N
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

76

V K
2
Cr
2
O
7
= volum larutan K
2
Cr
2
O
7
, mL
N K
2
Cr
2
O
7
= normalitas larutan K
2
Cr
2
O
7
sebenarnya, N
V Na
2
S
2
O
3
= volum larutan Na
2
S
2
O
3
, mL
6. Menghitung rata-rata normalitas suatu larutan
n
N
rata Nrata

= −
(14)

dengan, N
rata-rata
= normalitas rata-rata, N
Σ N = jumLah normalitas data hasil percobaan, N
n = jumLah data (3)

IV. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

V. KESIMPULAN

VI. DAFTAR PUSTAKA
Day, R. A. and Underwood, A. L., 1991, “Quantitative Analysis”, pp. 43-51, Prentice-Hall
International, New Jersey.
Perry, R. H. and Green, D. W., 1950, “Perry’s Chemical Engineer’s Handbook”, 6ed., pp. 3-
14, 3-19, 3-22, McGraw-Hill Book Company Inc., New York.
Skoog, A.D., West, D.M., and Holler, F.J., 1994, “Analytical Chemistry An Introduction”,
6ed., pp. 150-153, Sounders College Publishing, Orlando.
Vogel, A.I, 1958, “Text Book of Quantitative Inorganic Analysis”, 2ed., pp. 43-45, 52, 150-
160, 229-233, Longman, Green and Co., London.








Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

77

VII. LAMPIRAN
A. Indentifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
1. Hazard Bahan Kimia
Berisi sifat-sifat fisis maupun sifat kimia dari bahan-bahan yang dipakai dalam
praktikum ini.
2. Hazard Proses
Penjelasan tentang potensi bahaya dari proses-proses yang terjadi selama
praktikum berlangsung misalnya saat pengambilan HCl, penimbangan bahan,
proses titrasi, dll.

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
a. Jas Laboratorium
b. Masker
c. Sarung tangan
d. Sepatu tertutup
e. Goggle

C. Manajemen Limbah
Berkaitan dengan pembuangan limbah hasil praktikum sesuai kandungan senyawa
yang ada dalam limbah tersebut.


D. Data Percobaan

E. Perhitungan








Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

78

LAPORAN SEMENTARA
ANALISIS VOLUMETRI
(F)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.
2. 2.
3. 3.
Hari/Tanggal :
Asisten :

DATA PERCOBAAN
1. Alkalimetri dan Asidimetri
Rapat massa HCl pekat = g/mL
Kadar HCl pekat = %
Volum HCl pekat = mL
Volum HCl encer = mL

a) Peneraan larutan HCl
No. Berat Boraks, gram Volume HCl untuk titrasi, mL
1
2
3

b) Peneraan larutan NaOH
Massa NaOH = gram
Volum NaOH = mL
No. Volume NaOH, mL Volume HCl untuk titrasi, mL
1
2
3




Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

79

c) Peneraan larutan NaOH X N
No. Volume NaOH X N, mL Volume HCl untuk titrasi, mL
1
2
3

Iodometri
Massa Na
2
S
2
O
3
= gram
Volum larutan Na
2
S
2
O
3
= mL
Massa K
2
Cr
2
O
7
= gram
Volum larutan K
2
Cr
2
O
7
= mL
Massa Pati = gram
Massa KI I = gram
Massa Na
2
CO
3
I = gram
Massa KI II = gram
Massa Na
2
CO
3
II = gram
Massa KI III = gram
Massa Na
2
CO
3
III = gram

a) Peneraan larutan Na
2
S
2
O
3

No. Volume K
2
Cr
2
O
7
, mL Volume Na
2
S
2
O
3
untuk titrasi, mL
1
2
3

Yogyakarta,
Asisten Jaga, Praktikan,
1.

2.

3.





Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

80

ANALISIS GRAVIMETRI
(G)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menetukan kemurnian pupuk ZA dengan
menggunakan metode analisis gravimetri.

II. DASAR TEORI
Analisis gravimetric adalah analisis kuantitatif berdasarkan bobot yang digunakan
melalui proses isolasi dan penimbangan suatu unsure atau senyawa tertentu dari unsure
tersebut dalam bentuk semurni mungkin (Vogel : 1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan analisis gravimetric adalah :
1. Sifat fisik endapan
2. Daya larut endapan
Analisis gravimetri dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Analisis kualitatif, yaitu analisis untuk mengetahui jenis ion dalam senyaw tertentu.
Contoh: ion Cl
-
pada larutan garam dapur.
2. Analisis kuantitatif, yaitu analisis untuk mengetahui jumlah atau kadar atau
konsentrasi suatu ion dalam senyawa tertentu. Contoh: penentuan konsentrasi ion
SO
4
2-
dalam larutan ammonium sulfat (ZA).
Analisis gravimetri harus melalui beberapa tahapan, yaitu pengendapan,
penyaringan, pencucian, dan pemijaran serta penimbangan.
a. Tahap pengendapan
Tahap ini merupakan tahap pembentukan inti dari ion-ion molekul yang akan
diendapkan. Pada proses pengendapan ini digunakan pupuk ZA [(NH
4
)
2
SO
4
] dan
BaCl
2
yang bereaksi membentuk endapan BaSO
4
. Reaksi yang terjadi adalah :
(NH
4
)
2
SO
4(aq)
+ BaCl
2(aq)
BaSO
4(s)
+ 2NH
4
Cl
(aq)
(1)
b. Tahap penyaringan
Penyaringan bertujuan untuk memisahkan cairan dan endapan dalam larutan.
Kertas saring yang digunakan adalah kertas saring whatman 40 agar setelah
pemijaran, endapan yang diperoleh berupa garam sulfat murni dan bebas abu.

c. Tahap pencucian
Tahap pencucian berfungsi untuk menghilangkan kotoran yang teradsorpsi
pada endapan BaSO
4
, jika tidak dihilangkan maka akan mempengaruhi hasil
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

81

penimbangan. Selain itu, tahap pencucian berfungsi untuk mengambil endapan
BaSO
4
yang melekat di gelas beker agar endapan BaSO
4
tidak ada yang tertinggal.
Untuk memastikan endapan telah benar-benar bersih dari ion-ion, seperti ion
Cl
-
, dilakukan pengetesan menggunakan larutan AgNO
3
. Hal ini bertujuan untuk
mendeteksi keberadaan ion Cl
-
dalam larutan sesuai reaksi:
AgNO
3(aq)
+ Cl
-
(aq)
→ AgCl
(s)
+ NO
3
-
(aq)
(2)
Bila ion Cl
-
sudah tidak ada, maka hasil penambahan larutan AgNO
3
tidak
menyebabkan kekeruhan sehingga pencucian tidak diperlukan lagi.
d. Tahap pemijaran
Pada tahap pemijaran digunakan muffle furnace sebagai pemijarnya bukan
oven biasa. Hal inidikarenakan, oven tidak bisa mencapai suhu tinggi yang
mencapai 800
o
C sedangkan untuk memijarkannya harus mencapai 800
o
C.
Sehingga dipilih muffle furnace yang dapat mencapai suhu tersebut.
e. Tahap penimbangan
Penimbangan dilakukan setelah krus yang telah berisi endapan didinginkan
dalam eksikator agar suhu krus sama dengan suhu lingkungan. Penyeimbangan
suhu dimaksudkan agar suhu krus yang masih tinggi tidak dimasukkan ke neraca,
sebab suhu tinggi dapat merusak neraca.


Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

82

III.PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam analisis gravimetri ini adalah:
1. Pupuk ZA ((NH
4
)
2
SO
4
) merk Riedel de Haen.
2. Larutan BaCl
2
.2H
2
O 5% merk merck.
3. Larutan AgNO
3
1% merk merck.
4. Kertas saring whatman 40.
5. Aquadest.

B. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh rangkaian alat berikut
:










Gambar 1.Rangkaian Alat Pengendapan

Keterangan:

1. Gelas Arloji
2. Gelas Beker 250 ml
3. Larutan ZA
4. Gelas Pengaduk
5. Asbes
6. Kompor Listrik
7. Steker
8. Knop Pengatur
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

83

C. Cara Percobaan
1. Tahap Pengendapan
a. Timbang pupuk ZA sebanyak 0,1 gram dengan gelas arloji menggunakan neraca
analitis digital.
b. Ambil 50 mL aquadest dengan gelas ukur 100 mL lalu tuangkan ke dalam gelas
beker 250 mL.
c. Masukkan ZA ((NH
4
)
2
SO
4
) yang sudah ditimbang ke dalam gelas beker 250 mL
yang berisi aquadest kemudian aduk hingga homogen.
d. Panaskan gelas beker 250 mL yang berisi larutan ZA ((NH
4
)
2
SO
4
) di atas kompor
listrik dalam keadaan tertutup oleh gelas arloji dan diberi gelas pengaduk hingga
mendidih.
e. Matikan kompor listrik setelah mendidih, turunkan gelas beker 250 mL dari
kompor listrik dan tunggu hingga larutan agak dingin.
f. Ambil 7,50 mL BaCl
2
5% dengan pipet ukur 10 mL dan masukkan ke dalam
gelas ukur 10 mL.
g. Masukkan BaCl
2
5% setetes demi setetes dengan pipet tetes ke dalam larutan ZA
yang sudah agak dingin sambil diaduk dengan gelas pengaduk.
h. Panaskan larutan lagi dengan kompor listrik hingga mendidih.
i. Matikan kompor listrik dan turunkan gelas beker 250 mL.
j. Dinginkan larutan hingga terbentuk endapan dan larutan bening.
k. Lakukan pengetesan dengan cara mengambil 10 mL BaCl
2
5% dengan pipet ukur
10 ml dan masukkan ke dalam gelas ukur 10 mL. Teteskan BaCl
2
5% tersebut ke
dalam larutan ZA dengan pipet tetes, setetes demi setetes sampai tidak terjadi
aliran endapan (seperti aliran minyak).
l. Catat volume BaCl
2
5% yang digunakan selama pengetesan.
m. Lakukan percobaan sekali lagi dari langkah a sampai langkah m.

2. Tahap Penyaringan
a. Lipat kertas saring Whatman 40 (kertas saring bebas abu) hingga seperempat
lingkaran.
b. Pasang ke dalam corong gelas.
c. Basahi kertas saring menggunakan aquadest hangat sambil ditekan-tekan dengan
gelas pengaduk hingga menempel sempurna di corong gelas (tidak ada rongga).
Hati-hati saat menekan kertas saring.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

84

d. Tuangkan larutan ke corong gelas, sedikit demi sedikit dengan bantuan gelas
pengaduk hingga semua larutan habis.

3. Tahap Pencucian
a. Panaskan 400 mL aquadest dalam gelas beker 500 mL menggunakan kompor
listrik sampai suhu 30
o
C – 40
o
C dan masukkan ke dalam botol semprot.
b. Lakukan pencucian dengan menyemprotkan aquadest hangat dari botol semprot
pada gelas beker yang dipanaskan untuk larutan ZA berulang-ulang.
c. Lakukan pengetesan terhadap filtrat terakhir dengan cara meneteskan AgNO
3

1% pada tetesan terakhir pada gelas arloji.
d. Apabila larutan menjadi keruh, lakukan pencucian hingga filtrat terakhir hingga
saat dilakukan pengetesan dengan AgNO
3
1% tidak keruh.

4. TahapPemijaran
a. Cuci krus porselen dengan air bersih kemudian keringkan di dalam oven 110
o
C
selama 45 menit.
b. Dinginkan krus porselen dalam eksikator selama 10 menit.
c. Timbang krus porselen tersebut dan tutupnya dengan neraca analitis digital dan
catat hasilnya.
d. Masukkan kertas saring berisi endapan dalam krus porselen dan masukkan ke
dalam muffle dengan tutup krus sedikit terbuka sampai suhu 350
o
C – 400
o
C
(selama _20 menit).
e. Turunkan suhu muffle sampai di bawah suhu 200°C setelah muncul asap pada
lubang muffle (penurunansuhu_ 20 menit) kemudian buka tutup krus porselen
lalu pijarkan kembali kedua krus sampai suhu 800
o
C (pemijaran kira-kira
berlangsung selama 50 menit).
f. Turunkan suhu muffle sampai di bawah 200
o
C, lalu ambil kedua krus dan
dinginkan dalam eksikator sampai suhu lingkungan kira-kira selama 15 menit.
g. Timbang krus beserta endapannya dengan neraca analitis digital dan catat
hasilnya.

C. Analisis Data
1. Perhitungan jumlah endapan BaSO
4
dari Percobaan Tiap Sampel
Untuk menganalisis beratendapan BaSO
4
hasil percobaan digunakan rumus:
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

85

M
endapan
= m
krus+tutup+endapan
– m
kruskosong+tutup
(3)
dengan, m = massa (gram)

2. Menentukan Tingkat Kemurnian Pupuk ZA
a. Menentukan jumlah mol BaSO
4
(endapan)
n
1
=
m
1

1
(4)
dengan, n
1
= molBo•0
4
, mol
m
1
= massaBo•0
4
, gram
Mr
1
= beratmolekulBo•0
4
, gram/mol

b. Menentukan massa (NH
4
)SO
4
dalam pupuk ZA
(NH
4
)
2
SO
4 (aq)
+ BaCl
2(aq)
BaSO
4 (s)
+ 2NH
4
Cl
(aq)
(5)
Karena (NH
4
)
2
SO
4
dianggap habis bereaksi, maka:
Mol BaSO
4
= mol (NH
4
)
2
SO
4

m
2
= n
2
× Mr
2
(6)

dengan, m
2
= massa (NH
4
)
2
SO
4,
gram
n
2
= mol (NH
4
)
2
SO
4,
mol
Mr
2
= beratmolekul (NH
4
)
2
SO
4,
gram/mol

c. Menentukan kemurnian pupuk ZA
Kemurnian =
m
2
m
3
× 100% (7)
dengan, m
3
= massa pupuk ZA, gram

Kemurnian rata-rata =
∑Kcmu¡nìun
2
(8)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hal-hal yang perlu ada dalam pembahasan:
• Pembahasan mengenai jalannya percobaan.
• Hasil perhitungan.
• Pembahasan hasil percobaan.
• Perbandingan terhadap teori.

V. KESIMPULAN
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

86

VI. DAFTAR PUSTAKA
Vogel, A. I., (alih bahasa oleh Dr. A. Hadyana Pudjatmaka dan Ir. L. Setiono), 1994,
“Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik”, edisi ke-4, hal. 472-473, EGC, Jakarta.
Hage, David S., and Carr, James D., 2011, “Analytical Chemistry and Quantitative
Analysis”, p. 263-266, Pearson Prantice Hall, United States.
Underwood, A. L., and Day Jr., R. A., (alih bahasa oleh Dr. Ir. Iis Sopyan, M. Eng.),
2002, “Analisis Kimia Kuantitatif”, edisi ke-6, hal 86, Erlangga, Jakarta.
Meyovy,2011,“Pupuk Nitrogen”, [online],
http://meyovy.wordpress.com/2011/11/04/pupuk-nitrogen (diakses 19 November
2012).
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

87

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
1. Hazard Proses
Hazard proses meliputi bahaya apa saja yang dihadapi berkaitan dengan
jalannya praktikum gravimeteri ini. Contoh: saat pemanasan menggunakan kompor
listrik.
2. Hazard Bahan Kimia
Untuk hazard bahan, hal ini meliputi bahaya-bahaya (MSDS) bahan-bahan yang
digunakan dalam praktikum gravimetri. Contoh : AgNO3, ZA, BaCl
2
.2H
2
O.

B. PenggunaanAlatPerlindunganDiri
Dalam poin ini dijelaskan alat-alat perlindungan diri apa saja yang harus
digunakan saat melaksanakan praktikum gravimetric ini. Disebutkan per point alatnya
beserta fungsinya.

C. ManajemenLimbah
Dalam point ini, praktikan menjelaskan tindakan apa saja yang dilakukan untuk
mengatasi atau membuang limbah yang terbentuk saat praktikum gravimetri. Misalnya,
limbah campuran ZA dan BaCl
2
mengandung apa saja, dibuang kemana/ ke jirigen
limbah apa disertai alasannya.

D. Data Percobaan
Data hasil percobaan ditulis ulang.

E. Perhitungan
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

88

LAPORAN SEMENTARA
GRAVIMETRI
(G)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.
2. 2.
3. 3.
Hari/Tanggal :
Asisten :


DATA PERCOBAAN

Berat ZA : 1.
2.

1. Penambahan Larutan BaCl
2

No. Tahap Pengendapan, ml Tahap Pengetesan , ml
1

2

Rata-Rata

2. Berat Endapan Kosong
No. Berat krus kosong, gr Berat krus + endapan, gr Berat endapan, gr
1

2

Rata-Rata


Yogyakarta,
Praktikan,

1.

2.

3.









Asisten Jaga,


Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

89

SPEKTROFOTOMETRI
(H)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk:
1. Menentukan panjang gelombang optimum untuk menentukan konsentrasi larutan
CuS0
4
.
2. Membuat kurva kalibrasi absorbansi versus konsentrasi untuk larutan CuS0
4
pada
panjang gelombang optimum.
3. Menentukan kosentrasi larutan CuS0
4
x N menggunakan spektrofotometer UV-
visible.

II. DASAR TEORI
Spektrofotometri didasarkan pada jumLah cahaya yang diserap oleh larutan
berwarna. Penyerapan warna bervariasi tergantung pada konsentrasi larutan.
Spektrofotometer UV/visible adalah alat analisis sampel dengan menggunakan
prinsip-prinsip absorbsi radiasi gelombang elektromagnetik dengan panjang
gelombang berkisar antara sinar UV sampai dengan sinar tampak. Berdasarkan
prinsip ini, spektrofotometer UV/visible dapat digunakan untuk menentukan
kandungan zat organik atau anorganik dalam larutan.
Komponen-komponen spektrofotometer yang penting yaitu:
1. Sumber energi radiasi yang stabil.
2. Monokromator (celah, lensa, cermin).
3. Wadah sampel transparan (cuvet).
4. Detektor radiasi yang dilengkapi recorder.
Untuk larutan yang cukup encer, hubungan antara absorbansi dan konsentrasi
memenuhi hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = c. b. C (1)
dimana, A = absorbansi
c = absorbtivitas molar, cm
-1
N
-1

b = lebar kuvet, cm
C = konsentrasi larutan, N
Untuk mengetahui hubungan antara kosentrasi dan absorbansi pada panjang
gelombang optimum perlu dibuat larutan standar pada berbagai konsentrasi yang hasil
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

90

pengukuran absorbansinya dinyatakan dalam kurva kalibrasi hubungan antara
absorbansi (A) dan konsentrasi (C).

III. METODOLOGI PERCOBAAN
A. Bahan
1. Kristal CuSO
4.

2. Aquadest.

B. Rangkaian Alat Percobaan
Keterangan:
1. Tempat cuvet
2. Layar monitor
3. Knop % T 0
4. Tombol setting
5. Knop wavelength
6. Knop % T 100
7. Steker
Gambar 1. Rangkaian Alat Spektofotometer UV-Visible

C. Cara Kerja
1. Pembuatan Larutan CuSO
4
0,025 N
a. Timbang 0,4 gram kristal CuSO
4
menggunakan gelas arloji dengan neraca
analitis digital.
b. Isi gelas beker 250 mL dengan 50 mL aquadest.
c. Larutkan kristal CuSO
4
yang telah ditimbang ke dalam gelas beker tersebut
hingga semua kristal melarut dengan menggunakan gelas pengaduk.
d. Menuangkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 100 mL dengan
menggunakan corong gelas.
e. Mengisi labu ukur 100 mL dengan aquadest menggunakan botol semprot
hingga tanda batas lalu menggojognya hingga homogen.

2. Penentuan Panjang Gelombang Optimum
a. Hubungkan spektrofotometer dengan arus listrik.
b. Hidupkan spektrofotometer dengan memutar knop % T 0 searah jarum jam.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

91

c. Diamkan spektrofotometer selama 15 menit sampai siap digunakan.
d. Atur panjang gelombang dengan memutar knop wavelength sesuai panjang
gelombang yang diinginkan (antara 600-950 nm) kemudian putar knop % T 0
sampai absorbansi yang ditunjukkan layar 0,0.
e. Isi cuvet dengan aquadest sampai tanda batas, lalu masukkan ke dalam tempat
cuvet pada spektrofotometer dan menutupnya. Cuvet harus bersih dan bebas
dari bekas jari.
f. Atur absorbansi hingga menunjukkan angka 0,0 dengan memutar knop % T
100.
g. Keluarkan tabung cuvet dan buang aquadest-nya kemudian cuci cuvet dengan
larutan CuSO
4
0,025 N.
h. Isi cuvet dengan larutan CuSO
4
0,025 N yang telah dibuat hingga tanda batas.
i. Masukkan tabung cuvet ke tempat cuvet pada spektrofotometer dan
menutupnya.
j. Baca absorbansi yang muncul di layar dan catat.
k. Ulangi langkah d sampai j dengan nilai panjang gelombang yang berbeda-
beda.
l. Catat hasilnya kemudian membuat plot antara panjang gelombang versus
absorbansi pada milimeter blok.
m. Tentukan panjang gelombang optimum dengan memilih panjang gelombang
dengan % absorbansi tinggi.

3. Pembuatan Kurva Kalibrasi
a. Buat larutan CuSO
4
0,001 N, 0,0025 N, 0,005 N, 0,01 N, dan 0,025 N.
b. Atur wavelength pada nilai panjang gelombang optimum yang telah diperoleh.
c. Ulangi langkah yang sama pada tahap 2 langkah d sampai j.
d. Buat plot data antara absorbansi versus konsentrasi pada kertas milimeter
blok.
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

92

4. Penentuan Konsentrasi CuSO
4
X N
a. Atur wavelength pada panjang gelombang optimum.
b. Isi cuvet dengan aquadest hingga tanda batas lalu masukkan ke dalam tempat
cuvet pada spektrofotometer, kemudian atur absorbansi pada 0,0.
c. Ambil cuvet dan buang aquadest, kemudian cuci cuvet dengan larutan CuSO
4

X N.
d. Isi cuvet dengan larutan CuSO
4
X N hingga tanda batas lalu masukkan ke
dalam wadah cuvet dan tutup wadahnya.
e. Baca absorbansi dan catat hasilnya.

D. Analisis Data
1. Penentuan λ maksimum
Dibuat plot antara absorbansi versus panjang gelombang, λ optimum merupakan
panjang gelombang dimana absorbansi terbaca paling besar.

2. Pembuatan kurva kalibrasi
Kurva kalibrasi merupakan plot kurva hubungan antara absorbansi dan
konsentrasi CuSO
4
.
|CuS0
4
] =
massa C‚SŒ
4
…r C‚SŒ
4
x
1000
voI‚mc Iar‚tan
(2)
Untuk memperoleh larutan CuSO
4
dengan berbagai konsentrasi dilakukan
pengenceran dengan rumus:
v
1
. N
1
= v
2
. N
2
(3)
dengan, v
1
= volume larutan CuSO
4
sebelum pengenceran, mL
N
1
= konsentrasi larutan CuSO
4
sebelum pengenceran, N
v
2
= volume larutan CuSO
4
setelah pengenceran, mL
N
2
= konsentrasi larutan CuSO
4
setelah pengenceran, N
Sementara, absorbansi (A) dapat didefinisikan:
A = c. b. C (1)
dengan, A = absorbansi
c = absorbtivitas molar, cm
-1
N
-1

b = lebar kuvet, cm
C = konsentrasi larutan, N
Dibuat plot antara absorbansi versus konsentrasi.

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

93

3. Pembuatan kurva hubungan antara absorbansi dan konsentrasi
Dibuat persamaan yang menghubungkan antara konsentrasi dan absorbansi
dengan persamaan sebagai berikut:
y = ax •b (6)
dengan, y = absorbansi
x = konsentrasi, N
Persamaan ini dapat diselesaikan dengan metode least square.
SSE = ∑(ax •b -y)
2
(7)
Nilai a dan b dicari dengan menurunkan SSE terhadap x dan y. Pada nilai SSE
minimum turunan SSE nilainya nol.
oSSE
ox
= u
oSSE
oy
= u
Dengan regresi linier (least-squares method) diperoleh:
a =
n∑xy-∑x ∑y
n∑x
2
-(∑x)
2
(8)
b =
∑y-a∑x
n
(9)
dengan, n = jumLah data
Data untuk perhitungan regresi linier disajikan dalam tabel :
No x y x
2
xy

Σ

4. Penentuan konsentrasi CuSO
4
X N
Dengan mengukur % T lalu dihitung absorbansinya dengan persamaan (3)
kemudian dengan hubungan persamaan yang telah diperoleh, yaitu x =
(y-b)
a

sehingga dapat dihitung jumLah CuSO
4
yang dilarutkan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hal-hal yang perlu dibahas antara lain:
- Hasil percobaan yang menjawab tujuan percobaan.
- Penjelasan mengenai data yang diperoleh.
- Penjelasan grafik hubungan konsentrasi dengan absorbansi.
- Penyimpangan hasil percobaan terhadap landasan teori (jika ada).
Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

94

V. KESIMPULAN
Tuliskan kesimpulan berupa pernyataan yang singkat dan tepat yang dijabarkan dari
hasil percobaan dan pembahasan.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Ewing, G.W., 1985, “Instrumental Method of Chemical Analysis”, 5ed., Mc. Graw-
Hill Book Company, New York.
Human, M., 1985, “Basic UV/Visible Spectrophotometry”, Pharmacia LKB Biochrom
Limited Science Park, Cambridge.
Mulyono, P, 2001, “Diktat Kuliah Analisis Dengan Instrumen Dalam Teknik Kimia”,
Fakultas Teknik, Yogyakarta.

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Identifikasi hazard terdiri dari:
• Identifikasi hazard proses selama praktikum, merupakan identifikasi kegiatan
yang membahayakan selama praktikum beserta penanganannya.
• Identifikasi hazard chemical dari masing-masing bahan yang digunakan pada
praktikum ini.

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
Alat perlindungan diri yang dipakai adalah: jas laboratorium lengan panjang,
masker, dan sarung tangan karet. Tulislah alat perlindungan diri yang dirasa penting
pada praktikum ini beserta alasan pemakaiannya.

C. Manajemen Limbah
Perlakuan terhadap limbah hasil percobaan beserta alasan mengapa dibuang ke
tempat tersebut. Contoh: Larutan CuSO
4
sisa dibuang ke drum limbah logam berat
karena mengandung Cu yang merupakan logam berat.

D. Data Percobaan

E. Perhitungan

Panduan Praktikum Analisis Bahan 2014

95

LAPORAN SEMENTARA
SPEKTROFOTOMETRI
(H)

Hari/Tanggal :
Nama/NIM : 1.
2.
Asisten :

1. Pembuatan larutan CuSO
4

Massa kristal : gram
Volume larutan : 100 mL

2. Penentuan panjang gelombang (λ optimum)
Range λ: 600-950 nm
No Panjang
gelombang, nm
Absorbansi No Panjang
gelombang, nm
Absorbansi
1 6
2 7
3 8
4 9
5 10

3. Pembuatan kurva kalibrasi
Panjang gelombang optimum: nm
No Konsentrasi, N Absorbansi
1
2
3
4
5

4. Penentuan konsentrasi CuSO
4
X N
Absorbansi:

Asisten jaga, Praktikan,
1.

2.