197

 
INTENSITAS SERANGAN DAN KEMAMPUAN TANGKAPAN TRAP
BARRIER SYSTEM (TBS) TERHADAP HAMA TIKUS SAWAH RATTUS
ARGENTIVENTER DI KABUPATEN PARIGI MOUTONG
SULAWESI TENGAH

Abdi Negara dan Asni Ardjanhar
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah

ABSTRAK

Trap Barrier System (TBS) perangkap bubu berkemampuan menangkap
tikus dalam jumlah banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari Intensitas
serangan tikus dan jumlah tangkapan tikus terhadap penggunaan TBS.
Pengkajian ini dilakukan pada lahan petani di Desa Tolai Kecamatan Tolai,
Kabupaten Parigi Moutong MT.tahun 2009. Empat unit TBS terpasang pada dua
lokasi untuk menangkap tikus pada petak TBS ukuran 25 x 25 m. di lahan petani
dengan luasan hamparan 100-500 ha, dengan sistem pagar perangkap bubu
dengan tanaman perangkap 3 minggu lebih awal (early trap crop) dari tanaman
padi sekitarnya, sebagai kontrol atau cara pengendalian petani. Pengamatan
meliputi hasil tangkapan tikus pada perangkap bubu meliputi jumlah dan jenis
kelamin tikus yang tertangkap setiap hari, tingkat kerusakan tanaman padi di
dalam plot tanaman perangkap dan di luar tanaman perangkap, serta hasil panen
ubinan (kg/ha). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dalam satu musim tanam
jumlah tangkapan 1.446 ekor, jantan 463 ekor, betina 794 ekor, sedangkan
dengan cara petani jumlah tankapan tikus jantan 95 ekor, betina 94 ekor. Hasil
panen pada lahan sekitar pemasangan TBS baik TBS tanam awal maupun TBS
tanam akhir pada 2 lokasi bervariasi yaitu 4.100-5.100 kg/ha serta intensitas
serangan hama tikus 2-5 %.

Kata kunci: Intensitas Serangan, Rattus argentiventer, padi sawah, TBS

PENDAHULUAN

Hama yang sering menyerang padi pada setiap musim tanam adalah
hama tikus. Tikus sawah Rattus argentiventer Rob merupakan hama utama
penyebab kerusakan padi di Indonesia. Pada usaha tani kecil, tikus sawah
dilaporkan menyebabkan kehilangan hasil sekitar 5 - 10% pertahun. Khususnya
Sulawesi Tengah serangan hama tikus dua tahun terakhir selalu menempati
urutan pertama dibanding hama padi lainnya dengan intensitas serangan dalam
kategori berat dan puso bahkan jika populasi tiukus banyak, dapat
menggagalkan panen (BPTP3 Sulteng, 2008). Tikus sawah bersifat omnivora,
sehingga disamping merusak tanaman padi juga dapat merusak tanaman
komditas lainnya seperti hortikultura dan tanaman perkebunan. Daya adaptasi
tikus terhadap lingkungan cepat menyesuaikan diri sehingga dapat hidup pada
agroekosistem sawah, agroekosistem padi ladang, dan agrosistem lainnya
sehingga dikategorikan tikus lintas agroekosistem.
Berbagai teknologi pengendalian hama tikus yang tersedia sampai saat
ini antara adalah pengendalian secara fisik/mekanik, kimiawi dan secara biologi.
Salah satu pengendalian hama tikus secara fisik yang dikenal sekarang yaitu
sistem bubu perangkap yang dikenal dengan istilah TBS Trap Barrier System
(Singliton et. al., 1998). Menurut Sudarmaji (1996), teknologi TBS dirancang
berdasarkan hasil sifat-sifat biologis tikus dengan pendekatan ramah lingkungan.
TBS ini terdiri dari komponen tanaman perangkap, pagar plastik dan bubu
perangkap, TBS termasuk komponen pengendalian yang sederhana, efektif serta
dapat dipadukan dengan komponen pengendalian tikus lainnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mempelajari Intensitas serangan tikus dan jumlah tangkapan
tikus terhadap penggunaan TBS.

METODOLOGI

Penelitian ini dimulai dengan inventarisasi hamparan sawah yang
intesitas serangan hama tikusnya tinggi. Kegiatan dilakukan pada MT II. 2009 di
desa Tolai, kecamatan Tolai, kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah di
lahan petani dengan luasan hamparan + 500 ha, dengan perlakuan: 1) TBS
dengan tanaman perangkap 3 minggu lebih awal dari tanaman padi sekitarnya,
2) Kontrol, atau cara pengendalian petani. Pengamatan meliputi hasil tangkapan
tikus pada perangkap bubu yang meliputi jumlah dan jenis kelamin tikus yang
tertangkap setiap hari. Tikus hasil tangkapan yang telah diamati, dibunuh dengan
cara direndam kedalam air kurang lebih 10 menit. Pengamatan juga dilakukan
terhadap hasil panen, tingkat kerusakan tanaman padi pada stadia bunting dan 2
minggu menjelang panen. Kerusakan pada sempel tanaman diamati pada dua
arah yang berlawanan pada petak TBS. Rumpun sampel ditentukan pada jarak
5, 50, 100, 150, dan 200 m dari petak TBS. Pada setiap jarak tersebut diambil 10
rumpun contoh yang dihitung secara sistematik yakni banyaknya tunas yang
terserang tikus pada rumpun ke 5 dan jumlah semua tunas dari rumpun sampel
(Mills, 1998). Intensitas serangan tikus dihitung dengan rumus :

J umlah anakan terserang
Intensitas serangan tikus (%) = X 100%
J umlah semua anakan/rumpun sampel

HASIL DAN PEMBAHASAN

J umlah tikus yang tertangkap pada semua unit adalah 1.446 ekor, terdiri
dari 463 ekor jantan dan 794 ekor betina pada tanaman awal, serta kontrol
(petani) 95 jantan dan 94 betina (Tabel 1). Dengan menanam tanaman
perangkap 3 minggu lebih awal diharapkan tanaman perangkap telah bunting,
sehingga tikus tertarik mendatangi tanaman perangkap untuk mencari makanan
yang disukai. Tikus betina lebih banyak tertangkap daripada tikus jantan, dise-
babkan karena tikus betina lebih koperatif dibanding tikus jantan. Sesuai naluri-
nya, tikus betina mencari makan bergizi dan sering menjelajah di sekitar tanaman
perangkap, karena cenderung lebih banyak menyediakan pakan untuk persiapan
reproduksi dan menyusui anaknya. Naluri ini tidak dimiliki oleh tikus jantan.
Menurut Brooks and Rowe (1979) aktivitas tikus setiap hari meliputi
mencari makan, minum dan kawin hunting untuk pengenalan kawasan sehingga
sangat megenali lingkungannya, terutama pada habitat yang tesedia air, pakan
198
 
199
 
dan sarang untuk tempat berlindung dan istirahat. Suripto dan Seno (2002) mela-
porkan habitat tikus spesies Rattus argentiventer sangat spesifik ditemukan pada
habitat sawah. Hasil tangkapan TBS pada habitat padi sawah 100% spesies
Rattus argentiventer walaupun habitatnya perdekatan dengan perkebunan
kakao. Habitat setiap tikus spesifik, jika di habitatnya tidak tersedia pakan yang
memadai, tikus bermigrasi ketempat lain yang tersedia pakan (Negara, 2009).
Menurut Sudarmaji et al. (1997), salah sat faktor yang mempengaruhi
perkembang biakan tikus adalah ketersediaan pakan. Tikus sawah memilih
pakan yang berkualitas untuk tumbuh dan berkembang biak. Dari berbagi hasil
penelitian tikus jenis Rattus argitiventer, pakan utama yang paling disukai adalah
padi, terutama pada saat tanaman fase bunting di mana pada fase ini pakan
yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan gizi tikus tersebut.

Tabel 1. J umlah Tangkapan Tikus J antan Dan Betina Desa Tolai, Kecamatan Tolai
Kabupaten Parimou MT. 2009


Lokasi
Petani Tanaman Awal (Early Crop)
J umlah J J J B J J J B
A 80 76 405 703 1264
B 15 18 58 91 182
J umlah 95 94 463 794 1.446
J J : J umlah Tikus J antan
J B: J umlah Tikus Betina

Berdasarkan hasil kajian di Sulawesi Tengah, ukuran petak tanaman
perangkap dengan menggunakan 3 unit TBS dapat mengamankan pertanaman
sawah petani 80-100 ha (Negara, 2004). Keunggulan teknologi TBS adalah
efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak secara terus menerus, hemat
tenaga kerja, ramah lingkungan, sederhana dan mudah dipraktekkan. Selain itu
juga efektif menangkap tikus migran dan sangat dianjurkan pada skala kelompok
tani. Rekomendasi penggunaan TBS adalah diterapkan pada daerah endemik
tikus dengan populasi tinggi terutama pada musim kemarau. Teknologi TBS
merupakan bagian paket teknologi pengendalian tikus yang pelaksanaannya
harus dikombinasi dengan teknis pengendalian lainnya.
Intensitas serangan tikus di sekitar hamparan pemasangan TBS pada 2
lokasi bervariasi antara 2-5 % pada TBS tanaman awal (Tabel 2). Rendahnya
intensitas serangan tikus tersebut diduga karena tikus tidak bisa masuk TBS,
banyaknya tikus yang sudah terperangkap di tanaman perangkap awal, serta
beragamnya aktifitas pengendalian oleh petani sebelum tanam hingga panen.

Tabel 2. Intensitas Serangan Tikus (%) Pada Tanaman Sekitarnya Desa Tolai,
Kecamatan Tolai, Kabupaten Parimou MT. 2009

Lokasi Tanaman Awal (Early Crop) Intensitas (%)
A 5
B 2
J umlah 7

Hasil panen pada lahan sekitar pemasangan TBS baik TBS tanam awal
maupun TBS tanam akhir pada 2 lokasi bervariasi yaitu 4.100-5.100 kg/ha (Ta-
bel 3). Ini menunjukkan TBS dapat memberikan perlindungan yang hampir sama
200
 
pada semua waktu pemasangan TBS. TBS efektif dalam menurunkan populasi
tikus sawah, terbukti jumlah tangkapan pada dua lokasi selama satu musim
tanam 1.446 ekor. Tangkapan early crop lebih tinggi jika dibanding kontrol.

Tabel 3. Hasil Panen (Kg/ha) Pada Lahan Sekitar Hamparan TBS
Desa Tolai, Kecamatan Tolai, Kabupaten Parimou MT. 2009

Lokasi (Kg/ha)
A 5.100
B 4.100

KESIMPULAN

Dalam satu musim tanam jumlah tangkapan 1.446 ekor, jantan 463 ekor,
betina 794 ekor, sedangkan dengan cara petani jumlah tankapan tikus jantan 95
ekor, betina 94 ekor. Hasil panen pada lahan sekitar pemasangan TBS baik TBS
tanam awal maupun TBS tanam akhir pada 2 lokasi bervariasi yaitu 4.100-5.100
kg/ha serta intensitas serangan hama tikus 2-5 %.

DAFTAR PUSTAKA

Brook, J . E. and F.P. Rowe. 1979. Commensal Rodent Control. WHO/ VBC/79:726.
Bucle, 1979. Yield response of the rice variety improved mahsuri to simulated rat
damage. Malaysian Agricuktural J ournal.
BPTP3 Sulteng. 2008. Laporan Tahunan Balai Proteksi Tanaman Pangan
Perkebunan Peternakan Sulawesi Tengah.
J umanta, Sudarmaji dan Rochman, 1997. Pengendalian populasi tikus sawah
(Rattus argentiventer) dengan teknik pagar perangakap bubu. Prosiding III.
Lanjutan Seminar Nasional Biologi XV.
Millis, A. 1998. Technique Manual for Rodent Managemen in South East Asia.
Rodent Reseach Group. CSIRO Widlife and Ecology.
Negara. 2004. Tingkat serangan hama tikus dengan menggunakan TBS di
kabupaten Parigi Moutong. Seminar Nasional 2004. BPTP Bali.
Negara. 2009. Trap barier system (TBS) yang efektif dan efesien untuk
pengendalian hama tikus di Sulawesi Tengah. BPTP Sulteng.
Singleton, G. R., Sudarmadji, and Suryapermana. 1998. An experimental field study
to evaluated a trap barrier system and fumigation for controling the rice field
rat. Rattus argentiventer in rice crop West J ava. Crop Protection 17 (1): 55-64
Sudarmadji. 1995. Penelitian pengendalian tikus dengan system pagar perangkap.
Laporan Hasil Penelitian Kerja Sama ARMP.
Sudarmadji. 1996. Pengendalian tikus hama padi sawah. Prosiding Seminar Aprisiasi
Hasil Penelitian Balitpa. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Buku. II, Hal.
115-123
Sudarmadji dan Rochman. 1997. Populasi tikus sawah Rattus argentiventer di
berbagai tipe habitat ekosistem padi sawah. Prosiding III. Seminar Nasional
Biologi XV.