P. 1
Hama Penyakit Tanaman Pangan - Hortikultura (by : Afdhal Syukri/06116011)

Hama Penyakit Tanaman Pangan - Hortikultura (by : Afdhal Syukri/06116011)

1.5

|Views: 31,880|Likes:
Published by AFDHAL SYUKRI
Hama penyakit di beberapa tanaman hortikultura: Jagung, Tomat, Cabai, Bawang daun, Kacang Tanah, Caisin, Pare, Padi, Semangka.

Author : Chaspasibu.
Hama penyakit di beberapa tanaman hortikultura: Jagung, Tomat, Cabai, Bawang daun, Kacang Tanah, Caisin, Pare, Padi, Semangka.

Author : Chaspasibu.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: AFDHAL SYUKRI on Dec 07, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/02/2016

pdf

text

original

ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN A. Jagung 1. Hama Tanaman Jagung a.

Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis Guen ) (Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae) Bioekologi : Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari. Telur diletakkan berwarna putih, berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9, umur telur 3-4 hari, Larva, larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindahpindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.

Gambar 1. Satu kelompok telur Ostrinia furnacalis yang baru diletakkan (atas) dan yang akan menetas (bawah).

Gambar 2. Pupa betina (kiri) dan pupa jantan (kanan) Ostrinia furnacalis.

Gambar 3. Ngengat betina (kiri) dan ngengat jantan (kanan) Ostrinia furnacalis. Gejala serangan Larva O. furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak. Pengendalian : a). Kultur teknis - Waktu tanam yang tepat, - Tumpangsari jagung dengan kedelai atan kacang tanah.

- Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman) b). Pengendalian hayati Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman. c). Pengendalian kimiawi Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung. b. Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae) Bioekologi: Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif malam hari. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25 – 500 butir) tertutup bulu seperti beludru. Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Pupa. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari). Gejala Serangan larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau.

Gambar 1. Satu kelompok telur Spodoptera litura.

Larva menyebar dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah, perbedaannya hanya pada tanda bulan sabit, berwarna hijau gelap dengan garis punggung warna gelap memanjang. Umur 2 minggu panjang ulat sekitar 5 cm.

Gambar : Pupa Spodoptera litura

Gambar : Gambar 4. Ngengat betina (kiri) dan ngengat jantan (kanan) Spodoptera litura

Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, , tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., dan Trema sp. Pengendalian : a). Kultur teknis - Pembakaran tanaman - Pengolahan tanah yang intensif. b). Pengendalian fisik / mekanis - Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya - Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu. c). Pengendalian hayati Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp., predator Sycanus sp., Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp. d). Pengendalian kimiawi Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, intensitas serangan mencapai lebih atau sama dengan 12,5 % per tanaman contoh. c. Penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera Hbn. Noctuidae: Lepidotera) Imago betina H. armigera meletakkan telur pada rambut jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan . Larva spesies ini terdiri dari lima sampai tujuh instar .Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24 sampai 27,2oC adalah 12,8 sampai 21,3 hari. Larva serangga ini memiliki sifat kanibalisme . Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah.

Pupa, pada umumnya pupa terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35oC sampai 30 hari pada suhu 15oC. Gejala Serangan Imago betina akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung. Pengendalian Hayati Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendwan, Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva. Bakteri, Bacillus thuringensis dan Virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV). Menginfeksi larva. Kultur Teknis Pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya. Kimiawi Untuk mengendalikan larva H. armigera pada jagung, penyemprotan insektisida Decis dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan (1-2) hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

d. Lalat bibit (Atherigona sp, Ordo: Diptera) Imago, Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mmsampai 4,5 mm. Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun. Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati. Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerahmerahan sampai coklat dengan ukuran panjang 4,1 mm. Pengendalian Hayati Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp. dan parasit larva adalah Opius sp. dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago. Kultur Teknis dan Pola Tanam Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan pada musim hujan maka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi tanaman dengan tanaman bukan padi, tanam serempak serangan dapat dihindari. Varietas Resisten Galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQP1(S1)-C1-11, MSQ-P1(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45, sementara galurgalur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangga hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50. Kimiawi Pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg benih atau karbofuran

dengan dosis 6 g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman berumur 5-7 hari, tanaman disemprot dengan karbosulfan dengan dosis 0,2 kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik . 2. Penyakit Tanaman Jagung a. Bulai Gejala : Gejala penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik dan ciri lainnya adalah pada pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil. Penyebab : Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.

Gambar : Penyakit bulai disebabkan oleh Peronosclerospora maydis

Daur penyakit : Penyakit ini tidak dapat hidup secara saprofit dan harus bertahan darimusim kemusim tanaman hidup sampai sakarang belum ditemukan adanya inang alternatif dari jamur ini di alam, mengingat di daerah Indonesia selalu terdapat tanaman jagung maka jamur selalu dapat hidup pada tanaman yang hidup, jamur ini dapat terbawa pada biji jagung, konidium terbentuk di waktu malam hari pada daun berembun, dan konidium segera berkecambah dengan membentuk pembuluh kecambahan yang akan mengadakan infeksi pada daub muda Faktor yang mempengaruhi perkembangan jamur ini adalah jamur ini umumnya terdapat pada dataran rendah dan jarang terdapat di tempat yang tinggi dari 900 – 1200 dpl,konidium paling baik berkecambah pada suhu 30 C penyakit ini lebih baik berkembang pada musim hujan, interaksi hanya terjadi kalau ada air baik air embun, air hujan dan air gutasi. Tanaman jagung yang baik pertumbuhannya biasanya kurang mendapat gangguan dari penyakit ini dan kelebihan N akan memperberat penyakit ini. Tanaman yang berumur lebih dari 3 minggu cukup tahan terhadap terinfeksi dan semakin muda tanaman makin rentan. Cara pengendalian : Menanam varietas tahan: Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi, Lamuru dan Gumarang,melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan, penanaman jagung secara serempak, eradikasi tanaman yang terinfeksi bulai. Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih b. Bercak daun Gejala : Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O, bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2_1,9) Cm. Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6_1,2) x (0,6_2,7) Cm, berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih virulen dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3_4 minggu setelah tanam. Tongkol yang terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lapang atau pada biji di penyimpanan. Konidia yang

terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung. Penyebab : penyakit bercak daun adalah : Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T

Gambar a : Penyakit bercak disebabkan Bipolaris maydis ras T

Gambar a : Penyakit bercak disebabkan Bipolaris maydis ras O Cara pengendalian : Menanam varietas tahan : Bima 1, Srikandi Kuning -1, Sukmaraga dan Palakka, eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun, penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim. c. Hawar daun Gejala : Pada awal infeksi gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 Cm, bercak muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang.

Gambar 1 : Penyakit Hawar daun (Helminthosporium turcicum)

Gambar 2 : Penyakit Hawar daun (Helminthosporium turcicum) Penyebab : Penyebab penyakit hawar daun adalah : Helminthosporium turcicum. Cara pengendalian : Menanam varietas tahan Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5, eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun, penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate. d. Karat Gejala : Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau. Penyebab : Penyebab penyakit karat adalah Puccinia polysora dan P. sorghi. Gejala Puccinia polysora : membentuk urediospoa bulat atau jorong, dilapangan kadang-kadang epidermis tetap menutupi Urediospora sampai matang, bila epidermis pecah dari massa spora dalam jumlah yang besar akan tampak

urediospora berwarna jingga atau jingga tua. Urediospora tebentuk pada daun dan upih daun, permukaan daun menjadi kasar dan mengering. Gejala Puccinia sorghii : membentuk urediospora panjang atau bulat panjang pada daun, urediospora berwarna coklat atau coklat tua, dan urediospora yang masak berupa menjadi hitam bila terbentuk teliospora.

Gambar a : Penyakit Puccinia polysora Puccinia polysora

Gambar b : Penyakit

Daur penyakit : Puccinia polysoramem pertahankan dari dari musim kemusim pada tanaman saprofit. Faktor yang mempengaruhi perkembang jamur Puccinia polysora: jamur ini merugikan didaerah basah (kelembaban tinggi) urediospora paling banyak dipencarkan menjelang tengah hari. Suhu optimum untuk perkecambahan urediospora adalah 27 – 28 C . pada suhu ini uredium terbentuk selama 9 hari setelah infeksi. Jamur P. sorghi.jamur ini terdapat pada suhu yang rendah di daerah pegungungan tropik atau di daerah beriklim sedang . Suhu optimum untuk perkembangan jamur ini adalah 16 – 23 C. Urediospora terdapat di udara yang paling banyak di waktu siang, pada tengah malam Cara pengendalian : Menanam varietas tahan Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima 1 dan Semar 10, eradikasi tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma, penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil. jagung bersifat pecah obligat dan Puccinia polysora udiospora dipencarkan melalui udara tidak bersifat seed borne dan jamur ini bersifat

e. Busuk pelepah Gejala : Gejala penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada pelepah daun, bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, bercak meluas dan seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk yang tidak beraturan mula-mula berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat. Gejala hawar dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah dan menjalar kebagian atas, pada varietas yang rentan serangan jamur dapat mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman di lapang. Keadaan tanah yang basah, lembab dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia, sehingga merupakan sumber inokulum utama. Penyebab : Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani Cara pengendalian : Menggunakan varietas/galur yang tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah misalnya: Semar 2, Rama, Galur GM 27, diusahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi, lahan mempunyai drainase yang baik, mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama, penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim f. Busuk Batang Gejala : Tanaman jagung tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam busuk, sehingga mudah rebah, pada bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang terinfeksi tersebut ada yang memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat. Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.

Penularan

:

Cendawan

patogen

penyebab

penyakit

busuk

batang

memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya . Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu penetrasi ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol, dan biji yang terinfeksi bila ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang. Cara pengendalian : a). Pengendalian penyakit busuk batang jagung dapat dilakukan dengan menanam varietas tahan, hasil pengujian 54 varietas/galur jagung terhadap Fusarium sp. Melalui inokulasi tusuk gigi di dapat 17 varietas/galur yang paling tinggi ketahanannya yaitu BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar9, Palakka, dan J1-C3. b). Pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah, dan drainase yang baik. c). Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp. g. Busuk tongkol Penyakit busuk tongkol dapat disebabkan oleh beberapa jenis cendawan antara lain : 1. Busuk tongkol Fusarium Gejala : Permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadangkadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih , dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah. Penyakit busuk tongkol fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium Moniliforme

Gambar : Penyakit busuk tongkol Fusarium Moniliforme 2. Busuk tongkol Diplodia Gejala :Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada klobot infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi klobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapang. Gejala busuk tongkol Dilodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis. Daur penyakit : jamur dapat bertahan hidup sebagi saprofit dalam bentuk teliospora pada sisa-sisa tanaman yang sakit, pada pupuk organik atau dalam tanah, spora tersebut mempunyai ketahanan yang sandat tinggi sehingga dapat bertahan selama bertahun-tahun, pada keadaan yang cocok theliospora berkecambah sehingga membentuk sporadium yang dipencarkan oleh angin atau air. Jamur ini dapat mengadakan infeksi secara langsung menembus epidermis atau melalui kulit pada semua jaringan maristem yang terdapat pada bagian tanaman di atas tanah. Gejalanya terjadi terutama pada tongkol karena disini banyak terdapat jaringan maristemik yaitu bakal biji. Infeksi kebakal biji berlangsung melalui tangkai putik (rambut buah jagung).

Faktor yang berpengaruh : penyakit lebih banyak terdapat dipegunungan, didaerah beriklim sedang penyakit gosong mempunyai arti yang lebih penting.

Gambar a : Penyakit tongkol disebabkan oleh (Diplodia maydis)

Gambar b : Penyakit tongkol disebabkan oleh (Diplodia maydis) 3. Busuk tongkol Gibberella Gejala : Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan dapat menjadi busuk dan klobotnya saling menempel erat pada tongkol, badan buah berwarna biru hitam tumbuh di permukaan klobot dan bongkol. Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum Cara pengendalian : Pemeliharaan tanaman yang sebaik-baiknya, antara lain dengan pemupukan seimbang, tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipatahkan agar ujung tongkol tidak mengarah keatas, mengadakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padipadian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang h. Virus mosaik kerdil jagung Gejala : Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai tetapi apabila permukaannya daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan

Rhopalopsiphum maydis secara non persisten. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasilnya. Cara pengendalian : Mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang, mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama, penggunaan peptisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi, tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus. B. Kedelai 1. Hama Tanaman Kedelai a. Aphis spp. (Aphis glycine) Kutu dewasa ukuran kecil 1-1,5 mm berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soybean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala : layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian : (1) menanam kedelai pada waktunya, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi tanaman inang seperti: terungterungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya; (3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) penyemprotan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah.

Gambar : Imago Aphis glycine

b. Melano Agromyza phaseoli; Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Ukuran lalat ini sekitar 1,5 mm Pengendalian : (1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering); (2) penyemprotan Agrothion 50 EC,Sumithoin 50 EC, Suprecide 25 EC. c. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa) Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala : larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian : penyemprotan, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC. d. Cantalan (Epilachana soyae) Kumbang berwarna merah dan larvanya yang berbulu duri, pemakan daun dan merusak bunga. Pengendalian : sama dengan terhadap kumbang daun tembukur.

Gambar 1 : Epilachana soyae

e. Ulat polong (Etiela zinchenella) Ulat yang berasal dari kupu-kupu ini bertelur di bawah daun buah, setelah menetas, ulat masuk ke dalam buah sampai besar, memakan buah muda. Gejala : pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) kedelai ditanam tepat pada waktunya (setelah panen padi), sebelum ulat berkembang biak; (2) penyemprotan obat Dursban 20 EC sampai 15 hari sebelum panen. 6. Kepala polong (Riptortus linearis) Gejala : polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa. Pengendalian : penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC. f. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli) Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat benih ditanam, tanah diberi Furadan 36, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, dengan dosis 2 cc/liter air, volume larutan 1000 liter/ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan. g. Kepik hijau (Nezara viridula) Panjang 16 mm, telur di bawah permukaan daun, berkelompok. Setelah 6 hari telur menetas menjadi nimfa (kepik muda), yang berwarna hitam bintik putih. Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala : polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat. Pengendalian : Azodrin 15 WCS, Dursban 20 EC, Fomodol 50 EC.

h. Ulat grayak (Prodenia litura) Serangan: mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu berwarna keabu-abuan, panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir. Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian: (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC, Azodrin 15 WSC dan Basudin 50 EC. 2. Penyakit Tanaman Kedelai a. Penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) Penyakit ini menyerang pangkal batang. Penyerangan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu. Penularan melalui tanah dan irigasi. Gejala: layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian: (1) biji yang ditanam sebaiknya dari varietas yang tahan layu dan kebersihan sekitar tanaman dijaga, pergiliran tanaman dilakukan dengan tanaman yang bukan merupakan tanaman inang penyakit tersebut. Pemberantasan: belum ada. b. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium rolfsii) Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala: daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian: (1) varietas yang ditanam sebaiknya yang tahan terhadap penyakit layu; (2) menyemprotkan Dithane M 45, dengan dosis 2 gram/liter air. c. Penyakit lapu (Witches Broom: Virus) Penyakit ini menyerang polong menjelang berisi. Penularan melalui singgungan tanam karena jarak tanam terlalu dekat. Gejala: bunga, buah dan daun mengecil. Pengendalian: menyemprotkan Tetracycline atau Tokuthion 500 EC.

d. Penyakit anthracnose (Cendawan Colletotrichum glycine Mori) Penyakit ini menyerang daun dan polong yang telah tua. Penularan dengan perantaraan biji-biji yang telah kena penyakit, lebih parah jika cuaca cukup lembab. Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian: (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2) penyemprotan Antracol 70 WP, Dithane M 45, Copper Sandoz. e. Penyaklit karat (Cendawan Phachyrizi phakospora) Penyakit ini menyerang daun. Penularan dengan perantaraan angin yang menerbangkan dan menyebarkan spora. Kerugian terhadap tanaman kedelai pada tanaman menurunkan hasil 36 %, pada tanaman yang rentan menurunkan hasil 81 %, dan rata-rata kerugian dari penyakit ini 40 – 90 %. Gejala: dapat dilihat pada daun, batang dan tangkai serta batang. Mula-mula gejala penyakit ini terdapat bercak-bercak kecil berwarna kelabu yang pada akhirnya berubah menjadi coklat tua. Kemudian bercak-cak tampak bersudut karena dibatsi oleh tulang daun didekat terjadinya infeksi. Perkembangan berikutnya setelah tanaman mulai berbunga, bercak-cak menjadi lebih besar dan menjadi coklat tua, kadang-kadang hitam. Kemudian tanaman yang terserang berat daun-daunnya lebih cepat gugur. Daur penyakit : dapat menginfeksi banyak jenis tanaman kacang-kacangan seperti: Gude (Cajarus cajan), kacang asu (Colopogonium muconoide), buncis (P. vulgaris), bengkuang (Pachyrhizus ensus), kacang hijau (P. vulgaris), orok-orok (crutalani spp), dan tanaman penutup tanah. Faktor yang mempengaruhi : suhu optimum untuk perkecambahan urediospora adalah 15 – 25 C. Interaksi pada kedelai biasanya terjadi pada suhu 20 – 25 C. Penyakit ini berkembang pada tanaman kedelai musim hujan, ketahanan tanaman jenis tanaman antara lain : Ringgit, Sumbung, Daurus, jenis tanah,

Lumajang, dan San kuo. Ketahanan tanaman menurun dengan bertemunya umur tanaman Pengendalian: (1) penanaman jenis yang tahan antara lain : Mojosone, Orba, Galunggung, dan Guntur; (2) pergiliran tanaman dengan tanaman jagung yang tidak dapat menjadi inang; (3) penyemprotan dengan fungisida antara lain : M-45, klorotalom, thopsim M, Thiadimefor dan benomil, dan (4) pengaturan waktu tanam yaitu pada awal musim kemarau atau pada awal musim hujan. f. Penyakit bercak daun bakteri (Xanthomonas phaseoli) Penyakit ini menyerang daun. Gejala: permukaan daun bercak-bercak menembus ke bawah. Pengendalian: menyemprotkan Dithane M 45. g. Penyakit busuk batang (Cendawan Phytium sp.) Penyakit ini menyerang batang. Penularan melalui tanah dan irigasi.Gejala: batang menguning kecokllat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian: (1) memperbaiki drainase lahan; (2) menyemprotkan Dithane M 45. h. Virus mosaik (virus) Penyakit ini menyerang Yang diserang daun dan tunas. Penularan vektor penyebar virus ini adalah Aphis glycine (sejenis kutu daun). Gejala: perkembangan dan pertumbuhan lambat, tanaman menjadi kerdil. Pengendalian: (1) penanaman varietas yang tahan terhadap virus; (2) menyemprotkan Tokuthion 500 EC. C. Cabai 1. Hama Tanaman Cabai a. Trhrip (Thrips Sp.) Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe. Menurut beberapa sumber, thrips yang menyerang cabe tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan pada tanaman cabe hanya salah satunya saja. Dengan panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa

dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga. Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan. Gejala yang bisa dikenali dari kehadiran hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Adanya noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Dalam beberapa waktu kemudian, noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain dia sebagai hama perusak namun juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabe. Untuk itu, bila kita mampu mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya. Biologi : Bila kondisi menguntungkan dan makanan cukup tersedia, maka seekor trips betina mampu meletakkan telur 200–250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan di jaringan muda daun, tangkai kuncup dan buah. Telur menetas menjadi nimfa 6–8 hari setelah diletakkan. Nimfa trips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit. Pada instar kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung, biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan jerami di bawah kanopi tanaman. Pada stadium prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2 pasang sayap dan antena, aktifitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap bertambah panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran trips betina 0,7–0,9 mm, trips jantan lebih pendek.

Dalam satu tahun

terdapat 8–12 generasi.

Pada musim kemarau,

perkembangan telur sampai dewasa 13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20 hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat cepat. Pengendalian hama ini bisa dilakukan secara kultur teknis maupun kimiawi. Secara teknis dapat dilakukan dengan melakukan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabe secara bertahap dengan selisih waktu lebih lama, selain itu dapat juga menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Sedangkan pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25WP konsentrasi anjuran 0.25 - 0.5 gr /liter atau bisa juga menggunakan insektisida bentuk cair Winder 100EC dengan konsenstrasi 0.5 – 1 cc/L. b. Tungau (Mite) Hama mite selain menyerang jeruk, dan apel menyerang tanaman cabe juga. Tungau bersifat parasit dimana dia merusak daun, batang maupun buah yang mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada tanaman cabe, serangannya adalah dengan menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagioan bawah menjadi berwarna kuning kemerahan , bentuk daun menjadi menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk bisa mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Dalam klasifikasi tungau termasuk dalam Ordo Acarina, Kelas Arachnidae bukan termasuk golongan serangga. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0.5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus. Pengendalian hama mite secara kimia dapat kita lakukan penyemprotan menggunakan akarisida Samite 135EC. Konsentrasi yang dianjurkan adalah 0.25 - 0.5 ml/L. c. Kutu (Myzus persicae) (Ordo : Homoptera, Famili : Aphididae) Aphids merupakan serangga hama yang juga andil dalam merusak perkembangan tanaman cabe. Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan belang-belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan. Tidak sepeti mite, kutu persik ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat karena

selain bisa memperbanyak dengan perkawinan biasa, dia juga mampu bertelur tanpa pembuahan.

Morfologi /Bioekologi : Nimfa dan imago mempunyai antena yang relatif panjang / sama dengan panjang tubuhnya. Nimfa dan imago yang bersayap dengan warna hitam mempunyai sepasang tonjolan pada ujung abdomen yang disebut konikel, berwarna hitam. Imago yang tidak bersayap tubuhnya berwarna merah atau kuning atau hijau kekuningan. Umumnya warna tubuh nimfa dan imago berwarna sama, kepala dan dada berwarna coklat sampai hitam, perut berwarna hijau kekuningan. (Gambar 9.).

Siklus hidup 7 – 10 hari, berkembang biak secara partenogenesis, dan seekor kutu dapat menghasilkan keturunan 50 ekor. Gejala Serangan : Dampak langsung serangan : tanaman menjadi keriput, tumbuh kerdil, warna daun kekuningan, terpuntir, layu dan mati. Kutu biasanya berkelompok di bawah permukaan daun, menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman yang masih muda (pucuk). Eksudat yang dikeluarkan kutu mengandung madu, sehingga mendorong tumbuhnya cendawan embun jelaga pada daun yang dapat menghambat proses fotosintesa. Dampak secara tidak langsung : kutu daun merupakan vektor lebih dari 150 strain virus, terutama penyakit virus CMV (Cucumber Mosaic Virus), PVY (Potato Virus Y), dan CVMV.

Gejala akibat serangan hama kutu daun (Mizus persicae)

Tanaman Inang : Hama ini bersifat polifag, dengan lebih dari 400 jenis tanaman inang. Inang utama selain cabai adalah kentang dan tomat. Inang lainnya antara lain tembakau, petsai, kubis, sawi, terung, ketimun, buncis, semangka, jagung, jeruk, dan kacang-kacangan. Pengendalian : a). Kultur teknis Sanitasi gulma dan bagian tanaman yang terserang, dan selanjutnya dibakar atau dimusnahkan. b). Pengendalian fisik / mekanis Penggunaan kain kassa / kelambu di bedengan pesemaian baik untuk menekan serangan kutu daun, Penggunaan perangkap air berwarna kuning sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang ditengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu. c). Pengendalian hayati Pemanfaatan parasitoid Aphidius sp., predator kumbang Coccinella transversalis, Menochillus sexmaculata, Chrysopa sp., larva syrphidae, Harmonia

octomaculata, Microphis lineata, Veranius sp. dan patogen Entomophthora sp., Verticillium sp. d). Pengendalian kimiawi Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat digunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, jumlah kutu daun lebih dari 7 ekor per 10 daun contoh atau intensitas serangan mencapai lebih atau sama dengan 15 % per tanaman contoh. Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida Winder 100EC konsentrasi 0.5 – 1.00 cc/L. d. Lalat Buah (Bactrocera dorsalis) (Ordo : Diptera, Famili : Tephritidae) Kehadiran lalat ternyata tidak hanya mengganggu sekaligus menjijikkan namun bisa menjadi hama perusak khususnya tanaman cabe. Buah cabe yang menunggu panen bisa menjadi santapannya dalam sekejap dengan cara menusukkan ovipositornya pada buah serta meletakkan telur, menetas menjadi larva yang kemudian merusak buah cabe dari dalam. Kerusakan buah dari luar bisa kita perhatikan dari bekas tusukan yang berupa bintik hitam. Buah yang rusak tentu saja tidak akan laku dijual sehingga menyebabkan kerugian bagi petani. Pengendalian hama lalat buah cabe tergolong agak sulit karena menyerangnya dari dalam buah, untuk itu satu-satunya jalan adalah dengan mencegah lalat tersebut meletakkan telurnya pada cabe. Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan membuat perangkap dari botol bekas air kemasan yang didalamnya diberi umpan yang telah diberi sex feromon seperti metil eugenol dan insektisida. Hal ini karena lalat buah betina sangat tertarik dengan bau lalat buah jantan sehingga dia akan memburunya. Selain itu dapat juga digunakan perangkap kuning seperti yang dilakukan pada hama thrips. Karena umumnya serangga-serangga tersebut sangat menyukai warna-warna mencolok. Biologi : Lalat buah mempunyai empat stadium metamorfosis, yaitu telur, larva, pupa, dan imago (serangga dewasa). Telur lalat buah berbentuk bulat panjang, berwarna putih, dan diletakkan berkelompok 2–15 butir pada buah-buah yang agak tersembunyi atau tidak terkena sinar matahari langsung, serta pada buah yang agak lunak dan permukaannya agak kasar. Seekor lalat buah betina dapat meletakkan telur

1–40 butir/hari, dengan jumlah 1.200 -1.500 butir. Telur akan menetas menjadi larva 2 hari setelah diletakkan di dalam buah. Bentuk dan ukuran larva famili Tephritidae umumnya bervariasi, tergantung dari spesies dan ketersediaan zat gizi esensial dalam media makanannya. Larva berwarna putih keruh atau putih kekuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva hidup berkembang dalam daging buah selama 6–9 hari, menyebabkan buah menjadi busuk. Apabila larva sudah dewasa, kemudian akan keluar dari buah, dan biasanya larva jatuh (melenting) ke tanah sebelum berubah menjadi pupa (kepompong). Larva masuk ke dalam tanah dan memasuki stadium pupa tepat di bawah permukaan tanah. Pupa berwarna kecoklatan, berbentuk oval dengan bentuk panjang ± 5 mm. Lama stadia pupa 4–10 hari dan ke luar serangga dewasa (imago) lalat buah. Imago berwarna merah kecoklatan, abdomen umumnya terdapat 2 pita melintang dan satu pita membujur berwarna hitam atau bentuk T yang kadang-kadang tidak jelas. Ujung abdomen lalat betina lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah, sedangkan pada lalat jantan abdomennya lebih bulat. Siklus hidup dari telur sampai lalat dewasa di daerah tropis berlangsung ± 25 hari. e. Ulat Grayak (Spodptera litura) (Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae) Hama ini tak berbeda dengan jenis ulat lain yang juga suka makan daun. Namun keistimewaannya adalah saat memasuki stadia larva, dia termasuk hewan yang sangat rakus. Hanya dalam waktu yang tidak lama, daun-daun cabe bisa rusak olehnya. Ulat yang setelah dewasa berubah menjadi sejenis ngengat ini akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan metamorfosis-nya. Morfologi /Bioekologi : Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan dengan bercak hitam. Malam hari ngengat dapat terbang sejauh 5 kilometer.

Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25 – 500 butir) yang bentuknya bermacam-macam pada daun atau bagian tanaman lainnya, tertutup bulu seperti beludru. Larva mempunyai warna yang bervariasi, mempunyai kalung / bulan sabit warna hitam pada segmen abdomen keempat dan kesepuluh. Pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Larva menyebar dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah, perbedaannya hanya pada tanda bulan sabit, berwarna hijau gelap dengan garis punggung warna gelap memanjang. Umur 2 minggu panjang ulat sekitar 5 cm. Pupa. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari). Seekor ngengat betina dapat meletakkan telur 2.000 – 3.000 telur. Gejala Serangan : dermis bagian atas, transparan dan tinggal tulangtulang daun saja. Larva instar lanjut merusak tulang daun. Gejala serangan pada buah ditandai dengan timbulnya lubang tidak beraturan pada buah tomat. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, menyerang secara serentak berkelompok. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat, umumnya terjadi pada musim kemarau. Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain tomat juga menyerang kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, jagung, tebu,

jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., dan Trema sp. Pengendalian a). Kultur teknis Sanitasi lahan dari gulma, Pengolahan tanah yang intensif.

b). Pengendalian fisik / mekanis Pembutitan, mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya, Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu. c). Pengendalian hayati Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Cordisep, nematoda Steinernema sp., predator Sycanus sp., Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp. d). Pengendalian kimiawi Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, digunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, intensitas serangan mencapai lebih atau sama dengan 12,5 % per tanaman contoh. f. Tungau Kuning (Polyphagotarsonemus latus Banks) (Famili : Tarsonematidae Ordo : Acarina) Imago bertungkai 8 sedangkan nimfa bertungkai 6, berukuran tubuh sekitar 0,25 mm, lunak, transparan dan berwarna hijau kekuningan. Telur berbintik-bintik putih, berwarna kuning muda berdiameter 0,1 mm. Berkembang biak secara berkopulasi biasa dan partenogenesis. Tungau betina mampu meletakkan telur sebanyak 40 butir selama 15 hari. Sejak menetas dari telur hingga dewasa dan siap berkembang biak sekitar 15 hari.

Daerah Sebaran : Hama ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis sedangkan di Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini adalah Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Gejala Serangan : Hama menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal dan perubahan warna seperti daun menebal dan berubah warna menjadi tembaga/kecoklatan, terpuntir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur. Pada awal musim kemarau biasanya serangan bersamaan dengan serangan trips dan kutu daun. Pengendalian a). Kultur teknis Sanitasi memusnahkannya. b). Pengendalian hayati Pemanfaatan musuh alami yaitu predator Amblyseius cucumeris. Pengendalian hayati juga dapat dilakukan dengan entomopatogen Hirsutella sp. dan Chrysopidae. c). Pengendalian kimiawi Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat digunakan pestisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, intensitas serangan mencapai lebih atau sama dengan 15 % per tanaman contoh. Tanaman inang lain Hama ini bersifat polifag, diketahui di Indonesia terdapat lebih dari 57 jenis tanaman inang antara lain tomat, karet, teh, kacang panjang, tembakau, jeruk dan tanaman hias 2. Penyakit Tanaman Cabai a.Antracnose Tidak ada yang memungkiri bahwa Antracnose atau yang lebih dikenal dengan istilah “pathek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok dengan mengeradikasi bagian tanaman terserang dan

petani cabe. Bagaimana tidak? Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu berubah menjadi busuk oleh penyakit ini. Sudah banyak petani yang menjadi korban keganasannya. Sekali tanaman cabe kita terkena antraknosa, maka akan sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Oleh karena itu tindakan paling baik untuk penyakit ini adalah melakukan pencegahan sebelum terjadinya serangan. Gejala awal yang dapat dikenali dari serangan penyakit ini adalah adanya bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair. Lama – kelamaan busuk tersebut akan melebar membentuk lingkaran konsentris. Dalam waktu yang tidak lama maka buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Penyebab penyakit ini tidak lain adalah jamur C. capsici. Jamur ini menyerang tidak pandang bulu, karena baik buah cabe yang masih hijau atau sudah masak pun tidak luput darinya. Penyakit ini sangat mudah menyebar ke buah atau tanaman lain. Penyebarannya tidak hanya melalui sentuhan antara tanaman saja melainkan juga bisa karena percikan air, angin, maupun melalui vektor. Tidak ada satu pun cara yang bisa dilakukan agar penyakit ini bisa 100% , namun kita bisa mencegahnya dengan kultur teknis yang baik. Dapat juga dilakukan pembersihan atau pembuangan bagian tanaman yang sudah terserang agar tidak menyebar. Selain dengan cara budidaya yang baik, saat pemilihan benih harus kita lakukan secara selektif . Disarankan agar menanam benih cabe yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek. Penggunaan benih sembarangan akan beresiko terjadinya serangan penyakit. Secara kimia, pengendalian penyakit ini dapat disemprot dengan fungisida bersifat sistemik yang berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.

Gambar : Tanaman Cabe yang terserang antracnose b. Layu Bakteri Bakteri penyebab layu merupakan penyakit kedua yang meresahkan petani setelah antraknosa. Penyebab layu bakteri ini adalah Pseudomonas solanacearum yang serangannya ditandai dengan gejala layu pada tanaman cabe yang mengalami kesembuhan pada waktu sore hari, tetapi lama kelamaan kelayuannya terjadi secara keseluruhan dan menetap. Bakteri ini biasanya ditularkan melalui tanah, benih, bibit, sisa-sisa tanaman , pengairan, nematoda atau alat-alat pertanian. Selain itu bakteri ini mampu bertahan selama bertahun-tahun di dalam tanah dalam keadaan tidak aktif. Bakteri layu cepat meluas terutama di tanah dataran rendah, gejala kelayuan yang mendadak seringkali tidak bisa diantisipasi. Tanaman yang sehat tiba –tiba saja layu yang dalam waktu tidak sampai 3 hari besoknya langsung mati. Itulah gambaran serangan penyakit layu yang sangat menyeramkan. Untuk memastikan penyebab layu tersebut kita bisa mengambil tanaman yang terserang , kemudian pangkal batangnya dibelah untuk direndam pada gelas yang berisi air bening. Apabila bakteri maka akan ditandai dengan keluarnya cairan berwarna coklat susu berlendir semacam asap yang keluar pembuluh batangnya di dalam air. Untuk mengatasinya tak ada jalan lain selain menyingkirkan tanaman yang terserang, dan tetap menjaga agar bedengan tanam selalu dalam kondisi kering di luar. Selain itu , melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili bisa mengurangi

resiko serangan penyakit tersebut. Secara kimiawi, penyakit ini dapat dicegah dengan menyiram larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 - 10 gr/liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml/tanaman interval 10 - 14 hari dan dimulai saat tanaman mulai berbunga.

Gambar : Tanaman Cabe yang terserang layu bakteri c. Bercak Daun Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak berupa bulatan seperti cacar pada daun. Bila dibiarkan akan menyebabkan daun-daun cabe gugur sehingga pertumbuhan kurang optimal. Gejala pada daun tersebut ternyata baru serangan awal saja karena bila dibiarkan, akan menyerang batang, tangkai daun serta tangkai bunga. Seperti halnya layu bakteri, cendawan Cercospora capsici penyebab bercak daun ini dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman. Pengendalian terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan membuang tanaman yang terserang sekaligus membersihkan sanitasi lingkungan tanaman. Secara kimia dapat juga dicegah dengan fungisida kontak bahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, Kocide 77WP, dan atau fungisida bahan aktif Mankozeb yaitu Victory 80WP.

Gambar : Tanaman Cabe yang terserang bercak daun D. TOMAT 1. Hama Tanaman Tomat a. Biologi Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn.) (Ordo : Hemiptera Famili : Aleyrodidae) Telur : Telur serangga memiliki ukuran panjang 0,2 mm dan 0,1 mm bulatnya. Telur-telurnya diletakkan di permukaan daun bagian bawah. Masing-masing serangga betina secara acak meletakkan telur sebanyak 50 hingga 400 butir telur (dengan rata-rata 160 butir). Telur yang baru diletakkan berwarna kuning-keputihan selanjutnya berubah warna menjadi agak kecoklatan dan akan menetas setelah tujuh hingga 10 hari. Setelah telur menetas serangga memasuki empat fase nimfa sebelum akhirnya menjadi imago (dewasa).

Gambar : Telur Bemisia tabaci

Nimfa : Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar ke - 1 berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa instar ke - 2 dan ke - 3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya melekat pada daun. Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari. Crawlers (instar pertama) Setelah penetasan, muncul instar pertama berwarna kuning-kehijauan, berbentuk datar-oval, nimfa instar pertama memiliki panjang kurang-lebih 0,3 mm. Nimfa bergerak dalam jarak yang dekat kemudian menusuk ke dalam sumber sap di dalam jaringan floem dan tinggai di situ sampai menjadi dewasa. Nimfa instar ke-2 dan ke-3 Selama dalam stadia berdiam diri serangga bentuk serangga menyerupai sisik halus berbentuk oval tetapi ramping. Pada fase ini serangga tidak memiliki tungkai atau bentuk lain yang khusus dan menghisap sap dari tanaman. Nimfa instar ke-4 (Pupa). Nimfa instar ke-4 berwarna kuning dan kisaran panjang ukuran antara 0,6 sampai 0,8 mm. Pada akhir masa instar ke-4, serangga menghentikan aktifitas makan dan terjadi perubahan warna menjadi putihkekuningan.

Gambar : Nimfa Bemisia tabaci Imago : Imago berukuran kecil antara (1 - 1,5 mm), berwarna putih, dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Serangga dewasa biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan bila tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih. Lama siklus hidup (telur nimfa - imago)rata-rata 24,7 hari

Gambar : Imago Bemisia tabaci Dewasa. Dewasa umumnya muncul dari pupa (nimfa instar 4) pada pagi hari, dan yang lebih dulu muncul adalah serangga jantan. Kemunculan serangga dewasa tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi temperature. Serangga dewasa akan muncul lebih cepat jika temperatur tinggi. Kemunculan itu memerlukan kurang lebih empat jam sebelum serangga dapat terbang dan sekitar 10 sampai 12 jam sebelum serangga siap kawin. Dengan demikian menunjukkan bahwa, serangga betina dapat menerima ajakan kawin oleh serangga jantan dalam waktu 10 sampai 12 jam setelah munculnya dewasa dari pupa, yaitu ketika umur jantan lebih tua minimal 10 jam dari betina. Waktu preoviposisi berbeda-beda tergantung temperatur, preoviposisi di lapang akan berlangsung dalam jangka waktu antara satu hingga 22 hari, sedangkan jika dikondisikan pada temperatur yang terkontrol (konstan) antara 16-28 0C preoviposisi akan berlangsung dalam kurun waktu 2-5 hari. Seks rasio bervariasi antara 0,5 sampai 0,8 betina, dan pada beberapa kasus di lapang dan di kotak serangga, populasi betina dilaporkan lebih dominan. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa, proporsi anakan betina dipengaruhi oleh suhu. proporsi anakan betina meningkat sejajar dengan meningkatnya suhu. Rasio seks akan meningkat dari 0,60 ke 0,63; 0,69; dan 0,76betina pada temperatur 19, 22, 25 dan 280C. Gejala Serangan: Kerusakan langsung pada tanaman disebabkan oleh imago dan nimfa yang mengisap cairan daun, berupa gejala becak nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Ekskresi kutu kebul menghasilkan madu yang merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesa tidak berlangsung normal. Selain kerusakan langsung oleh isapan imago dan nimfa, kutu kebul sangat berbahaya karena dapat bertindak sebagai vektor virus. Sampai saat ini tercatat 60

jenis virus yang ditularkan oleh kutu kebul antara lain : Geminivirus, Closterovirus, Nepovirus, Carlavirus, Potyvirus, Rod-shape DNA Virus. Pengendalian : a). Kultur teknis - Pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman bukan inang (terutama bukan famili Solanaceae seperti tomat, cabai, kentang dan Cucurbitaceae seperti mentimun). - Sanitasi lingkungan - Tumpang sari antara tanaman sayuran, cabai atau tomat dengan tagetes b)Pengendalian fisik / mekanis - Pemasangan perangkap likat berwarna kuning (40 buah per ha). - Pemasangan kelambu di pembibitan sampai di pertanaman. - Sisa tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar. c).Biologi - Kumbang predator Menochilus sexmaculatus (Coccinelidae), mampu memangsa 200 - 400 ekor nimfa kutu kebul. - Tabuhan parasitoid nimfa Encarcia formosa d). Pengendalian kimiawi - Insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. - Penyemprotan diusahakan mengenai daun bagian bawah - Penggunaan pestisida nabati seperti : nimba, tagetes, eceng gondok b. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hubner) Ulat ini termasuk golongan ngengat, tubuh berwarna cokelat tua dengan garisgaris cokelat pada kedua sisi dan bagian depan berwarna abu-abu, panjang ngengat 2,2 cm. Telur diletakkan berkelompok atau tunggal pada daun, pangkal tanaman muda, berbentuk bulat kecil diameter 0,5 mm, warna kuning muda. Larva berwarna cokelat tua sampai kehitam-hitaman panjang 30-35 mm. Larva aktif pada senja dan malam hari, pada siang hari bersembunyi di permukaan tanah disekitas batang tanaman muda, celah-celah tanah. Saat istirahan larva melingkarkan tubuh.

Gambar : Larva dan imago Agrotis ipsilon Hubner Serangan ulat tanah ditandai dengan terpotongnya tanaman pada pangkal batang sehingga tanaman rebah. Tanaman muda yang berbatang kecil sering dipotong. Cara pengendalian Membunuh satu-persatu. Penggunaan insektisida seperti Furadan 3G di sekitar pangkal batang. c. Ulat Buah (Heliotis armigera) Ordo : Lepidoptera Famili : Noctuidae Telur diletakkan di pucuk tanaman dan apabila buah tomat sudah mulai keluar, ditempatkannya di atas benang putik. Warna telur putih, telur menetas dalam 2-5 hari. Ulat kecil mempunyai warna yang menarik dan berubah sesuai dengan pertumbuhannya. Pertama-tama berwarna putih kekuningan dengan kepala berwarna hitam, kemudian hijau pucat, kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan hitam kemerah-merahan. Panjang ulat dapat mencapai 3,45 cm. Kepompong dibentuk di dalam tanah, lama masa kepompong 12-14 hari.Serangan ulat buah mula-mula melubangi buah tomat, kemudian masuk kedalam buah tomat yang sedang tumbuh. Hama ini menyukai berbagai jenis tanaman, selain tomat dapat juga menyerang cantel, tembakau, kapas, jagung dan kentang. Cara Pengendalian Apabila ditemukan serangan dapat dilakukan

penyemprotan dengan insektisida seperti Azodrin 15 WSC, Nogos 50 EC, Diazinon, Cymbush, Bayrusil. Perlakuan insektisida dapat dilakukan pada saat ulat belum masuk ke dalam buah tomat. Faktor pembatas bagi perkembangan ulat buah adalah: hujan lebat dapat menyapu sebagian telur yang berada diatas daun tanaman tomat. Tanah yang kering dapat menghalangi keluarnya kupu dari kepompong yang berada dalam tanah. Mempunyai sifat kanibalisme yang merupakan faktor utama dalam menekan populasinya.

d. Ulat grayak (Spodoptera litura F). Daun bolong-bolong pertanda serangan ulat grayak. Kalau dibiarkan tanaman bisa gundul atau tinggal tulang daun saja. Ia juga memakan buah hingga berlubang akibatnya tomat tidak laku dijual. Cara Pengendalian Mengumpulkan telur dan ulat-ulat langsung

membunuhnya. Jaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama dan pergiliran tanaman. Pasang perangkap ngengat UGRATAS, dengan cara dimasukkan kedalam botol bekas air mineral ½ liter yang diberi lubang kecil sebagai sarana masuknya kupu jantan. Karena UGRATAS adalah zat perangsang sexual pada serangga jantan dewasa dan sangat efektif untuk dijadikan perangkap. Jika terpaksa atasi serangan ulat grayak dengan Decis 2,5 EC, Curacron 500 EC, Orthene 75 Sp, Match 50 EC, Hostathion 40 EC, Penyemprotan kimia dengan cara bergantian agar tidak terjadi kekebalan pada hama. e. Lalat putih/kutu kebul (Bemisica tabaci) Hama berwarna putih kekuning-kuningan, bermata merah, dua pasang sayang berwarna putih dengan bentangan 1 mm, panjang tubuh 1 mm, yang betina lebih besar dari jantan. Tubuh tertutup serbuk putih seperti lilin, jika terganggu akan menghamburkan serbuk putih seperti kabut. Hama ini menyerang dan mengisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun menjadi rusak. Cara Pengendalian Gunakan mulsa plastik atau jerami, hilangkan gulma sebagai inang. Semprot dengan Diazinon, dan Malathion. f. Nematoda bisul akar Memiliki bentuk seperti cacing kecil, ukuran betina lebih gemuk. Nematoda ini meletakkan telur dan membentuk larva didalam akar sehingga menyebabkan sel akar membesar dan menyebabkan bisul akar. Akar tanaman membengkak dan berbintil-bintil mengakibatkan terganggunya fungsi akar dalam menyerap air dan unsur hara. Pertumbuhan tanaman terhambat serta tanaman menjadi layu. Cara Pengendalian Tanam varitas yang tahan serangan nematoda, cabut dan bakar yang terserang. Gunakan nematisida seperti Curater, Indofuran, dan Furadan.

h. Tungau Kuning (Polyphagotarsonemus latus Banks) Ordo :Acarina; Famili : Tarsonematidae Morfologi : Paurometabola (Telur- nimfa-Imago). Telur : Telur berbintik – bintik putih, warna kuning muda berdiameter 0,1 mm. Diletakkan terpisah – pisah di permukaan bawah daun. Berkembang biak secara berkopulasi biasa dan partenogenesis. Betina mampu bertelur sebanyak 40 butir selama 15 hari. Siklus hidup tungau sejak menetas dari telur hingga dewasa dan siap berkembangbiak sekitar 15 hari. Nimfa : Nimfa bertungkai 6,tubuh berukuran sekitar 0,25 mm, lunak, transparan dan berwarna hijau kekuningan.

Imago : Imago bertungkai 8, tungau ukurannya kecil dan mengisap cairan sel daun.

Distribusi : Hama ini bersifat kosmopolit, di dunia dilaporkan hama ini terdapat di Eropa,Asia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Oceania. Di Indonesia hama ini di laporkan telah ada di seluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.

Tanaman inang : Hama ini bersifat polifag. Tanaman yang menjadi inangnya lebih dari 57 jenis diantaranya adalah cabai, kentang, paprika, kacang panjang, karet, teh, tembakau, jeruk, papaya, dan tanaman hias. Gejala Seranga: Tungau menyerang tangkai, daun dan buah. Hama menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal seperti perubahan warna daun menjadi tembaga/kecoklatan, terpelintir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur.

Penegendalian : a. Kultur Teknis - Sanitasi dengan mengeradikasi bagian tanaman terserang dan memusnahkannya. - Populasi hama biasanya meningkat pada kondisi kering. Oleh karena itu pengairan yang cukup merupakan salah satu cara pengendalian yang tepat untuk hama-hama tersebut. b. Biologi - Pemanfaatan musuh alami yaitu predator Amblyseius cucumeris, pathogen Beauveria bassiana. c. Kimia - Penggunaan pestisida sintetik

h. . Lalat Pengorok Daun (Liriomyza huidobrensis Blanchard) Ordo : Diptera, FamiliAgromyzidae Telur : Telur berwarna putih bening berukuran 0,28 mm x 0,15 mm, diletakkan pada jaringan epidermis daun melalui ovipositor. Jumlah telur yang diletakkan serangga betina selama hidupnya berkisar 50 – 300 butir dengan rata-rata 160 butir. Lama stadium telur berlangsung antara 2 – 4 hari. Larva berbentuk silinder, tidak punya kaki, larva yang baru keluar berwarna putih susu atau putih kekuningan, segera mengorok jaringan misofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama hidupnya. Fase larva antara 6 – 12 hari. Pupa berwarna kuning kecoklatan dan Imago berupa lalat kecil terbentuk di dalam tanah. Fase pupa berkisar 9 – 12 hari. imago jantan antara 3 – 9 hari

berukuran sekitar 2 mm. Imago lalat betina mampu hidup selama 6 – 14 hari dan

Gambar : Telur, Larva, Pupa dan imago Liriomyza huidobrensis

Distribusi : Hama ini bersifak kosmopolit.di dunia dilaporkan hama ini terdapat di Eropa,Asia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Oceania. Di Indonesia hama ini di laporkan telah ada di seluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Tanaman Inang : Hama ini selain menyerang tanaman tomat, juga menyerang tanaman kentang, seledri, wortel, ketimun, bit, selada, kacang merah, kacang panjang, cabai, gambas, kapri, brokoli, lettuce, bawang daun, bayam, buncis, terung, semangka, krisan, babadotan, sawi tanah, bayam liar. Gejala Serangan : Daun yang terserang memperlihatkan gejala bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok.

Penegendalian : a)Kultur teknis • Budidaya tanaman sehat, upayakan pengairan yang cukup, pemupukan berimbang, pembumbunan dan penyiangan gulma. Tanaman yang tumbuh subur lebih toleran terhadap serangan hama. b)Pengendalian fisik / mekanis • • • Pengambilan daun yang menunjukkan gejala korokan dengan dipotong, dikumpulkan lalu dimusnahkan. Penggunaan mulsa plastik warna perak, Pemasangan perangkap kuning

c)Pengendalian hayati • Pemanfaatan musuh alami seperti : parasitoid Asecodes sp., Chrysocharis sp., Closterocerus sp., Cirrospilua ambigus, Neochrysocharis formosa, Phigalia sp., Quadrastichus sp. d)Pengendalian kimiawi • insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian

2. Penyakit Tanaman Tomat a. Penyakit layu fusarium Penyakit ini disebabkan oleh cendawan fusarium oxysporium. Gejalanya terjadi layu pada daun-daun tua terus menyebar ke daun-daun muda dan menguning. Patogen menyerang pada akar dan berlanjut pada pembuluh xilem yang menyebabkan tranportasi air terganggu. Cara Pengendalian Gunakan mulsa PHP, hindari terjadinya luka pada akar, tidak menanam pada bekas serangan patogen. b. Penyakit bercak daun septoria Disebabkan oleh cendawan Septoria lycopersici Speg. Gejalanya berupa bercak-bercak bulat kecil pada permukaan daun bagian bawah sehingga merusak jaringan daun. Cara Pengendalian Lakukan rotasi tanaman dengan tanaman lain selain famili Solanaceae. Lakukan penyemprotan dengan fungisida seperti Klorotalonil. c. Penyakit busuk daun Disebabkan oleh cendawan Phytopthora infestan (Mont.) Patogen menyerang semua umur, terutama jika kelembaban udara tinggi, menyerang dari tepi daun dan menjalar terlihat bercak-berjak tidak beraturan. Daun menjadi agak basah dan lunak selanjutnya membusuk. Juga menyerang batang dan buah sehingga membusuk. Cara Pengendalian Kendalikan dengan fungisida seperti Clorotaloni, Acylalamine, Propamocarb, Oxadityl, gunakan varietas yang tahan dan musnahkan tanaman yang terserang.

d. Penyakit layu bakteri Disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Bakteri menyerang jaringan xilem sehingga menyebabkan tanaman mengalami kelayuan pada daun yang diawali dari daun-daun muda, terlihat seperti kekurangan air. Cara Pengendalian Gunakan varietas unggul yang tahan serangan bakteri. Rotasi tanaman dengan tanaman lain yang beda famili. Pengaturan air yang lebih baik. e. Penyakit bercak bakteri Disebabkan Xantomonas vesicatoria, pada saat musim hujan

perkembangannya sangat pesat. Gejala yang timbul berupa bercak-bercak berwarna gelap mengkilap pada daun, batang, dan buah tomat. Pada buah bercak dapat membesar. Cara Pengendalian Gunakan varietas unggul yang tahan serangan bakteri. Rotasi tanaman dengan tanaman lain yang beda famili. f. Penyakit Cekik Disebabkan oleh cendawan Phytium sp. Patogen menyerang pangkal batang tanaman hingga mati. Kebanyakan menyerang dipesemaian, di kebun menyerang jika keadaan tanah becek. Cara Pengendalian Lakukan pengolahan tanah dengan baik, musnahkan tanaman terserang, semprot dengan larutan fungisida g. Penyakit busuk buah Disebabkan oleh cendawan Botrytis cinerea. Patogen menyerang pada saat buah dalam wadah yang terlalu lembab dan temperatur tinggi. Buah membusuk, berair dan bau tak sedap. Cara Pengendalian Pengendaliannya dengan memperbaiki wadah penyimpanan agar tidak lembab yaitu ada tempat keluar masuknya udara. h. Penyakit Mosaik Disebabkan oleh virus mosaik (Tomato mosaic virus). Virus ini berbentuk batang. Gejala serangan menunjukkan tanaman lebih kerdil, buah sedikit kecil-kecil, warna daun belang-belang antara hijau tua, hijau muda, hijau dan kekuningan

(mosaik). Cara Pengendalian Jaga kebersian pada semua peralatan kebun, bersihkan gula di dalam areal pertanaman, lakukan pergiriran tanaman. E. PADI 1. HAMA PADI a. Hama Sundep (Scirpophaga innotata) Hama endemis ini berkembang dari pantai hingga daerah pedalaman dengan ketinggian 200 m dpl, dengan curah hujan (kurang dari 200 mm) terjadi bulan Oktober-November. Tanda-tanda hama ini dimulai dengan melakukan invasi (terbangnya ribuan kupu-kupu berwarna putih pada sore dan malam hari) setelah 35 hari masa hujan. Kupu-kupu ini melakukan terbang sekitar 2 minggu, menuju daerahdaerah persemaian padi. Selanjutnya telur-telur (170-240 telur) diletakkan di bawah daun padi yang masih muda dan akan menetas menjadi ulat perusak tanaman padi setelah seminggu. Penyerangan ini dikenal dengan nama Hama Sundep dan Hama Beluk. Distribusi: Ind, india, pakistan, filipina, Vietnam, australia.Inang: Millet, paspalum, tebu, panicum dll Karakter pembeda: kelompok telur betuk pipih ditutupi lapisan rambut.ditemukan pada tunggul batang padi.pupa tinggal pada bagian bawah batang selama dormansi. Telur: berkelompok, coklat kuning, ditutupi rambut diletakkan pada bagian bawah ujung daun, pd anakan pada bagian atas daun. Larva: langsung menggerek batang, waktu baru menetas, menyebar melalui air irigasi. Pupa : terdapat pada bagian bawah batang. Imago : jantan dan betina warna sama. Tidak punya bintik hitam pada sayap depan. Inang; millet, tebu, gulma. Perbedaan hama sundep dengan hama beluk yaitu hama sundep menyerang daun padi muda, menguning dan mati. Walaupun batang padi bagian bawah masih hidup atau membentuk anak tanaman baru tapi pertumbuhan daun baru tidak terjadi. Sedangkan hama beluk yaitu menyerang titik tumbuhh tanaman padi yang sedang bunting sehingga bulirpadi keluar, berguguran, gabah-gabah kosong dan berwarna keabu-abuan (Kartasapoetra, 1993).

Untuk membasmi hama-hama ini ditempuh dengan cara yaitu (1) petani menyebarkan bibit-bibit tanaman padi di persemaian setelah tahu jadwal invasi serangan ulat-ulat ini diperkirakan telah selasai, (2). Penanaman padi yang memiliki daya regenerasi yang tinggi, (3). Menghancurkan telur-telur Scirpophaga innotata yang terdapat dilingkungan persemaian dan membunuh larva-larva yang baru menetas, (4). Melakukan tindakan preventif dengan penyemprotan persemaian menggunakan insektisidayang resistensi, (5). Bibit-bibit tanaman padi yang akan disemai dicelupkan dalam herbisida, (6). Setelah Scirpophaga innotata dilakukan penyemprotan insektisida yang mematikan telur dan larva.

Gambar : Larva Scirpophaga innotata

Gambar : Pupa Scirpophaga innotata b. Wereng Coklat (Nephotetix apicalis (Stal) (Homoptera: Cicalidae) Wereng padi hijau sesuai dengan warnanya.Kerusakan tidak begitu berarti dibandingkan dengan wereng coklat. Wereng coklat dapat membantu penularan virus pada tanaman padi. Serangga muda berwarna hijau muda. Dewasa mempunyai bintik bintik hitam pada ujung dan tengah sayap. Pada jantan bintik bintik lebih jelas. Betina menghasilkan telur 100-200 butir, yg diletakkan pada pelepah daun. Stadia telur selama 1 minggu,stadia nimpha selama 3 minggu dan stadia imago selama 4 minggu.

Wereng coklat dapat merusak kelopak-kelopak dan urat-urat daun padi dengan alat penghisap pada moncong yang kuat. Jumlah telur satu betina wereng coklat adalah 25 butir yang ditempatkan dibawah daun padi selama tiga kali sampai dia mati. Cara pemberantasan hama dilakukan dengan insektisida, pembunuhan hama, rotasi tanaman, perangkap lampu jebak dan lain-lain.

Gambar : Gejala kerusakan yang disebabkan oleh Nephotetix apicalis

Gambar : Imago Nephotetix apicalis

c. Lalat bibit padi sawah (Hydrellia philipina Ferino) (Ordo diptera, Ephydridae) Hama ini pada tahun 1968 menyerang tanaman padi di Philipina Metamorfosa : Telur, larva, pupa, dan imago. Stadia telur selama 6 hari, stadia larva selama 10 hari, stadia pupa selama 8 hari dan stadi imago selama 10 hr. Imago berwarna abu-abu kekuningan. Hama ini aktif pada siang hari dan imago berukuran 8 – 2,3 mm dan lama siklus hidupnya sekitar 3 – 7 hari. Telur diletakkan secara tidak berkelompok dan setiap imago betina dapat mengahsilkan 100 butir telur.

Larva: transparan, pada setiap instar warna berubah putih-kuning. Pupa: coklat tua, ditemukan pada anakan yg sudah tua. Kerusakan : Pada daun yang baru membuka/jaringan sehingga daun berubah berwarna menjadi putih sehingga serangan tanaman menjadi kerdil. Inang : dari rumputan cynodon dactylon, Echinochloa sp. Panicum repens. Pengendalian: kultur tekh, hayati, kimia. d. Hama putih (Nympula depunctalis Guence) (Lepidoptera:Pyralidae) Menyerang dan bergelantungan pada daun padi sehingga berwarna keputihanputihan, bersifat semi aquatil (menggantungkan hidup pada iar untuk bernafas dan udara). Kerusakan yang ditimbulkannya dapat mematikan tanaman padi disebabkan oleh gerakan-gerakan invasi melibatkan banyak hama yang menyerang tanaman padi sebagai sumber makanan, dan tanaman padi yang diserang kebanyakan berasal dari bibit lemah. Siklus hidup hama ini sekitar 35 hari. Metamorfosa (Telur, larva, pupa, imago), stadia telur selama 3 hari, stadia larva sekitar 20 hari, stadia pupa selama 7 hari dan stadia imago selama 5 hari. Imago memiliki panjang sekitar 2,2 – 3 mm dan meletakkan telur malam hari, jumlah telur yang dihasilkan satu betina sekitar 50 butir dan hama ini tertarik pd lampu perangkap. Telur berwarna kuning pucat, bentuk seperti cawan/tak beraturan, diletakan pada bagian bawah daun yg terendam air, sebelum menetas warna berubah menjadi kuning gelap. Larva:instar awal makan dengan mengikis daun. Pupa ditemukan dalam tabung. Hama putih akan menjadi kepompong, sarung atau kantong yang selalu dibawanya akan ditinggalkan dan diletakkan pada batang oadi, kemudian dimasukinya lagi dan tidak keluar sampai menjadi kepompong (sekitar 2 minggu). Pembasian ini dapat dilakukan dengan mempelajari siklus hidup, mengeringkan petakan-petakan sawah, membiarkan petak sawah berair dan diberi minyak lampu atau penggunaan insektisida ramah lingkungan.

Gambar : Metamorfosis Nympula depunctalis

Gambar : Imago Nympula depunctalis d. Hama wereng coklat (Nilapervata lugens) (Homoptera:Delphacidae) Penyebaran: Asia selatan, Asia tenggara, Asia timur, Australia timur dan kepulauan Fiji. Gejala : tanaman menguning dan mati. Padi yang terserang belum masuk masa panen dan persemaian. Hama ini sebagai vektor virus. Satu betina dapat menghasilkan 100 – 500 telur dengan kelompok telur sampai 10 butir. Metamorfosis hama ini yaitu Telur , nymph (5 instar), dan dewasa selama empat minggu. Dalam 1 padi : 4-5 generasi. Dewasa: Brachypters dan macropters. Hama ini selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulirbulir buah muda yang lunak, dapat meloncat tinggi dan tidak terarah, berwarna coklat, berukuran 3 – 5 mm, habitat ditempat lembab, gelap dan teduh. Telur banyak ditempatkan dibawah daun padi yang melengkung dengan masa ovulasi 9 hari menetas, 23 hari membentuk sayap dan 2 minggu akan bertelur kembali. Hama ini meluas serangannya dilihat dari bentuk lingkaran pada tanaman dalam petakan padi.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk memberantas ini dengan cara prefentif, represif dan kuratif. Tindakan preventif dengan cara : (1). Serumpun daun padi layu, lakukan pemeriksaan dengan teliti, (2). Apabila dirumpun padi ditemukan se ekor wereng, bunuh dan periksa telur-telurnya didaun lalu di cabut dan di bakar. Periksa tanamantanaman lainnya yang berdekatan, (3) apabila dalam serumpun terdapat banyak wereng, lakukan penyemprotan massal dengan insektida. Tindakan reppresif dapat dilakukan dengan cara : (1). Pengeringan pada petakan sawah, (2). Pencabutan dan pembakaran seluruh tanaman, (3). Memilih bibit unggul (PB 30, 32, 34, Sicantik, Bengawan, dan lain-lain) yang direndam dengan Aldrien 40 % (12 Kg/ ha) atau Dildrien 50 % WP (10 gr/ Kg benih). (4).Crop rotation (pergiliran padi dan palawija). Tindakan kuratif dapat dilakukan dengan cara : (1) Insektisida butiran menggunakan Furadan 30 (17 – 20 Kg / ha), Basudin 10 gr 9 – 15 Kg / ha) dan Diazinon 10 G (10 – 15 Kg / ha) yang ditaburkan di antara larikan petak sawah tiiga atau empat minggu sekali. (2). Penyemprotan insektisida cair seminggu sekali atau maksimal 10 hari menggunakan Agrothion 50, Sumithion 50 EC (2 liter/ha), Karphos 50 EC (2 liter/ha), DDVP 50 EC (0,6 liter/ha), Nogos 50 (0,6 liter/ha), Servin 85 Sp (1,2 liter/ ha).

Gambar : Imago Nilapervata lugens

2. Penyakit Padi a. Bercak Coklat (Drechslera oryzae) Gejala : dapat timbul pada bibit, daun dan buah. Bibit mula-mula terjadi busuk pada koleoptilnya, batang dan akar menyebabkan kematian. Pada biji menyebabkan turunnya mutu biji dan bersifat (seep borne), dan pada daun tanaman yang sudah dewasa terjadi bercak coklat yang memanjang, bercak kercil warna coklat tua atau coklat ungu. Serangan berat dapat menyerang daunnya menjadi kering jika lingkungan yang cocok patogen dapat menyerang batang dan tangkai bulir, dan tidak bisa membentuk malai atau malai tidak keluar dari upih daun. Daur penyakit: dapat bertahan sebagai meselium atau konidium dalam biji, dan dapat bertahan pada biji selama 4 tahun, dapat bertahan pada jerami, tanah bersifat parasit fakultatif, konidium dapat dipencarkan oleh angin, dan jamur dapat mengadakan infeksi dengan menembus epidermis dan stomata. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan jamur ini adalah ketahanan, kerentanan, kelembaban dan suhu. Ketahanan dapat ditentukan oleh tebal atau tipisnya sel-sel epidermis. Kerentanan : meningkat bertambahnya umur tanaman paling rentan pada fase pembentukan buah dan bunga. Kelembaban : (1). Tanah yang kering lebih rentan terhadap patogen ini, (2). Juga mempengaruhi lamanya jamur bertahan dalam tanah makin tinggi kelembaban tanah makin pendek waktu bertahannya jamur, (3). Kelembaban 20 % dengan suhu 31 C jamur bertahan 6 bulan, kelembaban 96 % dengan suhu yang sama bertahan selama 1 bulan. Suhu optimum untuk berkecambahan konidium 25 – 30 C untuk menginfeksi diperlukakan kelembaban udara paling rendah 92 % dengan suhu 25 C dan infeksi tidak dapat terjadi pada kelembaban 89 %. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara : (1). Pemberian unsur hara yang seimbang, (2). Sanitasi dan rotasi tanaman, (3). Penanaman jenis yang tahan, (4). Perawatan biji, dan (5). Penyemprotan dengan menggunakan fungisida antara lain Hinosan 50 BC, Dithane M-45, antracol 70 WP, Delsene MX 200.

Gambar : Gejala serangan Drechslera oryzae

Gambar : Miselium Drechslera oryzae b. Blast (Pyricularia oryzae) Gejala : dapat timbul pada daun (balst daun), bunga, malai, dan biji. Daun (balst daun) bercak berbentuk jorong dengan ujung-ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputihan dan tepinya coklat atau coklat kemerahan, coklat cenderung berkumpul dipangkal helaian daun. Pada malai dapat menyebabkan busuk pada tangkai malai yang dikenal dengan busuk leher (heck blast). Serangan ini menyerang kerugian yang besar karena hampir semua biji pada malai tersebut hampa dan tangkai malai yang busuk mudah patah. Pada biji terdapat bercak-cak kecil yang bulat. Daur penyakit : penularan terutama oleh perantara konidium yang dipencarkan oleh angin (terutama pada malam hari), penetrasi kebanyakan terjadi secara langsung dengan menembus ketikula dan stomata, daun muda lebih mudah terinfeksi dengan

daun tua, dan patogen ini dapat memperthankan diri dari sisa-sisa tanaman sakit dan biji dalam bentuk miselium dan konidium. Faktor-faktor yang mempengaruhi : kelebihan N dapat menambah kerentanan tanah, kekurangan air dapat menambah kerentanan jadi padi pada tanah kering (gogo) mendapat seranngan yang lebih berat dari pada padi sawah, suhu optimum untuk perkecambahan konidium dan pementukan apresorium adalah 25 – 30 C, dan jenisjenis padi yang tanah tidak dapat mempertahankan ketahanannya dalam jangka waktu yang lama karena patogen ini mudah membentuk ras baru. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara : (1). Pemupukan yang seimbang untuk daerah serangan epidermis dianjurkan jangan memakai dosis lebih dari 90 Kg N/ha, mengusahakan agar persemaian dan pertanaman padi memperoleh air yang cukup, penanaman jenis-jenis padi yang tahan antara lain yang telah di uji di Sumatera Barat antara lain : IRAT 13, IRAT 140, denorado, IR 84, Gago Hampung, tidak memakai biji dari tempat-tempat yang terjangkit sebagai benih, dan memakar jerami dari pertanaman sakit untuk mengeluatkan sumber infeksi.

Gambar : Gejala kerusakan Pyricularia oryzae

Gambar : Gejala kerusakan Pyricularia oryzae c. Hawar Daun Bakteri Gejala : 1 -2 minggu setelah padi dipindahkan dari persemaian. Daun-daun yang sakit berwarna hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung diikuti oleh melipatnya helaian daun di sepanjang ibu tulang daun. Tegak terakhir dari penyakit ini adalah membusuknya tanaman. Bakteri terdapat pada bekas pembuluh kala daun yang sakit di potong dan diletakkan daidalam ruangan. Daur penyakit ; bakteri ini menginfeksi melalui luka-luka pada daun karena biasanya bibit padi di potong ujung sebelum ditanam juga sering masuk melalui luka pada akar sebagai pencabutan, bakteri tidak dapat bertahan lama pada biji jingga akibat pencabutan, dan pada umumnya bakteri dapat tersebar melalui hujan yang berangin. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara : (1). Menanam jenis yang tahan seperti : IR 22, IR 26, dan IR 36, bibit padi dipindahkan tidak dipotong yang daunnya, (3). Pemupukan yang seimbang, (3).tidak mengalami persemaian terlalu dalam, (4). Penyakit dapat dicegah dengan merendam bibit-bibit yang dipotong daunnya kedalam larutan terusi 0,05 % selama 30 menit, dan (5). Tanaman dapat disemprot dengan bakterisida Fenatih-5-oksida (Stablex 10 WP) dengan dosis 0,1 Kg/ha bahan aktif.

Gambar : Gejala kerusakan pada Hawar Daun Bakteri

Gambar : Gejala kerusakan Hawar Daun Bakteri D. Tungro Penyakit ini ditularkan oleh wereng hijau Nephotetix virenscens. Gejalanya : pertumbuhan yang terhambat dan daunnya berubah menjadi kuning perubahan dimulai dari ujung daun dan meluas kebahagian pangkal batang, tanaman yang sakit cenderung memiliki anakan sedikit, pembentukan akar menjadi berkurang, tanaman yang sakit bembentukan bunganya terhambat, malai kecil dan keluar dari upih daun. Daur penyakit ini adalah virus ini ditularkan oleh wereng hijau, vektor ini ditulari virus secara non persisten, vektor lain dari virus ini adalah Nephotetix paruus, N. malayanus, dan Recelia dorsatis. Serangga ini mempertahankan virus didalam badannya selama 5 atau 6 hari, virus tidak menular melalui biji dan tanah dan tidak dapat tertular secara mekanis, dan virus mempunyai tanaman inang lain seperti rumput belulang dan rumput ketelah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini adalah (1). Populasi serangga, tanpa adanya serangga virus tidak akan bisa hidup dan tidak mampu menyebabkan penyakit pada tanaman, (2). Adanya sumber virus, di tempat ada virus dan ada tanaman dan ada serangga sehingga serangga tersebut membawa virus dan membawa penyakit dan kemudian tanaman muda lebih rentan dibandingkan dengan tanaman muda, (3). Kerentanan dan umur tanaman, tanaman muda lebih rentan, tanaman muda baik yang sehat bisa terserang sehingga diduga ini penyakit fisiologis, dan (5). Hama yang menjadi vektor dan yang menjadi inang virus. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara ; pengendalian vektor serangga dengan insektisida seperti : dlazohan 60 EC, Basazinon 45/33cc. Penyemprotan ini dapat dilakukan bila populasi vektor lebih 2 ekor/rumpun pada saat tanaman berumur 30 hari dan 4 ekor/rumpun berumur besar dari 30 hari. Dan merendam bibit dengan insektisida sistemik antara lain furadan.

Gambar : Gejala kerusakan yang disebabkan oleh vektor serangga.

Gambar : Gejala kerusakan yang disebabkan oleh vektor serangga.

F. BAWANG DAUN dan BAWANG MERAH 1. Hama Tanaman Bawang Daun dan Bawang Merah a. Ulat Bawang (Spodoptera exigua Hubner) (Ordo : Lepidoptera; Famili : Noctuidae) Distribusi : Kosmopolit dan tersebar luas di seluruh dunia meliputi Afrika, Asia Tenggara, Eropah Tengah dan Selatan, Timur Tengah, Australia, Amerika Serikat bagian selatan, Madagaskar, India, Cina Selatan, Filipina. Di Indonesia hama ini terutama ditemukan di pulau Jawa dan Sumatera Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Tanaman Inang : Hama ini bersifat polifag lebih dari 20 jenis tanaman menjadi inangnya pada tanaman sayuran selain bawang , asparagus, bit, brokoli,bawang putih, kucai, cabai, kentang, tomat, lobak, bayam.Tanaman lainnya selain sayuran diantaranya kapas, padi, jagung, kacang-kacangan seperti kacang tanah dan kedelai, jeruk, dan melon. Gejala serangan : Ulat bawang dapat menyerang tanaman sejak fase pertumbuhan awal (1-10 hst) sampai dengan fase pematangan umbi (51-65 hst). Ulat muda (instar 1) segera melubangi bagian ujung daun, lalu masuk kedalam daun bawang. Ulat memakan permukaan daun bagian dalam, dan tinggal bagian epidermis luar. Daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih transparan, akhirnya daun terkulai. Telur : Telur diletakkan telur pada daun bawang secara berkelompok dan ditutupi oleh bulu-bulu atau sisik dari induknya. Tiap kelompok telur maksimum terdapat 80 butir. Jumlah telur yang dihasilkan seekor betina sekitar 1.000 butir.Telur berwarna putih,berbentuk bulat sampai bulat telur (lonjong) dengan ukuran sekitar 0,5 mm. Setelah 2-6 hari telur menetasmenjadi larva.

Gambar : Telur S. exigua Larva : Larva berwarna hijau dengan garis-garis hitam pada punggungnya, berukuran 1,2 – 1,5 mm. Larva (ulat) muda terdiri dari enam instar kadang ada juga yang lima instar. Setelah melalui instar akhir, larva mejatuhkan diri ke tanah untuk berkepompong (pupa).

Gambar : Larva S. exigua Pupa : Pupa berwarna cokelat muda dengan panjang 9-11 mm. Pupa berada di dalam tanah ± 1 cm, dan sering dijumpai juga pada pangkal batang, terlindung di bawah daun kering. Lama hidup pupa berkisar antara 6 – 7 hari.

Gambar : Pupa S. exigua

Imago : Ngengat mempunyai sayap depan berwarna cokelat tua dengan garisgaris kurang tegas dan terdapat bintik-bintik hitam, rentangan sayap antara 25-30 mm. Sayap belakang berwarna keputih-putihan dan tepinya bergaris-garis hitam. Ngengat betina mulai bertelur pada umur 2-10 hari.

Gambar : Imago S. exigua Pengendalian : a. Kultur Teknis   Menanam varietas toleran Penerapan pola tanam yang meliputi pengaturan waktu tanam, pergiliran tanaman, tanam serentak, dan tumpang sari.     Sanitasi/pengendalian gulma disekitar pertanaman Pengolahan tanah yang sempurna Pengelolaan air yang baik Pengaturan jarak tanam

b. Fisik/Mekanik  Mengumpulkan kelompok telur dan ulat bawang lalu dibutit (dimasukkan dalam kantong plastik dan diikat), terutama pada saat tanaman bawang merah berumur 7 – 35 hari kemudian dimusnahkan.  Memasang lampu perangkap (neon 7 – 10 watt

jumlah sekitar 25 – 30 buah/ha), mulai dari 1 minggu sebelum tanam sampai menjelang panen (± 60 hari)  Pemasangan perangkap feromonoid seks dipasang sebanyak 40 buah/ha untuk menangkap ngengat S. exigua c. Biologi  Menggunakan parasitoid S. exigua seperti Telenomus spodopterae, Eriborus sinicus, Apanteles sp., Trichogramma sp., Diadegma sp., Cotesia sp., Chaprops sp., Euplectrus sp., Stenomesius japonicus, Microsplitis similes, Steinernema sp., dan Peribaea sp.  Patogen serangga antara lain Mikrosporidia SeNPV, Bacillus thuringiensis, Paecilomyces farinosus, Beauveria bassiana , Metarrhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Erynia spp.  Predator antara lain Carabidae.

d. Kimia  Aplikasi pestisida kimia sintetik misalnya yang berbahan aktif sipermetrin deltametrin, beta siflutrin, dan spinosad. b. Lalat Pengorok Daun (Liriomyza chinensis) (Ordo : Diptera; Famili : Agromyzidae) Distribusi : Di Indonesia hama ini di laporkan terdapat di seluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, dan Sulawesi Tanaman Inang : Spesies Liriomyza chinensis saat ini diketahui hanya menyerang tanaman bawang saja. Gejala serangan :Gejala daun bawang yang terserang berupa bintik – bintik putih akibat tusukan ovipositor. berupa liang korokan larva yang berkelok – kelok.Serangan pada tanaman dapat terjadi sejak fase awal pertumbuhan (1-10 hari setelah tanam) dan berlanjut hingga fase pematangan umbi (51-65 hari setelah tanam). Pada keadaan serangan berat, hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan sehingga menjadi kering dan berwarna cokelat seperti terbakar. Larva pengorok daun bawang merah ini dapat masuk sampai ke umbi bawang, dan hal ini yang membedakan dengan jenis

pengorok daun yang lain. Kerusakan berat biasanya terjadi pada akhir musim kemarau.

Gambar : Gejala serangan Liriomyza chinensis Telur : Telur berwarna putih bening, berukuran 0,28 mm x 0,15 mm, diletakkan dalam jaringan daun melalui ovipositor. Jumlah telur yang diletakkan serangga betina selama hidupnya berkisar 50-300 butir, dengan rata-rata 160 butir. Stadium telur berlangsung antara 2-4 hari. Larva : Larva yang baru keluar, berwarna putih susu atau putih kekuningan, segera mengorok jaringan mesofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama hidupnya Larva instar 3 ini kemudian keluar dari liang korokan untuk membentuk pupa.

Gambar : Larva Liriomyza chinensis Pupa : Pupa berwarna kuning keemasan hingga cokelat kekuningan, dan berukuran 2,5 mm.Umumnya ditemukan di tanah, tetapi pada tanaman bawang merah sering ditemukan menempel pada permukaan bagiandalam dari rongga daun bawang. Lama stadium pupa antara 9-12 hari, lalu keluar menjadi serangga dewasa (imago). Imago : Lalat L. chinensis berukuran panjang 1,7 – 2,3 mm, pada bagian punggungnya berwarna hitam, Imago betina mampu hidup selama 6-14 hari dan imago jantan antara 3-9 hari. Siklus hidup pada tanaman bawang sekitar 3 minggu.

Gambar : Imago Liriomyza chinensis

Gambar : Siklus hidup Liriomyza chinensis Pengendalian : a. Kultur Teknis   Penanaman varietas toleran Budidaya tanaman sehat; upayakan tanaman tumbuh subur melalui pengairan yang cukup,pemupukan berimbang, dan penyiangan gulma.Tanaman yang tumbuh subur lebih toleran terhadap serangahama  Pergiliran tanaman; lalat L. chinensis baru diketahui hanya menyerang tanaman golongan bawang, maka bila disuatu wilayah terjadi serangan berat, sebaiknya satu musim berikutnya tidak menanam bawang.

b. Fisik/Mekanik   Penggunaan mulsa plastik hitam perak. Pengambilan daun yang menunjukkan gejala korokan dipotong dan dibutit lalu dimusnahkan.   Pemasangan kain kelambu Lindungilah setiap bedengan bawang merah dengan kelambu yang terbuat dari plastik kasa dengan menggunakan kerangka bambu, sejak sebelum tanam.   Pemasangan perangkap lalat secara massal Pemasangan kartu perangkap; lalat pengorok daun tertarik pada warna kuning. Pasanglah kartu perangkap kuning (dari kertas atau plastik) berperekat, dengan ukuran 16 cm x 16 cm yang dipasang pada triplek/seng berukuran sama, dengan ketinggian ± 0,5 m dari permukaan tanah. Jumlah perangkap 80 – 100 buah/ha, disebar merata di pertanaman.  Pemasangan kain perangkap; helaian kain (terlebih dahulu dicelupkan ke dalam oli bekas) dibentangkan/dipasang di antara beberapa bedengan bawang merah dengan menggunakan tiang bambu (ketinggian kain ±0,6 m dari permukaan bedengan).  Perangkap lampu neon (TL 10 watt) dengan waktu nyala mulai pukul 18.00 – 24.00 paling efisien dan efektif untuk menangkap imago.  Penyapuan dengan kain berperekat; helaian kain atau plasik berukuran panjang 2 m dan lebar 0,5 m, dicelupkan kedalam larutan kanji, lalu dibentangkan dan disapukan di atasbedengan oleh dua orang yang masingmasing memegang ujungnya. Penyapuan dilakukan setiap 1-2 hari apabila terjadi serangan. c. Biologi  Pengendalian Biologis dengan menggunakan parasitoid Hemiptarsenus varicornis, Opius sp, Neochrysocharis sp., Asecodes sp., Chrysocharis sp., Chrysonotomya sp., Gronotoma sp., Quadrasticus sp., Digyphus isaea. dan predator

d. Pengendalian dengan Peraturan  Melarang masuknya benih atau bagian tanaman lain terutama dari daerah terserang, dikhawatirkan membawa telur atau larva pengorok daun ke daerah yang masih bebas dari serangan pengorok daun. e. Kimia  Aplikasi pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian apabila pengendalian lain tidak mengurangi intensitas serangan hama, misalnya yang berbahan aktif Kartap hidroksida. c. Trips ( Thrips tabaci) Ordo : Thysanoptera; Famili : Terebrantia Gejala serangan : Nimfa dan trips dewasa menyerang tanaman dengan cara menusuk jaringan daun dan menghisap cairan selnya, terutama daun yang muda. Gejala yang nampak adalah daun bernoda putih mengkilat seperti perak, kemudian berubah menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik-bintik hitam jika telah berkomplikasi bersama penyakit lain. Serangan berat biasanya terjadi pada cuaca hujan rintik-rintik dan suhu udara di atas normal dengan kelembaban udara di atas 70%. Tanaman terserang berat, seluruh daun berwarna putih, sehingga disebut hama putih. Hama trips dapat menyerang tanaman bawang merah sejak fase pertumbuhan vegetatif (11-35 hst) sampai dengan fase pematangan umbi (51-65 hst). Serangan berat dapat mengakibatkan umbi saat panen kecil dengan kualitas rendah. Trips dapat dijumpai pada umbi saat panen, sehingga dapat terbawa ke tempat penyimpanan dan dapat merusak bagian lembaga umbi bawang merah. Inang Lain : inang lain pada tanaman sayuran selain bawang antara lain, cabai , kentang, kubis, tomat, brokoli, wortel, kubis bunga, bayam, mentimun, bawang putih, waluh. Tanaman lain selain sayuran diantaranya adalah kapas, kacang – kacangan, melon, pepaya, nenas, dan tembakau. Biologi Telur trips berbentuk oval dan berwarna kekuningan, lama stadia 4 – 5 hari, diletakkan dipermukaan bagian tanaman atau ditusukkan kedalam jaringan tanaman secara terpisah-pisah. Nimfa berwarna agak putih atau kekuningan.Penyebaran dari satu tanaman ke tanaman lain berlangsung sangat cepat

dengan bantuan angin. Lama hidup nimfa sekitar 9 hari. Pupa terbentuk setelah melewati beberapa instar nimfa. Pupa banyak dijumpai di bagian daun atau di dalam tanah di sekitar tanaman. Lama stadia pupa sekitar 9 hari. Imago atau trips dewasa berukuran ± 1 mm,berwarna kuning cokelat, cokelat atau hitam. Semakin rendah suhu suatu lingkungan, warna trips biasanya lebih gelap. Trips jantan tidak bersayap, sedang trips betina mempunyai dua pasang sayap yang halus dan berumbai. Trips berkembang secara partenogenesis yaitu dapat menghasilkan telur tanpa melalui perkawinan. Seekor betina dapat menghasilkan telur antara 80-120 butir. Imago dapat hidup selama ± 20 hari. Siklus hidup trips sekitar 3 minggu. Pencaran : Di dunia hama ini dilaporkan terdapat di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Oceania. Di Indonesia hama ini terdapat di seluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Pengendalian : a. Kultur Teknis - Penyiraman tanaman bawang terserang, pada siang hari untuk menurunkan suhu disekitar pertanaman dan menghilangkan nimfa trips yang menempel pada daun. b. Fisik/Mekanik - Mengambil Thrips dengan menggunakan kapas/Cotton bud, - Penggunaan mulsa plastik perak atau mulsa plastik transparan biasa yang dapat memantulkan refleksi cahaya matahari sehingga dapat menghalangi preferensi hinggap Thrips pada waktu terbang. - Penggunaan perangkap likat warna biru, putih, atau kuning, sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m dipasang dengan ketinggian + 50 cm (sedikit di atas tajuk tanaman) di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu. Setiap minggu perangkap di olesi dengan oli atau perekat. - Menanam tanaman penghalang (barrier) misalnya jagung (5 – 6 baris) dengan jarak tanam rapat 15 – 20 cm untuk mencegah masuknya Thrips ke lahan pertanaman. Tanaman border lainnya antara lain tagetes, orok – orok, dan kacang panjang, - Populasi hama biasanya meningkat pada musim kemarau pada kondisi cuaca kering. Thrips tidak menyukai kondisi lingkungan yang lembab. Pengairan yang cukup merupakan salah satu cara pengendalian yang tepat untuk Thrips. Misalnya

mempertahankan permukaan air diparit pada ketinggian 15 – 20 cm dari permukaan bedengan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang lembab disekitar tanaman. c. Biologi - Pemanfaatan musuh alami trips seperti predator Coccinella sp., Chellomenes sexmaculatus, Maculate Scymnuslatermaculatus, Amblyseius cucumeris, Orius insidiosus, Lycosa sp. dan patogen serangga Beauveria bassiana, Aspergillus sp, Entomophthora sp., Metarhizium anisopliae, Paecilomyces sp., Verticillium lecanii. d. Pengendalian kimia - Jika saat pengamatan ditemukan 0,7 ekor kutu daun /tanaman contoh ( 7 ekor nimfa/10 daun contoh) atau persentase kerusakan oleh serangan hama pengisap telah mencapai 15% per tanaman contoh dianjurkan menggunakan pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, misalnya yang berbahan aktif kartap hidroklorida. d. Orong – orong atau Anjing Tanah (Gryllotalpa africana Pal.) (Ordo : Orthoptera; Famili : Gryllotalpidae) Morfologi/Bioekologi : Orong – orong tinggal dibawah permukaan tanah. Imago menyerupai jengkrik, panjang kira – kira 3 cm, dan berwarna merah tua. Mempunyai sepasang kaki depan yang kuat untuk melindungi diri, dan terbang pada malam hari. Telur berwarna putih kekuning – kuningan, diletakkan pada sel – sel keras yang dibuat dari tanah. Didalam satu sel terdapat 30 – 50 butir telur. Nimfa seperti serangga dewasa, tetapi ukurannya lebih kecil. Sifatnya sangat polifag, mamakan akar, umbi, tanaman muda dan serangga kecil seperti kutu daun. Lamanya daur hidup 3 – 4 bulan. Gejala Serangan : Hama ini umumnya banyak dijumpai menyerang tanaman bawang merah pada fase penanaman ke dua atau sekitar umur tanaman kira – kira 1 – 2 minggu setelah tanam. Serangan ditandai dengan layunya tanaman, karena akar tanaman rusak, bahkan pada umbi kadang terdapat lubang dengan bentuk yang tidak beraturan. Inang Lain : Inang lain pada tanaman sayuran selain bawang antara lain pada cabai, kentang, kubis, Tanaman lain selain sayuran diantaranya adalah gandum, padi, rami, dan tembakau.

Pencaran : Di dunia hama ini dilaporkan telah ada di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Oceania. Di Indonesia hama ini terdapat di seluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Pengendalian a. Kultur Teknis - Penggunaan pupuk kandang yang matang dapat mengurangi serangan Gryllotalpa sp. - Menjaga kebersihan kebun (sanitasi) dapatmengurangi serangan Gryllotalpa sp. b. Fisik/Mekanik - Pemasangan umpan beracun yang terdiri dari 10 kg dedak dicampur dengan 100 ml insektisida yang dianjurkan kemudian campuran tersebut diaduk secara merata dan disebar diatasbedengan pertanaman pada senja hari c. Biologi - Pemanfaatan musuh alami seperti predator Chlaenius, Labidura riparia, parasitoid Neothrombium gryllotalpae , dan patogen serangga Beauveria bassiana, Paecilomyces sp. d. Pengendalian kimia - Aplikasi pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian apabila pengendalian lain tidak mengurangi intensitas serangan hama, misalnya yang berbahan aktif Fibronil. 2. Penyakit Bawang Daun dan Bawang Merah a. Penyakit Becak Ungu (Alternaria porri Ell) Gejala : gejala pertama adalah terjadinya becak kecil, melekuk, berwarna putih sampai kelabu. Jika membesar, bercak tampak bercincin, dan berwarnanya agak keunguan. Tepinya agak kemerahan atau keunguan dan dikelilingim oleh zone berwarna kuning, yang dapat meluas agak jaud di atas atau di bawah becak. Infeksi pada umbi lapis terjadi pada saat panen atau sesudahnya. Umbi yang membusuk tampak agak berair. Daur penyakit : patogen bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman dan sebagai konodium. Di lapang jamur membentuk konidium pada malam hari. Konidium disevarkan oleh angin. Infeksi terjadi melalui mulut kulit dan melalui luka-luka.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini adalah tanaman yang baik pertumbuhannya karena di pupuk secara seimbang dan dapat penyiraman yang cukup kurang mendapat gangguan penyakit. Demikian juga tanaman bawang semusim kemarau (Anon, 1984). Menurut Suhardi (1988) terdapat tanda-tanda bahwa pemupukan dengan urea pada musim hujan akan meningkatkan serangan Alternaria porri. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menanam bawang dilahan yang mempunyai drainase baik. Menggunakan fungisida seperti tembaga, ferbam, zineb, dan nabam yang di tambah sulfat seng. Fungisida perlu ditambah perata agar dapat membasmi daun bawang yang berlilin. Anon (1984) menganjurkan pemakaian antracol 70 WP dan Dithane M-45. b. Bercak Daun ( Cercospora duddiae Wells) Gejala mula-mula terjadi bercak klorosis, bulat, berwarna kuning, dengan garis tengah 3 – 5 mm. Bercak paling banyak terdapat pada ujung sebelum luar daun. Becak-becak sering bersatu pada ujung daun yang pada sebelah pangkalnya terdapat banyak becak yang terpisah, sehingga daun tampak belang. Ujung mengering dan menjadi coklat kelabu. Becak-becak yang terpisah mempunyai pusat berwarna coklat yang terdiri dari jaringan mati. Pada waktu lembab di bagian daun yang mati terdapat bintik-bintik yang terdiri dari berkas konidiofor dengan konidium jamur. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menanam bawang dilahan yang mempunyai drainase baik. Menggunakan fungisida seperti tembaga, ferbam, zineb, dan nabam yang di tambah sulfat seng. Fungisida perlu ditambah perata agar dapat membasmi daun bawang yang berlilin. Anon (1984) menganjurkan pemakaian antracol 70 WP dan Dithane M-45. c. Busuk Daun (Peronospora destructor Berk) Gejala pada saat tanaman mulai membentuk umbi lapis di dekat ujung daun timbul becak hijau pucat . Pada waktu cuaca lembab pada permukaan daun berkembang kapang (mould) yang berwarna putih lembayung atau ungu. Daun segera menguning, layu dan mengering. Daun mati yang berwarna putih oleh kapang hitam. Penyakit dapat berkembang pada musim hujan bila udara sangat lembab dan suhu matahri rendah. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara pemakaian bibit yang sehat, jika penyakit banyak timbul setelah panen daun-daun dibakar dan tanaman disemprot dengan fungisida.

G. TERUNG, MENTIMUN, dan BAYAM 1. Hama Tanaman Terung, Mentimun, dan Bayam a. Ulat grayak (Spodoptera litura F) (Lepidoptera : Noctuidae) Distribusi : Kosmopolit, Asia, Australia, Kep. Pasifik Tanaman Inang : polipag, solanaceae, brassicaceae, jagung, padi, kedelai, bayam, kacang tanah, gulma Perkembangan : Holometabola (telur, larva, pupa, imago). Gejala Serangan : Hama ini menyerang pada fase larva, secara berkelompok. Larva instar I dan II memakan epidermis daun bagian bawah, sehingga tampak transparan. Larva tua akan memakan helaian daun sehingga tinggal tulang-tulang daun saja. Daun yg terserang menjadi sobek, terpotong atau bolong. Serangan berat dapat mengakibatkan tanaman menjadi gundul. Disamping itu, larva juga memakan bunga dan polong muda. Kehilangan hasil dapat mencapai 85%. Telur : Diletakkan secara berkelompok, pada bagian permukaan bawah daun dan ditutupi oleh bulu-bulu halus,satu kel. Telur berisi rata-rata 350 butir. Telur berbentuk lonjong atau bulat diameter 0.5 mm, berwarna coklat kekuningan sampai krem. Masa telur 3-5 hari. Satu ekor imago betina mampu meletakkan telur sampai 2000-3000 butir Larva : Larva terdiri dari 5-6 instar. Larva instar akhir dapat mencapai 5 cm. Masa larva sekitar 20 hari. Apabila diganggu akan menggulung. Larva muda berwarna kehijauan dan mempunyai bintik-bintik hitam. Larva tua berwarna abu-abu gelap atau coklat. Pada ruas abdomen I terdapat garis hitam melingkar. Pada bagian dorsal terdapat garis kuning dan bulatan hitam. Pupa : Terbentuk di dalam tanah pada kedalaman 7-8 cm dari permukaan tanah, berwarna coklat kemerah-merahan/coklat tua. Masa pupa 8-11 hari. Imago : Berwarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depan, nokturnal. Ukuran14-17 mm. Lama hidup imago 6-10 hari. Siklus hidup : 32 hari

Gambar : Telur S. litura

Gambar : Larva S. litura

Gambar : Pupa S. litura

Gambar : Imago jantan (kiri) lebih kecil dari imago betina (kanan) Pengendalian : 1. Secara kultur teknis : Mengumpulkan kel. Telur dan larva, tanaman campuran dengan akar tuba, bawang putih 2. Secara hayati : parasitoid telur (Telenomus spodopterae), Virus (Nuclear polyhedrosis virus), nematoda 3. Insektisida botani Insektisida sintetis. b. Kutu daun (Aphis gossypii Glover) (Homoptera : Aphididae) Cotton aphid, melon aphid Distribusi : Kosmopolit. Tanaman inang : polifag , asparagus, alpukat, pisang, mentimun, terung, Hibiscus, kapas, papaya, cabai, kentang, bayam,tomat, semangka dll . Perkembangan : Partenogenesis. Gejala serangan : Serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Bagian tanaman yang diserang oleh nimfa dan imago biasanya pucuk tanaman dan daun muda. Daun yang diserang akan mengkerut, pucuk mengeriting dan melingkar shg pertumbuhan tanaman terhambat atau tanaman kerdil. Hama ini juga mengeluarkan cairan manis seperti madu shg menarik datangnya semut dan cendawan jelaga berwarna hitam. Adanya cendawan pada buah dapat menurunkan kualitas buah. Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus penyakit tanaman (50 jenis virus) sep. Papaya Ringspot Virus, Watermelon Mosaic Virus , Cucumber Mosaic Virus (CMV). Berbentuk seperti pear, warnanya bervariasi dari hijau muda sampai hitam, kuning. Mempunyai kornikel pada bagian ujung abdomen. Imago dapat hidup selama

28 hari. Satu ekor imago betina dapat menghasilkan 2-35 nimfa/hari. Siklus hidup dari nimfa sampai imago 5-7 hari. Selama satu tahun dapat menghasilkan 16-47 generasi Pengendalian : 1. Parasitoid Aphelinus gossypi (Timberlake), Lysiphlebus testaceipes (Cresson). 2. Predator: Coccinella transversalis 3. Cendawan entomopatogen : Neozygites fresenii 4. Insektisida c. Kutu daun persik Green Peach Aphid (Homoptera: Aphididae) Distribusi : Kosmopolit. Tanaman inang : polifag, lebih dari 400 sp tan dari 40 famili, tomat, kentang, tembakau, kubis, cabai, terung, semangka, ubi jalar dll. Perkembangan : Partenogenesis, seksual (telur, nimfa dan imago). Gejala Secara langsung, kutu daun ini mengisap cairan tanaman. Akibatnya, daun yang terserang keriput, berwarna kekuningan, terpuntir dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil), sehingga tanaman menjadi layu dan mati. Gejala Secara tidak langsung, kutu daun berperan sebagai penyebar (vektor) penyakit virus. Tanaman yang terserang penyakit virus akan menjadi kerdil, daun berukuran kecil dan pertumbuhannya terhambat.Dampak langsung serangan hama ini adalah tanaman menjadi keriput, tumbuh kerdil, warna daun kekuningan, terpuntir, layu lalu mati. Secara tidak langsung, kutu ini merupakan vektor lebih dari 150 strain virus terutama penyakit virus CMV, PVY. Kutu ini biasanya hidup berkelompok dan berada di bawah permukaan daun, menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman yang masih muda (pucuk). Eksudat/cairan yang dikeluarkan kutu ini mengandung madu sehingga mendorong tumbuhnya cendawan embun jelaga pada daun yang dapat menghambat proses fotosintesa. Nimfa dan imago mempunyai antena yang relatif panjang/sama panjang dengan tubuhnya. Nimfa dan imago mempunyai sepasang tonjolan pada ujung abdomen yang disebut kornikel. Ujung kornikel berwarna hitam. Imago yang bersayap warna sayapnya hitam, ukuran tubuh 2 - 2,5 mm, nimfa kerdil dan umumnya berwarna kemerahan. Nimfa dan Imago yang tidak bersayap tubuhnya berwarna (Myzus persicae Sulzer)

merah atau kuning atau hijau berukuran tubuh 1,8 - 2,3 mm. Umumnya warna tubuh imago dan nimfa sama, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai hitam, perut berwarna hijau kekuningan. Siklus hidup 7 - 10 hari. Temperatur mempengaruhi reproduksi ( > 25 - < 28,5 °C mengurangi umur imago dan jumlah keturunan, > 28,5 OC reproduksi terhenti). Berkembang biak secara partenogenesis. Seekor kutu menghasilkan keturunan 50 ekor. Lama hidup kutu dewasa dapat mencapai 2 bulan. Pengendalian : 1. Parasitoid Aphelinus asychis, Aphidius rosae, Diaeretiella rapae 2. Predator: Coccinella transversalis 3. Cendawan entomopatogen : Erynia neoaphidis 4. Insektisida d. Ulat buah Gram pod borrer (Helicoverpa armigera Hubner)

(Lepidoptera : Noctuidae) Distribusi : Kosmopolit. Tanaman inang : polifag, tomat, cabai, tembakau, kedelai, jagung. Perkembangan : Holometabola (telur, larva, pupa, imago). Gejala serangan : Pada daun, daun berlubang-lubang tak beraturan. pada serangan yang berat daun akan habis dan tanaman menjadi gundul. Pada buah, buah berlubang dan akhirnya akan membusuk bila terjadi infeksi sekunder kemudian rontok. Telurnya berwarna putih kekuningan dan imago biasanya bertelur pada senja hari. Telur biasanya diletakkan secara tunggal pada bungan dan akan berubah warna menjadi merah tua atau kecoklatan setelah 24 jam, yang selanjutnya akan menetas dalam waktu kira-kira 3-5 hari. Satu ekor imago mampu bertelur 1000 butir. Ukuran larva stadia akhir berkisar antara 2-4 cm dengan warna bervariasi mulai dari hijau, cokelat kemerahan ataupun cokelat kehitaman. Larva merusak daun, bunga dan buah, bersifat kanibal, masa larva 16-25 hari. Pupa terbentuk di dalam tanah, masa pupa 17 hari. Imago : berukuran sedang, pj rentang sayap 30-40 mm,

berwarna coklat, pada bgn tengah sayap terdapat bintik berwarna coklat tua. Siklus hidup : 35 hari. Pengendalian : 1. Parasit telur : Trichogramma nana 2. Patogen : NPV, Metarhizium 3. Tanaman perangkap 4. Pengolahan tanah 5. Insektisida e. Lalat Buah (Bactrocera sp.) (Diptera:Tephritidae) Distribusi : Selain di Indonesia hama ini tersebar di Asia, Pasifik, Afrika umumnya di daerah tropis dan subtropis. Tanaman inang : polifag, tomat, cabai, Semua tanaman buah-buahan dan sayuran buah antara lain mangga, kopi, pisang, jambu, cengkeh, belimbing, sawo, jeruk, ketimun, dan nangka.Perkembangan : Holometabola (telur, larva, pupa, imago). Gejala serangan Buah yang terserang ditandai oleh lubang titik hitam pada bagian pangkalnya, tempat serangga dewasa memasukkan telur. Umumnya telur diletakkan pada buah yang agak tersembunyi dan tidak terkena sinar matahari langsung, pada buah yang agak lunak dengan permukaan agak kasar. Larva membuat saluran di dalam buah dengan memakan daging buah serta menghisap cairan buah dan dapat menyebabkan terjadi infeksi oleh OPT lain, buah menjadi busuk dan biasanya jatuh ke tanah sebelum larva berubah menjadi pupa. Serangga dewasa mirip lalat rumah, panjang sekitar 6 - 8 mm dan lebar 3 mm. Torak berwarna oranye, merah kecoklatan, coklat atau hitam biasanya pada B. dorsalis terdapat 2 garis membujur dan sepasang sayap transparan. Pada abdomen terdapat 2 pita melintang dan satu pita membujur warna hitam atau bentuk buruf T yang kadang-kadang tidak jelas. Pada lalat betina ujung abdomen lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah sedangkan lalat jantan abdomen lebih bulat. Telur berwarna putih berbentuk bulat panjang yang diletakkan secara berkelompok 2-15 butir di dalam buah.

Larva terdiri atas 3 instar berbentuk belatung/bulat panjang dengan salah satu ujungnya (kepala) runcing dengan 2 bintik hitam yang jelas merupakan alat kait mulut, mempunyai 3 ruas torak, 8 ruas abdomen, berwarna putih susu atau putih keruh atau putih kekuningan, larva menetas di dalam buah cabai. Pupa, berada di permukaan tanah berwarna kecoklat-coklatan dan berbentuk oval dengan panjang sekitar 5 mm. Siklus hidup di daerah tropis sekitar 25 hari. Serangga betina dapat meletakkan telur 1 - 40 butir/buah/hari dan dari satu ekor betina dapat menghasilkan telur 1.200 – 1.500 butir. Stadium telur 2 hari, larva 6 - 9 hari. Larva instar 3 dapat mencapai panjang sekitar 7 mm, akan membuat lubang keluar untuk meloncat dan melenting dari buah masuk ke dalam tanah dan menjadi pupa di dalam tanah. Pupa berumur 4 - 10 hari dan menjadi serangga dewasa. Pengendalian : 1. Rotasi tanaman 2. Pembungkusan buah 3. Feromon : Metil eugenol 4. Serangga jantan mandul 5. Hayati : parasitoid, patogen 6. Pestisida f. Thrips parvispinus Karny.(Thrips) (Famili : Thripidae, Ordo : Thysanoptera) Distribusi : Hama ini bersifat kosmopolit tersebar luas di Indonesia dan Thailand. Di Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Tanaman inang : Hama ini bersifat polifag dengan tanaman inang utama selain cabai yaitu bawang merah, bawang daun dan jenis bawang lainnya dan tomat. Tanaman inang lain yaitu tembakau, kopi, ubi jalar, waluh, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili crusiferae, crotalaria dan kacang-kacangan tetapi tidak dijumpai pada gulma.

Gejala langsung serangan : pada permukaan bawah daun berwarna keperakperakan, daun mengeriting atau keriput. Hama menyerang dengan menghisap cairan permukaan bawah daun dan atau bunga ditandai oleh bercak-bercak putih/keperak-perakan. Daun akan berubah warna menjadi coklat, mengeriting/keriput dan mati. Pada serangan berat, daun, pucuk serta tunas menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor dan pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil bahkan pucuk mati. Mula-mula daun yang terserang memperlihatkan gejala noda keperakan yang tidak beraturan, akibat adanya luka dari cara makan serangga tersebut. Setelah beberapa waktu, noda keperakan tersebut berubah menjadi cokelat tembaga. Daun-daun mengeriting keatas. Secara tidak langsung: trips merupakan vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting. Imago berukuran sangat kecil sekitar 1 mm, berwarna kuning sampai coklat kehitam-hitaman. Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercakbercak merah atau bergaris-garis. Imago betina mempunyai 2 pasang sayap yang halus dan berumbai/jumbai seperti sisir bersisi dua. Pada musim kemarau populasi lebih tinggi dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari. Telur berbentuk oval/seperti ginjal rata-rata 80 butir per induk, diletakkan di permukaan bawah daun atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar, akan menetas setelah 3 – 8 hari. Nimfa berwarna pucat, keputihan/kekuningan, instar 1 dan 2 aktif dan tidak bersayap. Nimfa yang tidak aktif berada di permukaan tanah. Pupa terbungkus kokon, terdapat di permukaan bawah daun dan di permukaan tanah sekitar tanaman. Perkembangan pupa menjadi trips muda meningkat pada kelembaban relatif rendah dan suhu relatif tinggi. Daur hidup sekitar 20 hari, di dataran rendah 7 – 12 hari. Hidup berkelompok.

Pengendalian : 1. Sanitasi 2. Rotasi tanaman 3. Membuang sisa tanaman yang terserang 4. Parasitoid 5. Insektisida 2. Penyakit Tanaman Terung, Mentimun dan Bayam a. Busuk buah (Pythphtora spp) Gejala pada buah terung mula-mula terjadi bercak kebasahan yang bergaris tengah lebih kurang 0,5 cm. Becak meluas dengan cepat ke arah sumbu panjang, sehingga becak bentuknya memanjang. Pada jenis berbuah bulat dan warnanya ungu becak tetap berbentuk bulat dan berwarna gelap. Bagian dalam buah berubah warnanya, kebasah-basahan, dan berbatas coklat tidak teratur. Akhirnya buah terlepas dari kelopaknya dan menjadi busuk sama sekali. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menanam terung dengan jarak tanam yang cukup, membersihkan gulma dan memelihara drainase, buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam, dan jika perlu tanaman disemprot dengan fungisida tembaga atau karbamat misalnya M-45. b. Mosaik Virus mosaik ketimun dapat ditularkan secara mekanis dengan gosokan, maupun oleh kutu daun. Para pekerja yang mengangani semai-semai dapat menularkan virus ke banyak tanaman. Virus juga mungkin terdapat di dalam banyak tumbuha, termasuk gulma di sekeliling pertanaman terung. Pengendalian yang dapat dilakukan dengan cara memberantas gulma khususnya yang termasuk famili terung-terungan, menangani semai-semai dengan hati-hati sebelumnya dicuci dengan sabun atau deterjen dan tanaman yang bergejala segera di cabut

c. Antraknosa terung Penyakit ini disebabkan oleh Gloeosporium melongena Ell. Gejala pada buah becak-becak melekuku, bulat, yang dapat bersatu menjadi becak besar yang tidak teratur. Becak berwarna coklat dengan titik-titik hitam yang terdiri dari aservulus jamur. c. Busuk Daun (Pseudoperonospora cubensis Berk) Gejala pada permukaan atas daun terdapat becak-becak kuning, sering agak bersudut karena terbatas oleh tulang-tulang daun. Pada cuaca lembab pada sisi bawah becak terdapat kapang seperti bulu yang warnanya keunguan. Pada daun ketimun yang sakit dapat mati. Daur penyakit : penyakit ini tidak dapat hidup sebagai saprofit pada sisa-sisa tanaman, dan jamur tidak mempertahankan dari musim ke musim pada tanaman mentimun. Spora dipencarkan oleh angin. Infeksi terjadi melalui mulut kulit. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini di bantu oleh kelembaban, dan akan berkembang hebat jika terdapat banyak kabut dan embun. Infeksi hanya terjadi kalaukelembaban udara 100 %, suhu 10 – 28 C, dengan suhu optimum 16 – 22 C. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara pembongkaran apabila terdapat tanaman terserang berat kemudian di bakar atau dipendam. Sisa-sisa tanaman lama dibersihkan. Mengurangi kelembaban dalam pertanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan drainase yang baik. Dan dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida nabam, zineb, atau maneb. d. Penyakit tepung (Erysiphi cichoracearum DC) Gejala pada permukaan daun dan batang muda terdapat lapisan putih betepung, yang terdiri dari miselium, konidiofor, dan konidiofor jamur penyebab penyakit. Becak kemudian menjadi kuning dan akhirnya mengering.

Pada penyakit berat daun dan batang muda dapat mati. Jika semua daun pada tanaman yang bersangkutan terinfeksi sehingga tanaman menjadi lemah, pertumbuhannya terhambat dan buahnya dapat terbakar, atau masak sebelum waktunya. Daur penyakit : penyakit ini dapat mempertahankan diri dari musim kemusim pada tanaman-tanaman hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini pada konidium jamur tepung ini dapat berkecambah dan mengadakan infeksi tanpa adanya tetes air, dengan kelembaban udara sedikit di bawah 100 %. Lapisan jamur putih mulai kelihatan setelah 8 – 10 hari. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara tanaman yang keras dipendam dan dicabut, memberantas gulma yang dapat menjadi tumbuhan inang jamur tepung, antara lain yang termasuk famili labu-labuan dan terungan.Penyakit tepung dapat dikendalikan dengan penyemprotan karathane.

DAFTAR PUSTAKA Devisi Pengembangan produksi pertanian. 1973. Pedoman Bercocok Tanam Palawija. Departemen Pertanian. Jakarta. http://images.google.co.id/images? hl=id&um=1&ei=NaraSvavC5KA7QPR6b2aBg&sa=X&oi=spell&resnum=1&ct =result&cd=1&q=Tungro&spell=1&start=0 http://images.google.co.id/images?hl=id&source=hp&q=nymphula %20depunctalis&um=1&ie=UTF-8&sa=N&tab=wi http://images.google.co.id/images? hl=id&um=1&sa=1&q=Nephotettix+apicalis&btnG=Telusuri+gambar&aq=f&oq =&start=0 http://aceh1234567890.wordpress.com/bahan-btp3-hama-dan-penyakit-padatanaman-kedelai/http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/leaflet/opt.pdf http://www.tanindo.com/abdi13/hal2401.htm. Kartasapoetra, AG. 1993. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bumi Aksara. Jakarta Rismunandar. 2003.Penyakit Tanaman Pangan dan Pembasmiannya. Sinar Baru Algensindo. Bandung Semangun, Haryono. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Tjoe Tjien Mo. 1953. Pemberantasan Hama Padi di Sawah dan Gudang.

BAHAN KULIAH KLINIK TANAMAN ”ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN ”
Disusun Oleh :

Yandri Eldriadi (06 116 042)

FAKULTAS PERTANIAN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->