You are on page 1of 8

Rotifera (Brachionus Plicatilis) Dan Peranannya

Dalam Dunia Peikanan
Diposkan oleh Pande Artana Sabtu, 07 Januari 2012

1.1 Biologi rotifera (Brachionus plicatilis
Taksonomi dan Morfologi Rotifera
Menurut Mujiman (1978) dalam Julianty (1999), ciri-ciri rotifera mempunyai kisaran
ukuran tubuh antara 50-250 mikron, dengan struktur yang sangat sederhana, ciri khas yang
merupakan dasar pemberian nama rotifera adalah terdapatnya suatu bangunan yang disebut
korona. Korona ini berbentuk bulat dan berbulu getar, yang memberikan gambaran seperti roda,
sehingga dinamakan rotifera.
Menurut Hyman (1951) dan Suzuki (1983) dalam Julianty
(1999), Brachionus plicatilismemiliki klasifikasi sebagai berikut:
Phylum : Avertebrata
Klas : Aschelmintes
Sub klas : Rotaria
Ordo : Eurotaria
Family : Brachionidae
Sub family : Brachioninae
Genus : Brachionus
Species : Brachionus plicatilis
Brachionus termasuk salah satu genus yang sangat populer diantara sekian banyak jenis
Rotifera. Genus ini terdiri dari 34 spesies Dahril, (1996) dalam Wahyuni (2009). Menurut Mudjiman
(2002) bahwa selain Brachionus plicatilis dikenal juga beberapa spesies dari genus Brachionus,
antara lain: Brachionus pala, Brachionus punctatus, Brachionus abgularis, dan Brachionus moliis.

Gambar 2.1. Brachionus plicatilis (Sumber; Mokoginta 2003)
Tubuh Brachionus plicatilis terbagi atas tiga bagian yaitu kepala, badan dan kaki atau
ekor. Batas bagian kepala dengan badan tidak jelas, bagian kaki dan ekor berakhir dengan
belahan yang disebut jari. Badannya dilapisi oleh kutikula yang tebal dan disebut lorika. Ujung
depan tubuh dilengkapi dengan gelang-gelang silika yang kelihatan melingkar seperti spiral
disebut korona dan berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam mulut (Anonim, 1992).
Sel tubuh rotifera Brachionus picatilis tersusun sebagai jaringan tubuh yang membentuk
sistem organ yang umumnya masih sangat sederhana. Sistem pencernaan dimulai dari mulut
yang dekat dengan korona. Di bagian mulut terdapat faring yang disebut mastax.
Kerongkongannya pendek, yaitu yang menghubungkan antara mastax dengan lambung.
Makanan yang tidak dicerna dibuang keluar melalui anus (Djuhanda, 1980 dalam Wahyuni,
2009). Makanan diambil terus menerus sambil berenang (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).
Secara alami Barchionus suka makan jasad–jasad renik yang lebih kecil dari dirinya, antara lain
ganggang renik, ragi, bakteri dan protozoa.
Dari hasil penelitian Snell & Garman (1996) dalam Wahyuni (2009), menyimpulkan
bahwa perkembangan rotifera secara kawin atau tidak kawin sebenarnya terjadi pada waktu yang
hampir bersamaan perkawinan. Peristiwa perkawinan Brachionus plicatilis akan sangat
bergantung pada peluang terjadinya kontak antara Brachionus plicatilis jantan
dengan Brachionus plicatlis betina. Pada saat populasi meningkat, jumlah jantan semakin banyak
maka peluang untuk tejadinya perkawinan akan semakin besar.
Lama hidup Brachionus plicatilis betina berkisar antara 12-19 hari dan umur Brachionus
plicatilis jantan berkisar antara 3-6 hari. Antara bentuk jantan dan betina terdapat perbedaan
bentuk yang mencolok yaitu, Brachionus jantan memiliki bentuk tubuh yang jauh lebih kecil
daripada yang betina dan juga mengalami degenerasi dan yang jantan biasanya muncul pada
musim-musim tertentu saja baik secara partenogenesis. (Anonim, 1990)

1.1.2 Perkembangbiakan Rotifera
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (1995) dalam Wahyuni (2009)
menjelaskan bahwa Rotifera jenis Brachionus plicatilis mempunyai daur hidup yang unik dalam
keadaan normal rotifera berkembang secara parthenogenesis (bertelur tanpa kawin). Brachionus
plicatilis betina yang amiktik akan menghasilkan telur yang berkembang menjadi betina amiktik
pula. Namun dalam keadaan yang tidak normal, misalnya terjadi perubahan salinitas, suhu air
dan kualitas pakan, maka rotifera betina yang amiktik tadi, telurnya dapat menetas menjadi
betina miktik. Betina miktik akan menghasilkan telur yang akan berkembang
menjadi Brachionus plicatilis jantan. Selanjutnya bila Brachionus plicatilisjantan
dan Brachionus plicatilis betina miktik tersebut kawin maka betina miktik akan menghasilkan
telur kista yang akan tahan terhadap kondisi perairan yang sangat jelek dan tahan terhadap
kekeringan. Telur kista ini akan dapat menetas lagi apabila keadaan perairan telah menjadi
normal kembali.
Menurut Isnansetyo & Kurniastuti (1995) dalam Wahyuni (2009), Pada mulanya betina
miktik menghasilkan 1- 6 telur kecil. Betina miktik adalah betina yang dapat dibuahi. Telur yang
dihasilkan oleh betina miktik akan menetas menjadi jantan. Jantan ini akan membuahi betina
miktik dan menghasilkan 1-2 telur istirahat. Telur ini mengalami masa istirahat sebelum menetas
menjadi betina amiktk. Betina amiktik adalah betina yang tidak dapat dibuahi. Dari betina
amiktik yang terjadi ini maka reproduksi secara aseksual akan terjadi lagi. Betina miktik hanya
akan menghasilkan telur miktik demikian pula sebaliknya.
Walaupun telah banyak literatur yang menerangkan adanya perubahan antara betina
amiktik menjadi betina miktik ini, namun pembiakan secara bisexual ini belum banyak diketahui
secara jelas. Untuk beberapa genera dari famili Brachionidae diketahui bahwa kondisi yang
menentukan seekor betina menjadi amiktik atau miktik terjadi beberapa saat sebelum telur mulai
membelah. Hal ini juga menunjukkan banwa yang mngontrol produksi betina miktik ini pada
umumnya adalah kondisi lingkungan (faktor luar) dan bukan merupakan faktor dalam semata
(Dahril, 1996) dalam (Wahyuni,2009).

1.1.3 Kandungan Gizi Rotifera
Makanan merupakan salah satu faktor penunjang dalam perkembangan larva ikan, karena
ikan membutuhkan energi untuk pertumbuhan, aktifitas dan reproduksi. Sebagian dari energi
berasal dari makanan, demikian juga pertambahan biomass ikan sangat tergantung dari energi
yang tersedia pada ikan tersebut. Oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan energi perlu
diberikan makanan yang berkualitas tinggi sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi ikan. Nilai
nutrisi makanan, pada umumnya dilihat dari komposisi gizinya seperti kandungan protein,
lemak, kadar air, serat kasar dan abu (Hariati, 1989). Menurut Anonimus (1990) Adapun
kandungan gizi dari rotifera (Brachionus plicatilis) adalah: kadar air 85,70, protein: 8,60, lemak:
4,50, abu: 0,70

1.1.4 Makanan Rotifera
Brachionus sp. Umumnya bersifat omnivora dan suka memakan jasad-jasad renik yang
mempunyai ukuran tubuh kecil dari dirinya, seperti : alga, ragi, bakteri dan protozoa. Brachionus
plicatilis bersifat penyaring tidak selektif (non selective filter-feeder). Pakan diambil secara terus
menerus sambil berenang (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995). Makanan utama dari rotifera adalah
phytoplankton dan plankton lainnya, detritus dan bahan-bahan organik terutama yang
mengendap di dasar perairan. Brachionus plicatilis juga pemakan segala dan partikel-partikel
yang berukuran sesuai dengan besar alat penghisapnya.

1.2 Prinsip Kultur Rotifera
Pada suatu unit pembenihan, penyediaan pakan alami untuk larva ikan dibedakan menjadi
dua kegiatan, yaitu kultur murni atau skala laboratorium dan kultur massal atau dalam bak
bervolume besar,Brachionus sp. dapat berkembang dengan baik jika dipelihara di tempat yang
mendapat sinar matahari (Mujiman, 1998). Brachionus plicatilis bersifat euthermal.
Brachionus ditemukan di perairan tawar, payau, atau laut, tergantung jenisnya (Mudjiman,
1984). Pertumbuhan populasi Brachionus sp. Dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, pH,
salinitas, konsentrasi oksigen terlarut.
Pada umumnya berbagai faktor lingkungan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan
populasiBrachionus plicatilis, faktor lingkungan yang dimaksud antara lain: suhu, derajat
keasaman dan salinitas(Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
a. Suhu
Pada suhu 15°C Brachionus plicatilis masih dapat tumbuh, tetapi tidak dapat
bereproduksi, sedangkan pada suhu di bawah 10°C akan terbentuk telur istirahat. Kenaikan suhu
antara 15-35°C akan menaikkan laju reproduksinya. Kisaran suhu antara 22-30°C merupakan
kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi.
b. Salinitas
Isnansetyo & Kurniastuty,(1995) menyatakan bahwa Brachionus plicatilisbetina dengan
telurnya dapat bertahan hidup pada salinitas 98 ppt, sedangkan salinitas optimalnya adalah 10-35
ppt, disamping itu Brachionus plicatilis juga bersifateuryhalin.
c. Derajat keasaman
Keasaman air turut mempengaruhi kehidupan rotifera. Rotifera Brachionus plicatilis ini
masih dapat bertahan hidup pada pH 5 dan pH 10, sedangkan pH optimum untuk pertumbuhan dan
reproduksi berkisar antara 7,5-8,0 (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
d. Oksigen terlarut (DO)
Menurut Anonimus (1990) kualitas air media dengan kandungan oksigen terlarut tidak kurang
dari 4,15 ppm layak bagi rotifera.

1.3 Teknik Kultur Rotifera
Menurut Juliaty (1999), teknik kultur rotifera secara massal dilakukan dalam bak beton
berukuran 100 ton. Dalam kegiatan ini hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan bibit
rotifera murni, ketersediaan phytoplankton sebagai pakan rotifera, juga ketersediaan pakan
rotifera lainnya (ragi). Lebih lanjut dikatakan bahwa teknik kultur rotifera dilakukan dengan dua
metode yaitu metode panen harian dan metode panen transfer.
Metode panen harian, rotifera dikultur dengan kepadatan 20 individu/mL kemudian
dipanen pada hari ke-5 setelah mencapai kepadatan 100-150 individu sebanyak 30% dari total
kultur. Selanjutnya bak kultur rotifera diisi kembali dengan phytoplankton (kepadatan 3-4 juta
sel/mL) pemanean dilakukn dengan menggunakan plankton net 40 mikron dan disaring kembali
dengan plankton net 250 mikron untuk memisahkan kotoran.
Metode kultur rotifera lainnya adalah metode panen transfer dalam metode ini diperlukan
beberapa bak kultur alga hijau. Pada bak pertama ditebar rotifera dengan kepadatan awal 20
individu/mL setelah kepadatnnya mencapai 100 sampai 150 individu/mL rotifera dipanen dan
hasil panen tersebut digunakan sebagai bibit pada bak kultur ke-2 dan seterusnya. Pemanenan
dapat dilakukan setiap hari pada bak kultur rotifera yang berbeda.
Teknik kultur Rotifera pada umumnya terdiri dari pembibitan, pemeliharaan, dan
pemanenan.
a. Pembibitan
Rotifera merupakan pakan alami yang membutuhkan teknik yang matang dalam
melakukan pembibitan untuk mendapatkan kultur Rotifera yang bagus. Langkah pertama yaitu
menyiapkan wadah berupa bak tembok atau bak fiberglass dengan ukuran 25 liter atau wadah
lain tersedia. Wadah dibersihkan dengan cara mencuci kemudian mengeringkannya di bawah
sinar matahari.
Media pemeliharaan yang dipakai adalah ekstrak pupuk kandang seperti kotoran ayam atau
kotoran kuda. Media pemeliharaan dibuat dengan cara merebus kotoran ayam atau kuda dalam
panci sebanyak 500 g/liter air. Setelah dimasak, kotoran disaring dengan menggunakan
kain trilin.
Cairan hasil penyaringan ditampung dalam bak fiberglass ukuran 25 liter dan diencerkan
dengan menambahkan air kolam 5-10 liter. Penambahan air kolam bertujuan agar bakteri dan
jasad renik sebagai pakan rotifera dapat tumbuh.
Pada hari ketujuh, bibit rotifera yang diperoleh dari perairan umum dimasukkan ke dalam
media pembibitan. Untuk memastikan ada tidaknya Rotifera dalam air harus dilakukan
pengamatan di bawah mikroskop. Dalam waktu 1-2 minggu rotifera sudah berkembang dengan
baik, dan dapat diinokulasikan untuk dipelihara. (Mujib, 2008)

b. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan setelah pembibitan. Inokulum yang sudah siap digunakan akan
dikultur melalui 2 metode, yaitu:
1). Dalam akuarium (terbatas)
Ukuran akuarium yang dapat digunakan sebagai wadah pemeliharaan adalah 60 x 40 x 50
cm, sedangkan fiberglass yang biasa dipakai adalah yang berukuran hingga 1 ton. Wadah dicuci
bersih dan dikeringkan di bawah terik matahari.
Akuarium diisi dengan air kolam dan volume air yang dimasukkan dihitung. Hal ini
diperlukan untuk memperkirakan jumlah pupuk yang akan digunakan. Pupuk yang digunakan
adalah kotoran ayam atau kotoran kuda dengan dosis 300-400 g/liter air. Pemberian pupuk
dilakukan dengan jalan membungkus pupuk tersebut dalam kain, kemudian digantung hingga
seluruh pupuk terendam air.
Setelah tujuh hari, kondisi air media sudah siap ditebari bibit Rotifera. Panen dapat
dilakukan pada minggu berikutnya ketika populasi Rotifera mencapai puncak. Pemanenan
dilakukan dengan menggunakan plankton net. Kepadatan populasi akan bisa dipertahankan tetap
tinggi selama satu bulan apabila setiap 5-6 hari dilakukan pemupukan ulang sebanyak separuh
dosis pupuk awal.
2). Dalam kolam (massal)
Kolam yang digunakan bisa kolam tembok atau kolam tanah yang berukuran antara 100-
00 m
2
. Kolam dikeringkan slama 2-4 hari hingga dasarnya menjadi pecah-pecah. Pencangkulan
dan pembajakan dilakukan untuk membalik tanah dasar kolam sehingga udara dapat masuk ke
dasar kolam. Perbaikan-perbaikan dilakukan pada saluran pemasukan serta kebocoran-kebocoran
yang ada pada tanggul ditutup.
Perbaikan pH tanah air dan membunuh bibit-bibit penyakit dilakukan pengapuran dengan
memakai kapur pertanian atau Kapur Tohor 200-300 g/m
2
. Pemupukan dilakukan dengan cara
menebar irisan jerami atau daun kol secara merata dengan dosis 500 g/m
2
air. Kolam diisi air
hingga menggenang.
Penyemprotan insektisida dilakukan pada hari keempat setelah penggenangan. Insektisida
yang dipakai adalah Sumithion 50 EC dengan dosis 4 ppm untuk membunuh organisme lain
seperti Cladocera yang menjadi pemangsa Rotifera.
c. Pemanenan
Pemanenan Rotifera dapat dilakukan seminggu setelah pemeliharaan. Rotifera sudah
mencapai populasi puncak. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan plankton net. Cara
pemanenannya yaitu dengan mengambil air kolam kemudian air yang terkonsentrasi pada
tabung plankton net ditampung dalam ember. Cara lain panen Rotifera adalah dengan
menggunakan pompa air yang dialirkan pada wadah tertentu.
Pemupukan ulang perlu dilakukan untuk mempertahankan populasi Rotifera dengan dosis
sebanyak setengah dosis pemupukan awal. Sebaiknya pemupukan dilakukan setiap 5-6 hari
sekali. Rotifera hidup pada perairan yang banyak tersuspensi bahan organik. Kesukaannya
memakan organisme lain yang mempunyai ukuran lebih kecil, seperti ganggang renik, ragi,
bakteri, dan protozoa. Pada tubuhnya terdapat organ khusus yang disebut korona. Organ ini
bentuknya bulat dan dilengkapi bulu getar sehingga tampak seperti roda (Mujib, 2008).
1.4 Peranan Rotifera Dalam Budidaya Perikanan
Brachionus plicatilis merupakan jenis plankton hewani yanng hidup di perairan litoral
dan termasuk pakan larva ikan laut yang penting. Dalam percobaan pembenihan ikan laut,
rotifera diberikan sebagai pakan larva selama kurang lebih satu bulan.
Kegunaan Brachionus plicatilis secara tidak langsung mulai berkembang. Brachionus
plicatilismerupakan pakan hidup bagi jenis-jenis tertentu golongan ikan sehingga seringkali
sangat diperlukan dalam budidaya. Penyediaan pakan alami berupa plankton nabati dan plankton
hewani yang tidak cukup tersedia, seringkali menyebabkan kegagalan dalam mempertahankan
kelangsungan hidup larva ikan.Brachionus plicatilis sangat penting dalam menunjang budidaya
perikanan, terutama sebagai pakan yang baik pada larva ikan maupun udang.
Budidaya ikan secara komersial dari berbagai jenis species-species diantaranya bivalve,
crustaceae, dan ikan bertulang belakang akan mengalami permasalahan yang serius apabila
didalam proses produksinya tidak tersedia pakan alami yang kontinyu baik kuantitas maupun
kualitasnya. Hal ini dikarenakan masih banyak jenis kultivan budidaya yang masih tergantung
input pakan dari pakan organisme hidup, terutama untuk pemeliharaan kultivan dalam bentuk
larva. Dilain pihak, budidaya pakan alami harus menyesuaikan dengan kebutuhan kultivan ikan
yang dipelihara. Untuk memenuhi kebutuhankultivan tersebut disyaratkan sifat fisiologi
jenis/species pakan hidup yang dikultur, ukuran, kecepatan reproduksi, kemampuan tumbuh, dan
nilai nutrisi dari setiap jenis pakan alami. Dengan perkembangan kebutuhan pangan penduduk
dunia saat ini, maka peningkatan budidaya perikanan sangat diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan gizi. Pengembangan budidaya perikanan baik di perairan tawar, payau maupun
laut diberbagai negara merupakan suatu bentuk revolusi pertumbuhan industri baru. Kenyataan
ini selaras dengan bertambahnya populasi penduduk dunia dari tahun ketahun, permintaan akan
pangan dunia, potensi produksi perikanan yang sudah mencapai maximum sustainable yield,
produksi pertanian yang semakin menurun akibat pergeseran tata guna lahan untuk keperluan
lain dan permintaan kualitas hidup perkapita meningkat. Dengan demikian permintaan akan
pangan dari sumber hewani juga akan meningkat, lebih-lebih dilihat dari kandungan protein ikan
yang mempuyai kandungan asam amino yanglebih lengkap dari pada sumber protein hewani
lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan gizi dari sumber protein hewani ikan diperlukan
pengembangan budidaya perikanan dan untuk mendukung produksi sesuai dengan kuantitas
maupun kualitas produk ikan, maka diperlukan ketersediaan pakan alami. Penyediaan pakan
alami baik kuantitas, kualitas dan kontinuitas diperlukan pengetahuan tentang teknik dasar
budidaya pakan alami yang baik agar kontinyuitas produksi ikan hasil budidaya dapat terpenuhi
sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagaian besar larva ikan umumnya memakan tumbuhan dan atau hewan yang
berukuran 4-200 mikron. Jenis tumbuhan dan hewan tersebut termasuk didalamnya adalah
plankton, yakni organisme yang hidup melayang dalam air gerakannya selalu mengikuti arus.
Namun demikian dari sejumlah spesies yang diketahui tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan
sebagai pakan alami bagi pemeliharaan larva, organisme yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan
alami dalam pemliharaan larva harua memenuhi kriteria tertentu yaitu: ukuran sel sesuai dengan
bukaan mulut larva, kandungan nutrisi cukup tinggi, mudah dicerna dan dapat diserap dalam
tubuh larva, gerakannya lambat sehingga larva ikan mudah menangkapnya, mudah dikultur dan
mampu bertahan hidup terhadap lingkungan yang fluktuatif salinitas, suhu, dan intensitas cahaya,
pertumbuhan populasi membutuhkan waktu yang relatif cepat sehingga dengan segera dapat
digunakan dalam keadaan segar dan hidup, usaha pembudidayaannya memerlukan biaya yang
relatif sedikit, selama daur hidupnya tidak menghasilkan bahan beracun yang dapat
membahayakan kehidupan larva.
Dari kriteria tersebut Brachionus plicatilis telah memenuhi syarat untuk dapat digunakan
sebagai pakan alami larva ikan karena memiliki ukuran yang relatif kecil, lambat dalam
berenang, mudah dibudidayakan, mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi yang tinggi serta
diperkaya dengan asam lemak dan antibiotik (Murtiningsih, 1985).