You are on page 1of 16

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu tanaman buah asli
Indonesia yang mempunyai potensi ekspor sangat besar. Tanaman ini mendapat julukan
ratunya buah (queen of fruit) karena keistimewaan dan kelezatannya. Julukan lain untuk buah
manggis adalah nectar of ambrosia, golden apple of hesperides, dan finest in the world.
Bahkan ada yang menyebutnya sebagai buah kejujuran, lambang kebaikan dan mendatangkan
keberuntungan, sehingga di beberapa negara dijadikan sebagai buah utama untuk sesaji
(Reza, 2000).
Di Indonesia, potensi peluang dan pengembangan tanaman manggis cukup tinggi
untuk memenuhi konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Pada tahun 2008 negara tujuan
ekspor manggis utama adalah Cina, Taiwan, Hongkong, Timur Tengah (Arab Saudi, Uni
Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Qatar), daerah Asia lainnya dan Eropa (Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, 2010), seperti Belanda, Perancis,
Jerman, Italia dan Spanyol (Sarwono,1996). Australian Government (2012) menyatakan,
pada tahun 2010 produksi manggis Indonesia mencapai 184.500 ton dengan area produksi
utama propinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara dan propinsi di sepanjang pulau
Sumatera. Dari hasil produksi tersebut hanya 2.450 ton yang diekspor dengan tujuan Cina,
Timur Tengah dan Eropa. Kecilnya jumlah buah manggis yang diekspor ini disebabkan
sebagian besar buah yang dihasilkan bermutu rendah dan beragam. Peluang ekspor buah
manggis segar masih terbuka karena pasar buah-buahan termasuk manggis belum dibatasi
oleh kuota. Bahkan permintaan pasar dunia akan manggis belum terpenuhi (Fitriawan, 2008).
Dalam sistem perdagangan internasional komoditas pertanian yang dilaksanakan saat
ini, WTO memberlakukan ketentuan-ketentuan non-tarif yang dituangkan dalam bentuk
Sanitary and Phytosanitary (SPS) Agreement. Negara-negara anggota WTO termasuk
Indonesia, harus melaksanakan ketentuan dalam agreement tersebut dalam kegiatan
ekspor dan impor komoditas pertanian. Semua ketentuan ini diberlakukan dalam kerangka
implementasi International Plant Protection Convention (IPPC). Implementasi SPS
Agreement dalam bentuk International Standard for Phytosanitary Measures (ISPM). Dalam
ISPM ditentukan bahwa negara pengimpor dapat melakukan analisa resiko masuk dan
berkembangnya berbagai penyakit dan patogen lainnya yang mungkin terbawa oleh
2

komoditas yang diimpor. Informasi tentang penyakit dan berbagai patogen tetersebut tersedia
dalam bentuk Disease List yang disertai informasi tentang biologi, ekologi dan potensi
yang merusak. Untuk memperlancar pelaksanaan ekspor komoditas pertanian khususnya
manggis, kelengkapan dokumen ekspor berupa daftar penyakit tersebut harus disediakan
(Fitriawan, 2008).

Tujuan
Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui berbagai penyakit mayor dan minor pada
tanaman manggis.

Hasil yang diharapkan
Dengan adanya pengamatan lapang ini diharapkan dapat mengetahui biologi, ekologi,
serta pengendalian dari berbagai penyakit mayor dan minor pada tanaman manggis.













3

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Waktu Pelaksaan Surveilans
Surveilans pelaksanaan List of Plant Disease pada tanaman manggis ini dilakukan di
Kabupaten Bogor, yaitu Kampung Cengal, Desa Karacak, Kabupaten Leuwiliang pada bulan
Februari - Maret 2013. Surveilans dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 26
Februari 2013 dan pada tanggal 9 Maret 2013.








Gambar 1. Lokasi Kebun binaan daerah Leuwiliang

Penentuan Contoh Tanaman
Areal pertanaman manggis yang dijadikan surveilans adalah pertanaman manggis
milik anggota kelompok tani yang bernama Bapak Arya dengan total luasan pertanaman 0,75
hektar dan kurang lebih terdapat 300 pohon manggis. Untuk penentuan tanaman contoh kami
mengambil 30 tanaman contoh secara acak dikarenakan lahan pertanaman yang berundak dan
jarak tanamnya berbeda-beda antar tanaman. Dari ke tiga puluh tanaman contoh tersebut
diamati berbagai tanaman yang terkena penyakit (mayor) untuk dihitung intensitas
penyakitnya.

4

Metode Surveilans
Metode yang dilakukan dalam surveilans ada dua, yaitu metode observasi dan metode
kepustakaan. Metode observasi adalah mengamati secara langsung keadaan responden.
Data yang diperoleh dicatat dalam bentuk catatan kemudian di sadur dalam laporan.
Sedangkan metode kepustakaan dilakukan dengan mencari literatur yang berkaitan dengan
List of Plant Disease pada tanaman manggis.





















5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah dan Asal Usul Komoditas Tanaman Manggis
Manggis (mangosteen) dengan nama latin Garcinia mangostana ini berasal dari Asia
Tenggara. Pohon manggis hanya bisa tumbuh di hutan dan dataran tinggi tertentu yang
beriklim tropis seperti di Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, Myanmar dan Thailand
serta di Hawai dan Australia Utara. Manggis juga dikenal sebagai tanaman budidaya dan
merupakan salah satu tanaman buah tropika yang pertumbuhannya paling lambat, tetapi
umurnya juga paling panjang. Membutuhkan 10-15 tahun untuk mulai berbuah dan tingginya
mencapai 10-25 meter (Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2003 ).
Buah manggis merupakan salah satu komoditi ekspor yang diminati oleh pasar
Internasional, sehingga permintaan manggis setiap tahunnya terus meningkat (Sunarjono
1998). Hal ini ditunjukkan dengan permintaan yang masih relatif besar dari pada penawaran
yang berlaku untuk pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor, yang juga tercermin dari
harga buah manggis yang jauh lebih tinggi apabila dibanding dengan harga buah-buahan
lainnya (Wirantaprawira, 2003).
Sejarah Budidaya Komoditas Manggis di Indonesia
Manggis merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari hutan tropis yang
teduh di kawasan Asia Tenggara, yaitu hutan belantara Malayasia atau Indonesia. Dari Asia
Tengara, tanaman ini menyebar ke daerah Amerika Tengah dan daerah tropis lainnya seperti
Srilangka, Malagasi, Karibia, Hawai dan Australia Utara. Di Indonesia manggis disebut
dengan berbagai macam nama lokal seperti Manggu (Jawa Barat), Manggus (Lampung),
Manggusto (Sulawesi Utara), Manggista (Sumatra Barat). Manggis merupakan salah satu
komoditas buah eksotik primadona ekspor yang sangat potensial untuk dikembangkan.
Manggis dijuluki Queen of the Trofical Fruit, karena memiliki cita rasa yang khas dengan
keterpaduan antara warna dan kenikmatan rasa manis, asam dan sepat yang jarang dimiliki
oleh buah buahan tropis lainnya (Biro Pusat Statistik, 2005).




6











Gambar 2. Peta Penyebaran Manggis di Indonesia (Biro Pusat Statistik, 2005)

Pembangunan pertanian ditujukan untuk meningkatkan mutu dan hasil pertanian yang
pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk tercapainya tujuan tersebut
perlu adanya imbalan atau balas jasa yang layak kepada petani atas usaha memproduksi hasil
hasil pertanian.Proses pembangunan tidak terlepas dari geliat perekonomian yang ada disuatu
Negara, sehingga tolak ukur perkembangan pembangunan keadaan suatu Negara dilihat dari
perkembangan ekonominya (Diennazola, 2013).
Pemasaran dapat diartikan sebagai proses penyaluran barang atau jasa dari titik
produksi sampai ketitik konsumsi, bahkan ada yang menyebutkan sebagai upaya penjualan.
Konsep paling mendasar dari pemasaran adalah adanya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi
oleh diri sendiri, yang akhirnya ada upaya untuk mencari pemuas kebutuhan tersebut dan
produsen menyediakannya sehingga terjadi kegiatan pemasaran (Investor Daily Indonesia,
2012).


Penyakit Pada Komoditas Manggis
Pengelola komoditas tanaman manggis (Pak Arya), sebenarnya tidak terlalu
mengeluhkan permasalahan mengenai berbagai penyakit tanaman pada manggis ini. Tanaman
manggis yang ia kelola sekarang adalah milik orang tua mereka. Sehingga, tak ayal jika
kondisi kebun yang ada bukan merupakan monokultur manggis , tetapi bercampur dengan
berbagai jenis tanaman lain seperti kakao, rambutan dan lain-lain. Berdasarkan hasil
surveilans tanaman manggis yang dilaksanakan di Kampung Cengal, Desa Karacak,
Kabupaten Leuwiliang diperoleh daftar penyakit mayor dan minor pada tanaman manggis.
Penyakit yang umum (Mayor) diantaranya adalah bercak daun yang disebabkan oleh
Pestalotia sp. , penyakit getah kuning yang terdapat pada buah yang disebabkan oleh
7

cendawan Fusarium oxysforum, jamur upas yang disebabkan oleh Upasia salmonicolor, dan
busuk buah yang disebabkan Botryodiplodia theobromae. Sedangkan penyakit minor yang
ditemukan adalah mati ujung yang disebabkan oleh Diplodia sp. , kanker batang yang
disebabkan oleh cendawan Botryosphaeria ribis, dan penyakit hawar benang yang
disebabkan oleh cendawan Marasmius scandens.
Bercak daun. Gejala penyakit yang umum adalah adanya bercak tidak beraturan
pada daun. Warna bercak berbeda-beda tergantung dari jenis patogennya. Gejala serangan
Helminthosporium sp. berupa bercak berwarna coklat pada daun, Gloeosporium garciniae
menimbulkan bercak berwarna hitam pada sisi atas daun, sedangkan Pestalotia
(Pestalotiopsis) sp. adalah bercak dengan warna kelabu pada bagian tengahnya. Pada
pengamatan di desa caracak, kami banyak menemukan bercak daun yang berwarna coklat
yang disebabkan oleh Helminthosporium sp. (Juaidi dan Hadisurisno, 2003)
Getah Kuning. Banyak pendapat yang muncul tentang apa penyebab dari penyakit
getah kuning ini. Hadisutrisno dalam Peni (1996) menduga getah kuning manggis ini
disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium sp dan Botrydiplodia sp, namun belum dapat
dipastikan apakah pathogen tersebut merupakan pathogen primer penyebab getah kuning atau
hanya sebagai pathogen sekunder. Sunarjono (1998) menyatakan bahwa getah kuning timbul
akibat tusukan Helopeltis antonii yang mengeluarkan toksin sehingga daging buah atau bekas
tusukan menjadi kuning. Reza dkk. (2000) menyatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh
aspek fisiologis, misalnya benturan oleh angin, luka bekas gigitan serangga dan luka saat
pemanenan. Kurniadhi (2004) mengemukakan bahwa ada beberapa pendapat sehubungan
dengan penyakit getah kuning pada buah manggis. Ada yang menduga penyakit getah
kuning merupakan penyakit fisiologis, hal ini terjadi karena pecahnya sel-sel kulit buah yang
disebabkan oleh perubahan potensial air. Akibatnya, keluar getah bewarna kuning menempel
pada daging buah. Pendapat lain menyatakan bahwa penyakit getah kuning ini disebabkan
terjadinya benturan antara buah yang satu dengan buah yang lain, sewaktu masih dipohon
maupun ketika dilakukan pemanenan. Benturan itu menimbulkan luka pada kulit bagian
dalam disusul keluarnya cairan getah bewarna kuning. Menurut Heyne (1998) menyatakan
bahwa keluarnya getah kuning disebabkan oleh pengairan yang berlebihan setelah
kekeringan. Melalui uji postulat Koch pada buah manggis yang mengeluarkan getah kuning
di Laboratorium Hama dan Penyakit Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Hasil isolasi
pada media PDA dari berbagai bagian buah yang bergetah kuning didapatkan 5 jenis
cendawan dengan bentuk dan warna koloni yang berbeda. Semua cendawan yang diuji tidak
8

selalu menyebabkan terjadinya getah kuning pada buah, baik pada kulit maupun daging buah.
Hal ini dapat dibandingkan dengan buah yang tidak diperlakukan (kontrol). Pada kontrol juga
ditemukan adanya getah kuning pada kulit dan daging buah. Perlakuan Postulat Koch dengan
cara tusukan dan penempelan isolat juga tidak membuktikan bahwa cendawan yang diisolasi
dari buah yang bergetah kuning adalah penyebab munculnya getah kuning. Walaupun pada
kulit buah bekas tusukan ditemukan getah kuning namun daging buahnya tidak bergetah
kuning.
Gejala getah kuning pada manggis berasosiasi dengan bakteri yang berasal dari
golongan gram positif dari genus Corynebacterium (Corynebacterium sp1, Corynebacterium
sp2, Corynebacterium sp3). Bakteri ini diduga sebagai pathogen penyebab penyakit getah
kuning pada manggis (Nurcahyani, 2005). Corynebacterium merupakan bakteri pathogen
tanaman, dalam media komplek biasanya berbentuk tidak beraturan pada fase eksponensial.
Bakteri ini menyebabkan penyakit dengan gejala puru, getah (berlendir) dan layu. Umumnya
bakteri ini berasosiasi hanya dengan satu genus tanaman inang. Ukuran koloni
Corynebacterium berkisar dari kecil (0,1-3 mm) sampai besar (5-8 mm). Morfologi
koloninya bulat, cembung (convex), tidak beraturan dan fludial. Pada media yang kaya nutrisi
biasanya akan terbentuk pigmen yang bewarna kuning atau orange, namun beberapa spesies
memang tidak membentuk pigmen (Schaad dkk., 2001).
Getah kuning yang mengotori aril diduga karena rusaknya sel-sel epithelum penyusun
saluran getah di endocarp yang terjadi secara skizogen. Sehingga dinding sel tidak memiliki
lamela tengah dan diikuti dengan tekanan mekanik yaitu desakan petumbuhan aril dan biji ke
arah luar selama fase pembesaran buah dan tekanan osmotik serta rendahnya kandungan Ca
dan pH tanah. Hal ini kemungkinkan disebabkan oleh tekanan turgor sel, serangga, cendawan
atau bakteri. Getah kuning yang dikoleksi dari kulit batang, kulit luar buah, pericarp buah
muda, aril buah muda dan dewasa menunjukkan hasil positif terhadap senyawa triterpenoid,
flavonoid dan tanin, akan tetapi menunjukkan uji negatif terhadap senyawa alkaloid, saponin
dan steroid, kecuali getah kuning pada aril muda menunjukkan uji positif terhadap senyawa
steroid (Dorly, 2009).
Jamur upas. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada musim hujan. Cabang atau
ranting mati akibat jaringan kulit yang mengering sehingga sering disebut penyakit mati
cabang atau ranting. Pada awalnya cabang atau ranting yang terinfeksi berwarna mengkilat
seperti perak, kemudian berubah warna menjadi merah jambu (seperti kerak). Kerak tersebut
9

merupakan massa miselium cendawan yang kemudian menyerang masuk ke dalam jaringan
kulit. Pada saat itu jamur telah masuk ke dalam jaringan kulit dan menyebabkan matinya
cabang. Penyakit-penyakit lain pada tanaman manggis ini diantaranya adalah mati ujung yang
disebabkan oleh Diplodia sp. , kanker batang yang disebabkan oleh cendawan
Botryosphaeria ribis, dan penyakit hawar benang yang disebabkan oleh cendawan
Marasmius scandens.( Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2012)

















Gambar 3. Gejala Penyakit pada tanaman Manggis
(Dari Kiri atas ke kanan bawah) Hawar Benang, Bercak Coklat, Jamur Upas,
Getah Kuning, Bercak Coklat, Busuk Buah

Busuk Buah. Gejala di lapangan dimulai dengan adanya kerak atau burik pada buah
muda, burik berwarna coklat, pecah-pecah dan sedikit mengeluarkan getah berwarna kuning.
Burik biasanya mulai dari ujung buah, kemudian menjalar ke arah sepal atau sebaliknya.
10

Burik dapat juga pada sisi buah (Gambar di atas). Kulit buah berwarna kehitam-hitaman dan
mengkilap; selanjutnya warna berubah menjadi hitam suram. Perubahan warna kulit diawali
di bagian dekat tangkai buah (pangkal buah), kemudian dengan cepat meluas ke seluruh
bagian buah. Penampakan buah tidak menarik (burik) dan buah menjadi keras. Setelah dibuka
daging buah berair, busuk dan lekat dengan kulit buah (Gambar di samping bawah). Penyakit
ini juga terjadi pada buah di penyimpanan. Penyebab penyakit busuk buah ini adalah
cendawan Botryodiplodia theobromae Penz. (Diplodia mangostanae Henn et Nyman),
cendawan Colletotrichum gloeosporioides Pat atau Glomerella cingulata (Stonem).
(Semanggun, 2007).
Hawar Benang. Gejala di lapangan dimulai pada permukaan cabang atau ranting
terdapat benang-benang putih. Benang-benang putih tersebut hidup sebagai saprofit
fakultatif, yakni dapat hidup sebagai saprofit dan hidup sebagai parasit. Cendawan berupa
benang-benang putih, kemudian meluas hingga di bawah permukaan bawah daun dan
menutupi seluruh permukaan daun, sehingga lambat laun daun yang terserang akan mati.
Penyakit ini juga sering disebut thread blight (Semanggun, 2007).
Pada praktikum ini , kami mengamati Intensitas Penyakit yang ada dilapangan. Kami
mengamati daun manggis yang terkena penyakit bercak daun , jamur upas, dan getah kuning
dari keparahan yang rendah hingga yang tinggi.Insidensi penyakit (desease insidence atau
frequency) atau sering disebut juga sebagai Kejadian Penyakit merupakan proporsi
individual inang atau organ yang terserang penyakit, tanpa mempedulikan seberapa berat
penyakitnya. Dalam persentase. Contoh tanaman yang terinfeksi (n) dan tanaman yang
diamati (N). Rumus sebagai berikut :
Insedensi Penyakit = n X 100%
N
Severitas penyakit (Desease Severity) atau disebut keparahan penyakit yang
merupakan proporsi permukaan inang yang terinfeksi terhadap total permukaan inang yang
diamati. Pengamatan keparahan penyakit dapat ditentukan dengan dua cara in situ dan
pengamatan organ secara destruktif. Insitu merupakan pengamatan penyakit yang dapat
diperkirakan secara visual langsung dari unit contoh (misalkan daun). Skor pada setiap
kategori serangan (v), dan skor untuk serangan terberat (V). Rumus yang digunakan :
Severitas Penyakit = n x v x 100%
N x V
11


Bedasarkan hasil surveilans tanaman manggis yang dilaksanakan di Kampung Cengal,
Desa Karacak, Kabupaten Leuwiliang diperoleh bahwa kejadian penyakit yang terjadi pada
penyakit bercak coklat, jamur upas, dan getah kuning adalah 93,33 %, 63,33 %, dan 83,33 %.
Hasil ini di dapat dengan cara menghitung keparahan penyakit dengan formula diatas.
Severitas penyakit yang kami dapatkan pada penyakit bercak coklat, jamur upas, dan getah
kuning adalah %, %, dan %. Jadi dapat kami simpulkan kejadian penyakit
yang paling tinggi terdapat pada penyakit bercak coklat sedangkan severitas penyakit yang
paling tinggi terdapat pada penyakit bercak coklat juga.







Tabel 1. Skor Skala Kerusakan Penyakit










Skor Skala Kerusakan
0 Luas gejala 0% (tidak ada gejala)
1 Luas gejala (1 5)%
2 Luas gejala (6 10)%
3 Luas gejala (11 25)%
4 Luas gejala (26 40)%
5 Luas gejala (41 65)%
6 Luas gejala (66 100)%
12


Tabel 2. Skoring Pengamatan Penyakit pada Tiga Puluh Tanaman Contoh




Tanaman
Contoh
Ke-


Bercak Daun


Jamur Upas

Getah
Kuning
Keparahan
Penyakit (%)
Skor Keparahan
Penyakit (%)
Skor Keparahan
Penyakit (%)
Skor

1 12 3 1 1 10

2
2
3
15
53
3
5
23
25
3
3
13
26 4
35
4 10 2 36 4 15 3
5 5 1 6 2 37 4 4
6 8 2 14 3 21 3 3
7 35 4 23 3 10 2
8 22 3 39 4 15 3
9 3 1 0 0 60 5
10 2 1 0 0 10 2
11 1 1 0 0 30 4
12 5 1 10 2 5 1
13 1 1 10 2 5 1
14 8 2 10 2 0 0
15 39 4 10 2 0 0
16 15 3 3 1 5 1
17 10 2 4 1 5 1
18 15 3 3 1 0 0
19 20 3 1 1 0 0
20 30 4 0 0 45 5
21 10 2 0 0 0 0
22 10 2 0 0 0 0
23 30 4 5 1 0 0
24 10 2 60 6 15 3
25 0 0 0 0 60 5
26 0 0 0 0 30 4
27 5 1 0 0 45 5
28 7 2 0 0 23 3
29 12 3 0 0 10 2
30 15 3 17 3 5 2
13



x 100 %

x 100 %
%


Tabel 3. Keparahan Penyakit Bercak Daun


x 100 %

x 100 %
%

Tabel 4. Keparahan Penyakit Jamur Upas


x 100 %

x 100 %
%

Tabel 5. Keparahan Penyakit Getah Kuning

a. Kejadian Penyakit Bercak Daun :
=

x 100 %
=

x 100 %
= 93,33 %
b. Kejadian Penyakit Jamur Upas

x 100 %
=

x 100 %
= 63,33 %



Skor n n x v N x V
0 2 0 180
1 7 7
2 5 10
3 7 21
4 8 32
5 1 5
6 0 0
Skor n n x v N x V
0 11 0 180
1 6 6
2 5 10
3 5 15
4 2 8
5 0 0
6 1 6
Skor n n x v N x V
0 7 0 180
1 4 4
2 5 10
3 6 18
4 4 16
5 4 20
6 0 0
14

c. Kejadian Penyakit Getah Kuning

x 100 %
=

x 100 %
= 83,33 %

Kerugian Akibat Penyakit
Kerugian yang diakibatkan oleh patogen cukup mengurangi peluang kuota ekspor
manggis ke luar negeri. Pada tahun 2011, produksi manggis nasional mencapai 117.600 ton
dengan jumlah ekspor manggis mencapai 12.600 ton dengan nilai 9,9 juta dollar AS (Rp 94
miliar, dengan pangsa pasar utama adalah Hong Kong., Cina, Singapura, Malaysia dan Timur
Tengah (Berita Pertanian Online, 2013).








Tabel 6. Volume Impor Komoditas Hortikultura Indonesia, 2009 2012





Tabel 7. Nilai Impor Komoditas Hortikultura Indonesia, 2009 2012


15

Budidaya dan Praktek Pengendalian Di Lapangan
Budidaya tanaman manggis membutuhkan media tanam tanah yang cocok agar hama
dan penyakit bisa ditekan seminimal mungkin. Produksi manggis saat ini masih potensial
untuk ditingkatkan bila memperoleh penanganan yang tepat. Media tanam tanah yang paling
baik untuk budidaya manggis adalah tanah yang subur, gembur, mengandung bahan organik.
Derajat keasaman tanah (pH tanah) ideal untuk budidaya manggis adalah 57. Untuk
pertumbuhan tanaman manggis memerlukan daerah dengan drainase baik dan tidak tergenang
serta air tanah berada pada kedalaman 50200 m (Rakhmat, 1995).
Nama
Penyakit
Pengendaliannya
Jamur Upas
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memangkas tanaman
pelindung atau bagian tanaman yang sudah mati agar tingkat kelembaban
kebun berkurang. Gergaji cabang sepanjang 30 cm di bawah bagian kulit
yang sudah membusuk, lalu bakar cabang tersebut. Olesi cabang yang
terserang dengan bubur Bordeaux, carbolineum plantarum, atau fungisida
berbahan aktif tridemorf.
Getah Kuning Pencegahan dapat dilakukan dengan cara memangkas cabang dan ranting
yang mati atau kering, mengatur pengairan serta memperbaiki drainase
kebun. Hindari terjadinya luka akibat benturan pada buah, agar buah tetap
mulus dan sehat. Secara umum cara pengendalian penyakit dapat dilakukan
dengan menjaga lingkungan tumbuh tanaman agar tidak terlalu lembab serta
melakukan sanitasi atau menjaga kebersihan kebun. Pengendalian juga dapat
dilakukan dengan menggunakan bahan kimia fungisida. Gunakan masker
apabila sedang melakukan penyemprotan tanaman dengan bahan kimia.
Bercak Daun Cara kultur teknis: 1) Pengurangan tingkat kelembapan kebun dengan
mengurangi/memangkas tanaman pelindung dan bagian tanaman manggis
yang sudah mati; 2) Sanitasi kebun, dengan membersihkan rerumputan/
gulma, daun dan ranting di areal pertanaman manggis yang dapat menjadi
tempat sumber inokulum.. Cara mekanis :Pemangkasan daun sakit kemudian
membakarnya. Cara kimiawi : Penyemprotan dengan fungisida yang efektif,
terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.
Buah Busuk Cara pencegahannya dengan memusnahkan buah-buah yang sakit dengan
cara membakar. Usahakan agar buah tidak luka atau memar akibat benturan,
karena buah yang memar sangat peka terhadap patogen ini.
Hawar Benang Cara pengendaliannya dengan membersihkan dan membakar sisa-sisa
tanaman, baik daun maupun ranting. Semprotkan fungisida seperti Corbox
atau Cupravit dengan dosis sesuai anjuran yang tertera pada kemasan.
16

KESIMPULAN
Keragaman patogen yang ditemukan pada komoditas manggis di Kabupaten Bogor ,
Kampung Cengal, Desa Karacak, Kabupaten Leuwiliang terdapat pada daun, buah, dan
batang. Penyakit yang dominan muncul pada komoditas ini adalah getah kuning dan masih
belum diketahui patogen penyebabnya. Perlu diperhatikan budidaya manggis untuk
mendapatkan buah yang berkualitas tinggi sehingga memenuhi kriteria eksport juga
dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebab penyakit pada komoditas manggis.