You are on page 1of 3

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewayang mengalami
perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasukimasa dewasa. Masa remaja berlangsung
antara umur 12 tahun sampai dengan21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun
bagi pria (Rusminidan Siti, 2004). Sedangkan menurut Darajat (1990), remaja adalah
masaperalihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa
pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka
bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula
orang dewasa yang telah matang.Remaja memiliki banyak aktivitas diantaranya bersekolah,
mengikuti les tambahan dan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler lainya. Mahasiswa juga
termasuk dalam golongan remaja akhir. Aktivitas mahasiswa pun jauh lebih banyak di
bandingkan dengan siswa SMA selain mengikuti kuliah mahasiswa juga mengikuti berbagai
kegiatan baik yang di selenggarakan oleh kampus maupun di luar kampus. Selain itu, olahraga
juga berperan penting dalam kegiatan mahasiswa untuk menjaga kesehatanya. Mahasiswa bisa
dikatakan sehat apabila segala sesuatu dalam tubuh itu sendiri berada dalam keadaan normal
termasuk kadar hemoglobin. Menurut Dhamayanti (2010), kadar hemoglobin merupakan suatu
indeks untuk mengukur apakah mahasiswa dalam keadaan normal ataupun anemia, sebanyak
26,5 % remaja perempuan dan 20 % laki-laki usia 15-19 tahun menderita kekurangan zat besi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada remaja adalah makanan, usia, jenis
kelamin, aktivitas, merokok, dan penyakit yang menyertainya seperti leukemia, thalasemia, dan
tuberkulosi. Makanan merupakan zat-zat gizi atau komponen gizi yang terdapat dalam makanan
yang dimakan digunakan untuk menyusun terbentuknya haemoglobin yaitu Fe (zat besi) dan
protein. Usia Anak-anak, orang tua, ibu yang sedang hamil akan lebih mudah mengalami
penurunan kadar Hemoglobin. Pada anak-anak dapat disebabkan karena pertumbuhan anak-anak
yang cukup pesat dan tidak di imbangi dengan asupan zat besi sehingga dapat menurunkan kadar
Hemoglobin (National Anemia Action Council, 2009). Jenis kelamin perempuan lebih mudah
mengalami penurunan dari pada laki-laki, terutama pada saat menstruasi (Curtale et al., 2000).
Aktivitas fisik manusia sangat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah. Pada individu
yang secara rutin berolahraga kadar hemoglobinnya akan sedikit naik. Hal ini disebabkan karena
jaringan atau sel akan lebih banyak membutuhkan O2 (oksigen) ketika melakukan aktivitas
(Bahri dkk., 2009). Olahraga merupakan serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana
untuk memelihara gerak dan meningkatkan kemampuan gerak. Olahraga merupakan kebutuhan
hidup yang sifatnya periodik, artinya olahraga sebagai alat untuk pertumbuhan dan
perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometis dan fungsi
fisiologinya stabilitas emosionalnya dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuan
bersosialisasi dengan lingkungan (Giriwijoyo, 2000). Futsal merupakan olahraga yang populer
pada saat ini di semuakalangan termasuk mahasiswa. Futsal sangat bermanfaat bagi kebugaran
tubuh individu. Olahraga futsal secara langsung meningkatkan kemampuan fisik seperti
pengaturan napas, pengaturan gerak tubuh, serta melatih otot-otot pada tubuh individu yang
melakukannya secara rutin. Daya tahan tubuh akan meningkat bila seseorang melakukan
olahraga secara rutin (Handoko, 2009). Olahraga secara rutin dapat meningkatkan kadar
hemoglobin. Futsal dianggap olahraga yang praktis untuk dilakukan karena tidak memakan
waktu yang lama. Olahraga ini semakin digemari karena dapat dilakukan pada kondisi cuaca
apapun karena pelaksanaannya dilakukan di dalam ruangan (indoor). Lapangan futsal di kota
Purwokerto sendiri terdapat 9 buah, diantaranya: Score 1, Score 2, PH, Rumah Futsal, Petro,
King, Pelanet, Calico, dan Campion. Berdasakan hasil pengamatan peneliti ada sekitar 1.150
mahasiswa yang menggemari olahraga ini. Mahasiswa melakukan futsal pada siang hari dan
malam hari. Ganong (2003) menyebutkan hemoglobin dalam darah berfungsi untuk
pengangkutan O2 dari paru-paru ke seluruh tubuh. O2 ditukar dengan CO2 (karbondioksida) di
dalam alveolus. O2 dibutuhkan oleh tubuh untuk proses metabolisme, sedangkan CO2
dikeluarkan dari dalam tubuh. O2 diedarkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah yang
diikat oleh hemoglobin membentuk senyawa Hemoglobin. Kondisi udara pada malam hari
berbeda dengan siang hari. Tumbuhan mengeluarkan CO2 pada malam hari, hal ini berbeda
dengan siang hari dimana tumbuhan menyerap CO2. Kondisi ini menyebabkan udara pada
malam hari lebih banyak mengandung gas CO2. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi
sirkulasi udara pada sistem pernapasan manusia. Seseorang akan lebih sedikit memperoleh O2
bila berkegiatan di malam hari (Cahyono,2005). Mahasiswa Unsoed secara rutin melakukan
futsal pada siang hari dan ada juga mahsiswa yang melakukan futsal malam hari. Aktivitas fisik
sangat mempengaruhi hemoglobin yang berguna untuk mengikat oksigen, sedangkan kondisi
udara terdapat perbedaan antara kondisi pada waktu siang dan malam hari dimana pada siang
hari lebih banyak O2 dibanding CO2 dan sebaliknya pada malam hari. Berdasarkan konsep, teori
dan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti Perbedaan kadar hemoglobin pada
mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang melakukan olahraga futsal pada siang hari dan
malam hari.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan teori, aktivitas fisik manusia sangat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam
darah dan apabila secara rutin berolahraga kadar hemoglobinnya akan sedikit naik. Futsal
merupakan salah satu olahraga. Berdasarakan wawancara yang dilakukan menunjukan terdapat
perbedaanantara olahraga siang dan malam hari pada kadar hemoglobin. Berkaitan dengan alasan
tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang Apakah ada perbedaan kadar hemoglobin pada
mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yamg melakukan olahrga futsal pada siang hari dan
malam hari?