You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN
Berdasarkan analisis kata anestesi (an = tidak, aestesi = rasa), ilmu anestesi
merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tatalaksana untuk mematikan rasa,
baik rasa nyeri, takut dan tidak nyaman yang lain sehingga pasien merasa nyaman ketika
dilakukan tindakan pembedahan atau prosedur lainnya. Terdapat beberapa metode dalam
anestesi yaitu parenteral, perinhalasi dan perektal. ada prinsipnya, sebelum dilaksanakannya
anestesi pada suatu operasi, terdapat beberapa tahap yang harus dikerjakan dimulai dari tahap
praanestesi yang meliputi persiapan pasien (!isik dan mental), perencanaan anestesi ,
penentuan prognosis dan persiapan sampai hari operasi. "erta pada tahap pelaksanaannya
dikerjakan premedikasi, pemantauan dan pemeliharaan selama proses anestesi dan operasi,
tahap pemulihan dan pera#atan pasca operasi.
$uretase merupakan salah satu prosedur obstetrik dan ginekologi yang sering
dilakukan. Baik untuk pengosongan sisa konsepsi dari ka%um uteri akibat abortus. &taupun
untuk mengetahui kelainan perdarahan uterus pada kasus ginekologi. $asus yang
membutuhkan tindakan kuretase bermacam'macam, diantaranya abortus, blighted o%um,
plasenta rest, dan hamil anggur. &da juga kasus kuret yang ditujukan untuk diagnostik seperti
biopsi endometrium. rosedur ini berlangsung dalam #aktu singkat sehingga memerlukan
teknik anestesi yang dapat menghasilkan #aktu pulih yang singkat tetapi dengan tingkat sedasi
dan analgesi yang adekuat sehingga T()& menjadi pilihan yang lebih sering digunakan
dibandingkan inhalasi mengingat kemudahan !asilitas pengadaan dan #aktu pulih yang lebih
singkat dibanding teknik inhalasi.
*
BAB II
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
+ama , +y. "-
.sia , /* tahun
0enis $elamin , 1anita
&lamat , 2ink. 0ombang Tangsi 3T 45631 45 $ec. 0ombang,
7ilegon
ekerjaan , (bu 3umah Tangga
&gama , (slam
Tanggal 8asuk 3" , 9 &gustus 54*:
0enis embedahan , $uretase
Teknik &nestesi , ;eneral &nestesi < Total (ntra )ena &nestesi
II. ANAMNESIS
&namnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 9 &gustus 54*:, pukul **.44
1(B.
$eluhan .tama
8ulas < mulas yang dirasakan sejak tanggal /4 0uli 54*: pukul 4=./4 disertai
keluar darah sekitar /4 cc berupa gumpalan
3i#ayat enyakit "ekarang
asien datang ke oli $andungan 3".> $ota 7ilegon pada tanggal 9 &gustus
54*: pukul **.44 1(B dengan keluhan keluar darah dari kemaluan dan perut
mulas. asien mengaku sedang hamil ? bulan.
3i#ayat enyakit >ahulu
' 3i#ayat penyakit penyerta misal@ diabetes mellitus, asma, penyakit
jantung, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, dan penyakit paru disangkal
' asien tidak memiliki ri#ayat alergi terhadap obat atau makanan
' asien belum pernah menjalani operasi apapun sebelumnya
III. PEMERIKSAAN FISIK
$eadaan .mum , baik, tampak cemas
$esadaran , compos mentis
"tatus ;iAi , TB , *?? cm
5
BB , ?4 kg
B8( , 54,9 (+ormal)
Tekanan >arah , **4 6 94 mmBg
ernapasan , 5: C6menit
+adi , =D C6menit
"uhu , /?,?
o
7
Status Generalis
$epala , +ormocephali, rambut ber#arna hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut, tidak rontok
8ata , $onjungti%a anemis '6', sklera ikterik '6', pupil isokor
Telinga , +ormotia, liang telinga lapang, hiperemis '6', sekret '6'
Bidung , >e%iasi septum ('), mukosa hiperemis '6', sekret '6'
8ulut , "ianosis ('), mukosa hiperemis (')
;igi geligi , ;igi palsu ('), gigi goyang (')
2eher , embesaran $;B ('), pembesaran tiroid ('), de%iasi trakea (')
ThoraC
' aru , "uara na!as %esikuler, rhonki ('), #heeAing (')
' 0antung , Bunyi jantung ( dan (( reguler, murmur ('), gallop (')
&bdomen
' (nspeksi , datar
' &uskultasi , bising usus (E) 5 C6menit
' alpasi , supel, nyeri tekan ('), nyer lepas ('), hepar F lien tidak teraba
' erkusi, timpani
Gkstremitas , &kral hangat, edema ('), sianosis (')
Status Kebidanan
BBT , */ -ebruari 54*:
3i#ayat ersalinan , *. Th 544/ di bidan, persalinan normal, cukup bulan,jenis
kelamin laki'laki dengan BB //44 gram
5. Th 54*4 di bidan, persalinan normal, jenis kelamin
perempuan dengan BB //44 gram
I. PEMERIKSAAN PENUN!ANG
Basil laboratorium tanggal 9 &gustus 54*:
Pe"eri#saan Hasil Nilai N$r"al
He"at$l$%i
Bemoglobin *5 gr6dl *5 < *? gr6dl
2eukosit 9.:*4 6 Hl ?.444 < *4.444 6 Hl
Bematokrit /D,= I /D < := I
/
Trombosit 59:.444 6 Hl *?4.444 < :44.444 6 Hl
8asa endarahan / menit * < D menit
8asa embekuan ** menit ? < *? menit
;olongan >arah & 3h E
I"un$l$%i Ser$l$%i
Bb"&g +egati! '
&nti B() +on reakti! '
Fun%si Hati
Bilirubin Total ' 4,5 < * mg I
Pe"eri#saan Hasil Nilai N$r"al
&lbumin ' /,9 < ?,4 gr I
;lobulin ' 5,/ < /,5 gr I
";JT ' ? < :4 Hl
";T ' ? ' :* Hl
Fun%si Gin&al
.reum ' *? < :4 mg6dl
$reatinin ' 4,? < *,? mg6dl
. RESUME
"eorang #anita berusia /* tahun datang ke oli $andungan 3umah "akit .mum
>aerah $ota 7ilegon tanggal 9 &gustus 54*: pada pukul **.44 1(B dengan keluhan mulas'
mulas yang dirasakan sejak tanggal /4 0uli 54*: pukul 4=./4 1(B. ada #aktu bersamaan
keluar darah sekitar /4cc berupa gumpalan. asien mengaku sedang hamil ? bulan.
I. DIAGNOSIS KER!A
;/5&4 Bamil ? bulan &b inkomplit
II. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan !isik maka dapat disimpulkan,
>iagnosa perioperati!
"tatus operati! , &"& (
0enis operasi , $uretase
0enis anestesi , ;eneral anestesi
BAB III
LAPORAN ANESTESI
:
*. reoperati!
' (n!ormed consent (E)
' uasa (E) selama K jam
' Tidak ada gigi goyang atau pemakaian gigi palsu
' () line terpasang dengan in!use 3inger 2aktat
' $eadaan umum baik
' Tanda %ital
Tekanan darah , **4694 mmBg
+adi , =D C6menit
erna!asan , 5: C6menit
"uhu , /?,?
o
7
5. remedikasi &nestesi
"ebelum dilakukan tindakan anestesi diberikan Jndansetron : mg bolus ()
/. Tindakan &nestesi
&nestesi general dengan teknik anestesi intra%ena (T()&)
:. emantauan "elama &nestesi
8elakukan monitoring terus menerus tentang kedaan pasien yaitu reaksi pasien
terhadap pemberian obat anestesi khususnya terhadap !ungsi perna!asan dan jantung
$ardio%askular
+adi setiap ? menit
Tekanan darah setiap ? menit
3espirasi
(nspeksi perna!asan spontan pada pasien
"aturasi oksigen
?. 8onitoring &nestesi
!a" Tinda#an Te#anan Dara' Nadi Saturasi O(
4K.5? asien masuk ruang
operasi, ditidurkan
terlentang di atas
meja operasi,
dipasangkan manset
tekanan darah di
?
tangan kanan, dan
pulse oksimeter di
tangan kiri
4K.5? (njeksi Jndansetron
: mg bolus ()
*?96== mmBg 9K C6menit KK I
4K.5D (njeksi -entanyl *44
g, sekitar /4 detik
kemudian dilanjutkan
dengan suntikan
ropo!ol *?4 mg.
(njeksi >ormicum *?
mg.
*?96== mmBg 9K C6menit KK I
4K.5= Jperasi dimulai *?96== mmBg 9K C6menit KK I
4K./4 9K6?= mmBg D? C6menit *44 I
4K./? (njeksi oCytocin *4
(. drip, (njeksi
ospargin bolus ()
K?6?9 mmBg D9 C6menit *44 I
4K.:4 Jperasi selesai K?6?9 mmBg D9 C6menit *44 I
D. 2aporan &nestesi
2ama anestesi , /4 menit
2ama operasi , *? menit
0enis anestesi , ;eneral anestesi
Teknik anestesi , T()&
osisi , 2itotomi
(n!us , 3inger 2aktat pada tangan kanan
remedikasi , Jndansetron : mg bolus ()
8edikasi ,
' -entanyl *44 g
' ropo!ol *44 mg
' >ormicum ? mg
' (nduCin (JCytocin) *4 (.
' ospargin 4,5 mg
=. $eadaan "etelah embedahan
asien dipindahkan ke reco%ery room dan dipantau tanda %italnya sebelum
dipindahkan ke ruang ra#at. 8asuk reco%ery room pukul 4K.:4 dan keluar menuju
ruang ra#at pada pukul *4.44. ada obser%asi didapatkan ,
$esadaran , 7ompos mentis
L Tekanan darah , **46=4 mmBg
D
+adi , =9 C6menit
"aturasi oksigen , K9 I
S#$r Aldrete
ariabel Kriteria S#$r S#$r Pasien
A#ti)itas ;erak ke': anggota
gerak atas perintah
;erak ke'5 anggota
gerak atas perintah
Tidak respon
5
*
4
5
Res*irasi Da*at berna+as dala"
dan batu#
>ispnea, hipo%entilasi
&pnea
(
*
4
5
Sir#ulasi Peruba'an , (-. TD
s/st$le *re$*erasi
erubahan 54'?4I T>
systole preoperasi
erubahan M ?4I T>
systole preoperasi
(
*
4
5
Kesadaran Sadar *enu'
>apat dibangunkan
Tidak respon
(
*
4
5
0arna Kulit Mera'
ucat
"ianotik
(
*
4
5
=
S#$r T$tal 1-
N K , indah dari unit pera#atan pasca anestesi
N 9 , >ipindahkan ke ruang pera#atan bangsal
N ? , >ipindahkan ke ruang pera#atan intensi! ((7.)
OBAT2OBAT 3ANG DIBERIKAN
*. J+>&+"GT3J+
Jndansetron adalah deri%ate carbaAalone yang strukturnya berhubungan
dengan serotonin dan merupakan antagonis reseptor ?'BT/ subtipe spesi!ik yang berada
di 7TO dan juga pada a!eren %agal saluran cerna, tanpa mempengaruhi reseptor
dopamine, histamine, adrenergik, ataupun kolinergik.

Jbat ini memilki e!ek
neurologikal yang lebih kecil dibanding dengan >roperidol ataupun 8etoklopramid.
Jndansetron e!ekti! bila diberikan secara oral atau intra%ena dan mempunyai
bioa%aibility sekitar D4I dengan konsentrasi terapi dalam darah muncul tiga puluh
sampai enam puluh menit setelah pemakaian. 8etabolismenya di dalam hati secara
hidroksilasi dan konjugasi dengan glukoronida atau sul!at dan di eliminasi cepat
didalam tubuh, #aktu paruhnya adalah /': jam pada orang de#asa sedangkan pada
anak'anak diba#ah *? tahun antara 5'/ jam, oleh karena itu ondansetron baik
diberikan pada akhir pembedahan.

G!ek antiemetik ondansetron ini didapat melalui ,
*. Blokade sentral di 7TO pada area postrema dan nukleus traktus solitaries
sebagai kompetiti! selekti! reseptor ?'BT/
5. 8emblok reseptor ?'BT/ di peri!er pada ujung sara! %agus di sel
enterokroma!in di traktus gastrointestinal
G!ek samping yang sering timbul pada dosis terapi adalah sakit kepala dan
konstipasi, lemas, peningkatan enAim hati. &ritmia jantung dan &) blok telah
dilaporkan setelah pemakaian Jndansetron dan 8etoklopramid. (skemia jantung akut
9
yang berat telah dilaporkan pada pasien tanpa kelainan jantung. Jndansetron dan obat
golongan antagonis reseptor ?'BT/ lainnya dapat menyebabkan peninggian PT
inter%al di elektrokardiogra!i tetapi hal ini tidak dijumpai pada pemakaian droperidol.
Belum diketahui adanya interaksi dengan obat "" lainnya seperti diaAepam, alkohol,
mor!in dan lain'lain.

$ontraindikasi Jndansetron adalah selain pada pasien yang hipersensiti%itas
terhadap obat ini, juga pada ibu hamil ataupun yang sedang menyusui karena mungkin
disekresi dalam asi. asien dengan penyakit hati mudah mengalami intoksikasi, tetapi
pada pasien yang mempunyai kelainan ginjal agaknya dapat digunakan dengan aman.
>osis Jndansetron :'9 mg () sangat e!ekti! untuk menurunkan kejadian J+)
(ost Jperati%e +ausea and )omiting). "ebagai pro!ilaksis dosis *'9 mg () sangat
e!ekti! dalam penanganan J+).
5. ;J2J+;&+ BG+OJ>(&OG(+
Jbat ini dapat dipakai sebagai trasQualiser, hipnotik, maupun sedati%e. "elain itu obat
ini mempunyai e!ek antikon%ulsi dan e!ek amnesia.

Jbat'obat pada golongan ini sering digunakan sebagai ,
a. Jbat induksi
b. Bipnotik pada balance anastesi
c. .ntuk tindakan kardio%ersi
d. &ntikon%ulsi
e. "ebagai sedasi pada anastesi regional, local atau tindakan diagnostic
!. 8engurangi halusinasi pada pemakaian ketamin
g. .ntuk premedikasi
Mida4$la"
Jbat ini mempunyai e!ek ansiolitik, sedati%e, anti kon%ulsi!, dan anteretrogad
amnesia. >urasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya *,?'/C diaAepam.
Jbat ini menembus plasenta, akan tetapi tidak didapatkan nilai &;&3 kurang dari
= pada neonatus.

>osis ,
remedikasi , im 5,?'*4 mg, o 54':4 mg
"edasi , i% 4,?'? mg
(nduksi , i% ?4'/?4 Hg6kg
G!ek samping obat ,
K
Takikardi, episode %aso%agal, komplek %entrikuler premature, hipotensi
Bronkospasme, laringospasme, apnea, hipo%entilasi
Guphoria, agitasi, hiperakti%itas
"al%asi, muntah, rasa asam
3uam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan
/. 3JJ-J2
8erupakan cairan emulsi isotonic yang ber#arna putih. Gmulsi ini terdiri dari gliserol,
phospatid dari telur, sodium hidroksida, minyak kedelai dan air. Jbat ini sangat larut
dalam lemak sehingga dapat dengan mudah menembus blood brain barier dan
didistribusikan di otak. ropo!ol dimetabolisme di hepar dan ekskresikan le#at ginjal.

enggunaanya untuk obat induksi, pemeliharaan anastesi, pengobatan mual muntah
dari kemoterapi
>osis ,
"edasi , bolus, i%, ?'?4 mg
(nduksi , i% 5'5,? mg6kg
emeliharaan , bolus i% 5?'?4 mg, in!use *44'544 Hg6kg6menit, antiemetic i% *4 mg
ada ibu hamil, propo!ol dapat menembus plasenta dan menyebabakan depresi janin.
ada sistem kardio%askuler, obat ini dapat menurunkan tekanan darah dan sedikit
menurunkan nadi. Jbat ini tidak memiliki e!ek %agolitik, sehingga pemberiannya bisa
menyebabkan asystole. Jleh karena itu, sebelum diberikan propo!ol seharusnya pasien
diberikan obat'obatan antikolinergik.

ada pasien epilepsi, obat ini dapat menyebabkan
kejang.
:. J(J(>
Jpioid (mor!in, petidin, !entanyl, su!entanyl) untuk induksi diberikan dalam dosis
tinggi. Jpioid tidak mengganggu kardio%askulet, sehingga banyak digunakan untuk
induks pada pasien jantung.
Fentan/l
>igunakan sebagai analgesik dan anastesia
>osis ,
&nalgesik , i%6im 5?'*44 Hg
(nduksi , i% ?':4 Hg6 kg BB
"uplemen anastesi , i% 5'54 Hg6kg BB
&nastetik tunggal , i% ?4'*?4 Hg6 kg BB
*4
&#itan aksi , i% dalam /4 detik, im R 9 menit
2ama aksi , i% /4'D4 menit, im *'5 jam
G!ek samping obat ,
Bradikardi, hipotensi
>epresi saluran pernapasan, apnea
using, penglihatan kabur, kejang
8ual, muntah, pengosongan lambung terlambat
8iosis
?. J"&3;(+
8etilergometrina maleat merupakan amina dengan e!ek uterotonik yang
menimbulkan kontraksi otot uterus dengan cara meningkatkan !rekuensi dan amplitudo
kontraksi pada dosis rendah dan meningkatkan tonus uterus basal pada dosis tinggi.
8ekanisme kerjanya merangsang kontraksi otot uterus dengan cepat dan poten melalui
reseptor adrenergik sehingga menghentikan perdarahan uterus.
5
Far"a#$#ineti#
8etilergometrina diabsorbsi cepat dan hampir sempurna, baik pada pemberian
oral, intramuskular dan () injeksi. /?I metilergometrina terikat dengan protein
plasma. Banya sebagian kecil metilergometrina yang ditemukan pada &"( (kurang dari
4,/I dari dosis yang diminum. ada penyuntikan (), e!ek kontraksi uterus terjadi
dengan segera (/4 ' D4 detik). $ontraksi uterus ini pada penyuntikan () bertahan
sampai dengan 5 jam. 8etilergometrina didistribusi cepat dengan %olume distribusi
4,// ' 4,D= 26kg, dibandingkan total cairan tubuh. Gliminasinya terutama melalui
empedu dikeluarkan bersama !eses.
Indi#asi
*. 8encegah dan mengobati pendarahan pasca persalinan dan pasca abortus,
termasuk pendarahan uterus karena sectio caesaria
5. enanganan akti! kala ((( pada partus
/. endarahan uterus setelah placenta lepas, atoni uterus, subin%olusi uterus pada
puerperium, lokhiometra.
K$ntraindi#asi
**
*. enggunaan untuk induksi atau augmentasi partus sebelum persalinan
5. Bipertensi, termasuk hipertensi karena kehamilan (pre'eklampsia, eklampsia)
/. &bortus iminens
:. (nersia uterus primer dan sekunder
?. $ehamilan
D. Bipersensiti%itas
D$sis dan 5ara Pe"a#aian
*. "ectio caesaria , setelah bayi dikeluarkan secara ekstraksi, i.m.* m2 atau i.%.
4,? sampai * m2
5. enanganan akti! kala ((( , i.m. 4,? sampai * m2 (4,* ' 4,5 mg) setelah kepala
atau bahu interior keluar atau selambat ' lambatnya segera setelah bayi dilahirkan
/. $ala ((( pada partus dengan anestesi umum , i.%. * m2 (4,5 mg)
:. &toni uterus , i.m. * m2 atau i.%.4,? sampai * m2
?. 8embantu in%olusi uterus , * tablet / kali sehari, umumnya / ' : hari
D. endarahan puerperal, subin%olusi, lokhiometra , * atau 5 tablet / kali sehari,
atau i.m. 4,? ' * m2 sehari
E+e# sa"*in%
8ual, muntah dan sakit perut dapat terjadi pada pemberian dosis yang besar. Bipertensi
dapat terjadi terutama setelah penyuntikan i.%.yang cepat.
:
D. J$"(TJ"(+ ((+>.S(+)
De+inisi
Jksitosin sintetik adalah obat yang dapat meningkatkan kontraksi otot polos
uterus.Banyak obat yang memperlihatkan e!ek oksitosik, tetapi hanya beberapa saja
yang kerjanya cukup selekti! dan dapat berguna. Jbat yang menjadi pilihan ialah
oksitosin dan deri%atnya, alkaloid ergot dan deri%atnya, dan beberapa prostaglandin
semisintetik. Jbat'obat tersebut memperlihatkan respons bertingkat (gradedrespons)
pada kehamilan, mulai dari kontraksi uterus spontan, ritmis sampai kontraksi tetani.
Jksitosin sendiri merupakan hormon protein yang dibentuk di nukleus
para%entrikel hipotalamus dan disimpan di dalam dan dilepaskan dari hipo!isis
*5
posterior Bormon ini dilepas oleh ujung'ujung sara! di ba#ah perangsangan yang
memadai@ kapiler mengabsorpsi substansi ini dan memba#anya ke sirkulasi umum di
mana akan membantu kontraksi otot polos.
?
Indi#asi
*. (nduksi persalinan cukup bulan, dengan indikasi khusus ,
a. Bipertensi akibat kehamilan
b. Bipertensi maternal kronik
c. $etuban pecah dini M 5: jam sebelum #aktunya
d. $orioamnionitis
e. ostmatur (gestasi M :5 minggu)
!. 3etardasi pertumbuhan intrauterine
g. >iabetes melitus maternal
h. enyakit ginjal maternal
i. $ematian janin intrauterin
5. 8em!asilitasi kontraksi uterus pada kehamilan cukup bulan
/. 8engendalikan perdarahan sesudah melahirkan
:. Terapi tambahan pada aborsi spontan6 aborsi karena kelainan
?. 8erangsang laktasi pada kasus kegagalan ejeksi &"(
Me#anis"e Ker&a Obat
Jksitosin terikat pada reseptornya yang berada pada membran sel miometrium,
di mana selanjutnya terbentuk siklik adenosin'?'mono!os!at (c&8). 7ara kerja
oksitosin adalah dengan menimbulkan depolarisasi potensial membran sel. >engan
terikatnya oksitosin pada membran sel, maka 7aEE dimobilisasi dari retikulum
sarkoplasmik untuk mengakti%asi protein kontraktil. $epekaan uterus terhadap
oksitosin dipengaruhi oleh hormon estrogen F progesteron. >engan dominasi
pengaruh estrogen meningkat sesuai dengan umur kehamilan, kepekaan uterus
terhadap oksitosin meningkat. "elain itu kepekaan uterus juga dipengaruhi oleh
reseptor oksitosin, yang akan semakin banyak dengan makin tua
kehamilannya."ensiti%itas maksimal terhadap oksitosin dicapai pada kehamilan /:'/D
minggu. Bersama dengan !aktor'!aktor lainnya oksitosin memainkan peranan yang
sangat penting dalam persalinan dan ejeksi &"(.
:
Jksitosin bekerja pada reseptor oksitosik untuk menyebabkan ,
*/
$ontraksi uterus pada kehamilan aterm yang terjadi le#at kerja langsung
padaotot polos maupun le#at peningkatan produksi prostaglandin
$onstriksi pembuluh darah umbilicus
$ontraksi sel'sel miopital (re!leks ejeksi &"()
Jksitosin bekerja pada reseptor hormonantidiuretik (&>B) untuk menyebabkan ,
eningkatan atau penurunan yang mendadak pada tekanan darah diastolik
karena terjadinya %asodilatasi
3etensi air
K$ntraindi#asi
*. Bipersensiti%itas oksitosin
5. &danya komplikasi obstetrik
/. Tidak dianjurkan digunakan untuk dilatasi ser%iks
:. $elainan letak janin
?. lasenta pre%ia
D. $ontraksi uterus hipertonik
=. >istress janin
9. rematurisasi
K. >isporposi cephalo pel%ic
*4. reeklampsia atau penyakit kardio%askuler dan terjadi pada ibu hamil yang
berusia /? tahun
**. ;a#at janin
Far"a#$#ineti#
Jksitosin diarbsorpsi dengan baik oleh mukosa hidung ketika diberikan secara
intranasal untuk mengeluarkan &"(. $emampuan mengikat proteinnya rendah, dan
#aktu paruhnya *'K menit. >i metabolisasi dengan cepat dan di ekskresikan oleh hati.
Far"a#$dina"i#
Jnset dari kerja oksitosin yang diberikan secara intra%ena terjadi segera, #aktu
untuk mencapai puncak konsentrasinya tidak diketahui, lama kerjanya adalah 54 menit.
Jbat yang diberikan secara intra%ena untuk menginduksi kehamilan atau mempercepat
kehamilan. >osis a#al adalah 4,? m26menit dititrasi dengan kecepatan 4,5'5,D? m.
setiap *?'/4 menit sampai kontraksi kira'kira terjadi setiap / menit dengan kualitas
yang cukup. .ntuk pencegahan dan pengendalian perdarahan karena atoni uterus, *4 .
*:
oksitosin ditambahkan ke dalam * 2 larutan dekstrose atau elektrolit (*4 m.6 m2)
diin!uskan dengan kecepatan yang dapat mengendalikan atoni.
E+e# Sa"*in%
*. "timulasi berlebih pada uterus
5. $onstriksi pembuluh darah tali pusat
/. 8ual, muntah, anoreksia
:. 3eaksi hipersensiti!
D$sis Obat
(nduksi persalinan melalui in!us () , ? ' /4 unit diberikan dalam larutan
!isiologis ?44ml, kecepatan , ?':4 tetes6 menit
$ala / persalinan , ?'*4 (. secara intramuskular ((8) atau ? (. secara ()
lambat
embelahan pada operasi caesar , ? (. intramuskular setelah melahirkan
5ara Pe"berian O#sit$sin
*. Jksitosin tidak diberikan secara oral karena dirusak di dalam lambung oleh
tripsin
5. emberian oksitosin secara intra%ena (drip 6 tetesan) banyak digunakan karena
uterus dirangsang sedikit demi sedikit secara kontinyu dan bila perlu in!us dapat
dihentikan segera.
BAB I
ANALISIS KASUS
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan !isik dan penunjang, pasien didiagnosa
;/5&* hamil ? Bulan &b inkomplit dengan &"& (. asien dianjurkan untuk berpuasa mulai
dari jam *5 malam hingga #aktu operasi. 8enjelang operasi pasien nampak compos mentis,
*?
nampak sakit ringan dan agak cemas. 0enis anestesi yang dikerjakan adalah anestesi general
dengan teknik T()& (anestesi intra%ena).
asien diberikan premedikasi berupa ondansetron : mg untuk mencegah mual'muntah
yang bisa menyebabkan aspirasi dan rasa tidak nyaman pasca bedah. Jndansetron adalah
deri%ate carbaAalone yang strukturnya berhubungan dengan serotonin dan merupakan
antagonis reseptor ?'BT/ subtipe spesi!ik yang berada di 7TO dan juga pada a!eren %agal
saluran cerna, tanpa mempengaruhi reseptor dopamine, histamine, adrenergik, ataupun
kolinergik. G!ek antiemetik ondansetron ini didapat melalui blokade sentral di chemoreceptor
trigger zone TO pada area postrema dan nukleus traktus solitaries sebagai kompetiti! selekti!
reseptor ?'BT atau memblok reseptor ?'BT/ di peri!er pada ujung sara! %agus di sel
enterokroma!in di traktus gastrointestinal.
>ilakukan induksi dengan -entanyl *44Hg (dosis *'5 Hg 6kgbb). -entanyl merupakan
opioid sintetik dengan seratus kali lebih poten dari mor!in sebagai analgesik, obat ini
menghilangkan nyeri, mengurangi respon somatik dan autonomic terhadap manipulasi air#ay,
dengan hemodinamik yang lebih stabil dengan mula kerja yang cepat dan durasi kerja yang
singkat. Tetapi disamping itu kelemahannya adalah mempengaruh %entilasi perna!asan dan mual
muntah pasca operasi.
"elanjutnya pasien diberikan injeksi () propo!ol. ropo!ol dipilih karena pro!il
!armakokinetiknya dengan mula kerja obat yang cepat dan #aktu pulih yang singkat.
$eunggulan lainnya adalah !ungsinya sebagai antiemetic, anti kejang, dan amnesia agen.
ropo!ol merupakan deri%at !enol dengan nama kimia di-iso profil fenol yang bersi!at hipnotik
murni dan tidak memiliki e!ek analgetik, memiliki onset :4'D4 detik. >isamping
kelebihannya, propo!ol juga mempunyai kekurangan'kekurangan, yaitu dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah arteri, penurunan denyut jantung, depresi perna!asan, sampai henti
na!as. ropo!ol menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik berkisar 5?':4I. 8ekanisme
penurunan tekanan darah ini disebabkan oleh e!ek inotropik negati! dan relaksasi dari otot
polos pembuluh darah. "elanjutnya pasien diberikan dormicum *? mg. >ormicun merupakan
obat golongan benAodiaAepin Jbat ini mempunyai e!ek ansiolitik, sedati%e, anti kon%ulsi!, dan
anteretrogad amnesia. >urasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya *,?'/C diaAepam. Jbat
ini dapat menyebabkan takikardi, komplek %entrikuler premature, hipotensi, bronkospasme,
*D
laringospasme, apnea, hipo%entilasi, euphoria, agitasi, hiperakti%itas, sal%asi, muntah, rasa
asam, 3uam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan.
"elama operasi berlangsung, dilakukan pemantauan tanda %ital berupa tekanan darah,
saturasi oksigen dan nadi setiap ? menit serta diberikan terapi cairan 3inger 2aktat secara ().
32 dipilih karena merupakan kristaloid dengan komposisi yang lengkap (+a, $, 7l, 7a, dan
laktat) . Terapi cairan dikerjakan bertujuan untuk menggantikan de!isit cairan saat puasa,
mengganti kebutuhan rutin selama pembedahan, mengganti perdarahan yang terjadi selama
operasi dan mengganti kehilangan cairan yang berpindah ke ruangan ke tiga (rongga
peritoneum, ke luar tubuh), juga mencegah e!ek hipotensi akibat pemberian obat intra%ena
yang mempunyai e!ek %asodilatasi.
Terapi cairan intra operati! ,
$ebutuhan cairan basal (rutin, rumatan) ,
: ml6kgBB6jam untuk berat badan *4 kg pertama
5 ml6kgBB6jam tambahkan untuk berat badan *4 kg kedua
* ml6kgBB6jam tambahkan untuk sisa berat badan
$ebutuhan cairan operasi ,
embedahan menyebabkan pemindahan cairan ke ruang ke tiga, ke ruang peritoneum,
ke luar tubuh. .ntuk menggantinya tergantung besar'kecilnya pembedahan, yaitu D'9
ml6kgbb untuk bedah besar, :'D ml6kgbb untuk bedah sedang dan 5': ml6kgbb untuk
bedah kecil.
$ebutuhan cairan puasa,
>ihitung dengan , 2ama puasa C kebutuhan cairan basal
emberian cairan jam pertama dapat dihitung dengan ,
$ebutuhan cairan basal E kebutuhan cairan operasi E ?4I kebutuhan cairan puasa
ada pasien ini setelah proses kuretase selesai, diberikan oksitosin secara drip.
Jksitosin adalah obat yang dapat meningkatkan kontraksi otot polos uterus, berperan dalam
pengendalian pendarahan. Jnset dari kerja oksitosin yang diberikan secara intra%ena terjadi
segera, #aktu untuk mencapai puncak konsentrasinya tidak diketahui, lama kerjanya adalah 54
menit. >ilanjutkan dengan pemberian ospargin 4,5 mg. ospargin merupakan amina dengan
e!ek uterotonik yang menimbulkan kontraksi otot uterus dengan cara meningkatkan !rekuensi
dan amplitudo kontraksi pada dosis rendah dan meningkatkan tonus uterus basal pada dosis
*=
tinggi. 8ekanisme kerjanya merangsang kontraksi otot uterus dengan cepat dan poten melalui
reseptor adrenergik sehingga menghentikan perdarahan uterus. ada penyuntikan (), e!ek
kontraksi uterus terjadi dengan segera (/4 ' D4 detik). $ontraksi uterus ini pada penyuntikan
() bertahan sampai dengan 5 jam.
"elama operasi, keadaan pasien stabil. emantauan dilanjutkan di recovery room
setelah operasi selesai, tetap dilakukan pemantauan tanda %ital (tekanan darah, nadi dan
saturasi oksigen) serta menghitung Aldrete score.
BAB
TIN!AUAN PUSTAKA
I.
KURETASE
$uretase merupakan salah satu prosedur obstetrik dan ginekologi yang sering
dilakukan. Baik untuk pengosongan sisa konsepsi dari ka%um uteri akibat abortus. &taupun
untuk mengetahui kelainan perdarahan uterus pada kasus ginekologi. rosedur ini berlangsung
dalam #aktu singkat. $asus yang membutuhkan tindakan kuretase bermacam'macam,
diantaranya abortus, blighted o%um, plasenta rest, dan hamil anggur. &da juga kasus kuret
yang ditujukan untuk diagnostik seperti biopsi endometrium.
8enurut ginekolog dari 8orula -ertility 7linic, 3" Bunda, 0akarta, tujuan kuret ada
dua yaitu,
*9
a. "ebagai terapi pada kasus'kasus abortus. (ntinya, kuret ditempuh oleh dokter untuk
membersihkan uterus dan dinding uterus dari benda'benda atau jaringan yang tidak
diharapkan.
b. enegakan diagnosis. "emisal mencari tahu gangguan yang terdapat pada uterus, apakah
sejenis tumor atau gangguan lain. 8eski tujuannya berbeda, tindakan yang dilakukan pada
dasarnya sama saja. Begitu juga persiapan yang harus dilakukan pasien sebelum menjalani
kuret.
Indi#asi Kuretase 6
*. Abortus inkomplit (keguguran saat usia kehamilan R 54 mg dengan didapatkan sisa'sisa
kehamilan, biasanya masih tersisa adanya plasenta). $uretase dalam hal ini dilakukan untuk
menghentikan perdarahan yang terjadi oleh karena keguguran. 8ekanisme perdarahan pada
kasus keguguran adalah dengan adanya sisa jaringan menyebabkan uterus tidak bisa
berkontraksi dengan baik sehingga pembuluh darah pada lapisan dalam uterus tidak dapat
tertutup dan menyebabkan perdarahan.
5. Blighted ova (janin tidak ditemukan, yang berkembang hanya plasenta). >alam kasus ini
kuretase harus dilakukan oleh karena plasenta yang tumbuh akan berkembang menjadi suatu
keganasan, seperti chorio 7a, penyakit trophoblas ganas pada kehamilan.
/. Dead conseptus (janin mati pada usia kehamilan R 54 mg). Biasanya parameter yang jelas
adalah pemeriksaan .";, dimana ditemukan janin tetapi jantung janin tidak berdenyut.
&pabila ditemukan pada usia kehamilan *D'54mg, diperlukan obat perangsang persalinan
untuk proses pengeluaran janin kemudian baru dilakukan kuretase. &kan tetapi bila ditemukan
saat usia kehamilan R *D mg dapat langsung dilakukan kuretase.
:. Abortus mola (tidak ditemukannya janin, yang tumbuh hanya plasenta dengan gambaran
bergelembung seperti buah anggur, yang disebut hamil anggur). Tanda'tanda hamil anggur
adalah tinggi uterus tidak sesuai dengan umur kehamilannya. .terus lebih cepat membesar
*K
dan apabila ada perdarahan ditemukan adanya gelembung'gelembung udara pada darah. Bal
ini juga dapat menjadi suatu penyakit keganasan trophoblas pada kehamilan.
?. Menometroraghia (perdarahan yang banyak dan memanjang diantara siklus haid).
Tindakan kuretase dilakukan disamping untuk menghentikan perdarahan juga dapat digunakan
untuk mencari penyebabnya, oleh karena ganguan hormonal atau adanya tumor uterus
(myoma uteri) atau keganasan setelah hasil kuretase diperiksa secara mikroskopik
E+e# sa"*in% tinda#an #uretase
Perforasi uterus
$uretase memungkinkan terjadinya per!orasi uterus. Bal itu bisa terjadi karena pada saat
hamil, dinding uterus sangat lunak, sehingga berisiko tinggi untuk terjadinya lubang akibat
pengerokan sisa'sisa jaringan.
3isiko terjadinya lubang pada uterus semakin besar bila kuretase dilakukan pada ibu yang
hamil anggur. "ebab, ada tahapan yang harus dilakukan sebelum sampai pada tindakan
keretase. ada hamil anggur, perut ibu biasanya cukup besar. .sia tiga bulan saja biasanya
sudah seperti enam bulan. $arena itu, sebelum kuretase dilakukan, dokter akan menge%akuasi
posisi kehamilan menggunakan %acuum lebih dulu, baru mengerok menggunakan sendok
tajam untuk mengeluarkan sisa'sisa jaringan.
Infeksi
Tindakan kuretase memungkinkan terjadinya in!eksi, akibat adanya perlukaan. Tapi, dengan
pengobatan yang tepat, in!eksi itu biasanya cepat sembuh.
Sindrom Asherman
"indrom &sherman adalah terjadinya perlekatan pada lapisan dinding dalam uterus. $arena
lengket, jaringan selaput lendir uterus tidak terbentuk lagi. &kibatnya, pasien tidak mengalami
haid. (ni memang bisa terjadi, karena selaput lendir uterus terkikis habis saat tindakan
54
kuretase. Tapi hal itu masih bisa diatasi dengan pemberian obat, sehingga pasien bisa haid
kembali.
Keluar vlek
)lek'%lek darah bisa saja keluar setelah tindakan kuretase dilakukan, sampai satu minggu
kemudian. $eluarnya %lek'%lek darah itu sangat #ajar. Tapi, bagaimanapun harus tetap
dikonsultasikan pada dokter, agar bisa di#aspadai. "ebab, bisa saja keluarnya %lek tersebut
karena adanya gangguan pada !ungsi pembekuan darah.
Mual dan pusing
8ual dan pusing bisa terjadi akibat pembiusan yang dilakukan. Tapi, kalau muntah pada saat
pasien sedang tidak sadar diri, hal itu perlu di#aspadai.
Nyeri
3asa nyeri, terutama di perut bagian ba#ah, bisa timbul setelah tindakan kuretase dilakukan.
II.
ANESTESI UMUM
1.1
DEFINISI
1
Berdasarkan analisis kata anestesi (an = tidak, aestesi = rasa), ilmu anestesi
merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tatalaksana untuk mematikan rasa,
baik rasa nyeri, takut dan tidak nyaman yang lain sehingga pasien merasa nyaman ketika
dilakukan tindakan pembedahan atau prosedur lainnya. $ata anestesi diperkenalkan oleh
Jli%er 1endell Bolmes yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersi!at sementara,
karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan.
&nestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri sentral disertai hilangnya kesadaran
yang bersi!at re%ersibel. >engan anestesi umum akan diperoleh trias anestesia, yaitu,
*
5*
Bipnotik (tidur)
&nalgesia (bebas dari nyeri)
3elaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot)
Banya eter yang memiliki trias anestesia. $arena anestesi modern saat ini
menggunakan obat'obat selain eter, maka anestesi diperoleh dengan menggabungkan
berbagai macam obat.
1.(
METODE ANESTESI UMUM
5
(. arenteral
&nestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intra%ena maupun
intramuskular biasanya digunakan untuk tindakan yang singkat atau untuk induksi anestesia.
((. erektal
8etode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi anestesia maupun
tindakan singkat.
(((. erinhalasi
Taitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap (%olatile agent)
dan diberikan dengan J5. $onsentrasi Aat anestetika tersebut tergantunug dari tekanan
parsialnya@ Aat anestetika disebut kuat apabila dengan tekanan parsial yang rendah sudah
mampu memberikan anestesia yang adekuat.
1.7
STADIUM ANESTESI
;uedel pada tahun *K54 membagi stadium anestesi umum pada pasien yang
mendapatkan anestesi umum dengan eter dan premedikasi dengan sul!as atropin, parameter
yang ;uedel gunakan adalah pola respirasi dan pergeseran bola mata. ada tahun *K:/
;illespie melengkapinya dengan tanda'tanda perubahan pola napas akibat pengaruh insisi
pada kulit, sekresi mata dan re!leks laring. embagian stadium tersebut adalah sebagai berikut,
55
a. "tadium (, disebut sebagai stadium analgesia. >imulai dari pemberian agen anestesi
sampai menimbulkan hilangnya kesadaran. ada stadium ini pasien masih dapat
mengikuti perintah dan terdapat analgesi.
b. "tadium ((, disebut sebagai stadium eksitasi. "tadium (( dimulai dari hilangnya
kesadaran dan re!leks bulu mata sampai pernapasan kembali teratur. 3itme napas tidak
teratur dengan %olume yang besar, ukuran pupil lebar dan di%ergen.
c. "tadium (((, disebut sebagai stadium pembedahan, dibagi menjadi ,
8.1. Plana 1 9P1: , pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi
gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil midriasis, re!leks cahaya ada,
lakrimasi meningkat, re!leks !aring dan muntah tidak ada, dan belum mencapai
relaksasi otot lurik yag sempurna (tonus otot mulai menurun).
8.(. Plana ( 9P(: , sampai a#al parese otot lurik, ritme napas teratur dengan %olume
sedang, ukuran pupil U lebar, letak menetap ditengah, re!leks cahaya mulai menurunm
re!leks laring mulai hilang sehingga dapat mulai dikerjakan intubasi.
8.7. Plana 7 9P7: , pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis,
lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral, re!leks laring dan peritoneu, tidak ada,
relaksasi otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin turun).
8;. Plana ; 9P;: , pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis
total, pupil sangat midriasis, re!leks cahaya hilang, re!leks s!ingter ani dan kalenjar air
mata tidak ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun)
d. "tadium (), disebut stadium paralisis (kelebihan obat). >imulai dengan melemahnya
pernapasan perut dibandingkan stadium ((( plana (), pada stadium ini tekanan darah
tidak dapat diukur, denyut jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian.
$elumpuhan pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi dengan pernapasan
buatan.
1.7.1 ANESTESI INTRAENA
&nestesi intra%ena (T()&) merupakan teknik anastesi umum dengan hanya
menggunakan obat'obat anastesi yang dimasukkan le#at jalur intra%ena. T()& digunakan
untuk ketiga trias anastesi yaitu hipnotik, analgetik, dan relaksasi otot. $ebanyakan obat'obat
anastesi intra%ena hanya mencakup 5 komponen anastesi, akan tetapi ketamin mempunyai
ketiga trias anastesi sehingga ketamin dianggap juga sebagai agent anastesi yang lengkap.

$elebihan T()& adalah ,
5/
*. >apat dikombinasikan atau terpisah dan dapat dititrasi dalam dosis yang lebih akurat
dalam pemakaiannya.
5. Tidak mengganggu jalan na!as pada pasien
/. 8udah dilakukan dan tidak memerlukan alat'alat serta mesin anestesi khusus.
(ndikasi emberian T()&
T()& dalam prakteknya sehari'hari digunakan sebagai ,
*. Jbat induksi anastesi umum
5. Jbat tunggal untuk anastesi pembedahan singkat
/. Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat
:. Jbat tambahan anastesi regional
?. 8enghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan ""
7ara pemberian T()& ,
*. "untikan tunggal, untuk operasi singkat
7ontoh , cabut gigi
5. "untikan berulang sesuai dengan kebutuhan
7ontoh , kuretase
/. >iteteskan le#at in!use dengan tujuan menambah kekuatan anestesi
III.
PROSEDUR ANESTESI UMUM
7
a. Persia*an *ra anestesi u"u"
ersiapan prabedah yang kurang memadai merupakan !aktor penyumbang sebab
terjadinya kecelakaan anestesia, karena itu kunjungan pra anestesi seyogyanya dilakukan
sebelum dilakukan pembedahan. $unjungan untuk bedah elekti! umumnya dilakukan pada *'5
hari sebelumnya, sedangkan untuk bedah darurat #aktu yang tersedia lebih singkat. Tujuan
utama kunjungan pra anestesi adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi dan
meningkatkan pelayanan kesehatan, untuk mempersiapkan mental dan !isik pasien secara
optimal dengan anamnesis, pemeriksaan !isik, laboratorium dan pemeriksaan lain.
b. Persia*an Pasien
Ana"nesis
&namnesi dapat dilakukan dengan autoanamnesia atau alloanamnesis. Beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam anamnesis ,
(dentitas , nama, umur, alamat, pekerjaan, dll untuk menghindari kesalahan identitas
dan salah operasi.
5:
3i#ayat penyakit dahulu atau sekarang yang mungkin dapat menjadi penyulit dalam
anestesi misalnya hipertensi, diabetes melitus, alergi, asma, pnyakit paru kronik, penyakit
jantung, penyakit ginjal maupun hati.
3i#ayat obat yang sedang atau telah digunakan yang mungkin dapat terjadi interaksi
dengan obat anestesi. 8isalkan kortikosteroid, obat antihipertensi, obat antidiabetik, antibiotik
golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung seperti digitalis, diuretik, obat alergi atau
bronkodilator.
3i#ayat operasi atau anestesi sebelumnya, berapa kali dan selang #aktu, untuk
mengetahui apakah pasien pernah mengalami komplikasi saat itu atau selang setelah
pembedahan.
$ebiasaan seperti merokok atau minum alkohol. $ebiasaan merokok sebaiknya
dihentikan *'5 hari sebelumnya untuk eliminasi nikotin yang mempengaruhi sistem
kardiosirkulasi, dihentikan beberapa hari untuk mengakti!kan kerja silia jalan pernapasan dan
*'5 minggu untuk mengurangi produksi sputum. $ebiasaan minum alkohol berkaitan dengan
kecurigaan adanya penyakit hepar.
Pe"eri#saan Fisi#
emeriksaan keadaan gigi'geligi, tindakan buka mulut, lidah relati! besar dapat
menjadi penyulit tindakan intubasi, demikian juga leher pendek dan kaku. emeriksaan rutin
secara sistemik tentang keadaan umum seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua
sistem organ pasien.
Pe"eri#saan Lab$rat$riu"
.ji laboratorium hendaknya dilakukan berdasarkan indikasiyang tepat sesuai dengan
dugaan penyakit yang dicurigai. Beberapa !asilitas kesehatan mengharuskan pemeriksaan rutin
laboratorium meski pasien sehat untuk bedah minor, misal pemeriksaan darah kecil (Bb, Bt,
leukosit, masa pembekuan dan perdarahan) dan urinalisis. ada pasien diatas ?4 tahun
biasanya dianjurkan pemeriksaan G$; dan !oto toraks.
Kebu%aran untu# Anestesia
embedahan elekti! boleh ditunda tanpa batas #aktu untuk menyiapkan pasien dalam
keadaan bugar, sebaliknya pada operasi sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.
Klasi+i#asi Status Fisi#
$lasi!ikasi yang laAim dipakai untuk menilai kebugaran seseorang adalah yang berasal
dari The &merican "ociety o! &nesthesiologist (&"&).
Masu#an Oral
5?
3e!leks laring mengalami penurunan selama anestesi. 3egurgitasi isi lambung dan
kotoran terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasien yang menjalani
anestesi. .ntuk meminimalkan resiko tersebut, pasien dipuasakan selama periode tertentu
sebelum induksi anestesi. ada pasien de#asa umumnya puasa D'9 jam, anak kecil :'D jam
dan pada bayi /': jam. 8akanan tak berlemak diperbolehkan ? jam sebelum induksi anestesi.
8inuman bening, air putih, teh manis sampai / jam dan untuk keperluan minum obat air putih
dalam jumlah terbatas boleh * jam sebelum induksi anestesi.
Pre"edi#asi
remedikasi adalah pemberian obat *'5 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia diantaranya untuk meredakan
kecemasan dan ketakutan, memperlancar induksi, mengurangi sekresi kalenjar ludah dan
bronkus, mengurangi mual'muntah, meminimalkan jumlah obat anestesia, menciptakan
amnesia, mengurangi isi cairan lambung, mengurangi re!leks yang membahayakan. >iaAepam
dapat digunakan untuk meredakan kecemasan, diberika peroral *4'*? mg beberapa jam
sebelum induksi. 0ika disertai nyeri karena penyakitnya, dapat diberikan petidin ?4 mg
intramuskular. 7airan lambung 5? ml dengan ph 5,? dapat menyebabkan pneumonitis asam.
.ntuk meminimalkan kejadian di atas dapat diberikan antagonis B5 histamin misalnya oral
simetidin D44 mg atau oral ranitidin *?4 mg *'5 jam sebelum jad#al operasi. .ntuk
mengurangi mual muntah pasca operasi dapat diberikan ondansetron 5': mg atau droperidol
intramuskular 5,?'? mg.
8. Indu#si Anestesi
(nduksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien sadar menjadi tidak sadar
sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. (nduksi anestesi dapat
dikerjakan secara intra%ena, inhalasi, intramuskular atau rektal. .ntuk persiapan induksi
anestesia sebaiknya kita mengingat ,
" , "7JG. "tetoskop untuk mendengarkan suara jantung'paru. 2aringo'scope, pilih
bilah sesuai dengan usia, lampu harus cukup terang.
T , T.BG". ipa trakea, pilih sesuai usia. .sia R? tahun tanpa balon dan M? tahun
dengan balon.
& , &(31&T. ipa mulut'!aring (;uedel, orotracheal air#ay) atau pipa hidung !aring
(naso'tracheal air#ay), untuk menahan lidah supaya lidah tidak menyumbat jalan
napas.
5D
T , T&G. lester untuk !iksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
( , (+T3J>.7G3. 8andrin atau stilet ka#at dibungkus plastik yang mudah
dibengkokkan untuk memudahkan memasukkan pipa trakea.
7 , 7J++G7TJ3. enyambung antara pipa dan peralatan anestesia.
" , ".7T(J+. enyedot lendir, ludah dan lain'lain.
(nduksi intra%ena paling banyak dikerjakan karena cepat dan menyenangkan. Jbat
induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan /4'D4 detik. (nduksi intramuskular sampai
sekarang hanya ketamin yang dapat diberikan secara (8 dengan dosis ?'= mg6kgbb dan
setelah /'? menit pasien tertidur. (nduksi inhalasi hanya dikerjakan dengan halotan atau
se%o!luran. 7ara ini dikerjakan pada bayi atau anak yang belum terpasang jalur %ena atau
orang de#asa yang takut disuntik. (nduksi halotan memerlukan gas pendorong J5 atau
campuran +5J dan J5. (nduksi dimulai dengan aliran J5 M: liter6 menit atau campuran +5J ,
J5 = /,*, aliran M: liter6menit, dimulai dengan halotan 4,? %olI sapai konsentrasi yang
dibutuhkan.
(nduksi per rektal hanya untuk bayi atau anak menggunakan tiopental atau midaAolam.
d. Obat Anestesi U"u"
Jbat'obatan untuk anestesi umum pada umumnya diberikan secara inhalasi atau
intra%ena ,
&nestetik (nhalasi
>i dalam dunia modern, anestetik inhalasi yang umu digunakan untuk praktek klinik
adalah +5J, halotan, en!luran, des!luran, iso!luran dan se%o!luran. +5J dalam ruangan
berbentuk gas tak ber#arna, berbau manis, tidak iritasi, tidak terbakar, dan beratnya *,? kali
berat udara. emberian +5J harus diserati J5 minimal 5?I . ;as ini bersi!at anestetik lemah
tapi analgesinya kuat, jarang digunakan sendirian, biasanya kombinasi dengan cairan anestetik
lain misalnya halotan. ada akhir anestesi setelah +5J dihentikan, +5J akan cepat keluar
mengisi al%eoli sehingga terjadi pengenceran J5 dan terjadi hipoksia di!usi, untuk
menghindari hal ini maka diberikan J5 *44I selama ?'*4 menit.
Balotan merupakan turunan etan. Baunya enak dan tak merangsang jalan napas, e!ek
analgesi lemah namun anestesinya kuat. Balotan dapat menyebabkan tekanan intrakranial
meningkat, pada respirasi halotan dapat menyebabkan depresi pusat napas bila diberikan
dengan konsentrasi tinggi. .ntuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi
adalah 5'/I bersama dengan +5J. .ntuk pemelharaan pola napas spontan, konsentrasi
5=
berkisar antara *'5,?I sedangkan untuk napas kendali, berkisar antara 4,?'*I. Balotan tidak
dianjurkan untuk pasien yang menderita gangguan !ungsi hati dan irama jantung, serta tidak
untuk operasi kraniotomi.
Gn!lurene digunakan terutama dalam pemeliharaan anestesia umum. >isamping e!ek
hipnotik, juga mempunyai e!ek analgetik ringan dan relaksasi otot ringan. Bati'hati pada
gangguan !ungsi ginjal. $euntungan dari penggunaan e!lurene adalah induksinya cepat dan
lancar, tidak iritati! terhadap mukosa jalan napas,pemulihan lebih cepat dari halotan, tidak
menimbulkan mual'muntan atau menggigil pasca anestesi. $elemahannya adalah batas
keamanannya yang sempit, e!ek analgesia dan relaksaasinya kurang sehingga harus
dikombinasikan.
(so!lurane merupakan halogenasi eter, tidak ber#arna, tidak eksplosi! , cukup iritati!
terhadap jalan napas. (so!luran digunakan sebagai komponen hipnotik dalam pemeliharaan
anestesia umum, disamping itu iso!luran juga memiliki e!ek analgesia ringan dan relaksasi
otot ringan. $euntungannya adalah tidak menyebabkan iritasi jalan napas,tidak menimbulkan
mual'muntah, tidak menimbulkan menggigil pasca anestesi, tidak mudah meledak atau
terbakar, tidak menimbulkan e!ek goncangan kardio%askular maupun eksitasi "". "e%o!luran
memiliki e!ek hipnotik, analgetik ringan dan relaksasi otot ringan. (nduksinya ceoat dan
lancar, tidak iritati! terhadap jalan napas, pemulihan cepat, namun batas keamanannya sempit.
>es!luran memiliki e!ek hipnotik, analgetik ringan dan relaksasi otot ringan. $euntungan
hampir sama dengan iso!luran dengan batas keamanannya sempit dan e!ek analgesia dan
relaksasinya yang kurang.
&nestetik (ntra%ena
&nestetik intra%ena selain untuk induksi juga digunakan untuk rumatan, tambahan
analgesia regional atau prosedur diagnostik misalnya tiopental, ketamin dan propo!ol. .ntuk
T()& biasanya menggunakan ropo!ol.
Tiopental digunakan intra%ena dengan dosis /'= mg6kgbb dan disuntikkan perlahan
dalam /4'D4 detik. 2arutan ini sangat alkalis dengan pB *4'** sehingga suntkan keluar %ena
akan menimbulkan nyeri hebat apalagi masuk arteri akan menyebabkan %asokonstriksi dan
nekrosis jaringan. tiopental menurunkan aliran darah otak, T($, tekanan likuor, pada dosis
rendah bersi!at anti'analgesi.
59
ropo!ol dikemas dalam cairan emulsi lemak ber#arna putih susu bersi!at isotonik.
>osis bolus untuk induksi 5'5,? mg6kgbb. $etamin kurang digemari karena dapat
menyebabkan hipertensi, takikardi, hipersali%asi, nyeri kepala, mual'muntah pasca anestesi,
pandangan kabur dan mimpi buruk. ;olongan opioid (!entanyl, mor!in, pethidin) untuk
induksi diberikan dosis tinggi. Jpioid tidak mengganggu kardio%askular.

e. Ru"atan
3umatan anestesi dapat dikerjakan dengan intra%ena atau inhalasi atau campuran
intra%ena'inhalasi. 3umatan anestesi mengacu pada trias anestesia yaitu hipnosis, analgesia,
tidak nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup. 3umatan intra%ena misalnya dengan opioid
dosis tinggi, !entanyl *4'*?mikrogram6kgbb. >osis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur
dengan analgesia cukup. 3umatan () dapat juga dilakukan dengan opioid biasa namun pasien
ditidurkan dengan propo!ol in!us :'*5 mg6kgbb6jam. Bedah lama dengan anestesi total
intra%ena menggunakan opioid, pelumpuh otot dan %entilator. .ntuk mengembangkan paru
digunakan inhalasi dengan udara E J5 atau +5J E J5.
+. Pas8a Anestesia
asien operasi harus diobser%asi baik dikamar bedah maupun dalam kamar pulih.
enga#asan yang ketat meliputi pemantauan pernapasan, kardio%askular, apakah pasien
mengalami kegelisahan, nyeri, mual'muntah, menggigil.
"kor &ldrete digunakan sebagai kriteria untuk menilai keadaan pasien selama
obser%asi di ruang pemulihan, untuk menentukan boleh'tidaknya pasien dikeluarkan dari
ruang pemulihan. Berikut adalah tabel penilaian yang meliputi gerakan, pernapasan, tekanan
darah, kesadaran dan #arna kulit, pasien dapat dikeluarkan bila nilai sudah mencapai N9.
Tabel skor &ldrete
GERAKAN SKOR
>apat menggerakan ke : ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah 5
>apat menggerakkan ke 5 ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah *
Tidak dapat menggerakkan ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah 4
PERNAPASAN
Bernapas dalam dan kuat serta batuk 5
Bernapas berat atau dispnu *
&pnu atau napas dibantu 4
TEKANAN DARAH
"ama dengan nilai a#al E 54I 5
Berbeda lebih dari 54'?4I dari nilai a#al *
Berbeda lebih dari ?4I dari nilai a#al 4
5K
KESADARAN
"adar penuh 5
Tidak sadar, ada reaksi terhadap rangsangan *
Tidak sadar, tidak ada reaksi terhadap rangsangan 4
0ARNA KULIT
8erah 5
ucat , ikterus, dan lain'lain *
"ianosis 4
DAFTAR PUSTAKA
*. 8angku ;. "enapathi T;&. endahuluan, Batasan, 3uang 2ingkup dan "ejarah
"ingkat &nestesia dan 3eanimasi. (n , 1iryana (8, "ujana (B;, "inardja $, Budiarta
(;, editors. Buku &jar (lmu &nestesia dan 3eanimasi. 0akarta,Balai enerbit -$.( @
544K @ p.*'D.
5. 8uhiman 8, Thaib 83, "unatrio ". &nestesiologi. Gdisi pertama. 0akarta. enerbit
Bagian &nestesiologi dan Terapi (ntensi! -$.(@ 5445.p./:'K9.
/. 2atie! "&, "uryadi $&, >achlan 83. etunjuk raktis &nestesiologi. Gdisi kedua.
0akarta. enerbit Bagian &nestesiologi dan Terapi (ntensi! -$.(@ 54*4.p.5K'K4.
:. 8olnar 3. "pinal, Gpidural, and 7audal &nesthesia, (n , 7linical &nesthesia rosedures
o! the 8assachusetts ;eneral Bospital, editor , >a%ison 0$, Gukhardt 1-, erese >&,
ed : th, 2ondon, 2ittle bro#n and 7ompany, 54*4.
?. Bro#n >2. "pinal, Gpidural and 7audal &nesthesia. (n , &nesthesia, editor , 8iller
3>, ed ? th, )olume *, 7ali!ornia, 7hurchill 2i%ingstone, 54*4.
/4