You are on page 1of 13

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN PNEUMONIA




A. DEFINISI
Pneumonia adalah suatu proses peradangan di mana terdapat konsolidasi yang di
sebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat . pertukaran gas tidak dapat berlangsung pada
daerah yang mengalami konsolidasi , begitupun dengan aliran darah di sekitar alveoli,
menjadi terhambat dan tidak berfungsi maksimal.hipoksimea dapat terjadi , bergantung pada
banyaknya jaringan paru-paru yang sakit.(Irman sumantri,2009 ).
Pneumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian
cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah
adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran. Trakhabronkialis, adalah beberapa
keadaan yang mengganggu mekanisme pertahanan sehingga timbul infeksi paru misalnya,
kesadaran menurun, umur tua, trakheastomi, pipa endotrakheal, dan lain-lain. Dengan
demikian flora endogen yang menjadi patogen ketika memasuki saluran pernafasan.
(Ngasriyal, Perawatan Anak Sakit, 1997).
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai
parenkim paru . menurut anatomis , pneumonia pada anak dibedakan menjadi pneumonia
lobaris , pneumonia interstialis, dan bronkopneumonia. ( Kapita selekta kedokteran 1999 ).

B. ETIOLOGI
Pada masa sekarang terjadi perubahan pola mikroorganisme penyebab ISNBA
(Infeksi Saluran Napas Bawah Akut) akibat adanya perubahan keadaan pasien seperti
gangguan kekebalan dan penyakit kronik, polusi lingkungan, dan penggunaan antibiotik yang
tidak tepat hingga menimbulkan perubahan karakteristik pada kuman.
Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia, dan hal ini
berdampak kepada obat yang akan di berikan. Mikroorganisme penyebab yang tersering
adalah bakteri, yang jenisnya berbeda antar Negara, antara suatu daerah dengan daerah yang
lain pada suatu Negara, maupun bakteri yang berasal dari lingkungan rumah sakit ataupun
dari lingkungan luar. Karena itu perlu diketahui dengan baik pola kuman di suatu tempat.
Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi antara lain :
1. Bakteri
Agen penyebab pneumonia di bagi menjadi organisme gram-positif atau gram-negatif
seperti : Steptococcus pneumoniae (pneumokokus), Streptococcus piogenes,
Staphylococcus aureus, Klebsiela pneumoniae, Legionella, hemophilus influenzae.
2. Virus
Influenzae virus, Parainfluenzae virus, Respiratory, Syncytial adenovirus, chicken-pox
(cacar air), Rhinovirus, Sitomegalovirus, Virus herves simpleks, Virus sinial pernapasan,
hantavirus.
3. Fungsi
Aspergilus, Fikomisetes, Blastomises dermatitidis, histoplasma kapsulatum. Selain
disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa di sebabkan oleh bahan-bahan lain/non
infeksi :
a) Pneumonia Lipid : Disebabkan karena aspirasi minyak mineral
b) Pneumonia Kimiawi : Inhalasi bahan-bahan organik dan anorganik atau uap
kimia seperti berillium
c) Extrinsik allergic alveolitis : Inhalasi bahan debu yang mengandung alergen
seperti spora aktinomisetes termofilik yang terdapat pada ampas debu di pabrik
gula
d) Pneumonia karena obat : Nitofurantoin, busulfan, metotreksat
e) Pneumonia karena radiasi
f) Pneumonia dengan penyebab tak jelas.
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:
a) virus sinsisial pernafasan
b) adenovirus
c) virus parainfluenza
d) virus influenza
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui :
a) Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar
b) Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
c) Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.



C. MANIFESTASI KLINIK/ TANDA DAN GEJALA
Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama
beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai
40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat
berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae), merah muda (untuk staphylococcus
aureus), atau kehijauan dengan bau khas (untuk pseudomonas aeruginosa). Pada sebagian
penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala.

Tanda dan Gejala berupa :
a. Batuk nonproduktif
b. Ingus (nasal discharge)
c. Suara napas lemah
d. Retraksi intercosta
e. Penggunaan otot bantu nafas
f. Demam
g. Krekels
h. Cyanosis
i. Leukositosis
j. Thorax photo menunjukkan
infiltrasi melebar
k. Batuk
l. Sakit kepala
m. Kekakuan dan nyeri otot
n. Sesak nafas
o. Menggigil
p. Berkeringat
q. Lelah.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan :
a. kulit yang lembab
b. mual dan muntah
c. kekakuan sendi.




D. PATOFISIOLOGI
Pneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan
oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan dan
minuman.
Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masukl ke saluran
pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut,
sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran
pernafasan dengan ganbaran
sebagai berikut:
1) Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh
darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli.
2) Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran
pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora
normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan
kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan
dan
3) elektrolit.
(Soeparman, 1991)


E. PATHWAY





F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan radiologi. Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan
gambaran air bronkhogram (airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumoniae,
bronkopneumonia (segmental disease) oleh antara lain staphylococcus, virus atau
mikoplasma; dan pneumonia interstisial oleh virus dan mokoplasma.
Distribusi infitrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus atau sugestif
untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini bisa dimana saja.
Infiltrat di lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella spp, tuberkulosis atau amiloidosis.
Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriema.
Bentuk besi berupa kavitasi dengan air-fluid level sugestif untuk abses paru, infeksi
anaerob, gram negatif aatau amiloidosis. Efusi pleura dengan pneumonia sering
ditimbulkan S.pyogenes, E. Coli dan Staphylococcus (pada anak). Kadang-kadang oleh
K.pneumoniae, P.pseudomallei.
Pembentukan kista terdapat pada pneumonia nekrotikans/ supurativa, abses dan
fibrosis akibat terjadinya nekrosis jaringan paru oleh kuman S.aureus, K. Pneumoniae dan
kuman-kuman anaerob. Ulangan foto perlu dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya
infeksisekunder/tambahan, efusi, efusi pleura penyerta yang terinfeksi atau pembentukan
abses. Pada pasien yang mengalami perbaikan klinis ulangan foto dada dapat ditunda
karena resolusi pneumonia berlangsung 4-12 minggu.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu
waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya:
Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma.
Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda.
Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup





H. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PNEUMONIA
a. Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
1. Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
2. Tanda : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas
2. Sirkulasi
1. Gejala : riwayat gagal jantung kronis
2. Tanda : takikardi, penampilan keperanan atau pucat
3. Integritas Ego
1. Gejala : banyak stressor, masalah finansial
4. Makanan / Cairan
1. Gejala : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM
2. Tanda : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan
turgor buruk, penampilan malnutrusi
5. Neurosensori
1. Gejala : sakit kepala bagian frontal
2. Tanda : perubahan mental
6. Nyeri / Kenyamanan
1. Gejala : sakit kepala, nyeri dada meningkat dan batuk, myalgia, atralgia
7. Pernafasan
1. Gejala : riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan
dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal
2. Tanda : sputum ; merah muda, berkarat atau purulen
3. Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural
4. Bunyi nafas : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas
Bronkial
5. Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi
6. Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku
8. Keamanan
1. Gejala : riwayat gangguan sistem imun, demam
2. Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin
pada kasus rubela / varisela

9. Penyuluhan
1. Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis


b. Diagnosa keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen
darah.
3. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.
5. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap
6. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
7. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan berlebihan, penurunan masukan oral.

c. Intervensi keperawatan
Dx 1. Jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
Kriteria hasil :
1. Secara verbal tidak ada keluhan sesak
2. Suara nafas normal (vesikular).
3. Sianosis (-).
4. Batuk (-).
5. Jumlah pernafasan dalam batas normal sesuai usia.
Intervensi
a. Kaji jumlah /kedalaman pernafasan dan pergerakan dada.
b. Auakultasi daerah paru ,catat area yang menurun /tidak adanya aliran udara, dan adanya
suara nafas tambahan seperti crackles , wheezes,
c. Elevasi kepala , sering di ubah posisi.
d. Bantu klien dalam melakukan latihan nafas dalam.demonstrasikan/bantu klien belajar untuk
batuk ,misal manahan dada dan batuk efektif pada saat posisi tegak lurus.
e. Lakukan suction atas indikasi.

Rasional
a. Evaluasi awal untuk melihat kemajuan dari hasil intervensi yangtelah dilakukan.
b. Penurunan aliran udara timbul pada area yang konsolidasi dengan cairan . suara nafas
bronkial ( normal diatas bronkus).dapat juga crakles ,rhonchi,dan wheezes terdengan saat
inspirasi dan atau ekspirasi sebagai respon dari akumulasi cairan,sekresi kental, dan spasme
dan obstruksisaluran nafas.
c. Diafragma yang lebih rendah akan membantu dalam meningkatkan ekspansi dada, pengisian
udara, mobilisasi, dan ekspetorasi dari sekresi.
d. Nafas dalam akan memfasilitasi ekspansi maximum paru-paru / saluran udara kecil. Menahan
dada akan membantu untukmengurangi ketidaknyamanan, dan posisi tegak lurus akan
memberikan tekanan lebih untuk batuk.

Dx 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen
darah.
Kriteria hasil:
1. Keluhan dispneu berkurang.
2. Denyut nadi dalam rentang normal dan irama reguler.
3. Kesadaran penuh.
4. Hasil nilai analisis gas darah dalam batas normal.
Intervensi:
1.Observasi warna kulit,membran mulkosa dan kuku,catat adanya sianosis perifer(kuku)atau
sianosis pucat(sirkumorol)
2.Kaji status mental
3.Monitor denyut atau irama jantung
4.Monitor suhu tubuh atas indikasi,melakukan tindakan mengurangi demam dan
menggigil,misal ganti posisi suhu ruangan yang nyaman,kompres.
5.Pertahankan bedrest.anjurkan untuk menggunakan tehnik relaksasi dan aktifitas
difersi(hiburan)
Rasional:
1.Sianosis kuku menggambarkan fase kontriksi atau respon tubuh terhadap demam.sianosis
cuping telinga,membran mulkosa dan kulit sekitar mulut dapat mengindikasikan adanya
hipoksemia sistemik.
2.Kelemahan,iritable,binggung,dansomnolen dapat merefleksikan adanya
hipoksemia/penurunan oksigenisasi serebral.
3.Takikardi biasanya timbul sebagai hasil dari demam/dehidrasi tetapi dapat juga sebagai
respon terhadap hipoksemia.
4.Demam tinggi(biasanya pada pneumonia bakteri dan influenza)akan menigkatkan
kebutuhan metabolik dan konsumsi oksigen serta menggubah oksigenisasi seluler.
5.Mencegah kelelahan dan mengurangi konsumsi oksigen untuk memfasilitasi resolusi
infeksi.

DX 3. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
Kriteria Hasil :
1. Tidak munculnya tanda-tanda infeksi sekunder.
2. Klien dapat mendemonstrasikan kegiatan untuk menghindarkan infeksi.
INTERVENSI :
1. Monitar vital since, terutama selama proses terapi.
2. Demonstrasikan tekhnik mencuci yang benar.
3. Ubah posisi dan berikan pulmonary toilet yang baik.
4. Batasi pengunjung atas indikasi.
5. Lakukan isolasi sesuai dengan kebutuhan individual.
RASIONAL:
1. Selama periode ini, potensial berkembang menjadi komplikasi yang lebih fatal
(hipotensi/sock).
2. Sangat efektif untuk mengurangi penyebaran infeksi.
3. Meningkatkan ekspektorasi, membersihkan dari infeksi.
4. Mengurangi paparan dengan organisme patogen lain.
5. Isolasi mungkin dapat mencegah penyebaran/memproteksi klien dari proses infeksi lainnya.

DX 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.
Kriteria Hasil:
1. Laporan secara verbal, kekuatan otot meningkat dan tidak ada perasaan kelelahan.
2. Tidak ada sesak .
3. Denyut nadi dalam batas normal.
4. Tidak muncul sianosis.
Intervensi
1. Evaluasi respon klien terhadap aktifitas.
2. Berikan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung selama vase akut atas indikasi.
3. Jelaskan pentingnya beristirahat pada rencana terapi dan perlunya keseimbangan antara
aktifitas dan istirahat.
4. Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman untuk beristirahat.
5. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan self care. Berikan aktifitas yang meningkatkan
selama fase penyembuhan.
Rasional
1. Memberikan kemampuan/kebutuhan klien dan memfasilitasi dalam pemilihan intervensi.
2. Mengurangi stress dan stimulasi yang berlebihan meningkatkan istirahat.
3. Bed rest akan memelihara selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik,
memelihara energi untuk penyembuhan.
4. Klien mungkin merasa nyaman dengan kepala dalam keadaan elevasi, tidur di kursi atau
istirahat pada meja dengan bantuan bantal.
5. Meminimalkan kelelahan dan menolong menyeimbangan suplay kebutuhan oksigen.
DX 5. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
Kriteria hasil:
1. Laporan secara verbal, nyeri dada berkurang
2. Skala nyeri menurun
3. Wajah rileks
4. Klien dapat beristirahat tanpa terganggu rasa nyeri

Intervensi:
1. Tentukan karakteristik nyeri ,misal ketajaman,terus menerus atau (frekuensi). Cari perubahan
dalam karakteristik/lokasi/intensitas nyeri.
2. Berikan tindakanuntuk kenyamanan, misal back rubs, perubahan posisi, musik lembut, latihan
relaxsasi/ nafas.
3. Tawarkan untuk oral hygiens.
4. Intruksikan dan bantu klien untuk melakukan teknik menahan dada selama batuk.
5. Berikan analgesik dan antitusif atas indikasi.

Rasional :
1. Nyeri dada ,biasanya timbul dalam beberapa tingkatan, dapat juga menunjukan adanya
komplikasi dari pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis.
2. Nonanalgesik tindakan dengan sentuhanakan meringankan ketidaknyamanaan dan
memberikan efek terapi analgesik.
3. Nafas dengan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan membuat kering membran
mukosa yang berpotensial menyebabkan ketidaknyamanan.
4. Membantu mengontrol ketidaknyamanan pada dada dengan meningkatkan pelaksanaan batuk
efektif.
5. Obat-obat ini digunakan untuk menekan batuk non produktif /paroksimal atau mereduksi
yang berlebihan, meningkatkan kenyamanan secara umum.

Dx 6 . Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan
kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
kriteria hasil :
1. Klien menunjukan nafsu makan meningkat
2. Tidak adanya anoreksia
3. Berat badan dalam keadaan stabil
Intervensi :
1. Berikan tempat untuk membuang sputum .bantu dengan oral higiens setelah emesis dan
lakukan postural drainase.
2. Jadwalkan pemberian terapi respirasi sekurang-kurangnya 1jam sebelum makan.
3. Auskultasi bising usus, observasi atau palpasi distensi abdomen
4. Berikan makan sedikit dan sering, termasuk makanan kering (biskuit) dan makanan yangb
menarik bagi klien
Rasional :
1. Mengatasi pandangan, rasa dan kecap dari lingkungan klien serta dapat mengurangi nausea.
2. Mengurangi efek nausea yang berhubungan dengan tindakan tersebut.
3. Bising usus mungkin berkurang /tidak ada jika proses infeksi menjadi berat /lama.
4. Hal ini dapat meningkatkan intake meskipun nafsu makan mungkin lambat kembali.
Dx 7 Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan berlebihan, penurunan masukan oral.
Kriteria hasil :
1. Membran mulkosa lembab
2. Turgor baik
3. Tanda vital stabil
4. Pengisian kapiler cepat kembali
Intervensi:
1. Kajiperubahan tanda vital seperti peningkatan temperatur/demam yang
lama,takikardi,hipotensi ortostatik
2. Kaji turgor kulit,kelembapan membran mulkosa(bibir,lidah)
3. Catat dan laporkan adanya nausea atau vomiting.
4. Monitor intak dan output,catat warna,karakter dari urine.
5. Berikan cairan +2500 ml/hari atau sesuai kebutuhan individu.
Rasional:
1. Peningkatan temperatur atau demam yang lama meningkatkan laju metabolik dan kehilangan
cairammn melalui evaporasi.
2. Indikatir langsung terhadap keadekuatan volum cairan,meskipun membran mulkosa mulut
yang kering bisa di karenakan pernafasan mulut dan oksigen suplemen.
3. Adanya tanda tersebut dapat menyebabakan berkurangnya intak oral.
4. Memberikan informaswi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan untuk
penggantian.
5. Untuk mengemballikan pada kebutuhan cairan tubuh normal,mengurangi resiko dehidrasi.




http://didytabutti.blogspot.com/2012/02/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html
(http:/medicastore.com/med/subkategori_pyk.Php,2007).
(Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru, 2006)
Engram barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Jakarta : Buku
kedokteran EGC. Hal. 60-64
Diagnosa nanda. (nie&noe).2007-2008
Setyohadi bambang, dkk. Ilmu Penyakit DalamJjilid II Edisi IV. Pusat penerbitan ilmu
penyakit dalam EFKA UNIVERSITAS INDONISIA. Jakarta : 2006