You are on page 1of 71

LAPORAN KASUS :DISTOSIA

PEMBIMBING : DR. ANDI, SP.OG


KEPANITERAAN KLINIK STASE OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FK UMJ- RSUD CIANJUR

IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny. AN
 Umur : 21 Tahun
 Suku Bangsa : Sunda
 Agama : Islam
 Pendidikan : SD
 Pekerjaan : IRT
 Alamat : Cianjur
 Nama : Tn. N
 Usia : 29 tahun
 Suku Bangsa : Sunda
 Agama : Islam
 R. Pendidikan : SD
 Pekerjaan : WIRASTASTA

Status : Menikah
Tgl Masuk : 20 November 2013, Pukul 10.00 WIB

ANAMNESIS
 Keluhan Utama : ibu mengeluh mules-mules sejak
pukul 03.00 WIB
 RPS : G1P0A0 merasa hamil 9 bulan, mengeluh mules
yang semakin sering dan kuat sejak pukul 03.00 WIB,
keluar cairan banyak dari jalan lahir, berwarna jernih,
tidak berbau, bercampur lendir dan sedikit darah sejak
pukul 04.30 WIB. Keluhan disertai demam disangkal,
gerakan anak masih dirasakan ibu.
RPD : Riwayat hipertensi dan diabetes
mellitus, dan asma disangkal
RPK : Tidak ada anggota keluarga yang
mengalami keluhan yang sama, Hipertensi
disangkal dan Diabetes Mellitus pada Ibu
RPO : Saat hamil, ibu tidak mengkonsumsi
obat-obatan
R.Psikososial : Pola makan teratur,
merokok dan alkohol disangkal, jamu-
jamuan disangkal
RIWAYAT OBSTETRI
Riwayat Kehamilan
 G1P0A0
 HPHT : 19 Febuari 2013
 TP : 26 November 2013
 ANC : -
 KB : Ibu tidak pernah menggunakan KB
 Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas



No
.
Tahun
Partus
Tempat
Partus
Umur
Hamil
Jenis
Persalinan
Penolong
Persalinan
Penyulit Anak
Kel/BB
Ket.
1
Hamil ini
RIWAYAT OBSTETRI
Riwayat Haid
 Menarche : Usia 13 tahun
 Siklus haid : 28 hari
teratur
 Lama haid : 7 hari
 Nyeri Haid : Disangkal
Riwayat Menikah
 Menikah sah, 1 kali
 ♀, 20 tahun
 ♂, 28 tahun

PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
 Kesadaran : Komposmentis
 Tanda-tanda Vital
TD : 130/80 mmHg
Nadi : 88x/menit (kuat, cukup, regular)
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,7ºC
 Antropometri
TB : Tidak diukur
BB : Tidak ditimbang

STATUS GENERALIS
 Kepala : Normochepal
 Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflex
pupil (+)/(+), isokor ka=ki
 Leher : Pembesaran KGB (-/-), pembesaran tiroid (-/-).
 Toraks : Normochest dan gerak simetris
 Paru-paru : VF simetris (+/+), vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)
 Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular, gallop (-), murmur (-)
 Abdomen : (Lihat status obstetri)
 Ekstremitas :
Ekstr. Atas : Akral hangat , RCT< 2 detik, edema (-), sianosis (-)
Ekstr. Bawah : Akral hangat , RCT< 2 detik, edema (-), sianosis (-)

STATUS OBSTETRI

Inspeksi
 Kepala/Muka : Chloasma gravidarum (-)
 Thorax : Hiperpigmentasi areola mamae (+),
colostrum (-)
 Abdomen : Cembung tegang, striae gravidarum (+),
linea nigra (+), bekas operasi (-)
Palpasi
TFU : 30 cm
L1 : TFU 30 cm tidak teraba bagian janin
L2 : kepala-kiri, bokong-kanan
L3 : tidak teraba bagian janin
L4 : -
His : 2-3 kali/10’/10”


Auskultasi
 DJJ : 144 kali/menit

Pemeriksaan Luar Genitalia
 Vulva/vagina : Tidak ada kelainan
 Perineum : Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Dalam
 Vagina : Tidak ada kelainan
 Portio : Tebal lunak
 Pembukaan : 2-3 cm
 Ketuban : (-), sisa cairan jernih
 Terasa bagian kecil janin
PEMERIKSAAN PENUNJANG, Hasil
Laboratorium
Pemeriksaan Nilai Rujukan
Hemoglobin 10,9 12,0-16,0 g/dL
Trombosit 220 150-450 10
3
/µL
Leukosit 9 4,8-10,8 10
3
/µL
Hematokrit 31,1 37,0-47,0 %
Protein Urin - -
RESUME
 Seorang wanita 21 tahun, G1P0A0 hamil 9 bulan,
merasa mules yang semakin sering dan kuat sejak 7
jam SMRS, keluar caitan banyak dari jalan lahir,
berwarna jernih bercampur lendir dan sedikit
darah sejak 6 jam SMRS.Gerak janin masih
dirasakan oleh ibu.
 Pemeriksaan fisik : tampak sakit ringan,
kesadaran komposmentis, kooperatif, tanda vital
dalam batas normal.
Resume :Status Obstetri
Pemeriksaan Luar :
 Tanda kehamilan : +
 Pemeriksaan luar genitalia
t.a.k
 TFU : 30 cm
 DJJ : 144 x/menit
 His : 2-3 kali/10’/10”
Pemeriksaan Dalam :
 Vagina : Tidak ada kelainan
 Portio : Tebal lunak
 Pembukaan : 2-3 cm
 Ketuban : (-), sisa cairan
jernih
 Teraba bagian kecil janin
DIAGNOSIS
 G1P0A0 parturient aterm kala 1 fase laten dengan KPD + letak
lintang


 Informed concent
 IVFD RL
 Cek darah lengkap
 Pasang DC, EKG
 Observasi keadaan umum, tanda-tanda vital, DJJ, dan his
 Rencana SC


PLANNING
PROGNOSIS
 Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Quo ad functionam : dubia ad bonam


LAPORAN SC
 Dilakukan a dan antiseptis daerah dinding abdomen
dengan betadin
 Dilakukan insisi pfanensteil,
 Setelah peritoneum dibuka tampak dinding depan uterus.
 SBR disayat konkaf kiri-kanan
 12.10 lahir bayi laki-laki , BB: 4500 gr, PB: 48 cm, AS:
1’:5, 5’:7.
 12.13 plasenta dilahirkan manual ± 800 gr, ukuran 24 x 23
c 3 cm.
 SBR dijahit LDL dan dilakukan sterilisasi promeroy
 Perdarahan dirawat, rongga abdomen dibersihkan dari sisa
darah.
 Abdomen dijahit L.D.L
 Perdarahan 400 cc
 Diuresis 200 cc
 Terapi Post SC:
 Cefotaxim inj 2x1 gr
 Metronidazol inj 2x500mg
 Kaltropen supp 2 x 1.

Tanggal S O A P
21/11/2013 Nyeri luka post
op.(+),perdarahan
sedikit.sudah kentut,
Belum BAB
ASI (-/-)
Ku : CM
TD :110/70 mmhg
N : 88x/ menit
RR : 20x/menit
S : afebris
Abdomen
Ins : Datar,lembut,
Luka op.tertutup perban,
Pal : TFU 2 jari ↓
pusat,kontraksi baik,nyeri tekan
(+),
Aus : BU (+) 4x/menit
Diuresis:200 cc / 12 jam
POD I SC Inf. RL 20 gtt/m
Cefotaxime 2 x 1 gr
Metronidazole 3x500
gr
Mobilisasi
Up catheter
22/11/2013 Nyeri luka post
op.(+),perdarahan
sedikit.sudah kentut,
Belum BAB
BAK (+),ASI (-/-)
Ku : CM
TD :120/70 mmhg
N : 80x/ menit
RR : 20x/menit
S : afebris
Abdomen
Ins : Datar,lembut,
Luka op.tertutup perban,
Pal : TFU 2 jari ↓
pusat,kontraksi baik,nyeri tekan
(+),
Aus : BU (+)
POD II SC Inf. RL 20 gtt/m
cefadroxil 2 x 1
Metronidazole 3x500
mg
Mobilisasi
Tanggal S O A P
23/10/2013 Nyeri luka post
op.(+),perdarahan
sedikit.sudah
kentut,
Belum BAB
BAK (+),ASI (-/-)
Ku : CM
TD :120/80 mmhg
N : 80x/ menit
RR : 20x/menit
S : afebris
Abdomen
Ins : Datar,lembut,
Luka op.tertutup
perban,
Pal : TFU 2 jari ↓
pusat,kontraksi
baik,nyeri tekan
(+),
Aus : BU (+)
POD III SC Up infus
Cefadroxil 2 x 500
mg
As.Mefenamat 3 x
500 mg
Viliron 1 x 1
Cek Lab
Boleh Pulang
Analisis

TINJAUAN PUSTAKA
 Persalinan normal dipengaruhi oleh 3 faktor:
- Power
- Passage
- Passanger

 Kelainan 3P  persalinan macet  DISTOSIA

1. Distosia karena kelainan his
 Power = kekuatan ibu = his

 His pada persalinan normal
mulai dari sudut di fundus uteri

simetris ke seluruh corpus uteri

relaksasi yang merata dan menyeluruh

perubahan pada serviks (mendatar/menutup)
 His adekuat
- lamanya 60 detik
- mencapai tekanan 50 s/d 60 mmHg
- terjadi setiap 2 s/d 3 menit
- menghasilkan kemajuan persalinan yang baik

 Kelainan his = his tidak adekuat = distosia
Etiologi kelainan his:
- primigravida (tua)
- multigravida
- gemelli
- hidramnion
- kelainan letak janin atau CPD
- kelainan embrional (uterus bikornis unikollis)
- herediter
- psikotik
- tidak diketahui

Jenis kelainan his:
- Inersia uteri
* primer dan sekunder
* hypotonic uterine contraction
- His terlalu kuat
* hypertonic uterine contraction
- Incoordinate uterine action
a. Inersia uteri
 Inersia uteri primer
Terjadi pada permulaan fase laten. Kontraksi uterus lebih aman,
singkat dan jarang dari biasanya.
K/U penderita baik dan sedikit rasa nyeri
BAHAYA bila amnion telah pecah
 Inersia uteri sekunder
Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan his baik,
kemudian pada keadaan selanjutnya terdapat gangguan / kelainan.
Penanganan
1. Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan
harus diperhatikan.
2. Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan, dan dijelaskan
tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada.
3. Pada inersia primer, setelah dipastikan pasien inpartu, evaluasi 12
jam kemudian dengan periksa dalam. Jika pembukaan <3 cm, porsio
tebal >1 cm  penderita diistirahatkan, diberikan sedativa
sehingga dapat tidur. Mungkin masih dalam "false labor".
4. Jika setelah 12 jam berikutnya tetap ada his tanpa ada kemajuan
persalinan  amniotomi dan his diperbaiki dengan infus pitosin.
Persalinan harus diselesaikan dalam waktu 24 jam setelah ketuban
pecah, agar prognosis janin tetap baik.
Penanganan
1. Pada inersia uteri sekunder, dalam fase aktif, harus segera
dilakukan :
1. Penilaian cermat apakah ada CPD dengan pelvimetri klinik atau
radiologi. Bila ada CPD  sectio cesarea.
2. Bila tidak ada CPD  amniotomi dan diberi pitocin infus.
3. Nilai kemajuan persalinan kembali 2 jam setelah his baik. Bila
tidak ada kemajuan  sectio cesarea.
4. Pada akhir kala I atau pada kala II bila syarat ekstraksi vakum
atau cunam dipenuhi, maka persalinan dapat segera diakhiri
dengan bantuan alat tersebut.


b. His terlalu kuat
 Bukan merupakan penyebab distosia, tapi termasuk dalam
kelainan his
 Dapat menyebabkan persalinan selesai dalam waktu singkat
 kurang dari 3 jam  partus presipitatus
 Bahaya partus presipitatus
bagi ibu : perlukaan yang luas pada jalan lahir,
khususnya serviks uteri, vagina, dan perineum
bagi bayi : perdarahan intrakranial, karena mengalami
tekanan kuat dalam waktu singkat
c. Incoordinate uterine action
 Sifat his berubah
 Tidak ada koordinasi antara kontraksi bagian
atas, tengah, dan bawah
 Menyebabkan his tidak efisien dalam
mengadakan pembukaan
 Ibu  nyeri (+++); bayi  hipoksia
Penanganan
 Pemberian sedativa dan obat yang bersifat tokolitik, agar
kontraksi uterus tersebut hilang dan diharapkan kemudian
timbul his normal. Denyut jantung janin HARUS terus
dievaluasi.

Bila dengan cara tersebut tidak berhasil, persalinan harus
diakhiri dengan sectio cesarea.

2. Distosia karena kelainan jalan lahir
 Passsage = jalan lahir
- panggul
- jaringan lunak urogenital

 Jenis panggul:
- ginekoid
- antropoid
- android
- platipelloid

 Jenis panggul untuk persalinan  ginekoid

 Kelainan jalan lahir  distosia

 Diagnosa panggul sempit dan CPD:
- Anamnesa
- Pengukuran panggul (pelvimetri)
 Luar : tidak banyak artinya, kecuali untuk pengukuran p.b.p, dan dalam
beberapa hal khusus seperti panggul miring
 Dalam : dapat menilai secara kasar p.a.p, panggul tengah,dan p.b.p
 Rö : gambaran jelas tentang bentuk panggul dan angka
2
mengenai
ukuran dalam ketiga bidang panggul  bahaya bagi janin. Tidak rutin
dilakukan dalam masa kehamilan

a. Kelainan panggul
 Kesempitan p.a.p
- Konjugata vera < 10 cm  transversa < 12 cm
- Kepala tertahan di p.a.p  tekanan kepala pd serviks kurang  inersia uteri &
lambannya pembukaan
- Bila ketuban pecah  bahaya prolapsus funikuli

Kesempitan panggul tengah
 Distansia interspinarum kurang dari 9,5 cm
  sagittalis posterior pendek
 Sering ditemukan posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi
kepala dalam posisi lintang tetap (transverse arrest)

Kesempitan p.b.p
 Arkus pubis membentuk sudut 90
o
 < 90
o
p.b.p sempit
 distansia tuberum bersama dengan  sagittalis posterior kurang dari 15
cm, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa
Komplikasi
 Bahaya pada ibu
◦ Partus lama + ketuban pecah pada pembukaan kecil  dehidrasi, asidosis, dan infeksi intrapartum
◦ His kuat, tapi kemajuan janin dalam jalan lahir tertahan  timbul regangan
segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaran retraksi patologik
= Keadaan ini terkenal dengan nama ruptura uteri mengancam
= Bila tidak segera diambil tindakan untuk mengurangi regangan 
ruptura uteri
 Dengan persalinan tidak maju karena CPD, jalan lahir pada suatu tempat mengalami
tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul  gangguan sirkulasi 
iskemia  nekrosis  beberapa hari post partum akan terjadi fistula vesikoservikalis,
atau fistula vesikovaginalis, atau fistula rektovaginalis
 Bahaya pada janin

 Partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal, apalagi jika
ditambah dengan infeksi intrapartum
 Prolapsus funikuli, apabila terjadi, mengandung bahaya yang sangat
besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan segera apabila ia
masih hidup
 Dengan adanya CPD, kepala janin dapat melewati rintangan pada
panggul dengan mengadakan moulage
b. Kelainan jaringan lunak urogenital
 Terjadi pada keadaan:
- Edema vulva
- Septum vagina
- Kelainan serviks uteri
- Mioma uteri
- Tumor ovarium
 Penanganan distosia karena kelainan jalan lahir:
- Seksio Sesarea
- Persalinan percobaan
- Simfisiotomi
- Kraniotomi

3. Distosia karena kelainan letak dan bentuk janin
3.1 Kelainan letak, presentasi, atau posisi
a. Oksiput posterior persisten
 UUK tidak berputar ke depan, tetapi tetap berada di belakang
 Etiologi
- sering pada panggul anthropoid, android
- multipara
- kepala janin yg kecil & bulat (tidak ada paksaan pada belakang kepala janin
untuk memutar ke depan)
 Diagnosis
- palpasi : bagian kecil janin teraba dibagian anterior, DJJ disamping
- PD : UUK ke arah sakrum, UUB mudah teraba bila kepala defleksi
Penanganan:

 Persalinan akan terganggu bila rotasi spontan tidak terjadi (90 % menjadi oksiput
anterior)
 Amniotomi
 Bila kepala tdk turun (> 3/5 diatas PAP)  seksio sesarea
 Pembukaan serviks belum lengkap, tdk ada tanda
2
obstruksi  drips oksitosin
 Pembukaan lengkap & Kala II lama & tdk ada tanda
2
obstruksi  drips oksitosin
 Syarat
2
terpenuhi  ekstraksi vakum atau forseps
b. Presentasi puncak kepala
 Bagian terbawah adalah puncak kepala
 Pada PD : teraba UUB yang paling rendah & UUB sudah berputar ke depan
 Etiologi
- Kelainan panggul
- Kepala bentuknya bundar
- Anak kecil atau mati
- Kerusakan dasar panggul
 Dapat lahir spontan
c. Presentasi muka
 Kepala dalam kedudukan defleksi maksimal  oksiput tertekan pd punggung dan
muka merupakan bagian terendah menghadap ke bawah
 Etiologi
- Pada panggul sempit
- Janin besar
- Multiparitas
- Anensefalus
 Hasil pemeriksaan
- pemeriksaan luar : dada akan teraba seperti punggung (tubuh janin dalam
keadaan ekstensi)
- PD : bila muka sudah masuk ke rongga panggul, jari pemeriksa dapat meraba
dagu, mulut, hidung, dan pinggir orbita
- Auskultasi : pd bagian2 kecil janin DJJ terdengar lebih jelas
 Penanganan
- Pembukaan lengkap : lakukan versi & ekstraksi vakum/forsep
- Pembukaan msh kecil : Seksio sesarea
- Primigravida : Seksio sesarea
d. Presentasi dahi
 Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah & tetap
paling depan
 Biasanya dgn sendirinya akan berubah menjadi letak muka dan letak belakang
kepala
 Etiologi = seperti letak muka
 Diagnosis
 Palpasi : bokong teraba di fundus dan kepala dibawah, benjolan kepala terdapat pada
tempat punggung, membuat sudut yg agak tajam  sudut Fabre
 Auskultasi : paling jelas terdengar melewati dada
 PD : Teraba UUB, orbita, glabella, dan pangkal hidung, dagu tidak teraba
 Penanganan
- Presentasi dahi dgn ukuran panggul & janin yang normal  seksio sesarea
- Pada janin yang kecil dan panggul yang luas  sama dgn presentasi muka
- Jika pada akhir kala I kepala belum masuk ke dalam rongga panggul, dapat
diusahakan mengubah presentasi dengan perasat Thorn, tetapi jika tidak
berhasil, sebaiknya dilakukan seksio sesarea
- Meskipun kepala sudah masuk ke rongga panggul, tetapi bila kala II tidak
mengalami kemajuan  seksio sesarea


Penanganan
 Presentasi dahi dgn ukuran panggul & janin yang
normal  SC
 Pada janin yang kecil dan panggul yang luas 
sama dgn presentasi muka.
 Jika pada akhir kala I kepala belum masuk ke
dalam rongga panggul, dapat diusahakan
mengubah presentasi dengan perasat Thorn,
tetapi jika tidak berhasil, sebaiknya dilakukan SC.
 Meskipun kepala sudah masuk ke rongga panggul,
tetapi bila kala II tidak mengalami kemajuan 
SC.
e. Letak sungsang
 Janin yang letaknya memanjang (membujur dalam rahim, kepala berada di fundus
dan bokong di bawah)
 Jenis letak sungsang
- Presentasi Bokong Kaki Sempurna (Complete Breech)
- Presentasi Bokong Kaki tidak Sempurna (Footling Breech)
- Presentasi Bokong Murni (Frank Breech)
- Presentasi Kaki
 Faktor yang berpengaruh
- Multipara, gemelli, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa & panggul sempit
- Kadang-kadang kelainan bentuk uterus, plasenta di fundus uteri

f. Letak lintang
 Suatu keadaan di mana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi
yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain
 Etiologi
- multipara disertai dinding uterus dan perut yang lembek
- prematur, hidramnion dan gemelli  sering dijumpai
- keadaan-keadaan yang dapat menghalangi turunnya kepala ke dalam rongga
panggul seperti panggul sempit, tumor di daerah panggul dan plasenta previa
- kelainan bentuk rahim, seperti misalnya uterus arkuatus atau uterus subseptus

 Diagnosis
- inspeksi  uterus tampak lebih melebar dan fundus uteri lebih rendah tidak
sesuai dengan umur kehamilannya
- palpasi fundus uteri kosong, kepala janin berada di samping, dan di atas simfisis
juga kosong, kecuali bila bahu sudah turun ke dalam panggul
- denyut jantung janin ditemukan di sekitar umbilikus
- PD  dapat diraba bahu dan tulang-tulang iga, bila bahu sudah masuk ke dalam
panggul
- kadang2 dapat pula diraba tali pusat yang menumbung
g. Presentasi ganda
 Ekstremitas teraba disamping bagian terendah janin (kepala/ bokong)
 Etiologi : p.a.p tidak tertutup sempurna oleh bagian terbawah janin, mis :
multipara, panggul sempit, janin kecil
 Diagnosis
- berdasarkan pemeriksaan luar sulit ditentukan
- PD  di samping kepala atau bokong dapat diraba tangan, lengan atau
kaki
 Penanganan
- Pada panggul normal  dapat partus pervaginam
- Bisa dilakukan reposisi lengan
- Bila ditemukan prolaps funikuli  penanganan tergantung besarnya
pembukaan & kondisi janin
3.2 Kelainan bentuk janin
a. Pertumbuhan janin yang berlebihan
 Janin besar : BB > 4000 gr
 Etiologi : faktor keturunan, ibu dgn DM, post matur atau grande multipara
 Diagnosis
- secara klinis sulit
- baru diketahui setelah tidak adanya kemajuan persalinan pada panggul normal
dan his yang kuat
- USG
 Penanganan
- pada disproporsi sefalopelvis  SC
- pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup dilakukan episiotomi
- apabila janin meninggal sebelum bahu dilahirkan KLEIDOTOMI
b. Hidrosefalus
 Penimbunan cairan serebrospinal dalam ventrikel otak sehingga kepala menjadi
besar serta terjadi pelebaran sutura dan ubun-ubun

 Jumlah cairan : 1,5 L - 5 L

 Diagnosis
- Palpasi : teraba ukuran kepala besar di atas simfisis & kepala tidak memasuki
p.a.p
- PD : sutura dan ubun-ubun melebar, tulang kepala tipis & mudah ditekan
- USG : tampak kepala yg besar
 Penanganan
- Kepala janin yang besar dikecilkan dengan jalan melakukan pungsi sisterna pada
pembukaan 3-4 cm
- Pembukaan lengkap : kerjakan perforasi/kranioklasi
- Pd letak sungsang akan terjadi after coming head  dilakukan perforasi dr
foramen ovale untuk mengeluarkan cairan

 Prognosis : partus akan berjalan sulit & bila tidak segera ditolong dapat terjadi
ruptur uteri
c. Kelainan bentuk janin yang lain
 Double monster
- Keadaan dimana terdapat perlekatan antara 2 janin pada kehamilan kembar
- Diagnosis : sukar ditentukan antepartum
- Penanganan : bila persalinan macet

 Janin dengan perut besar
- Dapat berupa asites, tumor hati, tumor limpa, atau tumor ginjal
- Penanganan :
* kadang msh diusahakan kelahiran pervaginam baik secara biasa ataupun dgn
vaginal operatif
* Seksio sesarea
d. Prolapsus funikulli
 Keadaan dimana tali pusat berada di samping/melewati bagian terendah janin di
dalam jln lahir setelah ketuban pecah
 Tali pusat terjepit gangguan oksigenasi janin
 Apabila ketuban belum pecah tali pusat terdepan
 Etiologi
- keadaan dimana tali pusat berada di samping/melewati bagian terendah janin di
dalam jln lahir setelah ketuban pecah.
- tali pusat terjepit  gangguan oksigenasi janin
- apabila ketuban belum pecah  tali pusat terdepan
 Diagnosis
- Ketuban sudah pecah dan kepala masih goyang
- PD : teraba tali pusat,raba juga pulsasi tali pusat

 Penanganan
- reposisi tali pusat  sulit
- Seksio sesarea



TERIMA KASIH...