You are on page 1of 3

Nama : Fanny Muftiawan

NIM : 410381000121021
Mata Kuliah : Hukum Pengeloalaan Keuangan Negara
Dosen : Dr. H Sukendar SH., MH

1. Latar Belakang
Secara garis besar, pelaksanaan anggaran belanja Republik Indonesia sudah
dicantumkan dalam APBN dan APBD yang telah direncanakan dalam satu tahun
anggaran, penetapan APBN tersebut ditetapkan dalam Bab VII Tata Tertib Dewan
Permusyawaratan Rakyat Pasal 151 -158, penetapan anggaran dilakukan dengan
pembicaraan pendahuluan oleh pemerintah sebagai pelaksana roda pemerintahan dengan
membahas point – point yang diperlukan dalam hal pendapatan dan pengeluaran
anggaran yang diperlukan
Setelah terjadi penetapan anggaran oleh Majelis dewan, maka akan muncul
APBN/APBD tahun yang akan dilaksanakan pada tahun anggaran yang akan berjalan,
anggaran tersebut yang nantinya akan digunakan sebagai pemerintah dan pemerintah
daerah dalam menjalankan tugasnya masing-masing
Dalam pelaksanaan perencanaan di lingkup perintahan daerah, anggaran biasanya
diterbitkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) yang menjadi acuan dalam
pengawasan pelaksanaan APBD, dalam pelaksanaannya DPA masih menjadi barang
langka bagi DPRD maupun bagi rakyat, anggaran yang dibuat pemerintah daerah
terkesan ditutupi oleh pihak-pihak yang berkepentingan, hal ini menimbulkan kecurigaan
dari masyarakat bahwa pemerintah berpotensi melakukan penyimpangan anggaran



2. Pembahasan
Banyaknya kasus korupsi yang timbul mengindikasikan bahwa pemerintah daerah
dalam pembuatan anggaran tidak mendapat pengawasan yang sepantasnya, keleluasaan
pemerintah dalam membuat suatu anggaran dan didukung oleh DPA yang tidak
transparant dan bahkan terkesan ditutup-tutupi, pemerintahan daerah hanya membuka
rencana-rencana pelaksanaan pembangunan di daerahnya dan biasanya hanya
menyebutkan total anggaran yang diperlukan tanpa menyebutkan rincian dari anggaran
tersebut, dan ekspetasi masyarakat dalam melihat jumlah total anggaran akan memajukan
pembangunan daerahnya. Tapi dalam kenyataannya pembangunannya tidak sesuai
dengan yang dijanjikan.
Pengawasan yang diberikan berkaitan dengan teori Trias Politica, dimana terjadi
pemisahan kekuasaan antara eksekutif (pemerintah daerah) , legislatif (DPRD) dan
Yudikatif (MA dan MK) yang diharapkan oleh masyarakat dapat meminimalkan korupsi
yang terjadi dalam penetapan anggaran, tetapi dalam kenyataannya kebocoran anggaran
pun masih terjadi dikarenakan sistem yang digunakan dalam menentukan anggaran masih
tertutup.
DPRD selaku pihak legislatif pun kesulitan mengakses DPA dan tidak memiliki
rincian penuh tentang anggaran yang diberikan oleh pemerintah daearah, penutupan
rincian anggaran biasanya ditutupi dengan total anggaran yang dibutuhkan. Pengawasan
yang terjadi pun akhirnya tidak maksimal
Tindakan korupsi pun akhirnya terjadi setelah anggaran disetujui oleh DPRD,
dikarenakan pengawasan dalam perencanaan anggaran tidak transparant, penyimpangan
anggaran pun diketahui setelah anggaran diberikan kepada instasi atau departemen terkait
pembangunan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan jumlah total anggaran yang ada,
biasanya terjadi pengurangan spesifikasi atau alokasi anggaran tidak sesuai dengan
peruntukannya


3. Kesimpulan
Masyarakat seharusnya ikut andil dalam mengawasi jalannya penyusunan
anggaran, agar dapat tercapai transparansi dalam penentuan anggaran, di sisi lain, dalam
hal ini pemerintah, juga seharusnya dalam menentukan anggaran melakukan dialog
dengan masayarakat atau setidaknya dengan pemuka masyarakat agar transparansi
anggaran dapat terwujudkan, hal ini sebenarnya bisa dilakukan dikarenakan sudah adanya
Perda No 11 tahun 2011 tentang Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas Dalam
Penyelengaraan Pemerintah Daerah
Dengan dasar tersebut seharusnya masyarakat dan pemerintah bekerja sama untuk
menciptakan pemerintahan yang sehat dan bersih