You are on page 1of 5

Dermatofitosis

Dermatofitosis adalah infeksi jamur dermatofit yang mengenai epidermis superfisialis
yaitu stratum korneum. Bagian yang diinfeksi ialah yang mengandungi keratin, yaitu rambut
rambut, kulit dan kuku.

Berikut ialah spesies jamur yang terlibat:
1) Microsporum  menyerang rambut dan kulit
2) Trichophyton  menyerang rambut, kulit dan kuku
3) Epidermophyton  menyerang kulit, kadang kuku

Gejala infeksi dermatofit biasanya dikenal dengan bentuk-bentuk yang diklasifikasi
berdasarkan kawasan yang terkena. Sebagai contoh apabila terkena bagian kepala, disebut
tinea kapitis, apabila mengenai kaki, tinea pedis, dan apabila mengenai badan disebut tinea
corporis.

Berikut ialah pembagiannya:
1. Tinea kapitis
2. Tinea korporis
3. Tinea imbrikata
4. Tinea cruris
5. Tinea unguinum
6. Tinea pedis
7. Tinea manuum
8. Tinea barbae
9. Tinea favosa

Ada juga bentuk yang disebut sebagai tinea incognoto yaitu kondisi infeksi dermatofit
yang berubah karena penggunaan kortikosteroid topikal atau sistemik. Hal ini bisa terjadi
karena salah diagnosis atau karena kelainan telah ada.







Tinea Kapitis
Merangkumi infeksi pada kepala, alis dan bulu mata. Infeksi dapat terjadi pada ektothrik dan
endothrik.Terdapat 2 bentuk utama infeksi ektothrik yaitu Gray patch dan Kerion.

1. Infeksi Ektothrik
Gray patch
 Berskuama
 Radang ringan
 Gatal(ringanberat))
 Rambut keabuan, kusut, rapuh dan terpotong beberapa mm dari kulit kepala
 Akan terjadi alopesia apabila rambut terpotong
 Wood(+) hijau terang
Kerion
 Peradangan berat, Wood(+) hijau terang  apabila disebabkan M. Canis
 Kerion celsi(+), nyeri, rambut mudah putus, Wood(-)  disebabkan T.
Mentagrophytes dan T. Verrucosum.

2. Infeksi Endothrik
Lesi multipel, banyak, terpencar, tidak semua rambut di lesi terkena

Tinea Korporis
Makula eritematosa berbatas tegas, lesi di batas aktif(ada papul, vesikula), tepi polisiklis,
central healing.

Tinea Kruris
Sela paha, perineum, perianal. Dapat meluas hingga ke daerah gluteus dan pubis.
Effloresensinya sama dengan tinea korporis tetapi tidak simetris walaupun kedua sisi dapat
terkena. Ini terbukti apabila lesi di paha yang skrotum lebih turun maka lesinya lebih luas.
Skrotum tidak mempunyai lesi tetapi menjadi tempat reservoir dari infeksi jamur
menyebabkan sering kambuh selepas pengobatan.



Tinea Unguium
Infeksi dermatofit ke lempeng kuku
1) Distal Lateral Subungual Onychomycosis(DLSO) paling sering. Tampak
perubahan warna kuku(diskromia), lempeng kuku lepas dari dasar kuku(onikolisis),
penebalan lempeng kuku(hipertropia unguium), dan subungual hiperkeratosis.
2) Superfisial White Onychomycosis(SWO) permukaan lempeng kuku ada bercak
berbatas jelas, pulau opak, permukaan menjadi kasar, lunak seperti kapur dan mudah
dikerok. Biasanya ditemukan pada kuku kaki.
3) Proximal Subungual Onychomycosis(PSO) Ditemukan gejala pada bagian
proximal kuku. Banyak ditemukan pada penerima transplantasi organ, penyakit
jaringan ikat dan penderita AIDS.

Tinea Pedis
Merupakan infeksi dermatofit pada kaki, ditemukan pada sela jari dan telapak. Terdapat
beberapa bentuk seperti:
1) Intertriginosa kronis bentuk tersering. Kulit maserasi, mengelupas dan biasanya
pada jari kaki IV&V dan III&IV. Khasnya ialah adanya hiperhidrosis(keringat
banyak) dan bau tidak enak.
2) Hiperkeratotik papuloskuamosa kronis
Khas daerah kulit merah muda, tertutup skuama putih keperakan, hilateral dan berupa
bercak. Apabila mengenai seluruh kaki, disebut Moccasin Type.

Tinea Manuum
Infeksi pada daerah interdigitalis, palmar dan dorsum manus. Biasanya dapat disertai 1 atau 2
kaki terkena. Periksa kuku untuk melihat sumber infeksi.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan:
1) Anamnesis dan gejala klinis khas
2) Laboratorium
a. Kerokan kulit KOH  ditemukan hifa atau spora. KOH(-) tidak
menyingkirkan diagnosis bila klinis menyokong.
b. Kultur
c. Wood’s Lamp  positif pada infeksi yang disebabkan oleh spesies
Microsporum dan negatif pada tipe Trichophyton.

Penyulit
1) Infeksi sekunder
2) Kekambuhan apabila sumber infeksi tidak diobati
3) Hiperpigmentasi
4) Alopesia

Penatalaksanaan

1. Lesi basah/infeksi sekunder
a) Kompres larutan sodium chlorida 0,9% selama 3-5 hari. Kompresi dilakukan selama
30 menit.
b) Antibiotika oral 5-7 hari.

2. Obat topikal
Lesi tidak luas pada tinea korporis, tinea kruris, tinea manuum dan tinea pedis ringan.
 Salep Whitfield 2x/hari
 Salep 2-4/3-10 2x/hari
 Miconazole cream 2x/hari. Penggunaan obat sapu minimal selama 3 minggu., dan
harus diteruskan selama 2 minggu selepas lesi menghilang.

3. Obat oral
Diberikan pada tinea kapitis, tinea imbrikata, tinea unguium dan tinea barbae. Pada tinea
unguium, obat topikal tidak dapat menembus lapisan kuku sehingga pengobatan tidak
dapat berhasil.
Ketokonazole
Anak : 3-6mg/kgBB/hari
Dewasa : 200mg/hari
Itrakonazole
Anak : 3-5mg/kgBB/hari
Dewasa : 100mg/hari.

Pemberian obat oral biasanya selama 3 minggu. Ketokonazole bersifat hepatotoksik
sehingga harus hati-hati pada penderita usia tua dan hepatitis.

Daftar Pustaka

1. SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNAIR. Cetakan kelima. Surabaya:
Airlangga University Press; 2007.hal.65-9.